Lompat ke isi

Antosianin: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29419686; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Antosianin''' ([[bahasa Inggris]]: ''anthocyanin'', dari gabungan kata Yunani: ''anthos'' = "bunga", dan ''cyanos'' = "biru") adalah [[pigmen]] yang larut di [[air]] yang secara alami terdapat pada berbagai jenis [[tumbuhan]]. Sesuai namanya, pigmen ini memberikan [[warna]] pada [[bunga]], [[buah]], dan [[daun]] [[Viridiplantae|tumbuhan hijau]], dan telah banyak digunakan sebagai pewarna alami pada berbagai produk [[pangan]] dan berbagai aplikasi lainnya. Warna diberikan oleh antosianin berkat susunan [[Sistem konjugasi|ikatan rangkap terkonjugasinya]] yang panjang, sehingga mampu menyerap cahaya pada rentang [[cahaya tampak]]. Sistem ikatan rangkap terkonjugasi ini juga yang mampu menjadikan antosianin sebagai [[antioksidan]] dengan mekanisme penangkapan [[radikal]]. Antosianin merupakan [[senyawa organik]] dari keluarga [[flavonoid]], dan merupakan anggota kelompok senyawa yang lebih besar yaitu [[polifenol]]. Beberapa senyawa antosianin yang paling banyak ditemukan adalah [[pelargonidin]], [[peonidin]], [[sianidin]], [[malvidin]], [[petunidin]], dan [[delfinidin]].
[[File:Anthocyane.png|thumb|right|280px|Struktur kimia dasar dari antosianin]]
 
'''Antosianin''' ([[bahasa Inggris]]: ''anthocyanin'', dari gabungan kata Yunani: ''anthos'' = "bunga", dan ''cyanos'' = "biru") adalah [[pigmen]] yang larut di [[air]] yang secara alami terdapat pada berbagai jenis [[tumbuhan]].<ref>Kevin Gould, Kevin M. Davies, Chris Winefield. ''Anthocyanins: biosynthesis, functions, and applications''. Springer. 2008.Page.283-298</ref> Sesuai namanya, pigmen ini memberikan [[warna]] pada [[bunga]], [[buah]], dan [[daun]] [[Viridiplantae|tumbuhan hijau]],<ref>Kevin Gould, Kevin M. Davies, Chris Winefield. ''Anthocyanins: biosynthesis, functions, and applications''. Springer. 2008.Page.283-298</ref> dan telah banyak digunakan sebagai pewarna alami pada berbagai produk [[pangan]] dan berbagai aplikasi lainnya.<ref>Kevin Gould, Kevin M. Davies, Chris Winefield. ''Anthocyanins: biosynthesis, functions, and applications''. Springer. 2008.Page.283-298</ref> Warna diberikan oleh antosianin berkat susunan [[Sistem konjugasi|ikatan rangkap terkonjugasinya]] yang panjang, sehingga mampu menyerap cahaya pada rentang [[cahaya tampak]]. Sistem ikatan rangkap terkonjugasi ini juga yang mampu menjadikan antosianin sebagai [[antioksidan]] dengan mekanisme penangkapan [[radikal]].<ref>Mary Ann Lila. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1082894/ Anthocyanins and Human Health: An In Vitro Investigative Approach]. ''J Biomed Biotechnol''. 2004. Vol. 5. hlm. 306–313. doi:10.1155/S111072430440401X.</ref> Antosianin merupakan [[senyawa organik]] dari keluarga [[flavonoid]], dan merupakan anggota kelompok senyawa yang lebih besar yaitu [[polifenol]].<ref>[http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2783603 Recent Advances in Anthocyanin Analysis and Characterization]. ''New Use Agriculture and Natural Plant Products Program, Department of Plant Biology and Pathology, Cook College, Department of Medicinal Chemistry, Ernest Mario School of Pharmacy, Rutgers University; Cara R. Welch, Qingli Wu, dan James E. Simon''.</ref> Beberapa senyawa antosianin yang paling banyak ditemukan adalah [[pelargonidin]], [[peonidin]], [[sianidin]], [[malvidin]], [[petunidin]], dan [[delfinidin]].<ref>Denny Indra Praja. [https://books.google.co.id/books?id=MgiCCgAAQBAJ&pg=PA184&dq=asetaldehida+dengan+rumus+kimia+CH3CHO+atau+MeCHO&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwj-ivGNnumDAxUvumMGHVbpCF8Q6AF6BAgJEAI#v=onepage&q&f=false Zat Aditif Makanan: Manfaat dan Bahayanya]. Garudhawaca. 2015-09-01. ISBN 978-602-7949-55-3.</ref>


