Bintang: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29560317; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Bintang''' adalah sebuah [[sferoid]] bercahaya yang terbuat dari [[plasma (fisika)|plasma]] dan disatukan oleh [[gravitasi mandiri]]. [[Daftar bintang dan katai cokelat terdekat|Bintang terdekat]] dengan Bumi adalah [[Matahari]]. Banyak bintang lain yang dapat terlihat oleh mata telanjang di [[langit malam|malam hari]]; jaraknya yang sangat jauh dari Bumi membuatnya tampak sebagai titik-titik cahaya yang [[bintang tetap|tetap]]. Bintang-bintang yang paling menonjol telah dikelompokkan ke dalam berbagai [[rasi bintang]] dan [[asterisme (astronomi)|asterisme]], dan banyak bintang paling terang memiliki [[nama diri]]. Para [[astronom]] telah menyusun [[katalog bintang]] yang mengidentifikasi bintang-bintang yang diketahui dan memberikan [[penamaan bintang]] yang terstandardisasi. [[Alam semesta teramati]] diperkirakan memiliki sekitar hingga bintang. Hanya sekitar 4.000 dari bintang-bintang ini yang terlihat oleh mata telanjang—semuanya berada di dalam [[galaksi]] [[Bima Sakti]]. | [[File:The_Sun_in_white_light.jpg|thumb|right|280px|The Sun in white light]] | ||
'''Bintang''' adalah sebuah [[sferoid]] bercahaya yang terbuat dari [[plasma (fisika)|plasma]] dan disatukan oleh [[gravitasi mandiri]].<ref>Maria Temming. [https://skyandtelescope.org/astronomy-resources/what-is-a-star/ What is a star?]. AAS Sky Publishing, LLC. July 15, 2014.</ref> [[Daftar bintang dan katai cokelat terdekat|Bintang terdekat]] dengan Bumi adalah [[Matahari]]. Banyak bintang lain yang dapat terlihat oleh mata telanjang di [[langit malam|malam hari]]; jaraknya yang sangat jauh dari Bumi membuatnya tampak sebagai titik-titik cahaya yang [[bintang tetap|tetap]]. Bintang-bintang yang paling menonjol telah dikelompokkan ke dalam berbagai [[rasi bintang]] dan [[asterisme (astronomi)|asterisme]], dan banyak bintang paling terang memiliki [[nama diri]]. Para [[astronom]] telah menyusun [[katalog bintang]] yang mengidentifikasi bintang-bintang yang diketahui dan memberikan [[penamaan bintang]] yang terstandardisasi. [[Alam semesta teramati]] diperkirakan memiliki sekitar hingga bintang. Hanya sekitar 4.000 dari bintang-bintang ini yang terlihat oleh mata telanjang—semuanya berada di dalam [[galaksi]] [[Bima Sakti]].<ref>Peter Grego. [https://books.google.com/books?id=nsi7R3NTcmEC&pg=PA88 Galileo and 400 Years of Telescopic Astronomy]. Springer New York. 2010. ISBN 978-1441955920.</ref> | |||
Siklus hidup sebuah bintang [[pembentukan bintang|dimulai]] dengan [[keruntuhan gravitasi]] dari sebuah [[nebula]] gas yang materinya sebagian besar terdiri atas [[hidrogen]], helium, dan sedikit unsur-unsur yang lebih berat. [[Massa bintang|Massa totalnya]] sangat menentukan [[evolusi bintang|evolusi]] dan nasib akhir bintang tersebut. Sebuah bintang bersinar di [[deret utama|sebagian besar masa aktifnya]] berkat [[fusi termonuklir]] hidrogen menjadi [[helium]] di intinya. Proses ini melepaskan energi yang melintasi bagian dalam bintang dan [[radiasi|memancar]] ke [[luar angkasa]]. Pada akhir masa hidup sebuah bintang, fusi berhenti dan intinya menjadi sebuah [[sisa bintang]]: [[katai putih]], [[bintang neutron]], atau—jika massanya cukup besar—sebuah [[lubang hitam]]. | Siklus hidup sebuah bintang [[pembentukan bintang|dimulai]] dengan [[keruntuhan gravitasi]] dari sebuah [[nebula]] gas yang materinya sebagian besar terdiri atas [[hidrogen]], helium, dan sedikit unsur-unsur yang lebih berat. [[Massa bintang|Massa totalnya]] sangat menentukan [[evolusi bintang|evolusi]] dan nasib akhir bintang tersebut. Sebuah bintang bersinar di [[deret utama|sebagian besar masa aktifnya]] berkat [[fusi termonuklir]] hidrogen menjadi [[helium]] di intinya. Proses ini melepaskan energi yang melintasi bagian dalam bintang dan [[radiasi|memancar]] ke [[luar angkasa]]. Pada akhir masa hidup sebuah bintang, fusi berhenti dan intinya menjadi sebuah [[sisa bintang]]: [[katai putih]], [[bintang neutron]], atau—jika massanya cukup besar—sebuah [[lubang hitam]]. | ||
| Baris 8: | Baris 10: | ||
== Etimologi == | == Etimologi == | ||
Kata ''bintang'' dalam bahasa Indonesia diturunkan dari bahasa [[Rumpun bahasa Melayik|Proto-Melayik]] ''*bintaŋ'', yang berakar dari bahasa [[Rumpun bahasa Melayu-Polinesia|Proto-Melayu-Polinesia]] ''*bituqən'', dan bersumber dari bahasa [[Bahasa Proto-Austronesia|Proto-Austronesia]] ''*bituqən''. | Kata ''bintang'' dalam bahasa Indonesia diturunkan dari bahasa [[Rumpun bahasa Melayik|Proto-Melayik]] ''*bintaŋ'', yang berakar dari bahasa [[Rumpun bahasa Melayu-Polinesia|Proto-Melayu-Polinesia]] ''*bituqən'', dan bersumber dari bahasa [[Bahasa Proto-Austronesia|Proto-Austronesia]] ''*bituqən''.<ref>Robert Blust. [https://www.trussel2.com/ACD/acd-s_b.htm#3167 *bituqen: star]. ''Austronesian Comparative Dictionary, web edition''.</ref> | ||
Sementara itu, kata bahasa Inggris ''star'' pada dasarnya diturunkan dari akar kata bahasa [[Proto-Indo-Eropa]] , yang juga bermakna 'bintang'yang selanjutnya dapat diuraikan menjadi 'membakar' (juga menjadi asal-usul kata bahasa Inggris ''ash'' atau abu) ditambah ([[sufiks agentif|akhiran bermakna pelaku]]). [[Kognat|Kata kerabatnya]] di dalam bahasa-bahasa lain di antaranya adalah bahasa Latin , bahasa Yunani , dan bahasa Jerman ; kata kerabat lainnya di dalam bahasa Inggris meliputi ''[[tanda bintang|asterisk]]'', ''[[asteroid]]'', ''[[wikt:astral|astral]]'', ''[[rasi bintang|konstelasi]]'', dan ''[[Ester]]''. | Sementara itu, kata bahasa Inggris ''star'' pada dasarnya diturunkan dari akar kata bahasa [[Proto-Indo-Eropa]] , yang juga bermakna 'bintang'yang selanjutnya dapat diuraikan menjadi 'membakar' (juga menjadi asal-usul kata bahasa Inggris ''ash'' atau abu) ditambah ([[sufiks agentif|akhiran bermakna pelaku]]). [[Kognat|Kata kerabatnya]] di dalam bahasa-bahasa lain di antaranya adalah bahasa Latin , bahasa Yunani , dan bahasa Jerman ;<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bintang&oldid=29560317 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> kata kerabat lainnya di dalam bahasa Inggris meliputi ''[[tanda bintang|asterisk]]'', ''[[asteroid]]'', ''[[wikt:astral|astral]]'', ''[[rasi bintang|konstelasi]]'', dan ''[[Ester]]''.<ref>Douglas Harper. [https://www.etymonline.com/word/*ster-#etymonline_v_52592 *ster- - Etymology and Meaning of the Root]. 2001–2022.</ref> | ||
== Sejarah pengamatan == | == Sejarah pengamatan == | ||
Secara historis, bintang-bintang memiliki peran penting bagi [[peradaban]] di seluruh dunia. Bintang telah menjadi bagian dari praktik keagamaan, ritual [[ramalan]], [[mitologi]], serta digunakan untuk [[navigasi benda langit]] dan orientasi, untuk menandai pergantian musim, dan untuk menentukan penanggalan. | Secara historis, bintang-bintang memiliki peran penting bagi [[peradaban]] di seluruh dunia. Bintang telah menjadi bagian dari praktik keagamaan, ritual [[ramalan]], [[mitologi]], serta digunakan untuk [[navigasi benda langit]] dan orientasi, untuk menandai pergantian musim, dan untuk menentukan penanggalan. | ||
Para astronom awal menyadari adanya perbedaan antara "[[bintang tetap]]", yang posisinya di [[bola langit]] tidak berubah, dan "bintang pengembara" ([[planet]]), yang bergerak secara nyata relatif terhadap bintang tetap selama beberapa hari atau minggu. Banyak astronom kuno meyakini bahwa bintang-bintang tertanam secara permanen pada sebuah [[bola langit]] dan bahwa mereka tidak dapat berubah. Berdasarkan kesepakatan, para astronom mengelompokkan bintang-bintang yang menonjol ke dalam [[asterisme (astronomi)|asterisme]] dan [[rasi bintang]] serta menggunakannya untuk melacak pergerakan planet dan posisi lintasan Matahari. Pergerakan Matahari terhadap bintang-bintang latar belakang (dan ufuk) digunakan untuk membuat [[kalender surya|penanggalan surya]], yang dapat digunakan untuk mengatur praktik pertanian. [[Kalender Gregorius]], yang saat ini digunakan di hampir seluruh bagian dunia, adalah sebuah kalender surya yang didasarkan pada sudut sumbu rotasi Bumi relatif terhadap bintang terdekatnya, yakni Matahari. | Para astronom awal menyadari adanya perbedaan antara "[[bintang tetap]]", yang posisinya di [[bola langit]] tidak berubah, dan "bintang pengembara" ([[planet]]), yang bergerak secara nyata relatif terhadap bintang tetap selama beberapa hari atau minggu.<ref>[https://www.loc.gov/collections/finding-our-place-in-the-cosmos-with-carl-sagan/articles-and-essays/modeling-the-cosmos/ancient-greek-astronomy-and-cosmology Ancient Greek Astronomy and Cosmology]. ''Digital Collections''. Perpustakaan Kongres. n.d.</ref> Banyak astronom kuno meyakini bahwa bintang-bintang tertanam secara permanen pada sebuah [[bola langit]] dan bahwa mereka tidak dapat berubah. Berdasarkan kesepakatan, para astronom mengelompokkan bintang-bintang yang menonjol ke dalam [[asterisme (astronomi)|asterisme]] dan [[rasi bintang]] serta menggunakannya untuk melacak pergerakan planet dan posisi lintasan Matahari.<ref>George Forbes. [http://www.gutenberg.org/ebooks/8172 History of Astronomy]. Watts & Co. 1909. ISBN ((978-1-153-62774-0)).</ref> Pergerakan Matahari terhadap bintang-bintang latar belakang (dan ufuk) digunakan untuk membuat [[kalender surya|penanggalan surya]], yang dapat digunakan untuk mengatur praktik pertanian.<ref>Claus Tøndering. [http://webexhibits.org/calendars/calendar-ancient.html Other Ancient Calendars]. ''Calendars Through The Ages''. Webexhibits. 2008.</ref> [[Kalender Gregorius]], yang saat ini digunakan di hampir seluruh bagian dunia, adalah sebuah kalender surya yang didasarkan pada sudut sumbu rotasi Bumi relatif terhadap bintang terdekatnya, yakni Matahari. | ||
[[Peta bintang]] bertanggal akurat tertua adalah hasil dari [[astronomi Mesir]] kuno pada tahun 1534 SM. [[Katalog bintang Babilonia|Katalog bintang tertua yang diketahui]] disusun oleh para [[astronomi Babilonia|astronom kuno Babilonia]] di [[Mesopotamia]] pada akhir milenium ke-2 SM, selama [[Kassita|Periode Kassita]] (). | [[Peta bintang]] bertanggal akurat tertua adalah hasil dari [[astronomi Mesir]] kuno pada tahun 1534 SM.<ref>Ove von Spaeth. [http://www.moses-egypt.net/star-map/senmut1-mapdate_en.asp Dating the Oldest Egyptian Star Map]. ''Centaurus''. 2000. Vol. 42 (3). hlm. 159–179. doi:10.1034/j.1600-0498.2000.420301.x.</ref> [[Katalog bintang Babilonia|Katalog bintang tertua yang diketahui]] disusun oleh para [[astronomi Babilonia|astronom kuno Babilonia]] di [[Mesopotamia]] pada akhir milenium ke-2 SM, selama [[Kassita|Periode Kassita]] ().<ref>John North. [https://archive.org/details/bwb_P7-CZF-151 The Norton History of Astronomy and Cosmology]. W.W. Norton & Company. 1995. hlm. [https://archive.org/details/bwb_P7-CZF-151/page/30 30]–31. ISBN 978-0-393-03656-5.</ref> | ||
[[Katalog bintang]] pertama dalam [[astronomi Yunani Kuno]] dibuat oleh [[Aristillus]] pada sekitar tahun 300 SM, dengan bantuan [[Timocharis]]. Katalog bintang buatan [[Hipparchus]] (abad ke-2 SM) mencakup 1.020 bintang, dan digunakan untuk menyusun katalog bintang milik [[Ptolemeus]]. Hipparchus dikenal atas penemuan ''[[nova]]'' (bintang baru) pertama yang tercatat dalam sejarah. Banyak rasi bintang dan nama bintang yang digunakan saat ini berasal dari astronomi Yunani. | [[Katalog bintang]] pertama dalam [[astronomi Yunani Kuno]] dibuat oleh [[Aristillus]] pada sekitar tahun 300 SM, dengan bantuan [[Timocharis]].<ref>P. Murdin. ''Encyclopedia of Astronomy and Astrophysics''. 2000. doi:10.1888/0333750888/3440. ISBN 978-0-333-75088-9.</ref> Katalog bintang buatan [[Hipparchus]] (abad ke-2 SM) mencakup 1.020 bintang, dan digunakan untuk menyusun katalog bintang milik [[Ptolemeus]].<ref>Gerd Grasshoff. [https://archive.org/details/historyofptolemy0000gras The history of Ptolemy's star catalogue]. Springer. 1990. hlm. [https://archive.org/details/historyofptolemy0000gras/page/n17 1]–5. ISBN 978-0-387-97181-0.</ref> Hipparchus dikenal atas penemuan ''[[nova]]'' (bintang baru) pertama yang tercatat dalam sejarah.<ref>Antonios D. Pinotsis. [http://conferences.phys.uoa.gr/jets2008/historical.html Astronomy in Ancient Rhodes]. ''Protostellar Jets In Context''. Universitas Athena, Yunani. 2008.</ref> Banyak rasi bintang dan nama bintang yang digunakan saat ini berasal dari astronomi Yunani. | ||
Terlepas dari langit yang tampak tidak berubah, para [[astronomi Tiongkok|astronom Tiongkok]] menyadari bahwa bintang baru dapat saja muncul. Pada tahun 185 M, mereka menjadi yang pertama kali mengamati dan menulis tentang sebuah [[supernova]], yang kini dikenal sebagai [[SN 185]]. Peristiwa bintang paling terang dalam sejarah yang tercatat adalah supernova [[SN 1006]], yang diamati pada tahun 1006 dan ditulis oleh astronom Mesir [[Ali bin Ridwan]] serta sejumlah astronom Tiongkok. Supernova [[SN 1054]], yang melahirkan [[Nebula Kepiting]], juga diamati oleh para astronom Tiongkok dan Islam. | Terlepas dari langit yang tampak tidak berubah, para [[astronomi Tiongkok|astronom Tiongkok]] menyadari bahwa bintang baru dapat saja muncul.<ref>D. H. Clark. ''The Historical Supernovae''. Dordrecht, D. Reidel Publishing Company. 1981-06-29. hlm. 355–370.</ref> Pada tahun 185 M, mereka menjadi yang pertama kali mengamati dan menulis tentang sebuah [[supernova]], yang kini dikenal sebagai [[SN 185]].<ref>Fu-Yuan Zhao. ''The Guest Star of AD185 must have been a Supernova''. ''Chinese Journal of Astronomy and Astrophysics''. 2006. Vol. 6 (5). hlm. 635. doi:10.1088/1009-9271/6/5/17.</ref> Peristiwa bintang paling terang dalam sejarah yang tercatat adalah supernova [[SN 1006]], yang diamati pada tahun 1006 dan ditulis oleh astronom Mesir [[Ali bin Ridwan]] serta sejumlah astronom Tiongkok.<ref>Douglas Isbell. [http://www.noao.edu/outreach/press/pr03/pr0304.html Astronomers Peg Brightness of History's Brightest Star]. ''NOIRLab''. National Optical Astronomy Observatory. 5 March 2003.</ref> Supernova [[SN 1054]], yang melahirkan [[Nebula Kepiting]], juga diamati oleh para astronom Tiongkok dan Islam.<ref>Hartmut Frommert. [http://messier.seds.org/more/m001_sn.html Supernova 1054 – Creation of the Crab Nebula]. ''SEDS''. University of Arizona. 2006-08-30.</ref><ref>J. J. L. Duyvendak. ''Further Data Bearing on the Identification of the Crab Nebula with the Supernova of 1054 A.D. Part I. The Ancient Oriental Chronicles''. ''Publications of the Astronomical Society of the Pacific''. April 1942. Vol. 54 (318). hlm. 91–94. doi:10.1086/125409. N. U. Mayall. ''Further Data Bearing on the Identification of the Crab Nebula with the Supernova of 1054 A.D. Part II. The Astronomical Aspects''. ''Publications of the Astronomical Society of the Pacific''. April 1942. Vol. 54 (318). hlm. 95–104. doi:10.1086/125410.</ref><ref>K. Brecher. ''Ancient records and the Crab Nebula supernova''. ''The Observatory''. 1983. Vol. 103. hlm. 106–113.</ref> | ||
Para [[Astronomi di dunia Islam abad pertengahan|astronom Islam abad pertengahan]] memberikan [[daftar nama bintang dalam bahasa Arab|nama-nama Arab ke banyak bintang]] yang masih digunakan hingga saat ini dan mereka menemukan berbagai [[astronomi di dunia Islam abad pertengahan#Instrumen|instrumen astronomi]] yang dapat menghitung posisi bintang-bintang tersebut. Mereka membangun institut penelitian [[observatorium]] besar untuk pertama kalinya, terutama untuk menghasilkan katalog bintang ''[[Zij]]''. Di antara karya-karya ini, ''[[Kitab Bintang-Bintang Tetap]]'' (964) ditulis oleh astronom [[Bangsa Persia|Persia]] [[Abdurrahman As-Sufi]], yang mengamati sejumlah bintang, [[gugus bintang]] (termasuk [[Omicron Velorum]] dan [[Gugus Brocchi]]), serta [[galaksi]] (termasuk [[Galaksi Andromeda]]). Menurut A. Zahoor, pada abad ke-11, cendekiawan [[polimatik]] Persia [[Abu Rayhan Al-Biruni]] menggambarkan galaksi [[Bima Sakti]] sebagai sekumpulan fragmen yang memiliki sifat-sifat bintang [[nebula|nebulous]], dan memberikan garis [[lintang]] dari berbagai bintang selama terjadinya [[gerhana bulan]] pada tahun 1019. | Para [[Astronomi di dunia Islam abad pertengahan|astronom Islam abad pertengahan]] memberikan [[daftar nama bintang dalam bahasa Arab|nama-nama Arab ke banyak bintang]] yang masih digunakan hingga saat ini dan mereka menemukan berbagai [[astronomi di dunia Islam abad pertengahan#Instrumen|instrumen astronomi]] yang dapat menghitung posisi bintang-bintang tersebut. Mereka membangun institut penelitian [[observatorium]] besar untuk pertama kalinya, terutama untuk menghasilkan katalog bintang ''[[Zij]]''.<ref>Edward S. Kennedy. ''Review: ''The Observatory in Islam and Its Place in the General History of the Observatory'' by Aydin Sayili''. ''Isis''. 1962. Vol. 53 (2). hlm. 237–239. doi:10.1086/349558.</ref> Di antara karya-karya ini, ''[[Kitab Bintang-Bintang Tetap]]'' (964) ditulis oleh astronom [[Bangsa Persia|Persia]] [[Abdurrahman As-Sufi]], yang mengamati sejumlah bintang, [[gugus bintang]] (termasuk [[Omicron Velorum]] dan [[Gugus Brocchi]]), serta [[galaksi]] (termasuk [[Galaksi Andromeda]]).<ref>Kenneth Glyn Jones. [https://books.google.com/books?id=IuhLR35I9QUC Messier's nebulae and star clusters]. Cambridge University Press. 1991. hlm. 1. ISBN 978-0-521-37079-0.</ref> Menurut A. Zahoor, pada abad ke-11, cendekiawan [[polimatik]] Persia [[Abu Rayhan Al-Biruni]] menggambarkan galaksi [[Bima Sakti]] sebagai sekumpulan fragmen yang memiliki sifat-sifat bintang [[nebula|nebulous]], dan memberikan garis [[lintang]] dari berbagai bintang selama terjadinya [[gerhana bulan]] pada tahun 1019.<ref>A. Zahoor. [http://www.unhas.ac.id/~rhiza/saintis/biruni.html Al-Biruni]. Universitas Hasanuddin. 1997.</ref> | ||
Menurut Josep Puig, astronom [[Al-Andalus|Andalusia]] [[Ibnu Bajjah]] mengusulkan bahwa Bima Sakti terdiri dari banyak bintang yang hampir saling bersentuhan dan tampak sebagai citra yang berkesinambungan akibat efek [[pembiasan]] dari material sublunar, dengan mengutip pengamatannya terhadap [[konjungsi (astronomi dan astrologi)|konjungsi]] Jupiter dan Mars pada tahun 500 [[Kalender Hijriah|H]] (1106/1107 M) sebagai bukti. Para astronom Eropa awal seperti [[Tycho Brahe]] mengidentifikasi bintang-bintang baru di [[langit malam]] (yang kemudian disebut ''novae''), menunjukkan bahwa langit bukannya tidak dapat berubah. Pada tahun 1584, [[Giordano Bruno]] mengusulkan bahwa bintang-bintang itu seperti Matahari, dan mungkin memiliki [[planet luar surya|planet lain]], bahkan mungkin menyerupai Bumi, yang mengorbit di sekitarnya, sebuah gagasan yang sebelumnya telah diusulkan oleh para filsuf [[filsafat Yunani Kuno|Yunani Kuno]], [[Demokritos]] dan [[Epikuros]], serta oleh para [[kosmologi dalam Islam abad pertengahan|kosmolog Islam abad pertengahan]] seperti [[Fakhruddin Ar-Razi]]. Pada abad berikutnya, gagasan bahwa bintang adalah benda yang sama dengan Matahari mulai mencapai konsensus di kalangan astronom. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi bersih pada Tata Surya, [[Isaac Newton]] berpendapat bahwa bintang-bintang tersebar secara merata di segala arah, sebuah gagasan yang didorong oleh teolog [[Richard Bentley]]. | Menurut Josep Puig, astronom [[Al-Andalus|Andalusia]] [[Ibnu Bajjah]] mengusulkan bahwa Bima Sakti terdiri dari banyak bintang yang hampir saling bersentuhan dan tampak sebagai citra yang berkesinambungan akibat efek [[pembiasan]] dari material sublunar, dengan mengutip pengamatannya terhadap [[konjungsi (astronomi dan astrologi)|konjungsi]] Jupiter dan Mars pada tahun 500 [[Kalender Hijriah|H]] (1106/1107 M) sebagai bukti.<ref>Josep Puig Montada. [http://plato.stanford.edu/entries/ibn-bajja Ibn Bajja]. 2007-09-28.</ref> Para astronom Eropa awal seperti [[Tycho Brahe]] mengidentifikasi bintang-bintang baru di [[langit malam]] (yang kemudian disebut ''novae''), menunjukkan bahwa langit bukannya tidak dapat berubah. Pada tahun 1584, [[Giordano Bruno]] mengusulkan bahwa bintang-bintang itu seperti Matahari, dan mungkin memiliki [[planet luar surya|planet lain]], bahkan mungkin menyerupai Bumi, yang mengorbit di sekitarnya,<ref>Stephen A. Drake. [http://heasarc.gsfc.nasa.gov/docs/heasarc/headates/heahistory.html A Brief History of High-Energy (X-ray & Gamma-Ray) Astronomy]. NASA HEASARC. 2006-08-17.</ref> sebuah gagasan yang sebelumnya telah diusulkan oleh para filsuf [[filsafat Yunani Kuno|Yunani Kuno]], [[Demokritos]] dan [[Epikuros]],<ref>Peter Greskovic. [http://www.eso.org/public/outreach/eduoff/cas/cas2004/casreports-2004/rep-228/ Exoplanets]. ESO. 2006-07-24.</ref> serta oleh para [[kosmologi dalam Islam abad pertengahan|kosmolog Islam abad pertengahan]]<ref>I. A. Ahmad. ''The impact of the Qur'anic conception of astronomical phenomena on Islamic civilization''. ''Vistas in Astronomy''. 1995. Vol. 39 (4). hlm. 395–403 [402]. doi:10.1016/0083-6656(95)00033-X.</ref> seperti [[Fakhruddin Ar-Razi]].<ref>Adi Setia. [http://www.cis-ca.org/jol/vol2-no2/adi.pdf Fakhr Al-Din Al-Razi on Physics and the Nature of the Physical World: A Preliminary Survey]. ''Islam & Science''. 2004. Vol. 2 (2).</ref> Pada abad berikutnya, gagasan bahwa bintang adalah benda yang sama dengan Matahari mulai mencapai konsensus di kalangan astronom. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi bersih pada Tata Surya, [[Isaac Newton]] berpendapat bahwa bintang-bintang tersebar secara merata di segala arah, sebuah gagasan yang didorong oleh teolog [[Richard Bentley]].<ref>Michael Hoskin. [http://www.stsci.edu/stsci/meetings/lisa3/hoskinm.html The Value of Archives in Writing the History of Astronomy]. ''Library and Information Services in Astronomy III''. 1998. Vol. 153. hlm. 207.</ref> | ||
Astronom Italia [[Geminiano Montanari]] mencatat pengamatan terhadap variasi luminositas bintang [[Algol]] pada tahun 1667. [[Edmond Halley]] menerbitkan pengukuran pertama mengenai [[gerak diri]] dari sepasang bintang "tetap" yang berdekatan, yang menunjukkan bahwa mereka telah berpindah posisi sejak zaman astronom [[Yunani Kuno]] Ptolemeus dan Hipparchus. | Astronom Italia [[Geminiano Montanari]] mencatat pengamatan terhadap variasi luminositas bintang [[Algol]] pada tahun 1667. [[Edmond Halley]] menerbitkan pengukuran pertama mengenai [[gerak diri]] dari sepasang bintang "tetap" yang berdekatan, yang menunjukkan bahwa mereka telah berpindah posisi sejak zaman astronom [[Yunani Kuno]] Ptolemeus dan Hipparchus.<ref>Stephen A. Drake. [http://heasarc.gsfc.nasa.gov/docs/heasarc/headates/heahistory.html A Brief History of High-Energy (X-ray & Gamma-Ray) Astronomy]. NASA HEASARC. 2006-08-17.</ref> | ||
[[William Herschel]] adalah astronom pertama yang berupaya menentukan distribusi bintang-bintang di langit. Selama dekade 1780-an, ia menetapkan serangkaian alat pengukur di 600 arah dan menghitung bintang-bintang yang diamati di sepanjang setiap garis pandang. Dari hal ini, ia menyimpulkan bahwa jumlah bintang terus meningkat ke arah salah satu sisi langit, tepatnya ke arah inti Bima Sakti ([[Pusat Galaksi]]). Putranya, [[John Herschel]], mengulangi penelitian ini di belahan bumi selatan dan menemukan peningkatan serupa ke arah yang sama. Selain pencapaiannya yang lain, William Herschel juga dikenal atas penemuannya bahwa beberapa bintang tidak sekadar berada pada garis pandang yang sama, melainkan merupakan pendamping fisik yang membentuk sistem bintang biner. | [[William Herschel]] adalah astronom pertama yang berupaya menentukan distribusi bintang-bintang di langit. Selama dekade 1780-an, ia menetapkan serangkaian alat pengukur di 600 arah dan menghitung bintang-bintang yang diamati di sepanjang setiap garis pandang. Dari hal ini, ia menyimpulkan bahwa jumlah bintang terus meningkat ke arah salah satu sisi langit, tepatnya ke arah inti Bima Sakti ([[Pusat Galaksi]]). Putranya, [[John Herschel]], mengulangi penelitian ini di belahan bumi selatan dan menemukan peningkatan serupa ke arah yang sama.<ref>Richard A. Proctor. [http://digicoll.library.wisc.edu/cgi-bin/HistSciTech/HistSciTech-idx?type=div&did=HISTSCITECH.0012.0052.0005&isize=M Are any of the nebulæ star-systems?]. ''Nature''. 1870. Vol. 1 (13). hlm. 331–333. doi:10.1038/001331a0.</ref> Selain pencapaiannya yang lain, William Herschel juga dikenal atas penemuannya bahwa beberapa bintang tidak sekadar berada pada garis pandang yang sama, melainkan merupakan pendamping fisik yang membentuk sistem bintang biner.<ref>Magill. [https://books.google.com/books?id=W33WAAAAMAAJ Magill's Survey of Science: A-Cherenkov detectors]. Salem Press. 1992. hlm. 219. ISBN 978-0-89356-619-7.</ref> | ||
Ilmu [[spektroskopi astronomi|spektroskopi bintang]] dipelopori oleh [[Joseph von Fraunhofer]] dan [[Angelo Secchi]]. Dengan membandingkan spektrum bintang seperti [[Sirius]] dengan spektrum Matahari, mereka menemukan perbedaan dalam hal kekuatan dan jumlah [[garis spektral|garis absorpsinya]]—garis-garis gelap dalam spektrum bintang yang disebabkan oleh penyerapan frekuensi spesifik oleh atmosfer. Pada tahun 1865, Secchi mulai mengklasifikasikan bintang ke dalam berbagai [[klasifikasi bintang|tipe spektrum]]. Skema klasifikasi bintang versi modern dikembangkan oleh [[Annie Jump Cannon|Annie J. Cannon]] pada awal tahun 1900-an. | Ilmu [[spektroskopi astronomi|spektroskopi bintang]] dipelopori oleh [[Joseph von Fraunhofer]] dan [[Angelo Secchi]]. Dengan membandingkan spektrum bintang seperti [[Sirius]] dengan spektrum Matahari, mereka menemukan perbedaan dalam hal kekuatan dan jumlah [[garis spektral|garis absorpsinya]]—garis-garis gelap dalam spektrum bintang yang disebabkan oleh penyerapan frekuensi spesifik oleh atmosfer. Pada tahun 1865, Secchi mulai mengklasifikasikan bintang ke dalam berbagai [[klasifikasi bintang|tipe spektrum]].<ref>Joseph MacDonnell. [http://www.faculty.fairfield.edu/jmac/sj/scientists/secchi.htm Angelo Secchi, S.J. (1818–1878) the Father of Astrophysics]. Universitas Fairfield.</ref> Skema klasifikasi bintang versi modern dikembangkan oleh [[Annie Jump Cannon|Annie J. Cannon]] pada awal tahun 1900-an.<ref>Ivan Hubeny. [https://books.google.com/books?id=TmuYDwAAQBAJ&pg=PA23 Theory of Stellar Atmospheres: An Introduction to Astrophysical Non-equilibrium Quantitative Spectroscopic Analysis]. Princeton University Press. 2014. hlm. 23. ISBN 978-0-691-16329-1.</ref> | ||
Pengukuran jarak secara langsung untuk pertama kalinya terhadap sebuah bintang ([[61 Cygni]] sejauh 11,4 [[tahun cahaya]]) dilakukan pada tahun 1838 oleh [[Friedrich Bessel]] menggunakan teknik [[paralaks]]. Pengukuran paralaks menunjukkan jarak pemisahan yang sangat luas di antara bintang-bintang di langit. Pengamatan terhadap bintang ganda menjadi semakin penting selama abad ke-19. Pada tahun 1834, Friedrich Bessel mengamati perubahan pada gerak diri bintang Sirius dan menyimpulkan adanya bintang pendamping yang tersembunyi. [[Edward Charles Pickering|Edward Pickering]] menemukan [[bintang biner spektroskopi|biner spektroskopi]] pertama pada tahun 1899 ketika ia mengamati pemisahan periodik dari garis spektrum bintang [[Mizar (bintang)|Mizar]] dalam periode 104 hari. Pengamatan mendetail dari banyak sistem bintang biner dikumpulkan oleh para astronom seperti [[Friedrich Georg Wilhelm von Struve]] dan [[Sherburne Wesley Burnham|S. W. Burnham]], yang memungkinkan massa bintang dapat ditentukan dari perhitungan [[elemen orbit]]. Solusi pertama bagi masalah dalam menurunkan orbit bintang biner dari pengamatan teleskop dibuat oleh Felix Savary pada tahun 1827. | Pengukuran jarak secara langsung untuk pertama kalinya terhadap sebuah bintang ([[61 Cygni]] sejauh 11,4 [[tahun cahaya]]) dilakukan pada tahun 1838 oleh [[Friedrich Bessel]] menggunakan teknik [[paralaks]]. Pengukuran paralaks menunjukkan jarak pemisahan yang sangat luas di antara bintang-bintang di langit.<ref>Stephen A. Drake. [http://heasarc.gsfc.nasa.gov/docs/heasarc/headates/heahistory.html A Brief History of High-Energy (X-ray & Gamma-Ray) Astronomy]. NASA HEASARC. 2006-08-17.</ref> Pengamatan terhadap bintang ganda menjadi semakin penting selama abad ke-19. Pada tahun 1834, Friedrich Bessel mengamati perubahan pada gerak diri bintang Sirius dan menyimpulkan adanya bintang pendamping yang tersembunyi. [[Edward Charles Pickering|Edward Pickering]] menemukan [[bintang biner spektroskopi|biner spektroskopi]] pertama pada tahun 1899 ketika ia mengamati pemisahan periodik dari garis spektrum bintang [[Mizar (bintang)|Mizar]] dalam periode 104 hari. Pengamatan mendetail dari banyak sistem bintang biner dikumpulkan oleh para astronom seperti [[Friedrich Georg Wilhelm von Struve]] dan [[Sherburne Wesley Burnham|S. W. Burnham]], yang memungkinkan massa bintang dapat ditentukan dari perhitungan [[elemen orbit]]. Solusi pertama bagi masalah dalam menurunkan orbit bintang biner dari pengamatan teleskop dibuat oleh Felix Savary pada tahun 1827.<ref>Robert G. Aitken. ''The Binary Stars''. Dover Publications Inc. 1964. hlm. 66. ISBN ((978-0-486-61102-0)).</ref> | ||
Abad kedua puluh menyaksikan kemajuan yang semakin pesat dalam kajian ilmiah mengenai bintang. Fotografi menjadi alat bantu astronomi yang sangat berharga. [[Karl Schwarzschild]] menemukan bahwa warna sebuah bintang dan, karenanya, suhu bintang tersebut, dapat ditentukan dengan membandingkan [[magnitudo visual]] dengan [[magnitudo fotografis]]. Perkembangan [[fotometer]] [[efek fotolistrik|fotolistrik]] memungkinkan dilakukannya pengukuran magnitudo secara akurat pada beberapa interval panjang gelombang. Pada tahun 1921, [[Albert A. Michelson]] melakukan pengukuran diameter bintang untuk pertama kalinya menggunakan [[interferometer]] pada [[Teleskop Hooker 100 inci|teleskop Hooker]] di [[Observatorium Mount Wilson]]. | Abad kedua puluh menyaksikan kemajuan yang semakin pesat dalam kajian ilmiah mengenai bintang. Fotografi menjadi alat bantu astronomi yang sangat berharga. [[Karl Schwarzschild]] menemukan bahwa warna sebuah bintang dan, karenanya, suhu bintang tersebut, dapat ditentukan dengan membandingkan [[magnitudo visual]] dengan [[magnitudo fotografis]]. Perkembangan [[fotometer]] [[efek fotolistrik|fotolistrik]] memungkinkan dilakukannya pengukuran magnitudo secara akurat pada beberapa interval panjang gelombang. Pada tahun 1921, [[Albert A. Michelson]] melakukan pengukuran diameter bintang untuk pertama kalinya menggunakan [[interferometer]] pada [[Teleskop Hooker 100 inci|teleskop Hooker]] di [[Observatorium Mount Wilson]].<ref>A. A. Michelson. ''Measurement of the diameter of Alpha Orionis with the interferometer''. ''Astrophysical Journal''. 1921. Vol. 53 (5). hlm. 249–259. doi:10.1086/142603.</ref> | ||
Pekerjaan teoretis yang penting mengenai struktur fisik bintang terjadi selama dekade-dekade pertama abad kedua puluh. Pada tahun 1913, [[diagram Hertzsprung–Russell]] dikembangkan, yang mendorong kajian astrofisika tentang bintang. [[Model bintang|Model-model]] yang sukses dikembangkan untuk menjelaskan bagian dalam bintang maupun evolusi bintang. [[Cecilia Payne-Gaposchkin]] adalah orang pertama yang mengusulkan bahwa bintang-bintang utamanya terbuat dari hidrogen dan helium dalam tesis PhD-nya pada tahun 1925. Spektrum bintang semakin dipahami lebih jauh melalui berbagai kemajuan dalam [[mekanika kuantum|fisika kuantum]]. Hal ini memungkinkan komposisi kimiawi dari atmosfer bintang dapat ditentukan. | Pekerjaan teoretis yang penting mengenai struktur fisik bintang terjadi selama dekade-dekade pertama abad kedua puluh. Pada tahun 1913, [[diagram Hertzsprung–Russell]] dikembangkan, yang mendorong kajian astrofisika tentang bintang. [[Model bintang|Model-model]] yang sukses dikembangkan untuk menjelaskan bagian dalam bintang maupun evolusi bintang. [[Cecilia Payne-Gaposchkin]] adalah orang pertama yang mengusulkan bahwa bintang-bintang utamanya terbuat dari hidrogen dan helium dalam tesis PhD-nya pada tahun 1925.<ref>[http://cwp.library.ucla.edu/Phase2/Payne-Gaposchkin,[email protected] " Payne-Gaposchkin, Cecilia Helena." CWP]. Universitas California.</ref> Spektrum bintang semakin dipahami lebih jauh melalui berbagai kemajuan dalam [[mekanika kuantum|fisika kuantum]]. Hal ini memungkinkan komposisi kimiawi dari atmosfer bintang dapat ditentukan.<ref>Albrecht Unsöld. ''The New Cosmos''. Springer. 2001. hlm. 180–185, 215–216. ISBN 978-3-540-67877-9.</ref> | ||
Terkecuali kejadian-kejadian langka seperti supernova maupun [[supernova palsu]], bintang-bintang tunggal utamanya telah diamati di [[Grup Lokal]],<ref>Michael S. Gordon. ''Luminous and Variable Stars in M31 and M33. III. The Yellow and Red Supergiants and Post-red Supergiant Evolution''. ''The Astrophysical Journal''. July 2016. Vol. 825 (1). hlm. 50. doi:10.3847/0004-637X/825/1/50.</ref> dan khususnya di bagian Bima Sakti yang tampak (sebagaimana ditunjukkan oleh katalog bintang terperinci yang tersedia untuk galaksi Bima Sakti) beserta satelit-satelitnya.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bintang&oldid=29560317 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Bintang-bintang tunggal seperti variabel Cepheid telah diamati di galaksi [[Messier 87|M87]]<ref>Richard De Grijs. ''Clustering of Local Group Distances: Publication Bias or Correlated Measurements? VI. Extending to Virgo Cluster Distances''. ''The Astrophysical Journal Supplement Series''. 2020. Vol. 246 (1). hlm. 3. doi:10.3847/1538-4365/ab5711.</ref> dan [[Messier 100|M100]] dari [[Gugus Virgo]],<ref>Ray Villard. [http://hubblesite.org/newscenter/archive/releases/1994/1994/49/text/ Hubble Space Telescope Measures Precise Distance to the Most Remote Galaxy Yet]. Hubble Site. 1994-10-26.</ref> serta bintang-bintang bercahaya di beberapa galaksi lain yang jaraknya relatif berdekatan.<ref>Y. Solovyeva. ''New luminous blue variable candidates in the NGC 247 galaxy''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2020. Vol. 497 (4). hlm. 4834. doi:10.1093/mnras/staa2117.</ref> Dengan bantuan [[pelensaan gravitasi]], sebuah bintang tunggal (yang diberi nama [[Icarus (bintang)|Icarus]]) telah diamati pada jarak sejauh 9 miliar tahun cahaya.<ref>Kelly, Patrick L. ''Extreme magnification of an individual star at redshift 1.5 by a galaxy-cluster lens''. ''Nature''. 2018-04-02. Vol. 2 (4). hlm. 334–342. doi:10.1038/s41550-018-0430-3.</ref><ref>Elizabeth Howell. [https://www.space.com/40171-cosmic-alignment-reveals-most-distant-star-yet.html Rare Cosmic Alignment Reveals Most Distant Star Ever Seen]. ''Space.com''. 2018-04-02.</ref> | |||
