Lompat ke isi

Mangrove: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29344189; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Mangrove''' adalah tumbuhan [[perdu]] (semak) atau pohon yang umumnya tumbuh di kawasan [[air asin]] atau [[air payau]] di [[Pesisir|pesisir laut]]. Mangrove umumnya berada di daerah [[Iklim hutan hujan tropis|beriklim khatulistiwa]], dan biasanya tumbuh di daerah sepanjang garis pesisir dan pinggiran sungai pasang surut yang memiliki kadar oksigen minim dan garam yang berlimpah. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan adaptasi khusus dalam mengambil oksigen ekstra di udara dan menghilangkan garam berlebih dari sistemnya, sehingga tumbuhan ini mampu bertahan hidup dalam kondisi tersebut yang mampu membunuh sebagian besar tumbuhan normal. Istilah "mangrove" juga dapat digunakan untuk [[vegetasi]] (kumpulan tumbuhan) mangrove tersebut. Vegetasi mangrove terdiri dari beraneka ragam spesies tumbuhan yang sering kali berkerabat jauh menurut taksonomi, tetapi memiliki kemampuan adaptasi yang mirip oleh karena [[evolusi konvergen]]. Tumbuhan mangrove dapat dijumpai di seluruh dunia di [[Tropika|daerah tropis]] dan [[Subtropis|daerah subtropis]] dan bahkan di beberapa daerah pesisir [[Iklim sedang|beriklim sedang]], terutama di antara [[garis lintang]] 30° LU dan 30° LS, dengan kawasan mangrove terluas berada pada daerah di antara 5° LU dan 5° LS. Vegetasi tumbuhan mangrove diperkirakan pertama kali muncul pada antara [[Kapur Akhir|Kala Kapur Akhir]] hingga [[Paleosen|Kala Paleosen]], dan kemudan tersebar ke berbagai belahan dunia, salah satunya akibat [[Tektonika lempeng|pergerakan lempeng tektonik]]. Fosil [[Nipah|palem mangrove]] tertua yang pernah diketahui berasal dari 75 juta tahun yang lalu.
'''Mangrove''' adalah tumbuhan [[perdu]] (semak) atau pohon yang umumnya tumbuh di kawasan [[air asin]] atau [[air payau]] di [[Pesisir|pesisir laut]]. Mangrove umumnya berada di daerah [[Iklim hutan hujan tropis|beriklim khatulistiwa]], dan biasanya tumbuh di daerah sepanjang garis pesisir dan pinggiran sungai pasang surut yang memiliki kadar oksigen minim dan garam yang berlimpah. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan adaptasi khusus dalam mengambil oksigen ekstra di udara dan menghilangkan garam berlebih dari sistemnya, sehingga tumbuhan ini mampu bertahan hidup dalam kondisi tersebut yang mampu membunuh sebagian besar tumbuhan normal. Istilah "mangrove" juga dapat digunakan untuk [[vegetasi]] (kumpulan tumbuhan) mangrove tersebut. Vegetasi mangrove terdiri dari beraneka ragam spesies tumbuhan yang sering kali berkerabat jauh menurut taksonomi, tetapi memiliki kemampuan adaptasi yang mirip oleh karena [[evolusi konvergen]]. Tumbuhan mangrove dapat dijumpai di seluruh dunia di [[Tropika|daerah tropis]] dan [[Subtropis|daerah subtropis]] dan bahkan di beberapa daerah pesisir [[Iklim sedang|beriklim sedang]], terutama di antara [[garis lintang]] 30°&nbsp;LU dan 30°&nbsp;LS, dengan kawasan mangrove terluas berada pada daerah di antara 5°&nbsp;LU dan 5°&nbsp;LS.<ref>C. Giri. ''Status and distribution of mangrove forests of the world using earth observation satellite data: Status and distributions of global mangroves''. ''Global Ecology and Biogeography''. 2011. Vol. 20 (1). hlm. 154–159. doi:10.1111/j.1466-8238.2010.00584.x.</ref><ref>D. A. Friess. ''The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future''. ''Annual Review of Environment and Resources''. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.</ref> Vegetasi tumbuhan mangrove diperkirakan pertama kali muncul pada antara [[Kapur Akhir|Kala Kapur Akhir]] hingga [[Paleosen|Kala Paleosen]], dan kemudan tersebar ke berbagai belahan dunia, salah satunya akibat [[Tektonika lempeng|pergerakan lempeng tektonik]]. Fosil [[Nipah|palem mangrove]] tertua yang pernah diketahui berasal dari 75 juta tahun yang lalu.<ref>D. A. Friess. ''The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future''. ''Annual Review of Environment and Resources''. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.</ref>


Mangrove merupakan tumbuhan yang toleran terhadap garam (yang disebut juga [[halofita]]), serta mampu beradaptasi dalam kondisi pesisir yang sangat sulit bagi tumbuhan normal. Mangrove memiliki sistem penyaringan garam dan sistem perakaran yang kompleks untuk mencegah bagian atas tumbuhan terendam dalam air asin dan juga mencegah terpaan gelombang yang kuat. Mangrove mampu hidup pada media [[lumpur]] tergenang yang memiliki kadar oksigen yang rendah, tetapi mangrove lebih sanggup bertumbuh dengan subur pada bagian atas [[zona intertidal]].
Mangrove merupakan tumbuhan yang toleran terhadap garam (yang disebut juga [[halofita]]), serta mampu beradaptasi dalam kondisi pesisir yang sangat sulit bagi tumbuhan normal. Mangrove memiliki sistem penyaringan garam dan sistem perakaran yang kompleks untuk mencegah bagian atas tumbuhan terendam dalam air asin dan juga mencegah terpaan gelombang yang kuat. Mangrove mampu hidup pada media [[lumpur]] tergenang yang memiliki kadar oksigen yang rendah,<ref>T. J. Flowers. ''Plant salt tolerance: adaptations in halophytes''. ''Annals of Botany''. 2015. Vol. 115 (3). hlm. 327–331. doi:10.1093/aob/mcu267.</ref> tetapi mangrove lebih sanggup bertumbuh dengan subur pada bagian atas [[zona intertidal]].<ref>Katarina Zimmer. [https://knowablemagazine.org/article/food-environment/2021/many-mangrove-restorations-fail Many mangrove restorations fail. Is there a better way?]. ''Knowable Magazine''. 22 July 2021. doi:10.1146/knowable-072221-1.</ref>


[[Bioma]] mangrove, disebut juga [[Hutan bakau|hutan mangrove]], merupakan habitat [[padang tiah]] atau [[belukar]] asin yang dicirikan oleh lingkungan endapan pesisir, tempat sedimen-sedimen halus (sering kali dengan kandungan organik tinggi) berkumpul di kawasan yang terlindung dari pengaruh gelombang berenergi tinggi. Hutan mangrove berfungsi sebagai habitat yang sangat penting bagi beragam spesies perairan, serta menawarkan ekosistem unik yang mendukung interaksi yang rumit antara kehidupan laut dan vegetasi darat. Keadaan salinitas yang dapat ditoleransi oleh vegetasi mangrove berkisar dari [[air payau]], air laut murni (salinitas 3 hingga 4%), hingga perairan yang memiliki tingkat salinitas dua kali lipat salinitas air laut akibat penguapan berlebih (salinitas hingga 9%).
[[Bioma]] mangrove, disebut juga [[Hutan bakau|hutan mangrove]], merupakan habitat [[padang tiah]] atau [[belukar]] asin yang dicirikan oleh lingkungan endapan pesisir, tempat sedimen-sedimen halus (sering kali dengan kandungan organik tinggi) berkumpul di kawasan yang terlindung dari pengaruh gelombang berenergi tinggi. Hutan mangrove berfungsi sebagai habitat yang sangat penting bagi beragam spesies perairan, serta menawarkan ekosistem unik yang mendukung interaksi yang rumit antara kehidupan laut dan vegetasi darat. Keadaan salinitas yang dapat ditoleransi oleh vegetasi mangrove berkisar dari [[air payau]], air laut murni (salinitas 3 hingga 4%), hingga perairan yang memiliki tingkat salinitas dua kali lipat salinitas air laut akibat penguapan berlebih (salinitas hingga 9%).<ref>[http://www.nhmi.org/mangroves/phy.htm Morphological and Physiological Adaptations: Florida mangrove website]. Nhmi.org.</ref><ref>J. H. Primavera. [https://www.zsl.org/sites/default/files/media/2014-05/Manual%20on%20Community-Based%20Mangrove%20Rehabilitation.pdf Manual on community-based mangrove rehabilitation]. The Zoological Society of London ZSL. 2012.</ref>


