Lompat ke isi

Definisi: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29390388; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Definisi''' merupakan suatu batasan atau [[arti]], bisa juga dimaknai [[kata]], [[frasa]], atau [[kalimat]] yang mengungkapkan [[makna]], [[keterangan]], atau ciri utama dari [[orang]], benda, [[proses]], atau aktivitas. Dalam [[Kamus Besar Bahasa Indonesia]], definisi ialah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu [[Indonesia|konsep]] yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.
[[File:Blacks-Law-Dictionary.jpg|thumb|right|280px|Kamus hukum Hitam yang memuat definisi]]


Definisi juga diartikan sebagai uraian pengertian yang berfungsi membatasi [[objek]], [[konsep]], dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian. Definisi merupakan usaha para [[ilmuwan]] untuk membatasi [[fakta]] dan [[konsep]]. Definisi secara leksikal berarti membatasi. Dalam logika formal maupun informal, definisi diperlukan untuk menjelaskan cara pemakaian istilah-istilah kunci. Dalam bidang komputer, definisi (''definition'') merupakan ''property'' atau pemberitahuan bersifat objek dan sekaligus mengalokasikan memori terhadap objek.
'''Definisi''' merupakan suatu batasan atau [[arti]], bisa juga dimaknai [[kata]], [[frasa]], atau [[kalimat]] yang mengungkapkan [[makna]], [[keterangan]], atau ciri utama dari [[orang]], benda, [[proses]], atau aktivitas.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Dalam [[Kamus Besar Bahasa Indonesia]], definisi ialah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu [[Indonesia|konsep]] yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.<ref>Departemen Pendidikan Nasional(2008);''Kamus Besar Bahasa Indonesia''. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 303. Cet Pertama Edisi IV</ref>
 
Definisi juga diartikan sebagai uraian pengertian yang berfungsi membatasi [[objek]], [[konsep]], dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Definisi merupakan usaha para [[ilmuwan]] untuk membatasi [[fakta]] dan [[konsep]].<ref>Parera, J.D.(2004);''Teori Semantik''.Jakarta:Penerbit Erlangga.Hal 200- Cet. 2</ref> Definisi secara leksikal berarti membatasi. Dalam logika formal maupun informal, definisi diperlukan untuk menjelaskan cara pemakaian istilah-istilah kunci.<ref>Nani Widiawati. [http://digilib.uinsgd.ac.id/39937/ Pengantar Logika: Sebuah penelusuran jejak awal]. Pustaka Ellios. Februari 2021. hlm. 112. ISBN 978-602-60842-0-0.</ref> Dalam bidang komputer, definisi (''definition'') merupakan ''property'' atau pemberitahuan bersifat objek dan sekaligus mengalokasikan memori terhadap objek.<ref>Mushthofa. [http://setditjen.dikdasmen.kemdikbud.go.id/eppa/unggah/unduhan/INFORMATIKA-BS-KLS_X/pdf Informatika untuk SMA Kelas X]. Pusat Kurikulum dan Perbukuan. 2021. hlm. 245. ISBN 978-602-244-506-7.</ref>


== Ciri-ciri definisi ==
== Ciri-ciri definisi ==
Suatu arti/makna kata tidak bisa langsung disebut sebagai definisi, karena definisi mempunyai ciri-ciri khusus.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Adapun arti/makna kata bisa diartikan sebagai definisi jika terdapat unsur [[kata]] atau istilah yang didefinisikan, atau lazim disebut ''definiendum''.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Selanjutnya, di dalam arti tersebut harus terdapat unsur kata, [[frasa]], atau [[kalimat]] yang berfungsi menguraikan pengertian, lazim disebut definiens, dan tentunya juga harus ada pilihan katanya.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Suatu arti/makna kata tidak bisa langsung disebut sebagai definisi, karena definisi mempunyai ciri-ciri khusus. Adapun arti/makna kata bisa diartikan sebagai definisi jika terdapat unsur [[kata]] atau istilah yang didefinisikan, atau lazim disebut ''definiendum''. Selanjutnya, di dalam arti tersebut harus terdapat unsur kata, [[frasa]], atau [[kalimat]] yang berfungsi menguraikan pengertian, lazim disebut definiens, dan tentunya juga harus ada pilihan katanya.
Pilihan kata tersebut ialah di mana definiens dimulai dengan [[kata benda]], didahului [[kata]] ''ada-lah''.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Misalnya kalimat ''[[Cinta]] adalah perasaan [[setia]], bangga, dan prihatin'' dan kalimat ''Mahasiswa adalah pelajar di [[perguruan tinggi]].''<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>
 
Pilihan kata tersebut ialah di mana definiens dimulai dengan [[kata benda]], didahului [[kata]] ''ada-lah''. Misalnya kalimat ''[[Cinta]] adalah perasaan [[setia]], bangga, dan prihatin'' dan kalimat ''Mahasiswa adalah pelajar di [[perguruan tinggi]].''


Yang kedua, definiens dimulai dengan selain [[kata benda]] umpamanya [[kata kerja]] atau didahului kata ''yaitu''. Sebagai contoh ''[[Setia]] yaitu merasa terdorong untuk mengakui, memahami, menerima, menghargai, menghormati, mematuhi, dan melestarikan''. Kemudian, definiens juga diharuskan memberi pengertian rupa atau wujud diawali kata ''merupakan'', seperti kalimat ''Mencintai merupakan tindakan terpuji untuk mengakhiri konflik.''
Yang kedua, definiens dimulai dengan selain [[kata benda]] umpamanya [[kata kerja]] atau didahului kata ''yaitu''.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Sebagai contoh ''[[Setia]] yaitu merasa terdorong untuk mengakui, memahami, menerima, menghargai, menghormati, mematuhi, dan melestarikan''.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Kemudian, definiens juga diharuskan memberi pengertian rupa atau wujud diawali kata ''merupakan'', seperti kalimat ''Mencintai merupakan tindakan terpuji untuk mengakhiri konflik.''<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Adapun yang terakhir ialah bahwa ''definiens'' merupakan sebuah [[sinonim]] yang didahului kata ''ialah''. Misalnya ''Pria ialah laki-laki.''
Adapun yang terakhir ialah bahwa ''definiens'' merupakan sebuah [[sinonim]] yang didahului kata ''ialah''.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Misalnya ''Pria ialah laki-laki.''<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


== Klasifikasi ==
== Klasifikasi ==
=== Definisi nominal ===
=== Definisi nominal ===
Definisi [[nominal]] berupa pengertian singkat. Definiens pada definisi jenis ini terbagi menjadi ada tiga macam.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Pertama, [[sinonim]] atau padanan, seperti kata '''manusia''' yang bersinonim dengan kata '''orang''', maka jika ditulis hasilnya adalah ''Manusia]] ialah [[orang]].''<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Selanjutnya terkait dengan [[terjemahan]] dari bahasa lain, contohnya ''Kinerja ialah performance''.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Asal-usul sebuah kata dalam definisi nominal juga merupakan hal yang penting, contoh: ''[[Psikologi]] berasal dari kata "psyche" berarti [[jiwa]], dan "logos" berarti [[ilmu]], [[psikologi]] ialah ilmu jiwa.''<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Definisi [[nominal]] berupa pengertian singkat. Definiens pada definisi jenis ini terbagi menjadi ada tiga macam. Pertama, [[sinonim]] atau padanan, seperti kata '''manusia''' yang bersinonim dengan kata '''orang''', maka jika ditulis hasilnya adalah ''Manusia]] ialah [[orang]].'' Selanjutnya terkait dengan [[terjemahan]] dari bahasa lain, contohnya ''Kinerja ialah performance''. Asal-usul sebuah kata dalam definisi nominal juga merupakan hal yang penting, contoh: ''[[Psikologi]] berasal dari kata "psyche" berarti [[jiwa]], dan "logos" berarti [[ilmu]], [[psikologi]] ialah ilmu jiwa.''
Definisi nominal menjelaskan suatu kata dengan kata lain yang umum dimengerti. Defisi nominal terutama dipakai pada permulaan suatu pembicaraan atau diskusi. Terdapat enam jenis definisi nominal, yaitu definisi sinonim, definisi simbolik, definisi etimologi, definisi semantik, definisi stipulatif, dan definisi denotatif.<ref>Bambang Kusbandrijo. [https://books.google.com/books?id=4oGWDwAAQBAJ&newbks=0&printsec=frontcover&dq=Dasar+-+Dasar+Logika&hl=en Dasar - Dasar Logika]. Prenada Media. Oktober 2016. hlm. 64. ISBN 978-602-422-788-3.</ref> Definisi stipulatif merupakan definisi yang digunakan ketika menentukan pemakaian istilah. Definisi stipulatif harus dinilai bukan sebagai benar atau salah melainkan sebagai berguna atau tidak berguna. Definisi ini menentukan arti yang akan digunakan untuk istilah tersebut dalam arti lain menciptakan kosakata teknis. Bisa juga disebut sebagai definisi klarifikasi yang menetapkan mana lebih jelas untuk istilah yang tidak jelas. Misalnya, pengadilan yang menetapkan definisi lebih tepat tentang “kematian” untuk menyelesaikan sengketa hukum tertentu.<ref>Harry J. Gensler. [https://archive.org/details/introductiontolo0000gens Introduction to Logic]. Routledge. 2010. hlm. [https://archive.org/details/introductiontolo0000gens/page/41 41]. ISBN 978-0-203-85500-3.</ref>
 
Definisi nominal menjelaskan suatu kata dengan kata lain yang umum dimengerti. Defisi nominal terutama dipakai pada permulaan suatu pembicaraan atau diskusi. Terdapat enam jenis definisi nominal, yaitu definisi sinonim, definisi simbolik, definisi etimologi, definisi semantik, definisi stipulatif, dan definisi denotatif. Definisi stipulatif merupakan definisi yang digunakan ketika menentukan pemakaian istilah. Definisi stipulatif harus dinilai bukan sebagai benar atau salah melainkan sebagai berguna atau tidak berguna. Definisi ini menentukan arti yang akan digunakan untuk istilah tersebut dalam arti lain menciptakan kosakata teknis. Bisa juga disebut sebagai definisi klarifikasi yang menetapkan mana lebih jelas untuk istilah yang tidak jelas. Misalnya, pengadilan yang menetapkan definisi lebih tepat tentang “kematian” untuk menyelesaikan sengketa hukum tertentu.


