Terumbu karang: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29587944; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Rotjan_-_Enderbury_Day_1_-_2nd_half_(62).JPG|thumb|right|280px|Rotjan - Enderbury Day 1 - 2nd half (62)]] | |||
'''Terumbu karang''' adalah sebuah [[ekosistem]] bawah laut yang dicirikan dengan hadirnya [[koral]]-koral pembangun karang. Koral sendiri adalah hewan karang yang ber[[simbiosis]] dengan sejenis tumbuhan [[alga]] yang disebut ''[[zooxanthellae]]''.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Terumbu karang termasuk dalam jenis filum [[Cnidaria]] kelas Anthozoa yang memiliki [[tentakel]].<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Kelas [[Anthozoa]] tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu [[Hexacorallia]] (atau Zoantharia) dan [[Octocorallia]], yang keduanya dibedakan secara asal-usul [[morfologi]] dan [[fisiologi]].<ref>Burke IC, Laurenroth WK. 2002. ''Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective''.LTER.Page.56-57.</ref>Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut [[polip]].<ref>Hutagalung RA. 2005. ''Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation''. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.</ref> Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh [[tentakel]].<ref>Hutagalung RA. 2005. ''Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation''. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.</ref> Namun pada kebanyakan [[spesies]], satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni.<ref>Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta.Hlm.21.</ref> Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO<sub>3</sub>.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan [[mikroorganisme]] laut lainnya yang belum diketahui.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> | |||
Terumbu karang pertamakali hadir 485 juta tahun lalu, pada permulaan [[Ordovisium Awal]], menggantikan terumbu mikrobial dan [[spons]] pada periode [[Kambrium]].<ref>Jeong-Hyun Lee. ''The middle–late Cambrian reef transition and related geological events: A review and new view''. ''Earth-Science Reviews''. 1 June 2015. Vol. 145. hlm. 66–84. doi:10.1016/j.earscirev.2015.03.002.</ref> | |||
Terkadang dikenal sebagai ''hutan hujan lautan'',<ref>[https://oceanservice.noaa.gov/oceans/corals/ Coral reefs] ''NOAA National Ocean Service''. Accessed: 10 January 2020.</ref> terumbu karang perairan dangkal menjafi salah satu ekosistem paling beranekaragam di Bumi. Ekosistem ini mencakup kurang dari 0.1% area lautan dunia, yang kurang lebih setara dengan setengah luas Prancis. Namun, ekosistem ini menjadi rumah bagi setidaknya 25% dari semua [[spesies]] laut,<ref>[https://archive.org/details/sim_coral-reefs_1997-12_16_4/page/225 New estimates of global and regional coral reef areas]. ''Coral Reefs''. 1997. Vol. 16 (4). hlm. 225–230. doi:10.1007/s003380050078.</ref><ref>Spalding, Mark, Corinna Ravilious, and Edmund Green (2001). ''World Atlas of Coral Reefs''. Berkeley, CA: University of California Press and UNEP/WCMC .</ref><ref>M. Mulhall. [http://www.law.duke.edu/shell/cite.pl?19+Duke+Envtl.+L.+&+Pol%27y+F.+321+pdf Saving rainforests of the sea: An analysis of international efforts to conserve coral reefs]. ''Duke Environmental Law and Policy Forum''. Spring 2009. Vol. 19. hlm. 321–351.</ref> termasuk [[ikan]], [[moluska]], [[cacing]], [[krustasea]], [[Echinodermata|echinoderm]], spons, [[tunikata]] dan cnidaria lainnya.<ref>John Hoover. ''Hawaiʻi's Sea Creatures''. Mutual. November 2007. ISBN 978-1-56647-220-3.</ref> Terumbu karang tumbuh pesat pada perairan laut yang meyandang sedikit nutrien. Terumbu umumnya ditemukan di perairan tropis dangkal, tetapi juga hadir di [[laut dalam]] dan perairan dingin, meski dalam skala yang lebih kecil. | |||
Terumbu karang memberi [[layanan ekosistem]] untuk pariwisata, perikanan dan [[pengelolaan wilayah pesisir]]. Nilai ekonomi global tahunan terumbu karang diperkirakan sebesar mulai dari US$30–375 miliar (perkiraan 1997 dan 2004) dan dari US$2.7 triliun (sebuah perkiraan tahun 2020) hingga US$9.9 triliun (sebuah perkiraan tahun 2014). | Terumbu karang dangkal telah berkurang sebanyak 20% sejak 1950, sebagian karena mereka sensitif terhadap kondisi air.<ref>Patrick Greenfield. [https://www.theguardian.com/environment/2021/sep/17/global-coral-cover-halves-since-1950s-analysis-finds-aoe Global coral cover has fallen by half since 1950s, analysis finds]. ''The Guardian''. 2021-09-17.</ref> Terumbu karang terancam [[Polusi nutrisi|nutrien berlebih di air]] (nitrogen dan fosfor), peningkatan [[kandungan panas samudra]] dan [[Peningkatan keasaman air laut|asidifikasi]], [[penangkapan ikan berlebih]], penggunaan tabir surya,<ref>Roberto Danovaro. ''Sunscreens Cause Coral Bleaching by Promoting Viral Infections''. ''Environmental Health Perspectives''. April 2008. Vol. 116 (4). hlm. 441–447. doi:10.1289/ehp.10966.</ref> dan penggunaan lahan berbahaya, termasuk melalui [[polusi pertanian]].<ref>[http://www.uq.edu.au/news/?article=12183 Corals reveal impact of land use]. ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies.</ref><ref>Charissa Minato. [http://www.hcri.ssri.hawaii.edu/files/media/pr-water_quality.pdf Urban runoff and coastal water quality being researched for effects on coral reefs]. July 1, 2002.</ref><ref>[http://water.epa.gov/type/oceb/fact4.cfm Coastal Watershed Factsheets – Coral Reefs and Your Coastal Watershed]. Environmental Protection Agency Office of Water. July 1998.</ref> | ||
Terumbu karang memberi [[layanan ekosistem]] untuk pariwisata, perikanan dan [[pengelolaan wilayah pesisir]]. Nilai ekonomi global tahunan terumbu karang diperkirakan sebesar mulai dari US$30–375 miliar (perkiraan 1997 dan 2004)<ref>H.J.S. Cesar. ''The Economics of Worldwide Coral Reef Degradation''. Cesar Environmental Economics Consulting. 2003. hlm. 4. (pdf: [http://assets.panda.org/downloads/cesardegradationreport100203.pdf link])</ref><ref>Robert Costanza. [https://discovery.ucl.ac.uk/id/eprint/10189378/ The value of the world's ecosystem services and natural capital]. ''Nature''. 15 May 1997. Vol. 387 (6630). hlm. 253–260. doi:10.1038/387253a0.</ref> dan dari US$2.7 triliun (sebuah perkiraan tahun 2020)<ref>[https://gcrmn.net/2020-report/ The Sixth Status of Corals of the World: 2020 Report]. ''GCRMN''.</ref> hingga US$9.9 triliun (sebuah perkiraan tahun 2014).<ref>Robert Costanza. [https://discovery.ucl.ac.uk/id/eprint/10189453/ Changes in the global value of ecosystem services]. ''Global Environmental Change''. 2014. Vol. 26 (1). hlm. 152–158. doi:10.1016/j.gloenvcha.2014.04.002.</ref> | |||
