Lompat ke isi

Berilium-8: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29482901; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Beryllium-8.svg|thumb|right|280px|Beryllium-8]]
'''Berilium-8''' ('''<sup>8</sup>Be''', '''Be-8''') adalah sebuah [[radionuklida]] yang memiliki 4 [[neutron]] dan 4 [[proton]]. Nuklida ini merupakan [[resonansi (fisika partikel)|resonansi]] tak terikat dari dua [[partikel alfa]] dan secara nominal merupakan salah satu [[isotop berilium]]. Sifat ini memiliki implikasi penting dalam [[nukleosintesis bintang]], karena menciptakan suatu hambatan dalam pembentukan [[unsur kimia]] yang lebih berat.
'''Berilium-8''' ('''<sup>8</sup>Be''', '''Be-8''') adalah sebuah [[radionuklida]] yang memiliki 4 [[neutron]] dan 4 [[proton]]. Nuklida ini merupakan [[resonansi (fisika partikel)|resonansi]] tak terikat dari dua [[partikel alfa]] dan secara nominal merupakan salah satu [[isotop berilium]]. Sifat ini memiliki implikasi penting dalam [[nukleosintesis bintang]], karena menciptakan suatu hambatan dalam pembentukan [[unsur kimia]] yang lebih berat.
==Penemuan==
==Penemuan==
Penemuan <sup>8</sup>Be terjadi tidak lama setelah pembangunan [[pemercepat partikel]] pertama pada tahun 1932. Fisikawan [[John Douglas Cockcroft|John D. Cockcroft]] dan [[Ernest Walton|Ernest T. S. Walton]] melakukan eksperimen pertama mereka menggunakan pemercepat tersebut di [[Laboratorium Cavendish]], [[Cambridge, Cambridgeshire|Cambridge]]. Dalam percobaan itu, mereka menembakkan proton ke inti [[litium-7|<sup>7</sup>Li]]. Mereka melaporkan bahwa reaksi tersebut menghasilkan inti dengan [[nomor massa]] (''A'')&nbsp;=&nbsp;8 yang hampir seketika meluruh menjadi dua partikel alfa. Aktivitas ini teramati kembali beberapa bulan kemudian dan disimpulkan berasal dari <sup>8</sup>Be.
Penemuan <sup>8</sup>Be terjadi tidak lama setelah pembangunan [[pemercepat partikel]] pertama pada tahun 1932. Fisikawan [[John Douglas Cockcroft|John D. Cockcroft]] dan [[Ernest Walton|Ernest T. S. Walton]] melakukan eksperimen pertama mereka menggunakan pemercepat tersebut di [[Laboratorium Cavendish]], [[Cambridge, Cambridgeshire|Cambridge]]. Dalam percobaan itu, mereka menembakkan proton ke inti [[litium-7|<sup>7</sup>Li]]. Mereka melaporkan bahwa reaksi tersebut menghasilkan inti dengan [[nomor massa]] (''A'')&nbsp;=&nbsp;8 yang hampir seketika meluruh menjadi dua partikel alfa. Aktivitas ini teramati kembali beberapa bulan kemudian dan disimpulkan berasal dari <sup>8</sup>Be.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berilium-8&oldid=29482901 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
==Sifat==
==Sifat==
<sup>8</sup>Be [[Garis tetesan nuklir|tidak terikat]] terhadap emisi alfa sebesar 92&nbsp;keV; nuklida ini merupakan suatu resonansi dengan lebar resonansi 6&nbsp;eV.<ref>A. Coc. ''Variation of fundamental constants and the role of ''A'' = 5 and ''A'' = 8 nuclei on primordial nucleosynthesis''. ''Physical Review D''. 2012. Vol. 86 (4). doi:10.1103/PhysRevD.86.043529.</ref> Inti [[helium-4|<sup>4</sup>He]] sangatlah stabil karena memiliki konfigurasi [[Bilangan ajaib (fisika nuklir)#Ajaib ganda|ajaib ganda]] serta [[Energi pengikatan inti|energi ikat per nukleon]] yang lebih besar dibandingkan dengan <sup>8</sup>Be. Karena energi total <sup>8</sup>Be lebih tinggi daripada energi dua partikel alfa, peluruhannya menjadi dua partikel alfa lebih menguntungkan secara energetik.<ref>H. Schatz. [https://www.europhysicsnews.org/articles/epn/pdf/2006/05/epn06502.pdf Nuclear masses and the origin of the elements]. ''Europhysics News''. 2006. Vol. 37 (5). hlm. 16–21. doi:10.1051/epn:2006502.</ref> Sebaliknya, pembentukan <sup>8</sup>Be dari dua inti <sup>4</sup>He merupakan reaksi endotermik, yaitu memerlukan masukan energi. Peluruhan <sup>8</sup>Be juga dipermudah oleh struktur intinya. Inti ini mengalami deformasi yang besar dan diyakini berbentuk seperti gugus dua partikel alfa yang menyerupai molekul sehingga sangat mudah terpisah.<ref>M. Freer. [https://cds.cern.ch/record/1969486 The Euroschool on Exotic Beams: Lecture Notes in Physics]. Springer. 2014. Vol. 4. hlm. 1–37. doi:10.1007/978-3-642-45141-6. ISBN 978-3-642-45140-9.</ref><ref>B. Zhou. ''Nonlocalized clustering in nuclei''. ''Advances in Physics''. 2017. Vol. 2 (2). hlm. 359–372. doi:10.1080/23746149.2017.1294033.</ref> Selain itu, walaupun [[nuklida alfa]] lain juga memiliki keadaan resonansi yang berumur sangat pendek, pada <sup>8</sup>Be keadaan tersebut sudah merupakan [[keadaan dasar]]. Sistem dua partikel alfa yang tidak terikat ini memiliki [[sawar Coulomb]] berenergi rendah, sehingga tidak dapat bertahan dalam waktu yang berarti.<ref>A. Coc. [http://inspirehep.net/record/1338211/files/2014MmSAI..85..124C.pdf?version=1 The triple-alpha reaction and the ''A'' = 8 gap in BBN and Population III stars]. ''Memorie della Società Astronomica Italiana''. 2014. Vol. 85. hlm. 124–129.</ref> Waktu paruhnya hanya sekitar 8,2&nbsp;detik.


