Waktu
Waktu adalah perkembangan keberadaan yang berkelanjutan yang terjadi dalam urutan yang tampaknya ireversibel dari masa lalu, melalui masa kini, dan menuju masa depan.[1][2][3] Waktu menentukan segala bentuk tindakan, usia, dan kausalitas, menjadi besaran komponen dari berbagai pengukuran yang digunakan untuk mengurutkan peristiwa, untuk membandingkan durasi peristiwa (atau interval di antara keduanya), dan untuk mengkuantifikasi laju perubahan besaran dalam realitas material atau dalam pengalaman sadar.[4][5][6][7] Waktu sering disebut sebagai dimensi keempat, bersama dengan tiga dimensi spasial.[8]
Waktu terutama diukur dalam rentang atau periode linier, diurutkan dari yang terpendek hingga terpanjang. Pengukuran waktu praktis pada skala manusia dilakukan dengan menggunakan jam dan kalender, yang mencerminkan hari 24 jam yang dikumpulkan menjadi tahun 365 hari yang terikat dengan gerakan astronomi Bumi. Sebaliknya, pengukuran waktu ilmiah bervariasi mulai dari waktu Planck pada skala terpendek hingga miliaran tahun pada skala terpanjang. Waktu yang dapat diukur diyakini secara efektif dimulai bersamaan dengan terjadinya Ledakan Dahsyat 13,8 miliar tahun lalu, yang tercakup dalam kronologi alam semesta. Fisika modern memahami bahwa waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang dalam konsep ruang waktu yang dijelaskan oleh teori relativitas umum.[9] Oleh karena itu, waktu dapat mengalami dilatasi oleh kecepatan dan materi sehingga berlalu lebih cepat atau lebih lambat bagi pengamat eksternal, meskipun efek ini dianggap dapat diabaikan di luar kondisi ekstrem, yaitu pada kecepatan relativistik atau tarikan gravitasi lubang hitam.
Sepanjang sejarah, waktu telah menjadi subjek kajian penting dalam agama, filsafat, dan sains. Pengukuran temporal telah menyibukkan para ilmuwan dan teknolog, serta menjadi konsep utama dalam bidang navigasi dan astronomi. Waktu juga memiliki kepentingan sosial yang signifikan, dengan memiliki nilai ekonomi ("waktu adalah uang") serta nilai personal, yang didasari oleh kesadaran akan terbatasnya waktu di setiap hari ("carpe diem") dan dalam rentang hidup manusia.
Definisi
Konsep waktu bisa menjadi hal yang kompleks. Terdapat berbagai macam gagasan, dan pendefinisian waktu dengan cara yang dapat diterapkan pada semua bidang tanpa adanya sirkularitas secara konsisten terus luput dari para cendekiawan.[10][11][12] Meskipun demikian, berbagai bidang seperti bisnis, industri, olahraga, sains, dan seni pertunjukan, semuanya memasukkan semacam gagasan tentang waktu ke dalam sistem pengukuran mereka masing-masing.[13][14][15] Definisi tradisional mengenai waktu melibatkan pengamatan terhadap gerak periodik, seperti gerak semu matahari melintasi langit, fase-fase bulan, dan ayunan pendulum yang berayun bebas. Sistem yang lebih modern meliputi Sistem Pemosisi Global, sistem satelit lainnya, Waktu Universal Terkoordinasi, dan waktu surya rata-rata. Meskipun sistem-sistem ini berbeda satu sama lain, dengan pengukuran yang cermat, semuanya dapat disinkronkan.
Dalam bidang fisika, waktu adalah konsep fundamental untuk mendefinisikan besaran-besaran lainnya, seperti kecepatan. Untuk menghindari definisi yang melingkar,[16] waktu dalam fisika didefinisikan secara operasional sebagai "apa yang dibaca oleh sebuah jam", khususnya berupa hitungan peristiwa yang berulang seperti detik SI.[17][18][19] Meskipun hal ini membantu dalam pengukuran praktis, hal ini tidak menjawab esensi dari waktu itu sendiri. Para fisikawan mengembangkan konsep kontinum ruang waktu, di mana setiap peristiwa ditetapkan dengan empat koordinat: tiga untuk ruang dan satu untuk waktu. Peristiwa-peristiwa seperti tabrakan partikel, supernova, atau peluncuran roket memiliki koordinat yang dapat bervariasi bagi pengamat yang berbeda, sehingga membuat konsep seperti "sekarang" dan "di sini" bersifat relatif. Dalam relativitas umum, koordinat-koordinat ini tidak secara langsung berkorespondensi dengan struktur kausal dari peristiwa tersebut. Sebaliknya, interval ruang waktu dihitung dan diklasifikasikan sebagai bak-ruang (space-like) atau bak-waktu (time-like), bergantung pada apakah ada pengamat yang akan mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut dipisahkan oleh ruang atau oleh waktu.[20] Karena waktu yang dibutuhkan cahaya untuk menempuh jarak tertentu adalah sama bagi semua pengamat—sebuah fakta yang pertama kali didemonstrasikan secara publik melalui eksperimen Michelson-Morley—semua pengamat akan secara konsisten menyepakati definisi waktu sebagai sebuah relasi kausal.[21]
Relativitas umum tidak membahas sifat dasar waktu pada interval yang sangat kecil di mana mekanika kuantum berlaku. Dalam mekanika kuantum, waktu diperlakukan sebagai parameter yang universal dan absolut, berbeda dengan gagasan relativitas umum mengenai jam yang independen. Masalah waktu terdiri dari upaya untuk merekonsiliasi kedua teori ini.[22] Hingga tahun 2025, belum ada teori relativitas umum kuantum yang diterima secara luas.[23]
Pengukuran
Metode pengukuran waktu, atau kronometri, umumnya mengambil dua bentuk. Bentuk pertama adalah kalender, sebuah alat matematis untuk mengatur interval waktu di Bumi,[24] yang dirujuk untuk periode yang lebih lama dari satu hari. Bentuk kedua adalah jam, sebuah mekanisme fisik yang menunjukkan berlalunya waktu, yang dirujuk untuk periode kurang dari satu hari. Kombinasi pengukuran ini menandai momen spesifik dalam waktu dari sebuah titik referensi, atau epos.
Waktu adalah satu dari tujuh besaran fisik fundamental baik dalam Sistem Satuan Internasional (SI) maupun Sistem Besaran Internasional. Satuan waktu pokok SI adalah detik, yang didefinisikan dengan mengukur frekuensi transisi elektronik dari atom-atom sesium.
Sejarah kalender
Berbagai artefak dari zaman Paleolitikum menunjukkan bahwa bulan telah digunakan untuk memperhitungkan waktu setidaknya sejak 6.000 tahun yang lalu.[25] Kalender lunar adalah salah satu yang pertama kali muncul, dengan panjang satu tahun terdiri dari 12 atau 13 bulan lunar (berkisar antara 354 atau 384 hari). Tanpa adanya interkalasi untuk menambahkan hari atau bulan pada tahun-tahun tertentu, musim akan bergeser dengan cepat dalam kalender yang semata-mata didasarkan pada dua belas bulan lunar. Kalender lunisolar memiliki bulan ketigabelas yang ditambahkan pada tahun-tahun tertentu untuk menutupi selisih antara satu tahun penuh (sekarang diketahui sekitar 365,24 hari) dan tahun yang hanya terdiri dari dua belas bulan lunar. Angka dua belas dan tiga belas kemudian menjadi sangat menonjol di banyak kebudayaan, setidaknya sebagian dikarenakan oleh hubungan antara bulan dan tahun ini.
Bentuk kalender awal lainnya berasal dari Mesoamerika, khususnya dalam peradaban Maya kuno, di mana mereka mengembangkan kalender Maya, yang terdiri dari berbagai kalender yang saling berhubungan. Kalender-kalender ini didasarkan pada agama dan astronomi; kalender Haab' memiliki 18 bulan dalam setahun dan 20 hari dalam sebulan, ditambah lima hari epagomenal di akhir tahun.[26] Bersamaan dengan itu, suku Maya juga menggunakan kalender suci 260 hari yang disebut Tzolk'in.[27]
Reformasi Julius Caesar pada tahun 45 SM menempatkan dunia Romawi pada sebuah kalender surya. Kalender Julian ini memiliki kelemahan karena interkalasinya masih memungkinkan titik balik matahari dan ekuinoks astronomis untuk mendahuluinya sekitar 11 menit per tahun. Paus Gregorius XIII memperkenalkan koreksi pada tahun 1582; kalender Gregorian hanya diadopsi secara perlahan oleh berbagai negara selama berabad-abad, tetapi kini kalender tersebut menjadi kalender yang sejauh ini paling umum digunakan di seluruh dunia.
Selama Revolusi Prancis, jam dan kalender baru diciptakan sebagai bagian dari dekristenisasi Prancis dan untuk menciptakan sistem yang lebih rasional guna menggantikan kalender Gregorian. Hari-hari dalam Kalender Republik Prancis terdiri dari sepuluh jam, dengan seratus menit per jam, dan seratus detik per menit, yang menandai penyimpangan dari sistem basis 12 (duodesimal) yang digunakan dalam banyak perangkat lain oleh berbagai kebudayaan. Sistem tersebut dihapuskan pada tahun 1806.[28]
Sejarah perangkat lainnya
Berbagai macam perangkat telah diciptakan untuk mengukur waktu. Ilmu yang mempelajari perangkat-perangkat ini disebut horologi.[29] Perangkat-perangkat tersebut dapat digerakkan oleh berbagai cara, termasuk gravitasi, pegas, dan berbagai bentuk tenaga listrik, serta diatur dengan bermacam cara.