== Sumber ==
== Sumber ==
 
{|align=right
Sebagian besar tumbuhan memiliki kandungan antosianin terbesar pada bagian buahnya. Sebagian tanaman lain, seperti [[teh]], [[kakao]], [[serealia]], [[buncis]], [[kubis]] merah dan [[petunia]] juga memiliki kandungan antosinin pada bagian tubuh selain buah. [[Anggur]] merupakan buah yang paling banyak dimanfaatkan sebagai sumber antosianin karena kandungan pigmen tersebut cukup tinggi di dalam kulit anggur. Oleh karena itu, kulit anggur sisa industri pembuatan ''[[wine]]'' sering dikumpulkan kembali untuk diekstraksi kandungan antosianinnya dengan pelarut yang bersifat [[asam]].
||||
|-
|||
|}
Sebagian besar tumbuhan memiliki kandungan antosianin terbesar pada bagian buahnya.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref> Sebagian tanaman lain, seperti [[teh]], [[kakao]], [[serealia]], [[buncis]], [[kubis]] merah dan [[petunia]] juga memiliki kandungan antosinin pada bagian tubuh selain buah.<ref>Mary Ann Lila. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1082894/ Anthocyanins and Human Health: An In Vitro Investigative Approach]. ''J Biomed Biotechnol''. 2004. Vol. 5. hlm. 306–313. doi:10.1155/S111072430440401X.</ref><ref>Marilyn Sterling, R.D. [http://www.chiro.org/nutrition/FULL/Anthocyanins.shtml Anthocyanins]. The Chiropractic Resource Organization. 2001.</ref> [[Anggur]] merupakan buah yang paling banyak dimanfaatkan sebagai sumber antosianin karena kandungan pigmen tersebut cukup tinggi di dalam kulit anggur.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref> Oleh karena itu, kulit anggur sisa industri pembuatan ''[[wine]]'' sering dikumpulkan kembali untuk diekstraksi kandungan antosianinnya dengan pelarut yang bersifat [[asam]].<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref>


== Jenis dan struktur ==
== Jenis dan struktur ==
Hingga saat ini, telah ditemukan sekitar 300 jenis sianidin, beberapa di antaranya disebutkan pada tabel di bawah ini.
Hingga saat ini, telah ditemukan sekitar 300 jenis sianidin, beberapa di antaranya disebutkan pada tabel di bawah ini.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref>
 
{| class="wikitable centered" style="text-align:center"
|+ Beberapa jenis antosianin dan gugus substitusinya.
|- class="hintergrundfarbe6"
! Antosinidin
! Struktur dasar
! R<sub>1</sub>
! R<sub>2</sub>
! R<sub>3</sub>
! R<sub>4</sub>
! R<sub>5</sub>
! R<sub>6</sub>
! R<sub>7</sub>
|-
| [[Aurantinidin]]
| rowspan=10 |
| −H
| −OH
| −H
| −OH
| −OH
| −OH
| −OH
|-
| [[Cyanidin]]
| −OH
| −OH
| −H
| −OH
| −OH
| −H
| −OH
|-
| [[Delphinidin]]
| −OH
| −OH
| −OH
| −OH
| −OH
| −H
| −OH
|-
| [[Europinidin]]
| −OCH<sub>3</sub>
| −OH
| −OH
| −OH
| −OCH<sub>3</sub>
| −H
| −OH
|-
| [[Luteolinidin]]
| −OH
| −OH
| −H
| −H
| −OH
| −H
| −OH
|-
| [[Pelargonidin]]
| −H
| −OH
| −H
| −OH
| −OH
| −H
| −OH
|-
| [[Malvidin]]
| −OCH<sub>3</sub>
| −OH
| −OCH<sub>3</sub>
| −OH
| −OH
| −H
| −OH
|-
| [[Peonidin]]
| −OCH<sub>3</sub>
| −OH
| −H
| −OH
| −OH
| −H
| −OH
|-
| [[Petunidin]]
| −OH
| −OH
| −OCH<sub>3</sub>
| −OH
| −OH
| −H
| −OH
|-
| [[Rosinidin]]
| −OCH<sub>3</sub>
| −OH
| −H
| −OH
| −OH
| −H
| −OCH<sub>3</sub>
|}


