Efek psikologis penggunaan internet: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28667504; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Efek psikologis penggunaan internet''' dapat disebut juga sebagai kecanduan atau ketergantungan terhadap internet. Penggunaan internet secara berlebihan yang pada awalnya hanya dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang, lalu pada akhirnya akan memakan waktu dan membuat penggunanya mengabaikan lingkungan sosialnya. | '''Efek psikologis penggunaan internet''' dapat disebut juga sebagai kecanduan atau ketergantungan terhadap internet. Penggunaan internet secara berlebihan yang pada awalnya hanya dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang, lalu pada akhirnya akan memakan waktu dan membuat penggunanya mengabaikan lingkungan sosialnya.<ref>Shilpa Suresh Bisen. [https://www.google.co.id/books/edition/Psychological_Social_and_Cultural_Aspect/-Ow_DwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=psychological+effect+of+using+the+internet&pg=PA195&printsec=frontcover The Impact of the Internet in Twenty-First Century Addictions, dalam B. Bozoglan (ed) Psychological, Social, and Cultural Aspects of Internet Addiction]. IGI Global. 2018. hlm. 4. ISBN 9781522534785.</ref> | ||
== Kecanduan internet == | == Kecanduan internet == | ||
Kecanduan internet dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana seseorang kehilangan kendali atas penggunaan internet yang berlebihan hingga mengakibatkan hal buruk dalam kehidupan kesehariannya. Seseorang dikatakan kecanduan internet jika menggunakan internet selama 38 jam per minggu. | Kecanduan internet dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana seseorang kehilangan kendali atas penggunaan internet yang berlebihan hingga mengakibatkan hal buruk dalam kehidupan kesehariannya. Seseorang dikatakan kecanduan internet jika menggunakan internet selama 38 jam per minggu.<ref>Shaun Joseph Smyth. [https://kevincurran.org/papers/Internet%20Addiction%20Paper.pdf Internet Addiction, dalam B. Bozoglan (ed) Psychological, Social, and Cultural Aspects of Internet Addiction]. IGI Global. 2018. hlm. 22. ISBN 9781522534785.</ref> | ||
== Permainan elektronik == | == Permainan elektronik == | ||
Kualitas terpenting dari [[teknologi informasi]] modern adalah adanya hubungan yang kompleks antara konten, sistem pengiriman, dan pelantar/''platform.'' Dengan demikian, [[permainan elektronik]] dapat dimainkan melalui berbagai pelantar terkomputerisasi, baik bermain sendiri maupun bermain bersama orang lain yang saling terhubung dengan internet. | Kualitas terpenting dari [[teknologi informasi]] modern adalah adanya hubungan yang kompleks antara konten, sistem pengiriman, dan pelantar/''platform.'' Dengan demikian, [[permainan elektronik]] dapat dimainkan melalui berbagai pelantar terkomputerisasi, baik bermain sendiri maupun bermain bersama orang lain yang saling terhubung dengan internet.<ref>Kaveri Subrahmanyam. [https://www.google.co.id/books/edition/Handbook_of_Children_and_the_Media/moifZwJHunsC?hl=id&gbpv=1&dq=psychological+effect+of+using+the+internet&pg=PA94&printsec=frontcover New Forms of Electronic Media, dalam D.G. Singer (ed) Handbook of Children and the Media]. SAGE Publications. 2001. hlm. 74. ISBN 0-7619-1955-4.</ref> | ||
Beberapa permainan elektronik dirancang dengan desain yang bagus sehingga berdampak pada kemampuan mengolah informasi. Kecakapan dalam menjalankan permainan tersebut pun akan berdampak pada kecakapan menggunakan komputer untuk hal yang lain. Selain itu, permainan elektronik tersebut dapat mengasah [[Kemampuan spasial visual|kemampuan spasial]], misalnya dengan bermain tetris, maka seseorang akan mampu membayangkan secara visual jika benda-bendanya dipindahkan atau diputar. | Beberapa permainan elektronik dirancang dengan desain yang bagus sehingga berdampak pada kemampuan mengolah informasi. Kecakapan dalam menjalankan permainan tersebut pun akan berdampak pada kecakapan menggunakan komputer untuk hal yang lain. Selain itu, permainan elektronik tersebut dapat mengasah [[Kemampuan spasial visual|kemampuan spasial]], misalnya dengan bermain tetris, maka seseorang akan mampu membayangkan secara visual jika benda-bendanya dipindahkan atau diputar.<ref>Kaveri Subrahmanyam. [https://www.google.co.id/books/edition/Handbook_of_Children_and_the_Media/moifZwJHunsC?hl=id&gbpv=1&dq=psychological+effect+of+using+the+internet&pg=PA94&printsec=frontcover New Forms of Electronic Media, dalam D.G. Singer (ed) Handbook of Children and the Media]. SAGE Publications. 2001. hlm. 74. ISBN 0-7619-1955-4.</ref> | ||
== Dampak internet == | == Dampak internet == | ||