Terkecuali kejadian-kejadian langka seperti supernova maupun [[supernova palsu]], bintang-bintang tunggal utamanya telah diamati di [[Grup Lokal]], dan khususnya di bagian Bima Sakti yang tampak (sebagaimana ditunjukkan oleh katalog bintang terperinci yang tersedia untuk galaksi Bima Sakti) beserta satelit-satelitnya. Bintang-bintang tunggal seperti variabel Cepheid telah diamati di galaksi [[Messier 87|M87]] dan [[Messier 100|M100]] dari [[Gugus Virgo]], serta bintang-bintang bercahaya di beberapa galaksi lain yang jaraknya relatif berdekatan. Dengan bantuan [[pelensaan gravitasi]], sebuah bintang tunggal (yang diberi nama [[Icarus (bintang)|Icarus]]) telah diamati pada jarak sejauh 9 miliar tahun cahaya. | |||
== Penamaan == | == Penamaan == | ||
Konsep rasi bintang diketahui telah ada semenjak zaman [[Babilonia]]. Para pengamat langit zaman kuno membayangkan bahwa susunan bintang yang mencolok membentuk pola-pola tertentu, dan mereka mengaitkannya dengan aspek-aspek alam atau mitos mereka. Dua belas dari formasi ini terletak di sepanjang sabuk [[ekliptika]] dan formasi-formasi ini menjadi dasar bagi [[astrologi]].<ref>Ulla Koch-Westenholz. ''Mesopotamian astrology: an introduction to Babylonian and Assyrian celestial divination''. Museum Tusculanum Press. 1995. Vol. 19. hlm. 163. ISBN 978-87-7289-287-0.</ref> Banyak bintang tunggal yang lebih menonjol diberi nama, terutama dengan penamaan dari bahasa [[Bahasa Arab|Arab]] atau [[bahasa Latin|Latin]]. | |||
Selain rasi bintang tertentu dan Matahari itu sendiri, masing-masing bintang tunggal juga memiliki [[mitologi|mitosnya]] tersendiri.<ref>Leslie S Coleman. [http://frostydrew.org/papers.dc/papers/paper-myths/ Myths, Legends and Lore]. Frosty Drew Observatory.</ref> Bagi penganut [[agama Yunani Kuno]], beberapa "bintang", yang dikenal sebagai [[planet]] (dari bahasa Yunani πλανήτης (planētēs), yang berarti "pengembara"), mewakili berbagai dewa penting, yang menjadi asal pengambilan nama-nama planet [[Merkurius]], [[Venus]], [[Mars]], [[Jupiter]], dan [[Saturnus]].<ref>Leslie S Coleman. [http://frostydrew.org/papers.dc/papers/paper-myths/ Myths, Legends and Lore]. Frosty Drew Observatory.</ref> ([[Uranus]] dan [[Neptunus]] adalah dewa-dewa dalam [[mitologi Yunani|Yunani]] dan [[mitologi Romawi|Romawi]], tetapi kedua planet ini belum dikenal pada Zaman Kuno karena kecerahannya yang rendah. Nama-nama mereka diberikan oleh para astronom di kemudian hari.) | |||
Sekitar tahun 1600, nama-nama rasi bintang digunakan untuk menamai bintang-bintang di wilayah langit yang bersesuaian. Astronom Jerman [[Johann Bayer]] membuat serangkaian peta bintang dan menerapkan huruf-huruf Yunani sebagai [[penamaan Bayer|penamaan]] untuk bintang-bintang di setiap rasi bintang. Kemudian, sebuah sistem penomoran yang didasarkan pada [[asensio rekta]] bintang ditemukan dan ditambahkan ke dalam katalog bintang [[John Flamsteed]] dalam bukunya ''"Historia coelestis Britannica"'' (edisi 1712), yang mana sistem penomoran ini kemudian dikenal sebagai ''[[penamaan Flamsteed]]'' atau ''penomoran Flamsteed''.<ref>[http://www.iau.org/public/naming/ Naming Astronomical Objects]. Persatuan Astronomi Internasional (IAU).</ref><ref>[http://spider.seds.org/spider/Misc/naming.html Naming Stars]. Students for the Exploration and Development of Space (SEDS).</ref> | |||
Otoritas yang diakui secara internasional dalam penamaan benda-benda langit adalah [[Persatuan Astronomi Internasional]] (IAU).<ref>Francis Lyall. ''Space Law: A Treatise''. Ashgate Publishing, Ltd. 2009. hlm. 176. ISBN 978-0-7546-4390-6.</ref> Persatuan Astronomi Internasional mengelola [[Kelompok Kerja IAU untuk Nama Bintang|Kelompok Kerja untuk Nama Bintang]] (WGSN)<ref>[https://www.iau.org/science/scientific_bodies/working_groups/280/ IAU Working Group on Star Names (WGSN)].</ref> yang menyusun katalog dan menstandardisasi nama diri bagi bintang-bintang.<ref>[https://www.iau.org/public/themes/naming_stars/ Naming Stars].</ref> Sejumlah perusahaan swasta menjual nama-nama bintang yang tidak diakui oleh IAU, astronom profesional, maupun komunitas astronomi amatir.<ref>Johannes Andersen. [http://www.iau.org/public/buying_star_names/ Buying Stars and Star Names]. International Astronomical Union.</ref> [[British Library]] menyebut hal ini sebagai sebuah [[perusahaan komersial]] yang [[regulasi|tidak diatur]],<ref>[http://www.astrometry.org/starnaming.php Star naming]. Scientia Astrophysical Organization. 2005.</ref><ref>[http://www.bl.uk/names.html Disclaimer: Name a star, name a rose and other, similar enterprises]. ''British Library''. The British Library Board.</ref> dan [[Departemen Perlindungan Konsumen dan Pekerja Kota New York]] mengeluarkan peringatan pelanggaran terhadap salah satu perusahaan penamaan bintang semacam itu karena terlibat dalam praktik perdagangan yang menipu.<ref>Philip C. Plait. ''Bad astronomy: misconceptions and misuses revealed, from astrology to the moon landing "hoax"''. John Wiley and Sons. 2002. hlm. [https://archive.org/details/badastronomymisc0000plai/page/237 237]–240. ISBN 978-0-471-40976-2.</ref><ref>Tom Sclafani. [http://www.naic.edu/~gibson/starnames/isr_news.html Consumer Affairs Commissioner Polonetsky Warns Consumers: "Buying A Star Won't Make You One"]. National Astronomy and Ionosphere Center, Aricebo Observatory. 1998-05-08.</ref> | |||
Otoritas yang diakui secara internasional dalam penamaan benda-benda langit adalah [[Persatuan Astronomi Internasional]] (IAU). Persatuan Astronomi Internasional mengelola [[Kelompok Kerja IAU untuk Nama Bintang|Kelompok Kerja untuk Nama Bintang]] (WGSN) yang menyusun katalog dan menstandardisasi nama diri bagi bintang-bintang. Sejumlah perusahaan swasta menjual nama-nama bintang yang tidak diakui oleh IAU, astronom profesional, maupun komunitas astronomi amatir. [[British Library]] menyebut hal ini sebagai sebuah [[perusahaan komersial]] yang [[regulasi|tidak diatur]], dan [[Departemen Perlindungan Konsumen dan Pekerja Kota New York]] mengeluarkan peringatan pelanggaran terhadap salah satu perusahaan penamaan bintang semacam itu karena terlibat dalam praktik perdagangan yang menipu. | |||
== Satuan pengukuran == | == Satuan pengukuran == | ||
Meskipun parameter-parameter bintang dapat dinyatakan dalam [[Sistem Satuan Internasional|satuan SI]] maupun [[satuan Gauss]], sering kali lebih nyaman untuk menyatakan [[massa]], [[luminositas]], dan [[jari-jari]] dalam satuan surya, yang didasarkan pada karakteristik Matahari. Pada tahun 2015, IAU menetapkan serangkaian nilai surya ''nominal'' (yang didefinisikan sebagai konstanta SI, tanpa ketidakpastian) yang dapat digunakan untuk mengutip parameter-parameter bintang: | Meskipun parameter-parameter bintang dapat dinyatakan dalam [[Sistem Satuan Internasional|satuan SI]] maupun [[satuan Gauss]], sering kali lebih nyaman untuk menyatakan [[massa]], [[luminositas]], dan [[jari-jari]] dalam satuan surya, yang didasarkan pada karakteristik Matahari. Pada tahun 2015, IAU menetapkan serangkaian nilai surya ''nominal'' (yang didefinisikan sebagai konstanta SI, tanpa ketidakpastian) yang dapat digunakan untuk mengutip parameter-parameter bintang: | ||
: | :{| | ||
| [[luminositas surya|luminositas surya nominal]] | |||
| '''' = <ref>A. Prsa. ''Nominal values for selected solar and planetary quantities: IAU 2015 Resolution B3''. ''Astronomical Journal''. 2016. Vol. 152 (2). hlm. 41. doi:10.3847/0004-6256/152/2/41.</ref> | |||
|- | |||
| [[jari-jari surya|jari-jari surya nominal]] | |||
| '''' = <ref>A. Prsa. ''Nominal values for selected solar and planetary quantities: IAU 2015 Resolution B3''. ''Astronomical Journal''. 2016. Vol. 152 (2). hlm. 41. doi:10.3847/0004-6256/152/2/41.</ref> | |||
|} | |||
[[Massa surya]] tidak didefinisikan secara eksplisit oleh IAU dikarenakan besarnya ketidakpastian relatif () dari [[konstanta gravitasi Newton]] ''G''. Mengingat hasil kali antara konstanta gravitasi Newton dan massa surya (''G'') telah ditentukan dengan presisi yang jauh lebih tinggi, IAU mendefinisikan parameter massa surya ''nominal'' menjadi: | [[Massa surya]] tidak didefinisikan secara eksplisit oleh IAU dikarenakan besarnya ketidakpastian relatif () dari [[konstanta gravitasi Newton]] ''G''. Mengingat hasil kali antara konstanta gravitasi Newton dan massa surya (''G'') telah ditentukan dengan presisi yang jauh lebih tinggi, IAU mendefinisikan parameter massa surya ''nominal'' menjadi: | ||
: | :{| | ||
| parameter massa surya nominal: | |||
| ''G'' = /s<sup>2</sup><ref>A. Prsa. ''Nominal values for selected solar and planetary quantities: IAU 2015 Resolution B3''. ''Astronomical Journal''. 2016. Vol. 152 (2). hlm. 41. doi:10.3847/0004-6256/152/2/41.</ref> | |||
|} | |||
Parameter massa surya nominal ini dapat digabungkan dengan estimasi terbaru CODATA (2014) untuk konstanta gravitasi Newton ''G'' demi memperoleh massa surya yang kira-kira sebesar . Meskipun nilai eksak untuk luminositas, jari-jari, parameter massa, dan massanya mungkin dapat sedikit bervariasi di masa depan akibat ketidakpastian pengamatan, konstanta nominal IAU tahun 2015 akan tetap memiliki nilai SI yang sama mengingat konstanta tersebut masih menjadi ukuran yang berguna dalam mengutip parameter-parameter bintang. | Parameter massa surya nominal ini dapat digabungkan dengan estimasi terbaru CODATA (2014) untuk konstanta gravitasi Newton ''G'' demi memperoleh massa surya yang kira-kira sebesar . Meskipun nilai eksak untuk luminositas, jari-jari, parameter massa, dan massanya mungkin dapat sedikit bervariasi di masa depan akibat ketidakpastian pengamatan, konstanta nominal IAU tahun 2015 akan tetap memiliki nilai SI yang sama mengingat konstanta tersebut masih menjadi ukuran yang berguna dalam mengutip parameter-parameter bintang. | ||
Jarak yang jauh, seperti jari-jari dari sebuah bintang raksasa ataupun [[Sumbu semimayor dan semiminor|sumbu semimayor]] dari suatu sistem bintang biner, sering kali dinyatakan dalam ukuran [[satuan astronomi]]—yang kira-kira setara dengan jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari (150 juta km atau sekitar 93 juta mil). Pada tahun 2012, IAU menetapkan [[konstanta astronomi]] sebagai jarak yang eksak dalam satuan meter: 149.597.870.700 m. | Jarak yang jauh, seperti jari-jari dari sebuah bintang raksasa ataupun [[Sumbu semimayor dan semiminor|sumbu semimayor]] dari suatu sistem bintang biner, sering kali dinyatakan dalam ukuran [[satuan astronomi]]—yang kira-kira setara dengan jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari (150 juta km atau sekitar 93 juta mil). Pada tahun 2012, IAU menetapkan [[konstanta astronomi]] sebagai jarak yang eksak dalam satuan meter: 149.597.870.700 m.<ref>A. Prsa. ''Nominal values for selected solar and planetary quantities: IAU 2015 Resolution B3''. ''Astronomical Journal''. 2016. Vol. 152 (2). hlm. 41. doi:10.3847/0004-6256/152/2/41.</ref> | ||
== Pembentukan dan evolusi == | == Pembentukan dan evolusi == | ||
Bintang-bintang memadat dari wilayah-wilayah [[medium antarbintang|luar angkasa]] yang memiliki kepadatan materi lebih tinggi, meskipun wilayah-wilayah tersebut nyatanya masih kurang padat dibandingkan dengan kondisi di dalam sebuah [[ruang hampa]]. Wilayah-wilayah ini—yang dikenal sebagai ''[[awan molekuler]]''—sebagian besar terdiri atas hidrogen, dengan sekitar 23 hingga 28 persen helium dan beberapa persen unsur yang lebih berat. Salah satu contoh wilayah pembentukan bintang semacam ini adalah [[Nebula Orion]].<ref>P. R. Woodward. ''Theoretical models of star formation''. ''Annual Review of Astronomy and Astrophysics''. 1978. Vol. 16 (1). hlm. 555–584. doi:10.1146/annurev.aa.16.090178.003011.</ref> Sebagian besar bintang terbentuk dalam kelompok yang terdiri atas puluhan hingga ratusan ribu bintang.<ref>C. J. Lada. ''Embedded Clusters in Molecular Clouds''. ''Annual Review of Astronomy and Astrophysics''. 2003. Vol. 41 (1). hlm. 57–115. doi:10.1146/annurev.astro.41.011802.094844.</ref> [[Bintang tipe O|Bintang-bintang bermassa besar]] di dalam kelompok ini dapat menyinari awan tersebut dengan sangat kuat, [[ion|mengionisasi]] hidrogennya, dan menciptakan [[kawasan H II]]. Efek umpan balik semacam itu, yang berasal dari pembentukan bintang, pada akhirnya dapat mengganggu awan tersebut dan mencegah pembentukan bintang lebih lanjut.<ref>Norman Murray. ''Star Formation Efficiencies and Lifetimes of Giant Molecular Clouds in the Milky Way''. ''The Astrophysical Journal''. 2011. Vol. 729 (2). hlm. 133. doi:10.1088/0004-637X/729/2/133.</ref> | |||
Semua bintang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya sebagai bintang ''[[deret utama]]'', yang utamanya ditenagai oleh fusi nuklir hidrogen menjadi helium di dalam intinya. Akan tetapi, bintang-bintang dengan massa yang berbeda memiliki sifat yang sangat berbeda pada berbagai tahap perkembangannya. Nasib akhir dari bintang yang lebih masif berbeda dengan bintang yang kurang masif, begitu pula dengan luminositas serta dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, para astronom sering kali mengelompokkan bintang berdasarkan massanya:<ref>Sun Kwok. ''The origin and evolution of planetary nebulae''. Cambridge University Press. 2000. Vol. 33. hlm. 103–104. ISBN 978-0-521-62313-1.</ref> | |||
Bintang-bintang memadat dari wilayah-wilayah [[medium antarbintang|luar angkasa]] yang memiliki kepadatan materi lebih tinggi, meskipun wilayah-wilayah tersebut nyatanya masih kurang padat dibandingkan dengan kondisi di dalam sebuah [[ruang hampa]]. Wilayah-wilayah ini—yang dikenal sebagai ''[[awan molekuler]]''—sebagian besar terdiri atas hidrogen, dengan sekitar 23 hingga 28 persen helium dan beberapa persen unsur yang lebih berat. Salah satu contoh wilayah pembentukan bintang semacam ini adalah [[Nebula Orion]]. Sebagian besar bintang terbentuk dalam kelompok yang terdiri atas puluhan hingga ratusan ribu bintang. [[Bintang tipe O|Bintang-bintang bermassa besar]] di dalam kelompok ini dapat menyinari awan tersebut dengan sangat kuat, [[ion|mengionisasi]] hidrogennya, dan menciptakan [[kawasan H II]]. Efek umpan balik semacam itu, yang berasal dari pembentukan bintang, pada akhirnya dapat mengganggu awan tersebut dan mencegah pembentukan bintang lebih lanjut. | * ''Bintang bermassa sangat rendah'', dengan massa di bawah , sepenuhnya bersifat konvektif dan mendistribusikan [[helium]] secara merata ke seluruh bagian bintang saat berada di deret utama. Oleh karena itu, bintang-bintang ini tidak pernah mengalami pembakaran cangkang dan tidak pernah menjadi [[raksasa merah]]. Setelah kehabisan hidrogennya, mereka menjadi [[katai putih#Bintang bermassa sangat rendah|katai putih helium]] dan perlahan mendingin.<ref>Fred C. Adams. [http://www.astroscu.unam.mx/rmaa/RMxAC..22/PDF/RMxAC..22_adams.pdf Red Dwarfs and the End of the Main Sequence]. Revista Mexicana de Astronomía y Astrofísica. hlm. 46–49.</ref> Mengingat masa hidup bintang bermassa lebih lama daripada [[usia alam semesta]], belum ada satu pun bintang semacam itu yang telah mencapai tahap katai putih. | ||
Semua bintang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya sebagai bintang ''[[deret utama]]'', yang utamanya ditenagai oleh fusi nuklir hidrogen menjadi helium di dalam intinya. Akan tetapi, bintang-bintang dengan massa yang berbeda memiliki sifat yang sangat berbeda pada berbagai tahap perkembangannya. Nasib akhir dari bintang yang lebih masif berbeda dengan bintang yang kurang masif, begitu pula dengan luminositas serta dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, para astronom sering kali mengelompokkan bintang berdasarkan massanya: | * ''Bintang bermassa rendah'' (termasuk Matahari), dengan massa antara dan ~ bergantung pada komposisinya, akan menjadi raksasa merah ketika hidrogen di intinya habis dan mulai membakar helium di inti dalam sebuah proses [[kilatan helium]]; mereka mengembangkan inti karbon-oksigen terdegenerasi di kemudian hari pada [[cabang raksasa asimtotik]]; mereka pada akhirnya menghempaskan cangkang luarnya sebagai [[nebula planeter]] dan menyisakan intinya dalam bentuk katai putih.<ref>[https://books.google.com/books?id=75hBBAAAQBAJ&pg=PA23 Astrobiology, An Evolutionary Approach]. Taylor & Francis. 2014. hlm. 21–25. ISBN 978-1466584617.</ref><ref>G. S. Bisnovatyi-Kogan. [https://books.google.com/books?id=AkjtCAAAQBAJ&pg=PA108 Stellar Physics: Stellar Evolution and Stability]. Springer Berlin Heidelberg. 2013. hlm. 108–125. ISBN 978-3662226391.</ref> | ||
* ''Bintang bermassa sangat rendah'', dengan massa di bawah , sepenuhnya bersifat konvektif dan mendistribusikan [[helium]] secara merata ke seluruh bagian bintang saat berada di deret utama. Oleh karena itu, bintang-bintang ini tidak pernah mengalami pembakaran cangkang dan tidak pernah menjadi [[raksasa merah]]. Setelah kehabisan hidrogennya, mereka menjadi [[katai putih#Bintang bermassa sangat rendah|katai putih helium]] dan perlahan mendingin. Mengingat masa hidup bintang bermassa lebih lama daripada [[usia alam semesta]], belum ada satu pun bintang semacam itu yang telah mencapai tahap katai putih. | * ''Bintang bermassa menengah'', antara ~ dan ~, melewati tahap-tahap evolusi yang serupa dengan bintang bermassa rendah, namun setelah periode yang relatif singkat di [[cabang raksasa merah]], mereka menyalakan helium tanpa kilatan dan menghabiskan periode yang lebih lama di wilayah [[gumpalan merah]] sebelum membentuk inti karbon-oksigen terdegenerasi.<ref>[https://books.google.com/books?id=75hBBAAAQBAJ&pg=PA23 Astrobiology, An Evolutionary Approach]. Taylor & Francis. 2014. hlm. 21–25. ISBN 978-1466584617.</ref><ref>G. S. Bisnovatyi-Kogan. [https://books.google.com/books?id=AkjtCAAAQBAJ&pg=PA108 Stellar Physics: Stellar Evolution and Stability]. Springer Berlin Heidelberg. 2013. hlm. 108–125. ISBN 978-3662226391.</ref> | ||
* ''Bintang bermassa rendah'' (termasuk Matahari), dengan massa antara dan ~ bergantung pada komposisinya, akan menjadi raksasa merah ketika hidrogen di intinya habis dan mulai membakar helium di inti dalam sebuah proses [[kilatan helium]]; mereka mengembangkan inti karbon-oksigen terdegenerasi di kemudian hari pada [[cabang raksasa asimtotik]]; mereka pada akhirnya menghempaskan cangkang luarnya sebagai [[nebula planeter]] dan menyisakan intinya dalam bentuk katai putih. | * ''Bintang bermassa besar'' umumnya memiliki massa minimum sekitar ~.<ref>Duligur Ibeling. ''The Metallicity Dependence of the Minimum Mass for Core-collapse Supernovae''. ''The Astrophysical Journal Letters''. March 2013. Vol. 765 (2). hlm. 4. doi:10.1088/2041-8205/765/2/L43.</ref> Setelah kehabisan hidrogen di intinya, bintang-bintang ini menjadi [[maharaksasa]] dan terus [[fusi nuklir|memfusikan]] unsur-unsur yang lebih berat daripada helium. Banyak di antaranya mengakhiri hidupnya ketika intinya runtuh dan meledak sebagai supernova.<ref>[https://books.google.com/books?id=75hBBAAAQBAJ&pg=PA23 Astrobiology, An Evolutionary Approach]. Taylor & Francis. 2014. hlm. 21–25. ISBN 978-1466584617.</ref><ref>F. -K. Thielemann. ''Astronomy with Radioactivities''. Springer. 2011. Vol. 812. hlm. 153–232. doi:10.1007/978-3-642-12698-7_4. ISBN 978-3-642-12697-0.</ref> | ||
* ''Bintang bermassa menengah'', antara ~ dan ~, melewati tahap-tahap evolusi yang serupa dengan bintang bermassa rendah, namun setelah periode yang relatif singkat di [[cabang raksasa merah]], mereka menyalakan helium tanpa kilatan dan menghabiskan periode yang lebih lama di wilayah [[gumpalan merah]] sebelum membentuk inti karbon-oksigen terdegenerasi. | |||
* ''Bintang bermassa besar'' umumnya memiliki massa minimum sekitar ~. Setelah kehabisan hidrogen di intinya, bintang-bintang ini menjadi [[maharaksasa]] dan terus [[fusi nuklir|memfusikan]] unsur-unsur yang lebih berat daripada helium. Banyak di antaranya mengakhiri hidupnya ketika intinya runtuh dan meledak sebagai supernova. | |||
=== Pembentukan bintang === | === Pembentukan bintang === | ||
Pembentukan sebuah bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam sebuah awan molekuler, yang disebabkan oleh wilayah-wilayah dengan kepadatan yang lebih tinggi—yang sering kali dipicu oleh kompresi awan akibat radiasi dari bintang bermassa besar, gelembung yang mengembang di medium antarbintang, tabrakan awan molekuler yang berbeda, atau [[Galaksi berinteraksi|tabrakan galaksi]] (seperti pada [[galaksi semburan bintang]]).<ref>B. G. Elmegreen. ''Sequential formation of subgroups in OB associations''. ''Astrophysical Journal, Part 1''. 1977. Vol. 214. hlm. 725–741. doi:10.1086/155302.</ref><ref>K. V. Getman. ''The Elephant Trunk Nebula and the Trumpler 37 cluster: contribution of triggered star formation to the total population of an H II region''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2012. Vol. 426 (4). hlm. 2917–2943. doi:10.1111/j.1365-2966.2012.21879.x.</ref> Ketika suatu wilayah mencapai kepadatan materi yang cukup untuk memenuhi kriteria [[ketidakstabilan Jeans]], wilayah tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.<ref>Michael David Smith. [https://archive.org/details/originofstars0000smit The Origin of Stars]. Imperial College Press. 2004. hlm. [https://archive.org/details/originofstars0000smit/page/57 57]–68. ISBN 978-1-86094-501-4.</ref> | |||
Seiring dengan runtuhnya awan tersebut, konglomerasi individu dari debu dan gas yang padat membentuk "[[globula Bok]]". Ketika sebuah globula runtuh dan kepadatannya meningkat, energi gravitasi berubah menjadi panas dan suhunya pun meningkat. Ketika awan protobintang telah kurang lebih mencapai kondisi [[kesetimbangan hidrostatik]] yang stabil, sebuah [[protobintang]] terbentuk di intinya.<ref>Courtney Seligman. [http://courtneyseligman.com/text/stars/starevol2.htm Slow Contraction of Protostellar Cloud]. ''Self-published''.</ref> [[Bintang pra-deret utama]] semacam ini sering kali dikelilingi oleh sebuah [[cakram protoplanet]] dan ditenagai utamanya oleh konversi energi gravitasi. Periode kontraksi gravitasi ini berlangsung selama sekitar 10 juta tahun bagi sebuah bintang seperti Matahari, hingga 100 juta tahun bagi sebuah katai merah.<ref>Hanslmeier. [https://books.google.com/books?id=Mj5tSld5tjMC&pg=PA163 Water in the Universe]. Springer Science & Business Media. 2010. hlm. 163. ISBN 978-90-481-9984-6.</ref> | |||
Bintang-bintang awal yang bermassa kurang dari disebut [[bintang T Tauri]], sementara yang massanya lebih besar merupakan [[bintang Herbig Ae/Be]]. Bintang-bintang yang baru terbentuk ini memancarkan semburan gas di sepanjang sumbu rotasinya, yang dapat mengurangi [[momentum sudut]] dari bintang yang runtuh tersebut dan menghasilkan bercak-bercak kecil nebulositas yang dikenal sebagai [[objek Herbig–Haro]].<ref>J. Bally. ''The Birth of Stars: Herbig-Haro Jets, Accretion and Proto-Planetary Disks''. Space Telescope Science Institute. 1996. hlm. 491.</ref><ref>Michael David Smith. [https://archive.org/details/originofstars0000smit The origin of stars]. Imperial College Press. 2004. hlm. [https://archive.org/details/originofstars0000smit/page/176 176]. ISBN 978-1-86094-501-4.</ref> | |||
Semburan ini, dikombinasikan dengan radiasi dari bintang masif di sekitarnya, dapat membantu menyingkirkan awan di sekitarnya yang menjadi asal pembentukan bintang tersebut.<ref>Tom Megeath. [http://www.esa.int/esaCP/SEMFEAKPO8G_index_0.html Herschel finds a hole in space]. ESA. 2010-05-11.</ref> | |||
Bintang-bintang awal yang bermassa kurang dari disebut [[bintang T Tauri]], sementara yang massanya lebih besar merupakan [[bintang Herbig Ae/Be]]. Bintang-bintang yang baru terbentuk ini memancarkan semburan gas di sepanjang sumbu rotasinya, yang dapat mengurangi [[momentum sudut]] dari bintang yang runtuh tersebut dan menghasilkan bercak-bercak kecil nebulositas yang dikenal sebagai [[objek Herbig–Haro]]. | |||
Semburan ini, dikombinasikan dengan radiasi dari bintang masif di sekitarnya, dapat membantu menyingkirkan awan di sekitarnya yang menjadi asal pembentukan bintang tersebut. | |||
Di awal perkembangannya, bintang T Tauri mengikuti [[jalur Hayashi]]—mereka berkontraksi dan mengalami penurunan luminositas sambil tetap berada pada suhu yang kurang lebih sama. Bintang T Tauri yang kurang masif mengikuti jalur ini hingga menuju ke deret utama, sementara bintang yang lebih masif berbelok ke [[jalur Henyey]]. | Di awal perkembangannya, bintang T Tauri mengikuti [[jalur Hayashi]]—mereka berkontraksi dan mengalami penurunan luminositas sambil tetap berada pada suhu yang kurang lebih sama. Bintang T Tauri yang kurang masif mengikuti jalur ini hingga menuju ke deret utama, sementara bintang yang lebih masif berbelok ke [[jalur Henyey]].<ref>Darling. [https://books.google.com/books?id=L5zuAAAAMAAJ The Universal Book of Astronomy: From the Andromeda Galaxy to the Zone of Avoidance]. Wiley. 2004. hlm. 229. ISBN 978-0-471-26569-6.</ref> | ||
Sebagian besar bintang teramati sebagai anggota dari sistem bintang biner, dan sifat-sifat biner tersebut merupakan hasil dari kondisi di mana mereka terbentuk. Sebuah awan gas harus kehilangan momentum sudutnya agar dapat runtuh dan membentuk bintang. Fragmentasi awan menjadi beberapa bintang mendistribusikan sebagian dari momentum sudut tersebut. Biner primordial mentransfer sebagian momentum sudutnya melalui interaksi gravitasi selama berpapasan jarak dekat dengan bintang-bintang lain di dalam gugus bintang muda. Berbagai interaksi ini cenderung memisahkan biner-biner (lunak) yang berjarak lebih jauh sekaligus menyebabkan biner-biner keras terikat menjadi lebih erat. Hal ini menghasilkan pemisahan biner ke dalam dua distribusi populasi yang dapat diamati. | Sebagian besar bintang teramati sebagai anggota dari sistem bintang biner, dan sifat-sifat biner tersebut merupakan hasil dari kondisi di mana mereka terbentuk.<ref>A. Duquennoy. [https://archive.org/details/sim_astronomy-and-astrophysics_1991-08_248_2/page/484 Multiplicity among solar-type stars in the solar neighbourhood. II – Distribution of the orbital elements in an unbiased sample]. ''Astronomy & Astrophysics''. 1991. Vol. 248 (2). hlm. 485–524.</ref> Sebuah awan gas harus kehilangan momentum sudutnya agar dapat runtuh dan membentuk bintang. Fragmentasi awan menjadi beberapa bintang mendistribusikan sebagian dari momentum sudut tersebut. Biner primordial mentransfer sebagian momentum sudutnya melalui interaksi gravitasi selama berpapasan jarak dekat dengan bintang-bintang lain di dalam gugus bintang muda. Berbagai interaksi ini cenderung memisahkan biner-biner (lunak) yang berjarak lebih jauh sekaligus menyebabkan biner-biner keras terikat menjadi lebih erat. Hal ini menghasilkan pemisahan biner ke dalam dua distribusi populasi yang dapat diamati.<ref>Padmanabhan. [https://books.google.com/books?id=TOjwtYYb63cC&pg=PA557 Theoretical Astrophysics: Volume 2, Stars and Stellar Systems]. Cambridge University Press. 2000. hlm. 557. ISBN 978-0-521-56631-5.</ref> | ||
=== Deret utama === | === Deret utama === | ||
Bintang menghabiskan sekitar 90% dari masa hidupnya memfusikan hidrogen menjadi helium di dalam reaksi bertekanan dan bersuhu tinggi di intinya. Bintang semacam ini dikatakan berada di deret utama dan disebut sebagai bintang katai. Dimulai pada deret utama usia nol, proporsi helium di inti sebuah bintang akan terus meningkat secara perlahan, laju fusi nuklir di inti akan perlahan meningkat, begitu pula dengan suhu dan luminositas bintang tersebut.<ref>J. G. Mengel. ''Stellar evolution from the zero-age main sequence''. ''Astrophysical Journal Supplement Series''. 1979. Vol. 40. hlm. 733–791. doi:10.1086/190603.</ref> | |||
Matahari, sebagai contoh, diperkirakan telah mengalami peningkatan luminositas sebesar kurang lebih 40% sejak mencapai deret utama 4,6 miliar () tahun yang lalu.<ref>I. J. Sackmann. ''Our Sun. III. Present and Future''. ''Astrophysical Journal''. 1993. Vol. 418. hlm. 457. doi:10.1086/173407.</ref> | |||
Setiap bintang menghasilkan [[angin bintang]] berupa partikel-partikel yang menyebabkan aliran keluar gas secara terus-menerus ke luar angkasa. Bagi sebagian besar bintang, massa yang hilang dapat diabaikan. Matahari kehilangan setiap tahunnya,<ref>B. E. Wood. [https://archive.org/details/sim_astrophysical-journal_2002-07-20_574_1/page/412 Measured Mass-Loss Rates of Solar-like Stars as a Function of Age and Activity]. ''The Astrophysical Journal''. 2002. Vol. 574 (1). hlm. 412–425. doi:10.1086/340797.</ref> atau sekitar 0,01% dari total massanya di sepanjang masa hidupnya. Akan tetapi, bintang yang sangat masif dapat kehilangan hingga setiap tahun, yang secara signifikan memengaruhi evolusinya.<ref>C. de Loore. [https://archive.org/details/astronomy-and-astrophysics_1977-10_61_2/page/251 Evolution of massive stars with mass loss by stellar wind]. ''Astronomy and Astrophysics''. 1977. Vol. 61 (2). hlm. 251–259.</ref> Bintang yang bermula dengan lebih dari dapat kehilangan lebih dari separuh total massanya saat berada di deret utama.<ref>[http://certificate.ulo.ucl.ac.uk/modules/year_one/ROG/stellar_evolution/conWebDoc.727.html The evolution of stars between 50 and 100 times the mass of the Sun]. Royal Greenwich Observatory.</ref> | |||
Bintang | Waktu yang dihabiskan oleh sebuah bintang di deret utama utamanya bergantung pada jumlah bahan bakar yang dimilikinya serta laju pembakaran bahan bakar tersebut. Matahari diperkirakan dapat hidup selama 10 miliar () tahun. Bintang masif mengonsumsi bahan bakarnya dengan sangat cepat dan berusia pendek. Bintang bermassa rendah mengonsumsi bahan bakarnya dengan sangat lambat. Bintang yang kurang masif dari , yang disebut [[katai merah]], mampu memfusikan hampir seluruh massanya sementara bintang dengan ukuran sekitar hanya mampu memfusikan sekitar 10% massanya. Kombinasi antara konsumsi bahan bakar yang lambat dan pasokan bahan bakar yang relatif besar dan dapat digunakan memungkinkan bintang bermassa rendah bertahan selama sekitar satu triliun () tahun; bintang yang paling ekstrem berukuran akan bertahan selama kurang lebih 12 triliun tahun. Katai merah menjadi [[katai biru (tahap katai merah)|semakin panas dan semakin terang]] seiring dengan terakumulasinya helium. Ketika mereka pada akhirnya kehabisan hidrogen, mereka mengerut menjadi sebuah katai putih dan suhunya pun menurun.<ref>Fred C. Adams. [http://www.astroscu.unam.mx/rmaa/RMxAC..22/PDF/RMxAC..22_adams.pdf Red Dwarfs and the End of the Main Sequence]. Revista Mexicana de Astronomía y Astrofísica. hlm. 46–49.</ref> Mengingat masa hidup bintang semacam itu lebih besar daripada usia alam semesta saat ini (13,8 miliar tahun), tidak ada bintang di bawah sekitar <ref>[http://astronomy.swin.edu.au/cosmos/M/Main+Sequence+Lifetime Main Sequence Lifetime]. Swinburne University of Technology.</ref> yang diperkirakan telah beranjak dari deret utama. | ||
Selain massa, unsur-unsur yang lebih berat daripada helium dapat memainkan peran yang signifikan di dalam evolusi bintang. Para astronom melabeli semua unsur yang lebih berat daripada helium sebagai "logam", dan menyebut [[konsentrasi]] kimiawi dari unsur-unsur ini di dalam sebuah bintang sebagai [[metalisitas]] bintang tersebut. Metalisitas sebuah bintang dapat memengaruhi waktu yang dibutuhkan oleh bintang tersebut untuk membakar bahan bakarnya, dan mengontrol pembentukan medan magnetnya,<ref>N. Pizzolato. ''Subphotospheric convection and magnetic activity dependence on metallicity and age: Models and tests''. ''Astronomy & Astrophysics''. 2001. Vol. 373 (2). hlm. 597–607. doi:10.1051/0004-6361:20010626.</ref> yang memengaruhi kekuatan angin bintangnya.<ref>[http://www.star.ucl.ac.uk/groups/hotstar/research_massloss.html Mass loss and Evolution]. UCL Astrophysics Group. 2004-06-18.</ref> Bintang-bintang [[populasi bintang|populasi II]] yang lebih tua memiliki metalisitas yang secara substansial lebih rendah dibandingkan dengan bintang populasi I yang lebih muda dikarenakan komposisi awan molekuler tempat mereka terbentuk. Seiring berjalannya waktu, awan semacam itu menjadi semakin diperkaya dengan unsur-unsur yang lebih berat ketika bintang-bintang yang lebih tua mati dan melepaskan sebagian [[atmosfer bintang|atmosfernya]].<ref>Rutherford Appleton Laboratory. Workshop on Astronomy and Astrophysics. [https://books.google.com/books?id=e37vAAAAMAAJ Gas in the Interstellar Medium: Rutherford Appleton Laboratory Workshop on Astronomy and Astrophysics : 21–23 May, 1983, The Cosener's House, Abingdon]. Science and Engineering Research Council, Rutherford Appleton Laboratory. 1984.</ref> | |||
Selain massa, unsur-unsur yang lebih berat daripada helium dapat memainkan peran yang signifikan di dalam evolusi bintang. Para astronom melabeli semua unsur yang lebih berat daripada helium sebagai "logam", dan menyebut [[konsentrasi]] kimiawi dari unsur-unsur ini di dalam sebuah bintang sebagai [[metalisitas]] bintang tersebut. Metalisitas sebuah bintang dapat memengaruhi waktu yang dibutuhkan oleh bintang tersebut untuk membakar bahan bakarnya, dan mengontrol pembentukan medan magnetnya, yang memengaruhi kekuatan angin bintangnya. Bintang-bintang [[populasi bintang|populasi II]] yang lebih tua memiliki metalisitas yang secara substansial lebih rendah dibandingkan dengan bintang populasi I yang lebih muda dikarenakan komposisi awan molekuler tempat mereka terbentuk. Seiring berjalannya waktu, awan semacam itu menjadi semakin diperkaya dengan unsur-unsur yang lebih berat ketika bintang-bintang yang lebih tua mati dan melepaskan sebagian [[atmosfer bintang|atmosfernya]]. | |||
=== Pasca-deret utama === | === Pasca-deret utama === | ||
Ketika bintang-bintang bermassa setidaknya <ref>Michael Richmond. [http://spiff.rit.edu/classes/phys230/lectures/planneb/planneb.html Late stages of evolution for low-mass stars]. Rochester Institute of Technology.</ref> kehabisan pasokan hidrogen di intinya, mereka mulai memfusikan hidrogen di cangkang yang mengelilingi inti helium. Lapisan luar bintang tersebut mengembang dan sangat mendingin seiring dengan transisinya menjadi sebuah [[raksasa merah]]. Dalam beberapa kasus, mereka akan memfusikan [[unsur kimia|unsur]] yang lebih berat di inti atau di cangkang di sekitar inti. Seiring dengan mengembangnya bintang, mereka melemparkan sebagian massanya, yang telah diperkaya dengan unsur-unsur yang lebih berat tersebut, ke lingkungan antarbintang, untuk nantinya didaur ulang sebagai bintang-bintang baru.<ref>[http://observe.arc.nasa.gov/nasa/space/stellardeath/stellardeath_intro.html Stellar Evolution & Death]. NASA Observatorium.</ref> Dalam sekitar 5 miliar tahun, ketika Matahari memasuki fase pembakaran helium, ia akan mengembang hingga mencapai jari-jari maksimum kurang lebih , 250 kali lipat ukuran saat ini, dan kehilangan 30% dari massanya saat ini.<ref>I. J. Sackmann. ''Our Sun. III. Present and Future''. ''Astrophysical Journal''. 1993. Vol. 418. hlm. 457. doi:10.1086/173407.</ref><ref>K.-P. Schröder. ''Distant future of the Sun and Earth revisited''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2008. Vol. 386 (1). hlm. 155–163. doi:10.1111/j.1365-2966.2008.13022.x. See also Jason Palmer. [https://www.newscientist.com/article/dn13369 Hope dims that Earth will survive Sun's death]. ''NewScientist.com news service''. 2008-02-22.</ref> | |||