=== Definisi formal ===
=== Definisi formal ===
Definisi formal disebut juga definisi terminologis, yaitu definisi yang disusun berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur. Struktur definisi ini berupa "kelas", "genus", "pembeda" (deferensiasi). Ketiga unsur tersebut harus tampak dalam definiens. [[Struktur]] formal diawali dengan klarifikasi, diikuti dengan menentukan [[kata]] yang akan dijadikan definiendium, dilanjutkan dengan menyebut [[genus]], dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau deskripsi pembeda. Pembeda harus lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar menunjukkan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari [[kelas]] yang lain. Contoh kalimat yang merupakan definisi formal adalah ''[[Mahasiswa]] adalah [[pelajar]] di [[perguruan tinggi]].''
Definisi formal disebut juga definisi terminologis, yaitu definisi yang disusun berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Struktur definisi ini berupa "kelas", "genus", "pembeda" (deferensiasi).<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Ketiga unsur tersebut harus tampak dalam definiens.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> [[Struktur]] formal diawali dengan klarifikasi, diikuti dengan menentukan [[kata]] yang akan dijadikan definiendium, dilanjutkan dengan menyebut [[genus]], dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau deskripsi pembeda.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Pembeda harus lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar menunjukkan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari [[kelas]] yang lain.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Contoh kalimat yang merupakan definisi formal adalah ''[[Mahasiswa]] adalah [[pelajar]] di [[perguruan tinggi]].''<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Definisi formal mempunyai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar sesuai dengan aturan yang ada. Di antaranya, definiendium dan definiens bersifat koterminus, mempunyai [[makna]] yang sama. Kemudian, definiendium dan definiens bersifat konvertabel, dapat ditukarkan tempatnya dan definiens tidak berupa [[sinonim]], padanan, [[terjemahan]], [[etimologi]], bentuk populer, atau pengulangan definiendium. Perbandingannya:
Definisi formal mempunyai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar sesuai dengan aturan yang ada.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Di antaranya, definiendium dan definiens bersifat koterminus, mempunyai [[makna]] yang sama.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Kemudian, definiendium dan definiens bersifat konvertabel, dapat ditukarkan tempatnya dan definiens tidak berupa [[sinonim]], padanan, [[terjemahan]], [[etimologi]], bentuk populer, atau pengulangan definiendium.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Perbandingannya:
* Manusia adalah [[orang]] yang berakal budi (salah)
* Manusia adalah [[orang]] yang berakal budi (salah)
* Manusia adalah insan yang berakal budi (salah)
* Manusia adalah insan yang berakal budi (salah)
* Manusia adalah ciptaan [[Tuhan]] yang paling [[sempurna]] (benar)
* Manusia adalah ciptaan [[Tuhan]] yang paling [[sempurna]] (benar)


Selanjutnya ''definiens'' bukanlah kiasan, [[perumpamaan]], atau pengandaian. Contonya kalimat ''[[Manusia]] adalah bagaikan [[hewan]] yang tidak pernah merasa puas'' (salah), kata '''bagaikan''' dalam kalimat ini merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan dalam definisi formal. Contoh yang benar berada dalam kalimat ''[[Manusia]] adalah ciptaan [[Tuhan]] yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya''.
Selanjutnya ''definiens'' bukanlah kiasan, [[perumpamaan]], atau pengandaian.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Contonya kalimat ''[[Manusia]] adalah bagaikan [[hewan]] yang tidak pernah merasa puas'' (salah), kata '''bagaikan''' dalam kalimat ini merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan dalam definisi formal.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Contoh yang benar berada dalam kalimat ''[[Manusia]] adalah ciptaan [[Tuhan]] yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya''.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Syarat berikutnya yaitu definiens menggunakan makna paralel dengan definiendium, tidak menggunakan kata dimana, yang mana, jika, misalnya, dan lain-lain, definiens juga harus menggunakan bentuk positif, bukan kalimat negatif; tanpa kata negatif; tidak, bukan. Misalnya bentuk kalimat negatif ''Pendidikan kewarganegaraan "tidak lain" adalah pembinaan [[pelajar]] agar menjadi warga [[negara]] yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam masyarakat, baik sebagai anggota [[keluarga]], [[masyarakat]], maupun warga [[negara]]'', sedang yang benar adalah ''Pendidikan [[kewarganegaraan]] adalah pembinaan [[pelajar]] agar menjadi warga [[negara]] yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam [[keluarga]], [[masyarakat]], dan [[negara]]''.
Syarat berikutnya yaitu definiens menggunakan makna paralel dengan definiendium, tidak menggunakan kata dimana, yang mana, jika, misalnya, dan lain-lain, definiens juga harus menggunakan bentuk positif, bukan kalimat negatif; tanpa kata negatif; tidak, bukan.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Misalnya bentuk kalimat negatif ''Pendidikan kewarganegaraan "tidak lain" adalah pembinaan [[pelajar]] agar menjadi warga [[negara]] yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam masyarakat, baik sebagai anggota [[keluarga]], [[masyarakat]], maupun warga [[negara]]'', sedang yang benar adalah ''Pendidikan [[kewarganegaraan]] adalah pembinaan [[pelajar]] agar menjadi warga [[negara]] yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam [[keluarga]], [[masyarakat]], dan [[negara]]''.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Lagi, pembeda (deferiansi)pada definiens harus mencukupi sehingga menghasilkan [[makna]] yang tidak bisa (samar)dengan [[kelas]] yang lain.
Lagi, pembeda (deferiansi)pada definiens harus mencukupi sehingga menghasilkan [[makna]] yang tidak bisa (samar)dengan [[kelas]] yang lain.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


=== Definisi Riil ===
=== Definisi Riil ===
Definisi nominal bukanlah definisi dalam arti sesungguhnya, maka perlu penjelasan tentang konsep dengan cara menyebutkan unsur-unsur pokok atau ciri-ciri utama konsep yang disebut dengan definisi riil. Definisi yang termasuk ke dalam definisi riil yaitu: ''definisi hakiki'', definisi yang menyebutkan ''genus proximum'' dan pembeda spesifiknya; ''definisi gambaran'', definisi yang dibuat dengan menyebutkan semua ciri konsep yang dimaksud; ''definisi sebab-akibat'', definisi yang dibuat dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Contoh: Banjir adalah bencana alam yang terjadi karena meluapnya air sungai; ''definisi tujuan'', definisi yang dibuat dengan menyebutkan tujuan. Contoh: Komputer adalah teknologi cnggih yang digunakan untuk menyimpan dan mengolah data.
Definisi nominal bukanlah definisi dalam arti sesungguhnya, maka perlu penjelasan tentang konsep dengan cara menyebutkan unsur-unsur pokok atau ciri-ciri utama konsep yang disebut dengan definisi riil. Definisi yang termasuk ke dalam definisi riil yaitu: ''definisi hakiki'', definisi yang menyebutkan ''genus proximum'' dan pembeda spesifiknya; ''definisi gambaran'', definisi yang dibuat dengan menyebutkan semua ciri konsep yang dimaksud; ''definisi sebab-akibat'', definisi yang dibuat dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Contoh: Banjir adalah bencana alam yang terjadi karena meluapnya air sungai; ''definisi tujuan'', definisi yang dibuat dengan menyebutkan tujuan. Contoh: Komputer adalah teknologi cnggih yang digunakan untuk menyimpan dan mengolah data.<ref>B. Arief Sidharta. ''Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah''. Refika Aditama. 2010. hlm. 25. ISBN 979-1073-49-X.</ref>


=== Definisi operasional ===
=== Definisi operasional ===
Definisi operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya [[penelitian]].<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Oleh karena itu, definisi ini disebut juga definisi [[kerja]] karena dijadikan pedoman untuk melaksanakan suatu [[penelitian]] atau pekerjaan tertentu.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Definisi ini disebut juga definisi subjektif karena disusun berdasarkan keinginan [[orang]] yang akan melakukan pekerjaan.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Definisi operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya [[penelitian]]. Oleh karena itu, definisi ini disebut juga definisi [[kerja]] karena dijadikan pedoman untuk melaksanakan suatu [[penelitian]] atau pekerjaan tertentu. Definisi ini disebut juga definisi subjektif karena disusun berdasarkan keinginan [[orang]] yang akan melakukan pekerjaan.
Yang merupakan ciri-ciri definisi operasional ialah mengacu pada target pekerjaan yang dicapai, berisi pembatasan [[konsep]], tempat, dan [[waktu]], dan bersifat aksi, tindakan, atau pelaksanaan suatu kegiatan.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>
 
Yang merupakan ciri-ciri definisi operasional ialah mengacu pada target pekerjaan yang dicapai, berisi pembatasan [[konsep]], tempat, dan [[waktu]], dan bersifat aksi, tindakan, atau pelaksanaan suatu kegiatan.


=== Definisi paradigmatis ===
=== Definisi paradigmatis ===
Definisi paradigmatis/personal bertujuan untuk memengaruhi [[pola]] berpikir [[orang]]lain.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Definisi jenis ini disusun berdasarkan pendapatan [[nilai]]-nilai tertentu.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Definisi paradigmatis/personal bertujuan untuk memengaruhi [[pola]] berpikir [[orang]]lain. Definisi jenis ini disusun berdasarkan pendapatan [[nilai]]-nilai tertentu.
Ada empat ciri-ciri definisi paradigmatis, yakni; disusun berdasarkan [[paradigma]] (pola pikir) nilai-nila tertentu, berfungsi untuk memengaruhi sikap, perilaku, atau tindakan [[orang]] lain, bertujuan agar pembaca mengubah sikap sesuai dengan definisi, berhubungan dengan [[nilai]]-nilai tertentu, misalnya: [[bisnis]], [[etika]], [[budaya]], ajaran, [[falsafah]], [[tradisi]], [[adat istiadat]], pandangan hidup.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Ada empat ciri-ciri definisi paradigmatis, yakni; disusun berdasarkan [[paradigma]] (pola pikir) nilai-nila tertentu, berfungsi untuk memengaruhi sikap, perilaku, atau tindakan [[orang]] lain, bertujuan agar pembaca mengubah sikap sesuai dengan definisi, berhubungan dengan [[nilai]]-nilai tertentu, misalnya: [[bisnis]], [[etika]], [[budaya]], ajaran, [[falsafah]], [[tradisi]], [[adat istiadat]], pandangan hidup.
Adapun fungsi definisi paradigmatis dapat dikategorikan menjadi empat bagian: pertama, untuk mengembangkan [[pola]] berpikir; kedua, memengaruhi sikap pembaca atau pendengar; ketiga, mendukung [[argumentasi]] atau pembuktikan dan memberikan [[efek]] persuasif.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>
 
Adapun fungsi definisi paradigmatis dapat dikategorikan menjadi empat bagian: pertama, untuk mengembangkan [[pola]] berpikir; kedua, memengaruhi sikap pembaca atau pendengar; ketiga, mendukung [[argumentasi]] atau pembuktikan dan memberikan [[efek]] persuasif.


=== Definisi luas ===
=== Definisi luas ===
Definisi [[luas]] adalah batasan pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri atas satu [[paragraf]].<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref> Definisi ini diperlukan pada [[konsep]] yang rumit yang tidak dapat dijelaskan dengan [[kalimat]] pendek.<ref>Rahayu, Minto (2009).''Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi''.Jakarta:PT Grasindo .Hal 73</ref>


Definisi [[luas]] adalah batasan pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri atas satu [[paragraf]]. Definisi ini diperlukan pada [[konsep]] yang rumit yang tidak dapat dijelaskan dengan [[kalimat]] pendek.
Ciri-cirinya adalah dalam definisi tersebut hanya berisi satu [[gagasan]] yang merupakan definiendium, tidak menggunakan kata kias, setiap kata dapat dibuktikan atau diukur kebenarannya, dan menggunakan [[penalaran]] yang jelas.<ref>Widjono (2007); ''Bahasa Indonesia'', Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2</ref>


Ciri-cirinya adalah dalam definisi tersebut hanya berisi satu [[gagasan]] yang merupakan definiendium, tidak menggunakan kata kias, setiap kata dapat dibuktikan atau diukur kebenarannya, dan menggunakan [[penalaran]] yang jelas.
Contohnya dalam kalimat berikut ''[[Konsep]] ketahanan [[nasional]] tidak dapat hanya didefinisikan dengan kemampuan dinamik suatu [[bangsa]] yang berisikan keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan [[nasional]] dalam menghadapi [[ancaman]], [[gangguan]], hambatan, dan tantangan dari luar maupun dalam, langsung tidak langsung yang membahayakan identitas, integritas, kelangsungan hidup [[bangsa]] dan [[negara]] untuk mencapai tujuan [[nasional]]''.<ref>Rahayu, Minto (2009).''Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi''.Jakarta:PT Grasindo .Hal 73</ref> Karena itu [[konsep]] tersebut harus diberi definisi luas agar diketahui perkembangan [[konsep]], unsur-unsurnya, pengembangannya di dalam semua aspek kehidupan [[bangsa]] dan [[negara]].<ref>Rahayu, Minto (2009).''Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi''.Jakarta:PT Grasindo .Hal 73</ref>
 
Contohnya dalam kalimat berikut ''[[Konsep]] ketahanan [[nasional]] tidak dapat hanya didefinisikan dengan kemampuan dinamik suatu [[bangsa]] yang berisikan keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan [[nasional]] dalam menghadapi [[ancaman]], [[gangguan]], hambatan, dan tantangan dari luar maupun dalam, langsung tidak langsung yang membahayakan identitas, integritas, kelangsungan hidup [[bangsa]] dan [[negara]] untuk mencapai tujuan [[nasional]]''. Karena itu [[konsep]] tersebut harus diberi definisi luas agar diketahui perkembangan [[konsep]], unsur-unsurnya, pengembangannya di dalam semua aspek kehidupan [[bangsa]] dan [[negara]].