Internet dapat diakses kapanpun dan di manapun yang mana kontennya dapat berguna untuk mengerjakan tugas sekolah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari, dan juga informasi umum yang dibutuhkan untuk keperluan pekerjaan. Di sisi lain, penggunaan internet pun dapat berdampak negatif seperti penyebaran konten yang berisi kebencian maupun konten pornografi. | Internet dapat diakses kapanpun dan di manapun yang mana kontennya dapat berguna untuk mengerjakan tugas sekolah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari, dan juga informasi umum yang dibutuhkan untuk keperluan pekerjaan. Di sisi lain, penggunaan internet pun dapat berdampak negatif seperti penyebaran konten yang berisi kebencian maupun konten pornografi.<ref>Kaveri Subrahmanyam. [https://www.google.co.id/books/edition/Digital_Youth/hsTmwdmpWWMC?hl=id&gbpv=1&dq=psychological+effect+of+using+the+internet&pg=PA123&printsec=frontcover Digital Youth]. Springer. hlm. 124. ISBN 978-1-4419-6278-2.</ref> | ||
Dampak dari penggunaan internet dapat bersifat positif maupun negatif. salah satu contoh adalah adanya akses informasi yang baru berbasis penggunaan komputer akan meningkatkan peluang-peluang baru di dunia digital, di sisi lain, ada [[kesenjangan digital]] di antara mereka yang cakap memanfaatkan teknologi dengan mereka yang kurang kompeten mengaplikasikan teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari termasuk pekerjaannya. Selain itu, dengan adanya perkembangan teknologi, pebedaan jarak bukanlah sesuatu hal yang dianggap sebagai kendala karena teknologi dapat menciptakan suatu ruang yang diisi oleh manusia dari berbagai wilayah dan negara, sementara itu, interaksi di dunia nyata menjadi kurang bermakna manakala manusia sibuk dengan [[dunia maya]] masing-masing. Dalam dunia kerja, adanya kemajuan teknologi mengakibatkan pola kerja menjadi lebih fleksibel dan memungkinkan adanya komunikasi serta kerjasama dengan pihak-pihak di luar. Kekurangannya adalah tidak adanya pengawasan yang ketat dalam lingkungan kerja yang struktur organisasinya bersifat hierarkis, yang pada akhirnya menimbulkan sikap ketidakpercayaan dalam lingkungan tersebut.<ref>Jim Macnamara. [https://www.google.co.id/books/edition/The_21st_Century_Media_r_evolution/rOal8bRULroC?hl=id&gbpv=1&dq=psychological+effect+of+using+the+internet&pg=PA86&printsec=frontcover The 21st Century Media Revolution]. Peter Lang Publishing, Inc. 2010. hlm. 87. ISBN 978-1-4331-0936-2.</ref> | |||
''Internet Addiction Disorder'' (IAD) merupakan gangguan perilaku yang ditandai dengan ketidakmampuan individu mengontrol penggunaan internet secara berlebihan hingga mengganggu fungsi sosial, emosional, dan akademik. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Kimberly Young (1998) yang menjelaskan bahwa kecanduan internet memiliki kemiripan dengan kecanduan perilaku seperti perjudian, karena melibatkan dorongan kompulsif yang sulit dikendalikan terhadap aktivitas daring. Di era digital saat ini, internet memang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, tetapi ketergantungan berlebih dapat menimbulkan masalah serius bagi [[Kesehatan jiwa|kesehatan mental]] dan keseimbangan hidup. | ''Internet Addiction Disorder'' (IAD) merupakan gangguan perilaku yang ditandai dengan ketidakmampuan individu mengontrol penggunaan internet secara berlebihan hingga mengganggu fungsi sosial, emosional, dan akademik. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Kimberly Young (1998) yang menjelaskan bahwa kecanduan internet memiliki kemiripan dengan kecanduan perilaku seperti perjudian, karena melibatkan dorongan kompulsif yang sulit dikendalikan terhadap aktivitas daring. Di era digital saat ini, internet memang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, tetapi ketergantungan berlebih dapat menimbulkan masalah serius bagi [[Kesehatan jiwa|kesehatan mental]] dan keseimbangan hidup. | ||
| Baris 34: | Baris 33: | ||
== Kesimpulan == | == Kesimpulan == | ||
Internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern, tetapi penggunaan yang tidak terkendali dapat mengancam kesehatan mental dan hubungan sosial. Menyadari risiko ''Internet Addiction Disorder'' menjadi langkah awal penting dalam menjaga keseimbangan hidup di era digital. Dengan disiplin, kesadaran diri, dan dukungan lingkungan, setiap individu dapat memanfaatkan internet secara bijak, produktif, dan sehat, tanpa kehilangan koneksi dengan dunia nyata. | Internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern, tetapi penggunaan yang tidak terkendali dapat mengancam kesehatan mental dan hubungan sosial. Menyadari risiko ''Internet Addiction Disorder'' menjadi langkah awal penting dalam menjaga keseimbangan hidup di era digital. Dengan disiplin, kesadaran diri, dan dukungan lingkungan, setiap individu dapat memanfaatkan internet secara bijak, produktif, dan sehat, tanpa kehilangan koneksi dengan dunia nyata. | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Efek+psikologis+penggunaan+internet&oldid=28667504 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28667504 (2025-12-06T04:19:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Efek+psikologis+penggunaan+internet&oldid=28667504 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28667504 (2025-12-06T04:19:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 18.09
