Lompat ke isi

Paradoks kestabilan–ketidakstabilan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
Baris 1: Baris 1:
'''Paradoks kestabilan–ketidakstabilan''' adalah [[teori hubungan internasional]] mengenai dampak [[senjata nuklir]] dan [[kepastian saling menghancurkan]]. Menurut paradoks ini, ketika dua negara memiliki senjata nuklir, kemungkinan pecahnya perang langsung antara kedua negara tersebut semakin berkurang, tetapi kemungkinan terjadinya konflik kecil atau tak langsung antara keduanya justru meningkat. Ini terjadi karena pelaku (aktor) rasional ingin menghindari perang nuklir, tetapi tidak memulai konflik besar atau membiarkan konflik kecil membesar. Mereka pun merasa pantas untuk terlibat dalam konflik kecil. Misalnya, pada masa [[Perang Dingin]], [[Amerika Serikat]] dan [[Uni Soviet]] tidak pernah memerangi satu sama lain dalam satu teater khusus; mereka justru terlibat [[perang proksi]] di [[Perang Korea|Korea]], [[Perang Vietnam|Vietnam]], [[Perang Saudara Angola|Angola]], [[Konflik Arab–Israel|Timur Tengah]], [[Revolusi Nikaragua|Nikaragua]], dan [[Perang Soviet di Afghanistan|Afghanistan]], dan menghabiskan dana dan tenaga kerja untuk mendapatkan pengaruh relatif di [[dunia ketiga]].<ref>Michael Krepon. [http://www.stimson.org/southasia/pdf/kreponmay03.pdf The Stability-Instability Paradox, Misperception, and Escalation Control in South Asia]. The Henry Stimson Center. 2003. [http://www.stimson.org/southasia/pdf/kreponmay03.pdf Salinan arsip].</ref>
Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal [[penyelesaian konflik]] tahun 2009 menilai hipotesis perdamaian nuklir secara kuantitatif. Penelitian tersebut membuktikan adanya paradoks kestabilan–ketidakstabilan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meski senjata nuklir membawa kestabilan strategis dan mencegah perang besar-besaran, senjata nuklir justru memungkinkan terjadinya konflik kecil-kecilan. Apabila monopoli nuklir terjadi antara dua negara dan satu pihak tidak memilikinya, perang bisa saja terjadi. Sebaliknya, apabila dua negara sama-sama memiliki senjata nuklir, perang langsung tidak akan terjadi.<ref>Robert Rauchhaus. [https://archive.org/details/sim_journal-of-conflict-resolution_2009-04_53_2/page/258 Evaluating the Nuclear Peace Hypothesis A Quantitative Approach]. ''Journal of Conflict Resolution''. 2009. Vol. 53 (2). hlm. 258–277. doi:10.1177/0022002708330387.</ref>
Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal [[penyelesaian konflik]] tahun 2009 menilai hipotesis perdamaian nuklir secara kuantitatif. Penelitian tersebut membuktikan adanya paradoks kestabilan–ketidakstabilan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meski senjata nuklir membawa kestabilan strategis dan mencegah perang besar-besaran, senjata nuklir justru memungkinkan terjadinya konflik kecil-kecilan. Apabila monopoli nuklir terjadi antara dua negara dan satu pihak tidak memilikinya, perang bisa saja terjadi. Sebaliknya, apabila dua negara sama-sama memiliki senjata nuklir, perang langsung tidak akan terjadi.<ref>Robert Rauchhaus. [https://archive.org/details/sim_journal-of-conflict-resolution_2009-04_53_2/page/258 Evaluating the Nuclear Peace Hypothesis A Quantitative Approach]. ''Journal of Conflict Resolution''. 2009. Vol. 53 (2). hlm. 258–277. doi:10.1177/0022002708330387.</ref>



Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.35

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal penyelesaian konflik tahun 2009 menilai hipotesis perdamaian nuklir secara kuantitatif. Penelitian tersebut membuktikan adanya paradoks kestabilan–ketidakstabilan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meski senjata nuklir membawa kestabilan strategis dan mencegah perang besar-besaran, senjata nuklir justru memungkinkan terjadinya konflik kecil-kecilan. Apabila monopoli nuklir terjadi antara dua negara dan satu pihak tidak memilikinya, perang bisa saja terjadi. Sebaliknya, apabila dua negara sama-sama memiliki senjata nuklir, perang langsung tidak akan terjadi.[1]

Efek ini dapat dilihat dalam hubungan antara India dan Pakistan. Senjata nuklir dianggap berpotensi menghasilkan kestabilan dan ketidakstabilan.

Lihat pula

Referensi

  1. Robert Rauchhaus. Evaluating the Nuclear Peace Hypothesis A Quantitative Approach. Journal of Conflict Resolution. 2009. Vol. 53 (2). hlm. 258–277. doi:10.1177/0022002708330387.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29574048 (2026-08-14T00:38:59Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.