Antipiretik: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28377978; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Antipiretik''' adalah golongan obat penurun demam. Obat-obat antipiretik juga menekan gejala-gejala yang biasanya menyertai [[demam]] seperti [[mialgia]], kedinginan, nyeri kepala, dan lain-lain. Namun, pada kenaikan suhu yang rendah atau sedang, tidak terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa demam merupakan keadaan yang berbahaya atau bahwa terapi antipiretik bermanfaat. Perintah pemberian antipiretik yang rutin, dapat mengaburkan [[informasi klinis]] penting yang perlu dicari dengan mengikuti perjalanan [[suhu tubuh]] apakah naik ataukah turun. | [[File:Chinin-Pharmaka_von_Friedrich_Koch.jpg|thumb|right|280px|Chinin-Pharmaka von Friedrich Koch]] | ||
Antipiretik menyebabkan [[hipotalamus]] untuk mengesampingkan peningkatan [[interleukin]] yang kerjanya menginduksi suhu tubuh. Tubuh kemudian akan bekerja untuk menurunkan suhu tubuh dan hasilnya adalah pengurangan demam. | |||
Obat-obat antipiretik tidak menghambat pembentukan panas. Hilangnya panas terjadi dengan meningkatnya aliran darah ke [[perifer]] dan pembentukan [[keringat]]. Efeknya ini bersifat [[sentral]], tetapi tidak langsung pada [[neuron]] hipotalamus. Cara menurunkan demam tinggi diduga dengan menghambat pembentukan [[prostaglandin]] E1. | '''Antipiretik''' adalah golongan obat penurun demam.<ref>Drs. Damin Sumardjo. ''Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran''. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2009.</ref> Obat-obat antipiretik juga menekan gejala-gejala yang biasanya menyertai [[demam]] seperti [[mialgia]], kedinginan, nyeri kepala, dan lain-lain.<ref>Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. ''Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam''. Penerbit Buku Kedokteran EGC.</ref> Namun, pada kenaikan suhu yang rendah atau sedang, tidak terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa demam merupakan keadaan yang berbahaya atau bahwa terapi antipiretik bermanfaat.<ref>Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. ''Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam''. Penerbit Buku Kedokteran EGC.</ref> Perintah pemberian antipiretik yang rutin, dapat mengaburkan [[informasi klinis]] penting yang perlu dicari dengan mengikuti perjalanan [[suhu tubuh]] apakah naik ataukah turun.<ref>Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. ''Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam''. Penerbit Buku Kedokteran EGC.</ref> | ||
Antipiretik menyebabkan [[hipotalamus]] untuk mengesampingkan peningkatan [[interleukin]] yang kerjanya menginduksi suhu tubuh.<ref>[http://www.princeton.edu/~achaney/tmve/wiki100k/docs/Antipyretic.html Antipyretic].</ref> Tubuh kemudian akan bekerja untuk menurunkan suhu tubuh dan hasilnya adalah pengurangan demam.<ref>[http://www.princeton.edu/~achaney/tmve/wiki100k/docs/Antipyretic.html Antipyretic].</ref> | |||
