Alam semesta: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29560550; atribusi sumber disertakan. |
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula |
||
| (1 revisi perantara oleh pengguna yang sama tidak ditampilkan) | |||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Hubble_ultra_deep_field.jpg|thumb|right|280px|Hubble ultra deep field]] | |||
'''Alam semesta''' merupakan keseluruhan dari [[ruang]] dan [[waktu]] beserta seluruh isinya.<ref>Michael Zeilik. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil Introductory Astronomy & Astrophysics]. Saunders College. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.</ref> Alam semesta mencakup seluruh [[eksistensi]], setiap bentuk [[interaksi fundamental]], [[proses fisika]], serta [[konstanta fisika]]. Karena itu, ia meliputi semua bentuk [[materi]] dan [[energi]] beserta struktur yang terbentuk darinya, mulai dari [[partikel subatom]] hingga keseluruhan [[filamen galaksi]]. Sejak awal abad ke-20, bidang [[kosmologi]] menetapkan bahwa [[ruang dan waktu]] muncul secara bersamaan dalam peristiwa [[Dentuman Besar]] sekitar yang lalu,<ref>Planck Collaboration. ''Planck 2018 results: VI. Cosmological parameters''. ''Astronomy & Astrophysics''. September 2020. Vol. 641. hlm. A6. doi:10.1051/0004-6361/201833910.</ref> dan sejak saat itu [[perluasan alam semesta|alam semesta terus mengembang]]. Bagian [[alam semesta teramati|alam semesta yang dapat diamati manusia]] diperkirakan memiliki diameter sekitar 93 miliar [[tahun cahaya]], tetapi keseluruhan ukuran alam semesta sebenarnya masih belum diketahui.<ref>Brian Greene. ''The Hidden Reality''. Alfred A. Knopf. 2011.</ref> | |||
Kemajuan dalam pengamatan lebih lanjut kemudian menyingkap bahwa Matahari hanyalah salah satu dari ratusan miliar bintang dalam [[Bima Sakti]], yang pada gilirannya merupakan satu di antara ratusan miliar galaksi dalam alam semesta teramati. Banyak bintang di dalam galaksi juga diketahui [[eksoplanet|memiliki planet]] sendiri. [[Alam semesta teramati#Akhir dari Kebesaran|Dalam skala terbesar]], galaksi-galaksi tersebar secara seragam ke segala arah, menandakan bahwa alam semesta tidak memiliki tepi maupun pusat. Pada skala yang lebih kecil, galaksi-galaksi berkumpul membentuk [[gugus galaksi]] dan [[supergugus]] yang tersusun menjadi filamen raksasa dan [[kekosongan (astronomi)|ruang hampa]] luas, menciptakan struktur besar menyerupai busa kosmik. Penemuan-penemuan pada awal abad ke-20 mengindikasikan bahwa alam semesta memiliki permulaan dan terus mengalami perluasan sejak saat itu. | Beberapa [[Garis waktu teori kosmologi|model kosmologis]] paling awal tentang alam semesta dikembangkan oleh para filsuf [[filsafat Yunani kuno|Yunani kuno]] dan [[filsafat India|India]], yang bersifat [[model geosentris|geosentris]], menempatkan Bumi sebagai pusat alam semesta.<ref>Yvonne Dold-Samplonius. ''From China to Paris: 2000 Years Transmission of Mathematical Ideas''. Franz Steiner Verlag. 2002.</ref><ref>Thomas F. Glick. [https://archive.org/details/medievalsciencet0000unse Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia]. Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-96930-7.</ref> Seiring berjalannya waktu, pengamatan astronomis yang semakin akurat menuntun [[Nicolaus Copernicus]] untuk merumuskan model [[heliosentrisme|heliosentris]], yang menempatkan [[Matahari]] di pusat [[Tata Surya]]. Dalam mengembangkan [[hukum gravitasi universal]], [[Isaac Newton]] membangun teori tersebut dengan landasan pemikiran [[Johannes Kepler]] tentang [[hukum gerak planet]] serta hasil pengamatan [[Tycho Brahe]]. | ||
Kemajuan dalam pengamatan lebih lanjut kemudian menyingkap bahwa Matahari hanyalah salah satu dari ratusan miliar bintang dalam [[Bima Sakti]], yang pada gilirannya merupakan satu di antara ratusan miliar galaksi dalam alam semesta teramati. Banyak bintang di dalam galaksi juga diketahui [[eksoplanet|memiliki planet]] sendiri. [[Alam semesta teramati#Akhir dari Kebesaran|Dalam skala terbesar]], galaksi-galaksi tersebar secara seragam ke segala arah, menandakan bahwa alam semesta tidak memiliki tepi maupun pusat. Pada skala yang lebih kecil, galaksi-galaksi berkumpul membentuk [[gugus galaksi]] dan [[supergugus]] yang tersusun menjadi filamen raksasa dan [[kekosongan (astronomi)|ruang hampa]] luas, menciptakan struktur besar menyerupai busa kosmik.<ref>Bradley W. Carroll. [https://books.google.com/books?id=RLwangEACAAJ An Introduction to Modern Astrophysics]. Pearson. 2013. hlm. 1173–1174. ISBN 978-1-292-02293-2.</ref> Penemuan-penemuan pada awal abad ke-20 mengindikasikan bahwa alam semesta memiliki permulaan dan terus mengalami perluasan sejak saat itu.<ref>Stephen Hawking. [https://archive.org/details/briefhistoryofti0000hawk_j2d2 A Brief History of Time]. Bantam. 1988. hlm. [https://archive.org/details/briefhistoryofti0000hawk_j2d2/page/43 43]. ISBN 978-0-553-05340-1.</ref> | |||
Menurut teori Dentuman Besar, energi dan materi yang ada pada awal mula semakin menipis kerapatannya seiring mengembangnya alam semesta. Setelah fase percepatan luar biasa yang disebut [[inflasi kosmik|inflasi]] sekitar 10<sup>−32</sup> detik setelah awal mula, serta terpisahnya empat [[interaksi fundamental]] yang kini dikenal, alam semesta perlahan mendingin dan terus mengembang, memungkinkan terbentuknya [[partikel subatom]] pertama serta [[atom]]-atom sederhana. Awan raksasa [[hidrogen]] dan [[helium]] kemudian tertarik menuju wilayah dengan [[kepadatan]] materi lebih tinggi, membentuk galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan segala struktur yang kini kita kenal. | Menurut teori Dentuman Besar, energi dan materi yang ada pada awal mula semakin menipis kerapatannya seiring mengembangnya alam semesta. Setelah fase percepatan luar biasa yang disebut [[inflasi kosmik|inflasi]] sekitar 10<sup>−32</sup> detik setelah awal mula, serta terpisahnya empat [[interaksi fundamental]] yang kini dikenal, alam semesta perlahan mendingin dan terus mengembang, memungkinkan terbentuknya [[partikel subatom]] pertama serta [[atom]]-atom sederhana. Awan raksasa [[hidrogen]] dan [[helium]] kemudian tertarik menuju wilayah dengan [[kepadatan]] materi lebih tinggi, membentuk galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan segala struktur yang kini kita kenal. | ||
Melalui kajian tentang pengaruh [[gravitasi]] terhadap materi dan cahaya, ditemukan bahwa alam semesta mengandung jauh lebih banyak materi daripada yang dapat diamati, seperti bintang, galaksi, nebula, dan gas antarbintang. Materi tak kasatmata ini dikenal sebagai [[materi gelap]]. Dalam model kosmologis yang paling luas diterima, yaitu [[model Lambda-CDM|ΛCDM]], materi gelap diperkirakan menyusun sekitar dari total massa dan energi alam semesta, sementara sekitar terdiri atas [[energi gelap]], bentuk energi misterius yang diyakini menyebabkan [[percepatan perluasan|percepatan]] ekspansi alam semesta. Sementara itu, materi biasa ('[[Barion#Materi Barionik|barionik]]') hanya mencakup sekitar dari keseluruhan alam semesta, dan bintang, planet, serta awan gas tampak hanya membentuk kira-kira 6% dari bagian materi biasa ini. | Melalui kajian tentang pengaruh [[gravitasi]] terhadap materi dan cahaya, ditemukan bahwa alam semesta mengandung jauh lebih banyak materi daripada yang dapat diamati, seperti bintang, galaksi, nebula, dan gas antarbintang. Materi tak kasatmata ini dikenal sebagai [[materi gelap]].<ref>Nola Redd. [https://www.space.com/20930-dark-matter.html What is Dark Matter?]. ''Space.com''.</ref> Dalam model kosmologis yang paling luas diterima, yaitu [[model Lambda-CDM|ΛCDM]], materi gelap diperkirakan menyusun sekitar dari total massa dan energi alam semesta, sementara sekitar terdiri atas [[energi gelap]], bentuk energi misterius yang diyakini menyebabkan [[percepatan perluasan|percepatan]] ekspansi alam semesta.<ref>[https://www.aanda.org/articles/aa/full_html/2016/10/aa27101-15/T9.html Planck 2015 results, table 9].</ref> Sementara itu, materi biasa ('[[Barion#Materi Barionik|barionik]]') hanya mencakup sekitar dari keseluruhan alam semesta,<ref>[https://www.aanda.org/articles/aa/full_html/2016/10/aa27101-15/T9.html Planck 2015 results, table 9].</ref> dan bintang, planet, serta awan gas tampak hanya membentuk kira-kira 6% dari bagian materi biasa ini.<ref>Massimo Persic. ''The baryon content of the Universe''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. September 1, 1992. Vol. 258 (1). hlm. 14P–18P. doi:10.1093/mnras/258.1.14P.</ref> | ||
Terdapat berbagai hipotesis yang saling bersaing mengenai [[nasib akhir alam semesta]] dan apa yang mendahului Dentuman Besar, jika ada. Sementara sebagian fisikawan dan filsuf enggan berspekulasi lebih jauh, karena meragukan bahwa informasi mengenai keadaan sebelumnya dapat diakses. Beberapa ilmuwan fisika telah mengajukan berbagai hipotesis [[multisemesta]], yang menyatakan bahwa alam semesta kita mungkin hanyalah salah satu dari sekian banyak alam semesta lain.<ref>Brian Greene. ''The Hidden Reality''. Alfred A. Knopf. 2011.</ref><ref>George F. R. Ellis. ''Multiverses and physical cosmology''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.</ref><ref>[https://www.bbc.com/news/science-environment-14372387 'Multiverse' theory suggested by microwave background]. ''BBC News''. August 3, 2011.</ref> | |||
== Definisi == | == Definisi == | ||
Alam semesta fisik didefinisikan sebagai keseluruhan dari [[ruang]] dan [[waktu]] (yang secara kolektif disebut [[ruang-waktu]]) beserta seluruh isinya.<ref>Michael Zeilik. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil Introductory Astronomy & Astrophysics]. Saunders College. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.</ref> Isi tersebut mencakup seluruh bentuk [[energi]] dalam berbagai wujudnya, termasuk [[radiasi elektromagnetik]] dan [[materi]], yang karenanya meliputi planet-planet, [[satelit alami|bulan]], bintang, galaksi, dan segala sesuatu yang berada di dalam [[ruang antargalaksi]].<ref>[https://www.britannica.com/science/universe Universe]. 2012.</ref><ref>[http://www.merriam-webster.com/dictionary/Universe Universe]. ''Merriam-Webster Dictionary''.</ref><ref>[http://dictionary.reference.com/browse/Universe?s=t Universe]. ''Dictionary.com''.</ref> Alam semesta juga mencakup [[hukum fisika]] yang memengaruhi energi dan materi, seperti [[hukum kekekalan]], [[mekanika klasik]], serta [[Teori relativitas|relativitas]].<ref>Duco A. Schreuder. [https://books.google.com/books?id=I7a7BQAAQBAJ&pg=PA135 Vision and Visual Perception]. Archway Publishing. 2014. hlm. 135. ISBN 978-1-4808-1294-9.</ref> | |||
Alam semesta kerap didefinisikan sebagai "keseluruhan eksistensi", yakni [[segala sesuatu]] yang ada, yang pernah ada, dan yang akan ada.<ref>Duco A. Schreuder. [https://books.google.com/books?id=I7a7BQAAQBAJ&pg=PA135 Vision and Visual Perception]. Archway Publishing. 2014. hlm. 135. ISBN 978-1-4808-1294-9.</ref> Bahkan, sejumlah filsuf dan ilmuwan mendukung pandangan bahwa gagasan serta konsep-konsep abstrak, seperti matematika dan logika, turut termasuk dalam pengertian alam semesta.<ref>Jim Holt. [https://archive.org/details/whydoesworldexis0000holt_c0t9 Why Does the World Exist?]. Liveright Publishing. 2012. hlm. [https://archive.org/details/whydoesworldexis0000holt_c0t9/page/308 308].</ref><ref>Timothy Ferris. [https://archive.org/details/wholeshebangstat00ferr The Whole Shebang: A State-of-the-Universe(s) Report]. Simon & Schuster. 1997. hlm. [https://archive.org/details/wholeshebangstat00ferr/page/n403 400].</ref> Kata ''alam semesta'' juga kerap digunakan untuk merujuk pada konsep seperti ''[[kosmos]]'', ''[[dunia]]'', dan ''[[alam]]''.<ref>Paul Copan. [https://archive.org/details/creationoutofnot0000copa/page/220 Creation Out of Nothing: A Biblical, Philosophical, and Scientific Exploration]. Baker Academic. 2004. hlm. [https://archive.org/details/creationoutofnot0000copa/page/220 220]. ISBN 978-0-8010-2733-8.</ref><ref>Alexander Bolonkin. [https://books.google.com/books?id=TuWQx58ZnPsC&pg=PA3 Universe, Human Immortality and Future Human Evaluation]. Elsevier. 2011. hlm. 3–. ISBN 978-0-12-415801-6.</ref> | |||
Alam semesta kerap didefinisikan sebagai "keseluruhan eksistensi", yakni [[segala sesuatu]] yang ada, yang pernah ada, dan yang akan ada. Bahkan, sejumlah filsuf dan ilmuwan mendukung pandangan bahwa gagasan serta konsep-konsep abstrak, seperti matematika dan logika, turut termasuk dalam pengertian alam semesta. Kata ''alam semesta'' juga kerap digunakan untuk merujuk pada konsep seperti ''[[kosmos]]'', ''[[dunia]]'', dan ''[[alam]]''. | |||
== Etimologi == | == Etimologi == | ||
Dalam [[bahasa Indonesia]], istilah ''alam semesta'' berasal dari gabungan kata ''alam'' dan ''semesta''. Kata ''alam'' diserap dari [[bahasa Arab]] ''ālam'' (عالَم) yang berarti "dunia", "jagat raya" atau "seluruh makhluk", sedangkan kata ''semesta'' diserap dari [[Bahasa Sanskerta|bahasa Sansekerta]] ''samasta'' (समस्त) yang berarti "seluruh", "keseluruhan" atau "bersama". Gabungan dari keduanya secara harfiah dapat diartikan sebagai "keseluruhan dunia" atau "seluruh jagat raya". | Dalam [[bahasa Indonesia]], istilah ''alam semesta'' berasal dari gabungan kata ''alam'' dan ''semesta''. Kata ''alam'' diserap dari [[bahasa Arab]] ''ālam'' (عالَم) yang berarti "dunia", "jagat raya" atau "seluruh makhluk",<ref>Jones Russell. ''Loan-Words In Indonesian And Malay''. Yayasan Obor Indonesia. 2008. ISBN 978-602-433-174-0.</ref> sedangkan kata ''semesta'' diserap dari [[Bahasa Sanskerta|bahasa Sansekerta]] ''samasta'' (समस्त) yang berarti "seluruh", "keseluruhan" atau "bersama".<ref>Monier Monier-Williams. ''A Sanskrit–English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages''. Motilal Banarsidass Publishing House. 1899.</ref> Gabungan dari keduanya secara harfiah dapat diartikan sebagai "keseluruhan dunia" atau "seluruh jagat raya". | ||
=== Sinonim === | === Sinonim === | ||
Dalam tradisi para filsuf Yunani kuno sejak masa [[Pythagoras]], istilah yang digunakan untuk menyebut ''alam semesta'' antara lain adalah () yang berarti "keseluruhan", didefinisikan sebagai seluruh materi dan seluruh ruang; serta () yang berarti "segala sesuatu", meskipun tidak selalu mencakup kehampaan atau ruang kosong. Sinonim lainnya adalah () yang berarti "[[dunia (filsafat)|dunia]]" atau "[[kosmos]]". | Dalam tradisi para filsuf Yunani kuno sejak masa [[Pythagoras]], istilah yang digunakan untuk menyebut ''alam semesta'' antara lain adalah () yang berarti "keseluruhan", didefinisikan sebagai seluruh materi dan seluruh ruang; serta () yang berarti "segala sesuatu", meskipun tidak selalu mencakup kehampaan atau ruang kosong.<ref>Liddell. [http://lsj.gr/wiki/πᾶς A Greek-English Lexicon]. ''lsj.gr''.</ref><ref>Liddell. [http://lsj.gr/wiki/ὅλος A Greek-English Lexicon]. ''lsj.gr''.</ref> Sinonim lainnya adalah () yang berarti "[[dunia (filsafat)|dunia]]" atau "[[kosmos]]".<ref>Liddell. [https://lsj.gr/wiki/κόσμος A Greek–English Lexicon]. ''lsj.gr''.</ref> | ||
Istilah-istilah serupa juga ditemukan dalam karya penulis Latin, seperti , , dan . Istilah-istilah ini masih lestari dalam berbagai bahasa modern, misalnya dalam [[bahasa Jerman]]: , , dan yang semuanya bermakna "alam semesta". Sinonim serupa juga terdapat dalam bahasa Inggris, seperti ''everything'' (misalnya dalam istilah [[theory of everything|teori segala sesuatu]]), ''cosmos'' (seperti dalam [[kosmologi]]), ''world'' (seperti dalam [[interpretasi banyak-dunia]]), dan ''nature'' (seperti dalam [[hukum alam]] atau [[filsafat alam]]). | Istilah-istilah serupa juga ditemukan dalam karya penulis Latin, seperti , , dan .<ref>Lewis, C.T. [https://archive.org/details/latindictionaryf00lewi A Latin Dictionary]. Clarendon Press (aslinya diterbitkan oleh Oxford University Press). 1966. hlm. [https://archive.org/details/latindictionaryf00lewi/page/n1188 1175], 1189–1190, 1881–1882. ISBN 978-0-19-864201-5.</ref> Istilah-istilah ini masih lestari dalam berbagai bahasa modern, misalnya dalam [[bahasa Jerman]]: , , dan yang semuanya bermakna "alam semesta". Sinonim serupa juga terdapat dalam bahasa Inggris, seperti ''everything'' (misalnya dalam istilah [[theory of everything|teori segala sesuatu]]), ''cosmos'' (seperti dalam [[kosmologi]]), ''world'' (seperti dalam [[interpretasi banyak-dunia]]), dan ''nature'' (seperti dalam [[hukum alam]] atau [[filsafat alam]]).<ref>[https://archive.org/details/compacteditionof03robe/page/569 The Compact Edition of the Oxford English Dictionary]. Oxford University Press. 1971. Vol. II. hlm. [https://archive.org/details/compacteditionof03robe/page/569 569, 909, 1900, 3821–3822]. ISBN 978-0-19-861117-2.</ref> | ||
== Kronologi dan Dentuman Besar == | == Kronologi dan Dentuman Besar == | ||
Model yang paling banyak diterima untuk menjelaskan evolusi alam semesta adalah teori [[Dentuman Besar]] (''[[Big Bang]]'').<ref>Joseph Silk. ''Horizons of Cosmology''. Templeton Pressr. 2009. hlm. 208.</ref><ref>Simon Singh. [https://archive.org/details/bigbangoriginofu0000sing Big Bang: The Origin of the Universe]. Harper Perennial. 2005. hlm. 560.</ref> Menurut model ini, keadaan awal alam semesta merupakan kondisi yang luar biasa panas dan padat, yang kemudian mengalami pengembangan dan pendinginan seiring waktu. Model ini berlandaskan pada teori [[relativitas umum]] serta sejumlah asumsi penyederhanaan, seperti [[homogenitas]] dan [[isotropi]] ruang. Salah satu versi yang paling sederhana, yang mencakup [[konstanta kosmologis]] (Lambda) serta [[materi gelap dingin]], dikenal sebagai model [[Model Lambda-CDM|Lambda-CDM]], dan merupakan model yang paling berhasil menjelaskan berbagai pengamatan mengenai alam semesta. | |||
Keadaan awal yang sangat panas dan padat ini disebut [[Era Planck]] (''Planck epoch''), berlangsung dari waktu nol hingga satu satuan [[waktu Planck]], sekitar 10<sup>−43</sup> detik. Pada masa ini, seluruh bentuk materi dan energi terkonsentrasi dalam keadaan amat rapat, dan [[gravitasi]], yang kini merupakan yang terlemah di antara [[interaksi dasar|empat interaksi fundamental]], diduga memiliki kekuatan yang setara dengan gaya-gaya fundamental lainnya, bahkan mungkin menyatu dalam satu [[Teori Penyatuan Agung|gaya tunggal]]. Fisika yang mengatur masa amat awal ini (termasuk [[gravitasi kuantum]] pada Zaman Planck) masih belum dipahami sepenuhnya, sehingga kita tidak dapat memastikan, jika ada, apa yang terjadi [[Dentuman Besar#Kosmologi pra-Dentuman Besar|sebelum waktu nol]]. Sejak Zaman Planck, [[perluasan alam semesta]] berlangsung hingga mencapai skala seperti saat ini, didahului oleh masa singkat tetapi sangat cepat yang dikenal sebagai [[inflasi kosmik]], yang diduga terjadi dalam sekitar 10<sup>−32</sup> detik pertama.<ref>Sivaram. ''Evolution of the Universe through the Planck epoch''. ''Astrophysics and Space Science''. 1986. Vol. 125 (1). hlm. 189–199. doi:10.1007/BF00643984.</ref> Masa inflasi inilah yang menjelaskan mengapa ruang tampak [[Masalah kerataan|sangat datar]] hingga kini. | |||
Dalam sebagian detik pertama setelah terciptanya alam semesta, keempat gaya fundamental mulai terpisah. Ketika alam semesta mendingin dari keadaan luar biasa panas itu, berbagai [[partikel elementer]] mulai berasosiasi membentuk struktur yang lebih besar dan stabil seperti [[proton]] dan [[neutron]], yang selanjutnya bergabung menjadi [[inti atom]] melalui proses [[fusi nuklir]].<ref>Jennifer A. Johnson. ''Populating the periodic table: Nucleosynthesis of the elements''. ''Science''. February 2019. Vol. 363 (6426). hlm. 474–478. doi:10.1126/science.aau9540.</ref><ref>Ruth Durrer. [https://archive.org/details/cosmicmicrowaveb0000durr_z5w1 The Cosmic Microwave Background]. Cambridge University Press. 2008. ISBN 978-0-521-84704-9.</ref> | |||
Proses ini, yang dikenal sebagai [[nukleosintesis Dentuman Besar]] (''Big Bang nucleosynthesis''), berlangsung sekitar 17 menit dan berakhir kira-kira 20 menit setelah Dentuman Besar. Karena waktu yang sangat singkat, hanya reaksi paling cepat dan sederhana yang terjadi. Sekitar 25% dari [[proton]] dan seluruh [[neutron]] di alam semesta, berdasarkan massa, berubah menjadi [[helium]], bersama sejumlah kecil [[deuterium]] (bentuk [[hidrogen]] ber[[isotop]]) dan jejak [[litium]]. Unsur kimia lain hanya terbentuk dalam jumlah yang sangat kecil. Sekitar 75% proton sisanya tetap sebagai inti [[hidrogen]].<ref>Jennifer A. Johnson. ''Populating the periodic table: Nucleosynthesis of the elements''. ''Science''. February 2019. Vol. 363 (6426). hlm. 474–478. doi:10.1126/science.aau9540.</ref><ref>Ruth Durrer. [https://archive.org/details/cosmicmicrowaveb0000durr_z5w1 The Cosmic Microwave Background]. Cambridge University Press. 2008. ISBN 978-0-521-84704-9.</ref> | |||
Setelah nukleosintesis berakhir, alam semesta memasuki tahap yang dikenal sebagai [[era foton]] (''photon epoch''). Pada masa ini, suhu alam semesta masih terlalu tinggi bagi materi untuk membentuk [[atom]] netral, sehingga terbentuk [[plasma]] padat dan panas yang terdiri atas [[elektron]] bermuatan negatif, [[neutrino]] netral, dan inti positif. Sekitar 377.000 tahun kemudian, alam semesta cukup mendingin sehingga elektron dan inti dapat bersatu membentuk [[atom]] stabil pertama. Proses ini disebut [[rekombinasi (kosmologi)|rekombinasi]], walau sesungguhnya penggabungan ini terjadi untuk pertama kalinya. Tidak seperti plasma, atom netral bersifat [[opasitas|tembus cahaya]] terhadap banyak [[panjang gelombang]], sehingga untuk pertama kalinya alam semesta menjadi transparan. Foton-foton yang "[[lepas]]" pada masa ini masih dapat diamati hingga kini sebagai [[radiasi latar gelombang mikro kosmik]] (''cosmic microwave background'', CMB).<ref>Ruth Durrer. [https://archive.org/details/cosmicmicrowaveb0000durr_z5w1 The Cosmic Microwave Background]. Cambridge University Press. 2008. ISBN 978-0-521-84704-9.</ref> | |||
Seiring pengembangan alam semesta, [[kepadatan energi]] [[radiasi elektromagnetik]] berkurang lebih cepat dibandingkan [[materi]], karena energi setiap foton menurun akibat [[pergeseran merah kosmologis]]. Sekitar 47.000 tahun setelah Dentuman Besar, kepadatan energi materi menjadi lebih besar daripada foton dan [[neutrino]], dan mulai mendominasi perilaku alam semesta dalam skala besar. Peristiwa ini menandai akhir dari [[era dominasi radiasi]] dan awal [[era dominasi materi]].<ref>Andrew M. Steane. ''Relativity Made Relatively Easy, Volume 2: General Relativity and Cosmology''. Oxford University Press. 2021. ISBN 978-0-192-89564-6.</ref> | |||
Pada tahap-tahap awal ini, fluktuasi kecil dalam [[kepadatan]] alam semesta menyebabkan terbentuknya [[struktur serat kosmik|filamen]] [[materi gelap]]. Materi biasa, tertarik oleh [[gravitasi]] ke daerah padat ini, membentuk awan gas besar yang akhirnya melahirkan bintang dan galaksi di wilayah paling padat, serta [[kekosongan (astronomi)|rongga-rongga besar]] di daerah paling jarang. Sekitar 100 hingga 300 juta tahun kemudian,<ref>Andrew M. Steane. ''Relativity Made Relatively Easy, Volume 2: General Relativity and Cosmology''. Oxford University Press. 2021. ISBN 978-0-192-89564-6.</ref> lahirlah bintang-bintang pertama, yang dikenal sebagai [[bintang Populasi III]]. Bintang-bintang ini kemungkinan sangat besar, terang, miskin logam, dan berumur pendek. Mereka berperan penting dalam [[pengionan kembali]] alam semesta antara sekitar 200 juta hingga 1 miliar tahun, serta menaburkan unsur-unsur lebih berat dari helium melalui [[nukleosintesis bintang]].<ref>Richard B. Larson. [http://www.scientificamerican.com/article/the-first-stars-in-the-un/ The First Stars in the Universe]. ''Scientific American''. March 2002.</ref> | |||
Alam semesta juga mengandung suatu bentuk energi misterius, kemungkinan berupa [[medan skalar]], yang disebut [[energi gelap]], dengan kepadatan yang tidak berubah terhadap waktu. Sekitar 9,8 miliar tahun setelah Dentuman Besar, alam semesta telah mengembang cukup jauh sehingga kepadatan materi menjadi lebih kecil dibanding kepadatan energi gelap, menandai awal [[era dominasi energi gelap]] yang kita alami kini.<ref>Ryden, Barbara, "Introduction to Cosmology", 2006, eqn. 6.33</ref> Dalam era ini, pengembangan alam semesta berlangsung [[percepatan perluasan alam semesta|semakin cepat]] akibat pengaruh energi gelap. | |||
Alam semesta juga mengandung suatu bentuk energi misterius, kemungkinan berupa [[medan skalar]], yang disebut [[energi gelap]], dengan kepadatan yang tidak berubah terhadap waktu. Sekitar 9,8 miliar tahun setelah Dentuman Besar, alam semesta telah mengembang cukup jauh sehingga kepadatan materi menjadi lebih kecil dibanding kepadatan energi gelap, menandai awal [[era dominasi energi gelap]] yang kita alami kini. Dalam era ini, pengembangan alam semesta berlangsung [[percepatan perluasan alam semesta|semakin cepat]] akibat pengaruh energi gelap. | |||
== Sifat fisik == | == Sifat fisik == | ||
Dari empat [[interaksi fundamental]] di alam semesta, [[gravitasi]] merupakan kekuatan yang paling dominan pada skala panjang astronomis. Efek gravitasi bersifat kumulatif; sedangkan efek muatan positif dan negatif cenderung saling meniadakan, sehingga [[elektromagnetisme]] menjadi relatif tidak signifikan pada skala kosmik. Dua interaksi lainnya, yakni [[gaya nuklir lemah|gaya lemah]] dan [[gaya nuklir kuat]], menurun sangat cepat terhadap jarak; pengaruh keduanya terbatas hampir seluruhnya pada skala panjang subatomik.<ref>Paul Peter Urone. [https://openstax.org/books/college-physics-2e/pages/33-4-particles-patterns-and-conservation-laws College Physics 2e]. OpenStax. 2022. ISBN 978-1-951-69360-2.</ref> | |||
Alam semesta tampak memiliki lebih banyak [[materi]] dibandingkan dengan [[antimateri]], suatu asimetri yang kemungkinan berkaitan dengan fenomena [[pelanggaran CP]].<ref>[http://www.pparc.ac.uk/Ps/bbs/bbs_antimatter.asp Antimatter]. Dewan Riset Fisika Partikel dan Astronomi. 28 Oktober 2003.</ref> Ketidakseimbangan antara materi dan antimateri inilah yang sebagian menjelaskan keberadaan seluruh materi yang ada saat ini. Sebab, apabila jumlah materi dan antimateri yang tercipta dalam [[Dentuman Besar]] sama banyaknya, keduanya akan saling melenyapkan dan meninggalkan hanya [[foton]] sebagai sisa dari interaksi tersebut.<ref>Smorra C. [https://cds.cern.ch/record/2291601/files/nature24048.pdf A parts-per-billion measurement of the antiproton magnetic moment]. ''Nature''. 20 Oktober 2017. Vol. 550 (7676). hlm. 371–374. doi:10.1038/nature24048.</ref> | |||
Alam semesta tampak memiliki lebih banyak [[materi]] dibandingkan dengan [[antimateri]], suatu asimetri yang kemungkinan berkaitan dengan fenomena [[pelanggaran CP]]. Ketidakseimbangan antara materi dan antimateri inilah yang sebagian menjelaskan keberadaan seluruh materi yang ada saat ini. Sebab, apabila jumlah materi dan antimateri yang tercipta dalam [[Dentuman Besar]] sama banyaknya, keduanya akan saling melenyapkan dan meninggalkan hanya [[foton]] sebagai sisa dari interaksi tersebut. | |||
=== Ukuran dan wilayah === | === Ukuran dan wilayah === | ||
Karena [[kecepatan cahaya]] bersifat terbatas, ada suatu batas yang dikenal sebagai [[cakrawala partikel]], yakni sejauh mana cahaya dapat menempuh jarak sepanjang [[usia alam semesta]]. Wilayah ruang dari mana kita dapat menerima cahaya disebut [[alam semesta teramati]]. [[Jarak comoving|Jarak sebenarnya]] (yang diukur pada waktu tertentu) antara Bumi dan tepi alam semesta teramati adalah sekitar 46 miliar tahun cahaya<ref>Itzhak Bars. [https://books.google.com/books?id=fFSMatekilIC&pg=PA27 Extra Dimensions in Space and Time]. Springer. 2018. hlm. 27–. ISBN 978-0-387-77637-8.</ref><ref>Leah Crane. ''How big is the universe, really?''. ''New Scientist''. 29 Juni 2024. hlm. 31.</ref> (14 miliar [[parsec]]), sehingga [[Alam semesta teramati#Ukuran|diameter alam semesta teramati]] mencapai sekitar 93 miliar tahun cahaya (28 miliar parsec).<ref>Itzhak Bars. [https://books.google.com/books?id=fFSMatekilIC&pg=PA27 Extra Dimensions in Space and Time]. Springer. 2018. hlm. 27–. ISBN 978-0-387-77637-8.</ref> Meskipun jarak yang ditempuh cahaya dari tepi alam semesta teramati mendekati hasil perkalian [[usia alam semesta]] dengan kecepatan cahaya, yakni sekitar , jarak sebenarnya lebih besar karena tepi alam semesta teramati dan Bumi telah saling menjauh akibat pengembangan ruang.<ref>Christopher Crockett. [http://earthsky.org/space/what-is-a-light-year What is a light-year?]. ''EarthSky''. 20 Februari 2013.</ref> | |||
