Psilosibin: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29460854; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Psilocybin,_Kekulé,_skeletal_formula_of_canonical_psilocybin.svg|thumb|right|280px|Psilocybin, Kekulé, skeletal formula of canonical psilocybin]] | |||
'''Psilosibin''' adalah senyawa [[bakal obat]] [[obat psikedelik|psikedelik]] alami yang diproduksi oleh lebih dari [[Daftar jamur psilosibin|200 spesies]] [[Fungi|jamur]]. Produsen paling poten untuk senyawa ini adalah anggota dari genus ''[[Psilocybe]]'', seperti ''[[Psilocybe azurescens|P. azurescens]]'', ''[[Psilocybe semilanceata|P. semilanceata]]'', dan ''[[Psilocybe cyanescens|P. cyanescens]]'' tetapi psilosibin juga dapat diisolasi dari sekitar selusin genera lain. Sebagai suatu ''prodrug'' (bakal obat), psilosibin dengan cepat diubah oleh tubuh menjadi [[psilosin]], yang memiliki efek memengaruhi mental mirip dengan [[LSD]], [[meskalin]], dan [[N,N-Dimetiltriptamin|DMT]]. Secara umum, psilosobin menghasilkan efek antara lain [[euforia]], [[halusinasi]] visual dan mental, perubahan [[persepsi]], [[persepsi waktu]] yang terdistorsi, dan pengalaman spiritual selain efek samping seperti [[mual]] dan [[serangan panik]]. | '''Psilosibin''' adalah senyawa [[bakal obat]] [[obat psikedelik|psikedelik]] alami yang diproduksi oleh lebih dari [[Daftar jamur psilosibin|200 spesies]] [[Fungi|jamur]]. Produsen paling poten untuk senyawa ini adalah anggota dari genus ''[[Psilocybe]]'', seperti ''[[Psilocybe azurescens|P. azurescens]]'', ''[[Psilocybe semilanceata|P. semilanceata]]'', dan ''[[Psilocybe cyanescens|P. cyanescens]]'' tetapi psilosibin juga dapat diisolasi dari sekitar selusin genera lain. Sebagai suatu ''prodrug'' (bakal obat), psilosibin dengan cepat diubah oleh tubuh menjadi [[psilosin]], yang memiliki efek memengaruhi mental mirip dengan [[LSD]], [[meskalin]], dan [[N,N-Dimetiltriptamin|DMT]]. Secara umum, psilosobin menghasilkan efek antara lain [[euforia]], [[halusinasi]] visual dan mental, perubahan [[persepsi]], [[persepsi waktu]] yang terdistorsi, dan pengalaman spiritual selain efek samping seperti [[mual]] dan [[serangan panik]]. | ||
| Baris 6: | Baris 8: | ||
== Efek pengalaman mistis == | == Efek pengalaman mistis == | ||
Jamur psilosibin (biasa juga disebut jamur sihir) telah dan masih digunakan dalam berbagai budaya asli di Dunia Baru (Benua-Benua Amerika) baik pada latar keagamaan, [[Ramalan|peramalan]], atau [[kerohanian]]. Karena arti kata ''entheogen'' ("dewa dalam diri"), jamur sihir dihargai sebagai [[sakramen]] kerohanian kuat yang membuka akses ke dunia roh. Jamur ini biasa digunakan dalam komunitas dengan kelompok kecil sebagai perekat [[kohesi kelompok]] dan reafirmasi nilai tradisional. [[Terence McKenna]] mencatat praktik penggunaan jamur psilosibin di seluruh dunia sebagai [[etos]] budaya yang menghubungkan dirinya dengan Bumi dan misteri alam. McKenna berpendapat bahwa jamur ini memperbesar [[Kesadaran diri (filsafat)|kesadaran diri]] dan rasa dekat dengan "Yang Lebih Tinggi"—dalam kata lain, pemahaman yang lebih dalam akan terhubungnya manusia dengan alam. | Jamur psilosibin (biasa juga disebut jamur sihir) telah dan masih digunakan dalam berbagai budaya asli di Dunia Baru (Benua-Benua Amerika) baik pada latar keagamaan, [[Ramalan|peramalan]], atau [[kerohanian]]. Karena arti kata ''entheogen'' ("dewa dalam diri"), jamur sihir dihargai sebagai [[sakramen]] kerohanian kuat yang membuka akses ke dunia roh. Jamur ini biasa digunakan dalam komunitas dengan kelompok kecil sebagai perekat [[kohesi kelompok]] dan reafirmasi nilai tradisional.<ref>[https://www.worldcat.org/oclc/85813998 Psychedelic medicine : new evidence for hallucinogenic substances as treatments]. Praeger Publishers. 2007. ISBN 978-0-275-99023-7.</ref> [[Terence McKenna]] mencatat praktik penggunaan jamur psilosibin di seluruh dunia sebagai [[etos]] budaya yang menghubungkan dirinya dengan Bumi dan misteri alam. McKenna berpendapat bahwa jamur ini memperbesar [[Kesadaran diri (filsafat)|kesadaran diri]] dan rasa dekat dengan "Yang Lebih Tinggi"—dalam kata lain, pemahaman yang lebih dalam akan terhubungnya manusia dengan alam.<ref>Terence K. McKenna. [https://www.worldcat.org/oclc/45078669 Food of the gods : the search for the original tree of knowledge : a radical history of plants, drugs, and human evolution]. Bantam Books. 1993. ISBN 0-553-37130-4.</ref> | ||
Obat psikedelik dapat menyebabkan terjadinya keadaan [[kesadaran]] yang kemudian meninggalkan makna personal dan kerohanian jangka panjang bagi individu yang religius atau condong kepada hal kerohanian; keadaan ini disebut sebagai [[pengalaman mistis]]. Sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa banyak sifat pengalaman mistis akibat penggunaan obat tidak dapat dibedakan dari pengalaman mistis yang diperoleh melalui [[Pengalaman keagamaan|cara yang tidak mengandalkan obat]], seperti meditasi atau [[Olah napas|olah napas holotropik]]. Pada 1960-an [[Walter Pahnke]] dan kawan-kawan mengevaluasi pengalaman mistis (yang mereka sebut "kesadaran mistis") secara sistematis dengan membuat kategori ciri umum. Kategori ini, menurut Pahnke, "mendeskripsikan inti pengalaman psikologis yang universal, bebas dari interpretasi teologi atau filsafat yang tergantung pada budaya", dan membantu peneliti menilai pengalaman mistis dalam skala numerik kualitatif. | Obat psikedelik dapat menyebabkan terjadinya keadaan [[kesadaran]] yang kemudian meninggalkan makna personal dan kerohanian jangka panjang bagi individu yang religius atau condong kepada hal kerohanian; keadaan ini disebut sebagai [[pengalaman mistis]]. Sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa banyak sifat pengalaman mistis akibat penggunaan obat tidak dapat dibedakan dari pengalaman mistis yang diperoleh melalui [[Pengalaman keagamaan|cara yang tidak mengandalkan obat]], seperti meditasi atau [[Olah napas|olah napas holotropik]].<ref>William James. [https://www.worldcat.org/oclc/37818928 The varieties of religious experience : a study in human nature]. Simon & Schuster. 1997. ISBN 0-684-84297-1.</ref><ref>Metzner R. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9924839/ Hallucinogenic drugs and plants in psychotherapy and shamanism]. ''Journal of psychoactive drugs''. 1998-10. Vol. 30 (4). doi:10.1080/02791072.1998.10399709.</ref> Pada 1960-an [[Walter Pahnke]] dan kawan-kawan mengevaluasi pengalaman mistis (yang mereka sebut "kesadaran mistis") secara sistematis dengan membuat kategori ciri umum. Kategori ini, menurut Pahnke, "mendeskripsikan inti pengalaman psikologis yang universal, bebas dari interpretasi teologi atau filsafat yang tergantung pada budaya", dan membantu peneliti menilai pengalaman mistis dalam skala numerik kualitatif.<ref>Pahnke Wn. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24424798/ Implications of LSD and experimental mysticism]. ''Journal of religion and health''. 1966 Jul. Vol. 5 (3). doi:10.1007/BF01532646.</ref> | ||
Pada [[Percobaan Marsh Chapel]] tahun 1962, yang diadakan oleh Pahnke di ''[[Harvard Divinity School]]'' di bawah pengawasan Timothy Leary, hampir semua sukarelawan mahasiswa seminari untuk gelar master yang diberi psilosibin melaporkan pengalaman religius yang dalam. Salah satu partisipan percobaan yakni cendekiawan keagamaan [[Huston Smith]], penulis sejumlah buku cetak tentang [[Ilmu perbandingan agama|perbandingan agama]]; ia kemudian menggambarkan pengalamannya sebagai "peristiwa kembali ke rumah kosmik paling kuat yang pernah saya alami." Pada penindaklanjutan percobaan setelah 25 tahun, semua subjek penelitian yang diberi psilosibin menggambarkan bahwa mereka mengalami unsur "mistis sesungguhnya dan mendefinisikannya sebagai salah satu titik puncak kehidupan spiritual mereka". Peneliti psikedelik [[Rick Doblin]] menganggap penelitian tersebut memiliki bagian yang cacat karena implementasi prosedur ''[[double-blind]]'' yang tidak benar dan sejumlah pertanyaan tidak presisi pada kuesioner tentang pengalaman mistis. Namun, ia mengatakan bahwa penelitian ini memunculkan "keraguan yang signifikan atas pernyataan bahwa pengalaman mistis dengan katalis obat bersifat inferior dibandingkan pengalaman mistis tanpa obat dalam hal baik isinya secara langsung maupun efek jangka panjangnya". Sentimen ini diulangi kembali oleh psikiater William A. Richards, yang pada tinjauan 2007 menyatakan "penggunaan jamur [psikedelik] dapat menjadi salah satu teknologi yang mendorong terjadinya pengalaman kewahyuan [penyingkapan] yang sekurang-kurangnya serupa dengan pengalaman yang terjadi melalui apa yang disebut sebagai perubahan kimiawi otak secara spontan." | Pada [[Percobaan Marsh Chapel]] tahun 1962, yang diadakan oleh Pahnke di ''[[Harvard Divinity School]]'' di bawah pengawasan Timothy Leary, hampir semua sukarelawan mahasiswa seminari untuk gelar master yang diberi psilosibin melaporkan pengalaman religius yang dalam.<ref>Griffiths R. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18593735/ Mystical-type experiences occasioned by psilocybin mediate the attribution of personal meaning and spiritual significance 14 months later]. ''Journal of psychopharmacology (Oxford, England)''. 2008 Aug. Vol. 22 (6). doi:10.1177/0269881108094300.</ref> Salah satu partisipan percobaan yakni cendekiawan keagamaan [[Huston Smith]], penulis sejumlah buku cetak tentang [[Ilmu perbandingan agama|perbandingan agama]]; ia kemudian menggambarkan pengalamannya sebagai "peristiwa kembali ke rumah kosmik paling kuat yang pernah saya alami."<ref>Huston Smith. [https://www.worldcat.org/oclc/43286677 Cleansing the doors of perception : the religious significance of entheogenic plants and chemicals]. Jeremy P. Tarcher/Putnam. 2000. ISBN 1-58542-034-4.</ref> Pada penindaklanjutan percobaan setelah 25 tahun, semua subjek penelitian yang diberi psilosibin menggambarkan bahwa mereka mengalami unsur "mistis sesungguhnya dan mendefinisikannya sebagai salah satu titik puncak kehidupan spiritual mereka". Peneliti psikedelik [[Rick Doblin]] menganggap penelitian tersebut memiliki bagian yang cacat karena implementasi prosedur ''[[double-blind]]'' yang tidak benar dan sejumlah pertanyaan tidak presisi pada kuesioner tentang pengalaman mistis. Namun, ia mengatakan bahwa penelitian ini memunculkan "keraguan yang signifikan atas pernyataan bahwa pengalaman mistis dengan katalis obat bersifat inferior dibandingkan pengalaman mistis tanpa obat dalam hal baik isinya secara langsung maupun efek jangka panjangnya". Sentimen ini diulangi kembali oleh psikiater William A. Richards, yang pada tinjauan 2007 menyatakan "penggunaan jamur [psikedelik] dapat menjadi salah satu teknologi yang mendorong terjadinya pengalaman kewahyuan [penyingkapan] yang sekurang-kurangnya serupa dengan pengalaman yang terjadi melalui apa yang disebut sebagai perubahan kimiawi otak secara spontan."<ref>William A. Richards. [http://journals.sagepub.com/doi/10.1163/157361208X317196 The Phenomenology and Potential Religious Import of States of Consciousness Facilitated by Psilocybin]. ''Archive for the Psychology of Religion''. 2008-01. Vol. 30 (1). hlm. 189–200. doi:10.1163/157361208X317196.</ref> | ||
Kelompok peneliti dari ''[[Johns Hopkins University School of Medicine]]'' yang dipimpin oleh Griffiths mengadakan studi untuk menilai efek psikologis jangka pendek dan panjang pengalaman penggunaan psilosibin. Mereka menggunakan kuesioner tentang pengalaman mistis dan prosedur ''double-blind'' yang ketat dalam versi yang telah dimodifikasi. Bersangkutan dengan kemiripan penelitiannya dengan studi oleh Leary, Griffith menjelaskan perbedaan keduanya: "Kami mengadakan penelitian sistematis yang ketat menggunakan psilosibin di bawah kondisi yang dimonitor secara saksama, alur yang Dr. Leary abaikan pada awal 1960-an." Penelitian tersebut didanai oleh [[Institut Penyalahgunaan Obat Nasional Amerika Serikat]] (''National Institute on Drug Abuse'', NIDA), terbit pada 2006, dan disanjung oleh para pakar karena kekuatan desain percobaannya. Pada penelitian tersebut, 36 sukarelawan yang belum pernah menggunakan halusinogen diberikan psilosobin dan [[metilfenidat]] (Ritalin) pada sesi yang berbeda; sesi metilfenidat berfungsi sebagai [[Kontrol saintifik|kontrol]] dan [[plasebo]] psikoaktif. Tingkat pengalaman mistis diukur dengan kuesioner yang dibuat oleh Ralph W. Hood; 61% subjek melaporkan "pengalaman mistis total" setelah mendapatkan sesi psilosibin sementara hanya 13% melaporkan hasil serupa setelah mendapatkan sesi metilfenidat. Dua bulan setelah diberi psilosibin, 79% partisipan melaporkan peningkatan [[kepuasan hidup]] dan rasa [[Well-being|sejahtera]] yang sedang hingga besar. Sekitar 36% partisipan juga mengalami "pengalaman rasa takut" atau [[disforia]] yang kuat hingga ekstrem pada sesi psilosibin, hal ini tidak dilaporkan oleh satupun partisipan pada sesi metilfenidat; sekitar sepertiga dari mereka yang melaporkan disforia (13%) memberi tahu bahwa rasa takut ini mendominasi seluruh sesi. Efek negatif ini dilaporkan dapat dengan mudah ditangani oleh peneliti dan tidak memberikan efek negatif jangka panjang pada rasa sejahtera subjek. | Kelompok peneliti dari ''[[Johns Hopkins University School of Medicine]]'' yang dipimpin oleh Griffiths mengadakan studi untuk menilai efek psikologis jangka pendek dan panjang pengalaman penggunaan psilosibin. Mereka menggunakan kuesioner tentang pengalaman mistis dan prosedur ''double-blind'' yang ketat dalam versi yang telah dimodifikasi.<ref>R. R. Griffiths. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16826400 Psilocybin can occasion mystical-type experiences having substantial and sustained personal meaning and spiritual significance]. ''Psychopharmacology''. 2006-08. Vol. 187 (3). hlm. 268–283; discussion 284–292. doi:10.1007/s00213-006-0457-5.</ref> Bersangkutan dengan kemiripan penelitiannya dengan studi oleh Leary, Griffith menjelaskan perbedaan keduanya: "Kami mengadakan penelitian sistematis yang ketat menggunakan psilosibin di bawah kondisi yang dimonitor secara saksama, alur yang Dr. Leary abaikan pada awal 1960-an."<ref>Beth Simpkins. [https://www.hopkinsmedicine.org/Press_releases/2006/GriffithspsilocybinQ Griffiths psilocybin]. ''www.hopkinsmedicine.org''.</ref> Penelitian tersebut didanai oleh [[Institut Penyalahgunaan Obat Nasional Amerika Serikat]] (''National Institute on Drug Abuse'', NIDA), terbit pada 2006, dan disanjung oleh para pakar karena kekuatan desain percobaannya. Pada penelitian tersebut, 36 sukarelawan yang belum pernah menggunakan halusinogen diberikan psilosobin dan [[metilfenidat]] (Ritalin) pada sesi yang berbeda; sesi metilfenidat berfungsi sebagai [[Kontrol saintifik|kontrol]] dan [[plasebo]] psikoaktif. Tingkat pengalaman mistis diukur dengan kuesioner yang dibuat oleh Ralph W. Hood;<ref>Ralph W. Hood. [https://www.jstor.org/stable/1384454?origin=crossref The Construction and Preliminary Validation of a Measure of Reported Mystical Experience]. ''Journal for the Scientific Study of Religion''. 1975-03. Vol. 14 (1). hlm. 29. doi:10.2307/1384454.</ref> 61% subjek melaporkan "pengalaman mistis total" setelah mendapatkan sesi psilosibin sementara hanya 13% melaporkan hasil serupa setelah mendapatkan sesi metilfenidat. Dua bulan setelah diberi psilosibin, 79% partisipan melaporkan peningkatan [[kepuasan hidup]] dan rasa [[Well-being|sejahtera]] yang sedang hingga besar. Sekitar 36% partisipan juga mengalami "pengalaman rasa takut" atau [[disforia]] yang kuat hingga ekstrem pada sesi psilosibin, hal ini tidak dilaporkan oleh satupun partisipan pada sesi metilfenidat; sekitar sepertiga dari mereka yang melaporkan disforia (13%) memberi tahu bahwa rasa takut ini mendominasi seluruh sesi. Efek negatif ini dilaporkan dapat dengan mudah ditangani oleh peneliti dan tidak memberikan efek negatif jangka panjang pada rasa sejahtera subjek.<ref>[http://www.medpagetoday.com/Psychiatry/GeneralPsychiatry/tb/3721 Medical News: Psilocybin Viewed as Therapy or Research Tool - in Psychiatry, Addictions from MedPage Today]. ''web.archive.org''. 2008-10-05.</ref> | ||
Studi lanjutan yang diadakan 14 bulan setelah sesi psilosibin awal mengonfirmasi bahwa partisipan secara lanjut memaknai pengalaman tersebut secara personal dan mendalam. Hampir sepertiga subjek melaporkan bahwa pengalaman tersebut adalah satu-satunya peristiwa paling berarti atau signifikan secara spiritual dalam hidup mereka; lebih dari dua per tiga subjek melaporkan peristiwa tersebut termasuk dalam lima peristiwa paling signifikan secara spiritual dalam hidup mereka. Sekitar dua per tiga subjek mengindikasikan bahwa pengalaman tersebut meningkatkan rasa sejahtera atau kepuasan hidup. Bahkan setelah 14 bulan, mereka yang melaporkan pengalaman mistis mendapatkan nilai dengan rerata 4% lebih tinggi pada ''personality trait'' [[keterbukaan kepada pengalaman]]; biasanya ''personality trait'' bersifat stabil sepanjang umur orang dewasa. Hal yang serupa terjadi pada penelitian (2010) dengan kuesioner berbasis internet yang dirancang untuk meneliti persepsi pengguna terhadap manfaat dan bahaya penggunaan obat halusinogen: 60% dari 503 pengguna psilosibin melaporkan bahwa penggunaan psilosibin memiliki pengaruh positif jangka panjang pada rasa sejahtera. | Studi lanjutan yang diadakan 14 bulan setelah sesi psilosibin awal mengonfirmasi bahwa partisipan secara lanjut memaknai pengalaman tersebut secara personal dan mendalam. Hampir sepertiga subjek melaporkan bahwa pengalaman tersebut adalah satu-satunya peristiwa paling berarti atau signifikan secara spiritual dalam hidup mereka; lebih dari dua per tiga subjek melaporkan peristiwa tersebut termasuk dalam lima peristiwa paling signifikan secara spiritual dalam hidup mereka. Sekitar dua per tiga subjek mengindikasikan bahwa pengalaman tersebut meningkatkan rasa sejahtera atau kepuasan hidup.<ref>Griffiths R. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18593735/ Mystical-type experiences occasioned by psilocybin mediate the attribution of personal meaning and spiritual significance 14 months later]. ''Journal of psychopharmacology (Oxford, England)''. 2008 Aug. Vol. 22 (6). doi:10.1177/0269881108094300.</ref> Bahkan setelah 14 bulan, mereka yang melaporkan pengalaman mistis mendapatkan nilai dengan rerata 4% lebih tinggi pada ''personality trait'' [[keterbukaan kepada pengalaman]]; biasanya ''personality trait'' bersifat stabil sepanjang umur orang dewasa. Hal yang serupa terjadi pada penelitian (2010) dengan kuesioner berbasis internet yang dirancang untuk meneliti persepsi pengguna terhadap manfaat dan bahaya penggunaan obat halusinogen: 60% dari 503 pengguna psilosibin melaporkan bahwa penggunaan psilosibin memiliki pengaruh positif jangka panjang pada rasa sejahtera.<ref>R. L. Carhart-Harris. [http://www.tandfonline.com/doi/full/10.3109/14659890903271624 User perceptions of the benefits and harms of hallucinogenic drug use: A web-based questionnaire study]. ''Journal of Substance Use''. 2010-08. Vol. 15 (4). hlm. 283–300. doi:10.3109/14659890903271624.</ref><ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> | ||
Walau banyak penelitian pada abad ke-21 menyimpulkan bahwa psilosibin dapat menyebabkan pengalaman mistis dengan arti personal dan berpengaruh secara spiritual, tidak semua anggota komunitas kesehatan setuju. [[Paul R. McHugh]], mantan direktur Departemen [[Psikiatri]] dan Ilmu Perilaku Johns Hopkins, menanggapi dalam tinjauan buku: "Fakta yang tidak disebutkan dalam ''The Harvard Psychedelic Club'' ialah bahwa LSD, psilosibin, meskalin, dan bahan serupa tidak menghasilkan "kesadaran yang lebih tinggi" melainkan sebuah "kesadaran yang lebih rendah" tertentu yang dengan baik dikenal oleh para psikiater dan ahli saraf—yaitu, "[[delirium]] [[Toksisitas|toksik]]"." Menanggapi penolakan McHugh terhadap pandangan bahwa pengalaman mistis menghasilkan pandangan baru, Michael Pollan merujuk kepada Roland Griffiths, peneliti dari Johns Hopkins dan penulis banyak penelitian yang mendapati bahwa banyak partisipan sesungguhnya mengalami hal yang memberikan arti personal yang besar dan berkelanjutan yang menghasilkan perubahan positif berkelanjutan dalam fungsi psikologis. Menurut Pollan, Griffiths mengakui bahwa mereka yang menggunakan psilosibin dapat mengalami psikosis sementara tetapi merincikan bahwa pasien yang McHugh gambarkan kemungkinan tidak melaporkan pengalaman mereka bertahun-tahun kemudian dengan ujaran "Waw, itu pengalaman paling hebat dan berarti dalam hidupku." Respons demikian dalam kata lain ialah bahwa menyamakan pengalaman karena psilosibin menghasilkan pandangan menakjubkan secara otomatis dengan pengalaman pasien psikiatrik yang serupa secara dangkal (delirium toksik semata) adalah tidak pantas karena hanya "pandangan baru" yang didapatkan dari pengalaman dengan psilosibin yang dilaporkan sering menghasilkan perubahan berkelanjutan dan bermanfaat yang besar dalam hidup seseorang. | Walau banyak penelitian pada abad ke-21 menyimpulkan bahwa psilosibin dapat menyebabkan pengalaman mistis dengan arti personal dan berpengaruh secara spiritual, tidak semua anggota komunitas kesehatan setuju. [[Paul R. McHugh]], mantan direktur Departemen [[Psikiatri]] dan Ilmu Perilaku Johns Hopkins, menanggapi dalam tinjauan buku: "Fakta yang tidak disebutkan dalam ''The Harvard Psychedelic Club'' ialah bahwa LSD, psilosibin, meskalin, dan bahan serupa tidak menghasilkan "kesadaran yang lebih tinggi" melainkan sebuah "kesadaran yang lebih rendah" tertentu yang dengan baik dikenal oleh para psikiater dan ahli saraf—yaitu, "[[delirium]] [[Toksisitas|toksik]]"."<ref>[https://www.commentarymagazine.com/articles/the-harvard-psychedelic-club-by-don-lattin/ The Harvard Psychedelic Club, by Don Lattin - Commentary]. ''web.archive.org''. 2019-04-10.</ref> Menanggapi penolakan McHugh terhadap pandangan bahwa pengalaman mistis menghasilkan pandangan baru, Michael Pollan merujuk kepada Roland Griffiths, peneliti dari Johns Hopkins dan penulis banyak penelitian yang mendapati bahwa banyak partisipan sesungguhnya mengalami hal yang memberikan arti personal yang besar dan berkelanjutan yang menghasilkan perubahan positif berkelanjutan dalam fungsi psikologis.<ref>R. R. Griffiths. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16826400 Psilocybin can occasion mystical-type experiences having substantial and sustained personal meaning and spiritual significance]. ''Psychopharmacology''. 2006-08. Vol. 187 (3). hlm. 268–283; discussion 284–292. doi:10.1007/s00213-006-0457-5.</ref><ref>Roland R. Griffiths. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29020861 Psilocybin-occasioned mystical-type experience in combination with meditation and other spiritual practices produces enduring positive changes in psychological functioning and in trait measures of prosocial attitudes and behaviors]. ''Journal of Psychopharmacology (Oxford, England)''. 2018-01. Vol. 32 (1). hlm. 49–69. doi:10.1177/0269881117731279.</ref> Menurut Pollan, Griffiths mengakui bahwa mereka yang menggunakan psilosibin dapat mengalami psikosis sementara tetapi merincikan bahwa pasien yang McHugh gambarkan kemungkinan tidak melaporkan pengalaman mereka bertahun-tahun kemudian dengan ujaran "Waw, itu pengalaman paling hebat dan berarti dalam hidupku."<ref>[https://www.trippingly.net/lsd-studies/2018/5/15/how-to-change-your-mind How to Change Your Mind Annotated Summary — Trippingly.Net]. ''web.archive.org''. 2019-11-01.</ref> Respons demikian dalam kata lain ialah bahwa menyamakan pengalaman karena psilosibin menghasilkan pandangan menakjubkan secara otomatis dengan pengalaman pasien psikiatrik yang serupa secara dangkal (delirium toksik semata) adalah tidak pantas karena hanya "pandangan baru" yang didapatkan dari pengalaman dengan psilosibin yang dilaporkan sering menghasilkan perubahan berkelanjutan dan bermanfaat yang besar dalam hidup seseorang. | ||
=== Bentuk sediaan === | === Bentuk sediaan === | ||
Walau psilosibin dapat dibuat secara sintetik, bahan yang digunakan di luar penelitian biasanya tidak demikian. Psilosibin terkandung dalam spesies jamur tertentu dan dapat dikonsumsi dengan berbagai cara: dengan konsumsi langsung bagian buah segar atau kering, dengan bentuk [[teh herbal]], atau dengan mencampurkannya ke makanan lain untuk menutup rasa pahit. Pada kasus yang jarang, ekstrak jamur disuntikkan langsung secara [[intravena]]. | Walau psilosibin dapat dibuat secara sintetik, bahan yang digunakan di luar penelitian biasanya tidak demikian. Psilosibin terkandung dalam spesies jamur tertentu dan dapat dikonsumsi dengan berbagai cara: dengan konsumsi langsung bagian buah segar atau kering, dengan bentuk [[teh herbal]], atau dengan mencampurkannya ke makanan lain untuk menutup rasa pahit.<ref>[https://www.worldcat.org/oclc/1044322885 Hallucinogenic mushrooms : an emerging trend case study : EMCDDA Thematic papers]. EMCDDA. 2006. ISBN 92-9168-249-7.</ref> Pada kasus yang jarang, ekstrak jamur disuntikkan langsung secara [[intravena]].<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> | ||
== Efek merugikan == | == Efek merugikan == | ||