Jam matahari adalah perangkat apa pun yang menggunakan arah sinar matahari untuk memproyeksikan bayangan dari sebuah gnomon ke atas serangkaian tanda yang dikalibrasi untuk menunjukkan waktu setempat, biasanya dalam satuan jam. Gagasan untuk membagi hari menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dikreditkan kepada bangsa Mesir karena jam matahari mereka, yang beroperasi pada sistem duodesimal. Pentingnya angka 12 dikarenakan oleh jumlah siklus bulan dalam setahun dan jumlah bintang yang digunakan untuk menghitung berlalunya malam.[30] Obelisk yang dibuat sebagai gnomon dibangun sejak sekitar .[31] Sebuah perangkat Mesir yang berasal dari sekitar , dengan bentuk yang mirip dengan penggaris T yang bengkok, juga mengukur berlalunya waktu dari bayangan yang diproyeksikan oleh palang silangnya pada penggaris nonlinier. Huruf T tersebut dihadapkan ke arah timur pada pagi hari. Pada siang hari, perangkat tersebut diputar sehingga dapat memproyeksikan bayangannya ke arah petang.[32]
Jam weker dilaporkan pertama kali muncul di Yunani kuno melalui jam air buatan Plato yang dapat membunyikan peluit.[33] Alarm hidrolik tersebut bekerja dengan cara mengisi serangkaian bejana dengan air secara bertahap. Setelah beberapa waktu, air tersebut akan terkuras melalui sebuah sifon.[34] Penemu bernama Ktesibios merevisi desain Plato; jam air tersebut menggunakan pelampung sebagai sistem penggerak dayanya dan menggunakan jam matahari untuk mengoreksi laju aliran airnya.[35]
Dalam tulisan-tulisan filosofis abad pertengahan, atom adalah satuan waktu yang merujuk pada pembagian waktu terkecil yang mungkin dilakukan. Kemunculan terawal yang diketahui dalam bahasa Inggris terdapat pada Enchiridion (sebuah teks sains) karya Byrhtferth dari tahun 1010–1012,[36] di mana istilah tersebut didefinisikan sebagai 1/564 dari sebuah momentum (1 menit),[37] dan dengan demikian setara dengan 15/94 detik. Istilah ini digunakan dalam computus, yaitu proses perhitungan tanggal Paskah. Perangkat pengukur waktu paling presisi di dunia kuno adalah jam air, atau klepsidra, yang salah satunya ditemukan di makam firaun Mesir Amenhotep I. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur jam bahkan pada malam hari tetapi membutuhkan perawatan manual untuk mengisi kembali aliran airnya. Orang-orang Yunani kuno dan masyarakat dari Kaldea (Mesopotamia tenggara) secara teratur memelihara catatan pengukuran waktu sebagai bagian penting dari pengamatan astronomi mereka. Para penemu dan insinyur Arab, secara khusus, melakukan perbaikan pada penggunaan jam air hingga Abad Pertengahan.[38] Pada abad ke-11, para penemu dan insinyur Tiongkok menciptakan jam mekanik pertama yang digerakkan oleh mekanisme pelepas (escapement).
Kemajuan besar dalam pencatatan waktu yang akurat dicapai oleh Galileo Galilei dan terutama Christiaan Huygens dengan penemuan jam berpenggerak pendulum, bersamaan dengan penemuan jarum menit oleh Jost Bürgi.[39] Terdapat pula sebuah jam yang dirancang untuk menjaga waktu selama 10.000 tahun yang disebut Jam Long Now. Perangkat jam weker kemudian dimekanisasi. Jam weker milik Levi Hutchins diakui sebagai jam weker Amerika pertama, meskipun hanya dapat berdering pada pukul 4 pagi. Antoine Redier juga diakui sebagai orang pertama yang mematenkan jam weker mekanik yang dapat diatur pada tahun 1847.[40] Bentuk digital dari jam weker menjadi lebih mudah diakses melalui digitalisasi dan integrasi dengan teknologi lain, seperti ponsel cerdas.
Perangkat pengukur waktu yang paling akurat adalah jam atom, yang akurat hingga hitungan detik dalam jutaan tahun,[41] dan digunakan untuk mengalibrasi jam serta instrumen pengukuran waktu lainnya. Jam atom menggunakan frekuensi transisi elektronik pada atom-atom tertentu untuk mengukur satu detik. Salah satu atom yang digunakan adalah sesium; sebagian besar jam atom modern memindai sesium dengan gelombang mikro untuk menentukan frekuensi dari getaran elektron ini.[42] Sejak tahun 1967, Sistem Pengukuran Internasional mendasarkan satuan waktunya, yakni detik, pada sifat-sifat atom sesium. SI mendefinisikan detik sebagai 9.192.631.770 siklus radiasi yang berkorespondensi dengan transisi antara dua tingkat energi spin elektron pada keadaan dasar dari atom 133Cs. Alat pengukur waktu portabel yang memenuhi standar presisi tertentu disebut kronometer. Awalnya, istilah ini digunakan untuk merujuk pada kronometer laut, sebuah penunjuk waktu yang digunakan untuk menentukan garis bujur melalui navigasi benda langit, sebuah tingkat presisi yang pertama kali dicapai oleh John Harrison. Baru-baru ini, istilah ini juga diterapkan pada jam tangan kronometer, sebuah jam tangan yang memenuhi standar presisi yang ditetapkan oleh badan Swiss COSC.
Pada zaman modern, Sistem Pemosisi Global yang berkoordinasi dengan Network Time Protocol dapat digunakan untuk menyinkronkan sistem pencatatan waktu di seluruh dunia. , ketidakpastian interval waktu terkecil dalam pengukuran langsung berada pada kisaran 12 atodetik (1,2 × 10−17 detik), atau sekitar 3,7 × 1026 waktu Planck.[43] Waktu yang diukur tersebut adalah penundaan yang disebabkan oleh pola interferensi gelombang elektron yang tidak sinkron.[44]
Satuan
Detik (s) adalah satuan pokok SI. Satu menit (min) terdiri dari 60 detik (atau, dalam kasus yang jarang terjadi, 59 atau 61 detik ketika detik kabisat diterapkan), dan satu jam terdiri dari 60 menit atau 3600 detik. Satu hari biasanya berdurasi 24 jam atau 86.400 detik; namun, durasi hari kalender dapat bervariasi akibat waktu musim panas dan detik kabisat.
Standar
Standar waktu adalah spesifikasi untuk mengukur waktu: menetapkan angka atau tanggal kalender pada suatu momen (titik waktu), mengkuantifikasi durasi suatu interval waktu, dan menetapkan kronologi (urutan peristiwa). Pada zaman modern, beberapa spesifikasi waktu telah diakui secara resmi sebagai standar, yang sebelumnya hanya merupakan kebiasaan dan praktik. Penemuan jam atom sesium pada tahun 1955 telah menyebabkan standar waktu astronomis murni yang lebih lama seperti waktu sideris dan waktu efemeris digantikan, untuk sebagian besar tujuan praktis, dengan standar waktu yang lebih baru yang didasarkan sepenuhnya atau sebagian pada waktu atom yang menggunakan detik SI.
Waktu Atom Internasional (TAI) adalah standar waktu internasional utama yang menjadi dasar perhitungan standar waktu lainnya. Waktu Universal (UT1) adalah waktu surya rata-rata pada garis bujur 0°, yang dihitung dari pengamatan astronomis. Waktu ini berbeda dari TAI karena adanya ketidakteraturan dalam rotasi Bumi. Waktu Universal Terkoordinasi (UTC) adalah skala waktu atom yang dirancang untuk mendekati Waktu Universal. UTC berbeda dari TAI dalam jumlah detik yang bulat. UTC dipertahankan agar tidak menyimpang lebih dari 0,9 detik dari UT1 dengan memasukkan lompatan satu detik ke UTC, yang disebut detik kabisat. Sistem Pemosisi Global memancarkan sinyal waktu yang sangat presisi berdasarkan waktu UTC.
Permukaan Bumi dibagi menjadi sejumlah zona waktu. Waktu standar atau waktu sipil di sebuah zona waktu memiliki selisih yang tetap dan bulat, biasanya dalam bilangan jam penuh, dari suatu bentuk Waktu Universal, umumnya UTC. Sebagian besar zona waktu memiliki selisih tepat satu jam, dan berdasarkan konvensi menghitung waktu setempatnya sebagai ofset dari UTC. Sebagai contoh, zona waktu di laut didasarkan pada UTC. Di banyak lokasi (namun tidak di laut) ofset ini bervariasi dua kali setahun karena transisi waktu musim panas.
Beberapa standar waktu lainnya digunakan terutama untuk pekerjaan ilmiah. Waktu Terestrial adalah skala ideal teoretis yang direalisasikan oleh TAI. Waktu Koordinat Geosentris (TCG) dan Waktu Koordinat Barisentris (TCB) adalah skala yang didefinisikan sebagai waktu koordinat dalam konteks teori relativitas umum, dengan TCG berlaku untuk pusat Bumi dan TCB untuk barisenter tata surya. Waktu Dinamis Barisentris adalah skala relativistik lama yang terkait dengan TCB yang masih digunakan.
Filsafat
Agama
Pandangan waktu bersiklus
Banyak kebudayaan kuno, khususnya di Timur, memiliki pandangan yang bersiklus mengenai waktu. Dalam tradisi-tradisi ini, waktu sering kali dipandang sebagai pola zaman atau siklus yang berulang, di mana peristiwa dan fenomena berulang dengan cara yang dapat diprediksi. The Wheel of Time: Kalachakra in Context. Shambhala. 1991. hlm. 51–54, 62–77. ISBN 978-1-55939-779-7.</ref>
Demikian pula, dalam kebudayaan kuno lainnya seperti bangsa Maya, Aztek, dan Tiongkok, juga terdapat kepercayaan pada waktu bersiklus, yang sering kali dikaitkan dengan pengamatan astronomis dan kalender.[45] Kebudayaan-kebudayaan ini mengembangkan sistem yang kompleks untuk melacak waktu, musim, dan pergerakan benda langit, yang mencerminkan pemahaman mereka mengenai pola bersiklus di alam dan alam semesta.
Pandangan bersiklus mengenai waktu ini bertolak belakang dengan konsep waktu linier yang lebih umum dalam pemikiran Barat, di mana waktu dipandang berjalan dalam garis lurus dari masa lalu ke masa depan tanpa pengulangan.[46]
Dalam kitab Perjanjian Lama yaitu Pengkhotbah, yang secara tradisional dinisbatkan kepada Salomo (970–928 SM), waktu digambarkan sebagai sesuatu yang bersiklus dan di luar kendali manusia.[47] Kitab tersebut menuliskan bahwa ada musim atau waktu yang tepat untuk setiap kegiatan.[48]
Waktu dalam mitologi Yunani
Bahasa Yunani mengenal dua prinsip yang berbeda, Khronos dan Kairos. Yang pertama merujuk pada waktu yang bersifat numerik, atau kronologis. Yang kedua, yang secara harfiah berarti "momen yang tepat atau menguntungkan", berkaitan secara khusus dengan waktu metafisik atau Ilahi. Dalam teologi, Kairos bersifat kualitatif, berlawanan dengan kuantitatif.[49]
Dalam mitologi Yunani, Khronos (bahasa Yunani kuno: Χρόνος) diidentifikasi sebagai personifikasi dari waktu. Namanya dalam bahasa Yunani berarti "waktu" dan secara alternatif dieja Chronus (ejaan Latin) atau Khronos. Khronos biasanya digambarkan sebagai pria tua yang bijaksana dengan janggut abu-abu yang panjang, seperti "Bapak Waktu". Beberapa kata bahasa Inggris yang akar etimologisnya adalah khronos/chronos meliputi chronology, chronometer, chronic, anachronism, synchronise, dan chronicle.
