Lompat ke isi

Stereotipe: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29440765; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Stereotipe''' adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan [[persepsi]] terhadap [[Kelompok sosial|kelompok]] di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh [[manusia]] untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.
[[File:Mixed_stereotype_content_model_(Fiske_et_al.).png|thumb|right|280px|Mixed stereotype content model (Fiske et al.)]]


Dalam [[psikologi sosial]], stereotipe adalah setiap pemikiran yang diadopsi secara luas tentang tipe individu tertentu atau cara berperilaku tertentu yang dimaksudkan untuk mewakili seluruh kelompok individu atau [[perilaku]] tersebut secara keseluruhan. Pikiran atau keyakinan ini mungkin secara akurat mencerminkan kenyataan atau bahkan tidak. Di dalam [[psikologi]] dan lintas disiplin ilmu lainnya, terdapat berbagai konseptualisasi dan teori stereotipe yang terkadang memiliki kesamaan, serta mengandung unsur-unsur yang kontradiktif.  Bahkan dalam [[ilmu-ilmu sosial]] dan beberapa subdisiplin psikologi, stereotip kadang-kadang direproduksi dan dapat diidentifikasi dalam teori-teori tertentu, misalnya, dalam asumsi tentang [[budaya]] lain.
'''Stereotipe''' adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan [[persepsi]] terhadap [[Kelompok sosial|kelompok]] di mana orang tersebut dapat dikategorikan.<ref>Robbins, Stephen P., Timothy A. Judge. [https://archive.org/details/isbn_9781256758822 Organizational Behavior]. Prentice Hall. 2010.</ref> Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh [[manusia]] untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.<ref>Robbins, Stephen P., Timothy A. Judge. [https://archive.org/details/isbn_9781256758822 Organizational Behavior]. Prentice Hall. 2010.</ref>


Stereotipe sesungguhnya dapat berupa stereotipe positif dan negatif. Stereotipe negatif sering diasosiasikan dengan sikap atau perilaku negatif, seperti [[prasangka]] dan [[diskriminasi]]. Sementara stereotipe positif sering dianggap sebagai stereotipe yang tidak berbahaya dan memusuhi seseorang atau kelompok lain.
Dalam [[psikologi sosial]], stereotipe adalah setiap pemikiran yang diadopsi secara luas tentang tipe individu tertentu atau cara berperilaku tertentu yang dimaksudkan untuk mewakili seluruh kelompok individu atau [[perilaku]] tersebut secara keseluruhan.<ref>Craig McGarty. [http://catdir.loc.gov/catdir/samples/cam033/2002073438.pdf Stereotypes as explanations: The formation of meaningful beliefs about social groups]. Cambridge University Press. 2002. hlm. 1–15. ISBN 978-0-521-80047-1.</ref> Pikiran atau keyakinan ini mungkin secara akurat mencerminkan kenyataan atau bahkan tidak.<ref>Charles M. Judd. [https://archive.org/details/sim_psychological-review_1993-01_100_1/page/109 Definition and assessment of accuracy in social stereotypes]. ''Psychological Review''. 1993. Vol. 100 (1). hlm. 109–128. doi:10.1037/0033-295X.100.1.109.</ref><ref>William T. L. Cox. [http://www.archpsychological.com/blog/wp-content/uploads/2012/09/deprejudice-txng-dep-n-prejudice-w-tx-for-other.pdf Stereotypes, Prejudice, and Depression: The Integrated Perspective]. ''Perspectives on Psychological Science''. 2012. Vol. 7 (5). hlm. 427–449. doi:10.1177/1745691612455204.</ref> Di dalam [[psikologi]] dan lintas disiplin ilmu lainnya, terdapat berbagai konseptualisasi dan teori stereotipe yang terkadang memiliki kesamaan, serta mengandung unsur-unsur yang kontradiktif.  Bahkan dalam [[ilmu-ilmu sosial]] dan beberapa subdisiplin psikologi, stereotip kadang-kadang direproduksi dan dapat diidentifikasi dalam teori-teori tertentu, misalnya, dalam asumsi tentang [[budaya]] lain.<ref>Pradeep Chakkarath. [https://www.ssoar.info/ssoar/handle/document/58094 Stereotypes in social psychology: The 'West-East' differentiation as a reflection of Western traditions of thought]. ''Psychological Studies''. 2010. Vol. 55 (1). hlm. 18–25. doi:10.1007/s12646-010-0002-9.</ref>
 
Stereotipe sesungguhnya dapat berupa stereotipe positif dan negatif. Stereotipe negatif sering diasosiasikan dengan sikap atau perilaku negatif, seperti [[prasangka]] dan [[diskriminasi]]. Sementara stereotipe positif sering dianggap sebagai stereotipe yang tidak berbahaya dan memusuhi seseorang atau kelompok lain.<ref>Aileen Lovitt. [https://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/3919 The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations]. ''UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones''. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.</ref>


== Etimologi ==
== Etimologi ==
Asal kata ''stereotipe'' dalam [[bahasa Indonesia]] dipinjam dari sebuah [[kata benda]] dalam [[bahasa Inggris]], yaitu ''stereotype''. Sebenarnya, kata ini dalam bahasa Inggris juga pinjaman dari sebuah [[kata sifat]] dalam [[bahasa Prancis]], yaitu ''stéréotype'' yang merupakan kata turunan dari dua kata dalam [[bahasa Yunani]], yaitu στερεός (''stereos''), yang berarti "kokoh, padat" dan τύπος (''typos''), yang artinya kesan, sehingga secara harfiah ''stereotip'' berarti "kesan yang kuat terhadap satu objek atau lebih".
Asal kata ''stereotipe'' dalam [[bahasa Indonesia]] dipinjam dari sebuah [[kata benda]] dalam [[bahasa Inggris]], yaitu ''stereotype''. Sebenarnya, kata ini dalam bahasa Inggris juga pinjaman dari sebuah [[kata sifat]] dalam [[bahasa Prancis]], yaitu ''stéréotype'' yang merupakan kata turunan dari dua kata dalam [[bahasa Yunani]], yaitu στερεός (''stereos''), yang berarti "kokoh, padat"<ref>[https://www.perseus.tufts.edu/hopper/text?doc=Perseus%3Atext%3A1999.04.0057%3Aentry%3Dstereo%2Fs στερεός], dan [https://www.perseus.tufts.edu/hopper/text?doc=Perseus%3Atext%3A1999.04.0057%3Aentry%3Dtu%2Fpos τύπος] Henry George Liddell, Robert Scott, ''A Greek-English Lexicon'', di Perseus Digital Library</ref> dan τύπος (''typos''), yang artinya kesan, sehingga secara harfiah ''stereotip'' berarti "kesan yang kuat terhadap satu objek atau lebih".


Stereotipe dengan makna yang umum pada masa kini pertama kali diperkenalkan oleh seorang [[jurnalis]] Amerika yang bernama [[Walter Lippmann]] dalam karyanya yang berjudul "[[:en:Public Opinion (book)|''Public Opinion'']]". Sebenarnya penggunaan kata stereotipe pertama kali digunakan pada tahun 1798 oleh [[Firmin Didot]] dengan makna yang sama sekali berbeda. Kata Stereotipe yang digunakan oleh Firmin merujuk pada konteks [[industri]] [[percetakan]]. Dalam hal ini, stereotipe yang dimaksud adalah sebuah pelat cetak yang dapat digunakan untuk menggandakan suatu cetakan menjadi banyak. Selain itu, kata stereotipe juga digunakan untuk menamai sebuah [[gambar]] yang diciptakan untuk tidak berubah atau tetap.
Stereotipe dengan makna yang umum pada masa kini pertama kali diperkenalkan oleh seorang [[jurnalis]] Amerika yang bernama [[Walter Lippmann]] dalam karyanya yang berjudul "[[:en:Public Opinion (book)|''Public Opinion'']]".<ref>Milton Kleg. [https://books.google.co.id/books?id=aaMuQHO04I0C&printsec=frontcover&dq=Hate,+prejudice,+and+racism&hl=id&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=Hate%2C%20prejudice%2C%20and%20racism&f=false Hate Prejudice and Racism]. State University of New York Press. 1993. hlm. 135–137. ISBN 978-0-585-05491-9.</ref> Sebenarnya penggunaan kata stereotipe pertama kali digunakan pada tahun 1798 oleh [[Firmin Didot]] dengan makna yang sama sekali berbeda. Kata Stereotipe yang digunakan oleh Firmin merujuk pada konteks [[industri]] [[percetakan]]. Dalam hal ini, stereotipe yang dimaksud adalah sebuah pelat cetak yang dapat digunakan untuk menggandakan suatu cetakan menjadi banyak.<ref>[https://www.merriam-webster.com/words-at-play/the-history-origin-of-stereotype The Physical History of 'Stereotype']. ''www.merriam-webster.com''.</ref><ref>[https://www.britannica.com/technology/stereotype-printing stereotype printing Britannica]. ''www.britannica.com''.</ref> Selain itu, kata stereotipe juga digunakan untuk menamai sebuah [[gambar]] yang diciptakan untuk tidak berubah atau tetap.<ref>[http://www.etymonline.com/index.php?term=stereotype stereotype – Origin and meaning of stereotype by Online Etymology Dictionary]. ''etymonline.com''.</ref>