== Istilah == | == Istilah == | ||
'''Terumbu karang''' secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta [[ekosistem]] yang menyertainya yang secara aktif membentuk [[sedimen]] [[kalsium karbonat]] akibat aktivitas [[biologi]] (biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan [[laut]]. Bagi ahli [[geologi]], terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan '''terumbu'''. Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas [[koral]]. | '''Terumbu karang''' secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta [[ekosistem]] yang menyertainya yang secara aktif membentuk [[sedimen]] [[kalsium karbonat]] akibat aktivitas [[biologi]] (biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan [[laut]].<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Bagi ahli [[geologi]], terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan '''terumbu'''.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas [[koral]].<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> | ||
Dalam peristilahan 'terumbu karang', "karang" yang dimaksud adalah [[koral]], sekelompok [[hewan]] dari [[ordo]] [[Scleractinia]] yang menghasilkan [[kapur]] sebagai pembentuk utama terumbu. Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari [[alga]]. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Kerangka karang mengalami [[erosi]] dan terakumulasi menempel di dasar terumbu. | Dalam peristilahan 'terumbu karang', "karang" yang dimaksud adalah [[koral]], sekelompok [[hewan]] dari [[ordo]] [[Scleractinia]] yang menghasilkan [[kapur]] sebagai pembentuk utama terumbu.<ref>Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.</ref> Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut.<ref>Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.</ref> Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari [[alga]].<ref>Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.</ref> Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang.<ref>Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.</ref> Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral.<ref>Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.</ref> Kerangka karang mengalami [[erosi]] dan terakumulasi menempel di dasar terumbu.<ref>Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.</ref> | ||
== Habitat == | == Habitat == | ||
Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya [[matahari]] kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut. Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam [[laut]] dan tidak memerlukan [[cahaya]], tetapi terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan ''zooxanhellae'' dan tidak membentuk karang. | Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya [[matahari]] kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam [[laut]] dan tidak memerlukan [[cahaya]], tetapi terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan ''zooxanhellae'' dan tidak membentuk karang.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> | ||
Ekosistem terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama [[suhu]], [[salinitas]], sedimentasi, [[eutrofikasi]], dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat [[pemanasan global]] yang melanda perairan tropis pada tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (''coral bleaching'') yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90–95%. Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2–3 °C di atas suhu normal. | Ekosistem terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama [[suhu]], [[salinitas]], sedimentasi, [[eutrofikasi]], dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine).<ref>Burke IC, Laurenroth WK. 2002. ''Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective''.LTER.Page.56-57.</ref> Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat [[pemanasan global]] yang melanda perairan tropis pada tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (''coral bleaching'') yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90–95%.<ref>Burke IC, Laurenroth WK. 2002. ''Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective''.LTER.Page.56-57.</ref> Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2–3 °C di atas suhu normal.<ref>Burke IC, Laurenroth WK. 2002. ''Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective''.LTER.Page.56-57.</ref> | ||
=== Kondisi optimum === | === Kondisi optimum === | ||
Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20 °C. Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi. Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang. | Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20 °C.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> | ||
Beberapa terumbu karang membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan kegiatan [[fotosintesis]]. Polip-polip penyusun terumbu karang yang terletak pada bagian atas terumbu karang dapat menangkap makanan yang terbawa arus laut dan juga melakukan fotosintesis. Oleh karena itu, oksigen-[[oksigen]] hasil fotosintesis yang terlarut dalam air dapat dimanfaatkan oleh spesies laut lainnya. | Beberapa terumbu karang membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan kegiatan [[fotosintesis]].<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Polip-polip penyusun terumbu karang yang terletak pada bagian atas terumbu karang dapat menangkap makanan yang terbawa arus laut dan juga melakukan fotosintesis.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Oleh karena itu, oksigen-[[oksigen]] hasil fotosintesis yang terlarut dalam air dapat dimanfaatkan oleh spesies laut lainnya.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> | ||
Hewan karang sebagai pembangun utama terumbu adalah organisme laut yang efisien karena mampu tumbuh subur dalam lingkungan sedikit nutrien (oligotrofik). | Hewan karang sebagai pembangun utama terumbu adalah organisme laut yang efisien karena mampu tumbuh subur dalam lingkungan sedikit nutrien (oligotrofik).<ref>Burke IC, Laurenroth WK. 2002. ''Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective''.LTER.Page.56-57.</ref> | ||
==== Fotosintesis ==== | ==== Fotosintesis ==== | ||
Proses fotosintesis oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi [[kalsium karbonat]] dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang [[reaksi kimia]] sebagai berikut: | Proses fotosintesis oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi [[kalsium karbonat]] dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang [[reaksi kimia]] sebagai berikut:<ref>Sumich JL, Dudley GH. 1992. ''Laboratory and field investigations in marine biology''. Ed.5. Page. 213</ref> | ||