Seiring dengan cangkang pembakaran hidrogen yang menghasilkan semakin banyak helium, massa dan suhu inti tersebut mengalami peningkatan. Pada raksasa merah hingga seberat , massa inti heliumnya menjadi terdegenerasi sebelum terjadinya [[fusi helium]]. Pada akhirnya, ketika suhunya cukup meningkat, fusi helium di inti dimulai secara eksplosif dalam peristiwa yang disebut [[kilatan helium]], dan jari-jari bintang dengan cepat menyusut, suhu permukaannya meningkat, dan berpindah ke [[cabang horizontal]] pada diagram HR. Untuk bintang-bintang yang lebih masif, fusi inti helium dimulai sebelum intinya terdegenerasi, dan bintang tersebut menghabiskan beberapa waktu di [[gumpalan merah]], membakar helium secara perlahan, sebelum selubung konvektif luarnya runtuh dan bintang tersebut kemudian berpindah ke cabang horizontal.<ref>Icko Jr. Iben. ''Single and binary star evolution''. ''Astrophysical Journal Supplement Series''. 1991. Vol. 76. hlm. 55–114. doi:10.1086/191565.</ref> | |||
Setelah sebuah bintang memfusikan helium di intinya, ia mulai memfusikan helium di sepanjang cangkang yang mengelilingi inti karbon yang panas. Bintang tersebut kemudian mengikuti jalur evolusi yang disebut [[cabang raksasa asimtotik]] (AGB) yang sejajar dengan fase raksasa merah yang dijelaskan sebelumnya, tetapi dengan luminositas yang lebih tinggi. Bintang AGB yang lebih masif dapat mengalami periode singkat berupa fusi karbon sebelum intinya terdegenerasi. Selama fase AGB, bintang mengalami serangkaian [[denyut termal]] akibat ketidakstabilan di dalam inti bintang. Dalam denyut-denyut termal ini, luminositas bintang [[bintang variabel|bervariasi]] dan materi dilontarkan dari atmosfer bintang, yang pada akhirnya membentuk sebuah nebula planeter. Sebanyak 50 hingga 70% dari massa bintang dapat dilontarkan dalam proses [[kehilangan massa bintang|kehilangan massa]] ini. Oleh karena transportasi energi di dalam bintang AGB terjadi utamanya melalui [[konveksi]], materi yang dilontarkan ini diperkaya dengan produk-produk fusi yang [[pengerukan|dikeruk]] dari inti. Oleh karena itu, nebula planeter tersebut diperkaya dengan unsur-unsur seperti karbon dan oksigen. Pada akhirnya, nebula planeter ini terpencar, memperkaya medium antarbintang secara keseluruhan.<ref>Bradley W. Carroll. ''An Introduction to Modern Astrophysics''. Cambridge University Press. 7 September 2017. ISBN 978-1108422161.</ref> Dengan demikian, bintang-bintang generasi masa depan tercipta dari "materi bintang" dari bintang-bintang di masa lalu.<ref>Carl Sagan. [https://libquotes.com/carl-sagan/quote/lbe8f9i The Lives of the Stars]. 1980.</ref> | |||
Setelah sebuah bintang memfusikan helium di intinya, ia mulai memfusikan helium di sepanjang cangkang yang mengelilingi inti karbon yang panas. Bintang tersebut kemudian mengikuti jalur evolusi yang disebut [[cabang raksasa asimtotik]] (AGB) yang sejajar dengan fase raksasa merah yang dijelaskan sebelumnya, tetapi dengan luminositas yang lebih tinggi. Bintang AGB yang lebih masif dapat mengalami periode singkat berupa fusi karbon sebelum intinya terdegenerasi. Selama fase AGB, bintang mengalami serangkaian [[denyut termal]] akibat ketidakstabilan di dalam inti bintang. Dalam denyut-denyut termal ini, luminositas bintang [[bintang variabel|bervariasi]] dan materi dilontarkan dari atmosfer bintang, yang pada akhirnya membentuk sebuah nebula planeter. Sebanyak 50 hingga 70% dari massa bintang dapat dilontarkan dalam proses [[kehilangan massa bintang|kehilangan massa]] ini. Oleh karena transportasi energi di dalam bintang AGB terjadi utamanya melalui [[konveksi]], materi yang dilontarkan ini diperkaya dengan produk-produk fusi yang [[pengerukan|dikeruk]] dari inti. Oleh karena itu, nebula planeter tersebut diperkaya dengan unsur-unsur seperti karbon dan oksigen. Pada akhirnya, nebula planeter ini terpencar, memperkaya medium antarbintang secara keseluruhan. Dengan demikian, bintang-bintang generasi masa depan tercipta dari "materi bintang" dari bintang-bintang di masa lalu. | |||
==== Bintang bermassa besar ==== | ==== Bintang bermassa besar ==== | ||
Selama fase pembakaran heliumnya, sebuah bintang dengan massa lebih dari 9 massa surya mengembang untuk pertama-tama membentuk [[maharaksasa biru]] dan kemudian [[maharaksasa merah]]. Bintang-bintang yang bermassa sangat besar (melebihi 40 massa surya, seperti [[Alnilam]], maharaksasa biru pusat di [[Sabuk Orion]])<ref>Raul E. Puebla. ''X-ray, UV and optical analysis of supergiants: ε Ori''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2016-03-01. Vol. 456 (3). hlm. 2907–2936. doi:10.1093/mnras/stv2783.</ref> tidak menjadi maharaksasa merah akibat tingginya kehilangan massa.<ref>D. Vanbeveren. [https://doi.org/10.1007/s001590050015 Massive stars]. ''The Astronomy and Astrophysics Review''. 1998-12-01. Vol. 9 (1). hlm. 63–152. doi:10.1007/s001590050015.</ref> Mereka mungkin justru berevolusi menjadi [[bintang Wolf–Rayet]], yang dicirikan oleh spektrum yang didominasi oleh garis emisi dari unsur-unsur yang lebih berat daripada hidrogen, yang telah mencapai permukaan akibat konveksi yang kuat dan kehilangan massa yang intens, atau dari terlucutinya lapisan-lapisan luar.<ref>P. S. Conti. [https://books.google.com/books?id=aZbnCAAAQBAJ Mass Loss and Evolution of O-Type Stars]. Springer Science & Business Media. 2012. ISBN 978-94-009-9452-2.</ref> | |||
Ketika helium habis di inti dari sebuah bintang masif, inti tersebut mengerut serta suhu dan tekanannya meningkat cukup tinggi untuk memfusikan [[karbon]] (lihat [[Proses pembakaran karbon]]). Proses ini terus berlanjut, dengan tahap-tahap berturut-turut ditenagai oleh [[neon]] (lihat [[proses pembakaran neon]]), [[oksigen]] (lihat [[proses pembakaran oksigen]]), dan [[silikon]] (lihat [[proses pembakaran silikon]]). Menjelang akhir kehidupan bintang tersebut, fusi terus berlangsung di sepanjang serangkaian cangkang berlapis mirip bawang di dalam bintang yang masif. Masing-masing cangkang memfusikan unsur yang berbeda-beda, dengan cangkang paling luar memfusikan hidrogen; cangkang berikutnya memfusikan helium, dan seterusnya.<ref>[https://www.e-education.psu.edu/astro801/content/l6_p5.html The Evolution of Massive Stars and Type II Supernovae]. Penn Stats College of Science.</ref> | |||
Tahap akhir terjadi ketika sebuah bintang masif mulai memproduksi besi. Oleh karena inti besi [[energi ikat|terikat lebih kuat]] daripada inti mana pun yang lebih berat, fusi apa pun melampaui besi tidak akan menghasilkan pelepasan energi bersih.<ref>Christopher Sneden. ''Astronomy: The age of the Universe''. ''Nature''. 2001-02-08. Vol. 409 (6821). hlm. 673–675. doi:10.1038/35055646.</ref> | |||
Tahap akhir terjadi ketika sebuah bintang masif mulai memproduksi besi. Oleh karena inti besi [[energi ikat|terikat lebih kuat]] daripada inti mana pun yang lebih berat, fusi apa pun melampaui besi tidak akan menghasilkan pelepasan energi bersih. | |||
Sejumlah bintang bermassa besar, terutama [[variabel biru bercahaya]], sangatlah tidak stabil hingga ke titik di mana mereka melepaskan massanya dengan kuat ke luar angkasa dalam berbagai peristiwa yang dikenal sebagai [[supernova palsu]], dan menjadi jauh lebih terang dalam proses tersebut. [[Eta Carinae]] diketahui telah mengalami peristiwa supernova palsu, yang disebut Letusan Besar, pada abad ke-19. | Sejumlah bintang bermassa besar, terutama [[variabel biru bercahaya]], sangatlah tidak stabil hingga ke titik di mana mereka melepaskan massanya dengan kuat ke luar angkasa dalam berbagai peristiwa yang dikenal sebagai [[supernova palsu]], dan menjadi jauh lebih terang dalam proses tersebut. [[Eta Carinae]] diketahui telah mengalami peristiwa supernova palsu, yang disebut Letusan Besar, pada abad ke-19. | ||
==== Keruntuhan ==== | ==== Keruntuhan ==== | ||
Seiring dengan menyusutnya inti sebuah bintang, intensitas radiasi dari permukaan tersebut meningkat, yang menciptakan [[tekanan radiasi]] semacam itu pada cangkang gas bagian luar yang akan mendorong lapisan-lapisan itu menjauh, membentuk sebuah nebula planeter. Jika apa yang tersisa setelah atmosfer luarnya dilucuti berjumlah kurang dari sekitar , ia akan menyusut menjadi objek yang relatif kecil seukuran Bumi, yang dikenal sebagai [[katai putih]]. Katai putih tidak memiliki massa yang cukup agar kompresi gravitasi lebih lanjut dapat terjadi.<ref>James Liebert. ''White dwarf stars''. ''Annual Review of Astronomy and Astrophysics''. 1980. Vol. 18 (2). hlm. 363–398. doi:10.1146/annurev.aa.18.090180.002051.</ref> [[Materi terdegenerasi elektron]] di dalam katai putih tidak lagi berupa plasma. Pada akhirnya, katai putih memudar menjadi [[katai hitam]] dalam jangka waktu yang sangat panjang.<ref>Adam Mann. [https://www.science.org/content/article/way-universe-ends-not-whimper-bang This is the way the universe ends: not with a whimper, but a bang]. ''Science AAAS''. 2020-08-11.</ref> | |||
Pada bintang bermassa besar, fusi terus berlangsung hingga inti besinya tumbuh menjadi begitu besar (lebih dari ) sehingga ia tidak lagi mampu menopang massanya sendiri. Inti ini akan tiba-tiba runtuh ketika elektron-elektronnya didorong ke dalam protonnya, membentuk neutron, [[neutrino]], dan sinar gama dalam semburan [[penangkapan elektron]] dan [[peluruhan beta terbalik]]. [[Gelombang kejut]] yang dibentuk oleh keruntuhan yang tiba-tiba ini menyebabkan sisa bagian bintang lainnya meledak dalam sebuah supernova. Supernova menjadi begitu terang sehingga dapat secara singkat mengalahkan kecerahan seluruh galaksi asal dari bintang tersebut. Ketika terjadi di dalam Bima Sakti, supernova secara historis telah diamati oleh para pengamat dengan mata telanjang sebagai "bintang baru" di tempat yang tampaknya tidak ada bintang sebelumnya.<ref>[http://heasarc.gsfc.nasa.gov/docs/objects/snrs/snrstext.html Introduction to Supernova Remnants]. Goddard Space Flight Center. 2006-04-06.</ref> | |||
Ledakan supernova menghempaskan lapisan-lapisan luar bintang tersebut, menyisakan sebuah [[sisa supernova|sisa]] seperti Nebula Kepiting.<ref>[http://heasarc.gsfc.nasa.gov/docs/objects/snrs/snrstext.html Introduction to Supernova Remnants]. Goddard Space Flight Center. 2006-04-06.</ref> Intinya terkompresi menjadi sebuah [[bintang neutron]], yang terkadang memanifestasikan dirinya sebagai sebuah [[pulsar]] atau [[pelepas sinar-X]]. Pada kasus bintang yang paling besar, sisanya adalah sebuah lubang hitam yang lebih besar dari .<ref>C. L. Fryer. [https://zenodo.org/record/1235744 Black-hole formation from stellar collapse]. ''Classical and Quantum Gravity''. 2003. Vol. 20 (10). hlm. S73–S80. doi:10.1088/0264-9381/20/10/309.</ref> Di dalam bintang neutron, materinya berada dalam kondisi yang dikenal sebagai [[materi terdegenerasi neutron]], beserta bentuk materi terdegenerasi yang lebih eksotis, [[materi QCD]], yang mungkin saja ada di dalam inti.<ref>Aleksi Vuorinen. ''Neutron stars and stellar mergers as a laboratory for dense QCD matter''. ''Nuclear Physics A''. 2019. Vol. 982. hlm. 36. doi:10.1016/j.nuclphysa.2018.10.011.</ref> | |||
Lapisan-lapisan luar yang terhempas dari bintang-bintang yang sekarat mengandung berbagai unsur berat, yang mungkin dapat didaur ulang selama pembentukan bintang-bintang baru. Unsur-unsur berat ini memungkinkan terbentuknya planet-planet berbatu. Aliran keluar dari supernova dan angin bintang dari bintang-bintang masif memainkan peranan penting dalam membentuk medium antarbintang.<ref>[http://heasarc.gsfc.nasa.gov/docs/objects/snrs/snrstext.html Introduction to Supernova Remnants]. Goddard Space Flight Center. 2006-04-06.</ref> | |||
Lapisan-lapisan luar yang terhempas dari bintang-bintang yang sekarat mengandung berbagai unsur berat, yang mungkin dapat didaur ulang selama pembentukan bintang-bintang baru. Unsur-unsur berat ini memungkinkan terbentuknya planet-planet berbatu. Aliran keluar dari supernova dan angin bintang dari bintang-bintang masif memainkan peranan penting dalam membentuk medium antarbintang. | |||
==== Bintang ganda ==== | ==== Bintang ganda ==== | ||
Evolusi [[bintang ganda]] atau bintang biner dapat berbeda secara signifikan dari evolusi bintang tunggal dengan massa yang sama. Sebagai contoh, ketika sebuah bintang mengembang menjadi raksasa merah, ia dapat meluap melebihi [[Batas Roche|lobus Roche]]-nya, yakni wilayah di sekitarnya tempat materi terikat padanya secara gravitasi; jika bintang-bintang di dalam sistem biner berjarak cukup dekat, sebagian dari materi tersebut dapat meluap ke bintang lainnya, menghasilkan fenomena-fenomena yang meliputi [[bintang ganda sentuh|biner sentuh]], biner [[selubung sekerabat]], [[Bintang variabel kataklismik|variabel kataklismik]], [[pengembara biru]], dan supernova [[Supernova Tipe Ia|Tipe Ia]]. Transfer massa berujung pada kasus-kasus seperti [[paradoks Algol]], di mana bintang yang paling berevolusi di dalam suatu sistem justru merupakan yang paling rendah massanya. | Evolusi [[bintang ganda]] atau bintang biner dapat berbeda secara signifikan dari evolusi bintang tunggal dengan massa yang sama. Sebagai contoh, ketika sebuah bintang mengembang menjadi raksasa merah, ia dapat meluap melebihi [[Batas Roche|lobus Roche]]-nya, yakni wilayah di sekitarnya tempat materi terikat padanya secara gravitasi; jika bintang-bintang di dalam sistem biner berjarak cukup dekat, sebagian dari materi tersebut dapat meluap ke bintang lainnya, menghasilkan fenomena-fenomena yang meliputi [[bintang ganda sentuh|biner sentuh]], biner [[selubung sekerabat]], [[Bintang variabel kataklismik|variabel kataklismik]], [[pengembara biru]],<ref>Emily M. Leiner. ''A Census of Blue Stragglers in Gaia DR2 Open Clusters as a Test of Population Synthesis and Mass Transfer Physics''. ''The Astrophysical Journal''. 2021-01-01. Vol. 908 (2). hlm. 229. doi:10.3847/1538-4357/abd7e9.</ref> dan supernova [[Supernova Tipe Ia|Tipe Ia]]. Transfer massa berujung pada kasus-kasus seperti [[paradoks Algol]], di mana bintang yang paling berevolusi di dalam suatu sistem justru merupakan yang paling rendah massanya.<ref>K. Brogaard. ''The blue straggler V106 in NGC 6791: a prototype progenitor of old single giants masquerading as young''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2018-12-21. Vol. 481 (4). hlm. 5062–5072. doi:10.1093/mnras/sty2504.</ref> | ||
Evolusi bintang ganda dan [[sistem bintang]] tingkat tinggi diteliti secara intensif mengingat begitu banyak bintang yang ditemukan sebagai anggota dari sistem biner. Sekitar separuh dari bintang-bintang mirip Matahari, dan proporsi yang lebih tinggi lagi untuk bintang-bintang yang lebih masif, terbentuk di dalam sistem majemuk, dan hal ini dapat sangat memengaruhi fenomena-fenomena seperti nova dan supernova, pembentukan jenis bintang tertentu, serta pengayaan luar angkasa dengan produk-produk nukleosintesis. | Evolusi bintang ganda dan [[sistem bintang]] tingkat tinggi diteliti secara intensif mengingat begitu banyak bintang yang ditemukan sebagai anggota dari sistem biner. Sekitar separuh dari bintang-bintang mirip Matahari, dan proporsi yang lebih tinggi lagi untuk bintang-bintang yang lebih masif, terbentuk di dalam sistem majemuk, dan hal ini dapat sangat memengaruhi fenomena-fenomena seperti nova dan supernova, pembentukan jenis bintang tertentu, serta pengayaan luar angkasa dengan produk-produk nukleosintesis.<ref>Giacomo Beccari. [https://books.google.com/books?id=Um2MDwAAQBAJ The Impact of Binary Stars on Stellar Evolution]. Cambridge University Press. 2019. ISBN 978-1-108-42858-3.</ref> | ||
Pengaruh evolusi bintang ganda terhadap pembentukan bintang masif berevolusi seperti [[variabel biru bercahaya]], bintang Wolf–Rayet, dan progenitor dari kelas [[supernova keruntuhan inti]] tertentu masih menjadi perdebatan. Bintang masif tunggal mungkin tidak mampu melontarkan lapisan luarnya dengan cukup cepat untuk membentuk jenis dan jumlah bintang berevolusi yang diamati, atau untuk menghasilkan progenitor yang akan meledak sebagai supernova yang diamati. Transfer massa melalui pelucutan gravitasi di dalam sistem biner dipandang oleh beberapa astronom sebagai solusi bagi masalah tersebut. | Pengaruh evolusi bintang ganda terhadap pembentukan bintang masif berevolusi seperti [[variabel biru bercahaya]], bintang Wolf–Rayet, dan progenitor dari kelas [[supernova keruntuhan inti]] tertentu masih menjadi perdebatan. Bintang masif tunggal mungkin tidak mampu melontarkan lapisan luarnya dengan cukup cepat untuk membentuk jenis dan jumlah bintang berevolusi yang diamati, atau untuk menghasilkan progenitor yang akan meledak sebagai supernova yang diamati. Transfer massa melalui pelucutan gravitasi di dalam sistem biner dipandang oleh beberapa astronom sebagai solusi bagi masalah tersebut.<ref>Sung-Chul Yoon. ''Type Ib and IIb Supernova Progenitors in Interacting Binary Systems''. ''The Astrophysical Journal''. 2017. Vol. 840 (1). hlm. 10. doi:10.3847/1538-4357/aa6afe.</ref><ref>L. A. S. McClelland. ''Helium stars: Towards an understanding of Wolf-Rayet evolution''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2016. Vol. 459 (2). hlm. 1505. doi:10.1093/mnras/stw618.</ref><ref>T. Shenar. ''Why binary interaction does not necessarily dominate the formation of Wolf-Rayet stars at low metallicity''. ''Astronomy and Astrophysics''. 2020. Vol. 634. hlm. A79. doi:10.1051/0004-6361/201936948.</ref> | ||
== Distribusi == | == Distribusi == | ||
Bintang-bintang tidak tersebar secara merata di seluruh alam semesta melainkan biasanya dikelompokkan ke dalam galaksi bersama dengan gas dan debu antarbintang. Sebuah galaksi besar pada umumnya seperti Bima Sakti mengandung ratusan miliar bintang. Terdapat lebih dari 2 triliun () galaksi, meskipun sebagian besar di antaranya memiliki massa kurang dari 10% massa Bima Sakti.<ref>Henry Fountain. [https://www.nytimes.com/2016/10/18/science/two-trillion-galaxies-at-the-very-least.html Two Trillion Galaxies, at the Very Least]. ''The New York Times''. 2016-10-17.</ref> Secara keseluruhan, kemungkinan terdapat antara dan bintang,<ref>Staff. [https://www.esa.int/Our_Activities/Space_Science/Herschel/How_many_stars_are_there_in_the_Universe How Many Stars Are There In The Universe?]. ''Badan Antariksa Eropa''. 2019.</ref><ref>Mikhail Ya. Marov. [https://archive.org/details/fundamentalsofmo0000maro The Fundamentals of Modern Astrophysics]. 2015. hlm. [https://archive.org/details/fundamentalsofmo0000maro/page/279 279]–294. doi:10.1007/978-1-4614-8730-2_10. ISBN 978-1-4614-8729-6.</ref> yang mana jumlahnya lebih banyak daripada seluruh [[Pasir|butiran pasir]] di planet Bumi.<ref>Glen Mackie. [http://astronomy.swin.edu.au/~gmackie/billions.html To see the Universe in a Grain of Taranaki Sand]. ''Centre for Astrophysics and Supercomputing''. 2002-02-01.</ref><ref>Seth Borenstein. [https://www.nbcnews.com/id/wbna40454979 Universe's Star Count Could Triple]. 2010-12-01.</ref><ref>Pieter G. Van Dokkum. [https://archive.org/details/sim_nature-uk_2010-12-16_468_7326/page/940 A substantial population of low-mass stars in luminous elliptical galaxies]. ''Nature''. 2010. Vol. 468 (7326). hlm. 940–942. doi:10.1038/nature09578.</ref> Sebagian besar bintang berada di dalam galaksi, tetapi antara 10 hingga 50% cahaya bintang di dalam [[gugus galaksi]] besar mungkin berasal dari bintang-bintang di luar galaksi mana pun.<ref>[http://hubblesite.org/newscenter/archive/releases/1997/02/text/ Hubble Finds Intergalactic Stars]. Hubble News Desk. 1997-01-14.</ref><ref>Ewald Puchwein. ''Intracluster stars in simulations with active galactic nucleus feedback''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2010-08-01. Vol. 406 (2). hlm. 936–951. doi:10.1111/j.1365-2966.2010.16786.x.</ref><ref>Yen-Ting Lin. [https://archive.org/details/sim_astrophysical-journal_2004-12-20_617_2/page/879 K-band Properties of Galaxy Clusters and Groups: Brightest Cluster Galaxies and Intracluster Light]. ''The Astrophysical Journal''. 2004-12-20. Vol. 617 (2). hlm. 879–895. doi:10.1086/425412.</ref> | |||
Sebuah sistem multi-bintang terdiri dari dua atau lebih bintang yang terikat secara gravitasi yang [[dinamika bintang|saling mengorbit satu sama lain]]. Sistem multi-bintang yang paling sederhana dan paling umum adalah bintang ganda, namun terdapat pula sistem dengan tiga bintang atau lebih. Demi alasan stabilitas orbit, sistem multi-bintang semacam itu sering kali diatur ke dalam hierarki kumpulan bintang ganda.<ref>Victor G. Szebehely. [https://archive.org/details/stabilityofsolar0000nato Stability of the Solar System and Its Minor Natural and Artificial Bodies]. Springer. 1985. ISBN 978-90-277-2046-7.</ref> Kelompok yang lebih besar disebut gugus bintang. Ini berkisar dari [[asosiasi bintang]] yang renggang dengan hanya beberapa bintang hingga [[gugus terbuka]] dengan puluhan hingga ribuan bintang, hingga [[gugus bola]] raksasa dengan ratusan ribu bintang. Sistem semacam ini mengorbit galaksi induknya. Semua bintang di dalam gugus terbuka atau gugus bola terbentuk dari [[awan molekuler raksasa]] yang sama, sehingga biasanya semua anggota memiliki usia dan komposisi yang serupa.<ref>Bradley W. Carroll. ''An Introduction to Modern Astrophysics''. Cambridge University Press. 7 September 2017. ISBN 978-1108422161.</ref> | |||
Banyak bintang yang telah diamati, dan sebagian besar atau semuanya mungkin pada awalnya terbentuk di dalam sistem multi-bintang yang terikat secara gravitasi. Hal ini berlaku khususnya untuk bintang kelas O dan B yang sangat masif, yang mana 80% di antaranya diyakini merupakan bagian dari sistem multi-bintang. Proporsi sistem bintang tunggal meningkat seiring dengan menurunnya massa bintang, sehingga hanya 25% dari katai merah yang diketahui memiliki pendamping bintang. Mengingat 85% dari semua bintang merupakan katai merah, lebih dari dua pertiga bintang di Bima Sakti kemungkinan merupakan katai merah tunggal.<ref>[http://www.cfa.harvard.edu/news/2006/pr200611.html Most Milky Way Stars Are Single]. Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. 2006-01-30.</ref> Dalam sebuah studi tahun 2017 terhadap [[awan molekuler Perseus]], para astronom menemukan bahwa sebagian besar bintang yang baru terbentuk berada di dalam sistem biner. Dalam model yang paling mampu menjelaskan data tersebut, semua bintang pada awalnya terbentuk sebagai bintang ganda, meskipun beberapa di antaranya kemudian berpisah dan menyisakan bintang tunggal.<ref>Robert Sanders. [https://news.berkeley.edu/2017/06/13/new-evidence-that-all-stars-are-born-in-pairs/ New evidence that all stars are born in pairs]. ''Berkeley News''. 2017-06-13.</ref><ref>Sarah I. Sadavoy. ''Embedded binaries and their dense cores''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. August 2017. Vol. 469 (4). hlm. 3881–3900. doi:10.1093/mnras/stx1061.</ref> | |||
Banyak bintang yang telah diamati, dan sebagian besar atau semuanya mungkin pada awalnya terbentuk di dalam sistem multi-bintang yang terikat secara gravitasi. Hal ini berlaku khususnya untuk bintang kelas O dan B yang sangat masif, yang mana 80% di antaranya diyakini merupakan bagian dari sistem multi-bintang. Proporsi sistem bintang tunggal meningkat seiring dengan menurunnya massa bintang, sehingga hanya 25% dari katai merah yang diketahui memiliki pendamping bintang. Mengingat 85% dari semua bintang merupakan katai merah, lebih dari dua pertiga bintang di Bima Sakti kemungkinan merupakan katai merah tunggal. Dalam sebuah studi tahun 2017 terhadap [[awan molekuler Perseus]], para astronom menemukan bahwa sebagian besar bintang yang baru terbentuk berada di dalam sistem biner. Dalam model yang paling mampu menjelaskan data tersebut, semua bintang pada awalnya terbentuk sebagai bintang ganda, meskipun beberapa di antaranya kemudian berpisah dan menyisakan bintang tunggal. | |||
Bintang terdekat dari Bumi, selain Matahari, adalah [[Proxima Centauri]], yang berjarak sejauh . Dengan melakukan perjalanan pada kecepatan orbit [[Pesawat Ulang Alik]], yakni , akan memakan waktu sekitar 150.000 tahun untuk tiba di sana. Ini merupakan karakteristik umum dari pemisahan bintang di dalam [[cakram galaksi]]. Bintang dapat saling berdekatan di pusat galaksi dan di dalam gugus bola, atau terpisah lebih jauh di dalam [[sferoid galaksi|halo galaksi]]. | Bintang terdekat dari Bumi, selain Matahari, adalah [[Proxima Centauri]], yang berjarak sejauh . Dengan melakukan perjalanan pada kecepatan orbit [[Pesawat Ulang Alik]], yakni , akan memakan waktu sekitar 150.000 tahun untuk tiba di sana.<ref>/ ( × 24 × 365.25) = .</ref> Ini merupakan karakteristik umum dari pemisahan bintang di dalam [[cakram galaksi]].<ref>J. Holmberg. ''The local density of matter mapped by Hipparcos''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2000. Vol. 313 (2). hlm. 209–216. doi:10.1046/j.1365-8711.2000.02905.x.</ref> Bintang dapat saling berdekatan di pusat galaksi dan di dalam gugus bola,<ref>David Norby. [https://astronomy.com/magazine/ask-astro/2006/01/how-close-can-stars-get-to-each-other-in-galaxy-cores How close can stars get to each other in galaxy cores?]. ''Astronomy.com''. 2006-01-01.</ref><ref>Raffaele Gratton. [https://link.springer.com/article/10.1007/s00159-019-0119-3 What is a globular cluster? An observational perspective]. ''The Astronomy and Astrophysics Review''. 2019-05-15. Vol. 27 (1). hlm. 8. doi:10.1007/s00159-019-0119-3.</ref> atau terpisah lebih jauh di dalam [[sferoid galaksi|halo galaksi]].<ref>[https://imagine.gsfc.nasa.gov/features/cosmic/nearest_star_info.html Imagine the Universe!]. ''imagine.gsfc.nasa.gov''.</ref> | ||
Akibat jarak yang relatif sangat jauh di antara bintang-bintang di luar nukleus galaksi, tabrakan antarbintang diyakini jarang terjadi. Di wilayah-wilayah yang lebih padat seperti inti dari gugus bola atau pusat galaksi, tabrakan dapat lebih sering terjadi. Tabrakan semacam itu dapat menghasilkan apa yang dikenal sebagai [[pengembara biru]]. Bintang-bintang abnormal ini memiliki suhu permukaan yang lebih tinggi dan karenanya berwarna lebih biru dibandingkan dengan bintang-bintang pada [[titik belok deret utama]] di dalam gugus tempatnya berada; dalam evolusi bintang standar, pengembara biru seharusnya sudah berevolusi keluar dari deret utama dan dengan demikian tidak akan terlihat di dalam gugus tersebut. | Akibat jarak yang relatif sangat jauh di antara bintang-bintang di luar nukleus galaksi, tabrakan antarbintang diyakini jarang terjadi. Di wilayah-wilayah yang lebih padat seperti inti dari gugus bola atau pusat galaksi, tabrakan dapat lebih sering terjadi.<ref>[http://archives.cnn.com/2000/TECH/space/06/02/stellar.collisions/ Astronomers: Star collisions are rampant, catastrophic]. CNN News. 2000-06-02.</ref> Tabrakan semacam itu dapat menghasilkan apa yang dikenal sebagai [[pengembara biru]]. Bintang-bintang abnormal ini memiliki suhu permukaan yang lebih tinggi dan karenanya berwarna lebih biru dibandingkan dengan bintang-bintang pada [[titik belok deret utama]] di dalam gugus tempatnya berada; dalam evolusi bintang standar, pengembara biru seharusnya sudah berevolusi keluar dari deret utama dan dengan demikian tidak akan terlihat di dalam gugus tersebut.<ref>J. C. Jr. Lombardi. [https://archive.org/details/sim_astrophysical-journal_2002-04-01_568_2/page/938 Stellar Collisions and the Interior Structure of Blue Stragglers]. ''The Astrophysical Journal''. 2002. Vol. 568 (2). hlm. 939–953. doi:10.1086/339060.</ref> | ||
== Karakteristik == | == Karakteristik == | ||
| Baris 161: | Baris 151: | ||
=== Usia === | === Usia === | ||
Sebagian besar bintang berusia antara 1 miliar dan 10 miliar tahun. Beberapa bintang bahkan mungkin berusia mendekati 13,8 miliar tahun—[[usia alam semesta]] yang teramati saat ini. Bintang tertua yang sejauh ini ditemukan, [[HD 140283]], yang dijuluki bintang Metusalah, diperkirakan berusia 14,46 ± 0,8 miliar tahun.<ref>H. E. Bond. ''HD 140283: A Star in the Solar Neighborhood that Formed Shortly After the Big Bang''. ''The Astrophysical Journal Letters''. 2013. Vol. 765 (1). hlm. L12. doi:10.1088/2041-8205/765/1/L12.</ref> (Akibat ketidakpastian dalam nilainya, usia bintang ini tidak bertentangan dengan usia alam semesta, yang ditentukan oleh [[Planck (wahana antariksa)|satelit Planck]] sebesar 13,799 ± 0,021).<ref>H. E. Bond. ''HD 140283: A Star in the Solar Neighborhood that Formed Shortly After the Big Bang''. ''The Astrophysical Journal Letters''. 2013. Vol. 765 (1). hlm. L12. doi:10.1088/2041-8205/765/1/L12.</ref><ref>Planck Collaboration. ''Planck 2015 results. XIII. Cosmological parameters (See Table 4 on page 31 of pfd)''. ''Astronomy & Astrophysics''. 2016. Vol. 594. hlm. A13. doi:10.1051/0004-6361/201525830.</ref> | |||
Semakin masif sebuah bintang, semakin pendek masa hidupnya, utamanya karena bintang bermassa besar memiliki tekanan yang lebih tinggi pada intinya, yang menyebabkannya membakar hidrogen dengan lebih cepat. Bintang yang paling masif bertahan rata-rata selama beberapa juta tahun, sementara bintang dengan massa minimum (katai merah) membakar bahan bakarnya dengan sangat lambat dan dapat bertahan hingga puluhan bahkan ratusan miliar tahun.<ref>S. A. Naftilan. [https://www.scientificamerican.com/article/how-do-scientists-determi/ How do scientists determine the ages of stars? Is the technique really accurate enough to use it to verify the age of the universe?]. 2006-07-13.</ref><ref>G. Laughlin. ''The End of the Main Sequence''. ''The Astrophysical Journal''. 1997. Vol. 482 (1). hlm. 420–432. doi:10.1086/304125.</ref> | |||
{| class="wikitable" style="text-align: center;" | |||
|+ Masa hidup dari berbagai tahap evolusi bintang dalam miliar tahun<ref>Onno R. Pols. ''Stellar evolution models for Z = 0.0001 to 0.03''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 1998. Vol. 298 (2). hlm. 525. doi:10.1046/j.1365-8711.1998.01658.x.</ref> | |||
|- | |||
! Massa Awal () | |||
!width="20%"| Deret Utama | |||
!width="20%"| Subraksasa | |||
!width="20%"| Raksasa Merah Pertama | |||
!width="20%"| Pembakaran He Inti | |||
|- | |||
| 1.0 || 9.33 || 2.57 || 0.76 || 0.13 | |||
|- | |||
| 1.6 || 2.28 || 0.03 || 0.12 || 0.13 | |||
|- | |||
| 2.0 || 1.20 || 0.01 || 0.02 || 0.28 | |||
|- | |||
| 5.0 || 0.10 || 0.0004 || 0.0003 || 0.02 | |||
|} | |||
=== Komposisi kimia === | === Komposisi kimia === | ||
Ketika bintang-bintang terbentuk di galaksi Bima Sakti saat ini, mereka terdiri atas sekitar 71% hidrogen dan 27% helium, jika diukur berdasarkan massa, beserta sebagian kecil unsur-unsur yang lebih berat.<ref>Judith A. Irwin. [https://archive.org/details/astrophysicsdeco0000judi Astrophysics: Decoding the Cosmos]. John Wiley and Sons. 2007. hlm. [https://archive.org/details/astrophysicsdeco0000judi/page/78 78]. ISBN 978-0-470-01306-9.</ref> Biasanya, porsi unsur berat diukur melalui kandungan besi pada atmosfer bintang, mengingat besi adalah unsur yang umum dan garis absorpsinya relatif mudah untuk diukur. Porsi unsur yang lebih berat ini dapat menjadi indikator kemungkinan bintang tersebut memiliki sistem keplanetan.<ref>D. A. Fischer. ''The Planet-Metallicity Correlation''. ''The Astrophysical Journal''. 2005. Vol. 622 (2). hlm. 1102–1117. doi:10.1086/428383.</ref> | |||
bintang dengan kandungan besi terendah yang pernah diukur adalah katai HE1327-2326, dengan kandungan besi hanya sekitar 1/200.000 dari yang dimiliki Matahari.<ref>[https://www.sciencedaily.com/releases/2005/04/050417162354.htm Signatures Of The First Stars]. ''ScienceDaily''. April 17, 2005.</ref> Sebaliknya, bintang sangat kaya logam [[Mu Leonis|μ Leonis]] memiliki kelimpahan besi hampir dua kali lipat dari Matahari, sedangkan bintang pembawa planet [[14 Herculis]] memiliki hampir tiga kali lipat kandungan besi.<ref>S. Feltzing. [http://lup.lub.lu.se/search/ws/files/4419103/624132.pdf The nature of super-metal-rich stars: Detailed abundance analysis of 8 super-metal-rich star candidates]. ''Astronomy & Astrophysics''. 2000. Vol. 367 (1). hlm. 253–265. doi:10.1051/0004-6361:20000477.</ref> [[Bintang ganjil]] secara kimiawi menunjukkan kelimpahan yang tidak biasa dari unsur-unsur tertentu di dalam spektrumnya; terutama [[kromium]] dan [[unsur tanah jarang]].<ref>David F. Gray. [https://archive.org/details/observationanaly0000gray/page/413 The Observation and Analysis of Stellar Photospheres]. Cambridge University Press. 1992. hlm. [https://archive.org/details/observationanaly0000gray/page/413 413–414]. ISBN 978-0-521-40868-4.</ref> Bintang-bintang dengan atmosfer luar yang lebih dingin, termasuk Matahari, dapat membentuk berbagai molekul diatomik dan poliatomik.<ref>Uffe G. Jørgensen. [https://books.google.com/books?id=VW50otz5v8sC&pg=PA446 Molecules in Astrophysics: Probes and Processes]. Springer Science & Business Media. 1997. Vol. 178. hlm. 446. ISBN 978-0792345381.</ref> | |||
bintang dengan kandungan besi terendah yang pernah diukur adalah katai HE1327-2326, dengan kandungan besi hanya sekitar 1/200.000 dari yang dimiliki Matahari. Sebaliknya, bintang sangat kaya logam [[Mu Leonis|μ Leonis]] memiliki kelimpahan besi hampir dua kali lipat dari Matahari, sedangkan bintang pembawa planet [[14 Herculis]] memiliki hampir tiga kali lipat kandungan besi. [[Bintang ganjil]] secara kimiawi menunjukkan kelimpahan yang tidak biasa dari unsur-unsur tertentu di dalam spektrumnya; terutama [[kromium]] dan [[unsur tanah jarang]]. Bintang-bintang dengan atmosfer luar yang lebih dingin, termasuk Matahari, dapat membentuk berbagai molekul diatomik dan poliatomik. | |||
=== Diameter === | === Diameter === | ||
