Lompat ke isi

Aturan sinus: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29389844; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Triangle_and_circumcircle_with_notations.png|thumb|right|280px|Triangle and circumcircle with notations]]
:''Untuk kegunaan lain, lihat [[Sinus (disambiguasi)]].''
:''Untuk kegunaan lain, lihat [[Sinus (disambiguasi)]].''


Baris 5: Baris 7:
Aturan sinus adalah salah satu dari dua persamaan trigonometrik yang umum digunakan untuk menentukan besar panjang dan sudut pada segitiga, persamaan lain yang digunakan adalah [[aturan kosinus]].
Aturan sinus adalah salah satu dari dua persamaan trigonometrik yang umum digunakan untuk menentukan besar panjang dan sudut pada segitiga, persamaan lain yang digunakan adalah [[aturan kosinus]].


Aturan sinus dapat diperumum ke dimensi yang lebih tinggi, yakni pada permukaan dengan kurvatur yang bernilai konstan.
Aturan sinus dapat diperumum ke dimensi yang lebih tinggi, yakni pada permukaan dengan kurvatur yang bernilai konstan.<ref>[http://mathworld.wolfram.com/GeneralizedLawofSines.html Generalized law of sines]. ''mathworld''.</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Hukum sinus bagi [[Trigonometri bola|segitiga yang terletak pada bola]] ditemukan pada abad ke-10. Penemuan ini banyak diatribusikan kepada [[Abu-Mahmud Khojandi]], [[Abul Wafa Muhammad Al Buzjani]], [[Nasir al-Din al-Tusi|Nashiruddin ath-Thusi]], dan [[Abu Nashr Mansur]].
Hukum sinus bagi [[Trigonometri bola|segitiga yang terletak pada bola]] ditemukan pada abad ke-10. Penemuan ini banyak diatribusikan kepada [[Abu-Mahmud Khojandi]], [[Abul Wafa Muhammad Al Buzjani]], [[Nasir al-Din al-Tusi|Nashiruddin ath-Thusi]], dan [[Abu Nashr Mansur]].<ref>Sesiano hanya mencatat al-Wafa sebagai seorang kontributor. Sesiano, Jacques (2000) "Islamic mathematics" pp. 137–157, dalam Helaine Selin. ''Mathematics Across Cultures: The History of Non-western Mathematics''. Springer. 2000. ISBN 1-4020-0260-2. "... .Spherical geometry was based on Menelaus's Spherics (and, in particular, its theorem IIIJ.1) and gave rise through Abu'l-Wafii' al-Buzjani (940-997/8) to the law of sines for spherical triangles, \frac{\sin a}{\sin \alpha} = \frac{\sin b}{\sin \beta} = \frac{\sin c}{\sin \gamma} where a,\,b,\,c are the sides and \alpha,\,\beta,\,\gamma the opposite angles</ref>


Pada abad ke-11, buku [[Ibn Muʿādh al-Jayyānī]]' mengandung hukum sinus secara umum. Hukum sinus pada bidang [datar] kemudian dinyatakan oleh  [[Nasir al-Din al-Tusi|Nashiruddin ath-Thusi]] pada abad ke-13. Dalam karyanya ''Tentang Gambar Sektor'', ia menuliskan hukum sinus untuk bidang datar dan untuk permukaan bola, dan memberikan rumus untuk kedua hukum ini.
Pada abad ke-11, buku [[Ibn Muʿādh al-Jayyānī]]' mengandung hukum sinus secara umum.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aturan+sinus&oldid=29389844 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://www.worldcat.org/oclc/37996126 Histoire des sciences arabes]. 1997. ISBN 2-02-030355-8.</ref> Hukum sinus pada bidang [datar] kemudian dinyatakan oleh  [[Nasir al-Din al-Tusi|Nashiruddin ath-Thusi]] pada abad ke-13.<ref>[https://www.worldcat.org/oclc/37996126 Histoire des sciences arabes]. 1997. ISBN 2-02-030355-8.</ref> Dalam karyanya ''Tentang Gambar Sektor'', ia menuliskan hukum sinus untuk bidang datar dan untuk permukaan bola, dan memberikan rumus untuk kedua hukum ini.<ref>J. Lennart Berggren. [https://archive.org/details/mathematicsofegy0000unse The Mathematics of Egypt, Mesopotamia, China, India, and Islam: A Sourcebook]. Princeton University Press. 2007. hlm. [https://archive.org/details/mathematicsofegy0000unse/page/518 518]. ISBN 978-0-691-11485-9.</ref>


Pada abad ke-15, matematikawan Jerman [[Regiomontanus]] menggunakan hukum sinus sebagai fondasi solusi tentang masalah yang berkaitan dengan [[segitiga siku-siku]]. Solusi yang tertulis pada Buku IV-nya pada gilirannya menjadi dasar solusi masalah yang berkaitan dengan segitiga secara umum.
Pada abad ke-15, matematikawan Jerman [[Regiomontanus]] menggunakan hukum sinus sebagai fondasi solusi tentang masalah yang berkaitan dengan [[segitiga siku-siku]]. Solusi yang tertulis pada Buku IV-nya pada gilirannya menjadi dasar solusi masalah yang berkaitan dengan segitiga secara umum.<ref>Glen Van Brummelen (2009). "''[https://books.google.com/books?id=bHD8IBaYN-oC&pg=&dq&hl=en#v=onepage&q=&f=false The mathematics of the heavens and the earth: the early history of trigonometry]''". Princeton University Press. p.259.</ref>