Sebagian besar kejadian penggunaan jamur psikedelik fatal, yang relatif sedikit, yang dilaporkan dalam pustaka melibatkan penggunaan obat lain secara bersamaan, terutama [[Etanol|alkohol]]. Kebanyakan penyebab kebutuhan penanganan medis atas penggunaan jamur psikedelik mungkin termasuk disforia atau [[Serangan panik|reaksi panik]], yang memengaruhi individu yang menjadi cemas, bingung, gelisah, atau terdisorientasi secara ekstrem. Kecelakaan, kegiatan [[menyakiti diri]], atau percobaan bunuh diri dapat terjadi pada kasus serius [[Psikosis|episode psikosis]] akut. Walau tidak ada penelitian yang menemukan hubungan antara psilosibin dan [[Cacat lahir|kecacatan lahir]], perempuan hamil dianjurkan agar menghindari penggunaan psilosibin. | Sebagian besar kejadian penggunaan jamur psikedelik fatal, yang relatif sedikit, yang dilaporkan dalam pustaka melibatkan penggunaan obat lain secara bersamaan, terutama [[Etanol|alkohol]]. Kebanyakan penyebab kebutuhan penanganan medis atas penggunaan jamur psikedelik mungkin termasuk disforia atau [[Serangan panik|reaksi panik]], yang memengaruhi individu yang menjadi cemas, bingung, gelisah, atau terdisorientasi secara ekstrem. Kecelakaan, kegiatan [[menyakiti diri]], atau percobaan bunuh diri dapat terjadi pada kasus serius [[Psikosis|episode psikosis]] akut.<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> Walau tidak ada penelitian yang menemukan hubungan antara psilosibin dan [[Cacat lahir|kecacatan lahir]],<ref>Louis A. Pagliaro. [https://www.worldcat.org/oclc/707710851 Handbook of child and adolescent drug and substance abuse : pharmacological, developmental, and clinical considerations]. John Wiley and Sons. 2012. ISBN 978-0-470-63906-1.</ref> perempuan hamil dianjurkan agar menghindari penggunaan psilosibin.<ref>[https://www.worldcat.org/oclc/53325604 Drugs during pregnancy and lactation : handbook of prescription drugs and comparative risk assessment : with updated information on recreational drugs, diagnostic procedures, vaccinations, poisoning, workplace and environmental contaminants, and breastfeeding during infectious disease]. Elsevier. 2001. ISBN 978-0-444-50763-1.</ref> | ||
=== Toksisitas === | === Toksisitas === | ||
Data toksisitas psilosibin tidak banyak ditemui tetapi pada 2010-an kejadian overdosis jamur psilosibin semakin banyak tercatat. Sebuah analisis jamur, yang digunakan oleh mereka yang harus ditangani oleh tenaga kesehatan karena keracunan psilosibin, menemukan kadar [[fenetilamina]] (''phenethylamine'', PEA) yang tinggi. Hal yang sama ditemukan pada urin mereka yang menggunakan jamur psilosibin. Maka dari itu, terdapat hipotesis bahwa PEA dapat meningkatkan intensitas efek keracunan psilosibin. | Data toksisitas psilosibin tidak banyak ditemui tetapi pada 2010-an kejadian overdosis jamur psilosibin semakin banyak tercatat. Sebuah analisis jamur, yang digunakan oleh mereka yang harus ditangani oleh tenaga kesehatan karena keracunan psilosibin, menemukan kadar [[fenetilamina]] (''phenethylamine'', PEA) yang tinggi. Hal yang sama ditemukan pada urin mereka yang menggunakan jamur psilosibin. Maka dari itu, terdapat hipotesis bahwa PEA dapat meningkatkan intensitas efek keracunan psilosibin.<ref>Justin P. Reinert. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32648791 Management of overdoses of salvia, kratom, and psilocybin mushrooms: a literature review]. ''Expert Review of Clinical Pharmacology''. 2020-08. Vol. 13 (8). hlm. 847–856. doi:10.1080/17512433.2020.1794811.</ref> | ||
[[Median dosis letal]] (LD<sub>50</sub>) pada tikus jika psilosibin diberikan secara oral (ditelan) adalah 280 miligram per kilogram (mg/kg), sekitar 1,5 kali lipat LD<sub>50</sub> [[Kafeina|kafein]]. Jika psilosibin diberikan secara [[intravena]] kepada kelinci, LD<sub>50</sub> mendekati 12,5 mg/kg. Jamur ''Psilocybe cubensis'' mengandung psilosibin sebanyak sekitar 1% menurut bobot sehingga sekitar 1,7 kg jamur kering, atau 17 kg jamur segar, menyebabkan manusia dengan berat badan 60 kg mengalami hal yang sama seperti tikus yang memiliki LD<sub>50</sub> psilosibin sebanyak 280 mg/kg. Berdasarkan penelitian pada hewan, [[dosis letal]] (mematikan) psilosibin diperhitungkan menurut ekstrapolasi berjumlah 6 gram, 1000 kali lebih besar daripada [[dosis efektif]] 6 mg. [[RTECS|Pendaftaran Efek Toksik Bahan Kimia]] menetapkan bahwa psilosibin memiliki [[indeks terapi]] yang relatif tinggi, yaitu 641 (semakin tinggi nilai indeks terapi maka profil keamanannya semakin baik); sebagai perbandingan, indeks terapi [[aspirin]] adalah 199 sedangkan [[nikotin]] adalah 21. Dosis letal psilosibin pada penggunaan sebagai [[medikasi]] atau bahan rekreasi tunggal belum pernah terdokumentasi—hingga 2011, hanya ada dua laporan resmi atas kasus overdosis jamur halusinogen (tanpa penggunaan bahan lain) pada pustaka ilmiah dan mungkin kasus-kasus tersebut melibatkan faktor lain di samping psilosibin. | [[Median dosis letal]] (LD<sub>50</sub>) pada tikus jika psilosibin diberikan secara oral (ditelan) adalah 280 miligram per kilogram (mg/kg), sekitar 1,5 kali lipat LD<sub>50</sub> [[Kafeina|kafein]]. Jika psilosibin diberikan secara [[intravena]] kepada kelinci, LD<sub>50</sub> mendekati 12,5 mg/kg.<ref>[https://www.worldcat.org/oclc/52301949 The Merck index : an encyclopedia of chemicals, drugs, and biologicals]. Merck. 2001. ISBN 0-911910-13-1.</ref> Jamur ''Psilocybe cubensis'' mengandung psilosibin sebanyak sekitar 1% menurut bobot sehingga sekitar 1,7 kg jamur kering, atau 17 kg jamur segar, menyebabkan manusia dengan berat badan 60 kg mengalami hal yang sama seperti tikus yang memiliki LD<sub>50</sub> psilosibin sebanyak 280 mg/kg.<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> Berdasarkan penelitian pada hewan, [[dosis letal]] (mematikan) psilosibin diperhitungkan menurut ekstrapolasi berjumlah 6 gram, 1000 kali lebih besar daripada [[dosis efektif]] 6 mg.<ref>Robert S. Gable. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15139867 Comparison of acute lethal toxicity of commonly abused psychoactive substances]. ''Addiction (Abingdon, England)''. 2004-06. Vol. 99 (6). hlm. 686–696. doi:10.1111/j.1360-0443.2004.00744.x.</ref> [[RTECS|Pendaftaran Efek Toksik Bahan Kimia]] menetapkan bahwa psilosibin memiliki [[indeks terapi]] yang relatif tinggi, yaitu 641 (semakin tinggi nilai indeks terapi maka profil keamanannya semakin baik); sebagai perbandingan, indeks terapi [[aspirin]] adalah 199 sedangkan [[nikotin]] adalah 21.<ref>[https://www.worldcat.org/oclc/190872398 Inner paths to outer space : journeys to alien worlds through psychedelics and other spiritual technologies]. Park Street Press. 2008. ISBN 978-1-59477-224-5.</ref> Dosis letal psilosibin pada penggunaan sebagai [[medikasi]] atau bahan rekreasi tunggal belum pernah terdokumentasi—hingga 2011, hanya ada dua laporan resmi atas kasus overdosis jamur halusinogen (tanpa penggunaan bahan lain) pada pustaka ilmiah dan mungkin kasus-kasus tersebut melibatkan faktor lain di samping psilosibin.<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> | ||
=== Psikiatri === | === Psikiatri === | ||
Serangan panik dapat terjadi karena konsumsi jamur yang mengandung psilosibin, terutama jika jamur tertelan secara tidak disengaja atau tidak terduga. Reaksi tersebut bercirikan perilaku kekerasan, pemikiran ingin bunuh diri, psikosis seperti pada skizofrenia, dan [[kejang]] sesuai berbagai pustaka ilmiah. Sebuah survei diadakan di Inggris pada tahun 2005; penelitian tersebut menemukan bahwa hampir seperempat dari mereka yang pernah menggunakan psilosibin dalam jangka waktu satu tahun mengalami serangan panik. Efek merugikan lain yang tidak begitu banyak dilaporkan antara lain paranoia, [[kebingungan]], [[derealisasi]] (hilangnya koneksi dengan kenyataan) jangka panjang, dan [[mania]]. Penggunaan psilosibin dapat memicu episode [[gangguan depersonalisasi]] secara sementara. Penggunaannya oleh mereka yang mengidap [[skizofrenia]] dapat memicu episode psikosis akut yang membutuhkan penanganan medis. | Serangan panik dapat terjadi karena konsumsi jamur yang mengandung psilosibin, terutama jika jamur tertelan secara tidak disengaja atau tidak terduga. Reaksi tersebut bercirikan perilaku kekerasan, pemikiran ingin bunuh diri,<ref>N. R. Peden. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7173927 The problem of psilocybin mushroom abuse]. ''Human Toxicology''. 1982-10. Vol. 1 (4). hlm. 417–424. doi:10.1177/096032718200100408.</ref> psikosis seperti pada skizofrenia,<ref>F. X. Vollenweider. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9875725 Psilocybin induces schizophrenia-like psychosis in humans via a serotonin-2 agonist action]. ''Neuroreport''. 1998-12-01. Vol. 9 (17). hlm. 3897–3902. doi:10.1097/00001756-199812010-00024.</ref><ref>C. Hyde. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/566144 Abuse of indigenous psilocybin mushrooms: a new fashion and some psychiatric complications]. ''The British Journal of Psychiatry: The Journal of Mental Science''. 1978-06. Vol. 132. hlm. 602–604. doi:10.1192/bjp.132.6.602.</ref> dan [[kejang]]<ref>R. B. Mack. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/6580536 Phenomenally phunny phungi--psilocybin toxicity]. ''North Carolina Medical Journal''. 1983-10. Vol. 44 (10). hlm. 639–640.</ref> sesuai berbagai pustaka ilmiah. Sebuah survei diadakan di Inggris pada tahun 2005; penelitian tersebut menemukan bahwa hampir seperempat dari mereka yang pernah menggunakan psilosibin dalam jangka waktu satu tahun mengalami serangan panik.<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> Efek merugikan lain yang tidak begitu banyak dilaporkan antara lain paranoia, [[kebingungan]], [[derealisasi]] (hilangnya koneksi dengan kenyataan) jangka panjang, dan [[mania]].<ref>R. L. Carhart-Harris. [http://www.tandfonline.com/doi/full/10.3109/14659890903271624 User perceptions of the benefits and harms of hallucinogenic drug use: A web-based questionnaire study]. ''Journal of Substance Use''. 2010-08. Vol. 15 (4). hlm. 283–300. doi:10.3109/14659890903271624.</ref> Penggunaan psilosibin dapat memicu episode [[gangguan depersonalisasi]] secara sementara.<ref>Daphne Simeon. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15089102 Depersonalisation disorder: a contemporary overview]. ''CNS drugs''. 2004. Vol. 18 (6). hlm. 343–354. doi:10.2165/00023210-200418060-00002.</ref> Penggunaannya oleh mereka yang mengidap [[skizofrenia]] dapat memicu episode psikosis akut yang membutuhkan penanganan medis.<ref>Roman J. Nielen. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15048636 Khat and mushrooms associated with psychosis]. ''The World Journal of Biological Psychiatry: The Official Journal of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry''. 2004-01. Vol. 5 (1). hlm. 49–53. doi:10.1080/15622970410029908.</ref> | ||
Kemiripan gejala yang dipicu oleh psilosibin dengan gejala pada skizofrenia menjadikan senyawa ini sebagai alat penelitian dalam studi perilaku dan [[pencitraan saraf]] pada gangguan psikosis skizofrenia. Pada kedua kasus, gejala psikosis dianggap muncul karena "pembatasan yang kurang terhadap informasi kognitif dan indra" dalam otak yang pada akhirnya memicu "fragmentasi kognitif dan psikosis". ''[[Flashback]]'' (berulangnya pengalaman sebelumnya dengan psilosibin secara spontan) dapat terjadi lama setelah penggunaan jamur psilosibin. ''[[Hallucinogen persisting perception disorder]]'' (HPPD) bercirikan adanya gangguan visual berkelanjutan yang mirip dengan gangguan yang muncul karena bahan psikedelik. ''Flashback'' maupun HPPD secara umum berhubungan dengan penggunaan psilosibin. | Kemiripan gejala yang dipicu oleh psilosibin dengan gejala pada skizofrenia menjadikan senyawa ini sebagai alat penelitian dalam studi perilaku dan [[pencitraan saraf]] pada gangguan psikosis skizofrenia.<ref>M. A. Geyer. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9754837 Behavioral studies of hallucinogenic drugs in animals: implications for schizophrenia research]. ''Pharmacopsychiatry''. 1998-07. Vol. 31 Suppl 2. hlm. 73–79. doi:10.1055/s-2007-979350.</ref><ref>F. X. Vollenweider. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11750795 A systems model of altered consciousness: integrating natural and drug-induced psychoses]. ''Brain Research Bulletin''. 2001-11-15. Vol. 56 (5). hlm. 495–507. doi:10.1016/s0361-9230(01)00646-3.</ref><ref>Mark A. Geyer. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19086254 Serotonin research: contributions to understanding psychoses]. ''Trends in Pharmacological Sciences''. 2008-09. Vol. 29 (9). hlm. 445–453. doi:10.1016/j.tips.2008.06.006.</ref> Pada kedua kasus, gejala psikosis dianggap muncul karena "pembatasan yang kurang terhadap informasi kognitif dan indra" dalam otak yang pada akhirnya memicu "fragmentasi kognitif dan psikosis".<ref>F. X. Vollenweider. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11750795 A systems model of altered consciousness: integrating natural and drug-induced psychoses]. ''Brain Research Bulletin''. 2001-11-15. Vol. 56 (5). hlm. 495–507. doi:10.1016/s0361-9230(01)00646-3.</ref> ''[[Flashback]]'' (berulangnya pengalaman sebelumnya dengan psilosibin secara spontan) dapat terjadi lama setelah penggunaan jamur psilosibin. ''[[Hallucinogen persisting perception disorder]]'' (HPPD) bercirikan adanya gangguan visual berkelanjutan yang mirip dengan gangguan yang muncul karena bahan psikedelik. ''Flashback'' maupun HPPD secara umum berhubungan dengan penggunaan psilosibin.<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> | ||
=== Alkoholisme === | === Alkoholisme === | ||
psilocybin, menurut sebuah studi tahun 2022 yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association Psychiatry, memiliki kemampuan untuk membendung penggunaan alkohol yang berlebihaang berlebihan. | psilocybin, menurut sebuah studi tahun 2022 yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association Psychiatry, memiliki kemampuan untuk membendung penggunaan alkohol yang berlebihaang berlebihan.<ref>scienceblog. [https://www.scienceblog.co.uk/id/psilocybin-stems-alcoholism/ Psilocybin membendung alkoholisme]. ''scienceblog''. 2022-08-27.</ref> | ||
=== Toleransi dan ketergantungan === | === Toleransi dan ketergantungan === | ||
[[Toleransi obat|Toleransi]] terhadap psilosibin muncul dan menghilang dengan cepat; konsumsi psilosibin lebih dari satu kali sepekan dapat membuat hilangnya efek psilosibin. Toleransi menghilang setelah beberapa hari sehingga pemberiannya dapat dilakukan dengan jeda beberapa hari agar efek terhindarkan. [[Toleransi silang]] dapat terjadi antara psilosibin dan LSD dengan ciri farmakologi yang mirip serta antara psilosibin dan [[fenetilamina]] seperti [[meskalin]] dan [[2,5-Dimethoxy-4-methylamphetamine|DOM]]. | [[Toleransi obat|Toleransi]] terhadap psilosibin muncul dan menghilang dengan cepat; konsumsi psilosibin lebih dari satu kali sepekan dapat membuat hilangnya efek psilosibin. Toleransi menghilang setelah beberapa hari sehingga pemberiannya dapat dilakukan dengan jeda beberapa hari agar efek terhindarkan.<ref>L. G. Nicholas. [https://www.worldcat.org/oclc/68626880 Psilocybin mushroom handbook : easy indoor & outdoor cultivation]. Quick American. 2006. ISBN 0-932551-71-8.</ref> [[Toleransi silang]] dapat terjadi antara psilosibin dan LSD dengan ciri farmakologi yang mirip<ref>Torsten Passie. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19040555 The pharmacology of lysergic acid diethylamide: a review]. ''CNS neuroscience & therapeutics''. 2008. Vol. 14 (4). hlm. 295–314. doi:10.1111/j.1755-5949.2008.00059.x.</ref> serta antara psilosibin dan [[fenetilamina]] seperti [[meskalin]] dan [[2,5-Dimethoxy-4-methylamphetamine|DOM]].<ref>Adam L. Halberstadt. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21256140 Multiple receptors contribute to the behavioral effects of indoleamine hallucinogens]. ''Neuropharmacology''. 2011-09. Vol. 61 (3). hlm. 364–381. doi:10.1016/j.neuropharm.2011.01.017.</ref> | ||
Penggunaan berulang psilosibin tidak menyebabkan [[ketergantungan fisik]]. Penelitian pada 2008 menyimpulkan bahwa, berdasarkan data [[Amerika Serikat]] pada 2000-2002, onset remaja (usia 11-17 tahun) dalam menggunakan obat halusinogen (termasuk psilosibin) tidak meningkatkan risiko ketergantungan obat pada masa dewasa. Hal ini diterangkan dalam perbandingan dengan penggunaan remaja atas [[ganja]], [[kokain]], [[inhalansi]], [[sedatif|obat penenang]], dan [[stimulan]], yang semuanya berhubungan dengan "risiko besar mengalami gejala klinis ketergantungan obat di kemudian hari". Penelitian di Belanda pada tahun 2010 memeringkatkan bahaya relatif jamur psilosibin dibandingkan dengan 19 [[Penggunaan zat adiktif|obat rekreasi]], antara lain alkohol (minuman keras), ganja, kokain, [[ekstasi]], [[heroin]], dan [[tembakau]] (bahan rokok). Dalam studi tersebut, jamur psilosibin menempati peringkat obat ilegal dengan bahaya paling rendah, menguatkan kesimpulan yang telah dibuat oleh kelompok pakar dari Inggris. | Penggunaan berulang psilosibin tidak menyebabkan [[ketergantungan fisik]].<ref>Torsten Passie. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14578010 The pharmacology of psilocybin]. ''Addiction Biology''. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.</ref> Penelitian pada 2008 menyimpulkan bahwa, berdasarkan data [[Amerika Serikat]] pada 2000-2002, onset remaja (usia 11-17 tahun) dalam menggunakan obat halusinogen (termasuk psilosibin) tidak meningkatkan risiko ketergantungan obat pada masa dewasa. Hal ini diterangkan dalam perbandingan dengan penggunaan remaja atas [[ganja]], [[kokain]], [[inhalansi]], [[sedatif|obat penenang]], dan [[stimulan]], yang semuanya berhubungan dengan "risiko besar mengalami gejala klinis ketergantungan obat di kemudian hari".<ref>Chuan-Yu Chen. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19022584 Early-onset drug use and risk for drug dependence problems]. ''Addictive Behaviors''. 2009-03. Vol. 34 (3). hlm. 319–322. doi:10.1016/j.addbeh.2008.10.021.</ref> Penelitian di Belanda pada tahun 2010 memeringkatkan bahaya relatif jamur psilosibin dibandingkan dengan 19 [[Penggunaan zat adiktif|obat rekreasi]], antara lain alkohol (minuman keras), ganja, kokain, [[ekstasi]], [[heroin]], dan [[tembakau]] (bahan rokok). Dalam studi tersebut, jamur psilosibin menempati peringkat obat ilegal dengan bahaya paling rendah,<ref>Jan van Amsterdam. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20606445 Ranking the harm of alcohol, tobacco and illicit drugs for the individual and the population]. ''European Addiction Research''. 2010. Vol. 16 (4). hlm. 202–207. doi:10.1159/000317249.</ref> menguatkan kesimpulan yang telah dibuat oleh kelompok pakar dari Inggris.<ref>David J. Nutt. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21036393 Drug harms in the UK: a multicriteria decision analysis]. ''Lancet (London, England)''. 2010-11-06. Vol. 376 (9752). hlm. 1558–1565. doi:10.1016/S0140-6736(10)61462-6.</ref> | ||
== Farmakologi == | == Farmakologi == | ||
=== Farmakodinamik === | === Farmakodinamik === | ||
Psilosibin dengan cepat mengalami defosforilasi dalam tubuh menjadi [[psilosin]], yang merupakan [[agonis]] sejumlah [[reseptor serotonin]], yang juga dikenal sebagai reseptor 5-hidroksitriptamin (5-HT). Pada tikus, psilosin memiliki [[Ligan (biokimia)|afinitas]] yang tinggi terhadap reseptor [[Reseptor 5-HT2A|5-HT<sub>2A</sub>]] dan afinitas yang rendah terhadap [[Reseptor 5-HT1|reseptor 5-HT<sub>1</sub>]], termasuk [[Reseptor 5-HT1A|reseptor 5-HT<sub>1A</sub>]] dan [[Reseptor 5-HT1D|5-HT<sub>1D</sub>]]; efek psilosin juga dimediasi oleh [[Reseptor 5-HT2C|reseptor 5-HT<sub>2C</sub>]]. Efek [[psikotomimetik]] (serupa psikosis) karena psilosin dapat dihentikan dengan mekanisme [[Dosis|bergantung-dosis]] oleh [[ketanserin]], obat [[Antagonis reseptor|antagonis]] 5-HT<sub>2A</sub>. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa interaksi psilosin dengan reseptor non-5-HT<sub>2</sub> juga berperan dalam efek obat secara subjektif dan dalam hal perilaku. Contohnya, psilosin secara tidak langsung meningkatkan kadar neurotransmiter [[dopamin]] di ''[[basal ganglia]]'' dan sebagian gejala psikotomimetik karena psilosin dapat dikurangi oleh [[haloperidol]], antagonis reseptor dopamin nonselektif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat peran [[dopaminergik]] tidak langsung dalam munculnya efek psikotomimetik karena psilosin. Psilosibin dan psilosin tidak memiliki afinitas terhadap reseptor D2 dopamin, tidak seperti agonis reseptor 5-HT lain, yaitu LSD. Psilosin berperan sebagai antagonis [[Reseptor histamin|reseptor H1]] dengan afinitas sedang sementara LSD memiliki afinitas lebih rendah. Reseptor serotonin terdapat di banyak bagian otak, antara lain [[korteks otak besar]], dan berperan dalam banyak fungsi, antara lain regulasi [[suasana hati]], [[motivasi]], [[Termoregulasi hewan|suhu tubuh]], [[nafsu makan]], dan [[libido]]. Psilosibin juga menginduksi perubahan [[Glutamat (neurotransmiter)|glutamat]] tergantung-region yang dapat menyebabkan pengalaman subjektif [[Kematian ego|disolusi-ego]]. | Psilosibin dengan cepat mengalami defosforilasi dalam tubuh menjadi [[psilosin]], yang merupakan [[agonis]] sejumlah [[reseptor serotonin]], yang juga dikenal sebagai reseptor 5-hidroksitriptamin (5-HT). Pada tikus, psilosin memiliki [[Ligan (biokimia)|afinitas]] yang tinggi terhadap reseptor [[Reseptor 5-HT2A|5-HT<sub>2A</sub>]] dan afinitas yang rendah terhadap [[Reseptor 5-HT1|reseptor 5-HT<sub>1</sub>]], termasuk [[Reseptor 5-HT1A|reseptor 5-HT<sub>1A</sub>]] dan [[Reseptor 5-HT1D|5-HT<sub>1D</sub>]]; efek psilosin juga dimediasi oleh [[Reseptor 5-HT2C|reseptor 5-HT<sub>2C</sub>]].<ref>Torsten Passie. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14578010 The pharmacology of psilocybin]. ''Addiction Biology''. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.</ref> Efek [[psikotomimetik]] (serupa psikosis) karena psilosin dapat dihentikan dengan mekanisme [[Dosis|bergantung-dosis]] oleh [[ketanserin]], obat [[Antagonis reseptor|antagonis]] 5-HT<sub>2A</sub>.<ref>F. X. Vollenweider. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9875725 Psilocybin induces schizophrenia-like psychosis in humans via a serotonin-2 agonist action]. ''Neuroreport''. 1998-12-01. Vol. 9 (17). hlm. 3897–3902. doi:10.1097/00001756-199812010-00024.</ref> Sejumlah bukti menunjukkan bahwa interaksi psilosin dengan reseptor non-5-HT<sub>2</sub> juga berperan dalam efek obat secara subjektif dan dalam hal perilaku.<ref>Adam L. Halberstadt. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21256140 Multiple receptors contribute to the behavioral effects of indoleamine hallucinogens]. ''Neuropharmacology''. 2011-09. Vol. 61 (3). hlm. 364–381. doi:10.1016/j.neuropharm.2011.01.017.</ref> Contohnya, psilosin secara tidak langsung meningkatkan kadar neurotransmiter [[dopamin]] di ''[[basal ganglia]]'' dan sebagian gejala psikotomimetik karena psilosin dapat dikurangi oleh [[haloperidol]], antagonis reseptor dopamin nonselektif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat peran [[dopaminergik]] tidak langsung dalam munculnya efek psikotomimetik karena psilosin.<ref>Jennifer T Coull. [http://www.nature.com/articles/npp2010113 Neuroanatomical and Neurochemical Substrates of Timing]. ''Neuropsychopharmacology''. 2011-01. Vol. 36 (1). hlm. 3–25. doi:10.1038/npp.2010.113.</ref> Psilosibin dan psilosin tidak memiliki afinitas terhadap reseptor D2 dopamin, tidak seperti agonis reseptor 5-HT lain, yaitu LSD.<ref>Torsten Passie. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14578010 The pharmacology of psilocybin]. ''Addiction Biology''. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.</ref> Psilosin berperan sebagai antagonis [[Reseptor histamin|reseptor H1]] dengan afinitas sedang sementara LSD memiliki afinitas lebih rendah. Reseptor serotonin terdapat di banyak bagian otak, antara lain [[korteks otak besar]], dan berperan dalam banyak fungsi, antara lain regulasi [[suasana hati]], [[motivasi]], [[Termoregulasi hewan|suhu tubuh]], [[nafsu makan]], dan [[libido]].<ref>J. D. Adams Jr. [https://www.eurekaselect.com/article/14942 Chemical Interactions with Pyramidal Neurons in Layer 5 of the Cerebral Cortex: Control of Pain and Anxiety]. ''Current Medicinal Chemistry''. Vol. 16 (27). hlm. 3476–3479. doi:10.2174/092986709789057626.</ref> Psilosibin juga menginduksi perubahan [[Glutamat (neurotransmiter)|glutamat]] tergantung-region yang dapat menyebabkan pengalaman subjektif [[Kematian ego|disolusi-ego]].<ref>N. L. Mason. [http://www.nature.com/articles/s41386-020-0718-8 Me, myself, bye: regional alterations in glutamate and the experience of ego dissolution with psilocybin]. ''Neuropsychopharmacology''. 2020-11. Vol. 45 (12). hlm. 2003–2011. doi:10.1038/s41386-020-0718-8.</ref> | ||
=== Farmakokinetik === | === Farmakokinetik === | ||
Efek obat mulai terjadi pada 10–40 menit setelah psilosibin masuk ke saluran cerna; efek berlangsung selama 2–6 jam tergantung dosis psilosibin, spesies jamur, dan metabolisme individu. [[Waktu paruh biologis|Waktu paruh]] psilosibin yakni 163 ± 64 menit jika dikonsumsi secara oral (lewat saluran cerna) atau 74.1 ± 19.6 menit jika disuntikkan secara intravena. | Efek obat mulai terjadi pada 10–40 menit setelah psilosibin masuk ke saluran cerna; efek berlangsung selama 2–6 jam tergantung dosis psilosibin, spesies jamur, dan metabolisme individu.<ref>Paul Stamets. [https://www.worldcat.org/oclc/34514700 Psilocybin mushrooms of the world : an identification guide]. Ten Speed Press. 1996. ISBN 0-89815-839-7.</ref> [[Waktu paruh biologis|Waktu paruh]] psilosibin yakni 163 ± 64 menit jika dikonsumsi secara oral (lewat saluran cerna) atau 74.1 ± 19.6 menit jika disuntikkan secara intravena.<ref>Torsten Passie. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14578010 The pharmacology of psilocybin]. ''Addiction Biology''. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.</ref> | ||