<sup>8</sup>Be [[Garis tetesan nuklir|tidak terikat]] terhadap emisi alfa sebesar 92&nbsp;keV; nuklida ini merupakan suatu resonansi dengan lebar resonansi 6&nbsp;eV. Inti [[helium-4|<sup>4</sup>He]] sangatlah stabil karena memiliki konfigurasi [[Bilangan ajaib (fisika nuklir)#Ajaib ganda|ajaib ganda]] serta [[Energi pengikatan inti|energi ikat per nukleon]] yang lebih besar dibandingkan dengan <sup>8</sup>Be. Karena energi total <sup>8</sup>Be lebih tinggi daripada energi dua partikel alfa, peluruhannya menjadi dua partikel alfa lebih menguntungkan secara energetik. Sebaliknya, pembentukan <sup>8</sup>Be dari dua inti <sup>4</sup>He merupakan reaksi endotermik, yaitu memerlukan masukan energi. Peluruhan <sup>8</sup>Be juga dipermudah oleh struktur intinya. Inti ini mengalami deformasi yang besar dan diyakini berbentuk seperti gugus dua partikel alfa yang menyerupai molekul sehingga sangat mudah terpisah. Selain itu, walaupun [[nuklida alfa]] lain juga memiliki keadaan resonansi yang berumur sangat pendek, pada <sup>8</sup>Be keadaan tersebut sudah merupakan [[keadaan dasar]]. Sistem dua partikel alfa yang tidak terikat ini memiliki [[sawar Coulomb]] berenergi rendah, sehingga tidak dapat bertahan dalam waktu yang berarti. Waktu paruhnya hanya sekitar 8,2&nbsp;detik.
<sup>8</sup>Be merupakan satu-satunya nuklida tak stabil yang memiliki jumlah proton dan neutron yang sama serta [[Paritas (matematika)|genap]] (≤&nbsp;20). Selain itu, <sup>8</sup>Be juga merupakan salah satu dari hanya dua nuklida tak stabil (yang lainnya adalah [[helium-5|<sup>5</sup>He]]) dengan nomor massa ≤&nbsp;143 yang [[Garis kestabilan beta|stabil]] terhadap [[peluruhan beta]] maupun [[peluruhan beta ganda]].  


<sup>8</sup>Be merupakan satu-satunya nuklida tak stabil yang memiliki jumlah proton dan neutron yang sama serta [[Paritas (matematika)|genap]] (≤&nbsp;20). Selain itu, <sup>8</sup>Be juga merupakan salah satu dari hanya dua nuklida tak stabil (yang lainnya adalah [[helium-5|<sup>5</sup>He]]) dengan nomor massa ≤&nbsp;143 yang [[Garis kestabilan beta|stabil]] terhadap [[peluruhan beta]] maupun [[peluruhan beta ganda]].
<sup>8</sup>Be juga memiliki beberapa keadaan tereksitasi, yang semuanya berupa resonansi berumur sangat pendek dengan lebar hingga beberapa MeV dan memiliki berbagai nilai [[Bilangan kuantum spin#Spin nuklir|isospin]]. Keadaan-keadaan ini dengan cepat meluruh ke keadaan dasar atau menjadi dua partikel alfa.<ref>J. L. Feng. ''Evidence for a protophobic fifth force from 8 Be nuclear transitions''. ''Physical Review Letters''. 2016. Vol. 117 (7). doi:10.1103/PhysRevLett.117.071803.</ref> Pada tahun 2015, suatu eksperimen terhadap <sup>8</sup>Be tereksitasi mengindikasikan kemungkinan keberadaan [[partikel X17]].
 