Sebagai perbandingan, diameter rata-rata sebuah [[galaksi]] adalah sekitar 30.000 tahun cahaya (9.198 [[parsec]]), dan jarak rata-rata antara dua galaksi terdekat adalah sekitar 3 juta [[tahun cahaya]] (919,8 kiloparsec).<ref>.</ref> Sebagai contoh, [[Bima Sakti]] memiliki diameter sekitar 87.400 tahun cahaya,<ref>S. P. Goodwin. ''The relative size of the Milky Way''. ''The Observatory''. Agustus 1998. Vol. 118. hlm. 201–208.</ref> dan galaksi terdekat yang bersaudara dengannya, yaitu [[Galaksi Andromeda]], terletak kira-kira 2,5 juta tahun cahaya dari Bumi.<ref>Ribas. ''First Determination of the Distance and Fundamental Properties of an Eclipsing Binary in the Andromeda Galaxy''. ''Astrophysical Journal''. 2005. Vol. 635 (1). hlm. L37–L40. doi:10.1086/499161. McConnachie, A.W. ''Distances and metallicities for 17 Local Group galaxies''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2005. Vol. 356 (4). hlm. 979–997. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.08514.x.</ref> | |||
Karena manusia tidak dapat mengamati ruang di luar batas alam semesta teramati, sejauh ini tidak diketahui apakah keseluruhan alam semesta bersifat hingga atau tak hingga.<ref>Brian Greene. ''The Hidden Reality''. Alfred A. Knopf. 2011.</ref><ref>Vanessa Janek. [http://www.universetoday.com/119068/how-can-space-travel-faster-than-the-speed-of-light/ How can space travel faster than the speed of light?]. ''Universe Today''. 20 Februari 2015.</ref><ref>[http://math.ucr.edu/home/baez/physics/Relativity/SpeedOfLight/FTL.html#13 Is faster-than-light travel or communication possible? Section: Expansion of the Universe]. ''Philip Gibbs''. 1997.</ref> Sebuah perkiraan tahun 2011 menunjukkan bahwa jika [[prinsip kosmologi]] berlaku, maka keseluruhan alam semesta harus setidaknya 250 kali lebih besar dari sebuah [[bola Hubble]].<ref>M. Vardanyan. ''Applications of Bayesian model averaging to the curvature and size of the Universe''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters''. 28 Januari 2011. Vol. 413 (1). hlm. L91–L95. doi:10.1111/j.1745-3933.2011.01040.x.</ref> Beberapa perkiraan lain, meski masih diperdebatkan, menyebutkan bahwa jika alam semesta memilki sifat berhingga, ukurannya bisa mencapai <math>10^{10^{10^{122}}}</math> megaparsek, sebagaimana diimplikasikan oleh salah satu penyelesaian yang diusulkan terhadap [[keadaan Hartle–Hawking|Proposal Tanpa-Batas Hartle–Hawking]].<ref>Don N. Page. ''Susskind's Challenge to the Hartle-Hawking No-Boundary Proposal and Possible Resolutions''. ''Journal of Cosmology and Astroparticle Physics''. 2007. Vol. 2007 (1). hlm. 004. doi:10.1088/1475-7516/2007/01/004.</ref> | |||
Karena manusia tidak dapat mengamati ruang di luar batas alam semesta teramati, sejauh ini tidak diketahui apakah keseluruhan alam semesta bersifat hingga atau tak hingga. Sebuah perkiraan tahun 2011 menunjukkan bahwa jika [[prinsip kosmologi]] berlaku, maka keseluruhan alam semesta harus setidaknya 250 kali lebih besar dari sebuah [[bola Hubble]]. Beberapa perkiraan lain, meski masih diperdebatkan, menyebutkan bahwa jika alam semesta memilki sifat berhingga, ukurannya bisa mencapai <math>10^{10^{10^{122}}}</math> megaparsek, sebagaimana diimplikasikan oleh salah satu penyelesaian yang diusulkan terhadap [[keadaan Hartle–Hawking|Proposal Tanpa-Batas Hartle–Hawking]]. | |||
=== Usia dan perluasan === | === Usia dan perluasan === | ||
Dengan mengasumsikan bahwa [[model Lambda-CDM]] adalah benar, berbagai pengukuran terhadap parameternya melalui beragam teknik dan eksperimen menunjukkan bahwa usia terbaik alam semesta adalah sekitar 13,799 [[Ketidakpastian pengukuran|±]] 0,021 miliar tahun, sebagaimana hasil perhitungan hingga tahun 2015.<ref>Planck Collaboration. ''Planck 2015 results. XIII. Cosmological parameters''. ''Astronomy & Astrophysics''. 2016. Vol. 594. hlm. A13, Table 4. doi:10.1051/0004-6361/201525830.</ref> | |||
Seiring berjalannya waktu, alam semesta beserta isinya telah mengalami evolusi. Sebagai contoh, populasi relatif antara [[kuasar]] dan galaksi telah berubah,<ref>Phil Berardelli. [https://www.science.org/content/article/galaxy-collisions-give-birth-quasars Galaxy Collisions Give Birth to Quasars]. ''Science News''. 25 Maret 2010.</ref> dan [[perluasan alam semesta]] pun terus berlangsung. Perluasan ini disimpulkan dari pengamatan terhadap [[pergeseran merah]] pada cahaya galaksi-galaksi jauh, yang menunjukkan bahwa galaksi-galaksi tersebut sedang menjauh dari kita. Analisis terhadap [[supernova Tipe Ia]] memperlihatkan bahwa [[Percepatan perluasan alam semesta|laju pengembangan tersebut justru mengalami percepatan]].<ref>Riess, Adam G. [https://archive.org/details/sim_astronomical-journal_1998-09_116_3/page/1008 Observational evidence from supernovae for an accelerating universe and a cosmological constant]. ''Astronomical Journal''. 1998. Vol. 116 (3). hlm. 1009–1038. doi:10.1086/300499.</ref><ref>Perlmutter, S. [https://archive.org/details/sim_astrophysical-journal_1999-06-01_517_2/page/564 Measurements of Omega and Lambda from 42 high redshift supernovae]. ''Astrophysical Journal''. 1999. Vol. 517 (2). hlm. 565–586. doi:10.1086/307221.</ref> | |||
Seiring berjalannya waktu, alam semesta beserta isinya telah mengalami evolusi. Sebagai contoh, populasi relatif antara [[kuasar]] dan galaksi telah berubah, dan [[perluasan alam semesta]] pun terus berlangsung. Perluasan ini disimpulkan dari pengamatan terhadap [[pergeseran merah]] pada cahaya galaksi-galaksi jauh, yang menunjukkan bahwa galaksi-galaksi tersebut sedang menjauh dari kita. Analisis terhadap [[supernova Tipe Ia]] memperlihatkan bahwa [[Percepatan perluasan alam semesta|laju pengembangan tersebut justru mengalami percepatan]]. | |||
Semakin banyak materi yang terdapat di alam semesta, semakin kuat pula [[gaya gravitasi]] timbal balik antarunsurnya. Jika alam semesta memiliki kerapatan yang ''terlalu tinggi'', maka ia akan runtuh kembali menjadi sebuah [[singularitas gravitasi]]. Namun, bila jumlah materinya ''terlalu sedikit'', gravitasi internalnya tidak akan cukup kuat untuk membentuk struktur-struktur astronomis seperti galaksi atau planet. Sejak [[Dentuman Besar]], alam semesta terus mengembang secara [[monotonik|monoton]]. [[Prinsip antropik#Kebetulan antropik|Mungkin tidak mengherankan]], alam semesta kita memiliki [[Kerapatan massa kritis alam semesta|kerapatan massa–energi yang tepat]], setara dengan sekitar lima proton per meter kubik, cukup untuk memungkinkannya mengembang selama 13,8 miliar tahun terakhir, sehingga memberi waktu bagi pembentukan struktur kosmik seperti yang kita amati kini. | Semakin banyak materi yang terdapat di alam semesta, semakin kuat pula [[gaya gravitasi]] timbal balik antarunsurnya. Jika alam semesta memiliki kerapatan yang ''terlalu tinggi'', maka ia akan runtuh kembali menjadi sebuah [[singularitas gravitasi]]. Namun, bila jumlah materinya ''terlalu sedikit'', gravitasi internalnya tidak akan cukup kuat untuk membentuk struktur-struktur astronomis seperti galaksi atau planet. Sejak [[Dentuman Besar]], alam semesta terus mengembang secara [[monotonik|monoton]]. [[Prinsip antropik#Kebetulan antropik|Mungkin tidak mengherankan]], alam semesta kita memiliki [[Kerapatan massa kritis alam semesta|kerapatan massa–energi yang tepat]], setara dengan sekitar lima proton per meter kubik, cukup untuk memungkinkannya mengembang selama 13,8 miliar tahun terakhir, sehingga memberi waktu bagi pembentukan struktur kosmik seperti yang kita amati kini.<ref>Raymond A. Serway. ''Modern Physics''. Cengage Learning. 2004. hlm. 21. ISBN 978-1-111-79437-8.</ref><ref>Andrew Fraknoi. [https://openstax.org/books/astronomy-2e/pages/29-7-the-anthropic-principle Astronomy 2e]. OpenStax. 2022. hlm. 1017. ISBN 978-1-951-69350-3.</ref> | ||
Terdapat gaya-gaya dinamis yang bekerja pada partikel-partikel di alam semesta yang memengaruhi laju pengembangannya. Sebelum tahun 1998, para ilmuwan memperkirakan bahwa laju pengembangan alam semesta akan semakin menurun seiring waktu akibat pengaruh gravitasi; oleh karena itu, dikenal suatu besaran teramati tambahan dalam kosmologi yang disebut [[parameter perlambatan]], yang diharapkan bernilai positif dan berhubungan dengan kerapatan materi alam semesta. Namun, pada tahun 1998, dua kelompok peneliti secara independen mengukur bahwa nilai parameter tersebut ternyata negatif, kira-kira −0,55. Hal ini secara teknis menunjukkan bahwa turunan kedua dari [[faktor skala kosmik]] <math>\ddot{a}</math> bernilai positif selama 5–6 miliar tahun terakhir. | Terdapat gaya-gaya dinamis yang bekerja pada partikel-partikel di alam semesta yang memengaruhi laju pengembangannya. Sebelum tahun 1998, para ilmuwan memperkirakan bahwa laju pengembangan alam semesta akan semakin menurun seiring waktu akibat pengaruh gravitasi; oleh karena itu, dikenal suatu besaran teramati tambahan dalam kosmologi yang disebut [[parameter perlambatan]], yang diharapkan bernilai positif dan berhubungan dengan kerapatan materi alam semesta. Namun, pada tahun 1998, dua kelompok peneliti secara independen mengukur bahwa nilai parameter tersebut ternyata negatif, kira-kira −0,55. Hal ini secara teknis menunjukkan bahwa turunan kedua dari [[faktor skala kosmik]] <math>\\ddot{a}</math> bernilai positif selama 5–6 miliar tahun terakhir.<ref>[https://www.nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/2011/ The Nobel Prize in Physics 2011].</ref><ref>Dennis Overbye. [https://www.nytimes.com/2003/10/11/us/a-cosmic-jerk-that-reversed-the-universe.html?pagewanted=all&src=pm A 'Cosmic Jerk' That Reversed the Universe]. ''New York Times''. 11 Oktober 2003.</ref> | ||
=== Ruang waktu === | === Ruang waktu === | ||
Fisika modern memandang [[peristiwa (relativitas)|peristiwa]] sebagai sesuatu yang tersusun dalam suatu kesatuan yang disebut [[ruang waktu]].<ref>Schutz, Bernard. [https://archive.org/details/firstcourseingen00bern_0/page/142 A First Course in General Relativity]. Cambridge University Press. 2009. hlm. [https://archive.org/details/firstcourseingen00bern_0/page/142 142, 171]. ISBN 978-0-521-88705-2.</ref> Gagasan ini berasal dari [[teori relativitas khusus]], yang memprediksi bahwa jika seorang pengamat melihat dua peristiwa terjadi di tempat berbeda pada waktu yang sama, maka pengamat kedua yang bergerak relatif terhadap pengamat pertama akan melihat kedua peristiwa tersebut terjadi pada waktu yang berbeda.<ref>N. David Mermin. [https://archive.org/details/itsabouttimeunde0000merm It's About Time: Understanding Einstein's Relativity]. Princeton University Press. 2021. ISBN 978-0-691-12201-4.</ref> Kedua pengamat akan berbeda pendapat mengenai waktu <math>T</math> di antara kedua peristiwa tersebut, dan juga mengenai jarak <math>D</math> yang memisahkannya, tetapi mereka akan sepakat mengenai [[kecepatan cahaya]] <math>c</math> dan akan mengukur nilai yang sama untuk kombinasi <math>c^2T^2 - D^2</math>.<ref>N. David Mermin. [https://archive.org/details/itsabouttimeunde0000merm It's About Time: Understanding Einstein's Relativity]. Princeton University Press. 2021. ISBN 978-0-691-12201-4.</ref> Akar kuadrat dari [[nilai mutlak]] besaran ini disebut ''interval'' antara dua peristiwa. Interval tersebut menggambarkan seberapa jauh dua peristiwa terpisah—bukan hanya dalam ruang atau waktu, melainkan dalam kesatuan ruang waktu.<ref>N. David Mermin. [https://archive.org/details/itsabouttimeunde0000merm It's About Time: Understanding Einstein's Relativity]. Princeton University Press. 2021. ISBN 978-0-691-12201-4.</ref><ref>Dieter Brill. ''Spacetime and Euclidean geometry''. ''General Relativity and Gravitation''. 2006. Vol. 38 (4). hlm. 643–651. doi:10.1007/s10714-006-0254-9.</ref> | |||
Teori relativitas khusus menggambarkan ruang waktu datar. Penerusnya, [[teori relativitas umum]], menjelaskan [[gravitasi]] sebagai kelengkungan [[ruang waktu]] akibat kandungan energinya. Jalur melengkung seperti orbit bukanlah hasil dari gaya yang membelokkan benda dari lintasan lurus ideal, melainkan akibat upaya benda tersebut untuk jatuh bebas melalui ruang waktu yang telah melengkung karena keberadaan massa lain. Sebuah pernyataan terkenal dari [[John Archibald Wheeler]] merangkum teori ini: "Ruang waktu memberi tahu materi bagaimana bergerak; materi memberi tahu ruang waktu bagaimana melengkung",<ref>John Archibald Wheeler. [https://books.google.com/books?id=zGFkK2tTXPsC&pg=PA235 Geons, Black Holes, and Quantum Foam: A Life in Physics]. W. W. Norton & Company. 2010. ISBN 978-0-393-07948-7.</ref><ref>Magdalena Kersting. ''Free fall in curved spacetime – how to visualise gravity in general relativity''. ''Physics Education''. Mei 2019. Vol. 54 (3). hlm. 035008. doi:10.1088/1361-6552/ab08f5.</ref> sehingga tidak ada gunanya memandang salah satunya tanpa yang lain.<ref>Stephen Hawking. [https://archive.org/details/briefhistoryofti0000hawk_j2d2 A Brief History of Time]. Bantam. 1988. hlm. [https://archive.org/details/briefhistoryofti0000hawk_j2d2/page/43 43]. ISBN 978-0-553-05340-1.</ref> [[Hukum gravitasi universal Newton]] merupakan pendekatan yang baik terhadap prediksi relativitas umum ketika efek gravitasi lemah dan benda-benda bergerak lambat dibandingkan dengan kecepatan cahaya.<ref>Herbert Goldstein. ''Classical Mechanics''. Addison Wesley. 2002. ISBN 0-201-31611-0.</ref><ref>Judith R. Goodstein. ''Einstein's Italian Mathematicians: Ricci, Levi-Civita, and the Birth of General Relativity''. American Mathematical Society. 2018. hlm. 143. ISBN 978-1-4704-2846-4.</ref> | |||
Hubungan antara distribusi materi dan kelengkungan ruang waktu dijelaskan oleh [[persamaan medan Einstein]], yang diekspresikan menggunakan [[kalkulus tensor]].<ref>Yvonne Choquet-Bruhat. [https://archive.org/details/generalrelativit0000choq General Relativity and the Einstein Equations]. Oxford University Press. 2009. ISBN 978-0-19-155226-7.</ref><ref>Chanda Prescod-Weinstein. [https://archive.org/details/disorderedcosmos0000pres The Disordered Cosmos: A Journey into Dark Matter, Spacetime, and Dreams Deferred]. Bold Type Books. 2021. ISBN 978-1-5417-2470-9.</ref> Alam semesta tampak sebagai suatu kontinum ruang waktu yang halus, terdiri dari tiga [[dimensi ruang]] dan satu dimensi temporal ([[waktu]]). Oleh karena itu, suatu peristiwa dalam ruang waktu alam semesta fisik dapat diidentifikasi melalui empat koordinat: (''x'', ''y'', ''z'', ''t''). | |||
=== Bentuk === | === Bentuk === | ||
Kosmolog sering bekerja dengan irisan [[ruang-waktu]] yang bersifat [[serupa ruang]] (''space-like''), yaitu permukaan dengan waktu konstan dalam [[Koordinat komoving|koordinat ''comoving'']]. Geometri irisan ruang tersebut ditentukan oleh [[parameter kerapatan]], Omega (Ω), yang didefinisikan sebagai rata-rata kerapatan materi alam semesta dibagi dengan nilai kritisnya. Nilai ini menentukan salah satu dari tiga kemungkinan [[Bentuk alam semesta|geometri]], tergantung pada apakah Ω sama dengan, kurang dari, atau lebih besar dari 1. Masing-masing disebut sebagai alam semesta datar, terbuka, dan tertutup.<ref>[http://map.gsfc.nasa.gov/universe/uni_fate.html What is the Ultimate Fate of the Universe?]. National Aeronautics and Space Administration.</ref> | |||
Pengamatan, termasuk dari [[Cosmic Background Explorer]] (COBE), [[Wilkinson Microwave Anisotropy Probe]] (WMAP), dan peta CMB dari wahana antariksa [[Planck (wahana antariksa)|Planck]], menunjukkan bahwa alam semesta bersifat tak berhingga dalam luasnya tetapi memiliki usia berhingga, sebagaimana dijelaskan oleh model [[Metrik Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker|Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker]] (FLRW).<ref>[https://map.gsfc.nasa.gov/universe/uni_shape.html WMAP – Shape of the Universe]. ''map.gsfc.nasa.gov''.</ref><ref>Jean-Pierre Luminet. [https://cds.cern.ch/record/647738 Dodecahedral space topology as an explanation for weak wide-angle temperature correlations in the cosmic microwave background]. ''Nature''. 9 Oktober 2003. Vol. 425 (6958). hlm. 593–595. doi:10.1038/nature01944.</ref><ref>Boudewijn Roukema. ''A test of the Poincare dodecahedral space topology hypothesis with the WMAP CMB data''. ''Astronomy and Astrophysics''. 2008. Vol. 482 (3). hlm. 747–753. doi:10.1051/0004-6361:20078777.</ref><ref>Ralf Aurich. ''Hyperbolic Universes with a Horned Topology and the CMB Anisotropy''. ''Classical and Quantum Gravity''. 2004. Vol. 21 (21). hlm. 4901–4926. doi:10.1088/0264-9381/21/21/010.</ref> Model FLRW ini mendukung teori inflasi serta model standar kosmologi, yang menggambarkan alam semesta [[Ruang Minkowski|datar]], homogen, dan saat ini didominasi oleh [[materi gelap]] dan [[energi gelap]].<ref>Planck Collaboration. ''Planck 2013 results. XVI. Cosmological parameters''. ''Astronomy & Astrophysics''. 2014. Vol. 571. hlm. A16. doi:10.1051/0004-6361/201321591.</ref><ref>[http://physicsworld.com/cws/article/news/2013/mar/21/planck-reveals-almost-perfect-universe Planck reveals 'almost perfect' universe]. ''Michael Banks''. Physics World. 21 Maret 2013.</ref> | |||
Pengamatan, termasuk dari [[Cosmic Background Explorer]] (COBE), [[Wilkinson Microwave Anisotropy Probe]] (WMAP), dan peta CMB dari wahana antariksa [[Planck (wahana antariksa)|Planck]], menunjukkan bahwa alam semesta bersifat tak berhingga dalam luasnya tetapi memiliki usia berhingga, sebagaimana dijelaskan oleh model [[Metrik Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker|Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker]] (FLRW). Model FLRW ini mendukung teori inflasi serta model standar kosmologi, yang menggambarkan alam semesta [[Ruang Minkowski|datar]], homogen, dan saat ini didominasi oleh [[materi gelap]] dan [[energi gelap]]. | |||
=== Dukungan bagi kehidupan === | === Dukungan bagi kehidupan === | ||
Hipotesis alam semesta yang disetel dengan cermat (''fine-tuned universe'') merupakan gagasan bahwa kondisi yang memungkinkan keberadaan [[kehidupan]] yang dapat diamati di alam semesta hanya dapat terjadi apabila sejumlah [[konstanta fisika]] dasar universal berada dalam rentang nilai yang sangat sempit. Menurut hipotesis ini, seandainya beberapa konstanta fundamental tersebut sedikit saja berbeda, maka alam semesta kemungkinan besar tidak akan mendukung terbentuknya dan berkembangnya [[materi]], struktur astronomi, keberagaman unsur, ataupun kehidupan sebagaimana yang kita kenal. | Hipotesis alam semesta yang disetel dengan cermat (''fine-tuned universe'') merupakan gagasan bahwa kondisi yang memungkinkan keberadaan [[kehidupan]] yang dapat diamati di alam semesta hanya dapat terjadi apabila sejumlah [[konstanta fisika]] dasar universal berada dalam rentang nilai yang sangat sempit. Menurut hipotesis ini, seandainya beberapa konstanta fundamental tersebut sedikit saja berbeda, maka alam semesta kemungkinan besar tidak akan mendukung terbentuknya dan berkembangnya [[materi]], struktur astronomi, keberagaman unsur, ataupun kehidupan sebagaimana yang kita kenal. | ||
Apakah hal ini benar adanya, bahkan apakah pertanyaan tersebut secara logis bermakna untuk diajukan, masih menjadi bahan perdebatan yang hangat. | Apakah hal ini benar adanya, bahkan apakah pertanyaan tersebut secara logis bermakna untuk diajukan, masih menjadi bahan perdebatan yang hangat.<ref>Simon Friederich. [https://plato.stanford.edu/entries/fine-tuning/ Fine-Tuning]. ''The Stanford Encyclopedia of Philosophy''. Center for the Study of Language and Information (CSLI), Stanford University. 12 November 2021.</ref> | ||
Gagasan ini dibahas di kalangan [[filsafat|filsuf]], [[ilmuwan]], [[teologi|teolog]], serta para pendukung [[kreasionisme]]. | Gagasan ini dibahas di kalangan [[filsafat|filsuf]], [[ilmuwan]], [[teologi|teolog]], serta para pendukung [[kreasionisme]].<ref>[http://www.talkorigins.org/indexcc/CI/CI301.html CI301: The Anthropic Principle]. ''Index to Creationist Claims''. TalkOrigins Archive. 2005.</ref> | ||
== Komposisi == | == Komposisi == | ||
Alam semesta tersusun hampir sepenuhnya dari energi gelap, materi gelap, dan [[materi]] biasa. Komponen lainnya meliputi [[radiasi elektromagnetik]] (diperkirakan menyumbang sekitar 0,005% hingga mendekati 0,01% dari total [[ekuivalensi massa–energi]] alam semesta) serta [[antimateri]].<ref>Hellmut Fritzsche. [http://www.britannica.com/science/electromagnetic-radiation electromagnetic radiation physics]. hlm. 1.</ref><ref>[http://physics.ucr.edu/~wudka/Physics7/Notes_www/Pdf_downloads/8.pdf Physics 7: Relativity, Ruang Waktu dan Kosmologi]. ''University of California Riverside''.</ref><ref>[http://www.learner.org/courses/physics/unit/text.html?unit=11&secNum=6 Physics – for the 21st Century]. ''learner.org''. Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics Annenberg Learner.</ref> | |||
Proporsi dari semua jenis materi dan energi telah berubah sepanjang sejarah alam semesta.<ref>[http://ngm.nationalgeographic.com/2015/01/hidden-cosmos/timeline-graphic Dark matter – A history shapes by dark force]. ''Timothy Ferris''. National Geographic. 2015.</ref> Jumlah total radiasi elektromagnetik yang dihasilkan di alam semesta telah menurun hingga setengahnya selama 2 miliar tahun terakhir.<ref>Nola Taylor Redd, SPACE.com. [http://www.scientificamerican.com/article/it-s-official-the-universe-is-dying-slowly/ It's Official: The Universe Is Dying Slowly]. ''Scientific American''.</ref> Saat ini, materi biasa—yang mencakup atom, bintang, galaksi, dan [[kehidupan]]—hanya menyumbang sekitar 4,9% dari total isi alam semesta.<ref>[https://arstechnica.com/science/2013/03/first-planck-results-the-universe-is-still-weird-and-interesting/ First Planck results: the universe is still weird and interesting]. ''Matthew Francis''. Ars technica. 21 Maret 2013.</ref> Kerapatan rata-rata jenis materi ini sangat rendah, kira-kira 4,5 × 10<sup>−31</sup> gram per sentimeter kubik, yang setara dengan hanya satu proton untuk setiap empat meter kubik ruang.<ref>NASA/WMAP Science Team. [http://map.gsfc.nasa.gov/universe/uni_matter.html Universe 101: What is the Universe Made Of?]. NASA. January 24, 2014.</ref> | |||
Sifat dari energi gelap dan materi gelap masih belum diketahui. Materi gelap, bentuk misterius dari materi yang belum teridentifikasi, menyumbang sekitar 26,8% dari isi kosmos. Energi gelap, yaitu energi dari ruang hampa yang menyebabkan percepatan perluasan alam semesta, menyumbang sekitar 68,3% sisanya.<ref>[https://arstechnica.com/science/2013/03/first-planck-results-the-universe-is-still-weird-and-interesting/ First Planck results: the universe is still weird and interesting]. ''Matthew Francis''. Ars technica. 21 Maret 2013.</ref><ref>Sean Carroll, Ph.D., Caltech, 2007, The Teaching Company, ''Dark Matter, Dark Energy: The Dark Side of the Universe'', Guidebook Part 2. p. 46, Diakses 7 Oktober 2013, "...materi gelap: komponen materi tak terlihat yang pada dasarnya tidak berinteraksi, membentuk sekitar 25 persen dari kerapatan energi alam semesta... merupakan jenis partikel yang berbeda... sesuatu yang belum teramati di laboratorium..."</ref><ref>Peebles. ''The cosmological constant and dark energy''. ''Reviews of Modern Physics''. 2003. Vol. 75 (2). hlm. 559–606. doi:10.1103/RevModPhys.75.559.</ref> | |||
Materi, materi gelap, dan energi gelap terdistribusi secara homogen di seluruh alam semesta pada skala panjang lebih dari sekitar 300 juta tahun cahaya (ly).<ref>N. Mandolesi. [https://archive.org/details/sim_nature-uk_1986-02-27_319_6056/page/750 Large-scale homogeneity of the universe measured by the microwave background]. ''Nature''. 1986. Vol. 319 (6056). hlm. 751–753. doi:10.1038/319751a0.</ref> Namun, pada skala yang lebih kecil, materi cenderung menggumpal secara hierarkis: banyak [[atom]] membentuk [[bintang]], sebagian besar bintang bergabung dalam [[galaksi]], sebagian besar galaksi bergabung menjadi [[gugus galaksi]] dan [[supergugus]], lalu membentuk [[filamen galaksi]] berskala besar. | |||
Alam semesta teramati diperkirakan mengandung sekitar 2 triliun galaksi<ref>Alistair Gunn. [https://www.skyatnightmagazine.com/space-science/how-many-galaxies-in-universe How many galaxies are there in the universe? – Do astronomers know how many galaxies exist? How many can we see in the observable Universe?]. ''BBC Sky at Night''. November 29, 2023.</ref><ref>[https://phys.org/news/2021-01-horizons-spacecraft-dark-space.html New Horizons spacecraft answers the question: How dark is space?]. ''phys.org''.</ref><ref>Elizabeth Howell. [https://www.space.com/25303-how-many-galaxies-are-in-the-universe.html How Many Galaxies Are There?]. ''Space.com''. March 20, 2018.</ref> dan total hingga 10<sup>24</sup> bintang,<ref>Staff. [https://www.esa.int/Our_Activities/Space_Science/Herschel/How_many_stars_are_there_in_the_Universe How Many Stars Are There In The Universe?]. ''European Space Agency''. 2019.</ref><ref>Mikhail Ya. Marov. [https://archive.org/details/fundamentalsofmo0000maro The Fundamentals of Modern Astrophysics]. 2015. hlm. [https://archive.org/details/fundamentalsofmo0000maro/page/279 279]–294. doi:10.1007/978-1-4614-8730-2_10. ISBN 978-1-4614-8729-6.</ref> lebih banyak bintang (dan planet mirip Bumi) daripada seluruh [[butiran pasir]] di [[Bumi]];<ref>Glen Mackie. [http://astronomy.swin.edu.au/~gmackie/billions.html To see the Universe in a Grain of Taranaki Sand]. ''Centre for Astrophysics and Supercomputing''. February 1, 2002.</ref><ref>Eric Mack. [https://www.cnet.com/science/the-milky-way-is-flush-with-habitable-planets-study-says/ There may be more Earth-like planets than grains of sand on all our beaches – New research contends that the Milky Way alone is flush with billions of potentially habitable planets – and that's just one sliver of the universe]. ''CNET''. March 19, 2015.</ref><ref>T. T. Bovaird. [https://academic.oup.com/mnras/article/448/4/3608/970734 Using the inclinations of Kepler systems to prioritize new Titius–Bode-based exoplanet predictions]. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. March 13, 2015. Vol. 448 (4). hlm. 3608–3627. doi:10.1093/mnras/stv221.</ref> tetapi jumlah ini masih jauh lebih sedikit dibanding perkiraan jumlah atom di alam semesta, yaitu sekitar 10<sup>82</sup>.<ref>Harry Baker. [https://www.livescience.com/how-many-atoms-in-universe.html How many atoms are in the observable universe?]. ''Live Science''. July 11, 2021.</ref> Jumlah bintang di alam semesta [[inflasi (kosmologi)|inflasioner]] (teramati dan tidak teramati) bahkan diperkirakan mencapai 10<sup>100</sup>.<ref>Tomonori Totani. ''Emergence of life in an inflationary universe''. ''Scientific Reports''. February 3, 2020. Vol. 10. doi:10.1038/s41598-020-58060-0.</ref> Galaksi pada umumnya memiliki beragam ukuran, mulai dari [[galaksi katai]] yang hanya berisi sekitar sepuluh juta<ref>[http://www.eso.org/public/usa/news/eso0018/ Mengungkap Rahasia Sebuah Galaksi Katai di Virgo]. ''European Southern Observatory Press Release''. ESO. 3 Mei 2000. hlm. 12.</ref> (10<sup>7</sup>) bintang, hingga galaksi raksasa yang mengandung sekitar satu [[10^12|triliun]]<ref>[http://www.nasa.gov/mission_pages/hubble/science/hst_spiral_m10.html Potret Galaksi Terbesar dari Hubble Menawarkan Pandangan Berdefinisi Tinggi Baru]. NASA. 28 Februari 2006.</ref> (10<sup>12</sup>) bintang. Di antara struktur-struktur besar ini terdapat wilayah-wilayah kosong yang disebut [[kekosongan (astronomi)|kekosongan]], yang umumnya berdiameter antara 10 hingga 150 Mpc (sekitar 33 juta–490 juta tahun cahaya). | |||
[[Bima Sakti]] sendiri merupakan bagian dari [[Grup Lokal]] galaksi, yang pada gilirannya berada di dalam [[Supergugus Laniakea]].<ref>Elizabeth Gibney. [http://www.nature.com/news/earth-s-new-address-solar-system-milky-way-laniakea-1.15819 Alamat Baru Bumi: 'Tata Surya, Bima Sakti, Laniakea']. ''Nature''. 3 September 2014. doi:10.1038/nature.2014.15819.</ref> Supergugus ini membentang lebih dari 500 juta tahun cahaya, sedangkan Grup Lokal mencakup wilayah lebih dari 10 juta tahun cahaya.<ref>[http://www.universetoday.com/30286/local-group/ Grup Lokal]. ''Fraser Cain''. Universe Today. 4 Mei 2009.</ref> | |||