Ca(HCO<sub>3</sub>) CaCO<sub>3</sub> + H<sub>2</sub>CO<sub>3</sub> H<sub>2</sub>O + CO<sub>2</sub> | Ca(HCO<sub>3</sub>) CaCO<sub>3</sub> + H<sub>2</sub>CO<sub>3</sub> H<sub>2</sub>O + CO<sub>2</sub> | ||
Fotosintesis oleh algae yang bersimbiosis membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposit cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat, kira-kira 10 kali lebih cepat daripada karang yang tidak membentuk terumbu ([[ahermatipik]]) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae. | Fotosintesis oleh algae yang bersimbiosis membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposit cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat, kira-kira 10 kali lebih cepat daripada karang yang tidak membentuk terumbu ([[ahermatipik]]) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae.<ref>Hutagalung RA. 2005. ''Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation''. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.</ref> | ||
=== Di Indonesia dan Indo Pasifik === | === Di Indonesia dan Indo Pasifik === | ||
Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya [[pesisir]] dan [[laut]], di samping [[hutan bakau|hutan bakau atau hutan mangrove]] dan [[padang lamun]]. Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada di dalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa [[Indonesia]] yang tak ternilai harganya. Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km<sup>2</sup>, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia. Contohnya adalah ekosistem terumbu karang di perairan Maluku dan Nusa Tenggara. | Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya [[pesisir]] dan [[laut]], di samping [[hutan bakau|hutan bakau atau hutan mangrove]] dan [[padang lamun]].<ref>Walters GE, ''et al''. 1998. ''Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf''.Page. 201-203.</ref> Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada di dalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa [[Indonesia]] yang tak ternilai harganya.<ref>Walters GE, ''et al''. 1998. ''Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf''.Page. 201-203.</ref> Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km<sup>2</sup>, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia.<ref>Walters GE, ''et al''. 1998. ''Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf''.Page. 201-203.</ref> Contohnya adalah ekosistem terumbu karang di perairan Maluku dan Nusa Tenggara.<ref>Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.</ref> | ||
Indonesia merupakan tempat bagi sekitar ⅛ dari terumbu karang dunia dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman [[biota]] perairan dibanding dengan negara-negara [[Asia Tenggara]] lainnya. | Indonesia merupakan tempat bagi sekitar ⅛ dari terumbu karang dunia dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman [[biota]] perairan dibanding dengan negara-negara [[Asia Tenggara]] lainnya.<ref>Walters GE, ''et al''. 1998. ''Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf''.Page. 201-203.</ref> | ||
Bentangan terumbu karang yang terbesar dan terkaya dalam hal jumlah spesies karang, [[ikan]], dan [[moluska]] terdapat pada regional Indo-Pasifik yang terbentang mulai dari [[Indonesia]] sampai ke [[Polinesia]] dan [[Australia]] lalu ke bagian barat yaitu [[Samudera Pasifik|Samudra Pasifik]] sampai [[Afrika]] Timur. | Bentangan terumbu karang yang terbesar dan terkaya dalam hal jumlah spesies karang, [[ikan]], dan [[moluska]] terdapat pada regional Indo-Pasifik yang terbentang mulai dari [[Indonesia]] sampai ke [[Polinesia]] dan [[Australia]] lalu ke bagian barat yaitu [[Samudera Pasifik|Samudra Pasifik]] sampai [[Afrika]] Timur.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> | ||
== Manfaat == | == Manfaat == | ||
Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun [[ekonomi]].<ref>[http://www.lablink.or.id/index.html. Webmaster. 2001. Terumbu karang] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> Estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.<ref>Walters GE, ''et al''. 1998. ''Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf''.Page. 201-203.</ref> | |||
Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh [[manusia]] adalah:<ref>Hutagalung RA. 2005. ''Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation''. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.</ref> | |||
Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh [[manusia]] adalah: | |||
* Sebagai tempat hidup [[ikan]] yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning, batu karang, | * Sebagai tempat hidup [[ikan]] yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning, batu karang, | ||
* [[Pariwisata]], wisata [[bahari]] melihat keindahan bentuk dan warnanya. | * [[Pariwisata]], wisata [[bahari]] melihat keindahan bentuk dan warnanya. | ||
| Baris 48: | Baris 49: | ||
* sebagai bahan baku Perhiasan Dan Industri | * sebagai bahan baku Perhiasan Dan Industri | ||
Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah sebagai penahan [[abrasi]] pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati. | Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah sebagai penahan [[abrasi]] pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati.<ref>[http://www.lablink.or.id/index.html. Webmaster. 2001. Terumbu karang] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> | ||
== Klasifikasi == | == Klasifikasi == | ||
=== Berdasarkan kemampuan memproduksi kapur === | === Berdasarkan kemampuan memproduksi kapur === | ||
==== Karang hermatipik ==== | ==== Karang hermatipik ==== | ||
Karang [[hermatifik|hermatipik]] adalah karang yang dapat membentuk bangunan karang yang dikenal menghasilkan terumbu dan penyebarannya hanya ditemukan di daerah [[tropis]].<ref>Zhong Y, Dong W. 1999. ''Zoological studies''. Jilid. 38.Page. 114.</ref> | |||
Karang hermatipik ber[[simbiosis mutualisme]] dengan ''zooxanthellae'', yaitu sejenis algae [[uniseluler]] (''Dinoflagellata unisuler''), seperti ''Gymnodinium microadriatum'', yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan [[Fotosintesis]].<ref>Sumich JL, Dudley GH. 1992. ''Laboratory and field investigations in marine biology''. Ed.5. Page. 213</ref> Dalam simbiosis, zooxanthellae menghasilkan oksigen dan senyawa organik melalui fotosintesis yang akan dimanfaatkan oleh karang, sedangkan karang menghasilkan komponen inorganik berupa nitrat, [[fosfat]] dan [[karbon dioksida]] untuk keperluan hidup ''zooxanthellae''.<ref>Burke IC, Laurenroth WK. 2002. ''Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective''.LTER.Page.56-57.</ref> Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> | |||
