Lompat ke isi

Indo Acidatama: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29611226; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''PT Indo Acidatama Tbk''' adalah sebuah [[perusahaan publik]] di [[Indonesia]] () yang bergerak dalam bisnis usaha [[manufaktur]] [[kimia]], seperti [[asam asetat]] dan [[etanol]] ditambah produk [[pupuk]]. Berkantor pusat di Graha Kencana, Jl. Raya Perjuangan, [[Jakarta Barat]] dan memiliki pabrik di Jl. Raya Solo-Sragen, [[Kabupaten Karanganyar|Karanganyar]], [[Jawa Tengah]], perusahaan ini sempat mengganti nama dan usaha yang digelutinya sejak berdiri.
'''PT Indo Acidatama Tbk''' adalah sebuah [[perusahaan publik]] di [[Indonesia]] () yang bergerak dalam bisnis usaha [[manufaktur]] [[kimia]], seperti [[asam asetat]] dan [[etanol]] ditambah produk [[pupuk]]. Berkantor pusat di Graha Kencana, Jl. Raya Perjuangan, [[Jakarta Barat]] dan memiliki pabrik di Jl. Raya Solo-Sragen, [[Kabupaten Karanganyar|Karanganyar]], [[Jawa Tengah]],<ref>[https://www.acidatama.co.id/view-pdf.php?filename=ARSR%202021_srsn_110522.pdf LAP-TAHUNAN SRSN 2021]</ref> perusahaan ini sempat mengganti nama dan usaha yang digelutinya sejak berdiri.


== Manajemen ==
== Manajemen ==
Baris 13: Baris 13:
* Direktur: Nurdjono Kusumahadi
* Direktur: Nurdjono Kusumahadi
* Direktur: Shelumiel Setijo
* Direktur: Shelumiel Setijo
* Direktur Independen: Sharad Ganesh Ugrankar
* Direktur Independen: Sharad Ganesh Ugrankar<ref>[https://www.acidatama.co.id/profil-dewan.php Profil DATA PERSEROAN]</ref>


== Kepemilikan ==
== Kepemilikan ==
Baris 24: Baris 24:
* PT Sarana Integritas: 5,04%
* PT Sarana Integritas: 5,04%
* Mulyadi Utomo Budhi Moeljono: 0,18%
* Mulyadi Utomo Budhi Moeljono: 0,18%
* Publik: 16,53%
* Publik: 16,53%<ref>[https://www.acidatama.co.id/struktur.php?id=2 Struktur Pemegang Saham DATA PERSEROAN]</ref>


== Produk ==
== Produk ==
Baris 32: Baris 32:
* [[Pupuk]] (merek Pomi, Randex, Beka, Alfinase):
* [[Pupuk]] (merek Pomi, Randex, Beka, Alfinase):
** [[Pupuk cair|Cair]] (kapasitas: 60.000 kiloliter/tahun)
** [[Pupuk cair|Cair]] (kapasitas: 60.000 kiloliter/tahun)
** Padat (kapasitas: 20.000 ton/tahun)
** Padat (kapasitas: 20.000 ton/tahun)<ref>[https://www.acidatama.co.id/view-pdf.php?filename=ARSR%202021_srsn_110522.pdf LAP-TAHUNAN SRSN 2021]</ref>


==Sejarah==
==Sejarah==
===PT Indo Acidatama Chemical Industry===
===PT Indo Acidatama Chemical Industry===
Pada 15 Februari 1983, didirikan sebuah perusahaan bernama '''PT Indo Alkohol Utama''' yang kemudian pada 8 September 1986 berganti nama menjadi '''PT Indo Acidatama Chemical Industry''' (IACI). Perusahaan ini didirikan dalam rangka memproduksi [[alkohol]] (untuk kebutuhan [[pakan]]), [[spiritus]], [[asam asetat]] dan [[etil asetat]] dari [[molase]] (tetes tebu) di [[Kabupaten Karanganyar|Karanganyar]], [[Jawa Tengah]], sedangkan kantor pusatnya ada di [[Surakarta]]. Pabriknya kemudian mulai dibangun pada tahun 1986 oleh Krupp-Koppers [[Jerman]], dan direncanakan akan selesai pada tahun 1988. Akhirnya, pabrik yang diklaim sebagai produsen [[etanol]] terbesar di Indonesia dan produsen asam asetat/etil asetat pertama di [[Asia]] itu memulai operasionalnya sejak Desember 1988 dan diresmikan pada pertengahan 1989 (bersama 5 pabrik lainnya) oleh [[Presiden Indonesia|Presiden]] [[Soeharto]]. Pabrik PT IACI ini memakan investasi Rp 48 miliar dan diharapkan bisa mengurangi impor produk luar negeri serta mendatangkan [[devisa]]. Kebetulan, pabrik tersebut sejak awal sudah mengekspor produksinya ke dua perusahaan [[Jepang]] untuk kebutuhan industri di sana.
Pada 15 Februari 1983, didirikan sebuah perusahaan bernama '''PT Indo Alkohol Utama''' yang kemudian pada 8 September 1986 berganti nama menjadi '''PT Indo Acidatama Chemical Industry''' (IACI).<ref>[https://books.google.co.id/books?newbks=1&newbks_redir=0&hl=id&id=jMMfAQAAMAAJ&dq=PT+INDOALKOHOL+UTAMA+1983&focus=searchwithinvolume&q=srjp Indonesian Manufacturer Directory 1993/1994]</ref> Perusahaan ini didirikan dalam rangka memproduksi [[alkohol]] (untuk kebutuhan [[pakan]]), [[spiritus]], [[asam asetat]] dan [[etil asetat]] dari [[molase]] (tetes tebu) di [[Kabupaten Karanganyar|Karanganyar]], [[Jawa Tengah]], sedangkan kantor pusatnya ada di [[Surakarta]].<ref>[https://books.google.co.id/books?id=IJzY4-ZC70cC&pg=RA5-PA56&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwig0p6F5f_3AhUe4XMBHbh9DG8Q6AF6BAgJEAI#v=onepage&q=INDO%20ACIDATAMA%20Chemical%20Industry&f=false Parlementaria, Volume 20-21]</ref> Pabriknya kemudian mulai dibangun pada tahun 1986<ref>[https://web.archive.org/web/20010124030200/http://www.acidatama.co.id/ Our Profile]</ref> oleh Krupp-Koppers [[Jerman]],<ref>[https://books.google.co.id/books?newbks=1&newbks_redir=0&hl=id&id=xE2rDkWsEDEC&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+1989&focus=searchwithinvolume&q=Krupp chemical week]</ref> dan direncanakan akan selesai pada tahun 1988.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=gxgUAQAAMAAJ&q=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+1989&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+1989&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwj60tK75__3AhVhFbcAHV50ALQQ6AF6BAgIEAI Tempo, Volume 19]</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?id=IH9aAAAAYAAJ&q=Surakarta+.+The+combined+plant+,+which+features+on+-+site+alcohol+feedstock+production+,+is+due+to+be+completed&dq=Surakarta+.+The+combined+plant+,+which+features+on+-+site+alcohol+feedstock+production+,+is+due+to+be+completed&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwjM6O3n5v_3AhX1R2wGHXmJB-sQ6AF6BAgJEAI Annual Report - Organization of the Petroleum Exporting Countries]</ref> Akhirnya, pabrik yang diklaim sebagai produsen [[etanol]] terbesar di Indonesia dan produsen asam asetat/etil asetat pertama di [[Asia]] itu memulai operasionalnya sejak Desember 1988<ref>[https://web.archive.org/web/20010124030200/http://www.acidatama.co.id/ Our Profile]</ref> dan diresmikan pada pertengahan 1989 (bersama 5 pabrik lainnya) oleh [[Presiden Indonesia|Presiden]] [[Soeharto]]. Pabrik PT IACI ini memakan investasi Rp 48 miliar dan diharapkan bisa mengurangi impor produk luar negeri serta mendatangkan [[devisa]]. Kebetulan, pabrik tersebut sejak awal sudah mengekspor produksinya ke dua perusahaan [[Jepang]] untuk kebutuhan industri di sana.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=gxgUAQAAMAAJ&q=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+1989&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+1989&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwj60tK75__3AhVhFbcAHV50ALQQ6AF6BAgIEAI Tempo, Volume 19]</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?newbks=1&newbks_redir=0&hl=id&id=_nsMAQAAMAAJ&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry&focus=searchwithinvolume&q=acidatama Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam berita: 1989]</ref>