== Gambaran Umum ==
== Gambaran Umum ==
Stereotipe timbul karena adanya kecenderungan untuk menggeneralisasi secara berlebihan tanpa diferensiasi sehingga menimbulkan [[bias]] dan sikap negatif yang dialamatkan kepada suatu kelompok sosial ([[Ras manusia|ras]],[[suku]] atau [[agama]]) dan anggotanya. Semua stereotipe adalah [[generalisasi]], tetapi tidak semua generalisasi termasuk stereotipe. Stereotipe tersebar lebih luas karena penyederhanaan berlebihan terhadap sekelompok orang, sedangkan generalisasi lebih didasarkan pada pengalaman pribadi.
Stereotipe timbul karena adanya kecenderungan untuk menggeneralisasi secara berlebihan tanpa diferensiasi sehingga menimbulkan [[bias]] dan sikap negatif yang dialamatkan kepada suatu kelompok sosial ([[Ras manusia|ras]],[[suku]] atau [[agama]]) dan anggotanya.<ref>Murdianto. [https://ejournal.insuriponorogo.ac.id/index.php/qalamuna/article/view/148 Stereotipe, Prasangka dan Resistensinya (Studi Kasus pada Etnis Madura dan Tionghoa di Indonesia)]. ''Qalamuna''. Desember 2018. Vol. 10 (2). hlm. 139.</ref><ref>Rifan Aditya. [https://www.suara.com/news/2021/04/08/131638/apa-itu-prasangka-ini-bedanya-dengan-stereotip-faktor-dan-ciri-cirinya Apa Itu Prasangka? Ini Bedanya dengan Stereotip, Faktor dan Ciri-cirinya]. ''Suara.com''. 2021-04-08.</ref> Semua stereotipe adalah [[generalisasi]], tetapi tidak semua generalisasi termasuk stereotipe. Stereotipe tersebar lebih luas karena penyederhanaan berlebihan terhadap sekelompok orang, sedangkan generalisasi lebih didasarkan pada pengalaman pribadi.<ref>Nadra Kareem Nittle. [https://www.thoughtco.com/what-is-the-meaning-of-stereotype-2834956 What Is a Stereotype?]. ''ThoughtCo''.</ref>


Sebagai contoh, di [[Amerika Serikat]] (AS), kelompok ras tertentu sering dihubungkan dengan stereotipe, seperti pintar [[matematika]], [[atletik]] dan menari. Stereotipe ini begitu terkenal di AS sehingga rata-rata [[masyarakat]] Amerika tidak akan ragu bila diminta untuk mengidentifikasi kelompok ras mana, misalnya, yang memiliki reputasi baik dalam olahraga [[Bola basket|basket.]] Singkatnya, ketika seseorang menciptakan stereotipe, ia hanya mengulangi [[mitologi]] [[budaya]] yang sudah ada dalam masyarakat.
Sebagai contoh, di [[Amerika Serikat]] (AS), kelompok ras tertentu sering dihubungkan dengan stereotipe, seperti pintar [[matematika]], [[atletik]] dan menari. Stereotipe ini begitu terkenal di AS sehingga rata-rata [[masyarakat]] Amerika tidak akan ragu bila diminta untuk mengidentifikasi kelompok ras mana, misalnya, yang memiliki reputasi baik dalam olahraga [[Bola basket|basket.]] Singkatnya, ketika seseorang menciptakan stereotipe, ia hanya mengulangi [[mitologi]] [[budaya]] yang sudah ada dalam masyarakat.<ref>Nadra Kareem Nittle. [https://www.thoughtco.com/what-is-the-meaning-of-stereotype-2834956 What Is a Stereotype?]. ''ThoughtCo''.</ref>


Di sisi lain, seseorang bisa menciptakan generalisasi tentang suatu [[Kelompok etnik|kelompok etnis]] yang belum dilanggengkan oleh masyarakat. Misalnya, seseorang yang bertemu dengan beberapa orang dari negara tertentu dan ia menemukan bahwa orang tersebut pendiam, akan berkata bahwa semua orang dari negara tersebut memang pendiam. Generalisasi semacam ini tidak mencerminkan keragaman dalam kelompok (masyarakat negara tertentu). Namun generalisasi dapat berkembang menjadi [[stigmatisasi]] dan [[diskriminasi]] kelompok jika stereotipe yang dilekatkan pada mereka sebagian besar negatif.
Di sisi lain, seseorang bisa menciptakan generalisasi tentang suatu [[Kelompok etnik|kelompok etnis]] yang belum dilanggengkan oleh masyarakat. Misalnya, seseorang yang bertemu dengan beberapa orang dari negara tertentu dan ia menemukan bahwa orang tersebut pendiam, akan berkata bahwa semua orang dari negara tersebut memang pendiam. Generalisasi semacam ini tidak mencerminkan keragaman dalam kelompok (masyarakat negara tertentu). Namun generalisasi dapat berkembang menjadi [[stigmatisasi]] dan [[diskriminasi]] kelompok jika stereotipe yang dilekatkan pada mereka sebagian besar negatif.<ref>Nadra Kareem Nittle. [https://www.thoughtco.com/what-is-the-meaning-of-stereotype-2834956 What Is a Stereotype?]. ''ThoughtCo''.</ref>


Stereotipe juga berbeda dengan prasangka dan diskriminasi. Kata prasangka pertama kali diperkenalkan oleh [[Gordon Willard Allport|Gordon Allport]], berasal dari kata ''praejuducium'' yang artinya adalah pernyataan atau [[kesimpulan]] berdasarkan [[perasaan]] atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Prasangka mengandung tiga aspek, yaitu keyakinan [[Kognisi|kognitif]] yang bersifat merendahkan, pengekspresian perasaan negatif (aspek [[Afektivitas|afektif]]) dan tindakan permusuhan serta diskriminatif (aspek [[konatif]]).
Stereotipe juga berbeda dengan prasangka dan diskriminasi. Kata prasangka pertama kali diperkenalkan oleh [[Gordon Willard Allport|Gordon Allport]], berasal dari kata ''praejuducium'' yang artinya adalah pernyataan atau [[kesimpulan]] berdasarkan [[perasaan]] atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Prasangka mengandung tiga aspek, yaitu keyakinan [[Kognisi|kognitif]] yang bersifat merendahkan, pengekspresian perasaan negatif (aspek [[Afektivitas|afektif]]) dan tindakan permusuhan serta diskriminatif (aspek [[konatif]]).<ref>Rifan Aditya. [https://www.suara.com/news/2021/04/08/131638/apa-itu-prasangka-ini-bedanya-dengan-stereotip-faktor-dan-ciri-cirinya Apa Itu Prasangka? Ini Bedanya dengan Stereotip, Faktor dan Ciri-cirinya]. ''Suara.com''. 2021-04-08.</ref>


Sementara diskriminasi adalah perilaku negatif terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Pada umumnya, perlakuan diskriminatif timbul akibat pengaruh dari prasangka.
Sementara diskriminasi adalah perilaku negatif terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Pada umumnya, perlakuan diskriminatif timbul akibat pengaruh dari prasangka.<ref>Rifan Aditya. [https://www.suara.com/news/2021/04/08/131638/apa-itu-prasangka-ini-bedanya-dengan-stereotip-faktor-dan-ciri-cirinya Apa Itu Prasangka? Ini Bedanya dengan Stereotip, Faktor dan Ciri-cirinya]. ''Suara.com''. 2021-04-08.</ref>