Waktu dalam Kabbalah & pemikiran Rabinik
Para rabi terkadang memandang waktu seperti "sebuah akordeon yang direntangkan dan dilipat sesuka hati."[50] Menurut para ahli Kabbalah, "waktu" adalah sebuah paradoks[51] dan sebuah ilusi.[52]
Waktu dalam Advaita Vedanta
Menurut Advaita Vedanta, waktu merupakan bagian integral dari dunia fenomenal, yang tidak memiliki realitas independen. Waktu dan dunia fenomenal adalah produk dari maya, yang dipengaruhi oleh indera, konsep, dan imajinasi kita. Dunia fenomenal, termasuk waktu, dipandang tidak kekal dan dicirikan oleh pluralitas, penderitaan, konflik, dan perpecahan. Karena eksistensi fenomenal didominasi oleh temporalitas (kala), segala sesuatu di dalam waktu tunduk pada perubahan dan peluruhan. Mengatasi rasa sakit dan kematian membutuhkan pengetahuan yang melampaui eksistensi temporal dan menyingkapkan fondasi abadinya.[53]
Dalam filsafat Barat
Dua sudut pandang yang bertolak belakang mengenai waktu membagi para filsuf terkemuka. Salah satu pandangan menyatakan bahwa waktu adalah bagian dari struktur fundamental alam semesta—sebuah dimensi yang independen dari peristiwa-peristiwa, di mana peristiwa terjadi secara berurutan. Isaac Newton menganut pandangan realis ini, dan karenanya pandangan ini terkadang disebut sebagai waktu Newtonian.[54][55]
Pandangan yang berlawanan adalah bahwa waktu tidak merujuk pada semacam "wadah" yang "dilalui" oleh peristiwa dan objek, bukan pula pada entitas apa pun yang "mengalir", melainkan merupakan bagian dari struktur intelektual fundamental (bersama dengan ruang dan angka) yang di dalamnya manusia mengurutkan dan membandingkan peristiwa. Pandangan kedua ini, dalam tradisi Gottfried Leibniz[56] dan Immanuel Kant,[57][58] berpendapat bahwa waktu bukanlah sebuah peristiwa maupun sebuah benda, dan dengan demikian waktu itu sendiri tidak dapat diukur atau dilintasi. Lebih lanjut lagi, mungkin saja ada komponen subjektif dalam waktu, tetapi apakah waktu itu sendiri "dirasakan", sebagai sebuah sensasi, atau merupakan sebuah penilaian, masih menjadi perdebatan.[59][60][61][62][63]
Dalam filsafat, waktu telah dipertanyakan selama berabad-abad; mengenai apa itu waktu dan apakah ia nyata atau tidak. Para filsuf Yunani Kuno bertanya-tanya apakah waktu bersifat linier atau bersiklus dan apakah waktu tidak berujung atau terhingga.[64] Para filsuf ini memiliki cara yang berbeda dalam menjelaskan waktu; sebagai contoh, filsuf India kuno memiliki sesuatu yang disebut Roda Waktu. Diyakini bahwa terdapat zaman yang berulang sepanjang rentang kehidupan alam semesta.[65] Hal ini mengarah pada keyakinan seperti siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi.[66] Para filsuf Yunani percaya bahwa alam semesta tidak terbatas, dan merupakan sebuah ilusi bagi manusia.[67] Plato percaya bahwa waktu diciptakan oleh Sang Pencipta pada saat yang bersamaan dengan penciptaan langit.[68] Ia juga mengatakan bahwa waktu adalah periode pergerakan dari benda-benda langit.[69] Aristoteles percaya bahwa waktu berkorelasi dengan pergerakan, bahwa waktu tidak berdiri sendiri melainkan relatif terhadap pergerakan benda.[70] Ia juga percaya bahwa waktu terkait dengan pergerakan benda langit; alasan mengapa manusia dapat mengetahui waktu adalah karena adanya periode orbit dan oleh karena itu terdapat durasi pada waktu.
Who Needs the Past?: Indigenous Values and Archaeology. Psychology Press. 1994. hlm. 7. ISBN 978-0-415-09558-7.</ref> Para filsuf kuno Yunani, termasuk Parmenides dan Herakleitos, menulis esai mengenai sifat dasar waktu.[71] Plato, dalam Timaeus, mengidentifikasi waktu dengan periode pergerakan benda-benda langit. Aristoteles, dalam Buku IV dari Fisika-nya mendefinisikan waktu sebagai 'jumlah pergerakan dalam kaitannya dengan sebelum dan sesudah'.[72] Dalam Buku ke-11 dari Pengakuan-Pengakuan-nya, St. Agustinus dari Hippo merenungkan sifat dasar waktu, dengan bertanya, "Lalu apakah waktu itu? Jika tidak ada yang bertanya kepadaku, aku tahu: jika aku ingin menjelaskannya kepada orang yang bertanya, aku tidak tahu." Ia mulai mendefinisikan waktu berdasarkan apa yang bukan merupakan waktu, alih-alih apa itu waktu sebenarnya,[73] sebuah pendekatan yang mirip dengan yang diambil dalam definisi-definisi negatif lainnya. Namun, Agustinus pada akhirnya menyebut waktu sebagai sebuah "distensi" pikiran (Pengakuan-Pengakuan 11.26) yang dengannya kita secara bersamaan memahami masa lalu dalam ingatan, masa kini melalui perhatian, dan masa depan melalui harapan.
Para filsuf pada abad ke-17 dan ke-18 mempertanyakan apakah waktu itu nyata dan mutlak, atau apakah itu merupakan konsep intelektual yang digunakan manusia untuk memahami dan mengurutkan peristiwa.[74] Pertanyaan-pertanyaan ini mengarah pada realisme versus anti-realisme; kaum realis percaya bahwa waktu adalah bagian fundamental dari alam semesta, dan dapat dipersepsikan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu urutan, di dalam suatu dimensi.[75] Isaac Newton mengatakan bahwa kita hanyalah menempati waktu, ia juga mengatakan bahwa manusia hanya dapat memahami waktu relatif.[76] Isaac Newton percaya pada ruang mutlak dan waktu mutlak; Leibniz percaya bahwa ruang dan waktu bersifat relasional.[77] Perbedaan antara interpretasi Leibniz dan Newton memuncak dalam korespondensi Leibniz-Clarke yang terkenal. Waktu relatif adalah ukuran dari benda-benda yang bergerak.[78] Kaum anti-realis percaya bahwa waktu hanyalah konsep intelektual yang memudahkan manusia untuk memahami peristiwa.[79] Ini berarti bahwa waktu tidak berguna kecuali ada objek yang dapat berinteraksi dengannya, hal ini disebut waktu relasional.[80] René Descartes, John Locke, dan David Hume mengatakan bahwa pikiran seseorang perlu mengakui waktu, untuk dapat memahami apa itu waktu. Immanuel Kant percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui apa itu sesuatu kecuali kita mengalaminya secara langsung.[81]
Immanuel Kant, dalam Kritik atas Nalar Murni, mendeskripsikan waktu sebagai sebuah intuisi a priori yang memungkinkan kita (bersama dengan intuisi a priori lainnya, yakni ruang) untuk memahami pengalaman indrawi.[82] Menurut Kant, baik ruang maupun waktu tidak dipahami sebagai substansi, melainkan keduanya merupakan elemen dari kerangka mental sistematis yang niscaya menyusun pengalaman agen rasional, atau subjek yang mengamati. Kant menganggap waktu sebagai bagian fundamental dari kerangka konseptual yang abstrak, bersama dengan ruang dan angka, di mana kita mengurutkan peristiwa, mengkuantifikasi durasinya, dan membandingkan pergerakan objek. Dalam pandangan ini, waktu tidak merujuk pada jenis entitas apa pun yang "mengalir," yang "dilalui" oleh objek, atau yang merupakan "wadah" bagi peristiwa-peristiwa. Pengukuran spasial digunakan untuk mengkuantifikasi besaran dan jarak antara objek-objek, dan pengukuran temporal digunakan untuk mengkuantifikasi durasi dari dan di antara peristiwa-peristiwa. Waktu ditetapkan oleh Kant sebagai skema yang paling murni dari konsep atau kategori murni.
Henri Bergson percaya bahwa waktu bukanlah medium homogen yang nyata maupun konstruksi mental, melainkan memiliki apa yang ia sebut sebagai Durasi. Durasi, dalam pandangan Bergson, adalah kreativitas dan ingatan sebagai komponen esensial dari realitas.[83]
Menurut Martin Heidegger kita tidak eksis di dalam waktu, kita adalah waktu itu sendiri. Oleh karena itu, hubungan dengan masa lalu adalah kesadaran di masa kini akan apa yang telah berlalu, yang memungkinkan masa lalu eksis di masa kini. Hubungan dengan masa depan adalah keadaan mengantisipasi suatu kemungkinan, tugas, atau keterlibatan potensial. Hal ini berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk peduli dan merasa khawatir, yang menyebabkan "mendahului diri sendiri" ketika memikirkan suatu kejadian yang tertunda atau akan datang. Oleh karena itu, kepedulian terhadap kejadian potensial ini juga memungkinkan masa depan untuk eksis di masa kini. Masa kini menjadi sebuah pengalaman, yang bersifat kualitatif alih-alih kuantitatif. Heidegger tampaknya berpikir bahwa ini adalah cara di mana hubungan linier dengan waktu, atau eksistensi temporal, dipatahkan atau dilampaui.[84] Kita tidak terjebak dalam waktu yang berurutan (sekuensial). Kita mampu mengingat masa lalu dan memproyeksikan diri ke masa depan; kita memiliki semacam akses acak terhadap representasi kita mengenai eksistensi temporal; kita dapat, dalam pikiran kita, melangkah keluar (ekstase) dari waktu sekuensial.[85]
Para filsuf era modern bertanya-tanya: apakah waktu itu nyata atau tidak nyata, apakah waktu terjadi sekaligus atau merupakan sebuah durasi, apakah waktu memiliki kala (tensed) atau tak berkala (tenseless), dan apakah ada masa depan yang akan terjadi?[86] Terdapat sebuah teori yang disebut teori tak berkala atau teori-B; teori ini menyatakan bahwa terminologi apa pun yang berkaitan dengan kala waktu dapat diganti dengan terminologi tak berkala.[87] Sebagai contoh, kalimat "kita akan memenangkan pertandingan" dapat diganti dengan "kita memenangkan pertandingan", dengan menghilangkan kala masa depan. Di sisi lain, terdapat teori yang disebut teori kala atau teori-A; teori ini menyatakan bahwa bahasa kita memiliki kata kerja penunjuk kala karena suatu alasan dan bahwa masa depan tidak dapat ditentukan.[88] Ada pula yang disebut waktu imajiner, konsep ini berasal dari Stephen Hawking, yang mengatakan bahwa ruang dan waktu imajiner adalah terbatas tetapi tidak memiliki batasan (tepi).[89] Waktu imajiner tidaklah nyata maupun tidak nyata, melainkan sesuatu yang sulit untuk divisualisasikan.[90] Para filsuf dapat sepakat bahwa waktu fisik eksis di luar pikiran manusia dan bersifat objektif, sementara waktu psikologis bergantung pada pikiran dan bersifat subjektif.