Pabrik tersebut awalnya memiliki kapasitas produksi 15.400 ton/tahun, yang kemudian dinaikkan menjadi 33.000 ton/tahun dengan penyelesaian pembangunan pabrik lain di daerah yang sama pada Desember 1994. PT IACI sendiri dimiliki oleh sejumlah pengusaha lokal, termasuk [[Sudwikatmono]] yang didudukkan sebagai presiden [[komisaris]] perusahaan ini dan Bambang Setijo, seorang pengusaha [[tekstil]]. PT IACI sendiri sempat tersandung masalah limbah dengan petani dan penduduk lokal di akhir 1990-an, meskipun kemudian bisa diatasi dengan kesepakatan kedua pihak pada tahun 1999. Tercatat, pabrik IACI yang memiliki luas 11 hektar, pada 2000-an memproduksi pertahun 42 juta liter etanol, spiritus 1,26 juta liter, asam asetat 33 juta liter, etil asetat 7,5 juta liter, [[selulosa asetat]] 33.000 ton, dan produk-produk lainnya.
Pabrik tersebut awalnya memiliki kapasitas produksi 15.400 ton/tahun,<ref>[https://books.google.co.id/books?id=AsuwE85Gk9QC&pg=PA79&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwjmzL-d5__3AhWB73MBHfx1D4kQ6AF6BAgCEAI#v=onepage&q=INDO%20ACIDATAMA%20Chemical%20Industry&f=false Selected Topics on Biotechnology as Indonesian Country Reports, 1988-2000]</ref> yang kemudian dinaikkan menjadi 33.000 ton/tahun dengan penyelesaian pembangunan pabrik lain di daerah yang sama pada Desember 1994.<ref>[https://web.archive.org/web/20010124030200/http://www.acidatama.co.id/ Our Profile]</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?newbks=1&newbks_redir=0&hl=id&id=xE2rDkWsEDEC&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+1989&focus=searchwithinvolume&q=Krupp chemical week]</ref> PT IACI sendiri dimiliki oleh sejumlah pengusaha lokal, termasuk [[Sudwikatmono]] yang didudukkan sebagai presiden [[komisaris]] perusahaan ini<ref>[https://books.google.co.id/books?id=gxgUAQAAMAAJ&q=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+1989&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+1989&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwj60tK75__3AhVhFbcAHV50ALQQ6AF6BAgIEAI Tempo, Volume 19]</ref> dan Bambang Setijo, seorang pengusaha [[tekstil]].<ref>[https://books.google.co.id/books?id=ZeCyUCkNnv8C&pg=PA34&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+setijo&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwjIhNmi7P_3AhUE73MBHSO3DgMQ6AF6BAgEEAI#v=onepage&q=INDO%20ACIDATAMA%20Chemical%20Industry%20setijo&f=false Mematahkan belenggu motivasi: membangkitkan energi penggerak sumber daya manusia]</ref> PT IACI sendiri sempat tersandung masalah limbah dengan petani dan penduduk lokal di akhir 1990-an, meskipun kemudian bisa diatasi dengan kesepakatan kedua pihak pada tahun 1999.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=8fFjAAAAQBAJ&pg=PR10&dq=INDO+ACIDATAMA+Chemical+Industry+PT&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwjs96Ou6__3AhXXZWwGHQ8jC-oQ6AF6BAgGEAI#v=onepage&q=acidatama&f=false Environmental Dispute Resolution in Indonesia]</ref> Tercatat, pabrik IACI yang memiliki luas 11 hektar,<ref>[https://dewey.petra.ac.id/repository/jiunkpe/jiunkpe/s1/elkt/2002/jiunkpe-ns-s1-2002-23496031-2330-daya_listrik-chapter1.pdf I. PENDAHULUAN]</ref> pada 2000-an memproduksi pertahun 42 juta liter etanol, spiritus 1,26 juta liter, asam asetat 33 juta liter, etil asetat 7,5 juta liter, [[selulosa asetat]] 33.000 ton, dan produk-produk lainnya.<ref>[https://daftarperusahaanindonesia.com/2012/09/indo-acidatama-chemical-industry-pt-industri-produk-kimia/ INDO ACIDATAMA CHEMICAL INDUSTRY, PT. Industri Produk Kimia]</ref>


===PT Sarasa Nugraha===
===PT Sarasa Nugraha===
Perusahaan ini didirikan pada tanggal 7 Desember 1982 dan mulai beroperasi sejak 1 Februari 1984, dengan kantor pusatnya ada di [[Jakarta Pusat]] dan pabriknya ada di [[Tangerang]]. PT Sarasa Nugraha merupakan salah satu produsen [[tekstil]], dalam hal ini pakaian jadi baik untuk pria dan wanita (blus, celana panjang dan pendek, kaos, dll) dengan tujuan utama ekspor. Pada tahun 1992, produksi garmen Sarasa sudah mencapai 4 juta potong/tahun yang utamanya diekspor ke [[Amerika Serikat]] dan negara-negara lain seperti [[Jepang]] dan [[Australia]], yang ditujukan kepada [[toko serba ada]] dan eceran di sana. Untuk memperkuat produksinya, perusahaan juga telah mengakuisisi perusahaan produsen garmen lainnya, PT Sarasa Mitratama (d/h PT Collen Kurnia Wisesa) pada tanggal 1 Juni 1992. Tercatat, dengan akuisisi itu, Sarasa Nugraha memiliki kuota ekspor 480.000 ton/tahun dan lebih dari 4.000 karyawan.
Perusahaan ini didirikan pada tanggal 7 Desember 1982 dan mulai beroperasi sejak 1 Februari 1984, dengan kantor pusatnya ada di [[Jakarta Pusat]] dan pabriknya ada di [[Tangerang]].<ref>[https://britama.com/index.php/2012/06/sejarah-dan-profil-singkat-srsn/ Sejarah dan Profil Singkat SRSN (Indo Acidatama Tbk)]</ref><ref>[https://www.acidatama.co.id/view-pdf.php?filename=laporan.pdf Prospektus SRSN, 1992]</ref> PT Sarasa Nugraha merupakan salah satu produsen [[tekstil]], dalam hal ini pakaian jadi baik untuk pria dan wanita (blus, celana panjang dan pendek, kaos, dll)<ref>[https://books.google.co.id/books?id=5mKfAAAAIAAJ&q=sarasa+nugraha&dq=sarasa+nugraha&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwi68IO18__3AhVg7XMBHaBgARsQ6AF6BAgJEAI Corporate Handbook, Indonesia: The Definitive Guide to Listed Companies, Volume 2]</ref> dengan tujuan utama ekspor. Pada tahun 1992, produksi garmen Sarasa sudah mencapai 4 juta potong/tahun yang utamanya diekspor ke [[Amerika Serikat]] dan negara-negara lain seperti [[Jepang]] dan [[Australia]], yang ditujukan kepada [[toko serba ada]] dan eceran di sana. Untuk memperkuat produksinya, perusahaan juga telah mengakuisisi perusahaan produsen garmen lainnya, PT Sarasa Mitratama (d/h PT Collen Kurnia Wisesa) pada tanggal 1 Juni 1992. Tercatat, dengan akuisisi itu, Sarasa Nugraha memiliki kuota ekspor 480.000 ton/tahun dan lebih dari 4.000 karyawan.<ref>[https://www.acidatama.co.id/view-pdf.php?filename=laporan.pdf Prospektus SRSN, 1992]</ref><ref>[https://books.google.co.id/books?newbks=1&newbks_redir=0&hl=id&id=apCFBIjUBSoC&dq=sarasa+nugraha+garmen&focus=searchwithinvolume&q=Mitratama+ Emiten pasar modal Indonesia]</ref>


Sejak 11 Januari 1993, PT Sarasa Nugraha telah menjadi [[perusahaan publik]], dengan melepas 29,41% sahamnya ke publik dengan harga penawaran Rp 3.500/lembar saham. Hasil IPO ini digunakan mayoritas untuk modal kerja dan pembayaran hutang, sisanya untuk mesin garmen baru. Kode emiten '''SRSN''' berasal dari nama perusahaan saat itu. Di tahun 1995, perusahaan tercatat mencatat omzet Rp 87 miliar/tahun dari ekspornya. Belakangan, Sarasa Nugraha juga mendapat hak produksi produk-produk merek internasional ternama dari [[Ralph Lauren Corporation|Polo Ralph Lauren]], Jones Apparel Group, [[Kohl's]] Department Store, Perry Ellis International, [[Eddie Bauer]], May Co., [[Belk]], [[Tommy Hilfiger (perusahaan)|Tommy Hilfiger]], [[Dillard's]], dan [[Esprit Holdings|Esprit]]. Meskipun demikian, usaha garmen ini terbilang tidak terlalu besar, sehingga sempat muncul rumor akuisisi pada tahun 1996.
Sejak 11 Januari 1993, PT Sarasa Nugraha telah menjadi [[perusahaan publik]], dengan melepas 29,41% sahamnya ke publik dengan harga penawaran Rp 3.500/lembar saham.<ref>[https://britama.com/index.php/2012/06/sejarah-dan-profil-singkat-srsn/ Sejarah dan Profil Singkat SRSN (Indo Acidatama Tbk)]</ref><ref>[https://www.acidatama.co.id/view-pdf.php?filename=laporan.pdf Prospektus SRSN, 1992]</ref> Hasil IPO ini digunakan mayoritas untuk modal kerja dan pembayaran hutang, sisanya untuk mesin garmen baru.<ref>[https://books.google.co.id/books?newbks=1&newbks_redir=0&hl=id&id=apCFBIjUBSoC&dq=sarasa+nugraha+garmen&focus=searchwithinvolume&q=Mitratama+ Emiten pasar modal Indonesia]</ref> Kode emiten '''SRSN''' berasal dari nama perusahaan saat itu. Di tahun 1995, perusahaan tercatat mencatat omzet Rp 87 miliar/tahun dari ekspornya.<ref>[https://books.google.co.id/books?newbks=1&newbks_redir=0&hl=id&id=n_onAAAAMAAJ&dq=sarasa+nugraha+garmen&focus=searchwithinvolume&q=sarasa+ Dunia EKUIN dan PERBANKAN, Volume 8,Masalah 5-6]</ref> Belakangan, Sarasa Nugraha juga mendapat hak produksi produk-produk merek internasional ternama dari [[Ralph Lauren Corporation|Polo Ralph Lauren]], Jones Apparel Group, [[Kohl's]] Department Store, Perry Ellis International,<ref>[http://indoprogress.blogspot.com/2010/01/liputan-khusus.html Bekerja dan Melawan]</ref> [[Eddie Bauer]], May Co., [[Belk]], [[Tommy Hilfiger (perusahaan)|Tommy Hilfiger]], [[Dillard's]], dan [[Esprit Holdings|Esprit]].<ref>[https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-548359/sarasa-nugraha-banting-setir-ke-ke-bisnis-agro-kimia Sarasa Nugraha Banting Setir ke ke Bisnis Agro Kimia]</ref> Meskipun demikian, usaha garmen ini terbilang tidak terlalu besar, sehingga sempat muncul rumor akuisisi pada tahun 1996.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=aZBuAAAAMAAJ&q=sarasa+nugraha&dq=sarasa+nugraha&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwiQz5CRhoD4AhV94XMBHThNAuA4HhDoAXoECAYQAg Indonesia News Service, Masalah 1130-1208]</ref>