== Asal-usul stereotipe ==
== Asal-usul stereotipe ==
Meskipun stereotipe awalnya tidak dibentuk oleh media, tetapi media modern memiliki pengaruh besar dalam membangkitkan dan memelihara stereotipe di masyarakat. Citra stereotipikal yang ditampilkan di media merupakan kejadian sehari-hari. Representasi stereotipikal ini dapat memunculkan prasangka terhadap kelompok lain serta mendorong orang-orang untuk memiliki perasaan dan emosi negatif terhadap anggota dari kelompok tersebut.
Meskipun stereotipe awalnya tidak dibentuk oleh media, tetapi media modern memiliki pengaruh besar dalam membangkitkan dan memelihara stereotipe di masyarakat. Citra stereotipikal yang ditampilkan di media merupakan kejadian sehari-hari. Representasi stereotipikal ini dapat memunculkan prasangka terhadap kelompok lain serta mendorong orang-orang untuk memiliki perasaan dan emosi negatif terhadap anggota dari kelompok tersebut.<ref>Lizelle Brink. [http://sajip.co.za/index.php/sajip/article/view/1234 Exploring the meaning and origin of stereotypes amongst South African employees]. ''SA Journal of Industrial Psychology''. 2015-02-05. Vol. 41 (1). hlm. 13 pages. doi:10.4102/sajip.v41i1.1234.</ref>


Selain media, stereotipe dapat terbentuk melalui pengaruh dari orang-orang terdekat, seperti [[orang tua]], [[guru]] dan teman sebaya. Orang tua dan anggota keluarga lainnya menjadi sumber utama yang menanamkan informasi, mengajarkan dan memperkuat keyakinan stereotipe pada anak-anak, yang kelak akan terbawa hingga mereka [[dewasa]].
Selain media, stereotipe dapat terbentuk melalui pengaruh dari orang-orang terdekat, seperti [[orang tua]], [[guru]] dan teman sebaya. Orang tua dan anggota keluarga lainnya menjadi sumber utama yang menanamkan informasi, mengajarkan dan memperkuat keyakinan stereotipe pada anak-anak, yang kelak akan terbawa hingga mereka [[dewasa]].<ref>Lizelle Brink. [http://sajip.co.za/index.php/sajip/article/view/1234 Exploring the meaning and origin of stereotypes amongst South African employees]. ''SA Journal of Industrial Psychology''. 2015-02-05. Vol. 41 (1). hlm. 13 pages. doi:10.4102/sajip.v41i1.1234.</ref>


Berdasarkan teori pembelajaran sosial, seseorang belajar tentang perilaku sosial melalui pengalaman langsung (seperti diberikan [[hukuman]] atau [[hadiah]] atas perbuatannya) atau melalui [[observasi]] (seperti mengamati konsekuensi dari perbuatan orang lain). Dengan mengacu pada teori ini, dapat dikatakan bahwa seseorang belajar memberi stereotipe pada orang lain karena memiliki pengalaman langsung dengan kelompok tertentu atau mendapat pengaruh dari orang lain. Ketika perbuatan seperti ini tidak ditegur, seseorang akan terus terlibat dalam proses menstereotipkan orang lain.
Berdasarkan teori pembelajaran sosial, seseorang belajar tentang perilaku sosial melalui pengalaman langsung (seperti diberikan [[hukuman]] atau [[hadiah]] atas perbuatannya) atau melalui [[observasi]] (seperti mengamati konsekuensi dari perbuatan orang lain). Dengan mengacu pada teori ini, dapat dikatakan bahwa seseorang belajar memberi stereotipe pada orang lain karena memiliki pengalaman langsung dengan kelompok tertentu atau mendapat pengaruh dari orang lain. Ketika perbuatan seperti ini tidak ditegur, seseorang akan terus terlibat dalam proses menstereotipkan orang lain.<ref>Lizelle Brink. [http://sajip.co.za/index.php/sajip/article/view/1234 Exploring the meaning and origin of stereotypes amongst South African employees]. ''SA Journal of Industrial Psychology''. 2015-02-05. Vol. 41 (1). hlm. 13 pages. doi:10.4102/sajip.v41i1.1234.</ref>


==Bentuk stereotipe==
==Bentuk stereotipe==
===Stereotipe Eksplisit===
===Stereotipe Eksplisit===
Stereotipe eksplisit merupakan sebuah stereotipe yang digunakan secara sadar oleh seseorang untuk menilai orang atau kelompok lain atas dasar stereotipenya tersebut. Sebagai contoh, jika ada seseorang yang berdebat dengan [[orang Batak]] lalu dia menganggap secara sadar bahwa orang Batak tersebut yang akan menang karena orang Batak kebanyakan berkecimpung menjadi [[pengacara]], maka itu adalah sebuah penilaian sadar seseorang berdasarkan stereotipe yang bisa disebut sebagai stereotipe eksplisit. Terkadang, mereka yang sadar menggunakan stereotipe untuk menilai seseorang atau kelompok tertentu juga secara sadar ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan ketergantungan mereka terhadap stereotipe dalam penilaiannya. Namun stereotipe eksplisit itu sendiri sebenarnya hanyalah kesadaran dari stereotipe implisit sehingga dapat membuat seseorang secara tanpa sadar melakukan [[bias kognitif]] dan terus menjadi kebiasaan.
Stereotipe eksplisit merupakan sebuah stereotipe yang digunakan secara sadar oleh seseorang untuk menilai orang atau kelompok lain atas dasar stereotipenya tersebut.<ref>[https://implicit.harvard.edu/implicit/faqs.html#faq1 Frequently Asked Questions]. ''implicit.harvard.edu''.</ref><ref>Sam, Rupert Gaertner, Brown. [https://books.google.co.id/books?redir_esc=y&hl=id&id=LNZHf3K4xzMC&q=Explicit+Stereotype#v=snippet&q=Explicit%20Stereotype&f=false Blackwell Handbook of Social Psychology: Intergroup Processes]. 2008-04-15. hlm. 186. ISBN 9780470692707.</ref> Sebagai contoh, jika ada seseorang yang berdebat dengan [[orang Batak]] lalu dia menganggap secara sadar bahwa orang Batak tersebut yang akan menang karena orang Batak kebanyakan berkecimpung menjadi [[pengacara]], maka itu adalah sebuah penilaian sadar seseorang berdasarkan stereotipe yang bisa disebut sebagai stereotipe eksplisit. Terkadang, mereka yang sadar menggunakan stereotipe untuk menilai seseorang atau kelompok tertentu juga secara sadar ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan ketergantungan mereka terhadap stereotipe dalam penilaiannya. Namun stereotipe eksplisit itu sendiri sebenarnya hanyalah kesadaran dari stereotipe implisit sehingga dapat membuat seseorang secara tanpa sadar melakukan [[bias kognitif]] dan terus menjadi kebiasaan.<ref>Charlotte Ruhl. [https://www.simplypsychology.org/cognitive-bias.html What Is Cognitive Bias?]. ''Simply Psychology''. 4 Mei 2021.</ref>


=== Stereotipe Implisit ===
=== Stereotipe Implisit ===
Stereotipe implisit merupakan kebalikan dari stereotipe eksplisit. Stereotipe ini merupakan suatu bentuk stereotipe di mana seseorang secara tanpa sadar menilai orang atau kelompok lain menggunakan stereotipe dan seseorang tersebut juga tidak memiliki kontrol atas stereotipe tersebut karena stereotipe jenis ini terletak di alam bawah sadar. Istlah ini pada awalnya digunakan oleh dua orang [[psikolog]] yang bernama [[Mahzarin Banaji]] dan [[Anthony Greenwald]] pada tahun 1995.
Stereotipe implisit merupakan kebalikan dari stereotipe eksplisit. Stereotipe ini merupakan suatu bentuk stereotipe di mana seseorang secara tanpa sadar menilai orang atau kelompok lain menggunakan stereotipe dan seseorang tersebut juga tidak memiliki kontrol atas stereotipe tersebut karena stereotipe jenis ini terletak di alam bawah sadar.<ref>[https://implicit.harvard.edu/implicit/faqs.html#faq1 Frequently Asked Questions]. ''implicit.harvard.edu''.</ref> Istlah ini pada awalnya digunakan oleh dua orang [[psikolog]] yang bernama [[Mahzarin Banaji]] dan [[Anthony Greenwald]] pada tahun 1995.