Alam semesta | Alam semesta juga memiliki kawasan luas yang hampir sepenuhnya kosong; kekosongan terbesar yang pernah diketahui terbentang sejauh 1,8 miliar tahun cahaya (550 Mpc).<ref>Hannah Devlin. [https://www.theguardian.com/science/2015/apr/20/astronomers-discover-largest-known-structure-in-the-universe-is-a-big-hole Astronom Menemukan Struktur Terbesar yang Diketahui di Alam Semesta Adalah ... Sebuah Lubang Besar]. ''The Guardian''. 20 April 2015.</ref> | ||
Alam semesta teramati bersifat [[isotropik]] pada skala yang jauh lebih besar daripada supergugus, yang berarti sifat statistik alam semesta sama ke segala arah bila diamati dari Bumi. Alam semesta dipenuhi oleh radiasi [[mikrogelombang]] [[elektromagnetik]] yang sangat isotropik dan sesuai dengan spektrum [[benda hitam]] pada [[keseimbangan termal]] sekitar 2,72548 [[kelvin]].<ref>D. J. Fixsen. [https://archive.org/details/sim_astrophysical-journal_2009-12-20_707_2/page/916 The Temperature of the Cosmic Microwave Background]. ''The Astrophysical Journal''. 2009. Vol. 707 (2). hlm. 916–20. doi:10.1088/0004-637X/707/2/916.</ref> Hipotesis bahwa alam semesta berskala besar bersifat homogen dan isotropik dikenal sebagai [[prinsip kosmologi]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Alam semesta yang homogen dan isotropik tampak sama dari semua titik pandang dan tidak memiliki pusat.<ref>Andrew Liddle. [https://archive.org/details/introductiontomo0000lidd An Introduction to Modern Cosmology]. John Wiley & Sons. 2003. ISBN 978-0-470-84835-7.. p. 2.</ref><ref>Mario Livio. [https://books.google.com/books?id=4EidS6_VVNYC&q=cosmological+principle+%22center+of+the+universe%22&pg=PA53 The Accelerating Universe: Infinite Expansion, the Cosmological Constant, and the Beauty of the Cosmos]. John Wiley and Sons. 2001. hlm. 53. ISBN 978-0-471-43714-7.</ref> | |||
Alam semesta teramati bersifat [[isotropik]] pada skala yang jauh lebih besar daripada supergugus, yang berarti sifat statistik alam semesta sama ke segala arah bila diamati dari Bumi. Alam semesta dipenuhi oleh radiasi [[mikrogelombang]] [[elektromagnetik]] yang sangat isotropik dan sesuai dengan spektrum [[benda hitam]] pada [[keseimbangan termal]] sekitar 2,72548 [[kelvin]]. Hipotesis bahwa alam semesta berskala besar bersifat homogen dan isotropik dikenal sebagai [[prinsip kosmologi]]. Alam semesta yang homogen dan isotropik tampak sama dari semua titik pandang dan tidak memiliki pusat. | |||
=== Energi gelap === | === Energi gelap === | ||
Penjelasan mengenai alasan mengapa perluasan alam semesta semakin cepat masih belum diketahui secara pasti. Fenomena ini sering dikaitkan dengan pengaruh gravitasi dari "energi gelap", suatu bentuk energi tak dikenal yang diduga meresapi seluruh ruang.<ref>Peebles, P.J.E. ''The cosmological constant and dark energy''. ''Reviews of Modern Physics''. 2003. Vol. 75 (2). hlm. 559–606. doi:10.1103/RevModPhys.75.559.</ref> Berdasarkan [[ekuivalensi massa–energi]], kerapatan energi gelap (~ 7 × 10<sup>−30</sup> g/cm<sup>3</sup>) jauh lebih kecil dibandingkan dengan kerapatan materi biasa atau materi gelap di dalam galaksi. Namun, pada masa dominasi energi gelap saat ini, energi gelap menjadi komponen utama massa–energi alam semesta karena penyebarannya yang seragam di seluruh ruang.<ref>Paul J. Steinhardt. [https://archive.org/details/sim_science_2006-05-26_312_5777/page/1180 Why the cosmological constant is small and positive]. ''Science''. 2006. Vol. 312 (5777). hlm. 1180–1183. doi:10.1126/science.1126231.</ref><ref>[http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/astro/dareng.html Dark Energy]. ''Hyperphysics''.</ref> | |||
Dua bentuk utama energi gelap yang diajukan adalah [[konstanta kosmologis]], yaitu kepadatan energi yang ''konstan'' dan mengisi ruang secara homogen,<ref>Carroll, Sean. ''The cosmological constant''. ''Living Reviews in Relativity''. 2001. Vol. 4 (1). doi:10.12942/lrr-2001-1.</ref> dan [[medan skalar]] seperti [[kuintessens (fisika)|kuintessens]] atau [[moduli (fisika)|moduli]], yaitu besaran ''dinamis'' yang kerapatannya dapat berubah seiring waktu dan ruang, tetapi tetap cukup menyebar untuk menyebabkan laju perluasan alam semesta sebagaimana diamati. Kontribusi dari medan skalar yang konstan di ruang biasanya juga dianggap bagian dari konstanta kosmologis. Konstanta kosmologis ini dapat dirumuskan sebagai bentuk dari [[energi vakum]]. | |||
Dua bentuk utama energi gelap yang diajukan adalah [[konstanta kosmologis]], yaitu kepadatan energi yang ''konstan'' dan mengisi ruang secara homogen, dan [[medan skalar]] seperti [[kuintessens (fisika)|kuintessens]] atau [[moduli (fisika)|moduli]], yaitu besaran ''dinamis'' yang kerapatannya dapat berubah seiring waktu dan ruang, tetapi tetap cukup menyebar untuk menyebabkan laju perluasan alam semesta sebagaimana diamati. Kontribusi dari medan skalar yang konstan di ruang biasanya juga dianggap bagian dari konstanta kosmologis. Konstanta kosmologis ini dapat dirumuskan sebagai bentuk dari [[energi vakum]]. | |||
=== Materi gelap === | === Materi gelap === | ||
Materi gelap adalah jenis [[materi]] hipotetis yang tidak dapat dideteksi melalui seluruh [[spektrum elektromagnetik]], tetapi diyakini menyusun sebagian besar materi di alam semesta. Keberadaan dan sifat-sifat materi gelap disimpulkan dari efek gravitasinya terhadap materi tampak, radiasi, serta [[struktur berskala besar]] alam semesta. Selain [[neutrino]], yang merupakan bentuk dari [[materi gelap panas]], materi gelap belum pernah terdeteksi secara langsung, menjadikannya salah satu misteri terbesar dalam [[astrofisika]] modern. | Materi gelap adalah jenis [[materi]] hipotetis yang tidak dapat dideteksi melalui seluruh [[spektrum elektromagnetik]], tetapi diyakini menyusun sebagian besar materi di alam semesta. Keberadaan dan sifat-sifat materi gelap disimpulkan dari efek gravitasinya terhadap materi tampak, radiasi, serta [[struktur berskala besar]] alam semesta. Selain [[neutrino]], yang merupakan bentuk dari [[materi gelap panas]], materi gelap belum pernah terdeteksi secara langsung, menjadikannya salah satu misteri terbesar dalam [[astrofisika]] modern. | ||
Materi gelap tidak [[spektrum benda hitam|memancarkan]] maupun menyerap cahaya atau bentuk [[radiasi elektromagnetik]] lainnya dalam tingkat yang berarti. Materi gelap diperkirakan menyumbang sekitar 26,8% dari total massa–energi alam semesta dan sekitar 84,5% dari total materi di alam semesta. | Materi gelap tidak [[spektrum benda hitam|memancarkan]] maupun menyerap cahaya atau bentuk [[radiasi elektromagnetik]] lainnya dalam tingkat yang berarti. Materi gelap diperkirakan menyumbang sekitar 26,8% dari total massa–energi alam semesta dan sekitar 84,5% dari total materi di alam semesta.<ref>Sean Carroll, Ph.D., Caltech, 2007, The Teaching Company, ''Dark Matter, Dark Energy: The Dark Side of the Universe'', Guidebook Part 2. p. 46, Diakses 7 Oktober 2013, "...materi gelap: komponen materi tak terlihat yang pada dasarnya tidak berinteraksi, membentuk sekitar 25 persen dari kerapatan energi alam semesta... merupakan jenis partikel yang berbeda... sesuatu yang belum teramati di laboratorium..."</ref><ref>[http://www.cam.ac.uk/research/news/planck-captures-portrait-of-the-young-universe-revealing-earliest-light Planck captures portrait of the young universe, revealing earliest light]. University of Cambridge. 21 Maret 2013.</ref> | ||
=== Materi biasa === | === Materi biasa === | ||
Sekitar 4,9% dari total massa–energi alam semesta terdiri atas materi biasa, yaitu [[atom]], [[ion]], [[elektron]], serta objek-objek yang terbentuk darinya. Materi ini mencakup [[bintang]]-bintang, yang memancarkan hampir seluruh cahaya yang kita lihat dari galaksi, serta gas antarbintang dalam [[medium antarbintang]] dan [[medium antar galaksi]], [[planet]], dan semua benda kehidupan sehari-hari yang dapat kita sentuh, tekan, atau rasakan.<ref>Davies. [https://books.google.com/books?id=akb2FpZSGnMC&pg=PA1 The New Physics: A Synthesis]. Cambridge University Press. 1992. hlm. 1. ISBN 978-0-521-43831-5.</ref> Sebagian besar materi biasa di alam semesta tidak terlihat, karena bintang-bintang tampak dan gas di dalam galaksi serta gugus galaksi hanya menyumbang kurang dari 10 persen dari total kontribusi materi biasa terhadap kerapatan massa–energi alam semesta.<ref>Massimo Persic. ''The baryon content of the universe''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 1 September 1992. Vol. 258 (1). hlm. 14P–18P. doi:10.1093/mnras/258.1.14P.</ref><ref>J. Michael Shull. [https://iopscience.iop.org/article/10.1088/0004-637X/759/1/23 The Baryon Census in a Multiphase Intergalactic Medium: 30% of the Baryons May Still Be Missing]. ''The Astrophysical Journal''. 1 November 2012. Vol. 759 (1). hlm. 23. doi:10.1088/0004-637X/759/1/23.</ref><ref>J.-P. Macquart. [http://www.nature.com/articles/s41586-020-2300-2 A census of baryons in the Universe from localized fast radio bursts]. ''Nature''. 28 Mei 2020. Vol. 581 (7809). hlm. 391–395. doi:10.1038/s41586-020-2300-2.</ref> | |||
Materi biasa umumnya terdapat dalam empat [[keadaan materi|keadaan]] (atau [[fase (materi)|fase]]): [[padat]], [[cair]], [[gas]], dan [[plasma (fisika)|plasma]].<ref>Paul Flowers. [https://openstax.org/books/chemistry-2e/pages/1-2-phases-and-classification-of-matter Chemistry 2e]. OpenStax. 2019. hlm. 14. ISBN 978-1-947-17262-3.</ref> Namun, kemajuan dalam teknik eksperimental telah mengungkap fase-fase baru yang sebelumnya bersifat teoretis, seperti [[kondensat Bose–Einstein]] dan [[kondensat fermionik]].<ref>[https://www.nobelprize.org/prizes/physics/2001/popular-information/ The Nobel Prize in Physics 2001]. ''NobelPrize.org''.</ref><ref>Claude Cohen-Tannoudji. [https://books.google.com/books?id=HT_ICgAAQBAJ Advances In Atomic Physics: An Overview]. World Scientific. 2011. hlm. 684. ISBN 978-981-4390-58-3.</ref> | |||
Materi biasa | Materi biasa tersusun atas dua jenis [[partikel elementer]]: [[kuark]] dan [[lepton]].<ref>'t Hooft. [https://archive.org/details/insearchofultima0000hoof In search of the ultimate building blocks]. Cambridge University Press. 1997. hlm. [https://archive.org/details/insearchofultima0000hoof/page/6 6]. ISBN 978-0-521-57883-7.</ref> Misalnya, proton terbentuk dari dua [[kuark atas]] dan satu [[kuark bawah]]; neutron terdiri atas dua kuark bawah dan satu kuark atas; sedangkan elektron merupakan jenis lepton. Sebuah atom tersusun dari [[inti atom]] yang terdiri atas proton dan neutron (keduanya termasuk [[barion]]), serta elektron yang mengorbit di sekitarnya.<ref>Paul Peter Urone. [https://openstax.org/books/college-physics-2e/pages/33-4-particles-patterns-and-conservation-laws College Physics 2e]. OpenStax. 2022. ISBN 978-1-951-69360-2.</ref> | ||
Tak lama setelah [[Dentuman Besar]], proton dan neutron primordial terbentuk dari [[plasma kuark–gluon]] alam semesta awal ketika suhunya turun di bawah dua triliun derajat. Beberapa menit kemudian, dalam proses yang dikenal sebagai [[nukleosintesis Dentuman Besar]], inti atom terbentuk dari proton dan neutron primordial tersebut. Nukleosintesis ini menghasilkan unsur-unsur ringan, yaitu unsur dengan nomor atom kecil hingga [[litium]] dan [[berilium]], sementara kelimpahan unsur yang lebih berat menurun drastis seiring peningkatan nomor atom. Sebagian kecil [[boron]] mungkin terbentuk pada masa ini, tetapi unsur berikutnya, [[karbon]], belum terbentuk dalam jumlah yang signifikan. Nukleosintesis Dentuman Besar berhenti sekitar 20 menit kemudian karena penurunan cepat suhu dan kerapatan akibat perluasan alam semesta. Pembentukan [[logam (astrofisika)|unsur-unsur berat]] berikutnya terjadi melalui [[nukleosintesis bintang]] dan [[nukleosintesis supernova]].<ref>Donald D. Clayton. [https://archive.org/details/principlesofstel0000clay Principles of Stellar Evolution and Nucleosynthesis]. The University of Chicago Press. 1983. hlm. [https://archive.org/details/principlesofstel0000clay/page/362 362–435]. ISBN 978-0-226-10953-4.</ref> | |||
Tak lama setelah [[Dentuman Besar]], proton dan neutron primordial terbentuk dari [[plasma kuark–gluon]] alam semesta awal ketika suhunya turun di bawah dua triliun derajat. Beberapa menit kemudian, dalam proses yang dikenal sebagai [[nukleosintesis Dentuman Besar]], inti atom terbentuk dari proton dan neutron primordial tersebut. Nukleosintesis ini menghasilkan unsur-unsur ringan, yaitu unsur dengan nomor atom kecil hingga [[litium]] dan [[berilium]], sementara kelimpahan unsur yang lebih berat menurun drastis seiring peningkatan nomor atom. Sebagian kecil [[boron]] mungkin terbentuk pada masa ini, tetapi unsur berikutnya, [[karbon]], belum terbentuk dalam jumlah yang signifikan. Nukleosintesis Dentuman Besar berhenti sekitar 20 menit kemudian karena penurunan cepat suhu dan kerapatan akibat perluasan alam semesta. Pembentukan [[logam (astrofisika)|unsur-unsur berat]] berikutnya terjadi melalui [[nukleosintesis bintang]] dan [[nukleosintesis supernova]]. | |||
=== Partikel === | === Partikel === | ||
Materi biasa dan gaya-gaya yang bekerja padanya dapat dijelaskan dalam kerangka [[partikel elementer]].<ref>Veltman, Martinus. [https://archive.org/details/factsmysteriesin0000velt Facts and Mysteries in Elementary Particle Physics]. World Scientific. 2003. ISBN 978-981-238-149-1.</ref> Partikel-partikel ini kerap disebut fundamental, karena struktur dalamannya belum diketahui, dan belum ada kepastian apakah mereka tersusun dari entitas yang lebih kecil dan lebih mendasar.<ref>Sylvie Braibant. [https://books.google.com/books?id=e8YUUG2pGeIC&pg=PA1 Particles and Fundamental Interactions: An Introduction to Particle Physics]. Springer. 2012. hlm. 1–3. ISBN 978-94-007-2463-1.</ref><ref>[https://archive.org/details/particlephysicsv0000clos Particle Physics: A Very Short Introduction]. Oxford University Press. 2012. ISBN 978-0-19-280434-1.</ref> Dalam sebagian besar model modern, partikel-partikel tersebut dianggap sebagai titik-titik di dalam ruang.<ref>Adam Mann. [https://www.livescience.com/65427-fundamental-elementary-particles.html What Are Elementary Particles?]. ''Live Science''. August 20, 2022.</ref> Semua partikel elementer sejauh ini paling baik dijelaskan melalui [[mekanika kuantum]], dan menampilkan sifat [[dualitas gelombang–partikel]]: perilaku mereka dapat menyerupai partikel maupun [[gelombang]], dengan ciri tertentu yang mendominasi tergantung pada konteks pengamatan.<ref>Barton Zwiebach. ''Mastering Quantum Mechanics: Essentials, Theory, and Applications''. MIT Press. 2022. hlm. 31. ISBN 978-0-262-04613-8.</ref> | |||
Pusat dari pemahaman ini adalah [[Model Standar]], sebuah teori yang memaparkan interaksi [[elektromagnetisme|elektromagnetik]], serta interaksi [[interaksi lemah|lemah]] dan [[interaksi kuat|kuat]] pada tingkat nuklir.<ref>Oerter. [https://archive.org/details/theoryofalmostev0000oert_s1g7 The Theory of Almost Everything: The Standard Model, the Unsung Triumph of Modern Physics]. Penguin Group. 2006. hlm. [https://archive.org/details/theoryofalmostev0000oert_s1g7/page/2 2]. ISBN 978-0-13-236678-6.</ref> Model Standar didukung oleh bukti eksperimental mengenai keberadaan partikel-partikel penyusun materi, [[kuark]] dan [[lepton]], beserta pasangan "[[antimateri]]"-nya, serta partikel-partikel pembawa gaya yang menengahi [[interaksi fundamental]]: [[foton]], [[boson W dan Z]], dan [[gluon]].<ref>Sylvie Braibant. [https://books.google.com/books?id=e8YUUG2pGeIC&pg=PA1 Particles and Fundamental Interactions: An Introduction to Particle Physics]. Springer. 2012. hlm. 1–3. ISBN 978-94-007-2463-1.</ref> Model Standar juga memprediksi keberadaan [[boson Higgs]] yang baru ditemukan, sebuah partikel yang merupakan perwujudan medan di alam semesta yang memberikan massa pada partikel-partikel lain.<ref>P. Onyisi. [https://wikis.utexas.edu/display/utatlas/Higgs+boson+FAQ Higgs boson FAQ]. University of Texas ATLAS group. October 23, 2012.</ref><ref>M. Strassler. [http://profmattstrassler.com/articles-and-posts/the-higgs-particle/the-higgs-faq-2-0/ The Higgs FAQ 2.0]. ''ProfMattStrassler.com''. October 12, 2012.</ref> Karena keberhasilannya menjelaskan beragam hasil percobaan, Model Standar sering dianggap sebagai "teori tentang hampir segala sesuatu".<ref>Oerter. [https://archive.org/details/theoryofalmostev0000oert_s1g7 The Theory of Almost Everything: The Standard Model, the Unsung Triumph of Modern Physics]. Penguin Group. 2006. hlm. [https://archive.org/details/theoryofalmostev0000oert_s1g7/page/2 2]. ISBN 978-0-13-236678-6.</ref> Namun, Model Standar belum mencakup [[gravitasi]], dan sejauh ini belum ada "teori segalanya" yang berhasil mempersatukan seluruh gaya dan partikel dalam satu kerangka tunggal.<ref>Steven Weinberg. ''Dreams of a Final Theory: The Scientist's Search for the Ultimate Laws of Nature''. Knopf Doubleday Publishing Group. 2011. ISBN 978-0-307-78786-6.</ref> | |||
Pusat dari pemahaman ini adalah [[Model Standar]], sebuah teori yang memaparkan interaksi [[elektromagnetisme|elektromagnetik]], serta interaksi [[interaksi lemah|lemah]] dan [[interaksi kuat|kuat]] pada tingkat nuklir. Model Standar didukung oleh bukti eksperimental mengenai keberadaan partikel-partikel penyusun materi, [[kuark]] dan [[lepton]], beserta pasangan "[[antimateri]]"-nya, serta partikel-partikel pembawa gaya yang menengahi [[interaksi fundamental]]: [[foton]], [[boson W dan Z]], dan [[gluon]]. Model Standar juga memprediksi keberadaan [[boson Higgs]] yang baru ditemukan, sebuah partikel yang merupakan perwujudan medan di alam semesta yang memberikan massa pada partikel-partikel lain. Karena keberhasilannya menjelaskan beragam hasil percobaan, Model Standar sering dianggap sebagai "teori tentang hampir segala sesuatu". Namun, Model Standar belum mencakup [[gravitasi]], dan sejauh ini belum ada "teori segalanya" yang berhasil mempersatukan seluruh gaya dan partikel dalam satu kerangka tunggal. | |||
==== Hadron ==== | ==== Hadron ==== | ||
'''Hadron''' adalah [[partikel majemuk]] yang tersusun dari [[kuark|kuark-kuark]] yang [[ikatan keadaan|terikat bersama]] oleh [[gaya kuat]]. Hadrons terbagi menjadi dua keluarga besar: [[barion]] (seperti [[proton]] dan [[neutron]]) yang terdiri atas tiga kuark, serta [[meson]] (seperti [[pion]]) yang terdiri atas satu kuark dan satu [[antipartikel|antikuark]]. Dari semua jenis hadron, proton merupakan partikel yang stabil, sementara neutron yang terikat di dalam inti atom juga stabil. Hadron lainnya bersifat tidak stabil pada kondisi biasa dan karena itu tidak menjadi komponen signifikan dari alam semesta modern.<ref>Jonathan Allday. [https://archive.org/details/quarksleptonsbig0000alld_e2n4 Quarks, Leptons and the Big Bang]. IOP Publishing. 2002. ISBN 978-0-7503-0806-9.</ref> | |||
Sekitar 10<sup>−6</sup> detik setelah [[Dentuman Besar]], pada suatu masa yang dikenal sebagai '''masa hadron''', suhu alam semesta menurun cukup rendah sehingga kuark-kuark dapat bergabung membentuk hadron, dan massa alam semesta pada saat itu didominasi oleh [[hadron]] tersebut. Pada mulanya, suhu yang sangat tinggi memungkinkan pembentukan pasangan hadron–antihadron, yang menjaga keseimbangan termal antara materi dan antimateri. Namun, seiring pendinginan alam semesta, pasangan hadron–antihadron tak lagi dapat terbentuk. Sebagian besar hadron dan antihadron kemudian saling musnah dalam reaksi [[anihilasi]] partikel–antipartikel, menyisakan hanya sejumlah kecil hadron ketika alam semesta berumur sekitar satu detik.<ref>Jonathan Allday. [https://archive.org/details/quarksleptonsbig0000alld_e2n4 Quarks, Leptons and the Big Bang]. IOP Publishing. 2002. ISBN 978-0-7503-0806-9.</ref> | |||
Sekitar 10<sup>−6</sup> detik setelah [[Dentuman Besar]], pada suatu masa yang dikenal sebagai '''masa hadron''', suhu alam semesta menurun cukup rendah sehingga kuark-kuark dapat bergabung membentuk hadron, dan massa alam semesta pada saat itu didominasi oleh [[hadron]] tersebut. Pada mulanya, suhu yang sangat tinggi memungkinkan pembentukan pasangan hadron–antihadron, yang menjaga keseimbangan termal antara materi dan antimateri. Namun, seiring pendinginan alam semesta, pasangan hadron–antihadron tak lagi dapat terbentuk. Sebagian besar hadron dan antihadron kemudian saling musnah dalam reaksi [[anihilasi]] partikel–antipartikel, menyisakan hanya sejumlah kecil hadron ketika alam semesta berumur sekitar satu detik. | |||
==== Lepton ==== | ==== Lepton ==== | ||
'''Lepton''' adalah [[partikel elementer]] dengan [[putaran bilangan setengah]] yang tidak mengalami interaksi kuat, tetapi tunduk pada [[prinsip pengecualian Pauli]], yakni dua lepton sejenis tidak dapat berada dalam keadaan yang sama pada waktu yang sama.<ref>[http://www.britannica.com/EBchecked/topic/336940/lepton Lepton (physics)].</ref> Terdapat dua golongan utama lepton: lepton [[muatan listrik|bermuatan]] (sering disebut ''lepton mirip elektron''), dan lepton netral yang lebih dikenal sebagai [[neutrino]]. [[Elektron]] adalah lepton bermuatan yang stabil dan paling melimpah di alam semesta, sedangkan [[muon]] dan [[tau (partikel)|tau]] merupakan partikel tidak stabil yang dengan cepat meluruh setelah terbentuk dalam tumbukan [[energi tinggi]], seperti yang terjadi pada [[sinar kosmik]] atau di [[pemercepat partikel]].<ref>H. Harari. ''Weak and Electromagnetic Interactions at High Energy, Les Houches, France, Jul 5 – Aug 14, 1976''. North-Holland. 1977. Vol. 29. hlm. 613.</ref><ref>Harari H. [https://www.slac.stanford.edu/cgi-bin/getdoc/slac-pub-1974.pdf Three generations of quarks and leptons]. 1977. hlm. 170.</ref> Lepton bermuatan dapat bergabung dengan partikel lain membentuk berbagai [[partikel majemuk]] seperti [[atom]] dan [[positronium]]. [[Elektron]] memegang peran utama dalam seluruh bidang [[kimia]], karena keberadaannya di dalam [[atom]] secara langsung menentukan [[sifat kimia|sifat-sifat kimia]] suatu unsur. [[Neutrino]], di sisi lain, sangat jarang berinteraksi dengan materi, sehingga hampir tak terdeteksi. Neutrino mengalir melintasi alam semesta dalam jumlah besar, tetapi hampir tak pernah berinteraksi dengan materi biasa.<ref>[http://web.mit.edu/newsoffice/2007/neutrino.html Experiment confirms famous physics model]. MIT News Office. April 18, 2007.</ref> | |||
'''Era lepton''' adalah suatu tahap dalam evolusi awal alam semesta ketika [[lepton]] mendominasi massa totalnya. Masa ini dimulai sekitar satu detik setelah [[Dentuman Besar]], setelah sebagian besar hadron dan antihadron saling musnah pada akhir [[era hadron]]. Pada masa lepton, suhu alam semesta masih cukup tinggi untuk memungkinkan terciptanya pasangan lepton–antilepton, sehingga keduanya tetap berada dalam kesetimbangan termal. Sekitar sepuluh detik setelah Dentuman Besar, suhu alam semesta menurun hingga tidak lagi memungkinkan terbentuknya pasangan baru lepton–antilepton.<ref>[http://wwwmpa.mpa-garching.mpg.de/~gamk/TUM_Lectures/Lecture4.pdf Thermal history of the universe and early growth of density fluctuations]. ''Guinevere Kauffmann''. Max Planck Institute for Astrophysics.</ref> Sebagian besar lepton dan antilepton kemudian saling musnah melalui reaksi [[anihilasi]], menyisakan sejumlah kecil lepton. Setelah itu, massa alam semesta didominasi oleh [[foton]], menandai dimulainya [[era foton]] berikutnya.<ref>[https://www.cfa.harvard.edu/~ejchaisson/cosmic_evolution/docs/fr_1/fr_1_part3.html First few minutes]. ''Eric Chaisson''. Harvard Smithsonian Center for Astrophysics.</ref><ref>[https://www.physicsoftheuniverse.com/topics_bigbang_timeline.html Timeline of the Big Bang]. ''The physics of the Universe''.</ref> | |||
'''Era lepton''' adalah suatu tahap dalam evolusi awal alam semesta ketika [[lepton]] mendominasi massa totalnya. Masa ini dimulai sekitar satu detik setelah [[Dentuman Besar]], setelah sebagian besar hadron dan antihadron saling musnah pada akhir [[era hadron]]. Pada masa lepton, suhu alam semesta masih cukup tinggi untuk memungkinkan terciptanya pasangan lepton–antilepton, sehingga keduanya tetap berada dalam kesetimbangan termal. Sekitar sepuluh detik setelah Dentuman Besar, suhu alam semesta menurun hingga tidak lagi memungkinkan terbentuknya pasangan baru lepton–antilepton. Sebagian besar lepton dan antilepton kemudian saling musnah melalui reaksi [[anihilasi]], menyisakan sejumlah kecil lepton. Setelah itu, massa alam semesta didominasi oleh [[foton]], menandai dimulainya [[era foton]] berikutnya. | |||
==== Foton ==== | ==== Foton ==== | ||
Foton adalah [[kuantum]] dari [[cahaya]] dan seluruh bentuk [[radiasi elektromagnetik]]. Ia merupakan [[pembawa gaya]] bagi [[gaya elektromagnetik]]. Dampak dari [[gaya]] ini dapat dengan mudah diamati baik pada [[skala mikroskopik]] maupun [[skala makroskopik]], karena foton memiliki [[massa diam]] nol; sifat ini memungkinkan terjadinya [[interaksi fundamental]] jarak jauh.<ref>Paul Peter Urone. [https://openstax.org/books/college-physics-2e/pages/33-4-particles-patterns-and-conservation-laws College Physics 2e]. OpenStax. 2022. ISBN 978-1-951-69360-2.</ref> | |||
Era foton dimulai setelah sebagian besar lepton dan antilepton saling [[anihilasi|memusnahkan]] pada akhir era lepton, sekitar sepuluh detik setelah [[Dentuman Besar]]. [[Inti atom]] mulai terbentuk dalam proses '''nukleosintesis''' yang terjadi pada menit-menit pertama masa foton. Sepanjang sisa masa ini, alam semesta berisi [[plasma (fisika)|plasma]] panas dan padat yang terdiri atas inti atom, elektron, dan foton. Sekitar 380.000 tahun setelah Dentuman Besar, suhu alam semesta turun hingga memungkinkan inti-inti atom bergabung dengan elektron membentuk atom-atom netral. Akibatnya, foton tidak lagi sering berinteraksi dengan materi dan alam semesta menjadi tembus cahaya. Foton-foton yang sangat bergeser merah dari masa ini kini membentuk radiasi latar gelombang mikro kosmik (''cosmic microwave background''). Variasi kecil dalam suhu CMB mencerminkan perbedaan kerapatan di alam semesta awal, benih-benih pertama yang kelak melahirkan seluruh [[pembentukan struktur]] kosmik yang ada sekarang.<ref>Jonathan Allday. [https://archive.org/details/quarksleptonsbig0000alld_e2n4 Quarks, Leptons and the Big Bang]. IOP Publishing. 2002. ISBN 978-0-7503-0806-9.</ref> | |||
Era foton dimulai setelah sebagian besar lepton dan antilepton saling [[anihilasi|memusnahkan]] pada akhir era lepton, sekitar sepuluh detik setelah [[Dentuman Besar]]. [[Inti atom]] mulai terbentuk dalam proses '''nukleosintesis''' yang terjadi pada menit-menit pertama masa foton. Sepanjang sisa masa ini, alam semesta berisi [[plasma (fisika)|plasma]] panas dan padat yang terdiri atas inti atom, elektron, dan foton. Sekitar 380.000 tahun setelah Dentuman Besar, suhu alam semesta turun hingga memungkinkan inti-inti atom bergabung dengan elektron membentuk atom-atom netral. Akibatnya, foton tidak lagi sering berinteraksi dengan materi dan alam semesta menjadi tembus cahaya. Foton-foton yang sangat bergeser merah dari masa ini kini membentuk radiasi latar gelombang mikro kosmik (''cosmic microwave background''). Variasi kecil dalam suhu CMB mencerminkan perbedaan kerapatan di alam semesta awal, benih-benih pertama yang kelak melahirkan seluruh [[pembentukan struktur]] kosmik yang ada sekarang. | |||
==Kelayakhunian== | ==Kelayakhunian== | ||
Frekuensi kemunculan [[kehidupan di alam semesta]] telah lama menjadi pokok penyelidikan dalam bidang [[astronomi]] dan [[astrobiologi]]. Pertanyaan ini dikaji melalui [[persamaan Drake]] dan beragam pandangan yang menyertainya, mulai dari pengenalan atas [[paradoks Fermi]], yakni keadaan di mana belum ditemukan tanda-tanda keberadaan [[kehidupan luar bumi]], hingga pada argumen yang mendukung gagasan [[kosmologi biofisik]], yaitu pandangan bahwa kehidupan merupakan bagian yang melekat dalam [[kosmologi fisik]] alam semesta. | Frekuensi kemunculan [[kehidupan di alam semesta]] telah lama menjadi pokok penyelidikan dalam bidang [[astronomi]] dan [[astrobiologi]]. Pertanyaan ini dikaji melalui [[persamaan Drake]] dan beragam pandangan yang menyertainya, mulai dari pengenalan atas [[paradoks Fermi]], yakni keadaan di mana belum ditemukan tanda-tanda keberadaan [[kehidupan luar bumi]], hingga pada argumen yang mendukung gagasan [[kosmologi biofisik]], yaitu pandangan bahwa kehidupan merupakan bagian yang melekat dalam [[kosmologi fisik]] alam semesta.<ref>Steven J. Dick. ''Space, Time, and Aliens''. Springer International Publishing. 2020. hlm. 53–58. doi:10.1007/978-3-030-41614-0_4. ISBN 978-3-030-41613-3.</ref> | ||