== Faktor-faktor yang memengaruhi kestabilan ==
== Faktor-faktor yang memengaruhi kestabilan ==
=== Keasaman ===
=== Keasaman ===
 
Warna yang ditimbulkan oleh antosianin tergantung dari tingkat keasaman (pH) lingkungan sekitar sehingga pigmen ini dapat dijadikan sebagai indikator pH. Warna yang ditimbulkan adalah merah (pH 1), biru kemerahan (pH 4), ungu (pH 6), biru (pH 8), hijau (pH 12), dan kuning (pH 13). Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, antosianin harus disimpan menggunakan larutan bufer dengan pH yang sesuai.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref>
Warna yang ditimbulkan oleh antosianin tergantung dari tingkat keasaman (pH) lingkungan sekitar sehingga pigmen ini dapat dijadikan sebagai indikator pH. Warna yang ditimbulkan adalah merah (pH 1), biru kemerahan (pH 4), ungu (pH 6), biru (pH 8), hijau (pH 12), dan kuning (pH 13). Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, antosianin harus disimpan menggunakan larutan bufer dengan pH yang sesuai.


=== Kation ===
=== Kation ===
Sebagian [[kation]], terutama [[kation divalen]] dan trivalen harus dihindari karena dapat menyebabkan perubahan warna antosianin menjadi biru hingga terjadi pengendapan pigmen. Selain itu, permukaan tembaga, baja ringan, dan besi juga sebaiknya dihindari.
Sebagian [[kation]], terutama [[kation divalen]] dan trivalen harus dihindari karena dapat menyebabkan perubahan warna antosianin menjadi biru hingga terjadi pengendapan pigmen.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref> Selain itu, permukaan tembaga, baja ringan, dan besi juga sebaiknya dihindari.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref>


=== Oksigen ===
=== Oksigen ===
Saat terlarut di dalam suatu larutan campuran, antosianin akan teroksidasi perlahan-lahan.
Saat terlarut di dalam suatu larutan campuran, antosianin akan teroksidasi perlahan-lahan.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref>


=== Sulfur dioksida (SO<sub>2</sub>) ===
=== Sulfur dioksida (SO<sub>2</sub>) ===
Apabila [[sulfur dioksida]] bereaksi dengan antosianin maka akan terbentuk produk yang tidak berwarna. Reaksi perubahan warna tersebut bersifat ''reversible'' sehingga hanya dengan memanaskan SO<sub>2</sub> maka warna akan kembali seperti semula.
Apabila [[sulfur dioksida]] bereaksi dengan antosianin maka akan terbentuk produk yang tidak berwarna.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref> Reaksi perubahan warna tersebut bersifat ''reversible'' sehingga hanya dengan memanaskan SO<sub>2</sub> maka warna akan kembali seperti semula.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref>


=== Protein ===
=== Protein ===
Apabila sumber antosianin bereaksi dengan [[protein]] maka akan terbentuk [[uap]] atau [[endapan]]. Peristiwa ini lebih dipengaruhi oleh pigmen non [[fenolik]] yang bereaksi dengan protein seperti [[gelatin]].
Apabila sumber antosianin bereaksi dengan [[protein]] maka akan terbentuk [[uap]] atau [[endapan]].<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref> Peristiwa ini lebih dipengaruhi oleh pigmen non [[fenolik]] yang bereaksi dengan protein seperti [[gelatin]].<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref>


=== Enzim ===
=== Enzim ===
Penggunaan beberapa enzim dalam pengolahan makanan yang mengandung antosianin dapat mengakibatkan kandungan antosianin di dalamnya hilang atau berkurang. Hal ini sebagian disebabkan oleh enzim [[glukosidase]] yang ada pada tahap preparasi enzim.
Penggunaan beberapa enzim dalam pengolahan makanan yang mengandung antosianin dapat mengakibatkan kandungan antosianin di dalamnya hilang atau berkurang.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref> Hal ini sebagian disebabkan oleh enzim [[glukosidase]] yang ada pada tahap preparasi enzim.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref>