== Teknik-Teknik menyusun definisi ==
== Teknik-Teknik menyusun definisi ==
 
Teknik-teknik menyusun definisi bisa dikualifikasikan berdasarkan dua macam [[arti]], yakni [[arti]] intensional dan [[arti]] ekstensional.<ref>Raga Maran, Rafael(2007).''Pengantar Logika''.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48</ref>
Teknik-teknik menyusun definisi bisa dikualifikasikan berdasarkan dua macam [[arti]], yakni [[arti]] intensional dan [[arti]] ekstensional.


=== Definisi ekstensional atau denotatif ===
=== Definisi ekstensional atau denotatif ===
 
Dengan menunjukkan [[kelas]] yang ditunjukan oleh ''definiendium'', maka suatu definisi ekstensional akan bisa menetapkan [[arti]] dari suatu kata. Paling tidak ada tiga cara menunjukkan anggota-anggota dari suatu kelas, yaitu menunjuk pada mereka, menamai mereka secara [[individu]]al, menamai mereka menurut [[kelompok]]. Misalnya kalimat ''[[Kursi]] adalah ini dan ini dan ini- seraya Anda menunjuk ke arah sejumlah [[kursi]] satu per satu.''<ref>Raga Maran, Rafael(2007).''Pengantar Logika''.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48</ref>
Dengan menunjukkan [[kelas]] yang ditunjukan oleh ''definiendium'', maka suatu definisi ekstensional akan bisa menetapkan [[arti]] dari suatu kata. Paling tidak ada tiga cara menunjukkan anggota-anggota dari suatu kelas, yaitu menunjuk pada mereka, menamai mereka secara [[individu]]al, menamai mereka menurut [[kelompok]]. Misalnya kalimat ''[[Kursi]] adalah ini dan ini dan ini- seraya Anda menunjuk ke arah sejumlah [[kursi]] satu per satu.''


==== Definisi dengan contoh ====
==== Definisi dengan contoh ====
Cara yang paling jelas untuk mendefinisikan suatu kata adalah untuk mengidentifikasi objek yang ditunjukan oleh kata yang didefinisikan. Teknik ini memiliki batas yang sangat banyak. Tidak mungkin untuk menyebutkan seluruh objek yang terkait, maka permasalahannya adalah definisi untuk istilah yang umum menjadi tidak pasti. Teknik denotatif mendefinisikan suatu kata dengan menyebutkan contoh yang diketahui yang dipakai oleh kata tersebut. Misal, burung adalah sesuatu seperti angsa, ayam, dan elang. Biasanya, meskipun contoh yang diberikan tidak lengkap, pembaca dibiarkan menyimpulkan [[konotasi]] yang mendasarinya dengan mengabstraksikan konsep sehingga contoh yang sebelumnya tidak dituliskan dapat diklasifikasikan.
Cara yang paling jelas untuk mendefinisikan suatu kata adalah untuk mengidentifikasi objek yang ditunjukan oleh kata yang didefinisikan. Teknik ini memiliki batas yang sangat banyak. Tidak mungkin untuk menyebutkan seluruh objek yang terkait, maka permasalahannya adalah definisi untuk istilah yang umum menjadi tidak pasti. Teknik denotatif mendefinisikan suatu kata dengan menyebutkan contoh yang diketahui yang dipakai oleh kata tersebut. Misal, burung adalah sesuatu seperti angsa, ayam, dan elang. Biasanya, meskipun contoh yang diberikan tidak lengkap, pembaca dibiarkan menyimpulkan [[konotasi]] yang mendasarinya dengan mengabstraksikan konsep sehingga contoh yang sebelumnya tidak dituliskan dapat diklasifikasikan.<ref>Anne M. Cregan. [https://dl.acm.org/doi/pdf/10.5555/1151936.1151939 Towards a Science of Definition]. ''Proceedings of the 2005 Australasian Ontology Workshop''. 2005. Vol. 58. hlm. 25-32.</ref>


==== Definisi ostensif ====
==== Definisi ostensif ====
Definisi ostensif disebut juga dengan definisi demonstratif. Definisi ostensif dilakukan dengan cara melakukan kontak langsung (menunjuk atau gestur lainnya) terhadap objek dari kata yang didefinisikan. Misal, kata "meja" adalah ''ini,'' disertai gerakan menunjuk meja. Definisi ini memiliki batasan lebih awal, gestur memiliki batasan geografis sebab hanya dapat mengindikasikan apa yang terlihat. Kata "laut" tidak dapat didefinisikan di ruang kelas. Hal lainnya, gestur akan selamanya ambigu, untuk menunjuk suatu objek, meja misalnya, seluruh karakter yang dimiliki objek tersebut akan ikut tertunjuk, ukuran, warna, bentuk, dan materi.
Definisi ostensif disebut juga dengan definisi demonstratif.<ref>Irving M. Copi. [https://archive.org/details/introductiontolo0014copi Introduction to Logic]. Pearson Education Limited. 2014. hlm. [https://archive.org/details/introductiontolo0014copi/page/115 115]. ISBN 978-1-292-02482-0.</ref> Definisi ostensif dilakukan dengan cara melakukan kontak langsung (menunjuk atau gestur lainnya) terhadap objek dari kata yang didefinisikan. Misal, kata "meja" adalah ''ini,'' disertai gerakan menunjuk meja.<ref>Irwin Goldstein. [http://dx.doi.org/10.2307/2108470 Ontology, Epistemology, and Private Ostensive Definition]. ''Philosophy and Phenomenological Research''. 1996-03. Vol. 56 (1). hlm. 137. doi:10.2307/2108470.</ref> Definisi ini memiliki batasan lebih awal, gestur memiliki batasan geografis sebab hanya dapat mengindikasikan apa yang terlihat. Kata "laut" tidak dapat didefinisikan di ruang kelas. Hal lainnya, gestur akan selamanya ambigu, untuk menunjuk suatu objek, meja misalnya, seluruh karakter yang dimiliki objek tersebut akan ikut tertunjuk, ukuran, warna, bentuk, dan materi.


==== Definisi kuasi-ostensif ====
==== Definisi kuasi-ostensif ====
Definisi ostensif dapat menimbulkan keambiguan terhadap objek yang ditunjuknya, hal ini terkadang dapat diatasi dengan menambahkan penjelasan deskriptif untuk kata yang didefinisikan. Teknik ini disebut dengan kuasi-ostensif. Definisi kuasi-ostensif atau definisi semi denotatif meliputi hal yang lebih dari indikasi non verbal dari kata yang akan didefinisikan.
Definisi ostensif dapat menimbulkan keambiguan terhadap objek yang ditunjuknya, hal ini terkadang dapat diatasi dengan menambahkan penjelasan deskriptif untuk kata yang didefinisikan. Teknik ini disebut dengan kuasi-ostensif.<ref>Susan Thomas. [http://dl.gi.de/handle/20.500.12116/28291 The Importance of Being Earnest About Definitions]. Gesellschaft für Informatik e.V. 2005. hlm. 560-577. ISBN 978-3-88579-394-6.</ref> Definisi kuasi-ostensif atau definisi semi denotatif meliputi hal yang lebih dari indikasi non verbal dari kata yang akan didefinisikan.<ref>Peter Caws. [https://www.journals.uchicago.edu/doi/abs/10.1086/287675 The Functions of Definition in Science]. ''Philosophy of Science''. 1959-07-01. Vol. 26 (3). hlm. 201–228. doi:10.1086/287675.</ref>


=== Definisi intensional ===
=== Definisi intensional ===
 
Suatu definisi menentukan arti suatu [[kata]] dengan menunjukkan [[kualitas]]-[[kualitas]] atau ciri-ciri yang terkandung dalam [[kata]] itu.<ref>Raga Maran, Rafael(2007).''Pengantar Logika''.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48</ref> Sebagai contoh kalimat ''[[Es]] adalah [[air]] yang membeku''.<ref>Raga Maran, Rafael(2007).''Pengantar Logika''.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48</ref>
Suatu definisi menentukan arti suatu [[kata]] dengan menunjukkan [[kualitas]]-[[kualitas]] atau ciri-ciri yang terkandung dalam [[kata]] itu. Sebagai contoh kalimat ''[[Es]] adalah [[air]] yang membeku''.


==== Definisi sinonim ====
==== Definisi sinonim ====
Definisi sinonim memberikan kata lain yang artinya sudah dipahami dan memiliki arti sama dengan kata yang didefinisikan. Sinonim berarti dua kata yang bermakna sama. Seseorang mempelajari kosakata bahasa asing dengan mempelajari definisi menggunakan sinonim. Tetap definisi sinonim sangat terbatas serta banyak kata yang tidak memiliki sinonim tepat. Definisi sinonim berbeda dengan definisi analitik yang memiliki gaya definisi lebih panjang. Masalah untuk definisi ini yaitu biasanya terdapat pada tantangan antara ''definien'' dan ''definiendum''. Untuk sinonim dengan bahasa asing, terkadang satu kata dapat berarti banyak untuk bahasa lainnya. Dengan demikian, definisi sinonim menjadi kurang efektif sebagai ekstensional dan sebagai definisi kognitif.
Definisi sinonim memberikan kata lain yang artinya sudah dipahami dan memiliki arti sama dengan kata yang didefinisikan. Sinonim berarti dua kata yang bermakna sama. Seseorang mempelajari kosakata bahasa asing dengan mempelajari definisi menggunakan sinonim. Tetap definisi sinonim sangat terbatas serta banyak kata yang tidak memiliki sinonim tepat. Definisi sinonim berbeda dengan definisi analitik yang memiliki gaya definisi lebih panjang.<ref>Dirk Geeraerts. [http://wwwling.arts.kuleuven.be/qlvl/PDFPublications/03Meaninganddefinition.pdf Meaning and Definition]. 2003. hlm. 5.</ref> Masalah untuk definisi ini yaitu biasanya terdapat pada tantangan antara ''definien'' dan ''definiendum''. Untuk sinonim dengan bahasa asing, terkadang satu kata dapat berarti banyak untuk bahasa lainnya. Dengan demikian, definisi sinonim menjadi kurang efektif sebagai ekstensional dan sebagai definisi kognitif.<ref>Nick Riemer. [http://f.javier.io/rep/books/Introducing.Semantics.pdf Introducing Semantics]. Cambridge University Press. 2010. hlm. 66. ISBN 978-0-511-67746-5.</ref>


==== Definisi operasional ====
==== Definisi operasional ====
Definisi operasional digunakan ketika mencoba menjelaskan maksud istilah dengan mengikat ''definiendum'' pada serangkaian operasi yang dapat digambarkan dengan jelas. Definisi operasional dari suatu istilah menyatakan bahwa istilah tersebut diterapkan secara benar pada suatu kasus [[jika dan hanya jika]] kinerja operasi tertentu dalam kasus tersebut membuat hasil yang ditentukan.
Definisi operasional digunakan ketika mencoba menjelaskan maksud istilah dengan mengikat ''definiendum'' pada serangkaian operasi yang dapat digambarkan dengan jelas. Definisi operasional dari suatu istilah menyatakan bahwa istilah tersebut diterapkan secara benar pada suatu kasus [[jika dan hanya jika]] kinerja operasi tertentu dalam kasus tersebut membuat hasil yang ditentukan.<ref>A’an Efendi. [https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=x_32DwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA1&dq=Logika+&+Argumentasi+Hukum&ots=BJhV6R0IQc&sig=lGTOCFqNz5oAhe2CbUhcaCmDqgA Logika & Argumentasi Hukum]. Prenada Media. 2020-08-01. hlm. 56. ISBN 978-623-218-515-9.</ref>