<sup>8</sup>Be juga memiliki beberapa keadaan tereksitasi, yang semuanya berupa resonansi berumur sangat pendek dengan lebar hingga beberapa MeV dan memiliki berbagai nilai [[Bilangan kuantum spin#Spin nuklir|isospin]]. Keadaan-keadaan ini dengan cepat meluruh ke keadaan dasar atau menjadi dua partikel alfa. Pada tahun 2015, suatu eksperimen terhadap <sup>8</sup>Be tereksitasi mengindikasikan kemungkinan keberadaan [[partikel X17]].
==Peran dalam nukleosintesis bintang==
==Peran dalam nukleosintesis bintang==
Dalam nukleosintesis bintang, dua inti <sup>4</sup>He dapat bertumbukan dan [[Fusi nuklir|berfusi]] membentuk satu inti <sup>8</sup>Be. <sup>8</sup>Be memiliki umur yang sangat singkat sebelum kembali meluruh menjadi dua inti <sup>4</sup>He. Namun demikian, nuklida ini tetap dapat mempertahankan konsentrasi kesetimbangan yang cukup berguna. Keadaan ini, bersama dengan sifat tidak terikat dari <sup>5</sup>He dan <sup>5</sup>Li, menciptakan suatu hambatan dalam [[nukleosintesis Ledakan Besar]] maupun nukleosintesis bintang,<ref>A. Coc. [http://inspirehep.net/record/1338211/files/2014MmSAI..85..124C.pdf?version=1 The triple-alpha reaction and the ''A'' = 8 gap in BBN and Population III stars]. ''Memorie della Società Astronomica Italiana''. 2014. Vol. 85. hlm. 124–129.</ref> karena diperlukan laju reaksi yang sangat tinggi agar unsur-unsur yang lebih berat dapat terbentuk.<ref>K. Landsman. ''The Fine-Tuning Argument''. 2015.</ref> Akibatnya, pembentukan unsur berat selama nukleosintesis Ledakan Besar menjadi sangat terhambat, sedangkan pada nukleosintesis bintang jumlah unsur berat yang dihasilkan menjadi terbatas. Apabila inti <sup>8</sup>Be bertumbukan dengan inti <sup>4</sup>He sebelum sempat meluruh, keduanya dapat berfusi membentuk inti [[karbon-12|<sup>12</sup>C]]. Reaksi ini pertama kali diprediksi secara terpisah oleh Öpik<ref>E. J. Öpik. ''Stellar Models with Variable Composition. II. Sequences of Models with Energy Generation Proportional to the Fifteenth Power of Temperature''. ''Proceedings of the Royal Irish Academy, Section A''. 1951. Vol. 54. hlm. 49–77.</ref> dan Salpeter<ref>E. E. Salpeter. ''Nuclear Reactions in the Stars. I. Proton-Proton Chain"''. ''Physical Review''. 1952. Vol. 88 (3). hlm. 547–553. doi:10.1103/PhysRev.88.547.</ref> pada awal tahun 1950-an.