==Jenis-jenis stereotipe==
==Jenis-jenis stereotipe==
Menurut Triandis dan Matsumoto, jenis-jenis stereotipe terbagi menjadi dua, yaitu heterostereotipe dan autostereotipe.
Menurut Triandis dan Matsumoto, jenis-jenis stereotipe terbagi menjadi dua, yaitu heterostereotipe dan autostereotipe.<ref>David Matsumoto. [https://books.google.co.id/books?id=sTJnDAAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false Handbook of Culture and Psychology]. Oxford Univerity. 2003. hlm. 69.</ref><ref>Harry C Triandis. [https://archive.org/details/culturesocialbeh0000tria/page/n8/mode/1up Cultural and Social Behavior]. Mc Graw Hill, Inc. 1994. hlm. 107.</ref>
===Heterostereotipe===
===Heterostereotipe===
Heterostereotipe merupakan sejenis stereotipe yang diarahkan kepada kelompok atau orang di luar diri si penilai. Stereotipe jenis ini merupakan yang paling banyak dan umum dalam masyarakat. Heterostereotipe sering terbentuk karena kesan pertama terhadap orang atau kelompok tersebut dan minimnya [[pengetahuan]] dan [[interaksi]] terhadap orang atau kelompok yang dinilai. Stereotipe ini apabila diarahkan kepada suatu kelompok cenderung mendorong seseorang untuk melakukan [[kesesatan logika]] dalam hal [[relevansi]] antara komposisi dan divisi. Penyebabnya adalah dalam kesesatan tersebut seseorang berpijak pada anggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa individu dari suatu kelompok tertentu pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif dan juga sebaliknya.
Heterostereotipe merupakan sejenis stereotipe yang diarahkan kepada kelompok atau orang di luar diri si penilai.<ref>Harry C Triandis. [https://archive.org/details/culturesocialbeh0000tria/page/n8/mode/1up Cultural and Social Behavior]. Mc Graw Hill, Inc. 1994. hlm. 107.</ref> Stereotipe jenis ini merupakan yang paling banyak dan umum dalam masyarakat. Heterostereotipe sering terbentuk karena kesan pertama terhadap orang atau kelompok tersebut dan minimnya [[pengetahuan]] dan [[interaksi]] terhadap orang atau kelompok yang dinilai. Stereotipe ini apabila diarahkan kepada suatu kelompok cenderung mendorong seseorang untuk melakukan [[kesesatan logika]] dalam hal [[relevansi]] antara komposisi dan divisi. Penyebabnya adalah dalam kesesatan tersebut seseorang berpijak pada anggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa individu dari suatu kelompok tertentu pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif dan juga sebaliknya.<ref>Ainur Rahman Hidayat. [https://books.google.co.id/books?id=ODf-DwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=Filsafat+Berpikir+Hidayat&hl=id&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=Filsafat%20Berpikir%20Hidayat&f=false Filsafat Berpikir: Teknik-teknik Berpikir Logis Kontra Kesesatan Berpikir]. Duta Media Publishing. 2018. hlm. 144.</ref>
===Autostereotipe===
===Autostereotipe===
Autostereotipe atau juga dikenal sebagai ''self-stereotype'' adalah salah satu tipe stereotipe yang diarahkan pada diri sendiri. Hal ini terjadi  apabila seorang individu  mengintegrasikan dirinya menggunakan sifat atau karakteristik umum suatu kelompok. Autostereotipe pada umumnya dilakukan secara sadar dan terpilah. Seseorang biasanya akan lebih memilih stereotipe positif dari suatu kelompok ke dalam dirinya daripada mengadopsi stereotipe negatif kelompok tersebut. Namun terkadang, stereotipe negatif juga diambil apabila orang tersebut melakukan sebuah kesalahan dan ingin menjelaskan bahwa kesalahan tersebut semata-mata adalah kesalahan kelompok.
Autostereotipe atau juga dikenal sebagai ''self-stereotype'' adalah salah satu tipe stereotipe yang diarahkan pada diri sendiri. Hal ini terjadi  apabila seorang individu  mengintegrasikan dirinya menggunakan sifat atau karakteristik umum suatu kelompok.<ref>Donelson Forsyth. [https://books.google.co.id/books?id=vg9EDwAAQBAJ&pg=PA73&dq=Group+dynamics+forsyth&hl=id&source=gbs_selected_pages&cad=3#v=onepage&q=Group%20dynamics%20forsyth&f=false Group dynamics]. Wadsworth. 2009. hlm. 77–78.</ref><ref>M. Latrofa. [https://archive.org/details/sim_personality-and-social-psychology-bulletin_2010-07_36_7/page/911 The cognitive representation of self-stereotyping]. ''Personality and Social Psychology Bulletin''. 2010. Vol. 36 (7). hlm. 911–922. doi:10.1177/0146167210373907.</ref> Autostereotipe pada umumnya dilakukan secara sadar dan terpilah. Seseorang biasanya akan lebih memilih stereotipe positif dari suatu kelompok ke dalam dirinya daripada mengadopsi stereotipe negatif kelompok tersebut. Namun terkadang, stereotipe negatif juga diambil apabila orang tersebut melakukan sebuah kesalahan dan ingin menjelaskan bahwa kesalahan tersebut semata-mata adalah kesalahan kelompok.<ref>Biernat, Monica; Vescio, Theresa K.; Green, Michelle L. (1996). "[https://drive.google.com/file/d/1HMKLAW0NqlK9AGdx_3YariKpHd3Erits/view?usp=drivesdk Selective Self-Stereotyping". ''Journal of Personality and Social Psychology'']. '''71''': 1194–1209.</ref>


== Konsep ambivalensi dalam stereotipe ==
== Konsep ambivalensi dalam stereotipe ==
Dalam pandangan tradisional, stereotipe terdiri atas seperangkat keyakinan negatif tentang kelompok tertentu dan keyakinan negatif tersebut menghasilkan efek negatif berupa prasangka dan diskriminasi. Namun, baru-baru ini para [[peneliti]] menyadari bahwa stereotipe memiliki keyakinan negatif dan positif secara bersamaan dan menemukan adanya efek negatif dari stereotipe positif. Mereka menyebutnya sebagai konsep [[ambivalensi]]. Konsep ini mendeskripsikan sikap positif dan negatif terhadap anggota atau kelompok tertentu yang secara simultan ada dalam diri individu dan sering menimbulkan [[konflik]] antara satu dengan yang lain. Contohnya, sikap seseorang terhadap [[perempuan]] atau anggota dari kelompok ras yang berbeda dapat menjadi suatu hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi mereka.
Dalam pandangan tradisional, stereotipe terdiri atas seperangkat keyakinan negatif tentang kelompok tertentu dan keyakinan negatif tersebut menghasilkan efek negatif berupa prasangka dan diskriminasi. Namun, baru-baru ini para [[peneliti]] menyadari bahwa stereotipe memiliki keyakinan negatif dan positif secara bersamaan dan menemukan adanya efek negatif dari stereotipe positif. Mereka menyebutnya sebagai konsep [[ambivalensi]]. Konsep ini mendeskripsikan sikap positif dan negatif terhadap anggota atau kelompok tertentu yang secara simultan ada dalam diri individu dan sering menimbulkan [[konflik]] antara satu dengan yang lain. Contohnya, sikap seseorang terhadap [[perempuan]] atau anggota dari kelompok ras yang berbeda dapat menjadi suatu hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi mereka.<ref>Aileen Lovitt. [https://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/3919 The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations]. ''UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones''. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.</ref>


Dalam beberapa kasus, stereotipe positif dapat memunculkan ekspektasi yang tidak realistis pada orang lain. Akibatnya, mereka yang tidak mampu memenuhi ekspektasi sosial akan merasa gagal, tertekan dan cemas. Stereotipe yang mengaitkan antara keahlian dalam suatu bidang dengan ras, gender atau kebangsaan tertentu dapat membuat prestasi seseorang dalam bidang tersebut tidak dihargai. Pada perempuan, stereotipe positif dapat mendiskreditkan keunikan mereka sebagai individu. Hal ini juga dapat memicu minimnya keterlibatan perempuan dalam [[perubahan sosial]].
Dalam beberapa kasus, stereotipe positif dapat memunculkan ekspektasi yang tidak realistis pada orang lain. Akibatnya, mereka yang tidak mampu memenuhi ekspektasi sosial akan merasa gagal, tertekan dan cemas. Stereotipe yang mengaitkan antara keahlian dalam suatu bidang dengan ras, gender atau kebangsaan tertentu dapat membuat prestasi seseorang dalam bidang tersebut tidak dihargai. Pada perempuan, stereotipe positif dapat mendiskreditkan keunikan mereka sebagai individu. Hal ini juga dapat memicu minimnya keterlibatan perempuan dalam [[perubahan sosial]].<ref>Tania Lombrozo. [https://www.npr.org/sections/13.7/2015/07/20/424640508/the-negative-in-positive-stereotypes The Negative In Positive Stereotypes]. ''NPR''. 2015-07-20.</ref><ref>Nadeen Talboot. [https://abcnews.go.com/US/addresses-negative-impact-positive-stereotyping/story?id=72033471 'What Would You Do?' addresses the negative impact of 'positive' stereotyping]. ''ABC News''. 2020-07-29.</ref>