Bisnis Sarasa mulai goyang setelah munculnya [[krisis finansial Asia 1997|krisis ekonomi yang menimpa Indonesia di akhir 1990-an]], yang dimana pada tahun 1998, perusahaan terpaksa mencatatkan kerugian. Memburuknya kondisi perusahaan ini dibuktikan dengan ancaman penghapusan sahamnya dari BEJ pada tahun 2000, akibat [[akuntan publik]] menyatakan ''disclaimer'' pada [[laporan keuangan]]nya, meskipun sempat menyatakan perusahaan berhasil mencatatkan penjualan tertinggi. Hal ini karena keuangan perusahaan yang belakangan terus merugi dan banyak terbelit utang, sehingga menyulitkan perbaikan keuangan Sarasa Nugraha Tbk. Tantangan-tantangan pun mulai bermunculan, seperti instabilitas [[rupiah]] atas [[dolar Amerika Serikat|dolar AS]]; penurunan ekonomi tujuan ekspor utamanya, AS; adanya instabilitas politik; dan munculnya negara-negara produsen garmen pesaing, seperti [[Tiongkok]]. Berbagai langkah pun ditempuh demi memperbaiki kinerjanya, seperti konversi hutang menjadi saham, rencana pencarian investor strategis, dan merger dengan anak usahanya, PT Sarasa Mitratama pada pertengahan 2002.
Bisnis Sarasa mulai goyang setelah munculnya [[krisis finansial Asia 1997|krisis ekonomi yang menimpa Indonesia di akhir 1990-an]], yang dimana pada tahun 1998, perusahaan terpaksa mencatatkan kerugian.<ref>[https://web.archive.org/web/20040710102035/http://www.sarasa-nugraha.com/financial_1998.htm Financial Highlights 1998 - In Million Rupiah]</ref> Memburuknya kondisi perusahaan ini dibuktikan dengan ancaman penghapusan sahamnya dari BEJ pada tahun 2000, akibat [[akuntan publik]] menyatakan ''disclaimer'' pada [[laporan keuangan]]nya,<ref>[https://books.google.co.id/books?id=IpO0AAAAIAAJ&q=sarasa+delisting&dq=sarasa+delisting&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwie1MK5h4D4AhU4ILcAHfGxDWYQ6AF6BAgCEAI Indonesian Business: The Year in Review]</ref> meskipun sempat menyatakan perusahaan berhasil mencatatkan penjualan tertinggi.<ref>[https://web.archive.org/web/20021106021210/http://www.sarasa-nugraha.com/investor.htm INVESTOR RELATIONS]</ref> Hal ini karena keuangan perusahaan yang belakangan terus merugi dan banyak terbelit utang, sehingga menyulitkan perbaikan keuangan Sarasa Nugraha Tbk.<ref>[https://lib.ui.ac.id/detail?id=20449406&lokasi=lokal Analisis bisnis atas perusahaan-perusahaan publik dalam industri garmen dan tekstil di Indonesia : studi kasus pada PT. Century Textile Industry Tbk., dan PT. Sarasa Nugraha Tbk.]</ref> Tantangan-tantangan pun mulai bermunculan, seperti instabilitas [[rupiah]] atas [[dolar Amerika Serikat|dolar AS]]; penurunan ekonomi tujuan ekspor utamanya, AS; adanya instabilitas politik;<ref>[https://web.archive.org/web/20021106021106/http://www.sarasa-nugraha.com/company.htm COMPANY PROFILE|ABOUT]</ref> dan munculnya negara-negara produsen garmen pesaing, seperti [[Tiongkok]].<ref>[https://www.kompasiana.com/imranrusli/55cf4a07f17e6126059aa614/tanah-abang-tak-kunjung-lengang-14?page=2&page_images=1 Tanah Abang, Tak Kunjung Lengang (14)]</ref> Berbagai langkah pun ditempuh demi memperbaiki kinerjanya, seperti konversi hutang menjadi saham,<ref>[https://lib.ui.ac.id/detail?id=20449406&lokasi=lokal Analisis bisnis atas perusahaan-perusahaan publik dalam industri garmen dan tekstil di Indonesia : studi kasus pada PT. Century Textile Industry Tbk., dan PT. Sarasa Nugraha Tbk.]</ref> rencana pencarian investor strategis,<ref>[https://www.google.com/search?q=sarasa+nugraha&tbm=bks&sxsrf=ALiCzsZPvRwZWJb47F2H4wgGj08WWb_CaA:1653662406072&ei=xuKQYu74A57Yz7sPkZaQmAI&start=30&sa=N&ved=2ahUKEwju86rC9P_3AhUe7HMBHRELBCM4FBDy0wN6BAgBEEc&biw=1366&bih=657&dpr=1 Panji masyarakat, Volume 3]</ref> dan merger dengan anak usahanya, PT Sarasa Mitratama pada pertengahan 2002.<ref>[https://www.just-style.com/news/indonesia-pt-sarasa-mitratama-pt-sarasa-nugraha-to-merge/ INDONESIA: PT Sarasa Mitratama, PT Sarasa Nugraha To Merge]</ref>


Namun, akhirnya malang tak dapat ditolak, tekanan yang dihadapi Sarasa pun makin besar, terutama konflik dengan para [[buruh]] yang terjadi sejak 2003 terkait kenaikan upah. Angin reformasi membuat para buruh mulai bergerak, tetapi di saat yang sama, posisi keuangan perusahaan makin merugi dan kehilangan pesanan dari pasar luar negeri. Pada 29 Februari 2004, manajemen PT Sarasa Nugraha Tbk memutuskan untuk menutup operasional pabriknya di [[Balaraja, Tangerang]] yang berarti merumahkan para buruh yang mencapai 1.652 orang. Namun, pihak manajemen kemudian hanya membayar 25% dari kewajiban [[pesangon]], tidak memenuhi seluruh kewajibannya dan membuat banyak buruh mengalami nasib "luntang-lantung" tanpa kepastian. Sejumlah buruh dan [[serikat buruh|serikatnya]] juga mengklaim bahwa pihak manajemen hanya berbohong tentang masalahnya karena pabriknya yang lain di [[Cibodas, Tangerang]] tidak ikut ditutup, dan menduga penutupan tersebut karena pemilik pabrik berkeinginan mengubah status buruh tetap menjadi buruh kontrak. Sebenarnya, pihak manajemen pada Oktober 2004 sudah bersepakat untuk membuka kembali pabriknya di Balaraja dan memperkerjakan 841 orang buruh, tetapi kemudian tidak ada realisasi yang jelas hingga 2005. Buruh pun dalam perkembangannya terus berdemo di pabrik Balaraja.
Namun, akhirnya malang tak dapat ditolak, tekanan yang dihadapi Sarasa pun makin besar, terutama konflik dengan para [[buruh]] yang terjadi sejak 2003 terkait kenaikan upah.<ref>[https://news.detik.com/berita/d-167024/tolak-phk--buruh-pt-sarasa-nugraha-demo-di-depnakertrans Tolak PHK, Buruh PT Sarasa Nugraha Demo di Depnakertrans]</ref> Angin reformasi membuat para buruh mulai bergerak, tetapi di saat yang sama, posisi keuangan perusahaan makin merugi dan kehilangan pesanan dari pasar luar negeri. Pada 29 Februari 2004, manajemen PT Sarasa Nugraha Tbk memutuskan untuk menutup operasional pabriknya di [[Balaraja, Tangerang]] yang berarti merumahkan para buruh yang mencapai 1.652 orang. Namun, pihak manajemen kemudian hanya membayar 25% dari kewajiban [[pesangon]], tidak memenuhi seluruh kewajibannya dan membuat banyak buruh mengalami nasib "luntang-lantung" tanpa kepastian. Sejumlah buruh dan [[serikat buruh|serikatnya]] juga mengklaim bahwa pihak manajemen hanya berbohong tentang masalahnya karena pabriknya yang lain di [[Cibodas, Tangerang]] tidak ikut ditutup, dan menduga penutupan tersebut karena pemilik pabrik berkeinginan mengubah status buruh tetap menjadi buruh kontrak. Sebenarnya, pihak manajemen pada Oktober 2004 sudah bersepakat untuk membuka kembali pabriknya di Balaraja dan memperkerjakan 841 orang buruh, tetapi kemudian tidak ada realisasi yang jelas hingga 2005.<ref>[http://indoprogress.blogspot.com/2010/01/liputan-khusus.html Bekerja dan Melawan]</ref><ref>[https://www.workersliberty.org/story/2017-07-26/union-busting-dispute-enters-second-year Union busting dispute enters second year]</ref><ref>[http://ksn.or.id/sejarah-perjalanan-federasi-serikat-buruh-karya-utama/ Sejarah Perjalanan Federasi Serikat Buruh Karya Utama]</ref><ref>[https://metro.tempo.co/read/42117/1-652-buruh-celana-polo-terancam-phk 1.652 Buruh Celana Polo Terancam PHK]</ref> Buruh pun dalam perkembangannya terus berdemo di pabrik Balaraja.<ref>[https://www.liputan6.com/news/read/85353/buruh-sarasa-nugraha-masih-bertahan Buruh Sarasa Nugraha Masih Bertahan]</ref>