Argumen-argumen ini sering kali berpusat pada apa artinya sesuatu menjadi tidak nyata. Para fisikawan modern secara umum percaya bahwa waktu sama nyatanya dengan ruang—meskipun yang lain, seperti Julian Barbour, berpendapat bahwa persamaan kuantum alam semesta mengambil bentuk aslinya ketika diekspresikan dalam ranah tanpa waktu yang memuat setiap kemungkinan sekarang atau konfigurasi sesaat dari alam semesta.[91] Artikel J. M. E. McTaggart tahun 1908 yang berjudul Ketidaknyataan Waktu (The Unreality of Time) berpendapat bahwa, karena setiap peristiwa memiliki karakteristik hadir dan tidak hadir (yakni, masa depan atau masa lalu), maka waktu merupakan sebuah gagasan yang bertentangan dengan dirinya sendiri.
Teori filosofis modern lainnya yang disebut presentisme memandang masa lalu dan masa depan sebagai interpretasi pikiran manusia atas pergerakan, alih-alih bagian nyata dari waktu (atau "dimensi") yang hidup berdampingan dengan masa kini. Teori ini menolak keberadaan semua interaksi langsung dengan masa lalu maupun masa depan, dan menganggap hanya masa kini yang berwujud nyata. Hal ini merupakan salah satu argumen filosofis yang menentang perjalanan waktu.[92] Ini kontras dengan pandangan eternalisme (semua waktu: masa kini, masa lalu, dan masa depan, adalah nyata) dan teori blok yang tumbuh (masa kini dan masa lalu adalah nyata, tetapi masa depan tidak).
Definisi fisik
Hingga reinterpretasi Einstein terhadap konsep-konsep fisik yang berkaitan dengan waktu dan ruang pada tahun 1907, waktu dianggap sama di mana pun di alam semesta, dengan semua pengamat mengukur interval waktu yang sama untuk peristiwa apa pun.[93] Mekanika klasik nonrelativistik didasarkan pada gagasan waktu Newtonian ini. Einstein, dalam teori relativitas khusus-nya,[94] mendalilkan kekonstanan dan keterbatasan kecepatan cahaya bagi semua pengamat. Ia menunjukkan bahwa dalil ini, bersama dengan definisi yang masuk akal tentang apa artinya dua peristiwa terjadi secara bersamaan, mengharuskan jarak tampak menyusut dan interval waktu tampak memanjang untuk peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan benda-benda yang bergerak relatif terhadap pengamat inersia.
Teori relativitas khusus menemukan rumusan yang memudahkan dalam ruang waktu Minkowski, sebuah struktur matematis yang menggabungkan tiga dimensi ruang dengan satu dimensi waktu. Dalam formalisme ini, jarak dalam ruang dapat diukur dari berapa lama cahaya menempuh jarak tersebut, misalnya, satu tahun cahaya adalah ukuran jarak, dan satu meter kini didefinisikan berdasarkan seberapa jauh cahaya bergerak dalam rentang waktu tertentu. Dua peristiwa dalam ruang waktu Minkowski dipisahkan oleh sebuah interval invarian, yang dapat berupa bak-ruang (space-like), bak-cahaya (light-like), atau bak-waktu (time-like). Peristiwa-peristiwa yang memiliki pemisahan bak-waktu tidak dapat terjadi secara bersamaan dalam kerangka acuan mana pun, harus ada komponen temporal (dan mungkin juga komponen spasial) pada pemisahan tersebut. Peristiwa-peristiwa yang memiliki pemisahan bak-ruang akan terjadi secara bersamaan dalam kerangka acuan tertentu, dan tidak ada kerangka acuan di mana mereka tidak memiliki pemisahan spasial. Pengamat yang berbeda mungkin menghitung jarak dan interval waktu yang berbeda di antara dua peristiwa, tetapi interval invarian di antara peristiwa-peristiwa tersebut tidak bergantung pada pengamat dan kecepatan mereka.
Panah waktu
Tidak seperti ruang, di mana sebuah objek dapat bergerak ke arah yang berlawanan (dan dalam 3 dimensi), waktu tampaknya hanya memiliki satu dimensi dan satu arah—masa lalu berada di belakang, tetap dan tidak dapat diubah, sementara masa depan berada di depan dan belum tentu tetap. Namun sebagian besar hukum fisika memungkinkan proses apa pun berjalan baik maju maupun mundur. Hanya ada segelintir fenomena fisik yang melanggar reversibilitas waktu ini. Keterarahan waktu ini dikenal sebagai panah waktu. Contoh-contoh panah waktu yang diakui adalah:[95][96][97]
- Panah waktu radiatif, yang terwujud dalam gelombang (misalnya, cahaya dan suara) yang hanya bergerak meluas (alih-alih memusat) dalam waktu (lihat kerucut cahaya);
- Panah waktu entropik: menurut hukum kedua termodinamika, sebuah sistem terisolasi berevolusi menuju ketidakteraturan yang lebih besar alih-alih menjadi teratur secara spontan;
- Panah waktu kuantum, yang berkaitan dengan ireversibilitas pengukuran dalam mekanika kuantum menurut interpretasi Kopenhagen mengenai mekanika kuantum;
- Panah waktu lemah: preferensi terhadap arah waktu tertentu dari gaya lemah dalam fisika partikel (lihat pelanggaran simetri CP);
- Panah waktu kosmologis, yang mengikuti percepatan ekspansi alam semesta setelah terjadinya Ledakan Dahsyat.
Hubungan antara berbagai panah waktu yang berbeda ini merupakan topik yang hangat diperdebatkan dalam fisika teoretis.[98]
Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa entropi harus meningkat seiring berjalannya waktu. Brian Greene berteori bahwa, menurut persamaan yang ada, perubahan entropi terjadi secara simetris baik berjalan maju maupun mundur dalam waktu. Sehingga entropi cenderung meningkat di kedua arah tersebut, dan alam semesta kita yang berentropi rendah saat ini merupakan sebuah aberasi statistik, dengan cara yang serupa dengan melempar koin yang cukup sering sehingga pada akhirnya akan menghasilkan sisi kepala (angka) sepuluh kali berturut-turut. Namun, teori ini tidak didukung secara empiris dalam eksperimen lokal.[99]
Mekanika klasik
Dalam mekanika klasik nonrelativistik, konsep Newton mengenai "waktu relatif, semu, dan umum" dapat digunakan dalam perumusan sebuah ketentuan untuk sinkronisasi jam-jam. Peristiwa yang dilihat oleh dua pengamat berbeda yang bergerak relatif satu sama lain menghasilkan konsep matematis mengenai waktu yang bekerja cukup baik untuk mendeskripsikan fenomena sehari-hari dari pengalaman sebagian besar orang. Pada akhir abad kesembilan belas, para fisikawan menemui sejumlah masalah dengan pemahaman klasik mengenai waktu, sehubungan dengan perilaku kelistrikan dan kemagnetan. Persamaan Maxwell pada tahun 1860-an mendeskripsikan bahwa cahaya selalu bergerak dengan kecepatan konstan (di dalam ruang hampa).[100] Namun, mekanika klasik mengasumsikan bahwa pergerakan diukur relatif terhadap sebuah kerangka acuan yang tetap. Eksperimen Michelson-Morley membantah asumsi tersebut. Einstein kemudian mengusulkan metode sinkronisasi jam-jam dengan menggunakan kecepatan cahaya yang konstan dan terbatas sebagai kecepatan sinyal maksimum. Hal ini secara langsung mengarah pada kesimpulan bahwa para pengamat yang bergerak relatif satu sama lain akan mengukur waktu berlalu yang berbeda untuk peristiwa yang sama.
Ruang waktu
Secara historis, waktu memiliki kaitan erat dengan ruang, keduanya kemudian melebur menjadi ruang waktu dalam teori relativitas khusus dan relativitas umum dari Einstein. Menurut teori-teori ini, konsep waktu bergantung pada kerangka acuan spasial pengamat, dan persepsi manusia, serta pengukuran oleh instrumen seperti jam, adalah berbeda bagi pengamat yang berada dalam pergerakan relatif. Sebagai contoh, jika sebuah pesawat luar angkasa yang membawa jam terbang melintasi ruang angkasa dengan (sangat mendekati) kecepatan cahaya, awaknya tidak menyadari adanya perubahan kecepatan waktu di dalam pesawat mereka karena segala sesuatu yang bergerak dengan kecepatan yang sama akan melambat pada laju yang sama (termasuk jam, proses berpikir awak pesawat, dan fungsi tubuh mereka). Namun, bagi pengamat diam yang mengamati pesawat luar angkasa tersebut terbang melintas, pesawat itu tampak memipih pada arah perjalanannya dan jam di dalam pesawat tersebut tampak bergerak sangat lambat.
Di sisi lain, awak di dalam pesawat luar angkasa juga mempersepsikan pengamat tersebut melambat dan memipih di sepanjang arah pergerakan pesawat, karena keduanya bergerak dengan kecepatan yang hampir menyamai kecepatan cahaya relatif satu sama lain. Karena alam semesta di luar tampak memipih bagi pesawat luar angkasa, awak kapal mempersepsikan diri mereka seolah sedang melaju cepat di antara wilayah-wilayah ruang angkasa yang (bagi pengamat yang diam) terpisah jarak sejauh bertahun-tahun cahaya. Hal ini direkonsiliasi oleh fakta bahwa persepsi awak pesawat mengenai waktu berbeda dengan persepsi pengamat yang diam; apa yang tampaknya seperti hitungan detik bagi awak pesawat bisa jadi merupakan ratusan tahun bagi pengamat diam. Namun, dalam kedua kasus tersebut, kausalitas tetap tidak berubah: masa lalu adalah sekumpulan peristiwa yang dapat mengirimkan sinyal cahaya kepada suatu entitas dan masa depan adalah sekumpulan peristiwa yang kepadanya suatu entitas dapat mengirimkan sinyal cahaya.[101][102]
Dilatasi
Einstein menunjukkan dalam eksperimen pemikirannya bahwa orang-orang yang bepergian dengan kecepatan berbeda, meskipun sepakat pada sebab dan akibat, mengukur pemisahan waktu yang berbeda di antara peristiwa-peristiwa, dan bahkan dapat mengamati urutan kronologis yang berbeda di antara peristiwa-peristiwa yang tidak memiliki hubungan sebab akibat. Meskipun efek ini biasanya sangat kecil dalam pengalaman manusia, dampaknya menjadi jauh lebih nyata pada objek-objek yang bergerak pada kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Partikel subatomik eksis selama rata-rata sepersekian detik yang telah diketahui di dalam sebuah laboratorium yang relatif diam, tetapi ketika bergerak mendekati kecepatan cahaya, partikel tersebut terukur bergerak lebih jauh dan eksis lebih lama dibandingkan ketika diam.