Karang hermatipik ber[[simbiosis mutualisme]] dengan ''zooxanthellae'', yaitu sejenis algae [[uniseluler]] (''Dinoflagellata unisuler''), seperti ''Gymnodinium microadriatum'', yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan [[Fotosintesis]]. Dalam simbiosis, zooxanthellae menghasilkan oksigen dan senyawa organik melalui fotosintesis yang akan dimanfaatkan oleh karang, sedangkan karang menghasilkan komponen inorganik berupa nitrat, [[fosfat]] dan [[karbon dioksida]] untuk keperluan hidup ''zooxanthellae''. Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang. | |||
Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat [[hewan]] dan [[tumbuhan]] sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat [[Fototropisme|fototropik]] positif. Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai atau laut yang cukup dangkal di mana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut. Di samping itu untuk hidup binatang karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25–32 °C. | Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat [[hewan]] dan [[tumbuhan]] sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat [[Fototropisme|fototropik]] positif.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai atau laut yang cukup dangkal di mana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> Di samping itu untuk hidup binatang karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25–32 °C.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> | ||
==== Karang ahermatipik ==== | ==== Karang ahermatipik ==== | ||
Karang ahermatipik tidak menghasilkan terumbu dan ini merupakan kelompok yang tersebar luas di seluruh [[dunia]]. | Karang ahermatipik tidak menghasilkan terumbu dan ini merupakan kelompok yang tersebar luas di seluruh [[dunia]].<ref>Zhong Y, Dong W. 1999. ''Zoological studies''. Jilid. 38.Page. 114.</ref> | ||
=== Berdasarkan bentuk dan tempat tumbuh === | === Berdasarkan bentuk dan tempat tumbuh === | ||
==== Terumbu (''reef'') ==== | ==== Terumbu (''reef'') ==== | ||
Endapan masif batu kapur (''limestone''), terutama kalsium karbonat (CaCO<sub>3</sub>), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain, seperti alga berkapur, yang menyekresi kapur, seperti alga berkapur dan [[moluska]]. | Endapan masif batu kapur (''limestone''), terutama kalsium karbonat (CaCO<sub>3</sub>), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain, seperti alga berkapur, yang menyekresi kapur, seperti alga berkapur dan [[moluska]].<ref>Zhong Y, Dong W. 1999. ''Zoological studies''. Jilid. 38.Page. 114.</ref> | ||
Konstruksi [[batu kapur]] [[biogenis]] yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masih hidup) di laut dangkal. | Konstruksi [[batu kapur]] [[biogenis]] yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masih hidup) di laut dangkal.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> | ||
==== Karang (koral) ==== | ==== Karang (koral) ==== | ||
Disebut juga karang batu (''stony coral''), yaitu hewan dari [[Ordo]] [[Scleractinia]], yang mampu mensekresi CaCO<sub>3</sub>. Karang batu termasuk ke dalam Kelas [[Anthozoa]] yaitu anggota [[Filum]] [[Coelenterata]] yang hanya mempunyai stadium polip. Dalam proses pembentukan terumbu karang maka karang batu (''Scleratina'') adalah penyusun yang paling penting atau hewan karang pembangun terumbu. Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip. Contoh makhluk klonal adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas. | Disebut juga karang batu (''stony coral''), yaitu hewan dari [[Ordo]] [[Scleractinia]], yang mampu mensekresi CaCO<sub>3</sub>.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> Karang batu termasuk ke dalam Kelas [[Anthozoa]] yaitu anggota [[Filum]] [[Coelenterata]] yang hanya mempunyai stadium polip.<ref>Burke IC, Laurenroth WK. 2002. ''Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective''.LTER.Page.56-57.</ref> Dalam proses pembentukan terumbu karang maka karang batu (''Scleratina'') adalah penyusun yang paling penting atau hewan karang pembangun terumbu.<ref>Zhong Y, Dong W. 1999. ''Zoological studies''. Jilid. 38.Page. 114.</ref> Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> Contoh makhluk klonal adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> | ||
==== Karang terumbu ==== | ==== Karang terumbu ==== | ||
Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (''hermatypic coral'') atau karang yang menghasilkan kapur. Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (''rock'') yang merupakan batu [[cadas]] atau batuan [[vulkanik]]. | Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (''hermatypic coral'') atau karang yang menghasilkan kapur.<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (''rock'') yang merupakan batu [[cadas]] atau batuan [[vulkanik]].<ref>Nybakken JW. 1986. ''Readings in marine ecology''. Ed.2. Page.289-291.</ref> | ||
==== Terumbu karang ==== | ==== Terumbu karang ==== | ||
Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO<sub>3</sub>) khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis-jenis moluska, [[Crustacea|Krustasea]], [[Echinodermata]], [[Polikhaeta]], [[Porifera]], dan [[Tunikata]] serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis [[Plankton]] dan jenis-jenis nekton. | Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO<sub>3</sub>) khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis-jenis moluska, [[Crustacea|Krustasea]], [[Echinodermata]], [[Polikhaeta]], [[Porifera]], dan [[Tunikata]] serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis [[Plankton]] dan jenis-jenis nekton.<ref>Sumich JL, Dudley GH. 1992. ''Laboratory and field investigations in marine biology''. Ed.5. Page. 213</ref> | ||
=== Berdasarkan letak<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> === | |||
==== Terumbu karang tepi ==== | ==== Terumbu karang tepi ==== | ||
Terumbu karang tepi atau karang penerus atau ''fringing reefs'' adalah jenis terumbu karang paling sederhana dan paling banyak ditemui di pinggir pantai yang terletak di daerah tropis. | Terumbu karang tepi atau karang penerus atau ''fringing reefs'' adalah jenis terumbu karang paling sederhana dan paling banyak ditemui di pinggir pantai yang terletak di daerah tropis. | ||
Terumbu karang tepi berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Terumbu karang tepi sangat rentan terhadap aktivitas manusia di daratan, seperti sedimentasi dan polusi, karena kedekatan lokasinya dengan pantai. | Terumbu karang tepi berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Terumbu karang tepi sangat rentan terhadap aktivitas manusia di daratan, seperti sedimentasi dan polusi, karena kedekatan lokasinya dengan pantai.<ref>[https://www.liputan6.com/feeds/read/5847354/fungsi-terumbu-karang-vital-bagi-ekosistem-laut-dan-manusia?page=2 Fungsi Terumbu Karang, Vital bagi Ekosistem Laut dan Manusia]. ''Liputan6''. 25 Desember 2024.</ref> | ||