Sejak tahun 2010, teknologi [[pengindraan jauh]] dan data-data global telah digunakan untuk menilai wilayah, kondisi, dan laju [[deforestasi]] hutan mangrove di seluruh dunia. Pada tahun 2018, Global Mangrove Watch Initiative merilis data global baru yang memperkirakan total luas hutan bakau di dunia pada tahun 2010 adalah , mencakup 118 negara dan teritori. Sebuah studi pada tahun 2022 tentang peningkatan dan penurunan [[lahan basah]] pasang surut memperkirakan bahwa terjadi penurunan luas hutan mangrove global sebesar  antara tahun 1999 hingga 2019. Hilangnya hutan mangrove akan terus berlanjut karena aktivitas manusia, dengan laju deforestasi global tahunan diperkirakan sebesar 0,16%, dan laju deforestasi per negara sebesar 0,70%. Penurunan kualitas hutan mangrove yang tersisa juga menjadi perhatian penting dunia.
Sejak tahun 2010, teknologi [[pengindraan jauh]] dan data-data global telah digunakan untuk menilai wilayah, kondisi, dan laju [[deforestasi]] hutan mangrove di seluruh dunia.<ref>C. Giri. ''Status and distribution of mangrove forests of the world using earth observation satellite data: Status and distributions of global mangroves''. ''Global Ecology and Biogeography''. 2011. Vol. 20 (1). hlm. 154–159. doi:10.1111/j.1466-8238.2010.00584.x.</ref><ref>D. A. Friess. ''The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future''. ''Annual Review of Environment and Resources''. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.</ref><ref>P. Bunting. ''The Global Mangrove Watch—A New 2010 Global Baseline of Mangrove Extent''. ''Remote Sensing''. 2018. Vol. 10 (10). hlm. 1669. doi:10.3390/rs10101669.</ref> Pada tahun 2018, Global Mangrove Watch Initiative merilis data global baru yang memperkirakan total luas hutan bakau di dunia pada tahun 2010 adalah , mencakup 118 negara dan teritori.<ref>D. A. Friess. ''The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future''. ''Annual Review of Environment and Resources''. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.</ref><ref>P. Bunting. ''The Global Mangrove Watch—A New 2010 Global Baseline of Mangrove Extent''. ''Remote Sensing''. 2018. Vol. 10 (10). hlm. 1669. doi:10.3390/rs10101669.</ref> Sebuah studi pada tahun 2022 tentang peningkatan dan penurunan [[lahan basah]] pasang surut memperkirakan bahwa terjadi penurunan luas hutan mangrove global sebesar  antara tahun 1999 hingga 2019.<ref>N. J. Murray. [https://www.repository.cam.ac.uk/handle/1810/337253 High-resolution mapping of losses and gains of Earth's tidal wetlands]. ''Science''. 2022. Vol. 376 (6594). hlm. 744–749. doi:10.1126/science.abm9583.</ref> Hilangnya hutan mangrove akan terus berlanjut karena aktivitas manusia, dengan laju deforestasi global tahunan diperkirakan sebesar 0,16%, dan laju deforestasi per negara sebesar 0,70%. Penurunan kualitas hutan mangrove yang tersisa juga menjadi perhatian penting dunia.<ref>D. A. Friess. ''The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future''. ''Annual Review of Environment and Resources''. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.</ref>


Minat terhadap restorasi hutan mangrove semakin meningkat dengan beberapa alasan, salah satunya adalah karena mangrove mendukung ekosistem pesisir dan laut yang berkelanjutan. Vegetasi mangrove melindungi daerah sekitar pesisir dari [[tsunami]] dan insiden cuaca ekstrem. Hutan mangrove juga efektif dalam [[sekuestrasi karbon]] (penyerapan dan penyimpanan karbon). Keberhasilan restorasi mangrove mungkin sangat bergantung pada keterlibatan [[pemangku kepentingan]] lokal, dan penilaian yang cermat agar spesies-spesies mangrove yang akan ditanam sesuai dengan kondisi lingkungannya.
Minat terhadap restorasi hutan mangrove semakin meningkat dengan beberapa alasan, salah satunya adalah karena mangrove mendukung ekosistem pesisir dan laut yang berkelanjutan. Vegetasi mangrove melindungi daerah sekitar pesisir dari [[tsunami]] dan insiden cuaca ekstrem. Hutan mangrove juga efektif dalam [[sekuestrasi karbon]] (penyerapan dan penyimpanan karbon).<ref>D. A. Friess. ''The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future''. ''Annual Review of Environment and Resources''. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.</ref><ref>Carol R. [https://earthobservatory.nasa.gov/images/144573/new-satellite-based-maps-of-mangrove-heights?_ga=2.242896961.239110103.1557888044-1148588132.1557888044 New Satellite-Based maps of Mangrove heights]. 2019.</ref><ref>M. Simard. ''Mangrove canopy height globally related to precipitation, temperature and cyclone frequency''. ''Nature Geoscience''. 2018. Vol. 12 (1). hlm. 40–45. doi:10.1038/s41561-018-0279-1.</ref> Keberhasilan restorasi mangrove mungkin sangat bergantung pada keterlibatan [[pemangku kepentingan]] lokal, dan penilaian yang cermat agar spesies-spesies mangrove yang akan ditanam sesuai dengan kondisi lingkungannya.<ref>Katarina Zimmer. [https://knowablemagazine.org/article/food-environment/2021/many-mangrove-restorations-fail Many mangrove restorations fail. Is there a better way?]. ''Knowable Magazine''. 22 July 2021. doi:10.1146/knowable-072221-1.</ref>