Psilosibin dimetabolisme terutama di [[hati]]. Dengan dikonversinya psilosibin menjadi psilosin, bahan ini mengalami [[Efek first-pass|efek ''first-pass'']] sehingga kadarnya berkurang sangat banyak sebelum sampai ke [[sirkulasi sistemik]]. Psilosin dipecah oleh enzim ''[[monoamine oxidase]]'' (MAO) menghasilkan sejumlah [[metabolit]] yang dapat beredar dalam plasma darah, antara lain 4-hidroksiindol-3-asetaldehida, 4-hidroksitriptofol, dan asam 4-hidroksiindol-3-asetat''.'' Sebagian psilosin tidak dipecah oleh [[enzim]], mereka kemudian diubah menjadi [[glukuronida]]; mekanisme biokimia ini digunakan oleh hewan untuk mengeliminasi zat beracun melalui pengikatannya dengan [[asam glukuronat]] dan ekskresi melalui urine. Psilosin mengalami glukuronasi dengan enzim [[glukuronosiltransferase]] [[UGT1A9]] di hati dan dengan [[UGT1A10]] di [[usus halus]]. Berdasarkan [[Model hewan|penelitian pada hewan]], sejumlah 50% psilosibin yang tertelan diabsorbsi melalui lambung dan usus halus. Dalam waktu 24 jam, sekitar 65% psilosibin yang terabsorbsi [[Ekskresi|diekskresi]] melalui urine dan 15-20% sisanya diekskresi melalui [[empedu]] dan tinja. Walaupun sebagian besar sisa obat dieliminasi dengan cara demikian dalam waktu 8 jam, psilosibin masih terdeteksi dalam urine setelah 7 hari. Uji klinis menunjukkan bahwa kadar psilosin dalam plasma darah orang dewasa berjumlah rata-rata 8 µg/liter dalam waktu 2 jam setelah masuknya dosis tunggal oral 15 mg psilosibin; efek psikologis terjadi jika kadar psilosin dalam plasma berjumlah 4–6 µg/liter. Psilosibin bersifat 100 kali kurang poten daripada LSD menurut perbandingan bobot per bobot, efek psikologisnya juga berlangsung separuh waktu dari LSD. | Psilosibin dimetabolisme terutama di [[hati]]. Dengan dikonversinya psilosibin menjadi psilosin, bahan ini mengalami [[Efek first-pass|efek ''first-pass'']] sehingga kadarnya berkurang sangat banyak sebelum sampai ke [[sirkulasi sistemik]]. Psilosin dipecah oleh enzim ''[[monoamine oxidase]]'' (MAO) menghasilkan sejumlah [[metabolit]] yang dapat beredar dalam plasma darah, antara lain 4-hidroksiindol-3-asetaldehida, 4-hidroksitriptofol, dan asam 4-hidroksiindol-3-asetat''.''<ref>Torsten Passie. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14578010 The pharmacology of psilocybin]. ''Addiction Biology''. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.</ref> Sebagian psilosin tidak dipecah oleh [[enzim]], mereka kemudian diubah menjadi [[glukuronida]]; mekanisme biokimia ini digunakan oleh hewan untuk mengeliminasi zat beracun melalui pengikatannya dengan [[asam glukuronat]] dan ekskresi melalui urine.<ref>Alison F. Grieshaber. [http://www.astm.org/doiLink.cgi?JFS15014J The Detection of Psilocin in Human Urine]. ''Journal of Forensic Sciences''. 2001-05-01. Vol. 46 (3). hlm. 15014J. doi:10.1520/JFS15014J.</ref><ref>Felix Hasler. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0731708502002789 Renal excretion profiles of psilocin following oral administration of psilocybin: a controlled study in man]. ''Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis''. 2002-09. Vol. 30 (2). hlm. 331–339. doi:10.1016/S0731-7085(02)00278-9.</ref> Psilosin mengalami glukuronasi dengan enzim [[glukuronosiltransferase]] [[UGT1A9]] di hati dan dengan [[UGT1A10]] di [[usus halus]].<ref>Markus R Meyer. [https://www.futuremedicine.com/doi/10.2217/pgs.10.171 Absorption, distribution, metabolism and excretion pharmacogenomics of drugs of abuse]. ''Pharmacogenomics''. 2011-02. Vol. 12 (2). hlm. 215–233. doi:10.2217/pgs.10.171.</ref> Berdasarkan [[Model hewan|penelitian pada hewan]], sejumlah 50% psilosibin yang tertelan diabsorbsi melalui lambung dan usus halus. Dalam waktu 24 jam, sekitar 65% psilosibin yang terabsorbsi [[Ekskresi|diekskresi]] melalui urine dan 15-20% sisanya diekskresi melalui [[empedu]] dan tinja. Walaupun sebagian besar sisa obat dieliminasi dengan cara demikian dalam waktu 8 jam, psilosibin masih terdeteksi dalam urine setelah 7 hari.<ref>Yoshihiro Matsushima. [http://www.jstage.jst.go.jp/article/inflammregen/29/1/29_1_47/_article Historical overview of psychoactive mushrooms]. ''Inflammation and Regeneration''. 2009. Vol. 29 (1). hlm. 47–58. doi:10.2492/inflammregen.29.47.</ref> Uji klinis menunjukkan bahwa kadar psilosin dalam plasma darah orang dewasa berjumlah rata-rata 8 µg/liter dalam waktu 2 jam setelah masuknya dosis tunggal oral 15 mg psilosibin;<ref>Randall C. Baselt. [https://www.worldcat.org/oclc/243548756 Disposition of toxic drugs and chemicals in man]. Biomedical Publications. 2008. hlm. 1346–1348. ISBN 978-0-9626523-7-0.</ref> efek psikologis terjadi jika kadar psilosin dalam plasma berjumlah 4–6 µg/liter.<ref>Torsten Passie. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14578010 The pharmacology of psilocybin]. ''Addiction Biology''. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.</ref> Psilosibin bersifat 100 kali kurang poten daripada LSD menurut perbandingan bobot per bobot, efek psikologisnya juga berlangsung separuh waktu dari LSD.<ref>Spencer M. Cole. [https://books.google.com/books?id=ovGcMmz5emUC&pg=PA167 New Research on Street Drugs]. Nova Publishers. 2006. hlm. 167–186. ISBN 978-1-59454-961-8.</ref> | ||
[[Penghambat oksidase monoamina|Penghambat MAO]] diketahui memperpanjang dan memperbesar efek [[DMT|dimetiltriptamin]] (DMT), sebuah penelitian menunjukkan bahwa efek psilosibin serupa karena sifat strukturnya yang analog terhadap DMT. Konsumsi [[Etanol|alkohol]] (minuman keras) dapat memperbesar efek psilosibin karena [[asetaldehida]], salah satu metabolit utama dari alkohol, bereaksi dengan [[amina biogenik]] yang ada dalam tubuh, menghasilkan inhibitor MAO yang mirip dengan [[tetrahidroisokuinolin]] dan [[Βeta-karbolin|β-karbolin]]. Pengisap rokok juga dapat mengalami efek psilosibin yang lebih besar karena paparan asap tembakau mengurangi aktivitas MAO dalam otak dan saraf tepi. | [[Penghambat oksidase monoamina|Penghambat MAO]] diketahui memperpanjang dan memperbesar efek [[DMT|dimetiltriptamin]] (DMT), sebuah penelitian menunjukkan bahwa efek psilosibin serupa karena sifat strukturnya yang analog terhadap DMT.<ref>Olof Beck. [http://academic.oup.com/jat/article/22/1/45/754660/Presence-of-Phenylethylamine-in-Hallucinogenic Presence of Phenylethylamine in Hallucinogenic Psilocybe Mushroom: Possible Role in Adverse Reactions]. ''Journal of Analytical Toxicology''. 1998-01-01. Vol. 22 (1). hlm. 45–49. doi:10.1093/jat/22.1.45.</ref> Konsumsi [[Etanol|alkohol]] (minuman keras) dapat memperbesar efek psilosibin karena [[asetaldehida]], salah satu metabolit utama dari alkohol, bereaksi dengan [[amina biogenik]] yang ada dalam tubuh, menghasilkan inhibitor MAO yang mirip dengan [[tetrahidroisokuinolin]] dan [[Βeta-karbolin|β-karbolin]].<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> Pengisap rokok juga dapat mengalami efek psilosibin yang lebih besar<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> karena paparan asap tembakau mengurangi aktivitas MAO dalam otak dan saraf tepi.<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0024320506004619 Contribution of monoamine oxidase (MAO) inhibition to tobacco and alcohol addiction]. ''Life Sciences''. 2006-10. Vol. 79 (21). hlm. 1969–1973. doi:10.1016/j.lfs.2006.06.010.</ref> | ||
== Sifat kimia dan biosintesis == | == Sifat kimia dan biosintesis == | ||
Psilosibin (''O-''fosforil-4-hidroksi-N,N-dimetiltriptamin'','' 4-PO-Psilosin'','' atau 4-PO-HO-DMT) adalah ''[[Bakal obat|prodrug]]'' (bakal obat) yang berubah menjadi psilosin—senyawa yang aktif secara farmakologis—melalui reaksi defosforilasi. [[Reaksi kimia]] ini terjadi dalam kondisi [[Asam|asam kuat]] di laboratorium atau dalam tubuh makhluk hidup dengan adanya enzim [[fosfatase]]. | Psilosibin (''O-''fosforil-4-hidroksi-N,N-dimetiltriptamin'','' 4-PO-Psilosin'','' atau 4-PO-HO-DMT) adalah ''[[Bakal obat|prodrug]]'' (bakal obat) yang berubah menjadi psilosin—senyawa yang aktif secara farmakologis—melalui reaksi defosforilasi. [[Reaksi kimia]] ini terjadi dalam kondisi [[Asam|asam kuat]] di laboratorium atau dalam tubuh makhluk hidup dengan adanya enzim [[fosfatase]].<ref>[https://www.worldcat.org/oclc/352827711 Bioactive compounds in foods]. Blackwell Pub. 2008. hlm. 120. ISBN 978-1-4443-0228-8.</ref> | ||
Psilosibin termasuk senyawa [[triptamin]] dengan [[struktur kimia]] cincin [[indol]] yang terikat dengan [[substituen]] [[etilamina]]. Senyawa ini dapat diturunkan dari [[asam amino]] [[triptofan]] dan memiliki struktur yang mirip dengan [[neurotransmiter]] [[serotonin]]. Psilosibin adalah anggota golongan senyawa turunan triptofan yang mulanya berfungsi sebagai [[antioksidan]] pada makhluk hidup sederhana dan akhirnya berperan dalam fungsi yang rumit pada makhluk hidup multiseluler seperti manusia. Senyawa psikedelik lain yang memiliki cincin indol yaitu [[N,N-Dimethyltryptamine|dimetiltriptamin]] (DMT) yang ditemukan terkandung pada banyak spesies tanaman dan dalam jumlah sangat sedikit terkandung pada beberapa hewan menyusui serta [[bufotenin]] yang ditemukan pada kulit [[Incilius alvarius|katak psikoaktif]]. | Psilosibin termasuk senyawa [[triptamin]] dengan [[struktur kimia]] cincin [[indol]] yang terikat dengan [[substituen]] [[etilamina]]. Senyawa ini dapat diturunkan dari [[asam amino]] [[triptofan]] dan memiliki struktur yang mirip dengan [[neurotransmiter]] [[serotonin]]. Psilosibin adalah anggota golongan senyawa turunan triptofan yang mulanya berfungsi sebagai [[antioksidan]] pada makhluk hidup sederhana dan akhirnya berperan dalam fungsi yang rumit pada makhluk hidup multiseluler seperti manusia.<ref>[https://www.worldcat.org/oclc/647764752 Handbook of the behavioral neurobiology of serotonin]. Academic Press. 2010. ISBN 978-0-12-374634-4.</ref> Senyawa psikedelik lain yang memiliki cincin indol yaitu [[N,N-Dimethyltryptamine|dimetiltriptamin]] (DMT) yang ditemukan terkandung pada banyak spesies tanaman dan dalam jumlah sangat sedikit terkandung pada beberapa hewan menyusui serta [[bufotenin]] yang ditemukan pada kulit [[Incilius alvarius|katak psikoaktif]].<ref>M. Wurst. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11980266 Psychoactive tryptamines from basidiomycetes]. ''Folia Microbiologica''. 2002. Vol. 47 (1). hlm. 3–27. doi:10.1007/BF02818560.</ref> | ||
Psilosibin termasuk senyawa [[alkaloid]] yang [[Kelarutan|larut]] dalam air, [[metanol]], dan pelarut air-etanol tetapi tidak larut dalam pelarut organik seperti kloroform dan petroleum eter. Nilai [[Pka|pKa]] psilosibin diperkirakan 1,3 serta 6,5 untuk gugus-gugus OH [[fosfat]] dan 10,4 untuk gugus dietilamina sehingga psilosibin termasuk struktrur [[Ion zwitter|zwitter-ion]] secara keseluruhan. Paparan cahaya memengaruhi kestabilan [[larutan berair]] psilosibin dan mengakibatkan oksidasi yang cepat—menjadi catatan pertimbangan penggunaannya sebagai [[Larutan standar|standar]] analisis. Osamu Shirota dan kawan-kawan melaporkan metode sintesis skala besar psilosibin tanpa pemurnian [[kromatografi]]s pada 2003. Dengan bahan baku 4-hidroksiindol, mereka membuat psilosibin dari psilosin, menghasilkan [[Rendemen reaksi|rendemen]] 85%, peningkatan rendemen yang besar jika dibandingkan dengan metode sintesis yang telah ada. Psilosibin murni berbentuk serbuk kristalin putih seperti jarum dengan [[Titik lebur|titik leleh]] antara 220–228 °C dan rasa yang sedikit mirip dengan [[amonia]]. Pada 2020, terdapat pengembangan metode baru untuk sintesis psilosibin. | Psilosibin termasuk senyawa [[alkaloid]] yang [[Kelarutan|larut]] dalam air, [[metanol]], dan pelarut air-etanol tetapi tidak larut dalam pelarut organik seperti kloroform dan petroleum eter.<ref>M. Wurst. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11980266 Psychoactive tryptamines from basidiomycetes]. ''Folia Microbiologica''. 2002. Vol. 47 (1). hlm. 3–27. doi:10.1007/BF02818560.</ref> Nilai [[Pka|pKa]] psilosibin diperkirakan 1,3 serta 6,5 untuk gugus-gugus OH [[fosfat]] dan 10,4 untuk gugus dietilamina sehingga psilosibin termasuk struktrur [[Ion zwitter|zwitter-ion]] secara keseluruhan. Paparan cahaya memengaruhi kestabilan [[larutan berair]] psilosibin dan mengakibatkan oksidasi yang cepat—menjadi catatan pertimbangan penggunaannya sebagai [[Larutan standar|standar]] analisis.<ref>N. Anastos. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17002211 Investigation into the temporal stability of aqueous standard solutions of psilocin and psilocybin using high performance liquid chromatography]. ''Science & Justice: Journal of the Forensic Science Society''. 2006-04. Vol. 46 (2). hlm. 91–96. doi:10.1016/S1355-0306(06)71579-9.</ref> Osamu Shirota dan kawan-kawan melaporkan metode sintesis skala besar psilosibin tanpa pemurnian [[kromatografi]]s pada 2003.<ref>Osamu Shirota. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/12828485 Concise large-scale synthesis of psilocin and psilocybin, principal hallucinogenic constituents of "magic mushroom"]. ''Journal of Natural Products''. 2003-06. Vol. 66 (6). hlm. 885–887. doi:10.1021/np030059u.</ref> Dengan bahan baku 4-hidroksiindol, mereka membuat psilosibin dari psilosin, menghasilkan [[Rendemen reaksi|rendemen]] 85%, peningkatan rendemen yang besar jika dibandingkan dengan metode sintesis yang telah ada.<ref>F. Troxler. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/hlca.19590420638 Abwandlungsprodukte von Psilocybin und Psilocin. 2. Mitteilung über synthetische Indolverbindungen]. ''Helvetica Chimica Acta''. 1959. Vol. 42 (6). hlm. 2073–2103. doi:10.1002/hlca.19590420638.</ref><ref>A. Hofmann. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/13609599 [Elucidation of the structure and the synthesis of psilocybin]]. ''Experientia''. 1958-11-15. Vol. 14 (11). hlm. 397–399. doi:10.1007/BF02160424.</ref><ref>David E. Nichols. [http://www.thieme-connect.de/DOI/DOI?10.1055%2Fs-1999-3490 Improvements to the Synthesis of Psilocybin and a Facile Method for Preparing the O-Acetyl Prodrug of Psilocin]. ''Synthesis''. 1999-06. Vol. 1999 (06). hlm. 935–938. doi:10.1055/s-1999-3490.</ref> Psilosibin murni berbentuk serbuk kristalin putih seperti jarum dengan [[Titik lebur|titik leleh]] antara 220–228 °C dan rasa yang sedikit mirip dengan [[amonia]]. Pada 2020, terdapat pengembangan metode baru untuk sintesis psilosibin.<ref>Robert B. Kargbo. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32685866 Direct Phosphorylation of Psilocin Enables Optimized cGMP Kilogram-Scale Manufacture of Psilocybin]. ''ACS omega''. 2020-07-14. Vol. 5 (27). hlm. 16959–16966. doi:10.1021/acsomega.0c02387.</ref> | ||
Dalam biosintesis, transformasi biokimia triptofan menjadi psilosibin melibatkan sejumlah reaksi enzim: [[dekarboksilasi]], [[metilasi]] [[Nitrogen|N]]<sup>9</sup>, [[hidroksilasi]] [[Karbon|C]]4, dan [[fosforilasi]] [[Oksigen|O]]. Percobaan dengan [[pelabelan isotop]] pada 1960-an menunjukkan bahwa dekarboksilasi triptofan adalah langkah dimulainya biosintesis sedangkan fosforilasi O adalah langkah terakhir tetapi analisis pada 2010-an dengan isolasi enzim menunjukkan bahwa fosforilasi O adalah langkah ketiga biosintesis pada ''P. cubensis''. Rangkaian langkah intermediat dengan enzim melibatkan 4 enzim yang berbeda (PsiD, PsiH, PsiK, dan PsiM) pada ''P. cubensis'' dan ''P. cyanescens'' walau jalur biosintesisnya berbeda antarspesies. Enzim-enzim ini [[Ekspresi gen|diekspresikan]] dari kode yang termuat dalam [[Klaster gen biosintesis|klaster gen]] pada ''Psilocybe, Panaeolus,'' dan ''Gymnopilus.'' Para peneliti telah melakukan rekayasa genetik ''[[Escherichia coli]]'' di laboratorium sehingga dapat mengadakan manufaktur psilosibin dalam jumlah besar. Psilosibin dapat diproduksi secara ''de novo'' dengan khamir. | Dalam biosintesis, transformasi biokimia triptofan menjadi psilosibin melibatkan sejumlah reaksi enzim: [[dekarboksilasi]], [[metilasi]] [[Nitrogen|N]]<sup>9</sup>, [[hidroksilasi]] [[Karbon|C]]4, dan [[fosforilasi]] [[Oksigen|O]]. Percobaan dengan [[pelabelan isotop]] pada 1960-an menunjukkan bahwa dekarboksilasi triptofan adalah langkah dimulainya biosintesis sedangkan fosforilasi O adalah langkah terakhir<ref>S. Agurell. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/5750023 Biosynthesis of psilocybin. II. Incorporation of labelled tryptamine derivatives]. ''Acta Chemica Scandinavica''. 1968. Vol. 22 (4). hlm. 1210–1218. doi:10.3891/acta.chem.scand.22-1210.</ref><ref>W. S. Chilton. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/392119 Psilocin, bufotenine and serotonin: historical and biosynthetic observations]. ''Journal of Psychedelic Drugs''. 1979-01. Vol. 11 (1-2). hlm. 61–69. doi:10.1080/02791072.1979.10472093.</ref> tetapi analisis pada 2010-an dengan isolasi enzim menunjukkan bahwa fosforilasi O adalah langkah ketiga biosintesis pada ''P. cubensis''.<ref>Janis Fricke. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28763571 Enzymatic Synthesis of Psilocybin]. ''Angewandte Chemie (International Ed. in English)''. 2017-09-25. Vol. 56 (40). hlm. 12352–12355. doi:10.1002/anie.201705489.</ref> Rangkaian langkah intermediat dengan enzim melibatkan 4 enzim yang berbeda (PsiD, PsiH, PsiK, dan PsiM) pada ''P. cubensis'' dan ''P. cyanescens'' walau jalur biosintesisnya berbeda antarspesies.<ref>M. Wurst. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11980266 Psychoactive tryptamines from basidiomycetes]. ''Folia Microbiologica''. 2002. Vol. 47 (1). hlm. 3–27. doi:10.1007/BF02818560.</ref> Enzim-enzim ini [[Ekspresi gen|diekspresikan]] dari kode yang termuat dalam [[Klaster gen biosintesis|klaster gen]] pada ''Psilocybe, Panaeolus,'' dan ''Gymnopilus.''<ref>Hannah T. Reynolds. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30283667 Horizontal gene cluster transfer increased hallucinogenic mushroom diversity]. ''Evolution Letters''. 2018-04. Vol. 2 (2). hlm. 88–101. doi:10.1002/evl3.42.</ref> Para peneliti telah melakukan rekayasa genetik ''[[Escherichia coli]]'' di laboratorium sehingga dapat mengadakan manufaktur psilosibin dalam jumlah besar.<ref>Megha Satyanarayana. [https://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/cen-09739-scicon9 Modified E. coli pump out psilocybin]. ''C&EN Global Enterprise''. 2019-10-07. Vol. 97 (39). hlm. 11–11. doi:10.1021/cen-09739-scicon9.</ref> Psilosibin dapat diproduksi secara ''de novo'' dengan khamir.<ref>Technical University of Denmark. [https://phys.org/news/2020-04-psychedelic-compound-magic-mushrooms-yeast.html Psychedelic compound from magic mushrooms produced in yeast]. ''phys.org''.</ref><ref>[https://mind-foundation.org/yeast-psilocybin/ MIND Blog Magic Yeasts and How to Make Them Produce Psilocybin]. ''MIND Foundation''. 2021-01-15.</ref> | ||
=== Metode analisis === | === Metode analisis === | ||
Sejumlah [[uji kimia]] sederhana—tersedia secara komersial sebagai [[Uji reagen|perlengkapan uji reagen]]—dapat digunakan dalam menilai keberadaan psilosibin pada [[ekstrak]] yang dibuat dari jamur. Psilosibin bereaksi terhadap [[Reagen Marquis|uji Marquis]] dengan menghasilkan warna kuning dan terhadap [[reagen Mandelin]] menghasilkan warna hijau. Namun, uji-uji tersebut tidak bereaksi hanya dengan psilosibin saja; misalnya, uji Marquis juga bereaksi dengan banyak golongan obat terlarang seperti senyawa-senyawa dengan gugus [[Amina|amino primer]] dan [[cincin benzena]] yang tidak tersubstitusi, antara lain [[amfetamin]] dan [[Metamfetamina|metamfetamin]]. [[Reagen Ehrlich]] dan [[Reagen DMACA|DMACA]] digunakan sebagai bahan yang disemprotkan setelah [[kromatografi lapis tipis]] untuk mendeteksi keberadaan psilosibin. Banyak teknik [[kimia analisis]] modern digunakan untuk menentukan jumlah kadar psilosibin dalam sampel jamur. Metode awal yang umum digunakan adalah [[kromatografi gas]] tetapi suhu tinggi diperlukan untuk [[Volatilitas (kimia)|menguapkan]] sampel psilosibin sebelum analisis sehingga gugus fosforil psilosibin langsung terlepas dan senyawa menjadi psilosin, kedua senyawa sulit dibedakan dalam metode ini. Dalam [[toksikologi forensik]], teknik dengan penggabungan [[Kromatografi gas-spektrometri massa|kromatografi gas dan spektrometri massa]] (''gas chromatography''-''mass spectrometry'', GC-MS) adalah metode yang paling luas digunakan karena sensitivitasnya yang tinggi dan kemampuannya dalam memisahkan senyawa-senyawa pada campuran biologis kompleks. Metode kimia analisis yang digunakan dalam pengujian psilosibin termasuk ''[[ion mobility spectrometry]]'', [[elektroforesis kapiler]], [[spektroskopi ultraviolet]], dan [[spektroskopi inframerah]]. [[Kromatografi cair kinerja tinggi]] (KCKT) digunakan bersama metode spektrometri massa ultraviolet, [[Spektroskopi fluoresensi|fluoresensi]], [[elektrokimia]], dan ''[[electrospray ionization]]'' (ESI). | Sejumlah [[uji kimia]] sederhana—tersedia secara komersial sebagai [[Uji reagen|perlengkapan uji reagen]]—dapat digunakan dalam menilai keberadaan psilosibin pada [[ekstrak]] yang dibuat dari jamur. Psilosibin bereaksi terhadap [[Reagen Marquis|uji Marquis]] dengan menghasilkan warna kuning dan terhadap [[reagen Mandelin]] menghasilkan warna hijau.<ref>AJ Jenkins. [https://www.worldcat.org/oclc/52166155 Principles of forensic toxicology]. AACC Press. 2003. hlm. 281. ISBN 1-890883-87-5.</ref> Namun, uji-uji tersebut tidak bereaksi hanya dengan psilosibin saja; misalnya, uji Marquis juga bereaksi dengan banyak golongan obat terlarang seperti senyawa-senyawa dengan gugus [[Amina|amino primer]] dan [[cincin benzena]] yang tidak tersubstitusi, antara lain [[amfetamin]] dan [[Metamfetamina|metamfetamin]].<ref>M. D. Cole. [https://www.worldcat.org/oclc/52761947 The analysis of controlled substances]. Wiley. 2003. hlm. 132-133. ISBN 0-470-86455-9.</ref> [[Reagen Ehrlich]] dan [[Reagen DMACA|DMACA]] digunakan sebagai bahan yang disemprotkan setelah [[kromatografi lapis tipis]] untuk mendeteksi keberadaan psilosibin.<ref>Andreas Bresinsky. [https://www.worldcat.org/oclc/22547396 A colour atlas of poisonous fungi : a handbook for pharmacists, doctors, and biologists]. Wolfe Pub. 1990. hlm. 113. ISBN 978-0-7234-1576-3.</ref> Banyak teknik [[kimia analisis]] modern digunakan untuk menentukan jumlah kadar psilosibin dalam sampel jamur. Metode awal yang umum digunakan adalah [[kromatografi gas]] tetapi suhu tinggi diperlukan untuk [[Volatilitas (kimia)|menguapkan]] sampel psilosibin sebelum analisis sehingga gugus fosforil psilosibin langsung terlepas dan senyawa menjadi psilosin, kedua senyawa sulit dibedakan dalam metode ini. Dalam [[toksikologi forensik]], teknik dengan penggabungan [[Kromatografi gas-spektrometri massa|kromatografi gas dan spektrometri massa]] (''gas chromatography''-''mass spectrometry'', GC-MS) adalah metode yang paling luas digunakan karena sensitivitasnya yang tinggi dan kemampuannya dalam memisahkan senyawa-senyawa pada campuran biologis kompleks.<ref>Tooru Kamata. [http://link.springer.com/10.1007/s11419-009-0087-9 Metabolism and toxicological analyses of hallucinogenic tryptamine analogues being abused in Japan]. ''Forensic Toxicology''. 2010-01. Vol. 28 (1). hlm. 1–8. doi:10.1007/s11419-009-0087-9.</ref> Metode kimia analisis yang digunakan dalam pengujian psilosibin termasuk ''[[ion mobility spectrometry]]'',<ref>T. Keller. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10077856 Analysis of psilocybin and psilocin in Psilocybe subcubensis Guzmán by ion mobility spectrometry and gas chromatography-mass spectrometry]. ''Forensic Science International''. 1999-01-11. Vol. 99 (2). hlm. 93–105. doi:10.1016/s0379-0738(98)00168-6.</ref> [[elektroforesis kapiler]],<ref>S. Pedersen-Bjergaard. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9252052 Determination of psilocybin in Psilocybe semilanceata by capillary zone electrophoresis]. ''Journal of Chromatography. B, Biomedical Sciences and Applications''. 1997-07-04. Vol. 694 (2). hlm. 375–381. doi:10.1016/s0378-4347(97)00127-8.</ref> [[spektroskopi ultraviolet]],<ref>R. E. Lee. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/4040953 A technique for the rapid isolation and identification of psilocin from psilocin/psilocybin-containing mushrooms]. ''Journal of Forensic Sciences''. 1985-07. Vol. 30 (3). hlm. 931–941.</ref> dan [[spektroskopi inframerah]].<ref>Milan Wurst. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/0021967392802875 Analysis and isolation of indole alkaloids of fungi by high-performance liquid chromatography]. ''Journal of Chromatography A''. 1992-02. Vol. 593 (1-2). hlm. 201–208. doi:10.1016/0021-9673(92)80287-5.</ref> [[Kromatografi cair kinerja tinggi]] (KCKT) digunakan bersama metode spektrometri massa ultraviolet,<ref>N. Anastos. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/17002211 Investigation into the temporal stability of aqueous standard solutions of psilocin and psilocybin using high performance liquid chromatography]. ''Science & Justice: Journal of the Forensic Science Society''. 2006-04. Vol. 46 (2). hlm. 91–96. doi:10.1016/S1355-0306(06)71579-9.</ref> [[Spektroskopi fluoresensi|fluoresensi]],<ref>Kimie Saito. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0003267004011286 Determination of psilocin in magic mushrooms and rat plasma by liquid chromatography with fluorimetry and electrospray ionization mass spectrometry]. ''Analytica Chimica Acta''. 2004-12. Vol. 527 (2). hlm. 149–156. doi:10.1016/j.aca.2004.08.071.</ref> [[elektrokimia]],<ref>H. Lindenblatt. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9657222 Quantitation of psilocin in human plasma by high-performance liquid chromatography and electrochemical detection: comparison of liquid-liquid extraction with automated on-line solid-phase extraction]. ''Journal of Chromatography. B, Biomedical Sciences and Applications''. 1998-05-29. Vol. 709 (2). hlm. 255–263. doi:10.1016/s0378-4347(98)00067-x.</ref> dan ''[[electrospray ionization]]'' (ESI). | ||