Contoh: [[Bunaken]] ([[Sulawesi]]), [[Pulau Panaitan]] ([[Banten]]), [[Nusa Dua]] ([[Bali]]). | Contoh: [[Bunaken]] ([[Sulawesi]]), [[Pulau Panaitan]] ([[Banten]]), [[Nusa Dua]] ([[Bali]]). | ||
| Baris 93: | Baris 91: | ||
==== Terumbu karang cincin ==== | ==== Terumbu karang cincin ==== | ||
Terumbu karang [[cincin]] atau ''attols'' adalah terumbu karang yang berbentuk cincin dan berukuran sangat besar menyerupai pulau. [[Atol]] banyak ditemukan pada daerah tropis di [[Samudra Atlantik]]. | Terumbu karang [[cincin]] atau ''attols'' adalah terumbu karang yang berbentuk cincin dan berukuran sangat besar menyerupai pulau. [[Atol]] banyak ditemukan pada daerah tropis di [[Samudra Atlantik]]. | ||
Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau-pulau [[vulkanik]] yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. | Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau-pulau [[vulkanik]] yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. | ||
==== Terumbu karang datar ==== | ==== Terumbu karang datar ==== | ||
| Baris 104: | Baris 100: | ||
=== Berdasarkan zonasi === | === Berdasarkan zonasi === | ||
==== Terumbu yang menghadap angin ==== | ==== Terumbu yang menghadap angin ==== | ||
Terumbu yang menghadap angin (dalam bahasa Inggris: ''Windward reef'') ''Windward'' adalah sisi yang menghadap arah datangnya angin. Zona ini diawali oleh lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas. Di lereng terumbu, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak. Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur. | Terumbu yang menghadap angin (dalam bahasa Inggris: ''Windward reef'') ''Windward'' adalah sisi yang menghadap arah datangnya angin.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Zona ini diawali oleh lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Di lereng terumbu, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> | ||
Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu, di bagian atas teras terumbu terdapat penutupan alga [[koralin]] yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh [[gelombang]] yang kuat. Daerah ini disebut sebagai pematang alga. Akhirnya zona ''windward'' diakhiri oleh rataan terumbu yang sangat dangkal. | Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu, di bagian atas teras terumbu terdapat penutupan alga [[koralin]] yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh [[gelombang]] yang kuat.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Daerah ini disebut sebagai pematang alga.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Akhirnya zona ''windward'' diakhiri oleh rataan terumbu yang sangat dangkal.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> | ||
==== Terumbu yang membelakangi angin ==== | ==== Terumbu yang membelakangi angin ==== | ||
Terumbu yang membelakangi angin (''Leeward reef'') adalah sisi yang membelakangi arah datangnya [[angin]]. Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada ''windward reef'' dan memiliki bentangan goba (''lagoon'') yang cukup lebar. Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, tetapi kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar. | Terumbu yang membelakangi angin (''Leeward reef'') adalah sisi yang membelakangi arah datangnya [[angin]].<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada ''windward reef'' dan memiliki bentangan goba (''lagoon'') yang cukup lebar.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, tetapi kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar.<ref>Castro P & Huber ME. 2005. ''Marine Biology'' Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.</ref> | ||
== Kerusakan terumbu karang == | == Kerusakan terumbu karang == | ||
Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi terumbu karang terbesar di dunia. Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 60.000 km<sup>2</sup>. Hal tersebut membuat [[Indonesia]] menjadi negara pengekspor terumbu karang pertama di dunia. Dewasa ini, kerusakan terumbu karang, terutama di Indonesia meningkat secara pesat. Terumbu karang yang masih berkondisi baik hanya sekitar 6,2%. Kerusakan ini menyebabkan meluasnya tekanan pada ekosistem terumbu karang [[alami]]. Meskipun faktanya kuantitas perdagangan terumbu karang telah dibatasi oleh ''Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora'' (CITES), laju eksploitasi terumbu karang masih tinggi karena buruknya sistem penanganannya. | Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi terumbu karang terbesar di dunia.<ref>[http://www.lablink.or.id/index.html. Webmaster. 2001. Terumbu karang] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 60.000 km<sup>2</sup>.<ref>[http://www.lablink.or.id/index.html. Webmaster. 2001. Terumbu karang] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> Hal tersebut membuat [[Indonesia]] menjadi negara pengekspor terumbu karang pertama di dunia.<ref>[http://www.lablink.or.id/index.html. Webmaster. 2001. Terumbu karang] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> Dewasa ini, kerusakan terumbu karang, terutama di Indonesia meningkat secara pesat.<ref>[http://www.lablink.or.id/index.html. Webmaster. 2001. Terumbu karang] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> Terumbu karang yang masih berkondisi baik hanya sekitar 6,2%.<ref>[http://www.lablink.or.id/index.html. Webmaster. 2001. Terumbu karang] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> Kerusakan ini menyebabkan meluasnya tekanan pada ekosistem terumbu karang [[alami]].<ref>[http://www.lablink.or.id/index.html. Webmaster. 2001. Terumbu karang] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> Meskipun faktanya kuantitas perdagangan terumbu karang telah dibatasi oleh ''Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora'' (CITES), laju eksploitasi terumbu karang masih tinggi karena buruknya sistem penanganannya.<ref>Hutagalung RA. 2005. ''Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation''. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.</ref> | ||
Beberapa aktivitas manusia yang dapat merusak terumbu karang: | Beberapa aktivitas manusia yang dapat merusak terumbu karang:<ref>[http://www.coralreefinstitute.org/10-ways-to-protect-coral-reefs.htm. Schumann G. 2009. 10 Ways to protect coral reefs] Diakses pada 5 Apr 2010.</ref> | ||