Akibat jaraknya yang sangat jauh dari Bumi, semua bintang kecuali Matahari tampak oleh mata telanjang sebagai titik-titik bercahaya di langit malam yang [[Kelap-kelip|berkelap-kelip]] karena efek atmosfer Bumi. Matahari berjarak cukup dekat dengan Bumi sehingga ia justru tampak sebagai sebuah piringan, dan memberikan cahaya di siang hari. Selain Matahari, bintang dengan ukuran semu terbesar adalah [[R Doradus]], dengan [[diameter sudut]] hanya 0,057 [[detik busur]].<ref>[http://www.eso.org/public/news/eso9706/ The Biggest Star in the Sky]. ESO. 1997-03-11.</ref> | |||
Piringan sebagian besar bintang memiliki [[diameter sudut|ukuran sudut]] yang terlampau kecil untuk dapat diamati menggunakan teleskop optik berbasis darat saat ini, sehingga teleskop [[interferometri|interferometer]] diperlukan untuk menghasilkan citra dari objek-objek tersebut. Teknik lain untuk mengukur ukuran sudut bintang adalah melalui [[okultasi]]. Dengan mengukur secara presisi penurunan kecerahan sebuah bintang saat mengalami okultasi oleh [[Bulan]] (atau peningkatan kecerahannya saat ia kembali muncul), diameter sudut bintang tersebut dapat dihitung.<ref>S. Ragland. ''Angular Diameter of Carbon Star Tx-Piscium from Lunar Occultation Observations in the Near Infrared''. ''Journal of Astrophysics and Astronomy''. 1995. Vol. 16. hlm. 332.</ref> | |||
Ukuran bintang berkisar dari bintang neutron, yang bervariasi antara 20 hingga diameternya, hingga [[maharaksasa]] seperti [[Betelgeuse]] di [[Orion (rasi bintang)|rasi bintang Orion]], yang memiliki diameter sekitar 640 kali lipat diameter Matahari<ref>M. Mittag. ''Chromospheric activity and photospheric variation of α Ori during the great dimming event in 2020''. ''Astronomy & Astrophysics''. January 2023. Vol. 669. hlm. A9. doi:10.1051/0004-6361/202244924.</ref> dengan [[massa jenis]] yang jauh lebih rendah.<ref>Kate Davis. [http://www.aavso.org/vstar/vsots/1200.shtml Variable Star of the Month – December, 2000: Alpha Orionis]. AAVSO. 2000-12-01.</ref> | |||
Ukuran bintang berkisar dari bintang neutron, yang bervariasi antara 20 hingga diameternya, hingga [[maharaksasa]] seperti [[Betelgeuse]] di [[Orion (rasi bintang)|rasi bintang Orion]], yang memiliki diameter sekitar 640 kali lipat diameter Matahari dengan [[massa jenis]] yang jauh lebih rendah. | |||
=== Kinematika === | === Kinematika === | ||
Pergerakan sebuah bintang relatif terhadap Matahari dapat memberikan informasi yang berguna mengenai asal-usul dan usia bintang tersebut, beserta struktur dan evolusi galaksi di sekitarnya.<ref>Joss Bland-Hawthorn. [https://books.google.com/books?id=pTTABAAAQBAJ&pg=PA114 The Origin of the Galaxy and Local Group]. Springer Berlin Heidelberg. 2014. hlm. 114. ISBN 978-3642417207.</ref> Komponen-komponen pergerakan sebuah bintang terdiri dari [[kecepatan radial]] yang mendekati atau menjauhi Matahari, serta pergerakan sudut transversal, yang disebut sebagai gerak dirinya.<ref>D. Scott Birney. [https://books.google.com/books?id=vrA-BAAAQBAJ&pg=PA73 Observational Astronomy]. Cambridge University Press. 2006. hlm. 72–79. ISBN 978-1316139400.</ref> | |||
Kecepatan radial diukur melalui [[efek Doppler|geseran Doppler]] pada garis spektrum bintang dan dinyatakan dalam satuan km/[[detik|s]]. Gerak diri dari sebuah bintang, yaitu paralaksnya, ditentukan melalui pengukuran astrometri presisi dalam satuan mili-[[detik busur]] (mas) per tahun. Dengan mengetahui paralaks bintang beserta jaraknya, kecepatan gerak diri tersebut dapat dihitung. Bersama dengan kecepatan radial, kecepatan totalnya pun dapat dihitung. Bintang dengan tingkat gerak diri yang tinggi kemungkinan besar berjarak relatif dekat dengan Matahari, sehingga menjadikannya kandidat yang baik untuk pengukuran paralaks.<ref>[http://www.rssd.esa.int/index.php?project=HIPPARCOS Hipparcos: High Proper Motion Stars]. ESA. 1999-09-10.</ref> | |||
Ketika kedua tingkat pergerakan tersebut diketahui, [[kecepatan ruang (astronomi)|kecepatan ruang]] bintang relatif terhadap Matahari atau galaksi dapat dihitung. Di antara bintang-bintang di dekatnya, telah ditemukan bahwa bintang populasi I yang lebih muda umumnya memiliki kecepatan yang lebih rendah dibandingkan dengan bintang populasi II yang lebih tua. Bintang populasi II tersebut memiliki orbit elips yang miring terhadap bidang galaksi.<ref>Hugh M. Johnson. ''The Kinematics and Evolution of Population I Stars''. ''Publications of the Astronomical Society of the Pacific''. 1957. Vol. 69 (406). hlm. 54. doi:10.1086/127012.</ref> Perbandingan terhadap kinematika dari bintang-bintang terdekat telah memungkinkan para astronom untuk melacak asal-usul mereka ke titik-titik yang sama di dalam awan molekuler raksasa; kelompok-kelompok dengan titik asal yang sama ini disebut sebagai [[asosiasi bintang]].<ref>B. Elmegreen. [http://www.americanscientist.org/template/AssetDetail/assetid/15714/page/1 The Formation of Star Clusters]. ''American Scientist''. 1999. Vol. 86 (3). hlm. 264. doi:10.1511/1998.3.264.</ref> | |||
Ketika kedua tingkat pergerakan tersebut diketahui, [[kecepatan ruang (astronomi)|kecepatan ruang]] bintang relatif terhadap Matahari atau galaksi dapat dihitung. Di antara bintang-bintang di dekatnya, telah ditemukan bahwa bintang populasi I yang lebih muda umumnya memiliki kecepatan yang lebih rendah dibandingkan dengan bintang populasi II yang lebih tua. Bintang populasi II tersebut memiliki orbit elips yang miring terhadap bidang galaksi. Perbandingan terhadap kinematika dari bintang-bintang terdekat telah memungkinkan para astronom untuk melacak asal-usul mereka ke titik-titik yang sama di dalam awan molekuler raksasa; kelompok-kelompok dengan titik asal yang sama ini disebut sebagai [[asosiasi bintang]]. | |||
=== Medan magnet === | === Medan magnet === | ||
[[Medan magnet]] bintang dihasilkan di dalam wilayah interiornya tempat terjadinya sirkulasi konvektif. Pergerakan plasma konduktif ini berfungsi layaknya sebuah [[teori dinamo|dinamo]], di mana pergerakan muatan listrik menginduksi medan magnet, seperti halnya pada dinamo mekanik. Medan magnet ini memiliki jangkauan besar yang membentang ke seluruh bagian maupun ke luar bintang. Kekuatan medan magnet bervariasi bergantung pada massa dan komposisi bintang, sementara besaran aktivitas magnetik permukaannya bergantung pada tingkat rotasi bintang tersebut. Aktivitas permukaan ini menghasilkan [[bintik bintang]], yang mana merupakan wilayah dengan medan magnet kuat dan bersuhu permukaan lebih rendah dari kondisi normal. [[Lengkungan korona]] merupakan garis fluks medan magnet melengkung yang naik dari permukaan bintang menuju ke atmosfer luarnya, yakni korona. Lengkungan korona tersebut dapat terlihat berkat plasma yang mengalir di sepanjang lengkungan itu. [[Suar bintang]] merupakan semburan partikel berenergi tinggi yang dipancarkan akibat aktivitas magnetik yang sama.<ref>Jerome James Brainerd. [http://www.astrophysicsspectator.com/topics/observation/XRayCorona.html X-rays from Stellar Coronas]. The Astrophysics Spectator. 2005-07-06.</ref> | |||
Bintang-bintang muda yang berotasi cepat cenderung memiliki tingkat aktivitas permukaan yang tinggi dikarenakan medan magnetnya. Medan magnet ini dapat memengaruhi angin bintang dari suatu bintang, yang berfungsi layaknya rem untuk secara bertahap memperlambat tingkat rotasinya seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, bintang-bintang yang lebih tua seperti Matahari memiliki tingkat rotasi yang jauh lebih lambat dan tingkat aktivitas permukaan yang lebih rendah. Tingkat aktivitas dari bintang yang berotasi lambat cenderung bervariasi dalam siklus tertentu dan dapat berhenti sama sekali selama beberapa waktu.<ref>A. A. Michelson. [http://solarphysics.livingreviews.org/Articles/lrsp-2005-8/ Starspots: A Key to the Stellar Dynamo]. ''Living Reviews in Solar Physics''. 2005. Vol. 2 (1). hlm. 8. doi:10.12942/lrsp-2005-8.</ref> Selama [[Batas Maunder|Minimum Maunder]], misalnya, Matahari mengalami periode selama 70 tahun yang nyaris tanpa adanya aktivitas bintik matahari.<ref>V. M. S. Carrasco. ''Sunspot Characteristics at the Onset of the Maunder Minimum Based on the Observations of Hevelius''. ''The Astrophysical Journal''. 2019. Vol. 886 (1). hlm. 18. doi:10.3847/1538-4357/ab4ade.</ref> | |||
Bintang-bintang muda yang berotasi cepat cenderung memiliki tingkat aktivitas permukaan yang tinggi dikarenakan medan magnetnya. Medan magnet ini dapat memengaruhi angin bintang dari suatu bintang, yang berfungsi layaknya rem untuk secara bertahap memperlambat tingkat rotasinya seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, bintang-bintang yang lebih tua seperti Matahari memiliki tingkat rotasi yang jauh lebih lambat dan tingkat aktivitas permukaan yang lebih rendah. Tingkat aktivitas dari bintang yang berotasi lambat cenderung bervariasi dalam siklus tertentu dan dapat berhenti sama sekali selama beberapa waktu. Selama [[Batas Maunder|Minimum Maunder]], misalnya, Matahari mengalami periode selama 70 tahun yang nyaris tanpa adanya aktivitas bintik matahari. | |||
=== Massa === | === Massa === | ||
Bintang memiliki massa yang berkisar mulai dari kurang dari separuh massa surya hingga lebih dari 200 massa surya (lihat [[Daftar bintang paling masif]]). Salah satu bintang paling masif yang diketahui adalah [[Eta Carinae]],<ref>Nathan Smith. [http://www.astrosociety.org/pubs/mercury/9804/eta.html The Behemoth Eta Carinae: A Repeat Offender]. ''Mercury Magazine''. 1998. Vol. 27 (4). hlm. 20.</ref> yang, dengan massa 100–150 kali lipat massa Matahari, hanya akan memiliki masa hidup selama beberapa juta tahun. Berbagai studi terhadap gugus terbuka yang paling masif menunjukkan sebagai batas atas kasar untuk bintang-bintang di era alam semesta saat ini.<ref>C. Weidner. ''Evidence for a fundamental stellar upper mass limit from clustered star formation''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2004-02-11. Vol. 348 (1). hlm. 187–191. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07340.x.</ref> Hal ini mewakili sebuah nilai empiris bagi batas teoretis pada massa pembentukan bintang yang diakibatkan oleh meningkatnya tekanan radiasi pada awan gas yang terakresi. Sejumlah bintang di dalam gugus [[R136]] di [[Awan Magellan Besar]] telah diukur memiliki massa yang lebih besar,<ref>R. Hainich. ''The Wolf-Rayet stars in the Large Magellanic Cloud''. ''Astronomy & Astrophysics''. 2014. Vol. 565. hlm. A27. doi:10.1051/0004-6361/201322696.</ref> namun telah ditentukan bahwa bintang-bintang ini kemungkinan diciptakan melalui tabrakan dan penggabungan bintang-bintang masif dalam sistem biner jarak dekat, sehingga menghindari batas pada pembentukan bintang masif.<ref>Sambaran Banerjee. ''The emergence of super-canonical stars in R136-type starburst clusters''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2012-10-21. Vol. 426 (2). hlm. 1416–1426. doi:10.1111/j.1365-2966.2012.21672.x.</ref> | |||
Bintang | Bintang-bintang pertama yang terbentuk setelah Ledakan Dahsyat kemungkinan berukuran lebih besar, yakni hingga mencapai ,<ref>[http://www.cfa.harvard.edu/news/2005/pr200531.html Ferreting Out The First Stars]. Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. 2005-09-22.</ref> dikarenakan sama sekali tidak adanya unsur-unsur yang lebih berat daripada [[litium]] dalam komposisi mereka. Generasi [[bintang populasi III]] supermasif ini kemungkinan pernah ada di alam semesta yang sangat awal (yakni, mereka diamati memiliki pergeseran merah yang tinggi), dan kemungkinan telah mengawali produksi unsur-unsur kimia yang lebih berat daripada [[hidrogen]] yang dibutuhkan bagi pembentukan planet dan kehidupan di kemudian hari. Pada bulan Juni 2015, para astronom melaporkan adanya bukti bintang Populasi III di dalam galaksi [[Cosmos Redshift 7]] pada titik .<ref>David Sobral. ''Evidence For POPIII-Like Stellar Populations In The Most Luminous LYMAN-α Emitters At The Epoch Of Re-Ionisation: Spectroscopic Confirmation''. ''The Astrophysical Journal''. 2015-06-04. Vol. 808 (2). hlm. 139. doi:10.1088/0004-637x/808/2/139.</ref><ref>Dennis Overbye. [https://www.nytimes.com/2015/06/18/science/space/astronomers-report-finding-earliest-stars-that-enriched-cosmos.html Astronomers Report Finding Earliest Stars That Enriched Cosmos]. ''The New York Times''. 2015-06-17.</ref> | ||
Dengan massa yang hanya 80 kali lipat dari Jupiter (), [[2MASS J0523-1403]] merupakan bintang terkecil yang diketahui tengah mengalami fusi nuklir di dalam intinya.<ref>[http://simbad.u-strasbg.fr/simbad/sim-id?Name=2MASS%20J05233822-1403022&Ident=%40788130&submit=submit 2MASS J05233822-1403022]. SIMBAD – Centre de Données astronomiques de Strasbourg.</ref> Untuk bintang-bintang yang memiliki metalisitas mirip dengan Matahari, massa minimum teoretis yang dapat dimiliki sebuah bintang namun masih mengalami fusi di bagian inti, diperkirakan adalah sekitar 75 .<ref>Alan Boss. [http://www.carnegieinstitution.org/News4-3,2001.html Are They Planets or What?]. Carnegie Institution of Washington. 2001-04-03.</ref><ref>David Shiga. [http://www.newscientistspace.com/article/dn9771-mass-cutoff-between-stars-and-brown-dwarfs-revealed.html Mass cut-off between stars and brown dwarfs revealed]. 2006-08-17.</ref> Ketika metalisitasnya sangat rendah, ukuran minimum bintang tampaknya berada di kisaran 8,3% dari massa surya, atau sekitar 87 .<ref>David Shiga. [http://www.newscientistspace.com/article/dn9771-mass-cutoff-between-stars-and-brown-dwarfs-revealed.html Mass cut-off between stars and brown dwarfs revealed]. 2006-08-17.</ref><ref>Elli Leadbeater. [http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/5260008.stm Hubble glimpses faintest stars]. BBC. 2006-08-18.</ref> Benda-benda yang lebih kecil yang disebut [[katai cokelat]], menempati area abu-abu yang batasannya kurang jelas di antara bintang dan [[raksasa gas]].<ref>Alan Boss. [http://www.carnegieinstitution.org/News4-3,2001.html Are They Planets or What?]. Carnegie Institution of Washington. 2001-04-03.</ref><ref>David Shiga. [http://www.newscientistspace.com/article/dn9771-mass-cutoff-between-stars-and-brown-dwarfs-revealed.html Mass cut-off between stars and brown dwarfs revealed]. 2006-08-17.</ref> | |||
Kombinasi antara jari-jari dan massa sebuah bintang menentukan gravitasi permukaannya. Bintang-bintang raksasa memiliki gravitasi permukaan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan bintang deret utama, sementara hal yang sebaliknya terjadi pada bintang padat yang terdegenerasi seperti katai putih. Gravitasi permukaan ini dapat memengaruhi tampilan dari spektrum sebuah bintang, di mana gravitasi yang lebih tinggi menyebabkan pelebaran pada [[garis spektral|garis-garis absorpsinya]].<ref>Albrecht Unsöld. ''The New Cosmos''. Springer. 2001. hlm. 180–185, 215–216. ISBN 978-3-540-67877-9.</ref> | |||
Kombinasi antara jari-jari dan massa sebuah bintang menentukan gravitasi permukaannya. Bintang-bintang raksasa memiliki gravitasi permukaan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan bintang deret utama, sementara hal yang sebaliknya terjadi pada bintang padat yang terdegenerasi seperti katai putih. Gravitasi permukaan ini dapat memengaruhi tampilan dari spektrum sebuah bintang, di mana gravitasi yang lebih tinggi menyebabkan pelebaran pada [[garis spektral|garis-garis absorpsinya]]. | |||
=== Rotasi === | === Rotasi === | ||
Tingkat rotasi bintang dapat ditentukan melalui [[spektroskopi|pengukuran spektroskopi]], atau ditentukan secara lebih tepat dengan melacak [[bintik bintang]]nya. Bintang muda dapat memiliki rotasi lebih dari 100 km/s di bagian ekuator. Bintang kelas B [[Achernar]], sebagai contoh, memiliki kecepatan ekuatorial sekitar 225 km/s atau lebih, yang menyebabkan [[gembungan ekuatorial|ekuatornya menggembung ke luar]] dan memberinya diameter ekuatorial yang lebih dari 50% lebih besar daripada jarak antar kutubnya. Tingkat rotasi ini berada tepat di bawah kecepatan kritis 300 km/s, di mana pada kecepatan tersebut bintang itu akan hancur.<ref>[http://www.eso.org/public/news/eso0316/ Flattest Star Ever Seen]. ESO. 2003-06-11.</ref> Sebaliknya, Matahari berotasi sekali setiap 25–35 hari bergantung pada garis lintangnya,<ref>[https://www.nasa.gov/mission_pages/sunearth/science/solar-rotation.html Solar Rotation Varies by Latitude]. NASA. 2013-01-23.</ref> dengan kecepatan ekuatorial 1,93 km/s.<ref>R. Howard. [https://archive.org/details/solar-physics_1970-04_12_1/page/23 Spectroscopic Determinations of Solar Rotation]. ''Solar Physics''. 1970. Vol. 12 (1). hlm. 23–51. doi:10.1007/BF02276562.</ref> Medan magnet dan angin bintang dari sebuah bintang deret utama berfungsi untuk memperlambat rotasinya dalam jumlah yang signifikan seiring dengan evolusinya di deret utama.<ref>Richard Fitzpatrick. [http://farside.ph.utexas.edu/teaching/plasma/lectures/lectures.html Introduction to Plasma Physics: A graduate course]. The University of Texas at Austin. 2006-02-13.</ref> | |||
[[Bintang terdegenerasi]] telah mengerut menjadi massa yang padat, yang menghasilkan tingkat rotasi yang cepat. Namun, mereka memiliki tingkat rotasi yang relatif rendah jika dibandingkan dengan apa yang diharapkan dari kekekalan momentum sudut—yakni kecenderungan benda yang berotasi untuk mengimbangi penyusutan ukurannya dengan meningkatkan tingkat putarannya. Sebagian besar momentum sudut bintang dihamburkan sebagai akibat dari kehilangan massa melalui angin bintang.<ref>Massimo Villata. ''Angular momentum loss by a stellar wind and rotational velocities of white dwarfs''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 1992. Vol. 257 (3). hlm. 450–454. doi:10.1093/mnras/257.3.450.</ref> Terlepas dari hal ini, tingkat rotasi sebuah pulsar bisa menjadi sangat cepat. Pulsar di pusat [[Nebula Kepiting]], sebagai contoh, berotasi 30 kali per detik.<ref>[http://hubblesite.org/newscenter/archive/releases/1996/22/astrofile/ A History of the Crab Nebula]. ESO. 1996-05-30.</ref> Tingkat rotasi pulsar ini akan secara bertahap melambat akibat pancaran radiasi.<ref>[http://www.jb.man.ac.uk/distance/frontiers/pulsars/section1.html Properties of Pulsars]. ''Frontiers of Modern Astronomy''. Jodrell Bank Observatory, University of Manchester.</ref> | |||
[[Bintang terdegenerasi]] telah mengerut menjadi massa yang padat, yang menghasilkan tingkat rotasi yang cepat. Namun, mereka memiliki tingkat rotasi yang relatif rendah jika dibandingkan dengan apa yang diharapkan dari kekekalan momentum sudut—yakni kecenderungan benda yang berotasi untuk mengimbangi penyusutan ukurannya dengan meningkatkan tingkat putarannya. Sebagian besar momentum sudut bintang dihamburkan sebagai akibat dari kehilangan massa melalui angin bintang. Terlepas dari hal ini, tingkat rotasi sebuah pulsar bisa menjadi sangat cepat. Pulsar di pusat [[Nebula Kepiting]], sebagai contoh, berotasi 30 kali per detik. Tingkat rotasi pulsar ini akan secara bertahap melambat akibat pancaran radiasi. | |||
=== Suhu === | === Suhu === | ||
Suhu permukaan sebuah bintang deret utama ditentukan oleh tingkat produksi energi di intinya beserta jari-jarinya, dan sering kali diperkirakan dari [[indeks warna]] bintang tersebut. | Suhu permukaan sebuah bintang deret utama ditentukan oleh tingkat produksi energi di intinya beserta jari-jarinya, dan sering kali diperkirakan dari [[indeks warna]] bintang tersebut.<ref>Nick Strobel. [http://www.astronomynotes.com/starprop/s5.htm Properties of Stars: Color and Temperature]. ''Astronomy Notes''. Primis/McGraw-Hill, Inc. 2007-08-20.</ref> | ||
Suhu ini biasanya dinyatakan dalam bentuk [[suhu efektif]], yakni suhu dari benda hitam ideal yang memancarkan energinya pada luminositas per satuan luas permukaan yang sama dengan bintang tersebut. Suhu efektif hanyalah representasi dari bagian permukaan, mengingat suhu akan meningkat ke arah inti. Suhu di bagian inti bintang mencapai beberapa juta [[kelvin]]. | Suhu ini biasanya dinyatakan dalam bentuk [[suhu efektif]], yakni suhu dari benda hitam ideal yang memancarkan energinya pada luminositas per satuan luas permukaan yang sama dengan bintang tersebut. Suhu efektif hanyalah representasi dari bagian permukaan, mengingat suhu akan meningkat ke arah inti.<ref>Courtney Seligman. [http://cseligman.com/text/stars/heatflowreview.htm Review of Heat Flow Inside Stars]. ''Self-published''.</ref> Suhu di bagian inti bintang mencapai beberapa juta [[kelvin]].<ref>[http://www.astrophysicsspectator.com/topics/stars/MainSequence.html Main Sequence Stars]. The Astrophysics Spectator. 2005-02-16.</ref> | ||
Suhu bintang akan menentukan tingkat ionisasi berbagai unsur, yang menghasilkan garis-garis absorpsi karakteristik di dalam spektrum. Suhu permukaan bintang, bersama dengan [[magnitudo mutlak]] visual dan fitur-fitur absorpsinya, digunakan untuk mengklasifikasikan sebuah bintang (lihat klasifikasi di bawah). | Suhu bintang akan menentukan tingkat ionisasi berbagai unsur, yang menghasilkan garis-garis absorpsi karakteristik di dalam spektrum. Suhu permukaan bintang, bersama dengan [[magnitudo mutlak]] visual dan fitur-fitur absorpsinya, digunakan untuk mengklasifikasikan sebuah bintang (lihat klasifikasi di bawah).<ref>Albrecht Unsöld. ''The New Cosmos''. Springer. 2001. hlm. 180–185, 215–216. ISBN 978-3-540-67877-9.</ref> | ||
Bintang deret utama bermassa besar dapat memiliki suhu permukaan hingga 50.000 K. Bintang yang lebih kecil seperti Matahari memiliki suhu permukaan berkisar pada beberapa ribu K. Raksasa merah memiliki suhu permukaan yang relatif rendah sekitar 3.600 K; tetapi mereka memiliki luminositas yang tinggi berkat luas permukaan luarnya yang besar. | Bintang deret utama bermassa besar dapat memiliki suhu permukaan hingga 50.000 K. Bintang yang lebih kecil seperti Matahari memiliki suhu permukaan berkisar pada beberapa ribu K. Raksasa merah memiliki suhu permukaan yang relatif rendah sekitar 3.600 K; tetapi mereka memiliki luminositas yang tinggi berkat luas permukaan luarnya yang besar.<ref>Michael A. Zeilik. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil Introductory Astronomy & Astrophysics]. Saunders College Publishing. 1998. hlm. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil/page/320 321]. ISBN 978-0-03-006228-5.</ref> | ||
== Radiasi == | == Radiasi == | ||
Energi yang dihasilkan oleh bintang, sebuah produk dari fusi nuklir, memancar ke luar angkasa baik sebagai [[radiasi elektromagnetik]] maupun [[radiasi partikel]]. Radiasi partikel yang dipancarkan oleh bintang bermanifestasi sebagai angin bintang,<ref>Steve Koppes. [http://www-news.uchicago.edu/releases/03/030620.parker.shtml University of Chicago physicist receives Kyoto Prize for lifetime achievements in science]. The University of Chicago News Office. 2003-06-20.</ref> yang mengalir dari lapisan-lapisan luar berupa partikel bermuatan listrik seperti [[proton]] beserta [[partikel alfa|alfa]] dan [[partikel beta]]. Aliran neutrino yang nyaris tanpa massa secara konstan memancar langsung dari inti bintang.<ref>Bradley W. Carroll. ''An Introduction to Modern Astrophysics''. Cambridge University Press. 2017. ISBN 978-1108422161.</ref> | |||
Produksi energi di inti inilah yang menjadi alasan mengapa bintang bersinar begitu terang: setiap kali dua atau lebih inti atom berfusi membentuk satu [[inti atom]] tunggal dari unsur baru yang lebih berat, [[foton]] [[sinar gama]] dilepaskan dari produk fusi nuklir tersebut. Energi ini dikonversikan ke dalam bentuk [[energi elektromagnetik]] lain dengan frekuensi yang lebih rendah, seperti cahaya tampak, pada saat energi tersebut mencapai lapisan luar bintang.<ref>Bradley W. Carroll. ''An Introduction to Modern Astrophysics''. Cambridge University Press. 2017. ISBN 978-1108422161.</ref> | |||
Produksi energi di inti inilah yang menjadi alasan mengapa bintang bersinar begitu terang: setiap kali dua atau lebih inti atom berfusi membentuk satu [[inti atom]] tunggal dari unsur baru yang lebih berat, [[foton]] [[sinar gama]] dilepaskan dari produk fusi nuklir tersebut. Energi ini dikonversikan ke dalam bentuk [[energi elektromagnetik]] lain dengan frekuensi yang lebih rendah, seperti cahaya tampak, pada saat energi tersebut mencapai lapisan luar bintang. | |||
Warna sebuah bintang, sebagaimana ditentukan oleh [[frekuensi]] cahaya tampak yang paling intens, bergantung pada suhu lapisan luar bintang tersebut, termasuk [[fotosfer]]nya. Selain cahaya tampak, bintang-bintang memancarkan bentuk-bentuk radiasi elektromagnetik yang tidak terlihat oleh [[mata manusia]]. Faktanya, radiasi elektromagnetik bintang membentang di seluruh bagian [[spektrum elektromagnetik]], mulai dari [[panjang gelombang]] terpanjang berupa [[frekuensi radio|gelombang radio]] lalu [[inframerah]], cahaya tampak, [[ultraviolet]], hingga yang terpendek berupa [[sinar-X]], dan sinar gama. Dari sudut pandang total energi yang dipancarkan oleh sebuah bintang, tidak semua komponen radiasi elektromagnetik bintang itu signifikan, namun semua frekuensi memberikan wawasan akan fisika bintang tersebut. | Warna sebuah bintang, sebagaimana ditentukan oleh [[frekuensi]] cahaya tampak yang paling intens, bergantung pada suhu lapisan luar bintang tersebut, termasuk [[fotosfer]]nya.<ref>[http://outreach.atnf.csiro.au/education/senior/astrophysics/photometry_colour.html The Colour of Stars]. Australian Telescope Outreach and Education.</ref> Selain cahaya tampak, bintang-bintang memancarkan bentuk-bentuk radiasi elektromagnetik yang tidak terlihat oleh [[mata manusia]]. Faktanya, radiasi elektromagnetik bintang membentang di seluruh bagian [[spektrum elektromagnetik]], mulai dari [[panjang gelombang]] terpanjang berupa [[frekuensi radio|gelombang radio]] lalu [[inframerah]], cahaya tampak, [[ultraviolet]], hingga yang terpendek berupa [[sinar-X]], dan sinar gama. Dari sudut pandang total energi yang dipancarkan oleh sebuah bintang, tidak semua komponen radiasi elektromagnetik bintang itu signifikan, namun semua frekuensi memberikan wawasan akan fisika bintang tersebut.<ref>Bradley W. Carroll. ''An Introduction to Modern Astrophysics''. Cambridge University Press. 2017. ISBN 978-1108422161.</ref> | ||
Dengan menggunakan [[spektrum bintang]], para astronom dapat menentukan suhu permukaan, [[gravitasi permukaan]], metalisitas, dan kecepatan [[rotasi]] sebuah bintang. Jika jarak dari sebuah bintang diketahui, seperti melalui pengukuran paralaks, maka luminositas bintang tersebut dapat diturunkan. Massa, jari-jari, gravitasi permukaan, dan periode rotasinya kemudian dapat diperkirakan berdasarkan model-model bintang. (Massa dapat dihitung untuk bintang-bintang di dalam [[Bintang ganda|sistem biner]] dengan mengukur kecepatan orbit dan jaraknya. [[Pelensaan mikro gravitasi]] telah digunakan untuk mengukur massa sebuah bintang tunggal.) Dengan parameter-parameter ini, para astronom dapat memperkirakan usia bintang tersebut. | Dengan menggunakan [[spektrum bintang]], para astronom dapat menentukan suhu permukaan, [[gravitasi permukaan]], metalisitas, dan kecepatan [[rotasi]] sebuah bintang. Jika jarak dari sebuah bintang diketahui, seperti melalui pengukuran paralaks, maka luminositas bintang tersebut dapat diturunkan. Massa, jari-jari, gravitasi permukaan, dan periode rotasinya kemudian dapat diperkirakan berdasarkan model-model bintang. (Massa dapat dihitung untuk bintang-bintang di dalam [[Bintang ganda|sistem biner]] dengan mengukur kecepatan orbit dan jaraknya. [[Pelensaan mikro gravitasi]] telah digunakan untuk mengukur massa sebuah bintang tunggal.<ref>[http://hubblesite.org/newscenter/archive/releases/2004/24/text/ Astronomers Measure Mass of a Single Star – First Since the Sun]. Hubble News Desk. 2004-07-15.</ref>) Dengan parameter-parameter ini, para astronom dapat memperkirakan usia bintang tersebut.<ref>D. R. Garnett. [https://archive.org/details/sim_astrophysical-journal_2000-04-01_532_2/page/1192 Distance Dependence in the Solar Neighborhood Age-Metallicity Relation]. ''The Astrophysical Journal''. 2000. Vol. 532 (2). hlm. 1192–1196. doi:10.1086/308617.</ref> | ||
=== Luminositas === | === Luminositas === | ||
Luminositas sebuah bintang adalah jumlah cahaya dan bentuk-bentuk [[energi radiasi]] lain yang dipancarkannya per satuan waktu. Luminositas memiliki satuan [[daya (fisika)|daya]]. Luminositas sebuah bintang ditentukan oleh jari-jari dan suhu permukaannya. Banyak bintang yang tidak memancarkan radiasi secara merata di seluruh permukaannya. Bintang yang berotasi cepat seperti [[Vega]], misalnya, memiliki [[fluks energi]] (daya per satuan luas) yang lebih tinggi di kutub-kutubnya dibandingkan dengan di sepanjang ekuatornya. | Luminositas sebuah bintang adalah jumlah cahaya dan bentuk-bentuk [[energi radiasi]] lain yang dipancarkannya per satuan waktu. Luminositas memiliki satuan [[daya (fisika)|daya]]. Luminositas sebuah bintang ditentukan oleh jari-jari dan suhu permukaannya. Banyak bintang yang tidak memancarkan radiasi secara merata di seluruh permukaannya. Bintang yang berotasi cepat seperti [[Vega]], misalnya, memiliki [[fluks energi]] (daya per satuan luas) yang lebih tinggi di kutub-kutubnya dibandingkan dengan di sepanjang ekuatornya.<ref>Staff. [http://www.noao.edu/outreach/press/pr06/pr0603.html Rapidly Spinning Star Vega has Cool Dark Equator]. National Optical Astronomy Observatory. 2006-01-10.</ref> | ||
Bercak-bercak di permukaan bintang dengan suhu dan luminositas yang lebih rendah dari rata-rata dikenal sebagai [[bintik matahari|bintik bintang]]. Bintang ''katai'' berukuran kecil seperti Matahari umumnya memiliki piringan yang pada dasarnya tanpa fitur khusus, dengan hanya bintik bintang berukuran kecil. Bintang ''raksasa'' memiliki bintik bintang yang jauh lebih besar dan lebih jelas, dan mereka menunjukkan efek [[penggelapan tepi]] bintang yang kuat. Yakni, kecerahannya menurun ke arah tepi piringan bintang tersebut. [[Bintang suar]] katai merah seperti [[UV Ceti]] dapat memiliki fitur bintik bintang yang menonjol. | Bercak-bercak di permukaan bintang dengan suhu dan luminositas yang lebih rendah dari rata-rata dikenal sebagai [[bintik matahari|bintik bintang]]. Bintang ''katai'' berukuran kecil seperti Matahari umumnya memiliki piringan yang pada dasarnya tanpa fitur khusus, dengan hanya bintik bintang berukuran kecil. Bintang ''raksasa'' memiliki bintik bintang yang jauh lebih besar dan lebih jelas,<ref>A. A. Michelson. [http://solarphysics.livingreviews.org/Articles/lrsp-2005-8/ Starspots: A Key to the Stellar Dynamo]. ''Living Reviews in Solar Physics''. 2005. Vol. 2 (1). hlm. 8. doi:10.12942/lrsp-2005-8.</ref> dan mereka menunjukkan efek [[penggelapan tepi]] bintang yang kuat. Yakni, kecerahannya menurun ke arah tepi piringan bintang tersebut.<ref>A. Manduca. [https://archive.org/details/astronomy-and-astrophysics_1977-12_61_6/page/809 Limb darkening coefficients for late-type giant model atmospheres]. ''Astronomy and Astrophysics''. 1977. Vol. 61 (6). hlm. 809–813.</ref> [[Bintang suar]] katai merah seperti [[UV Ceti]] dapat memiliki fitur bintik bintang yang menonjol.<ref>P. F. Chugainov. ''On the Cause of Periodic Light Variations of Some Red Dwarf Stars''. ''Information Bulletin on Variable Stars''. 1971. Vol. 520. hlm. 1–3.</ref> | ||
=== Magnitudo === | === Magnitudo === | ||
[[Kecerahan]] semu dari sebuah bintang dinyatakan dalam bentuk [[magnitudo semu]]nya. Hal ini merupakan fungsi dari luminositas bintang, jaraknya dari Bumi, efek [[ekstingsi (astronomi)|ekstingsi]] dari gas dan [[debu antarbintang]], serta perubahan cahaya bintang saat melewati atmosfer Bumi. Magnitudo intrinsik atau mutlak berhubungan langsung dengan luminositas bintang, dan merupakan nilai magnitudo semu dari sebuah bintang jika jarak antara Bumi dan bintang tersebut adalah 10 parsec (32,6 tahun cahaya).<ref>Lawrence. [https://books.google.com/books?id=YTyUDwAAQBAJ&pg=PA252 Celestial Calculations: A Gentle Introduction to Computational Astronomy]. Massachusetts Institute of Technology Press. 2019. hlm. 252. ISBN 978-0-262-53663-9.</ref> | |||
{| class="wikitable" style="float: right; margin-left: 1em;" | |||
|+ Jumlah bintang yang lebih terang dari magnitudo tertentu | |||
!Magnitudo<br />semu | |||
!Jumlah<br />bintang<ref>[http://www.nso.edu/PR/answerbook/magnitude.html Magnitude]. National Solar Observatory – Sacramento Peak.</ref> | |||
|- style="text-align: center;" | |||
||0 | |||
||4 | |||
|- style="text-align: center;" | |||
||1 | |||
||15 | |||
|- style="text-align: center;" | |||
||2 | |||
||48 | |||
|- style="text-align: center;" | |||
||3 | |||
||171 | |||
|- style="text-align: center;" | |||
||4 | |||
||513 | |||
|- style="text-align: center;" | |||
||5 | |||
||1.602 | |||
|- style="text-align: center;" | |||
||6 | |||
||4.800 | |||
|- style="text-align: center;" | |||
||7 | |||
||14.000 | |||
|} | |||
Baik skala magnitudo semu maupun mutlak merupakan [[unit logaritmik]]: perbedaan satu angka penuh dalam magnitudo setara dengan variasi kecerahan sekitar 2,5 kali lipat ([[akar ke-n|akar pangkat 5]] dari 100 atau sekitar 2,512). Hal ini berarti bahwa sebuah [[bintang magnitudo pertama]] (+1,00) berukuran sekitar 2,5 kali lebih terang daripada bintang bermagnitudo [[bintang magnitudo kedua|kedua]] (+2,00), dan sekitar 100 kali lebih terang daripada sebuah [[bintang magnitudo keenam]] (+6,00). Bintang paling redup yang terlihat oleh mata telanjang di bawah kondisi pengamatan yang baik memiliki magnitudo sekitar +6. | Baik skala magnitudo semu maupun mutlak merupakan [[unit logaritmik]]: perbedaan satu angka penuh dalam magnitudo setara dengan variasi kecerahan sekitar 2,5 kali lipat<ref>[http://outreach.atnf.csiro.au/education/senior/astrophysics/photometry_luminosity.html Luminosity of Stars]. Australian Telescope Outreach and Education.</ref> ([[akar ke-n|akar pangkat 5]] dari 100 atau sekitar 2,512). Hal ini berarti bahwa sebuah [[bintang magnitudo pertama]] (+1,00) berukuran sekitar 2,5 kali lebih terang daripada bintang bermagnitudo [[bintang magnitudo kedua|kedua]] (+2,00), dan sekitar 100 kali lebih terang daripada sebuah [[bintang magnitudo keenam]] (+6,00). Bintang paling redup yang terlihat oleh mata telanjang di bawah kondisi pengamatan yang baik memiliki magnitudo sekitar +6.<ref>Nicolson. [https://books.google.com/books?id=5iacbufd4kEC&pg=PA134 Unfolding Our Universe]. Cambridge University Press. 1999. hlm. 134. ISBN 978-0-521-59270-3.</ref> | ||