Dalam nukleosintesis bintang, dua inti <sup>4</sup>He dapat bertumbukan dan [[Fusi nuklir|berfusi]] membentuk satu inti <sup>8</sup>Be. <sup>8</sup>Be memiliki umur yang sangat singkat sebelum kembali meluruh menjadi dua inti <sup>4</sup>He. Namun demikian, nuklida ini tetap dapat mempertahankan konsentrasi kesetimbangan yang cukup berguna. Keadaan ini, bersama dengan sifat tidak terikat dari <sup>5</sup>He dan <sup>5</sup>Li, menciptakan suatu hambatan dalam [[nukleosintesis Ledakan Besar]] maupun nukleosintesis bintang, karena diperlukan laju reaksi yang sangat tinggi agar unsur-unsur yang lebih berat dapat terbentuk. Akibatnya, pembentukan unsur berat selama nukleosintesis Ledakan Besar menjadi sangat terhambat, sedangkan pada nukleosintesis bintang jumlah unsur berat yang dihasilkan menjadi terbatas. Apabila inti <sup>8</sup>Be bertumbukan dengan inti <sup>4</sup>He sebelum sempat meluruh, keduanya dapat berfusi membentuk inti [[karbon-12|<sup>12</sup>C]]. Reaksi ini pertama kali diprediksi secara terpisah oleh Öpik dan Salpeter pada awal tahun 1950-an.
Karena ketidakstabilan <sup>8</sup>Be, [[proses alfa rangkap tiga]] merupakan satu-satunya mekanisme yang dapat menghasilkan <sup>12</sup>C dan unsur-unsur yang lebih berat dalam jumlah yang dapat diamati. Walaupun proses alfa rangkap tiga merupakan reaksi tiga benda, reaksi tersebut dipermudah ketika produksi <sup>8</sup>Be meningkat sehingga konsentrasinya mencapai sekitar 10<sup>−8</sup> dibandingkan dengan <sup>4</sup>He.<ref>J. Piekarewicz. [https://web2.physics.fsu.edu/~piekarewicz/OLLI-Lecture2.pdf The Birth, Life, and Death of Stars]. Florida State University. 2014.</ref> Kondisi ini terjadi ketika laju pembentukan <sup>8</sup>Be lebih besar daripada laju peluruhannya.<ref>H. Sadeghi. [https://www.researchgate.net/publication/260518982 Two-helium radiative capture process and the 8 Be nucleus at settler energies]. ''Astrophysics and Space Science''. 2014. Vol. 350 (2). hlm. 707–712. doi:10.1007/s10509-014-1806-1.</ref> Namun, keadaan tersebut saja belum cukup, karena tumbukan antara <sup>8</sup>Be dan <sup>4</sup>He sangat jarang menghasilkan fusi.<ref>E. Inglis-Arkell. [https://io9.gizmodo.com/this-unbelievable-coincidence-is-responsible-for-life-i-1709731652 This Unbelievable Coincidence Is Responsible For Life In The Universe]. Gizmodo. 8 Juni 2015.</ref> Oleh sebab itu, laju reaksi tetaplah terlalu rendah untuk menjelaskan banyaknya <sup>12</sup>C yang diamati di alam semesta.<ref>F. C. Adams. ''Stellar helium burning in other universes: A solution to the triple alpha fine-tuning problem''. ''Astroparticle Physics''. 2017. Vol. 7. hlm. 40–54. doi:10.1016/j.astropartphys.2016.12.002.</ref> Pada tahun 1954, [[Fred Hoyle]] mengusulkan adanya suatu keadaan resonansi pada <sup>12</sup>C dalam rentang energi yang sesuai dengan proses alfa rangkap tiga. Resonansi ini meningkatkan peluang terbentuknya <sup>12</sup>C meskipun waktu paruh <sup>8</sup>Be sangat singkat.<ref>Hoyle, F. (1954). "On Nuclear Reactions Occurring in Very Hot STARS. I. the Synthesis of Elements from Carbon to Nickel". ''Astrophysical Journal Supplement.'' '''1''': 121–146,</ref> Keberadaan resonansi tersebut (yang kini dikenal sebagai [[Karbon-12#Keadaan Hoyle|keadaan Hoyle]]) segera dikonfirmasi melalui eksperimen. Penemuannya sering dijadikan dasar dalam pembahasan [[prinsip antropik]] dan hipotesis alam semesta yang disetel secara halus.<ref>E. Epelbaum. ''''Ab initio'' calculation of the Hoyle state''. ''Physical Review Letters''. 2011. Vol. 106 (19). hlm. 192501–1–192501–4. doi:10.1103/PhysRevLett.106.192501.</ref><ref>David Jenkins. [https://physicsworld.com/a/the-secret-of-life/ The secret of life]. ''Physics World''. 7 Februari 2013.</ref>
 