== Model kosmologis == | == Model kosmologis == | ||
=== Model alam semesta berdasarkan relativitas umum === | === Model alam semesta berdasarkan relativitas umum === | ||
[[Relativitas umum]] adalah [[geometri|teori geometrik]] tentang [[gravitasi]] yang dipublikasikan oleh [[Albert Einstein]] pada tahun 1915, dan merupakan penjelasan paling mutakhir mengenai gravitasi dalam [[fisika modern]]. Teori ini menjadi dasar bagi model-model [[kosmologi fisik]] alam semesta masa kini. Relativitas umum memperluas [[relativitas khusus]] dan [[hukum gravitasi universal Newton]], dengan memberikan deskripsi terpadu tentang gravitasi sebagai sifat geometris dari [[ruang]] dan [[waktu]], atau ruang waktu. Secara khusus, [[kelengkungan]] ruang waktu berhubungan langsung dengan [[energi]] dan [[momentum]] dari [[materi]] serta [[radiasi]] yang ada di dalamnya.<ref>Michael Zeilik. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil Introductory Astronomy & Astrophysics]. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.</ref> | |||
Hubungan tersebut dijabarkan melalui [[persamaan medan Einstein]], yaitu sistem [[persamaan diferensial parsial]]. Dalam relativitas umum, distribusi materi dan energi menentukan geometri ruang waktu, yang pada gilirannya menjelaskan [[percepatan]] dari materi itu sendiri. Karena itu, solusi dari persamaan medan Einstein menggambarkan evolusi alam semesta. Ketika dikombinasikan dengan hasil pengamatan terhadap jumlah, jenis, dan distribusi materi di alam semesta, persamaan-persamaan relativitas umum mampu menjelaskan bagaimana alam semesta berkembang seiring waktu.<ref>Michael Zeilik. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil Introductory Astronomy & Astrophysics]. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.</ref> | |||
Hubungan tersebut dijabarkan melalui [[persamaan medan Einstein]], yaitu sistem [[persamaan diferensial parsial]]. Dalam relativitas umum, distribusi materi dan energi menentukan geometri ruang waktu, yang pada gilirannya menjelaskan [[percepatan]] dari materi itu sendiri. Karena itu, solusi dari persamaan medan Einstein menggambarkan evolusi alam semesta. Ketika dikombinasikan dengan hasil pengamatan terhadap jumlah, jenis, dan distribusi materi di alam semesta, persamaan-persamaan relativitas umum mampu menjelaskan bagaimana alam semesta berkembang seiring waktu. | |||
Dengan mengasumsikan [[prinsip kosmologi]] bahwa alam semesta bersifat homogen dan isotropik di setiap tempat, muncul solusi khusus dari persamaan medan yang menggambarkan alam semesta, yaitu [[tensor metrik]] yang dikenal sebagai [[metrik Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker]]: | Dengan mengasumsikan [[prinsip kosmologi]] bahwa alam semesta bersifat homogen dan isotropik di setiap tempat, muncul solusi khusus dari persamaan medan yang menggambarkan alam semesta, yaitu [[tensor metrik]] yang dikenal sebagai [[metrik Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker]]: | ||
:<math> | :<math> | ||
ds^2 = -c^{2} dt^2 + | ds^2 = -c^{2} dt^2 + | ||
R(t)^2 \left( \frac{dr^2}{1-k r^2} + r^2 d\ | R(t)^2 \\left( \\frac{dr^2}{1-k r^2} + r^2 d\ heta^2 + r^2 \\sin^2 \ heta \\, d\\phi^2 \ | ||
ight) | |||
</math> | </math> | ||
di mana (''r'', θ, φ) menunjukkan [[sistem koordinat bola]]. Metrik ini hanya memiliki dua parameter bebas. Yang pertama adalah [[faktor skala (kosmologi)|faktor skala]] tak berdimensi ''R'', yang menggambarkan ukuran alam semesta sebagai fungsi waktu (peningkatan ''R'' berarti [[pengembangan alam semesta]]), dan yang kedua adalah indeks kelengkungan ''k'' yang menjelaskan bentuk geometri ruang tersebut. Nilai ''k'' hanya dapat berupa salah satu dari tiga kemungkinan: 0, yang mewakili [[geometri Euclid]] datar; 1, yang menggambarkan ruang dengan [[kelengkungan]] positif; atau −1, yang menunjukkan kelengkungan negatif. Nilai ''R'' sebagai fungsi waktu ''t'' bergantung pada ''k'' serta [[konstanta kosmologis]] ''Λ''. Konstanta kosmologis ini merepresentasikan rapat energi dari kekosongan ruang dan dapat berkaitan dengan energi gelap. Persamaan yang menggambarkan bagaimana ''R'' berubah terhadap waktu dikenal sebagai [[persamaan Friedmann]], diambil dari nama penemunya, [[Alexander Friedmann]]. | di mana (''r'', θ, φ) menunjukkan [[sistem koordinat bola]]. Metrik ini hanya memiliki dua parameter bebas. Yang pertama adalah [[faktor skala (kosmologi)|faktor skala]] tak berdimensi ''R'', yang menggambarkan ukuran alam semesta sebagai fungsi waktu (peningkatan ''R'' berarti [[pengembangan alam semesta]]),<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> dan yang kedua adalah indeks kelengkungan ''k'' yang menjelaskan bentuk geometri ruang tersebut. Nilai ''k'' hanya dapat berupa salah satu dari tiga kemungkinan: 0, yang mewakili [[geometri Euclid]] datar; 1, yang menggambarkan ruang dengan [[kelengkungan]] positif; atau −1, yang menunjukkan kelengkungan negatif.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Nilai ''R'' sebagai fungsi waktu ''t'' bergantung pada ''k'' serta [[konstanta kosmologis]] ''Λ''.<ref>Michael Zeilik. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil Introductory Astronomy & Astrophysics]. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.</ref> Konstanta kosmologis ini merepresentasikan rapat energi dari kekosongan ruang dan dapat berkaitan dengan energi gelap.<ref>Peebles. ''The cosmological constant and dark energy''. ''Reviews of Modern Physics''. 2003. Vol. 75 (2). hlm. 559–606. doi:10.1103/RevModPhys.75.559.</ref> Persamaan yang menggambarkan bagaimana ''R'' berubah terhadap waktu dikenal sebagai [[persamaan Friedmann]], diambil dari nama penemunya, [[Alexander Friedmann]].<ref>Friedmann. [http://publikationen.ub.uni-frankfurt.de/files/16735/E001554876.pdf Über die Krümmung des Raumes]. ''Zeitschrift für Physik''. 1922. Vol. 10 (1). hlm. 377–386. doi:10.1007/BF01332580.</ref> | ||
Solusi untuk ''R(t)'' bergantung pada nilai ''k'' dan ''Λ'', tetapi beberapa ciri kualitatif dari solusi tersebut bersifat umum. Pertama dan terpenting, skala panjang ''R'' alam semesta hanya dapat tetap konstan ''jika dan hanya jika'' alam semesta benar-benar isotropik dengan kelengkungan positif (''k'' = 1) serta memiliki kerapatan yang sama di seluruh ruang—hal ini pertama kali disadari oleh [[Albert Einstein]]. | Solusi untuk ''R(t)'' bergantung pada nilai ''k'' dan ''Λ'', tetapi beberapa ciri kualitatif dari solusi tersebut bersifat umum. Pertama dan terpenting, skala panjang ''R'' alam semesta hanya dapat tetap konstan ''jika dan hanya jika'' alam semesta benar-benar isotropik dengan kelengkungan positif (''k'' = 1) serta memiliki kerapatan yang sama di seluruh ruang—hal ini pertama kali disadari oleh [[Albert Einstein]].<ref>Michael Zeilik. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil Introductory Astronomy & Astrophysics]. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.</ref> | ||
Kedua, seluruh solusi menunjukkan bahwa pada masa lampau pernah terjadi suatu [[singularitas gravitasi]], ketika ''R'' menyusut menjadi nol dan materi serta energi mencapai kerapatan tak terhingga. Sekilas kesimpulan ini tampak meragukan karena didasarkan pada asumsi yang ideal, yakni homogenitas dan isotropi sempurna (prinsip kosmologis), dan mengabaikan interaksi lain selain gravitasi. Namun, [[teorema singularitas Penrose–Hawking]] menunjukkan bahwa singularitas semacam itu seharusnya muncul dalam kondisi yang sangat umum. Karena itu, berdasarkan persamaan medan Einstein, ''R'' tumbuh sangat cepat dari keadaan yang tak terbayangkan panas dan padat sesaat setelah singularitas tersebut (ketika ''R'' bernilai kecil tetapi terbatas); inilah inti dari model [[Dentuman Besar]]. Memahami singularitas asal Dentuman Besar kemungkinan memerlukan [[teori gravitasi kuantum]], yang hingga kini belum dirumuskan. | Kedua, seluruh solusi menunjukkan bahwa pada masa lampau pernah terjadi suatu [[singularitas gravitasi]], ketika ''R'' menyusut menjadi nol dan materi serta energi mencapai kerapatan tak terhingga. Sekilas kesimpulan ini tampak meragukan karena didasarkan pada asumsi yang ideal, yakni homogenitas dan isotropi sempurna (prinsip kosmologis), dan mengabaikan interaksi lain selain gravitasi. Namun, [[teorema singularitas Penrose–Hawking]] menunjukkan bahwa singularitas semacam itu seharusnya muncul dalam kondisi yang sangat umum. Karena itu, berdasarkan persamaan medan Einstein, ''R'' tumbuh sangat cepat dari keadaan yang tak terbayangkan panas dan padat sesaat setelah singularitas tersebut (ketika ''R'' bernilai kecil tetapi terbatas); inilah inti dari model [[Dentuman Besar]]. Memahami singularitas asal Dentuman Besar kemungkinan memerlukan [[teori gravitasi kuantum]], yang hingga kini belum dirumuskan.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> | ||
Ketiga, indeks kelengkungan ''k'' menentukan tanda dari kelengkungan permukaan ruang pada waktu konstan, jika dirata-ratakan pada skala panjang yang sangat besar (lebih dari satu miliar [[tahun cahaya]]). Jika ''k'' = 1, maka kelengkungannya positif dan alam semesta memiliki volume terbatas. Alam semesta dengan kelengkungan positif sering divisualisasikan sebagai [[3-sphere|bola tiga dimensi]] yang tertanam dalam ruang empat dimensi. Sebaliknya, jika ''k'' bernilai nol atau negatif, maka alam semesta memiliki volume tak terbatas. Meskipun tampak berlawanan dengan intuisi bahwa alam semesta yang tak berhingga tetapi sangat rapat dapat muncul seketika saat ''R'' = 0, justru itulah yang diprediksi secara matematis ketika ''k'' tidak positif dan prinsip kosmologis terpenuhi. Sebagai analogi, bidang datar memiliki kelengkungan nol tetapi luas tak berhingga, sedangkan [[silinder]] tak berhingga bersifat terbatas dalam satu arah, dan [[torus]] terbatas dalam dua arah. | Ketiga, indeks kelengkungan ''k'' menentukan tanda dari kelengkungan permukaan ruang pada waktu konstan,<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> jika dirata-ratakan pada skala panjang yang sangat besar (lebih dari satu miliar [[tahun cahaya]]). Jika ''k'' = 1, maka kelengkungannya positif dan alam semesta memiliki volume terbatas.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Alam semesta dengan kelengkungan positif sering divisualisasikan sebagai [[3-sphere|bola tiga dimensi]] yang tertanam dalam ruang empat dimensi. Sebaliknya, jika ''k'' bernilai nol atau negatif, maka alam semesta memiliki volume tak terbatas.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Meskipun tampak berlawanan dengan intuisi bahwa alam semesta yang tak berhingga tetapi sangat rapat dapat muncul seketika saat ''R'' = 0, justru itulah yang diprediksi secara matematis ketika ''k'' tidak positif dan prinsip kosmologis terpenuhi. Sebagai analogi, bidang datar memiliki kelengkungan nol tetapi luas tak berhingga, sedangkan [[silinder]] tak berhingga bersifat terbatas dalam satu arah, dan [[torus]] terbatas dalam dua arah. | ||
[[Nasib akhir alam semesta]] masih belum diketahui karena sangat bergantung pada nilai indeks kelengkungan ''k'' dan konstanta kosmologis ''Λ''. Jika alam semesta cukup rapat, maka ''k'' akan bernilai +1, yang berarti kelengkungan rata-ratanya positif dan alam semesta pada akhirnya akan runtuh kembali dalam suatu [[Remukan Besar]] (''Big Crunch''), yang mungkin diikuti oleh kelahiran alam semesta baru melalui [[Pantulan Besar]] (''Big Bounce''). Sebaliknya, jika kerapatan alam semesta tidak mencukupi, maka ''k'' akan bernilai 0 atau −1, dan alam semesta akan terus mengembang tanpa batas, mendingin, hingga mencapai [[Pembekuan Besar]] (''Big Freeze'') dan akhirnya mengalami [[kematian panas alam semesta]]. Data pengamatan modern menunjukkan bahwa [[pengembangan alam semesta yang dipercepat|alam semesta kini mengembang semakin cepat]]; bila percepatan ini terus berlanjut dengan laju tertentu, alam semesta mungkin akan berakhir dalam peristiwa [[Robekan Besar]] (''Big Rip''). Secara observasional, alam semesta tampak datar (''k'' = 0), dengan kerapatan total yang sangat dekat dengan nilai kritis antara keruntuhan kembali dan pengembangan abadi. | [[Nasib akhir alam semesta]] masih belum diketahui karena sangat bergantung pada nilai indeks kelengkungan ''k'' dan konstanta kosmologis ''Λ''. Jika alam semesta cukup rapat, maka ''k'' akan bernilai +1, yang berarti kelengkungan rata-ratanya positif dan alam semesta pada akhirnya akan runtuh kembali dalam suatu [[Remukan Besar]] (''Big Crunch''),<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> yang mungkin diikuti oleh kelahiran alam semesta baru melalui [[Pantulan Besar]] (''Big Bounce''). Sebaliknya, jika kerapatan alam semesta tidak mencukupi, maka ''k'' akan bernilai 0 atau −1, dan alam semesta akan terus mengembang tanpa batas, mendingin, hingga mencapai [[Pembekuan Besar]] (''Big Freeze'') dan akhirnya mengalami [[kematian panas alam semesta]].<ref>Michael Zeilik. [https://archive.org/details/introductoryastr0000zeil Introductory Astronomy & Astrophysics]. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.</ref> Data pengamatan modern menunjukkan bahwa [[pengembangan alam semesta yang dipercepat|alam semesta kini mengembang semakin cepat]]; bila percepatan ini terus berlanjut dengan laju tertentu, alam semesta mungkin akan berakhir dalam peristiwa [[Robekan Besar]] (''Big Rip''). Secara observasional, alam semesta tampak datar (''k'' = 0), dengan kerapatan total yang sangat dekat dengan nilai kritis antara keruntuhan kembali dan pengembangan abadi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> | ||
=== Hipotesis multisemesta === | === Hipotesis multisemesta === | ||
Sejumlah teori spekulatif mengusulkan bahwa alam semesta kita hanyalah satu dari sekumpulan [[himpunan (matematika)|himpunan]] alam semesta yang terpisah satu sama lain, yang secara kolektif disebut [[multisemesta]]. Gagasan ini menantang sekaligus memperluas batasan definisi tradisional tentang alam semesta.<ref>George F. R. Ellis. ''Multiverses and physical cosmology''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.</ref><ref>Munitz. ''One Universe or Many?''. ''Journal of the History of Ideas''. 1959. Vol. 12 (2). hlm. 231–255. doi:10.2307/2707516.</ref> [[Max Tegmark]] mengembangkan suatu [[Multiverse#Max Tegmark's four levels|skema klasifikasi empat tingkat]] yang menjelaskan berbagai jenis multisemesta yang pernah diusulkan ilmuwan sebagai jawaban atas sejumlah persoalan mendalam dalam [[fisika]]. Salah satu contohnya adalah multisemesta yang dihasilkan dari model [[teori alam semesta gelembung|inflasi kacau]] pada masa awal alam semesta.<ref>Linde. [https://cds.cern.ch/record/167897 Eternal chaotic inflation]. ''Mod. Phys. Lett. A''. 1986. Vol. 1 (2). hlm. 81–85. doi:10.1142/S0217732386000129. Linde. [http://www.stanford.edu/~alinde/Eternal86.pdf Eternally existing self-reproducing chaotic inflationary Universe]. ''Phys. Lett. B''. 1986. Vol. 175 (4). hlm. 395–400. doi:10.1016/0370-2693(86)90611-8.</ref> | |||
Contoh lain ialah multisemesta yang muncul dari [[interpretasi banyak-dunia|interpretasi banyak dunia]] dalam mekanika kuantum. Dalam kerangka ini, dunia-dunia paralel terbentuk melalui proses yang mirip dengan [[superposisi kuantum]] dan [[dekohesi]], di mana seluruh kemungkinan keadaan dari [[fungsi gelombang]] terwujud di dunia yang berbeda-beda. Dengan demikian, dalam interpretasi banyak dunia, multisemesta berkembang sebagai suatu [[fungsi gelombang universal]]. Jika Dentuman Besar yang melahirkan multisemesta kita juga menciptakan himpunan multisemesta lain, maka fungsi gelombang dari seluruh himpunan itu akan saling terjerat secara kuantum.<ref>Hugh Everett. ''Relative State Formulation of Quantum Mechanics''. ''Reviews of Modern Physics''. 1957. Vol. 29 (3). hlm. 454–462. doi:10.1103/RevModPhys.29.454.</ref> Masih menjadi perdebatan panjang apakah konsep ini memungkinkan penurunan probabilitas yang bermakna secara ilmiah, dan terdapat pula berbagai versi dari interpretasi banyak dunia.<ref>Philip Ball. [https://aeon.co/essays/is-the-many-worlds-hypothesis-just-a-fantasy Too many worlds]. ''Aeon.co''. February 17, 2015.</ref><ref>Asher Peres. ''Quantum Theory: Concepts and Methods''. Kluwer Academic Publishers. 1995. hlm. 374. ISBN 0-7923-2549-4.</ref><ref>Adrian Kent. ''Does it Make Sense to Speak of Self-Locating Uncertainty in the Universal Wave Function? Remarks on Sebens and Carroll''. ''Foundations of Physics''. February 2015. Vol. 45 (2). hlm. 211–217. doi:10.1007/s10701-014-9862-5.</ref> Topik tentang [[Interpretasi atas mekanika kuantum|bagaimana seharusnya mekanika kuantum ditafsirkan]] sendiri merupakan wilayah yang sarat perbedaan pandangan.<ref>Maximilian Schlosshauer. ''A snapshot of foundational attitudes toward quantum mechanics''. ''Studies in History and Philosophy of Science Part B: Studies in History and Philosophy of Modern Physics''. August 1, 2013. Vol. 44 (3). hlm. 222–230. doi:10.1016/j.shpsb.2013.04.004.</ref><ref>N. David Mermin. ''Commentary: Quantum mechanics: Fixing the shifty split''. ''Physics Today''. July 1, 2012. Vol. 65 (7). hlm. 8–10. doi:10.1063/PT.3.1618.</ref><ref>Adán Cabello. ''What is Quantum Information?''. Cambridge University Press. 2017. hlm. 138–143. doi:10.1017/9781316494233.009. ISBN 978-1-107-14211-4.</ref> | |||
Kategori yang paling tidak kontroversial, meskipun tetap diperdebatkan, dalam klasifikasi Tegmark adalah multiverse [[Multiverse#Level I: Perpanjangan alam semesta kita|Tingkat I]]. Multisemesta pada tingkat ini terdiri dari peristiwa ruang waktu yang sangat jauh tetapi masih termasuk "alam semesta kita" sendiri. Tegmark dan beberapa ilmuwan lain<ref>Jaume Garriga. ''Many Worlds in One''. ''Physical Review D''. 2007. Vol. 64 (4). doi:10.1103/PhysRevD.64.043511.</ref> berargumen bahwa jika ruang benar-benar tak berhingga, atau cukup besar dan seragam, maka sejarah lengkap [[volume Hubble]] Bumi akan berulang secara identik di tempat lain, murni karena kebetulan statistik. Tegmark menghitung bahwa "kembaran" terdekat kita berada sejauh 10<sup>10<sup>115</sup></sup> meter dari sini, jarak yang merupakan [[fungsi eksponensial ganda]] jauh lebih besar dari [[googolplex]].<ref>Tegmark. [https://archive.org/details/sim_scientific-american_2003-05_288_5/page/40 Parallel universes. Not just a staple of science fiction, other universes are a direct implication of cosmological observations]. ''Scientific American''. 2003. Vol. 288 (5). hlm. 40–51. doi:10.1038/scientificamerican0503-40.</ref><ref>Tegmark, Max. [https://archive.org/details/sim_scientific-american_2003-05_288_5/page/40 Parallel Universes]. ''Scientific American''. 2003. Vol. 288 (5). hlm. 40–51. doi:10.1038/scientificamerican0503-40.</ref> Meski demikian, argumen-argumen semacam ini masih bersifat sangat spekulatif.<ref>Francisco José Soler Gil. ''About the Infinite Repetition of Histories in Space''. ''Theoria: An International Journal for Theory, History and Foundations of Science''. 2013. Vol. 29 (3). hlm. 361. doi:10.1387/theoria.9951.</ref> | |||
Kita juga dapat membayangkan adanya ruang waktu yang sepenuhnya terputus satu sama lain, masing-masing ada namun tak dapat berinteraksi sedikit pun.<ref>Tegmark. [https://archive.org/details/sim_scientific-american_2003-05_288_5/page/40 Parallel universes. Not just a staple of science fiction, other universes are a direct implication of cosmological observations]. ''Scientific American''. 2003. Vol. 288 (5). hlm. 40–51. doi:10.1038/scientificamerican0503-40.</ref><ref>Ellis. [https://archive.org/details/sim_scientific-american_2011-08_305_2/page/38 Does the Multiverse Really Exist?]. ''Scientific American''. 2011. Vol. 305 (2). hlm. 38–43. doi:10.1038/scientificamerican0811-38.</ref> Analogi yang mudah divisualisasikan untuk konsep ini adalah sekumpulan [[gelembung sabun]] yang terpisah, di mana para pengamat yang hidup pada satu gelembung tidak mungkin, bahkan secara teori, berinteraksi dengan mereka yang berada di gelembung lain.<ref>Clara Moskowitz. [http://www.livescience.com/15530-multiverse-universe-eternal-inflation-test.html Weird! Our Universe May Be a 'Multiverse,' Scientists Say]. ''livescience''. August 12, 2011.</ref> Dalam terminologi yang umum digunakan, setiap "gelembung sabun" ruang waktu disebut sebagai sebuah ''alam semesta'', sementara ruang waktu tempat manusia berada disebut ''alam semesta''—sebagaimana kita menyebut satelit alami Bumi sebagai ''[[Bulan]]''.<ref>George F. R. Ellis. ''Multiverses and physical cosmology''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.</ref> Keseluruhan kumpulan ruang waktu yang terpisah ini disebut multisemesta.<ref>George F. R. Ellis. ''Multiverses and physical cosmology''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.</ref> | |||
Dalam pengertian ini, setiap ''alam semesta'' tidak memiliki hubungan [[kausalitas|kausal]] satu sama lain.<ref>George F. R. Ellis. ''Multiverses and physical cosmology''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.</ref> Secara teoretis, setiap ''alam semesta'' lain yang tak terhubung bisa saja memiliki [[dimensi]] dan [[topologi]] ruang waktu yang berbeda, bentuk [[materi]] dan [[energi]] yang berbeda, bahkan [[hukum fisika]] dan [[konstanta fisika]] yang tidak sama—meskipun kemungkinan-kemungkinan ini sepenuhnya bersifat spekulatif.<ref>George F. R. Ellis. ''Multiverses and physical cosmology''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.</ref> Beberapa ilmuwan juga menganggap bahwa gelembung-gelembung yang tercipta melalui proses inflasi kacau merupakan ''alam semesta'' tersendiri, meskipun dalam model ini semua alam semesta tersebut memiliki asal kausal yang sama.<ref>George F. R. Ellis. ''Multiverses and physical cosmology''. ''Monthly Notices of the Royal Astronomical Society''. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.</ref> | |||
== Penggambaran sejarah == | == Penggambaran sejarah == | ||
Sepanjang sejarah, manusia telah melahirkan beragam gagasan tentang alam semesta (kosmologi) dan asal-usulnya (kosmogoni). Teori tentang alam semesta yang tidak dipersonifikasikan dan diatur oleh hukum-hukum fisika pertama kali dikemukakan oleh para pemikir Yunani dan India kuno.<ref>Thomas F. Glick. [https://archive.org/details/medievalsciencet0000unse Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia]. Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-96930-7.</ref> Filsafat Tiongkok kuno juga mencakup gagasan tentang alam semesta yang mencakup keseluruhan ruang dan waktu.<ref>J. Gernet. ''Space and time: Science and religion in the encounter between China and Europe''. ''Chinese Science''. 1993–1994. Vol. 11. hlm. 93–102.</ref> | |||
Sepanjang sejarah, manusia telah melahirkan beragam gagasan tentang alam semesta (kosmologi) dan asal-usulnya (kosmogoni). Teori tentang alam semesta yang tidak dipersonifikasikan dan diatur oleh hukum-hukum fisika pertama kali dikemukakan oleh para pemikir Yunani dan India kuno. Filsafat Tiongkok kuno juga mencakup gagasan tentang alam semesta yang mencakup keseluruhan ruang dan waktu. | Selama berabad-abad, kemajuan dalam pengamatan astronomi serta teori tentang gerak dan gravitasi telah menghasilkan deskripsi alam semesta yang semakin akurat. Era modern kosmologi dimulai dengan lahirnya [[teori relativitas umum]] [[Albert Einstein]] pada tahun 1915, yang memungkinkan perhitungan kuantitatif mengenai asal mula, evolusi, dan nasib akhir alam semesta secara keseluruhan. Sebagian besar teori kosmologi modern yang diterima kini berpijak pada relativitas umum, khususnya pada prediksi mengenai [[Dentuman Besar]].<ref>Blandford R. D. [https://archive.org/details/sim_science_science_2015-03-06_347_6226/page/1102 A century of general relativity: Astrophysics and cosmology]. ''Science''. 2015. Vol. 347 (6226). hlm. 1103–1108. doi:10.1126/science.aaa4033.</ref> | ||
Selama berabad-abad, kemajuan dalam pengamatan astronomi serta teori tentang gerak dan gravitasi telah menghasilkan deskripsi alam semesta yang semakin akurat. Era modern kosmologi dimulai dengan lahirnya [[teori relativitas umum]] [[Albert Einstein]] pada tahun 1915, yang memungkinkan perhitungan kuantitatif mengenai asal mula, evolusi, dan nasib akhir alam semesta secara keseluruhan. Sebagian besar teori kosmologi modern yang diterima kini berpijak pada relativitas umum, khususnya pada prediksi mengenai [[Dentuman Besar]]. | |||
=== Mitologi === | === Mitologi === | ||
Banyak kebudayaan di dunia memiliki [[Daftar mitos penciptaan|kisah tentang asal-usul dunia dan alam semesta]]. Umumnya, kebudayaan-kebudayaan tersebut menganggap kisah-kisah ini mengandung suatu bentuk [[kebenaran]]. Namun, di antara mereka yang meyakini asal mula adikodrati, terdapat banyak perbedaan pandangan mengenai bagaimana kisah tersebut harus dipahami, mulai dari keyakinan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta secara langsung sebagaimana adanya sekarang, hingga gagasan bahwa Tuhan hanya "memutar roda awal" melalui mekanisme seperti [[Dentuman Besar]] dan [[evolusi]].<ref>David A. Leeming. [https://archive.org/details/creationmythsofw0002leem Creation Myths of the World]. ABC-CLIO. 2010. hlm. xvii. ISBN 978-1-59884-174-9.</ref> | |||
Dalam jenis kisah lainnya, alam semesta lahir dari penyatuan dewa dan dewi, seperti kisah [[Rangi dan Papa]] dalam [[mitologi Māori]]. | |||
Ada pula kisah di mana alam semesta dibentuk dari bahan-bahan yang telah ada sebelumnya, misalnya dari jasad dewa yang telah mati, seperti [[Tiamat]] dalam epos [[Babilonia]] ''[[Enûma Elish]]'' atau raksasa [[Ymir]] dalam [[Mitologi Nordik]], atau dari materi kacau, sebagaimana kisah [[Izanagi]] dan [[Izanami]] dalam [[Mitologi Jepang]]. Dalam tradisi lain, alam semesta dipandang sebagai pancaran dari prinsip-prinsip dasar seperti [[Brahman]] dan [[Prakrti]], atau seperti dalam [[Mitos penciptaan Serer]] dari [[bangsa Serer]].<ref>(Henry Gravrand, "La civilisation Sereer -Pangool") [in] Universität Frankfurt am Main, Frobenius-Institut, Deutsche Gesellschaft für Kulturmorphologie, Frobenius Gesellschaft, "Paideuma: Mitteilungen zur Kulturkunde, Volumes 43–44", F. Steiner (1997), pp. 144–145,</ref> | |||
Dalam jenis kisah lainnya, alam semesta lahir dari penyatuan dewa dan dewi, seperti kisah [[Rangi dan Papa]] dalam [[mitologi Māori]]. | |||
Ada pula kisah di mana alam semesta dibentuk dari bahan-bahan yang telah ada sebelumnya, misalnya dari jasad dewa yang telah mati, seperti [[Tiamat]] dalam epos [[Babilonia]] ''[[Enûma Elish]]'' atau raksasa [[Ymir]] dalam [[Mitologi Nordik]], atau dari materi kacau, sebagaimana kisah [[Izanagi]] dan [[Izanami]] dalam [[Mitologi Jepang]]. Dalam tradisi lain, alam semesta dipandang sebagai pancaran dari prinsip-prinsip dasar seperti [[Brahman]] dan [[Prakrti]], atau seperti dalam [[Mitos penciptaan Serer]] dari [[bangsa Serer]]. | |||
=== Model-model filsafat === | === Model-model filsafat === | ||