[[Hari mangrove internasional|Hari Internasional untuk Konservasi Ekosistem Mangrove]] diperingati setiap tahun pada tanggal 26 Juli.
[[Hari mangrove internasional|Hari Internasional untuk Konservasi Ekosistem Mangrove]] diperingati setiap tahun pada tanggal 26 Juli.<ref>[https://www.unesco.org/en/days/mangrove-ecosystem-conservation?TSPD_101_R0=080713870fab200040cc16c5f9135ee1e980e337118e23f8f0052aa91f72e343e722a66985cbe18008c5863437144800f8f8fe53986f7a675dffd9ccac6111d49e4b3179755fa00cd692e29021fad73a62b94bb5cdf481e97bc6540c36bb8cc2268bc4db3a44bd9fa03a3763ae2c830b1e7e6068a581610b International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem]. ''UNESCO''.</ref>
== Taksonomi dan evolusi ==
== Taksonomi dan evolusi ==
Daftar berikut, berdasarkan Tomlinson, 2016, menampilkan spesies-spesies mangrove dari setiap genus dan famili tumbuhan yang terdaftar. Lingkungan hutan mangrove di [[Belahan Bumi Timur]] memiliki jumlah spesies mangrove yang enam kali lebih banyak dibandingkan hutan mangrove di [[Dunia Baru]]. [[Divergensi genetis]] atas garis silsilah mangrove dari tumbuhan-tumbuhan kerabatnya di darat, ditambah dengan bukti-bukti fosil yang ada, menunjukkan bahwa keanekaragaman mangrove telah dibatasi oleh transisi evolusioner ke dalam lingkungan laut yang penuh tekanan, dan jumlah silsilah mangrove terus meningkat selama periode Tersier dengan sedikit kepunahan global.
Daftar berikut, berdasarkan Tomlinson, 2016, menampilkan spesies-spesies mangrove dari setiap genus dan famili tumbuhan yang terdaftar.<ref>P. B. Tomlinson. ''The botany of mangroves''. Cambridge University Press. 2016. ISBN 978-1-107-08067-6.</ref> Lingkungan hutan mangrove di [[Belahan Bumi Timur]] memiliki jumlah spesies mangrove yang enam kali lebih banyak dibandingkan hutan mangrove di [[Dunia Baru]]. [[Divergensi genetis]] atas garis silsilah mangrove dari tumbuhan-tumbuhan kerabatnya di darat, ditambah dengan bukti-bukti fosil yang ada, menunjukkan bahwa keanekaragaman mangrove telah dibatasi oleh transisi evolusioner ke dalam lingkungan laut yang penuh tekanan, dan jumlah silsilah mangrove terus meningkat selama periode Tersier dengan sedikit kepunahan global.<ref>Ricklefs, R. E. [http://blue.utb.edu/aschwarzbach/publications/MangroveAmerNaturalist.pdf Rate of lineage origin explains the diversity anomaly in the world's mangrove vegetation]. ''American Naturalist''. 2006. Vol. 168 (6). hlm. 805–810. doi:10.1086/508711.</ref>


=== Mangrove sejati ===
=== Mangrove sejati ===
 
{| class="wikitable mw-collapsible"
! colspan="5" align="left" style="background:#ddf8f8" width="700px" |Mangrove sejati (komponen utama)
|-
| colspan="5" align="center" style="background:#e8e8ff" |Menurut Tomlinson, 2016, 35 spesies berikut adalah mangrove sejati, yang termasuk dalam 5 famili dan 9 genus<ref>P. B. Tomlinson. ''The botany of mangroves''. Cambridge University Press. 2016. ISBN 978-1-107-08067-6.</ref><br />Kolom berlatar hijam adalah penjelasan mengenai genus mangrove yang ditulis oleh Tomlinson
|-
!Famili
!Genus
!Spesies mangrove
!Nama umum
!
|-
! rowspan="2" |[[Arecaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Subfamili [[Takson monotipik|monotipik]] dalam famili ini
|-
|''[[Nipah|Nypa]]''
|''[[Nipah|Nypa fruticans]]''
|Nipah
|
|-
! rowspan="10" style="float:top" |[[Acanthaceae|Avicenniaceae]]<br />(diperdebatkan)
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Famili monogenerik kuno, sekarang termasuk dalam [[Acanthaceae]], tetapi jelas terisolasi
|-
| rowspan="9" align="top" |''[[Api-api|Avicennia]]''<br />(Api-api)
|''[[Api-api boak|Avicennia alba]]''
|Api-api boak
|
|-
|''Avicennia balanophora''
|
|
|-
|''[[Api-api hitam|Avicennia bicolor]]''
|Api-api hiitam
|
|-
|''Avicennia integra''
|
|
|-
|''[[Api-api putih|Avicennia marina]]''
|Api-api putih<br />(subspesies: ''australasica'',<br />''eucalyptifolia'', ''rumphiana'')
|
|-
|''[[Api-api ludat|Avicennia officinalis]]''
|Api-api ludat
|
|-
|''Avicennia germinans''
|
|
|-
|''Avicennia schaueriana''
|
|
|-
|''[[Api-api hitam|Avicennia tonduzii]]''
|Api-api hitam
|
|-
! rowspan="4" |[[Combretaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |[[Tribus]] Lagunculariae (mencakup Macropteranthes = nonmangrove)
|-
|''Laguncularia''
|''Laguncularia racemosa''
|
|
|-
| rowspan="2" |''[[Teruntum|Lumnitzera]]''<br />(Teruntum)
|''[[Teruntum putih|Lumnitzera racemosa]]''
|Teruntum putih
|
|-
|''[[Teruntum merah|Lumnitzera littorea]]''
|Teruntum merah
|
|-
! rowspan="19" |[[Rhizophoraceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Rhizophoraceae secara kolektif membentuk tribus Rhizophorae, yaitu suatu kelompok monotipik, bersama-sama dengan famili (tumbuhan) terestrial lain
|-
| rowspan="6" |''[[Bruguiera]]''
|''[[Tanjang|Bruguiera cylindrica]]''
|Tanjang
|
|-
|''[[Baco-baco|Bruguiera exaristata]]''
|Baco-baco
|
|-
|''[[Putut|Bruguiera gymnorhiza]]''
|Putut
|
|-
|''[[Berus mata buaya|Bruguiera hainesii]]''
|Berus mata buaya
|
|-
|''[[Lenggadai|Bruguiera parviflora]]''
|Lenggadai
|
|-
|''[[Bakau cina|Bruguiera sexangula]]''
|Bakau cina
|
|-
| rowspan="2" |''[[Tengar|Ceriops]]''<br />(Tengar)
|''Ceriops australis''
|
|
|-
|''[[Soga tingi|Ceriops tagal]]''
|Soga tingi
|
|-
| rowspan="2" |''Kandelia''
|''Kandelia candel''
|
|
|-
|''Kandelia obovata''
|
|
|-
| rowspan="8" |''[[Bakau|Rhizophora]]''<br />(Bakau "sejati")
|''[[Bakau minyak|Rhizophora apiculata]]''
|Bakau minyak
|
|-
|''Rhizophora harrisonii''
|
|
|-
|''[[Bakau merah|Rhizophora mangle]]''
|Bakau merah
|
|-
|''[[Bakau kurap|Rhizophora mucronata]]''
|Bakau kurap
|
|-
|''[[Bakau bunga|Rhizophora racemosa]]''
|Bakau bunga
|
|-
|''Rhizophora samoensis''
|
|
|-
|''[[Bakau kecil|Rhizophora stylosa]]''
|Bakau kecil
|
|-
|''Rhizophora x lamarckii''
|
|
|-
! rowspan="5" |[[Lythraceae]]
| rowspan="5" |''[[Pidada|Sonneratia]]''<br />(Pidada)
|''[[Perepat|Sonneratia alba]]''
|Perepat
|
|-
|''Sonneratia apetala''
|
|
|-
|''[[Pidada merah|Sonneratia caseolaris]]''
|Pidada merah
|
|-
|''Sonneratia ovata''
|
|
|-
|''[[Pidada|Sonneratia griffithii]]''
|
|
|}