Menurut teori relativitas khusus, dalam kerangka acuan partikel berkecepatan tinggi tersebut, ia pada rata-ratanya eksis selama rentang waktu standar yang dikenal sebagai umur rata-ratanya, dan jarak yang ditempuhnya dalam rentang waktu tersebut adalah nol, karena kecepatannya adalah nol. Relatif terhadap kerangka acuan yang diam, waktu tampak "melambat" bagi partikel tersebut. Relatif terhadap partikel berkecepatan tinggi, jarak-jarak tampak memendek. Einstein menunjukkan bagaimana baik dimensi temporal maupun spasial dapat diubah (atau "dilengkungkan") oleh pergerakan berkecepatan tinggi.
Einstein (The Meaning of Relativity): "Dua peristiwa yang terjadi pada titik A dan B dari sebuah sistem K adalah serempak jika keduanya muncul pada saat yang bersamaan ketika diamati dari titik tengah, M, dari interval AB. Waktu kemudian didefinisikan sebagai ansambel petunjuk dari jam-jam yang serupa, yang diam secara relatif terhadap K, yang mencatat hal yang sama secara bersamaan." Einstein menulis dalam bukunya, Relativitas, bahwa keserempakan juga bersifat relatif, yakni, dua peristiwa yang tampak serempak bagi seorang pengamat di dalam suatu kerangka acuan inersia tertentu tidak perlu dinilai sebagai serempak oleh pengamat kedua yang berada di dalam kerangka acuan inersia yang berbeda.
Berdasarkan relativitas umum, waktu juga berjalan lebih lambat dalam medan gravitasi yang lebih kuat; hal ini disebut dilatasi waktu gravitasi.[103] Efek dari dilatasi ini menjadi lebih kentara pada objek yang padat massa. Contoh terkenal dari dilatasi waktu adalah eksperimen pemikiran tentang seorang subjek yang mendekati cakrawala peristiwa dari sebuah lubang hitam. Sebagai konsekuensi dari bagaimana medan gravitasi melengkungkan ruang waktu, subjek tersebut akan mengalami dilatasi waktu gravitasi. Dari sudut pandang subjek itu sendiri, mereka akan mengalami waktu secara normal. Sementara itu, pengamat dari luar akan melihat subjek bergerak semakin dekat ke lubang hitam tersebut hingga titik yang ekstrem, di mana subjek tampak 'membeku' dalam waktu dan pada akhirnya memudar menjadi ketiadaan akibat semakin berkurangnya jumlah cahaya yang kembali.[104][105]
Relativistik versus Newtonian
Animasi ini memvisualisasikan perbedaan perlakuan terhadap waktu dalam deskripsi Newtonian dan relativistik. Inti dari perbedaan ini adalah transformasi Galileo dan transformasi Lorentz yang masing-masing berlaku dalam teori Newtonian dan relativistik. Dalam gambar-gambar tersebut, arah vertikal menunjukkan waktu. Arah horizontal menunjukkan jarak (hanya satu dimensi spasial yang diperhitungkan), dan kurva putus-putus tebal adalah lintasan ruang waktu ("garis dunia") dari sang pengamat. Titik-titik kecil menunjukkan peristiwa-peristiwa tertentu (masa lalu dan masa depan) di dalam ruang waktu. Kemiringan garis dunia tersebut (penyimpangan dari keadaan vertikal) menunjukkan kecepatan relatif terhadap pengamat.
Dalam deskripsi Newtonian, perubahan-perubahan ini sedemikian rupa sehingga waktu bersifat mutlak:[106] pergerakan pengamat tidak memengaruhi apakah sebuah peristiwa terjadi pada 'masa kini' (yakni, apakah sebuah peristiwa melewati garis horizontal yang melintasi sang pengamat). Namun, dalam deskripsi relativistik, keteramatan peristiwa-lah yang bersifat mutlak: pergerakan pengamat tidak memengaruhi apakah suatu peristiwa melewati "kerucut cahaya" dari sang pengamat. Perhatikan bahwa dengan adanya perubahan dari deskripsi Newtonian ke deskripsi relativistik, konsep waktu mutlak tidak lagi berlaku: peristiwa-peristiwa bergerak naik dan turun di dalam gambar tersebut bergantung pada percepatan sang pengamat.
Kuantisasi
Kuantisasi waktu merujuk pada teori bahwa waktu memiliki unit terkecil yang mungkin. Kuantisasi waktu adalah sebuah konsep hipotetis. Dalam teori-teori fisika mapan modern seperti Model Standar fisika partikel dan relativitas umum, waktu tidak dikuantisasi. Waktu Planck (~ 5,4 × 10−44 detik) adalah satuan waktu dalam sistem satuan natural yang dikenal sebagai satuan Planck. Teori-teori fisika mapan saat ini diyakini gagal pada skala waktu ini, dan banyak fisikawan memperkirakan bahwa waktu Planck mungkin merupakan satuan waktu terkecil yang pernah dapat diukur, bahkan secara prinsip. Meskipun terdapat teori-teori fisika tentatif yang mencoba mendeskripsikan fenomena pada skala ini; salah satu contohnya adalah gravitasi kuantum simpal. Gravitasi kuantum simpal mengemukakan bahwa waktu dikuantisasi; jika gravitasi dikuantisasi, maka ruang waktu juga dikuantisasi.[107]
Perjalanan
Perjalanan waktu adalah konsep bergerak mundur atau maju ke titik waktu yang berbeda, dengan cara yang analog dengan bergerak melintasi ruang, dan berbeda dari "aliran" waktu yang normal bagi pengamat di bumi. Dalam pandangan ini, semua titik waktu (termasuk waktu pada masa depan) "bertahan" dengan cara tertentu. Perjalanan waktu telah menjadi perangkat alur dalam fiksi sejak abad ke-19. Bepergian mundur atau maju dalam waktu belum pernah diverifikasi sebagai suatu proses, dan melakukannya menghadirkan banyak masalah teoretis serta logika yang kontradiktif yang hingga saat ini belum dapat diatasi. Perangkat teknologi apa pun, baik fiktif maupun hipotetis, yang digunakan untuk mencapai perjalanan waktu dikenal sebagai mesin waktu.
Masalah utama dengan perjalanan waktu ke masa lalu adalah pelanggaran kausalitas; jika sebuah akibat mendahului sebabnya, hal itu akan memunculkan kemungkinan terjadinya paradoks temporal. Beberapa interpretasi perjalanan waktu memecahkan masalah ini dengan menerima kemungkinan perjalanan di antara titik-titik percabangan, realitas paralel, atau alam semesta. Interpretasi banyak dunia telah digunakan sebagai salah satu cara untuk memecahkan paradoks kausalitas yang timbul dari perjalanan waktu. Setiap peristiwa kuantum menciptakan garis waktu bercabang lainnya, dan semua kemungkinan hasil eksis secara berdampingan tanpa adanya keruntuhan fungsi gelombang.[108] Interpretasi ini merupakan sebuah alternatif namun berlawanan dengan interpretasi Kopenhagen, yang menyatakan bahwa fungsi gelombang benar-benar runtuh.[109] Dalam sains, partikel hipotetis yang bergerak lebih cepat dari cahaya dikenal sebagai takion; matematika dari relativitas Einstein menunjukkan bahwa partikel-partikel tersebut akan memiliki massa diam imajiner. Beberapa interpretasi mengemukakan bahwa partikel tersebut mungkin bergerak mundur dalam waktu. Relativitas umum mengizinkan keberadaan kurva bak-waktu tertutup, yang dapat memungkinkan seorang pengamat untuk melakukan perjalanan kembali ke masa lalu ke ruang yang sama.
[Image of closed timelike curve] [110] Meskipun untuk metrik Gödel, kejadian semacam itu membutuhkan alam semesta yang berotasi secara global, yang telah dibantah oleh pengamatan terhadap pergeseran merah galaksi-galaksi jauh dan radiasi latar belakang kosmik.[111] Akan tetapi, telah diusulkan bahwa model alam semesta yang berotasi perlahan mungkin dapat memecahkan tegangan Hubble, sehingga hal ini belum dapat diabaikan.[112]
Solusi lain untuk masalah paradoks temporal berbasis kausalitas adalah bahwa paradoks semacam itu tidak dapat muncul semata-mata karena hal tersebut belum pernah muncul. Sebagaimana diilustrasikan dalam banyak karya fiksi, kehendak bebas antara tidak lagi ada pada masa lalu atau hasil dari keputusan semacam itu telah ditentukan sebelumnya. Contoh yang terkenal adalah paradoks kakek, di mana seseorang diceritakan melakukan perjalanan kembali ke masa lalu untuk membunuh kakeknya sendiri. Hal ini tidak akan mungkin dilakukan karena merupakan sebuah fakta sejarah bahwa kakek seseorang tidak terbunuh sebelum anaknya (orang tua orang tersebut) dikandung. Pandangan ini tidak hanya sekadar menganggap bahwa sejarah adalah konstanta yang tidak dapat diubah, tetapi bahwa setiap perubahan yang dibuat oleh penjelajah waktu hipotetis dari masa depan pasti sudah terjadi pada masa lalu mereka, yang menghasilkan realitas tempat penjelajah tersebut berasal. Prinsip konsistensi diri Novikov menegaskan bahwa karena adanya batasan kausalitas, perjalanan waktu ke masa lalu adalah hal yang mustahil.
Persepsi
Masa kini semu (specious present) merujuk pada durasi waktu di mana persepsi seseorang dianggap berada di masa kini. Masa kini yang dialami dikatakan 'semu' dalam artian, tidak seperti masa kini yang objektif, ia merupakan sebuah interval dan bukan momen tanpa durasi. Istilah masa kini semu (specious present) pertama kali diperkenalkan oleh psikolog E. R. Clay, dan kemudian dikembangkan oleh William James.[113]
Biopsikologi
Penilaian otak terhadap waktu diketahui sebagai sistem yang sangat terdistribusi, yang setidaknya mencakup korteks serebral, serebelum, dan ganglia basalis sebagai komponen-komponennya. Satu komponen tertentu, nukleus suprakiasmatik, bertanggung jawab atas ritme sirkadian (atau harian), sementara kelompok sel lainnya tampaknya mampu melakukan pencatatan waktu dalam rentang yang lebih pendek (ultradian). Kronometri mental adalah penggunaan waktu respons dalam tugas-tugas perseptual-motorik untuk menyimpulkan konten, durasi, dan urutan temporal dari operasi kognitif. Penilaian terhadap waktu dapat diubah oleh ilusi temporal (seperti efek kappa),[114] usia,[115] obat psikoaktif, dan hipnosis.[116] Indera waktu mengalami gangguan pada beberapa orang dengan penyakit neurologis seperti penyakit Parkinson dan gangguan pemusatan perhatian.