Para [[Filsafat pra-Sokratik|filsuf Yunani pra-Sokratik]] dan [[Filsafat India|filsuf India]] mengembangkan beberapa konsep filsafat paling awal tentang alam semesta.<ref>Thomas F. Glick. [https://archive.org/details/medievalsciencet0000unse Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia]. Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-96930-7.</ref><ref>Louise B. Young. [https://archive.org/details/unfinisheduniver0000youn The Unfinished Universe]. Oxford University Press. 1993. hlm. [https://archive.org/details/unfinisheduniver0000youn/page/20 21]. ISBN 978-0-195-08039-1.</ref> Filsuf Yunani awal menyadari bahwa penampakan dapat menipu, dan mereka berusaha memahami realitas mendasar yang tersembunyi di balik penampakan itu. Secara khusus, mereka mencatat kemampuan materi untuk berubah bentuk (misalnya es menjadi air lalu uap), dan sejumlah filsuf mengusulkan bahwa seluruh materi fisik di dunia merupakan bentuk-bentuk berbeda dari satu zat asal tunggal, atau ''[[arche]]''. Yang pertama mengemukakan hal ini adalah [[Thales]], yang menganggap zat asal tersebut adalah [[Air (unsur klasik)|air]]. Muridnya, [[Anaximander]], berpendapat bahwa segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tak terbatas yang disebut ''[[Apeiron (kosmologi)|apeiron]]''. [[Anaximenes dari Miletos|Anaximenes]] mengusulkan bahwa zat asal itu adalah [[Udara (unsur klasik)|udara]], karena sifatnya yang dapat menarik dan menolak sehingga menyebabkan ''arche'' mengembun atau terurai menjadi bentuk-bentuk lain. [[Anaxagoras]] memperkenalkan asas ''[[Nous]]'' (Akal), sedangkan [[Herakleitos]] mengusulkan [[api (unsur klasik)|api]] dan berbicara tentang ''[[logos]]''. [[Empedokles]] mengajukan empat unsur dasar: tanah, air, udara, dan api. Model empat unsur ini menjadi sangat berpengaruh. Seperti halnya [[Pythagoras]], [[Plato]] percaya bahwa segala sesuatu tersusun atas [[angka]], dengan unsur-unsur Empedokles mengambil bentuk [[padatan Platonik]]. [[Demokritos]], dan kemudian filsuf lain seperti [[Leukippos]], mengemukakan bahwa alam semesta tersusun dari [[atom]] yang tak terbagi, yang bergerak dalam [[kekosongan (astronomi)|kekosongan]] ([[vakum]]). [[Aristoteles]] menolak gagasan ini, sebab menurutnya udara, seperti air, memberikan [[gaya hambat (fisika)|hambatan terhadap gerak]]. Udara akan segera mengalir untuk mengisi kekosongan, dan tanpa hambatan, hal itu akan berlangsung tanpa batas kecepatan.<ref>Thomas F. Glick. [https://archive.org/details/medievalsciencet0000unse Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia]. Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-96930-7.</ref> | |||
Meskipun Herakleitos menegaskan bahwa perubahan adalah abadi,<ref>Daniel W. Graham. ''Heraclitus''. September 3, 2019.</ref> sezamannya, [[Parmenides]], menekankan ketakberubahan. Puisinya, ''On Nature'', ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa segala perubahan hanyalah ilusi; bahwa realitas sejati yang mendasari alam semesta bersifat abadi, tak berubah, dan tunggal dalam hakikatnya — atau setidaknya bahwa inti dari segala sesuatu yang ada haruslah kekal, tanpa awal, perubahan, maupun akhir.<ref>John Palmer. ''Parmenides''. October 19, 2020.</ref> Muridnya, [[Zeno dari Elea]], menantang gagasan umum tentang gerak melalui serangkaian [[paradoks Zeno|paradoks terkenal]]. Aristoteles menanggapi paradoks-paradoks tersebut dengan mengembangkan gagasan tentang potensi ketakterhinggaan yang dapat dihitung, serta konsep kontinuum yang dapat dibagi tanpa batas.<ref>John Palmer. ''Zeno of Elea''. April 8, 2021.</ref><ref>Bradley Dowden. ''Zeno's Paradoxes''.</ref> | |||
[[Panteisme]] adalah keyakinan [[filsafat]] sekaligus [[agama]] bahwa alam semesta itu sendiri identik dengan [[ketuhanan]] dan merupakan [[makhluk tertinggi]] atau entitas ilahi. Dengan demikian, alam semesta fisik dipahami sebagai dewa yang [[imanen]] dan meliputi segala sesuatu. Istilah 'panteis' merujuk pada seseorang yang meyakini bahwa segala sesuatu membentuk satu kesatuan, dan bahwa kesatuan itu bersifat ilahi—terwujud dalam sosok [[dewa (dewa laki-laki)|dewa]] atau [[dewi]] yang merangkum seluruh eksistensi. | [[Panteisme]] adalah keyakinan [[filsafat]] sekaligus [[agama]] bahwa alam semesta itu sendiri identik dengan [[ketuhanan]] dan merupakan [[makhluk tertinggi]] atau entitas ilahi.<ref>Judy Pearsall. [https://archive.org/details/newoxforddiction0000unse The New Oxford Dictionary Of English]. Clarendon Press. 1998. hlm. [https://archive.org/details/newoxforddiction0000unse/page/1341 1341]. ISBN 978-0-19-861263-6.</ref> Dengan demikian, alam semesta fisik dipahami sebagai dewa yang [[imanen]] dan meliputi segala sesuatu.<ref>Paul Edwards. [https://archive.org/details/encyclopediaofph08edwa Encyclopedia of Philosophy]. Macmillan. 1967. hlm. [https://archive.org/details/encyclopediaofph08edwa/page/34 34].</ref> Istilah 'panteis' merujuk pada seseorang yang meyakini bahwa segala sesuatu membentuk satu kesatuan, dan bahwa kesatuan itu bersifat ilahi—terwujud dalam sosok [[dewa (dewa laki-laki)|dewa]] atau [[dewi]] yang merangkum seluruh eksistensi.<ref>''Encyclopedia of Philosophy ed. Paul Edwards''. Macmillan and Free Press. 1967. hlm. 34.</ref><ref>Paul Reid-Bowen. ''Goddess as Nature: Towards a Philosophical Thealogy''. Taylor & Francis. April 15, 2016. hlm. 70. ISBN 978-1-317-12634-8.</ref> | ||
=== Konsep-konsep astronomi === | === Konsep-konsep astronomi === | ||
Catatan tertulis paling awal yang dapat diidentifikasi sebagai cikal bakal [[sejarah astronomi|astronomi modern]] berasal dari [[Mesir Kuno]] dan [[Mesopotamia]], sekitar tahun 3000 hingga 1200 [[Sebelum Masehi|SM]].<ref>David C. Lindberg. [https://archive.org/details/beginningsofwest0000lind_d9a5 The Beginnings of Western Science: The European Scientific Tradition in Philosophical, Religious, and Institutional Context]. University of Chicago Press. 2007. hlm. [https://archive.org/details/beginningsofwest0000lind_d9a5/page/12 12]. ISBN 978-0-226-48205-7.</ref><ref>Edward Grant. [https://archive.org/details/historyofnatural0000gran A History of Natural Philosophy: From the Ancient World to the Nineteenth Century]. Cambridge University Press. 2007. hlm. [https://archive.org/details/historyofnatural0000gran/page/1 1]–26. ISBN 978-0-521-68957-1.</ref> Para [[astronomi Babilonia]] pada abad ke-7 SM memandang dunia sebagai sebuah [[Bumi datar|cakram datar]] yang dikelilingi oleh lautan.<ref>Wayne Horowitz. ''The Babylonian Map of the World''. ''Iraq''. 1988. Vol. 50. hlm. 147–165. doi:10.2307/4200289.</ref><ref>Othmar Keel. [https://books.google.com/books?id=Fy4B1iMg33YC The Symbolism of the Biblical World]. Eisenbrauns. 1997. hlm. 20–22. ISBN 978-1-575-06014-9.</ref> | |||
Para filsuf [[Yunani Kuno]] kemudian, dengan mengamati gerakan benda-benda langit, berupaya mengembangkan model alam semesta yang lebih berlandaskan [[bukti empiris]]. Model koheren pertama diajukan oleh [[Eudoxus dari Cnidus]], seorang murid [[Plato]] yang mengikuti gagasan gurunya bahwa gerakan benda-benda langit haruslah melingkar. Untuk menjelaskan kerumitan gerak planet yang diketahui, terutama gerak [[Gerakan retrograd dan prograd|retrograd]], model Eudoxus menggunakan 27 [[bola langit]]: empat untuk setiap planet yang tampak oleh mata telanjang, tiga untuk Matahari dan Bulan, serta satu untuk bintang-bintang. Semua bola ini berpusat pada Bumi, yang dianggap tetap diam sementara bola-bola tersebut berputar selamanya. [[Aristoteles]] mengembangkan model ini lebih lanjut, menambah jumlah bola menjadi 55 untuk menjelaskan detail tambahan dari gerak planet. Bagi Aristoteles, [[materi klasik|materi]] biasa sepenuhnya berada di dalam lingkup bumi, dan tunduk pada hukum yang sangat berbeda dari [[Eter (elemen klasik)|materi langit]].<ref>Larry Wright. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/0039368173900022 The astronomy of Eudoxus: Geometry or physics?]. ''Studies in History and Philosophy of Science''. Agustus 1973. Vol. 4 (2). hlm. 165–172. doi:10.1016/0039-3681(73)90002-2.</ref><ref>Renato Dicati. [http://link.springer.com/10.1007/978-88-470-2829-6_2 The Ancients' Astronomy]. ''Stamping Through Astronomy''. Springer Milan. 2013. hlm. 19–55. doi:10.1007/978-88-470-2829-6_2. ISBN 978-88-470-2828-9.</ref> | |||
Risalah pasca-Aristoteles ''[[De Mundo]]'' (dengan penulis dan tanggal yang tidak pasti) menyatakan: "Lima unsur, tersusun dalam bola-bola pada lima wilayah, yang lebih kecil selalu dikelilingi oleh yang lebih besar, yakni bumi dikelilingi oleh air, air oleh udara, udara oleh api, dan api oleh eter, membentuk keseluruhan alam semesta."<ref>Aristotle. [https://archive.org/details/demundoarisrich De Mundo]. The Clarendon Press. 1914. hlm. [https://archive.org/details/demundoarisrich/page/2 2].</ref> Model ini kemudian disempurnakan oleh [[Callippus]], dan setelah konsep bola konsentris ditinggalkan, model tersebut disesuaikan hampir sempurna dengan pengamatan astronomi oleh [[Ptolemaeus]].<ref>Bernard R. Goldstein. ''Saving the phenomena: the background to Ptolemy's planetary theory''. ''Journal for the History of Astronomy''. 1997. Vol. 28 (1). hlm. 1–12. doi:10.1177/002182869702800101.</ref> Keberhasilan model ini sebagian besar disebabkan oleh fakta matematis bahwa setiap fungsi (seperti posisi planet) dapat diuraikan menjadi sekumpulan fungsi melingkar, yaitu [[deret Fourier|modus Fourier]]. Cendekiawan Yunani lainnya, seperti filsuf [[Pythagoreanisme]] [[Philolaus]], menurut catatan [[Stobaeus]], berpendapat bahwa di pusat alam semesta terdapat "api pusat", dan bahwa [[Bumi]], [[Matahari]], [[Bulan]], dan [[planet]] berputar mengelilinginya dalam gerakan melingkar seragam.<ref>Boyer, C. (1968) [https://archive.org/details/AHistoryOfMathematics ''A History of Mathematics'']. Wiley, hlm. 54.</ref> | |||
Risalah pasca-Aristoteles ''[[De Mundo]]'' (dengan penulis dan tanggal yang tidak pasti) menyatakan: "Lima unsur, tersusun dalam bola-bola pada lima wilayah, yang lebih kecil selalu dikelilingi oleh yang lebih besar, yakni bumi dikelilingi oleh air, air oleh udara, udara oleh api, dan api oleh eter, membentuk keseluruhan alam semesta." Model ini kemudian disempurnakan oleh [[Callippus]], dan setelah konsep bola konsentris ditinggalkan, model tersebut disesuaikan hampir sempurna dengan pengamatan astronomi oleh [[Ptolemaeus]]. Keberhasilan model ini sebagian besar disebabkan oleh fakta matematis bahwa setiap fungsi (seperti posisi planet) dapat diuraikan menjadi sekumpulan fungsi melingkar, yaitu [[deret Fourier|modus Fourier]]. Cendekiawan Yunani lainnya, seperti filsuf [[Pythagoreanisme]] [[Philolaus]], menurut catatan [[Stobaeus]], berpendapat bahwa di pusat alam semesta terdapat "api pusat", dan bahwa [[Bumi]], [[Matahari]], [[Bulan]], dan [[planet]] berputar mengelilinginya dalam gerakan melingkar seragam. | |||
[[Astronom Yunani]] [[Aristarchus dari Samos]] adalah orang pertama yang diketahui mengemukakan model [[Heliosentrisme|heliosentris]] alam semesta. Meskipun teks aslinya telah hilang, sebuah rujukan dalam karya [[Archimedes]] berjudul ''[[The Sand Reckoner]]'' menggambarkan model heliosentris Aristarchus. Archimedes menulis: | [[Astronom Yunani]] [[Aristarchus dari Samos]] adalah orang pertama yang diketahui mengemukakan model [[Heliosentrisme|heliosentris]] alam semesta. Meskipun teks aslinya telah hilang, sebuah rujukan dalam karya [[Archimedes]] berjudul ''[[The Sand Reckoner]]'' menggambarkan model heliosentris Aristarchus. Archimedes menulis: | ||
<blockquote>"Engkau, Raja Gelon, tentu mengetahui bahwa alam semesta adalah nama yang diberikan oleh kebanyakan astronom untuk bola yang pusatnya bertepatan dengan pusat Bumi, sedangkan jari-jarinya sama dengan garis lurus yang menghubungkan pusat Matahari dan pusat Bumi. Itulah pandangan umum sebagaimana engkau mendengarnya dari para astronom. Namun Aristarchus telah menerbitkan sebuah buku yang memuat sejumlah hipotesis, di mana tampak bahwa alam semesta jauh lebih besar daripada yang baru saja disebutkan. Hipotesisnya adalah bahwa bintang-bintang tetap dan Matahari tidak bergerak; bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari di sepanjang lingkaran dengan Matahari di tengah orbitnya; dan bahwa bola bintang-bintang tetap, yang berpusat sama dengan Matahari, begitu luas sehingga lingkaran yang menjadi jalur orbit Bumi hanya menempati proporsi sekecil jarak antara pusat bola dengan permukaannya."< | <blockquote>"Engkau, Raja Gelon, tentu mengetahui bahwa alam semesta adalah nama yang diberikan oleh kebanyakan astronom untuk bola yang pusatnya bertepatan dengan pusat Bumi, sedangkan jari-jarinya sama dengan garis lurus yang menghubungkan pusat Matahari dan pusat Bumi. Itulah pandangan umum sebagaimana engkau mendengarnya dari para astronom. Namun Aristarchus telah menerbitkan sebuah buku yang memuat sejumlah hipotesis, di mana tampak bahwa alam semesta jauh lebih besar daripada yang baru saja disebutkan. Hipotesisnya adalah bahwa bintang-bintang tetap dan Matahari tidak bergerak; bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari di sepanjang lingkaran dengan Matahari di tengah orbitnya; dan bahwa bola bintang-bintang tetap, yang berpusat sama dengan Matahari, begitu luas sehingga lingkaran yang menjadi jalur orbit Bumi hanya menempati proporsi sekecil jarak antara pusat bola dengan permukaannya."<ref>Thomas Heath. [https://books.google.com/books?id=rZmHAAAAQBAJ Aristarchus of Samos, the Ancient Copernicus: A History of Greek Astronomy to Aristarchus, Together with Aristarchus's Treatise on the Sizes and Distances of the Sun and Moon]. Cambridge University Press. 2013. hlm. 302. ISBN 978-1-108-06233-6.</ref></blockquote> | ||
Aristarchus berpendapat bahwa bintang-bintang terletak pada jarak yang sangat jauh, dan inilah sebabnya mengapa [[paralaks bintang]] tidak pernah teramati, yakni bintang-bintang tidak tampak bergeser posisinya satu sama lain ketika Bumi bergerak mengelilingi Matahari. Pada kenyataannya, jarak bintang-bintang memang jauh melampaui perkiraan umum pada zaman kuno, sehingga paralaks bintang hanya dapat terdeteksi dengan instrumen yang sangat presisi. Model geosentris, yang konsisten dengan konsep paralaks planet, pada masa itu dianggap sebagai penjelasan bagi tidak teramatinya paralaks bintang.<ref>James J. Kolkata. [http://iopscience.iop.org/book/978-1-6817-4100-0 Elementary Cosmology: From Aristotle's Universe to the Big Bang and Beyond]. IOP Publishing. 2015. doi:10.1088/978-1-6817-4100-0ch4. ISBN 978-1-68174-100-0.</ref> | |||
Satu-satunya astronom lain dari zaman kuno yang diketahui mendukung model heliosentris Aristarchus adalah [[Seleucus dari Seleukia]], seorang [[astronom Helenistik]] yang hidup sekitar satu abad setelah Aristarchus.<ref>Neugebauer, Otto E. ''The History of Ancient Astronomy Problems and Methods''. ''Journal of Near Eastern Studies''. 1945. Vol. 4 (1). hlm. 166–173. doi:10.1086/370729.</ref><ref>Sarton. ''Chaldaean Astronomy of the Last Three Centuries B. C''. ''Journal of the American Oriental Society''. 1955. Vol. 75 (3). hlm. 166–173 [169]. doi:10.2307/595168.</ref><ref>William P. D. Wightman (1951, 1953), ''The Growth of Scientific Ideas'', Yale University Press, hlm. 38, di mana Wightman menyebutnya Seleukos dari Kaldea.</ref> Menurut Plutarch, Seleucus adalah orang pertama yang membuktikan sistem heliosentris melalui [[penalaran]], meskipun argumen yang digunakannya tidak diketahui. Kemungkinan besar, pembuktiannya terkait dengan fenomena [[pasang surut]].<ref>Lucio Russo, ''Flussi e riflussi'', Feltrinelli, Milano, Italia, 2003, .</ref> Menurut [[Strabo]] (1.1.9), Seleucus adalah orang pertama yang menyatakan bahwa pasang surut disebabkan oleh gaya tarik [[Bulan]], dan bahwa tinggi rendahnya pasang bergantung pada posisi Bulan terhadap [[Matahari]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Sebagai alternatif, mungkin ia membuktikan heliosentrisme dengan menentukan konstanta dari model [[geometri]]s untuk sistem tersebut, serta mengembangkan metode untuk menghitung posisi planet berdasarkan model itu—pendekatan yang kelak menyerupai metode [[Nicolaus Copernicus]] pada abad ke-16.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Pada [[Abad Pertengahan]], model [[Heliosentrisme|heliosentris]] juga diajukan oleh para [[astronomi Islam|astronom Persia]] seperti [[Ja'far ibn Muhammad Abu Ma'shar al-Balkhi|Albumasar]]<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> dan [[Al-Sijzi]].<ref>Seyyed H. Nasr. [https://archive.org/details/introductiontois00nasr/page/135 An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines]. edisi pertama oleh Harvard University Press, edisi kedua oleh State University of New York Press. 1993. hlm. [https://archive.org/details/introductiontois00nasr/page/135 135–136]. ISBN 978-0-7914-1515-3.</ref> | |||
Model Aristoteles diterima di [[Dunia Barat]] selama kurang lebih dua milenium, hingga [[Nicolaus Copernicus]] menghidupkan kembali pandangan Aristarchus bahwa data astronomi dapat dijelaskan dengan lebih masuk akal bila [[Bumi]] dianggap berputar pada porosnya dan [[Matahari]] ditempatkan di pusat alam semesta.<ref>Steven C. Frautschi. ''The Mechanical Universe: Mechanics and Heat''. Cambridge University Press. 2007. hlm. 58. ISBN 978-0-521-71590-4.</ref> | |||
Pandangan kosmologis ini kemudian diterima oleh [[Isaac Newton]], [[Christiaan Huygens]], dan para ilmuwan sesudahnya. Newton menunjukkan bahwa [[hukum gerak Newton|hukum-hukum gerak]] dan gravitasi yang sama berlaku baik bagi benda di Bumi maupun bagi benda langit, sehingga menjadikan pembagian Aristoteles antara keduanya usang. [[Edmund Halley]] (1720) dan [[Jean-Philippe de Chéseaux]] (1744) secara terpisah mencatat bahwa jika ruang semesta diasumsikan tak berhingga dan dipenuhi bintang secara merata, maka langit malam seharusnya secerah Matahari sendiri; hal ini kelak dikenal sebagai [[Paradoks Olbers]] pada abad ke-19. Newton menegaskan bahwa ruang tak berhingga yang dipenuhi materi secara seragam akan menimbulkan gaya tak terhingga dan ketidakstabilan yang akan menyebabkan seluruh materi runtuh ke dalam akibat gravitasinya sendiri. Ketidakstabilan ini kemudian dijelaskan secara matematis pada tahun 1902 melalui kriteria [[ketidakstabilan Jeans]]. Salah satu solusi yang diajukan terhadap paradoks-paradoks ini adalah alam semesta [[Carl Charlier|Charlier]], di mana materi tersusun secara hierarkis, sistem benda-benda yang saling mengorbit dan pada gilirannya mengorbit dalam sistem yang lebih besar, ''ad infinitum'', dalam pola [[fraktal]] sehingga kerapatan keseluruhannya sangat kecil. Model kosmologis serupa sebenarnya telah diajukan lebih awal, pada tahun 1761, oleh [[Johann Heinrich Lambert]]. | Pandangan kosmologis ini kemudian diterima oleh [[Isaac Newton]], [[Christiaan Huygens]], dan para ilmuwan sesudahnya.<ref>Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 755–756.</ref> Newton menunjukkan bahwa [[hukum gerak Newton|hukum-hukum gerak]] dan gravitasi yang sama berlaku baik bagi benda di Bumi maupun bagi benda langit, sehingga menjadikan pembagian Aristoteles antara keduanya usang. [[Edmund Halley]] (1720)<ref>Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 756.</ref> dan [[Jean-Philippe de Chéseaux]] (1744)<ref>de Cheseaux JPL. ''Traité de la Comète''. Lausanne. 1744. hlm. 223ff.. Diterbitkan ulang sebagai Lampiran II dalam Dickson. [https://archive.org/details/bowlofnightphysi0000dick The Bowl of Night: The Physical Universe and Scientific Thought]. M.I.T. Press. 1969. ISBN 978-0-262-54003-2.</ref> secara terpisah mencatat bahwa jika ruang semesta diasumsikan tak berhingga dan dipenuhi bintang secara merata, maka langit malam seharusnya secerah Matahari sendiri; hal ini kelak dikenal sebagai [[Paradoks Olbers]] pada abad ke-19.<ref>Olbers HWM. ''Unknown title''. ''Bode's Jahrbuch''. 1826. Vol. 111.. Diterbitkan ulang sebagai Lampiran I dalam Dickson. [https://archive.org/details/bowlofnightphysi0000dick The Bowl of Night: The Physical Universe and Scientific Thought]. M.I.T. Press. 1969. ISBN 978-0-262-54003-2.</ref> Newton menegaskan bahwa ruang tak berhingga yang dipenuhi materi secara seragam akan menimbulkan gaya tak terhingga dan ketidakstabilan yang akan menyebabkan seluruh materi runtuh ke dalam akibat gravitasinya sendiri.<ref>Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 755–756.</ref> Ketidakstabilan ini kemudian dijelaskan secara matematis pada tahun 1902 melalui kriteria [[ketidakstabilan Jeans]].<ref>J. H. Jeans. ''The Stability of a Spherical Nebula''. ''Philosophical Transactions of the Royal Society A''. 1902. Vol. 199 (312–320). hlm. 1–53. doi:10.1098/rsta.1902.0012.</ref> Salah satu solusi yang diajukan terhadap paradoks-paradoks ini adalah alam semesta [[Carl Charlier|Charlier]], di mana materi tersusun secara hierarkis, sistem benda-benda yang saling mengorbit dan pada gilirannya mengorbit dalam sistem yang lebih besar, ''ad infinitum'', dalam pola [[fraktal]] sehingga kerapatan keseluruhannya sangat kecil. Model kosmologis serupa sebenarnya telah diajukan lebih awal, pada tahun 1761, oleh [[Johann Heinrich Lambert]].<ref>.</ref><ref>Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 757.</ref> | ||
===Astronomi ruang angkasa dalam=== | ===Astronomi ruang angkasa dalam=== | ||
Pada abad ke-18, [[Immanuel Kant]] berspekulasi bahwa [[nebula]] mungkin merupakan seluruh galaksi yang terpisah dari Bima Sakti. Pada tahun 1850, [[Alexander von Humboldt]] menyebut galaksi-galaksi terpisah itu sebagai ''Weltinseln'', atau "pulau dunia", istilah yang kemudian berkembang menjadi "alam semesta pulau" (''island universes''). | Pada abad ke-18, [[Immanuel Kant]] berspekulasi bahwa [[nebula]] mungkin merupakan seluruh galaksi yang terpisah dari Bima Sakti.<ref>Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 756.</ref> Pada tahun 1850, [[Alexander von Humboldt]] menyebut galaksi-galaksi terpisah itu sebagai ''Weltinseln'', atau "pulau dunia", istilah yang kemudian berkembang menjadi "alam semesta pulau" (''island universes'').<ref>Kenneth Glyn Jones. [http://journals.sagepub.com/doi/10.1177/002182867100200104 The Observational Basis for Kant's Cosmogony: A Critical Analysis]. ''Journal for the History of Astronomy''. February 1971. Vol. 2 (1). hlm. 29–34. doi:10.1177/002182867100200104.</ref><ref>Robert W. Smith. [http://journals.sagepub.com/doi/10.1177/002182860803900106 Beyond the Galaxy: The Development of Extragalactic Astronomy 1885–1965, Part 1]. ''Journal for the History of Astronomy''. February 2008. Vol. 39 (1). hlm. 91–119. doi:10.1177/002182860803900106.</ref> | ||
Pada tahun 1919, ketika [[Teleskop Hooker]] selesai dibangun, pandangan umum kala itu menyatakan bahwa alam semesta hanya terdiri atas Galaksi Bima Sakti. Dengan menggunakan teleskop tersebut, [[Edwin Hubble]] berhasil mengidentifikasi [[bintang variabel Cepheid]] di beberapa nebula spiral, dan pada tahun 1922–1923 ia membuktikan secara meyakinkan bahwa [[Galaksi Andromeda|Nebula Andromeda]] dan [[Galaksi Segitiga|Nebula Triangulum]], di antara yang lainnya, merupakan galaksi-galaksi utuh di luar galaksi kita sendiri. Penemuan ini menjadi bukti bahwa alam semesta tersusun atas banyak galaksi. | Pada tahun 1919, ketika [[Teleskop Hooker]] selesai dibangun, pandangan umum kala itu menyatakan bahwa alam semesta hanya terdiri atas Galaksi Bima Sakti. Dengan menggunakan teleskop tersebut, [[Edwin Hubble]] berhasil mengidentifikasi [[bintang variabel Cepheid]] di beberapa nebula spiral, dan pada tahun 1922–1923 ia membuktikan secara meyakinkan bahwa [[Galaksi Andromeda|Nebula Andromeda]] dan [[Galaksi Segitiga|Nebula Triangulum]], di antara yang lainnya, merupakan galaksi-galaksi utuh di luar galaksi kita sendiri. Penemuan ini menjadi bukti bahwa alam semesta tersusun atas banyak galaksi.<ref>Aleksandr Sergeevich Sharov. [https://books.google.com/books?id=ttEwkEdPc70C&pg=PA34 Edwin Hubble, the discoverer of the big bang universe]. Cambridge University Press. 1993. hlm. 34. ISBN 978-0-521-41617-7.</ref> | ||
Berdasarkan temuan tersebut, Hubble merumuskan [[konstanta Hubble]], yang untuk pertama kalinya memungkinkan perhitungan usia alam semesta serta ukuran [[alam semesta teramati]]. Seiring dengan kemajuan pengukuran, nilai-nilai ini menjadi semakin akurat, mulanya hanya sekitar 2 miliar tahun dan 280 juta tahun cahaya, hingga pada tahun 2006, data dari [[Teleskop Luar Angkasa Hubble]] memungkinkan estimasi usia dan ukuran alam semesta yang sangat presisi. | Berdasarkan temuan tersebut, Hubble merumuskan [[konstanta Hubble]], yang untuk pertama kalinya memungkinkan perhitungan usia alam semesta serta ukuran [[alam semesta teramati]]. Seiring dengan kemajuan pengukuran, nilai-nilai ini menjadi semakin akurat, mulanya hanya sekitar 2 miliar tahun dan 280 juta tahun cahaya, hingga pada tahun 2006, data dari [[Teleskop Luar Angkasa Hubble]] memungkinkan estimasi usia dan ukuran alam semesta yang sangat presisi.<ref>[https://imagine.gsfc.nasa.gov/educators/programs/cosmictimes/educators/guide/age_size.html Cosmic Times]. ''Imagine the Universe!''. December 8, 2017.</ref> | ||
Era modern [[kosmologi fisik]] dimulai pada tahun 1917, ketika [[Albert Einstein]] untuk pertama kalinya menerapkan [[teori relativitas umum]] dalam memodelkan struktur dan dinamika alam semesta.<ref>Albert Einstein. ''Kosmologische Betrachtungen zur allgemeinen Relativitätstheorie''. ''Preussische Akademie der Wissenschaften, Sitzungsberichte''. 1917. Vol. (part 1). hlm. 142–152.</ref> Penemuan-penemuan besar dari masa ini, beserta pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab, dijabarkan dalam bagian-bagian sebelumnya. | |||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
| Baris 291: | Baris 246: | ||
* [[Asal vakum]] | * [[Asal vakum]] | ||
* [[Alam semesta tanpa energi]] | * [[Alam semesta tanpa energi]] | ||
== Pranala luar == | == Pranala luar == | ||
| Baris 313: | Baris 252: | ||
* [https://www.forbes.com/sites/startswithabang/2019/05/21/this-is-why-we-will-never-know-everything-about-our-universe/ ''This is why we will never know everything about our universe''] – ''[[Forbes]]'', May 2019. | * [https://www.forbes.com/sites/startswithabang/2019/05/21/this-is-why-we-will-never-know-everything-about-our-universe/ ''This is why we will never know everything about our universe''] – ''[[Forbes]]'', May 2019. | ||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
== | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Alam+semesta&oldid=29560550 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29560550 (2026-08-11T13:09:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.33

Alam semesta merupakan keseluruhan dari ruang dan waktu beserta seluruh isinya.[1] Alam semesta mencakup seluruh eksistensi, setiap bentuk interaksi fundamental, proses fisika, serta konstanta fisika. Karena itu, ia meliputi semua bentuk materi dan energi beserta struktur yang terbentuk darinya, mulai dari partikel subatom hingga keseluruhan filamen galaksi. Sejak awal abad ke-20, bidang kosmologi menetapkan bahwa ruang dan waktu muncul secara bersamaan dalam peristiwa Dentuman Besar sekitar yang lalu,[2] dan sejak saat itu alam semesta terus mengembang. Bagian alam semesta yang dapat diamati manusia diperkirakan memiliki diameter sekitar 93 miliar tahun cahaya, tetapi keseluruhan ukuran alam semesta sebenarnya masih belum diketahui.[3]
Beberapa model kosmologis paling awal tentang alam semesta dikembangkan oleh para filsuf Yunani kuno dan India, yang bersifat geosentris, menempatkan Bumi sebagai pusat alam semesta.[4][5] Seiring berjalannya waktu, pengamatan astronomis yang semakin akurat menuntun Nicolaus Copernicus untuk merumuskan model heliosentris, yang menempatkan Matahari di pusat Tata Surya. Dalam mengembangkan hukum gravitasi universal, Isaac Newton membangun teori tersebut dengan landasan pemikiran Johannes Kepler tentang hukum gerak planet serta hasil pengamatan Tycho Brahe.
Kemajuan dalam pengamatan lebih lanjut kemudian menyingkap bahwa Matahari hanyalah salah satu dari ratusan miliar bintang dalam Bima Sakti, yang pada gilirannya merupakan satu di antara ratusan miliar galaksi dalam alam semesta teramati. Banyak bintang di dalam galaksi juga diketahui memiliki planet sendiri. Dalam skala terbesar, galaksi-galaksi tersebar secara seragam ke segala arah, menandakan bahwa alam semesta tidak memiliki tepi maupun pusat. Pada skala yang lebih kecil, galaksi-galaksi berkumpul membentuk gugus galaksi dan supergugus yang tersusun menjadi filamen raksasa dan ruang hampa luas, menciptakan struktur besar menyerupai busa kosmik.[6] Penemuan-penemuan pada awal abad ke-20 mengindikasikan bahwa alam semesta memiliki permulaan dan terus mengalami perluasan sejak saat itu.[7]
Menurut teori Dentuman Besar, energi dan materi yang ada pada awal mula semakin menipis kerapatannya seiring mengembangnya alam semesta. Setelah fase percepatan luar biasa yang disebut inflasi sekitar 10−32 detik setelah awal mula, serta terpisahnya empat interaksi fundamental yang kini dikenal, alam semesta perlahan mendingin dan terus mengembang, memungkinkan terbentuknya partikel subatom pertama serta atom-atom sederhana. Awan raksasa hidrogen dan helium kemudian tertarik menuju wilayah dengan kepadatan materi lebih tinggi, membentuk galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan segala struktur yang kini kita kenal.