=== Komponen tambahan ===
=== Komponen tambahan ===
 
{| class="wikitable mw-collapsible"
! colspan="5" align="left" style="background:#ddf8f8" width="700px" |Komponen tambahan
|-
| colspan="5" align="center" style="background:#e8e8ff" |Tomlinson, 2016, mendaftar sekitar 19 spesies sebagai komponen mangrove tambahan, yang termasuk dalam 10 famili dan 11 genus<ref>P. B. Tomlinson. ''The botany of mangroves''. Cambridge University Press. 2016. ISBN 978-1-107-08067-6.</ref><br />Kolom berlatar hijam adalah penjelasan mengenai genus mangrove yang ditulis oleh Tomlinson
|-
!Famili
!Genus
!Spesies
!Nama umum
!
|-
! rowspan="2" |[[Euphorbiaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Genus ini mencakup sekitar 35 takson nonmangrove
|-
|''Excoecaria''
|''[[Kayu buta-buta|Excoecaria agallocha]]''
|Kayu buta-buta
|
|-
! rowspan="2" |[[Lythraceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Genus yang jelas terpisah (dengan genus lainnya) dalam famili ini
|-
|''Pemphis''
|''[[Drini|Pemphis acidula]]''
|Drini
|
|-
! rowspan="3" |[[Malvaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Dahulu dalam Bombacaceae, sekarang menjadi genus terisolasi di subfamili Bombacoideeae
|-
| rowspan="2" |''Camptostemon''
|''Camptostemon schultzii''
|
|
|-
|''Camptostemon philippinense''
|
|
|-
! rowspan="3" |[[Meliaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Genus yang terdiri dari 3 spesies, satu di antaranya merupakan nonmangrove, yang membentuk tribus Xylocarpaeae dengan ''Carapa'', (genus) nonmangrove
|-
| rowspan="2" |''[[Nyiri|Xylocarpus]]''<br />(Nyiri)
|''[[Nyiri abang|Xylocarpus granatum]] ''
|Nyiri abang
|
|-
|''[[Nyiri batu|Xylocarpus moluccensis]] ''
|Nyiri batu
|
|-
! rowspan="2" |[[Myrtaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Genus terisolasi dalam famili ini
|-
|''Osbornia''
|''Osbornia octodonta''
|
|
|-
! rowspan="2" |Pellicieraceae
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Genus monotipe dan famili dengan posisi filogenetik yang tidak pasti
|-
|''Pelliciera''
|''Pelliciera rhizophorae''
|
|
|-
! rowspan="3" |[[Plumbaginaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Genus terisolasi, terkadang dipisahkan menjadi famili Aegialitidaceae
|-
| rowspan="2" |''Aegialitis''
|''Aegialitis annulata''
|
|
|-
|''Aegialitis rotundifolia''
|
|
|-
! rowspan="3" |[[Primulaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Dahulu merupakan genus terisolasi dalam Myrsinaceae
|-
| rowspan="2" |''Aegiceras''
|''[[Gigi gajah|Aegiceras corniculatum]] ''
|Gigi gajah
|
|-
|''Aegiceras floridum''
|
|
|-
! rowspan="3" |[[Pteridaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Tanaman pakis yang agak terisolasi dalam famili ini
|-
| rowspan="2" |''Acrostichum''
|''[[Paku laut|Acrostichum aureum]]''
|Paku laut
|
|-
|''Acrostichum speciosum''
|
|
|-
! rowspan="2" |[[Rubiaceae]]
| colspan="4" style="background:#ddf8f8" |Genus terisolasi dalam famili ini
|-
|''Scyphiphora''
|''Scyphiphora hydrophylacea''
|
|
|}


== Bentuk-bentuk adaptasi ==
== Bentuk-bentuk adaptasi ==
Menghadapi lingkungan yang ekstrem di [[hutan mangrove]], tumbuhan mangrove beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan [[vegetasi]] bakau menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar [[garam]] di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi [[fisiologi]]s.
Menghadapi lingkungan yang ekstrem di [[hutan mangrove]], tumbuhan mangrove beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan [[vegetasi]] bakau menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar [[garam]] di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi [[fisiologi]]s.


Baris 30: Baris 315:


== Perkembangbiakan ==
== Perkembangbiakan ==
Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan mangrove hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.
Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan mangrove hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.


Baris 42: Baris 326:


== Perakaran ==
== Perakaran ==
 
Tipe [[Akar|perakaran]] mangrove ada beberapa macam. Sebenarnya, beranekanya jenis akar yang terdapat pada tumbuhan mangrove adalah sebagai bentuk usaha (daya [[adaptasi]]) untuk menghadapi kondisi [[habitat]]nya yang berupa [[substrat]] [[lumpur]] dan hampir selalu tergenang air (reaksi [[anaerob]]). [[Flora]] mangrove, beradaptasi dengan membentuk akar-akar khusus untuk dapat tumbuh dengan kuat dan membantu mendapatkan [[oksigen]] dari udara.<ref>https://mangrovemagz.com/2017/03/03/tujuh-tipe-akar-mangrove-yang-wajib-anda-ketahui/</ref>
 
Tipe [[Akar|perakaran]] mangrove ada beberapa macam. Sebenarnya, beranekanya jenis akar yang terdapat pada tumbuhan mangrove adalah sebagai bentuk usaha (daya [[adaptasi]]) untuk menghadapi kondisi [[habitat]]nya yang berupa [[substrat]] [[lumpur]] dan hampir selalu tergenang air (reaksi [[anaerob]]). [[Flora]] mangrove, beradaptasi dengan membentuk akar-akar khusus untuk dapat tumbuh dengan kuat dan membantu mendapatkan [[oksigen]] dari udara.


Karena kekhasannya, bentuk-bentuk akar mangrove dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan mangrove.  Ciri [[morfologi]] yang digunakan untuk mengenali sesuatu jenis atau spesies tumbuhan, biasanya, adalah bentuk dan susunan [[bunga]], bentuk dan susunan [[daun]], bentuk dan penampakan ranting dan [[batang]], serta beberapa kelengkapan lain seperti adanya [[daun penumpu]], [[sulur]], kelenjar, duri, rambut atau sisik, dan sebagainya.  Terutama untuk pohon-pohon di wilayah mangrove dan rawa-rawa, pengenalan bentuk dan jenis perakarannya sangat membantu untuk identifikasi.
Karena kekhasannya, bentuk-bentuk akar mangrove dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan mangrove.  Ciri [[morfologi]] yang digunakan untuk mengenali sesuatu jenis atau spesies tumbuhan, biasanya, adalah bentuk dan susunan [[bunga]], bentuk dan susunan [[daun]], bentuk dan penampakan ranting dan [[batang]], serta beberapa kelengkapan lain seperti adanya [[daun penumpu]], [[sulur]], kelenjar, duri, rambut atau sisik, dan sebagainya.  Terutama untuk pohon-pohon di wilayah mangrove dan rawa-rawa, pengenalan bentuk dan jenis perakarannya sangat membantu untuk identifikasi.
Baris 51: Baris 333:


Bentuk-bentuk perakaran mangrove itu, di antaranya:
Bentuk-bentuk perakaran mangrove itu, di antaranya:


# '''Akar pasak/akar napas''' (''pneumatophores''). Akar pasak adalah akar yang muncul dari sistem akar kabel yang tumbuh secara horisontal, dan memanjang ke atas ke arah udara. Akar ini bentuknya seperti pasak, pensil atau kerucut yang menonjol ke atas substrat (lumpur, pasir, tanah), dan acap kali berjejal-jejal. Akar napas ini terdapat pada jenis-jenis ''[[Avicennia]]'', ''[[Sonneratia]]'', dan juga ''Xylocarpus moluccensis''.
# '''Akar pasak/akar napas''' (''pneumatophores''). Akar pasak adalah akar yang muncul dari sistem akar kabel yang tumbuh secara horisontal, dan memanjang ke atas ke arah udara. Akar ini bentuknya seperti pasak, pensil atau kerucut yang menonjol ke atas substrat (lumpur, pasir, tanah), dan acap kali berjejal-jejal. Akar napas ini terdapat pada jenis-jenis ''[[Avicennia]]'', ''[[Sonneratia]]'', dan juga ''Xylocarpus moluccensis''.
Baris 64: Baris 345:


== Hutan mangrove ==
== Hutan mangrove ==
 
Perdu-perdu dan pohon-pohon mangrove tersebut umumnya berkumpul untuk membentuk suatu ekosistem yang disebut [[hutan mangrove]]. Hutan mangrove umumnya terbentuk di [[zona intertidal]] di [[Pesisir|pesisir laut]], khususnya di tempat-tempat terjadinya [[Lumpur|pelumpuran]] dan akumulasi bahan [[Senyawa organik|organik]]. Baik di [[Teluk|teluk-teluk]] yang terlindung dari gempuran [[ombak]], maupun di sekitar [[muara]] [[sungai]] tempat air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari [[hulu]].<ref>Dwi Mukti Wibowo. [https://amp.wartaekonomi.co.id/berita273783/save-our-sea-melestarikan-mangrove-mencegah-abrasi-pantai Save Our Sea: Melestarikan Mangrove, Mencegah Abrasi Pantai]. ''Warta Ekonomi''.</ref>
 
Perdu-perdu dan pohon-pohon mangrove tersebut umumnya berkumpul untuk membentuk suatu ekosistem yang disebut [[hutan mangrove]]. Hutan mangrove umumnya terbentuk di [[zona intertidal]] di [[Pesisir|pesisir laut]], khususnya di tempat-tempat terjadinya [[Lumpur|pelumpuran]] dan akumulasi bahan [[Senyawa organik|organik]]. Baik di [[Teluk|teluk-teluk]] yang terlindung dari gempuran [[ombak]], maupun di sekitar [[muara]] [[sungai]] tempat air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari [[hulu]].


== Lihat juga ==
== Lihat juga ==
* [[Pengelolaan wilayah pesisir|Pengelolaan pesisir]]
* [[Pengelolaan wilayah pesisir|Pengelolaan pesisir]]
** [[Rawa garaman|Rawa asin]]
** [[Rawa garaman|Rawa asin]]
Baris 76: Baris 354:
** [[Geografi pesisir]]
** [[Geografi pesisir]]
* [[Spesies kunci]]
* [[Spesies kunci]]
== Referensi ==


== Bacaan lebih lanjut ==
== Bacaan lebih lanjut ==
* Saenger, Peter (2002). ''Mangrove Ecology, Silviculture, and Conservation''. Kluwer Academic Publishers, Dordrecht. [[ISBN (identifier)|ISBN]]&nbsp;[[Special:BookSources/1-4020-0686-1|1-4020-0686-1]].
* Saenger, Peter (2002). ''Mangrove Ecology, Silviculture, and Conservation''. Kluwer Academic Publishers, Dordrecht. [[ISBN (identifier)|ISBN]]&nbsp;[[Special:BookSources/1-4020-0686-1|1-4020-0686-1]].
* Thanikaimoni, Ganapathi (1986). ''Mangrove Palynology'' [[Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa|UNDP]]/[[Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa|UNESCO]] and the French Institute of Pondicherry, ISSN 0073-8336 (E).
* Thanikaimoni, Ganapathi (1986). ''Mangrove Palynology'' [[Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa|UNDP]]/[[Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa|UNESCO]] and the French Institute of Pondicherry, ISSN 0073-8336 (E).
* Tomlinson, Philip B. (1986). ''The Botany of Mangroves''. Cambridge University Press, Cambridge, .
* Tomlinson, Philip B. (1986). ''The Botany of Mangroves''. Cambridge University Press, Cambridge, .
* Teas, H. J. (1983). ''Biology and Ecology of Mangroves''. W. Junk Publishers, The Hague. [[ISBN (identifier)|ISBN]]&nbsp;[[Special:BookSources/90-6193-948-8|90-6193-948-8]].
* Teas, H. J. (1983). ''Biology and Ecology of Mangroves''. W. Junk Publishers, The Hague. [[ISBN (identifier)|ISBN]]&nbsp;[[Special:BookSources/90-6193-948-8|90-6193-948-8]].
*
*  
*
*  
*
*  
* Agrawala, Shardul; Hagestad; Marca; Koshy, Kayathu; Ota, Tomoko; Prasad, Biman; Risbey, James; Smith, Joel; Van Aalst, Maarten. 2003. Development and Climate Change in Fiji: Focus on Coastal Mangroves. Organisation of Economic Co-operation and Development, Paris, Cedex 16, France.
* Agrawala, Shardul; Hagestad; Marca; Koshy, Kayathu; Ota, Tomoko; Prasad, Biman; Risbey, James; Smith, Joel; Van Aalst, Maarten. 2003. Development and Climate Change in Fiji: Focus on Coastal Mangroves. Organisation of Economic Co-operation and Development, Paris, Cedex 16, France.
*
*  
*
*  
*
*  
*
*  
* Glenn, C. R. 2006. [http://earthsendangered.com "Earth's Endangered Creatures"]
* Glenn, C. R. 2006. [http://earthsendangered.com "Earth's Endangered Creatures"]
*
*  
*
*  
*
*  
* Twilley, R. R., V. H. Rivera-Monroy, E. Medina, A. Nyman, J. Foret, T. Mallach, and L. Botero. 2000. Patterns of forest development in mangroves along the San Juan River estuary, Venezuela. ''Forest Ecology and Management''
* Twilley, R. R., V. H. Rivera-Monroy, E. Medina, A. Nyman, J. Foret, T. Mallach, and L. Botero. 2000. Patterns of forest development in mangroves along the San Juan River estuary, Venezuela. ''Forest Ecology and Management''
*
*  
*
*  
* Spalding, Mark; Kainuma, Mami and Collins, Lorna (2010) ''World Atlas of Mangroves'' Earthscan, London, ; 60 maps showing worldwide mangrove distribution
* Spalding, Mark; Kainuma, Mami and Collins, Lorna (2010) ''World Atlas of Mangroves'' Earthscan, London, ; 60 maps showing worldwide mangrove distribution
* Warne, Kennedy (2013) ''Let them eat shrimp: the tragic disappearance of the rainforests of the sea.'' Island Press, 2012,
* Warne, Kennedy (2013) ''Let them eat shrimp: the tragic disappearance of the rainforests of the sea.'' Island Press, 2012,  
*
*  
*
*  


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
 
*  
*
*  
*
* [https://www.travelmate.com.bd/top-10-largest-mangrove-forest-in-the-world/ Top 10 Mangrove Forest In The World – Travel Mate]
* [https://www.travelmate.com.bd/top-10-largest-mangrove-forest-in-the-world/ Top 10 Mangrove Forest In The World – Travel Mate]
* *
* *  
*
*  
* In May 2011, the VOA Special English service of the [[Voice of America]] broadcast a 15-minute program on mangrove forests. A transcript and MP3 of the program, intended for English learners, can be found at [https://web.archive.org/web/20110511175432/http://www.voanews.com/learningenglish/home/science-technology/Mangrove-forests-Everest-NSF-121499174.html Mangrove Forests Could Be a Big Player in Carbon Trading]
* In May 2011, the VOA Special English service of the [[Voice of America]] broadcast a 15-minute program on mangrove forests. A transcript and MP3 of the program, intended for English learners, can be found at [https://web.archive.org/web/20110511175432/http://www.voanews.com/learningenglish/home/science-technology/Mangrove-forests-Everest-NSF-121499174.html Mangrove Forests Could Be a Big Player in Carbon Trading]
*
*  
*
*  
* [https://www.slq.qld.gov.au/blog/queenslands-coastal-kidneys-mangroves Queensland's coastal kidneys: mangroves]. Stacey Larner, John Oxley Library Blog. State Library of Queensland.
* [https://www.slq.qld.gov.au/blog/queenslands-coastal-kidneys-mangroves Queensland's coastal kidneys: mangroves]. Stacey Larner, John Oxley Library Blog. State Library of Queensland.
*
*