Obat-obat antipiretik tidak menghambat pembentukan panas.<ref>Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. ''Kumpulan Kuliah Farmakologi''. Penerbit Buku Kedokteran EGC.</ref> Hilangnya panas terjadi dengan meningkatnya aliran darah ke [[perifer]] dan pembentukan [[keringat]].<ref>Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. ''Kumpulan Kuliah Farmakologi''. Penerbit Buku Kedokteran EGC.</ref> Efeknya ini bersifat [[sentral]], tetapi tidak langsung pada [[neuron]] hipotalamus.<ref>Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. ''Kumpulan Kuliah Farmakologi''. Penerbit Buku Kedokteran EGC.</ref> Cara menurunkan demam tinggi diduga dengan menghambat pembentukan [[prostaglandin]] E1.<ref>Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. ''Kumpulan Kuliah Farmakologi''. Penerbit Buku Kedokteran EGC.</ref> | |||
==Perawatan non-farmakologis== | ==Perawatan non-farmakologis== | ||
Mandi atau menggosok dengan air hangat atau dingin dapat secara efektif menurunkan suhu tubuh pada penderita [[penyakit panas]], namun biasanya tidak pada penderita [[demam]]. Penggunaan rendaman [[alkohol]] bukanlah metode pendinginan yang tepat, karena telah dilaporkan efek samping yang terkait dengan penyerapan alkohol secara sistemik. | Mandi atau menggosok dengan air hangat atau dingin dapat secara efektif menurunkan suhu tubuh pada penderita [[penyakit panas]], namun biasanya tidak pada penderita [[demam]].<ref>[https://www.uptodate.com/contents/fever-in-infants-and-children-pathophysiology-and-management Fever in infants and children: Pathophysiology and management].</ref> Penggunaan rendaman [[alkohol]] bukanlah metode pendinginan yang tepat, karena telah dilaporkan efek samping yang terkait dengan penyerapan alkohol secara sistemik.<ref>J. E. Sullivan. ''Fever and Antipyretic Use in Children''. ''Pediatrics''. 2011. Vol. 127 (3). hlm. 580–587. doi:10.1542/peds.2010-3852.</ref> | ||
==Pengobatan== | ==Pengobatan== | ||
| Baris 10: | Baris 12: | ||
*OAINS ([[obat antiinflamasi nonsteroid]]), suatu kelas obat yang luas, selain memiliki efek yang menentukan dalam mengurangi pe[[radang]]an, juga cenderung menjadi analgesik dan antipiretik yang manjur. Mayoritas bekerja dengan menghambat aktivitas enzim keluarga [[siklooksigenase]] (COX) dalam tubuh. | *OAINS ([[obat antiinflamasi nonsteroid]]), suatu kelas obat yang luas, selain memiliki efek yang menentukan dalam mengurangi pe[[radang]]an, juga cenderung menjadi analgesik dan antipiretik yang manjur. Mayoritas bekerja dengan menghambat aktivitas enzim keluarga [[siklooksigenase]] (COX) dalam tubuh. | ||
**Penghambat enzim COX nonselektif seperti [[ibuprofen]] dan [[naproksen]]. | **Penghambat enzim COX nonselektif seperti [[ibuprofen]] dan [[naproksen]].<ref>''Cyclooxygenase-1 and cyclooxygenase-2 selectivity of widely used nonsteroidal anti-inflammatory drugs''. ''Am J Med''. May 1998. Vol. 104 (5). hlm. 413–21. doi:10.1016/s0002-9343(98)00091-6.</ref> | ||
**Turunan [[asam salisilat]], termasuk [[aspirin]] (asam asetilsalisilat), [[magnesium salisilat]], dan [[natrium salisilat]]. Ini juga merupakan penghambat COX nonselektif, tetapi juga bekerja melalui mekanisme lain termasuk mengaktifkan protein kinase teraktivasi AMP. | **Turunan [[asam salisilat]], termasuk [[aspirin]] (asam asetilsalisilat), [[magnesium salisilat]], dan [[natrium salisilat]]. Ini juga merupakan penghambat COX nonselektif, tetapi juga bekerja melalui mekanisme lain termasuk mengaktifkan protein kinase teraktivasi AMP.<ref>''The ancient drug salicylate directly activates AMP-activated protein kinase''. ''Science''. May 2012. Vol. 336 (6083). hlm. 918–22. doi:10.1126/science.1215327.