Beragam metode kromatografi disusun dengan tujuan mendeteksi psilosin pada [[cairan tubuh]]: sistem identifikasi obat darurat cepat (''rapid emergency drug identification system'', REMEDI HS), metode [[penapisan obat]] dengan KCKT; KCKT dengan pendeteksian elektrokimia; GC-MS; dan [[Kromatografi cair-spektrometri massa|kromatografi cair yang dibarengi spektrometri massa]]. Walaupun penentuan kadar psilosin dalam urine dapat dilakukan tanpa pengolahan sampel terlebih dahulu (penghilangan kontaminan yang mempersulit penilaian konsentrasi secara akurat), analisis psilosin dalam [[Plasma darah|plasma]] atau [[serum darah]] mengharuskan [[Ekstraksi pelarut|ekstraksi]] pendahuluan, diikuti oleh [[derivatisasi]] ekstrak untuk GC-MS. [[Imunoasai]] khusus juga dibuat untuk mendeteksi psilosin dalam sampel darah utuh. Sebuah artikel yang diterbitkan pada 2009 melaporkan penggunaan KCKT dalam pemisahan cepat obat-obatan ilegal penting dalam kajian forensik, termasuk psilosibin dan psilosin; metode tersebut dapat mengidentifikasi senyawa-senyawa itu dalam hitungan waktu analisis setengah menit. Namun demikian, teknik-teknik analisis pengujian konsentrasi psilosibin dalam cairan tubuh tidak tersedia secara rutin dan tidak biasa digunakan dalam lingkungan klinis. | Beragam metode kromatografi disusun dengan tujuan mendeteksi psilosin pada [[cairan tubuh]]: sistem identifikasi obat darurat cepat (''rapid emergency drug identification system'', REMEDI HS), metode [[penapisan obat]] dengan KCKT;<ref>G. Sticht. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10978655 Detection of psilocin in body fluids]. ''Forensic Science International''. 2000-09-11. Vol. 113 (1-3). hlm. 403–407. doi:10.1016/s0379-0738(00)00213-9.</ref> KCKT dengan pendeteksian elektrokimia;<ref>H. Lindenblatt. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/9657222 Quantitation of psilocin in human plasma by high-performance liquid chromatography and electrochemical detection: comparison of liquid-liquid extraction with automated on-line solid-phase extraction]. ''Journal of Chromatography. B, Biomedical Sciences and Applications''. 1998-05-29. Vol. 709 (2). hlm. 255–263. doi:10.1016/s0378-4347(98)00067-x.</ref><ref>R. Kysilka. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2094720 Determination of psilocin in rat urine by high-performance liquid chromatography with electrochemical detection]. ''Journal of Chromatography''. 1990-12-14. Vol. 534. hlm. 287–290. doi:10.1016/s0378-4347(00)82176-3.</ref> GC-MS;<ref>Alison F. Grieshaber. [http://www.astm.org/doiLink.cgi?JFS15014J The Detection of Psilocin in Human Urine]. ''Journal of Forensic Sciences''. 2001-05-01. Vol. 46 (3). hlm. 15014J. doi:10.1520/JFS15014J.</ref><ref>G. Sticht. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10978655 Detection of psilocin in body fluids]. ''Forensic Science International''. 2000-09-11. Vol. 113 (1-3). hlm. 403–407. doi:10.1016/s0379-0738(00)00213-9.</ref> dan [[Kromatografi cair-spektrometri massa|kromatografi cair yang dibarengi spektrometri massa]].<ref>Tooru Kamata. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/14581081 Optimized glucuronide hydrolysis for the detection of psilocin in human urine samples]. ''Journal of Chromatography. B, Analytical Technologies in the Biomedical and Life Sciences''. 2003-11-05. Vol. 796 (2). hlm. 421–427. doi:10.1016/j.jchromb.2003.08.030.</ref> Walaupun penentuan kadar psilosin dalam urine dapat dilakukan tanpa pengolahan sampel terlebih dahulu (penghilangan kontaminan yang mempersulit penilaian konsentrasi secara akurat), analisis psilosin dalam [[Plasma darah|plasma]] atau [[serum darah]] mengharuskan [[Ekstraksi pelarut|ekstraksi]] pendahuluan, diikuti oleh [[derivatisasi]] ekstrak untuk GC-MS. [[Imunoasai]] khusus juga dibuat untuk mendeteksi psilosin dalam sampel darah utuh.<ref>C. Albers. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15526212 Development of a psilocin immunoassay for serum and blood samples]. ''International Journal of Legal Medicine''. 2004-12. Vol. 118 (6). hlm. 326–331. doi:10.1007/s00414-004-0469-9.</ref> Sebuah artikel yang diterbitkan pada 2009 melaporkan penggunaan KCKT dalam pemisahan cepat obat-obatan ilegal penting dalam kajian forensik, termasuk psilosibin dan psilosin; metode tersebut dapat mengidentifikasi senyawa-senyawa itu dalam hitungan waktu analisis setengah menit.<ref>Ira Lurie. [https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10826070903245516 Use of High-Temperature Liquid Chromatography with Sub-2 µm Particle C 18 Columns for the Analysis of Seized Drugs]. ''Journal of Liquid Chromatography & Related Technologies''. 2009-10-09. Vol. 32 (18). hlm. 2615–2626. doi:10.1080/10826070903245516.</ref> Namun demikian, teknik-teknik analisis pengujian konsentrasi psilosibin dalam cairan tubuh tidak tersedia secara rutin dan tidak biasa digunakan dalam lingkungan klinis.<ref>M. E. Attema-de Jonge. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18257429 [Automutilation after consumption of hallucinogenic mushrooms]]. ''Nederlands Tijdschrift Voor Geneeskunde''. 2007-12-29. Vol. 151 (52). hlm. 2869–2872.</ref> | ||
== Kelimpahan alami == | == Kelimpahan alami == | ||
Psilosibin terkandung dengan kadar yang beragam pada lebih dari 200 spesies jamur [[Basidiomycota]]. Dalam ''review'' tahun 2000 tentang persebaran jamur halusinogen seluruh dunia, [[Gastón Guzmán]] dan kawan-kawan berpendapat bahwa psilosibin terkandung dalam [[genus]]: ''[[Psilocybe]]'' (116 spesies)'', [[Gymnopilus]]'' (14 spesies)'', [[Panaeolus]]'' (13)'', [[Copelandia]]'' (12)'', [[Hypholoma]]'' (6)'', [[Pluteus]]'' (6)'', [[Inocybe]]'' (6)'', [[Conocybe]]'' (4)'', [[Panaeolina]]'' (4)'', [[Gerronema]]'' (2)'','' dan ''[[Galerina]]'' (1 spesies)''.'' Guzmán memperbanyak perkiraan jumlah anggota ''Psilocybe'' yang menghasilkan psilosibin menjadi 144 spesies pada ''review'' tahun 2005. Sebagian besar spesies ditemukan di Meksiko (53 spesies), sisanya tersebar di Amerika Serikat dan Kanada (22), Eropa (16), Asia (15), Afrika (4), dan Australia beserta pulau-pulau di sekitarnya (19). Keanekaragaman jamur psilosibin dilaporkan meningkat dengan adanya transfer [[Klaster gen metabolik|klaster gen]] psilosibin secara horizontal antarspesies jamur yang tidak memiliki hubungan kekerabatan genetik. Pada umumnya, spesies yang menghasilkan psilosibin merupakan jamur [[Lamella (mikologi)|berlamela]], dengan spora gelap, yang tumbuh di padang rumput dan hutan daerah [[subtropis]] dan [[Tropika|tropis]], biasanya pada tanah yang kaya akan [[humus]] dan sisa-sisa tumbuhan yang mati. Jamur psilosibin hidup di semua benua dan kebanyakan jamur ditemukan di [[Hutan tropis dan subtropis basah berdaun lebar|hutan basah subtropis]]. Spesies anggota ''Psilocybe'' yang biasa ditemukan di daerah tropis termasuk ''[[Psilocybe cubensis|P. cubensis]]'' dan ''[[Psilocybe subcubensis|P. subcubensis]]''. ''[[Psilocybe semilanceata|P. semilanceata]]''—dianggap oleh Guzmán sebagai jamur psilosibin yang memiliki persebaran paling | Psilosibin terkandung dengan kadar yang beragam pada lebih dari 200 spesies jamur [[Basidiomycota]]. Dalam ''review'' tahun 2000 tentang persebaran jamur halusinogen seluruh dunia, [[Gastón Guzmán]] dan kawan-kawan berpendapat bahwa psilosibin terkandung dalam [[genus]]: ''[[Psilocybe]]'' (116 spesies)'', [[Gymnopilus]]'' (14 spesies)'', [[Panaeolus]]'' (13)'', [[Copelandia]]'' (12)'', [[Hypholoma]]'' (6)'', [[Pluteus]]'' (6)'', [[Inocybe]]'' (6)'', [[Conocybe]]'' (4)'', [[Panaeolina]]'' (4)'', [[Gerronema]]'' (2)'','' dan ''[[Galerina]]'' (1 spesies)''.''<ref>G Guzmán. [http://www.museocivico.rovereto.tn.it/UploadDocs/104_art09-Guzman%20%26%20C.pdf A worldwide geographical distribution of the neurotropic fungi, an analysis and discussion]. ''web.archive.org''. Annali del Museo Civico di Rovereto: Sezione Archeologia, Storia, Scienze Naturali. 2000. hlm. 189–280.</ref> Guzmán memperbanyak perkiraan jumlah anggota ''Psilocybe'' yang menghasilkan psilosibin menjadi 144 spesies pada ''review'' tahun 2005. Sebagian besar spesies ditemukan di Meksiko (53 spesies), sisanya tersebar di Amerika Serikat dan Kanada (22), Eropa (16), Asia (15), Afrika (4), dan Australia beserta pulau-pulau di sekitarnya (19).<ref>Gaston Guzman. [http://www.dl.begellhouse.com/journals/708ae68d64b17c52,2cbf07a603004731,3c3817f62136c0bb.html Species Diversity of the Genus Psilocybe (Basidiomycotina, Agaricales, Strophariaceae) in the World Mycobiota, with Special Attention to Hallucinogenic Properties]. ''International Journal of Medicinal Mushrooms''. 2005. Vol. 7 (1-2). hlm. 305–332. doi:10.1615/IntJMedMushr.v7.i12.280.</ref> Keanekaragaman jamur psilosibin dilaporkan meningkat dengan adanya transfer [[Klaster gen metabolik|klaster gen]] psilosibin secara horizontal antarspesies jamur yang tidak memiliki hubungan kekerabatan genetik.<ref>Hannah T. Reynolds. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30283667 Horizontal gene cluster transfer increased hallucinogenic mushroom diversity]. ''Evolution Letters''. 2018-04. Vol. 2 (2). hlm. 88–101. doi:10.1002/evl3.42.</ref><ref>Ed Yong. [https://www.theatlantic.com/science/archive/2017/08/how-mushrooms-became-magic/537789/ How Mushrooms Became Magic]. ''The Atlantic''. 2017-08-24.</ref> Pada umumnya, spesies yang menghasilkan psilosibin merupakan jamur [[Lamella (mikologi)|berlamela]], dengan spora gelap, yang tumbuh di padang rumput dan hutan daerah [[subtropis]] dan [[Tropika|tropis]], biasanya pada tanah yang kaya akan [[humus]] dan sisa-sisa tumbuhan yang mati.<ref>M. Wurst. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11980266 Psychoactive tryptamines from basidiomycetes]. ''Folia Microbiologica''. 2002. Vol. 47 (1). hlm. 3–27. doi:10.1007/BF02818560.</ref> Jamur psilosibin hidup di semua benua dan kebanyakan jamur ditemukan di [[Hutan tropis dan subtropis basah berdaun lebar|hutan basah subtropis]].<ref>G Guzmán. [http://www.museocivico.rovereto.tn.it/UploadDocs/104_art09-Guzman%20%26%20C.pdf A worldwide geographical distribution of the neurotropic fungi, an analysis and discussion]. ''web.archive.org''. Annali del Museo Civico di Rovereto: Sezione Archeologia, Storia, Scienze Naturali. 2000. hlm. 189–280.</ref> Spesies anggota ''Psilocybe'' yang biasa ditemukan di daerah tropis termasuk ''[[Psilocybe cubensis|P. cubensis]]'' dan ''[[Psilocybe subcubensis|P. subcubensis]]''. ''[[Psilocybe semilanceata|P. semilanceata]]''—dianggap oleh Guzmán sebagai jamur psilosibin yang memiliki persebaran paling luas<ref>Gastón Guzmán. [https://www.worldcat.org/oclc/12947841 The genus Psilocybe : a systematic revision of the known species including the history, distribution, and chemistry of the hallucinogenic species]. J. Cramer. 1983. ISBN 3-7682-5474-7.</ref>—ditemukan di Eropa, Amerika Utara, Asia, Amerika Selatan, Australia, dan Selandia Baru tetapi sama sekali tidak ada di Meksiko.<ref>Gaston Guzman. [http://www.dl.begellhouse.com/journals/708ae68d64b17c52,2cbf07a603004731,3c3817f62136c0bb.html Species Diversity of the Genus Psilocybe (Basidiomycotina, Agaricales, Strophariaceae) in the World Mycobiota, with Special Attention to Hallucinogenic Properties]. ''International Journal of Medicinal Mushrooms''. 2005. Vol. 7 (1-2). hlm. 305–332. doi:10.1615/IntJMedMushr.v7.i12.280.</ref> Walaupun keberadaan atau ketiadaan psilosibin tidak digunakan sebagai penanda [[Kemotaksonomi|kelompok taksonomi berdasarkan bahan kimia yang dihasilkan]] pada tingkat [[Famili (biologi)|famili]] atau yang lebih tinggi, psilosibin digunakan untuk mengklasifikasi [[takson]] pada kelompok taksonomi yang lebih rendah.<ref>Stephen G. Saupe. [https://www.jstor.org/stable/3759505?origin=crossref Occurrence of Psilocybin/Psilocin in Pluteus salicinus (Pluteaceae)]. ''Mycologia''. 1981-07. Vol. 73 (4). hlm. 781. doi:10.2307/3759505.</ref> | ||
Baik bagian [[Pileus (mikologi)|atas buah]] maupun [[Stipe (mikologi)|batang]] jamur mengandung senyawa-senyawa psikoaktif, bagian atas buah ditemukan memuat mereka dalam jumlah yang lebih banyak secara konsisten. [[Spora]] jamur tidak mengandung psilosibin dan tidak pula psilosin. [[Potensi (farmakologi)|Potensi]] total jamur sangat beragam jika dibandingkan antarspesies, hal yang sama didapati bahkan untuk antarspesimen yang spesiesnya sama dan dipanen atau dibudidayakan dari jenis galur yang sama. Karena kebanyakan biosintesis psilosibin terjadi di masa awal pembentukan [[Basidiocarp|bagian buah]] atau ''[[Sclerotium (mikologi)|sclerotium]]'' (tempat penyimpanan cadangan bahan metabolisme dan pigmen), jamur yang muda, dan lebih kecil, cenderung mengandung psilosibin dalam kadar yang lebih tinggi daripada jamur dewasa. Pada umumnya, kadar psilosibin dalam jamur beragam (dengan jangkauan bawah 1,5% [[bobot kering]]) dan tergantung spesies, galur, kondisi saat tumbuh dan pengeringan, serta ukuran jamur. Jamur hasil budi daya cenderung memiliki kandungan psilosibin yang kurang beragam dibandingkan dengan jamur liar. Senyawa psikoaktif lebih stabil pada jamur kering daripada jamur segar. Potensi jamur kering dapat bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Sementara itu, jamur yang masuk ke penyimpanan dalam keadaan segar hanya mengandung sejumlah kecil psilosibin setelah empat bulan penyimpanan jika dibandingkan dengan saat awal disimpan. | Baik bagian [[Pileus (mikologi)|atas buah]] maupun [[Stipe (mikologi)|batang]] jamur mengandung senyawa-senyawa psikoaktif, bagian atas buah ditemukan memuat mereka dalam jumlah yang lebih banyak secara konsisten. [[Spora]] jamur tidak mengandung psilosibin dan tidak pula psilosin.<ref>T. Keller. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10077856 Analysis of psilocybin and psilocin in Psilocybe subcubensis Guzmán by ion mobility spectrometry and gas chromatography-mass spectrometry]. ''Forensic Science International''. 1999-01-11. Vol. 99 (2). hlm. 93–105. doi:10.1016/s0379-0738(98)00168-6.</ref><ref>M. Wurst. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0021967301991903 Analysis of psychotropic compounds in fungi of the genus psilocybe by reversed-phase high-performance liquid chromatography]. ''Journal of Chromatography A''. 1984-03. Vol. 286. hlm. 229–235. doi:10.1016/S0021-9673(01)99190-3.</ref><ref>R. Kysilka. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2722990 High-performance liquid chromatographic determination of some psychotropic indole derivatives]. ''Journal of Chromatography''. 1989-03-03. Vol. 464 (2). hlm. 434–437. doi:10.1016/s0021-9673(00)94264-x.</ref> [[Potensi (farmakologi)|Potensi]] total jamur sangat beragam jika dibandingkan antarspesies, hal yang sama didapati bahkan untuk antarspesimen yang spesiesnya sama dan dipanen atau dibudidayakan dari jenis galur yang sama.<ref>J. Bigwood. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7201054 Variation of psilocybin and psilocin levels with repeated flushes (harvests) of mature sporocarps of Psilocybe cubensis (Earle) Singer]. ''Journal of Ethnopharmacology''. 1982-05. Vol. 5 (3). hlm. 287–291. doi:10.1016/0378-8741(82)90014-9.</ref> Karena kebanyakan biosintesis psilosibin terjadi di masa awal pembentukan [[Basidiocarp|bagian buah]] atau ''[[Sclerotium (mikologi)|sclerotium]]'' (tempat penyimpanan cadangan bahan metabolisme dan pigmen), jamur yang muda, dan lebih kecil, cenderung mengandung psilosibin dalam kadar yang lebih tinggi daripada jamur dewasa.<ref>J Gartz. ''New aspects of the occurrence, chemistry and cultivation of European hallucinogenic mushrooms''. ''Supplemento Agli Annali dei Musei Civici di Rovereto Sezione Archeologica, Storia e Scienze Naturali''. 1992. Vol. 8. hlm. 107–124.</ref> Pada umumnya, kadar psilosibin dalam jamur beragam (dengan jangkauan bawah 1,5% [[bobot kering]])<ref>Peter G. Stafford. [https://www.worldcat.org/oclc/43324399 Psychedelics encyclopedia]. Ronin Pub. 1992. ISBN 0-914171-51-8.</ref> dan tergantung spesies, galur, kondisi saat tumbuh dan pengeringan, serta ukuran jamur.<ref>Paul Stamets. [https://www.worldcat.org/oclc/34514700 Psilocybin mushrooms of the world : an identification guide]. Ten Speed Press. 1996. ISBN 0-89815-839-7.</ref> Jamur hasil budi daya cenderung memiliki kandungan psilosibin yang kurang beragam dibandingkan dengan jamur liar.<ref>[https://www.emcdda.europa.eu/publications/drug-profiles/hallucinogenic-mushrooms_en Hallucinogenic mushrooms drug profile www.emcdda.europa.eu]. ''www.emcdda.europa.eu''.</ref> Senyawa psikoaktif lebih stabil pada jamur kering daripada jamur segar. Potensi jamur kering dapat bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.<ref>Paul Stamets. [https://www.worldcat.org/oclc/34514700 Psilocybin mushrooms of the world : an identification guide]. Ten Speed Press. 1996. ISBN 0-89815-839-7.</ref> Sementara itu, jamur yang masuk ke penyimpanan dalam keadaan segar hanya mengandung sejumlah kecil psilosibin setelah empat bulan penyimpanan jika dibandingkan dengan saat awal disimpan.<ref>Jan van Amsterdam. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0273230011000080 Harm potential of magic mushroom use: A review]. ''Regulatory Toxicology and Pharmacology''. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.</ref> | ||
Kandungan psilosibin pada spesimen herbarium ''Psilocybe semilanceata'' diketahui menurun seiring sampel bertambah tua dalam suatu penelitian. Ditemukan bahwa koleksi yang berumur 11, 33, dan 118 tahun masing-masing mengandung 0,84%, 0,67%, dan 0,014% (bobot kering). [[Miselium]] dewasa mengandung sejumlah psilosibin sedangkan miselium muda ([[Perkecambahan|germinasi]] baru spora) tidak memiliki kandungan psilosibin yang signifikan. Banyak spesies jamur yang mengandung psilosibin juga menghasilkan sedikit senyawa analog [[baeosistin]] dan [[norbaeosistin]], senyawa yang diketahui sebagai [[Prekursor (kimia)|prekursor]] biogenik.Walaupun kebanyakan spesies jamur yang mengandung psilosibin menjadi memar biru jika dipegang atau rusak karena [[Redoks|oksidasi]] senyawa golongan fenol, reaksi tersebut tidak dapat dijadikan metode pasti identifikasi atau penentuan potensi jamur. | Kandungan psilosibin pada spesimen herbarium ''Psilocybe semilanceata'' diketahui menurun seiring sampel bertambah tua dalam suatu penelitian. Ditemukan bahwa koleksi yang berumur 11, 33, dan 118 tahun masing-masing mengandung 0,84%, 0,67%, dan 0,014% (bobot kering).<ref>E. Ohenoja. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3430170 The occurrence of psilocybin and psilocin in Finnish fungi]. ''Journal of Natural Products''. 1987. Vol. 50 (4). hlm. 741–744. doi:10.1021/np50052a030.</ref> [[Miselium]] dewasa mengandung sejumlah psilosibin sedangkan miselium muda ([[Perkecambahan|germinasi]] baru spora) tidak memiliki kandungan psilosibin yang signifikan.<ref>S. T. Gross. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10855955 Detecting psychoactive drugs in the developmental stages of mushrooms]. ''Journal of Forensic Sciences''. 2000-05. Vol. 45 (3). hlm. 527–537.</ref> Banyak spesies jamur yang mengandung psilosibin juga menghasilkan sedikit senyawa analog [[baeosistin]] dan [[norbaeosistin]],<ref>Paul Stamets. [https://www.worldcat.org/oclc/34514700 Psilocybin mushrooms of the world : an identification guide]. Ten Speed Press. 1996. ISBN 0-89815-839-7.</ref> senyawa yang diketahui sebagai [[Prekursor (kimia)|prekursor]] biogenik.Walaupun kebanyakan spesies jamur yang mengandung psilosibin menjadi memar biru jika dipegang atau rusak karena [[Redoks|oksidasi]] senyawa golongan fenol, reaksi tersebut tidak dapat dijadikan metode pasti identifikasi atau penentuan potensi jamur.<ref>J. Bigwood. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7201054 Variation of psilocybin and psilocin levels with repeated flushes (harvests) of mature sporocarps of Psilocybe cubensis (Earle) Singer]. ''Journal of Ethnopharmacology''. 1982-05. Vol. 5 (3). hlm. 287–291. doi:10.1016/0378-8741(82)90014-9.</ref> | ||
== Persepsi sosial == | == Persepsi sosial == | ||
=== Status hukum === | === Status hukum === | ||
[[Status hukum jamur psilosibin|Status hukum hal-hal yang bersangkutan dengan jamur psilosibin]] berbeda-beda di seluruh dunia. Menurut [[Konvensi Psikotropika]] 1971 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), psilosibin dan psilosin termasuk dalam obat Schedule I.Obat-obatan kelompok tersebut ialah obat yang sangat mungkin disalahgunakan atau obat yang dianggap tidak berguna dari segi kesehatan. Namun, jamur psilosibin pernah memiliki sejumlah kegunaan medis dan keagamaan dalam berbagai budaya sepanjang sejarah dan berkemungkinan sangat rendah untuk disalahgunakan jika dibandingkan dengan obat Schedule I lain. | [[Status hukum jamur psilosibin|Status hukum hal-hal yang bersangkutan dengan jamur psilosibin]] berbeda-beda di seluruh dunia. Menurut [[Konvensi Psikotropika]] 1971 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), psilosibin dan psilosin termasuk dalam obat Schedule I.Obat-obatan kelompok tersebut ialah obat yang sangat mungkin disalahgunakan atau obat yang dianggap tidak berguna dari segi kesehatan. Namun, jamur psilosibin pernah memiliki sejumlah kegunaan medis<ref>Maia Szalavitz. [https://healthland.time.com/2011/06/16/magic-mushrooms-can-improve-psychological-health-long-term/ ‘Magic Mushrooms’ Can Improve Psychological Health Long Term]. ''Time''. 2011-06-16.</ref><ref>Roland R. Griffiths. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21674151 Psilocybin occasioned mystical-type experiences: immediate and persisting dose-related effects]. ''Psychopharmacology''. 2011-12. Vol. 218 (4). hlm. 649–665. doi:10.1007/s00213-011-2358-5.</ref> dan keagamaan dalam berbagai budaya sepanjang sejarah dan berkemungkinan sangat rendah untuk disalahgunakan jika dibandingkan dengan obat Schedule I lain. | ||
Jamur psilosibin tidak diatur dalam kesepakatan PBB. Meskipun demikian, banyak negara memiliki regulasi atau pelarangan jamur psilosibin. Di antaranya yaitu ''Psychotropic Substances Act'' Amerika Serikat, ''Misuse of Drugs Act 1971'' Inggris, dan ''Controlled Drugs and Substances Act'' Kanada. | Jamur psilosibin tidak diatur dalam kesepakatan PBB.<ref>[https://www.erowid.org/plants/mushrooms/mushrooms_law12.shtml Erowid Psilocybin Mushroom Vaults : Law : Letter by INCB Secretary about UN Control of Psilocybin Mushrooms]. ''www.erowid.org''.</ref> Meskipun demikian, banyak negara memiliki regulasi atau pelarangan jamur psilosibin. Di antaranya yaitu ''Psychotropic Substances Act'' Amerika Serikat, ''Misuse of Drugs Act 1971'' Inggris, dan ''Controlled Drugs and Substances Act'' Kanada. | ||
Di sejumlah wilayah yurisdiksi, spora ''Psilocybe'' dapat dijual dan diolah secara bebas karena tidak mengandung psilosibin maupun psilosin. Sementara itu, spora tersebut dilarang karena dianggap sebagai bahan yang digunakan dalam manufaktur obat di wilayah yurisdiksi lain. Beberapa wilayah (seperti California, Georgia, dan Idaho di Amerika Serikat) melarang penjualan dan kepemilikan spora jamur psilosibin secara spesifik. Pembudidayaan jamur psilosibin dinilai sebagai manufaktur obat di sebagian besar yurisdiksi dan sering kali dihukum dengan berat walaupun beberapa negara dan satu negara bagian Amerika Serikat (New Mexico) memutuskan bahwa menanam jamur psilosibin tidak termasuk "manufaktur" zat terlarang. | Di sejumlah wilayah yurisdiksi, spora ''Psilocybe'' dapat dijual dan diolah secara bebas karena tidak mengandung psilosibin maupun psilosin.<ref>[https://hcany.org/psilocybin Psilocybin]. ''Home Cultivation Association of New York''.</ref> Sementara itu, spora tersebut dilarang karena dianggap sebagai bahan yang digunakan dalam manufaktur obat di wilayah yurisdiksi lain. Beberapa wilayah (seperti California,<ref>[https://www.sos.ca.gov/administration/news-releases-and-advisories/2023-news-releases-and-advisories/proposed-initiative-enters-circulation-23-0004 Proposed Initiative Enters Circulation (23-0004.) :: California Secretary of State]. ''www.sos.ca.gov''.</ref> Georgia, dan Idaho<ref>[https://legislature.idaho.gov/statutesrules/idstat/title37/t37ch27/sect37-2705/ Section 37-2705 – Idaho State Legislature].</ref> di Amerika Serikat) melarang penjualan dan kepemilikan spora jamur psilosibin secara spesifik. Pembudidayaan jamur psilosibin dinilai sebagai manufaktur obat di sebagian besar yurisdiksi dan sering kali dihukum dengan berat walaupun beberapa negara dan satu negara bagian Amerika Serikat (New Mexico) memutuskan bahwa menanam jamur psilosibin tidak termasuk "manufaktur" zat terlarang.<ref>[https://casetext.com/case/state-v-pratt-62 State v. Pratt, 138 N.M. 161 Casetext Search + Citator]. ''casetext.com''.</ref> | ||
==== Pembelaan toleransi ==== | ==== Pembelaan toleransi ==== | ||