Melalui kajian tentang pengaruh gravitasi terhadap materi dan cahaya, ditemukan bahwa alam semesta mengandung jauh lebih banyak materi daripada yang dapat diamati, seperti bintang, galaksi, nebula, dan gas antarbintang. Materi tak kasatmata ini dikenal sebagai materi gelap.[8] Dalam model kosmologis yang paling luas diterima, yaitu ΛCDM, materi gelap diperkirakan menyusun sekitar dari total massa dan energi alam semesta, sementara sekitar terdiri atas energi gelap, bentuk energi misterius yang diyakini menyebabkan percepatan ekspansi alam semesta.[9] Sementara itu, materi biasa ('barionik') hanya mencakup sekitar dari keseluruhan alam semesta,[10] dan bintang, planet, serta awan gas tampak hanya membentuk kira-kira 6% dari bagian materi biasa ini.[11]
Terdapat berbagai hipotesis yang saling bersaing mengenai nasib akhir alam semesta dan apa yang mendahului Dentuman Besar, jika ada. Sementara sebagian fisikawan dan filsuf enggan berspekulasi lebih jauh, karena meragukan bahwa informasi mengenai keadaan sebelumnya dapat diakses. Beberapa ilmuwan fisika telah mengajukan berbagai hipotesis multisemesta, yang menyatakan bahwa alam semesta kita mungkin hanyalah salah satu dari sekian banyak alam semesta lain.[12][13][14]
Definisi
Alam semesta fisik didefinisikan sebagai keseluruhan dari ruang dan waktu (yang secara kolektif disebut ruang-waktu) beserta seluruh isinya.[15] Isi tersebut mencakup seluruh bentuk energi dalam berbagai wujudnya, termasuk radiasi elektromagnetik dan materi, yang karenanya meliputi planet-planet, bulan, bintang, galaksi, dan segala sesuatu yang berada di dalam ruang antargalaksi.[16][17][18] Alam semesta juga mencakup hukum fisika yang memengaruhi energi dan materi, seperti hukum kekekalan, mekanika klasik, serta relativitas.[19]
Alam semesta kerap didefinisikan sebagai "keseluruhan eksistensi", yakni segala sesuatu yang ada, yang pernah ada, dan yang akan ada.[20] Bahkan, sejumlah filsuf dan ilmuwan mendukung pandangan bahwa gagasan serta konsep-konsep abstrak, seperti matematika dan logika, turut termasuk dalam pengertian alam semesta.[21][22] Kata alam semesta juga kerap digunakan untuk merujuk pada konsep seperti kosmos, dunia, dan alam.[23][24]
Etimologi
Dalam bahasa Indonesia, istilah alam semesta berasal dari gabungan kata alam dan semesta. Kata alam diserap dari bahasa Arab ālam (عالَم) yang berarti "dunia", "jagat raya" atau "seluruh makhluk",[25] sedangkan kata semesta diserap dari bahasa Sansekerta samasta (समस्त) yang berarti "seluruh", "keseluruhan" atau "bersama".[26] Gabungan dari keduanya secara harfiah dapat diartikan sebagai "keseluruhan dunia" atau "seluruh jagat raya".
Sinonim
Dalam tradisi para filsuf Yunani kuno sejak masa Pythagoras, istilah yang digunakan untuk menyebut alam semesta antara lain adalah () yang berarti "keseluruhan", didefinisikan sebagai seluruh materi dan seluruh ruang; serta () yang berarti "segala sesuatu", meskipun tidak selalu mencakup kehampaan atau ruang kosong.[27][28] Sinonim lainnya adalah () yang berarti "dunia" atau "kosmos".[29]
Istilah-istilah serupa juga ditemukan dalam karya penulis Latin, seperti , , dan .[30] Istilah-istilah ini masih lestari dalam berbagai bahasa modern, misalnya dalam bahasa Jerman: , , dan yang semuanya bermakna "alam semesta". Sinonim serupa juga terdapat dalam bahasa Inggris, seperti everything (misalnya dalam istilah teori segala sesuatu), cosmos (seperti dalam kosmologi), world (seperti dalam interpretasi banyak-dunia), dan nature (seperti dalam hukum alam atau filsafat alam).[31]
Kronologi dan Dentuman Besar
Model yang paling banyak diterima untuk menjelaskan evolusi alam semesta adalah teori Dentuman Besar (Big Bang).[32][33] Menurut model ini, keadaan awal alam semesta merupakan kondisi yang luar biasa panas dan padat, yang kemudian mengalami pengembangan dan pendinginan seiring waktu. Model ini berlandaskan pada teori relativitas umum serta sejumlah asumsi penyederhanaan, seperti homogenitas dan isotropi ruang. Salah satu versi yang paling sederhana, yang mencakup konstanta kosmologis (Lambda) serta materi gelap dingin, dikenal sebagai model Lambda-CDM, dan merupakan model yang paling berhasil menjelaskan berbagai pengamatan mengenai alam semesta.
Keadaan awal yang sangat panas dan padat ini disebut Era Planck (Planck epoch), berlangsung dari waktu nol hingga satu satuan waktu Planck, sekitar 10−43 detik. Pada masa ini, seluruh bentuk materi dan energi terkonsentrasi dalam keadaan amat rapat, dan gravitasi, yang kini merupakan yang terlemah di antara empat interaksi fundamental, diduga memiliki kekuatan yang setara dengan gaya-gaya fundamental lainnya, bahkan mungkin menyatu dalam satu gaya tunggal. Fisika yang mengatur masa amat awal ini (termasuk gravitasi kuantum pada Zaman Planck) masih belum dipahami sepenuhnya, sehingga kita tidak dapat memastikan, jika ada, apa yang terjadi sebelum waktu nol. Sejak Zaman Planck, perluasan alam semesta berlangsung hingga mencapai skala seperti saat ini, didahului oleh masa singkat tetapi sangat cepat yang dikenal sebagai inflasi kosmik, yang diduga terjadi dalam sekitar 10−32 detik pertama.[34] Masa inflasi inilah yang menjelaskan mengapa ruang tampak sangat datar hingga kini.
Dalam sebagian detik pertama setelah terciptanya alam semesta, keempat gaya fundamental mulai terpisah. Ketika alam semesta mendingin dari keadaan luar biasa panas itu, berbagai partikel elementer mulai berasosiasi membentuk struktur yang lebih besar dan stabil seperti proton dan neutron, yang selanjutnya bergabung menjadi inti atom melalui proses fusi nuklir.[35][36]
Proses ini, yang dikenal sebagai nukleosintesis Dentuman Besar (Big Bang nucleosynthesis), berlangsung sekitar 17 menit dan berakhir kira-kira 20 menit setelah Dentuman Besar. Karena waktu yang sangat singkat, hanya reaksi paling cepat dan sederhana yang terjadi. Sekitar 25% dari proton dan seluruh neutron di alam semesta, berdasarkan massa, berubah menjadi helium, bersama sejumlah kecil deuterium (bentuk hidrogen berisotop) dan jejak litium. Unsur kimia lain hanya terbentuk dalam jumlah yang sangat kecil. Sekitar 75% proton sisanya tetap sebagai inti hidrogen.[37][38]
Setelah nukleosintesis berakhir, alam semesta memasuki tahap yang dikenal sebagai era foton (photon epoch). Pada masa ini, suhu alam semesta masih terlalu tinggi bagi materi untuk membentuk atom netral, sehingga terbentuk plasma padat dan panas yang terdiri atas elektron bermuatan negatif, neutrino netral, dan inti positif. Sekitar 377.000 tahun kemudian, alam semesta cukup mendingin sehingga elektron dan inti dapat bersatu membentuk atom stabil pertama. Proses ini disebut rekombinasi, walau sesungguhnya penggabungan ini terjadi untuk pertama kalinya. Tidak seperti plasma, atom netral bersifat tembus cahaya terhadap banyak panjang gelombang, sehingga untuk pertama kalinya alam semesta menjadi transparan. Foton-foton yang "lepas" pada masa ini masih dapat diamati hingga kini sebagai radiasi latar gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background, CMB).[39]
Seiring pengembangan alam semesta, kepadatan energi radiasi elektromagnetik berkurang lebih cepat dibandingkan materi, karena energi setiap foton menurun akibat pergeseran merah kosmologis. Sekitar 47.000 tahun setelah Dentuman Besar, kepadatan energi materi menjadi lebih besar daripada foton dan neutrino, dan mulai mendominasi perilaku alam semesta dalam skala besar. Peristiwa ini menandai akhir dari era dominasi radiasi dan awal era dominasi materi.[40]
Pada tahap-tahap awal ini, fluktuasi kecil dalam kepadatan alam semesta menyebabkan terbentuknya filamen materi gelap. Materi biasa, tertarik oleh gravitasi ke daerah padat ini, membentuk awan gas besar yang akhirnya melahirkan bintang dan galaksi di wilayah paling padat, serta rongga-rongga besar di daerah paling jarang. Sekitar 100 hingga 300 juta tahun kemudian,[41] lahirlah bintang-bintang pertama, yang dikenal sebagai bintang Populasi III. Bintang-bintang ini kemungkinan sangat besar, terang, miskin logam, dan berumur pendek. Mereka berperan penting dalam pengionan kembali alam semesta antara sekitar 200 juta hingga 1 miliar tahun, serta menaburkan unsur-unsur lebih berat dari helium melalui nukleosintesis bintang.[42]
Alam semesta juga mengandung suatu bentuk energi misterius, kemungkinan berupa medan skalar, yang disebut energi gelap, dengan kepadatan yang tidak berubah terhadap waktu. Sekitar 9,8 miliar tahun setelah Dentuman Besar, alam semesta telah mengembang cukup jauh sehingga kepadatan materi menjadi lebih kecil dibanding kepadatan energi gelap, menandai awal era dominasi energi gelap yang kita alami kini.[43] Dalam era ini, pengembangan alam semesta berlangsung semakin cepat akibat pengaruh energi gelap.
Sifat fisik
Dari empat interaksi fundamental di alam semesta, gravitasi merupakan kekuatan yang paling dominan pada skala panjang astronomis. Efek gravitasi bersifat kumulatif; sedangkan efek muatan positif dan negatif cenderung saling meniadakan, sehingga elektromagnetisme menjadi relatif tidak signifikan pada skala kosmik. Dua interaksi lainnya, yakni gaya lemah dan gaya nuklir kuat, menurun sangat cepat terhadap jarak; pengaruh keduanya terbatas hampir seluruhnya pada skala panjang subatomik.[44]
Alam semesta tampak memiliki lebih banyak materi dibandingkan dengan antimateri, suatu asimetri yang kemungkinan berkaitan dengan fenomena pelanggaran CP.[45] Ketidakseimbangan antara materi dan antimateri inilah yang sebagian menjelaskan keberadaan seluruh materi yang ada saat ini. Sebab, apabila jumlah materi dan antimateri yang tercipta dalam Dentuman Besar sama banyaknya, keduanya akan saling melenyapkan dan meninggalkan hanya foton sebagai sisa dari interaksi tersebut.[46]
Ukuran dan wilayah
Karena kecepatan cahaya bersifat terbatas, ada suatu batas yang dikenal sebagai cakrawala partikel, yakni sejauh mana cahaya dapat menempuh jarak sepanjang usia alam semesta. Wilayah ruang dari mana kita dapat menerima cahaya disebut alam semesta teramati. Jarak sebenarnya (yang diukur pada waktu tertentu) antara Bumi dan tepi alam semesta teramati adalah sekitar 46 miliar tahun cahaya[47][48] (14 miliar parsec), sehingga diameter alam semesta teramati mencapai sekitar 93 miliar tahun cahaya (28 miliar parsec).[49] Meskipun jarak yang ditempuh cahaya dari tepi alam semesta teramati mendekati hasil perkalian usia alam semesta dengan kecepatan cahaya, yakni sekitar , jarak sebenarnya lebih besar karena tepi alam semesta teramati dan Bumi telah saling menjauh akibat pengembangan ruang.[50]
Sebagai perbandingan, diameter rata-rata sebuah galaksi adalah sekitar 30.000 tahun cahaya (9.198 parsec), dan jarak rata-rata antara dua galaksi terdekat adalah sekitar 3 juta tahun cahaya (919,8 kiloparsec).[51] Sebagai contoh, Bima Sakti memiliki diameter sekitar 87.400 tahun cahaya,[52] dan galaksi terdekat yang bersaudara dengannya, yaitu Galaksi Andromeda, terletak kira-kira 2,5 juta tahun cahaya dari Bumi.[53]
Karena manusia tidak dapat mengamati ruang di luar batas alam semesta teramati, sejauh ini tidak diketahui apakah keseluruhan alam semesta bersifat hingga atau tak hingga.[54][55][56] Sebuah perkiraan tahun 2011 menunjukkan bahwa jika prinsip kosmologi berlaku, maka keseluruhan alam semesta harus setidaknya 250 kali lebih besar dari sebuah bola Hubble.[57] Beberapa perkiraan lain, meski masih diperdebatkan, menyebutkan bahwa jika alam semesta memilki sifat berhingga, ukurannya bisa mencapai megaparsek, sebagaimana diimplikasikan oleh salah satu penyelesaian yang diusulkan terhadap Proposal Tanpa-Batas Hartle–Hawking.[58]
Usia dan perluasan
Dengan mengasumsikan bahwa model Lambda-CDM adalah benar, berbagai pengukuran terhadap parameternya melalui beragam teknik dan eksperimen menunjukkan bahwa usia terbaik alam semesta adalah sekitar 13,799 ± 0,021 miliar tahun, sebagaimana hasil perhitungan hingga tahun 2015.[59]
Seiring berjalannya waktu, alam semesta beserta isinya telah mengalami evolusi. Sebagai contoh, populasi relatif antara kuasar dan galaksi telah berubah,[60] dan perluasan alam semesta pun terus berlangsung. Perluasan ini disimpulkan dari pengamatan terhadap pergeseran merah pada cahaya galaksi-galaksi jauh, yang menunjukkan bahwa galaksi-galaksi tersebut sedang menjauh dari kita. Analisis terhadap supernova Tipe Ia memperlihatkan bahwa laju pengembangan tersebut justru mengalami percepatan.[61][62]
Semakin banyak materi yang terdapat di alam semesta, semakin kuat pula gaya gravitasi timbal balik antarunsurnya. Jika alam semesta memiliki kerapatan yang terlalu tinggi, maka ia akan runtuh kembali menjadi sebuah singularitas gravitasi. Namun, bila jumlah materinya terlalu sedikit, gravitasi internalnya tidak akan cukup kuat untuk membentuk struktur-struktur astronomis seperti galaksi atau planet. Sejak Dentuman Besar, alam semesta terus mengembang secara monoton. Mungkin tidak mengherankan, alam semesta kita memiliki kerapatan massa–energi yang tepat, setara dengan sekitar lima proton per meter kubik, cukup untuk memungkinkannya mengembang selama 13,8 miliar tahun terakhir, sehingga memberi waktu bagi pembentukan struktur kosmik seperti yang kita amati kini.[63][64]
Terdapat gaya-gaya dinamis yang bekerja pada partikel-partikel di alam semesta yang memengaruhi laju pengembangannya. Sebelum tahun 1998, para ilmuwan memperkirakan bahwa laju pengembangan alam semesta akan semakin menurun seiring waktu akibat pengaruh gravitasi; oleh karena itu, dikenal suatu besaran teramati tambahan dalam kosmologi yang disebut parameter perlambatan, yang diharapkan bernilai positif dan berhubungan dengan kerapatan materi alam semesta. Namun, pada tahun 1998, dua kelompok peneliti secara independen mengukur bahwa nilai parameter tersebut ternyata negatif, kira-kira −0,55. Hal ini secara teknis menunjukkan bahwa turunan kedua dari faktor skala kosmik Gagal mengurai (kesalahan sintaks): {\displaystyle \\ddot{a}} bernilai positif selama 5–6 miliar tahun terakhir.[65][66]
Ruang waktu
Fisika modern memandang peristiwa sebagai sesuatu yang tersusun dalam suatu kesatuan yang disebut ruang waktu.[67] Gagasan ini berasal dari teori relativitas khusus, yang memprediksi bahwa jika seorang pengamat melihat dua peristiwa terjadi di tempat berbeda pada waktu yang sama, maka pengamat kedua yang bergerak relatif terhadap pengamat pertama akan melihat kedua peristiwa tersebut terjadi pada waktu yang berbeda.[68] Kedua pengamat akan berbeda pendapat mengenai waktu di antara kedua peristiwa tersebut, dan juga mengenai jarak yang memisahkannya, tetapi mereka akan sepakat mengenai kecepatan cahaya dan akan mengukur nilai yang sama untuk kombinasi .[69] Akar kuadrat dari nilai mutlak besaran ini disebut interval antara dua peristiwa. Interval tersebut menggambarkan seberapa jauh dua peristiwa terpisah—bukan hanya dalam ruang atau waktu, melainkan dalam kesatuan ruang waktu.[70][71]
Teori relativitas khusus menggambarkan ruang waktu datar. Penerusnya, teori relativitas umum, menjelaskan gravitasi sebagai kelengkungan ruang waktu akibat kandungan energinya. Jalur melengkung seperti orbit bukanlah hasil dari gaya yang membelokkan benda dari lintasan lurus ideal, melainkan akibat upaya benda tersebut untuk jatuh bebas melalui ruang waktu yang telah melengkung karena keberadaan massa lain. Sebuah pernyataan terkenal dari John Archibald Wheeler merangkum teori ini: "Ruang waktu memberi tahu materi bagaimana bergerak; materi memberi tahu ruang waktu bagaimana melengkung",[72][73] sehingga tidak ada gunanya memandang salah satunya tanpa yang lain.[74] Hukum gravitasi universal Newton merupakan pendekatan yang baik terhadap prediksi relativitas umum ketika efek gravitasi lemah dan benda-benda bergerak lambat dibandingkan dengan kecepatan cahaya.[75][76]
Hubungan antara distribusi materi dan kelengkungan ruang waktu dijelaskan oleh persamaan medan Einstein, yang diekspresikan menggunakan kalkulus tensor.[77][78] Alam semesta tampak sebagai suatu kontinum ruang waktu yang halus, terdiri dari tiga dimensi ruang dan satu dimensi temporal (waktu). Oleh karena itu, suatu peristiwa dalam ruang waktu alam semesta fisik dapat diidentifikasi melalui empat koordinat: (x, y, z, t).
Bentuk
Kosmolog sering bekerja dengan irisan ruang-waktu yang bersifat serupa ruang (space-like), yaitu permukaan dengan waktu konstan dalam koordinat comoving. Geometri irisan ruang tersebut ditentukan oleh parameter kerapatan, Omega (Ω), yang didefinisikan sebagai rata-rata kerapatan materi alam semesta dibagi dengan nilai kritisnya. Nilai ini menentukan salah satu dari tiga kemungkinan geometri, tergantung pada apakah Ω sama dengan, kurang dari, atau lebih besar dari 1. Masing-masing disebut sebagai alam semesta datar, terbuka, dan tertutup.[79]
Pengamatan, termasuk dari Cosmic Background Explorer (COBE), Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP), dan peta CMB dari wahana antariksa Planck, menunjukkan bahwa alam semesta bersifat tak berhingga dalam luasnya tetapi memiliki usia berhingga, sebagaimana dijelaskan oleh model Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker (FLRW).[80][81][82][83] Model FLRW ini mendukung teori inflasi serta model standar kosmologi, yang menggambarkan alam semesta datar, homogen, dan saat ini didominasi oleh materi gelap dan energi gelap.[84][85]
Dukungan bagi kehidupan
Hipotesis alam semesta yang disetel dengan cermat (fine-tuned universe) merupakan gagasan bahwa kondisi yang memungkinkan keberadaan kehidupan yang dapat diamati di alam semesta hanya dapat terjadi apabila sejumlah konstanta fisika dasar universal berada dalam rentang nilai yang sangat sempit. Menurut hipotesis ini, seandainya beberapa konstanta fundamental tersebut sedikit saja berbeda, maka alam semesta kemungkinan besar tidak akan mendukung terbentuknya dan berkembangnya materi, struktur astronomi, keberagaman unsur, ataupun kehidupan sebagaimana yang kita kenal.
Apakah hal ini benar adanya, bahkan apakah pertanyaan tersebut secara logis bermakna untuk diajukan, masih menjadi bahan perdebatan yang hangat.[86]
Gagasan ini dibahas di kalangan filsuf, ilmuwan, teolog, serta para pendukung kreasionisme.[87]
Komposisi
Alam semesta tersusun hampir sepenuhnya dari energi gelap, materi gelap, dan materi biasa. Komponen lainnya meliputi radiasi elektromagnetik (diperkirakan menyumbang sekitar 0,005% hingga mendekati 0,01% dari total ekuivalensi massa–energi alam semesta) serta antimateri.[88][89][90]
Proporsi dari semua jenis materi dan energi telah berubah sepanjang sejarah alam semesta.[91] Jumlah total radiasi elektromagnetik yang dihasilkan di alam semesta telah menurun hingga setengahnya selama 2 miliar tahun terakhir.[92] Saat ini, materi biasa—yang mencakup atom, bintang, galaksi, dan kehidupan—hanya menyumbang sekitar 4,9% dari total isi alam semesta.[93] Kerapatan rata-rata jenis materi ini sangat rendah, kira-kira 4,5 × 10−31 gram per sentimeter kubik, yang setara dengan hanya satu proton untuk setiap empat meter kubik ruang.[94]
Sifat dari energi gelap dan materi gelap masih belum diketahui. Materi gelap, bentuk misterius dari materi yang belum teridentifikasi, menyumbang sekitar 26,8% dari isi kosmos. Energi gelap, yaitu energi dari ruang hampa yang menyebabkan percepatan perluasan alam semesta, menyumbang sekitar 68,3% sisanya.[95][96][97]
Materi, materi gelap, dan energi gelap terdistribusi secara homogen di seluruh alam semesta pada skala panjang lebih dari sekitar 300 juta tahun cahaya (ly).[98] Namun, pada skala yang lebih kecil, materi cenderung menggumpal secara hierarkis: banyak atom membentuk bintang, sebagian besar bintang bergabung dalam galaksi, sebagian besar galaksi bergabung menjadi gugus galaksi dan supergugus, lalu membentuk filamen galaksi berskala besar.
Alam semesta teramati diperkirakan mengandung sekitar 2 triliun galaksi[99][100][101] dan total hingga 1024 bintang,[102][103] lebih banyak bintang (dan planet mirip Bumi) daripada seluruh butiran pasir di Bumi;[104][105][106] tetapi jumlah ini masih jauh lebih sedikit dibanding perkiraan jumlah atom di alam semesta, yaitu sekitar 1082.[107] Jumlah bintang di alam semesta inflasioner (teramati dan tidak teramati) bahkan diperkirakan mencapai 10100.[108] Galaksi pada umumnya memiliki beragam ukuran, mulai dari galaksi katai yang hanya berisi sekitar sepuluh juta[109] (107) bintang, hingga galaksi raksasa yang mengandung sekitar satu triliun[110] (1012) bintang. Di antara struktur-struktur besar ini terdapat wilayah-wilayah kosong yang disebut kekosongan, yang umumnya berdiameter antara 10 hingga 150 Mpc (sekitar 33 juta–490 juta tahun cahaya).
Bima Sakti sendiri merupakan bagian dari Grup Lokal galaksi, yang pada gilirannya berada di dalam Supergugus Laniakea.[111] Supergugus ini membentang lebih dari 500 juta tahun cahaya, sedangkan Grup Lokal mencakup wilayah lebih dari 10 juta tahun cahaya.[112]
Alam semesta juga memiliki kawasan luas yang hampir sepenuhnya kosong; kekosongan terbesar yang pernah diketahui terbentang sejauh 1,8 miliar tahun cahaya (550 Mpc).[113]
Alam semesta teramati bersifat isotropik pada skala yang jauh lebih besar daripada supergugus, yang berarti sifat statistik alam semesta sama ke segala arah bila diamati dari Bumi. Alam semesta dipenuhi oleh radiasi mikrogelombang elektromagnetik yang sangat isotropik dan sesuai dengan spektrum benda hitam pada keseimbangan termal sekitar 2,72548 kelvin.[114] Hipotesis bahwa alam semesta berskala besar bersifat homogen dan isotropik dikenal sebagai prinsip kosmologi.[115] Alam semesta yang homogen dan isotropik tampak sama dari semua titik pandang dan tidak memiliki pusat.[116][117]
Energi gelap
Penjelasan mengenai alasan mengapa perluasan alam semesta semakin cepat masih belum diketahui secara pasti. Fenomena ini sering dikaitkan dengan pengaruh gravitasi dari "energi gelap", suatu bentuk energi tak dikenal yang diduga meresapi seluruh ruang.[118] Berdasarkan ekuivalensi massa–energi, kerapatan energi gelap (~ 7 × 10−30 g/cm3) jauh lebih kecil dibandingkan dengan kerapatan materi biasa atau materi gelap di dalam galaksi. Namun, pada masa dominasi energi gelap saat ini, energi gelap menjadi komponen utama massa–energi alam semesta karena penyebarannya yang seragam di seluruh ruang.[119][120]
Dua bentuk utama energi gelap yang diajukan adalah konstanta kosmologis, yaitu kepadatan energi yang konstan dan mengisi ruang secara homogen,[121] dan medan skalar seperti kuintessens atau moduli, yaitu besaran dinamis yang kerapatannya dapat berubah seiring waktu dan ruang, tetapi tetap cukup menyebar untuk menyebabkan laju perluasan alam semesta sebagaimana diamati. Kontribusi dari medan skalar yang konstan di ruang biasanya juga dianggap bagian dari konstanta kosmologis. Konstanta kosmologis ini dapat dirumuskan sebagai bentuk dari energi vakum.
Materi gelap
Materi gelap adalah jenis materi hipotetis yang tidak dapat dideteksi melalui seluruh spektrum elektromagnetik, tetapi diyakini menyusun sebagian besar materi di alam semesta. Keberadaan dan sifat-sifat materi gelap disimpulkan dari efek gravitasinya terhadap materi tampak, radiasi, serta struktur berskala besar alam semesta. Selain neutrino, yang merupakan bentuk dari materi gelap panas, materi gelap belum pernah terdeteksi secara langsung, menjadikannya salah satu misteri terbesar dalam astrofisika modern.