</ref> | ||
**Penghambat COX yang relatif selektif terhadap enzim COX-1, seperti [[ketoprofen]] dan [[flurbiprofen]]. | **Penghambat COX yang relatif selektif terhadap enzim COX-1, seperti [[ketoprofen]] dan [[flurbiprofen]].<ref>''Cyclooxygenase-1 and cyclooxygenase-2 selectivity of widely used nonsteroidal anti-inflammatory drugs''. ''Am J Med''. May 1998. Vol. 104 (5). hlm. 413–21. doi:10.1016/s0002-9343(98)00091-6.</ref> | ||
**Sebaliknya, penghambat COX yang relatif selektif terhadap COX-2, antara lain [[nimesulida]], [[diklofenak]], dan [[selekoksib]]. | **Sebaliknya, penghambat COX yang relatif selektif terhadap COX-2, antara lain [[nimesulida]], [[diklofenak]], dan [[selekoksib]].<ref>''Cyclooxygenase-1 and cyclooxygenase-2 selectivity of widely used nonsteroidal anti-inflammatory drugs''. ''Am J Med''. May 1998. Vol. 104 (5). hlm. 413–21. doi:10.1016/s0002-9343(98)00091-6.</ref> | ||
**Obat-obatan mirip fenazon (pirazolon), yang sebagian besar sudah tidak lagi digunakan karena masalah keamanan di sebagian besar negara (termasuk [[metamizol]], dilarang di lebih dari 30 negara karena menyebabkan [[agranulositosis]]), namun tetap tersedia di beberapa tempat atau untuk tujuan tertentu seperti untuk mengobati [[Radang telinga tengah|otitis media]] berupa obat [[tetes telinga]]. | **Obat-obatan mirip fenazon (pirazolon), yang sebagian besar sudah tidak lagi digunakan karena masalah keamanan di sebagian besar negara (termasuk [[metamizol]], dilarang di lebih dari 30 negara karena menyebabkan [[agranulositosis]]), namun tetap tersedia di beberapa tempat atau untuk tujuan tertentu seperti untuk mengobati [[Radang telinga tengah|otitis media]] berupa obat [[tetes telinga]]. | ||
*Antipiretik golongan [[parasetamol]] (asetaminofen), yang aktivitas antiinflamasinya dapat diabaikan. Selain parasetamol itu sendiri, obat-obatan dalam golongan ini sebagian besar adalah obat-obatan yang sudah dipasarkan sebelumnya dan ditarik kembali karena alasan keamanan, salah satu contohnya adalah [[fenasetin]]. | *Antipiretik golongan [[parasetamol]] (asetaminofen), yang aktivitas antiinflamasinya dapat diabaikan. Selain parasetamol itu sendiri, obat-obatan dalam golongan ini sebagian besar adalah obat-obatan yang sudah dipasarkan sebelumnya dan ditarik kembali karena alasan keamanan, salah satu contohnya adalah [[fenasetin]]. | ||
*Beberapa obat lain memiliki efek antipiretik dengan kekuatan yang bervariasi. Meskipun obat-obatan ini cenderung memiliki efek penurun demam yang terlalu lemah atau terlalu banyak efek samping untuk digunakan terutama sebagai antipiretik, efek antipiretiknya terkadang berguna. Misalnya, ada alasan teoretis untuk percaya, serta sedikit bukti dari satu percobaan pada manusia, bahwa agonis adrenergik α<sub>2</sub>, dan khususnya [[klonidin]] (obat umum yang digunakan untuk mengobati [[tekanan darah tinggi]], [[gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas]], [[spastisitas]] dan beberapa kondisi lainnya), mungkin memiliki efek antipiretik, yang jika diverifikasi berpotensi berguna pada pasien dengan [[syok septik]] atau [[sindrom gangguan pernapasan akut]]. | *Beberapa obat lain memiliki efek antipiretik dengan kekuatan yang bervariasi. Meskipun obat-obatan ini cenderung memiliki efek penurun demam yang terlalu lemah atau terlalu banyak efek samping untuk digunakan terutama sebagai antipiretik, efek antipiretiknya terkadang berguna.