Akibat krisis ini, tercatat harga saham perusahaan di BEJ melorot menjadi di bawah Rp 25/lembar saham. Ketika protes pekerja di pabrik Balaraja masih berlangsung, manajemen akhirnya memutuskan menutup pabrik keduanya di Cibodas sejak Februari 2005, memecat sekitar 1.700 karyawan, dalam kondisi keuangan yang masih merugi. Peristiwa tersebut mengakhiri bisnis tekstil dan garmen yang sudah dijalani perusahaan ini sejak awal, dan sebagai gantinya, bisnis garmen dan pabrik perusahaan kemudian diambilalih oleh perusahaan lain.
Akibat krisis ini, tercatat harga saham perusahaan di BEJ melorot menjadi di bawah Rp 25/lembar saham.<ref>[https://books.google.co.id/books?id=m6_iAAAAMAAJ&q=sarasa+nugraha+Rp+25&dq=sarasa+nugraha+Rp+25&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwiTw8jjj4D4AhW2RmwGHUn7CEsQ6AF6BAgJEAI Dunia EKUIN dan PERBANKAN, Volume 17,Masalah 21-22]</ref> Ketika protes pekerja di pabrik Balaraja masih berlangsung, manajemen akhirnya memutuskan menutup pabrik keduanya di Cibodas sejak Februari 2005, memecat sekitar 1.700 karyawan,<ref>[https://www.kompasiana.com/imranrusli/55cf4a07f17e6126059aa614/tanah-abang-tak-kunjung-lengang-14?page=2&page_images=1 Tanah Abang, Tak Kunjung Lengang (14)]</ref> dalam kondisi keuangan yang masih merugi. Peristiwa tersebut mengakhiri bisnis tekstil dan garmen yang sudah dijalani perusahaan ini sejak awal, dan sebagai gantinya, bisnis garmen dan pabrik perusahaan kemudian diambilalih oleh perusahaan lain.<ref>[https://123dok.com/document/ydkv84lq-sarasa-nugraha-neraca-juni-ribuan-rupiah-kecuali-saham.html PT SARASA NUGRAHA Tbk NERACA Per 30 Juni 2005 dan 2004 (Dalam Ribuan Rupiah, Kecuali Data Saham)]</ref>


===Merger perusahaan===
===Merger perusahaan===
Rupanya, kesulitan yang dihadapi oleh Sarasa Nugraha Tbk kemudian dimanfaatkan oleh PT Indo Acidatama Chemical Industry untuk melakukan ''backdoor listing''. Dimulai pada 17 Juni 2005, dimana pemilik PT IACI (Bambang Setijo) menjadi Komisaris Utama PT Sarasa Nugraha Tbk. Kemudian, pada 26 Agustus 2005, PT IACI kemudian menggabungkan usahanya ([[merger]]) ke dalam PT Sarasa Nugraha Tbk, dimana pemegang saham PT IACI akan menjadi pemegang saham utama (86%) dari PT Sarasa Nugraha Tbk. Hal ini menyebabkan pemegang saham lama Sarasa menghilang/terdilusi, dan eks-pemegang saham PT IACI menjadi pemilik utama Sarasa. Merger ini diklaim dapat memperkuat modal perusahaan dan meningkatkan kinerjanya, karena industri kimia lebih menguntungkan dibanding industri garmen. Proses ini tuntas dengan disahkannya merger oleh [[Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia]] Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-27286.HT.01.04.TH.2005 tanggal 4 Oktober 2005 dan pergantian nama dari PT Sarasa Nugraha Tbk menjadi '''PT Indo Acidatama Tbk''' terhitung mulai 30 Juni 2006, yang berarti membawa Indo Acidatama memasuki bursa saham. Bidang usahanya kemudian juga berganti dari industri garmen ke industri kimia. Pasca-merger, PT Indo Acidatama Tbk menargetkan belanja modal [[Dolar Amerika Serikat|US$]] 4,5 juta dan menargetkan mulai memproduksi [[gasohol]] pada tahun 2006-2007. Pada tahun tersebut, perusahaan memperkerjakan 381 karyawan, naik dari Juni 2005 sebesar 8 karyawan. Tidak lama setelah merger, tepatnya pada 2007, PT Indo Acidatama Tbk juga telah mengadopsi logo baru sejalan dengan visi dan misi barunya.
Rupanya, kesulitan yang dihadapi oleh Sarasa Nugraha Tbk kemudian dimanfaatkan oleh PT Indo Acidatama Chemical Industry untuk melakukan ''backdoor listing''. Dimulai pada 17 Juni 2005, dimana pemilik PT IACI (Bambang Setijo) menjadi Komisaris Utama PT Sarasa Nugraha Tbk.<ref>[https://docplayer.info/storage/67/56511892/56511892.pdf PT SARASA NUGRAHA Tbk]</ref> Kemudian, pada 26 Agustus 2005, PT IACI kemudian menggabungkan usahanya ([[merger]]) ke dalam PT Sarasa Nugraha Tbk, dimana pemegang saham PT IACI akan menjadi pemegang saham utama (86%) dari PT Sarasa Nugraha Tbk. Hal ini menyebabkan pemegang saham lama Sarasa menghilang/terdilusi, dan eks-pemegang saham PT IACI menjadi pemilik utama Sarasa. Merger ini diklaim dapat memperkuat modal perusahaan dan meningkatkan kinerjanya, karena industri kimia lebih menguntungkan dibanding industri garmen. Proses ini tuntas dengan disahkannya merger oleh [[Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia]] Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-27286.HT.01.04.TH.2005 tanggal 4 Oktober 2005 dan pergantian nama dari PT Sarasa Nugraha Tbk menjadi '''PT Indo Acidatama Tbk''' terhitung mulai 30 Juni 2006,<ref>[https://adoc.pub/download/h-pt-sarasa-nugraha-tbk-neraca-per-30-juni-2006-dan-2005-dal.html?reader=1 PT INDO ACIDATAMA Tbk]</ref> yang berarti membawa Indo Acidatama memasuki bursa saham. Bidang usahanya kemudian juga berganti dari industri garmen ke industri kimia. Pasca-merger, PT Indo Acidatama Tbk menargetkan belanja modal [[Dolar Amerika Serikat|US$]] 4,5 juta dan menargetkan mulai memproduksi [[gasohol]] pada tahun 2006-2007.<ref>[https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-548359/sarasa-nugraha-banting-setir-ke-ke-bisnis-agro-kimia Sarasa Nugraha Banting Setir ke ke Bisnis Agro Kimia]</ref> Pada tahun tersebut, perusahaan memperkerjakan 381 karyawan,<ref>[https://adoc.pub/download/h-pt-sarasa-nugraha-tbk-neraca-per-30-juni-2006-dan-2005-dal.html?reader=1 PT INDO ACIDATAMA Tbk]</ref> naik dari Juni 2005 sebesar 8 karyawan.<ref>[https://docplayer.info/storage/67/56511892/56511892.pdf PT SARASA NUGRAHA Tbk]</ref> Tidak lama setelah merger, tepatnya pada 2007, PT Indo Acidatama Tbk juga telah mengadopsi logo baru sejalan dengan visi dan misi barunya.<ref>[https://acidatama.co.id/sejarah-perusahaan.php RIWAYAT SINGKAT PERSEROAN]</ref>