Pada skala magnitudo semu maupun mutlak, semakin kecil angka magnitudonya, semakin terang bintang tersebut; semakin besar angka magnitudonya, semakin redup bintang tersebut. Bintang yang paling terang, pada kedua skala tersebut, memiliki angka magnitudo negatif. Variasi kecerahan (Δ''L'') di antara dua bintang dihitung dengan mengurangi angka magnitudo bintang yang lebih terang (''m''<sub>b</sub>) dari angka magnitudo bintang yang lebih redup (''m''<sub>f</sub>), lalu menggunakan selisihnya sebagai eksponen untuk bilangan pokok 2,512; dengan kata lain: | Pada skala magnitudo semu maupun mutlak, semakin kecil angka magnitudonya, semakin terang bintang tersebut; semakin besar angka magnitudonya, semakin redup bintang tersebut. Bintang yang paling terang, pada kedua skala tersebut, memiliki angka magnitudo negatif. Variasi kecerahan (Δ''L'') di antara dua bintang dihitung dengan mengurangi angka magnitudo bintang yang lebih terang (''m''<sub>b</sub>) dari angka magnitudo bintang yang lebih redup (''m''<sub>f</sub>), lalu menggunakan selisihnya sebagai eksponen untuk bilangan pokok 2,512; dengan kata lain: | ||
| Baris 253: | Baris 274: | ||
:<math>2.512^{\Delta{m}} = \Delta{L}</math> | :<math>2.512^{\Delta{m}} = \Delta{L}</math> | ||
Mengingat kaitannya dengan luminositas sekaligus jarak dari Bumi, magnitudo mutlak (''M'') dan magnitudo semu (''m'') dari sebuah bintang tidaklah setara; sebagai contoh, bintang terang Sirius memiliki magnitudo semu sebesar −1,44, tetapi memiliki magnitudo mutlak sebesar +1,41. | Mengingat kaitannya dengan luminositas sekaligus jarak dari Bumi, magnitudo mutlak (''M'') dan magnitudo semu (''m'') dari sebuah bintang tidaklah setara;<ref>[http://outreach.atnf.csiro.au/education/senior/astrophysics/photometry_luminosity.html Luminosity of Stars]. Australian Telescope Outreach and Education.</ref> sebagai contoh, bintang terang Sirius memiliki magnitudo semu sebesar −1,44, tetapi memiliki magnitudo mutlak sebesar +1,41. | ||
Matahari memiliki magnitudo semu sebesar −26,7, tetapi magnitudo mutlaknya hanya +4,83. Sirius, bintang paling terang di langit malam seperti yang terlihat dari Bumi, kira-kira 23 kali lebih bercahaya daripada Matahari, sementara [[Canopus]], bintang paling terang kedua di langit malam dengan magnitudo mutlak −5,53, kira-kira 14.000 kali lebih bercahaya daripada Matahari. Meskipun Canopus jauh lebih bercahaya daripada Sirius, Sirius tampak lebih terang di antara keduanya. Hal ini dikarenakan Sirius hanya berjarak 8,6 tahun cahaya dari Bumi, sementara Canopus berjarak jauh lebih jauh pada jarak 310 tahun cahaya. | Matahari memiliki magnitudo semu sebesar −26,7, tetapi magnitudo mutlaknya hanya +4,83. Sirius, bintang paling terang di langit malam seperti yang terlihat dari Bumi, kira-kira 23 kali lebih bercahaya daripada Matahari, sementara [[Canopus]], bintang paling terang kedua di langit malam dengan magnitudo mutlak −5,53, kira-kira 14.000 kali lebih bercahaya daripada Matahari. Meskipun Canopus jauh lebih bercahaya daripada Sirius, Sirius tampak lebih terang di antara keduanya. Hal ini dikarenakan Sirius hanya berjarak 8,6 tahun cahaya dari Bumi, sementara Canopus berjarak jauh lebih jauh pada jarak 310 tahun cahaya.<ref>[https://books.google.com/books?id=zLkOAQAAIAAJ Astounding Science Fact & Fiction]. Street & Smith. 1960. hlm. 7.</ref> | ||
[[Daftar bintang paling terang|Bintang paling bercahaya yang diketahui]] memiliki magnitudo mutlak kira-kira −12, yang setara dengan 6 juta kali luminositas Matahari. Secara teoretis, bintang yang paling tidak bercahaya berada pada batas bawah massa di mana bintang mampu menopang fusi nuklir hidrogen di dalam intinya; bintang yang berada tepat di atas batas ini telah ditemukan di dalam gugus [[NGC 6397]]. Katai merah paling redup di gugus tersebut memiliki magnitudo mutlak 15, sementara sebuah katai putih dengan magnitudo mutlak ke-17 telah ditemukan. | [[Daftar bintang paling terang|Bintang paling bercahaya yang diketahui]] memiliki magnitudo mutlak kira-kira −12, yang setara dengan 6 juta kali luminositas Matahari.<ref>Joachim M. Bestenlehner. ''The R136 star cluster dissected with Hubble Space Telescope/STIS – II. Physical properties of the most massive stars in R136''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2020-10-17. Vol. 499 (2). hlm. 1918–1936. doi:10.1093/mnras/staa2801.</ref> Secara teoretis, bintang yang paling tidak bercahaya berada pada batas bawah massa di mana bintang mampu menopang fusi nuklir hidrogen di dalam intinya; bintang yang berada tepat di atas batas ini telah ditemukan di dalam gugus [[NGC 6397]]. Katai merah paling redup di gugus tersebut memiliki magnitudo mutlak 15, sementara sebuah katai putih dengan magnitudo mutlak ke-17 telah ditemukan.<ref>[http://hubblesite.org/newscenter/archive/releases/2006/37/image/a/ Faintest Stars in Globular Cluster NGC 6397]. HubbleSite. August 17, 2006.</ref><ref>H. B. Richer. [https://archive.org/details/sim_science_2006-08-18_313_5789/page/936 Probing the Faintest Stars in a Globular Star Cluster]. ''Science''. 18 August 2006. Vol. 313 (5789). hlm. 936–940. doi:10.1126/science.1130691.</ref> | ||
== Klasifikasi == | == Klasifikasi == | ||
{| class="wikitable" style="float: right; text-align: center; margin-left: 1em;" | |||
|+ Rentang suhu permukaan untuk<br />berbagai kelas bintang<ref>Gene Smith. [http://casswww.ucsd.edu/public/tutorial/Stars.html Stellar Spectra]. University of California, San Diego. 1999-04-16.</ref> | |||
! Kelas | |||
! Suhu | |||
! Contoh bintang | |||
|- style="background: " | |||
| O | |||
| 33.000 K atau lebih | |||
| [[Zeta Ophiuchi]] | |||
|- style="background: " | |||
| B | |||
| 10.500–30.000 K | |||
| [[Rigel]] | |||
|- style="background: " | |||
| A | |||
| 7.500–10.000 K | |||
| [[Altair]] | |||
|- style="background: " | |||
| F | |||
| 6.000–7.200 K | |||
| [[Procyon|Procyon A]] | |||
|- style="background: " | |||
| G | |||
| 5.500–6.000 K | |||
| [[Matahari]] | |||
|- style="background: " | |||
| K | |||
| 4.000–5.250 K | |||
| [[Epsilon Indi]] | |||
|- style="background: " | |||
| M | |||
| 2.600–3.850 K | |||
| [[Proxima Centauri]] | |||
|} | |||
Sistem klasifikasi bintang saat ini bermula pada awal abad ke-20, ketika bintang-bintang diklasifikasikan dari ''A'' hingga ''Q'' berdasarkan kekuatan [[garis spektrum hidrogen|garis hidrogen]].<ref>A. Fowler. ''The Draper Catalogue of Stellar Spectra''. ''Nature''. April 1891. Vol. 45 (1166). hlm. 427–428. doi:10.1038/045427a0.</ref> Kala itu, kekuatan garis hidrogen dianggap sebagai fungsi linier sederhana dari suhu. Namun nyatanya, hal ini lebih rumit: kekuatan ini meningkat seiring dengan kenaikan suhu, mencapai puncaknya di sekitar 9.000 K, dan kemudian menurun pada suhu yang lebih tinggi. Sejak saat itu, klasifikasi tersebut diurutkan kembali berdasarkan suhu, yang menjadi dasar bagi skema modern saat ini.<ref>Carlos Jaschek. [https://archive.org/details/classificationof0000jasc The Classification of Stars]. Cambridge University Press. 1990. hlm. [https://archive.org/details/classificationof0000jasc/page/31 31]–48. ISBN 978-0-521-38996-9.</ref> | |||
Bintang-bintang diberi klasifikasi huruf tunggal berdasarkan spektrumnya, mulai dari tipe ''O'', yang sangat panas, hingga ''M'', yang sangat dingin sehingga molekul dapat terbentuk di atmosfernya. Klasifikasi utamanya, secara berurutan dari suhu permukaan tertinggi ke terendah, adalah: ''O, B, A, F, G, K'', dan ''M''. Berbagai jenis tipe spektrum yang langka diberikan klasifikasi khusus. Yang paling umum dari klasifikasi khusus ini adalah tipe ''L'' dan ''T'', yang mengklasifikasikan bintang bermassa rendah paling dingin serta katai cokelat. Masing-masing huruf memiliki 10 subdivisi, yang diberi nomor dari 0 hingga 9, dalam urutan suhu yang semakin menurun. Meskipun demikian, sistem ini tidak berlaku pada suhu yang terlampau tinggi mengingat kelas ''O0'' dan ''O1'' mungkin saja tidak ada.<ref>Alan M MacRobert. [http://www.skyandtelescope.com/howto/basics/3305876.html The Spectral Types of Stars]. Sky and Telescope.</ref> | |||
Bintang-bintang diberi klasifikasi huruf tunggal berdasarkan spektrumnya, mulai dari tipe ''O'', yang sangat panas, hingga ''M'', yang sangat dingin sehingga molekul dapat terbentuk di atmosfernya. Klasifikasi utamanya, secara berurutan dari suhu permukaan tertinggi ke terendah, adalah: ''O, B, A, F, G, K'', dan ''M''. Berbagai jenis tipe spektrum yang langka diberikan klasifikasi khusus. Yang paling umum dari klasifikasi khusus ini adalah tipe ''L'' dan ''T'', yang mengklasifikasikan bintang bermassa rendah paling dingin serta katai cokelat. Masing-masing huruf memiliki 10 subdivisi, yang diberi nomor dari 0 hingga 9, dalam urutan suhu yang semakin menurun. Meskipun demikian, sistem ini tidak berlaku pada suhu yang terlampau tinggi mengingat kelas ''O0'' dan ''O1'' mungkin saja tidak ada. | |||
Selain itu, bintang juga dapat diklasifikasikan berdasarkan efek luminositas yang ditemukan di dalam garis spektrumnya, yang berhubungan dengan ukuran spasialnya dan ditentukan oleh gravitasi permukaannya. Klasifikasi ini berkisar dari ''0'' ([[hiperraksasa]]) lalu ''III'' ([[bintang raksasa|raksasa]]) hingga ''V'' (katai deret utama); beberapa penulis menambahkan ''VII'' (katai putih). Bintang deret utama berada di sepanjang pita diagonal yang sempit saat digambarkan ke dalam grafik berdasarkan magnitudo mutlak dan tipe spektrumnya. Matahari adalah sebuah katai kuning deret utama bersuhu sedang dan berukuran biasa dengan klasifikasi ''G2V''. | Selain itu, bintang juga dapat diklasifikasikan berdasarkan efek luminositas yang ditemukan di dalam garis spektrumnya, yang berhubungan dengan ukuran spasialnya dan ditentukan oleh gravitasi permukaannya. Klasifikasi ini berkisar dari ''0'' ([[hiperraksasa]]) lalu ''III'' ([[bintang raksasa|raksasa]]) hingga ''V'' (katai deret utama); beberapa penulis menambahkan ''VII'' (katai putih). Bintang deret utama berada di sepanjang pita diagonal yang sempit saat digambarkan ke dalam grafik berdasarkan magnitudo mutlak dan tipe spektrumnya.<ref>Alan M MacRobert. [http://www.skyandtelescope.com/howto/basics/3305876.html The Spectral Types of Stars]. Sky and Telescope.</ref> Matahari adalah sebuah katai kuning deret utama bersuhu sedang dan berukuran biasa dengan klasifikasi ''G2V''.<ref>Erika Rix. [https://books.google.com/books?id=7pCKCgAAQBAJ&pg=PA43 Solar Sketching: A Comprehensive Guide to Drawing the Sun]. Springer. 2015. hlm. 43. ISBN 978-1-4939-2901-6.</ref> | ||
Terdapat tata nama tambahan berupa huruf-huruf kecil yang ditambahkan di akhir tipe spektrum untuk menunjukkan fitur-fitur ganjil pada spektrum. Sebagai contoh, "''e''" dapat menunjukkan keberadaan garis emisi; "''m''" mewakili tingkat logam yang kuat secara tidak biasa, dan "''var''" dapat berarti adanya variasi pada tipe spektrum tersebut. | Terdapat tata nama tambahan berupa huruf-huruf kecil yang ditambahkan di akhir tipe spektrum untuk menunjukkan fitur-fitur ganjil pada spektrum. Sebagai contoh, "''e''" dapat menunjukkan keberadaan garis emisi; "''m''" mewakili tingkat logam yang kuat secara tidak biasa, dan "''var''" dapat berarti adanya variasi pada tipe spektrum tersebut.<ref>Alan M MacRobert. [http://www.skyandtelescope.com/howto/basics/3305876.html The Spectral Types of Stars]. Sky and Telescope.</ref> | ||
Bintang katai putih memiliki kelasnya sendiri yang diawali dengan huruf ''D''. Kelas ini dibagi lebih lanjut menjadi kelas ''DA'', ''DB'', ''DC'', ''DO'', ''DZ'', dan ''DQ'', bergantung pada jenis garis menonjol yang ditemukan di dalam spektrum. Huruf ini kemudian diikuti oleh sebuah nilai numerik yang menunjukkan suhu. | Bintang katai putih memiliki kelasnya sendiri yang diawali dengan huruf ''D''. Kelas ini dibagi lebih lanjut menjadi kelas ''DA'', ''DB'', ''DC'', ''DO'', ''DZ'', dan ''DQ'', bergantung pada jenis garis menonjol yang ditemukan di dalam spektrum. Huruf ini kemudian diikuti oleh sebuah nilai numerik yang menunjukkan suhu.<ref>[http://www.physics.uq.edu.au/people/ross/ph3080/whitey.htm White Dwarf (wd) Stars]. White Dwarf Research Corporation.</ref> | ||
== Bintang variabel == | == Bintang variabel == | ||
Bintang variabel memiliki perubahan luminositas yang bersifat periodik atau acak akibat sifat intrinsik atau ekstrinsiknya. Dari bintang variabel intrinsik tersebut, tipe-tipe utamanya dapat dibagi lagi menjadi tiga kelompok prinsip. | Bintang variabel memiliki perubahan luminositas yang bersifat periodik atau acak akibat sifat intrinsik atau ekstrinsiknya. Dari bintang variabel intrinsik tersebut, tipe-tipe utamanya dapat dibagi lagi menjadi tiga kelompok prinsip. | ||
Selama masa evolusi bintangnya, sejumlah bintang melewati fase-fase di mana mereka dapat menjadi variabel berdenyut. Bintang variabel berdenyut bervariasi dalam hal jari-jari dan luminositas seiring waktu, dengan mengembang dan menyusut dalam periode yang berkisar mulai dari hitungan menit hingga tahunan, bergantung pada ukuran bintang tersebut. Kategori ini mencakup [[variabel Cepheid|bintang Cepheid dan mirip Cepheid]], serta variabel berperiode panjang seperti [[variabel Mira|Mira]]. | Selama masa evolusi bintangnya, sejumlah bintang melewati fase-fase di mana mereka dapat menjadi variabel berdenyut. Bintang variabel berdenyut bervariasi dalam hal jari-jari dan luminositas seiring waktu, dengan mengembang dan menyusut dalam periode yang berkisar mulai dari hitungan menit hingga tahunan, bergantung pada ukuran bintang tersebut. Kategori ini mencakup [[variabel Cepheid|bintang Cepheid dan mirip Cepheid]], serta variabel berperiode panjang seperti [[variabel Mira|Mira]].<ref>[http://www.aavso.org/types-variables Types of Variable]. AAVSO. 2010-05-11.</ref> | ||
Variabel letusan adalah bintang yang mengalami peningkatan luminositas secara tiba-tiba akibat suar atau kejadian pelontaran massa. Kelompok ini mencakup protobintang, bintang Wolf-Rayet, dan bintang suar, beserta bintang raksasa dan maharaksasa. | Variabel letusan adalah bintang yang mengalami peningkatan luminositas secara tiba-tiba akibat suar atau kejadian pelontaran massa.<ref>[http://www.aavso.org/types-variables Types of Variable]. AAVSO. 2010-05-11.</ref> Kelompok ini mencakup protobintang, bintang Wolf-Rayet, dan bintang suar, beserta bintang raksasa dan maharaksasa. | ||
Bintang variabel kataklismik atau eksplosif adalah bintang yang mengalami perubahan dramatis dalam sifat-sifatnya. Kelompok ini mencakup [[nova]] dan supernova. Sistem bintang ganda yang mencakup katai putih di dekatnya dapat menghasilkan jenis-jenis tertentu dari ledakan bintang yang spektakuler ini, termasuk di antaranya nova dan supernova Tipe Ia. Ledakan tersebut tercipta ketika katai putih mengakresi hidrogen dari bintang pendampingnya, dan mengumpulkan massa hingga hidrogen tersebut mengalami fusi. Beberapa nova bersifat berulang, di mana mereka memiliki ledakan berkala dengan amplitudo menengah. | Bintang variabel kataklismik atau eksplosif adalah bintang yang mengalami perubahan dramatis dalam sifat-sifatnya. Kelompok ini mencakup [[nova]] dan supernova. Sistem bintang ganda yang mencakup katai putih di dekatnya dapat menghasilkan jenis-jenis tertentu dari ledakan bintang yang spektakuler ini, termasuk di antaranya nova dan supernova Tipe Ia.<ref>Icko Jr. Iben. ''Single and binary star evolution''. ''Astrophysical Journal Supplement Series''. 1991. Vol. 76. hlm. 55–114. doi:10.1086/191565.</ref> Ledakan tersebut tercipta ketika katai putih mengakresi hidrogen dari bintang pendampingnya, dan mengumpulkan massa hingga hidrogen tersebut mengalami fusi.<ref>[http://imagine.gsfc.nasa.gov/docs/science/know_l2/cataclysmic_variables.html Cataclysmic Variables]. NASA Goddard Space Flight Center. 2004-11-01.</ref> Beberapa nova bersifat berulang, di mana mereka memiliki ledakan berkala dengan amplitudo menengah.<ref>[http://www.aavso.org/types-variables Types of Variable]. AAVSO. 2010-05-11.</ref> | ||
Bintang dapat bervariasi dalam hal luminositas akibat faktor-faktor ekstrinsik, seperti pada bintang ganda gerhana, maupun bintang berotasi yang menghasilkan bintik bintang ekstrem. Contoh menonjol dari bintang ganda gerhana adalah Algol, yang magnitudonya bervariasi secara teratur dari 2,1 hingga 3,4 selama periode 2,87 hari. | Bintang dapat bervariasi dalam hal luminositas akibat faktor-faktor ekstrinsik, seperti pada bintang ganda gerhana, maupun bintang berotasi yang menghasilkan bintik bintang ekstrem.<ref>[http://www.aavso.org/types-variables Types of Variable]. AAVSO. 2010-05-11.</ref> Contoh menonjol dari bintang ganda gerhana adalah Algol, yang magnitudonya bervariasi secara teratur dari 2,1 hingga 3,4 selama periode 2,87 hari.<ref>N. N. Samus. ''VizieR Online Data Catalog: General Catalogue of Variable Stars (Samus+ 2007–2013)''. ''VizieR On-line Data Catalog: B/GCVS. Originally Published in: 2009yCat....102025S''. 2009. Vol. 1.</ref> | ||
== Struktur == | == Struktur == | ||
Bagian dalam dari sebuah bintang yang stabil berada dalam keadaan [[kesetimbangan hidrostatik]]: gaya-gaya pada setiap volume kecil hampir secara tepat saling menyeimbangkan satu sama lain. Gaya-gaya yang seimbang tersebut adalah gaya gravitasi yang mengarah ke dalam dan gaya yang mengarah ke luar akibat [[gradien tekanan]] di dalam bintang. Gradien tekanan dibentuk oleh gradien suhu plasma; bagian luar bintang lebih dingin daripada intinya. Suhu pada inti bintang deret utama atau bintang raksasa setidaknya berada pada kisaran . Suhu dan tekanan yang dihasilkan pada inti pembakaran hidrogen di sebuah bintang deret utama sudah cukup untuk terjadinya [[fusi nuklir]] dan untuk menghasilkan energi yang memadai guna mencegah keruntuhan bintang lebih lanjut.<ref>Carl J. Hansen. [https://archive.org/details/springer_10.1007-978-1-4419-9110-2 Stellar Interiors]. Springer. 2004. hlm. [https://archive.org/details/springer_10.1007-978-1-4419-9110-2/page/n44 32]–33. ISBN 978-0-387-20089-7.</ref><ref>Martin Schwarzschild. [https://archive.org/details/structureevoluti0000mart Structure and Evolution of the Stars]. Princeton University Press. 1958. ISBN 978-0-691-08044-4.</ref> | |||
Ketika inti-inti atom berfusi di dalam inti bintang, mereka memancarkan energi dalam bentuk sinar gama. Foton-foton ini berinteraksi dengan plasma di sekitarnya, yang menambah energi termal pada inti tersebut. Bintang-bintang di deret utama mengubah hidrogen menjadi helium, yang menciptakan proporsi helium yang perlahan namun terus meningkat di dalam intinya. Pada akhirnya, kandungan helium menjadi dominan, dan produksi energi pun berhenti di bagian inti. Sebaliknya, untuk bintang-bintang yang bermassa lebih dari , fusi terjadi di sebuah cangkang yang perlahan mengembang di sekitar inti helium yang [[materi terdegenerasi|terdegenerasi]].<ref>[http://aether.lbl.gov/www/tour/elements/stellar/stellar_a.html Formation of the High Mass Elements]. Smoot Group.</ref> | |||
Selain kesetimbangan hidrostatik, bagian dalam dari sebuah bintang yang stabil akan mempertahankan keseimbangan energi berupa [[kesetimbangan termal]]. Terdapat gradien suhu radial di seluruh bagian dalam yang menghasilkan fluks energi yang mengalir ke arah luar. Fluks energi keluar yang meninggalkan lapisan mana pun di dalam bintang akan secara persis menyamai fluks yang masuk dari bawahnya.<ref>R. Q. Huang. [https://books.google.com/books?id=TInvAAAAMAAJ Stellar Astrophysics]. Springer. 1998. hlm. 70. ISBN 978-981-3083-36-3.</ref> | |||
Selain kesetimbangan hidrostatik, bagian dalam dari sebuah bintang yang stabil akan mempertahankan keseimbangan energi berupa [[kesetimbangan termal]]. Terdapat gradien suhu radial di seluruh bagian dalam yang menghasilkan fluks energi yang mengalir ke arah luar. Fluks energi keluar yang meninggalkan lapisan mana pun di dalam bintang akan secara persis menyamai fluks yang masuk dari bawahnya. | |||
[ | |||
[[Zona radiasi]] adalah wilayah di bagian dalam bintang di mana fluks energi ke arah luar bergantung pada perpindahan panas radiatif, mengingat perpindahan panas konvektif tidaklah efisien di zona tersebut. Di wilayah ini, plasma tidak akan terganggu, dan pergerakan massa apa pun akan mereda. Jika kondisinya tidak demikian, maka plasma menjadi tidak stabil dan konveksi akan terjadi, membentuk sebuah [[zona konveksi]]. Hal ini dapat terjadi, sebagai contoh, di wilayah yang memiliki fluks energi yang sangat tinggi, seperti di dekat inti atau di area dengan [[opasitas (optik)|opasitas]] tinggi (yang membuat perpindahan panas radiatif menjadi tidak efisien) seperti pada selubung luar.<ref>Martin Schwarzschild. [https://archive.org/details/structureevoluti0000mart Structure and Evolution of the Stars]. Princeton University Press. 1958. ISBN 978-0-691-08044-4.</ref> | |||
Terjadinya konveksi di selubung luar dari sebuah bintang deret utama bergantung pada massa bintang tersebut. Bintang-bintang yang memiliki massa beberapa kali lipat massa Matahari memiliki zona konveksi jauh di dalam bagian interiornya dan zona radiatif di lapisan luarnya. Bintang-bintang yang lebih kecil seperti Matahari memiliki kondisi yang berkebalikan, dengan zona konvektif berada di lapisan luar.<ref>[http://imagine.gsfc.nasa.gov/docs/science/know_l2/stars.html What is a Star?]. NASA. 2006-09-01.</ref> Bintang katai merah dengan massa kurang dari bersifat konvektif di seluruh bagiannya, yang mencegah terjadinya akumulasi inti helium.<ref>Michael Richmond. [http://spiff.rit.edu/classes/phys230/lectures/planneb/planneb.html Late stages of evolution for low-mass stars]. Rochester Institute of Technology.</ref> Bagi sebagian besar bintang, zona konvektifnya akan bervariasi seiring bertambahnya usia bintang dan berubahnya konstitusi di bagian dalam.<ref>Martin Schwarzschild. [https://archive.org/details/structureevoluti0000mart Structure and Evolution of the Stars]. Princeton University Press. 1958. ISBN 978-0-691-08044-4.</ref> | |||
Fotosfer adalah bagian dari bintang yang dapat dilihat oleh pengamat. Ini merupakan lapisan di mana plasma bintang menjadi transparan terhadap foton cahaya. Dari titik ini, energi yang dihasilkan di inti menjadi bebas untuk merambat ke luar angkasa. Di dalam fotosfer inilah [[bintik matahari]], yakni wilayah dengan suhu lebih rendah dari rata-rata, muncul. | Fotosfer adalah bagian dari bintang yang dapat dilihat oleh pengamat. Ini merupakan lapisan di mana plasma bintang menjadi transparan terhadap foton cahaya. Dari titik ini, energi yang dihasilkan di inti menjadi bebas untuk merambat ke luar angkasa. Di dalam fotosfer inilah [[bintik matahari]], yakni wilayah dengan suhu lebih rendah dari rata-rata, muncul.<ref>Simon Newcomb. [https://books.google.com/books?id=87YXAAAAIAAJ&pg=PA278 Astronomy for High Schools and Colleges]. H. Holt. 1887. hlm. 278.</ref> | ||
Di atas tingkat fotosfer terdapat atmosfer bintang. Pada sebuah bintang deret utama seperti Matahari, tingkat atmosfer terendah, tepat di atas fotosfer, adalah wilayah [[kromosfer]] tipis, tempat munculnya [[spikula surya|spikula]] dan bermulanya [[suar surya|suar bintang]]. Di atasnya terdapat wilayah transisi, di mana suhunya meningkat dengan cepat dalam jarak hanya . Di luar lapisan ini terdapat [[korona bintang|korona]], sebuah volume plasma superpanas yang dapat membentang ke luar hingga jutaan kilometer. Keberadaan korona tampaknya bergantung pada zona konvektif di lapisan-lapisan luar bintang tersebut. Terlepas dari suhunya yang tinggi, korona memancarkan sangat sedikit cahaya, dikarenakan kepadatan gasnya yang rendah. Wilayah korona pada Matahari biasanya hanya terlihat selama terjadinya [[gerhana matahari]]. | Di atas tingkat fotosfer terdapat atmosfer bintang. Pada sebuah bintang deret utama seperti Matahari, tingkat atmosfer terendah, tepat di atas fotosfer, adalah wilayah [[kromosfer]] tipis, tempat munculnya [[spikula surya|spikula]] dan bermulanya [[suar surya|suar bintang]]. Di atasnya terdapat wilayah transisi, di mana suhunya meningkat dengan cepat dalam jarak hanya . Di luar lapisan ini terdapat [[korona bintang|korona]], sebuah volume plasma superpanas yang dapat membentang ke luar hingga jutaan kilometer.<ref>[http://www.eso.org/public/news/eso0127/ The Glory of a Nearby Star: Optical Light from a Hot Stellar Corona Detected with the VLT]. ESO. 2001-08-01.</ref> Keberadaan korona tampaknya bergantung pada zona konvektif di lapisan-lapisan luar bintang tersebut.<ref>[http://imagine.gsfc.nasa.gov/docs/science/know_l2/stars.html What is a Star?]. NASA. 2006-09-01.</ref> Terlepas dari suhunya yang tinggi, korona memancarkan sangat sedikit cahaya, dikarenakan kepadatan gasnya yang rendah.<ref>[https://spaceplace.nasa.gov/sun-corona/en/#:~:text=Why?,the%20surface%20of%20the%20Sun. What Is the Sun's Corona? NASA Space Place – NASA Science for Kids]. ''spaceplace.nasa.gov''.</ref> Wilayah korona pada Matahari biasanya hanya terlihat selama terjadinya [[gerhana matahari]]. | ||
Dari korona, sebuah angin bintang berupa partikel-partikel plasma mengembang ke luar dari bintang, hingga berinteraksi dengan medium antarbintang. Bagi Matahari, pengaruh [[angin surya|angin suryanya]] membentang di seluruh wilayah berbentuk gelembung yang disebut [[heliosfer]]. | Dari korona, sebuah angin bintang berupa partikel-partikel plasma mengembang ke luar dari bintang, hingga berinteraksi dengan medium antarbintang. Bagi Matahari, pengaruh [[angin surya|angin suryanya]] membentang di seluruh wilayah berbentuk gelembung yang disebut [[heliosfer]].<ref>L. F. Burlaga. [https://archive.org/details/sim_science_2005-09-23_309_5743/page/2026 Crossing the Termination Shock into the Heliosheath: Magnetic Fields]. ''Science''. 2005. Vol. 309 (5743). hlm. 2027–2029. doi:10.1126/science.1117542.</ref> | ||
== Jalur reaksi fusi nuklir == | == Jalur reaksi fusi nuklir == | ||
Ketika inti-inti atom berfusi, massa produk hasil fusinya lebih kecil daripada massa bagian-bagian aslinya. Massa yang hilang ini diubah menjadi energi elektromagnetik, berdasarkan hubungan [[kesetaraan massa-energi]] <math> E=mc^2 </math>.<ref>John N. Bahcall. [http://nobelprize.org/nobel_prizes/physics/articles/fusion/index.html How the Sun Shines]. Nobel Foundation. 2000-06-29.</ref> Berbagai macam reaksi fusi nuklir terjadi di dalam inti bintang, yang bergantung pada massa dan komposisinya. | |||
Proses fusi hidrogen sangat peka terhadap suhu, sehingga peningkatan suhu inti yang sedang saja akan menghasilkan peningkatan laju fusi yang signifikan. Akibatnya, suhu inti dari bintang-bintang deret utama hanya bervariasi dari 4 juta kelvin untuk bintang kecil kelas M hingga 40 juta kelvin untuk bintang masif kelas O.<ref>[http://www.astrophysicsspectator.com/topics/stars/MainSequence.html Main Sequence Stars]. The Astrophysics Spectator. 2005-02-16.</ref> | |||
Di dalam Matahari, yang memiliki inti bersuhu 16 juta kelvin, hidrogen berfusi membentuk helium dalam [[rantai proton-proton|reaksi rantai proton–proton]]:<ref>G. Wallerstein. [http://authors.library.caltech.edu/10255/1/WALrmp97.pdf Synthesis of the elements in stars: forty years of progress]. ''Reviews of Modern Physics''. 1999. Vol. 69 (4). hlm. 995–1084. doi:10.1103/RevModPhys.69.995.</ref> | |||
Di dalam Matahari, yang memiliki inti bersuhu 16 juta kelvin, hidrogen berfusi membentuk helium dalam [[rantai proton-proton|reaksi rantai proton–proton]]: | |||
:4[[Hidrogen-1|<sup>1</sup>H]] → 2[[deuterium|<sup>2</sup>H]] + 2[[positron|e<sup>+</sup>]] + 2[[neutrino|ν<sub>e</sub>]](2 x 0,4 M[[elektronvolt|eV]]) | :4[[Hidrogen-1|<sup>1</sup>H]] → 2[[deuterium|<sup>2</sup>H]] + 2[[positron|e<sup>+</sup>]] + 2[[neutrino|ν<sub>e</sub>]](2 x 0,4 M[[elektronvolt|eV]]) | ||
| Baris 327: | Baris 374: | ||
di mana γ adalah foton sinar gama, ν<sub>e</sub> adalah neutrino, serta H dan He masing-masing adalah isotop hidrogen dan helium. Energi yang dilepaskan oleh reaksi ini berada dalam kisaran jutaan elektronvolt. Setiap reaksi tunggal hanya menghasilkan sejumlah kecil energi, namun dikarenakan sangat banyaknya reaksi yang terjadi secara terus-menerus ini, reaksi-reaksi tersebut menghasilkan seluruh energi yang dibutuhkan untuk menopang keluaran radiasi bintang tersebut. Sebagai perbandingan, pembakaran dua molekul gas hidrogen dengan satu molekul gas oksigen hanya melepaskan energi sebesar 5,7 eV. | di mana γ adalah foton sinar gama, ν<sub>e</sub> adalah neutrino, serta H dan He masing-masing adalah isotop hidrogen dan helium. Energi yang dilepaskan oleh reaksi ini berada dalam kisaran jutaan elektronvolt. Setiap reaksi tunggal hanya menghasilkan sejumlah kecil energi, namun dikarenakan sangat banyaknya reaksi yang terjadi secara terus-menerus ini, reaksi-reaksi tersebut menghasilkan seluruh energi yang dibutuhkan untuk menopang keluaran radiasi bintang tersebut. Sebagai perbandingan, pembakaran dua molekul gas hidrogen dengan satu molekul gas oksigen hanya melepaskan energi sebesar 5,7 eV. | ||
Pada bintang-bintang yang lebih masif, helium dihasilkan dalam sebuah siklus reaksi yang [[katalisis|dikatalisis]] oleh karbon, yang disebut [[siklus CNO|siklus karbon-nitrogen-oksigen]]. | Pada bintang-bintang yang lebih masif, helium dihasilkan dalam sebuah siklus reaksi yang [[katalisis|dikatalisis]] oleh karbon, yang disebut [[siklus CNO|siklus karbon-nitrogen-oksigen]].<ref>G. Wallerstein. [http://authors.library.caltech.edu/10255/1/WALrmp97.pdf Synthesis of the elements in stars: forty years of progress]. ''Reviews of Modern Physics''. 1999. Vol. 69 (4). hlm. 995–1084. doi:10.1103/RevModPhys.69.995.</ref> | ||
Pada bintang yang telah berevolusi dengan suhu inti mencapai 100 juta kelvin dan massa antara 0,5 hingga , helium dapat diubah menjadi karbon melalui [[proses tripel-alfa]] yang menggunakan unsur perantara [[berilium]]: | Pada bintang yang telah berevolusi dengan suhu inti mencapai 100 juta kelvin dan massa antara 0,5 hingga , helium dapat diubah menjadi karbon melalui [[proses tripel-alfa]] yang menggunakan unsur perantara [[berilium]]:<ref>G. Wallerstein. [http://authors.library.caltech.edu/10255/1/WALrmp97.pdf Synthesis of the elements in stars: forty years of progress]. ''Reviews of Modern Physics''. 1999. Vol. 69 (4). hlm. 995–1084. doi:10.1103/RevModPhys.69.995.</ref> | ||
:<sup>4</sup>He + <sup>4</sup>He + 92 keV → [[Isotop berilium|<sup>8*</sup>Be]] | :<sup>4</sup>He + <sup>4</sup>He + 92 keV → [[Isotop berilium|<sup>8*</sup>Be]] | ||
| Baris 336: | Baris 383: | ||
Dengan reaksi keseluruhan berupa: | Dengan reaksi keseluruhan berupa: | ||
:3<sup>4</sup>He → <sup>12</sup>C + γ + 7,2 MeV | :3<sup>4</sup>He → <sup>12</sup>C + γ + 7,2 MeV | ||
Pada bintang-bintang masif, unsur-unsur yang lebih berat dapat dibakar di dalam inti yang mengerut melalui [[proses pembakaran neon]] dan [[proses pembakaran oksigen]]. Tahap akhir dari proses nukleosintesis bintang ini adalah [[proses pembakaran silikon]] yang berujung pada dihasilkannya isotop stabil besi-56. Fusi apa pun lebih lanjut akan menjadi proses endotermik yang menyerap energi, sehingga energi lebih lanjut hanya dapat diproduksi melalui keruntuhan gravitasi. | Pada bintang-bintang masif, unsur-unsur yang lebih berat dapat dibakar di dalam inti yang mengerut melalui [[proses pembakaran neon]] dan [[proses pembakaran oksigen]]. Tahap akhir dari proses nukleosintesis bintang ini adalah [[proses pembakaran silikon]] yang berujung pada dihasilkannya isotop stabil besi-56.<ref>G. Wallerstein. [http://authors.library.caltech.edu/10255/1/WALrmp97.pdf Synthesis of the elements in stars: forty years of progress]. ''Reviews of Modern Physics''. 1999. Vol. 69 (4). hlm. 995–1084. doi:10.1103/RevModPhys.69.995.</ref> Fusi apa pun lebih lanjut akan menjadi proses endotermik yang menyerap energi, sehingga energi lebih lanjut hanya dapat diproduksi melalui keruntuhan gravitasi. | ||
{| class="wikitable" style="float: left; margin-right: 1.0em;" | |||
|+ Durasi dari fase-fase fusi utama untuk sebuah bintang bermassa <ref>S. E. Woosley. ''The evolution and explosion of massive stars''. ''Reviews of Modern Physics''. 2002. Vol. 74 (4). hlm. 1015–1071. doi:10.1103/RevModPhys.74.1015.</ref> | |||
|- | |||
!valign="bottom"| Bahan<br />bakar | |||
!valign="bottom"| Suhu<br />(juta kelvin) | |||
!valign="bottom"| Massa jenis<br />() | |||
!valign="bottom"| Durasi pembakaran<br />(τ dalam tahun) | |||
|- style="text-align:center;" | |||
|| H | |||
|| 37 | |||
|| 0,0045 | |||
|| 8,1 juta | |||
|- style="text-align:center;" | |||
|| He | |||
|| 188 | |||
|| 0,97 | |||
|| 1,2 juta | |||
|- style="text-align:center;" | |||
|| C | |||
|| 870 | |||
|| 170 | |||
|| 976 | |||
|- style="text-align:center;" | |||
|| Ne | |||
|| 1.570 | |||
|| 3.100 | |||
|| 0,6 | |||
|- style="text-align:center;" | |||
|| O | |||
|| 1.980 | |||
|| 5.550 | |||
|| 1,25 | |||
|- style="text-align:center;" | |||
|| S/Si | |||
|| 3.340 | |||
|| 33.400 | |||
|| (~11,5 hari) | |||
|} | |||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
| Baris 350: | Baris 434: | ||
* [[Perhitungan bintang]] | * [[Perhitungan bintang]] | ||
* [[Bintang dalam fiksi]] | * [[Bintang dalam fiksi]] | ||
==Pranala luar== | ==Pranala luar== | ||
* | |||
* | |||
* | * | ||
* | * | ||
* | |||
* | |||
* | * | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bintang&oldid=29560317 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29560317 (2026-08-11T12:21:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 14.15
Bintang adalah sebuah sferoid bercahaya yang terbuat dari plasma dan disatukan oleh gravitasi mandiri.[1] Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari. Banyak bintang lain yang dapat terlihat oleh mata telanjang di malam hari; jaraknya yang sangat jauh dari Bumi membuatnya tampak sebagai titik-titik cahaya yang tetap. Bintang-bintang yang paling menonjol telah dikelompokkan ke dalam berbagai rasi bintang dan asterisme, dan banyak bintang paling terang memiliki nama diri. Para astronom telah menyusun katalog bintang yang mengidentifikasi bintang-bintang yang diketahui dan memberikan penamaan bintang yang terstandardisasi. Alam semesta teramati diperkirakan memiliki sekitar hingga bintang. Hanya sekitar 4.000 dari bintang-bintang ini yang terlihat oleh mata telanjang—semuanya berada di dalam galaksi Bima Sakti.[2]
Siklus hidup sebuah bintang dimulai dengan keruntuhan gravitasi dari sebuah nebula gas yang materinya sebagian besar terdiri atas hidrogen, helium, dan sedikit unsur-unsur yang lebih berat. Massa totalnya sangat menentukan evolusi dan nasib akhir bintang tersebut. Sebuah bintang bersinar di sebagian besar masa aktifnya berkat fusi termonuklir hidrogen menjadi helium di intinya. Proses ini melepaskan energi yang melintasi bagian dalam bintang dan memancar ke luar angkasa. Pada akhir masa hidup sebuah bintang, fusi berhenti dan intinya menjadi sebuah sisa bintang: katai putih, bintang neutron, atau—jika massanya cukup besar—sebuah lubang hitam.