<ref>''α2 Adrenergic receptor-mediated inhibition of thermogenesis''. ''J Neurosci''. January 2013. Vol. 33 (5). hlm. 2017–28. doi:10.1523/JNEUROSCI.4701-12.2013.</ref> Misalnya, ada alasan teoretis untuk percaya,<ref>''α2 Adrenergic receptor-mediated inhibition of thermogenesis''. ''J Neurosci''. January 2013. Vol. 33 (5). hlm. 2017–28. doi:10.1523/JNEUROSCI.4701-12.2013.</ref> serta sedikit bukti dari satu percobaan pada manusia,<ref>''Antipyretic Effect of Clonidine in Intensive Care Unit Patients: A Nested Observational Study''. ''J Clin Pharmacol''. January 2017. Vol. 57 (1). hlm. 48–51. doi:10.1002/jcph.776.</ref> bahwa agonis adrenergik α<sub>2</sub>, dan khususnya [[klonidin]] (obat umum yang digunakan untuk mengobati [[tekanan darah tinggi]], [[gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas]], [[spastisitas]] dan beberapa kondisi lainnya), mungkin memiliki efek antipiretik, yang jika diverifikasi berpotensi berguna pada pasien dengan [[syok septik]] atau [[sindrom gangguan pernapasan akut]].<ref>''Hypothesis: Fever control, a niche for alpha-2 agonists in the setting of septic shock and severe acute respiratory distress syndrome?''. ''Temperature (Austin)''. 2018. Vol. 5 (3). hlm. 224–256. doi:10.1080/23328940.2018.1453771.</ref> | ||
===Kegunaan pada Anak-anak=== | ===Kegunaan pada Anak-anak=== | ||
[[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat]] (FDA) mencatat bahwa pemberian dosis yang tidak tepat adalah salah satu masalah terbesar dalam pemberian parasetamol kepada anak-anak. Efektivitas parasetamol saja sebagai antipiretik pada anak-anak masih belum pasti, dan beberapa bukti menunjukkan bahwa obat ini tidak lebih baik dibandingkan metode fisik. Terapi yang melibatkan dosis bergantian parasetamol dan [[ibuprofen]] telah menunjukkan efek antipiretik yang lebih besar dibandingkan obat apa pun. Salah satu meta-analisis menunjukkan bahwa ibuprofen lebih efektif dibandingkan parasetamol pada anak-anak dengan dosis yang sama jika keduanya diberikan secara terpisah. | [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat]] (FDA) mencatat bahwa pemberian dosis yang tidak tepat adalah salah satu masalah terbesar dalam pemberian parasetamol kepada anak-anak.<ref>[https://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm263989.htm Reducing Fever in Children: Safe Use of Acetaminophen]</ref> Efektivitas parasetamol saja sebagai antipiretik pada anak-anak masih belum pasti, dan beberapa bukti menunjukkan bahwa obat ini tidak lebih baik dibandingkan metode fisik.<ref>''Paracetamol for treating fever in children''. ''The Cochrane Database of Systematic Reviews''. 2002. Vol. 2002 (2). hlm. CD003676. doi:10.1002/14651858.CD003676.</ref> Terapi yang melibatkan dosis bergantian parasetamol dan [[ibuprofen]] telah menunjukkan efek antipiretik yang lebih besar dibandingkan obat apa pun.<ref>E. Michael Sarrell, MD. ''Antipyretic treatment in young children with fever: acetaminophen, ibuprofen, or both alternating in a randomized, double-blind study''. ''Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine''. 2006. Vol. 160 (2). hlm. 197–202. doi:10.1001/archpedi.160.2.197.</ref> Salah satu meta-analisis menunjukkan bahwa ibuprofen lebih efektif dibandingkan parasetamol pada anak-anak dengan dosis yang sama jika keduanya diberikan secara terpisah.<ref>Ralph Kauffman. ''Antipyretic Efficacy of Ibuprofen vs Acetaminophen''. ''American Journal of Diseases of Children''. 1992. Vol. 146 (5). hlm. 622–625. doi:10.1001/archpedi.1992.02160170102024.</ref> | ||