===Perkembangan pasca-merger===
===Perkembangan pasca-merger===
Untuk memperluas usahanya, pada tahun 2007 perusahaan ini merencanakan akan membangun pabrik baru di [[Lampung]] seluas 30 ha yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2009. Selain itu, demi efisiensi, perusahaan juga akan menjual sejumlah asetnya di tahun tersebut yang tidak menguntungkan. Meskipun demikian, dalam perjalanannya perusahaan ini cenderung naik-turun. Pada tahun 2008, perusahaan misalnya merugi di tengah catatan penjualan Rp 313 miliar, tetapi juga sempat untung pada 2010 mencapai Rp 23 miliar. Kondisi ini tergantung situasi seperti harga produknya dan bahan baku [[tebu]] di pasaran. Etanol pada tahun 2010 menjadi penyumbang 75% penjualannya, sedangkan sisanya produk lain seperti asam asetat. Di tahun 2013, PT Indo Acidatama Tbk menargetkan pembangunan pabrik [[bioetanol]] berkapasitas 50.000 kiloliter/tahun dengan investasi Rp 20 miliar yang ditargetkan selesai pada tahun selanjutnya. Belakangan, perusahaan juga memproduksi [[pupuk]] dengan merek Pomi, Randex dan Beka, yang tercatat bisnisnya sudah dikembangkan sejak 2007 dengan aneka aplikasi, seperti untuk lahan [[gambut]] dan [[rawa]]. Pihak Indo Acidatama sendiri mengklaim bahwa pupuk mereka cocok untuk pertumbuhan [[padi]] dengan basis [[pupuk organik|organik]].
Untuk memperluas usahanya, pada tahun 2007 perusahaan ini merencanakan akan membangun pabrik baru di [[Lampung]] seluas 30 ha yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2009.<ref>[https://koran.tempo.co/read/ekonomi-dan-bisnis/112265/indo-acidatama-bangun-pabrik-baru Indo Acidatama Bangun...]</ref> Selain itu, demi efisiensi, perusahaan juga akan menjual sejumlah asetnya di tahun tersebut yang tidak menguntungkan.<ref>[https://koran.tempo.co/read/ekonomi-dan-bisnis/91775/indo-acidatama-akan-jual-aset Indo Acidatama Akan...]</ref> Meskipun demikian, dalam perjalanannya perusahaan ini cenderung naik-turun. Pada tahun 2008, perusahaan misalnya merugi di tengah catatan penjualan Rp 313 miliar,<ref>[https://economy.okezone.com/read/2009/06/01/278/225062/harga-produk-menurun-keuangan-indo-acidatama-ngekor Harga Produk Menurun, Keuangan Indo Acidatama Ngekor]</ref> tetapi juga sempat untung pada 2010 mencapai Rp 23 miliar. Kondisi ini tergantung situasi seperti harga produknya dan bahan baku [[tebu]] di pasaran.<ref>[https://ekonomi.bisnis.com/read/20110426/257/32315/indo-acidatama-patok-laba-melejit-140-percent Indo Acidatama patok laba melejit 140%]</ref> Etanol pada tahun 2010 menjadi penyumbang 75% penjualannya, sedangkan sisanya produk lain seperti asam asetat.<ref>[https://economy.okezone.com/read/2010/04/26/278/326551/indo-acid-targetkan-penjualan-rp401-17-miliar Indo Acid Targetkan Penjualan Rp401,17 Miliar]</ref> Di tahun 2013, PT Indo Acidatama Tbk menargetkan pembangunan pabrik [[bioetanol]] berkapasitas 50.000 kiloliter/tahun dengan investasi Rp 20 miliar yang ditargetkan selesai pada tahun selanjutnya.<ref>[https://economy.okezone.com/read/2013/06/11/320/820049/indo-acidatama-siapkan-rp20-miliar-bangun-pabrik-bioetanol Indo Acidatama Siapkan Rp20 Miliar Bangun Pabrik Bioetanol]</ref> Belakangan, perusahaan juga memproduksi [[pupuk]] dengan merek Pomi, Randex dan Beka,<ref>[https://m.merdeka.com/indo-acidatama/profil Indo Acidatama]</ref> yang tercatat bisnisnya sudah dikembangkan sejak 2007<ref>[https://nasional.kontan.co.id/news/kementan-lepas-ekspor-perdana-pupuk-organik-indonesia-milik-indo-acidatama Kementan lepas ekspor perdana pupuk organik Indonesia milik Indo Acidatama]</ref> dengan aneka aplikasi, seperti untuk lahan [[gambut]]<ref>[https://www.wartaekonomi.co.id/read199853/indo-acidatama-kembangkan-pupuk-untuk-lahan-gambut Indo Acidatama Kembangkan Pupuk untuk Lahan Gambut]</ref> dan [[rawa]].<ref>[https://ekonomi.bisnis.com/read/20181021/99/851862/indo-acid-tama-kembangkan-pupuk-untuk-lahan-sub-optimal Indo Acid Tama Kembangkan Pupuk untuk Lahan Sub-Optimal]</ref> Pihak Indo Acidatama sendiri mengklaim bahwa pupuk mereka cocok untuk pertumbuhan [[padi]] dengan basis [[pupuk organik|organik]].<ref>[https://solopos.com/swasembada-beras-pengembangan-beka-dan-pomi-acidatama-tunggu-jokowi-650884 SWASEMBADA BERAS : Pengembangan Beka dan Pomi, Acidatama Tunggu Jokowi]</ref>


Kondisi keuangan fluktuatif pun juga dalam perkembangannya terus terjadi. Di tahun 2015, perusahaan mencatatkan laba Rp 15,5 miliar (naik 6,19%) yang ditopang perbaikan penjualan, kemudian di awal 2017 merugi Rp 434 juta, dan di tahun 2019 untung Rp 42 miliar. Sahamnya di [[Bursa Efek Indonesia]] juga tergolong stagnan, kebanyakan di bawah Rp 100/lembar (umumnya Rp 50 keatas saja). Untuk meningkatkan kinerjanya, perusahaan juga menargetkan pasar [[ekspor]]. Misalnya pada Desember 2019, perusahaan telah mengekspor 10.000 liter pupuk cair ke [[Malaysia]]. Selain itu, perusahaan juga dirumorkan beberapa kali diminati investor asing untuk bekerjasama atau diakuisisi, karena potensinya cukup besar, seperti pada tahun 2010 dari [[Uni Emirat Arab]].
Kondisi keuangan fluktuatif pun juga dalam perkembangannya terus terjadi. Di tahun 2015, perusahaan mencatatkan laba Rp 15,5 miliar (naik 6,19%) yang ditopang perbaikan penjualan,<ref>[https://pasardana.id/news/2016/3/24/ditopang-penjualan-laba-indo-acidatama-tumbuh-6-19-pada-2015/ Ditopang Penjualan, Laba Indo Acidatama Tumbuh 6,19% pada 2015]</ref> kemudian di awal 2017 merugi Rp 434 juta,<ref>[https://economy.okezone.com/read/2017/04/26/278/1676615/penjualan-turun-indo-acidatama-derita-rugi-bersih-rp434-juta Penjualan Turun, Indo Acidatama Derita Rugi Bersih Rp434 Juta]</ref> dan di tahun 2019 untung Rp 42 miliar.<ref>[https://market.bisnis.com/read/20200402/192/1221364/indo-acidatama-srsn-cetak-kenaikan-laba-1057-persen Indo Acidatama (SRSN) Cetak Kenaikan Laba 10,57 Persen]</ref> Sahamnya di [[Bursa Efek Indonesia]] juga tergolong stagnan, kebanyakan di bawah Rp 100/lembar (umumnya Rp 50 keatas saja).<ref>[https://pasardana.id/news/2016/3/24/ditopang-penjualan-laba-indo-acidatama-tumbuh-6-19-pada-2015/ Ditopang Penjualan, Laba Indo Acidatama Tumbuh 6,19% pada 2015]</ref><ref>[https://www.bareksa.com/berita/pasar-modal/2018-12-07/pernah-masuk-klub-gocap-2017-apa-nasib-7-saham-ini-sekarang Pernah Masuk Klub Gocap 2017, Apa Nasib 7 Saham Ini Sekarang?]</ref> Untuk meningkatkan kinerjanya, perusahaan juga menargetkan pasar [[ekspor]]. Misalnya pada Desember 2019, perusahaan telah mengekspor 10.000 liter pupuk cair ke [[Malaysia]].<ref>[https://nasional.kontan.co.id/news/kementan-lepas-ekspor-perdana-pupuk-organik-indonesia-milik-indo-acidatama Kementan lepas ekspor perdana pupuk organik Indonesia milik Indo Acidatama]</ref> Selain itu, perusahaan juga dirumorkan beberapa kali diminati investor asing untuk bekerjasama atau diakuisisi, karena potensinya cukup besar, seperti pada tahun 2010 dari [[Uni Emirat Arab]].<ref>[https://www.viva.co.id/arsip/123991-investor-abu-dhabi-lirik-saham-indo-acidatama Investor Abu Dhabi Lirik Saham Indo Acidatama]</ref><ref>[https://investor.id/market-and-corporate/283901/akuisisi-dan-saham-undervalue-indo-acidatama-srsn-bakal-dikerek-ke-rp-100 Akuisisi dan Saham Undervalue, Indo Acidatama (SRSN) bakal Dikerek ke Rp 100]</ref>