Nukleosintesis bintang pada bintang ataupun sisanya menciptakan hampir semua unsur kimia alami yang lebih berat daripada litium. Kehilangan massa bintang atau ledakan supernova mengembalikan materi yang telah diperkaya secara kimiawi ini ke medium antarbintang. Unsur-unsur ini kemudian didaur ulang menjadi bintang-bintang baru. Para astronom dapat menentukan sifat-sifat bintang—termasuk massa, usia, metalisitas (komposisi kimia), variabilitas, jarak, dan pergerakannya melintasi ruang angkasa—dengan mengamati kecerahan semu, spektrum, dan perubahan posisinya di langit seiring berjalannya waktu.
Bintang dapat membentuk sistem orbital bersama objek-objek astronomi lainnya, seperti pada sistem keplanetan maupun sistem bintang dengan dua bintang atau lebih. Ketika dua bintang semacam itu mengorbit dalam jarak dekat, interaksi gravitasi keduanya dapat memengaruhi evolusinya secara signifikan. Bintang sering kali membentuk bagian dari struktur terikat gravitasi yang jauh lebih besar, seperti gugus bintang dan galaksi.
Etimologi
Kata bintang dalam bahasa Indonesia diturunkan dari bahasa Proto-Melayik *bintaŋ, yang berakar dari bahasa Proto-Melayu-Polinesia *bituqən, dan bersumber dari bahasa Proto-Austronesia *bituqən.[3]
Sementara itu, kata bahasa Inggris star pada dasarnya diturunkan dari akar kata bahasa Proto-Indo-Eropa , yang juga bermakna 'bintang'yang selanjutnya dapat diuraikan menjadi 'membakar' (juga menjadi asal-usul kata bahasa Inggris ash atau abu) ditambah (akhiran bermakna pelaku). Kata kerabatnya di dalam bahasa-bahasa lain di antaranya adalah bahasa Latin , bahasa Yunani , dan bahasa Jerman ;[4] kata kerabat lainnya di dalam bahasa Inggris meliputi asterisk, asteroid, astral, konstelasi, dan Ester.[5]
Sejarah pengamatan
Secara historis, bintang-bintang memiliki peran penting bagi peradaban di seluruh dunia. Bintang telah menjadi bagian dari praktik keagamaan, ritual ramalan, mitologi, serta digunakan untuk navigasi benda langit dan orientasi, untuk menandai pergantian musim, dan untuk menentukan penanggalan.
Para astronom awal menyadari adanya perbedaan antara "bintang tetap", yang posisinya di bola langit tidak berubah, dan "bintang pengembara" (planet), yang bergerak secara nyata relatif terhadap bintang tetap selama beberapa hari atau minggu.[6] Banyak astronom kuno meyakini bahwa bintang-bintang tertanam secara permanen pada sebuah bola langit dan bahwa mereka tidak dapat berubah. Berdasarkan kesepakatan, para astronom mengelompokkan bintang-bintang yang menonjol ke dalam asterisme dan rasi bintang serta menggunakannya untuk melacak pergerakan planet dan posisi lintasan Matahari.[7] Pergerakan Matahari terhadap bintang-bintang latar belakang (dan ufuk) digunakan untuk membuat penanggalan surya, yang dapat digunakan untuk mengatur praktik pertanian.[8] Kalender Gregorius, yang saat ini digunakan di hampir seluruh bagian dunia, adalah sebuah kalender surya yang didasarkan pada sudut sumbu rotasi Bumi relatif terhadap bintang terdekatnya, yakni Matahari.
Peta bintang bertanggal akurat tertua adalah hasil dari astronomi Mesir kuno pada tahun 1534 SM.[9] Katalog bintang tertua yang diketahui disusun oleh para astronom kuno Babilonia di Mesopotamia pada akhir milenium ke-2 SM, selama Periode Kassita ().[10]
Katalog bintang pertama dalam astronomi Yunani Kuno dibuat oleh Aristillus pada sekitar tahun 300 SM, dengan bantuan Timocharis.[11] Katalog bintang buatan Hipparchus (abad ke-2 SM) mencakup 1.020 bintang, dan digunakan untuk menyusun katalog bintang milik Ptolemeus.[12] Hipparchus dikenal atas penemuan nova (bintang baru) pertama yang tercatat dalam sejarah.[13] Banyak rasi bintang dan nama bintang yang digunakan saat ini berasal dari astronomi Yunani.
Terlepas dari langit yang tampak tidak berubah, para astronom Tiongkok menyadari bahwa bintang baru dapat saja muncul.[14] Pada tahun 185 M, mereka menjadi yang pertama kali mengamati dan menulis tentang sebuah supernova, yang kini dikenal sebagai SN 185.[15] Peristiwa bintang paling terang dalam sejarah yang tercatat adalah supernova SN 1006, yang diamati pada tahun 1006 dan ditulis oleh astronom Mesir Ali bin Ridwan serta sejumlah astronom Tiongkok.[16] Supernova SN 1054, yang melahirkan Nebula Kepiting, juga diamati oleh para astronom Tiongkok dan Islam.[17][18][19]
Para astronom Islam abad pertengahan memberikan nama-nama Arab ke banyak bintang yang masih digunakan hingga saat ini dan mereka menemukan berbagai instrumen astronomi yang dapat menghitung posisi bintang-bintang tersebut. Mereka membangun institut penelitian observatorium besar untuk pertama kalinya, terutama untuk menghasilkan katalog bintang Zij.[20] Di antara karya-karya ini, Kitab Bintang-Bintang Tetap (964) ditulis oleh astronom Persia Abdurrahman As-Sufi, yang mengamati sejumlah bintang, gugus bintang (termasuk Omicron Velorum dan Gugus Brocchi), serta galaksi (termasuk Galaksi Andromeda).[21] Menurut A. Zahoor, pada abad ke-11, cendekiawan polimatik Persia Abu Rayhan Al-Biruni menggambarkan galaksi Bima Sakti sebagai sekumpulan fragmen yang memiliki sifat-sifat bintang nebulous, dan memberikan garis lintang dari berbagai bintang selama terjadinya gerhana bulan pada tahun 1019.[22]
Menurut Josep Puig, astronom Andalusia Ibnu Bajjah mengusulkan bahwa Bima Sakti terdiri dari banyak bintang yang hampir saling bersentuhan dan tampak sebagai citra yang berkesinambungan akibat efek pembiasan dari material sublunar, dengan mengutip pengamatannya terhadap konjungsi Jupiter dan Mars pada tahun 500 H (1106/1107 M) sebagai bukti.[23] Para astronom Eropa awal seperti Tycho Brahe mengidentifikasi bintang-bintang baru di langit malam (yang kemudian disebut novae), menunjukkan bahwa langit bukannya tidak dapat berubah. Pada tahun 1584, Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang itu seperti Matahari, dan mungkin memiliki planet lain, bahkan mungkin menyerupai Bumi, yang mengorbit di sekitarnya,[24] sebuah gagasan yang sebelumnya telah diusulkan oleh para filsuf Yunani Kuno, Demokritos dan Epikuros,[25] serta oleh para kosmolog Islam abad pertengahan[26] seperti Fakhruddin Ar-Razi.[27] Pada abad berikutnya, gagasan bahwa bintang adalah benda yang sama dengan Matahari mulai mencapai konsensus di kalangan astronom. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi bersih pada Tata Surya, Isaac Newton berpendapat bahwa bintang-bintang tersebar secara merata di segala arah, sebuah gagasan yang didorong oleh teolog Richard Bentley.[28]
Astronom Italia Geminiano Montanari mencatat pengamatan terhadap variasi luminositas bintang Algol pada tahun 1667. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama mengenai gerak diri dari sepasang bintang "tetap" yang berdekatan, yang menunjukkan bahwa mereka telah berpindah posisi sejak zaman astronom Yunani Kuno Ptolemeus dan Hipparchus.[29]
William Herschel adalah astronom pertama yang berupaya menentukan distribusi bintang-bintang di langit. Selama dekade 1780-an, ia menetapkan serangkaian alat pengukur di 600 arah dan menghitung bintang-bintang yang diamati di sepanjang setiap garis pandang. Dari hal ini, ia menyimpulkan bahwa jumlah bintang terus meningkat ke arah salah satu sisi langit, tepatnya ke arah inti Bima Sakti (Pusat Galaksi). Putranya, John Herschel, mengulangi penelitian ini di belahan bumi selatan dan menemukan peningkatan serupa ke arah yang sama.[30] Selain pencapaiannya yang lain, William Herschel juga dikenal atas penemuannya bahwa beberapa bintang tidak sekadar berada pada garis pandang yang sama, melainkan merupakan pendamping fisik yang membentuk sistem bintang biner.[31]
Ilmu spektroskopi bintang dipelopori oleh Joseph von Fraunhofer dan Angelo Secchi. Dengan membandingkan spektrum bintang seperti Sirius dengan spektrum Matahari, mereka menemukan perbedaan dalam hal kekuatan dan jumlah garis absorpsinya—garis-garis gelap dalam spektrum bintang yang disebabkan oleh penyerapan frekuensi spesifik oleh atmosfer. Pada tahun 1865, Secchi mulai mengklasifikasikan bintang ke dalam berbagai tipe spektrum.[32] Skema klasifikasi bintang versi modern dikembangkan oleh Annie J. Cannon pada awal tahun 1900-an.[33]
Pengukuran jarak secara langsung untuk pertama kalinya terhadap sebuah bintang (61 Cygni sejauh 11,4 tahun cahaya) dilakukan pada tahun 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks. Pengukuran paralaks menunjukkan jarak pemisahan yang sangat luas di antara bintang-bintang di langit.[34] Pengamatan terhadap bintang ganda menjadi semakin penting selama abad ke-19. Pada tahun 1834, Friedrich Bessel mengamati perubahan pada gerak diri bintang Sirius dan menyimpulkan adanya bintang pendamping yang tersembunyi. Edward Pickering menemukan biner spektroskopi pertama pada tahun 1899 ketika ia mengamati pemisahan periodik dari garis spektrum bintang Mizar dalam periode 104 hari. Pengamatan mendetail dari banyak sistem bintang biner dikumpulkan oleh para astronom seperti Friedrich Georg Wilhelm von Struve dan S. W. Burnham, yang memungkinkan massa bintang dapat ditentukan dari perhitungan elemen orbit. Solusi pertama bagi masalah dalam menurunkan orbit bintang biner dari pengamatan teleskop dibuat oleh Felix Savary pada tahun 1827.[35]
Abad kedua puluh menyaksikan kemajuan yang semakin pesat dalam kajian ilmiah mengenai bintang. Fotografi menjadi alat bantu astronomi yang sangat berharga. Karl Schwarzschild menemukan bahwa warna sebuah bintang dan, karenanya, suhu bintang tersebut, dapat ditentukan dengan membandingkan magnitudo visual dengan magnitudo fotografis. Perkembangan fotometer fotolistrik memungkinkan dilakukannya pengukuran magnitudo secara akurat pada beberapa interval panjang gelombang. Pada tahun 1921, Albert A. Michelson melakukan pengukuran diameter bintang untuk pertama kalinya menggunakan interferometer pada teleskop Hooker di Observatorium Mount Wilson.[36]
Pekerjaan teoretis yang penting mengenai struktur fisik bintang terjadi selama dekade-dekade pertama abad kedua puluh. Pada tahun 1913, diagram Hertzsprung–Russell dikembangkan, yang mendorong kajian astrofisika tentang bintang. Model-model yang sukses dikembangkan untuk menjelaskan bagian dalam bintang maupun evolusi bintang. Cecilia Payne-Gaposchkin adalah orang pertama yang mengusulkan bahwa bintang-bintang utamanya terbuat dari hidrogen dan helium dalam tesis PhD-nya pada tahun 1925.[37] Spektrum bintang semakin dipahami lebih jauh melalui berbagai kemajuan dalam fisika kuantum. Hal ini memungkinkan komposisi kimiawi dari atmosfer bintang dapat ditentukan.[38]
Terkecuali kejadian-kejadian langka seperti supernova maupun supernova palsu, bintang-bintang tunggal utamanya telah diamati di Grup Lokal,[39] dan khususnya di bagian Bima Sakti yang tampak (sebagaimana ditunjukkan oleh katalog bintang terperinci yang tersedia untuk galaksi Bima Sakti) beserta satelit-satelitnya.[40] Bintang-bintang tunggal seperti variabel Cepheid telah diamati di galaksi M87[41] dan M100 dari Gugus Virgo,[42] serta bintang-bintang bercahaya di beberapa galaksi lain yang jaraknya relatif berdekatan.[43] Dengan bantuan pelensaan gravitasi, sebuah bintang tunggal (yang diberi nama Icarus) telah diamati pada jarak sejauh 9 miliar tahun cahaya.[44][45]
Penamaan
Konsep rasi bintang diketahui telah ada semenjak zaman Babilonia. Para pengamat langit zaman kuno membayangkan bahwa susunan bintang yang mencolok membentuk pola-pola tertentu, dan mereka mengaitkannya dengan aspek-aspek alam atau mitos mereka. Dua belas dari formasi ini terletak di sepanjang sabuk ekliptika dan formasi-formasi ini menjadi dasar bagi astrologi.[46] Banyak bintang tunggal yang lebih menonjol diberi nama, terutama dengan penamaan dari bahasa Arab atau Latin.
Selain rasi bintang tertentu dan Matahari itu sendiri, masing-masing bintang tunggal juga memiliki mitosnya tersendiri.[47] Bagi penganut agama Yunani Kuno, beberapa "bintang", yang dikenal sebagai planet (dari bahasa Yunani πλανήτης (planētēs), yang berarti "pengembara"), mewakili berbagai dewa penting, yang menjadi asal pengambilan nama-nama planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus.[48] (Uranus dan Neptunus adalah dewa-dewa dalam Yunani dan Romawi, tetapi kedua planet ini belum dikenal pada Zaman Kuno karena kecerahannya yang rendah. Nama-nama mereka diberikan oleh para astronom di kemudian hari.)
Sekitar tahun 1600, nama-nama rasi bintang digunakan untuk menamai bintang-bintang di wilayah langit yang bersesuaian. Astronom Jerman Johann Bayer membuat serangkaian peta bintang dan menerapkan huruf-huruf Yunani sebagai penamaan untuk bintang-bintang di setiap rasi bintang. Kemudian, sebuah sistem penomoran yang didasarkan pada asensio rekta bintang ditemukan dan ditambahkan ke dalam katalog bintang John Flamsteed dalam bukunya "Historia coelestis Britannica" (edisi 1712), yang mana sistem penomoran ini kemudian dikenal sebagai penamaan Flamsteed atau penomoran Flamsteed.[49][50]
Otoritas yang diakui secara internasional dalam penamaan benda-benda langit adalah Persatuan Astronomi Internasional (IAU).[51] Persatuan Astronomi Internasional mengelola Kelompok Kerja untuk Nama Bintang (WGSN)[52] yang menyusun katalog dan menstandardisasi nama diri bagi bintang-bintang.[53] Sejumlah perusahaan swasta menjual nama-nama bintang yang tidak diakui oleh IAU, astronom profesional, maupun komunitas astronomi amatir.[54] British Library menyebut hal ini sebagai sebuah perusahaan komersial yang tidak diatur,[55][56] dan Departemen Perlindungan Konsumen dan Pekerja Kota New York mengeluarkan peringatan pelanggaran terhadap salah satu perusahaan penamaan bintang semacam itu karena terlibat dalam praktik perdagangan yang menipu.[57][58]
Satuan pengukuran
Meskipun parameter-parameter bintang dapat dinyatakan dalam satuan SI maupun satuan Gauss, sering kali lebih nyaman untuk menyatakan massa, luminositas, dan jari-jari dalam satuan surya, yang didasarkan pada karakteristik Matahari. Pada tahun 2015, IAU menetapkan serangkaian nilai surya nominal (yang didefinisikan sebagai konstanta SI, tanpa ketidakpastian) yang dapat digunakan untuk mengutip parameter-parameter bintang:
Massa surya tidak didefinisikan secara eksplisit oleh IAU dikarenakan besarnya ketidakpastian relatif () dari konstanta gravitasi Newton G. Mengingat hasil kali antara konstanta gravitasi Newton dan massa surya (G) telah ditentukan dengan presisi yang jauh lebih tinggi, IAU mendefinisikan parameter massa surya nominal menjadi:
parameter massa surya nominal: G = /s2[61]
Parameter massa surya nominal ini dapat digabungkan dengan estimasi terbaru CODATA (2014) untuk konstanta gravitasi Newton G demi memperoleh massa surya yang kira-kira sebesar . Meskipun nilai eksak untuk luminositas, jari-jari, parameter massa, dan massanya mungkin dapat sedikit bervariasi di masa depan akibat ketidakpastian pengamatan, konstanta nominal IAU tahun 2015 akan tetap memiliki nilai SI yang sama mengingat konstanta tersebut masih menjadi ukuran yang berguna dalam mengutip parameter-parameter bintang.
Jarak yang jauh, seperti jari-jari dari sebuah bintang raksasa ataupun sumbu semimayor dari suatu sistem bintang biner, sering kali dinyatakan dalam ukuran satuan astronomi—yang kira-kira setara dengan jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari (150 juta km atau sekitar 93 juta mil). Pada tahun 2012, IAU menetapkan konstanta astronomi sebagai jarak yang eksak dalam satuan meter: 149.597.870.700 m.[62]
Pembentukan dan evolusi
Bintang-bintang memadat dari wilayah-wilayah luar angkasa yang memiliki kepadatan materi lebih tinggi, meskipun wilayah-wilayah tersebut nyatanya masih kurang padat dibandingkan dengan kondisi di dalam sebuah ruang hampa. Wilayah-wilayah ini—yang dikenal sebagai awan molekuler—sebagian besar terdiri atas hidrogen, dengan sekitar 23 hingga 28 persen helium dan beberapa persen unsur yang lebih berat. Salah satu contoh wilayah pembentukan bintang semacam ini adalah Nebula Orion.[63] Sebagian besar bintang terbentuk dalam kelompok yang terdiri atas puluhan hingga ratusan ribu bintang.[64] Bintang-bintang bermassa besar di dalam kelompok ini dapat menyinari awan tersebut dengan sangat kuat, mengionisasi hidrogennya, dan menciptakan kawasan H II. Efek umpan balik semacam itu, yang berasal dari pembentukan bintang, pada akhirnya dapat mengganggu awan tersebut dan mencegah pembentukan bintang lebih lanjut.[65] Semua bintang menghabiskan sebagian besar masa hidupnya sebagai bintang deret utama, yang utamanya ditenagai oleh fusi nuklir hidrogen menjadi helium di dalam intinya. Akan tetapi, bintang-bintang dengan massa yang berbeda memiliki sifat yang sangat berbeda pada berbagai tahap perkembangannya. Nasib akhir dari bintang yang lebih masif berbeda dengan bintang yang kurang masif, begitu pula dengan luminositas serta dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, para astronom sering kali mengelompokkan bintang berdasarkan massanya:[66]
- Bintang bermassa sangat rendah, dengan massa di bawah , sepenuhnya bersifat konvektif dan mendistribusikan helium secara merata ke seluruh bagian bintang saat berada di deret utama. Oleh karena itu, bintang-bintang ini tidak pernah mengalami pembakaran cangkang dan tidak pernah menjadi raksasa merah. Setelah kehabisan hidrogennya, mereka menjadi katai putih helium dan perlahan mendingin.[67] Mengingat masa hidup bintang bermassa lebih lama daripada usia alam semesta, belum ada satu pun bintang semacam itu yang telah mencapai tahap katai putih.
- Bintang bermassa rendah (termasuk Matahari), dengan massa antara dan ~ bergantung pada komposisinya, akan menjadi raksasa merah ketika hidrogen di intinya habis dan mulai membakar helium di inti dalam sebuah proses kilatan helium; mereka mengembangkan inti karbon-oksigen terdegenerasi di kemudian hari pada cabang raksasa asimtotik; mereka pada akhirnya menghempaskan cangkang luarnya sebagai nebula planeter dan menyisakan intinya dalam bentuk katai putih.[68][69]
- Bintang bermassa menengah, antara ~ dan ~, melewati tahap-tahap evolusi yang serupa dengan bintang bermassa rendah, namun setelah periode yang relatif singkat di cabang raksasa merah, mereka menyalakan helium tanpa kilatan dan menghabiskan periode yang lebih lama di wilayah gumpalan merah sebelum membentuk inti karbon-oksigen terdegenerasi.[70][71]
- Bintang bermassa besar umumnya memiliki massa minimum sekitar ~.[72] Setelah kehabisan hidrogen di intinya, bintang-bintang ini menjadi maharaksasa dan terus memfusikan unsur-unsur yang lebih berat daripada helium. Banyak di antaranya mengakhiri hidupnya ketika intinya runtuh dan meledak sebagai supernova.[73][74]
Pembentukan bintang
Pembentukan sebuah bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam sebuah awan molekuler, yang disebabkan oleh wilayah-wilayah dengan kepadatan yang lebih tinggi—yang sering kali dipicu oleh kompresi awan akibat radiasi dari bintang bermassa besar, gelembung yang mengembang di medium antarbintang, tabrakan awan molekuler yang berbeda, atau tabrakan galaksi (seperti pada galaksi semburan bintang).[75][76] Ketika suatu wilayah mencapai kepadatan materi yang cukup untuk memenuhi kriteria ketidakstabilan Jeans, wilayah tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.[77]
Seiring dengan runtuhnya awan tersebut, konglomerasi individu dari debu dan gas yang padat membentuk "globula Bok". Ketika sebuah globula runtuh dan kepadatannya meningkat, energi gravitasi berubah menjadi panas dan suhunya pun meningkat. Ketika awan protobintang telah kurang lebih mencapai kondisi kesetimbangan hidrostatik yang stabil, sebuah protobintang terbentuk di intinya.[78] Bintang pra-deret utama semacam ini sering kali dikelilingi oleh sebuah cakram protoplanet dan ditenagai utamanya oleh konversi energi gravitasi. Periode kontraksi gravitasi ini berlangsung selama sekitar 10 juta tahun bagi sebuah bintang seperti Matahari, hingga 100 juta tahun bagi sebuah katai merah.[79]
Bintang-bintang awal yang bermassa kurang dari disebut bintang T Tauri, sementara yang massanya lebih besar merupakan bintang Herbig Ae/Be. Bintang-bintang yang baru terbentuk ini memancarkan semburan gas di sepanjang sumbu rotasinya, yang dapat mengurangi momentum sudut dari bintang yang runtuh tersebut dan menghasilkan bercak-bercak kecil nebulositas yang dikenal sebagai objek Herbig–Haro.[80][81] Semburan ini, dikombinasikan dengan radiasi dari bintang masif di sekitarnya, dapat membantu menyingkirkan awan di sekitarnya yang menjadi asal pembentukan bintang tersebut.[82]
Di awal perkembangannya, bintang T Tauri mengikuti jalur Hayashi—mereka berkontraksi dan mengalami penurunan luminositas sambil tetap berada pada suhu yang kurang lebih sama. Bintang T Tauri yang kurang masif mengikuti jalur ini hingga menuju ke deret utama, sementara bintang yang lebih masif berbelok ke jalur Henyey.[83]
Sebagian besar bintang teramati sebagai anggota dari sistem bintang biner, dan sifat-sifat biner tersebut merupakan hasil dari kondisi di mana mereka terbentuk.[84] Sebuah awan gas harus kehilangan momentum sudutnya agar dapat runtuh dan membentuk bintang. Fragmentasi awan menjadi beberapa bintang mendistribusikan sebagian dari momentum sudut tersebut. Biner primordial mentransfer sebagian momentum sudutnya melalui interaksi gravitasi selama berpapasan jarak dekat dengan bintang-bintang lain di dalam gugus bintang muda. Berbagai interaksi ini cenderung memisahkan biner-biner (lunak) yang berjarak lebih jauh sekaligus menyebabkan biner-biner keras terikat menjadi lebih erat. Hal ini menghasilkan pemisahan biner ke dalam dua distribusi populasi yang dapat diamati.[85]
Deret utama
Bintang menghabiskan sekitar 90% dari masa hidupnya memfusikan hidrogen menjadi helium di dalam reaksi bertekanan dan bersuhu tinggi di intinya. Bintang semacam ini dikatakan berada di deret utama dan disebut sebagai bintang katai. Dimulai pada deret utama usia nol, proporsi helium di inti sebuah bintang akan terus meningkat secara perlahan, laju fusi nuklir di inti akan perlahan meningkat, begitu pula dengan suhu dan luminositas bintang tersebut.[86] Matahari, sebagai contoh, diperkirakan telah mengalami peningkatan luminositas sebesar kurang lebih 40% sejak mencapai deret utama 4,6 miliar () tahun yang lalu.[87]
Setiap bintang menghasilkan angin bintang berupa partikel-partikel yang menyebabkan aliran keluar gas secara terus-menerus ke luar angkasa. Bagi sebagian besar bintang, massa yang hilang dapat diabaikan. Matahari kehilangan setiap tahunnya,[88] atau sekitar 0,01% dari total massanya di sepanjang masa hidupnya. Akan tetapi, bintang yang sangat masif dapat kehilangan hingga setiap tahun, yang secara signifikan memengaruhi evolusinya.[89] Bintang yang bermula dengan lebih dari dapat kehilangan lebih dari separuh total massanya saat berada di deret utama.[90]
Waktu yang dihabiskan oleh sebuah bintang di deret utama utamanya bergantung pada jumlah bahan bakar yang dimilikinya serta laju pembakaran bahan bakar tersebut. Matahari diperkirakan dapat hidup selama 10 miliar () tahun. Bintang masif mengonsumsi bahan bakarnya dengan sangat cepat dan berusia pendek. Bintang bermassa rendah mengonsumsi bahan bakarnya dengan sangat lambat. Bintang yang kurang masif dari , yang disebut katai merah, mampu memfusikan hampir seluruh massanya sementara bintang dengan ukuran sekitar hanya mampu memfusikan sekitar 10% massanya. Kombinasi antara konsumsi bahan bakar yang lambat dan pasokan bahan bakar yang relatif besar dan dapat digunakan memungkinkan bintang bermassa rendah bertahan selama sekitar satu triliun () tahun; bintang yang paling ekstrem berukuran akan bertahan selama kurang lebih 12 triliun tahun. Katai merah menjadi semakin panas dan semakin terang seiring dengan terakumulasinya helium. Ketika mereka pada akhirnya kehabisan hidrogen, mereka mengerut menjadi sebuah katai putih dan suhunya pun menurun.[91] Mengingat masa hidup bintang semacam itu lebih besar daripada usia alam semesta saat ini (13,8 miliar tahun), tidak ada bintang di bawah sekitar [92] yang diperkirakan telah beranjak dari deret utama.
Selain massa, unsur-unsur yang lebih berat daripada helium dapat memainkan peran yang signifikan di dalam evolusi bintang. Para astronom melabeli semua unsur yang lebih berat daripada helium sebagai "logam", dan menyebut konsentrasi kimiawi dari unsur-unsur ini di dalam sebuah bintang sebagai metalisitas bintang tersebut. Metalisitas sebuah bintang dapat memengaruhi waktu yang dibutuhkan oleh bintang tersebut untuk membakar bahan bakarnya, dan mengontrol pembentukan medan magnetnya,[93] yang memengaruhi kekuatan angin bintangnya.[94] Bintang-bintang populasi II yang lebih tua memiliki metalisitas yang secara substansial lebih rendah dibandingkan dengan bintang populasi I yang lebih muda dikarenakan komposisi awan molekuler tempat mereka terbentuk. Seiring berjalannya waktu, awan semacam itu menjadi semakin diperkaya dengan unsur-unsur yang lebih berat ketika bintang-bintang yang lebih tua mati dan melepaskan sebagian atmosfernya.[95]
Pasca-deret utama
Ketika bintang-bintang bermassa setidaknya [96] kehabisan pasokan hidrogen di intinya, mereka mulai memfusikan hidrogen di cangkang yang mengelilingi inti helium. Lapisan luar bintang tersebut mengembang dan sangat mendingin seiring dengan transisinya menjadi sebuah raksasa merah. Dalam beberapa kasus, mereka akan memfusikan unsur yang lebih berat di inti atau di cangkang di sekitar inti. Seiring dengan mengembangnya bintang, mereka melemparkan sebagian massanya, yang telah diperkaya dengan unsur-unsur yang lebih berat tersebut, ke lingkungan antarbintang, untuk nantinya didaur ulang sebagai bintang-bintang baru.[97] Dalam sekitar 5 miliar tahun, ketika Matahari memasuki fase pembakaran helium, ia akan mengembang hingga mencapai jari-jari maksimum kurang lebih , 250 kali lipat ukuran saat ini, dan kehilangan 30% dari massanya saat ini.[98][99]
Seiring dengan cangkang pembakaran hidrogen yang menghasilkan semakin banyak helium, massa dan suhu inti tersebut mengalami peningkatan. Pada raksasa merah hingga seberat , massa inti heliumnya menjadi terdegenerasi sebelum terjadinya fusi helium. Pada akhirnya, ketika suhunya cukup meningkat, fusi helium di inti dimulai secara eksplosif dalam peristiwa yang disebut kilatan helium, dan jari-jari bintang dengan cepat menyusut, suhu permukaannya meningkat, dan berpindah ke cabang horizontal pada diagram HR. Untuk bintang-bintang yang lebih masif, fusi inti helium dimulai sebelum intinya terdegenerasi, dan bintang tersebut menghabiskan beberapa waktu di gumpalan merah, membakar helium secara perlahan, sebelum selubung konvektif luarnya runtuh dan bintang tersebut kemudian berpindah ke cabang horizontal.[100]
Setelah sebuah bintang memfusikan helium di intinya, ia mulai memfusikan helium di sepanjang cangkang yang mengelilingi inti karbon yang panas. Bintang tersebut kemudian mengikuti jalur evolusi yang disebut cabang raksasa asimtotik (AGB) yang sejajar dengan fase raksasa merah yang dijelaskan sebelumnya, tetapi dengan luminositas yang lebih tinggi. Bintang AGB yang lebih masif dapat mengalami periode singkat berupa fusi karbon sebelum intinya terdegenerasi. Selama fase AGB, bintang mengalami serangkaian denyut termal akibat ketidakstabilan di dalam inti bintang. Dalam denyut-denyut termal ini, luminositas bintang bervariasi dan materi dilontarkan dari atmosfer bintang, yang pada akhirnya membentuk sebuah nebula planeter. Sebanyak 50 hingga 70% dari massa bintang dapat dilontarkan dalam proses kehilangan massa ini. Oleh karena transportasi energi di dalam bintang AGB terjadi utamanya melalui konveksi, materi yang dilontarkan ini diperkaya dengan produk-produk fusi yang dikeruk dari inti. Oleh karena itu, nebula planeter tersebut diperkaya dengan unsur-unsur seperti karbon dan oksigen. Pada akhirnya, nebula planeter ini terpencar, memperkaya medium antarbintang secara keseluruhan.[101] Dengan demikian, bintang-bintang generasi masa depan tercipta dari "materi bintang" dari bintang-bintang di masa lalu.[102]
Bintang bermassa besar
Selama fase pembakaran heliumnya, sebuah bintang dengan massa lebih dari 9 massa surya mengembang untuk pertama-tama membentuk maharaksasa biru dan kemudian maharaksasa merah. Bintang-bintang yang bermassa sangat besar (melebihi 40 massa surya, seperti Alnilam, maharaksasa biru pusat di Sabuk Orion)[103] tidak menjadi maharaksasa merah akibat tingginya kehilangan massa.[104] Mereka mungkin justru berevolusi menjadi bintang Wolf–Rayet, yang dicirikan oleh spektrum yang didominasi oleh garis emisi dari unsur-unsur yang lebih berat daripada hidrogen, yang telah mencapai permukaan akibat konveksi yang kuat dan kehilangan massa yang intens, atau dari terlucutinya lapisan-lapisan luar.[105]
Ketika helium habis di inti dari sebuah bintang masif, inti tersebut mengerut serta suhu dan tekanannya meningkat cukup tinggi untuk memfusikan karbon (lihat Proses pembakaran karbon). Proses ini terus berlanjut, dengan tahap-tahap berturut-turut ditenagai oleh neon (lihat proses pembakaran neon), oksigen (lihat proses pembakaran oksigen), dan silikon (lihat proses pembakaran silikon). Menjelang akhir kehidupan bintang tersebut, fusi terus berlangsung di sepanjang serangkaian cangkang berlapis mirip bawang di dalam bintang yang masif. Masing-masing cangkang memfusikan unsur yang berbeda-beda, dengan cangkang paling luar memfusikan hidrogen; cangkang berikutnya memfusikan helium, dan seterusnya.[106]
Tahap akhir terjadi ketika sebuah bintang masif mulai memproduksi besi. Oleh karena inti besi terikat lebih kuat daripada inti mana pun yang lebih berat, fusi apa pun melampaui besi tidak akan menghasilkan pelepasan energi bersih.[107]
Sejumlah bintang bermassa besar, terutama variabel biru bercahaya, sangatlah tidak stabil hingga ke titik di mana mereka melepaskan massanya dengan kuat ke luar angkasa dalam berbagai peristiwa yang dikenal sebagai supernova palsu, dan menjadi jauh lebih terang dalam proses tersebut. Eta Carinae diketahui telah mengalami peristiwa supernova palsu, yang disebut Letusan Besar, pada abad ke-19.
Keruntuhan
Seiring dengan menyusutnya inti sebuah bintang, intensitas radiasi dari permukaan tersebut meningkat, yang menciptakan tekanan radiasi semacam itu pada cangkang gas bagian luar yang akan mendorong lapisan-lapisan itu menjauh, membentuk sebuah nebula planeter. Jika apa yang tersisa setelah atmosfer luarnya dilucuti berjumlah kurang dari sekitar , ia akan menyusut menjadi objek yang relatif kecil seukuran Bumi, yang dikenal sebagai katai putih. Katai putih tidak memiliki massa yang cukup agar kompresi gravitasi lebih lanjut dapat terjadi.[108] Materi terdegenerasi elektron di dalam katai putih tidak lagi berupa plasma. Pada akhirnya, katai putih memudar menjadi katai hitam dalam jangka waktu yang sangat panjang.[109]
Pada bintang bermassa besar, fusi terus berlangsung hingga inti besinya tumbuh menjadi begitu besar (lebih dari ) sehingga ia tidak lagi mampu menopang massanya sendiri. Inti ini akan tiba-tiba runtuh ketika elektron-elektronnya didorong ke dalam protonnya, membentuk neutron, neutrino, dan sinar gama dalam semburan penangkapan elektron dan peluruhan beta terbalik. Gelombang kejut yang dibentuk oleh keruntuhan yang tiba-tiba ini menyebabkan sisa bagian bintang lainnya meledak dalam sebuah supernova. Supernova menjadi begitu terang sehingga dapat secara singkat mengalahkan kecerahan seluruh galaksi asal dari bintang tersebut. Ketika terjadi di dalam Bima Sakti, supernova secara historis telah diamati oleh para pengamat dengan mata telanjang sebagai "bintang baru" di tempat yang tampaknya tidak ada bintang sebelumnya.[110]
Ledakan supernova menghempaskan lapisan-lapisan luar bintang tersebut, menyisakan sebuah sisa seperti Nebula Kepiting.[111] Intinya terkompresi menjadi sebuah bintang neutron, yang terkadang memanifestasikan dirinya sebagai sebuah pulsar atau pelepas sinar-X. Pada kasus bintang yang paling besar, sisanya adalah sebuah lubang hitam yang lebih besar dari .[112] Di dalam bintang neutron, materinya berada dalam kondisi yang dikenal sebagai materi terdegenerasi neutron, beserta bentuk materi terdegenerasi yang lebih eksotis, materi QCD, yang mungkin saja ada di dalam inti.[113]
Lapisan-lapisan luar yang terhempas dari bintang-bintang yang sekarat mengandung berbagai unsur berat, yang mungkin dapat didaur ulang selama pembentukan bintang-bintang baru. Unsur-unsur berat ini memungkinkan terbentuknya planet-planet berbatu. Aliran keluar dari supernova dan angin bintang dari bintang-bintang masif memainkan peranan penting dalam membentuk medium antarbintang.[114]
Bintang ganda
Evolusi bintang ganda atau bintang biner dapat berbeda secara signifikan dari evolusi bintang tunggal dengan massa yang sama. Sebagai contoh, ketika sebuah bintang mengembang menjadi raksasa merah, ia dapat meluap melebihi lobus Roche-nya, yakni wilayah di sekitarnya tempat materi terikat padanya secara gravitasi; jika bintang-bintang di dalam sistem biner berjarak cukup dekat, sebagian dari materi tersebut dapat meluap ke bintang lainnya, menghasilkan fenomena-fenomena yang meliputi biner sentuh, biner selubung sekerabat, variabel kataklismik, pengembara biru,[115] dan supernova Tipe Ia. Transfer massa berujung pada kasus-kasus seperti paradoks Algol, di mana bintang yang paling berevolusi di dalam suatu sistem justru merupakan yang paling rendah massanya.[116]
Evolusi bintang ganda dan sistem bintang tingkat tinggi diteliti secara intensif mengingat begitu banyak bintang yang ditemukan sebagai anggota dari sistem biner. Sekitar separuh dari bintang-bintang mirip Matahari, dan proporsi yang lebih tinggi lagi untuk bintang-bintang yang lebih masif, terbentuk di dalam sistem majemuk, dan hal ini dapat sangat memengaruhi fenomena-fenomena seperti nova dan supernova, pembentukan jenis bintang tertentu, serta pengayaan luar angkasa dengan produk-produk nukleosintesis.[117]
Pengaruh evolusi bintang ganda terhadap pembentukan bintang masif berevolusi seperti variabel biru bercahaya, bintang Wolf–Rayet, dan progenitor dari kelas supernova keruntuhan inti tertentu masih menjadi perdebatan. Bintang masif tunggal mungkin tidak mampu melontarkan lapisan luarnya dengan cukup cepat untuk membentuk jenis dan jumlah bintang berevolusi yang diamati, atau untuk menghasilkan progenitor yang akan meledak sebagai supernova yang diamati. Transfer massa melalui pelucutan gravitasi di dalam sistem biner dipandang oleh beberapa astronom sebagai solusi bagi masalah tersebut.[118][119][120]
Distribusi
Bintang-bintang tidak tersebar secara merata di seluruh alam semesta melainkan biasanya dikelompokkan ke dalam galaksi bersama dengan gas dan debu antarbintang. Sebuah galaksi besar pada umumnya seperti Bima Sakti mengandung ratusan miliar bintang. Terdapat lebih dari 2 triliun () galaksi, meskipun sebagian besar di antaranya memiliki massa kurang dari 10% massa Bima Sakti.[121] Secara keseluruhan, kemungkinan terdapat antara dan bintang,[122][123] yang mana jumlahnya lebih banyak daripada seluruh butiran pasir di planet Bumi.[124][125][126] Sebagian besar bintang berada di dalam galaksi, tetapi antara 10 hingga 50% cahaya bintang di dalam gugus galaksi besar mungkin berasal dari bintang-bintang di luar galaksi mana pun.[127][128][129]
Sebuah sistem multi-bintang terdiri dari dua atau lebih bintang yang terikat secara gravitasi yang saling mengorbit satu sama lain. Sistem multi-bintang yang paling sederhana dan paling umum adalah bintang ganda, namun terdapat pula sistem dengan tiga bintang atau lebih. Demi alasan stabilitas orbit, sistem multi-bintang semacam itu sering kali diatur ke dalam hierarki kumpulan bintang ganda.[130] Kelompok yang lebih besar disebut gugus bintang. Ini berkisar dari asosiasi bintang yang renggang dengan hanya beberapa bintang hingga gugus terbuka dengan puluhan hingga ribuan bintang, hingga gugus bola raksasa dengan ratusan ribu bintang. Sistem semacam ini mengorbit galaksi induknya. Semua bintang di dalam gugus terbuka atau gugus bola terbentuk dari awan molekuler raksasa yang sama, sehingga biasanya semua anggota memiliki usia dan komposisi yang serupa.[131]
Banyak bintang yang telah diamati, dan sebagian besar atau semuanya mungkin pada awalnya terbentuk di dalam sistem multi-bintang yang terikat secara gravitasi. Hal ini berlaku khususnya untuk bintang kelas O dan B yang sangat masif, yang mana 80% di antaranya diyakini merupakan bagian dari sistem multi-bintang. Proporsi sistem bintang tunggal meningkat seiring dengan menurunnya massa bintang, sehingga hanya 25% dari katai merah yang diketahui memiliki pendamping bintang. Mengingat 85% dari semua bintang merupakan katai merah, lebih dari dua pertiga bintang di Bima Sakti kemungkinan merupakan katai merah tunggal.[132] Dalam sebuah studi tahun 2017 terhadap awan molekuler Perseus, para astronom menemukan bahwa sebagian besar bintang yang baru terbentuk berada di dalam sistem biner. Dalam model yang paling mampu menjelaskan data tersebut, semua bintang pada awalnya terbentuk sebagai bintang ganda, meskipun beberapa di antaranya kemudian berpisah dan menyisakan bintang tunggal.[133][134]
Bintang terdekat dari Bumi, selain Matahari, adalah Proxima Centauri, yang berjarak sejauh . Dengan melakukan perjalanan pada kecepatan orbit Pesawat Ulang Alik, yakni , akan memakan waktu sekitar 150.000 tahun untuk tiba di sana.[135] Ini merupakan karakteristik umum dari pemisahan bintang di dalam cakram galaksi.[136] Bintang dapat saling berdekatan di pusat galaksi dan di dalam gugus bola,[137][138] atau terpisah lebih jauh di dalam halo galaksi.[139]
Akibat jarak yang relatif sangat jauh di antara bintang-bintang di luar nukleus galaksi, tabrakan antarbintang diyakini jarang terjadi. Di wilayah-wilayah yang lebih padat seperti inti dari gugus bola atau pusat galaksi, tabrakan dapat lebih sering terjadi.[140] Tabrakan semacam itu dapat menghasilkan apa yang dikenal sebagai pengembara biru. Bintang-bintang abnormal ini memiliki suhu permukaan yang lebih tinggi dan karenanya berwarna lebih biru dibandingkan dengan bintang-bintang pada titik belok deret utama di dalam gugus tempatnya berada; dalam evolusi bintang standar, pengembara biru seharusnya sudah berevolusi keluar dari deret utama dan dengan demikian tidak akan terlihat di dalam gugus tersebut.[141]
Karakteristik
Hampir semua hal tentang sebuah bintang ditentukan oleh massa awalnya, termasuk karakteristik seperti luminositas, ukuran, evolusi, masa hidup, dan nasib akhirnya.