== Manfaat bagi kesehatan ==
== Manfaat bagi kesehatan ==
Salah satu fungsi antosianin adalah sebagai antioksidan di dalam tubuh sehingga dapat mencegah terjadinya [[aterosklerosis]], penyakit penyumbatan pembuluh darah. Antosianin bekerja menghambat proses [[aterogenesis]] dengan meng[[oksidasi]] lemak jahat dalam tubuh, yaitu [[lipoprotein densitas rendah]]. Kemudian antosinin juga melindungi integritas sel endotel yang melapisi dinding [[pembuluh darah]] sehingga tidak terjadi kerusakan. Kerusakan [[sel endotel]] merupakan awal mula pembentukan [[aterosklerosis]] sehingga harus dihindari. Selain itu, antosianin juga merelaksasi pembuluh darah untuk mencegah aterosklerosis dan penyakit kardiovaskuler lainnya. Berbagai manfaat positif dari antosianin untuk kesehatan manusia adalah untuk melindungi [[lambung]] dari kerusakan, menghambat sel [[tumor]], meningkatkan kemampuan penglihatan mata, serta berfungsi sebagai [[senyawa anti-inflamasi]] yang melindungi [[otak]] dari kerusakan. Selain itu, beberapa studi juga menyebutkan bahwa senyawa tersebut mampu mencegah [[obesitas]] dan [[diabetes]], meningkatkan kemampuan memori otak dan mencegah penyakit neurologis, serta menangkal radikal bebas dalam tubuh.
Salah satu fungsi antosianin adalah sebagai antioksidan di dalam tubuh sehingga dapat mencegah terjadinya [[aterosklerosis]], penyakit penyumbatan pembuluh darah.<ref>Marilyn Sterling, R.D. [http://www.chiro.org/nutrition/FULL/Anthocyanins.shtml Anthocyanins]. The Chiropractic Resource Organization. 2001.</ref> Antosianin bekerja menghambat proses [[aterogenesis]] dengan meng[[oksidasi]] lemak jahat dalam tubuh, yaitu [[lipoprotein densitas rendah]].<ref>Marilyn Sterling, R.D. [http://www.chiro.org/nutrition/FULL/Anthocyanins.shtml Anthocyanins]. The Chiropractic Resource Organization. 2001.</ref> Kemudian antosinin juga melindungi integritas sel endotel yang melapisi dinding [[pembuluh darah]] sehingga tidak terjadi kerusakan.<ref>Marilyn Sterling, R.D. [http://www.chiro.org/nutrition/FULL/Anthocyanins.shtml Anthocyanins]. The Chiropractic Resource Organization. 2001.</ref> Kerusakan [[sel endotel]] merupakan awal mula pembentukan [[aterosklerosis]] sehingga harus dihindari.<ref>Marilyn Sterling, R.D. [http://www.chiro.org/nutrition/FULL/Anthocyanins.shtml Anthocyanins]. The Chiropractic Resource Organization. 2001.</ref> Selain itu, antosianin juga merelaksasi pembuluh darah untuk mencegah aterosklerosis dan penyakit kardiovaskuler lainnya.<ref>Marilyn Sterling, R.D. [http://www.chiro.org/nutrition/FULL/Anthocyanins.shtml Anthocyanins]. The Chiropractic Resource Organization. 2001.</ref> Berbagai manfaat positif dari antosianin untuk kesehatan manusia adalah untuk melindungi [[lambung]] dari kerusakan, menghambat sel [[tumor]], meningkatkan kemampuan penglihatan mata, serta berfungsi sebagai [[senyawa anti-inflamasi]] yang melindungi [[otak]] dari kerusakan.<ref>Marilyn Sterling, R.D. [http://www.chiro.org/nutrition/FULL/Anthocyanins.shtml Anthocyanins]. The Chiropractic Resource Organization. 2001.</ref> Selain itu, beberapa studi juga menyebutkan bahwa senyawa tersebut mampu mencegah [[obesitas]] dan [[diabetes]], meningkatkan kemampuan memori otak dan mencegah penyakit neurologis, serta menangkal radikal bebas dalam tubuh.<ref>Mary Ann Lila. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1082894/ Anthocyanins and Human Health: An In Vitro Investigative Approach]. ''J Biomed Biotechnol''. 2004. Vol. 5. hlm. 306–313. doi:10.1155/S111072430440401X.</ref>