Efek psikologis penggunaan internet dapat disebut juga sebagai kecanduan atau ketergantungan terhadap internet. Penggunaan internet secara berlebihan yang pada awalnya hanya dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang, lalu pada akhirnya akan memakan waktu dan membuat penggunanya mengabaikan lingkungan sosialnya.[1]
Kecanduan internet
Kecanduan internet dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana seseorang kehilangan kendali atas penggunaan internet yang berlebihan hingga mengakibatkan hal buruk dalam kehidupan kesehariannya. Seseorang dikatakan kecanduan internet jika menggunakan internet selama 38 jam per minggu.[2]
Permainan elektronik
Kualitas terpenting dari teknologi informasi modern adalah adanya hubungan yang kompleks antara konten, sistem pengiriman, dan pelantar/platform. Dengan demikian, permainan elektronik dapat dimainkan melalui berbagai pelantar terkomputerisasi, baik bermain sendiri maupun bermain bersama orang lain yang saling terhubung dengan internet.[3]
Beberapa permainan elektronik dirancang dengan desain yang bagus sehingga berdampak pada kemampuan mengolah informasi. Kecakapan dalam menjalankan permainan tersebut pun akan berdampak pada kecakapan menggunakan komputer untuk hal yang lain. Selain itu, permainan elektronik tersebut dapat mengasah kemampuan spasial, misalnya dengan bermain tetris, maka seseorang akan mampu membayangkan secara visual jika benda-bendanya dipindahkan atau diputar.[4]
Dampak internet
Internet dapat diakses kapanpun dan di manapun yang mana kontennya dapat berguna untuk mengerjakan tugas sekolah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari, dan juga informasi umum yang dibutuhkan untuk keperluan pekerjaan. Di sisi lain, penggunaan internet pun dapat berdampak negatif seperti penyebaran konten yang berisi kebencian maupun konten pornografi.[5]
Dampak dari penggunaan internet dapat bersifat positif maupun negatif. salah satu contoh adalah adanya akses informasi yang baru berbasis penggunaan komputer akan meningkatkan peluang-peluang baru di dunia digital, di sisi lain, ada kesenjangan digital di antara mereka yang cakap memanfaatkan teknologi dengan mereka yang kurang kompeten mengaplikasikan teknologi ke dalam kehidupan sehari-hari termasuk pekerjaannya. Selain itu, dengan adanya perkembangan teknologi, pebedaan jarak bukanlah sesuatu hal yang dianggap sebagai kendala karena teknologi dapat menciptakan suatu ruang yang diisi oleh manusia dari berbagai wilayah dan negara, sementara itu, interaksi di dunia nyata menjadi kurang bermakna manakala manusia sibuk dengan dunia maya masing-masing. Dalam dunia kerja, adanya kemajuan teknologi mengakibatkan pola kerja menjadi lebih fleksibel dan memungkinkan adanya komunikasi serta kerjasama dengan pihak-pihak di luar. Kekurangannya adalah tidak adanya pengawasan yang ketat dalam lingkungan kerja yang struktur organisasinya bersifat hierarkis, yang pada akhirnya menimbulkan sikap ketidakpercayaan dalam lingkungan tersebut.[6]
Internet Addiction Disorder (IAD) merupakan gangguan perilaku yang ditandai dengan ketidakmampuan individu mengontrol penggunaan internet secara berlebihan hingga mengganggu fungsi sosial, emosional, dan akademik. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Kimberly Young (1998) yang menjelaskan bahwa kecanduan internet memiliki kemiripan dengan kecanduan perilaku seperti perjudian, karena melibatkan dorongan kompulsif yang sulit dikendalikan terhadap aktivitas daring. Di era digital saat ini, internet memang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, tetapi ketergantungan berlebih dapat menimbulkan masalah serius bagi kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Faktor Penyebab
Kecanduan internet umumnya dipicu oleh faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Menurut Kuss & Griffiths (2017), kebutuhan akan validasi sosial melalui media digital membuat seseorang sulit melepaskan diri dari interaksi daring. Sementara itu, Montag & Reuter (2020) menjelaskan bahwa sistem dopamin di otak bekerja aktif saat seseorang menerima notifikasi atau interaksi online, menciptakan sensasi menyenangkan yang mendorong perilaku berulang.