Materi gelap tidak memancarkan maupun menyerap cahaya atau bentuk radiasi elektromagnetik lainnya dalam tingkat yang berarti. Materi gelap diperkirakan menyumbang sekitar 26,8% dari total massa–energi alam semesta dan sekitar 84,5% dari total materi di alam semesta.[122][123]
Materi biasa
Sekitar 4,9% dari total massa–energi alam semesta terdiri atas materi biasa, yaitu atom, ion, elektron, serta objek-objek yang terbentuk darinya. Materi ini mencakup bintang-bintang, yang memancarkan hampir seluruh cahaya yang kita lihat dari galaksi, serta gas antarbintang dalam medium antarbintang dan medium antar galaksi, planet, dan semua benda kehidupan sehari-hari yang dapat kita sentuh, tekan, atau rasakan.[124] Sebagian besar materi biasa di alam semesta tidak terlihat, karena bintang-bintang tampak dan gas di dalam galaksi serta gugus galaksi hanya menyumbang kurang dari 10 persen dari total kontribusi materi biasa terhadap kerapatan massa–energi alam semesta.[125][126][127]
Materi biasa umumnya terdapat dalam empat keadaan (atau fase): padat, cair, gas, dan plasma.[128] Namun, kemajuan dalam teknik eksperimental telah mengungkap fase-fase baru yang sebelumnya bersifat teoretis, seperti kondensat Bose–Einstein dan kondensat fermionik.[129][130]
Materi biasa tersusun atas dua jenis partikel elementer: kuark dan lepton.[131] Misalnya, proton terbentuk dari dua kuark atas dan satu kuark bawah; neutron terdiri atas dua kuark bawah dan satu kuark atas; sedangkan elektron merupakan jenis lepton. Sebuah atom tersusun dari inti atom yang terdiri atas proton dan neutron (keduanya termasuk barion), serta elektron yang mengorbit di sekitarnya.[132]
Tak lama setelah Dentuman Besar, proton dan neutron primordial terbentuk dari plasma kuark–gluon alam semesta awal ketika suhunya turun di bawah dua triliun derajat. Beberapa menit kemudian, dalam proses yang dikenal sebagai nukleosintesis Dentuman Besar, inti atom terbentuk dari proton dan neutron primordial tersebut. Nukleosintesis ini menghasilkan unsur-unsur ringan, yaitu unsur dengan nomor atom kecil hingga litium dan berilium, sementara kelimpahan unsur yang lebih berat menurun drastis seiring peningkatan nomor atom. Sebagian kecil boron mungkin terbentuk pada masa ini, tetapi unsur berikutnya, karbon, belum terbentuk dalam jumlah yang signifikan. Nukleosintesis Dentuman Besar berhenti sekitar 20 menit kemudian karena penurunan cepat suhu dan kerapatan akibat perluasan alam semesta. Pembentukan unsur-unsur berat berikutnya terjadi melalui nukleosintesis bintang dan nukleosintesis supernova.[133]
Partikel
Materi biasa dan gaya-gaya yang bekerja padanya dapat dijelaskan dalam kerangka partikel elementer.[134] Partikel-partikel ini kerap disebut fundamental, karena struktur dalamannya belum diketahui, dan belum ada kepastian apakah mereka tersusun dari entitas yang lebih kecil dan lebih mendasar.[135][136] Dalam sebagian besar model modern, partikel-partikel tersebut dianggap sebagai titik-titik di dalam ruang.[137] Semua partikel elementer sejauh ini paling baik dijelaskan melalui mekanika kuantum, dan menampilkan sifat dualitas gelombang–partikel: perilaku mereka dapat menyerupai partikel maupun gelombang, dengan ciri tertentu yang mendominasi tergantung pada konteks pengamatan.[138]
Pusat dari pemahaman ini adalah Model Standar, sebuah teori yang memaparkan interaksi elektromagnetik, serta interaksi lemah dan kuat pada tingkat nuklir.[139] Model Standar didukung oleh bukti eksperimental mengenai keberadaan partikel-partikel penyusun materi, kuark dan lepton, beserta pasangan "antimateri"-nya, serta partikel-partikel pembawa gaya yang menengahi interaksi fundamental: foton, boson W dan Z, dan gluon.[140] Model Standar juga memprediksi keberadaan boson Higgs yang baru ditemukan, sebuah partikel yang merupakan perwujudan medan di alam semesta yang memberikan massa pada partikel-partikel lain.[141][142] Karena keberhasilannya menjelaskan beragam hasil percobaan, Model Standar sering dianggap sebagai "teori tentang hampir segala sesuatu".[143] Namun, Model Standar belum mencakup gravitasi, dan sejauh ini belum ada "teori segalanya" yang berhasil mempersatukan seluruh gaya dan partikel dalam satu kerangka tunggal.[144]
Hadron
Hadron adalah partikel majemuk yang tersusun dari kuark-kuark yang terikat bersama oleh gaya kuat. Hadrons terbagi menjadi dua keluarga besar: barion (seperti proton dan neutron) yang terdiri atas tiga kuark, serta meson (seperti pion) yang terdiri atas satu kuark dan satu antikuark. Dari semua jenis hadron, proton merupakan partikel yang stabil, sementara neutron yang terikat di dalam inti atom juga stabil. Hadron lainnya bersifat tidak stabil pada kondisi biasa dan karena itu tidak menjadi komponen signifikan dari alam semesta modern.[145]
Sekitar 10−6 detik setelah Dentuman Besar, pada suatu masa yang dikenal sebagai masa hadron, suhu alam semesta menurun cukup rendah sehingga kuark-kuark dapat bergabung membentuk hadron, dan massa alam semesta pada saat itu didominasi oleh hadron tersebut. Pada mulanya, suhu yang sangat tinggi memungkinkan pembentukan pasangan hadron–antihadron, yang menjaga keseimbangan termal antara materi dan antimateri. Namun, seiring pendinginan alam semesta, pasangan hadron–antihadron tak lagi dapat terbentuk. Sebagian besar hadron dan antihadron kemudian saling musnah dalam reaksi anihilasi partikel–antipartikel, menyisakan hanya sejumlah kecil hadron ketika alam semesta berumur sekitar satu detik.[146]
Lepton
Lepton adalah partikel elementer dengan putaran bilangan setengah yang tidak mengalami interaksi kuat, tetapi tunduk pada prinsip pengecualian Pauli, yakni dua lepton sejenis tidak dapat berada dalam keadaan yang sama pada waktu yang sama.[147] Terdapat dua golongan utama lepton: lepton bermuatan (sering disebut lepton mirip elektron), dan lepton netral yang lebih dikenal sebagai neutrino. Elektron adalah lepton bermuatan yang stabil dan paling melimpah di alam semesta, sedangkan muon dan tau merupakan partikel tidak stabil yang dengan cepat meluruh setelah terbentuk dalam tumbukan energi tinggi, seperti yang terjadi pada sinar kosmik atau di pemercepat partikel.[148][149] Lepton bermuatan dapat bergabung dengan partikel lain membentuk berbagai partikel majemuk seperti atom dan positronium. Elektron memegang peran utama dalam seluruh bidang kimia, karena keberadaannya di dalam atom secara langsung menentukan sifat-sifat kimia suatu unsur. Neutrino, di sisi lain, sangat jarang berinteraksi dengan materi, sehingga hampir tak terdeteksi. Neutrino mengalir melintasi alam semesta dalam jumlah besar, tetapi hampir tak pernah berinteraksi dengan materi biasa.[150]
Era lepton adalah suatu tahap dalam evolusi awal alam semesta ketika lepton mendominasi massa totalnya. Masa ini dimulai sekitar satu detik setelah Dentuman Besar, setelah sebagian besar hadron dan antihadron saling musnah pada akhir era hadron. Pada masa lepton, suhu alam semesta masih cukup tinggi untuk memungkinkan terciptanya pasangan lepton–antilepton, sehingga keduanya tetap berada dalam kesetimbangan termal. Sekitar sepuluh detik setelah Dentuman Besar, suhu alam semesta menurun hingga tidak lagi memungkinkan terbentuknya pasangan baru lepton–antilepton.[151] Sebagian besar lepton dan antilepton kemudian saling musnah melalui reaksi anihilasi, menyisakan sejumlah kecil lepton. Setelah itu, massa alam semesta didominasi oleh foton, menandai dimulainya era foton berikutnya.[152][153]
Foton
Foton adalah kuantum dari cahaya dan seluruh bentuk radiasi elektromagnetik. Ia merupakan pembawa gaya bagi gaya elektromagnetik. Dampak dari gaya ini dapat dengan mudah diamati baik pada skala mikroskopik maupun skala makroskopik, karena foton memiliki massa diam nol; sifat ini memungkinkan terjadinya interaksi fundamental jarak jauh.[154]
Era foton dimulai setelah sebagian besar lepton dan antilepton saling memusnahkan pada akhir era lepton, sekitar sepuluh detik setelah Dentuman Besar. Inti atom mulai terbentuk dalam proses nukleosintesis yang terjadi pada menit-menit pertama masa foton. Sepanjang sisa masa ini, alam semesta berisi plasma panas dan padat yang terdiri atas inti atom, elektron, dan foton. Sekitar 380.000 tahun setelah Dentuman Besar, suhu alam semesta turun hingga memungkinkan inti-inti atom bergabung dengan elektron membentuk atom-atom netral. Akibatnya, foton tidak lagi sering berinteraksi dengan materi dan alam semesta menjadi tembus cahaya. Foton-foton yang sangat bergeser merah dari masa ini kini membentuk radiasi latar gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background). Variasi kecil dalam suhu CMB mencerminkan perbedaan kerapatan di alam semesta awal, benih-benih pertama yang kelak melahirkan seluruh pembentukan struktur kosmik yang ada sekarang.[155]
Kelayakhunian
Frekuensi kemunculan kehidupan di alam semesta telah lama menjadi pokok penyelidikan dalam bidang astronomi dan astrobiologi. Pertanyaan ini dikaji melalui persamaan Drake dan beragam pandangan yang menyertainya, mulai dari pengenalan atas paradoks Fermi, yakni keadaan di mana belum ditemukan tanda-tanda keberadaan kehidupan luar bumi, hingga pada argumen yang mendukung gagasan kosmologi biofisik, yaitu pandangan bahwa kehidupan merupakan bagian yang melekat dalam kosmologi fisik alam semesta.[156]
Model kosmologis
Model alam semesta berdasarkan relativitas umum
Relativitas umum adalah teori geometrik tentang gravitasi yang dipublikasikan oleh Albert Einstein pada tahun 1915, dan merupakan penjelasan paling mutakhir mengenai gravitasi dalam fisika modern. Teori ini menjadi dasar bagi model-model kosmologi fisik alam semesta masa kini. Relativitas umum memperluas relativitas khusus dan hukum gravitasi universal Newton, dengan memberikan deskripsi terpadu tentang gravitasi sebagai sifat geometris dari ruang dan waktu, atau ruang waktu. Secara khusus, kelengkungan ruang waktu berhubungan langsung dengan energi dan momentum dari materi serta radiasi yang ada di dalamnya.[157]
Hubungan tersebut dijabarkan melalui persamaan medan Einstein, yaitu sistem persamaan diferensial parsial. Dalam relativitas umum, distribusi materi dan energi menentukan geometri ruang waktu, yang pada gilirannya menjelaskan percepatan dari materi itu sendiri. Karena itu, solusi dari persamaan medan Einstein menggambarkan evolusi alam semesta. Ketika dikombinasikan dengan hasil pengamatan terhadap jumlah, jenis, dan distribusi materi di alam semesta, persamaan-persamaan relativitas umum mampu menjelaskan bagaimana alam semesta berkembang seiring waktu.[158]
Dengan mengasumsikan prinsip kosmologi bahwa alam semesta bersifat homogen dan isotropik di setiap tempat, muncul solusi khusus dari persamaan medan yang menggambarkan alam semesta, yaitu tensor metrik yang dikenal sebagai metrik Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker:
- Gagal mengurai (kesalahan sintaks): {\displaystyle ds^2 = -c^{2} dt^2 + R(t)^2 \\left( \\frac{dr^2}{1-k r^2} + r^2 d\ heta^2 + r^2 \\sin^2 \ heta \\, d\\phi^2 \ ight) }
di mana (r, θ, φ) menunjukkan sistem koordinat bola. Metrik ini hanya memiliki dua parameter bebas. Yang pertama adalah faktor skala tak berdimensi R, yang menggambarkan ukuran alam semesta sebagai fungsi waktu (peningkatan R berarti pengembangan alam semesta),[159] dan yang kedua adalah indeks kelengkungan k yang menjelaskan bentuk geometri ruang tersebut. Nilai k hanya dapat berupa salah satu dari tiga kemungkinan: 0, yang mewakili geometri Euclid datar; 1, yang menggambarkan ruang dengan kelengkungan positif; atau −1, yang menunjukkan kelengkungan negatif.[160] Nilai R sebagai fungsi waktu t bergantung pada k serta konstanta kosmologis Λ.[161] Konstanta kosmologis ini merepresentasikan rapat energi dari kekosongan ruang dan dapat berkaitan dengan energi gelap.[162] Persamaan yang menggambarkan bagaimana R berubah terhadap waktu dikenal sebagai persamaan Friedmann, diambil dari nama penemunya, Alexander Friedmann.[163]
Solusi untuk R(t) bergantung pada nilai k dan Λ, tetapi beberapa ciri kualitatif dari solusi tersebut bersifat umum. Pertama dan terpenting, skala panjang R alam semesta hanya dapat tetap konstan jika dan hanya jika alam semesta benar-benar isotropik dengan kelengkungan positif (k = 1) serta memiliki kerapatan yang sama di seluruh ruang—hal ini pertama kali disadari oleh Albert Einstein.[164]
Kedua, seluruh solusi menunjukkan bahwa pada masa lampau pernah terjadi suatu singularitas gravitasi, ketika R menyusut menjadi nol dan materi serta energi mencapai kerapatan tak terhingga. Sekilas kesimpulan ini tampak meragukan karena didasarkan pada asumsi yang ideal, yakni homogenitas dan isotropi sempurna (prinsip kosmologis), dan mengabaikan interaksi lain selain gravitasi. Namun, teorema singularitas Penrose–Hawking menunjukkan bahwa singularitas semacam itu seharusnya muncul dalam kondisi yang sangat umum. Karena itu, berdasarkan persamaan medan Einstein, R tumbuh sangat cepat dari keadaan yang tak terbayangkan panas dan padat sesaat setelah singularitas tersebut (ketika R bernilai kecil tetapi terbatas); inilah inti dari model Dentuman Besar. Memahami singularitas asal Dentuman Besar kemungkinan memerlukan teori gravitasi kuantum, yang hingga kini belum dirumuskan.[165]
Ketiga, indeks kelengkungan k menentukan tanda dari kelengkungan permukaan ruang pada waktu konstan,[166] jika dirata-ratakan pada skala panjang yang sangat besar (lebih dari satu miliar tahun cahaya). Jika k = 1, maka kelengkungannya positif dan alam semesta memiliki volume terbatas.[167] Alam semesta dengan kelengkungan positif sering divisualisasikan sebagai bola tiga dimensi yang tertanam dalam ruang empat dimensi. Sebaliknya, jika k bernilai nol atau negatif, maka alam semesta memiliki volume tak terbatas.[168] Meskipun tampak berlawanan dengan intuisi bahwa alam semesta yang tak berhingga tetapi sangat rapat dapat muncul seketika saat R = 0, justru itulah yang diprediksi secara matematis ketika k tidak positif dan prinsip kosmologis terpenuhi. Sebagai analogi, bidang datar memiliki kelengkungan nol tetapi luas tak berhingga, sedangkan silinder tak berhingga bersifat terbatas dalam satu arah, dan torus terbatas dalam dua arah.
Nasib akhir alam semesta masih belum diketahui karena sangat bergantung pada nilai indeks kelengkungan k dan konstanta kosmologis Λ. Jika alam semesta cukup rapat, maka k akan bernilai +1, yang berarti kelengkungan rata-ratanya positif dan alam semesta pada akhirnya akan runtuh kembali dalam suatu Remukan Besar (Big Crunch),[169] yang mungkin diikuti oleh kelahiran alam semesta baru melalui Pantulan Besar (Big Bounce). Sebaliknya, jika kerapatan alam semesta tidak mencukupi, maka k akan bernilai 0 atau −1, dan alam semesta akan terus mengembang tanpa batas, mendingin, hingga mencapai Pembekuan Besar (Big Freeze) dan akhirnya mengalami kematian panas alam semesta.[170] Data pengamatan modern menunjukkan bahwa alam semesta kini mengembang semakin cepat; bila percepatan ini terus berlanjut dengan laju tertentu, alam semesta mungkin akan berakhir dalam peristiwa Robekan Besar (Big Rip). Secara observasional, alam semesta tampak datar (k = 0), dengan kerapatan total yang sangat dekat dengan nilai kritis antara keruntuhan kembali dan pengembangan abadi.[171]
Hipotesis multisemesta
Sejumlah teori spekulatif mengusulkan bahwa alam semesta kita hanyalah satu dari sekumpulan himpunan alam semesta yang terpisah satu sama lain, yang secara kolektif disebut multisemesta. Gagasan ini menantang sekaligus memperluas batasan definisi tradisional tentang alam semesta.[172][173] Max Tegmark mengembangkan suatu skema klasifikasi empat tingkat yang menjelaskan berbagai jenis multisemesta yang pernah diusulkan ilmuwan sebagai jawaban atas sejumlah persoalan mendalam dalam fisika. Salah satu contohnya adalah multisemesta yang dihasilkan dari model inflasi kacau pada masa awal alam semesta.[174]
Contoh lain ialah multisemesta yang muncul dari interpretasi banyak dunia dalam mekanika kuantum. Dalam kerangka ini, dunia-dunia paralel terbentuk melalui proses yang mirip dengan superposisi kuantum dan dekohesi, di mana seluruh kemungkinan keadaan dari fungsi gelombang terwujud di dunia yang berbeda-beda. Dengan demikian, dalam interpretasi banyak dunia, multisemesta berkembang sebagai suatu fungsi gelombang universal. Jika Dentuman Besar yang melahirkan multisemesta kita juga menciptakan himpunan multisemesta lain, maka fungsi gelombang dari seluruh himpunan itu akan saling terjerat secara kuantum.[175] Masih menjadi perdebatan panjang apakah konsep ini memungkinkan penurunan probabilitas yang bermakna secara ilmiah, dan terdapat pula berbagai versi dari interpretasi banyak dunia.[176][177][178] Topik tentang bagaimana seharusnya mekanika kuantum ditafsirkan sendiri merupakan wilayah yang sarat perbedaan pandangan.[179][180][181]
Kategori yang paling tidak kontroversial, meskipun tetap diperdebatkan, dalam klasifikasi Tegmark adalah multiverse Tingkat I. Multisemesta pada tingkat ini terdiri dari peristiwa ruang waktu yang sangat jauh tetapi masih termasuk "alam semesta kita" sendiri. Tegmark dan beberapa ilmuwan lain[182] berargumen bahwa jika ruang benar-benar tak berhingga, atau cukup besar dan seragam, maka sejarah lengkap volume Hubble Bumi akan berulang secara identik di tempat lain, murni karena kebetulan statistik. Tegmark menghitung bahwa "kembaran" terdekat kita berada sejauh 1010115 meter dari sini, jarak yang merupakan fungsi eksponensial ganda jauh lebih besar dari googolplex.[183][184] Meski demikian, argumen-argumen semacam ini masih bersifat sangat spekulatif.[185]
Kita juga dapat membayangkan adanya ruang waktu yang sepenuhnya terputus satu sama lain, masing-masing ada namun tak dapat berinteraksi sedikit pun.[186][187] Analogi yang mudah divisualisasikan untuk konsep ini adalah sekumpulan gelembung sabun yang terpisah, di mana para pengamat yang hidup pada satu gelembung tidak mungkin, bahkan secara teori, berinteraksi dengan mereka yang berada di gelembung lain.[188] Dalam terminologi yang umum digunakan, setiap "gelembung sabun" ruang waktu disebut sebagai sebuah alam semesta, sementara ruang waktu tempat manusia berada disebut alam semesta—sebagaimana kita menyebut satelit alami Bumi sebagai Bulan.[189] Keseluruhan kumpulan ruang waktu yang terpisah ini disebut multisemesta.[190]
Dalam pengertian ini, setiap alam semesta tidak memiliki hubungan kausal satu sama lain.[191] Secara teoretis, setiap alam semesta lain yang tak terhubung bisa saja memiliki dimensi dan topologi ruang waktu yang berbeda, bentuk materi dan energi yang berbeda, bahkan hukum fisika dan konstanta fisika yang tidak sama—meskipun kemungkinan-kemungkinan ini sepenuhnya bersifat spekulatif.[192] Beberapa ilmuwan juga menganggap bahwa gelembung-gelembung yang tercipta melalui proses inflasi kacau merupakan alam semesta tersendiri, meskipun dalam model ini semua alam semesta tersebut memiliki asal kausal yang sama.[193]
Penggambaran sejarah
Sepanjang sejarah, manusia telah melahirkan beragam gagasan tentang alam semesta (kosmologi) dan asal-usulnya (kosmogoni). Teori tentang alam semesta yang tidak dipersonifikasikan dan diatur oleh hukum-hukum fisika pertama kali dikemukakan oleh para pemikir Yunani dan India kuno.[194] Filsafat Tiongkok kuno juga mencakup gagasan tentang alam semesta yang mencakup keseluruhan ruang dan waktu.[195] Selama berabad-abad, kemajuan dalam pengamatan astronomi serta teori tentang gerak dan gravitasi telah menghasilkan deskripsi alam semesta yang semakin akurat. Era modern kosmologi dimulai dengan lahirnya teori relativitas umum Albert Einstein pada tahun 1915, yang memungkinkan perhitungan kuantitatif mengenai asal mula, evolusi, dan nasib akhir alam semesta secara keseluruhan. Sebagian besar teori kosmologi modern yang diterima kini berpijak pada relativitas umum, khususnya pada prediksi mengenai Dentuman Besar.[196]
Mitologi
Banyak kebudayaan di dunia memiliki kisah tentang asal-usul dunia dan alam semesta. Umumnya, kebudayaan-kebudayaan tersebut menganggap kisah-kisah ini mengandung suatu bentuk kebenaran. Namun, di antara mereka yang meyakini asal mula adikodrati, terdapat banyak perbedaan pandangan mengenai bagaimana kisah tersebut harus dipahami, mulai dari keyakinan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta secara langsung sebagaimana adanya sekarang, hingga gagasan bahwa Tuhan hanya "memutar roda awal" melalui mekanisme seperti Dentuman Besar dan evolusi.[197]
Dalam jenis kisah lainnya, alam semesta lahir dari penyatuan dewa dan dewi, seperti kisah Rangi dan Papa dalam mitologi Māori.
Ada pula kisah di mana alam semesta dibentuk dari bahan-bahan yang telah ada sebelumnya, misalnya dari jasad dewa yang telah mati, seperti Tiamat dalam epos Babilonia Enûma Elish atau raksasa Ymir dalam Mitologi Nordik, atau dari materi kacau, sebagaimana kisah Izanagi dan Izanami dalam Mitologi Jepang. Dalam tradisi lain, alam semesta dipandang sebagai pancaran dari prinsip-prinsip dasar seperti Brahman dan Prakrti, atau seperti dalam Mitos penciptaan Serer dari bangsa Serer.[198]
Model-model filsafat
Para filsuf Yunani pra-Sokratik dan filsuf India mengembangkan beberapa konsep filsafat paling awal tentang alam semesta.[199][200] Filsuf Yunani awal menyadari bahwa penampakan dapat menipu, dan mereka berusaha memahami realitas mendasar yang tersembunyi di balik penampakan itu. Secara khusus, mereka mencatat kemampuan materi untuk berubah bentuk (misalnya es menjadi air lalu uap), dan sejumlah filsuf mengusulkan bahwa seluruh materi fisik di dunia merupakan bentuk-bentuk berbeda dari satu zat asal tunggal, atau arche. Yang pertama mengemukakan hal ini adalah Thales, yang menganggap zat asal tersebut adalah air. Muridnya, Anaximander, berpendapat bahwa segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tak terbatas yang disebut apeiron. Anaximenes mengusulkan bahwa zat asal itu adalah udara, karena sifatnya yang dapat menarik dan menolak sehingga menyebabkan arche mengembun atau terurai menjadi bentuk-bentuk lain. Anaxagoras memperkenalkan asas Nous (Akal), sedangkan Herakleitos mengusulkan api dan berbicara tentang logos. Empedokles mengajukan empat unsur dasar: tanah, air, udara, dan api. Model empat unsur ini menjadi sangat berpengaruh. Seperti halnya Pythagoras, Plato percaya bahwa segala sesuatu tersusun atas angka, dengan unsur-unsur Empedokles mengambil bentuk padatan Platonik. Demokritos, dan kemudian filsuf lain seperti Leukippos, mengemukakan bahwa alam semesta tersusun dari atom yang tak terbagi, yang bergerak dalam kekosongan (vakum). Aristoteles menolak gagasan ini, sebab menurutnya udara, seperti air, memberikan hambatan terhadap gerak. Udara akan segera mengalir untuk mengisi kekosongan, dan tanpa hambatan, hal itu akan berlangsung tanpa batas kecepatan.[201]
Meskipun Herakleitos menegaskan bahwa perubahan adalah abadi,[202] sezamannya, Parmenides, menekankan ketakberubahan. Puisinya, On Nature, ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa segala perubahan hanyalah ilusi; bahwa realitas sejati yang mendasari alam semesta bersifat abadi, tak berubah, dan tunggal dalam hakikatnya — atau setidaknya bahwa inti dari segala sesuatu yang ada haruslah kekal, tanpa awal, perubahan, maupun akhir.[203] Muridnya, Zeno dari Elea, menantang gagasan umum tentang gerak melalui serangkaian paradoks terkenal. Aristoteles menanggapi paradoks-paradoks tersebut dengan mengembangkan gagasan tentang potensi ketakterhinggaan yang dapat dihitung, serta konsep kontinuum yang dapat dibagi tanpa batas.[204][205]
Panteisme adalah keyakinan filsafat sekaligus agama bahwa alam semesta itu sendiri identik dengan ketuhanan dan merupakan makhluk tertinggi atau entitas ilahi.[206] Dengan demikian, alam semesta fisik dipahami sebagai dewa yang imanen dan meliputi segala sesuatu.[207] Istilah 'panteis' merujuk pada seseorang yang meyakini bahwa segala sesuatu membentuk satu kesatuan, dan bahwa kesatuan itu bersifat ilahi—terwujud dalam sosok dewa atau dewi yang merangkum seluruh eksistensi.[208][209]
Konsep-konsep astronomi
Catatan tertulis paling awal yang dapat diidentifikasi sebagai cikal bakal astronomi modern berasal dari Mesir Kuno dan Mesopotamia, sekitar tahun 3000 hingga 1200 SM.[210][211] Para astronomi Babilonia pada abad ke-7 SM memandang dunia sebagai sebuah cakram datar yang dikelilingi oleh lautan.[212][213]
Para filsuf Yunani Kuno kemudian, dengan mengamati gerakan benda-benda langit, berupaya mengembangkan model alam semesta yang lebih berlandaskan bukti empiris. Model koheren pertama diajukan oleh Eudoxus dari Cnidus, seorang murid Plato yang mengikuti gagasan gurunya bahwa gerakan benda-benda langit haruslah melingkar. Untuk menjelaskan kerumitan gerak planet yang diketahui, terutama gerak retrograd, model Eudoxus menggunakan 27 bola langit: empat untuk setiap planet yang tampak oleh mata telanjang, tiga untuk Matahari dan Bulan, serta satu untuk bintang-bintang. Semua bola ini berpusat pada Bumi, yang dianggap tetap diam sementara bola-bola tersebut berputar selamanya. Aristoteles mengembangkan model ini lebih lanjut, menambah jumlah bola menjadi 55 untuk menjelaskan detail tambahan dari gerak planet. Bagi Aristoteles, materi biasa sepenuhnya berada di dalam lingkup bumi, dan tunduk pada hukum yang sangat berbeda dari materi langit.[214][215]
Risalah pasca-Aristoteles De Mundo (dengan penulis dan tanggal yang tidak pasti) menyatakan: "Lima unsur, tersusun dalam bola-bola pada lima wilayah, yang lebih kecil selalu dikelilingi oleh yang lebih besar, yakni bumi dikelilingi oleh air, air oleh udara, udara oleh api, dan api oleh eter, membentuk keseluruhan alam semesta."[216] Model ini kemudian disempurnakan oleh Callippus, dan setelah konsep bola konsentris ditinggalkan, model tersebut disesuaikan hampir sempurna dengan pengamatan astronomi oleh Ptolemaeus.[217] Keberhasilan model ini sebagian besar disebabkan oleh fakta matematis bahwa setiap fungsi (seperti posisi planet) dapat diuraikan menjadi sekumpulan fungsi melingkar, yaitu modus Fourier. Cendekiawan Yunani lainnya, seperti filsuf Pythagoreanisme Philolaus, menurut catatan Stobaeus, berpendapat bahwa di pusat alam semesta terdapat "api pusat", dan bahwa Bumi, Matahari, Bulan, dan planet berputar mengelilinginya dalam gerakan melingkar seragam.[218]
Astronom Yunani Aristarchus dari Samos adalah orang pertama yang diketahui mengemukakan model heliosentris alam semesta. Meskipun teks aslinya telah hilang, sebuah rujukan dalam karya Archimedes berjudul The Sand Reckoner menggambarkan model heliosentris Aristarchus. Archimedes menulis:
"Engkau, Raja Gelon, tentu mengetahui bahwa alam semesta adalah nama yang diberikan oleh kebanyakan astronom untuk bola yang pusatnya bertepatan dengan pusat Bumi, sedangkan jari-jarinya sama dengan garis lurus yang menghubungkan pusat Matahari dan pusat Bumi. Itulah pandangan umum sebagaimana engkau mendengarnya dari para astronom. Namun Aristarchus telah menerbitkan sebuah buku yang memuat sejumlah hipotesis, di mana tampak bahwa alam semesta jauh lebih besar daripada yang baru saja disebutkan. Hipotesisnya adalah bahwa bintang-bintang tetap dan Matahari tidak bergerak; bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari di sepanjang lingkaran dengan Matahari di tengah orbitnya; dan bahwa bola bintang-bintang tetap, yang berpusat sama dengan Matahari, begitu luas sehingga lingkaran yang menjadi jalur orbit Bumi hanya menempati proporsi sekecil jarak antara pusat bola dengan permukaannya."[219]
Aristarchus berpendapat bahwa bintang-bintang terletak pada jarak yang sangat jauh, dan inilah sebabnya mengapa paralaks bintang tidak pernah teramati, yakni bintang-bintang tidak tampak bergeser posisinya satu sama lain ketika Bumi bergerak mengelilingi Matahari. Pada kenyataannya, jarak bintang-bintang memang jauh melampaui perkiraan umum pada zaman kuno, sehingga paralaks bintang hanya dapat terdeteksi dengan instrumen yang sangat presisi. Model geosentris, yang konsisten dengan konsep paralaks planet, pada masa itu dianggap sebagai penjelasan bagi tidak teramatinya paralaks bintang.[220]
Satu-satunya astronom lain dari zaman kuno yang diketahui mendukung model heliosentris Aristarchus adalah Seleucus dari Seleukia, seorang astronom Helenistik yang hidup sekitar satu abad setelah Aristarchus.[221][222][223] Menurut Plutarch, Seleucus adalah orang pertama yang membuktikan sistem heliosentris melalui penalaran, meskipun argumen yang digunakannya tidak diketahui. Kemungkinan besar, pembuktiannya terkait dengan fenomena pasang surut.[224] Menurut Strabo (1.1.9), Seleucus adalah orang pertama yang menyatakan bahwa pasang surut disebabkan oleh gaya tarik Bulan, dan bahwa tinggi rendahnya pasang bergantung pada posisi Bulan terhadap Matahari.[225] Sebagai alternatif, mungkin ia membuktikan heliosentrisme dengan menentukan konstanta dari model geometris untuk sistem tersebut, serta mengembangkan metode untuk menghitung posisi planet berdasarkan model itu—pendekatan yang kelak menyerupai metode Nicolaus Copernicus pada abad ke-16.[226] Pada Abad Pertengahan, model heliosentris juga diajukan oleh para astronom Persia seperti Albumasar[227] dan Al-Sijzi.[228]
Model Aristoteles diterima di Dunia Barat selama kurang lebih dua milenium, hingga Nicolaus Copernicus menghidupkan kembali pandangan Aristarchus bahwa data astronomi dapat dijelaskan dengan lebih masuk akal bila Bumi dianggap berputar pada porosnya dan Matahari ditempatkan di pusat alam semesta.[229]
Pandangan kosmologis ini kemudian diterima oleh Isaac Newton, Christiaan Huygens, dan para ilmuwan sesudahnya.[230] Newton menunjukkan bahwa hukum-hukum gerak dan gravitasi yang sama berlaku baik bagi benda di Bumi maupun bagi benda langit, sehingga menjadikan pembagian Aristoteles antara keduanya usang. Edmund Halley (1720)[231] dan Jean-Philippe de Chéseaux (1744)[232] secara terpisah mencatat bahwa jika ruang semesta diasumsikan tak berhingga dan dipenuhi bintang secara merata, maka langit malam seharusnya secerah Matahari sendiri; hal ini kelak dikenal sebagai Paradoks Olbers pada abad ke-19.[233] Newton menegaskan bahwa ruang tak berhingga yang dipenuhi materi secara seragam akan menimbulkan gaya tak terhingga dan ketidakstabilan yang akan menyebabkan seluruh materi runtuh ke dalam akibat gravitasinya sendiri.[234] Ketidakstabilan ini kemudian dijelaskan secara matematis pada tahun 1902 melalui kriteria ketidakstabilan Jeans.[235] Salah satu solusi yang diajukan terhadap paradoks-paradoks ini adalah alam semesta Charlier, di mana materi tersusun secara hierarkis, sistem benda-benda yang saling mengorbit dan pada gilirannya mengorbit dalam sistem yang lebih besar, ad infinitum, dalam pola fraktal sehingga kerapatan keseluruhannya sangat kecil. Model kosmologis serupa sebenarnya telah diajukan lebih awal, pada tahun 1761, oleh Johann Heinrich Lambert.[236][237]
Astronomi ruang angkasa dalam
Pada abad ke-18, Immanuel Kant berspekulasi bahwa nebula mungkin merupakan seluruh galaksi yang terpisah dari Bima Sakti.[238] Pada tahun 1850, Alexander von Humboldt menyebut galaksi-galaksi terpisah itu sebagai Weltinseln, atau "pulau dunia", istilah yang kemudian berkembang menjadi "alam semesta pulau" (island universes).[239][240]
Pada tahun 1919, ketika Teleskop Hooker selesai dibangun, pandangan umum kala itu menyatakan bahwa alam semesta hanya terdiri atas Galaksi Bima Sakti. Dengan menggunakan teleskop tersebut, Edwin Hubble berhasil mengidentifikasi bintang variabel Cepheid di beberapa nebula spiral, dan pada tahun 1922–1923 ia membuktikan secara meyakinkan bahwa Nebula Andromeda dan Nebula Triangulum, di antara yang lainnya, merupakan galaksi-galaksi utuh di luar galaksi kita sendiri. Penemuan ini menjadi bukti bahwa alam semesta tersusun atas banyak galaksi.[241]
Berdasarkan temuan tersebut, Hubble merumuskan konstanta Hubble, yang untuk pertama kalinya memungkinkan perhitungan usia alam semesta serta ukuran alam semesta teramati. Seiring dengan kemajuan pengukuran, nilai-nilai ini menjadi semakin akurat, mulanya hanya sekitar 2 miliar tahun dan 280 juta tahun cahaya, hingga pada tahun 2006, data dari Teleskop Luar Angkasa Hubble memungkinkan estimasi usia dan ukuran alam semesta yang sangat presisi.[242]
Era modern kosmologi fisik dimulai pada tahun 1917, ketika Albert Einstein untuk pertama kalinya menerapkan teori relativitas umum dalam memodelkan struktur dan dinamika alam semesta.[243] Penemuan-penemuan besar dari masa ini, beserta pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab, dijabarkan dalam bagian-bagian sebelumnya.
Lihat pula
- Kronologi alam semesta
- Kalender kosmik
- Latte kosmik
- Kosmos
- Garis waktu logaritmik terperinci
- Lokasi Bumi di alam semesta
- Kosmologi esotrik
- Vakum palsu
- Masa depan alam semesta yang mengembang
- Kematian panas alam semesta
- Sejarah Pusat Alam Semesta
- Proyek Illustris
- Multisemesta (Hipersemesta, Megasemesta atau Omnisemesta)
- Kosmologi non-standar
- Hipotesis Bumi Langka
- Kosmologi agama
- Ruang dan kelangsungan hidup
- Garis waktu peristiwa jauh di masa depan
- Garis waktu pembentukan alam semesta
- Garis waktu dalam waktu dekat
- Asal vakum
- Alam semesta tanpa energi
Pranala luar
- NASA/IPAC Extragalactic Database (NED) / (NED-Distances).
- There are about 1082 atoms in the observable universe – LiveScience, July 2021.
- This is why we will never know everything about our universe – Forbes, May 2019.
Referensi
- ↑ Michael Zeilik. Introductory Astronomy & Astrophysics. Saunders College. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ Planck Collaboration. Planck 2018 results: VI. Cosmological parameters. Astronomy & Astrophysics. September 2020. Vol. 641. hlm. A6. doi:10.1051/0004-6361/201833910.
- ↑ Brian Greene. The Hidden Reality. Alfred A. Knopf. 2011.
- ↑ Yvonne Dold-Samplonius. From China to Paris: 2000 Years Transmission of Mathematical Ideas. Franz Steiner Verlag. 2002.
- ↑ Thomas F. Glick. Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-96930-7.
- ↑ Bradley W. Carroll. An Introduction to Modern Astrophysics. Pearson. 2013. hlm. 1173–1174. ISBN 978-1-292-02293-2.
- ↑ Stephen Hawking. A Brief History of Time. Bantam. 1988. hlm. 43. ISBN 978-0-553-05340-1.
- ↑ Nola Redd. What is Dark Matter?. Space.com.
- ↑ Planck 2015 results, table 9.
- ↑ Planck 2015 results, table 9.
- ↑ Massimo Persic. The baryon content of the Universe. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. September 1, 1992. Vol. 258 (1). hlm. 14P–18P. doi:10.1093/mnras/258.1.14P.
- ↑ Brian Greene. The Hidden Reality. Alfred A. Knopf. 2011.
- ↑ George F. R. Ellis. Multiverses and physical cosmology. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.
- ↑ 'Multiverse' theory suggested by microwave background. BBC News. August 3, 2011.
- ↑ Michael Zeilik. Introductory Astronomy & Astrophysics. Saunders College. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ Universe. 2012.
- ↑ Universe. Merriam-Webster Dictionary.
- ↑ Universe. Dictionary.com.
- ↑ Duco A. Schreuder. Vision and Visual Perception. Archway Publishing. 2014. hlm. 135. ISBN 978-1-4808-1294-9.
- ↑ Duco A. Schreuder. Vision and Visual Perception. Archway Publishing. 2014. hlm. 135. ISBN 978-1-4808-1294-9.
- ↑ Jim Holt. Why Does the World Exist?. Liveright Publishing. 2012. hlm. 308.
- ↑ Timothy Ferris. The Whole Shebang: A State-of-the-Universe(s) Report. Simon & Schuster. 1997. hlm. 400.
- ↑ Paul Copan. Creation Out of Nothing: A Biblical, Philosophical, and Scientific Exploration. Baker Academic. 2004. hlm. 220. ISBN 978-0-8010-2733-8.