Walaupun dipandang terlarang di negara-negara Barat secara umum, seperti di Inggris, Australia, dan sejumlah negara bagian Amerika Serikat (AS), penggunaan psilosibin dan obat-obatan psikedelik dipandang pantas oleh badan-badan pemerintah yang relatif kurang konservatif. Di Amsterdam, Belanda, pihak berwenang menyediakan edukasi dan promosi penggunaan obat-obatan psikedelik seperti psilosibin secara aman dengan tujuan mengurangi kerugian masyarakat. Selain itu, terdapat kelompok-kelompok keagamaan seperti Uniao do Vegetal Amerika yang menggunakan zat psikedelik pada upacara tradisional. Pada tingkat federal di AS, [[Government Accountability Office]] (GAO), yang merupakan badan audit tertinggi pemerintah, mencatat bahwa masyarakat dapat mengajukan petisi kepada DEA mengenai pembolehan penggunaan psilosibin untuk kepentingan keagamaan. Di Australia, psikiater diperbolehkan meresepkan psilosibin untuk terapi depresi yang resisten sejak 1 Juli 2023. | Walaupun dipandang terlarang di negara-negara Barat secara umum, seperti di Inggris, Australia, dan sejumlah negara bagian Amerika Serikat (AS), penggunaan psilosibin dan obat-obatan psikedelik dipandang pantas oleh badan-badan pemerintah yang relatif kurang konservatif. Di Amsterdam, Belanda, pihak berwenang menyediakan edukasi dan promosi penggunaan obat-obatan psikedelik seperti psilosibin secara aman dengan tujuan mengurangi kerugian masyarakat.<ref>Anita Hardon. [https://anthrosource.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/anhu.12298 Caring for “Hassle‐Free Highs” in Amsterdam]. ''Anthropology and Humanism''. 2020-12. Vol. 45 (2). hlm. 212–222. doi:10.1111/anhu.12298.</ref> Selain itu, terdapat kelompok-kelompok keagamaan seperti Uniao do Vegetal<ref>''Como mudar sua mente''. Intrínseca. 2021-05-26. ISBN 978-85-510-0417-3.</ref> Amerika yang menggunakan zat psikedelik pada upacara tradisional.<ref>Morgan Shipley. ''Psychedelic mysticism: transforming consciousness, religious experiences, and voluntary peasants in postwar America''. Lexington books. 2015. ISBN 978-1-4985-0910-7.</ref> Pada tingkat federal di AS, [[Government Accountability Office]] (GAO), yang merupakan badan audit tertinggi pemerintah, mencatat bahwa masyarakat dapat mengajukan petisi kepada DEA mengenai pembolehan penggunaan psilosibin untuk kepentingan keagamaan.<ref>Ben Adlin. [https://doubleblindmag.com/deas-process-for-religious-use-of-psychedelics-needs-more-consistent-standards-government-watchdog-agency-says/ DEA's Process for Religious Use of Psychedelics Needs More Consistent Standards, Government Watchdog Agency Says]. ''DoubleBlind Mag''. 2024-07-15.</ref> Di Australia, psikiater diperbolehkan meresepkan psilosibin untuk terapi depresi yang resisten sejak 1 Juli 2023.<ref>Donna Lu. [https://www.theguardian.com/australia-news/2023/jul/01/australian-psychiatrists-can-now-prescribe-mdma-and-psilocybin-who-can-access-them-and-how-do-they-work Australian psychiatrists can now prescribe MDMA and psilocybin: who can access them and how do they work?]. ''The Guardian''. 2023-06-30.</ref> | ||
Advokat legalisasi psilosibin berpendapat bahwa bukti bahaya kurang dan terdapat potensi dalam penggunaannya untuk menangani kondisi kesehatan jiwa tertentu. Penelitian dengan psilosibin sulit dilaksanakan karena status hukum zat psikoaktif. Advokat legalisasi psilosibin juga mempromosikan kegunaan "[[Kematian ego|disolusi ego]]" dan berpendapat bahwa pelarangan psilosibin merupakan bentuk diskriminasi budaya terhadap penggunanya dalam lingkup tradisional. | Advokat legalisasi psilosibin berpendapat bahwa bukti bahaya kurang<ref>Pål-Ørjan Johansen. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25744618 Psychedelics not linked to mental health problems or suicidal behavior: a population study]. ''Journal of Psychopharmacology (Oxford, England)''. 2015-03. Vol. 29 (3). hlm. 270–279. doi:10.1177/0269881114568039.</ref> dan terdapat potensi dalam penggunaannya untuk menangani kondisi kesehatan jiwa tertentu. Penelitian dengan psilosibin sulit dilaksanakan karena status hukum zat psikoaktif.<ref>Matthew W. Johnson. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29753748 The abuse potential of medical psilocybin according to the 8 factors of the Controlled Substances Act]. ''Neuropharmacology''. 2018-11. Vol. 142. hlm. 143–166. doi:10.1016/j.neuropharm.2018.05.012.</ref> Advokat legalisasi psilosibin juga mempromosikan kegunaan "[[Kematian ego|disolusi ego]]"<ref>''Como mudar sua mente''. Intrínseca. 2021-05-26. ISBN 978-85-510-0417-3.</ref> dan berpendapat bahwa pelarangan psilosibin merupakan bentuk diskriminasi budaya terhadap penggunanya dalam lingkup tradisional.<ref>Robin Rodd. [http://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0308275X18775818 It’s all you! Australian ayahuasca drinking, spiritual development, and immunitary individualism]. ''Critique of Anthropology''. 2018-09. Vol. 38 (3). hlm. 325–345. doi:10.1177/0308275X18775818.</ref> | ||
=== Penggunaan === | === Penggunaan === | ||
Pada tahun 2009, [[Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat]] mengadakan survei nasional yang menunjukkan bahwa pengguna jamur psilosibin untuk pertama kali berjumlah kurang lebih sama dengan pengguna ganja untuk pertama kali. Pada bulan Juni 2024, RAND Corporation melaporkan bahwa jumlah total hari penggunaan zat psikedelik ialah seperseratus dari penggunaan ganja. Mereka juga melaporkan bahwa pengguna zat psikedelik yang jarang menghitung sebagian besar jumlah total penggunaan, berbeda dengan pengguna ganja dan banyak obat lain. Dalam laporan tersebut, diketahui bahwa jamur psilosibin mungkin adalah obat psikedelik yang paling banyak dikonsumsi oleh orang dewasa di AS. | Pada tahun 2009, [[Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat]] mengadakan survei nasional yang menunjukkan bahwa pengguna jamur psilosibin untuk pertama kali berjumlah kurang lebih sama dengan pengguna ganja untuk pertama kali.<ref>Eugenia Bone. [https://archive.org/details/mycophiliarevela0000bone Mycophilia: revelations from the weird world of mushrooms]. Rodale. 2011. ISBN 978-1-60529-407-0.</ref> Pada bulan Juni 2024, RAND Corporation melaporkan bahwa jumlah total hari penggunaan zat psikedelik ialah seperseratus dari penggunaan ganja. Mereka juga melaporkan bahwa pengguna zat psikedelik yang jarang menghitung sebagian besar jumlah total penggunaan, berbeda dengan pengguna ganja dan banyak obat lain.<ref>Beau Kilmer. [https://www.rand.org/pubs/research_reports/RRA2825-1.html Considering Alternatives to Psychedelic Drug Prohibition]. 2024-06-27.</ref> Dalam laporan tersebut, diketahui bahwa jamur psilosibin mungkin adalah obat psikedelik yang paling banyak dikonsumsi oleh orang dewasa di AS.<ref>Beau Kilmer. [https://www.rand.org/pubs/research_reports/RRA2825-1.html Considering Alternatives to Psychedelic Drug Prohibition]. 2024-06-27.</ref> | ||
Di Eropa, prevalensi penggunaan jamur psikedelik sesuai usia diperkirakan berada pada kisaran 0,3%-14,1% untuk dewasa muda. | Di Eropa, prevalensi penggunaan jamur psikedelik sesuai usia diperkirakan berada pada kisaran 0,3%-14,1% untuk dewasa muda. | ||
Pada abad ke-20 dan 21, penggunaan jamur psilosibin dalam upacara tradisional bertahan di kalangan kelompok asli Meksiko, termasuk pada suku [[Nahua]], ''[[Matlatzinca]]'', ''[[Totonac]]'', ''[[Mazatec]]'', ''[[Mixe]]'', [[Suku Zapotek|Zapotek]], dan ''[[Chatino]]''. Walaupun spesies ''Psilocybe'' halusinogen banyak terdapat di wilayah dengan ketinggian rendah di Meksiko, sebagian besar penggunaan dalam upacara dilakukan di daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter. Guzmán berpendapat bahwa hal ini merupakan sisa pengaruh penjajahan Spanyol pada ratusan tahun sebelumnya, masa [[Gereja Katolik Roma|Gereja Katolik]] menghukum penggunaan jamur tersebut. | Pada abad ke-20 dan 21, penggunaan jamur psilosibin dalam upacara tradisional bertahan di kalangan kelompok asli Meksiko, termasuk pada suku [[Nahua]], ''[[Matlatzinca]]'', ''[[Totonac]]'', ''[[Mazatec]]'', ''[[Mixe]]'', [[Suku Zapotek|Zapotek]], dan ''[[Chatino]]''. Walaupun spesies ''Psilocybe'' halusinogen banyak terdapat di wilayah dengan ketinggian rendah di Meksiko, sebagian besar penggunaan dalam upacara dilakukan di daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter. Guzmán berpendapat bahwa hal ini merupakan sisa pengaruh penjajahan Spanyol pada ratusan tahun sebelumnya, masa [[Gereja Katolik Roma|Gereja Katolik]] menghukum penggunaan jamur tersebut.<ref>Gastón Guzmán. [http://link.springer.com/10.1007/s12231-008-9033-8 Hallucinogenic Mushrooms in Mexico: An Overview]. ''Economic Botany''. 2008-11. Vol. 62 (3). hlm. 404–412. doi:10.1007/s12231-008-9033-8.</ref> | ||
== Penelitian == | == Penelitian == | ||
Psilosibin telah menjadi topik penelitian klinis sejak awal tahun 1960-an dalam [[Proyek Psilosibin Harvard]] yang menilai [[Terapi psilosibin|potensi psilosibin]] pada penanganan sejumlah [[gangguan kepribadian]]. Pada tahun 2000-an, psilosibin mulai diteliti agar perannya diketahui pada penanganan [[ketergantungan nikotin]], [[ketergantungan alkohol]], [[gangguan obsesif kompulsif]], [[Sakit kepala cluster|sakit kepala kluster]], [[Psiko-onkologi|masalah eksistensial bersangkutan kanker]], [[gangguan kecemasan]], dan [[gangguan suasana hati]] tertentu.Pada tahun 2018, [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat|Badan Pengawas Obat dan Makanan]] (Food and Drug Administration, FDA) AS menyetujui kerangka [[terapi terobosan]] untuk [[depresi resistan terapi]] dengan tambahan psilosibin.Pada tahun 2021, sebuah tinjauan sistematis terbit, menunjukkan bahwa penggunaan psilosibin sebagai senyawa aktif farmasi berhubungan dengan penurunan intensitas gejala depresi. Peran psilosibin sebagai [[Psikoplastogen|bahan psikoplastogen]] juga tengah diselidiki. | Psilosibin telah menjadi topik penelitian klinis sejak awal tahun 1960-an dalam [[Proyek Psilosibin Harvard]] yang menilai [[Terapi psilosibin|potensi psilosibin]] pada penanganan sejumlah [[gangguan kepribadian]].<ref>Colin Wark. [https://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/S0955395909001121 Timothy Leary, Richard Alpert (Ram Dass) and the changing definition of psilocybin]. ''International Journal of Drug Policy''. 2010-05-01. Vol. 21 (3). hlm. 234–239. doi:10.1016/j.drugpo.2009.08.004.</ref> Pada tahun 2000-an, psilosibin mulai diteliti agar perannya diketahui pada penanganan [[ketergantungan nikotin]], [[ketergantungan alkohol]], [[gangguan obsesif kompulsif]], [[Sakit kepala cluster|sakit kepala kluster]], [[Psiko-onkologi|masalah eksistensial bersangkutan kanker]],<ref>Raphaël Serreau. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36678537 A Review of Synthetic Access to Therapeutic Compounds Extracted from Psilocybe]. ''Pharmaceuticals (Basel, Switzerland)''. 2022-12-28. Vol. 16 (1). hlm. 40. doi:10.3390/ph16010040.</ref><ref>Dev B. Goel. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36381758 Potential Therapeutic Effects of Psilocybin: A Systematic Review]. ''Cureus''. 2022-10. Vol. 14 (10). hlm. e30214. doi:10.7759/cureus.30214.</ref> [[gangguan kecemasan]], dan [[gangguan suasana hati]] tertentu.Pada tahun 2018, [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat|Badan Pengawas Obat dan Makanan]] (Food and Drug Administration, FDA) AS menyetujui kerangka [[terapi terobosan]] untuk [[depresi resistan terapi]] dengan tambahan psilosibin.Pada tahun 2021, sebuah tinjauan sistematis terbit, menunjukkan bahwa penggunaan psilosibin sebagai senyawa aktif farmasi berhubungan dengan penurunan intensitas gejala depresi.<ref>Gniewko Więckiewicz. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34451890 Lysergic Acid Diethylamide, Psilocybin and Dimethyltryptamine in Depression Treatment: A Systematic Review]. ''Pharmaceuticals (Basel, Switzerland)''. 2021-08-12. Vol. 14 (8). hlm. 793. doi:10.3390/ph14080793.</ref> Peran psilosibin sebagai [[Psikoplastogen|bahan psikoplastogen]] juga tengah diselidiki.<ref>Maxemiliano V. Vargas. [https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2021.727117/full Psychedelics and Other Psychoplastogens for Treating Mental Illness]. ''Frontiers in Psychiatry''. 2021-10-04. Vol. 12. doi:10.3389/fpsyt.2021.727117.</ref><ref>David E Olson. [https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/1179069518800508 Psychoplastogens: A Promising Class of Plasticity-Promoting Neurotherapeutics]. ''Journal of Experimental Neuroscience''. 2018-01. Vol. 12. doi:10.1177/1179069518800508.</ref><ref>Cato M. H. de Vos. [https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2021.724606/full Psychedelics and Neuroplasticity: A Systematic Review Unraveling the Biological Underpinnings of Psychedelics]. ''Frontiers in Psychiatry''. 2021-09-10. Vol. 12. doi:10.3389/fpsyt.2021.724606.</ref> | ||
=== Depresi === | === Depresi === | ||
Baik uji klinis dengan metode [[uji acak terkendali]] [[Eksperimen buta|buta ganda]] maupun [[Eksperimen terbuka|metode terbuka]] menunjukkan bahwa dosis tunggal psilosibin memberikan efek [[antidepresan]] cepat dan panjang. Dosis tunggal tersebut ditemukan bekerja lebih baik daripada [[plasebo]] pada penderita [[gangguan depresi mayor]] dan [[depresi resistan terapi]]. Pada [[Tahap-tahap penelitian klinis|uji klinis tahap 2]], psilosibin diberikan bersama dengan [[psikoterapi]]; ia ditemukan menghasilkan perbaikan gejala depresi [[tergantung dosis]]: psilosibin 25 mg (dosis sedang) bekerja lebih efektif daripada 10 mg (dosis rendah) dan 10 mg lebih efektif daripada 1 mg (tidak bersifat psikoaktif dan setara dengan plasebo). Efek antidepresan psilosibin dalam kombinasi dengan psikoterapi ditemukan bekerja sekurang-kurangnya selama enam pekan setelah pemberian dosis tunggal. | Baik uji klinis dengan metode [[uji acak terkendali]] [[Eksperimen buta|buta ganda]] maupun [[Eksperimen terbuka|metode terbuka]] menunjukkan bahwa dosis tunggal psilosibin memberikan efek [[antidepresan]] cepat dan panjang. Dosis tunggal tersebut ditemukan bekerja lebih baik daripada [[plasebo]] pada penderita [[gangguan depresi mayor]] dan [[depresi resistan terapi]].<ref>Sheng-Min Wang. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38627070 Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials]. ''Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology''. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.</ref> Pada [[Tahap-tahap penelitian klinis|uji klinis tahap 2]], psilosibin diberikan bersama dengan [[psikoterapi]]; ia ditemukan menghasilkan perbaikan gejala depresi [[tergantung dosis]]: psilosibin 25 mg (dosis sedang) bekerja lebih efektif daripada 10 mg (dosis rendah) dan 10 mg lebih efektif daripada 1 mg (tidak bersifat psikoaktif dan setara dengan plasebo).<ref>Sheng-Min Wang. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38627070 Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials]. ''Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology''. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.</ref><ref>Guy M. Goodwin. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36322843 Single-Dose Psilocybin for a Treatment-Resistant Episode of Major Depression]. ''The New England Journal of Medicine''. 2022-11-03. Vol. 387 (18). hlm. 1637–1648. doi:10.1056/NEJMoa2206443.</ref> Efek antidepresan psilosibin dalam kombinasi dengan psikoterapi ditemukan bekerja sekurang-kurangnya selama enam pekan setelah pemberian dosis tunggal.<ref>Sheng-Min Wang. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38627070 Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials]. ''Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology''. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.</ref><ref>Guy M. Goodwin. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36322843 Single-Dose Psilocybin for a Treatment-Resistant Episode of Major Depression]. ''The New England Journal of Medicine''. 2022-11-03. Vol. 387 (18). hlm. 1637–1648. doi:10.1056/NEJMoa2206443.</ref><ref>Charles L. Raison. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37651119 Single-Dose Psilocybin Treatment for Major Depressive Disorder: A Randomized Clinical Trial]. ''JAMA''. 2023-09-05. Vol. 330 (9). hlm. 843–853. doi:10.1001/jama.2023.14530.</ref> | ||
Namun demikian, sejumlah percobaan tidak menunjukkan bahwa psilosibin dapat bekerja lebih baik daripada plasebo secara signifikan dalam penanganan depresi. Selain itu dalam sebuah uji klinis tahap 2, ditemukan bahwa pemberian dosis 25 mg dua kali dengan selang waktu tiga pekan yang dibandingkan dengan pemberian dosis harian escitalopram (Lexapro), sebuah [[Penghambat penyerapan kembali serotonin selektif|inhibitor selektif penyerapan kembali serotonin]] (''selective serotonin reuptake inhibitor,'' SSRI), tidak berbeda secara [[Signifikansi statistik|signifikan dari segi statistik]] dalam menurunkan gejala depresi. Hanya saja, penurunan gejala depresi lebih besar dalam angka pada pemberian psilosibin; sejumlah [[Ukuran luaran|ukuran luaran sekunder]] menunjukkan keunggulan psilosibin; dan tingkat [[Remisi (kedokteran)|remisi]] lebih tinggi dari segi statistik pada pemberian psilosibin (57% pada psilosibin dan 28% pada escitalopram). Jika ditinjau secara umum, [[ukuran efek]] antidepresan psilosibin adalah kecil jika dibandingkan dengan escitalopram. | Namun demikian, sejumlah percobaan tidak menunjukkan bahwa psilosibin dapat bekerja lebih baik daripada plasebo secara signifikan dalam penanganan depresi.<ref>Sheng-Min Wang. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38627070 Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials]. ''Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology''. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.</ref> Selain itu dalam sebuah uji klinis tahap 2, ditemukan bahwa pemberian dosis 25 mg dua kali dengan selang waktu tiga pekan yang dibandingkan dengan pemberian dosis harian escitalopram (Lexapro), sebuah [[Penghambat penyerapan kembali serotonin selektif|inhibitor selektif penyerapan kembali serotonin]] (''selective serotonin reuptake inhibitor,'' SSRI), tidak berbeda secara [[Signifikansi statistik|signifikan dari segi statistik]] dalam menurunkan gejala depresi.<ref>Sheng-Min Wang. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38627070 Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials]. ''Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology''. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.</ref><ref>Robin Carhart-Harris. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33852780 Trial of Psilocybin versus Escitalopram for Depression]. ''The New England Journal of Medicine''. 2021-04-15. Vol. 384 (15). hlm. 1402–1411. doi:10.1056/NEJMoa2032994.</ref> Hanya saja, penurunan gejala depresi lebih besar dalam angka pada pemberian psilosibin; sejumlah [[Ukuran luaran|ukuran luaran sekunder]] menunjukkan keunggulan psilosibin; dan tingkat [[Remisi (kedokteran)|remisi]] lebih tinggi dari segi statistik pada pemberian psilosibin (57% pada psilosibin dan 28% pada escitalopram).<ref>Sheng-Min Wang. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38627070 Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials]. ''Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology''. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.</ref><ref>Robin Carhart-Harris. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33852780 Trial of Psilocybin versus Escitalopram for Depression]. ''The New England Journal of Medicine''. 2021-04-15. Vol. 384 (15). hlm. 1402–1411. doi:10.1056/NEJMoa2032994.</ref> Jika ditinjau secara umum, [[ukuran efek]] antidepresan psilosibin adalah kecil jika dibandingkan dengan escitalopram.<ref>Robin Carhart-Harris. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33852780 Trial of Psilocybin versus Escitalopram for Depression]. ''The New England Journal of Medicine''. 2021-04-15. Vol. 384 (15). hlm. 1402–1411. doi:10.1056/NEJMoa2032994.</ref> | ||
[[Eksperimen buta|Pembukaan informasi]] efek psikoaktif dan [[Efek ekspektasi subjek|efek ekspektasi psikologi yang positif]] ([[Plasebo|efek plasebo]]) ialah batasan utama dan sumber [[bias]] uji klinis psilosibin dan zat psikedelik lain untuk penanganan depresi. Selain itu hingga September 2024, psilosibin dan zat psikedelik lain (kecuali [[MDMA]]) masih berada pada akhir uji klinis tahap 2 untuk gangguan kejiwaan dan belum selesai melalui uji klinis tahap 3 yang berukuran lebih besar dan lebih ketat ataupun mendapatkan persetujuan regulasi untuk penggunaan medis. | [[Eksperimen buta|Pembukaan informasi]] efek psikoaktif dan [[Efek ekspektasi subjek|efek ekspektasi psikologi yang positif]] ([[Plasebo|efek plasebo]]) ialah batasan utama dan sumber [[bias]] uji klinis psilosibin dan zat psikedelik lain untuk penanganan depresi.<ref>Suresh D. Muthukumaraswamy. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34038314 Blinding and expectancy confounds in psychedelic randomized controlled trials]. ''Expert Review of Clinical Pharmacology''. 2021-09. Vol. 14 (9). hlm. 1133–1152. doi:10.1080/17512433.2021.1933434.</ref><ref>Nicole Ledwos. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36193898 A Critical Appraisal of Evidence on the Efficacy and Safety of Serotonergic Psychedelic Drugs as Emerging Antidepressants: Mind the Evidence Gap]. ''Journal of Clinical Psychopharmacology''. 2022 Nov-Dec 01. Vol. 42 (6). hlm. 581–588. doi:10.1097/JCP.0000000000001608.</ref><ref>Oliver Rumle Hovmand. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37403379 Risk of bias in randomized clinical trials on psychedelic medicine: A systematic review]. ''Journal of Psychopharmacology (Oxford, England)''. 2023-07. Vol. 37 (7). hlm. 649–659. doi:10.1177/02698811231180276.</ref><ref>Balázs Szigeti. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38387698 Expectancy Effects in Psychedelic Trials]. ''Biological Psychiatry. Cognitive Neuroscience and Neuroimaging''. 2024-05. Vol. 9 (5). hlm. 512–521. doi:10.1016/j.bpsc.2024.02.004.</ref> Selain itu hingga September 2024, psilosibin dan zat psikedelik lain (kecuali [[MDMA]]) masih berada pada akhir uji klinis tahap 2 untuk gangguan kejiwaan dan belum selesai melalui uji klinis tahap 3 yang berukuran lebih besar dan lebih ketat ataupun mendapatkan persetujuan regulasi untuk penggunaan medis.<ref>Sheng-Min Wang. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38627070 Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials]. ''Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology''. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.</ref><ref>[https://adisinsight.springer.com/drugs/800050861 Psilocybin - COMPASS Pathways - AdisInsight]. ''adisinsight.springer.com''.</ref><ref>Yuan Yao. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38574699 Efficacy and safety of psychedelics for the treatment of mental disorders: A systematic review and meta-analysis]. ''Psychiatry Research''. 2024-05. Vol. 335. hlm. 115886. doi:10.1016/j.psychres.2024.115886.</ref> | ||
Penggunaan berulang psilosibin dan zat psikedelik serotonergik lainnya yang sering dalam penanganan gangguan kejiwaan menimbulkan sejumlah masalah. Karena penggunaan tersebut, terjadi aktivasi [[Serotonin|reseptor serotonin]] [[Reseptor 5-HT2B|5-HT<sub>2B</sub>]] yang mungkin berujung pada [[fibrosis jantung]] dan [[Penyakit katup jantung|valvulopati]]. Namun demikian, dosis tunggal dengan ukuran tinggi atau dosis dengan frekuensi jarang (misalnya, dengan jeda hitungan bulan) dianggap aman secara luas. Selain itu, hal-hal yang bersangkutan dengan toksisitas jantung cenderung berlaku pada penggunaan psikedelik dengan dosis sangat rendah (''[[Mikrodosis psikedelik|psychedelic]] [[Mikrodosis|microdosing]]'') dalam waktu yang lama atau penggunaan yang sangat sering (misalnya, setiap pekan). | Penggunaan berulang psilosibin dan zat psikedelik serotonergik lainnya yang sering dalam penanganan gangguan kejiwaan menimbulkan sejumlah masalah. Karena penggunaan tersebut, terjadi aktivasi [[Serotonin|reseptor serotonin]] [[Reseptor 5-HT2B|5-HT<sub>2B</sub>]] yang mungkin berujung pada [[fibrosis jantung]] dan [[Penyakit katup jantung|valvulopati]].<ref>Michael Tagen. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37572027 The risk of chronic psychedelic and MDMA microdosing for valvular heart disease]. ''Journal of Psychopharmacology (Oxford, England)''. 2023-09. Vol. 37 (9). hlm. 876–890. doi:10.1177/02698811231190865.</ref><ref>Antonin Rouaud. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38214279 Microdosing psychedelics and the risk of cardiac fibrosis and valvulopathy: Comparison to known cardiotoxins]. ''Journal of Psychopharmacology (Oxford, England)''. 2024-03. Vol. 38 (3). hlm. 217–224. doi:10.1177/02698811231225609.</ref> Namun demikian, dosis tunggal dengan ukuran tinggi atau dosis dengan frekuensi jarang (misalnya, dengan jeda hitungan bulan) dianggap aman secara luas. Selain itu, hal-hal yang bersangkutan dengan toksisitas jantung cenderung berlaku pada penggunaan psikedelik dengan dosis sangat rendah (''[[Mikrodosis psikedelik|psychedelic]] [[Mikrodosis|microdosing]]'') dalam waktu yang lama atau penggunaan yang sangat sering (misalnya, setiap pekan).<ref>Michael Tagen. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37572027 The risk of chronic psychedelic and MDMA microdosing for valvular heart disease]. ''Journal of Psychopharmacology (Oxford, England)''. 2023-09. Vol. 37 (9). hlm. 876–890. doi:10.1177/02698811231190865.</ref><ref>Antonin Rouaud. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38214279 Microdosing psychedelics and the risk of cardiac fibrosis and valvulopathy: Comparison to known cardiotoxins]. ''Journal of Psychopharmacology (Oxford, England)''. 2024-03. Vol. 38 (3). hlm. 217–224. doi:10.1177/02698811231225609.</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Psilosibin&oldid=29460854 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29460854 (2026-07-15T07:34:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi per 27 Agustus 2026 13.57
Psilosibin adalah senyawa bakal obat psikedelik alami yang diproduksi oleh lebih dari 200 spesies jamur. Produsen paling poten untuk senyawa ini adalah anggota dari genus Psilocybe, seperti P. azurescens, P. semilanceata, dan P. cyanescens tetapi psilosibin juga dapat diisolasi dari sekitar selusin genera lain. Sebagai suatu prodrug (bakal obat), psilosibin dengan cepat diubah oleh tubuh menjadi psilosin, yang memiliki efek memengaruhi mental mirip dengan LSD, meskalin, dan DMT. Secara umum, psilosobin menghasilkan efek antara lain euforia, halusinasi visual dan mental, perubahan persepsi, persepsi waktu yang terdistorsi, dan pengalaman spiritual selain efek samping seperti mual dan serangan panik.