Obat-obatan psikoaktif dapat merusak penilaian terhadap waktu. Stimulan dapat menyebabkan manusia dan tikus menaksir interval waktu terlalu tinggi,[117][118] sementara depresan dapat memiliki efek sebaliknya.[119] Tingkat aktivitas neurotransmiter di otak seperti dopamin dan norepinefrin mungkin menjadi alasan dari hal ini.[120] Bahan-bahan kimia semacam itu akan merangsang atau menghambat penembakan neuron di otak, dengan tingkat penembakan yang lebih besar memungkinkan otak untuk mendaftarkan terjadinya lebih banyak peristiwa dalam interval tertentu (mempercepat waktu) dan tingkat penembakan yang menurun mengurangi kapasitas otak untuk membedakan peristiwa yang terjadi dalam interval tertentu (memperlambat waktu).[121]
Para psikolog menegaskan bahwa waktu terasa berjalan lebih cepat seiring bertambahnya usia, namun literatur mengenai persepsi waktu yang berkaitan dengan usia ini masih kontroversial.[122] Mereka yang mendukung gagasan ini berpendapat bahwa orang muda, yang memiliki lebih banyak neurotransmiter eksitatori, mampu menghadapi peristiwa eksternal yang lebih cepat.[123] Beberapa ahli juga berpendapat bahwa persepsi terhadap waktu turut dipengaruhi oleh ingatan dan seberapa banyak pengalaman seseorang; sebagai contoh, seiring bertambahnya usia seseorang, waktu sebulan yang dihabiskan untuk menunggu akan terasa sebagai porsi yang lebih kecil dari total hidup mereka.[124] Sementara itu, kemampuan kognitif anak-anak yang terus berkembang memungkinkan mereka untuk memahami waktu dengan cara yang berbeda. Pemahaman anak usia dua dan tiga tahun tentang waktu terutama terbatas pada "sekarang dan bukan sekarang". Anak usia lima dan enam tahun dapat menangkap gagasan tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Anak usia tujuh hingga sepuluh tahun dapat menggunakan jam dan kalender.[125] Teori selektivitas sosioemosional mengemukakan bahwa ketika orang memandang waktu mereka sebagai sesuatu yang tidak berujung dan samar, mereka lebih berfokus pada tujuan-tujuan yang berorientasi ke masa depan.[126]
Konseptualisasi spasial
Meskipun waktu dianggap sebagai konsep abstrak, terdapat makin banyak bukti bahwa waktu dikonseptualisasikan di dalam pikiran dalam kaitannya dengan ruang.[127] Artinya, alih-alih memikirkan waktu dengan cara yang umum dan abstrak, manusia memikirkan waktu dengan cara yang spasial dan mengatur hal tersebut di dalam pikiran sedemikian rupa. Menggunakan ruang untuk memikirkan waktu memungkinkan manusia untuk secara mental mengatur peristiwa temporal dengan cara yang spesifik. Representasi spasial dari waktu ini sering kali direpresentasikan dalam pikiran sebagai sebuah garis waktu mental (MTL).[128] Asal-usul ini dibentuk oleh banyak faktor lingkungan.[129] Literasi tampaknya memainkan peran besar dalam berbagai jenis MTL, karena arah membaca/menulis memberikan orientasi temporal sehari-hari yang berbeda dari satu budaya ke budaya lainnya.[130] Dalam budaya Barat, MTL dapat terbentang ke arah kanan (dengan masa lalu di kiri dan masa depan di kanan) karena masyarakatnya sebagian besar membaca dan menulis dari kiri ke kanan.[131] Kalender-kalender Barat juga melanjutkan tren ini dengan menempatkan masa lalu di sebelah kiri dengan masa depan yang bergerak ke arah kanan. Sebaliknya, penutur bahasa Arab, Persia, Urdu, dan Ibrani membaca dari kanan ke kiri, dan MTL mereka terbentang ke arah kiri (masa lalu di kanan dengan masa depan di kiri); berbagai bukti menunjukkan bahwa para penutur bahasa ini juga mengatur peristiwa waktu dalam pikiran mereka dengan cara seperti ini.[132]
Terdapat pula bukti bahwa beberapa budaya menggunakan spasialisasi alosentris, yang sering kali didasarkan pada fitur-fitur lingkungan.[133] Sebuah studi mengenai masyarakat adat Yupno di Papua Nugini menemukan bahwa mereka mungkin menggunakan MTL alosentris, di mana waktu mengalir ke atas bukit; ketika berbicara tentang masa lalu, mereka menunjuk ke arah bawah bukit, tempat di mana sungai di lembah tersebut mengalir ke laut. Ketika berbicara mengenai masa depan, mereka menunjuk ke arah atas bukit, menuju hulu sungai. Hal ini umum dilakukan terlepas dari arah mana orang tersebut menghadap.[134] Sebuah studi serupa terhadap orang-orang Pormpuraaw, sebuah kelompok aborigin di Australia, melaporkan bahwa ketika mereka diminta untuk menyusun foto-foto seorang pria yang menua "secara berurutan," orang-orang tersebut secara konsisten menempatkan foto termuda di sebelah timur dan foto tertua di sebelah barat, terlepas dari arah mana mereka menghadap.[135] Hal ini bertolak belakang secara langsung dengan sebuah kelompok di Amerika yang secara konsisten menyusun foto-foto tersebut dari kiri ke kanan. Oleh karena itu, kelompok ini tampaknya juga memiliki MTL alosentris, tetapi didasarkan pada arah mata angin, bukan fitur geografis.[136] Beragamnya perbedaan dalam cara berbagai kelompok memikirkan waktu mengarah pada pertanyaan yang lebih luas bahwa berbagai kelompok mungkin juga memikirkan konsep abstrak lainnya dengan cara yang berbeda, seperti kausalitas dan angka.[137]
Penggunaan
Dalam sosiologi dan antropologi, disiplin waktu adalah nama umum yang diberikan untuk aturan, konvensi, kebiasaan, dan ekspektasi sosial dan ekonomi yang mengatur pengukuran waktu, mata uang sosial dan kesadaran akan pengukuran waktu, serta ekspektasi orang-orang mengenai kepatuhan terhadap kebiasaan-kebiasaan tersebut oleh orang lain. Arlie Russell Hochschild[138][139] dan Norbert Elias[140] telah menulis tentang penggunaan waktu dari perspektif sosiologis.
Penggunaan waktu merupakan isu penting dalam memahami perilaku manusia, pendidikan, dan perilaku perjalanan. Penelitian penggunaan waktu adalah bidang studi yang sedang berkembang. Pertanyaannya berkaitan dengan bagaimana waktu dialokasikan di berbagai aktivitas (seperti waktu yang dihabiskan di rumah, di tempat kerja, berbelanja, dll.). Penggunaan waktu berubah seiring dengan teknologi, seperti televisi atau Internet yang menciptakan peluang baru untuk menggunakan waktu dengan cara yang berbeda. Namun, beberapa aspek penggunaan waktu relatif stabil dalam jangka waktu yang lama, seperti jumlah waktu yang dihabiskan untuk melakukan perjalanan ke tempat kerja, yang meskipun terdapat perubahan besar dalam transportasi, telah diamati berkisar antara 20–30 menit sekali jalan untuk sejumlah besar kota dalam jangka waktu yang lama.
Manajemen waktu adalah pengorganisasian tugas atau acara dengan pertama-tama memperkirakan berapa banyak waktu yang dibutuhkan suatu tugas dan kapan tugas tersebut harus diselesaikan, serta menyesuaikan berbagai acara yang akan mengganggu penyelesaiannya sehingga tugas tersebut selesai dalam jumlah waktu yang tepat. Kalender dan buku agenda harian adalah contoh umum dari alat manajemen waktu.
Urutan peristiwa
Urutan peristiwa, atau serangkaian peristiwa, adalah sebuah urutan item, fakta, peristiwa, tindakan, perubahan, atau langkah prosedural, yang disusun dalam urutan waktu (urutan kronologis), sering kali dengan hubungan kausalitas di antara item-item tersebut.[141][142][143] Karena adanya kausalitas, sebab mendahului akibat, atau sebab dan akibat dapat muncul bersamaan dalam satu item, tetapi akibat tidak pernah mendahului sebab. Urutan peristiwa dapat disajikan dalam bentuk teks, tabel, bagan, atau garis waktu. Deskripsi dari item atau peristiwa tersebut dapat menyertakan stempel waktu. Urutan peristiwa yang menyertakan waktu beserta informasi tempat atau lokasi untuk mendeskripsikan jalur berurutan dapat disebut sebagai garis dunia.
Penggunaan urutan peristiwa meliputi cerita,[144] peristiwa bersejarah (kronologi), arahan dan langkah dalam prosedur,[145] serta jadwal untuk merencanakan kegiatan. Urutan peristiwa juga dapat digunakan untuk membantu mendeskripsikan proses dalam sains, teknologi, dan kedokteran. Urutan peristiwa dapat difokuskan pada peristiwa masa lalu (misalnya, cerita, sejarah, kronologi), pada peristiwa masa depan yang harus berada dalam urutan yang telah ditentukan (misalnya, rencana, jadwal, prosedur, waktu jadwal), atau difokuskan pada pengamatan peristiwa masa lalu dengan ekspektasi bahwa peristiwa tersebut akan terjadi di masa depan (misalnya, proses, proyeksi). Penggunaan urutan peristiwa terjadi di berbagai bidang seperti mesin (pewaktu noken), film dokumenter (Seconds From Disaster), hukum (pilihan hukum), keuangan (waktu intrinsik perubahan arah), simulasi komputer (simulasi peristiwa diskret), dan transmisi tenaga listrik[146] (perekam urutan peristiwa). Contoh spesifik dari urutan peristiwa adalah garis waktu bencana nuklir Fukushima Daiichi.
Lihat pula
Organisasi
- Antiquarian Horological Society – AHS (Britania Raya)
- Chronometrophilia (Swiss)
- Deutsche Gesellschaft für Chronometrie – DGC (Jerman)
- National Association of Watch and Clock Collectors – NAWCC (Amerika Serikat)
Ragam seni dan sains
Ragam satuan
Bacaan lanjutan
- Craig Callendar, Introducing Time, Icon Books, 2010,
- – Research bibliography
- Benjamin Gal-Or, Cosmology, Physics and Philosophy, Springer Verlag, 1981, 1983, 1987, .
- Charlie Gere, (2005) Art, Time and Technology: Histories of the Disappearing Body, Berg
- Stiegler, Bernard, Technics and Time, 1: The Fault of Epimetheus
- Roberto Mangabeira Unger and Lee Smolin, The Singular Universe and the Reality of Time, Cambridge University Press, 2014, .
Pranala luar
- Different systems of measuring time (archived 16 October 2015).
- .
- Time in the Internet Encyclopedia of Philosophy, by Bradley Dowden.
- Time Expansion Experiences: Time may just be a creation of our minds by Steve Taylor Ph.D. January 31, 2025, Psychology Today.