Karena ketidakstabilan <sup>8</sup>Be, [[proses alfa rangkap tiga]] merupakan satu-satunya mekanisme yang dapat menghasilkan <sup>12</sup>C dan unsur-unsur yang lebih berat dalam jumlah yang dapat diamati. Walaupun proses alfa rangkap tiga merupakan reaksi tiga benda, reaksi tersebut dipermudah ketika produksi <sup>8</sup>Be meningkat sehingga konsentrasinya mencapai sekitar 10<sup>−8</sup> dibandingkan dengan <sup>4</sup>He. Kondisi ini terjadi ketika laju pembentukan <sup>8</sup>Be lebih besar daripada laju peluruhannya. Namun, keadaan tersebut saja belum cukup, karena tumbukan antara <sup>8</sup>Be dan <sup>4</sup>He sangat jarang menghasilkan fusi. Oleh sebab itu, laju reaksi tetaplah terlalu rendah untuk menjelaskan banyaknya <sup>12</sup>C yang diamati di alam semesta. Pada tahun 1954, [[Fred Hoyle]] mengusulkan adanya suatu keadaan resonansi pada <sup>12</sup>C dalam rentang energi yang sesuai dengan proses alfa rangkap tiga. Resonansi ini meningkatkan peluang terbentuknya <sup>12</sup>C meskipun waktu paruh <sup>8</sup>Be sangat singkat. Keberadaan resonansi tersebut (yang kini dikenal sebagai [[Karbon-12#Keadaan Hoyle|keadaan Hoyle]]) segera dikonfirmasi melalui eksperimen. Penemuannya sering dijadikan dasar dalam pembahasan [[prinsip antropik]] dan hipotesis alam semesta yang disetel secara halus.
==Alam semesta hipotetis dengan <sup>8</sup>Be stabil==
==Alam semesta hipotetis dengan <sup>8</sup>Be stabil==
Karena berilium-8 hanya tidak terikat sebesar 92&nbsp;keV, secara teoretis perubahan yang sangat kecil pada [[gaya nuklir|potensial nuklir]] maupun penyetelan halus beberapa konstanta fundamental (misalnya α, [[konstanta struktur halus]]) sudah cukup untuk meningkatkan energi ikat <sup>8</sup>Be sehingga mencegah peluruhan alfanya dan menjadikannya [[nuklida stabil|stabil]]. Hal ini mendorong berbagai penelitian mengenai skenario alam semesta hipotetis yang memiliki <sup>8</sup>Be stabil serta spekulasi mengenai [[multisemesta|alam semesta lain]] dengan konstanta fundamental yang berbeda. Kajian-kajian tersebut menunjukkan bahwa hilangnya hambatan yang disebabkan oleh <sup>8</sup>Be akan menghasilkan mekanisme reaksi yang sangat berbeda dalam nukleosintesis Ledakan Besar maupun proses alfa rangkap tiga. Akibatnya, kelimpahan unsur-unsur kimia berat juga akan berubah. Karena nukleosintesis Ledakan Besar hanya berlangsung dalam selang waktu yang sangat singkat dengan kondisi yang sesuai, diperkirakan produksi karbon tidak akan mengalami perubahan yang signifikan meskipun <sup>8</sup>Be stabil. Namun demikian, <sup>8</sup>Be yang stabil akan memungkinkan jalur-jalur reaksi alternatif selama pembakaran helium, misalnya <sup>8</sup>Be + <sup>4</sup>He dan <sup>8</sup>Be + <sup>8</sup>Be, yang secara keseluruhan membentuk suatu fase yang disebut "pembakaran berilium"). Fase ini berpotensi mengubah kelimpahan <sup>12</sup>C, <sup>16</sup>O, serta inti-inti yang lebih berat, meskipun <sup>1</sup>H dan <sup>4</sup>He tetap menjadi nuklida yang paling melimpah. Keberadaan <sup>8</sup>Be yang stabil juga akan memengaruhi [[evolusi bintang]], yaitu dengan menyebabkan pembakaran helium (dan pembakaran berilium) dimulai lebih awal serta berlangsung lebih cepat, sehingga menghasilkan [[deret utama]] yang berbeda dari alam semesta kita.
Karena berilium-8 hanya tidak terikat sebesar 92&nbsp;keV, secara teoretis perubahan yang sangat kecil pada [[gaya nuklir|potensial nuklir]] maupun penyetelan halus beberapa konstanta fundamental (misalnya α, [[konstanta struktur halus]]) sudah cukup untuk meningkatkan energi ikat <sup>8</sup>Be sehingga mencegah peluruhan alfanya dan menjadikannya [[nuklida stabil|stabil]]. Hal ini mendorong berbagai penelitian mengenai skenario alam semesta hipotetis yang memiliki <sup>8</sup>Be stabil serta spekulasi mengenai [[multisemesta|alam semesta lain]] dengan konstanta fundamental yang berbeda.<ref>F. C. Adams. ''Stellar helium burning in other universes: A solution to the triple alpha fine-tuning problem''. ''Astroparticle Physics''. 2017. Vol. 7. hlm. 40–54. doi:10.1016/j.astropartphys.2016.12.002.</ref> Kajian-kajian tersebut menunjukkan bahwa hilangnya hambatan<ref>E. Epelbaum. ''''Ab initio'' calculation of the Hoyle state''. ''Physical Review Letters''. 2011. Vol. 106 (19). hlm. 192501–1–192501–4. doi:10.1103/PhysRevLett.106.192501.</ref> yang disebabkan oleh <sup>8</sup>Be akan menghasilkan mekanisme reaksi yang sangat berbeda dalam nukleosintesis Ledakan Besar maupun proses alfa rangkap tiga. Akibatnya, kelimpahan unsur-unsur kimia berat juga akan berubah.<ref>A. Coc. ''Variation of fundamental constants and the role of ''A'' = 5 and ''A'' = 8 nuclei on primordial nucleosynthesis''. ''Physical Review D''. 2012. Vol. 86 (4). doi:10.1103/PhysRevD.86.043529.</ref> Karena nukleosintesis Ledakan Besar hanya berlangsung dalam selang waktu yang sangat singkat dengan kondisi yang sesuai, diperkirakan produksi karbon tidak akan mengalami perubahan yang signifikan meskipun <sup>8</sup>Be stabil.<ref>A. Coc. [http://inspirehep.net/record/1338211/files/2014MmSAI..85..124C.pdf?version=1 The triple-alpha reaction and the ''A'' = 8 gap in BBN and Population III stars]. ''Memorie della Società Astronomica Italiana''. 2014. Vol. 85. hlm. 124–129.</ref> Namun demikian, <sup>8</sup>Be yang stabil akan memungkinkan jalur-jalur reaksi alternatif selama pembakaran helium, misalnya <sup>8</sup>Be + <sup>4</sup>He dan <sup>8</sup>Be + <sup>8</sup>Be, yang secara keseluruhan membentuk suatu fase yang disebut "pembakaran berilium"). Fase ini berpotensi mengubah kelimpahan <sup>12</sup>C, <sup>16</sup>O, serta inti-inti yang lebih berat, meskipun <sup>1</sup>H dan <sup>4</sup>He tetap menjadi nuklida yang paling melimpah. Keberadaan <sup>8</sup>Be yang stabil juga akan memengaruhi [[evolusi bintang]], yaitu dengan menyebabkan pembakaran helium (dan pembakaran berilium) dimulai lebih awal serta berlangsung lebih cepat, sehingga menghasilkan [[deret utama]] yang berbeda dari alam semesta kita.<ref>F. C. Adams. ''Stellar helium burning in other universes: A solution to the triple alpha fine-tuning problem''. ''Astroparticle Physics''. 2017. Vol. 7. hlm. 40–54. doi:10.1016/j.astropartphys.2016.12.002.</ref>
==Catatan==
==Catatan==