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mangrove&oldid=29344189 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29344189 (2026-06-14T04:35:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mangrove&oldid=29344189 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29344189 (2026-06-14T04:35:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 23.00

Mangrove adalah tumbuhan perdu (semak) atau pohon yang umumnya tumbuh di kawasan air asin atau air payau di pesisir laut. Mangrove umumnya berada di daerah beriklim khatulistiwa, dan biasanya tumbuh di daerah sepanjang garis pesisir dan pinggiran sungai pasang surut yang memiliki kadar oksigen minim dan garam yang berlimpah. Tumbuhan mangrove memiliki kemampuan adaptasi khusus dalam mengambil oksigen ekstra di udara dan menghilangkan garam berlebih dari sistemnya, sehingga tumbuhan ini mampu bertahan hidup dalam kondisi tersebut yang mampu membunuh sebagian besar tumbuhan normal. Istilah "mangrove" juga dapat digunakan untuk vegetasi (kumpulan tumbuhan) mangrove tersebut. Vegetasi mangrove terdiri dari beraneka ragam spesies tumbuhan yang sering kali berkerabat jauh menurut taksonomi, tetapi memiliki kemampuan adaptasi yang mirip oleh karena evolusi konvergen. Tumbuhan mangrove dapat dijumpai di seluruh dunia di daerah tropis dan daerah subtropis dan bahkan di beberapa daerah pesisir beriklim sedang, terutama di antara garis lintang 30° LU dan 30° LS, dengan kawasan mangrove terluas berada pada daerah di antara 5° LU dan 5° LS.[1][2] Vegetasi tumbuhan mangrove diperkirakan pertama kali muncul pada antara Kala Kapur Akhir hingga Kala Paleosen, dan kemudan tersebar ke berbagai belahan dunia, salah satunya akibat pergerakan lempeng tektonik. Fosil palem mangrove tertua yang pernah diketahui berasal dari 75 juta tahun yang lalu.[3]

Mangrove merupakan tumbuhan yang toleran terhadap garam (yang disebut juga halofita), serta mampu beradaptasi dalam kondisi pesisir yang sangat sulit bagi tumbuhan normal. Mangrove memiliki sistem penyaringan garam dan sistem perakaran yang kompleks untuk mencegah bagian atas tumbuhan terendam dalam air asin dan juga mencegah terpaan gelombang yang kuat. Mangrove mampu hidup pada media lumpur tergenang yang memiliki kadar oksigen yang rendah,[4] tetapi mangrove lebih sanggup bertumbuh dengan subur pada bagian atas zona intertidal.[5]

Bioma mangrove, disebut juga hutan mangrove, merupakan habitat padang tiah atau belukar asin yang dicirikan oleh lingkungan endapan pesisir, tempat sedimen-sedimen halus (sering kali dengan kandungan organik tinggi) berkumpul di kawasan yang terlindung dari pengaruh gelombang berenergi tinggi. Hutan mangrove berfungsi sebagai habitat yang sangat penting bagi beragam spesies perairan, serta menawarkan ekosistem unik yang mendukung interaksi yang rumit antara kehidupan laut dan vegetasi darat. Keadaan salinitas yang dapat ditoleransi oleh vegetasi mangrove berkisar dari air payau, air laut murni (salinitas 3 hingga 4%), hingga perairan yang memiliki tingkat salinitas dua kali lipat salinitas air laut akibat penguapan berlebih (salinitas hingga 9%).[6][7]

Sejak tahun 2010, teknologi pengindraan jauh dan data-data global telah digunakan untuk menilai wilayah, kondisi, dan laju deforestasi hutan mangrove di seluruh dunia.[8][9][10] Pada tahun 2018, Global Mangrove Watch Initiative merilis data global baru yang memperkirakan total luas hutan bakau di dunia pada tahun 2010 adalah , mencakup 118 negara dan teritori.[11][12] Sebuah studi pada tahun 2022 tentang peningkatan dan penurunan lahan basah pasang surut memperkirakan bahwa terjadi penurunan luas hutan mangrove global sebesar antara tahun 1999 hingga 2019.[13] Hilangnya hutan mangrove akan terus berlanjut karena aktivitas manusia, dengan laju deforestasi global tahunan diperkirakan sebesar 0,16%, dan laju deforestasi per negara sebesar 0,70%. Penurunan kualitas hutan mangrove yang tersisa juga menjadi perhatian penting dunia.[14]

Minat terhadap restorasi hutan mangrove semakin meningkat dengan beberapa alasan, salah satunya adalah karena mangrove mendukung ekosistem pesisir dan laut yang berkelanjutan. Vegetasi mangrove melindungi daerah sekitar pesisir dari tsunami dan insiden cuaca ekstrem. Hutan mangrove juga efektif dalam sekuestrasi karbon (penyerapan dan penyimpanan karbon).[15][16][17] Keberhasilan restorasi mangrove mungkin sangat bergantung pada keterlibatan pemangku kepentingan lokal, dan penilaian yang cermat agar spesies-spesies mangrove yang akan ditanam sesuai dengan kondisi lingkungannya.[18]

Hari Internasional untuk Konservasi Ekosistem Mangrove diperingati setiap tahun pada tanggal 26 Juli.[19]

Taksonomi dan evolusi

Daftar berikut, berdasarkan Tomlinson, 2016, menampilkan spesies-spesies mangrove dari setiap genus dan famili tumbuhan yang terdaftar.[20] Lingkungan hutan mangrove di Belahan Bumi Timur memiliki jumlah spesies mangrove yang enam kali lebih banyak dibandingkan hutan mangrove di Dunia Baru. Divergensi genetis atas garis silsilah mangrove dari tumbuhan-tumbuhan kerabatnya di darat, ditambah dengan bukti-bukti fosil yang ada, menunjukkan bahwa keanekaragaman mangrove telah dibatasi oleh transisi evolusioner ke dalam lingkungan laut yang penuh tekanan, dan jumlah silsilah mangrove terus meningkat selama periode Tersier dengan sedikit kepunahan global.[21]