Referensi
- ↑ Time. Oxford University Press.
- ↑ *Webster's New World College Dictionary. 2010. *The American Heritage Stedman's Medical Dictionary. 2002. *Collins Language.com. HarperCollins. 2011. *The American Heritage Science Dictionary @dictionary.com. 2002. *Eric Weisstein's World of Science. 2007.
- ↑ Time. 2011.
- ↑ Kamus Merriam-Webster periode yang diukur atau dapat diukur di mana suatu tindakan, proses, atau kondisi ada atau berlanjut: durasi; suatu kontinum nonspasial yang diukur dalam kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang saling menyusul satu sama lain dari masa lalu melalui masa kini hingga masa depan
- ↑ Kamus Ringkas Bahasa Inggris Oxford Bentangan atau ruang eksistensi berkelanjutan yang terbatas, seperti interval antara dua peristiwa atau tindakan yang berurutan, atau periode di mana suatu tindakan, kondisi, atau keadaan berlanjut. (1971).
- ↑ *Internet Encyclopedia of Philosophy. 2010. *Dictionary.com Unabridged, based on Random House Dictionary. 2010. *Donald G. Ivey. Physics. Ronald Press. 1974. Vol. 1. hlm. 65.
- ↑ Robin Le Poidevin. The Experience and Perception of Time. Winter 2004.
- ↑ "Newton melakukan hal yang sama terhadap waktu seperti yang dilakukan ahli geometri Yunani terhadap ruang, mengidealkannya menjadi dimensi yang dapat diukur secara tepat." About Time: Einstein's Unfinished Revolution, Paul Davies, hlm. 31, Simon & Schuster, 1996,
- ↑ Alan D. Rendall. Partial Differential Equations in General Relativity. Oxford University Press. 2008. hlm. 9. ISBN 978-0-19-921540-9.
- ↑ Robin Le Poidevin. The Experience and Perception of Time. Winter 2004.
- ↑ Sean M. Carroll. From Eternity to Here: The Quest for the Ultimate Theory of Time. Physics Today. Dutton. 2009. Vol. 63 (4). hlm. 54–55. doi:10.1063/1.3397046. ISBN 978-0-525-95133-9.
- ↑ The Feynman Lectures on Physics Vol. I Ch. 5: Time and Distance. www.feynmanlectures.caltech.edu.
- ↑ Official Baseball Rules – 8.03 and 8.04. Major League Baseball. 2011.
- ↑ Guinness Book of Baseball World Records. Guinness World Records, Ltd.
- ↑ Kenneth Zeigler. Getting organized at work : 24 lessons to set goals, establish priorities, and manage your time. McGraw-Hill. 2008. ISBN 978-0-07-159138-6. 108 halaman.
- ↑ Duff, Okun, Veneziano, ibid. hlm. 3. "Tidak ada terminologi yang mapan untuk konstanta-konstanta fundamental Alam semesta. ... Tidak adanya istilah yang didefinisikan secara akurat atau penggunaan (yakni, penyalahgunaan) istilah-istilah yang didefinisikan dengan buruk akan mengarah pada kebingungan dan proliferasi pernyataan yang salah."
- ↑ *Internet Encyclopedia of Philosophy. 2010. *Dictionary.com Unabridged, based on Random House Dictionary. 2010. *Donald G. Ivey. Physics. Ronald Press. 1974. Vol. 1. hlm. 65.
- ↑ Douglas: Staffordshire University Burnham. Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716) Metaphysics – 7. Space, Time, and Indiscernibles. 2006.
- ↑ Douglas M. Considine. Process instruments and controls handbook. McGraw-Hill. 1985. hlm. 18–61. ISBN 978-0-07-012436-3.
- ↑ Lilley. Discovering Relativity for Yourself. Cambridge University Press Archive. 1981. hlm. 125. ISBN 978-0-521-23038-4. Kutipan dari halaman 125 .
- ↑ Sumati Surya. The causal set approach to quantum gravity. Living Reviews in Relativity. December 2019. Vol. 22 (1). doi:10.1007/s41114-019-0023-1.
- ↑ Alfredo Macías. On the incompatibility between quantum theory and general relativity. Physics Letters B. May 2008. Vol. 663 (1–2). hlm. 99–102. doi:10.1016/j.physletb.2008.03.052.
- ↑ Joseph Shavit. Revolutionary theory finally unites quantum mechanics and Einstein's theory of general relativity. The Brighter Side of News. 18 July 2024.
- ↑ E. G. Richards. Mapping Time: The Calendar and its History. Oxford University Press. 1998. hlm. 3–5. ISBN 978-0-19-850413-9.
- ↑ Richard Rudgley. The Lost Civilizations of the Stone Age. Simon & Schuster. 1999. hlm. 86–105.
- ↑ Mark Van Stone. The Maya Long Count Calendar: An Introduction. Archaeoastronomy. 2011. Vol. 24. hlm. 8–11.
- ↑ Diane Davies. The Maya Calendar Explained. Maya Archaeologist.
- ↑ French republican calendar Revolutionary period, decimal system, reform. Britannica.
- ↑ Education.
- ↑ Michael A. Lombardi. Why is a minute divided into 60 seconds, an hour into 60 minutes, yet there are only 24 hours in a day?. Scientific American. March 5, 2007.
- ↑ A Walk Through Time - Early Clocks. National Institute of Standards and Technology. 2009-08-12.
- ↑ Barnett. Time's Pendulum: From Sundials to Atomic Clocks, the Fascinating History of Timekeeping and how Our Discoveries Changed the World. Harcourt Brace. 1999. hlm. 28. ISBN 978-0-15-600649-1.
- ↑ M. F. Wagner. The Enigmatic Reality of Time. Koninklijke Brill. 2008. ISBN 978-90-474-4360-5.
- ↑ The alarm clock of Plato (5th c. B.C.) - The first awakening device in human history. Museum of the Ancient Greek Technology. 2023-11-28.
- ↑ Zheng-Hui Hwang. Historical development of water-powered mechanical clocks. Mechanical Sciences. 2021-02-19. Vol. 12 (1). hlm. 203–219. doi:10.5194/ms-12-203-2021.
- ↑ Byrhtferth of Ramsey. 2008.
- ↑ "atom", Oxford English Dictionary, Draft Revision September 2008 (berisi kutipan relevan dari Enchiridion karya Byrhtferth)
- ↑ Barnett, ibid, hlm. 37.
- ↑ "History of Clocks." About.com Inventors. About.com, n.d. Web. 21 February 2016.
- ↑ Amy Tikkanen. 22 Questions About Time and Timekeeping Answered. Britannica. 15 January 2009.
- ↑ New atomic clock can keep time for 200 million years: Super-precise instruments vital to deep space navigation. Vancouver Sun. 16 February 2008.
- ↑ NIST-F1 Cesium Fountain Clock.
- ↑ 12 attoseconds is the world record for shortest controllable time. 12 May 2010.
- ↑ William J. H. Andrewes. A Chronicle Of Timekeeping. Scientific American. February 1, 2006.
- ↑ Chichén Itzá: Venus Cycle. Travel. 2012-02-27.
- ↑ Jennifer M. Gidley. The Future: A Very Short Introduction. Oxford University Press. 2017. hlm. 13. ISBN 978-0-19-105424-2. Kutipan dari halaman 13
- ↑ Pengkhotbah 1:4–11
- ↑ Pengkhotbah 3:1–8
- ↑ (Dictionary Entry). Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek-English Lexicon.
- ↑ New Myths and Meanings in Jewish New Moon Rituals David M. Rosen, Victoria P. Rosen Ethnology, Vol. 39, No. 3 (Summer, 2000), pp. 263–277 (merujuk pada Yerushalmi 1989)
- ↑ Boʿaz Hus. Kabbalah and Modernity: Interpretations, Transformations, Adaptations. BRILL. 2011. ISBN 978-90-04-18284-4.
- ↑ Elliot R. Wolfson. Alef, Mem, Tau: Kabbalistic Musings on Time, Truth, and Death. University of California Press. 2006. hlm. 111. ISBN 978-0-520-93231-9. Kutipan dari halaman 111
- ↑ R. Puligandla. Time and History in the Indian Tradition. Philosophy East and West. 1974. Vol. 24 (2). hlm. 165–170. doi:10.2307/1398019.
- ↑ Robert: Johns Hopkins University Rynasiewicz. Newton's Views on Space, Time, and Motion. Stanford University. 12 August 2004.
- ↑ Ned Markosian. Time.
- ↑ Douglas: Staffordshire University Burnham. Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716) Metaphysics – 7. Space, Time, and Indiscernibles. 2006.
- ↑ G. J. Mattey. Critique of Pure Reason, Lecture notes: Philosophy 175 UC Davis. 22 January 1997.
- ↑ Matt McCormick. Immanuel Kant (1724–1804) Metaphysics: 4. Kant's Transcendental Idealism. 2006.
- ↑ *Webster's New World College Dictionary. 2010. *The American Heritage Stedman's Medical Dictionary. 2002. *Collins Language.com. HarperCollins. 2011. *The American Heritage Science Dictionary @dictionary.com. 2002. *Eric Weisstein's World of Science. 2007.
- ↑ *Internet Encyclopedia of Philosophy. 2010. *Dictionary.com Unabridged, based on Random House Dictionary. 2010. *Donald G. Ivey. Physics. Ronald Press. 1974. Vol. 1. hlm. 65.
- ↑ Robin Le Poidevin. The Experience and Perception of Time. Winter 2004.
- ↑ Sean Carrol. From Eternity to Here: The Quest for the Ultimate Theory of Time. Penguin. 2010. ISBN 978-0-452-29654-1.
- ↑ Lehar, Steve. (2000). The Function of Conscious Experience: An Analogical Paradigm of Perception and Behavior , Consciousness and Cognition.
- ↑ Philosophy of Time – Exactly What Is Time?.
- ↑ Ancient Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Ancient Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Ancient Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Ancient Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Ancient Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Ancient Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Dagobert Runes, Dictionary of Philosophy, hlm. 318.
- ↑ R. P. Hardie. Physics by Aristotle. Massachusetts Institute of Technology. "Jadi waktu adalah semacam angka. (Angka, harus kita catat, digunakan dalam dua pengertian – baik dari apa yang dihitung atau yang dapat dihitung dan juga dari apa yang dengannya kita menghitung. Waktu jelas merupakan apa yang dihitung, bukan apa yang dengannya kita menghitung: ada jenis hal yang berbeda.) [...] Jelaslah, bahwa waktu adalah 'jumlah pergerakan dalam kaitannya dengan sebelum dan sesudah', dan bersifat kontinu karena waktu merupakan atribut dari apa yang kontinu."
- ↑ Augustine of Hippo. Confessions. Buku 11, Bab 14.
- ↑ Philosophy of Time – Exactly What Is Time?.
- ↑ Early Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Early Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Gottfried Martin, Kant's Metaphysics and Theory of Science.
