Ketuban pecah dini: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29419488; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Ketuban pecah dini''' (KPD) merupakan kondisi pecahnya selaput ketuban pada ibu hamil, yang terjadi sebelum memasuki proses persalinan. Terdapat tiga kondisi ketuban pecah dini berdasarkan usia kehamilan. KPD aterm atau ''[[:en:Prelabor rupture of membranes|premature rupture of membranes]]'' (PROM), terjadi ketika selaput ketuban pecah pada usia kehamilan cukup bulan antara 37 hingga 40 minggu, tetapi ibu hamil belum memasuki masa persalinan. Sedangkan KPD preterm atau ''preterm premature rupture of membranes'' (PPROM), terjadi pada usia kehamilan di bawah 37 minggu. Selain itu, terdapat kondisi KPD sangat preterm, jika KPD terjadi pada usia kehamilan antara 24 hingga 34 minggu. | '''Ketuban pecah dini''' (KPD) merupakan kondisi pecahnya selaput ketuban pada ibu hamil, yang terjadi sebelum memasuki proses persalinan. Terdapat tiga kondisi ketuban pecah dini berdasarkan usia kehamilan. KPD aterm atau ''[[:en:Prelabor rupture of membranes|premature rupture of membranes]]'' (PROM), terjadi ketika selaput ketuban pecah pada usia kehamilan cukup bulan antara 37 hingga 40 minggu, tetapi ibu hamil belum memasuki masa persalinan. Sedangkan KPD preterm atau ''preterm premature rupture of membranes'' (PPROM), terjadi pada usia kehamilan di bawah 37 minggu.<ref>Ketut Surya Negara. [http://library.stikesbup.ac.id/index.php?p=fstream-pdf&fid=353&bid=2746 Buku Ajar : Ketuban Pecah Dini]. 19 Juli 2017.</ref> Selain itu, terdapat kondisi KPD sangat preterm, jika KPD terjadi pada usia kehamilan antara 24 hingga 34 minggu.<ref>Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. ''Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran : Ketuban Pecah Dini''. Himpunan Kedokteran Feto Maternal. 2016.</ref> | ||
Kondisi ketuban yang pecah sebelum proses persalinan dan tidak diikuti dengan adanya tanda-tanda persalinan, berpotensi meningkatkan risiko terjadinya [[infeksi]] bagi ibu dan janin. Pecahnya selaput ketuban berdampak pada berkurangnya zat yang berfungsi melindungi janin, dan mempersempit ruang gerak janin. Risiko akan semakin meningkat dengan bertambahnya durasi pecah ketuban. Selain itu, kondisi KPD akan meningkatkan risiko kompresi [[tali pusat]] atau penyumbatan aliran darah. KPD juga meningkatkan risiko [[kelahiran prematur]] dan kematian pada [[janin]]. | Kondisi ketuban yang pecah sebelum proses persalinan dan tidak diikuti dengan adanya tanda-tanda persalinan, berpotensi meningkatkan risiko terjadinya [[infeksi]] bagi ibu dan janin.<ref>Mohd Andalas. [https://jurnal.usk.ac.id/JKS/article/view/18119/14038 Ketuban Pecah Dini dan Tatalaksananya]. ''Jurnal Kedokteran Syiah Kuala''. Desember 2019. Vol. 19 (8). hlm. 188-192. doi:10.24815/jks.v19i3.18119.</ref> Pecahnya selaput ketuban berdampak pada berkurangnya zat yang berfungsi melindungi janin, dan mempersempit ruang gerak janin.<ref>Putri Alisa. [https://rumah-jurnal.com/index.php/stjhs/article/download/85/77/361 Ketuban Pecah Dini]. ''Stetoskop: The Journal Health of Science''. Januari-Juni 2023. Vol. 1 (1).</ref> Risiko akan semakin meningkat dengan bertambahnya durasi pecah ketuban. Selain itu, kondisi KPD akan meningkatkan risiko kompresi [[tali pusat]] atau penyumbatan aliran darah. KPD juga meningkatkan risiko [[kelahiran prematur]] dan kematian pada [[janin]]. | ||
== Penyebab == | == Penyebab == | ||
| Baris 7: | Baris 7: | ||
=== Infeksi === | === Infeksi === | ||
Adanya infeksi yang menyerang selaput ketuban, cairan ketuban, maupun infeksi yang terjadi pada [[vagina]]. Infeksi bisa berasal dari adanya bakteri anaerob pada area vagina, yang disebabkan kurangnya keterampilan ibu hamil dalam menjaga kebersihan. [[Bakteri]] pada vagina dapat memengaruhi [[Mikroorganisme|mikroba]] flora normal, dan dapat menyebar hingga menyerang selaput ketuban. | Adanya infeksi yang menyerang selaput ketuban, cairan ketuban, maupun infeksi yang terjadi pada [[vagina]]. Infeksi bisa berasal dari adanya bakteri anaerob pada area vagina, yang disebabkan kurangnya keterampilan ibu hamil dalam menjaga kebersihan. [[Bakteri]] pada vagina dapat memengaruhi [[Mikroorganisme|mikroba]] flora normal, dan dapat menyebar hingga menyerang selaput ketuban.<ref>Endang Susilowati. ''Scoping Review: Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini pada Persalinan''. ''Bidan Prada: Jurnal Publikasi Kebidanan''. Desember 2021. Vol. 12 (2). hlm. 35-48.</ref> | ||