* membuang [[sampah]] ke laut dan pantai yang dapat mencemari [[air laut]] | * membuang [[sampah]] ke laut dan pantai yang dapat mencemari [[air laut]] | ||
| Baris 132: | Baris 127: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Terumbu+karang&oldid=29587944 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29587944 (2026-08-16T10:29:32Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 23.01
Terumbu karang adalah sebuah ekosistem bawah laut yang dicirikan dengan hadirnya koral-koral pembangun karang. Koral sendiri adalah hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae.[1] Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel.[2] Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul morfologi dan fisiologi.[3]Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut polip.[4] Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel.[5] Namun pada kebanyakan spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni.[6] Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3.[7] Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui.[8] Terumbu karang pertamakali hadir 485 juta tahun lalu, pada permulaan Ordovisium Awal, menggantikan terumbu mikrobial dan spons pada periode Kambrium.[9]
Terkadang dikenal sebagai hutan hujan lautan,[10] terumbu karang perairan dangkal menjafi salah satu ekosistem paling beranekaragam di Bumi. Ekosistem ini mencakup kurang dari 0.1% area lautan dunia, yang kurang lebih setara dengan setengah luas Prancis. Namun, ekosistem ini menjadi rumah bagi setidaknya 25% dari semua spesies laut,[11][12][13] termasuk ikan, moluska, cacing, krustasea, echinoderm, spons, tunikata dan cnidaria lainnya.[14] Terumbu karang tumbuh pesat pada perairan laut yang meyandang sedikit nutrien. Terumbu umumnya ditemukan di perairan tropis dangkal, tetapi juga hadir di laut dalam dan perairan dingin, meski dalam skala yang lebih kecil.
Terumbu karang dangkal telah berkurang sebanyak 20% sejak 1950, sebagian karena mereka sensitif terhadap kondisi air.[15] Terumbu karang terancam nutrien berlebih di air (nitrogen dan fosfor), peningkatan kandungan panas samudra dan asidifikasi, penangkapan ikan berlebih, penggunaan tabir surya,[16] dan penggunaan lahan berbahaya, termasuk melalui polusi pertanian.[17][18][19]
Terumbu karang memberi layanan ekosistem untuk pariwisata, perikanan dan pengelolaan wilayah pesisir. Nilai ekonomi global tahunan terumbu karang diperkirakan sebesar mulai dari US$30–375 miliar (perkiraan 1997 dan 2004)[20][21] dan dari US$2.7 triliun (sebuah perkiraan tahun 2020)[22] hingga US$9.9 triliun (sebuah perkiraan tahun 2014).[23]
Istilah
Terumbu karang secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta ekosistem yang menyertainya yang secara aktif membentuk sedimen kalsium karbonat akibat aktivitas biologi (biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan laut.[24] Bagi ahli geologi, terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan terumbu.[25] Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas koral.[26]
Dalam peristilahan 'terumbu karang', "karang" yang dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu.[27] Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut.[28] Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga.[29] Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang.[30] Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral.[31] Kerangka karang mengalami erosi dan terakumulasi menempel di dasar terumbu.[32]
Habitat
Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut.[33] Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya, tetapi terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanhellae dan tidak membentuk karang.[34]
Ekosistem terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, eutrofikasi, dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine).[35] Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis pada tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90–95%.[36] Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2–3 °C di atas suhu normal.[37]
Kondisi optimum
Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20 °C.[38] Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi.[39] Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang.[40]
Beberapa terumbu karang membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan kegiatan fotosintesis.[41] Polip-polip penyusun terumbu karang yang terletak pada bagian atas terumbu karang dapat menangkap makanan yang terbawa arus laut dan juga melakukan fotosintesis.[42] Oleh karena itu, oksigen-oksigen hasil fotosintesis yang terlarut dalam air dapat dimanfaatkan oleh spesies laut lainnya.[43] Hewan karang sebagai pembangun utama terumbu adalah organisme laut yang efisien karena mampu tumbuh subur dalam lingkungan sedikit nutrien (oligotrofik).[44]
Fotosintesis
Proses fotosintesis oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi kalsium karbonat dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang reaksi kimia sebagai berikut:[45]
Ca(HCO3) CaCO3 + H2CO3 H2O + CO2
Fotosintesis oleh algae yang bersimbiosis membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposit cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat, kira-kira 10 kali lebih cepat daripada karang yang tidak membentuk terumbu (ahermatipik) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae.[46]
Di Indonesia dan Indo Pasifik
Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut, di samping hutan bakau atau hutan mangrove dan padang lamun.[47] Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada di dalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya.[48] Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia.[49] Contohnya adalah ekosistem terumbu karang di perairan Maluku dan Nusa Tenggara.[50]
Indonesia merupakan tempat bagi sekitar ⅛ dari terumbu karang dunia dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman biota perairan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.[51]
Bentangan terumbu karang yang terbesar dan terkaya dalam hal jumlah spesies karang, ikan, dan moluska terdapat pada regional Indo-Pasifik yang terbentang mulai dari Indonesia sampai ke Polinesia dan Australia lalu ke bagian barat yaitu Samudra Pasifik sampai Afrika Timur.[52]
Manfaat
Terumbu karang mengandung berbagai manfaat yang sangat besar dan beragam, baik secara ekologi maupun ekonomi.[53] Estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung.[54]
Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah:[55]
- Sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning, batu karang,
- Pariwisata, wisata bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya.
- Penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya.