- ↑ Early Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Early Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Early Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Tim Jankowiak. Immanuel Kant.
- ↑ Immanuel Kant. The Critique of Pure Reason, edisi ke-2. 1787. diterjemahkan oleh J.M.D. Meiklejohn, eBooks@Adelaide, 2004
- ↑ Bergson, Henri (1907) Creative Evolution. terj. oleh Arthur Mitchell. Mineola: Dover, 1998.
- ↑ Anindita N. Balslev. Religion and Time. Brill Academic Publishers. November 1992. hlm. 53–59. ISBN 978-90-04-09583-0.
- ↑ Heidegger. Being and Time. Blackwell. 1962. hlm. 425. ISBN 978-0-631-19770-6.
- ↑ Philosophy of Time – Exactly What Is Time?.
- ↑ Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Modern Philosophy – Exactly What Is Time?.
- ↑ Tim Folger. From Here to Eternity. Discover Magazine. 30 November 2000.
- ↑ Takeshi Sakon. Presentists Should Not Believe in Time Travel. Philosophy of Science. 2020. Vol. 53 (2).
- ↑ Herman M. Schwartz, Introduction to Special Relativity, McGraw-Hill Book Company, 1968, hardcover 442 halaman, lihat (edisi 1977), hlm. 10–13
- ↑ A. Einstein, H. A. Lorentz, H. Weyl, H. Minkowski, The Principle of Relativity, Dover Publications, Inc, 2000, softcover, 216 halaman, , Lihat hlm. 37–65 untuk terjemahan bahasa Inggris dari makalah asli Einstein tahun 1905.
- ↑ J. O’Byrne. Time irreversibility in active matter, from micro to macro. Nature Reviews Physics. 2022-01-25. Vol. 4 (3). hlm. 167–183. doi:10.1038/s42254-021-00406-2.
- ↑ Nicholas Maxwell. Relativity Theory May not Have the Last Word on the Nature of Time: Quantum Theory and Probabilism. Space, Time and the Limits of Human Understanding. Springer International Publishing. 2017. hlm. 109–124. doi:10.1007/978-3-319-44418-5_9. ISBN 978-3-319-44417-8.
- ↑ Complexity and the Arrow of Time. Cambridge University Press. 2013-08-08. doi:10.1017/cbo9781139225700. ISBN 978-1-139-22570-0.
- ↑ Peter Coveney. The arrow of time: a voyage through science to solve time's greatest mystery. Fawcett Columbine. 1991. ISBN 978-0-449-90630-9.
- ↑ Brian Greene. The Fabric of the Cosmos. Penguin Books Limited. 2005. ISBN 978-0-14-195995-5.
- ↑ Deriving 0 and 0 from First Principles and Defining the Fundamental Electromagnetic Equations Set. International Journal of Engineering Research and Development. 2013. Vol. 7 (4). hlm. 33.
- ↑ Albert Einstein's Theory of Relativity. YouTube. 30 November 2011.
- ↑ Time Travel: Einstein's big idea (Theory of Relativity). YouTube. 9 January 2007.
- ↑ Ilija Barukčića. The Equivalence of Time and Gravitational Field. Physics Procedia. 2011. Vol. 22. hlm. 56–62. doi:10.1016/j.phpro.2011.11.008.
- ↑ Chelsea Gohd. What Happens When Something Gets 'Too Close' to a Black Hole?. NASA Science. 2023-05-03.
- ↑ Alastair Gunn. The (very strange) reason black holes are secret time machines. BBC Science Focus Magazine. 2025-01-12.
- ↑ Jens M. Knudsen. Elements of Newtonian Mechanics. Springer Science & Business Media. 2012-12-06. hlm. 30. ISBN 978-3-642-97599-8.
- ↑ Thomas Lewton. The Physicist Who Bets That Gravity Can't Be Quantized. Quanta Magazine. 2023-07-10.
- ↑ Arnub Ghosh. Revolutionizing Quantum Mechanics: The Birth and Evolution of the Many-Worlds Interpretation. 11 May 2024.
- ↑ Robert P. Crease. The bizarre logic of the many-worlds theory. Nature. 2019-09-02. Vol. 573 (7772). hlm. 30–32. doi:10.1038/d41586-019-02602-8.
- ↑ Germain Tobar. Reversible dynamics with closed time-like curves and freedom of choice. Classical and Quantum Gravity. 2020-10-22. Vol. 37 (20). hlm. 205011. doi:10.1088/1361-6382/aba4bc.
- ↑ Jean-Pierre Luminet. Closed Timelike Curves and Singularities. Inference: International Review of Science. 2018-05-31. Vol. 4 (1). doi:10.37282/991819.18.32.
- ↑ Balázs Endre Szigeti. Can rotation solve the Hubble Puzzle?. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. April 2025. Vol. 538 (4). hlm. 3038–3041. doi:10.1093/mnras/staf446.
- ↑ Andersen. A brief history of time-consciousness: historical precursors to James and Husserl. Journal of the History of Philosophy. 2009. Vol. 47 (2). hlm. 277–307. doi:10.1353/hph.0.0118.
- ↑ Wada Y, Masuda T, Noguchi K, 2005, "Temporal illusion called 'kappa effect' in event perception" Perception 34 ECVP Abstract Supplement.
- ↑ Robert Adler. Look how time flies.
- ↑ Bowers, Kenneth. Hypnosis and the perception of time. International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis. January 1979. Vol. 27 (1). hlm. 29–41. doi:10.1080/00207147908407540.
- ↑ M. Wittmann. Impaired time perception and motor timing in stimulant-dependent subjects. Drug Alcohol Depend. 8 October 2007. Vol. 90 (2–3). hlm. 183–192. doi:10.1016/j.drugalcdep.2007.03.005.
- ↑ Ruey-Kuang Cheng. Differential effects of cocaine and ketamine on time estimation: Implications for neurobiological models of interval timing. Pharmacology Biochemistry and Behavior. 2006. Vol. 85 (1). hlm. 114–122. doi:10.1016/j.pbb.2006.07.019.
- ↑ Jared R. Tinklenberg. Marijuana and ethanol: Differential effects on time perception, heart rate, and subjective response. Psychopharmacology. January 1976. Vol. 49 (3). hlm. 275–279. doi:10.1007/BF00426830.
- ↑ Shahar Arzy. Self in Time: Imagined Self-Location Influences Neural Activity Related to Mental Time Travel. The Journal of Neuroscience. 18 June 2008. Vol. 28 (25). hlm. 6502–6507. doi:10.1523/JNEUROSCI.5712-07.2008.
- ↑ Rita Carter. The Human Brain Book. Dorling Kindersley Publishing. 2009. hlm. 186–187. ISBN 978-0-7566-5441-2.
- ↑ Ronald P. Gruber. Studies on the structure of time: from physics to psycho(patho)logy. Springer. 2000. hlm. 54. ISBN 978-0-306-46439-3. Kutipan dari halaman 54
- ↑ Rita Carter. The Human Brain Book. Dorling Kindersley Publishing. 2009. hlm. 186–187. ISBN 978-0-7566-5441-2.
- ↑ Jillian Wilson. Time Flies By Faster As We Get Older. Here's Why. HuffPost. 2022-12-16.
- ↑ Eileen Kennedy-Moore. Time Management for Kids. 28 March 2014.
- ↑ Hannah L. Giasson. Counting down while time flies: implications of age-related time acceleration for goal pursuit across adulthood. Current Opinion in Psychology. 2019. Vol. 26. hlm. 85–89. doi:10.1016/j.copsyc.2018.07.001.
- ↑ Rafael Núñez. Contours of time: Topographic construals of past, present, and future in the Yupno valley of Papua New Guinea. Cognition. 1 July 2012. Vol. 124 (1). hlm. 25–35. doi:10.1016/j.cognition.2012.03.007.
- ↑ Roberto Bottini. Space and time in the sighted and blind. Cognition. 1 August 2015. Vol. 141. hlm. 67–72. doi:10.1016/j.cognition.2015.04.004.
- ↑ Rafael Núñez. Contours of time: Topographic construals of past, present, and future in the Yupno valley of Papua New Guinea. Cognition. 1 July 2012. Vol. 124 (1). hlm. 25–35. doi:10.1016/j.cognition.2012.03.007.
- ↑ Roberto Bottini. Space and time in the sighted and blind. Cognition. 1 August 2015. Vol. 141. hlm. 67–72. doi:10.1016/j.cognition.2015.04.004.
- ↑ Roberto Bottini. Space and time in the sighted and blind. Cognition. 1 August 2015. Vol. 141. hlm. 67–72. doi:10.1016/j.cognition.2015.04.004.
- ↑ Roberto Bottini. Space and time in the sighted and blind. Cognition. 1 August 2015. Vol. 141. hlm. 67–72. doi:10.1016/j.cognition.2015.04.004.
- ↑ Rafael Núñez. Contours of time: Topographic construals of past, present, and future in the Yupno valley of Papua New Guinea. Cognition. 1 July 2012. Vol. 124 (1). hlm. 25–35. doi:10.1016/j.cognition.2012.03.007.
- ↑ Rafael Núñez. Contours of time: Topographic construals of past, present, and future in the Yupno valley of Papua New Guinea. Cognition. 1 July 2012. Vol. 124 (1). hlm. 25–35. doi:10.1016/j.cognition.2012.03.007.
- ↑ Lera Boroditsky. Remembrances of Times East. Psychological Science. 2010. Vol. 21 (11). hlm. 1635–1639. doi:10.1177/0956797610386621.
- ↑ Lera Boroditsky. Remembrances of Times East. Psychological Science. 2010. Vol. 21 (11). hlm. 1635–1639. doi:10.1177/0956797610386621.
- ↑ Rafael Núñez. Contours of time: Topographic construals of past, present, and future in the Yupno valley of Papua New Guinea. Cognition. 1 July 2012. Vol. 124 (1). hlm. 25–35. doi:10.1016/j.cognition.2012.03.007.
- ↑ Arlie Russell Hochschild. The time bind: when work becomes home and home becomes work. Metropolitan Books. 1997. .
- ↑ Arlie Russell Hochschild. There's no place like work. The New York Times Magazine. 20 April 1997.
- ↑ Norbert Elias. Time: an essay. Blackwell. 1992. ISBN 978-0-631-15798-4.
- ↑ Sequence – Order of Important Events. Austin Independent School District. 2009.
- ↑ Sequence of Events Worksheets. Reference.com.
- ↑ Compiled by David Luckham. Event Processing Glossary – Version 2.0. Complex Event Processing. 23 August 2011.
- ↑ Nordquist. narrative. About.com Education. About.com.
- ↑ Piasecki. Inventory Accuracy Glossary. AccuracyBook.com (OPS Publishing).
- ↑ Utility Communications Architecture (UCA) glossary. NettedAutomation.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29560363 (2026-08-11T12:32:10Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.