Pada tahun 2020, kinerja perusahaan sendiri sempat terganggu larangan ekspor alkohol dalam penanganan [[pandemi COVID-19]], namun sejak 25 Agustus 2020, PT Indo Acidatama Tbk telah memulai kembali ekspornya, awalnya 539.000 liter ke [[Filipina]] dan ditargetkan naik menjadi 5 juta liter di akhir tahun ke berbagai negara. Di tahun tersebut juga, perusahaan mencatatkan untung Rp 44,5 miliar, yang kemudian merosot pada tahun 2021 menjadi Rp 26 miliar (dari alkohol Rp 731,31 miliar, asam asetat Rp 122,33 miliar, pupuk Rp 50,9 miliar, Co2 Rp 1,619 miliar, dan spiritus Rp 1,659 miliar) karena kenaikan beban produksi. Penurunan ini juga tercatat di kuartal pertama 2022.
Pada tahun 2020, kinerja perusahaan sendiri sempat terganggu larangan ekspor alkohol dalam penanganan [[pandemi COVID-19]], namun sejak 25 Agustus 2020, PT Indo Acidatama Tbk telah memulai kembali ekspornya, awalnya 539.000 liter ke [[Filipina]] dan ditargetkan naik menjadi 5 juta liter di akhir tahun ke berbagai negara.<ref>[https://jateng.tribunnews.com/2020/08/26/ekspor-etanol-diizinkan-jateng-ekspor-5-juta-liter-etanol-ke-australia-dan-asia-tenggara Ekspor Etanol diizinkan, Jateng Ekspor 5 juta Liter Etanol ke Australia dan Asia Tenggara]</ref><ref>[https://bctemas.beacukai.go.id/bukti-komitmen-dorong-perekonomian-jawa-tengah-bea-cukai-tanjung-emas-support-ekspor-perdana-indo-acidatama/ Bukti Komitmen Dorong Perekonomian Jawa Tengah, Bea Cukai Tanjung Emas Support Ekspor Perdana Indo Acidatama]</ref> Di tahun tersebut juga, perusahaan mencatatkan untung Rp 44,5 miliar,<ref>[https://www.idxchannel.com/market-news/sukses-cetak-laba-rp445-miliar-di-2020-indo-acidatama-srsn-siap-tebar-dividen Sukses Cetak Laba Rp44,5 miliar di 2020, Indo Acidatama (SRSN) Siap Tebar Dividen]</ref> yang kemudian merosot pada tahun 2021 menjadi Rp 26 miliar (dari alkohol Rp 731,31 miliar, asam asetat Rp 122,33 miliar, pupuk Rp 50,9 miliar, Co2 Rp 1,619 miliar, dan spiritus Rp 1,659 miliar) karena kenaikan beban produksi.<ref>[https://www.emitennews.com/news/anjlok-40-persen-laba-tahun-2021-indo-acidatama-srsn-sisa-rp26-miliar Anjlok 40 Persen, Laba Tahun 2021 Indo Acidatama (SRSN) Sisa Rp26 Miliar]</ref> Penurunan ini juga tercatat di kuartal pertama 2022.<ref>[https://www.idnfinancials.com/news/42986/indo-acidatama-revenue-decline-q Indo Acidatama saw a revenue decline in Q1 2022]</ref>


== Kontroversi ==
== Kontroversi ==
Perusahaan ini beberapa kali dikabarkan tersangkut masalah [[pencemaran lingkungan]] yang merugikan masyarakat. Sempat PT Indo Acidatama Tbk dikeluhkan warga karena masalah pencemaran udara, tetapi kemudian bisa diatasi dengan pembangunan fasilitas. Di bulan Agustus 2020, Indo Acidatama dikeluhkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Karanganyar karena limbahnya mencemari [[Sungai Siwaluh]] dan [[Sungai Sroyo|Sroyo]], dengan dituduh membangun "pipa siluman" demi membuang limbahnya. Meskipun demikian, perusahaan membantah klaim "pipa siluman" itu dan menyatakan siap menangani masalah limbahnya.
Perusahaan ini beberapa kali dikabarkan tersangkut masalah [[pencemaran lingkungan]] yang merugikan masyarakat. Sempat PT Indo Acidatama Tbk dikeluhkan warga karena masalah pencemaran udara, tetapi kemudian bisa diatasi dengan pembangunan fasilitas.<ref>[https://www.solopos.com/pt-rum-sukoharjo-disarankan-pakai-karbon-aktif-untuk-atasi-bau-limbah-1033561 PT RUM Sukoharjo Disarankan Pakai Karbon Aktif Untuk Atasi Bau Limbah]</ref> Di bulan Agustus 2020, Indo Acidatama dikeluhkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Karanganyar karena limbahnya mencemari [[Sungai Siwaluh]] dan [[Sungai Sroyo|Sroyo]],<ref>[https://www.solopos.com/limbah-cemari-bengawan-solo-pabrik-ini-diminta-tutup-sementara-1076008 Limbah Cemari Bengawan Solo, Pabrik Ini Diminta Tutup Sementara]</ref> dengan dituduh membangun "pipa siluman" demi membuang limbahnya. Meskipun demikian, perusahaan membantah klaim "pipa siluman" itu dan menyatakan siap menangani masalah limbahnya.<ref>[https://www.solopos.com/limbah-cemari-bengawan-solo-pabrik-ini-diminta-tutup-sementara-1076008 Limbah Cemari Bengawan Solo, Pabrik Ini Diminta Tutup Sementara]</ref><ref>[https://tirto.id/keluarga-lukminto-di-balik-industri-pencemar-bengawan-solo-f4HD Keluarga Lukminto di Balik Industri Pencemar Bengawan Solo]</ref>
 
== Rujukan ==
 


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
* [https://www.acidatama.co.id/index.php Situs resmi]
* [https://www.acidatama.co.id/index.php Situs resmi]


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Indo+Acidatama&oldid=29611226 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29611226 (2026-08-21T15:10:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Indo+Acidatama&oldid=29611226 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29611226 (2026-08-21T15:10:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 17.56

PT Indo Acidatama Tbk adalah sebuah perusahaan publik di Indonesia () yang bergerak dalam bisnis usaha manufaktur kimia, seperti asam asetat dan etanol ditambah produk pupuk. Berkantor pusat di Graha Kencana, Jl. Raya Perjuangan, Jakarta Barat dan memiliki pabrik di Jl. Raya Solo-Sragen, Karanganyar, Jawa Tengah,[1] perusahaan ini sempat mengganti nama dan usaha yang digelutinya sejak berdiri.

Manajemen

  • Presiden Komisaris: Biantoro Setijo
  • Wakil Presiden Komisaris: Budhi Santoso
  • Komisaris: Budhi Hartono
  • Komisaris: Wymbo Widjaksono
  • Komisaris Independen: FS Bahri Nusantara
  • Komisaris Independen: Stephanus Junianto
  • Presiden Direktur: Budhi Moeljono
  • Wakil Presiden Direktur: Mulyadi Utomo Budhi Moeljono
  • Direktur: Wong Lukas Yoyok Nurcahya
  • Direktur: Nurdjono Kusumahadi
  • Direktur: Shelumiel Setijo
  • Direktur Independen: Sharad Ganesh Ugrankar[2]

Kepemilikan

  • Bambang Setijo: 22,75%
  • PT Budhi Bersaudara Manunggal: 14,15%
  • PT Kemiri Sarana Investama: 13,61%
  • Budhi Santoso: 9,9%
  • Budhi Hartono: 9%
  • Budhi Moeljono: 8,85%
  • PT Sarana Integritas: 5,04%
  • Mulyadi Utomo Budhi Moeljono: 0,18%
  • Publik: 16,53%[3]

Produk

  • Alkohol (kapasitas: 58.825 kiloliter/tahun)
  • Asam asetat (kapasitas: 56.600 ton/tahun)
  • Etil asetat (kapasitas: 7.500 ton/tahun)
  • Pupuk (merek Pomi, Randex, Beka, Alfinase):
    • Cair (kapasitas: 60.000 kiloliter/tahun)
    • Padat (kapasitas: 20.000 ton/tahun)[4]

Sejarah

PT Indo Acidatama Chemical Industry

Pada 15 Februari 1983, didirikan sebuah perusahaan bernama PT Indo Alkohol Utama yang kemudian pada 8 September 1986 berganti nama menjadi PT Indo Acidatama Chemical Industry (IACI).[5] Perusahaan ini didirikan dalam rangka memproduksi alkohol (untuk kebutuhan pakan), spiritus, asam asetat dan etil asetat dari molase (tetes tebu) di Karanganyar, Jawa Tengah, sedangkan kantor pusatnya ada di Surakarta.[6] Pabriknya kemudian mulai dibangun pada tahun 1986[7] oleh Krupp-Koppers Jerman,[8] dan direncanakan akan selesai pada tahun 1988.[9][10] Akhirnya, pabrik yang diklaim sebagai produsen etanol terbesar di Indonesia dan produsen asam asetat/etil asetat pertama di Asia itu memulai operasionalnya sejak Desember 1988[11] dan diresmikan pada pertengahan 1989 (bersama 5 pabrik lainnya) oleh Presiden Soeharto. Pabrik PT IACI ini memakan investasi Rp 48 miliar dan diharapkan bisa mengurangi impor produk luar negeri serta mendatangkan devisa. Kebetulan, pabrik tersebut sejak awal sudah mengekspor produksinya ke dua perusahaan Jepang untuk kebutuhan industri di sana.[12][13]

Pabrik tersebut awalnya memiliki kapasitas produksi 15.400 ton/tahun,[14] yang kemudian dinaikkan menjadi 33.000 ton/tahun dengan penyelesaian pembangunan pabrik lain di daerah yang sama pada Desember 1994.[15][16] PT IACI sendiri dimiliki oleh sejumlah pengusaha lokal, termasuk Sudwikatmono yang didudukkan sebagai presiden komisaris perusahaan ini[17] dan Bambang Setijo, seorang pengusaha tekstil.[18] PT IACI sendiri sempat tersandung masalah limbah dengan petani dan penduduk lokal di akhir 1990-an, meskipun kemudian bisa diatasi dengan kesepakatan kedua pihak pada tahun 1999.[19] Tercatat, pabrik IACI yang memiliki luas 11 hektar,[20] pada 2000-an memproduksi pertahun 42 juta liter etanol, spiritus 1,26 juta liter, asam asetat 33 juta liter, etil asetat 7,5 juta liter, selulosa asetat 33.000 ton, dan produk-produk lainnya.[21]