== Penggunaan ==
== Penggunaan ==
Berbagai macam pigmen antosianin yang diekstrak dari buah-buahan tertentu telah banyak dimanfaatkan sebagai pewarna pada produk minuman ringan, susu, bubuk minuman, minuman beralkohol, produk beku, dll. Penggunaan pewarna alami seperti antosinanin semakin diminati karena dapat mengurangi penggunaan pewarna sintetik yang bersifat toksik dan tidak ramah lingkungan. Antosianin juga dimanfaatkan dalam pembuatan suplemen nutrisi karena memiliki banyak dampak positif bagi kesehatan manusia. Selain itu, antosianin juga dimanfaatkan dalam proses penyimpanan serta pengawetan buah, serta pembuatan selai buah. Di Jepang, antosianin juga digunakan sebagai pewarna kertas (kertas Awobana).
Berbagai macam pigmen antosianin yang diekstrak dari buah-buahan tertentu telah banyak dimanfaatkan sebagai pewarna pada produk minuman ringan, susu, bubuk minuman, minuman beralkohol, produk beku, dll.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref> Penggunaan pewarna alami seperti antosinanin semakin diminati karena dapat mengurangi penggunaan pewarna sintetik yang bersifat toksik dan tidak ramah lingkungan.<ref>Thomas Bechtold, Rita Mussak. ''Handbook of Natural Colorants''. Wiley. 2009.Page.144-147</ref> Antosianin juga dimanfaatkan dalam pembuatan suplemen nutrisi karena memiliki banyak dampak positif bagi kesehatan manusia.<ref>Thomas Bechtold, Rita Mussak. ''Handbook of Natural Colorants''. Wiley. 2009.Page.144-147</ref> Selain itu, antosianin juga dimanfaatkan dalam proses penyimpanan serta pengawetan buah, serta pembuatan selai buah.<ref>J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. ''Natural food colorants''. Springer. 1995.Page.53-59</ref> Di Jepang, antosianin juga digunakan sebagai pewarna kertas (kertas Awobana).<ref>Thomas Bechtold, Rita Mussak. ''Handbook of Natural Colorants''. Wiley. 2009.Page.144-147</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 40: Baris 147:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antosianin&oldid=29419686 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29419686 (2026-07-04T16:00:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antosianin&oldid=29419686 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29419686 (2026-07-04T16:00:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.20

Berkas:Anthocyane.png
Struktur kimia dasar dari antosianin

Antosianin (bahasa Inggris: anthocyanin, dari gabungan kata Yunani: anthos = "bunga", dan cyanos = "biru") adalah pigmen yang larut di air yang secara alami terdapat pada berbagai jenis tumbuhan.[1] Sesuai namanya, pigmen ini memberikan warna pada bunga, buah, dan daun tumbuhan hijau,[2] dan telah banyak digunakan sebagai pewarna alami pada berbagai produk pangan dan berbagai aplikasi lainnya.[3] Warna diberikan oleh antosianin berkat susunan ikatan rangkap terkonjugasinya yang panjang, sehingga mampu menyerap cahaya pada rentang cahaya tampak. Sistem ikatan rangkap terkonjugasi ini juga yang mampu menjadikan antosianin sebagai antioksidan dengan mekanisme penangkapan radikal.[4] Antosianin merupakan senyawa organik dari keluarga flavonoid, dan merupakan anggota kelompok senyawa yang lebih besar yaitu polifenol.[5] Beberapa senyawa antosianin yang paling banyak ditemukan adalah pelargonidin, peonidin, sianidin, malvidin, petunidin, dan delfinidin.[6]

Sumber

Sebagian besar tumbuhan memiliki kandungan antosianin terbesar pada bagian buahnya.[7] Sebagian tanaman lain, seperti teh, kakao, serealia, buncis, kubis merah dan petunia juga memiliki kandungan antosinin pada bagian tubuh selain buah.[8][9] Anggur merupakan buah yang paling banyak dimanfaatkan sebagai sumber antosianin karena kandungan pigmen tersebut cukup tinggi di dalam kulit anggur.[10] Oleh karena itu, kulit anggur sisa industri pembuatan wine sering dikumpulkan kembali untuk diekstraksi kandungan antosianinnya dengan pelarut yang bersifat asam.[11]