Definisi operasional pertama kali dipakai oleh P.W. Bridgeman dalam bukunya ''The Logic of Modern Physics''. Dalam bukunya, ia menjelaskan ketika berhadapan dengan kondisi di luar awal definisi dari suatu konsep, mungkin akan terdapat hambatan menentukan operasi definisi asli yang tepat sehingga operasi harus diganti. Operasi yang baru ditentukan sedemikian rupa hingga memberikan hasil yang sama. Pada prinsipnya dalam mengubah operasi berarti mengubah konsep. Misalnya, sejak Einstein mengeluarkan teori relativitas, ruang dan waktu tidak lagi didefinisikan secara abstrak seperti yang dilakukan Newton. Untuk mendefinisikan istilah seperti itu perlu dilakukan secara operasional, melalui operasi yang benar-benar dilakukan ketika mengukur jarak dan durasi. Nilai yang diberikan dapat didefinisikan secara operasional dengan mengacu pada hasil pengukuran.
Definisi operasional pertama kali dipakai oleh P.W. Bridgeman dalam bukunya ''The Logic of Modern Physics''. Dalam bukunya, ia menjelaskan ketika berhadapan dengan kondisi di luar awal definisi dari suatu konsep, mungkin akan terdapat hambatan menentukan operasi definisi asli yang tepat sehingga operasi harus diganti. Operasi yang baru ditentukan sedemikian rupa hingga memberikan hasil yang sama. Pada prinsipnya dalam mengubah operasi berarti mengubah konsep.<ref>Percy Williams Bridgman. [http://archive.org/details/logicofmodernphy00brid The Logic of Modern Physics]. Macmillan. 1927. hlm. 23.</ref> Misalnya, sejak Einstein mengeluarkan teori relativitas, ruang dan waktu tidak lagi didefinisikan secara abstrak seperti yang dilakukan Newton. Untuk mendefinisikan istilah seperti itu perlu dilakukan secara operasional, melalui operasi yang benar-benar dilakukan ketika mengukur jarak dan durasi. Nilai yang diberikan dapat didefinisikan secara operasional dengan mengacu pada hasil pengukuran.


Definisi operasional atau analisis operasional merupakan analisis ke dalam kejadian, berbeda dengan definisi yang lebih biasa untuk suatu objek. Definisi operasional tidak bersifat final dan meskipun tidak memberikan penjelasan yang lengkap, tetapi diperlukan sebab pemahaman tentang suatu situasi tidak akan lengkap kecuali dapa dianalisis dalam istilah operasional.
Definisi operasional atau analisis operasional merupakan analisis ke dalam kejadian, berbeda dengan definisi yang lebih biasa untuk suatu objek. Definisi operasional tidak bersifat final dan meskipun tidak memberikan penjelasan yang lengkap, tetapi diperlukan sebab pemahaman tentang suatu situasi tidak akan lengkap kecuali dapa dianalisis dalam istilah operasional.<ref>P. W. Bridgman. [https://www.jstor.org/stable/20026519 P. W. Bridgman's "The Logic of Modern Physics" after Thirty Years]. ''Daedalus''. 1959. Vol. 88 (3). hlm. 518–526.</ref>


==== Definisi ''genus'' dan ''difference'' ====
==== Definisi ''genus'' dan ''difference'' ====
Dari teknik-teknik definisi lain, yang paling berlaku luas serta paling umum digunakan adalah definisi dengan ''genus'' dan ''differentia''. Dengan menggunakan ''genus'' dan ''differentia'', definisi dapat menjadi lebih mudah dan sederhana. [[Aristoteles]] menyatakan bahwa definisi adalah ''“an account which signifies what it is to be for something”''. Untuk membuat definisi, Aristoteles menggunakan ''genus proximum'' dan ''differentia spesifica'', yang sesuai dengan konsep superordinat (generik) dan karakteristik pembatas. Secara umum, bukan individu yang memiliki esensi melainkan spesies. Suatu spesies didefinisikan dengan memberikan ''genus'' dan perbedaannya, genus adalah jenis kategori spesies tersebut berada dan perbedaan atau ''differentia'' menjelaskan apa yang menjadi ciri khas spesies dalam genus tertentu.
Dari teknik-teknik definisi lain, yang paling berlaku luas serta paling umum digunakan adalah definisi dengan ''genus'' dan ''differentia''. Dengan menggunakan ''genus'' dan ''differentia'', definisi dapat menjadi lebih mudah dan sederhana.<ref>Ahmad Fadly. [https://jurnal.umj.ac.id/index.php/penaliterasi/article/view/3501 Pengembangan Kamus Pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Dasar di Universitas Muhammadiyah Jakarta]. ''Pena Literasi''. 2018-12-17. Vol. 1 (2). hlm. 74–80. doi:10.24853/pl.1.2.74-80.</ref> [[Aristoteles]] menyatakan bahwa definisi adalah ''“an account which signifies what it is to be for something”''. Untuk membuat definisi, Aristoteles menggunakan ''genus proximum'' dan ''differentia spesifica'', yang sesuai dengan konsep superordinat (generik) dan karakteristik pembatas.<ref>Georg Löckinger. [https://id1lib.org/book/2568421/c34d17 Intensional Definitions]. ''Handbook of Terminology''. 2015. Vol. 1 (5). hlm. 60-81. doi:10.1075/hot.1. ISBN 978-90-272-6956-0.</ref> Secara umum, bukan individu yang memiliki esensi melainkan spesies. Suatu spesies didefinisikan dengan memberikan ''genus'' dan perbedaannya, genus adalah jenis kategori spesies tersebut berada dan perbedaan atau ''differentia'' menjelaskan apa yang menjadi ciri khas spesies dalam genus tertentu.<ref>Robin Smith. [https://plato.stanford.edu/archives/fall2020/entries/aristotle-logic/ Aristotle’s Logic]. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2020.</ref>


Bangsa/macam ''(nau’, species)'' ialah kelompok kesatuan yang mempunyai persamaan hakikat. Seperti yang dikelompokan dengan nama; manusia, lembu, kuda dan seterusnya. Satuan pada nama-nama tersebut adalah sama hakikatnya, yaitu hewan. Sedangkan jenis ''(Genus, Jins)'' ialah kelompok kesatuan yang berlainan hakikatnya. Seperti yang digolongkan dengan nama-nama “hewan” meliputi manusia, kuda, kera, dan seterusnya. Maka, hubungan ''genus'' dan ''species'' adalah ''genus'' meliputi ''species''. Pemisah atau ''differentia'' yaitu sifat yang membedakan satu ''species'' dengan ''species'' lainnya dalam satu ''genus'' yang sama. Seperti kata-kata “berakal” adalah ''differentia'' manusia yang membedakannya dari macam-macam satuan hewan lainnya. Definisi umum akan berlaku untuk semua hal tetapi tidak secara khusus untuk spesies apa pun. Genus harus memisahkan ''definiendum'' dari hal-hal pada umumnya dan ''differentia'' dari hal-hal lain yang dicakup oleh genus.
Bangsa/macam ''(nau’, species)'' ialah kelompok kesatuan yang mempunyai persamaan hakikat. Seperti yang dikelompokan dengan nama; manusia, lembu, kuda dan seterusnya. Satuan pada nama-nama tersebut adalah sama hakikatnya, yaitu hewan. Sedangkan jenis ''(Genus, Jins)'' ialah kelompok kesatuan yang berlainan hakikatnya. Seperti yang digolongkan dengan nama-nama “hewan” meliputi manusia, kuda, kera, dan seterusnya. Maka, hubungan ''genus'' dan ''species'' adalah ''genus'' meliputi ''species''. Pemisah atau ''differentia'' yaitu sifat yang membedakan satu ''species'' dengan ''species'' lainnya dalam satu ''genus'' yang sama. Seperti kata-kata “berakal” adalah ''differentia'' manusia yang membedakannya dari macam-macam satuan hewan lainnya.<ref>Nanih Machendrawaty. [http://digilib.uinsgd.ac.id/40192/1/Ilmu%20Mantik%20-%20Nanih%20Machendrawaty.pdf Ilmu Mantik Pintu Utama Berpikir Logis]. CV. Mimbar Pustaka. 2019. hlm. 65. ISBN 978-623-90521-5-7.</ref> Definisi umum akan berlaku untuk semua hal tetapi tidak secara khusus untuk spesies apa pun.<ref>A. C. Lloyd. [https://www.jstor.org/stable/4181700 Genus, Species and Ordered Series in Aristotle]. ''Phronesis''. 1962. Vol. 7 (1). hlm. 67–90.</ref> Genus harus memisahkan ''definiendum'' dari hal-hal pada umumnya dan ''differentia'' dari hal-hal lain yang dicakup oleh genus.<ref>Herbert Granger. [https://orb.binghamton.edu/sagp/106 Aristotle on Genus and Differentia in the Topics and Categories]. ''The Society for Ancient Greek Philosophy Newsletter''. 1983-08-01.</ref>


Ada pendapat yang mengatakan bahwa ''differentia'' menyatakan hal esensial dari suatu hal. Pada pemahaman seperti ini, genus harus dipisahkan dari ''differentia'' dengan menerapkan titik tolak dasar, yaitu bahwa genus memiliki cakupan lebih luas daripada ''differentia'', dalam menyatakan esensi dari suatu benda, lebih tepat untuk menyatakan genus daripada ''differentia'' karena memanggil seorang pria dengan “binatang” akan menunjukan esensi yang lebih baik daripada memanggilnya “pejalan kaki”, serta p''differentia'' selalu menunjukkan kualifikasi genus dan bukan sebaliknya.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa ''differentia'' menyatakan hal esensial dari suatu hal. Pada pemahaman seperti ini, genus harus dipisahkan dari ''differentia'' dengan menerapkan titik tolak dasar, yaitu bahwa genus memiliki cakupan lebih luas daripada ''differentia'', dalam menyatakan esensi dari suatu benda, lebih tepat untuk menyatakan genus daripada ''differentia'' karena memanggil seorang pria dengan “binatang” akan menunjukan esensi yang lebih baik daripada memanggilnya “pejalan kaki”, serta p''differentia'' selalu menunjukkan kualifikasi genus dan bukan sebaliknya.<ref>Lambertus Marie de Rijk. ''Aristotle Semantics and Ontology''. Brill. 2002. hlm. 522. ISBN 90-04-12324-5.</ref>


Definisi  menggunakan jenis dan pembeda terbagi menjadi empat macam: pertama, definisi sempurna ''(perfect definition)'', definisi yang menggunakan genus dekat dan ''differentia'' dekat. Misal, manusia adalah hewan yang berakal; kedua, definisi tidak sempurna ''(imperfect definition),'' definisi yang menggunakan genus jauh dan ''differentia'' dekat atau hanya menggunakan ''differentia''. Misal, Manusia adalah benda hidup yang berakal atau manusia adalah yang berakal; Ketiga, deskripsi sempurna, definisi yang menggunakan genus dan aksidental khusus. Contoh, manusia adalah hewan yang tertawa; Terakhir, deskripsi tidak sempurna, definisi yang hanya menggunakan aksiden khusus. Contoh, manusia adalah yang tertawa.
Definisi  menggunakan jenis dan pembeda terbagi menjadi empat macam: pertama, definisi sempurna ''(perfect definition)'', definisi yang menggunakan genus dekat dan ''differentia'' dekat. Misal, manusia adalah hewan yang berakal; kedua, definisi tidak sempurna ''(imperfect definition),'' definisi yang menggunakan genus jauh dan ''differentia'' dekat atau hanya menggunakan ''differentia''. Misal, Manusia adalah benda hidup yang berakal atau manusia adalah yang berakal; Ketiga, deskripsi sempurna, definisi yang menggunakan genus dan aksidental khusus. Contoh, manusia adalah hewan yang tertawa; Terakhir, deskripsi tidak sempurna, definisi yang hanya menggunakan aksiden khusus. Contoh, manusia adalah yang tertawa.<ref>Abdul Hadi Fadli. [https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=ioJxDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR7&dq=Logika+Praktis:+Teknik+Bernalar+Benar&ots=b7WMLEKXNM&sig=iul7i7Om7O-TJI8oy3KBxktNhQI Logika Praktis: Teknik Bernalar Benar]. Sadra Press. 2015-11-19. hlm. 47-49. ISBN 978-602-9261-53-0.</ref>