Usia
Sebagian besar bintang berusia antara 1 miliar dan 10 miliar tahun. Beberapa bintang bahkan mungkin berusia mendekati 13,8 miliar tahun—usia alam semesta yang teramati saat ini. Bintang tertua yang sejauh ini ditemukan, HD 140283, yang dijuluki bintang Metusalah, diperkirakan berusia 14,46 ± 0,8 miliar tahun.[142] (Akibat ketidakpastian dalam nilainya, usia bintang ini tidak bertentangan dengan usia alam semesta, yang ditentukan oleh satelit Planck sebesar 13,799 ± 0,021).[143][144]
Semakin masif sebuah bintang, semakin pendek masa hidupnya, utamanya karena bintang bermassa besar memiliki tekanan yang lebih tinggi pada intinya, yang menyebabkannya membakar hidrogen dengan lebih cepat. Bintang yang paling masif bertahan rata-rata selama beberapa juta tahun, sementara bintang dengan massa minimum (katai merah) membakar bahan bakarnya dengan sangat lambat dan dapat bertahan hingga puluhan bahkan ratusan miliar tahun.[145][146]
| Massa Awal () | Deret Utama | Subraksasa | Raksasa Merah Pertama | Pembakaran He Inti |
|---|---|---|---|---|
| 1.0 | 9.33 | 2.57 | 0.76 | 0.13 |
| 1.6 | 2.28 | 0.03 | 0.12 | 0.13 |
| 2.0 | 1.20 | 0.01 | 0.02 | 0.28 |
| 5.0 | 0.10 | 0.0004 | 0.0003 | 0.02 |
Komposisi kimia
Ketika bintang-bintang terbentuk di galaksi Bima Sakti saat ini, mereka terdiri atas sekitar 71% hidrogen dan 27% helium, jika diukur berdasarkan massa, beserta sebagian kecil unsur-unsur yang lebih berat.[148] Biasanya, porsi unsur berat diukur melalui kandungan besi pada atmosfer bintang, mengingat besi adalah unsur yang umum dan garis absorpsinya relatif mudah untuk diukur. Porsi unsur yang lebih berat ini dapat menjadi indikator kemungkinan bintang tersebut memiliki sistem keplanetan.[149]
bintang dengan kandungan besi terendah yang pernah diukur adalah katai HE1327-2326, dengan kandungan besi hanya sekitar 1/200.000 dari yang dimiliki Matahari.[150] Sebaliknya, bintang sangat kaya logam μ Leonis memiliki kelimpahan besi hampir dua kali lipat dari Matahari, sedangkan bintang pembawa planet 14 Herculis memiliki hampir tiga kali lipat kandungan besi.[151] Bintang ganjil secara kimiawi menunjukkan kelimpahan yang tidak biasa dari unsur-unsur tertentu di dalam spektrumnya; terutama kromium dan unsur tanah jarang.[152] Bintang-bintang dengan atmosfer luar yang lebih dingin, termasuk Matahari, dapat membentuk berbagai molekul diatomik dan poliatomik.[153]
Diameter
Akibat jaraknya yang sangat jauh dari Bumi, semua bintang kecuali Matahari tampak oleh mata telanjang sebagai titik-titik bercahaya di langit malam yang berkelap-kelip karena efek atmosfer Bumi. Matahari berjarak cukup dekat dengan Bumi sehingga ia justru tampak sebagai sebuah piringan, dan memberikan cahaya di siang hari. Selain Matahari, bintang dengan ukuran semu terbesar adalah R Doradus, dengan diameter sudut hanya 0,057 detik busur.[154]
Piringan sebagian besar bintang memiliki ukuran sudut yang terlampau kecil untuk dapat diamati menggunakan teleskop optik berbasis darat saat ini, sehingga teleskop interferometer diperlukan untuk menghasilkan citra dari objek-objek tersebut. Teknik lain untuk mengukur ukuran sudut bintang adalah melalui okultasi. Dengan mengukur secara presisi penurunan kecerahan sebuah bintang saat mengalami okultasi oleh Bulan (atau peningkatan kecerahannya saat ia kembali muncul), diameter sudut bintang tersebut dapat dihitung.[155]
Ukuran bintang berkisar dari bintang neutron, yang bervariasi antara 20 hingga diameternya, hingga maharaksasa seperti Betelgeuse di rasi bintang Orion, yang memiliki diameter sekitar 640 kali lipat diameter Matahari[156] dengan massa jenis yang jauh lebih rendah.[157]
Kinematika
Pergerakan sebuah bintang relatif terhadap Matahari dapat memberikan informasi yang berguna mengenai asal-usul dan usia bintang tersebut, beserta struktur dan evolusi galaksi di sekitarnya.[158] Komponen-komponen pergerakan sebuah bintang terdiri dari kecepatan radial yang mendekati atau menjauhi Matahari, serta pergerakan sudut transversal, yang disebut sebagai gerak dirinya.[159]
Kecepatan radial diukur melalui geseran Doppler pada garis spektrum bintang dan dinyatakan dalam satuan km/s. Gerak diri dari sebuah bintang, yaitu paralaksnya, ditentukan melalui pengukuran astrometri presisi dalam satuan mili-detik busur (mas) per tahun. Dengan mengetahui paralaks bintang beserta jaraknya, kecepatan gerak diri tersebut dapat dihitung. Bersama dengan kecepatan radial, kecepatan totalnya pun dapat dihitung. Bintang dengan tingkat gerak diri yang tinggi kemungkinan besar berjarak relatif dekat dengan Matahari, sehingga menjadikannya kandidat yang baik untuk pengukuran paralaks.[160]
Ketika kedua tingkat pergerakan tersebut diketahui, kecepatan ruang bintang relatif terhadap Matahari atau galaksi dapat dihitung. Di antara bintang-bintang di dekatnya, telah ditemukan bahwa bintang populasi I yang lebih muda umumnya memiliki kecepatan yang lebih rendah dibandingkan dengan bintang populasi II yang lebih tua. Bintang populasi II tersebut memiliki orbit elips yang miring terhadap bidang galaksi.[161] Perbandingan terhadap kinematika dari bintang-bintang terdekat telah memungkinkan para astronom untuk melacak asal-usul mereka ke titik-titik yang sama di dalam awan molekuler raksasa; kelompok-kelompok dengan titik asal yang sama ini disebut sebagai asosiasi bintang.[162]
Medan magnet
Medan magnet bintang dihasilkan di dalam wilayah interiornya tempat terjadinya sirkulasi konvektif. Pergerakan plasma konduktif ini berfungsi layaknya sebuah dinamo, di mana pergerakan muatan listrik menginduksi medan magnet, seperti halnya pada dinamo mekanik. Medan magnet ini memiliki jangkauan besar yang membentang ke seluruh bagian maupun ke luar bintang. Kekuatan medan magnet bervariasi bergantung pada massa dan komposisi bintang, sementara besaran aktivitas magnetik permukaannya bergantung pada tingkat rotasi bintang tersebut. Aktivitas permukaan ini menghasilkan bintik bintang, yang mana merupakan wilayah dengan medan magnet kuat dan bersuhu permukaan lebih rendah dari kondisi normal. Lengkungan korona merupakan garis fluks medan magnet melengkung yang naik dari permukaan bintang menuju ke atmosfer luarnya, yakni korona. Lengkungan korona tersebut dapat terlihat berkat plasma yang mengalir di sepanjang lengkungan itu. Suar bintang merupakan semburan partikel berenergi tinggi yang dipancarkan akibat aktivitas magnetik yang sama.[163]
Bintang-bintang muda yang berotasi cepat cenderung memiliki tingkat aktivitas permukaan yang tinggi dikarenakan medan magnetnya. Medan magnet ini dapat memengaruhi angin bintang dari suatu bintang, yang berfungsi layaknya rem untuk secara bertahap memperlambat tingkat rotasinya seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, bintang-bintang yang lebih tua seperti Matahari memiliki tingkat rotasi yang jauh lebih lambat dan tingkat aktivitas permukaan yang lebih rendah. Tingkat aktivitas dari bintang yang berotasi lambat cenderung bervariasi dalam siklus tertentu dan dapat berhenti sama sekali selama beberapa waktu.[164] Selama Minimum Maunder, misalnya, Matahari mengalami periode selama 70 tahun yang nyaris tanpa adanya aktivitas bintik matahari.[165]
Massa
Bintang memiliki massa yang berkisar mulai dari kurang dari separuh massa surya hingga lebih dari 200 massa surya (lihat Daftar bintang paling masif). Salah satu bintang paling masif yang diketahui adalah Eta Carinae,[166] yang, dengan massa 100–150 kali lipat massa Matahari, hanya akan memiliki masa hidup selama beberapa juta tahun. Berbagai studi terhadap gugus terbuka yang paling masif menunjukkan sebagai batas atas kasar untuk bintang-bintang di era alam semesta saat ini.[167] Hal ini mewakili sebuah nilai empiris bagi batas teoretis pada massa pembentukan bintang yang diakibatkan oleh meningkatnya tekanan radiasi pada awan gas yang terakresi. Sejumlah bintang di dalam gugus R136 di Awan Magellan Besar telah diukur memiliki massa yang lebih besar,[168] namun telah ditentukan bahwa bintang-bintang ini kemungkinan diciptakan melalui tabrakan dan penggabungan bintang-bintang masif dalam sistem biner jarak dekat, sehingga menghindari batas pada pembentukan bintang masif.[169]
Bintang-bintang pertama yang terbentuk setelah Ledakan Dahsyat kemungkinan berukuran lebih besar, yakni hingga mencapai ,[170] dikarenakan sama sekali tidak adanya unsur-unsur yang lebih berat daripada litium dalam komposisi mereka. Generasi bintang populasi III supermasif ini kemungkinan pernah ada di alam semesta yang sangat awal (yakni, mereka diamati memiliki pergeseran merah yang tinggi), dan kemungkinan telah mengawali produksi unsur-unsur kimia yang lebih berat daripada hidrogen yang dibutuhkan bagi pembentukan planet dan kehidupan di kemudian hari. Pada bulan Juni 2015, para astronom melaporkan adanya bukti bintang Populasi III di dalam galaksi Cosmos Redshift 7 pada titik .[171][172]
Dengan massa yang hanya 80 kali lipat dari Jupiter (), 2MASS J0523-1403 merupakan bintang terkecil yang diketahui tengah mengalami fusi nuklir di dalam intinya.[173] Untuk bintang-bintang yang memiliki metalisitas mirip dengan Matahari, massa minimum teoretis yang dapat dimiliki sebuah bintang namun masih mengalami fusi di bagian inti, diperkirakan adalah sekitar 75 .[174][175] Ketika metalisitasnya sangat rendah, ukuran minimum bintang tampaknya berada di kisaran 8,3% dari massa surya, atau sekitar 87 .[176][177] Benda-benda yang lebih kecil yang disebut katai cokelat, menempati area abu-abu yang batasannya kurang jelas di antara bintang dan raksasa gas.[178][179]
Kombinasi antara jari-jari dan massa sebuah bintang menentukan gravitasi permukaannya. Bintang-bintang raksasa memiliki gravitasi permukaan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan bintang deret utama, sementara hal yang sebaliknya terjadi pada bintang padat yang terdegenerasi seperti katai putih. Gravitasi permukaan ini dapat memengaruhi tampilan dari spektrum sebuah bintang, di mana gravitasi yang lebih tinggi menyebabkan pelebaran pada garis-garis absorpsinya.[180]
Rotasi
Tingkat rotasi bintang dapat ditentukan melalui pengukuran spektroskopi, atau ditentukan secara lebih tepat dengan melacak bintik bintangnya. Bintang muda dapat memiliki rotasi lebih dari 100 km/s di bagian ekuator. Bintang kelas B Achernar, sebagai contoh, memiliki kecepatan ekuatorial sekitar 225 km/s atau lebih, yang menyebabkan ekuatornya menggembung ke luar dan memberinya diameter ekuatorial yang lebih dari 50% lebih besar daripada jarak antar kutubnya. Tingkat rotasi ini berada tepat di bawah kecepatan kritis 300 km/s, di mana pada kecepatan tersebut bintang itu akan hancur.[181] Sebaliknya, Matahari berotasi sekali setiap 25–35 hari bergantung pada garis lintangnya,[182] dengan kecepatan ekuatorial 1,93 km/s.[183] Medan magnet dan angin bintang dari sebuah bintang deret utama berfungsi untuk memperlambat rotasinya dalam jumlah yang signifikan seiring dengan evolusinya di deret utama.[184]
Bintang terdegenerasi telah mengerut menjadi massa yang padat, yang menghasilkan tingkat rotasi yang cepat. Namun, mereka memiliki tingkat rotasi yang relatif rendah jika dibandingkan dengan apa yang diharapkan dari kekekalan momentum sudut—yakni kecenderungan benda yang berotasi untuk mengimbangi penyusutan ukurannya dengan meningkatkan tingkat putarannya. Sebagian besar momentum sudut bintang dihamburkan sebagai akibat dari kehilangan massa melalui angin bintang.[185] Terlepas dari hal ini, tingkat rotasi sebuah pulsar bisa menjadi sangat cepat. Pulsar di pusat Nebula Kepiting, sebagai contoh, berotasi 30 kali per detik.[186] Tingkat rotasi pulsar ini akan secara bertahap melambat akibat pancaran radiasi.[187]
Suhu
Suhu permukaan sebuah bintang deret utama ditentukan oleh tingkat produksi energi di intinya beserta jari-jarinya, dan sering kali diperkirakan dari indeks warna bintang tersebut.[188]
Suhu ini biasanya dinyatakan dalam bentuk suhu efektif, yakni suhu dari benda hitam ideal yang memancarkan energinya pada luminositas per satuan luas permukaan yang sama dengan bintang tersebut. Suhu efektif hanyalah representasi dari bagian permukaan, mengingat suhu akan meningkat ke arah inti.[189] Suhu di bagian inti bintang mencapai beberapa juta kelvin.[190]
Suhu bintang akan menentukan tingkat ionisasi berbagai unsur, yang menghasilkan garis-garis absorpsi karakteristik di dalam spektrum. Suhu permukaan bintang, bersama dengan magnitudo mutlak visual dan fitur-fitur absorpsinya, digunakan untuk mengklasifikasikan sebuah bintang (lihat klasifikasi di bawah).[191]
Bintang deret utama bermassa besar dapat memiliki suhu permukaan hingga 50.000 K. Bintang yang lebih kecil seperti Matahari memiliki suhu permukaan berkisar pada beberapa ribu K. Raksasa merah memiliki suhu permukaan yang relatif rendah sekitar 3.600 K; tetapi mereka memiliki luminositas yang tinggi berkat luas permukaan luarnya yang besar.[192]
Radiasi
Energi yang dihasilkan oleh bintang, sebuah produk dari fusi nuklir, memancar ke luar angkasa baik sebagai radiasi elektromagnetik maupun radiasi partikel. Radiasi partikel yang dipancarkan oleh bintang bermanifestasi sebagai angin bintang,[193] yang mengalir dari lapisan-lapisan luar berupa partikel bermuatan listrik seperti proton beserta alfa dan partikel beta. Aliran neutrino yang nyaris tanpa massa secara konstan memancar langsung dari inti bintang.[194]
Produksi energi di inti inilah yang menjadi alasan mengapa bintang bersinar begitu terang: setiap kali dua atau lebih inti atom berfusi membentuk satu inti atom tunggal dari unsur baru yang lebih berat, foton sinar gama dilepaskan dari produk fusi nuklir tersebut. Energi ini dikonversikan ke dalam bentuk energi elektromagnetik lain dengan frekuensi yang lebih rendah, seperti cahaya tampak, pada saat energi tersebut mencapai lapisan luar bintang.[195]
Warna sebuah bintang, sebagaimana ditentukan oleh frekuensi cahaya tampak yang paling intens, bergantung pada suhu lapisan luar bintang tersebut, termasuk fotosfernya.[196] Selain cahaya tampak, bintang-bintang memancarkan bentuk-bentuk radiasi elektromagnetik yang tidak terlihat oleh mata manusia. Faktanya, radiasi elektromagnetik bintang membentang di seluruh bagian spektrum elektromagnetik, mulai dari panjang gelombang terpanjang berupa gelombang radio lalu inframerah, cahaya tampak, ultraviolet, hingga yang terpendek berupa sinar-X, dan sinar gama. Dari sudut pandang total energi yang dipancarkan oleh sebuah bintang, tidak semua komponen radiasi elektromagnetik bintang itu signifikan, namun semua frekuensi memberikan wawasan akan fisika bintang tersebut.[197]
Dengan menggunakan spektrum bintang, para astronom dapat menentukan suhu permukaan, gravitasi permukaan, metalisitas, dan kecepatan rotasi sebuah bintang. Jika jarak dari sebuah bintang diketahui, seperti melalui pengukuran paralaks, maka luminositas bintang tersebut dapat diturunkan. Massa, jari-jari, gravitasi permukaan, dan periode rotasinya kemudian dapat diperkirakan berdasarkan model-model bintang. (Massa dapat dihitung untuk bintang-bintang di dalam sistem biner dengan mengukur kecepatan orbit dan jaraknya. Pelensaan mikro gravitasi telah digunakan untuk mengukur massa sebuah bintang tunggal.[198]) Dengan parameter-parameter ini, para astronom dapat memperkirakan usia bintang tersebut.[199]
Luminositas
Luminositas sebuah bintang adalah jumlah cahaya dan bentuk-bentuk energi radiasi lain yang dipancarkannya per satuan waktu. Luminositas memiliki satuan daya. Luminositas sebuah bintang ditentukan oleh jari-jari dan suhu permukaannya. Banyak bintang yang tidak memancarkan radiasi secara merata di seluruh permukaannya. Bintang yang berotasi cepat seperti Vega, misalnya, memiliki fluks energi (daya per satuan luas) yang lebih tinggi di kutub-kutubnya dibandingkan dengan di sepanjang ekuatornya.[200]
Bercak-bercak di permukaan bintang dengan suhu dan luminositas yang lebih rendah dari rata-rata dikenal sebagai bintik bintang. Bintang katai berukuran kecil seperti Matahari umumnya memiliki piringan yang pada dasarnya tanpa fitur khusus, dengan hanya bintik bintang berukuran kecil. Bintang raksasa memiliki bintik bintang yang jauh lebih besar dan lebih jelas,[201] dan mereka menunjukkan efek penggelapan tepi bintang yang kuat. Yakni, kecerahannya menurun ke arah tepi piringan bintang tersebut.[202] Bintang suar katai merah seperti UV Ceti dapat memiliki fitur bintik bintang yang menonjol.[203]
Magnitudo
Kecerahan semu dari sebuah bintang dinyatakan dalam bentuk magnitudo semunya. Hal ini merupakan fungsi dari luminositas bintang, jaraknya dari Bumi, efek ekstingsi dari gas dan debu antarbintang, serta perubahan cahaya bintang saat melewati atmosfer Bumi. Magnitudo intrinsik atau mutlak berhubungan langsung dengan luminositas bintang, dan merupakan nilai magnitudo semu dari sebuah bintang jika jarak antara Bumi dan bintang tersebut adalah 10 parsec (32,6 tahun cahaya).[204]
| Magnitudo semu |
Jumlah bintang[205] |
|---|---|
| 0 | 4 |
| 1 | 15 |
| 2 | 48 |
| 3 | 171 |
| 4 | 513 |
| 5 | 1.602 |
| 6 | 4.800 |
| 7 | 14.000 |
Baik skala magnitudo semu maupun mutlak merupakan unit logaritmik: perbedaan satu angka penuh dalam magnitudo setara dengan variasi kecerahan sekitar 2,5 kali lipat[206] (akar pangkat 5 dari 100 atau sekitar 2,512). Hal ini berarti bahwa sebuah bintang magnitudo pertama (+1,00) berukuran sekitar 2,5 kali lebih terang daripada bintang bermagnitudo kedua (+2,00), dan sekitar 100 kali lebih terang daripada sebuah bintang magnitudo keenam (+6,00). Bintang paling redup yang terlihat oleh mata telanjang di bawah kondisi pengamatan yang baik memiliki magnitudo sekitar +6.[207]
Pada skala magnitudo semu maupun mutlak, semakin kecil angka magnitudonya, semakin terang bintang tersebut; semakin besar angka magnitudonya, semakin redup bintang tersebut. Bintang yang paling terang, pada kedua skala tersebut, memiliki angka magnitudo negatif. Variasi kecerahan (ΔL) di antara dua bintang dihitung dengan mengurangi angka magnitudo bintang yang lebih terang (mb) dari angka magnitudo bintang yang lebih redup (mf), lalu menggunakan selisihnya sebagai eksponen untuk bilangan pokok 2,512; dengan kata lain:
Mengingat kaitannya dengan luminositas sekaligus jarak dari Bumi, magnitudo mutlak (M) dan magnitudo semu (m) dari sebuah bintang tidaklah setara;[208] sebagai contoh, bintang terang Sirius memiliki magnitudo semu sebesar −1,44, tetapi memiliki magnitudo mutlak sebesar +1,41.
Matahari memiliki magnitudo semu sebesar −26,7, tetapi magnitudo mutlaknya hanya +4,83. Sirius, bintang paling terang di langit malam seperti yang terlihat dari Bumi, kira-kira 23 kali lebih bercahaya daripada Matahari, sementara Canopus, bintang paling terang kedua di langit malam dengan magnitudo mutlak −5,53, kira-kira 14.000 kali lebih bercahaya daripada Matahari. Meskipun Canopus jauh lebih bercahaya daripada Sirius, Sirius tampak lebih terang di antara keduanya. Hal ini dikarenakan Sirius hanya berjarak 8,6 tahun cahaya dari Bumi, sementara Canopus berjarak jauh lebih jauh pada jarak 310 tahun cahaya.[209]
Bintang paling bercahaya yang diketahui memiliki magnitudo mutlak kira-kira −12, yang setara dengan 6 juta kali luminositas Matahari.[210] Secara teoretis, bintang yang paling tidak bercahaya berada pada batas bawah massa di mana bintang mampu menopang fusi nuklir hidrogen di dalam intinya; bintang yang berada tepat di atas batas ini telah ditemukan di dalam gugus NGC 6397. Katai merah paling redup di gugus tersebut memiliki magnitudo mutlak 15, sementara sebuah katai putih dengan magnitudo mutlak ke-17 telah ditemukan.[211][212]
Klasifikasi
| Kelas | Suhu | Contoh bintang |
|---|---|---|
| O | 33.000 K atau lebih | Zeta Ophiuchi |
| B | 10.500–30.000 K | Rigel |
| A | 7.500–10.000 K | Altair |
| F | 6.000–7.200 K | Procyon A |
| G | 5.500–6.000 K | Matahari |
| K | 4.000–5.250 K | Epsilon Indi |
| M | 2.600–3.850 K | Proxima Centauri |
Sistem klasifikasi bintang saat ini bermula pada awal abad ke-20, ketika bintang-bintang diklasifikasikan dari A hingga Q berdasarkan kekuatan garis hidrogen.[214] Kala itu, kekuatan garis hidrogen dianggap sebagai fungsi linier sederhana dari suhu. Namun nyatanya, hal ini lebih rumit: kekuatan ini meningkat seiring dengan kenaikan suhu, mencapai puncaknya di sekitar 9.000 K, dan kemudian menurun pada suhu yang lebih tinggi. Sejak saat itu, klasifikasi tersebut diurutkan kembali berdasarkan suhu, yang menjadi dasar bagi skema modern saat ini.[215]
Bintang-bintang diberi klasifikasi huruf tunggal berdasarkan spektrumnya, mulai dari tipe O, yang sangat panas, hingga M, yang sangat dingin sehingga molekul dapat terbentuk di atmosfernya. Klasifikasi utamanya, secara berurutan dari suhu permukaan tertinggi ke terendah, adalah: O, B, A, F, G, K, dan M. Berbagai jenis tipe spektrum yang langka diberikan klasifikasi khusus. Yang paling umum dari klasifikasi khusus ini adalah tipe L dan T, yang mengklasifikasikan bintang bermassa rendah paling dingin serta katai cokelat. Masing-masing huruf memiliki 10 subdivisi, yang diberi nomor dari 0 hingga 9, dalam urutan suhu yang semakin menurun. Meskipun demikian, sistem ini tidak berlaku pada suhu yang terlampau tinggi mengingat kelas O0 dan O1 mungkin saja tidak ada.[216]
Selain itu, bintang juga dapat diklasifikasikan berdasarkan efek luminositas yang ditemukan di dalam garis spektrumnya, yang berhubungan dengan ukuran spasialnya dan ditentukan oleh gravitasi permukaannya. Klasifikasi ini berkisar dari 0 (hiperraksasa) lalu III (raksasa) hingga V (katai deret utama); beberapa penulis menambahkan VII (katai putih). Bintang deret utama berada di sepanjang pita diagonal yang sempit saat digambarkan ke dalam grafik berdasarkan magnitudo mutlak dan tipe spektrumnya.[217] Matahari adalah sebuah katai kuning deret utama bersuhu sedang dan berukuran biasa dengan klasifikasi G2V.[218]
Terdapat tata nama tambahan berupa huruf-huruf kecil yang ditambahkan di akhir tipe spektrum untuk menunjukkan fitur-fitur ganjil pada spektrum. Sebagai contoh, "e" dapat menunjukkan keberadaan garis emisi; "m" mewakili tingkat logam yang kuat secara tidak biasa, dan "var" dapat berarti adanya variasi pada tipe spektrum tersebut.[219]
Bintang katai putih memiliki kelasnya sendiri yang diawali dengan huruf D. Kelas ini dibagi lebih lanjut menjadi kelas DA, DB, DC, DO, DZ, dan DQ, bergantung pada jenis garis menonjol yang ditemukan di dalam spektrum. Huruf ini kemudian diikuti oleh sebuah nilai numerik yang menunjukkan suhu.[220]
Bintang variabel
Bintang variabel memiliki perubahan luminositas yang bersifat periodik atau acak akibat sifat intrinsik atau ekstrinsiknya. Dari bintang variabel intrinsik tersebut, tipe-tipe utamanya dapat dibagi lagi menjadi tiga kelompok prinsip.
Selama masa evolusi bintangnya, sejumlah bintang melewati fase-fase di mana mereka dapat menjadi variabel berdenyut. Bintang variabel berdenyut bervariasi dalam hal jari-jari dan luminositas seiring waktu, dengan mengembang dan menyusut dalam periode yang berkisar mulai dari hitungan menit hingga tahunan, bergantung pada ukuran bintang tersebut. Kategori ini mencakup bintang Cepheid dan mirip Cepheid, serta variabel berperiode panjang seperti Mira.[221]
Variabel letusan adalah bintang yang mengalami peningkatan luminositas secara tiba-tiba akibat suar atau kejadian pelontaran massa.[222] Kelompok ini mencakup protobintang, bintang Wolf-Rayet, dan bintang suar, beserta bintang raksasa dan maharaksasa.
Bintang variabel kataklismik atau eksplosif adalah bintang yang mengalami perubahan dramatis dalam sifat-sifatnya. Kelompok ini mencakup nova dan supernova. Sistem bintang ganda yang mencakup katai putih di dekatnya dapat menghasilkan jenis-jenis tertentu dari ledakan bintang yang spektakuler ini, termasuk di antaranya nova dan supernova Tipe Ia.[223] Ledakan tersebut tercipta ketika katai putih mengakresi hidrogen dari bintang pendampingnya, dan mengumpulkan massa hingga hidrogen tersebut mengalami fusi.[224] Beberapa nova bersifat berulang, di mana mereka memiliki ledakan berkala dengan amplitudo menengah.[225]
Bintang dapat bervariasi dalam hal luminositas akibat faktor-faktor ekstrinsik, seperti pada bintang ganda gerhana, maupun bintang berotasi yang menghasilkan bintik bintang ekstrem.[226] Contoh menonjol dari bintang ganda gerhana adalah Algol, yang magnitudonya bervariasi secara teratur dari 2,1 hingga 3,4 selama periode 2,87 hari.[227]
Struktur
Bagian dalam dari sebuah bintang yang stabil berada dalam keadaan kesetimbangan hidrostatik: gaya-gaya pada setiap volume kecil hampir secara tepat saling menyeimbangkan satu sama lain. Gaya-gaya yang seimbang tersebut adalah gaya gravitasi yang mengarah ke dalam dan gaya yang mengarah ke luar akibat gradien tekanan di dalam bintang. Gradien tekanan dibentuk oleh gradien suhu plasma; bagian luar bintang lebih dingin daripada intinya. Suhu pada inti bintang deret utama atau bintang raksasa setidaknya berada pada kisaran . Suhu dan tekanan yang dihasilkan pada inti pembakaran hidrogen di sebuah bintang deret utama sudah cukup untuk terjadinya fusi nuklir dan untuk menghasilkan energi yang memadai guna mencegah keruntuhan bintang lebih lanjut.[228][229]
Ketika inti-inti atom berfusi di dalam inti bintang, mereka memancarkan energi dalam bentuk sinar gama. Foton-foton ini berinteraksi dengan plasma di sekitarnya, yang menambah energi termal pada inti tersebut. Bintang-bintang di deret utama mengubah hidrogen menjadi helium, yang menciptakan proporsi helium yang perlahan namun terus meningkat di dalam intinya. Pada akhirnya, kandungan helium menjadi dominan, dan produksi energi pun berhenti di bagian inti. Sebaliknya, untuk bintang-bintang yang bermassa lebih dari , fusi terjadi di sebuah cangkang yang perlahan mengembang di sekitar inti helium yang terdegenerasi.[230]
Selain kesetimbangan hidrostatik, bagian dalam dari sebuah bintang yang stabil akan mempertahankan keseimbangan energi berupa kesetimbangan termal. Terdapat gradien suhu radial di seluruh bagian dalam yang menghasilkan fluks energi yang mengalir ke arah luar. Fluks energi keluar yang meninggalkan lapisan mana pun di dalam bintang akan secara persis menyamai fluks yang masuk dari bawahnya.[231]
Zona radiasi adalah wilayah di bagian dalam bintang di mana fluks energi ke arah luar bergantung pada perpindahan panas radiatif, mengingat perpindahan panas konvektif tidaklah efisien di zona tersebut. Di wilayah ini, plasma tidak akan terganggu, dan pergerakan massa apa pun akan mereda. Jika kondisinya tidak demikian, maka plasma menjadi tidak stabil dan konveksi akan terjadi, membentuk sebuah zona konveksi. Hal ini dapat terjadi, sebagai contoh, di wilayah yang memiliki fluks energi yang sangat tinggi, seperti di dekat inti atau di area dengan opasitas tinggi (yang membuat perpindahan panas radiatif menjadi tidak efisien) seperti pada selubung luar.[232]
Terjadinya konveksi di selubung luar dari sebuah bintang deret utama bergantung pada massa bintang tersebut. Bintang-bintang yang memiliki massa beberapa kali lipat massa Matahari memiliki zona konveksi jauh di dalam bagian interiornya dan zona radiatif di lapisan luarnya. Bintang-bintang yang lebih kecil seperti Matahari memiliki kondisi yang berkebalikan, dengan zona konvektif berada di lapisan luar.[233] Bintang katai merah dengan massa kurang dari bersifat konvektif di seluruh bagiannya, yang mencegah terjadinya akumulasi inti helium.[234] Bagi sebagian besar bintang, zona konvektifnya akan bervariasi seiring bertambahnya usia bintang dan berubahnya konstitusi di bagian dalam.[235]
Fotosfer adalah bagian dari bintang yang dapat dilihat oleh pengamat. Ini merupakan lapisan di mana plasma bintang menjadi transparan terhadap foton cahaya. Dari titik ini, energi yang dihasilkan di inti menjadi bebas untuk merambat ke luar angkasa. Di dalam fotosfer inilah bintik matahari, yakni wilayah dengan suhu lebih rendah dari rata-rata, muncul.[236]
Di atas tingkat fotosfer terdapat atmosfer bintang. Pada sebuah bintang deret utama seperti Matahari, tingkat atmosfer terendah, tepat di atas fotosfer, adalah wilayah kromosfer tipis, tempat munculnya spikula dan bermulanya suar bintang. Di atasnya terdapat wilayah transisi, di mana suhunya meningkat dengan cepat dalam jarak hanya . Di luar lapisan ini terdapat korona, sebuah volume plasma superpanas yang dapat membentang ke luar hingga jutaan kilometer.[237] Keberadaan korona tampaknya bergantung pada zona konvektif di lapisan-lapisan luar bintang tersebut.[238] Terlepas dari suhunya yang tinggi, korona memancarkan sangat sedikit cahaya, dikarenakan kepadatan gasnya yang rendah.[239] Wilayah korona pada Matahari biasanya hanya terlihat selama terjadinya gerhana matahari.
Dari korona, sebuah angin bintang berupa partikel-partikel plasma mengembang ke luar dari bintang, hingga berinteraksi dengan medium antarbintang. Bagi Matahari, pengaruh angin suryanya membentang di seluruh wilayah berbentuk gelembung yang disebut heliosfer.[240]
Jalur reaksi fusi nuklir
Ketika inti-inti atom berfusi, massa produk hasil fusinya lebih kecil daripada massa bagian-bagian aslinya. Massa yang hilang ini diubah menjadi energi elektromagnetik, berdasarkan hubungan kesetaraan massa-energi .[241] Berbagai macam reaksi fusi nuklir terjadi di dalam inti bintang, yang bergantung pada massa dan komposisinya.
Proses fusi hidrogen sangat peka terhadap suhu, sehingga peningkatan suhu inti yang sedang saja akan menghasilkan peningkatan laju fusi yang signifikan. Akibatnya, suhu inti dari bintang-bintang deret utama hanya bervariasi dari 4 juta kelvin untuk bintang kecil kelas M hingga 40 juta kelvin untuk bintang masif kelas O.[242]
Di dalam Matahari, yang memiliki inti bersuhu 16 juta kelvin, hidrogen berfusi membentuk helium dalam reaksi rantai proton–proton:[243]
- 41H → 22H + 2e+ + 2νe(2 x 0,4 MeV)
- 2e+ + 2e− → 2γ (2 x 1,0 MeV)
- 21H + 22H → 23He + 2γ (2 x 5,5 MeV)
- 23He → 4He + 21H (12,9 MeV)
Terdapat beberapa jalur lain, di mana He dan He bergabung membentuk Be, yang pada akhirnya (dengan tambahan proton lain) menghasilkan dua He, sehingga ada penambahan bersih satu atom.
Semua reaksi ini berujung pada reaksi keseluruhan:
- 41H → 4He + 2γ + 2νe (26,7 MeV)
di mana γ adalah foton sinar gama, νe adalah neutrino, serta H dan He masing-masing adalah isotop hidrogen dan helium. Energi yang dilepaskan oleh reaksi ini berada dalam kisaran jutaan elektronvolt. Setiap reaksi tunggal hanya menghasilkan sejumlah kecil energi, namun dikarenakan sangat banyaknya reaksi yang terjadi secara terus-menerus ini, reaksi-reaksi tersebut menghasilkan seluruh energi yang dibutuhkan untuk menopang keluaran radiasi bintang tersebut. Sebagai perbandingan, pembakaran dua molekul gas hidrogen dengan satu molekul gas oksigen hanya melepaskan energi sebesar 5,7 eV.