==Referensi==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berilium-8&oldid=29482901 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29482901 (2026-07-21T11:47:05Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berilium-8&oldid=29482901 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29482901 (2026-07-21T11:47:05Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 04.04

Beryllium-8

Berilium-8 (8Be, Be-8) adalah sebuah radionuklida yang memiliki 4 neutron dan 4 proton. Nuklida ini merupakan resonansi tak terikat dari dua partikel alfa dan secara nominal merupakan salah satu isotop berilium. Sifat ini memiliki implikasi penting dalam nukleosintesis bintang, karena menciptakan suatu hambatan dalam pembentukan unsur kimia yang lebih berat.

Penemuan

Penemuan 8Be terjadi tidak lama setelah pembangunan pemercepat partikel pertama pada tahun 1932. Fisikawan John D. Cockcroft dan Ernest T. S. Walton melakukan eksperimen pertama mereka menggunakan pemercepat tersebut di Laboratorium Cavendish, Cambridge. Dalam percobaan itu, mereka menembakkan proton ke inti 7Li. Mereka melaporkan bahwa reaksi tersebut menghasilkan inti dengan nomor massa (A) = 8 yang hampir seketika meluruh menjadi dua partikel alfa. Aktivitas ini teramati kembali beberapa bulan kemudian dan disimpulkan berasal dari 8Be.[1]

Sifat

8Be tidak terikat terhadap emisi alfa sebesar 92 keV; nuklida ini merupakan suatu resonansi dengan lebar resonansi 6 eV.[2] Inti 4He sangatlah stabil karena memiliki konfigurasi ajaib ganda serta energi ikat per nukleon yang lebih besar dibandingkan dengan 8Be. Karena energi total 8Be lebih tinggi daripada energi dua partikel alfa, peluruhannya menjadi dua partikel alfa lebih menguntungkan secara energetik.[3] Sebaliknya, pembentukan 8Be dari dua inti 4He merupakan reaksi endotermik, yaitu memerlukan masukan energi. Peluruhan 8Be juga dipermudah oleh struktur intinya. Inti ini mengalami deformasi yang besar dan diyakini berbentuk seperti gugus dua partikel alfa yang menyerupai molekul sehingga sangat mudah terpisah.[4][5] Selain itu, walaupun nuklida alfa lain juga memiliki keadaan resonansi yang berumur sangat pendek, pada 8Be keadaan tersebut sudah merupakan keadaan dasar. Sistem dua partikel alfa yang tidak terikat ini memiliki sawar Coulomb berenergi rendah, sehingga tidak dapat bertahan dalam waktu yang berarti.[6] Waktu paruhnya hanya sekitar 8,2 detik.

8Be merupakan satu-satunya nuklida tak stabil yang memiliki jumlah proton dan neutron yang sama serta genap (≤ 20). Selain itu, 8Be juga merupakan salah satu dari hanya dua nuklida tak stabil (yang lainnya adalah 5He) dengan nomor massa ≤ 143 yang stabil terhadap peluruhan beta maupun peluruhan beta ganda.