== Aturan Membuat Definisi ==
== Aturan Membuat Definisi ==
Membuat definisi yang baik menggunakan ''genus'' dan ''differentia'' bukanlah hal yang mudah, perlu pembeda spesifik yang paling tepat untuk kata yang didefinisikan. Agar definisi yang dibuat terhindar dari kekeliruan sehingga menghasilkan definisi yang tepat, maka perlu diperhatikan beberapa aturan-aturan berikut:
Membuat definisi yang baik menggunakan ''genus'' dan ''differentia'' bukanlah hal yang mudah, perlu pembeda spesifik yang paling tepat untuk kata yang didefinisikan. Agar definisi yang dibuat terhindar dari kekeliruan sehingga menghasilkan definisi yang tepat, maka perlu diperhatikan beberapa aturan-aturan berikut:


# Definisi harus menyatakan hal yang esensial dari kata yang didefinisikan. Untuk mendefinisikan suatu kata dengan perbedaannya, beberapa hal mungkin tidak diketahui secara umum meskipun merupakan maksud objektif dari kata tersebut, hal ini akan melanggar peraturan, sebab definisi harus menyatakan maksud konvensional dari kata yang didefinisikan. Maksud konvensional tersebut tidak selalu berupa karakter intrinsik yang terdapat pada maksud kata, tetapi bisa juga merupakan asal-usul dari suatu hal atau hubungan antara kata yang didefinisikan dengan hal lain.  Contohnya, Biola Stradivarius tidak didefinisikan secara karakter fisik tetapi lebih didefinisikan kepada asal-usulnya, yaitu biola yang dibuat di ruang kerja Cremona milik Antonio Stradivari. Contoh lain, hal esensial dari "gubernur" bukanlah karakter fisik maupun mentalnya, tetapi relasi khusus yang dimilikinya terhadap masyarakat lain.
# Definisi harus menyatakan hal yang esensial dari kata yang didefinisikan. Untuk mendefinisikan suatu kata dengan perbedaannya, beberapa hal mungkin tidak diketahui secara umum meskipun merupakan maksud objektif dari kata tersebut, hal ini akan melanggar peraturan, sebab definisi harus menyatakan maksud konvensional dari kata yang didefinisikan. Maksud konvensional tersebut tidak selalu berupa karakter intrinsik yang terdapat pada maksud kata, tetapi bisa juga merupakan asal-usul dari suatu hal atau hubungan antara kata yang didefinisikan dengan hal lain.<ref>Irving M. Copi. [https://archive.org/details/introductiontolo0014copi Introduction to Logic]. Pearson Education Limited. 2014. hlm. [https://archive.org/details/introductiontolo0014copi/page/115 115]. ISBN 978-1-292-02482-0.</ref> Contohnya, Biola Stradivarius tidak didefinisikan secara karakter fisik tetapi lebih didefinisikan kepada asal-usulnya, yaitu biola yang dibuat di ruang kerja Cremona milik Antonio Stradivari. Contoh lain, hal esensial dari "gubernur" bukanlah karakter fisik maupun mentalnya, tetapi relasi khusus yang dimilikinya terhadap masyarakat lain.
#Definisi tidak boleh lebih luas atau sempit dari konotasi kata yang didefinisikan.  Aturan ini adalah aturan yang mudah tetapi sering kali sulit untuk diterapkan. Contoh definisi yang terlalu luas: ''Merpati'' adalah burung yang dapat terbang cepat (Banyak burung yang dapat terbang cepat tetapi bukan merpati). Contoh definisi yang terlalu sempit: ''Kursi'' adalah tempat duduk yang dibuat dari kayu dan berkaki empat (Banyak kursi yang tidak dibuat dari kayu dan berkaki empat).
#Definisi tidak boleh lebih luas atau sempit dari konotasi kata yang didefinisikan.  Aturan ini adalah aturan yang mudah tetapi sering kali sulit untuk diterapkan. Contoh definisi yang terlalu luas: ''Merpati'' adalah burung yang dapat terbang cepat (Banyak burung yang dapat terbang cepat tetapi bukan merpati). Contoh definisi yang terlalu sempit: ''Kursi'' adalah tempat duduk yang dibuat dari kayu dan berkaki empat (Banyak kursi yang tidak dibuat dari kayu dan berkaki empat).
# Definisi tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan. Jika kata yang didefinisikan terdapat pada definisi, maka hanya dapat menjelaskan untuk orang-orang yang sudah mengerti kata tersebut. Definisi yang melanggar aturan ini disebut definisi sirkuler, berputar, atau tautologi, contohnya: ''orang adil'' adalah orang yang adil dalam mengambil keputusan. Terdapat pengulangan kata yang dibolehkan dalam membuat definisi, seperti: ''ilmu ekonomi'' adalah ilmu yang mempelajari upaya manusia dalam mencapai kemakmuran. Pada definisi tersebut kata 'ilmu' sudah diangap diketahui dan yang menjadi fokus adalah kata 'ekonomi'. Penggunaan sinonim dan antonim juga harus dihindari.
# Definisi tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan. Jika kata yang didefinisikan terdapat pada definisi, maka hanya dapat menjelaskan untuk orang-orang yang sudah mengerti kata tersebut. Definisi yang melanggar aturan ini disebut definisi sirkuler, berputar, atau tautologi, contohnya: ''orang adil'' adalah orang yang adil dalam mengambil keputusan. Terdapat pengulangan kata yang dibolehkan dalam membuat definisi, seperti: ''ilmu ekonomi'' adalah ilmu yang mempelajari upaya manusia dalam mencapai kemakmuran. Pada definisi tersebut kata 'ilmu' sudah diangap diketahui dan yang menjadi fokus adalah kata 'ekonomi'. Penggunaan sinonim dan antonim juga harus dihindari.<ref>Mundiri. ''Logika''. Rajawali Pers. Juni 2017. hlm. 39. ISBN 978-979-769-938-3.</ref>
# Definisi tidak boleh memakai penjelasan yang membingungkan. Kata yang mengandung arti ganda tidak dapat menjelaskan kata yang didefinisikan, begitu pun dengan kata yang tidak jelas. Definisi yang melanggar aturan ini disebut ''obscurum per obscurius'' yang artinya menjelaskan sesuatu dengan keterangan yang lebih tidak jelas. Ketidak jelasan menjadi hal yang lebih biasa, apa yang tidak jelas untuk kalangan umum dimungkinkan menjadi hal yang biasa untuk kalangan ahli. Bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan konotasi dan denotasi sesungguhnya atau menggunakan istilah yang terbatas dimengerti dalam kalangan ahli.  Contoh definisi yang menggunakan bahasa plastik, kehidupan adalah sepotong keju. Contoh definisi yang hanya dimengerti ahli, evolusi adalah perubahan terus-menerus dari homogenitas yang tidak menentu dan tidak serasi kepada heterogenitas yang menentu dan serasi dalam susunan dan kegiatan melalui diferensiasi dan integrasi sambung-menyambung.
# Definisi tidak boleh memakai penjelasan yang membingungkan. Kata yang mengandung arti ganda tidak dapat menjelaskan kata yang didefinisikan, begitu pun dengan kata yang tidak jelas. Definisi yang melanggar aturan ini disebut ''obscurum per obscurius'' yang artinya menjelaskan sesuatu dengan keterangan yang lebih tidak jelas. Ketidak jelasan menjadi hal yang lebih biasa, apa yang tidak jelas untuk kalangan umum dimungkinkan menjadi hal yang biasa untuk kalangan ahli. Bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan konotasi dan denotasi sesungguhnya atau menggunakan istilah yang terbatas dimengerti dalam kalangan ahli.<ref>L. S. Stebbing. ''A Modern Introduction to Logic, Third Edition''. Methuen & Co. 1942. hlm. 425.</ref> Contoh definisi yang menggunakan bahasa plastik, kehidupan adalah sepotong keju. Contoh definisi yang hanya dimengerti ahli, evolusi adalah perubahan terus-menerus dari homogenitas yang tidak menentu dan tidak serasi kepada heterogenitas yang menentu dan serasi dalam susunan dan kegiatan melalui diferensiasi dan integrasi sambung-menyambung.
# Definisi tidak boleh menggunakan bentuk negatif dengan menggunakan kata tidak atau bukan. Terlalu banyak hal yang tidak dimiliki oleh kata yang didefinisikan daripada yang dimilikinya. Misalnya, miskin adalah keadaan tidak kaya. Terdapat beberapa kata yang pada dasarnya mmerlukan bentuk negatif. Pada kata seperti ini, ''genus'' pertama harus disebut secara afirmatif, lalu karakter pembeda digunakan untuk menolak seluruhnya. Misal, anak yatim piatu adalah anak yang tidak memiliki orang tua.
# Definisi tidak boleh menggunakan bentuk negatif dengan menggunakan kata tidak atau bukan. Terlalu banyak hal yang tidak dimiliki oleh kata yang didefinisikan daripada yang dimilikinya. Misalnya, miskin adalah keadaan tidak kaya. Terdapat beberapa kata yang pada dasarnya mmerlukan bentuk negatif. Pada kata seperti ini, ''genus'' pertama harus disebut secara afirmatif, lalu karakter pembeda digunakan untuk menolak seluruhnya. Misal, anak yatim piatu adalah anak yang tidak memiliki orang tua.