- ↑ Alexander Bolonkin. Universe, Human Immortality and Future Human Evaluation. Elsevier. 2011. hlm. 3–. ISBN 978-0-12-415801-6.
- ↑ Jones Russell. Loan-Words In Indonesian And Malay. Yayasan Obor Indonesia. 2008. ISBN 978-602-433-174-0.
- ↑ Monier Monier-Williams. A Sanskrit–English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages. Motilal Banarsidass Publishing House. 1899.
- ↑ Liddell. A Greek-English Lexicon. lsj.gr.
- ↑ Liddell. A Greek-English Lexicon. lsj.gr.
- ↑ Liddell. A Greek–English Lexicon. lsj.gr.
- ↑ Lewis, C.T. A Latin Dictionary. Clarendon Press (aslinya diterbitkan oleh Oxford University Press). 1966. hlm. 1175, 1189–1190, 1881–1882. ISBN 978-0-19-864201-5.
- ↑ The Compact Edition of the Oxford English Dictionary. Oxford University Press. 1971. Vol. II. hlm. 569, 909, 1900, 3821–3822. ISBN 978-0-19-861117-2.
- ↑ Joseph Silk. Horizons of Cosmology. Templeton Pressr. 2009. hlm. 208.
- ↑ Simon Singh. Big Bang: The Origin of the Universe. Harper Perennial. 2005. hlm. 560.
- ↑ Sivaram. Evolution of the Universe through the Planck epoch. Astrophysics and Space Science. 1986. Vol. 125 (1). hlm. 189–199. doi:10.1007/BF00643984.
- ↑ Jennifer A. Johnson. Populating the periodic table: Nucleosynthesis of the elements. Science. February 2019. Vol. 363 (6426). hlm. 474–478. doi:10.1126/science.aau9540.
- ↑ Ruth Durrer. The Cosmic Microwave Background. Cambridge University Press. 2008. ISBN 978-0-521-84704-9.
- ↑ Jennifer A. Johnson. Populating the periodic table: Nucleosynthesis of the elements. Science. February 2019. Vol. 363 (6426). hlm. 474–478. doi:10.1126/science.aau9540.
- ↑ Ruth Durrer. The Cosmic Microwave Background. Cambridge University Press. 2008. ISBN 978-0-521-84704-9.
- ↑ Ruth Durrer. The Cosmic Microwave Background. Cambridge University Press. 2008. ISBN 978-0-521-84704-9.
- ↑ Andrew M. Steane. Relativity Made Relatively Easy, Volume 2: General Relativity and Cosmology. Oxford University Press. 2021. ISBN 978-0-192-89564-6.
- ↑ Andrew M. Steane. Relativity Made Relatively Easy, Volume 2: General Relativity and Cosmology. Oxford University Press. 2021. ISBN 978-0-192-89564-6.
- ↑ Richard B. Larson. The First Stars in the Universe. Scientific American. March 2002.
- ↑ Ryden, Barbara, "Introduction to Cosmology", 2006, eqn. 6.33
- ↑ Paul Peter Urone. College Physics 2e. OpenStax. 2022. ISBN 978-1-951-69360-2.
- ↑ Antimatter. Dewan Riset Fisika Partikel dan Astronomi. 28 Oktober 2003.
- ↑ Smorra C. A parts-per-billion measurement of the antiproton magnetic moment. Nature. 20 Oktober 2017. Vol. 550 (7676). hlm. 371–374. doi:10.1038/nature24048.
- ↑ Itzhak Bars. Extra Dimensions in Space and Time. Springer. 2018. hlm. 27–. ISBN 978-0-387-77637-8.
- ↑ Leah Crane. How big is the universe, really?. New Scientist. 29 Juni 2024. hlm. 31.
- ↑ Itzhak Bars. Extra Dimensions in Space and Time. Springer. 2018. hlm. 27–. ISBN 978-0-387-77637-8.
- ↑ Christopher Crockett. What is a light-year?. EarthSky. 20 Februari 2013.
- ↑ .
- ↑ S. P. Goodwin. The relative size of the Milky Way. The Observatory. Agustus 1998. Vol. 118. hlm. 201–208.
- ↑ Ribas. First Determination of the Distance and Fundamental Properties of an Eclipsing Binary in the Andromeda Galaxy. Astrophysical Journal. 2005. Vol. 635 (1). hlm. L37–L40. doi:10.1086/499161. McConnachie, A.W. Distances and metallicities for 17 Local Group galaxies. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2005. Vol. 356 (4). hlm. 979–997. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.08514.x.
- ↑ Brian Greene. The Hidden Reality. Alfred A. Knopf. 2011.
- ↑ Vanessa Janek. How can space travel faster than the speed of light?. Universe Today. 20 Februari 2015.
- ↑ Is faster-than-light travel or communication possible? Section: Expansion of the Universe. Philip Gibbs. 1997.
- ↑ M. Vardanyan. Applications of Bayesian model averaging to the curvature and size of the Universe. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters. 28 Januari 2011. Vol. 413 (1). hlm. L91–L95. doi:10.1111/j.1745-3933.2011.01040.x.
- ↑ Don N. Page. Susskind's Challenge to the Hartle-Hawking No-Boundary Proposal and Possible Resolutions. Journal of Cosmology and Astroparticle Physics. 2007. Vol. 2007 (1). hlm. 004. doi:10.1088/1475-7516/2007/01/004.
- ↑ Planck Collaboration. Planck 2015 results. XIII. Cosmological parameters. Astronomy & Astrophysics. 2016. Vol. 594. hlm. A13, Table 4. doi:10.1051/0004-6361/201525830.
- ↑ Phil Berardelli. Galaxy Collisions Give Birth to Quasars. Science News. 25 Maret 2010.
- ↑ Riess, Adam G. Observational evidence from supernovae for an accelerating universe and a cosmological constant. Astronomical Journal. 1998. Vol. 116 (3). hlm. 1009–1038. doi:10.1086/300499.
- ↑ Perlmutter, S. Measurements of Omega and Lambda from 42 high redshift supernovae. Astrophysical Journal. 1999. Vol. 517 (2). hlm. 565–586. doi:10.1086/307221.
- ↑ Raymond A. Serway. Modern Physics. Cengage Learning. 2004. hlm. 21. ISBN 978-1-111-79437-8.
- ↑ Andrew Fraknoi. Astronomy 2e. OpenStax. 2022. hlm. 1017. ISBN 978-1-951-69350-3.
- ↑ The Nobel Prize in Physics 2011.
- ↑ Dennis Overbye. A 'Cosmic Jerk' That Reversed the Universe. New York Times. 11 Oktober 2003.
- ↑ Schutz, Bernard. A First Course in General Relativity. Cambridge University Press. 2009. hlm. 142, 171. ISBN 978-0-521-88705-2.
- ↑ N. David Mermin. It's About Time: Understanding Einstein's Relativity. Princeton University Press. 2021. ISBN 978-0-691-12201-4.
- ↑ N. David Mermin. It's About Time: Understanding Einstein's Relativity. Princeton University Press. 2021. ISBN 978-0-691-12201-4.
- ↑ N. David Mermin. It's About Time: Understanding Einstein's Relativity. Princeton University Press. 2021. ISBN 978-0-691-12201-4.
- ↑ Dieter Brill. Spacetime and Euclidean geometry. General Relativity and Gravitation. 2006. Vol. 38 (4). hlm. 643–651. doi:10.1007/s10714-006-0254-9.
- ↑ John Archibald Wheeler. Geons, Black Holes, and Quantum Foam: A Life in Physics. W. W. Norton & Company. 2010. ISBN 978-0-393-07948-7.
- ↑ Magdalena Kersting. Free fall in curved spacetime – how to visualise gravity in general relativity. Physics Education. Mei 2019. Vol. 54 (3). hlm. 035008. doi:10.1088/1361-6552/ab08f5.
- ↑ Stephen Hawking. A Brief History of Time. Bantam. 1988. hlm. 43. ISBN 978-0-553-05340-1.
- ↑ Herbert Goldstein. Classical Mechanics. Addison Wesley. 2002. ISBN 0-201-31611-0.
- ↑ Judith R. Goodstein. Einstein's Italian Mathematicians: Ricci, Levi-Civita, and the Birth of General Relativity. American Mathematical Society. 2018. hlm. 143. ISBN 978-1-4704-2846-4.
- ↑ Yvonne Choquet-Bruhat. General Relativity and the Einstein Equations. Oxford University Press. 2009. ISBN 978-0-19-155226-7.
- ↑ Chanda Prescod-Weinstein. The Disordered Cosmos: A Journey into Dark Matter, Spacetime, and Dreams Deferred. Bold Type Books. 2021. ISBN 978-1-5417-2470-9.
- ↑ What is the Ultimate Fate of the Universe?. National Aeronautics and Space Administration.
- ↑ WMAP – Shape of the Universe. map.gsfc.nasa.gov.
- ↑ Jean-Pierre Luminet. Dodecahedral space topology as an explanation for weak wide-angle temperature correlations in the cosmic microwave background. Nature. 9 Oktober 2003. Vol. 425 (6958). hlm. 593–595. doi:10.1038/nature01944.
- ↑ Boudewijn Roukema. A test of the Poincare dodecahedral space topology hypothesis with the WMAP CMB data. Astronomy and Astrophysics. 2008. Vol. 482 (3). hlm. 747–753. doi:10.1051/0004-6361:20078777.
- ↑ Ralf Aurich. Hyperbolic Universes with a Horned Topology and the CMB Anisotropy. Classical and Quantum Gravity. 2004. Vol. 21 (21). hlm. 4901–4926. doi:10.1088/0264-9381/21/21/010.
- ↑ Planck Collaboration. Planck 2013 results. XVI. Cosmological parameters. Astronomy & Astrophysics. 2014. Vol. 571. hlm. A16. doi:10.1051/0004-6361/201321591.
- ↑ Planck reveals 'almost perfect' universe. Michael Banks. Physics World. 21 Maret 2013.
- ↑ Simon Friederich. Fine-Tuning. The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Center for the Study of Language and Information (CSLI), Stanford University. 12 November 2021.
- ↑ CI301: The Anthropic Principle. Index to Creationist Claims. TalkOrigins Archive. 2005.
- ↑ Hellmut Fritzsche. electromagnetic radiation physics. hlm. 1.
- ↑ Physics 7: Relativity, Ruang Waktu dan Kosmologi. University of California Riverside.
- ↑ Physics – for the 21st Century. learner.org. Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics Annenberg Learner.
- ↑ Dark matter – A history shapes by dark force. Timothy Ferris. National Geographic. 2015.
- ↑ Nola Taylor Redd, SPACE.com. It's Official: The Universe Is Dying Slowly. Scientific American.
- ↑ First Planck results: the universe is still weird and interesting. Matthew Francis. Ars technica. 21 Maret 2013.
- ↑ NASA/WMAP Science Team. Universe 101: What is the Universe Made Of?. NASA. January 24, 2014.
- ↑ First Planck results: the universe is still weird and interesting. Matthew Francis. Ars technica. 21 Maret 2013.
- ↑ Sean Carroll, Ph.D., Caltech, 2007, The Teaching Company, Dark Matter, Dark Energy: The Dark Side of the Universe, Guidebook Part 2. p. 46, Diakses 7 Oktober 2013, "...materi gelap: komponen materi tak terlihat yang pada dasarnya tidak berinteraksi, membentuk sekitar 25 persen dari kerapatan energi alam semesta... merupakan jenis partikel yang berbeda... sesuatu yang belum teramati di laboratorium..."
- ↑ Peebles. The cosmological constant and dark energy. Reviews of Modern Physics. 2003. Vol. 75 (2). hlm. 559–606. doi:10.1103/RevModPhys.75.559.
- ↑ N. Mandolesi. Large-scale homogeneity of the universe measured by the microwave background. Nature. 1986. Vol. 319 (6056). hlm. 751–753. doi:10.1038/319751a0.
- ↑ Alistair Gunn. How many galaxies are there in the universe? – Do astronomers know how many galaxies exist? How many can we see in the observable Universe?. BBC Sky at Night. November 29, 2023.
- ↑ New Horizons spacecraft answers the question: How dark is space?. phys.org.
- ↑ Elizabeth Howell. How Many Galaxies Are There?. Space.com. March 20, 2018.
- ↑ Staff. How Many Stars Are There In The Universe?. European Space Agency. 2019.
- ↑ Mikhail Ya. Marov. The Fundamentals of Modern Astrophysics. 2015. hlm. 279–294. doi:10.1007/978-1-4614-8730-2_10. ISBN 978-1-4614-8729-6.
- ↑ Glen Mackie. To see the Universe in a Grain of Taranaki Sand. Centre for Astrophysics and Supercomputing. February 1, 2002.
- ↑ Eric Mack. There may be more Earth-like planets than grains of sand on all our beaches – New research contends that the Milky Way alone is flush with billions of potentially habitable planets – and that's just one sliver of the universe. CNET. March 19, 2015.
- ↑ T. T. Bovaird. Using the inclinations of Kepler systems to prioritize new Titius–Bode-based exoplanet predictions. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. March 13, 2015. Vol. 448 (4). hlm. 3608–3627. doi:10.1093/mnras/stv221.
- ↑ Harry Baker. How many atoms are in the observable universe?. Live Science. July 11, 2021.
- ↑ Tomonori Totani. Emergence of life in an inflationary universe. Scientific Reports. February 3, 2020. Vol. 10. doi:10.1038/s41598-020-58060-0.
- ↑ Mengungkap Rahasia Sebuah Galaksi Katai di Virgo. European Southern Observatory Press Release. ESO. 3 Mei 2000. hlm. 12.
- ↑ Potret Galaksi Terbesar dari Hubble Menawarkan Pandangan Berdefinisi Tinggi Baru. NASA. 28 Februari 2006.
- ↑ Elizabeth Gibney. Alamat Baru Bumi: 'Tata Surya, Bima Sakti, Laniakea'. Nature. 3 September 2014. doi:10.1038/nature.2014.15819.
- ↑ Grup Lokal. Fraser Cain. Universe Today. 4 Mei 2009.
- ↑ Hannah Devlin. Astronom Menemukan Struktur Terbesar yang Diketahui di Alam Semesta Adalah ... Sebuah Lubang Besar. The Guardian. 20 April 2015.
- ↑ D. J. Fixsen. The Temperature of the Cosmic Microwave Background. The Astrophysical Journal. 2009. Vol. 707 (2). hlm. 916–20. doi:10.1088/0004-637X/707/2/916.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Andrew Liddle. An Introduction to Modern Cosmology. John Wiley & Sons. 2003. ISBN 978-0-470-84835-7.. p. 2.
- ↑ Mario Livio. The Accelerating Universe: Infinite Expansion, the Cosmological Constant, and the Beauty of the Cosmos. John Wiley and Sons. 2001. hlm. 53. ISBN 978-0-471-43714-7.
- ↑ Peebles, P.J.E. The cosmological constant and dark energy. Reviews of Modern Physics. 2003. Vol. 75 (2). hlm. 559–606. doi:10.1103/RevModPhys.75.559.
- ↑ Paul J. Steinhardt. Why the cosmological constant is small and positive. Science. 2006. Vol. 312 (5777). hlm. 1180–1183. doi:10.1126/science.1126231.
- ↑ Dark Energy. Hyperphysics.
- ↑ Carroll, Sean. The cosmological constant. Living Reviews in Relativity. 2001. Vol. 4 (1). doi:10.12942/lrr-2001-1.
- ↑ Sean Carroll, Ph.D., Caltech, 2007, The Teaching Company, Dark Matter, Dark Energy: The Dark Side of the Universe, Guidebook Part 2. p. 46, Diakses 7 Oktober 2013, "...materi gelap: komponen materi tak terlihat yang pada dasarnya tidak berinteraksi, membentuk sekitar 25 persen dari kerapatan energi alam semesta... merupakan jenis partikel yang berbeda... sesuatu yang belum teramati di laboratorium..."
- ↑ Planck captures portrait of the young universe, revealing earliest light. University of Cambridge. 21 Maret 2013.
- ↑ Davies. The New Physics: A Synthesis. Cambridge University Press. 1992. hlm. 1. ISBN 978-0-521-43831-5.
- ↑ Massimo Persic. The baryon content of the universe. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 1 September 1992. Vol. 258 (1). hlm. 14P–18P. doi:10.1093/mnras/258.1.14P.
- ↑ J. Michael Shull. The Baryon Census in a Multiphase Intergalactic Medium: 30% of the Baryons May Still Be Missing. The Astrophysical Journal. 1 November 2012. Vol. 759 (1). hlm. 23. doi:10.1088/0004-637X/759/1/23.
- ↑ J.-P. Macquart. A census of baryons in the Universe from localized fast radio bursts. Nature. 28 Mei 2020. Vol. 581 (7809). hlm. 391–395. doi:10.1038/s41586-020-2300-2.
- ↑ Paul Flowers. Chemistry 2e. OpenStax. 2019. hlm. 14. ISBN 978-1-947-17262-3.
- ↑ The Nobel Prize in Physics 2001. NobelPrize.org.
- ↑ Claude Cohen-Tannoudji. Advances In Atomic Physics: An Overview. World Scientific. 2011. hlm. 684. ISBN 978-981-4390-58-3.
- ↑ 't Hooft. In search of the ultimate building blocks. Cambridge University Press. 1997. hlm. 6. ISBN 978-0-521-57883-7.
- ↑ Paul Peter Urone. College Physics 2e. OpenStax. 2022. ISBN 978-1-951-69360-2.
- ↑ Donald D. Clayton. Principles of Stellar Evolution and Nucleosynthesis. The University of Chicago Press. 1983. hlm. 362–435. ISBN 978-0-226-10953-4.
- ↑ Veltman, Martinus. Facts and Mysteries in Elementary Particle Physics. World Scientific. 2003. ISBN 978-981-238-149-1.
- ↑ Sylvie Braibant. Particles and Fundamental Interactions: An Introduction to Particle Physics. Springer. 2012. hlm. 1–3. ISBN 978-94-007-2463-1.
- ↑ Particle Physics: A Very Short Introduction. Oxford University Press. 2012. ISBN 978-0-19-280434-1.
- ↑ Adam Mann. What Are Elementary Particles?. Live Science. August 20, 2022.
- ↑ Barton Zwiebach. Mastering Quantum Mechanics: Essentials, Theory, and Applications. MIT Press. 2022. hlm. 31. ISBN 978-0-262-04613-8.
- ↑ Oerter. The Theory of Almost Everything: The Standard Model, the Unsung Triumph of Modern Physics. Penguin Group. 2006. hlm. 2. ISBN 978-0-13-236678-6.
- ↑ Sylvie Braibant. Particles and Fundamental Interactions: An Introduction to Particle Physics. Springer. 2012. hlm. 1–3. ISBN 978-94-007-2463-1.
- ↑ P. Onyisi. Higgs boson FAQ. University of Texas ATLAS group. October 23, 2012.
- ↑ M. Strassler. The Higgs FAQ 2.0. ProfMattStrassler.com. October 12, 2012.
- ↑ Oerter. The Theory of Almost Everything: The Standard Model, the Unsung Triumph of Modern Physics. Penguin Group. 2006. hlm. 2. ISBN 978-0-13-236678-6.
- ↑ Steven Weinberg. Dreams of a Final Theory: The Scientist's Search for the Ultimate Laws of Nature. Knopf Doubleday Publishing Group. 2011. ISBN 978-0-307-78786-6.
- ↑ Jonathan Allday. Quarks, Leptons and the Big Bang. IOP Publishing. 2002. ISBN 978-0-7503-0806-9.
- ↑ Jonathan Allday. Quarks, Leptons and the Big Bang. IOP Publishing. 2002. ISBN 978-0-7503-0806-9.
- ↑ Lepton (physics).
- ↑ H. Harari. Weak and Electromagnetic Interactions at High Energy, Les Houches, France, Jul 5 – Aug 14, 1976. North-Holland. 1977. Vol. 29. hlm. 613.
- ↑ Harari H. Three generations of quarks and leptons. 1977. hlm. 170.
- ↑ Experiment confirms famous physics model. MIT News Office. April 18, 2007.
- ↑ Thermal history of the universe and early growth of density fluctuations. Guinevere Kauffmann. Max Planck Institute for Astrophysics.
- ↑ First few minutes. Eric Chaisson. Harvard Smithsonian Center for Astrophysics.
- ↑ Timeline of the Big Bang. The physics of the Universe.
- ↑ Paul Peter Urone. College Physics 2e. OpenStax. 2022. ISBN 978-1-951-69360-2.
- ↑ Jonathan Allday. Quarks, Leptons and the Big Bang. IOP Publishing. 2002. ISBN 978-0-7503-0806-9.
- ↑ Steven J. Dick. Space, Time, and Aliens. Springer International Publishing. 2020. hlm. 53–58. doi:10.1007/978-3-030-41614-0_4. ISBN 978-3-030-41613-3.
- ↑ Michael Zeilik. Introductory Astronomy & Astrophysics. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ Michael Zeilik. Introductory Astronomy & Astrophysics. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Michael Zeilik. Introductory Astronomy & Astrophysics. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ Peebles. The cosmological constant and dark energy. Reviews of Modern Physics. 2003. Vol. 75 (2). hlm. 559–606. doi:10.1103/RevModPhys.75.559.
- ↑ Friedmann. Über die Krümmung des Raumes. Zeitschrift für Physik. 1922. Vol. 10 (1). hlm. 377–386. doi:10.1007/BF01332580.
- ↑ Michael Zeilik. Introductory Astronomy & Astrophysics. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Michael Zeilik. Introductory Astronomy & Astrophysics. Saunders College Publishing. 1998. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ George F. R. Ellis. Multiverses and physical cosmology. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.
- ↑ Munitz. One Universe or Many?. Journal of the History of Ideas. 1959. Vol. 12 (2). hlm. 231–255. doi:10.2307/2707516.
- ↑ Linde. Eternal chaotic inflation. Mod. Phys. Lett. A. 1986. Vol. 1 (2). hlm. 81–85. doi:10.1142/S0217732386000129. Linde. Eternally existing self-reproducing chaotic inflationary Universe. Phys. Lett. B. 1986. Vol. 175 (4). hlm. 395–400. doi:10.1016/0370-2693(86)90611-8.
- ↑ Hugh Everett. Relative State Formulation of Quantum Mechanics. Reviews of Modern Physics. 1957. Vol. 29 (3). hlm. 454–462. doi:10.1103/RevModPhys.29.454.
- ↑ Philip Ball. Too many worlds. Aeon.co. February 17, 2015.
- ↑ Asher Peres. Quantum Theory: Concepts and Methods. Kluwer Academic Publishers. 1995. hlm. 374. ISBN 0-7923-2549-4.
- ↑ Adrian Kent. Does it Make Sense to Speak of Self-Locating Uncertainty in the Universal Wave Function? Remarks on Sebens and Carroll. Foundations of Physics. February 2015. Vol. 45 (2). hlm. 211–217. doi:10.1007/s10701-014-9862-5.
- ↑ Maximilian Schlosshauer. A snapshot of foundational attitudes toward quantum mechanics. Studies in History and Philosophy of Science Part B: Studies in History and Philosophy of Modern Physics. August 1, 2013. Vol. 44 (3). hlm. 222–230. doi:10.1016/j.shpsb.2013.04.004.
- ↑ N. David Mermin. Commentary: Quantum mechanics: Fixing the shifty split. Physics Today. July 1, 2012. Vol. 65 (7). hlm. 8–10. doi:10.1063/PT.3.1618.
- ↑ Adán Cabello. What is Quantum Information?. Cambridge University Press. 2017. hlm. 138–143. doi:10.1017/9781316494233.009. ISBN 978-1-107-14211-4.
- ↑ Jaume Garriga. Many Worlds in One. Physical Review D. 2007. Vol. 64 (4). doi:10.1103/PhysRevD.64.043511.
- ↑ Tegmark. Parallel universes. Not just a staple of science fiction, other universes are a direct implication of cosmological observations. Scientific American. 2003. Vol. 288 (5). hlm. 40–51. doi:10.1038/scientificamerican0503-40.
- ↑ Tegmark, Max. Parallel Universes. Scientific American. 2003. Vol. 288 (5). hlm. 40–51. doi:10.1038/scientificamerican0503-40.
- ↑ Francisco José Soler Gil. About the Infinite Repetition of Histories in Space. Theoria: An International Journal for Theory, History and Foundations of Science. 2013. Vol. 29 (3). hlm. 361. doi:10.1387/theoria.9951.
- ↑ Tegmark. Parallel universes. Not just a staple of science fiction, other universes are a direct implication of cosmological observations. Scientific American. 2003. Vol. 288 (5). hlm. 40–51. doi:10.1038/scientificamerican0503-40.
- ↑ Ellis. Does the Multiverse Really Exist?. Scientific American. 2011. Vol. 305 (2). hlm. 38–43. doi:10.1038/scientificamerican0811-38.
- ↑ Clara Moskowitz. Weird! Our Universe May Be a 'Multiverse,' Scientists Say. livescience. August 12, 2011.
- ↑ George F. R. Ellis. Multiverses and physical cosmology. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.
- ↑ George F. R. Ellis. Multiverses and physical cosmology. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.
- ↑ George F. R. Ellis. Multiverses and physical cosmology. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.
- ↑ George F. R. Ellis. Multiverses and physical cosmology. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.
- ↑ George F. R. Ellis. Multiverses and physical cosmology. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 2004. Vol. 347 (3). hlm. 921–936. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x.
- ↑ Thomas F. Glick. Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-96930-7.
- ↑ J. Gernet. Space and time: Science and religion in the encounter between China and Europe. Chinese Science. 1993–1994. Vol. 11. hlm. 93–102.
- ↑ Blandford R. D. A century of general relativity: Astrophysics and cosmology. Science. 2015. Vol. 347 (6226). hlm. 1103–1108. doi:10.1126/science.aaa4033.
- ↑ David A. Leeming. Creation Myths of the World. ABC-CLIO. 2010. hlm. xvii. ISBN 978-1-59884-174-9.
- ↑ (Henry Gravrand, "La civilisation Sereer -Pangool") [in] Universität Frankfurt am Main, Frobenius-Institut, Deutsche Gesellschaft für Kulturmorphologie, Frobenius Gesellschaft, "Paideuma: Mitteilungen zur Kulturkunde, Volumes 43–44", F. Steiner (1997), pp. 144–145,
- ↑ Thomas F. Glick. Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-96930-7.
- ↑ Louise B. Young. The Unfinished Universe. Oxford University Press. 1993. hlm. 21. ISBN 978-0-195-08039-1.
- ↑ Thomas F. Glick. Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-96930-7.
- ↑ Daniel W. Graham. Heraclitus. September 3, 2019.
- ↑ John Palmer. Parmenides. October 19, 2020.
- ↑ John Palmer. Zeno of Elea. April 8, 2021.
- ↑ Bradley Dowden. Zeno's Paradoxes.
- ↑ Judy Pearsall. The New Oxford Dictionary Of English. Clarendon Press. 1998. hlm. 1341. ISBN 978-0-19-861263-6.
- ↑ Paul Edwards. Encyclopedia of Philosophy. Macmillan. 1967. hlm. 34.
- ↑ Encyclopedia of Philosophy ed. Paul Edwards. Macmillan and Free Press. 1967. hlm. 34.
- ↑ Paul Reid-Bowen. Goddess as Nature: Towards a Philosophical Thealogy. Taylor & Francis. April 15, 2016. hlm. 70. ISBN 978-1-317-12634-8.
- ↑ David C. Lindberg. The Beginnings of Western Science: The European Scientific Tradition in Philosophical, Religious, and Institutional Context. University of Chicago Press. 2007. hlm. 12. ISBN 978-0-226-48205-7.
- ↑ Edward Grant. A History of Natural Philosophy: From the Ancient World to the Nineteenth Century. Cambridge University Press. 2007. hlm. 1–26. ISBN 978-0-521-68957-1.
- ↑ Wayne Horowitz. The Babylonian Map of the World. Iraq. 1988. Vol. 50. hlm. 147–165. doi:10.2307/4200289.
- ↑ Othmar Keel. The Symbolism of the Biblical World. Eisenbrauns. 1997. hlm. 20–22. ISBN 978-1-575-06014-9.
- ↑ Larry Wright. The astronomy of Eudoxus: Geometry or physics?. Studies in History and Philosophy of Science. Agustus 1973. Vol. 4 (2). hlm. 165–172. doi:10.1016/0039-3681(73)90002-2.
- ↑ Renato Dicati. The Ancients' Astronomy. Stamping Through Astronomy. Springer Milan. 2013. hlm. 19–55. doi:10.1007/978-88-470-2829-6_2. ISBN 978-88-470-2828-9.
- ↑ Aristotle. De Mundo. The Clarendon Press. 1914. hlm. 2.
- ↑ Bernard R. Goldstein. Saving the phenomena: the background to Ptolemy's planetary theory. Journal for the History of Astronomy. 1997. Vol. 28 (1). hlm. 1–12. doi:10.1177/002182869702800101.
- ↑ Boyer, C. (1968) A History of Mathematics. Wiley, hlm. 54.
- ↑ Thomas Heath. Aristarchus of Samos, the Ancient Copernicus: A History of Greek Astronomy to Aristarchus, Together with Aristarchus's Treatise on the Sizes and Distances of the Sun and Moon. Cambridge University Press. 2013. hlm. 302. ISBN 978-1-108-06233-6.
- ↑ James J. Kolkata. Elementary Cosmology: From Aristotle's Universe to the Big Bang and Beyond. IOP Publishing. 2015. doi:10.1088/978-1-6817-4100-0ch4. ISBN 978-1-68174-100-0.
- ↑ Neugebauer, Otto E. The History of Ancient Astronomy Problems and Methods. Journal of Near Eastern Studies. 1945. Vol. 4 (1). hlm. 166–173. doi:10.1086/370729.
- ↑ Sarton. Chaldaean Astronomy of the Last Three Centuries B. C. Journal of the American Oriental Society. 1955. Vol. 75 (3). hlm. 166–173 [169]. doi:10.2307/595168.
- ↑ William P. D. Wightman (1951, 1953), The Growth of Scientific Ideas, Yale University Press, hlm. 38, di mana Wightman menyebutnya Seleukos dari Kaldea.
- ↑ Lucio Russo, Flussi e riflussi, Feltrinelli, Milano, Italia, 2003, .
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Seyyed H. Nasr. An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines. edisi pertama oleh Harvard University Press, edisi kedua oleh State University of New York Press. 1993. hlm. 135–136. ISBN 978-0-7914-1515-3.
- ↑ Steven C. Frautschi. The Mechanical Universe: Mechanics and Heat. Cambridge University Press. 2007. hlm. 58. ISBN 978-0-521-71590-4.
- ↑ Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 755–756.
- ↑ Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 756.
- ↑ de Cheseaux JPL. Traité de la Comète. Lausanne. 1744. hlm. 223ff.. Diterbitkan ulang sebagai Lampiran II dalam Dickson. The Bowl of Night: The Physical Universe and Scientific Thought. M.I.T. Press. 1969. ISBN 978-0-262-54003-2.
- ↑ Olbers HWM. Unknown title. Bode's Jahrbuch. 1826. Vol. 111.. Diterbitkan ulang sebagai Lampiran I dalam Dickson. The Bowl of Night: The Physical Universe and Scientific Thought. M.I.T. Press. 1969. ISBN 978-0-262-54003-2.
- ↑ Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 755–756.
- ↑ J. H. Jeans. The Stability of a Spherical Nebula. Philosophical Transactions of the Royal Society A. 1902. Vol. 199 (312–320). hlm. 1–53. doi:10.1098/rsta.1902.0012.
- ↑ .
- ↑ Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 757.
- ↑ Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 756.
- ↑ Kenneth Glyn Jones. The Observational Basis for Kant's Cosmogony: A Critical Analysis. Journal for the History of Astronomy. February 1971. Vol. 2 (1). hlm. 29–34. doi:10.1177/002182867100200104.
- ↑ Robert W. Smith. Beyond the Galaxy: The Development of Extragalactic Astronomy 1885–1965, Part 1. Journal for the History of Astronomy. February 2008. Vol. 39 (1). hlm. 91–119. doi:10.1177/002182860803900106.
- ↑ Aleksandr Sergeevich Sharov. Edwin Hubble, the discoverer of the big bang universe. Cambridge University Press. 1993. hlm. 34. ISBN 978-0-521-41617-7.
- ↑ Cosmic Times. Imagine the Universe!. December 8, 2017.
- ↑ Albert Einstein. Kosmologische Betrachtungen zur allgemeinen Relativitätstheorie. Preussische Akademie der Wissenschaften, Sitzungsberichte. 1917. Vol. (part 1). hlm. 142–152.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29560550 (2026-08-11T13:09:04Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.