Mangrove sejati

Mangrove sejati (komponen utama)
Menurut Tomlinson, 2016, 35 spesies berikut adalah mangrove sejati, yang termasuk dalam 5 famili dan 9 genus[22]
Kolom berlatar hijam adalah penjelasan mengenai genus mangrove yang ditulis oleh Tomlinson
Famili Genus Spesies mangrove Nama umum
Arecaceae Subfamili monotipik dalam famili ini
Nypa Nypa fruticans Nipah
Avicenniaceae
(diperdebatkan)
Famili monogenerik kuno, sekarang termasuk dalam Acanthaceae, tetapi jelas terisolasi
Avicennia
(Api-api)
Avicennia alba Api-api boak
Avicennia balanophora
Avicennia bicolor Api-api hiitam
Avicennia integra
Avicennia marina Api-api putih
(subspesies: australasica,
eucalyptifolia, rumphiana)
Avicennia officinalis Api-api ludat
Avicennia germinans
Avicennia schaueriana
Avicennia tonduzii Api-api hitam
Combretaceae Tribus Lagunculariae (mencakup Macropteranthes = nonmangrove)
Laguncularia Laguncularia racemosa
Lumnitzera
(Teruntum)
Lumnitzera racemosa Teruntum putih
Lumnitzera littorea Teruntum merah
Rhizophoraceae Rhizophoraceae secara kolektif membentuk tribus Rhizophorae, yaitu suatu kelompok monotipik, bersama-sama dengan famili (tumbuhan) terestrial lain
Bruguiera Bruguiera cylindrica Tanjang
Bruguiera exaristata Baco-baco
Bruguiera gymnorhiza Putut
Bruguiera hainesii Berus mata buaya
Bruguiera parviflora Lenggadai
Bruguiera sexangula Bakau cina
Ceriops
(Tengar)
Ceriops australis
Ceriops tagal Soga tingi
Kandelia Kandelia candel
Kandelia obovata
Rhizophora
(Bakau "sejati")
Rhizophora apiculata Bakau minyak
Rhizophora harrisonii
Rhizophora mangle Bakau merah
Rhizophora mucronata Bakau kurap
Rhizophora racemosa Bakau bunga
Rhizophora samoensis
Rhizophora stylosa Bakau kecil
Rhizophora x lamarckii
Lythraceae Sonneratia
(Pidada)
Sonneratia alba Perepat
Sonneratia apetala
Sonneratia caseolaris Pidada merah
Sonneratia ovata
Sonneratia griffithii

Komponen tambahan

Komponen tambahan
Tomlinson, 2016, mendaftar sekitar 19 spesies sebagai komponen mangrove tambahan, yang termasuk dalam 10 famili dan 11 genus[23]
Kolom berlatar hijam adalah penjelasan mengenai genus mangrove yang ditulis oleh Tomlinson
Famili Genus Spesies Nama umum
Euphorbiaceae Genus ini mencakup sekitar 35 takson nonmangrove
Excoecaria Excoecaria agallocha Kayu buta-buta
Lythraceae Genus yang jelas terpisah (dengan genus lainnya) dalam famili ini
Pemphis Pemphis acidula Drini
Malvaceae Dahulu dalam Bombacaceae, sekarang menjadi genus terisolasi di subfamili Bombacoideeae
Camptostemon Camptostemon schultzii
Camptostemon philippinense
Meliaceae Genus yang terdiri dari 3 spesies, satu di antaranya merupakan nonmangrove, yang membentuk tribus Xylocarpaeae dengan Carapa, (genus) nonmangrove
Xylocarpus
(Nyiri)
Xylocarpus granatum Nyiri abang
Xylocarpus moluccensis Nyiri batu
Myrtaceae Genus terisolasi dalam famili ini
Osbornia Osbornia octodonta
Pellicieraceae Genus monotipe dan famili dengan posisi filogenetik yang tidak pasti
Pelliciera Pelliciera rhizophorae
Plumbaginaceae Genus terisolasi, terkadang dipisahkan menjadi famili Aegialitidaceae
Aegialitis Aegialitis annulata
Aegialitis rotundifolia
Primulaceae Dahulu merupakan genus terisolasi dalam Myrsinaceae
Aegiceras Aegiceras corniculatum Gigi gajah
Aegiceras floridum
Pteridaceae Tanaman pakis yang agak terisolasi dalam famili ini
Acrostichum Acrostichum aureum Paku laut
Acrostichum speciosum
Rubiaceae Genus terisolasi dalam famili ini
Scyphiphora Scyphiphora hydrophylacea

Bentuk-bentuk adaptasi

Menghadapi lingkungan yang ekstrem di hutan mangrove, tumbuhan mangrove beradaptasi dengan berbagai cara. Secara fisik, kebanyakan vegetasi bakau menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis.

Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi bakau memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

Untuk mengatasi salinitas yang tinggi, api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Sementara jenis yang lain, seperti Rhizophora mangle, mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar, sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan, diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.

Pada pihak yang lain, mengingat sukarnya memperoleh air tawar, vegetasi bakau harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Beberapa jenis tumbuhan mangrove mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik, sehingga mengurangi evaporasi dari daun.

Perkembangbiakan

Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Lingkungan yang keras di hutan mangrove hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem, kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.

Hampir semua jenis flora hutan mangrove memiliki biji atau buah yang dapat mengapung, sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Selain itu, banyak dari jenis-jenis bakau yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.

Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora), tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Ketika rontok dan jatuh, buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya, atau terbawa air pasang, tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Kemungkinan lain, terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh.

Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Sementara buah api-api, kaboa (Aegiceras), jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon, meski tak tampak dari sebelah luarnya. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul.

Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya, bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan, selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Jika akan tumbuh menetap, beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya, sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur.

Perakaran

Tipe perakaran mangrove ada beberapa macam. Sebenarnya, beranekanya jenis akar yang terdapat pada tumbuhan mangrove adalah sebagai bentuk usaha (daya adaptasi) untuk menghadapi kondisi habitatnya yang berupa substrat lumpur dan hampir selalu tergenang air (reaksi anaerob). Flora mangrove, beradaptasi dengan membentuk akar-akar khusus untuk dapat tumbuh dengan kuat dan membantu mendapatkan oksigen dari udara.[24]

Karena kekhasannya, bentuk-bentuk akar mangrove dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan mangrove. Ciri morfologi yang digunakan untuk mengenali sesuatu jenis atau spesies tumbuhan, biasanya, adalah bentuk dan susunan bunga, bentuk dan susunan daun, bentuk dan penampakan ranting dan batang, serta beberapa kelengkapan lain seperti adanya daun penumpu, sulur, kelenjar, duri, rambut atau sisik, dan sebagainya. Terutama untuk pohon-pohon di wilayah mangrove dan rawa-rawa, pengenalan bentuk dan jenis perakarannya sangat membantu untuk identifikasi.

Tumbuhan mangrove mengembangkan struktur perakaran yang khas yang disebut akar udara (aerial roots). Yalah akar yang terkena udara secara langsung selama beberapa waktu dalam sehari atau bahkan sepanjang hari. Struktur perakaran tersebut merupakan kunci yang penting untuk membedakan jenis-jenis mangrove. Banir sebenarnya bukan termasuk akar udara, tetapi biasa ditemukan bersamaan dengan akar udara lainnya dan merupakan salah satu karakteristik yang penting untuk jenis-jenis mangrove.

Bentuk-bentuk perakaran mangrove itu, di antaranya:

  1. Akar pasak/akar napas (pneumatophores). Akar pasak adalah akar yang muncul dari sistem akar kabel yang tumbuh secara horisontal, dan memanjang ke atas ke arah udara. Akar ini bentuknya seperti pasak, pensil atau kerucut yang menonjol ke atas substrat (lumpur, pasir, tanah), dan acap kali berjejal-jejal. Akar napas ini terdapat pada jenis-jenis Avicennia, Sonneratia, dan juga Xylocarpus moluccensis.
  2. Akar lutut (knee roots). Akar lutut merupakan modifikasi dari akar kabel yang pada awalnya tumbuh keluar ke arah permukaan substrat, tetapi kemudian berbelok ke bawah kembali ke substrat lagi. Oleh sebab itu bentuknya menyerupai lutut yang tertekuk di atas permukaan substrat. Akar lutut seperti ini terdapat pada jenis-jenis Bruguiera, seperti pada B. cylindrica, B. gymnorhiza dan B. parviflora.
  3. Akar tunjang (stilt roots). Akar tunjang merupakan bentuk perakaran yang keluar dari batang (di atas tanah) dan tumbuh miring atau melengkung ke bawah ke arah substrat, dan berfungsi untuk menunjang atau memperkuat berdirinya pohon. Akar ini mula-mula mencuat dari batang pohon dan dahan paling bawah, lalu memanjang ke luar dan menuju ke permukaan tanah. Akar semacam ini terdapat pada jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.), seperti pada R. apiculata, R. mucronata dan R. stylosa.
  4. Akar gantung (aerial roots). Akar gantung adalah akar napas yang muncul dari batang atau cabang bagian bawah, tetapi biasanya tidak mencapai substrat; jadi menggantung begitu saja di sisi batang. Akar gantung terdapat pada Rhizophora, Avicennia dan Acanthus (jeruju).
  5. Akar papan (plank roots). Akar papan hampir sama dengan akar tunjang, tetapi akar ini melebar dan memipih tegak menjadi bentuk lempengan panjang, mirip dengan papan yang berkelok-kelok. Akar ini juga tumbuh secara horisontal, berbentuk seperti pita di atas permukaan tanah, bergelombang dan berliku-liku ke arah samping seperti ular. Akar ini, salah satunya, terdapat pada nyirih Xylocarpus granatum.
  6. Banir (buttress). Bentuk banir adalah seperti papan miring, memanjang secara radial dari pangkal batang. Akar banir di antaranya terdapat pada Bruguiera gymnorhiza, tengar (Ceriops spp.) dan juga dungun (Heritiera littoralis).
  7. Tanpa akar udara. Banyak pula jenis tumbuhan mangrove yang memiliki perakaran biasa, tidak memiliki akar udara. Beberapa contohnya adalah jenis-jenis kaboa (Aegiceras corniculatum), teruntum putih (Lumnitzera racemosa), dan Xylocarpus rumphii.

Sebagai catatan, beberapa jenis pohon mangrove dapat memiliki lebih dari satu macam bentuk akar udara secara bersamaan, seperti pada nyirih batu (Xylocarpus moluccensis).

Hutan mangrove

Perdu-perdu dan pohon-pohon mangrove tersebut umumnya berkumpul untuk membentuk suatu ekosistem yang disebut hutan mangrove. Hutan mangrove umumnya terbentuk di zona intertidal di pesisir laut, khususnya di tempat-tempat terjadinya pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai tempat air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.[25]

Lihat juga

Bacaan lebih lanjut

  • Saenger, Peter (2002). Mangrove Ecology, Silviculture, and Conservation. Kluwer Academic Publishers, Dordrecht. ISBN 1-4020-0686-1.
  • Thanikaimoni, Ganapathi (1986). Mangrove Palynology UNDP/UNESCO and the French Institute of Pondicherry, ISSN 0073-8336 (E).
  • Tomlinson, Philip B. (1986). The Botany of Mangroves. Cambridge University Press, Cambridge, .
  • Teas, H. J. (1983). Biology and Ecology of Mangroves. W. Junk Publishers, The Hague. ISBN 90-6193-948-8.
  • Agrawala, Shardul; Hagestad; Marca; Koshy, Kayathu; Ota, Tomoko; Prasad, Biman; Risbey, James; Smith, Joel; Van Aalst, Maarten. 2003. Development and Climate Change in Fiji: Focus on Coastal Mangroves. Organisation of Economic Co-operation and Development, Paris, Cedex 16, France.
  • Glenn, C. R. 2006. "Earth's Endangered Creatures"
  • Twilley, R. R., V. H. Rivera-Monroy, E. Medina, A. Nyman, J. Foret, T. Mallach, and L. Botero. 2000. Patterns of forest development in mangroves along the San Juan River estuary, Venezuela. Forest Ecology and Management
  • Spalding, Mark; Kainuma, Mami and Collins, Lorna (2010) World Atlas of Mangroves Earthscan, London, ; 60 maps showing worldwide mangrove distribution
  • Warne, Kennedy (2013) Let them eat shrimp: the tragic disappearance of the rainforests of the sea. Island Press, 2012,

Pranala luar

Referensi

  1. C. Giri. Status and distribution of mangrove forests of the world using earth observation satellite data: Status and distributions of global mangroves. Global Ecology and Biogeography. 2011. Vol. 20 (1). hlm. 154–159. doi:10.1111/j.1466-8238.2010.00584.x.
  2. D. A. Friess. The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future. Annual Review of Environment and Resources. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.
  3. D. A. Friess. The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future. Annual Review of Environment and Resources. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.
  4. T. J. Flowers. Plant salt tolerance: adaptations in halophytes. Annals of Botany. 2015. Vol. 115 (3). hlm. 327–331. doi:10.1093/aob/mcu267.
  5. Katarina Zimmer. Many mangrove restorations fail. Is there a better way?. Knowable Magazine. 22 July 2021. doi:10.1146/knowable-072221-1.
  6. Morphological and Physiological Adaptations: Florida mangrove website. Nhmi.org.
  7. J. H. Primavera. Manual on community-based mangrove rehabilitation. The Zoological Society of London ZSL. 2012.
  8. C. Giri. Status and distribution of mangrove forests of the world using earth observation satellite data: Status and distributions of global mangroves. Global Ecology and Biogeography. 2011. Vol. 20 (1). hlm. 154–159. doi:10.1111/j.1466-8238.2010.00584.x.
  9. D. A. Friess. The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future. Annual Review of Environment and Resources. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.
  10. P. Bunting. The Global Mangrove Watch—A New 2010 Global Baseline of Mangrove Extent. Remote Sensing. 2018. Vol. 10 (10). hlm. 1669. doi:10.3390/rs10101669.
  11. D. A. Friess. The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future. Annual Review of Environment and Resources. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.
  12. P. Bunting. The Global Mangrove Watch—A New 2010 Global Baseline of Mangrove Extent. Remote Sensing. 2018. Vol. 10 (10). hlm. 1669. doi:10.3390/rs10101669.
  13. N. J. Murray. High-resolution mapping of losses and gains of Earth's tidal wetlands. Science. 2022. Vol. 376 (6594). hlm. 744–749. doi:10.1126/science.abm9583.
  14. D. A. Friess. The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future. Annual Review of Environment and Resources. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.
  15. D. A. Friess. The State of the World's Mangrove Forests: Past, Present, and Future. Annual Review of Environment and Resources. 2019. Vol. 44 (1). hlm. 89–115. doi:10.1146/annurev-environ-101718-033302.
  16. Carol R. New Satellite-Based maps of Mangrove heights. 2019.
  17. M. Simard. Mangrove canopy height globally related to precipitation, temperature and cyclone frequency. Nature Geoscience. 2018. Vol. 12 (1). hlm. 40–45. doi:10.1038/s41561-018-0279-1.
  18. Katarina Zimmer. Many mangrove restorations fail. Is there a better way?. Knowable Magazine. 22 July 2021. doi:10.1146/knowable-072221-1.
  19. International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem. UNESCO.
  20. P. B. Tomlinson. The botany of mangroves. Cambridge University Press. 2016. ISBN 978-1-107-08067-6.
  21. Ricklefs, R. E. Rate of lineage origin explains the diversity anomaly in the world's mangrove vegetation. American Naturalist. 2006. Vol. 168 (6). hlm. 805–810. doi:10.1086/508711.
  22. P. B. Tomlinson. The botany of mangroves. Cambridge University Press. 2016. ISBN 978-1-107-08067-6.
  23. P. B. Tomlinson. The botany of mangroves. Cambridge University Press. 2016. ISBN 978-1-107-08067-6.
  24. https://mangrovemagz.com/2017/03/03/tujuh-tipe-akar-mangrove-yang-wajib-anda-ketahui/
  25. Dwi Mukti Wibowo. Save Our Sea: Melestarikan Mangrove, Mencegah Abrasi Pantai. Warta Ekonomi.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29344189 (2026-06-14T04:35:52Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.