== Istilah dengan Banyak Definisi ==
== Istilah dengan Banyak Definisi ==
Dalam setiap bahasa sering ditemukan adanya hubungan makna atau definisi yang dikenal dengan relasi semantik antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lain. Relasi makna adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan yang lain. [[Ambiguitas]] biasanya muncul ketika sebuah kata atau frasa memiliki beberapa kemungkinan interpretasi yang berbeda.
Dalam setiap bahasa sering ditemukan adanya hubungan makna atau definisi yang dikenal dengan relasi semantik antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lain. Relasi makna adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan yang lain.<ref>Linda Aruan. [https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/bahas/article/view/5544 Relasi Makna (Beziehungsbedeutung) dan Contoh dalam Bahasa Jerman]. ''BAHAS (e-Journal)''. 2015. Vol. 26 (1). hlm. 97-101. doi:10.24114/bhs.v26i1.5544.</ref> [[Ambiguitas]] biasanya muncul ketika sebuah kata atau frasa memiliki beberapa kemungkinan interpretasi yang berbeda.<ref>Craig DeLancey. [https://openlibrary-repo.ecampusontario.ca/xmlui/bitstream/handle/123456789/403/A-Concise-Introduction-to-Logic-1490623862.pdf?sequence=1&isAllowed=y A Concise Introduction to Logic]. Open SUNY Textbooks. 2017. hlm. 14. ISBN 978-1-942341-42-0.</ref>


=== Homonim ===
=== Homonim ===
Homonim merupakan kata yang ejaan dan lafalnya sama namun maknanya berbeda karena berasal dari sumber berlainan. Homonim adalah salah satu kata ambigu yang pengertiannya berbeda jauh satu sama lain dan tidak terikat dengan cara apapun. Kasus [[homonim]] merupakan kebetulan. Misalnya, saya ''tahu'' bahwa ''tahu'' sumedang itu enak dan legit. Kata ‘tahu’ pertama bermakna mengetahui atau mengerti, sedangkan kata ‘tahu’ kedua bermakna jenis makanan khas Sumedang.
Homonim merupakan kata yang ejaan dan lafalnya sama namun maknanya berbeda karena berasal dari sumber berlainan. Homonim adalah salah satu kata ambigu yang pengertiannya berbeda jauh satu sama lain dan tidak terikat dengan cara apapun. Kasus [[homonim]] merupakan kebetulan.<ref>Ajeng Dwi Mulyasendi. [https://repository.stkippgrisumenep.ac.id/641/ Aspek Fungsiolek Leksikal pada Acara ILC (Indonesia Lawyers Club) Bulan Januari 2020 (Kajian Semantik Homonim)]. ''Skripsi''. STKIP PGRI Sumenep. 2020.</ref> Misalnya, saya ''tahu'' bahwa ''tahu'' sumedang itu enak dan legit. Kata ‘tahu’ pertama bermakna mengetahui atau mengerti, sedangkan kata ‘tahu’ kedua bermakna jenis makanan khas Sumedang.<ref>Johanna B. S. Pantow. [https://www.google.co.id/books/edition/KEBIPAAN_2019/xB0oEAAAQBAJ?hl=en&gbpv=0 Teaching Indonesian Ambiguous Words on BIPA]. ''Proceedings of the 2nd Konferensi BIPA Tahunan''. EAI Publishing. 2019. hlm. 215-221. ISBN 9781631902482.</ref>


=== Polisemi ===
=== Polisemi ===
Polisemi adalah sebuah kata atau satuan ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. Polisemi merupakan kondisi ketika sebuah kata memiliki beberapa pengertian yang erat hubungannya. Polisemi berkaitan dengan banyak pengertian dari kata fonologis yang sama sehingga perlu analisis untuk memilih makna mana yang terkait. Misalnya, kata korban dapat bermakna pemberian untuk menyatakan kebaktian, orang yang menderita kecelakaan karena sesuatu perbuatan, dan orang yang meninggal karena tertimpa bencana. Ketiga kata ini memiliki makna yang berdekatan satu sama lain.
Polisemi adalah sebuah kata atau satuan ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. Polisemi merupakan kondisi ketika sebuah kata memiliki beberapa pengertian yang erat hubungannya.<ref>James R. Hurford. [https://books.google.com/books?id=cvsAqCpYSBIC&printsec=frontcover&dq=Semantics:+A+Coursebook&hl=en&newbks=1&newbks_redir=1&sa=X&ved=2ahUKEwjc7cCc3Mz0AhUV8XMBHfNJDX8Q6AF6BAgJEAI Semantics: A Coursebook]. Cambridge University Press. 2003. hlm. 123. ISBN 0521289491.</ref> Polisemi berkaitan dengan banyak pengertian dari kata fonologis yang sama sehingga perlu analisis untuk memilih makna mana yang terkait.<ref>Azizah Faiqatul. [http://digilib.uinsby.ac.id/8953/ Lexical Relation Found in “An Education” Movie Script By Nick Hornby]. ''Skripsi''. UIN Sunan Ampel Surabaya. 2016-08-16. hlm. 14.</ref> Misalnya, kata korban dapat bermakna pemberian untuk menyatakan kebaktian, orang yang menderita kecelakaan karena sesuatu perbuatan, dan orang yang meninggal karena tertimpa bencana. Ketiga kata ini memiliki makna yang berdekatan satu sama lain.<ref>Gorys Keraf. [https://books.google.com/books?id=2zm9pAbUHP8C&newbks=0&printsec=frontcover&dq=Diksi+dan+Gaya+Bahasa&hl=en Diksi dan Gaya Bahasa]. Gramedia Pustaka Utama. 2007. hlm. 36. ISBN 978-979-22-2657-7.</ref>


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Definisi&oldid=29390388 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29390388 (2026-06-26T22:36:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Definisi&oldid=29390388 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29390388 (2026-06-26T22:36:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 24 Agustus 2026 23.05

Kamus hukum Hitam yang memuat definisi

Definisi merupakan suatu batasan atau arti, bisa juga dimaknai kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas.[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi ialah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.[2]

Definisi juga diartikan sebagai uraian pengertian yang berfungsi membatasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian.[3] Definisi merupakan usaha para ilmuwan untuk membatasi fakta dan konsep.[4] Definisi secara leksikal berarti membatasi. Dalam logika formal maupun informal, definisi diperlukan untuk menjelaskan cara pemakaian istilah-istilah kunci.[5] Dalam bidang komputer, definisi (definition) merupakan property atau pemberitahuan bersifat objek dan sekaligus mengalokasikan memori terhadap objek.[6]

Ciri-ciri definisi

Suatu arti/makna kata tidak bisa langsung disebut sebagai definisi, karena definisi mempunyai ciri-ciri khusus.[7] Adapun arti/makna kata bisa diartikan sebagai definisi jika terdapat unsur kata atau istilah yang didefinisikan, atau lazim disebut definiendum.[8] Selanjutnya, di dalam arti tersebut harus terdapat unsur kata, frasa, atau kalimat yang berfungsi menguraikan pengertian, lazim disebut definiens, dan tentunya juga harus ada pilihan katanya.[9]

Pilihan kata tersebut ialah di mana definiens dimulai dengan kata benda, didahului kata ada-lah.[10] Misalnya kalimat Cinta adalah perasaan setia, bangga, dan prihatin dan kalimat Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi.[11]

Yang kedua, definiens dimulai dengan selain kata benda umpamanya kata kerja atau didahului kata yaitu.[12] Sebagai contoh Setia yaitu merasa terdorong untuk mengakui, memahami, menerima, menghargai, menghormati, mematuhi, dan melestarikan.[13] Kemudian, definiens juga diharuskan memberi pengertian rupa atau wujud diawali kata merupakan, seperti kalimat Mencintai merupakan tindakan terpuji untuk mengakhiri konflik.[14]

Adapun yang terakhir ialah bahwa definiens merupakan sebuah sinonim yang didahului kata ialah.[15] Misalnya Pria ialah laki-laki.[16]

Klasifikasi

Definisi nominal

Definisi nominal berupa pengertian singkat. Definiens pada definisi jenis ini terbagi menjadi ada tiga macam.[17] Pertama, sinonim atau padanan, seperti kata manusia yang bersinonim dengan kata orang, maka jika ditulis hasilnya adalah Manusia]] ialah orang.[18] Selanjutnya terkait dengan terjemahan dari bahasa lain, contohnya Kinerja ialah performance.[19] Asal-usul sebuah kata dalam definisi nominal juga merupakan hal yang penting, contoh: Psikologi berasal dari kata "psyche" berarti jiwa, dan "logos" berarti ilmu, psikologi ialah ilmu jiwa.[20]

Definisi nominal menjelaskan suatu kata dengan kata lain yang umum dimengerti. Defisi nominal terutama dipakai pada permulaan suatu pembicaraan atau diskusi. Terdapat enam jenis definisi nominal, yaitu definisi sinonim, definisi simbolik, definisi etimologi, definisi semantik, definisi stipulatif, dan definisi denotatif.[21] Definisi stipulatif merupakan definisi yang digunakan ketika menentukan pemakaian istilah. Definisi stipulatif harus dinilai bukan sebagai benar atau salah melainkan sebagai berguna atau tidak berguna. Definisi ini menentukan arti yang akan digunakan untuk istilah tersebut dalam arti lain menciptakan kosakata teknis. Bisa juga disebut sebagai definisi klarifikasi yang menetapkan mana lebih jelas untuk istilah yang tidak jelas. Misalnya, pengadilan yang menetapkan definisi lebih tepat tentang “kematian” untuk menyelesaikan sengketa hukum tertentu.[22]

Definisi formal

Definisi formal disebut juga definisi terminologis, yaitu definisi yang disusun berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur.[23] Struktur definisi ini berupa "kelas", "genus", "pembeda" (deferensiasi).[24] Ketiga unsur tersebut harus tampak dalam definiens.[25] Struktur formal diawali dengan klarifikasi, diikuti dengan menentukan kata yang akan dijadikan definiendium, dilanjutkan dengan menyebut genus, dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau deskripsi pembeda.[26] Pembeda harus lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar menunjukkan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari kelas yang lain.[27] Contoh kalimat yang merupakan definisi formal adalah Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi.[28]

Definisi formal mempunyai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar sesuai dengan aturan yang ada.[29] Di antaranya, definiendium dan definiens bersifat koterminus, mempunyai makna yang sama.[30] Kemudian, definiendium dan definiens bersifat konvertabel, dapat ditukarkan tempatnya dan definiens tidak berupa sinonim, padanan, terjemahan, etimologi, bentuk populer, atau pengulangan definiendium.[31] Perbandingannya:

  • Manusia adalah orang yang berakal budi (salah)
  • Manusia adalah insan yang berakal budi (salah)
  • Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna (benar)

Selanjutnya definiens bukanlah kiasan, perumpamaan, atau pengandaian.[32] Contonya kalimat Manusia adalah bagaikan hewan yang tidak pernah merasa puas (salah), kata bagaikan dalam kalimat ini merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan dalam definisi formal.[33] Contoh yang benar berada dalam kalimat Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya.[34]

Syarat berikutnya yaitu definiens menggunakan makna paralel dengan definiendium, tidak menggunakan kata dimana, yang mana, jika, misalnya, dan lain-lain, definiens juga harus menggunakan bentuk positif, bukan kalimat negatif; tanpa kata negatif; tidak, bukan.[35] Misalnya bentuk kalimat negatif Pendidikan kewarganegaraan "tidak lain" adalah pembinaan pelajar agar menjadi warga negara yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam masyarakat, baik sebagai anggota keluarga, masyarakat, maupun warga negara, sedang yang benar adalah Pendidikan kewarganegaraan adalah pembinaan pelajar agar menjadi warga negara yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam keluarga, masyarakat, dan negara.[36]

Lagi, pembeda (deferiansi)pada definiens harus mencukupi sehingga menghasilkan makna yang tidak bisa (samar)dengan kelas yang lain.[37]

Definisi Riil

Definisi nominal bukanlah definisi dalam arti sesungguhnya, maka perlu penjelasan tentang konsep dengan cara menyebutkan unsur-unsur pokok atau ciri-ciri utama konsep yang disebut dengan definisi riil. Definisi yang termasuk ke dalam definisi riil yaitu: definisi hakiki, definisi yang menyebutkan genus proximum dan pembeda spesifiknya; definisi gambaran, definisi yang dibuat dengan menyebutkan semua ciri konsep yang dimaksud; definisi sebab-akibat, definisi yang dibuat dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Contoh: Banjir adalah bencana alam yang terjadi karena meluapnya air sungai; definisi tujuan, definisi yang dibuat dengan menyebutkan tujuan. Contoh: Komputer adalah teknologi cnggih yang digunakan untuk menyimpan dan mengolah data.[38]

Definisi operasional

Definisi operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya penelitian.[39] Oleh karena itu, definisi ini disebut juga definisi kerja karena dijadikan pedoman untuk melaksanakan suatu penelitian atau pekerjaan tertentu.[40] Definisi ini disebut juga definisi subjektif karena disusun berdasarkan keinginan orang yang akan melakukan pekerjaan.[41]

Yang merupakan ciri-ciri definisi operasional ialah mengacu pada target pekerjaan yang dicapai, berisi pembatasan konsep, tempat, dan waktu, dan bersifat aksi, tindakan, atau pelaksanaan suatu kegiatan.[42]