Sebagian besar peneliti memfokuskan penelitian mengenai konsep ambivalensi ini pada dua hal, yaitu [[seksisme]] dan [[rasisme]] ambivalen. Penelitian mengenai rasisme ambivalen lebih terbatas dan sebagian besarnya adalah tentang persepsi [[orang kulit putih]] terhadap orang keturunan [[Afrika]] dan [[Asia]]. Misalnya, stereotipe tentang orang keturunan Afrika-Amerika yang ahli dalam olahraga atletik atau stereotipe tentang orang keturunan Asia-Amerika yang pintar matematika.
Sebagian besar peneliti memfokuskan penelitian mengenai konsep ambivalensi ini pada dua hal, yaitu [[seksisme]] dan [[rasisme]] ambivalen. Penelitian mengenai rasisme ambivalen lebih terbatas dan sebagian besarnya adalah tentang persepsi [[orang kulit putih]] terhadap orang keturunan [[Afrika]] dan [[Asia]]. Misalnya, stereotipe tentang orang keturunan Afrika-Amerika yang ahli dalam olahraga atletik atau stereotipe tentang orang keturunan Asia-Amerika yang pintar matematika.<ref>Aileen Lovitt. [https://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/3919 The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations]. ''UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones''. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.</ref><ref>Nadeen Talboot. [https://abcnews.go.com/US/addresses-negative-impact-positive-stereotyping/story?id=72033471 'What Would You Do?' addresses the negative impact of 'positive' stereotyping]. ''ABC News''. 2020-07-29.</ref>


[https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ambivalent_sexism Seksisme ambivalen] memiliki dua varian, yaitu ''hostile'' dan ''benevolent sexism.'' ''Hostile sexism'' adalah jenis seksisme yang paling umum terjadi dan biasa diasosiasikan dengan stereotipe negatif tentang perempuan, seperti perempuan itu lemah atau menganggap bahwa bersih-bersih adalah pekerjaan perempuan. ''Hostile sexisme'' juga dapat diartikan sebagai sikap antipati terhadap perempuan yang dipandang sebagai perampas kekuasaan laki-laki.
[https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ambivalent_sexism Seksisme ambivalen] memiliki dua varian, yaitu ''hostile'' dan ''benevolent sexism.'' ''Hostile sexism'' adalah jenis seksisme yang paling umum terjadi dan biasa diasosiasikan dengan stereotipe negatif tentang perempuan, seperti perempuan itu lemah atau menganggap bahwa bersih-bersih adalah pekerjaan perempuan.<ref>Aileen Lovitt. [https://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/3919 The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations]. ''UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones''. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.</ref> ''Hostile sexisme'' juga dapat diartikan sebagai sikap antipati terhadap perempuan yang dipandang sebagai perampas kekuasaan laki-laki.<ref>Peter Glick. [http://doi.apa.org/getdoi.cfm?doi=10.1037/0003-066X.56.2.109 An ambivalent alliance: Hostile and benevolent sexism as complementary justifications for gender inequality]. ''American Psychologist''. 2001. Vol. 56 (2). hlm. 109–118. doi:10.1037/0003-066X.56.2.109.</ref>


Sementara ''benevolent sexism'' adalah jenis seksisme atau disebut juga sebagai ideologi kesatria yang menawarkan perlindungan dan kasih sayang kepada perempuan yang menganut peran gender konvensional. Hal ini temasuk seksisme dalam bentuk yang lebih halus dan biasa dikaitkan dengan stereotipe positif tentang perempuan. Para peneliti membagi ''benevolent sexism'' menjadi tiga sub kategori, yaitu paternalisme protektif, diferensiasi [[gender]] pelengkap dan keintiman [[Heteroseksualitas|heteroseksual]].
Sementara ''benevolent sexism'' adalah jenis seksisme atau disebut juga sebagai ideologi kesatria yang menawarkan perlindungan dan kasih sayang kepada perempuan yang menganut peran gender konvensional. Hal ini temasuk seksisme dalam bentuk yang lebih halus dan biasa dikaitkan dengan stereotipe positif tentang perempuan. Para peneliti membagi ''benevolent sexism'' menjadi tiga sub kategori, yaitu paternalisme protektif, diferensiasi [[gender]] pelengkap dan keintiman [[Heteroseksualitas|heteroseksual]].<ref>Aileen Lovitt. [https://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/3919 The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations]. ''UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones''. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.</ref><ref>Peter Glick. [http://doi.apa.org/getdoi.cfm?doi=10.1037/0003-066X.56.2.109 An ambivalent alliance: Hostile and benevolent sexism as complementary justifications for gender inequality]. ''American Psychologist''. 2001. Vol. 56 (2). hlm. 109–118. doi:10.1037/0003-066X.56.2.109.</ref>


=== Paternalisme protektif ===
=== Paternalisme protektif ===
Paternalisme protektif adalah salah satu bentuk ''benevolent sexism'' yang mengharuskan laki-laki untuk melindungi perempuan dan membuat keputusan atas nama mereka. Meskipun pandangan ini tampak positif, sebenarnya ide ini dijadikan pembenaran bahwa laki-laki itu kuat dan perempuan itu lemah.
Paternalisme protektif adalah salah satu bentuk ''benevolent sexism'' yang mengharuskan laki-laki untuk melindungi perempuan dan membuat keputusan atas nama mereka. Meskipun pandangan ini tampak positif, sebenarnya ide ini dijadikan pembenaran bahwa laki-laki itu kuat dan perempuan itu lemah.<ref>Aileen Lovitt. [https://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/3919 The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations]. ''UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones''. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.</ref><ref>Blackburn Center. [https://www.blackburncenter.org/post/2017/06/14/how-protective-paternalism-hurts-women How Protective Paternalism Hurts Women]. ''blackburncenter''. 2017-06-14.</ref>


Akibatnya perempuan tidak dianggap sebagai individu yang punya [[otonomi]] dan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Hal ini membuat pergerakan perempuan sering dibatasi bahkan dilarang untuk melakukan aktivitas-aktivitas dasar, seperti menyetir, bekerja atau (dalam kasus yang ekstrem) bepergian seorang diri.
Akibatnya perempuan tidak dianggap sebagai individu yang punya [[otonomi]] dan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Hal ini membuat pergerakan perempuan sering dibatasi bahkan dilarang untuk melakukan aktivitas-aktivitas dasar, seperti menyetir, bekerja atau (dalam kasus yang ekstrem) bepergian seorang diri.<ref>Blackburn Center. [https://www.blackburncenter.org/post/2017/06/14/how-protective-paternalism-hurts-women How Protective Paternalism Hurts Women]. ''blackburncenter''. 2017-06-14.</ref>


=== Diferensiasi gender pelengkap ===
=== Diferensiasi gender pelengkap ===
Diferensiasi gender pelengkap menggunakan perbedaan aspek biologis antara laki-laki dan perempuan untuk membenarkan [[peran gender tradisional]]. Secara umum, laki-laki distereotipkan sebagai individu yang kompeten, asertif, mandiri dan berorientasi pada pencapaian. Sementara perempuan biasa distereotipkan sebagai individu yang hangat, ramah, saling ketergantungan dan berorientasi pada hubungan. Stereotipe [[maskulinitas]] dan [[Femininasi|feminitas]] inilah yang kemudian menekankan pada peran tradisional perempuan sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Sub kategori ini juga membagi perempuan menjadi tipe "baik" dan "buruk" (menurut para penganut seksisme), di mana perempuan yang memenuhi peran gender tradisional akan lebih dihargai dan diperlakukan dengan baik. Sementara perempuan yang menolak peran gender tradisional atau mencoba untuk merebut kekuasaan laki-laki akan mendapat penolakan dan hukuman berupa ''hostile sexism''.
Diferensiasi gender pelengkap menggunakan perbedaan aspek biologis antara laki-laki dan perempuan untuk membenarkan [[peran gender tradisional]]. Secara umum, laki-laki distereotipkan sebagai individu yang kompeten, asertif, mandiri dan berorientasi pada pencapaian. Sementara perempuan biasa distereotipkan sebagai individu yang hangat, ramah, saling ketergantungan dan berorientasi pada hubungan. Stereotipe [[maskulinitas]] dan [[Femininasi|feminitas]] inilah yang kemudian menekankan pada peran tradisional perempuan sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Sub kategori ini juga membagi perempuan menjadi tipe "baik" dan "buruk" (menurut para penganut seksisme), di mana perempuan yang memenuhi peran gender tradisional akan lebih dihargai dan diperlakukan dengan baik. Sementara perempuan yang menolak peran gender tradisional atau mencoba untuk merebut kekuasaan laki-laki akan mendapat penolakan dan hukuman berupa ''hostile sexism''.<ref>Aileen Lovitt. [https://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/3919 The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations]. ''UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones''. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.</ref><ref>Peter Glick. [http://doi.apa.org/getdoi.cfm?doi=10.1037/0003-066X.56.2.109 An ambivalent alliance: Hostile and benevolent sexism as complementary justifications for gender inequality]. ''American Psychologist''. 2001. Vol. 56 (2). hlm. 109–118. doi:10.1037/0003-066X.56.2.109.</ref>