Karena kekhawatiran mengenai sindrom Reye, disarankan agar aspirin dan produk kombinasi yang mengandung aspirin tidak diberikan kepada anak-anak atau remaja selama episode penyakit penyebab demam. | Karena kekhawatiran mengenai sindrom Reye, disarankan agar aspirin dan produk kombinasi yang mengandung aspirin tidak diberikan kepada anak-anak atau remaja selama episode penyakit penyebab demam.<ref>[https://www.cdc.gov/ncidod/diseases/reye.htm CDC Study Shows Sharp Decline in Reye's Syndrome among U.S. Children]</ref><ref>[http://www.nhs.uk/Conditions/Reyes-syndrome/Pages/Prevention.aspx Reye's syndrome - Prevention]</ref> | ||
===Pengobatan Tradisional=== | ===Pengobatan Tradisional=== | ||
Penggunaan tradisional [[tumbuhan berpembuluh]] dengan sifat antipiretik adalah ciri umum banyak budaya [[etnobotani]] di seluruh dunia. Dalam etnobotani, tumbuhan dengan sifat antipiretik alami biasanya disebut sebagai ''febrifuge''. | Penggunaan tradisional [[tumbuhan berpembuluh]] dengan sifat antipiretik adalah ciri umum banyak budaya [[etnobotani]] di seluruh dunia. Dalam etnobotani, tumbuhan dengan sifat antipiretik alami biasanya disebut sebagai ''febrifuge''.<ref>Richard Evans Schultes. ''De Plantis Toxicariis e Mundo Novo Tropicale Commentationes XXXIX Febrifuges of northwest Amazonia''. ''Harvard Papers in Botany''. 1994. Vol. 1 (5). hlm. 52–68.</ref> | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antipiretik&oldid=28377978 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28377978 (2025-11-07T23:15:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 18.13

Antipiretik adalah golongan obat penurun demam.[1] Obat-obat antipiretik juga menekan gejala-gejala yang biasanya menyertai demam seperti mialgia, kedinginan, nyeri kepala, dan lain-lain.[2] Namun, pada kenaikan suhu yang rendah atau sedang, tidak terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa demam merupakan keadaan yang berbahaya atau bahwa terapi antipiretik bermanfaat.[3] Perintah pemberian antipiretik yang rutin, dapat mengaburkan informasi klinis penting yang perlu dicari dengan mengikuti perjalanan suhu tubuh apakah naik ataukah turun.[4] Antipiretik menyebabkan hipotalamus untuk mengesampingkan peningkatan interleukin yang kerjanya menginduksi suhu tubuh.[5] Tubuh kemudian akan bekerja untuk menurunkan suhu tubuh dan hasilnya adalah pengurangan demam.[6] Obat-obat antipiretik tidak menghambat pembentukan panas.[7] Hilangnya panas terjadi dengan meningkatnya aliran darah ke perifer dan pembentukan keringat.[8] Efeknya ini bersifat sentral, tetapi tidak langsung pada neuron hipotalamus.[9] Cara menurunkan demam tinggi diduga dengan menghambat pembentukan prostaglandin E1.[10]
Perawatan non-farmakologis
Mandi atau menggosok dengan air hangat atau dingin dapat secara efektif menurunkan suhu tubuh pada penderita penyakit panas, namun biasanya tidak pada penderita demam.[11] Penggunaan rendaman alkohol bukanlah metode pendinginan yang tepat, karena telah dilaporkan efek samping yang terkait dengan penyerapan alkohol secara sistemik.[12]
Pengobatan
Daftar obat dengan efek antipiretik mencakup banyak obat umum yang juga memiliki aktivitas analgesik dan antiinflamasi, beberapa di antaranya biasanya dijual bebas (OTC).