Remaja dan dewasa muda merupakan kelompok paling rentan karena sedang berada dalam tahap pencarian identitas dan pengakuan sosial, yang membuat mereka mudah terjebak dalam pola penggunaan internet yang tidak terkontrol.
Dampak Internet Addiction Disorder
IAD berdampak luas terhadap aspek psikologis, fisik, sosial, dan akademik. Secara psikologis, penderitanya sering mengalami gangguan tidur, stres, dan penurunan konsentrasi (Ko et al., 2012). Secara sosial, individu dengan IAD cenderung mengisolasi diri dan lebih memilih interaksi virtual dibanding tatap muka. Hal ini menurunkan empati serta kemampuan komunikasi interpersonal.
Dari sisi akademik, penelitian oleh Sosiadi, M. (2023) menunjukkan bahwa mahasiswa dengan intensitas penggunaan internet tinggi memiliki motivasi belajar rendah serta rentan menunda tugas. Selain itu, IAD juga dapat memicu perilaku agresif di media sosial dan meningkatkan risiko depresi serta kecemasan (Elhai et al., 2020; Cao et al., 2021). Dengan demikian, kecanduan internet bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan masalah kesehatan mental yang memerlukan perhatian serius.
Upaya Pencegahan dan Penanganan
Pencegahan IAD dapat dilakukan dengan membangun kesadaran digital sejak dini. Individu perlu menetapkan batas waktu penggunaan internet dan menggantinya dengan aktivitas positif seperti olahraga, membaca, atau kegiatan sosial. Dukungan keluarga serta lingkungan sekolah juga berperan besar dalam membentuk perilaku digital yang sehat.
Apabila kecanduan sudah mengganggu aktivitas harian, terapi kognitif-perilaku (Cognitive Behavioral Therapy / CBT) terbukti efektif membantu individu mengenali pola pikir adiktif dan mengubahnya menjadi perilaku adaptif (King et al., 2016). Pendekatan psikologis ini juga perlu diimbangi dengan dukungan emosional dari orang terdekat untuk memperkuat motivasi dalam proses pemulihan.
Kesimpulan
Internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern, tetapi penggunaan yang tidak terkendali dapat mengancam kesehatan mental dan hubungan sosial. Menyadari risiko Internet Addiction Disorder menjadi langkah awal penting dalam menjaga keseimbangan hidup di era digital. Dengan disiplin, kesadaran diri, dan dukungan lingkungan, setiap individu dapat memanfaatkan internet secara bijak, produktif, dan sehat, tanpa kehilangan koneksi dengan dunia nyata.
Referensi
- ↑ Shilpa Suresh Bisen. The Impact of the Internet in Twenty-First Century Addictions, dalam B. Bozoglan (ed) Psychological, Social, and Cultural Aspects of Internet Addiction. IGI Global. 2018. hlm. 4. ISBN 9781522534785.
- ↑ Shaun Joseph Smyth. Internet Addiction, dalam B. Bozoglan (ed) Psychological, Social, and Cultural Aspects of Internet Addiction. IGI Global. 2018. hlm. 22. ISBN 9781522534785.
- ↑ Kaveri Subrahmanyam. New Forms of Electronic Media, dalam D.G. Singer (ed) Handbook of Children and the Media. SAGE Publications. 2001. hlm. 74. ISBN 0-7619-1955-4.
- ↑ Kaveri Subrahmanyam. New Forms of Electronic Media, dalam D.G. Singer (ed) Handbook of Children and the Media. SAGE Publications. 2001. hlm. 74. ISBN 0-7619-1955-4.
- ↑ Kaveri Subrahmanyam. Digital Youth. Springer. hlm. 124. ISBN 978-1-4419-6278-2.
- ↑ Jim Macnamara. The 21st Century Media Revolution. Peter Lang Publishing, Inc. 2010. hlm. 87. ISBN 978-1-4331-0936-2.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28667504 (2025-12-06T04:19:43Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.