=== Keintiman heteroseksual ===
=== Keintiman heteroseksual ===
Keintiman heteroseksial adalah pandangan yang menekankan bahwa laki-laki tidak lengkap tanpa perempuan. Pandangan tersebut kerap dianggap positif karena seperti ajakan untuk mengapresiasi perempuan. Namun pandangan tersebut dapat menjadi mekanisme terselubung untuk melanggengkan [[ketidaksetaraan gender]]. Perempuan lebih didorong untuk memprioritaskan [[pernikahan]], membahagiakan pasangan atau menjaga hubungan ([[keluarga]], [[anak-anak]] dan sebagainya) dibandingkan mengejar [[pendidikan]] dan [[karier]].
Keintiman heteroseksial adalah pandangan yang menekankan bahwa laki-laki tidak lengkap tanpa perempuan. Pandangan tersebut kerap dianggap positif karena seperti ajakan untuk mengapresiasi perempuan. Namun pandangan tersebut dapat menjadi mekanisme terselubung untuk melanggengkan [[ketidaksetaraan gender]]. Perempuan lebih didorong untuk memprioritaskan [[pernikahan]], membahagiakan pasangan atau menjaga hubungan ([[keluarga]], [[anak-anak]] dan sebagainya) dibandingkan mengejar [[pendidikan]] dan [[karier]].<ref>Aileen Lovitt. [https://digitalscholarship.unlv.edu/thesesdissertations/3919 The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations]. ''UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones''. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.</ref><ref>Laora Mastari. [https://www.frontiersin.org/article/10.3389/fsoc.2019.00047 Benevolent and Hostile Sexism in Social Spheres: The Impact of Parents, School and Romance on Belgian Adolescents' Sexist Attitudes]. ''Frontiers in Sociology''. 2019. Vol. 4. hlm. 47. doi:10.3389/fsoc.2019.00047.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 70: Baris 72:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stereotipe&oldid=29440765 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29440765 (2026-07-10T16:16:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stereotipe&oldid=29440765 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29440765 (2026-07-10T16:16:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 14.05

Mixed stereotype content model (Fiske et al.)

Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan.[1] Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.[2]

Dalam psikologi sosial, stereotipe adalah setiap pemikiran yang diadopsi secara luas tentang tipe individu tertentu atau cara berperilaku tertentu yang dimaksudkan untuk mewakili seluruh kelompok individu atau perilaku tersebut secara keseluruhan.[3] Pikiran atau keyakinan ini mungkin secara akurat mencerminkan kenyataan atau bahkan tidak.[4][5] Di dalam psikologi dan lintas disiplin ilmu lainnya, terdapat berbagai konseptualisasi dan teori stereotipe yang terkadang memiliki kesamaan, serta mengandung unsur-unsur yang kontradiktif. Bahkan dalam ilmu-ilmu sosial dan beberapa subdisiplin psikologi, stereotip kadang-kadang direproduksi dan dapat diidentifikasi dalam teori-teori tertentu, misalnya, dalam asumsi tentang budaya lain.[6]

Stereotipe sesungguhnya dapat berupa stereotipe positif dan negatif. Stereotipe negatif sering diasosiasikan dengan sikap atau perilaku negatif, seperti prasangka dan diskriminasi. Sementara stereotipe positif sering dianggap sebagai stereotipe yang tidak berbahaya dan memusuhi seseorang atau kelompok lain.[7]

Etimologi

Asal kata stereotipe dalam bahasa Indonesia dipinjam dari sebuah kata benda dalam bahasa Inggris, yaitu stereotype. Sebenarnya, kata ini dalam bahasa Inggris juga pinjaman dari sebuah kata sifat dalam bahasa Prancis, yaitu stéréotype yang merupakan kata turunan dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu στερεός (stereos), yang berarti "kokoh, padat"[8] dan τύπος (typos), yang artinya kesan, sehingga secara harfiah stereotip berarti "kesan yang kuat terhadap satu objek atau lebih".

Stereotipe dengan makna yang umum pada masa kini pertama kali diperkenalkan oleh seorang jurnalis Amerika yang bernama Walter Lippmann dalam karyanya yang berjudul "Public Opinion".[9] Sebenarnya penggunaan kata stereotipe pertama kali digunakan pada tahun 1798 oleh Firmin Didot dengan makna yang sama sekali berbeda. Kata Stereotipe yang digunakan oleh Firmin merujuk pada konteks industri percetakan. Dalam hal ini, stereotipe yang dimaksud adalah sebuah pelat cetak yang dapat digunakan untuk menggandakan suatu cetakan menjadi banyak.[10][11] Selain itu, kata stereotipe juga digunakan untuk menamai sebuah gambar yang diciptakan untuk tidak berubah atau tetap.[12]

Gambaran Umum

Stereotipe timbul karena adanya kecenderungan untuk menggeneralisasi secara berlebihan tanpa diferensiasi sehingga menimbulkan bias dan sikap negatif yang dialamatkan kepada suatu kelompok sosial (ras,suku atau agama) dan anggotanya.[13][14] Semua stereotipe adalah generalisasi, tetapi tidak semua generalisasi termasuk stereotipe. Stereotipe tersebar lebih luas karena penyederhanaan berlebihan terhadap sekelompok orang, sedangkan generalisasi lebih didasarkan pada pengalaman pribadi.[15]

Sebagai contoh, di Amerika Serikat (AS), kelompok ras tertentu sering dihubungkan dengan stereotipe, seperti pintar matematika, atletik dan menari. Stereotipe ini begitu terkenal di AS sehingga rata-rata masyarakat Amerika tidak akan ragu bila diminta untuk mengidentifikasi kelompok ras mana, misalnya, yang memiliki reputasi baik dalam olahraga basket. Singkatnya, ketika seseorang menciptakan stereotipe, ia hanya mengulangi mitologi budaya yang sudah ada dalam masyarakat.[16]

Di sisi lain, seseorang bisa menciptakan generalisasi tentang suatu kelompok etnis yang belum dilanggengkan oleh masyarakat. Misalnya, seseorang yang bertemu dengan beberapa orang dari negara tertentu dan ia menemukan bahwa orang tersebut pendiam, akan berkata bahwa semua orang dari negara tersebut memang pendiam. Generalisasi semacam ini tidak mencerminkan keragaman dalam kelompok (masyarakat negara tertentu). Namun generalisasi dapat berkembang menjadi stigmatisasi dan diskriminasi kelompok jika stereotipe yang dilekatkan pada mereka sebagian besar negatif.[17]

Stereotipe juga berbeda dengan prasangka dan diskriminasi. Kata prasangka pertama kali diperkenalkan oleh Gordon Allport, berasal dari kata praejuducium yang artinya adalah pernyataan atau kesimpulan berdasarkan perasaan atau pengalaman yang dangkal terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Prasangka mengandung tiga aspek, yaitu keyakinan kognitif yang bersifat merendahkan, pengekspresian perasaan negatif (aspek afektif) dan tindakan permusuhan serta diskriminatif (aspek konatif).[18]

Sementara diskriminasi adalah perilaku negatif terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Pada umumnya, perlakuan diskriminatif timbul akibat pengaruh dari prasangka.[19]

Asal-usul stereotipe

Meskipun stereotipe awalnya tidak dibentuk oleh media, tetapi media modern memiliki pengaruh besar dalam membangkitkan dan memelihara stereotipe di masyarakat. Citra stereotipikal yang ditampilkan di media merupakan kejadian sehari-hari. Representasi stereotipikal ini dapat memunculkan prasangka terhadap kelompok lain serta mendorong orang-orang untuk memiliki perasaan dan emosi negatif terhadap anggota dari kelompok tersebut.[20]