8Be juga memiliki beberapa keadaan tereksitasi, yang semuanya berupa resonansi berumur sangat pendek dengan lebar hingga beberapa MeV dan memiliki berbagai nilai isospin. Keadaan-keadaan ini dengan cepat meluruh ke keadaan dasar atau menjadi dua partikel alfa.[7] Pada tahun 2015, suatu eksperimen terhadap 8Be tereksitasi mengindikasikan kemungkinan keberadaan partikel X17.

Peran dalam nukleosintesis bintang

Dalam nukleosintesis bintang, dua inti 4He dapat bertumbukan dan berfusi membentuk satu inti 8Be. 8Be memiliki umur yang sangat singkat sebelum kembali meluruh menjadi dua inti 4He. Namun demikian, nuklida ini tetap dapat mempertahankan konsentrasi kesetimbangan yang cukup berguna. Keadaan ini, bersama dengan sifat tidak terikat dari 5He dan 5Li, menciptakan suatu hambatan dalam nukleosintesis Ledakan Besar maupun nukleosintesis bintang,[8] karena diperlukan laju reaksi yang sangat tinggi agar unsur-unsur yang lebih berat dapat terbentuk.[9] Akibatnya, pembentukan unsur berat selama nukleosintesis Ledakan Besar menjadi sangat terhambat, sedangkan pada nukleosintesis bintang jumlah unsur berat yang dihasilkan menjadi terbatas. Apabila inti 8Be bertumbukan dengan inti 4He sebelum sempat meluruh, keduanya dapat berfusi membentuk inti 12C. Reaksi ini pertama kali diprediksi secara terpisah oleh Öpik[10] dan Salpeter[11] pada awal tahun 1950-an.

Karena ketidakstabilan 8Be, proses alfa rangkap tiga merupakan satu-satunya mekanisme yang dapat menghasilkan 12C dan unsur-unsur yang lebih berat dalam jumlah yang dapat diamati. Walaupun proses alfa rangkap tiga merupakan reaksi tiga benda, reaksi tersebut dipermudah ketika produksi 8Be meningkat sehingga konsentrasinya mencapai sekitar 10−8 dibandingkan dengan 4He.[12] Kondisi ini terjadi ketika laju pembentukan 8Be lebih besar daripada laju peluruhannya.[13] Namun, keadaan tersebut saja belum cukup, karena tumbukan antara 8Be dan 4He sangat jarang menghasilkan fusi.[14] Oleh sebab itu, laju reaksi tetaplah terlalu rendah untuk menjelaskan banyaknya 12C yang diamati di alam semesta.[15] Pada tahun 1954, Fred Hoyle mengusulkan adanya suatu keadaan resonansi pada 12C dalam rentang energi yang sesuai dengan proses alfa rangkap tiga. Resonansi ini meningkatkan peluang terbentuknya 12C meskipun waktu paruh 8Be sangat singkat.[16] Keberadaan resonansi tersebut (yang kini dikenal sebagai keadaan Hoyle) segera dikonfirmasi melalui eksperimen. Penemuannya sering dijadikan dasar dalam pembahasan prinsip antropik dan hipotesis alam semesta yang disetel secara halus.[17][18]

Alam semesta hipotetis dengan 8Be stabil

Karena berilium-8 hanya tidak terikat sebesar 92 keV, secara teoretis perubahan yang sangat kecil pada potensial nuklir maupun penyetelan halus beberapa konstanta fundamental (misalnya α, konstanta struktur halus) sudah cukup untuk meningkatkan energi ikat 8Be sehingga mencegah peluruhan alfanya dan menjadikannya stabil. Hal ini mendorong berbagai penelitian mengenai skenario alam semesta hipotetis yang memiliki 8Be stabil serta spekulasi mengenai alam semesta lain dengan konstanta fundamental yang berbeda.[19] Kajian-kajian tersebut menunjukkan bahwa hilangnya hambatan[20] yang disebabkan oleh 8Be akan menghasilkan mekanisme reaksi yang sangat berbeda dalam nukleosintesis Ledakan Besar maupun proses alfa rangkap tiga. Akibatnya, kelimpahan unsur-unsur kimia berat juga akan berubah.[21] Karena nukleosintesis Ledakan Besar hanya berlangsung dalam selang waktu yang sangat singkat dengan kondisi yang sesuai, diperkirakan produksi karbon tidak akan mengalami perubahan yang signifikan meskipun 8Be stabil.[22] Namun demikian, 8Be yang stabil akan memungkinkan jalur-jalur reaksi alternatif selama pembakaran helium, misalnya 8Be + 4He dan 8Be + 8Be, yang secara keseluruhan membentuk suatu fase yang disebut "pembakaran berilium"). Fase ini berpotensi mengubah kelimpahan 12C, 16O, serta inti-inti yang lebih berat, meskipun 1H dan 4He tetap menjadi nuklida yang paling melimpah. Keberadaan 8Be yang stabil juga akan memengaruhi evolusi bintang, yaitu dengan menyebabkan pembakaran helium (dan pembakaran berilium) dimulai lebih awal serta berlangsung lebih cepat, sehingga menghasilkan deret utama yang berbeda dari alam semesta kita.[23]