- sebagai bahan baku Perhiasan Dan Industri
Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung adalah sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati.[56]
Klasifikasi
Berdasarkan kemampuan memproduksi kapur
Karang hermatipik
Karang hermatipik adalah karang yang dapat membentuk bangunan karang yang dikenal menghasilkan terumbu dan penyebarannya hanya ditemukan di daerah tropis.[57]
Karang hermatipik bersimbiosis mutualisme dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae uniseluler (Dinoflagellata unisuler), seperti Gymnodinium microadriatum, yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan Fotosintesis.[58] Dalam simbiosis, zooxanthellae menghasilkan oksigen dan senyawa organik melalui fotosintesis yang akan dimanfaatkan oleh karang, sedangkan karang menghasilkan komponen inorganik berupa nitrat, fosfat dan karbon dioksida untuk keperluan hidup zooxanthellae.[59] Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas.[60] Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang.[61]
Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat hewan dan tumbuhan sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat fototropik positif.[62] Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai atau laut yang cukup dangkal di mana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut.[63] Di samping itu untuk hidup binatang karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25–32 °C.[64]
Karang ahermatipik
Karang ahermatipik tidak menghasilkan terumbu dan ini merupakan kelompok yang tersebar luas di seluruh dunia.[65]
Berdasarkan bentuk dan tempat tumbuh
Terumbu (reef)
Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain, seperti alga berkapur, yang menyekresi kapur, seperti alga berkapur dan moluska.[66] Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir.[67] Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masih hidup) di laut dangkal.[68]
Karang (koral)
Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3.[69] Karang batu termasuk ke dalam Kelas Anthozoa yaitu anggota Filum Coelenterata yang hanya mempunyai stadium polip.[70] Dalam proses pembentukan terumbu karang maka karang batu (Scleratina) adalah penyusun yang paling penting atau hewan karang pembangun terumbu.[71] Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip.[72] Contoh makhluk klonal adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas.[73]
Karang terumbu
Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral) atau karang yang menghasilkan kapur.[74] Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (rock) yang merupakan batu cadas atau batuan vulkanik.[75]
Terumbu karang
Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis-jenis moluska, Krustasea, Echinodermata, Polikhaeta, Porifera, dan Tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis Plankton dan jenis-jenis nekton.[76]
Berdasarkan letak[77]
Terumbu karang tepi
Terumbu karang tepi atau karang penerus atau fringing reefs adalah jenis terumbu karang paling sederhana dan paling banyak ditemui di pinggir pantai yang terletak di daerah tropis. Terumbu karang tepi berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Terumbu karang tepi sangat rentan terhadap aktivitas manusia di daratan, seperti sedimentasi dan polusi, karena kedekatan lokasinya dengan pantai.[78]
Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).
Terumbu karang penghalang
Secara umum, terumbu karang penghalang atau barrier reefs menyerupai terumbu karang tepi, hanya saja jenis ini hidup lebih jauh dari pinggir pantai. Terumbu karang ini terletak sekitar 0.52 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus.
Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).
Terumbu karang cincin
Terumbu karang cincin atau attols adalah terumbu karang yang berbentuk cincin dan berukuran sangat besar menyerupai pulau. Atol banyak ditemukan pada daerah tropis di Samudra Atlantik. Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau-pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan.
Terumbu karang datar
Terumbu karang datar atau gosong terumbu (patch reefs), kadang-kadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal.
Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu (Aceh)
Berdasarkan zonasi
Terumbu yang menghadap angin
Terumbu yang menghadap angin (dalam bahasa Inggris: Windward reef) Windward adalah sisi yang menghadap arah datangnya angin.[79] Zona ini diawali oleh lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas.[80] Di lereng terumbu, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak.[81] Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur.[82]
Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu, di bagian atas teras terumbu terdapat penutupan alga koralin yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh gelombang yang kuat.[83] Daerah ini disebut sebagai pematang alga.[84] Akhirnya zona windward diakhiri oleh rataan terumbu yang sangat dangkal.[85]
Terumbu yang membelakangi angin
Terumbu yang membelakangi angin (Leeward reef) adalah sisi yang membelakangi arah datangnya angin.[86] Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripada windward reef dan memiliki bentangan goba (lagoon) yang cukup lebar.[87] Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, tetapi kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar.[88]
Kerusakan terumbu karang
Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi terumbu karang terbesar di dunia.[89] Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 60.000 km2.[90] Hal tersebut membuat Indonesia menjadi negara pengekspor terumbu karang pertama di dunia.[91] Dewasa ini, kerusakan terumbu karang, terutama di Indonesia meningkat secara pesat.[92] Terumbu karang yang masih berkondisi baik hanya sekitar 6,2%.[93] Kerusakan ini menyebabkan meluasnya tekanan pada ekosistem terumbu karang alami.[94] Meskipun faktanya kuantitas perdagangan terumbu karang telah dibatasi oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), laju eksploitasi terumbu karang masih tinggi karena buruknya sistem penanganannya.[95]
Beberapa aktivitas manusia yang dapat merusak terumbu karang:[96]
- membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut
- membawa pulang ataupun menyentuh terumbu karang saat menyelam, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang
- pemborosan air, makin banyak air yang digunakan maka makin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan dibuang ke laut.
- penggunaan pupuk dan pestisida buatan, seberapapun jauh letak pertanian tersebut dari laut residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhinya akan terbuang ke laut juga.
- Membuang jangkar pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan merusak terumbu karang yang berada di bawahnya.
- terdapatnya predator terumbu karang, seperti sejenis siput drupella.
- penambangan
- pembangunan pemukiman
- reklamasi pantai
- polusi
- penangkapan ikan dengan cara yang salah, seperti pemakaian bom ikan
- mengambil bagian apa pun dari terumbu karang
Referensi
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Burke IC, Laurenroth WK. 2002. Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective.LTER.Page.56-57.
- ↑ Hutagalung RA. 2005. Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.
- ↑ Hutagalung RA. 2005. Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.
- ↑ Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta.Hlm.21.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Jeong-Hyun Lee. The middle–late Cambrian reef transition and related geological events: A review and new view. Earth-Science Reviews. 1 June 2015. Vol. 145. hlm. 66–84. doi:10.1016/j.earscirev.2015.03.002.