PT Sarasa Nugraha

Perusahaan ini didirikan pada tanggal 7 Desember 1982 dan mulai beroperasi sejak 1 Februari 1984, dengan kantor pusatnya ada di Jakarta Pusat dan pabriknya ada di Tangerang.[22][23] PT Sarasa Nugraha merupakan salah satu produsen tekstil, dalam hal ini pakaian jadi baik untuk pria dan wanita (blus, celana panjang dan pendek, kaos, dll)[24] dengan tujuan utama ekspor. Pada tahun 1992, produksi garmen Sarasa sudah mencapai 4 juta potong/tahun yang utamanya diekspor ke Amerika Serikat dan negara-negara lain seperti Jepang dan Australia, yang ditujukan kepada toko serba ada dan eceran di sana. Untuk memperkuat produksinya, perusahaan juga telah mengakuisisi perusahaan produsen garmen lainnya, PT Sarasa Mitratama (d/h PT Collen Kurnia Wisesa) pada tanggal 1 Juni 1992. Tercatat, dengan akuisisi itu, Sarasa Nugraha memiliki kuota ekspor 480.000 ton/tahun dan lebih dari 4.000 karyawan.[25][26]

Sejak 11 Januari 1993, PT Sarasa Nugraha telah menjadi perusahaan publik, dengan melepas 29,41% sahamnya ke publik dengan harga penawaran Rp 3.500/lembar saham.[27][28] Hasil IPO ini digunakan mayoritas untuk modal kerja dan pembayaran hutang, sisanya untuk mesin garmen baru.[29] Kode emiten SRSN berasal dari nama perusahaan saat itu. Di tahun 1995, perusahaan tercatat mencatat omzet Rp 87 miliar/tahun dari ekspornya.[30] Belakangan, Sarasa Nugraha juga mendapat hak produksi produk-produk merek internasional ternama dari Polo Ralph Lauren, Jones Apparel Group, Kohl's Department Store, Perry Ellis International,[31] Eddie Bauer, May Co., Belk, Tommy Hilfiger, Dillard's, dan Esprit.[32] Meskipun demikian, usaha garmen ini terbilang tidak terlalu besar, sehingga sempat muncul rumor akuisisi pada tahun 1996.[33]

Bisnis Sarasa mulai goyang setelah munculnya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia di akhir 1990-an, yang dimana pada tahun 1998, perusahaan terpaksa mencatatkan kerugian.[34] Memburuknya kondisi perusahaan ini dibuktikan dengan ancaman penghapusan sahamnya dari BEJ pada tahun 2000, akibat akuntan publik menyatakan disclaimer pada laporan keuangannya,[35] meskipun sempat menyatakan perusahaan berhasil mencatatkan penjualan tertinggi.[36] Hal ini karena keuangan perusahaan yang belakangan terus merugi dan banyak terbelit utang, sehingga menyulitkan perbaikan keuangan Sarasa Nugraha Tbk.[37] Tantangan-tantangan pun mulai bermunculan, seperti instabilitas rupiah atas dolar AS; penurunan ekonomi tujuan ekspor utamanya, AS; adanya instabilitas politik;[38] dan munculnya negara-negara produsen garmen pesaing, seperti Tiongkok.[39] Berbagai langkah pun ditempuh demi memperbaiki kinerjanya, seperti konversi hutang menjadi saham,[40] rencana pencarian investor strategis,[41] dan merger dengan anak usahanya, PT Sarasa Mitratama pada pertengahan 2002.[42]

Namun, akhirnya malang tak dapat ditolak, tekanan yang dihadapi Sarasa pun makin besar, terutama konflik dengan para buruh yang terjadi sejak 2003 terkait kenaikan upah.[43] Angin reformasi membuat para buruh mulai bergerak, tetapi di saat yang sama, posisi keuangan perusahaan makin merugi dan kehilangan pesanan dari pasar luar negeri. Pada 29 Februari 2004, manajemen PT Sarasa Nugraha Tbk memutuskan untuk menutup operasional pabriknya di Balaraja, Tangerang yang berarti merumahkan para buruh yang mencapai 1.652 orang. Namun, pihak manajemen kemudian hanya membayar 25% dari kewajiban pesangon, tidak memenuhi seluruh kewajibannya dan membuat banyak buruh mengalami nasib "luntang-lantung" tanpa kepastian. Sejumlah buruh dan serikatnya juga mengklaim bahwa pihak manajemen hanya berbohong tentang masalahnya karena pabriknya yang lain di Cibodas, Tangerang tidak ikut ditutup, dan menduga penutupan tersebut karena pemilik pabrik berkeinginan mengubah status buruh tetap menjadi buruh kontrak. Sebenarnya, pihak manajemen pada Oktober 2004 sudah bersepakat untuk membuka kembali pabriknya di Balaraja dan memperkerjakan 841 orang buruh, tetapi kemudian tidak ada realisasi yang jelas hingga 2005.[44][45][46][47] Buruh pun dalam perkembangannya terus berdemo di pabrik Balaraja.[48]

Akibat krisis ini, tercatat harga saham perusahaan di BEJ melorot menjadi di bawah Rp 25/lembar saham.[49] Ketika protes pekerja di pabrik Balaraja masih berlangsung, manajemen akhirnya memutuskan menutup pabrik keduanya di Cibodas sejak Februari 2005, memecat sekitar 1.700 karyawan,[50] dalam kondisi keuangan yang masih merugi. Peristiwa tersebut mengakhiri bisnis tekstil dan garmen yang sudah dijalani perusahaan ini sejak awal, dan sebagai gantinya, bisnis garmen dan pabrik perusahaan kemudian diambilalih oleh perusahaan lain.[51]

Merger perusahaan

Rupanya, kesulitan yang dihadapi oleh Sarasa Nugraha Tbk kemudian dimanfaatkan oleh PT Indo Acidatama Chemical Industry untuk melakukan backdoor listing. Dimulai pada 17 Juni 2005, dimana pemilik PT IACI (Bambang Setijo) menjadi Komisaris Utama PT Sarasa Nugraha Tbk.[52] Kemudian, pada 26 Agustus 2005, PT IACI kemudian menggabungkan usahanya (merger) ke dalam PT Sarasa Nugraha Tbk, dimana pemegang saham PT IACI akan menjadi pemegang saham utama (86%) dari PT Sarasa Nugraha Tbk. Hal ini menyebabkan pemegang saham lama Sarasa menghilang/terdilusi, dan eks-pemegang saham PT IACI menjadi pemilik utama Sarasa. Merger ini diklaim dapat memperkuat modal perusahaan dan meningkatkan kinerjanya, karena industri kimia lebih menguntungkan dibanding industri garmen. Proses ini tuntas dengan disahkannya merger oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-27286.HT.01.04.TH.2005 tanggal 4 Oktober 2005 dan pergantian nama dari PT Sarasa Nugraha Tbk menjadi PT Indo Acidatama Tbk terhitung mulai 30 Juni 2006,[53] yang berarti membawa Indo Acidatama memasuki bursa saham. Bidang usahanya kemudian juga berganti dari industri garmen ke industri kimia. Pasca-merger, PT Indo Acidatama Tbk menargetkan belanja modal US$ 4,5 juta dan menargetkan mulai memproduksi gasohol pada tahun 2006-2007.[54] Pada tahun tersebut, perusahaan memperkerjakan 381 karyawan,[55] naik dari Juni 2005 sebesar 8 karyawan.[56] Tidak lama setelah merger, tepatnya pada 2007, PT Indo Acidatama Tbk juga telah mengadopsi logo baru sejalan dengan visi dan misi barunya.[57]

Perkembangan pasca-merger

Untuk memperluas usahanya, pada tahun 2007 perusahaan ini merencanakan akan membangun pabrik baru di Lampung seluas 30 ha yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2009.[58] Selain itu, demi efisiensi, perusahaan juga akan menjual sejumlah asetnya di tahun tersebut yang tidak menguntungkan.[59] Meskipun demikian, dalam perjalanannya perusahaan ini cenderung naik-turun. Pada tahun 2008, perusahaan misalnya merugi di tengah catatan penjualan Rp 313 miliar,[60] tetapi juga sempat untung pada 2010 mencapai Rp 23 miliar. Kondisi ini tergantung situasi seperti harga produknya dan bahan baku tebu di pasaran.[61] Etanol pada tahun 2010 menjadi penyumbang 75% penjualannya, sedangkan sisanya produk lain seperti asam asetat.[62] Di tahun 2013, PT Indo Acidatama Tbk menargetkan pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 50.000 kiloliter/tahun dengan investasi Rp 20 miliar yang ditargetkan selesai pada tahun selanjutnya.[63] Belakangan, perusahaan juga memproduksi pupuk dengan merek Pomi, Randex dan Beka,[64] yang tercatat bisnisnya sudah dikembangkan sejak 2007[65] dengan aneka aplikasi, seperti untuk lahan gambut[66] dan rawa.[67] Pihak Indo Acidatama sendiri mengklaim bahwa pupuk mereka cocok untuk pertumbuhan padi dengan basis organik.[68]