- OAINS (obat antiinflamasi nonsteroid), suatu kelas obat yang luas, selain memiliki efek yang menentukan dalam mengurangi peradangan, juga cenderung menjadi analgesik dan antipiretik yang manjur. Mayoritas bekerja dengan menghambat aktivitas enzim keluarga siklooksigenase (COX) dalam tubuh.
- Penghambat enzim COX nonselektif seperti ibuprofen dan naproksen.[13]
- Turunan asam salisilat, termasuk aspirin (asam asetilsalisilat), magnesium salisilat, dan natrium salisilat. Ini juga merupakan penghambat COX nonselektif, tetapi juga bekerja melalui mekanisme lain termasuk mengaktifkan protein kinase teraktivasi AMP.[14]
- Penghambat COX yang relatif selektif terhadap enzim COX-1, seperti ketoprofen dan flurbiprofen.[15]
- Sebaliknya, penghambat COX yang relatif selektif terhadap COX-2, antara lain nimesulida, diklofenak, dan selekoksib.[16]
- Obat-obatan mirip fenazon (pirazolon), yang sebagian besar sudah tidak lagi digunakan karena masalah keamanan di sebagian besar negara (termasuk metamizol, dilarang di lebih dari 30 negara karena menyebabkan agranulositosis), namun tetap tersedia di beberapa tempat atau untuk tujuan tertentu seperti untuk mengobati otitis media berupa obat tetes telinga.
- Antipiretik golongan parasetamol (asetaminofen), yang aktivitas antiinflamasinya dapat diabaikan. Selain parasetamol itu sendiri, obat-obatan dalam golongan ini sebagian besar adalah obat-obatan yang sudah dipasarkan sebelumnya dan ditarik kembali karena alasan keamanan, salah satu contohnya adalah fenasetin.
- Beberapa obat lain memiliki efek antipiretik dengan kekuatan yang bervariasi. Meskipun obat-obatan ini cenderung memiliki efek penurun demam yang terlalu lemah atau terlalu banyak efek samping untuk digunakan terutama sebagai antipiretik, efek antipiretiknya terkadang berguna.[17] Misalnya, ada alasan teoretis untuk percaya,[18] serta sedikit bukti dari satu percobaan pada manusia,[19] bahwa agonis adrenergik α2, dan khususnya klonidin (obat umum yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, spastisitas dan beberapa kondisi lainnya), mungkin memiliki efek antipiretik, yang jika diverifikasi berpotensi berguna pada pasien dengan syok septik atau sindrom gangguan pernapasan akut.[20]
Kegunaan pada Anak-anak
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mencatat bahwa pemberian dosis yang tidak tepat adalah salah satu masalah terbesar dalam pemberian parasetamol kepada anak-anak.[21] Efektivitas parasetamol saja sebagai antipiretik pada anak-anak masih belum pasti, dan beberapa bukti menunjukkan bahwa obat ini tidak lebih baik dibandingkan metode fisik.[22] Terapi yang melibatkan dosis bergantian parasetamol dan ibuprofen telah menunjukkan efek antipiretik yang lebih besar dibandingkan obat apa pun.[23] Salah satu meta-analisis menunjukkan bahwa ibuprofen lebih efektif dibandingkan parasetamol pada anak-anak dengan dosis yang sama jika keduanya diberikan secara terpisah.[24]
Karena kekhawatiran mengenai sindrom Reye, disarankan agar aspirin dan produk kombinasi yang mengandung aspirin tidak diberikan kepada anak-anak atau remaja selama episode penyakit penyebab demam.[25][26]
Pengobatan Tradisional
Penggunaan tradisional tumbuhan berpembuluh dengan sifat antipiretik adalah ciri umum banyak budaya etnobotani di seluruh dunia. Dalam etnobotani, tumbuhan dengan sifat antipiretik alami biasanya disebut sebagai febrifuge.[27]
Referensi
- ↑ Drs. Damin Sumardjo. Pengantar Kimia Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2009.