Catatan

Referensi

  1. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  2. A. Coc. Variation of fundamental constants and the role of A = 5 and A = 8 nuclei on primordial nucleosynthesis. Physical Review D. 2012. Vol. 86 (4). doi:10.1103/PhysRevD.86.043529.
  3. H. Schatz. Nuclear masses and the origin of the elements. Europhysics News. 2006. Vol. 37 (5). hlm. 16–21. doi:10.1051/epn:2006502.
  4. M. Freer. The Euroschool on Exotic Beams: Lecture Notes in Physics. Springer. 2014. Vol. 4. hlm. 1–37. doi:10.1007/978-3-642-45141-6. ISBN 978-3-642-45140-9.
  5. B. Zhou. Nonlocalized clustering in nuclei. Advances in Physics. 2017. Vol. 2 (2). hlm. 359–372. doi:10.1080/23746149.2017.1294033.
  6. A. Coc. The triple-alpha reaction and the A = 8 gap in BBN and Population III stars. Memorie della Società Astronomica Italiana. 2014. Vol. 85. hlm. 124–129.
  7. J. L. Feng. Evidence for a protophobic fifth force from 8 Be nuclear transitions. Physical Review Letters. 2016. Vol. 117 (7). doi:10.1103/PhysRevLett.117.071803.
  8. A. Coc. The triple-alpha reaction and the A = 8 gap in BBN and Population III stars. Memorie della Società Astronomica Italiana. 2014. Vol. 85. hlm. 124–129.
  9. K. Landsman. The Fine-Tuning Argument. 2015.
  10. E. J. Öpik. Stellar Models with Variable Composition. II. Sequences of Models with Energy Generation Proportional to the Fifteenth Power of Temperature. Proceedings of the Royal Irish Academy, Section A. 1951. Vol. 54. hlm. 49–77.
  11. E. E. Salpeter. Nuclear Reactions in the Stars. I. Proton-Proton Chain". Physical Review. 1952. Vol. 88 (3). hlm. 547–553. doi:10.1103/PhysRev.88.547.
  12. J. Piekarewicz. The Birth, Life, and Death of Stars. Florida State University. 2014.
  13. H. Sadeghi. Two-helium radiative capture process and the 8 Be nucleus at settler energies. Astrophysics and Space Science. 2014. Vol. 350 (2). hlm. 707–712. doi:10.1007/s10509-014-1806-1.
  14. E. Inglis-Arkell. This Unbelievable Coincidence Is Responsible For Life In The Universe. Gizmodo. 8 Juni 2015.
  15. F. C. Adams. Stellar helium burning in other universes: A solution to the triple alpha fine-tuning problem. Astroparticle Physics. 2017. Vol. 7. hlm. 40–54. doi:10.1016/j.astropartphys.2016.12.002.
  16. Hoyle, F. (1954). "On Nuclear Reactions Occurring in Very Hot STARS. I. the Synthesis of Elements from Carbon to Nickel". Astrophysical Journal Supplement. 1: 121–146,
  17. E. Epelbaum. 'Ab initio calculation of the Hoyle state. Physical Review Letters. 2011. Vol. 106 (19). hlm. 192501–1–192501–4. doi:10.1103/PhysRevLett.106.192501.
  18. David Jenkins. The secret of life. Physics World. 7 Februari 2013.
  19. F. C. Adams. Stellar helium burning in other universes: A solution to the triple alpha fine-tuning problem. Astroparticle Physics. 2017. Vol. 7. hlm. 40–54. doi:10.1016/j.astropartphys.2016.12.002.
  20. E. Epelbaum. 'Ab initio calculation of the Hoyle state. Physical Review Letters. 2011. Vol. 106 (19). hlm. 192501–1–192501–4. doi:10.1103/PhysRevLett.106.192501.
  21. A. Coc. Variation of fundamental constants and the role of A = 5 and A = 8 nuclei on primordial nucleosynthesis. Physical Review D. 2012. Vol. 86 (4). doi:10.1103/PhysRevD.86.043529.
  22. A. Coc. The triple-alpha reaction and the A = 8 gap in BBN and Population III stars. Memorie della Società Astronomica Italiana. 2014. Vol. 85. hlm. 124–129.
  23. F. C. Adams. Stellar helium burning in other universes: A solution to the triple alpha fine-tuning problem. Astroparticle Physics. 2017. Vol. 7. hlm. 40–54. doi:10.1016/j.astropartphys.2016.12.002.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29482901 (2026-07-21T11:47:05Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.