Selain media, stereotipe dapat terbentuk melalui pengaruh dari orang-orang terdekat, seperti orang tua, guru dan teman sebaya. Orang tua dan anggota keluarga lainnya menjadi sumber utama yang menanamkan informasi, mengajarkan dan memperkuat keyakinan stereotipe pada anak-anak, yang kelak akan terbawa hingga mereka dewasa.[21]

Berdasarkan teori pembelajaran sosial, seseorang belajar tentang perilaku sosial melalui pengalaman langsung (seperti diberikan hukuman atau hadiah atas perbuatannya) atau melalui observasi (seperti mengamati konsekuensi dari perbuatan orang lain). Dengan mengacu pada teori ini, dapat dikatakan bahwa seseorang belajar memberi stereotipe pada orang lain karena memiliki pengalaman langsung dengan kelompok tertentu atau mendapat pengaruh dari orang lain. Ketika perbuatan seperti ini tidak ditegur, seseorang akan terus terlibat dalam proses menstereotipkan orang lain.[22]

Bentuk stereotipe

Stereotipe Eksplisit

Stereotipe eksplisit merupakan sebuah stereotipe yang digunakan secara sadar oleh seseorang untuk menilai orang atau kelompok lain atas dasar stereotipenya tersebut.[23][24] Sebagai contoh, jika ada seseorang yang berdebat dengan orang Batak lalu dia menganggap secara sadar bahwa orang Batak tersebut yang akan menang karena orang Batak kebanyakan berkecimpung menjadi pengacara, maka itu adalah sebuah penilaian sadar seseorang berdasarkan stereotipe yang bisa disebut sebagai stereotipe eksplisit. Terkadang, mereka yang sadar menggunakan stereotipe untuk menilai seseorang atau kelompok tertentu juga secara sadar ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan ketergantungan mereka terhadap stereotipe dalam penilaiannya. Namun stereotipe eksplisit itu sendiri sebenarnya hanyalah kesadaran dari stereotipe implisit sehingga dapat membuat seseorang secara tanpa sadar melakukan bias kognitif dan terus menjadi kebiasaan.[25]

Stereotipe Implisit

Stereotipe implisit merupakan kebalikan dari stereotipe eksplisit. Stereotipe ini merupakan suatu bentuk stereotipe di mana seseorang secara tanpa sadar menilai orang atau kelompok lain menggunakan stereotipe dan seseorang tersebut juga tidak memiliki kontrol atas stereotipe tersebut karena stereotipe jenis ini terletak di alam bawah sadar.[26] Istlah ini pada awalnya digunakan oleh dua orang psikolog yang bernama Mahzarin Banaji dan Anthony Greenwald pada tahun 1995.

Jenis-jenis stereotipe

Menurut Triandis dan Matsumoto, jenis-jenis stereotipe terbagi menjadi dua, yaitu heterostereotipe dan autostereotipe.[27][28]

Heterostereotipe

Heterostereotipe merupakan sejenis stereotipe yang diarahkan kepada kelompok atau orang di luar diri si penilai.[29] Stereotipe jenis ini merupakan yang paling banyak dan umum dalam masyarakat. Heterostereotipe sering terbentuk karena kesan pertama terhadap orang atau kelompok tersebut dan minimnya pengetahuan dan interaksi terhadap orang atau kelompok yang dinilai. Stereotipe ini apabila diarahkan kepada suatu kelompok cenderung mendorong seseorang untuk melakukan kesesatan logika dalam hal relevansi antara komposisi dan divisi. Penyebabnya adalah dalam kesesatan tersebut seseorang berpijak pada anggapan bahwa apa yang benar (berlaku) bagi individu atau beberapa individu dari suatu kelompok tertentu pasti juga benar (berlaku) bagi seluruh kelompok secara kolektif dan juga sebaliknya.[30]

Autostereotipe

Autostereotipe atau juga dikenal sebagai self-stereotype adalah salah satu tipe stereotipe yang diarahkan pada diri sendiri. Hal ini terjadi apabila seorang individu mengintegrasikan dirinya menggunakan sifat atau karakteristik umum suatu kelompok.[31][32] Autostereotipe pada umumnya dilakukan secara sadar dan terpilah. Seseorang biasanya akan lebih memilih stereotipe positif dari suatu kelompok ke dalam dirinya daripada mengadopsi stereotipe negatif kelompok tersebut. Namun terkadang, stereotipe negatif juga diambil apabila orang tersebut melakukan sebuah kesalahan dan ingin menjelaskan bahwa kesalahan tersebut semata-mata adalah kesalahan kelompok.[33]

Konsep ambivalensi dalam stereotipe

Dalam pandangan tradisional, stereotipe terdiri atas seperangkat keyakinan negatif tentang kelompok tertentu dan keyakinan negatif tersebut menghasilkan efek negatif berupa prasangka dan diskriminasi. Namun, baru-baru ini para peneliti menyadari bahwa stereotipe memiliki keyakinan negatif dan positif secara bersamaan dan menemukan adanya efek negatif dari stereotipe positif. Mereka menyebutnya sebagai konsep ambivalensi. Konsep ini mendeskripsikan sikap positif dan negatif terhadap anggota atau kelompok tertentu yang secara simultan ada dalam diri individu dan sering menimbulkan konflik antara satu dengan yang lain. Contohnya, sikap seseorang terhadap perempuan atau anggota dari kelompok ras yang berbeda dapat menjadi suatu hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi mereka.[34]

Dalam beberapa kasus, stereotipe positif dapat memunculkan ekspektasi yang tidak realistis pada orang lain. Akibatnya, mereka yang tidak mampu memenuhi ekspektasi sosial akan merasa gagal, tertekan dan cemas. Stereotipe yang mengaitkan antara keahlian dalam suatu bidang dengan ras, gender atau kebangsaan tertentu dapat membuat prestasi seseorang dalam bidang tersebut tidak dihargai. Pada perempuan, stereotipe positif dapat mendiskreditkan keunikan mereka sebagai individu. Hal ini juga dapat memicu minimnya keterlibatan perempuan dalam perubahan sosial.[35][36]

Sebagian besar peneliti memfokuskan penelitian mengenai konsep ambivalensi ini pada dua hal, yaitu seksisme dan rasisme ambivalen. Penelitian mengenai rasisme ambivalen lebih terbatas dan sebagian besarnya adalah tentang persepsi orang kulit putih terhadap orang keturunan Afrika dan Asia. Misalnya, stereotipe tentang orang keturunan Afrika-Amerika yang ahli dalam olahraga atletik atau stereotipe tentang orang keturunan Asia-Amerika yang pintar matematika.[37][38]

Seksisme ambivalen memiliki dua varian, yaitu hostile dan benevolent sexism. Hostile sexism adalah jenis seksisme yang paling umum terjadi dan biasa diasosiasikan dengan stereotipe negatif tentang perempuan, seperti perempuan itu lemah atau menganggap bahwa bersih-bersih adalah pekerjaan perempuan.[39] Hostile sexisme juga dapat diartikan sebagai sikap antipati terhadap perempuan yang dipandang sebagai perampas kekuasaan laki-laki.[40]

Sementara benevolent sexism adalah jenis seksisme atau disebut juga sebagai ideologi kesatria yang menawarkan perlindungan dan kasih sayang kepada perempuan yang menganut peran gender konvensional. Hal ini temasuk seksisme dalam bentuk yang lebih halus dan biasa dikaitkan dengan stereotipe positif tentang perempuan. Para peneliti membagi benevolent sexism menjadi tiga sub kategori, yaitu paternalisme protektif, diferensiasi gender pelengkap dan keintiman heteroseksual.[41][42]

Paternalisme protektif

Paternalisme protektif adalah salah satu bentuk benevolent sexism yang mengharuskan laki-laki untuk melindungi perempuan dan membuat keputusan atas nama mereka. Meskipun pandangan ini tampak positif, sebenarnya ide ini dijadikan pembenaran bahwa laki-laki itu kuat dan perempuan itu lemah.[43][44]

Akibatnya perempuan tidak dianggap sebagai individu yang punya otonomi dan kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Hal ini membuat pergerakan perempuan sering dibatasi bahkan dilarang untuk melakukan aktivitas-aktivitas dasar, seperti menyetir, bekerja atau (dalam kasus yang ekstrem) bepergian seorang diri.[45]