Definisi paradigmatis

Definisi paradigmatis/personal bertujuan untuk memengaruhi pola berpikir oranglain.[43] Definisi jenis ini disusun berdasarkan pendapatan nilai-nilai tertentu.[44]

Ada empat ciri-ciri definisi paradigmatis, yakni; disusun berdasarkan paradigma (pola pikir) nilai-nila tertentu, berfungsi untuk memengaruhi sikap, perilaku, atau tindakan orang lain, bertujuan agar pembaca mengubah sikap sesuai dengan definisi, berhubungan dengan nilai-nilai tertentu, misalnya: bisnis, etika, budaya, ajaran, falsafah, tradisi, adat istiadat, pandangan hidup.[45]

Adapun fungsi definisi paradigmatis dapat dikategorikan menjadi empat bagian: pertama, untuk mengembangkan pola berpikir; kedua, memengaruhi sikap pembaca atau pendengar; ketiga, mendukung argumentasi atau pembuktikan dan memberikan efek persuasif.[46]

Definisi luas

Definisi luas adalah batasan pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri atas satu paragraf.[47] Definisi ini diperlukan pada konsep yang rumit yang tidak dapat dijelaskan dengan kalimat pendek.[48]

Ciri-cirinya adalah dalam definisi tersebut hanya berisi satu gagasan yang merupakan definiendium, tidak menggunakan kata kias, setiap kata dapat dibuktikan atau diukur kebenarannya, dan menggunakan penalaran yang jelas.[49]

Contohnya dalam kalimat berikut Konsep ketahanan nasional tidak dapat hanya didefinisikan dengan kemampuan dinamik suatu bangsa yang berisikan keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan dari luar maupun dalam, langsung tidak langsung yang membahayakan identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara untuk mencapai tujuan nasional.[50] Karena itu konsep tersebut harus diberi definisi luas agar diketahui perkembangan konsep, unsur-unsurnya, pengembangannya di dalam semua aspek kehidupan bangsa dan negara.[51]

Teknik-Teknik menyusun definisi

Teknik-teknik menyusun definisi bisa dikualifikasikan berdasarkan dua macam arti, yakni arti intensional dan arti ekstensional.[52]

Definisi ekstensional atau denotatif

Dengan menunjukkan kelas yang ditunjukan oleh definiendium, maka suatu definisi ekstensional akan bisa menetapkan arti dari suatu kata. Paling tidak ada tiga cara menunjukkan anggota-anggota dari suatu kelas, yaitu menunjuk pada mereka, menamai mereka secara individual, menamai mereka menurut kelompok. Misalnya kalimat Kursi adalah ini dan ini dan ini- seraya Anda menunjuk ke arah sejumlah kursi satu per satu.[53]

Definisi dengan contoh

Cara yang paling jelas untuk mendefinisikan suatu kata adalah untuk mengidentifikasi objek yang ditunjukan oleh kata yang didefinisikan. Teknik ini memiliki batas yang sangat banyak. Tidak mungkin untuk menyebutkan seluruh objek yang terkait, maka permasalahannya adalah definisi untuk istilah yang umum menjadi tidak pasti. Teknik denotatif mendefinisikan suatu kata dengan menyebutkan contoh yang diketahui yang dipakai oleh kata tersebut. Misal, burung adalah sesuatu seperti angsa, ayam, dan elang. Biasanya, meskipun contoh yang diberikan tidak lengkap, pembaca dibiarkan menyimpulkan konotasi yang mendasarinya dengan mengabstraksikan konsep sehingga contoh yang sebelumnya tidak dituliskan dapat diklasifikasikan.[54]

Definisi ostensif

Definisi ostensif disebut juga dengan definisi demonstratif.[55] Definisi ostensif dilakukan dengan cara melakukan kontak langsung (menunjuk atau gestur lainnya) terhadap objek dari kata yang didefinisikan. Misal, kata "meja" adalah ini, disertai gerakan menunjuk meja.[56] Definisi ini memiliki batasan lebih awal, gestur memiliki batasan geografis sebab hanya dapat mengindikasikan apa yang terlihat. Kata "laut" tidak dapat didefinisikan di ruang kelas. Hal lainnya, gestur akan selamanya ambigu, untuk menunjuk suatu objek, meja misalnya, seluruh karakter yang dimiliki objek tersebut akan ikut tertunjuk, ukuran, warna, bentuk, dan materi.

Definisi kuasi-ostensif

Definisi ostensif dapat menimbulkan keambiguan terhadap objek yang ditunjuknya, hal ini terkadang dapat diatasi dengan menambahkan penjelasan deskriptif untuk kata yang didefinisikan. Teknik ini disebut dengan kuasi-ostensif.[57] Definisi kuasi-ostensif atau definisi semi denotatif meliputi hal yang lebih dari indikasi non verbal dari kata yang akan didefinisikan.[58]

Definisi intensional

Suatu definisi menentukan arti suatu kata dengan menunjukkan kualitas-kualitas atau ciri-ciri yang terkandung dalam kata itu.[59] Sebagai contoh kalimat Es adalah air yang membeku.[60]

Definisi sinonim

Definisi sinonim memberikan kata lain yang artinya sudah dipahami dan memiliki arti sama dengan kata yang didefinisikan. Sinonim berarti dua kata yang bermakna sama. Seseorang mempelajari kosakata bahasa asing dengan mempelajari definisi menggunakan sinonim. Tetap definisi sinonim sangat terbatas serta banyak kata yang tidak memiliki sinonim tepat. Definisi sinonim berbeda dengan definisi analitik yang memiliki gaya definisi lebih panjang.[61] Masalah untuk definisi ini yaitu biasanya terdapat pada tantangan antara definien dan definiendum. Untuk sinonim dengan bahasa asing, terkadang satu kata dapat berarti banyak untuk bahasa lainnya. Dengan demikian, definisi sinonim menjadi kurang efektif sebagai ekstensional dan sebagai definisi kognitif.[62]

Definisi operasional

Definisi operasional digunakan ketika mencoba menjelaskan maksud istilah dengan mengikat definiendum pada serangkaian operasi yang dapat digambarkan dengan jelas. Definisi operasional dari suatu istilah menyatakan bahwa istilah tersebut diterapkan secara benar pada suatu kasus jika dan hanya jika kinerja operasi tertentu dalam kasus tersebut membuat hasil yang ditentukan.[63]

Definisi operasional pertama kali dipakai oleh P.W. Bridgeman dalam bukunya The Logic of Modern Physics. Dalam bukunya, ia menjelaskan ketika berhadapan dengan kondisi di luar awal definisi dari suatu konsep, mungkin akan terdapat hambatan menentukan operasi definisi asli yang tepat sehingga operasi harus diganti. Operasi yang baru ditentukan sedemikian rupa hingga memberikan hasil yang sama. Pada prinsipnya dalam mengubah operasi berarti mengubah konsep.[64] Misalnya, sejak Einstein mengeluarkan teori relativitas, ruang dan waktu tidak lagi didefinisikan secara abstrak seperti yang dilakukan Newton. Untuk mendefinisikan istilah seperti itu perlu dilakukan secara operasional, melalui operasi yang benar-benar dilakukan ketika mengukur jarak dan durasi. Nilai yang diberikan dapat didefinisikan secara operasional dengan mengacu pada hasil pengukuran.

Definisi operasional atau analisis operasional merupakan analisis ke dalam kejadian, berbeda dengan definisi yang lebih biasa untuk suatu objek. Definisi operasional tidak bersifat final dan meskipun tidak memberikan penjelasan yang lengkap, tetapi diperlukan sebab pemahaman tentang suatu situasi tidak akan lengkap kecuali dapa dianalisis dalam istilah operasional.[65]

Definisi genus dan difference

Dari teknik-teknik definisi lain, yang paling berlaku luas serta paling umum digunakan adalah definisi dengan genus dan differentia. Dengan menggunakan genus dan differentia, definisi dapat menjadi lebih mudah dan sederhana.[66] Aristoteles menyatakan bahwa definisi adalah “an account which signifies what it is to be for something”. Untuk membuat definisi, Aristoteles menggunakan genus proximum dan differentia spesifica, yang sesuai dengan konsep superordinat (generik) dan karakteristik pembatas.[67] Secara umum, bukan individu yang memiliki esensi melainkan spesies. Suatu spesies didefinisikan dengan memberikan genus dan perbedaannya, genus adalah jenis kategori spesies tersebut berada dan perbedaan atau differentia menjelaskan apa yang menjadi ciri khas spesies dalam genus tertentu.[68]

Bangsa/macam (nau’, species) ialah kelompok kesatuan yang mempunyai persamaan hakikat. Seperti yang dikelompokan dengan nama; manusia, lembu, kuda dan seterusnya. Satuan pada nama-nama tersebut adalah sama hakikatnya, yaitu hewan. Sedangkan jenis (Genus, Jins) ialah kelompok kesatuan yang berlainan hakikatnya. Seperti yang digolongkan dengan nama-nama “hewan” meliputi manusia, kuda, kera, dan seterusnya. Maka, hubungan genus dan species adalah genus meliputi species. Pemisah atau differentia yaitu sifat yang membedakan satu species dengan species lainnya dalam satu genus yang sama. Seperti kata-kata “berakal” adalah differentia manusia yang membedakannya dari macam-macam satuan hewan lainnya.[69] Definisi umum akan berlaku untuk semua hal tetapi tidak secara khusus untuk spesies apa pun.[70] Genus harus memisahkan definiendum dari hal-hal pada umumnya dan differentia dari hal-hal lain yang dicakup oleh genus.[71]

Ada pendapat yang mengatakan bahwa differentia menyatakan hal esensial dari suatu hal. Pada pemahaman seperti ini, genus harus dipisahkan dari differentia dengan menerapkan titik tolak dasar, yaitu bahwa genus memiliki cakupan lebih luas daripada differentia, dalam menyatakan esensi dari suatu benda, lebih tepat untuk menyatakan genus daripada differentia karena memanggil seorang pria dengan “binatang” akan menunjukan esensi yang lebih baik daripada memanggilnya “pejalan kaki”, serta pdifferentia selalu menunjukkan kualifikasi genus dan bukan sebaliknya.[72]

Definisi menggunakan jenis dan pembeda terbagi menjadi empat macam: pertama, definisi sempurna (perfect definition), definisi yang menggunakan genus dekat dan differentia dekat. Misal, manusia adalah hewan yang berakal; kedua, definisi tidak sempurna (imperfect definition), definisi yang menggunakan genus jauh dan differentia dekat atau hanya menggunakan differentia. Misal, Manusia adalah benda hidup yang berakal atau manusia adalah yang berakal; Ketiga, deskripsi sempurna, definisi yang menggunakan genus dan aksidental khusus. Contoh, manusia adalah hewan yang tertawa; Terakhir, deskripsi tidak sempurna, definisi yang hanya menggunakan aksiden khusus. Contoh, manusia adalah yang tertawa.[73]

Aturan Membuat Definisi

Membuat definisi yang baik menggunakan genus dan differentia bukanlah hal yang mudah, perlu pembeda spesifik yang paling tepat untuk kata yang didefinisikan. Agar definisi yang dibuat terhindar dari kekeliruan sehingga menghasilkan definisi yang tepat, maka perlu diperhatikan beberapa aturan-aturan berikut:

  1. Definisi harus menyatakan hal yang esensial dari kata yang didefinisikan. Untuk mendefinisikan suatu kata dengan perbedaannya, beberapa hal mungkin tidak diketahui secara umum meskipun merupakan maksud objektif dari kata tersebut, hal ini akan melanggar peraturan, sebab definisi harus menyatakan maksud konvensional dari kata yang didefinisikan. Maksud konvensional tersebut tidak selalu berupa karakter intrinsik yang terdapat pada maksud kata, tetapi bisa juga merupakan asal-usul dari suatu hal atau hubungan antara kata yang didefinisikan dengan hal lain.[74] Contohnya, Biola Stradivarius tidak didefinisikan secara karakter fisik tetapi lebih didefinisikan kepada asal-usulnya, yaitu biola yang dibuat di ruang kerja Cremona milik Antonio Stradivari. Contoh lain, hal esensial dari "gubernur" bukanlah karakter fisik maupun mentalnya, tetapi relasi khusus yang dimilikinya terhadap masyarakat lain.
  2. Definisi tidak boleh lebih luas atau sempit dari konotasi kata yang didefinisikan. Aturan ini adalah aturan yang mudah tetapi sering kali sulit untuk diterapkan. Contoh definisi yang terlalu luas: Merpati adalah burung yang dapat terbang cepat (Banyak burung yang dapat terbang cepat tetapi bukan merpati). Contoh definisi yang terlalu sempit: Kursi adalah tempat duduk yang dibuat dari kayu dan berkaki empat (Banyak kursi yang tidak dibuat dari kayu dan berkaki empat).
  3. Definisi tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan. Jika kata yang didefinisikan terdapat pada definisi, maka hanya dapat menjelaskan untuk orang-orang yang sudah mengerti kata tersebut. Definisi yang melanggar aturan ini disebut definisi sirkuler, berputar, atau tautologi, contohnya: orang adil adalah orang yang adil dalam mengambil keputusan. Terdapat pengulangan kata yang dibolehkan dalam membuat definisi, seperti: ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari upaya manusia dalam mencapai kemakmuran. Pada definisi tersebut kata 'ilmu' sudah diangap diketahui dan yang menjadi fokus adalah kata 'ekonomi'. Penggunaan sinonim dan antonim juga harus dihindari.[75]
  4. Definisi tidak boleh memakai penjelasan yang membingungkan. Kata yang mengandung arti ganda tidak dapat menjelaskan kata yang didefinisikan, begitu pun dengan kata yang tidak jelas. Definisi yang melanggar aturan ini disebut obscurum per obscurius yang artinya menjelaskan sesuatu dengan keterangan yang lebih tidak jelas. Ketidak jelasan menjadi hal yang lebih biasa, apa yang tidak jelas untuk kalangan umum dimungkinkan menjadi hal yang biasa untuk kalangan ahli. Bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan konotasi dan denotasi sesungguhnya atau menggunakan istilah yang terbatas dimengerti dalam kalangan ahli.[76] Contoh definisi yang menggunakan bahasa plastik, kehidupan adalah sepotong keju. Contoh definisi yang hanya dimengerti ahli, evolusi adalah perubahan terus-menerus dari homogenitas yang tidak menentu dan tidak serasi kepada heterogenitas yang menentu dan serasi dalam susunan dan kegiatan melalui diferensiasi dan integrasi sambung-menyambung.
  5. Definisi tidak boleh menggunakan bentuk negatif dengan menggunakan kata tidak atau bukan. Terlalu banyak hal yang tidak dimiliki oleh kata yang didefinisikan daripada yang dimilikinya. Misalnya, miskin adalah keadaan tidak kaya. Terdapat beberapa kata yang pada dasarnya mmerlukan bentuk negatif. Pada kata seperti ini, genus pertama harus disebut secara afirmatif, lalu karakter pembeda digunakan untuk menolak seluruhnya. Misal, anak yatim piatu adalah anak yang tidak memiliki orang tua.

Istilah dengan Banyak Definisi

Dalam setiap bahasa sering ditemukan adanya hubungan makna atau definisi yang dikenal dengan relasi semantik antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lain. Relasi makna adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan yang lain.[77] Ambiguitas biasanya muncul ketika sebuah kata atau frasa memiliki beberapa kemungkinan interpretasi yang berbeda.[78]

Homonim

Homonim merupakan kata yang ejaan dan lafalnya sama namun maknanya berbeda karena berasal dari sumber berlainan. Homonim adalah salah satu kata ambigu yang pengertiannya berbeda jauh satu sama lain dan tidak terikat dengan cara apapun. Kasus homonim merupakan kebetulan.[79] Misalnya, saya tahu bahwa tahu sumedang itu enak dan legit. Kata ‘tahu’ pertama bermakna mengetahui atau mengerti, sedangkan kata ‘tahu’ kedua bermakna jenis makanan khas Sumedang.[80]

Polisemi

Polisemi adalah sebuah kata atau satuan ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. Polisemi merupakan kondisi ketika sebuah kata memiliki beberapa pengertian yang erat hubungannya.[81] Polisemi berkaitan dengan banyak pengertian dari kata fonologis yang sama sehingga perlu analisis untuk memilih makna mana yang terkait.[82] Misalnya, kata korban dapat bermakna pemberian untuk menyatakan kebaktian, orang yang menderita kecelakaan karena sesuatu perbuatan, dan orang yang meninggal karena tertimpa bencana. Ketiga kata ini memiliki makna yang berdekatan satu sama lain.[83]

Referensi

  1. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  2. Departemen Pendidikan Nasional(2008);Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 303. Cet Pertama Edisi IV
  3. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  4. Parera, J.D.(2004);Teori Semantik.Jakarta:Penerbit Erlangga.Hal 200- Cet. 2
  5. Nani Widiawati. Pengantar Logika: Sebuah penelusuran jejak awal. Pustaka Ellios. Februari 2021. hlm. 112. ISBN 978-602-60842-0-0.
  6. Mushthofa. Informatika untuk SMA Kelas X. Pusat Kurikulum dan Perbukuan. 2021. hlm. 245. ISBN 978-602-244-506-7.
  7. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  8. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  9. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  10. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  11. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  12. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  13. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  14. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  15. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  16. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  17. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  18. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  19. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  20. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  21. Bambang Kusbandrijo. Dasar - Dasar Logika. Prenada Media. Oktober 2016. hlm. 64. ISBN 978-602-422-788-3.
  22. Harry J. Gensler. Introduction to Logic. Routledge. 2010. hlm. 41. ISBN 978-0-203-85500-3.
  23. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  24. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  25. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  26. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  27. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  28. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  29. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  30. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  31. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  32. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  33. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  34. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  35. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  36. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  37. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  38. B. Arief Sidharta. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Refika Aditama. 2010. hlm. 25. ISBN 979-1073-49-X.
  39. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  40. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  41. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  42. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  43. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  44. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  45. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  46. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  47. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  48. Rahayu, Minto (2009).Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.Jakarta:PT Grasindo .Hal 73
  49. Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  50. Rahayu, Minto (2009).Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.Jakarta:PT Grasindo .Hal 73
  51. Rahayu, Minto (2009).Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.Jakarta:PT Grasindo .Hal 73
  52. Raga Maran, Rafael(2007).Pengantar Logika.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48
  53. Raga Maran, Rafael(2007).Pengantar Logika.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48
  54. Anne M. Cregan. Towards a Science of Definition. Proceedings of the 2005 Australasian Ontology Workshop. 2005. Vol. 58. hlm. 25-32.
  55. Irving M. Copi. Introduction to Logic. Pearson Education Limited. 2014. hlm. 115. ISBN 978-1-292-02482-0.
  56. Irwin Goldstein. Ontology, Epistemology, and Private Ostensive Definition. Philosophy and Phenomenological Research. 1996-03. Vol. 56 (1). hlm. 137. doi:10.2307/2108470.
  57. Susan Thomas. The Importance of Being Earnest About Definitions. Gesellschaft für Informatik e.V. 2005. hlm. 560-577. ISBN 978-3-88579-394-6.
  58. Peter Caws. The Functions of Definition in Science. Philosophy of Science. 1959-07-01. Vol. 26 (3). hlm. 201–228. doi:10.1086/287675.
  59. Raga Maran, Rafael(2007).Pengantar Logika.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48
  60. Raga Maran, Rafael(2007).Pengantar Logika.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48
  61. Dirk Geeraerts. Meaning and Definition. 2003. hlm. 5.
  62. Nick Riemer. Introducing Semantics. Cambridge University Press. 2010. hlm. 66. ISBN 978-0-511-67746-5.
  63. A’an Efendi. Logika & Argumentasi Hukum. Prenada Media. 2020-08-01. hlm. 56. ISBN 978-623-218-515-9.
  64. Percy Williams Bridgman. The Logic of Modern Physics. Macmillan. 1927. hlm. 23.
  65. P. W. Bridgman. P. W. Bridgman's "The Logic of Modern Physics" after Thirty Years. Daedalus. 1959. Vol. 88 (3). hlm. 518–526.
  66. Ahmad Fadly. Pengembangan Kamus Pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Tingkat Dasar di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pena Literasi. 2018-12-17. Vol. 1 (2). hlm. 74–80. doi:10.24853/pl.1.2.74-80.
  67. Georg Löckinger. Intensional Definitions. Handbook of Terminology. 2015. Vol. 1 (5). hlm. 60-81. doi:10.1075/hot.1. ISBN 978-90-272-6956-0.
  68. Robin Smith. Aristotle’s Logic. Metaphysics Research Lab, Stanford University. 2020.
  69. Nanih Machendrawaty. Ilmu Mantik Pintu Utama Berpikir Logis. CV. Mimbar Pustaka. 2019. hlm. 65. ISBN 978-623-90521-5-7.
  70. A. C. Lloyd. Genus, Species and Ordered Series in Aristotle. Phronesis. 1962. Vol. 7 (1). hlm. 67–90.
  71. Herbert Granger. Aristotle on Genus and Differentia in the Topics and Categories. The Society for Ancient Greek Philosophy Newsletter. 1983-08-01.
  72. Lambertus Marie de Rijk. Aristotle Semantics and Ontology. Brill. 2002. hlm. 522. ISBN 90-04-12324-5.
  73. Abdul Hadi Fadli. Logika Praktis: Teknik Bernalar Benar. Sadra Press. 2015-11-19. hlm. 47-49. ISBN 978-602-9261-53-0.
  74. Irving M. Copi. Introduction to Logic. Pearson Education Limited. 2014. hlm. 115. ISBN 978-1-292-02482-0.
  75. Mundiri. Logika. Rajawali Pers. Juni 2017. hlm. 39. ISBN 978-979-769-938-3.
  76. L. S. Stebbing. A Modern Introduction to Logic, Third Edition. Methuen & Co. 1942. hlm. 425.
  77. Linda Aruan. Relasi Makna (Beziehungsbedeutung) dan Contoh dalam Bahasa Jerman. BAHAS (e-Journal). 2015. Vol. 26 (1). hlm. 97-101. doi:10.24114/bhs.v26i1.5544.
  78. Craig DeLancey. A Concise Introduction to Logic. Open SUNY Textbooks. 2017. hlm. 14. ISBN 978-1-942341-42-0.
  79. Ajeng Dwi Mulyasendi. Aspek Fungsiolek Leksikal pada Acara ILC (Indonesia Lawyers Club) Bulan Januari 2020 (Kajian Semantik Homonim). Skripsi. STKIP PGRI Sumenep. 2020.
  80. Johanna B. S. Pantow. Teaching Indonesian Ambiguous Words on BIPA. Proceedings of the 2nd Konferensi BIPA Tahunan. EAI Publishing. 2019. hlm. 215-221. ISBN 9781631902482.
  81. James R. Hurford. Semantics: A Coursebook. Cambridge University Press. 2003. hlm. 123. ISBN 0521289491.
  82. Azizah Faiqatul. Lexical Relation Found in “An Education” Movie Script By Nick Hornby. Skripsi. UIN Sunan Ampel Surabaya. 2016-08-16. hlm. 14.
  83. Gorys Keraf. Diksi dan Gaya Bahasa. Gramedia Pustaka Utama. 2007. hlm. 36. ISBN 978-979-22-2657-7.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29390388 (2026-06-26T22:36:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.