Pada bintang-bintang yang lebih masif, helium dihasilkan dalam sebuah siklus reaksi yang dikatalisis oleh karbon, yang disebut siklus karbon-nitrogen-oksigen.[244]
Pada bintang yang telah berevolusi dengan suhu inti mencapai 100 juta kelvin dan massa antara 0,5 hingga , helium dapat diubah menjadi karbon melalui proses tripel-alfa yang menggunakan unsur perantara berilium:[245]
Dengan reaksi keseluruhan berupa:
- 34He → 12C + γ + 7,2 MeV
Pada bintang-bintang masif, unsur-unsur yang lebih berat dapat dibakar di dalam inti yang mengerut melalui proses pembakaran neon dan proses pembakaran oksigen. Tahap akhir dari proses nukleosintesis bintang ini adalah proses pembakaran silikon yang berujung pada dihasilkannya isotop stabil besi-56.[246] Fusi apa pun lebih lanjut akan menjadi proses endotermik yang menyerap energi, sehingga energi lebih lanjut hanya dapat diproduksi melalui keruntuhan gravitasi.
| Bahan bakar |
Suhu (juta kelvin) |
Massa jenis () |
Durasi pembakaran (τ dalam tahun) |
|---|---|---|---|
| H | 37 | 0,0045 | 8,1 juta |
| He | 188 | 0,97 | 1,2 juta |
| C | 870 | 170 | 976 |
| Ne | 1.570 | 3.100 | 0,6 |
| O | 1.980 | 5.550 | 1,25 |
| S/Si | 3.340 | 33.400 | (~11,5 hari) |
Lihat pula
- Daftar nama tradisional bintang
- Garis besar astronomi
- Waktu sideris
- Jam bintang
- Perhitungan bintang
- Bintang dalam fiksi
Pranala luar
Referensi
- ↑ Maria Temming. What is a star?. AAS Sky Publishing, LLC. July 15, 2014.
- ↑ Peter Grego. Galileo and 400 Years of Telescopic Astronomy. Springer New York. 2010. ISBN 978-1441955920.
- ↑ Robert Blust. *bituqen: star. Austronesian Comparative Dictionary, web edition.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Douglas Harper. *ster- - Etymology and Meaning of the Root. 2001–2022.
- ↑ Ancient Greek Astronomy and Cosmology. Digital Collections. Perpustakaan Kongres. n.d.
- ↑ George Forbes. History of Astronomy. Watts & Co. 1909. ISBN ((978-1-153-62774-0)).
- ↑ Claus Tøndering. Other Ancient Calendars. Calendars Through The Ages. Webexhibits. 2008.
- ↑ Ove von Spaeth. Dating the Oldest Egyptian Star Map. Centaurus. 2000. Vol. 42 (3). hlm. 159–179. doi:10.1034/j.1600-0498.2000.420301.x.
- ↑ John North. The Norton History of Astronomy and Cosmology. W.W. Norton & Company. 1995. hlm. 30–31. ISBN 978-0-393-03656-5.
- ↑ P. Murdin. Encyclopedia of Astronomy and Astrophysics. 2000. doi:10.1888/0333750888/3440. ISBN 978-0-333-75088-9.
- ↑ Gerd Grasshoff. The history of Ptolemy's star catalogue. Springer. 1990. hlm. 1–5. ISBN 978-0-387-97181-0.
- ↑ Antonios D. Pinotsis. Astronomy in Ancient Rhodes. Protostellar Jets In Context. Universitas Athena, Yunani. 2008.
- ↑ D. H. Clark. The Historical Supernovae. Dordrecht, D. Reidel Publishing Company. 1981-06-29. hlm. 355–370.
- ↑ Fu-Yuan Zhao. The Guest Star of AD185 must have been a Supernova. Chinese Journal of Astronomy and Astrophysics. 2006. Vol. 6 (5). hlm. 635. doi:10.1088/1009-9271/6/5/17.
- ↑ Douglas Isbell. Astronomers Peg Brightness of History's Brightest Star. NOIRLab. National Optical Astronomy Observatory. 5 March 2003.
- ↑ Hartmut Frommert. Supernova 1054 – Creation of the Crab Nebula. SEDS. University of Arizona. 2006-08-30.
- ↑ J. J. L. Duyvendak. Further Data Bearing on the Identification of the Crab Nebula with the Supernova of 1054 A.D. Part I. The Ancient Oriental Chronicles. Publications of the Astronomical Society of the Pacific. April 1942. Vol. 54 (318). hlm. 91–94. doi:10.1086/125409. N. U. Mayall. Further Data Bearing on the Identification of the Crab Nebula with the Supernova of 1054 A.D. Part II. The Astronomical Aspects. Publications of the Astronomical Society of the Pacific. April 1942. Vol. 54 (318). hlm. 95–104. doi:10.1086/125410.
- ↑ K. Brecher. Ancient records and the Crab Nebula supernova. The Observatory. 1983. Vol. 103. hlm. 106–113.
- ↑ Edward S. Kennedy. Review: The Observatory in Islam and Its Place in the General History of the Observatory by Aydin Sayili. Isis. 1962. Vol. 53 (2). hlm. 237–239. doi:10.1086/349558.
- ↑ Kenneth Glyn Jones. Messier's nebulae and star clusters. Cambridge University Press. 1991. hlm. 1. ISBN 978-0-521-37079-0.
- ↑ A. Zahoor. Al-Biruni. Universitas Hasanuddin. 1997.
- ↑ Josep Puig Montada. Ibn Bajja. 2007-09-28.
- ↑ Stephen A. Drake. A Brief History of High-Energy (X-ray & Gamma-Ray) Astronomy. NASA HEASARC. 2006-08-17.
- ↑ Peter Greskovic. Exoplanets. ESO. 2006-07-24.
- ↑ I. A. Ahmad. The impact of the Qur'anic conception of astronomical phenomena on Islamic civilization. Vistas in Astronomy. 1995. Vol. 39 (4). hlm. 395–403 [402]. doi:10.1016/0083-6656(95)00033-X.
- ↑ Adi Setia. Fakhr Al-Din Al-Razi on Physics and the Nature of the Physical World: A Preliminary Survey. Islam & Science. 2004. Vol. 2 (2).
- ↑ Michael Hoskin. The Value of Archives in Writing the History of Astronomy. Library and Information Services in Astronomy III. 1998. Vol. 153. hlm. 207.
- ↑ Stephen A. Drake. A Brief History of High-Energy (X-ray & Gamma-Ray) Astronomy. NASA HEASARC. 2006-08-17.
- ↑ Richard A. Proctor. Are any of the nebulæ star-systems?. Nature. 1870. Vol. 1 (13). hlm. 331–333. doi:10.1038/001331a0.
- ↑ Magill. Magill's Survey of Science: A-Cherenkov detectors. Salem Press. 1992. hlm. 219. ISBN 978-0-89356-619-7.
- ↑ Joseph MacDonnell. Angelo Secchi, S.J. (1818–1878) the Father of Astrophysics. Universitas Fairfield.
- ↑ Ivan Hubeny. Theory of Stellar Atmospheres: An Introduction to Astrophysical Non-equilibrium Quantitative Spectroscopic Analysis. Princeton University Press. 2014. hlm. 23. ISBN 978-0-691-16329-1.
- ↑ Stephen A. Drake. A Brief History of High-Energy (X-ray & Gamma-Ray) Astronomy. NASA HEASARC. 2006-08-17.
- ↑ Robert G. Aitken. The Binary Stars. Dover Publications Inc. 1964. hlm. 66. ISBN ((978-0-486-61102-0)).
- ↑ A. A. Michelson. Measurement of the diameter of Alpha Orionis with the interferometer. Astrophysical Journal. 1921. Vol. 53 (5). hlm. 249–259. doi:10.1086/142603.
- ↑ " Payne-Gaposchkin, Cecilia Helena." CWP. Universitas California.
- ↑ Albrecht Unsöld. The New Cosmos. Springer. 2001. hlm. 180–185, 215–216. ISBN 978-3-540-67877-9.
- ↑ Michael S. Gordon. Luminous and Variable Stars in M31 and M33. III. The Yellow and Red Supergiants and Post-red Supergiant Evolution. The Astrophysical Journal. July 2016. Vol. 825 (1). hlm. 50. doi:10.3847/0004-637X/825/1/50.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Richard De Grijs. Clustering of Local Group Distances: Publication Bias or Correlated Measurements? VI. Extending to Virgo Cluster Distances. The Astrophysical Journal Supplement Series. 2020. Vol. 246 (1). hlm. 3. doi:10.3847/1538-4365/ab5711.
- ↑ Ray Villard. Hubble Space Telescope Measures Precise Distance to the Most Remote Galaxy Yet. Hubble Site. 1994-10-26.
- ↑ Y. Solovyeva. New luminous blue variable candidates in the NGC 247 galaxy. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2020. Vol. 497 (4). hlm. 4834. doi:10.1093/mnras/staa2117.
- ↑ Kelly, Patrick L. Extreme magnification of an individual star at redshift 1.5 by a galaxy-cluster lens. Nature. 2018-04-02. Vol. 2 (4). hlm. 334–342. doi:10.1038/s41550-018-0430-3.
- ↑ Elizabeth Howell. Rare Cosmic Alignment Reveals Most Distant Star Ever Seen. Space.com. 2018-04-02.
- ↑ Ulla Koch-Westenholz. Mesopotamian astrology: an introduction to Babylonian and Assyrian celestial divination. Museum Tusculanum Press. 1995. Vol. 19. hlm. 163. ISBN 978-87-7289-287-0.
- ↑ Leslie S Coleman. Myths, Legends and Lore. Frosty Drew Observatory.
- ↑ Leslie S Coleman. Myths, Legends and Lore. Frosty Drew Observatory.
- ↑ Naming Astronomical Objects. Persatuan Astronomi Internasional (IAU).
- ↑ Naming Stars. Students for the Exploration and Development of Space (SEDS).
- ↑ Francis Lyall. Space Law: A Treatise. Ashgate Publishing, Ltd. 2009. hlm. 176. ISBN 978-0-7546-4390-6.
- ↑ IAU Working Group on Star Names (WGSN).
- ↑ Naming Stars.
- ↑ Johannes Andersen. Buying Stars and Star Names. International Astronomical Union.
- ↑ Star naming. Scientia Astrophysical Organization. 2005.
- ↑ Disclaimer: Name a star, name a rose and other, similar enterprises. British Library. The British Library Board.
- ↑ Philip C. Plait. Bad astronomy: misconceptions and misuses revealed, from astrology to the moon landing "hoax". John Wiley and Sons. 2002. hlm. 237–240. ISBN 978-0-471-40976-2.
- ↑ Tom Sclafani. Consumer Affairs Commissioner Polonetsky Warns Consumers: "Buying A Star Won't Make You One". National Astronomy and Ionosphere Center, Aricebo Observatory. 1998-05-08.
- ↑ A. Prsa. Nominal values for selected solar and planetary quantities: IAU 2015 Resolution B3. Astronomical Journal. 2016. Vol. 152 (2). hlm. 41. doi:10.3847/0004-6256/152/2/41.
- ↑ A. Prsa. Nominal values for selected solar and planetary quantities: IAU 2015 Resolution B3. Astronomical Journal. 2016. Vol. 152 (2). hlm. 41. doi:10.3847/0004-6256/152/2/41.
- ↑ A. Prsa. Nominal values for selected solar and planetary quantities: IAU 2015 Resolution B3. Astronomical Journal. 2016. Vol. 152 (2). hlm. 41. doi:10.3847/0004-6256/152/2/41.
- ↑ A. Prsa. Nominal values for selected solar and planetary quantities: IAU 2015 Resolution B3. Astronomical Journal. 2016. Vol. 152 (2). hlm. 41. doi:10.3847/0004-6256/152/2/41.
- ↑ P. R. Woodward. Theoretical models of star formation. Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 1978. Vol. 16 (1). hlm. 555–584. doi:10.1146/annurev.aa.16.090178.003011.
- ↑ C. J. Lada. Embedded Clusters in Molecular Clouds. Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 2003. Vol. 41 (1). hlm. 57–115. doi:10.1146/annurev.astro.41.011802.094844.
- ↑ Norman Murray. Star Formation Efficiencies and Lifetimes of Giant Molecular Clouds in the Milky Way. The Astrophysical Journal. 2011. Vol. 729 (2). hlm. 133. doi:10.1088/0004-637X/729/2/133.
- ↑ Sun Kwok. The origin and evolution of planetary nebulae. Cambridge University Press. 2000. Vol. 33. hlm. 103–104. ISBN 978-0-521-62313-1.
- ↑ Fred C. Adams. Red Dwarfs and the End of the Main Sequence. Revista Mexicana de Astronomía y Astrofísica. hlm. 46–49.
- ↑ Astrobiology, An Evolutionary Approach. Taylor & Francis. 2014. hlm. 21–25. ISBN 978-1466584617.
- ↑ G. S. Bisnovatyi-Kogan. Stellar Physics: Stellar Evolution and Stability. Springer Berlin Heidelberg. 2013. hlm. 108–125. ISBN 978-3662226391.
- ↑ Astrobiology, An Evolutionary Approach. Taylor & Francis. 2014. hlm. 21–25. ISBN 978-1466584617.
- ↑ G. S. Bisnovatyi-Kogan. Stellar Physics: Stellar Evolution and Stability. Springer Berlin Heidelberg. 2013. hlm. 108–125. ISBN 978-3662226391.
- ↑ Duligur Ibeling. The Metallicity Dependence of the Minimum Mass for Core-collapse Supernovae. The Astrophysical Journal Letters. March 2013. Vol. 765 (2). hlm. 4. doi:10.1088/2041-8205/765/2/L43.
- ↑ Astrobiology, An Evolutionary Approach. Taylor & Francis. 2014. hlm. 21–25. ISBN 978-1466584617.
- ↑ F. -K. Thielemann. Astronomy with Radioactivities. Springer. 2011. Vol. 812. hlm. 153–232. doi:10.1007/978-3-642-12698-7_4. ISBN 978-3-642-12697-0.
- ↑ B. G. Elmegreen. Sequential formation of subgroups in OB associations. Astrophysical Journal, Part 1. 1977. Vol. 214. hlm. 725–741. doi:10.1086/155302.
- ↑ K. V. Getman. The Elephant Trunk Nebula and the Trumpler 37 cluster: contribution of triggered star formation to the total population of an H II region. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2012. Vol. 426 (4). hlm. 2917–2943. doi:10.1111/j.1365-2966.2012.21879.x.
- ↑ Michael David Smith. The Origin of Stars. Imperial College Press. 2004. hlm. 57–68. ISBN 978-1-86094-501-4.
- ↑ Courtney Seligman. Slow Contraction of Protostellar Cloud. Self-published.
- ↑ Hanslmeier. Water in the Universe. Springer Science & Business Media. 2010. hlm. 163. ISBN 978-90-481-9984-6.
- ↑ J. Bally. The Birth of Stars: Herbig-Haro Jets, Accretion and Proto-Planetary Disks. Space Telescope Science Institute. 1996. hlm. 491.
- ↑ Michael David Smith. The origin of stars. Imperial College Press. 2004. hlm. 176. ISBN 978-1-86094-501-4.
- ↑ Tom Megeath. Herschel finds a hole in space. ESA. 2010-05-11.
- ↑ Darling. The Universal Book of Astronomy: From the Andromeda Galaxy to the Zone of Avoidance. Wiley. 2004. hlm. 229. ISBN 978-0-471-26569-6.
- ↑ A. Duquennoy. Multiplicity among solar-type stars in the solar neighbourhood. II – Distribution of the orbital elements in an unbiased sample. Astronomy & Astrophysics. 1991. Vol. 248 (2). hlm. 485–524.
- ↑ Padmanabhan. Theoretical Astrophysics: Volume 2, Stars and Stellar Systems. Cambridge University Press. 2000. hlm. 557. ISBN 978-0-521-56631-5.
- ↑ J. G. Mengel. Stellar evolution from the zero-age main sequence. Astrophysical Journal Supplement Series. 1979. Vol. 40. hlm. 733–791. doi:10.1086/190603.
- ↑ I. J. Sackmann. Our Sun. III. Present and Future. Astrophysical Journal. 1993. Vol. 418. hlm. 457. doi:10.1086/173407.
- ↑ B. E. Wood. Measured Mass-Loss Rates of Solar-like Stars as a Function of Age and Activity. The Astrophysical Journal. 2002. Vol. 574 (1). hlm. 412–425. doi:10.1086/340797.
- ↑ C. de Loore. Evolution of massive stars with mass loss by stellar wind. Astronomy and Astrophysics. 1977. Vol. 61 (2). hlm. 251–259.
- ↑ The evolution of stars between 50 and 100 times the mass of the Sun. Royal Greenwich Observatory.
- ↑ Fred C. Adams. Red Dwarfs and the End of the Main Sequence. Revista Mexicana de Astronomía y Astrofísica. hlm. 46–49.
- ↑ Main Sequence Lifetime. Swinburne University of Technology.
- ↑ N. Pizzolato. Subphotospheric convection and magnetic activity dependence on metallicity and age: Models and tests. Astronomy & Astrophysics. 2001. Vol. 373 (2). hlm. 597–607. doi:10.1051/0004-6361:20010626.
- ↑ Mass loss and Evolution. UCL Astrophysics Group. 2004-06-18.
- ↑ Rutherford Appleton Laboratory. Workshop on Astronomy and Astrophysics. Gas in the Interstellar Medium: Rutherford Appleton Laboratory Workshop on Astronomy and Astrophysics : 21–23 May, 1983, The Cosener's House, Abingdon. Science and Engineering Research Council, Rutherford Appleton Laboratory. 1984.
- ↑ Michael Richmond. Late stages of evolution for low-mass stars. Rochester Institute of Technology.
- ↑ Stellar Evolution & Death. NASA Observatorium.
- ↑ I. J. Sackmann. Our Sun. III. Present and Future. Astrophysical Journal. 1993. Vol. 418. hlm. 457. doi:10.1086/173407.
- ↑ K.-P. Schröder. Distant future of the Sun and Earth revisited. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2008. Vol. 386 (1). hlm. 155–163. doi:10.1111/j.1365-2966.2008.13022.x. See also Jason Palmer. Hope dims that Earth will survive Sun's death. NewScientist.com news service. 2008-02-22.
- ↑ Icko Jr. Iben. Single and binary star evolution. Astrophysical Journal Supplement Series. 1991. Vol. 76. hlm. 55–114. doi:10.1086/191565.
- ↑ Bradley W. Carroll. An Introduction to Modern Astrophysics. Cambridge University Press. 7 September 2017. ISBN 978-1108422161.
- ↑ Carl Sagan. The Lives of the Stars. 1980.
- ↑ Raul E. Puebla. X-ray, UV and optical analysis of supergiants: ε Ori. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2016-03-01. Vol. 456 (3). hlm. 2907–2936. doi:10.1093/mnras/stv2783.
- ↑ D. Vanbeveren. Massive stars. The Astronomy and Astrophysics Review. 1998-12-01. Vol. 9 (1). hlm. 63–152. doi:10.1007/s001590050015.
- ↑ P. S. Conti. Mass Loss and Evolution of O-Type Stars. Springer Science & Business Media. 2012. ISBN 978-94-009-9452-2.
- ↑ The Evolution of Massive Stars and Type II Supernovae. Penn Stats College of Science.
- ↑ Christopher Sneden. Astronomy: The age of the Universe. Nature. 2001-02-08. Vol. 409 (6821). hlm. 673–675. doi:10.1038/35055646.
- ↑ James Liebert. White dwarf stars. Annual Review of Astronomy and Astrophysics. 1980. Vol. 18 (2). hlm. 363–398. doi:10.1146/annurev.aa.18.090180.002051.
- ↑ Adam Mann. This is the way the universe ends: not with a whimper, but a bang. Science AAAS. 2020-08-11.
- ↑ Introduction to Supernova Remnants. Goddard Space Flight Center. 2006-04-06.
- ↑ Introduction to Supernova Remnants. Goddard Space Flight Center. 2006-04-06.
- ↑ C. L. Fryer. Black-hole formation from stellar collapse. Classical and Quantum Gravity. 2003. Vol. 20 (10). hlm. S73–S80. doi:10.1088/0264-9381/20/10/309.
- ↑ Aleksi Vuorinen. Neutron stars and stellar mergers as a laboratory for dense QCD matter. Nuclear Physics A. 2019. Vol. 982. hlm. 36. doi:10.1016/j.nuclphysa.2018.10.011.
- ↑ Introduction to Supernova Remnants. Goddard Space Flight Center. 2006-04-06.
- ↑ Emily M. Leiner. A Census of Blue Stragglers in Gaia DR2 Open Clusters as a Test of Population Synthesis and Mass Transfer Physics. The Astrophysical Journal. 2021-01-01. Vol. 908 (2). hlm. 229. doi:10.3847/1538-4357/abd7e9.
- ↑ K. Brogaard. The blue straggler V106 in NGC 6791: a prototype progenitor of old single giants masquerading as young. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2018-12-21. Vol. 481 (4). hlm. 5062–5072. doi:10.1093/mnras/sty2504.
- ↑ Giacomo Beccari. The Impact of Binary Stars on Stellar Evolution. Cambridge University Press. 2019. ISBN 978-1-108-42858-3.
- ↑ Sung-Chul Yoon. Type Ib and IIb Supernova Progenitors in Interacting Binary Systems. The Astrophysical Journal. 2017. Vol. 840 (1). hlm. 10. doi:10.3847/1538-4357/aa6afe.
- ↑ L. A. S. McClelland. Helium stars: Towards an understanding of Wolf-Rayet evolution. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2016. Vol. 459 (2). hlm. 1505. doi:10.1093/mnras/stw618.
- ↑ T. Shenar. Why binary interaction does not necessarily dominate the formation of Wolf-Rayet stars at low metallicity. Astronomy and Astrophysics. 2020. Vol. 634. hlm. A79. doi:10.1051/0004-6361/201936948.
- ↑ Henry Fountain. Two Trillion Galaxies, at the Very Least. The New York Times. 2016-10-17.
- ↑ Staff. How Many Stars Are There In The Universe?. Badan Antariksa Eropa. 2019.
- ↑ Mikhail Ya. Marov. The Fundamentals of Modern Astrophysics. 2015. hlm. 279–294. doi:10.1007/978-1-4614-8730-2_10. ISBN 978-1-4614-8729-6.
- ↑ Glen Mackie. To see the Universe in a Grain of Taranaki Sand. Centre for Astrophysics and Supercomputing. 2002-02-01.
- ↑ Seth Borenstein. Universe's Star Count Could Triple. 2010-12-01.
- ↑ Pieter G. Van Dokkum. A substantial population of low-mass stars in luminous elliptical galaxies. Nature. 2010. Vol. 468 (7326). hlm. 940–942. doi:10.1038/nature09578.
- ↑ Hubble Finds Intergalactic Stars. Hubble News Desk. 1997-01-14.
- ↑ Ewald Puchwein. Intracluster stars in simulations with active galactic nucleus feedback. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2010-08-01. Vol. 406 (2). hlm. 936–951. doi:10.1111/j.1365-2966.2010.16786.x.
- ↑ Yen-Ting Lin. K-band Properties of Galaxy Clusters and Groups: Brightest Cluster Galaxies and Intracluster Light. The Astrophysical Journal. 2004-12-20. Vol. 617 (2). hlm. 879–895. doi:10.1086/425412.
- ↑ Victor G. Szebehely. Stability of the Solar System and Its Minor Natural and Artificial Bodies. Springer. 1985. ISBN 978-90-277-2046-7.
- ↑ Bradley W. Carroll. An Introduction to Modern Astrophysics. Cambridge University Press. 7 September 2017. ISBN 978-1108422161.
- ↑ Most Milky Way Stars Are Single. Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. 2006-01-30.
- ↑ Robert Sanders. New evidence that all stars are born in pairs. Berkeley News. 2017-06-13.
- ↑ Sarah I. Sadavoy. Embedded binaries and their dense cores. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. August 2017. Vol. 469 (4). hlm. 3881–3900. doi:10.1093/mnras/stx1061.
- ↑ / ( × 24 × 365.25) = .
- ↑ J. Holmberg. The local density of matter mapped by Hipparcos. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2000. Vol. 313 (2). hlm. 209–216. doi:10.1046/j.1365-8711.2000.02905.x.
- ↑ David Norby. How close can stars get to each other in galaxy cores?. Astronomy.com. 2006-01-01.
- ↑ Raffaele Gratton. What is a globular cluster? An observational perspective. The Astronomy and Astrophysics Review. 2019-05-15. Vol. 27 (1). hlm. 8. doi:10.1007/s00159-019-0119-3.
- ↑ Imagine the Universe!. imagine.gsfc.nasa.gov.
- ↑ Astronomers: Star collisions are rampant, catastrophic. CNN News. 2000-06-02.
- ↑ J. C. Jr. Lombardi. Stellar Collisions and the Interior Structure of Blue Stragglers. The Astrophysical Journal. 2002. Vol. 568 (2). hlm. 939–953. doi:10.1086/339060.
- ↑ H. E. Bond. HD 140283: A Star in the Solar Neighborhood that Formed Shortly After the Big Bang. The Astrophysical Journal Letters. 2013. Vol. 765 (1). hlm. L12. doi:10.1088/2041-8205/765/1/L12.
- ↑ H. E. Bond. HD 140283: A Star in the Solar Neighborhood that Formed Shortly After the Big Bang. The Astrophysical Journal Letters. 2013. Vol. 765 (1). hlm. L12. doi:10.1088/2041-8205/765/1/L12.
- ↑ Planck Collaboration. Planck 2015 results. XIII. Cosmological parameters (See Table 4 on page 31 of pfd). Astronomy & Astrophysics. 2016. Vol. 594. hlm. A13. doi:10.1051/0004-6361/201525830.
- ↑ S. A. Naftilan. How do scientists determine the ages of stars? Is the technique really accurate enough to use it to verify the age of the universe?. 2006-07-13.
- ↑ G. Laughlin. The End of the Main Sequence. The Astrophysical Journal. 1997. Vol. 482 (1). hlm. 420–432. doi:10.1086/304125.
- ↑ Onno R. Pols. Stellar evolution models for Z = 0.0001 to 0.03. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 1998. Vol. 298 (2). hlm. 525. doi:10.1046/j.1365-8711.1998.01658.x.
- ↑ Judith A. Irwin. Astrophysics: Decoding the Cosmos. John Wiley and Sons. 2007. hlm. 78. ISBN 978-0-470-01306-9.
- ↑ D. A. Fischer. The Planet-Metallicity Correlation. The Astrophysical Journal. 2005. Vol. 622 (2). hlm. 1102–1117. doi:10.1086/428383.
- ↑ Signatures Of The First Stars. ScienceDaily. April 17, 2005.
- ↑ S. Feltzing. The nature of super-metal-rich stars: Detailed abundance analysis of 8 super-metal-rich star candidates. Astronomy & Astrophysics. 2000. Vol. 367 (1). hlm. 253–265. doi:10.1051/0004-6361:20000477.
- ↑ David F. Gray. The Observation and Analysis of Stellar Photospheres. Cambridge University Press. 1992. hlm. 413–414. ISBN 978-0-521-40868-4.
- ↑ Uffe G. Jørgensen. Molecules in Astrophysics: Probes and Processes. Springer Science & Business Media. 1997. Vol. 178. hlm. 446. ISBN 978-0792345381.
- ↑ The Biggest Star in the Sky. ESO. 1997-03-11.
- ↑ S. Ragland. Angular Diameter of Carbon Star Tx-Piscium from Lunar Occultation Observations in the Near Infrared. Journal of Astrophysics and Astronomy. 1995. Vol. 16. hlm. 332.
- ↑ M. Mittag. Chromospheric activity and photospheric variation of α Ori during the great dimming event in 2020. Astronomy & Astrophysics. January 2023. Vol. 669. hlm. A9. doi:10.1051/0004-6361/202244924.
- ↑ Kate Davis. Variable Star of the Month – December, 2000: Alpha Orionis. AAVSO. 2000-12-01.
- ↑ Joss Bland-Hawthorn. The Origin of the Galaxy and Local Group. Springer Berlin Heidelberg. 2014. hlm. 114. ISBN 978-3642417207.
- ↑ D. Scott Birney. Observational Astronomy. Cambridge University Press. 2006. hlm. 72–79. ISBN 978-1316139400.
- ↑ Hipparcos: High Proper Motion Stars. ESA. 1999-09-10.
- ↑ Hugh M. Johnson. The Kinematics and Evolution of Population I Stars. Publications of the Astronomical Society of the Pacific. 1957. Vol. 69 (406). hlm. 54. doi:10.1086/127012.
- ↑ B. Elmegreen. The Formation of Star Clusters. American Scientist. 1999. Vol. 86 (3). hlm. 264. doi:10.1511/1998.3.264.
- ↑ Jerome James Brainerd. X-rays from Stellar Coronas. The Astrophysics Spectator. 2005-07-06.
- ↑ A. A. Michelson. Starspots: A Key to the Stellar Dynamo. Living Reviews in Solar Physics. 2005. Vol. 2 (1). hlm. 8. doi:10.12942/lrsp-2005-8.
- ↑ V. M. S. Carrasco. Sunspot Characteristics at the Onset of the Maunder Minimum Based on the Observations of Hevelius. The Astrophysical Journal. 2019. Vol. 886 (1). hlm. 18. doi:10.3847/1538-4357/ab4ade.
- ↑ Nathan Smith. The Behemoth Eta Carinae: A Repeat Offender. Mercury Magazine. 1998. Vol. 27 (4). hlm. 20.
- ↑ C. Weidner. Evidence for a fundamental stellar upper mass limit from clustered star formation. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2004-02-11. Vol. 348 (1). hlm. 187–191. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07340.x.
- ↑ R. Hainich. The Wolf-Rayet stars in the Large Magellanic Cloud. Astronomy & Astrophysics. 2014. Vol. 565. hlm. A27. doi:10.1051/0004-6361/201322696.
- ↑ Sambaran Banerjee. The emergence of super-canonical stars in R136-type starburst clusters. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2012-10-21. Vol. 426 (2). hlm. 1416–1426. doi:10.1111/j.1365-2966.2012.21672.x.
- ↑ Ferreting Out The First Stars. Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics. 2005-09-22.
- ↑ David Sobral. Evidence For POPIII-Like Stellar Populations In The Most Luminous LYMAN-α Emitters At The Epoch Of Re-Ionisation: Spectroscopic Confirmation. The Astrophysical Journal. 2015-06-04. Vol. 808 (2). hlm. 139. doi:10.1088/0004-637x/808/2/139.
- ↑ Dennis Overbye. Astronomers Report Finding Earliest Stars That Enriched Cosmos. The New York Times. 2015-06-17.
- ↑ 2MASS J05233822-1403022. SIMBAD – Centre de Données astronomiques de Strasbourg.
- ↑ Alan Boss. Are They Planets or What?. Carnegie Institution of Washington. 2001-04-03.
- ↑ David Shiga. Mass cut-off between stars and brown dwarfs revealed. 2006-08-17.
- ↑ David Shiga. Mass cut-off between stars and brown dwarfs revealed. 2006-08-17.
- ↑ Elli Leadbeater. Hubble glimpses faintest stars. BBC. 2006-08-18.
- ↑ Alan Boss. Are They Planets or What?. Carnegie Institution of Washington. 2001-04-03.
- ↑ David Shiga. Mass cut-off between stars and brown dwarfs revealed. 2006-08-17.
- ↑ Albrecht Unsöld. The New Cosmos. Springer. 2001. hlm. 180–185, 215–216. ISBN 978-3-540-67877-9.
- ↑ Flattest Star Ever Seen. ESO. 2003-06-11.
- ↑ Solar Rotation Varies by Latitude. NASA. 2013-01-23.
- ↑ R. Howard. Spectroscopic Determinations of Solar Rotation. Solar Physics. 1970. Vol. 12 (1). hlm. 23–51. doi:10.1007/BF02276562.
- ↑ Richard Fitzpatrick. Introduction to Plasma Physics: A graduate course. The University of Texas at Austin. 2006-02-13.
- ↑ Massimo Villata. Angular momentum loss by a stellar wind and rotational velocities of white dwarfs. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 1992. Vol. 257 (3). hlm. 450–454. doi:10.1093/mnras/257.3.450.
- ↑ A History of the Crab Nebula. ESO. 1996-05-30.
- ↑ Properties of Pulsars. Frontiers of Modern Astronomy. Jodrell Bank Observatory, University of Manchester.
- ↑ Nick Strobel. Properties of Stars: Color and Temperature. Astronomy Notes. Primis/McGraw-Hill, Inc. 2007-08-20.
- ↑ Courtney Seligman. Review of Heat Flow Inside Stars. Self-published.
- ↑ Main Sequence Stars. The Astrophysics Spectator. 2005-02-16.
- ↑ Albrecht Unsöld. The New Cosmos. Springer. 2001. hlm. 180–185, 215–216. ISBN 978-3-540-67877-9.
- ↑ Michael A. Zeilik. Introductory Astronomy & Astrophysics. Saunders College Publishing. 1998. hlm. 321. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ Steve Koppes. University of Chicago physicist receives Kyoto Prize for lifetime achievements in science. The University of Chicago News Office. 2003-06-20.
- ↑ Bradley W. Carroll. An Introduction to Modern Astrophysics. Cambridge University Press. 2017. ISBN 978-1108422161.
- ↑ Bradley W. Carroll. An Introduction to Modern Astrophysics. Cambridge University Press. 2017. ISBN 978-1108422161.
- ↑ The Colour of Stars. Australian Telescope Outreach and Education.
- ↑ Bradley W. Carroll. An Introduction to Modern Astrophysics. Cambridge University Press. 2017. ISBN 978-1108422161.
- ↑ Astronomers Measure Mass of a Single Star – First Since the Sun. Hubble News Desk. 2004-07-15.
- ↑ D. R. Garnett. Distance Dependence in the Solar Neighborhood Age-Metallicity Relation. The Astrophysical Journal. 2000. Vol. 532 (2). hlm. 1192–1196. doi:10.1086/308617.
- ↑ Staff. Rapidly Spinning Star Vega has Cool Dark Equator. National Optical Astronomy Observatory. 2006-01-10.
- ↑ A. A. Michelson. Starspots: A Key to the Stellar Dynamo. Living Reviews in Solar Physics. 2005. Vol. 2 (1). hlm. 8. doi:10.12942/lrsp-2005-8.
- ↑ A. Manduca. Limb darkening coefficients for late-type giant model atmospheres. Astronomy and Astrophysics. 1977. Vol. 61 (6). hlm. 809–813.
- ↑ P. F. Chugainov. On the Cause of Periodic Light Variations of Some Red Dwarf Stars. Information Bulletin on Variable Stars. 1971. Vol. 520. hlm. 1–3.
- ↑ Lawrence. Celestial Calculations: A Gentle Introduction to Computational Astronomy. Massachusetts Institute of Technology Press. 2019. hlm. 252. ISBN 978-0-262-53663-9.
- ↑ Magnitude. National Solar Observatory – Sacramento Peak.
- ↑ Luminosity of Stars. Australian Telescope Outreach and Education.
- ↑ Nicolson. Unfolding Our Universe. Cambridge University Press. 1999. hlm. 134. ISBN 978-0-521-59270-3.
- ↑ Luminosity of Stars. Australian Telescope Outreach and Education.
- ↑ Astounding Science Fact & Fiction. Street & Smith. 1960. hlm. 7.
- ↑ Joachim M. Bestenlehner. The R136 star cluster dissected with Hubble Space Telescope/STIS – II. Physical properties of the most massive stars in R136. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2020-10-17. Vol. 499 (2). hlm. 1918–1936. doi:10.1093/mnras/staa2801.
- ↑ Faintest Stars in Globular Cluster NGC 6397. HubbleSite. August 17, 2006.
- ↑ H. B. Richer. Probing the Faintest Stars in a Globular Star Cluster. Science. 18 August 2006. Vol. 313 (5789). hlm. 936–940. doi:10.1126/science.1130691.
- ↑ Gene Smith. Stellar Spectra. University of California, San Diego. 1999-04-16.
- ↑ A. Fowler. The Draper Catalogue of Stellar Spectra. Nature. April 1891. Vol. 45 (1166). hlm. 427–428. doi:10.1038/045427a0.
- ↑ Carlos Jaschek. The Classification of Stars. Cambridge University Press. 1990. hlm. 31–48. ISBN 978-0-521-38996-9.
- ↑ Alan M MacRobert. The Spectral Types of Stars. Sky and Telescope.
- ↑ Alan M MacRobert. The Spectral Types of Stars. Sky and Telescope.
- ↑ Erika Rix. Solar Sketching: A Comprehensive Guide to Drawing the Sun. Springer. 2015. hlm. 43. ISBN 978-1-4939-2901-6.
- ↑ Alan M MacRobert. The Spectral Types of Stars. Sky and Telescope.
- ↑ White Dwarf (wd) Stars. White Dwarf Research Corporation.
- ↑ Types of Variable. AAVSO. 2010-05-11.
- ↑ Types of Variable. AAVSO. 2010-05-11.
- ↑ Icko Jr. Iben. Single and binary star evolution. Astrophysical Journal Supplement Series. 1991. Vol. 76. hlm. 55–114. doi:10.1086/191565.
- ↑ Cataclysmic Variables. NASA Goddard Space Flight Center. 2004-11-01.
- ↑ Types of Variable. AAVSO. 2010-05-11.
- ↑ Types of Variable. AAVSO. 2010-05-11.
- ↑ N. N. Samus. VizieR Online Data Catalog: General Catalogue of Variable Stars (Samus+ 2007–2013). VizieR On-line Data Catalog: B/GCVS. Originally Published in: 2009yCat....102025S. 2009. Vol. 1.
- ↑ Carl J. Hansen. Stellar Interiors. Springer. 2004. hlm. 32–33. ISBN 978-0-387-20089-7.
- ↑ Martin Schwarzschild. Structure and Evolution of the Stars. Princeton University Press. 1958. ISBN 978-0-691-08044-4.
- ↑ Formation of the High Mass Elements. Smoot Group.
- ↑ R. Q. Huang. Stellar Astrophysics. Springer. 1998. hlm. 70. ISBN 978-981-3083-36-3.
- ↑ Martin Schwarzschild. Structure and Evolution of the Stars. Princeton University Press. 1958. ISBN 978-0-691-08044-4.
- ↑ What is a Star?. NASA. 2006-09-01.
- ↑ Michael Richmond. Late stages of evolution for low-mass stars. Rochester Institute of Technology.
- ↑ Martin Schwarzschild. Structure and Evolution of the Stars. Princeton University Press. 1958. ISBN 978-0-691-08044-4.
- ↑ Simon Newcomb. Astronomy for High Schools and Colleges. H. Holt. 1887. hlm. 278.
- ↑ The Glory of a Nearby Star: Optical Light from a Hot Stellar Corona Detected with the VLT. ESO. 2001-08-01.
- ↑ What is a Star?. NASA. 2006-09-01.
- ↑ What Is the Sun's Corona? NASA Space Place – NASA Science for Kids. spaceplace.nasa.gov.
- ↑ L. F. Burlaga. Crossing the Termination Shock into the Heliosheath: Magnetic Fields. Science. 2005. Vol. 309 (5743). hlm. 2027–2029. doi:10.1126/science.1117542.
- ↑ John N. Bahcall. How the Sun Shines. Nobel Foundation. 2000-06-29.
- ↑ Main Sequence Stars. The Astrophysics Spectator. 2005-02-16.
- ↑ G. Wallerstein. Synthesis of the elements in stars: forty years of progress. Reviews of Modern Physics. 1999. Vol. 69 (4). hlm. 995–1084. doi:10.1103/RevModPhys.69.995.
- ↑ G. Wallerstein. Synthesis of the elements in stars: forty years of progress. Reviews of Modern Physics. 1999. Vol. 69 (4). hlm. 995–1084. doi:10.1103/RevModPhys.69.995.
- ↑ G. Wallerstein. Synthesis of the elements in stars: forty years of progress. Reviews of Modern Physics. 1999. Vol. 69 (4). hlm. 995–1084. doi:10.1103/RevModPhys.69.995.
- ↑ G. Wallerstein. Synthesis of the elements in stars: forty years of progress. Reviews of Modern Physics. 1999. Vol. 69 (4). hlm. 995–1084. doi:10.1103/RevModPhys.69.995.
- ↑ S. E. Woosley. The evolution and explosion of massive stars. Reviews of Modern Physics. 2002. Vol. 74 (4). hlm. 1015–1071. doi:10.1103/RevModPhys.74.1015.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29560317 (2026-08-11T12:21:58Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.