Diferensiasi gender pelengkap

Diferensiasi gender pelengkap menggunakan perbedaan aspek biologis antara laki-laki dan perempuan untuk membenarkan peran gender tradisional. Secara umum, laki-laki distereotipkan sebagai individu yang kompeten, asertif, mandiri dan berorientasi pada pencapaian. Sementara perempuan biasa distereotipkan sebagai individu yang hangat, ramah, saling ketergantungan dan berorientasi pada hubungan. Stereotipe maskulinitas dan feminitas inilah yang kemudian menekankan pada peran tradisional perempuan sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Sub kategori ini juga membagi perempuan menjadi tipe "baik" dan "buruk" (menurut para penganut seksisme), di mana perempuan yang memenuhi peran gender tradisional akan lebih dihargai dan diperlakukan dengan baik. Sementara perempuan yang menolak peran gender tradisional atau mencoba untuk merebut kekuasaan laki-laki akan mendapat penolakan dan hukuman berupa hostile sexism.[46][47]

Keintiman heteroseksual

Keintiman heteroseksial adalah pandangan yang menekankan bahwa laki-laki tidak lengkap tanpa perempuan. Pandangan tersebut kerap dianggap positif karena seperti ajakan untuk mengapresiasi perempuan. Namun pandangan tersebut dapat menjadi mekanisme terselubung untuk melanggengkan ketidaksetaraan gender. Perempuan lebih didorong untuk memprioritaskan pernikahan, membahagiakan pasangan atau menjaga hubungan (keluarga, anak-anak dan sebagainya) dibandingkan mengejar pendidikan dan karier.[48][49]

Lihat pula

Referensi

  1. Robbins, Stephen P., Timothy A. Judge. Organizational Behavior. Prentice Hall. 2010.
  2. Robbins, Stephen P., Timothy A. Judge. Organizational Behavior. Prentice Hall. 2010.
  3. Craig McGarty. Stereotypes as explanations: The formation of meaningful beliefs about social groups. Cambridge University Press. 2002. hlm. 1–15. ISBN 978-0-521-80047-1.
  4. Charles M. Judd. Definition and assessment of accuracy in social stereotypes. Psychological Review. 1993. Vol. 100 (1). hlm. 109–128. doi:10.1037/0033-295X.100.1.109.
  5. William T. L. Cox. Stereotypes, Prejudice, and Depression: The Integrated Perspective. Perspectives on Psychological Science. 2012. Vol. 7 (5). hlm. 427–449. doi:10.1177/1745691612455204.
  6. Pradeep Chakkarath. Stereotypes in social psychology: The 'West-East' differentiation as a reflection of Western traditions of thought. Psychological Studies. 2010. Vol. 55 (1). hlm. 18–25. doi:10.1007/s12646-010-0002-9.
  7. Aileen Lovitt. The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.
  8. στερεός, dan τύπος Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek-English Lexicon, di Perseus Digital Library
  9. Milton Kleg. Hate Prejudice and Racism. State University of New York Press. 1993. hlm. 135–137. ISBN 978-0-585-05491-9.
  10. The Physical History of 'Stereotype'. www.merriam-webster.com.
  11. stereotype printing Britannica. www.britannica.com.
  12. stereotype – Origin and meaning of stereotype by Online Etymology Dictionary. etymonline.com.
  13. Murdianto. Stereotipe, Prasangka dan Resistensinya (Studi Kasus pada Etnis Madura dan Tionghoa di Indonesia). Qalamuna. Desember 2018. Vol. 10 (2). hlm. 139.
  14. Rifan Aditya. Apa Itu Prasangka? Ini Bedanya dengan Stereotip, Faktor dan Ciri-cirinya. Suara.com. 2021-04-08.
  15. Nadra Kareem Nittle. What Is a Stereotype?. ThoughtCo.
  16. Nadra Kareem Nittle. What Is a Stereotype?. ThoughtCo.
  17. Nadra Kareem Nittle. What Is a Stereotype?. ThoughtCo.
  18. Rifan Aditya. Apa Itu Prasangka? Ini Bedanya dengan Stereotip, Faktor dan Ciri-cirinya. Suara.com. 2021-04-08.
  19. Rifan Aditya. Apa Itu Prasangka? Ini Bedanya dengan Stereotip, Faktor dan Ciri-cirinya. Suara.com. 2021-04-08.
  20. Lizelle Brink. Exploring the meaning and origin of stereotypes amongst South African employees. SA Journal of Industrial Psychology. 2015-02-05. Vol. 41 (1). hlm. 13 pages. doi:10.4102/sajip.v41i1.1234.
  21. Lizelle Brink. Exploring the meaning and origin of stereotypes amongst South African employees. SA Journal of Industrial Psychology. 2015-02-05. Vol. 41 (1). hlm. 13 pages. doi:10.4102/sajip.v41i1.1234.
  22. Lizelle Brink. Exploring the meaning and origin of stereotypes amongst South African employees. SA Journal of Industrial Psychology. 2015-02-05. Vol. 41 (1). hlm. 13 pages. doi:10.4102/sajip.v41i1.1234.
  23. Frequently Asked Questions. implicit.harvard.edu.
  24. Sam, Rupert Gaertner, Brown. Blackwell Handbook of Social Psychology: Intergroup Processes. 2008-04-15. hlm. 186. ISBN 9780470692707.
  25. Charlotte Ruhl. What Is Cognitive Bias?. Simply Psychology. 4 Mei 2021.
  26. Frequently Asked Questions. implicit.harvard.edu.
  27. David Matsumoto. Handbook of Culture and Psychology. Oxford Univerity. 2003. hlm. 69.
  28. Harry C Triandis. Cultural and Social Behavior. Mc Graw Hill, Inc. 1994. hlm. 107.
  29. Harry C Triandis. Cultural and Social Behavior. Mc Graw Hill, Inc. 1994. hlm. 107.
  30. Ainur Rahman Hidayat. Filsafat Berpikir: Teknik-teknik Berpikir Logis Kontra Kesesatan Berpikir. Duta Media Publishing. 2018. hlm. 144.
  31. Donelson Forsyth. Group dynamics. Wadsworth. 2009. hlm. 77–78.
  32. M. Latrofa. The cognitive representation of self-stereotyping. Personality and Social Psychology Bulletin. 2010. Vol. 36 (7). hlm. 911–922. doi:10.1177/0146167210373907.
  33. Biernat, Monica; Vescio, Theresa K.; Green, Michelle L. (1996). "Selective Self-Stereotyping". Journal of Personality and Social Psychology. 71: 1194–1209.
  34. Aileen Lovitt. The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.
  35. Tania Lombrozo. The Negative In Positive Stereotypes. NPR. 2015-07-20.
  36. Nadeen Talboot. 'What Would You Do?' addresses the negative impact of 'positive' stereotyping. ABC News. 2020-07-29.
  37. Aileen Lovitt. The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.
  38. Nadeen Talboot. 'What Would You Do?' addresses the negative impact of 'positive' stereotyping. ABC News. 2020-07-29.
  39. Aileen Lovitt. The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.
  40. Peter Glick. An ambivalent alliance: Hostile and benevolent sexism as complementary justifications for gender inequality. American Psychologist. 2001. Vol. 56 (2). hlm. 109–118. doi:10.1037/0003-066X.56.2.109.
  41. Aileen Lovitt. The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.
  42. Peter Glick. An ambivalent alliance: Hostile and benevolent sexism as complementary justifications for gender inequality. American Psychologist. 2001. Vol. 56 (2). hlm. 109–118. doi:10.1037/0003-066X.56.2.109.
  43. Aileen Lovitt. The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.
  44. Blackburn Center. How Protective Paternalism Hurts Women. blackburncenter. 2017-06-14.
  45. Blackburn Center. How Protective Paternalism Hurts Women. blackburncenter. 2017-06-14.
  46. Aileen Lovitt. The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.
  47. Peter Glick. An ambivalent alliance: Hostile and benevolent sexism as complementary justifications for gender inequality. American Psychologist. 2001. Vol. 56 (2). hlm. 109–118. doi:10.1037/0003-066X.56.2.109.
  48. Aileen Lovitt. The Relation between Positive Stereotypes, Negative Stereotypes, and Discriminatory Behavior toward Hispanic and White Populations. UNLV Theses, Dissertations, Professional Papers, and Capstones. 1 Mei 2020. doi:10.34917/19412117.
  49. Laora Mastari. Benevolent and Hostile Sexism in Social Spheres: The Impact of Parents, School and Romance on Belgian Adolescents' Sexist Attitudes. Frontiers in Sociology. 2019. Vol. 4. hlm. 47. doi:10.3389/fsoc.2019.00047.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29440765 (2026-07-10T16:16:12Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.