Jenis dan struktur

Hingga saat ini, telah ditemukan sekitar 300 jenis sianidin, beberapa di antaranya disebutkan pada tabel di bawah ini.[12]

Beberapa jenis antosianin dan gugus substitusinya.
Antosinidin Struktur dasar R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7
Aurantinidin −H −OH −H −OH −OH −OH −OH
Cyanidin −OH −OH −H −OH −OH −H −OH
Delphinidin −OH −OH −OH −OH −OH −H −OH
Europinidin −OCH3 −OH −OH −OH −OCH3 −H −OH
Luteolinidin −OH −OH −H −H −OH −H −OH
Pelargonidin −H −OH −H −OH −OH −H −OH
Malvidin −OCH3 −OH −OCH3 −OH −OH −H −OH
Peonidin −OCH3 −OH −H −OH −OH −H −OH
Petunidin −OH −OH −OCH3 −OH −OH −H −OH
Rosinidin −OCH3 −OH −H −OH −OH −H −OCH3

Faktor-faktor yang memengaruhi kestabilan

Keasaman

Warna yang ditimbulkan oleh antosianin tergantung dari tingkat keasaman (pH) lingkungan sekitar sehingga pigmen ini dapat dijadikan sebagai indikator pH. Warna yang ditimbulkan adalah merah (pH 1), biru kemerahan (pH 4), ungu (pH 6), biru (pH 8), hijau (pH 12), dan kuning (pH 13). Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, antosianin harus disimpan menggunakan larutan bufer dengan pH yang sesuai.[13]

Kation

Sebagian kation, terutama kation divalen dan trivalen harus dihindari karena dapat menyebabkan perubahan warna antosianin menjadi biru hingga terjadi pengendapan pigmen.[14] Selain itu, permukaan tembaga, baja ringan, dan besi juga sebaiknya dihindari.[15]

Oksigen

Saat terlarut di dalam suatu larutan campuran, antosianin akan teroksidasi perlahan-lahan.[16]

Sulfur dioksida (SO2)

Apabila sulfur dioksida bereaksi dengan antosianin maka akan terbentuk produk yang tidak berwarna.[17] Reaksi perubahan warna tersebut bersifat reversible sehingga hanya dengan memanaskan SO2 maka warna akan kembali seperti semula.[18]

Protein

Apabila sumber antosianin bereaksi dengan protein maka akan terbentuk uap atau endapan.[19] Peristiwa ini lebih dipengaruhi oleh pigmen non fenolik yang bereaksi dengan protein seperti gelatin.[20]

Enzim

Penggunaan beberapa enzim dalam pengolahan makanan yang mengandung antosianin dapat mengakibatkan kandungan antosianin di dalamnya hilang atau berkurang.[21] Hal ini sebagian disebabkan oleh enzim glukosidase yang ada pada tahap preparasi enzim.[22]

Manfaat bagi kesehatan

Salah satu fungsi antosianin adalah sebagai antioksidan di dalam tubuh sehingga dapat mencegah terjadinya aterosklerosis, penyakit penyumbatan pembuluh darah.[23] Antosianin bekerja menghambat proses aterogenesis dengan mengoksidasi lemak jahat dalam tubuh, yaitu lipoprotein densitas rendah.[24] Kemudian antosinin juga melindungi integritas sel endotel yang melapisi dinding pembuluh darah sehingga tidak terjadi kerusakan.[25] Kerusakan sel endotel merupakan awal mula pembentukan aterosklerosis sehingga harus dihindari.[26] Selain itu, antosianin juga merelaksasi pembuluh darah untuk mencegah aterosklerosis dan penyakit kardiovaskuler lainnya.[27] Berbagai manfaat positif dari antosianin untuk kesehatan manusia adalah untuk melindungi lambung dari kerusakan, menghambat sel tumor, meningkatkan kemampuan penglihatan mata, serta berfungsi sebagai senyawa anti-inflamasi yang melindungi otak dari kerusakan.[28] Selain itu, beberapa studi juga menyebutkan bahwa senyawa tersebut mampu mencegah obesitas dan diabetes, meningkatkan kemampuan memori otak dan mencegah penyakit neurologis, serta menangkal radikal bebas dalam tubuh.[29]