=== Faktor fisiologis === | === Faktor fisiologis === | ||
Kondisi lemahnya kekuatan selaput ketuban akibat kontraksi maupun pembesaran janin. | Kondisi lemahnya kekuatan selaput ketuban akibat kontraksi maupun pembesaran janin.<ref>Endang Susilowati. ''Scoping Review: Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini pada Persalinan''. ''Bidan Prada: Jurnal Publikasi Kebidanan''. Desember 2021. Vol. 12 (2). hlm. 35-48.</ref> | ||
=== Riwayat KPD === | === Riwayat KPD === | ||
| Baris 25: | Baris 25: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ketuban+pecah+dini&oldid=29419488 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29419488 (2026-07-04T14:54:03Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ketuban+pecah+dini&oldid=29419488 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29419488 (2026-07-04T14:54:03Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 23.09
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan kondisi pecahnya selaput ketuban pada ibu hamil, yang terjadi sebelum memasuki proses persalinan. Terdapat tiga kondisi ketuban pecah dini berdasarkan usia kehamilan. KPD aterm atau premature rupture of membranes (PROM), terjadi ketika selaput ketuban pecah pada usia kehamilan cukup bulan antara 37 hingga 40 minggu, tetapi ibu hamil belum memasuki masa persalinan. Sedangkan KPD preterm atau preterm premature rupture of membranes (PPROM), terjadi pada usia kehamilan di bawah 37 minggu.[1] Selain itu, terdapat kondisi KPD sangat preterm, jika KPD terjadi pada usia kehamilan antara 24 hingga 34 minggu.[2]
Kondisi ketuban yang pecah sebelum proses persalinan dan tidak diikuti dengan adanya tanda-tanda persalinan, berpotensi meningkatkan risiko terjadinya infeksi bagi ibu dan janin.[3] Pecahnya selaput ketuban berdampak pada berkurangnya zat yang berfungsi melindungi janin, dan mempersempit ruang gerak janin.[4] Risiko akan semakin meningkat dengan bertambahnya durasi pecah ketuban. Selain itu, kondisi KPD akan meningkatkan risiko kompresi tali pusat atau penyumbatan aliran darah. KPD juga meningkatkan risiko kelahiran prematur dan kematian pada janin.
Penyebab
Setiap individu memiliki faktor penyebab KPD yang berbeda. Secara umum, faktor penyebab terjadinya KPD antara lain :
Infeksi
Adanya infeksi yang menyerang selaput ketuban, cairan ketuban, maupun infeksi yang terjadi pada vagina. Infeksi bisa berasal dari adanya bakteri anaerob pada area vagina, yang disebabkan kurangnya keterampilan ibu hamil dalam menjaga kebersihan. Bakteri pada vagina dapat memengaruhi mikroba flora normal, dan dapat menyebar hingga menyerang selaput ketuban.[5]
Faktor fisiologis
Kondisi lemahnya kekuatan selaput ketuban akibat kontraksi maupun pembesaran janin.[6]
Riwayat KPD
Riwayat KPD pada kehamilan sebelumnya, akan meningkatkan risiko terjadi KPD pada kehamilan berikutnya.
Kondisi serviks
Kondisi serviks inkompetensia atau kondisi serviks yang melemah, memendek atau terbuka terlalu dini.
Tekanan rahim
Tekanan tinggi pada rahim bisa disebabkan oleh trauma akibat kecelakaan, pemeriksaan dalam, maupun hubungan seksual, Peningkatan tekanan pada rahim juga dipengaruhi oleh kondisi kelebihan cairan ketuban, kondisi pada kehamilan kembar, dan kondisi kehamilan sungsang.
Gaya hidup
Gaya dihup yang tidak sehat, tingginya paparan polusi, tingkat stres yang tinggi, juga meningkatkan faktor risiko KPD.
Referensi
- ↑ Ketut Surya Negara. Buku Ajar : Ketuban Pecah Dini. 19 Juli 2017.
- ↑ Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran : Ketuban Pecah Dini. Himpunan Kedokteran Feto Maternal. 2016.
- ↑ Mohd Andalas. Ketuban Pecah Dini dan Tatalaksananya. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. Desember 2019. Vol. 19 (8). hlm. 188-192. doi:10.24815/jks.v19i3.18119.
- ↑ Putri Alisa. Ketuban Pecah Dini. Stetoskop: The Journal Health of Science. Januari-Juni 2023. Vol. 1 (1).
- ↑ Endang Susilowati. Scoping Review: Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini pada Persalinan. Bidan Prada: Jurnal Publikasi Kebidanan. Desember 2021. Vol. 12 (2). hlm. 35-48.
- ↑ Endang Susilowati. Scoping Review: Faktor Penyebab Ketuban Pecah Dini pada Persalinan. Bidan Prada: Jurnal Publikasi Kebidanan. Desember 2021. Vol. 12 (2). hlm. 35-48.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29419488 (2026-07-04T14:54:03Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.