Kondisi keuangan fluktuatif pun juga dalam perkembangannya terus terjadi. Di tahun 2015, perusahaan mencatatkan laba Rp 15,5 miliar (naik 6,19%) yang ditopang perbaikan penjualan,[69] kemudian di awal 2017 merugi Rp 434 juta,[70] dan di tahun 2019 untung Rp 42 miliar.[71] Sahamnya di Bursa Efek Indonesia juga tergolong stagnan, kebanyakan di bawah Rp 100/lembar (umumnya Rp 50 keatas saja).[72][73] Untuk meningkatkan kinerjanya, perusahaan juga menargetkan pasar ekspor. Misalnya pada Desember 2019, perusahaan telah mengekspor 10.000 liter pupuk cair ke Malaysia.[74] Selain itu, perusahaan juga dirumorkan beberapa kali diminati investor asing untuk bekerjasama atau diakuisisi, karena potensinya cukup besar, seperti pada tahun 2010 dari Uni Emirat Arab.[75][76]

Pada tahun 2020, kinerja perusahaan sendiri sempat terganggu larangan ekspor alkohol dalam penanganan pandemi COVID-19, namun sejak 25 Agustus 2020, PT Indo Acidatama Tbk telah memulai kembali ekspornya, awalnya 539.000 liter ke Filipina dan ditargetkan naik menjadi 5 juta liter di akhir tahun ke berbagai negara.[77][78] Di tahun tersebut juga, perusahaan mencatatkan untung Rp 44,5 miliar,[79] yang kemudian merosot pada tahun 2021 menjadi Rp 26 miliar (dari alkohol Rp 731,31 miliar, asam asetat Rp 122,33 miliar, pupuk Rp 50,9 miliar, Co2 Rp 1,619 miliar, dan spiritus Rp 1,659 miliar) karena kenaikan beban produksi.[80] Penurunan ini juga tercatat di kuartal pertama 2022.[81]

Kontroversi

Perusahaan ini beberapa kali dikabarkan tersangkut masalah pencemaran lingkungan yang merugikan masyarakat. Sempat PT Indo Acidatama Tbk dikeluhkan warga karena masalah pencemaran udara, tetapi kemudian bisa diatasi dengan pembangunan fasilitas.[82] Di bulan Agustus 2020, Indo Acidatama dikeluhkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Karanganyar karena limbahnya mencemari Sungai Siwaluh dan Sroyo,[83] dengan dituduh membangun "pipa siluman" demi membuang limbahnya. Meskipun demikian, perusahaan membantah klaim "pipa siluman" itu dan menyatakan siap menangani masalah limbahnya.[84][85]

Pranala luar

Referensi

  1. LAP-TAHUNAN SRSN 2021
  2. Profil DATA PERSEROAN
  3. Struktur Pemegang Saham DATA PERSEROAN
  4. LAP-TAHUNAN SRSN 2021
  5. Indonesian Manufacturer Directory 1993/1994
  6. Parlementaria, Volume 20-21
  7. Our Profile
  8. chemical week
  9. Tempo, Volume 19
  10. Annual Report - Organization of the Petroleum Exporting Countries
  11. Our Profile
  12. Tempo, Volume 19
  13. Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam berita: 1989
  14. Selected Topics on Biotechnology as Indonesian Country Reports, 1988-2000
  15. Our Profile
  16. chemical week
  17. Tempo, Volume 19
  18. Mematahkan belenggu motivasi: membangkitkan energi penggerak sumber daya manusia
  19. Environmental Dispute Resolution in Indonesia
  20. I. PENDAHULUAN
  21. INDO ACIDATAMA CHEMICAL INDUSTRY, PT. Industri Produk Kimia
  22. Sejarah dan Profil Singkat SRSN (Indo Acidatama Tbk)
  23. Prospektus SRSN, 1992
  24. Corporate Handbook, Indonesia: The Definitive Guide to Listed Companies, Volume 2
  25. Prospektus SRSN, 1992
  26. Emiten pasar modal Indonesia
  27. Sejarah dan Profil Singkat SRSN (Indo Acidatama Tbk)
  28. Prospektus SRSN, 1992
  29. Emiten pasar modal Indonesia
  30. Dunia EKUIN dan PERBANKAN, Volume 8,Masalah 5-6
  31. Bekerja dan Melawan
  32. Sarasa Nugraha Banting Setir ke ke Bisnis Agro Kimia
  33. Indonesia News Service, Masalah 1130-1208
  34. Financial Highlights 1998 - In Million Rupiah
  35. Indonesian Business: The Year in Review
  36. INVESTOR RELATIONS
  37. Analisis bisnis atas perusahaan-perusahaan publik dalam industri garmen dan tekstil di Indonesia : studi kasus pada PT. Century Textile Industry Tbk., dan PT. Sarasa Nugraha Tbk.
  38. COMPANY PROFILE|ABOUT
  39. Tanah Abang, Tak Kunjung Lengang (14)
  40. Analisis bisnis atas perusahaan-perusahaan publik dalam industri garmen dan tekstil di Indonesia : studi kasus pada PT. Century Textile Industry Tbk., dan PT. Sarasa Nugraha Tbk.
  41. Panji masyarakat, Volume 3
  42. INDONESIA: PT Sarasa Mitratama, PT Sarasa Nugraha To Merge
  43. Tolak PHK, Buruh PT Sarasa Nugraha Demo di Depnakertrans
  44. Bekerja dan Melawan
  45. Union busting dispute enters second year
  46. Sejarah Perjalanan Federasi Serikat Buruh Karya Utama
  47. 1.652 Buruh Celana Polo Terancam PHK
  48. Buruh Sarasa Nugraha Masih Bertahan
  49. Dunia EKUIN dan PERBANKAN, Volume 17,Masalah 21-22
  50. Tanah Abang, Tak Kunjung Lengang (14)
  51. PT SARASA NUGRAHA Tbk NERACA Per 30 Juni 2005 dan 2004 (Dalam Ribuan Rupiah, Kecuali Data Saham)
  52. PT SARASA NUGRAHA Tbk
  53. PT INDO ACIDATAMA Tbk
  54. Sarasa Nugraha Banting Setir ke ke Bisnis Agro Kimia
  55. PT INDO ACIDATAMA Tbk
  56. PT SARASA NUGRAHA Tbk
  57. RIWAYAT SINGKAT PERSEROAN
  58. Indo Acidatama Bangun...
  59. Indo Acidatama Akan...
  60. Harga Produk Menurun, Keuangan Indo Acidatama Ngekor
  61. Indo Acidatama patok laba melejit 140%
  62. Indo Acid Targetkan Penjualan Rp401,17 Miliar
  63. Indo Acidatama Siapkan Rp20 Miliar Bangun Pabrik Bioetanol
  64. Indo Acidatama
  65. Kementan lepas ekspor perdana pupuk organik Indonesia milik Indo Acidatama
  66. Indo Acidatama Kembangkan Pupuk untuk Lahan Gambut
  67. Indo Acid Tama Kembangkan Pupuk untuk Lahan Sub-Optimal
  68. SWASEMBADA BERAS : Pengembangan Beka dan Pomi, Acidatama Tunggu Jokowi
  69. Ditopang Penjualan, Laba Indo Acidatama Tumbuh 6,19% pada 2015
  70. Penjualan Turun, Indo Acidatama Derita Rugi Bersih Rp434 Juta
  71. Indo Acidatama (SRSN) Cetak Kenaikan Laba 10,57 Persen
  72. Ditopang Penjualan, Laba Indo Acidatama Tumbuh 6,19% pada 2015
  73. Pernah Masuk Klub Gocap 2017, Apa Nasib 7 Saham Ini Sekarang?
  74. Kementan lepas ekspor perdana pupuk organik Indonesia milik Indo Acidatama
  75. Investor Abu Dhabi Lirik Saham Indo Acidatama
  76. Akuisisi dan Saham Undervalue, Indo Acidatama (SRSN) bakal Dikerek ke Rp 100
  77. Ekspor Etanol diizinkan, Jateng Ekspor 5 juta Liter Etanol ke Australia dan Asia Tenggara
  78. Bukti Komitmen Dorong Perekonomian Jawa Tengah, Bea Cukai Tanjung Emas Support Ekspor Perdana Indo Acidatama
  79. Sukses Cetak Laba Rp44,5 miliar di 2020, Indo Acidatama (SRSN) Siap Tebar Dividen
  80. Anjlok 40 Persen, Laba Tahun 2021 Indo Acidatama (SRSN) Sisa Rp26 Miliar
  81. Indo Acidatama saw a revenue decline in Q1 2022
  82. PT RUM Sukoharjo Disarankan Pakai Karbon Aktif Untuk Atasi Bau Limbah
  83. Limbah Cemari Bengawan Solo, Pabrik Ini Diminta Tutup Sementara
  84. Limbah Cemari Bengawan Solo, Pabrik Ini Diminta Tutup Sementara
  85. Keluarga Lukminto di Balik Industri Pencemar Bengawan Solo

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29611226 (2026-08-21T15:10:13Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.