Ilustrasi pada mural dan lukisan batu pra-aksara, yang ditemukan di Spanyol dan Algeria, menunjukkan bahwa manusia sudah lama menggunakan jamur penghasil psilosibin. Di Mesoamerika, jamur-jamur sihir tersebut sudah lama dikonsumsi dalam upacara spiritual dan peramalan sebelum pencatat sejarah bangsa Spanyol mulai mendokumentasikan penggunaannya pada abad ke-16. Pada tahun 1959, kimiawan Swiss Albert Hofmann mengisolasi psilosibin awal yang aktif dari jamur Psilocybe mexicana. Atasan Hoffman, Sandoz, memasarkan psilosibin murni kepada dokter dan psikiater seluruh dunia sebagai bahan psikoterapi psikedelik. Pada akhir 1960-an, aturan hukum tentang obat semakin membatasi penelitian ilmiah tentang efek psilosibin dan halusinogen lain tetapi popularitasnya sebagai enteogen, bahan yang meningkatkan spiritualitas, bertambah pada dekade berikutnya karena meluasnya informasi tentang pembudidayaan jamur psilosibin.
Intensitas dan durasi efek psilosibin beragam, bergantung pada spesies atau kultivar jamur, dosis, faal individu, dan keadaan mental serta lingkungan fisik maupun sosial pengguna, sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah percobaan yang dipimpin oleh Timothy Leary di Universitas Harvard pada awal 1960-an. Setelah ditelan, psilosibin dengan cepat dimetabolisme menjadi psilosin yang memicu aksi pada reseptor serotonin di otak. Efek memengaruhi mental biasanya berlangsung selama 2-6 jam walau pengguna merasa durasi efek jauh lebih lama karena perubahan persepsi waktu. Kepemilikan atas jamur yang mengandung psilosibin dianggap sebagai tindak kriminal di banyak negara dan psilosibin termasuk dalam kategori obat terlarang dalam banyak aturan hukum tentang obat pada tingkat nasional berbagai negara.
Efek pengalaman mistis
Jamur psilosibin (biasa juga disebut jamur sihir) telah dan masih digunakan dalam berbagai budaya asli di Dunia Baru (Benua-Benua Amerika) baik pada latar keagamaan, peramalan, atau kerohanian. Karena arti kata entheogen ("dewa dalam diri"), jamur sihir dihargai sebagai sakramen kerohanian kuat yang membuka akses ke dunia roh. Jamur ini biasa digunakan dalam komunitas dengan kelompok kecil sebagai perekat kohesi kelompok dan reafirmasi nilai tradisional.[1] Terence McKenna mencatat praktik penggunaan jamur psilosibin di seluruh dunia sebagai etos budaya yang menghubungkan dirinya dengan Bumi dan misteri alam. McKenna berpendapat bahwa jamur ini memperbesar kesadaran diri dan rasa dekat dengan "Yang Lebih Tinggi"—dalam kata lain, pemahaman yang lebih dalam akan terhubungnya manusia dengan alam.[2]
Obat psikedelik dapat menyebabkan terjadinya keadaan kesadaran yang kemudian meninggalkan makna personal dan kerohanian jangka panjang bagi individu yang religius atau condong kepada hal kerohanian; keadaan ini disebut sebagai pengalaman mistis. Sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa banyak sifat pengalaman mistis akibat penggunaan obat tidak dapat dibedakan dari pengalaman mistis yang diperoleh melalui cara yang tidak mengandalkan obat, seperti meditasi atau olah napas holotropik.[3][4] Pada 1960-an Walter Pahnke dan kawan-kawan mengevaluasi pengalaman mistis (yang mereka sebut "kesadaran mistis") secara sistematis dengan membuat kategori ciri umum. Kategori ini, menurut Pahnke, "mendeskripsikan inti pengalaman psikologis yang universal, bebas dari interpretasi teologi atau filsafat yang tergantung pada budaya", dan membantu peneliti menilai pengalaman mistis dalam skala numerik kualitatif.[5]
Pada Percobaan Marsh Chapel tahun 1962, yang diadakan oleh Pahnke di Harvard Divinity School di bawah pengawasan Timothy Leary, hampir semua sukarelawan mahasiswa seminari untuk gelar master yang diberi psilosibin melaporkan pengalaman religius yang dalam.[6] Salah satu partisipan percobaan yakni cendekiawan keagamaan Huston Smith, penulis sejumlah buku cetak tentang perbandingan agama; ia kemudian menggambarkan pengalamannya sebagai "peristiwa kembali ke rumah kosmik paling kuat yang pernah saya alami."[7] Pada penindaklanjutan percobaan setelah 25 tahun, semua subjek penelitian yang diberi psilosibin menggambarkan bahwa mereka mengalami unsur "mistis sesungguhnya dan mendefinisikannya sebagai salah satu titik puncak kehidupan spiritual mereka". Peneliti psikedelik Rick Doblin menganggap penelitian tersebut memiliki bagian yang cacat karena implementasi prosedur double-blind yang tidak benar dan sejumlah pertanyaan tidak presisi pada kuesioner tentang pengalaman mistis. Namun, ia mengatakan bahwa penelitian ini memunculkan "keraguan yang signifikan atas pernyataan bahwa pengalaman mistis dengan katalis obat bersifat inferior dibandingkan pengalaman mistis tanpa obat dalam hal baik isinya secara langsung maupun efek jangka panjangnya". Sentimen ini diulangi kembali oleh psikiater William A. Richards, yang pada tinjauan 2007 menyatakan "penggunaan jamur [psikedelik] dapat menjadi salah satu teknologi yang mendorong terjadinya pengalaman kewahyuan [penyingkapan] yang sekurang-kurangnya serupa dengan pengalaman yang terjadi melalui apa yang disebut sebagai perubahan kimiawi otak secara spontan."[8]
Kelompok peneliti dari Johns Hopkins University School of Medicine yang dipimpin oleh Griffiths mengadakan studi untuk menilai efek psikologis jangka pendek dan panjang pengalaman penggunaan psilosibin. Mereka menggunakan kuesioner tentang pengalaman mistis dan prosedur double-blind yang ketat dalam versi yang telah dimodifikasi.[9] Bersangkutan dengan kemiripan penelitiannya dengan studi oleh Leary, Griffith menjelaskan perbedaan keduanya: "Kami mengadakan penelitian sistematis yang ketat menggunakan psilosibin di bawah kondisi yang dimonitor secara saksama, alur yang Dr. Leary abaikan pada awal 1960-an."[10] Penelitian tersebut didanai oleh Institut Penyalahgunaan Obat Nasional Amerika Serikat (National Institute on Drug Abuse, NIDA), terbit pada 2006, dan disanjung oleh para pakar karena kekuatan desain percobaannya. Pada penelitian tersebut, 36 sukarelawan yang belum pernah menggunakan halusinogen diberikan psilosobin dan metilfenidat (Ritalin) pada sesi yang berbeda; sesi metilfenidat berfungsi sebagai kontrol dan plasebo psikoaktif. Tingkat pengalaman mistis diukur dengan kuesioner yang dibuat oleh Ralph W. Hood;[11] 61% subjek melaporkan "pengalaman mistis total" setelah mendapatkan sesi psilosibin sementara hanya 13% melaporkan hasil serupa setelah mendapatkan sesi metilfenidat. Dua bulan setelah diberi psilosibin, 79% partisipan melaporkan peningkatan kepuasan hidup dan rasa sejahtera yang sedang hingga besar. Sekitar 36% partisipan juga mengalami "pengalaman rasa takut" atau disforia yang kuat hingga ekstrem pada sesi psilosibin, hal ini tidak dilaporkan oleh satupun partisipan pada sesi metilfenidat; sekitar sepertiga dari mereka yang melaporkan disforia (13%) memberi tahu bahwa rasa takut ini mendominasi seluruh sesi. Efek negatif ini dilaporkan dapat dengan mudah ditangani oleh peneliti dan tidak memberikan efek negatif jangka panjang pada rasa sejahtera subjek.[12]
Studi lanjutan yang diadakan 14 bulan setelah sesi psilosibin awal mengonfirmasi bahwa partisipan secara lanjut memaknai pengalaman tersebut secara personal dan mendalam. Hampir sepertiga subjek melaporkan bahwa pengalaman tersebut adalah satu-satunya peristiwa paling berarti atau signifikan secara spiritual dalam hidup mereka; lebih dari dua per tiga subjek melaporkan peristiwa tersebut termasuk dalam lima peristiwa paling signifikan secara spiritual dalam hidup mereka. Sekitar dua per tiga subjek mengindikasikan bahwa pengalaman tersebut meningkatkan rasa sejahtera atau kepuasan hidup.[13] Bahkan setelah 14 bulan, mereka yang melaporkan pengalaman mistis mendapatkan nilai dengan rerata 4% lebih tinggi pada personality trait keterbukaan kepada pengalaman; biasanya personality trait bersifat stabil sepanjang umur orang dewasa. Hal yang serupa terjadi pada penelitian (2010) dengan kuesioner berbasis internet yang dirancang untuk meneliti persepsi pengguna terhadap manfaat dan bahaya penggunaan obat halusinogen: 60% dari 503 pengguna psilosibin melaporkan bahwa penggunaan psilosibin memiliki pengaruh positif jangka panjang pada rasa sejahtera.[14][15]
Walau banyak penelitian pada abad ke-21 menyimpulkan bahwa psilosibin dapat menyebabkan pengalaman mistis dengan arti personal dan berpengaruh secara spiritual, tidak semua anggota komunitas kesehatan setuju. Paul R. McHugh, mantan direktur Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku Johns Hopkins, menanggapi dalam tinjauan buku: "Fakta yang tidak disebutkan dalam The Harvard Psychedelic Club ialah bahwa LSD, psilosibin, meskalin, dan bahan serupa tidak menghasilkan "kesadaran yang lebih tinggi" melainkan sebuah "kesadaran yang lebih rendah" tertentu yang dengan baik dikenal oleh para psikiater dan ahli saraf—yaitu, "delirium toksik"."[16] Menanggapi penolakan McHugh terhadap pandangan bahwa pengalaman mistis menghasilkan pandangan baru, Michael Pollan merujuk kepada Roland Griffiths, peneliti dari Johns Hopkins dan penulis banyak penelitian yang mendapati bahwa banyak partisipan sesungguhnya mengalami hal yang memberikan arti personal yang besar dan berkelanjutan yang menghasilkan perubahan positif berkelanjutan dalam fungsi psikologis.[17][18] Menurut Pollan, Griffiths mengakui bahwa mereka yang menggunakan psilosibin dapat mengalami psikosis sementara tetapi merincikan bahwa pasien yang McHugh gambarkan kemungkinan tidak melaporkan pengalaman mereka bertahun-tahun kemudian dengan ujaran "Waw, itu pengalaman paling hebat dan berarti dalam hidupku."[19] Respons demikian dalam kata lain ialah bahwa menyamakan pengalaman karena psilosibin menghasilkan pandangan menakjubkan secara otomatis dengan pengalaman pasien psikiatrik yang serupa secara dangkal (delirium toksik semata) adalah tidak pantas karena hanya "pandangan baru" yang didapatkan dari pengalaman dengan psilosibin yang dilaporkan sering menghasilkan perubahan berkelanjutan dan bermanfaat yang besar dalam hidup seseorang.
Bentuk sediaan
Walau psilosibin dapat dibuat secara sintetik, bahan yang digunakan di luar penelitian biasanya tidak demikian. Psilosibin terkandung dalam spesies jamur tertentu dan dapat dikonsumsi dengan berbagai cara: dengan konsumsi langsung bagian buah segar atau kering, dengan bentuk teh herbal, atau dengan mencampurkannya ke makanan lain untuk menutup rasa pahit.[20] Pada kasus yang jarang, ekstrak jamur disuntikkan langsung secara intravena.[21]
Efek merugikan
Sebagian besar kejadian penggunaan jamur psikedelik fatal, yang relatif sedikit, yang dilaporkan dalam pustaka melibatkan penggunaan obat lain secara bersamaan, terutama alkohol. Kebanyakan penyebab kebutuhan penanganan medis atas penggunaan jamur psikedelik mungkin termasuk disforia atau reaksi panik, yang memengaruhi individu yang menjadi cemas, bingung, gelisah, atau terdisorientasi secara ekstrem. Kecelakaan, kegiatan menyakiti diri, atau percobaan bunuh diri dapat terjadi pada kasus serius episode psikosis akut.[22] Walau tidak ada penelitian yang menemukan hubungan antara psilosibin dan kecacatan lahir,[23] perempuan hamil dianjurkan agar menghindari penggunaan psilosibin.[24]
Toksisitas
Data toksisitas psilosibin tidak banyak ditemui tetapi pada 2010-an kejadian overdosis jamur psilosibin semakin banyak tercatat. Sebuah analisis jamur, yang digunakan oleh mereka yang harus ditangani oleh tenaga kesehatan karena keracunan psilosibin, menemukan kadar fenetilamina (phenethylamine, PEA) yang tinggi. Hal yang sama ditemukan pada urin mereka yang menggunakan jamur psilosibin. Maka dari itu, terdapat hipotesis bahwa PEA dapat meningkatkan intensitas efek keracunan psilosibin.[25]
Median dosis letal (LD50) pada tikus jika psilosibin diberikan secara oral (ditelan) adalah 280 miligram per kilogram (mg/kg), sekitar 1,5 kali lipat LD50 kafein. Jika psilosibin diberikan secara intravena kepada kelinci, LD50 mendekati 12,5 mg/kg.[26] Jamur Psilocybe cubensis mengandung psilosibin sebanyak sekitar 1% menurut bobot sehingga sekitar 1,7 kg jamur kering, atau 17 kg jamur segar, menyebabkan manusia dengan berat badan 60 kg mengalami hal yang sama seperti tikus yang memiliki LD50 psilosibin sebanyak 280 mg/kg.[27] Berdasarkan penelitian pada hewan, dosis letal (mematikan) psilosibin diperhitungkan menurut ekstrapolasi berjumlah 6 gram, 1000 kali lebih besar daripada dosis efektif 6 mg.[28] Pendaftaran Efek Toksik Bahan Kimia menetapkan bahwa psilosibin memiliki indeks terapi yang relatif tinggi, yaitu 641 (semakin tinggi nilai indeks terapi maka profil keamanannya semakin baik); sebagai perbandingan, indeks terapi aspirin adalah 199 sedangkan nikotin adalah 21.[29] Dosis letal psilosibin pada penggunaan sebagai medikasi atau bahan rekreasi tunggal belum pernah terdokumentasi—hingga 2011, hanya ada dua laporan resmi atas kasus overdosis jamur halusinogen (tanpa penggunaan bahan lain) pada pustaka ilmiah dan mungkin kasus-kasus tersebut melibatkan faktor lain di samping psilosibin.[30]
Psikiatri
Serangan panik dapat terjadi karena konsumsi jamur yang mengandung psilosibin, terutama jika jamur tertelan secara tidak disengaja atau tidak terduga. Reaksi tersebut bercirikan perilaku kekerasan, pemikiran ingin bunuh diri,[31] psikosis seperti pada skizofrenia,[32][33] dan kejang[34] sesuai berbagai pustaka ilmiah. Sebuah survei diadakan di Inggris pada tahun 2005; penelitian tersebut menemukan bahwa hampir seperempat dari mereka yang pernah menggunakan psilosibin dalam jangka waktu satu tahun mengalami serangan panik.[35] Efek merugikan lain yang tidak begitu banyak dilaporkan antara lain paranoia, kebingungan, derealisasi (hilangnya koneksi dengan kenyataan) jangka panjang, dan mania.[36] Penggunaan psilosibin dapat memicu episode gangguan depersonalisasi secara sementara.[37] Penggunaannya oleh mereka yang mengidap skizofrenia dapat memicu episode psikosis akut yang membutuhkan penanganan medis.[38]
Kemiripan gejala yang dipicu oleh psilosibin dengan gejala pada skizofrenia menjadikan senyawa ini sebagai alat penelitian dalam studi perilaku dan pencitraan saraf pada gangguan psikosis skizofrenia.[39][40][41] Pada kedua kasus, gejala psikosis dianggap muncul karena "pembatasan yang kurang terhadap informasi kognitif dan indra" dalam otak yang pada akhirnya memicu "fragmentasi kognitif dan psikosis".[42] Flashback (berulangnya pengalaman sebelumnya dengan psilosibin secara spontan) dapat terjadi lama setelah penggunaan jamur psilosibin. Hallucinogen persisting perception disorder (HPPD) bercirikan adanya gangguan visual berkelanjutan yang mirip dengan gangguan yang muncul karena bahan psikedelik. Flashback maupun HPPD secara umum berhubungan dengan penggunaan psilosibin.[43]
Alkoholisme
psilocybin, menurut sebuah studi tahun 2022 yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association Psychiatry, memiliki kemampuan untuk membendung penggunaan alkohol yang berlebihaang berlebihan.[44]
Toleransi dan ketergantungan
Toleransi terhadap psilosibin muncul dan menghilang dengan cepat; konsumsi psilosibin lebih dari satu kali sepekan dapat membuat hilangnya efek psilosibin. Toleransi menghilang setelah beberapa hari sehingga pemberiannya dapat dilakukan dengan jeda beberapa hari agar efek terhindarkan.[45] Toleransi silang dapat terjadi antara psilosibin dan LSD dengan ciri farmakologi yang mirip[46] serta antara psilosibin dan fenetilamina seperti meskalin dan DOM.[47]
Penggunaan berulang psilosibin tidak menyebabkan ketergantungan fisik.[48] Penelitian pada 2008 menyimpulkan bahwa, berdasarkan data Amerika Serikat pada 2000-2002, onset remaja (usia 11-17 tahun) dalam menggunakan obat halusinogen (termasuk psilosibin) tidak meningkatkan risiko ketergantungan obat pada masa dewasa. Hal ini diterangkan dalam perbandingan dengan penggunaan remaja atas ganja, kokain, inhalansi, obat penenang, dan stimulan, yang semuanya berhubungan dengan "risiko besar mengalami gejala klinis ketergantungan obat di kemudian hari".[49] Penelitian di Belanda pada tahun 2010 memeringkatkan bahaya relatif jamur psilosibin dibandingkan dengan 19 obat rekreasi, antara lain alkohol (minuman keras), ganja, kokain, ekstasi, heroin, dan tembakau (bahan rokok). Dalam studi tersebut, jamur psilosibin menempati peringkat obat ilegal dengan bahaya paling rendah,[50] menguatkan kesimpulan yang telah dibuat oleh kelompok pakar dari Inggris.[51]
Farmakologi
Farmakodinamik
Psilosibin dengan cepat mengalami defosforilasi dalam tubuh menjadi psilosin, yang merupakan agonis sejumlah reseptor serotonin, yang juga dikenal sebagai reseptor 5-hidroksitriptamin (5-HT). Pada tikus, psilosin memiliki afinitas yang tinggi terhadap reseptor 5-HT2A dan afinitas yang rendah terhadap reseptor 5-HT1, termasuk reseptor 5-HT1A dan 5-HT1D; efek psilosin juga dimediasi oleh reseptor 5-HT2C.[52] Efek psikotomimetik (serupa psikosis) karena psilosin dapat dihentikan dengan mekanisme bergantung-dosis oleh ketanserin, obat antagonis 5-HT2A.[53] Sejumlah bukti menunjukkan bahwa interaksi psilosin dengan reseptor non-5-HT2 juga berperan dalam efek obat secara subjektif dan dalam hal perilaku.[54] Contohnya, psilosin secara tidak langsung meningkatkan kadar neurotransmiter dopamin di basal ganglia dan sebagian gejala psikotomimetik karena psilosin dapat dikurangi oleh haloperidol, antagonis reseptor dopamin nonselektif. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat peran dopaminergik tidak langsung dalam munculnya efek psikotomimetik karena psilosin.[55] Psilosibin dan psilosin tidak memiliki afinitas terhadap reseptor D2 dopamin, tidak seperti agonis reseptor 5-HT lain, yaitu LSD.[56] Psilosin berperan sebagai antagonis reseptor H1 dengan afinitas sedang sementara LSD memiliki afinitas lebih rendah. Reseptor serotonin terdapat di banyak bagian otak, antara lain korteks otak besar, dan berperan dalam banyak fungsi, antara lain regulasi suasana hati, motivasi, suhu tubuh, nafsu makan, dan libido.[57] Psilosibin juga menginduksi perubahan glutamat tergantung-region yang dapat menyebabkan pengalaman subjektif disolusi-ego.[58]
Farmakokinetik
Efek obat mulai terjadi pada 10–40 menit setelah psilosibin masuk ke saluran cerna; efek berlangsung selama 2–6 jam tergantung dosis psilosibin, spesies jamur, dan metabolisme individu.[59] Waktu paruh psilosibin yakni 163 ± 64 menit jika dikonsumsi secara oral (lewat saluran cerna) atau 74.1 ± 19.6 menit jika disuntikkan secara intravena.[60]
Psilosibin dimetabolisme terutama di hati. Dengan dikonversinya psilosibin menjadi psilosin, bahan ini mengalami efek first-pass sehingga kadarnya berkurang sangat banyak sebelum sampai ke sirkulasi sistemik. Psilosin dipecah oleh enzim monoamine oxidase (MAO) menghasilkan sejumlah metabolit yang dapat beredar dalam plasma darah, antara lain 4-hidroksiindol-3-asetaldehida, 4-hidroksitriptofol, dan asam 4-hidroksiindol-3-asetat.[61] Sebagian psilosin tidak dipecah oleh enzim, mereka kemudian diubah menjadi glukuronida; mekanisme biokimia ini digunakan oleh hewan untuk mengeliminasi zat beracun melalui pengikatannya dengan asam glukuronat dan ekskresi melalui urine.[62][63] Psilosin mengalami glukuronasi dengan enzim glukuronosiltransferase UGT1A9 di hati dan dengan UGT1A10 di usus halus.[64] Berdasarkan penelitian pada hewan, sejumlah 50% psilosibin yang tertelan diabsorbsi melalui lambung dan usus halus. Dalam waktu 24 jam, sekitar 65% psilosibin yang terabsorbsi diekskresi melalui urine dan 15-20% sisanya diekskresi melalui empedu dan tinja. Walaupun sebagian besar sisa obat dieliminasi dengan cara demikian dalam waktu 8 jam, psilosibin masih terdeteksi dalam urine setelah 7 hari.[65] Uji klinis menunjukkan bahwa kadar psilosin dalam plasma darah orang dewasa berjumlah rata-rata 8 µg/liter dalam waktu 2 jam setelah masuknya dosis tunggal oral 15 mg psilosibin;[66] efek psikologis terjadi jika kadar psilosin dalam plasma berjumlah 4–6 µg/liter.[67] Psilosibin bersifat 100 kali kurang poten daripada LSD menurut perbandingan bobot per bobot, efek psikologisnya juga berlangsung separuh waktu dari LSD.[68]
Penghambat MAO diketahui memperpanjang dan memperbesar efek dimetiltriptamin (DMT), sebuah penelitian menunjukkan bahwa efek psilosibin serupa karena sifat strukturnya yang analog terhadap DMT.[69] Konsumsi alkohol (minuman keras) dapat memperbesar efek psilosibin karena asetaldehida, salah satu metabolit utama dari alkohol, bereaksi dengan amina biogenik yang ada dalam tubuh, menghasilkan inhibitor MAO yang mirip dengan tetrahidroisokuinolin dan β-karbolin.[70] Pengisap rokok juga dapat mengalami efek psilosibin yang lebih besar[71] karena paparan asap tembakau mengurangi aktivitas MAO dalam otak dan saraf tepi.[72]
Sifat kimia dan biosintesis
Psilosibin (O-fosforil-4-hidroksi-N,N-dimetiltriptamin, 4-PO-Psilosin, atau 4-PO-HO-DMT) adalah prodrug (bakal obat) yang berubah menjadi psilosin—senyawa yang aktif secara farmakologis—melalui reaksi defosforilasi. Reaksi kimia ini terjadi dalam kondisi asam kuat di laboratorium atau dalam tubuh makhluk hidup dengan adanya enzim fosfatase.[73]
Psilosibin termasuk senyawa triptamin dengan struktur kimia cincin indol yang terikat dengan substituen etilamina. Senyawa ini dapat diturunkan dari asam amino triptofan dan memiliki struktur yang mirip dengan neurotransmiter serotonin. Psilosibin adalah anggota golongan senyawa turunan triptofan yang mulanya berfungsi sebagai antioksidan pada makhluk hidup sederhana dan akhirnya berperan dalam fungsi yang rumit pada makhluk hidup multiseluler seperti manusia.[74] Senyawa psikedelik lain yang memiliki cincin indol yaitu dimetiltriptamin (DMT) yang ditemukan terkandung pada banyak spesies tanaman dan dalam jumlah sangat sedikit terkandung pada beberapa hewan menyusui serta bufotenin yang ditemukan pada kulit katak psikoaktif.[75]
Psilosibin termasuk senyawa alkaloid yang larut dalam air, metanol, dan pelarut air-etanol tetapi tidak larut dalam pelarut organik seperti kloroform dan petroleum eter.[76] Nilai pKa psilosibin diperkirakan 1,3 serta 6,5 untuk gugus-gugus OH fosfat dan 10,4 untuk gugus dietilamina sehingga psilosibin termasuk struktrur zwitter-ion secara keseluruhan. Paparan cahaya memengaruhi kestabilan larutan berair psilosibin dan mengakibatkan oksidasi yang cepat—menjadi catatan pertimbangan penggunaannya sebagai standar analisis.[77] Osamu Shirota dan kawan-kawan melaporkan metode sintesis skala besar psilosibin tanpa pemurnian kromatografis pada 2003.[78] Dengan bahan baku 4-hidroksiindol, mereka membuat psilosibin dari psilosin, menghasilkan rendemen 85%, peningkatan rendemen yang besar jika dibandingkan dengan metode sintesis yang telah ada.[79][80][81] Psilosibin murni berbentuk serbuk kristalin putih seperti jarum dengan titik leleh antara 220–228 °C dan rasa yang sedikit mirip dengan amonia. Pada 2020, terdapat pengembangan metode baru untuk sintesis psilosibin.[82]
Dalam biosintesis, transformasi biokimia triptofan menjadi psilosibin melibatkan sejumlah reaksi enzim: dekarboksilasi, metilasi N9, hidroksilasi C4, dan fosforilasi O. Percobaan dengan pelabelan isotop pada 1960-an menunjukkan bahwa dekarboksilasi triptofan adalah langkah dimulainya biosintesis sedangkan fosforilasi O adalah langkah terakhir[83][84] tetapi analisis pada 2010-an dengan isolasi enzim menunjukkan bahwa fosforilasi O adalah langkah ketiga biosintesis pada P. cubensis.[85] Rangkaian langkah intermediat dengan enzim melibatkan 4 enzim yang berbeda (PsiD, PsiH, PsiK, dan PsiM) pada P. cubensis dan P. cyanescens walau jalur biosintesisnya berbeda antarspesies.[86] Enzim-enzim ini diekspresikan dari kode yang termuat dalam klaster gen pada Psilocybe, Panaeolus, dan Gymnopilus.[87] Para peneliti telah melakukan rekayasa genetik Escherichia coli di laboratorium sehingga dapat mengadakan manufaktur psilosibin dalam jumlah besar.[88] Psilosibin dapat diproduksi secara de novo dengan khamir.[89][90]
Metode analisis
Sejumlah uji kimia sederhana—tersedia secara komersial sebagai perlengkapan uji reagen—dapat digunakan dalam menilai keberadaan psilosibin pada ekstrak yang dibuat dari jamur. Psilosibin bereaksi terhadap uji Marquis dengan menghasilkan warna kuning dan terhadap reagen Mandelin menghasilkan warna hijau.[91] Namun, uji-uji tersebut tidak bereaksi hanya dengan psilosibin saja; misalnya, uji Marquis juga bereaksi dengan banyak golongan obat terlarang seperti senyawa-senyawa dengan gugus amino primer dan cincin benzena yang tidak tersubstitusi, antara lain amfetamin dan metamfetamin.[92] Reagen Ehrlich dan DMACA digunakan sebagai bahan yang disemprotkan setelah kromatografi lapis tipis untuk mendeteksi keberadaan psilosibin.[93] Banyak teknik kimia analisis modern digunakan untuk menentukan jumlah kadar psilosibin dalam sampel jamur. Metode awal yang umum digunakan adalah kromatografi gas tetapi suhu tinggi diperlukan untuk menguapkan sampel psilosibin sebelum analisis sehingga gugus fosforil psilosibin langsung terlepas dan senyawa menjadi psilosin, kedua senyawa sulit dibedakan dalam metode ini. Dalam toksikologi forensik, teknik dengan penggabungan kromatografi gas dan spektrometri massa (gas chromatography-mass spectrometry, GC-MS) adalah metode yang paling luas digunakan karena sensitivitasnya yang tinggi dan kemampuannya dalam memisahkan senyawa-senyawa pada campuran biologis kompleks.[94] Metode kimia analisis yang digunakan dalam pengujian psilosibin termasuk ion mobility spectrometry,[95] elektroforesis kapiler,[96] spektroskopi ultraviolet,[97] dan spektroskopi inframerah.[98] Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) digunakan bersama metode spektrometri massa ultraviolet,[99] fluoresensi,[100] elektrokimia,[101] dan electrospray ionization (ESI).