- ↑ Coral reefs NOAA National Ocean Service. Accessed: 10 January 2020.
- ↑ New estimates of global and regional coral reef areas. Coral Reefs. 1997. Vol. 16 (4). hlm. 225–230. doi:10.1007/s003380050078.
- ↑ Spalding, Mark, Corinna Ravilious, and Edmund Green (2001). World Atlas of Coral Reefs. Berkeley, CA: University of California Press and UNEP/WCMC .
- ↑ M. Mulhall. Saving rainforests of the sea: An analysis of international efforts to conserve coral reefs. Duke Environmental Law and Policy Forum. Spring 2009. Vol. 19. hlm. 321–351.
- ↑ John Hoover. Hawaiʻi's Sea Creatures. Mutual. November 2007. ISBN 978-1-56647-220-3.
- ↑ Patrick Greenfield. Global coral cover has fallen by half since 1950s, analysis finds. The Guardian. 2021-09-17.
- ↑ Roberto Danovaro. Sunscreens Cause Coral Bleaching by Promoting Viral Infections. Environmental Health Perspectives. April 2008. Vol. 116 (4). hlm. 441–447. doi:10.1289/ehp.10966.
- ↑ Corals reveal impact of land use. ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies.
- ↑ Charissa Minato. Urban runoff and coastal water quality being researched for effects on coral reefs. July 1, 2002.
- ↑ Coastal Watershed Factsheets – Coral Reefs and Your Coastal Watershed. Environmental Protection Agency Office of Water. July 1998.
- ↑ H.J.S. Cesar. The Economics of Worldwide Coral Reef Degradation. Cesar Environmental Economics Consulting. 2003. hlm. 4. (pdf: link)
- ↑ Robert Costanza. The value of the world's ecosystem services and natural capital. Nature. 15 May 1997. Vol. 387 (6630). hlm. 253–260. doi:10.1038/387253a0.
- ↑ The Sixth Status of Corals of the World: 2020 Report. GCRMN.
- ↑ Robert Costanza. Changes in the global value of ecosystem services. Global Environmental Change. 2014. Vol. 26 (1). hlm. 152–158. doi:10.1016/j.gloenvcha.2014.04.002.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.
- ↑ Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.
- ↑ Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.
- ↑ Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.
- ↑ Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.
- ↑ Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Burke IC, Laurenroth WK. 2002. Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective.LTER.Page.56-57.
- ↑ Burke IC, Laurenroth WK. 2002. Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective.LTER.Page.56-57.
- ↑ Burke IC, Laurenroth WK. 2002. Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective.LTER.Page.56-57.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Burke IC, Laurenroth WK. 2002. Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective.LTER.Page.56-57.
- ↑ Sumich JL, Dudley GH. 1992. Laboratory and field investigations in marine biology. Ed.5. Page. 213
- ↑ Hutagalung RA. 2005. Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.
- ↑ Walters GE, et al. 1998. Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf.Page. 201-203.
- ↑ Walters GE, et al. 1998. Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf.Page. 201-203.
- ↑ Walters GE, et al. 1998. Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf.Page. 201-203.
- ↑ Aryulina D. 2004. Biologi SMA untuk kelas X. Jakarta: Esis. Hlm.212.
- ↑ Walters GE, et al. 1998. Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf.Page. 201-203.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Webmaster. 2001. Terumbu karang Diakses pada 5 Apr 2010.
- ↑ Walters GE, et al. 1998. Bottom trawl survey of the eastern Bering Sea continental shelf.Page. 201-203.
- ↑ Hutagalung RA. 2005. Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.
- ↑ Webmaster. 2001. Terumbu karang Diakses pada 5 Apr 2010.
- ↑ Zhong Y, Dong W. 1999. Zoological studies. Jilid. 38.Page. 114.
- ↑ Sumich JL, Dudley GH. 1992. Laboratory and field investigations in marine biology. Ed.5. Page. 213
- ↑ Burke IC, Laurenroth WK. 2002. Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective.LTER.Page.56-57.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Zhong Y, Dong W. 1999. Zoological studies. Jilid. 38.Page. 114.
- ↑ Zhong Y, Dong W. 1999. Zoological studies. Jilid. 38.Page. 114.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Burke IC, Laurenroth WK. 2002. Ecology of the Shortgrass Steppe: A Long-Term Perspective.LTER.Page.56-57.
- ↑ Zhong Y, Dong W. 1999. Zoological studies. Jilid. 38.Page. 114.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Nybakken JW. 1986. Readings in marine ecology. Ed.2. Page.289-291.
- ↑ Sumich JL, Dudley GH. 1992. Laboratory and field investigations in marine biology. Ed.5. Page. 213
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Fungsi Terumbu Karang, Vital bagi Ekosistem Laut dan Manusia. Liputan6. 25 Desember 2024.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Castro P & Huber ME. 2005. Marine Biology Ed ke-5. New York: Mc Graw Hill International.Page 119-125.
- ↑ Webmaster. 2001. Terumbu karang Diakses pada 5 Apr 2010.
- ↑ Webmaster. 2001. Terumbu karang Diakses pada 5 Apr 2010.
- ↑ Webmaster. 2001. Terumbu karang Diakses pada 5 Apr 2010.
- ↑ Webmaster. 2001. Terumbu karang Diakses pada 5 Apr 2010.
- ↑ Webmaster. 2001. Terumbu karang Diakses pada 5 Apr 2010.
- ↑ Webmaster. 2001. Terumbu karang Diakses pada 5 Apr 2010.
- ↑ Hutagalung RA. 2005. Lombok frags-the first sustainable coral cultivation on Indonesia for trade and reef conservation. The 9th International Aquarium Fish & Accessories Exhibition & Conference, Aquarama 2005. Singapore.
- ↑ Schumann G. 2009. 10 Ways to protect coral reefs Diakses pada 5 Apr 2010.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29587944 (2026-08-16T10:29:32Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.