Penggunaan

Berbagai macam pigmen antosianin yang diekstrak dari buah-buahan tertentu telah banyak dimanfaatkan sebagai pewarna pada produk minuman ringan, susu, bubuk minuman, minuman beralkohol, produk beku, dll.[30] Penggunaan pewarna alami seperti antosinanin semakin diminati karena dapat mengurangi penggunaan pewarna sintetik yang bersifat toksik dan tidak ramah lingkungan.[31] Antosianin juga dimanfaatkan dalam pembuatan suplemen nutrisi karena memiliki banyak dampak positif bagi kesehatan manusia.[32] Selain itu, antosianin juga dimanfaatkan dalam proses penyimpanan serta pengawetan buah, serta pembuatan selai buah.[33] Di Jepang, antosianin juga digunakan sebagai pewarna kertas (kertas Awobana).[34]

Lihat pula

Referensi

  1. Kevin Gould, Kevin M. Davies, Chris Winefield. Anthocyanins: biosynthesis, functions, and applications. Springer. 2008.Page.283-298
  2. Kevin Gould, Kevin M. Davies, Chris Winefield. Anthocyanins: biosynthesis, functions, and applications. Springer. 2008.Page.283-298
  3. Kevin Gould, Kevin M. Davies, Chris Winefield. Anthocyanins: biosynthesis, functions, and applications. Springer. 2008.Page.283-298
  4. Mary Ann Lila. Anthocyanins and Human Health: An In Vitro Investigative Approach. J Biomed Biotechnol. 2004. Vol. 5. hlm. 306–313. doi:10.1155/S111072430440401X.
  5. Recent Advances in Anthocyanin Analysis and Characterization. New Use Agriculture and Natural Plant Products Program, Department of Plant Biology and Pathology, Cook College, Department of Medicinal Chemistry, Ernest Mario School of Pharmacy, Rutgers University; Cara R. Welch, Qingli Wu, dan James E. Simon.
  6. Denny Indra Praja. Zat Aditif Makanan: Manfaat dan Bahayanya. Garudhawaca. 2015-09-01. ISBN 978-602-7949-55-3.
  7. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  8. Mary Ann Lila. Anthocyanins and Human Health: An In Vitro Investigative Approach. J Biomed Biotechnol. 2004. Vol. 5. hlm. 306–313. doi:10.1155/S111072430440401X.
  9. Marilyn Sterling, R.D. Anthocyanins. The Chiropractic Resource Organization. 2001.
  10. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  11. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  12. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  13. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  14. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  15. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  16. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  17. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  18. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  19. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  20. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  21. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  22. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  23. Marilyn Sterling, R.D. Anthocyanins. The Chiropractic Resource Organization. 2001.
  24. Marilyn Sterling, R.D. Anthocyanins. The Chiropractic Resource Organization. 2001.
  25. Marilyn Sterling, R.D. Anthocyanins. The Chiropractic Resource Organization. 2001.
  26. Marilyn Sterling, R.D. Anthocyanins. The Chiropractic Resource Organization. 2001.
  27. Marilyn Sterling, R.D. Anthocyanins. The Chiropractic Resource Organization. 2001.
  28. Marilyn Sterling, R.D. Anthocyanins. The Chiropractic Resource Organization. 2001.
  29. Mary Ann Lila. Anthocyanins and Human Health: An In Vitro Investigative Approach. J Biomed Biotechnol. 2004. Vol. 5. hlm. 306–313. doi:10.1155/S111072430440401X.
  30. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  31. Thomas Bechtold, Rita Mussak. Handbook of Natural Colorants. Wiley. 2009.Page.144-147
  32. Thomas Bechtold, Rita Mussak. Handbook of Natural Colorants. Wiley. 2009.Page.144-147
  33. J.D. Houghton, G.A.F. Hendry. Natural food colorants. Springer. 1995.Page.53-59
  34. Thomas Bechtold, Rita Mussak. Handbook of Natural Colorants. Wiley. 2009.Page.144-147

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29419686 (2026-07-04T16:00:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.