Beragam metode kromatografi disusun dengan tujuan mendeteksi psilosin pada cairan tubuh: sistem identifikasi obat darurat cepat (rapid emergency drug identification system, REMEDI HS), metode penapisan obat dengan KCKT;[102] KCKT dengan pendeteksian elektrokimia;[103][104] GC-MS;[105][106] dan kromatografi cair yang dibarengi spektrometri massa.[107] Walaupun penentuan kadar psilosin dalam urine dapat dilakukan tanpa pengolahan sampel terlebih dahulu (penghilangan kontaminan yang mempersulit penilaian konsentrasi secara akurat), analisis psilosin dalam plasma atau serum darah mengharuskan ekstraksi pendahuluan, diikuti oleh derivatisasi ekstrak untuk GC-MS. Imunoasai khusus juga dibuat untuk mendeteksi psilosin dalam sampel darah utuh.[108] Sebuah artikel yang diterbitkan pada 2009 melaporkan penggunaan KCKT dalam pemisahan cepat obat-obatan ilegal penting dalam kajian forensik, termasuk psilosibin dan psilosin; metode tersebut dapat mengidentifikasi senyawa-senyawa itu dalam hitungan waktu analisis setengah menit.[109] Namun demikian, teknik-teknik analisis pengujian konsentrasi psilosibin dalam cairan tubuh tidak tersedia secara rutin dan tidak biasa digunakan dalam lingkungan klinis.[110]
Kelimpahan alami
Psilosibin terkandung dengan kadar yang beragam pada lebih dari 200 spesies jamur Basidiomycota. Dalam review tahun 2000 tentang persebaran jamur halusinogen seluruh dunia, Gastón Guzmán dan kawan-kawan berpendapat bahwa psilosibin terkandung dalam genus: Psilocybe (116 spesies), Gymnopilus (14 spesies), Panaeolus (13), Copelandia (12), Hypholoma (6), Pluteus (6), Inocybe (6), Conocybe (4), Panaeolina (4), Gerronema (2), dan Galerina (1 spesies).[111] Guzmán memperbanyak perkiraan jumlah anggota Psilocybe yang menghasilkan psilosibin menjadi 144 spesies pada review tahun 2005. Sebagian besar spesies ditemukan di Meksiko (53 spesies), sisanya tersebar di Amerika Serikat dan Kanada (22), Eropa (16), Asia (15), Afrika (4), dan Australia beserta pulau-pulau di sekitarnya (19).[112] Keanekaragaman jamur psilosibin dilaporkan meningkat dengan adanya transfer klaster gen psilosibin secara horizontal antarspesies jamur yang tidak memiliki hubungan kekerabatan genetik.[113][114] Pada umumnya, spesies yang menghasilkan psilosibin merupakan jamur berlamela, dengan spora gelap, yang tumbuh di padang rumput dan hutan daerah subtropis dan tropis, biasanya pada tanah yang kaya akan humus dan sisa-sisa tumbuhan yang mati.[115] Jamur psilosibin hidup di semua benua dan kebanyakan jamur ditemukan di hutan basah subtropis.[116] Spesies anggota Psilocybe yang biasa ditemukan di daerah tropis termasuk P. cubensis dan P. subcubensis. P. semilanceata—dianggap oleh Guzmán sebagai jamur psilosibin yang memiliki persebaran paling luas[117]—ditemukan di Eropa, Amerika Utara, Asia, Amerika Selatan, Australia, dan Selandia Baru tetapi sama sekali tidak ada di Meksiko.[118] Walaupun keberadaan atau ketiadaan psilosibin tidak digunakan sebagai penanda kelompok taksonomi berdasarkan bahan kimia yang dihasilkan pada tingkat famili atau yang lebih tinggi, psilosibin digunakan untuk mengklasifikasi takson pada kelompok taksonomi yang lebih rendah.[119]
Baik bagian atas buah maupun batang jamur mengandung senyawa-senyawa psikoaktif, bagian atas buah ditemukan memuat mereka dalam jumlah yang lebih banyak secara konsisten. Spora jamur tidak mengandung psilosibin dan tidak pula psilosin.[120][121][122] Potensi total jamur sangat beragam jika dibandingkan antarspesies, hal yang sama didapati bahkan untuk antarspesimen yang spesiesnya sama dan dipanen atau dibudidayakan dari jenis galur yang sama.[123] Karena kebanyakan biosintesis psilosibin terjadi di masa awal pembentukan bagian buah atau sclerotium (tempat penyimpanan cadangan bahan metabolisme dan pigmen), jamur yang muda, dan lebih kecil, cenderung mengandung psilosibin dalam kadar yang lebih tinggi daripada jamur dewasa.[124] Pada umumnya, kadar psilosibin dalam jamur beragam (dengan jangkauan bawah 1,5% bobot kering)[125] dan tergantung spesies, galur, kondisi saat tumbuh dan pengeringan, serta ukuran jamur.[126] Jamur hasil budi daya cenderung memiliki kandungan psilosibin yang kurang beragam dibandingkan dengan jamur liar.[127] Senyawa psikoaktif lebih stabil pada jamur kering daripada jamur segar. Potensi jamur kering dapat bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.[128] Sementara itu, jamur yang masuk ke penyimpanan dalam keadaan segar hanya mengandung sejumlah kecil psilosibin setelah empat bulan penyimpanan jika dibandingkan dengan saat awal disimpan.[129]
Kandungan psilosibin pada spesimen herbarium Psilocybe semilanceata diketahui menurun seiring sampel bertambah tua dalam suatu penelitian. Ditemukan bahwa koleksi yang berumur 11, 33, dan 118 tahun masing-masing mengandung 0,84%, 0,67%, dan 0,014% (bobot kering).[130] Miselium dewasa mengandung sejumlah psilosibin sedangkan miselium muda (germinasi baru spora) tidak memiliki kandungan psilosibin yang signifikan.[131] Banyak spesies jamur yang mengandung psilosibin juga menghasilkan sedikit senyawa analog baeosistin dan norbaeosistin,[132] senyawa yang diketahui sebagai prekursor biogenik.Walaupun kebanyakan spesies jamur yang mengandung psilosibin menjadi memar biru jika dipegang atau rusak karena oksidasi senyawa golongan fenol, reaksi tersebut tidak dapat dijadikan metode pasti identifikasi atau penentuan potensi jamur.[133]
Persepsi sosial
Status hukum
Status hukum hal-hal yang bersangkutan dengan jamur psilosibin berbeda-beda di seluruh dunia. Menurut Konvensi Psikotropika 1971 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), psilosibin dan psilosin termasuk dalam obat Schedule I.Obat-obatan kelompok tersebut ialah obat yang sangat mungkin disalahgunakan atau obat yang dianggap tidak berguna dari segi kesehatan. Namun, jamur psilosibin pernah memiliki sejumlah kegunaan medis[134][135] dan keagamaan dalam berbagai budaya sepanjang sejarah dan berkemungkinan sangat rendah untuk disalahgunakan jika dibandingkan dengan obat Schedule I lain.
Jamur psilosibin tidak diatur dalam kesepakatan PBB.[136] Meskipun demikian, banyak negara memiliki regulasi atau pelarangan jamur psilosibin. Di antaranya yaitu Psychotropic Substances Act Amerika Serikat, Misuse of Drugs Act 1971 Inggris, dan Controlled Drugs and Substances Act Kanada.
Di sejumlah wilayah yurisdiksi, spora Psilocybe dapat dijual dan diolah secara bebas karena tidak mengandung psilosibin maupun psilosin.[137] Sementara itu, spora tersebut dilarang karena dianggap sebagai bahan yang digunakan dalam manufaktur obat di wilayah yurisdiksi lain. Beberapa wilayah (seperti California,[138] Georgia, dan Idaho[139] di Amerika Serikat) melarang penjualan dan kepemilikan spora jamur psilosibin secara spesifik. Pembudidayaan jamur psilosibin dinilai sebagai manufaktur obat di sebagian besar yurisdiksi dan sering kali dihukum dengan berat walaupun beberapa negara dan satu negara bagian Amerika Serikat (New Mexico) memutuskan bahwa menanam jamur psilosibin tidak termasuk "manufaktur" zat terlarang.[140]
Pembelaan toleransi
Walaupun dipandang terlarang di negara-negara Barat secara umum, seperti di Inggris, Australia, dan sejumlah negara bagian Amerika Serikat (AS), penggunaan psilosibin dan obat-obatan psikedelik dipandang pantas oleh badan-badan pemerintah yang relatif kurang konservatif. Di Amsterdam, Belanda, pihak berwenang menyediakan edukasi dan promosi penggunaan obat-obatan psikedelik seperti psilosibin secara aman dengan tujuan mengurangi kerugian masyarakat.[141] Selain itu, terdapat kelompok-kelompok keagamaan seperti Uniao do Vegetal[142] Amerika yang menggunakan zat psikedelik pada upacara tradisional.[143] Pada tingkat federal di AS, Government Accountability Office (GAO), yang merupakan badan audit tertinggi pemerintah, mencatat bahwa masyarakat dapat mengajukan petisi kepada DEA mengenai pembolehan penggunaan psilosibin untuk kepentingan keagamaan.[144] Di Australia, psikiater diperbolehkan meresepkan psilosibin untuk terapi depresi yang resisten sejak 1 Juli 2023.[145]
Advokat legalisasi psilosibin berpendapat bahwa bukti bahaya kurang[146] dan terdapat potensi dalam penggunaannya untuk menangani kondisi kesehatan jiwa tertentu. Penelitian dengan psilosibin sulit dilaksanakan karena status hukum zat psikoaktif.[147] Advokat legalisasi psilosibin juga mempromosikan kegunaan "disolusi ego"[148] dan berpendapat bahwa pelarangan psilosibin merupakan bentuk diskriminasi budaya terhadap penggunanya dalam lingkup tradisional.[149]
Penggunaan
Pada tahun 2009, Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat mengadakan survei nasional yang menunjukkan bahwa pengguna jamur psilosibin untuk pertama kali berjumlah kurang lebih sama dengan pengguna ganja untuk pertama kali.[150] Pada bulan Juni 2024, RAND Corporation melaporkan bahwa jumlah total hari penggunaan zat psikedelik ialah seperseratus dari penggunaan ganja. Mereka juga melaporkan bahwa pengguna zat psikedelik yang jarang menghitung sebagian besar jumlah total penggunaan, berbeda dengan pengguna ganja dan banyak obat lain.[151] Dalam laporan tersebut, diketahui bahwa jamur psilosibin mungkin adalah obat psikedelik yang paling banyak dikonsumsi oleh orang dewasa di AS.[152]
Di Eropa, prevalensi penggunaan jamur psikedelik sesuai usia diperkirakan berada pada kisaran 0,3%-14,1% untuk dewasa muda.
Pada abad ke-20 dan 21, penggunaan jamur psilosibin dalam upacara tradisional bertahan di kalangan kelompok asli Meksiko, termasuk pada suku Nahua, Matlatzinca, Totonac, Mazatec, Mixe, Zapotek, dan Chatino. Walaupun spesies Psilocybe halusinogen banyak terdapat di wilayah dengan ketinggian rendah di Meksiko, sebagian besar penggunaan dalam upacara dilakukan di daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter. Guzmán berpendapat bahwa hal ini merupakan sisa pengaruh penjajahan Spanyol pada ratusan tahun sebelumnya, masa Gereja Katolik menghukum penggunaan jamur tersebut.[153]
Penelitian
Psilosibin telah menjadi topik penelitian klinis sejak awal tahun 1960-an dalam Proyek Psilosibin Harvard yang menilai potensi psilosibin pada penanganan sejumlah gangguan kepribadian.[154] Pada tahun 2000-an, psilosibin mulai diteliti agar perannya diketahui pada penanganan ketergantungan nikotin, ketergantungan alkohol, gangguan obsesif kompulsif, sakit kepala kluster, masalah eksistensial bersangkutan kanker,[155][156] gangguan kecemasan, dan gangguan suasana hati tertentu.Pada tahun 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Food and Drug Administration, FDA) AS menyetujui kerangka terapi terobosan untuk depresi resistan terapi dengan tambahan psilosibin.Pada tahun 2021, sebuah tinjauan sistematis terbit, menunjukkan bahwa penggunaan psilosibin sebagai senyawa aktif farmasi berhubungan dengan penurunan intensitas gejala depresi.[157] Peran psilosibin sebagai bahan psikoplastogen juga tengah diselidiki.[158][159][160]
Depresi
Baik uji klinis dengan metode uji acak terkendali buta ganda maupun metode terbuka menunjukkan bahwa dosis tunggal psilosibin memberikan efek antidepresan cepat dan panjang. Dosis tunggal tersebut ditemukan bekerja lebih baik daripada plasebo pada penderita gangguan depresi mayor dan depresi resistan terapi.[161] Pada uji klinis tahap 2, psilosibin diberikan bersama dengan psikoterapi; ia ditemukan menghasilkan perbaikan gejala depresi tergantung dosis: psilosibin 25 mg (dosis sedang) bekerja lebih efektif daripada 10 mg (dosis rendah) dan 10 mg lebih efektif daripada 1 mg (tidak bersifat psikoaktif dan setara dengan plasebo).[162][163] Efek antidepresan psilosibin dalam kombinasi dengan psikoterapi ditemukan bekerja sekurang-kurangnya selama enam pekan setelah pemberian dosis tunggal.[164][165][166]
Namun demikian, sejumlah percobaan tidak menunjukkan bahwa psilosibin dapat bekerja lebih baik daripada plasebo secara signifikan dalam penanganan depresi.[167] Selain itu dalam sebuah uji klinis tahap 2, ditemukan bahwa pemberian dosis 25 mg dua kali dengan selang waktu tiga pekan yang dibandingkan dengan pemberian dosis harian escitalopram (Lexapro), sebuah inhibitor selektif penyerapan kembali serotonin (selective serotonin reuptake inhibitor, SSRI), tidak berbeda secara signifikan dari segi statistik dalam menurunkan gejala depresi.[168][169] Hanya saja, penurunan gejala depresi lebih besar dalam angka pada pemberian psilosibin; sejumlah ukuran luaran sekunder menunjukkan keunggulan psilosibin; dan tingkat remisi lebih tinggi dari segi statistik pada pemberian psilosibin (57% pada psilosibin dan 28% pada escitalopram).[170][171] Jika ditinjau secara umum, ukuran efek antidepresan psilosibin adalah kecil jika dibandingkan dengan escitalopram.[172]
Pembukaan informasi efek psikoaktif dan efek ekspektasi psikologi yang positif (efek plasebo) ialah batasan utama dan sumber bias uji klinis psilosibin dan zat psikedelik lain untuk penanganan depresi.[173][174][175][176] Selain itu hingga September 2024, psilosibin dan zat psikedelik lain (kecuali MDMA) masih berada pada akhir uji klinis tahap 2 untuk gangguan kejiwaan dan belum selesai melalui uji klinis tahap 3 yang berukuran lebih besar dan lebih ketat ataupun mendapatkan persetujuan regulasi untuk penggunaan medis.[177][178][179]
Penggunaan berulang psilosibin dan zat psikedelik serotonergik lainnya yang sering dalam penanganan gangguan kejiwaan menimbulkan sejumlah masalah. Karena penggunaan tersebut, terjadi aktivasi reseptor serotonin 5-HT2B yang mungkin berujung pada fibrosis jantung dan valvulopati.[180][181] Namun demikian, dosis tunggal dengan ukuran tinggi atau dosis dengan frekuensi jarang (misalnya, dengan jeda hitungan bulan) dianggap aman secara luas. Selain itu, hal-hal yang bersangkutan dengan toksisitas jantung cenderung berlaku pada penggunaan psikedelik dengan dosis sangat rendah (psychedelic microdosing) dalam waktu yang lama atau penggunaan yang sangat sering (misalnya, setiap pekan).[182][183]
Referensi
- ↑ Psychedelic medicine : new evidence for hallucinogenic substances as treatments. Praeger Publishers. 2007. ISBN 978-0-275-99023-7.
- ↑ Terence K. McKenna. Food of the gods : the search for the original tree of knowledge : a radical history of plants, drugs, and human evolution. Bantam Books. 1993. ISBN 0-553-37130-4.
- ↑ William James. The varieties of religious experience : a study in human nature. Simon & Schuster. 1997. ISBN 0-684-84297-1.
- ↑ Metzner R. Hallucinogenic drugs and plants in psychotherapy and shamanism. Journal of psychoactive drugs. 1998-10. Vol. 30 (4). doi:10.1080/02791072.1998.10399709.
- ↑ Pahnke Wn. Implications of LSD and experimental mysticism. Journal of religion and health. 1966 Jul. Vol. 5 (3). doi:10.1007/BF01532646.
- ↑ Griffiths R. Mystical-type experiences occasioned by psilocybin mediate the attribution of personal meaning and spiritual significance 14 months later. Journal of psychopharmacology (Oxford, England). 2008 Aug. Vol. 22 (6). doi:10.1177/0269881108094300.
- ↑ Huston Smith. Cleansing the doors of perception : the religious significance of entheogenic plants and chemicals. Jeremy P. Tarcher/Putnam. 2000. ISBN 1-58542-034-4.
- ↑ William A. Richards. The Phenomenology and Potential Religious Import of States of Consciousness Facilitated by Psilocybin. Archive for the Psychology of Religion. 2008-01. Vol. 30 (1). hlm. 189–200. doi:10.1163/157361208X317196.
- ↑ R. R. Griffiths. Psilocybin can occasion mystical-type experiences having substantial and sustained personal meaning and spiritual significance. Psychopharmacology. 2006-08. Vol. 187 (3). hlm. 268–283; discussion 284–292. doi:10.1007/s00213-006-0457-5.
- ↑ Beth Simpkins. Griffiths psilocybin. www.hopkinsmedicine.org.
- ↑ Ralph W. Hood. The Construction and Preliminary Validation of a Measure of Reported Mystical Experience. Journal for the Scientific Study of Religion. 1975-03. Vol. 14 (1). hlm. 29. doi:10.2307/1384454.
- ↑ Medical News: Psilocybin Viewed as Therapy or Research Tool - in Psychiatry, Addictions from MedPage Today. web.archive.org. 2008-10-05.
- ↑ Griffiths R. Mystical-type experiences occasioned by psilocybin mediate the attribution of personal meaning and spiritual significance 14 months later. Journal of psychopharmacology (Oxford, England). 2008 Aug. Vol. 22 (6). doi:10.1177/0269881108094300.
- ↑ R. L. Carhart-Harris. User perceptions of the benefits and harms of hallucinogenic drug use: A web-based questionnaire study. Journal of Substance Use. 2010-08. Vol. 15 (4). hlm. 283–300. doi:10.3109/14659890903271624.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ The Harvard Psychedelic Club, by Don Lattin - Commentary. web.archive.org. 2019-04-10.
- ↑ R. R. Griffiths. Psilocybin can occasion mystical-type experiences having substantial and sustained personal meaning and spiritual significance. Psychopharmacology. 2006-08. Vol. 187 (3). hlm. 268–283; discussion 284–292. doi:10.1007/s00213-006-0457-5.
- ↑ Roland R. Griffiths. Psilocybin-occasioned mystical-type experience in combination with meditation and other spiritual practices produces enduring positive changes in psychological functioning and in trait measures of prosocial attitudes and behaviors. Journal of Psychopharmacology (Oxford, England). 2018-01. Vol. 32 (1). hlm. 49–69. doi:10.1177/0269881117731279.
- ↑ How to Change Your Mind Annotated Summary — Trippingly.Net. web.archive.org. 2019-11-01.
- ↑ Hallucinogenic mushrooms : an emerging trend case study : EMCDDA Thematic papers. EMCDDA. 2006. ISBN 92-9168-249-7.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ Louis A. Pagliaro. Handbook of child and adolescent drug and substance abuse : pharmacological, developmental, and clinical considerations. John Wiley and Sons. 2012. ISBN 978-0-470-63906-1.
- ↑ Drugs during pregnancy and lactation : handbook of prescription drugs and comparative risk assessment : with updated information on recreational drugs, diagnostic procedures, vaccinations, poisoning, workplace and environmental contaminants, and breastfeeding during infectious disease. Elsevier. 2001. ISBN 978-0-444-50763-1.
- ↑ Justin P. Reinert. Management of overdoses of salvia, kratom, and psilocybin mushrooms: a literature review. Expert Review of Clinical Pharmacology. 2020-08. Vol. 13 (8). hlm. 847–856. doi:10.1080/17512433.2020.1794811.
- ↑ The Merck index : an encyclopedia of chemicals, drugs, and biologicals. Merck. 2001. ISBN 0-911910-13-1.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ Robert S. Gable. Comparison of acute lethal toxicity of commonly abused psychoactive substances. Addiction (Abingdon, England). 2004-06. Vol. 99 (6). hlm. 686–696. doi:10.1111/j.1360-0443.2004.00744.x.
- ↑ Inner paths to outer space : journeys to alien worlds through psychedelics and other spiritual technologies. Park Street Press. 2008. ISBN 978-1-59477-224-5.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ N. R. Peden. The problem of psilocybin mushroom abuse. Human Toxicology. 1982-10. Vol. 1 (4). hlm. 417–424. doi:10.1177/096032718200100408.
- ↑ F. X. Vollenweider. Psilocybin induces schizophrenia-like psychosis in humans via a serotonin-2 agonist action. Neuroreport. 1998-12-01. Vol. 9 (17). hlm. 3897–3902. doi:10.1097/00001756-199812010-00024.
- ↑ C. Hyde. Abuse of indigenous psilocybin mushrooms: a new fashion and some psychiatric complications. The British Journal of Psychiatry: The Journal of Mental Science. 1978-06. Vol. 132. hlm. 602–604. doi:10.1192/bjp.132.6.602.
- ↑ R. B. Mack. Phenomenally phunny phungi--psilocybin toxicity. North Carolina Medical Journal. 1983-10. Vol. 44 (10). hlm. 639–640.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ R. L. Carhart-Harris. User perceptions of the benefits and harms of hallucinogenic drug use: A web-based questionnaire study. Journal of Substance Use. 2010-08. Vol. 15 (4). hlm. 283–300. doi:10.3109/14659890903271624.
- ↑ Daphne Simeon. Depersonalisation disorder: a contemporary overview. CNS drugs. 2004. Vol. 18 (6). hlm. 343–354. doi:10.2165/00023210-200418060-00002.
- ↑ Roman J. Nielen. Khat and mushrooms associated with psychosis. The World Journal of Biological Psychiatry: The Official Journal of the World Federation of Societies of Biological Psychiatry. 2004-01. Vol. 5 (1). hlm. 49–53. doi:10.1080/15622970410029908.
- ↑ M. A. Geyer. Behavioral studies of hallucinogenic drugs in animals: implications for schizophrenia research. Pharmacopsychiatry. 1998-07. Vol. 31 Suppl 2. hlm. 73–79. doi:10.1055/s-2007-979350.
- ↑ F. X. Vollenweider. A systems model of altered consciousness: integrating natural and drug-induced psychoses. Brain Research Bulletin. 2001-11-15. Vol. 56 (5). hlm. 495–507. doi:10.1016/s0361-9230(01)00646-3.
- ↑ Mark A. Geyer. Serotonin research: contributions to understanding psychoses. Trends in Pharmacological Sciences. 2008-09. Vol. 29 (9). hlm. 445–453. doi:10.1016/j.tips.2008.06.006.
- ↑ F. X. Vollenweider. A systems model of altered consciousness: integrating natural and drug-induced psychoses. Brain Research Bulletin. 2001-11-15. Vol. 56 (5). hlm. 495–507. doi:10.1016/s0361-9230(01)00646-3.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ scienceblog. Psilocybin membendung alkoholisme. scienceblog. 2022-08-27.
- ↑ L. G. Nicholas. Psilocybin mushroom handbook : easy indoor & outdoor cultivation. Quick American. 2006. ISBN 0-932551-71-8.
- ↑ Torsten Passie. The pharmacology of lysergic acid diethylamide: a review. CNS neuroscience & therapeutics. 2008. Vol. 14 (4). hlm. 295–314. doi:10.1111/j.1755-5949.2008.00059.x.
- ↑ Adam L. Halberstadt. Multiple receptors contribute to the behavioral effects of indoleamine hallucinogens. Neuropharmacology. 2011-09. Vol. 61 (3). hlm. 364–381. doi:10.1016/j.neuropharm.2011.01.017.
- ↑ Torsten Passie. The pharmacology of psilocybin. Addiction Biology. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.
- ↑ Chuan-Yu Chen. Early-onset drug use and risk for drug dependence problems. Addictive Behaviors. 2009-03. Vol. 34 (3). hlm. 319–322. doi:10.1016/j.addbeh.2008.10.021.