- ↑ Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- ↑ Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- ↑ Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper. Harrison: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- ↑ Antipyretic.
- ↑ Antipyretic.
- ↑ Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- ↑ Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- ↑ Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- ↑ Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK UNSRI. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
- ↑ Fever in infants and children: Pathophysiology and management.
- ↑ J. E. Sullivan. Fever and Antipyretic Use in Children. Pediatrics. 2011. Vol. 127 (3). hlm. 580–587. doi:10.1542/peds.2010-3852.
- ↑ Cyclooxygenase-1 and cyclooxygenase-2 selectivity of widely used nonsteroidal anti-inflammatory drugs. Am J Med. May 1998. Vol. 104 (5). hlm. 413–21. doi:10.1016/s0002-9343(98)00091-6.
- ↑ The ancient drug salicylate directly activates AMP-activated protein kinase. Science. May 2012. Vol. 336 (6083). hlm. 918–22. doi:10.1126/science.1215327.
- ↑ Cyclooxygenase-1 and cyclooxygenase-2 selectivity of widely used nonsteroidal anti-inflammatory drugs. Am J Med. May 1998. Vol. 104 (5). hlm. 413–21. doi:10.1016/s0002-9343(98)00091-6.
- ↑ Cyclooxygenase-1 and cyclooxygenase-2 selectivity of widely used nonsteroidal anti-inflammatory drugs. Am J Med. May 1998. Vol. 104 (5). hlm. 413–21. doi:10.1016/s0002-9343(98)00091-6.
- ↑ α2 Adrenergic receptor-mediated inhibition of thermogenesis. J Neurosci. January 2013. Vol. 33 (5). hlm. 2017–28. doi:10.1523/JNEUROSCI.4701-12.2013.
- ↑ α2 Adrenergic receptor-mediated inhibition of thermogenesis. J Neurosci. January 2013. Vol. 33 (5). hlm. 2017–28. doi:10.1523/JNEUROSCI.4701-12.2013.
- ↑ Antipyretic Effect of Clonidine in Intensive Care Unit Patients: A Nested Observational Study. J Clin Pharmacol. January 2017. Vol. 57 (1). hlm. 48–51. doi:10.1002/jcph.776.
- ↑ Hypothesis: Fever control, a niche for alpha-2 agonists in the setting of septic shock and severe acute respiratory distress syndrome?. Temperature (Austin). 2018. Vol. 5 (3). hlm. 224–256. doi:10.1080/23328940.2018.1453771.
- ↑ Reducing Fever in Children: Safe Use of Acetaminophen
- ↑ Paracetamol for treating fever in children. The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2002. Vol. 2002 (2). hlm. CD003676. doi:10.1002/14651858.CD003676.
- ↑ E. Michael Sarrell, MD. Antipyretic treatment in young children with fever: acetaminophen, ibuprofen, or both alternating in a randomized, double-blind study. Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine. 2006. Vol. 160 (2). hlm. 197–202. doi:10.1001/archpedi.160.2.197.
- ↑ Ralph Kauffman. Antipyretic Efficacy of Ibuprofen vs Acetaminophen. American Journal of Diseases of Children. 1992. Vol. 146 (5). hlm. 622–625. doi:10.1001/archpedi.1992.02160170102024.
- ↑ CDC Study Shows Sharp Decline in Reye's Syndrome among U.S. Children
- ↑ Reye's syndrome - Prevention
- ↑ Richard Evans Schultes. De Plantis Toxicariis e Mundo Novo Tropicale Commentationes XXXIX Febrifuges of northwest Amazonia. Harvard Papers in Botany. 1994. Vol. 1 (5). hlm. 52–68.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28377978 (2025-11-07T23:15:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.