- ↑ Jan van Amsterdam. Ranking the harm of alcohol, tobacco and illicit drugs for the individual and the population. European Addiction Research. 2010. Vol. 16 (4). hlm. 202–207. doi:10.1159/000317249.
- ↑ David J. Nutt. Drug harms in the UK: a multicriteria decision analysis. Lancet (London, England). 2010-11-06. Vol. 376 (9752). hlm. 1558–1565. doi:10.1016/S0140-6736(10)61462-6.
- ↑ Torsten Passie. The pharmacology of psilocybin. Addiction Biology. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.
- ↑ F. X. Vollenweider. Psilocybin induces schizophrenia-like psychosis in humans via a serotonin-2 agonist action. Neuroreport. 1998-12-01. Vol. 9 (17). hlm. 3897–3902. doi:10.1097/00001756-199812010-00024.
- ↑ Adam L. Halberstadt. Multiple receptors contribute to the behavioral effects of indoleamine hallucinogens. Neuropharmacology. 2011-09. Vol. 61 (3). hlm. 364–381. doi:10.1016/j.neuropharm.2011.01.017.
- ↑ Jennifer T Coull. Neuroanatomical and Neurochemical Substrates of Timing. Neuropsychopharmacology. 2011-01. Vol. 36 (1). hlm. 3–25. doi:10.1038/npp.2010.113.
- ↑ Torsten Passie. The pharmacology of psilocybin. Addiction Biology. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.
- ↑ J. D. Adams Jr. Chemical Interactions with Pyramidal Neurons in Layer 5 of the Cerebral Cortex: Control of Pain and Anxiety. Current Medicinal Chemistry. Vol. 16 (27). hlm. 3476–3479. doi:10.2174/092986709789057626.
- ↑ N. L. Mason. Me, myself, bye: regional alterations in glutamate and the experience of ego dissolution with psilocybin. Neuropsychopharmacology. 2020-11. Vol. 45 (12). hlm. 2003–2011. doi:10.1038/s41386-020-0718-8.
- ↑ Paul Stamets. Psilocybin mushrooms of the world : an identification guide. Ten Speed Press. 1996. ISBN 0-89815-839-7.
- ↑ Torsten Passie. The pharmacology of psilocybin. Addiction Biology. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.
- ↑ Torsten Passie. The pharmacology of psilocybin. Addiction Biology. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.
- ↑ Alison F. Grieshaber. The Detection of Psilocin in Human Urine. Journal of Forensic Sciences. 2001-05-01. Vol. 46 (3). hlm. 15014J. doi:10.1520/JFS15014J.
- ↑ Felix Hasler. Renal excretion profiles of psilocin following oral administration of psilocybin: a controlled study in man. Journal of Pharmaceutical and Biomedical Analysis. 2002-09. Vol. 30 (2). hlm. 331–339. doi:10.1016/S0731-7085(02)00278-9.
- ↑ Markus R Meyer. Absorption, distribution, metabolism and excretion pharmacogenomics of drugs of abuse. Pharmacogenomics. 2011-02. Vol. 12 (2). hlm. 215–233. doi:10.2217/pgs.10.171.
- ↑ Yoshihiro Matsushima. Historical overview of psychoactive mushrooms. Inflammation and Regeneration. 2009. Vol. 29 (1). hlm. 47–58. doi:10.2492/inflammregen.29.47.
- ↑ Randall C. Baselt. Disposition of toxic drugs and chemicals in man. Biomedical Publications. 2008. hlm. 1346–1348. ISBN 978-0-9626523-7-0.
- ↑ Torsten Passie. The pharmacology of psilocybin. Addiction Biology. 2002-10. Vol. 7 (4). hlm. 357–364. doi:10.1080/1355621021000005937.
- ↑ Spencer M. Cole. New Research on Street Drugs. Nova Publishers. 2006. hlm. 167–186. ISBN 978-1-59454-961-8.
- ↑ Olof Beck. Presence of Phenylethylamine in Hallucinogenic Psilocybe Mushroom: Possible Role in Adverse Reactions. Journal of Analytical Toxicology. 1998-01-01. Vol. 22 (1). hlm. 45–49. doi:10.1093/jat/22.1.45.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ Jan van Amsterdam. Contribution of monoamine oxidase (MAO) inhibition to tobacco and alcohol addiction. Life Sciences. 2006-10. Vol. 79 (21). hlm. 1969–1973. doi:10.1016/j.lfs.2006.06.010.
- ↑ Bioactive compounds in foods. Blackwell Pub. 2008. hlm. 120. ISBN 978-1-4443-0228-8.
- ↑ Handbook of the behavioral neurobiology of serotonin. Academic Press. 2010. ISBN 978-0-12-374634-4.
- ↑ M. Wurst. Psychoactive tryptamines from basidiomycetes. Folia Microbiologica. 2002. Vol. 47 (1). hlm. 3–27. doi:10.1007/BF02818560.
- ↑ M. Wurst. Psychoactive tryptamines from basidiomycetes. Folia Microbiologica. 2002. Vol. 47 (1). hlm. 3–27. doi:10.1007/BF02818560.
- ↑ N. Anastos. Investigation into the temporal stability of aqueous standard solutions of psilocin and psilocybin using high performance liquid chromatography. Science & Justice: Journal of the Forensic Science Society. 2006-04. Vol. 46 (2). hlm. 91–96. doi:10.1016/S1355-0306(06)71579-9.
- ↑ Osamu Shirota. Concise large-scale synthesis of psilocin and psilocybin, principal hallucinogenic constituents of "magic mushroom". Journal of Natural Products. 2003-06. Vol. 66 (6). hlm. 885–887. doi:10.1021/np030059u.
- ↑ F. Troxler. Abwandlungsprodukte von Psilocybin und Psilocin. 2. Mitteilung über synthetische Indolverbindungen. Helvetica Chimica Acta. 1959. Vol. 42 (6). hlm. 2073–2103. doi:10.1002/hlca.19590420638.
- ↑ A. Hofmann. [Elucidation of the structure and the synthesis of psilocybin]. Experientia. 1958-11-15. Vol. 14 (11). hlm. 397–399. doi:10.1007/BF02160424.
- ↑ David E. Nichols. Improvements to the Synthesis of Psilocybin and a Facile Method for Preparing the O-Acetyl Prodrug of Psilocin. Synthesis. 1999-06. Vol. 1999 (06). hlm. 935–938. doi:10.1055/s-1999-3490.
- ↑ Robert B. Kargbo. Direct Phosphorylation of Psilocin Enables Optimized cGMP Kilogram-Scale Manufacture of Psilocybin. ACS omega. 2020-07-14. Vol. 5 (27). hlm. 16959–16966. doi:10.1021/acsomega.0c02387.
- ↑ S. Agurell. Biosynthesis of psilocybin. II. Incorporation of labelled tryptamine derivatives. Acta Chemica Scandinavica. 1968. Vol. 22 (4). hlm. 1210–1218. doi:10.3891/acta.chem.scand.22-1210.
- ↑ W. S. Chilton. Psilocin, bufotenine and serotonin: historical and biosynthetic observations. Journal of Psychedelic Drugs. 1979-01. Vol. 11 (1-2). hlm. 61–69. doi:10.1080/02791072.1979.10472093.
- ↑ Janis Fricke. Enzymatic Synthesis of Psilocybin. Angewandte Chemie (International Ed. in English). 2017-09-25. Vol. 56 (40). hlm. 12352–12355. doi:10.1002/anie.201705489.
- ↑ M. Wurst. Psychoactive tryptamines from basidiomycetes. Folia Microbiologica. 2002. Vol. 47 (1). hlm. 3–27. doi:10.1007/BF02818560.
- ↑ Hannah T. Reynolds. Horizontal gene cluster transfer increased hallucinogenic mushroom diversity. Evolution Letters. 2018-04. Vol. 2 (2). hlm. 88–101. doi:10.1002/evl3.42.
- ↑ Megha Satyanarayana. Modified E. coli pump out psilocybin. C&EN Global Enterprise. 2019-10-07. Vol. 97 (39). hlm. 11–11. doi:10.1021/cen-09739-scicon9.
- ↑ Technical University of Denmark. Psychedelic compound from magic mushrooms produced in yeast. phys.org.
- ↑ MIND Blog Magic Yeasts and How to Make Them Produce Psilocybin. MIND Foundation. 2021-01-15.
- ↑ AJ Jenkins. Principles of forensic toxicology. AACC Press. 2003. hlm. 281. ISBN 1-890883-87-5.
- ↑ M. D. Cole. The analysis of controlled substances. Wiley. 2003. hlm. 132-133. ISBN 0-470-86455-9.
- ↑ Andreas Bresinsky. A colour atlas of poisonous fungi : a handbook for pharmacists, doctors, and biologists. Wolfe Pub. 1990. hlm. 113. ISBN 978-0-7234-1576-3.
- ↑ Tooru Kamata. Metabolism and toxicological analyses of hallucinogenic tryptamine analogues being abused in Japan. Forensic Toxicology. 2010-01. Vol. 28 (1). hlm. 1–8. doi:10.1007/s11419-009-0087-9.
- ↑ T. Keller. Analysis of psilocybin and psilocin in Psilocybe subcubensis Guzmán by ion mobility spectrometry and gas chromatography-mass spectrometry. Forensic Science International. 1999-01-11. Vol. 99 (2). hlm. 93–105. doi:10.1016/s0379-0738(98)00168-6.
- ↑ S. Pedersen-Bjergaard. Determination of psilocybin in Psilocybe semilanceata by capillary zone electrophoresis. Journal of Chromatography. B, Biomedical Sciences and Applications. 1997-07-04. Vol. 694 (2). hlm. 375–381. doi:10.1016/s0378-4347(97)00127-8.
- ↑ R. E. Lee. A technique for the rapid isolation and identification of psilocin from psilocin/psilocybin-containing mushrooms. Journal of Forensic Sciences. 1985-07. Vol. 30 (3). hlm. 931–941.
- ↑ Milan Wurst. Analysis and isolation of indole alkaloids of fungi by high-performance liquid chromatography. Journal of Chromatography A. 1992-02. Vol. 593 (1-2). hlm. 201–208. doi:10.1016/0021-9673(92)80287-5.
- ↑ N. Anastos. Investigation into the temporal stability of aqueous standard solutions of psilocin and psilocybin using high performance liquid chromatography. Science & Justice: Journal of the Forensic Science Society. 2006-04. Vol. 46 (2). hlm. 91–96. doi:10.1016/S1355-0306(06)71579-9.
- ↑ Kimie Saito. Determination of psilocin in magic mushrooms and rat plasma by liquid chromatography with fluorimetry and electrospray ionization mass spectrometry. Analytica Chimica Acta. 2004-12. Vol. 527 (2). hlm. 149–156. doi:10.1016/j.aca.2004.08.071.
- ↑ H. Lindenblatt. Quantitation of psilocin in human plasma by high-performance liquid chromatography and electrochemical detection: comparison of liquid-liquid extraction with automated on-line solid-phase extraction. Journal of Chromatography. B, Biomedical Sciences and Applications. 1998-05-29. Vol. 709 (2). hlm. 255–263. doi:10.1016/s0378-4347(98)00067-x.
- ↑ G. Sticht. Detection of psilocin in body fluids. Forensic Science International. 2000-09-11. Vol. 113 (1-3). hlm. 403–407. doi:10.1016/s0379-0738(00)00213-9.
- ↑ H. Lindenblatt. Quantitation of psilocin in human plasma by high-performance liquid chromatography and electrochemical detection: comparison of liquid-liquid extraction with automated on-line solid-phase extraction. Journal of Chromatography. B, Biomedical Sciences and Applications. 1998-05-29. Vol. 709 (2). hlm. 255–263. doi:10.1016/s0378-4347(98)00067-x.
- ↑ R. Kysilka. Determination of psilocin in rat urine by high-performance liquid chromatography with electrochemical detection. Journal of Chromatography. 1990-12-14. Vol. 534. hlm. 287–290. doi:10.1016/s0378-4347(00)82176-3.
- ↑ Alison F. Grieshaber. The Detection of Psilocin in Human Urine. Journal of Forensic Sciences. 2001-05-01. Vol. 46 (3). hlm. 15014J. doi:10.1520/JFS15014J.
- ↑ G. Sticht. Detection of psilocin in body fluids. Forensic Science International. 2000-09-11. Vol. 113 (1-3). hlm. 403–407. doi:10.1016/s0379-0738(00)00213-9.
- ↑ Tooru Kamata. Optimized glucuronide hydrolysis for the detection of psilocin in human urine samples. Journal of Chromatography. B, Analytical Technologies in the Biomedical and Life Sciences. 2003-11-05. Vol. 796 (2). hlm. 421–427. doi:10.1016/j.jchromb.2003.08.030.
- ↑ C. Albers. Development of a psilocin immunoassay for serum and blood samples. International Journal of Legal Medicine. 2004-12. Vol. 118 (6). hlm. 326–331. doi:10.1007/s00414-004-0469-9.
- ↑ Ira Lurie. Use of High-Temperature Liquid Chromatography with Sub-2 µm Particle C 18 Columns for the Analysis of Seized Drugs. Journal of Liquid Chromatography & Related Technologies. 2009-10-09. Vol. 32 (18). hlm. 2615–2626. doi:10.1080/10826070903245516.
- ↑ M. E. Attema-de Jonge. [Automutilation after consumption of hallucinogenic mushrooms]. Nederlands Tijdschrift Voor Geneeskunde. 2007-12-29. Vol. 151 (52). hlm. 2869–2872.
- ↑ G Guzmán. A worldwide geographical distribution of the neurotropic fungi, an analysis and discussion. web.archive.org. Annali del Museo Civico di Rovereto: Sezione Archeologia, Storia, Scienze Naturali. 2000. hlm. 189–280.
- ↑ Gaston Guzman. Species Diversity of the Genus Psilocybe (Basidiomycotina, Agaricales, Strophariaceae) in the World Mycobiota, with Special Attention to Hallucinogenic Properties. International Journal of Medicinal Mushrooms. 2005. Vol. 7 (1-2). hlm. 305–332. doi:10.1615/IntJMedMushr.v7.i12.280.
- ↑ Hannah T. Reynolds. Horizontal gene cluster transfer increased hallucinogenic mushroom diversity. Evolution Letters. 2018-04. Vol. 2 (2). hlm. 88–101. doi:10.1002/evl3.42.
- ↑ Ed Yong. How Mushrooms Became Magic. The Atlantic. 2017-08-24.
- ↑ M. Wurst. Psychoactive tryptamines from basidiomycetes. Folia Microbiologica. 2002. Vol. 47 (1). hlm. 3–27. doi:10.1007/BF02818560.
- ↑ G Guzmán. A worldwide geographical distribution of the neurotropic fungi, an analysis and discussion. web.archive.org. Annali del Museo Civico di Rovereto: Sezione Archeologia, Storia, Scienze Naturali. 2000. hlm. 189–280.
- ↑ Gastón Guzmán. The genus Psilocybe : a systematic revision of the known species including the history, distribution, and chemistry of the hallucinogenic species. J. Cramer. 1983. ISBN 3-7682-5474-7.
- ↑ Gaston Guzman. Species Diversity of the Genus Psilocybe (Basidiomycotina, Agaricales, Strophariaceae) in the World Mycobiota, with Special Attention to Hallucinogenic Properties. International Journal of Medicinal Mushrooms. 2005. Vol. 7 (1-2). hlm. 305–332. doi:10.1615/IntJMedMushr.v7.i12.280.
- ↑ Stephen G. Saupe. Occurrence of Psilocybin/Psilocin in Pluteus salicinus (Pluteaceae). Mycologia. 1981-07. Vol. 73 (4). hlm. 781. doi:10.2307/3759505.
- ↑ T. Keller. Analysis of psilocybin and psilocin in Psilocybe subcubensis Guzmán by ion mobility spectrometry and gas chromatography-mass spectrometry. Forensic Science International. 1999-01-11. Vol. 99 (2). hlm. 93–105. doi:10.1016/s0379-0738(98)00168-6.
- ↑ M. Wurst. Analysis of psychotropic compounds in fungi of the genus psilocybe by reversed-phase high-performance liquid chromatography. Journal of Chromatography A. 1984-03. Vol. 286. hlm. 229–235. doi:10.1016/S0021-9673(01)99190-3.
- ↑ R. Kysilka. High-performance liquid chromatographic determination of some psychotropic indole derivatives. Journal of Chromatography. 1989-03-03. Vol. 464 (2). hlm. 434–437. doi:10.1016/s0021-9673(00)94264-x.
- ↑ J. Bigwood. Variation of psilocybin and psilocin levels with repeated flushes (harvests) of mature sporocarps of Psilocybe cubensis (Earle) Singer. Journal of Ethnopharmacology. 1982-05. Vol. 5 (3). hlm. 287–291. doi:10.1016/0378-8741(82)90014-9.
- ↑ J Gartz. New aspects of the occurrence, chemistry and cultivation of European hallucinogenic mushrooms. Supplemento Agli Annali dei Musei Civici di Rovereto Sezione Archeologica, Storia e Scienze Naturali. 1992. Vol. 8. hlm. 107–124.
- ↑ Peter G. Stafford. Psychedelics encyclopedia. Ronin Pub. 1992. ISBN 0-914171-51-8.
- ↑ Paul Stamets. Psilocybin mushrooms of the world : an identification guide. Ten Speed Press. 1996. ISBN 0-89815-839-7.
- ↑ Hallucinogenic mushrooms drug profile www.emcdda.europa.eu. www.emcdda.europa.eu.
- ↑ Paul Stamets. Psilocybin mushrooms of the world : an identification guide. Ten Speed Press. 1996. ISBN 0-89815-839-7.
- ↑ Jan van Amsterdam. Harm potential of magic mushroom use: A review. Regulatory Toxicology and Pharmacology. 2011-04. Vol. 59 (3). hlm. 423–429. doi:10.1016/j.yrtph.2011.01.006.
- ↑ E. Ohenoja. The occurrence of psilocybin and psilocin in Finnish fungi. Journal of Natural Products. 1987. Vol. 50 (4). hlm. 741–744. doi:10.1021/np50052a030.
- ↑ S. T. Gross. Detecting psychoactive drugs in the developmental stages of mushrooms. Journal of Forensic Sciences. 2000-05. Vol. 45 (3). hlm. 527–537.
- ↑ Paul Stamets. Psilocybin mushrooms of the world : an identification guide. Ten Speed Press. 1996. ISBN 0-89815-839-7.
- ↑ J. Bigwood. Variation of psilocybin and psilocin levels with repeated flushes (harvests) of mature sporocarps of Psilocybe cubensis (Earle) Singer. Journal of Ethnopharmacology. 1982-05. Vol. 5 (3). hlm. 287–291. doi:10.1016/0378-8741(82)90014-9.
- ↑ Maia Szalavitz. ‘Magic Mushrooms’ Can Improve Psychological Health Long Term. Time. 2011-06-16.
- ↑ Roland R. Griffiths. Psilocybin occasioned mystical-type experiences: immediate and persisting dose-related effects. Psychopharmacology. 2011-12. Vol. 218 (4). hlm. 649–665. doi:10.1007/s00213-011-2358-5.
- ↑ Erowid Psilocybin Mushroom Vaults : Law : Letter by INCB Secretary about UN Control of Psilocybin Mushrooms. www.erowid.org.
- ↑ Psilocybin. Home Cultivation Association of New York.
- ↑ Proposed Initiative Enters Circulation (23-0004.) :: California Secretary of State. www.sos.ca.gov.
- ↑ Section 37-2705 – Idaho State Legislature.
- ↑ State v. Pratt, 138 N.M. 161 Casetext Search + Citator. casetext.com.
- ↑ Anita Hardon. Caring for “Hassle‐Free Highs” in Amsterdam. Anthropology and Humanism. 2020-12. Vol. 45 (2). hlm. 212–222. doi:10.1111/anhu.12298.
- ↑ Como mudar sua mente. Intrínseca. 2021-05-26. ISBN 978-85-510-0417-3.
- ↑ Morgan Shipley. Psychedelic mysticism: transforming consciousness, religious experiences, and voluntary peasants in postwar America. Lexington books. 2015. ISBN 978-1-4985-0910-7.
- ↑ Ben Adlin. DEA's Process for Religious Use of Psychedelics Needs More Consistent Standards, Government Watchdog Agency Says. DoubleBlind Mag. 2024-07-15.
- ↑ Donna Lu. Australian psychiatrists can now prescribe MDMA and psilocybin: who can access them and how do they work?. The Guardian. 2023-06-30.
- ↑ Pål-Ørjan Johansen. Psychedelics not linked to mental health problems or suicidal behavior: a population study. Journal of Psychopharmacology (Oxford, England). 2015-03. Vol. 29 (3). hlm. 270–279. doi:10.1177/0269881114568039.
- ↑ Matthew W. Johnson. The abuse potential of medical psilocybin according to the 8 factors of the Controlled Substances Act. Neuropharmacology. 2018-11. Vol. 142. hlm. 143–166. doi:10.1016/j.neuropharm.2018.05.012.
- ↑ Como mudar sua mente. Intrínseca. 2021-05-26. ISBN 978-85-510-0417-3.
- ↑ Robin Rodd. It’s all you! Australian ayahuasca drinking, spiritual development, and immunitary individualism. Critique of Anthropology. 2018-09. Vol. 38 (3). hlm. 325–345. doi:10.1177/0308275X18775818.
- ↑ Eugenia Bone. Mycophilia: revelations from the weird world of mushrooms. Rodale. 2011. ISBN 978-1-60529-407-0.
- ↑ Beau Kilmer. Considering Alternatives to Psychedelic Drug Prohibition. 2024-06-27.
- ↑ Beau Kilmer. Considering Alternatives to Psychedelic Drug Prohibition. 2024-06-27.
- ↑ Gastón Guzmán. Hallucinogenic Mushrooms in Mexico: An Overview. Economic Botany. 2008-11. Vol. 62 (3). hlm. 404–412. doi:10.1007/s12231-008-9033-8.
- ↑ Colin Wark. Timothy Leary, Richard Alpert (Ram Dass) and the changing definition of psilocybin. International Journal of Drug Policy. 2010-05-01. Vol. 21 (3). hlm. 234–239. doi:10.1016/j.drugpo.2009.08.004.
- ↑ Raphaël Serreau. A Review of Synthetic Access to Therapeutic Compounds Extracted from Psilocybe. Pharmaceuticals (Basel, Switzerland). 2022-12-28. Vol. 16 (1). hlm. 40. doi:10.3390/ph16010040.
- ↑ Dev B. Goel. Potential Therapeutic Effects of Psilocybin: A Systematic Review. Cureus. 2022-10. Vol. 14 (10). hlm. e30214. doi:10.7759/cureus.30214.
- ↑ Gniewko Więckiewicz. Lysergic Acid Diethylamide, Psilocybin and Dimethyltryptamine in Depression Treatment: A Systematic Review. Pharmaceuticals (Basel, Switzerland). 2021-08-12. Vol. 14 (8). hlm. 793. doi:10.3390/ph14080793.
- ↑ Maxemiliano V. Vargas. Psychedelics and Other Psychoplastogens for Treating Mental Illness. Frontiers in Psychiatry. 2021-10-04. Vol. 12. doi:10.3389/fpsyt.2021.727117.
- ↑ David E Olson. Psychoplastogens: A Promising Class of Plasticity-Promoting Neurotherapeutics. Journal of Experimental Neuroscience. 2018-01. Vol. 12. doi:10.1177/1179069518800508.
- ↑ Cato M. H. de Vos. Psychedelics and Neuroplasticity: A Systematic Review Unraveling the Biological Underpinnings of Psychedelics. Frontiers in Psychiatry. 2021-09-10. Vol. 12. doi:10.3389/fpsyt.2021.724606.
- ↑ Sheng-Min Wang. Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.
- ↑ Sheng-Min Wang. Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.
- ↑ Guy M. Goodwin. Single-Dose Psilocybin for a Treatment-Resistant Episode of Major Depression. The New England Journal of Medicine. 2022-11-03. Vol. 387 (18). hlm. 1637–1648. doi:10.1056/NEJMoa2206443.
- ↑ Sheng-Min Wang. Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.
- ↑ Guy M. Goodwin. Single-Dose Psilocybin for a Treatment-Resistant Episode of Major Depression. The New England Journal of Medicine. 2022-11-03. Vol. 387 (18). hlm. 1637–1648. doi:10.1056/NEJMoa2206443.
- ↑ Charles L. Raison. Single-Dose Psilocybin Treatment for Major Depressive Disorder: A Randomized Clinical Trial. JAMA. 2023-09-05. Vol. 330 (9). hlm. 843–853. doi:10.1001/jama.2023.14530.
- ↑ Sheng-Min Wang. Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.
- ↑ Sheng-Min Wang. Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.
- ↑ Robin Carhart-Harris. Trial of Psilocybin versus Escitalopram for Depression. The New England Journal of Medicine. 2021-04-15. Vol. 384 (15). hlm. 1402–1411. doi:10.1056/NEJMoa2032994.
- ↑ Sheng-Min Wang. Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.
- ↑ Robin Carhart-Harris. Trial of Psilocybin versus Escitalopram for Depression. The New England Journal of Medicine. 2021-04-15. Vol. 384 (15). hlm. 1402–1411. doi:10.1056/NEJMoa2032994.
- ↑ Robin Carhart-Harris. Trial of Psilocybin versus Escitalopram for Depression. The New England Journal of Medicine. 2021-04-15. Vol. 384 (15). hlm. 1402–1411. doi:10.1056/NEJMoa2032994.
- ↑ Suresh D. Muthukumaraswamy. Blinding and expectancy confounds in psychedelic randomized controlled trials. Expert Review of Clinical Pharmacology. 2021-09. Vol. 14 (9). hlm. 1133–1152. doi:10.1080/17512433.2021.1933434.
- ↑ Nicole Ledwos. A Critical Appraisal of Evidence on the Efficacy and Safety of Serotonergic Psychedelic Drugs as Emerging Antidepressants: Mind the Evidence Gap. Journal of Clinical Psychopharmacology. 2022 Nov-Dec 01. Vol. 42 (6). hlm. 581–588. doi:10.1097/JCP.0000000000001608.
- ↑ Oliver Rumle Hovmand. Risk of bias in randomized clinical trials on psychedelic medicine: A systematic review. Journal of Psychopharmacology (Oxford, England). 2023-07. Vol. 37 (7). hlm. 649–659. doi:10.1177/02698811231180276.
- ↑ Balázs Szigeti. Expectancy Effects in Psychedelic Trials. Biological Psychiatry. Cognitive Neuroscience and Neuroimaging. 2024-05. Vol. 9 (5). hlm. 512–521. doi:10.1016/j.bpsc.2024.02.004.
- ↑ Sheng-Min Wang. Current Understanding on Psilocybin for Major Depressive Disorder: A Review Focusing on Clinical Trials. Clinical Psychopharmacology and Neuroscience: The Official Scientific Journal of the Korean College of Neuropsychopharmacology. 2024-05-31. Vol. 22 (2). hlm. 222–231. doi:10.9758/cpn.23.1134.
- ↑ Psilocybin - COMPASS Pathways - AdisInsight. adisinsight.springer.com.
- ↑ Yuan Yao. Efficacy and safety of psychedelics for the treatment of mental disorders: A systematic review and meta-analysis. Psychiatry Research. 2024-05. Vol. 335. hlm. 115886. doi:10.1016/j.psychres.2024.115886.
- ↑ Michael Tagen. The risk of chronic psychedelic and MDMA microdosing for valvular heart disease. Journal of Psychopharmacology (Oxford, England). 2023-09. Vol. 37 (9). hlm. 876–890. doi:10.1177/02698811231190865.
- ↑ Antonin Rouaud. Microdosing psychedelics and the risk of cardiac fibrosis and valvulopathy: Comparison to known cardiotoxins. Journal of Psychopharmacology (Oxford, England). 2024-03. Vol. 38 (3). hlm. 217–224. doi:10.1177/02698811231225609.
- ↑ Michael Tagen. The risk of chronic psychedelic and MDMA microdosing for valvular heart disease. Journal of Psychopharmacology (Oxford, England). 2023-09. Vol. 37 (9). hlm. 876–890. doi:10.1177/02698811231190865.
- ↑ Antonin Rouaud. Microdosing psychedelics and the risk of cardiac fibrosis and valvulopathy: Comparison to known cardiotoxins. Journal of Psychopharmacology (Oxford, England). 2024-03. Vol. 38 (3). hlm. 217–224. doi:10.1177/02698811231225609.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29460854 (2026-07-15T07:34:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.