== Bukti ==
== Bukti ==
Perhatikan segitiga dengan sisi ''a'', ''b'', dan ''c'', dan sudut yang berhadapan ''A'', ''B'', dan ''C''. Tarik garis tinggi ''h'' dari sudut ''C'' ke sisi ''c'' sehingga segitiga ''ABC'' terbagi menjadi dua segitiga siku-siku.
Perhatikan segitiga dengan sisi ''a'', ''b'', dan ''c'', dan sudut yang berhadapan ''A'', ''B'', dan ''C''. Tarik garis tinggi ''h'' dari sudut ''C'' ke sisi ''c'' sehingga segitiga ''ABC'' terbagi menjadi dua segitiga siku-siku.


Baris 33: Baris 34:
Ketika menggunakan aturan sinus untuk menentukan panjang sisi suatu segitiga, kasus ambigu dapat terjadi ketika terdapat dua segitiga dapat dibuat dari informasi yang diketahui (dengan kata lain, akan menghasilkan dua solusi berbeda). Kasus ini mungkin saja terjadi karena ada dua nilai sudut yang benar antara 0° dan 180° yang memiliki nilai sinus yang sama.
Ketika menggunakan aturan sinus untuk menentukan panjang sisi suatu segitiga, kasus ambigu dapat terjadi ketika terdapat dua segitiga dapat dibuat dari informasi yang diketahui (dengan kata lain, akan menghasilkan dua solusi berbeda). Kasus ini mungkin saja terjadi karena ada dua nilai sudut yang benar antara 0° dan 180° yang memiliki nilai sinus yang sama.


:
:  


Untuk sembarang segitiga, kasus ambigu terjadi apabila kondisi-kondisi berikut terpenuhi:
Untuk sembarang segitiga, kasus ambigu terjadi apabila kondisi-kondisi berikut terpenuhi:
Baris 45: Baris 46:


== Contoh ==
== Contoh ==
Diberikan informasi: panjang sisi , sisi , dan sudut , sedangkan nilai sudut  ingin dicari. Menggunakan aturan sinus, disimpulkan bahwa<math display="block">\frac{\sin \alpha}{20} = \frac{\sin (40^\circ)}{24}.</math> Sehingga dengan menggunakan invers dari fungsi sinus, [[arcsinus]], didapatkan <math display="block"> \alpha = \arcsin\left( \frac{20\sin (40^\circ)}{24} \right) \approx 32.39^\circ. </math>Solusi lain dari arcsin adalah nilai . Namun ini tidak digunakan karena akan menghasilkan solusi dengan total sudut segitiga .
Diberikan informasi: panjang sisi , sisi , dan sudut , sedangkan nilai sudut  ingin dicari. Menggunakan aturan sinus, disimpulkan bahwa<math display="block">\frac{\sin \alpha}{20} = \frac{\sin (40^\circ)}{24}.</math> Sehingga dengan menggunakan invers dari fungsi sinus, [[arcsinus]], didapatkan <math display="block"> \alpha = \arcsin\left( \frac{20\sin (40^\circ)}{24} \right) \approx 32.39^\circ. </math>Solusi lain dari arcsin adalah nilai . Namun ini tidak digunakan karena akan menghasilkan solusi dengan total sudut segitiga .


== Hubungan dengan lingkaran luar segitiga ==
== Hubungan dengan lingkaran luar segitiga ==
Pada identitas<math display="block"> \frac{a}{\sin{\alpha}} = \frac{b}{\sin{\beta}} = \frac{c}{\sin{\gamma}},</math>ketiga pecahan tersebut memiliki nilai yang sama dengan panjang [[diameter]] dari [[lingkaran luar]] segitiga. Bukti mengenai hal ini dapat ditelusuri sampai ke [[Ptolemy]].
Pada identitas<math display="block"> \frac{a}{\sin{\alpha}} = \frac{b}{\sin{\beta}} = \frac{c}{\sin{\gamma}},</math>ketiga pecahan tersebut memiliki nilai yang sama dengan panjang [[diameter]] dari [[lingkaran luar]] segitiga. Bukti mengenai hal ini dapat ditelusuri sampai ke [[Ptolemy]].<ref>Coxeter, H. S. M. and Greitzer, S. L. ''Geometry Revisited''. Washington, DC: Math. Assoc. Amer., pp. 1–3, 1967</ref><ref>[http://www.pballew.net/lawofsin.html Law of Sines]. ''www.pballew.net''.</ref>


=== Bukti ===
=== Bukti ===
Seperti terlihat pada gambar, misalkan ada sebuah lingkaran yang memuat segitiga <math> \triangle ABC</math>, dan memuat segitiga lain <math> \triangle ADB</math> yang sisinya melewati pusat lingkaran '''O'''.<ref>Memuat, dalam artian semua titik sudut segitiga terletak pada lingkaran.</ref> Sudut <math> \angle AOD</math> memiliki [[sudut pusat]] sebesar <math> 180^\circ</math>, sehingga sudut  <math> \angle ABD = 90^\circ</math>. Karena merupakan segitiga siku-siku, pada segitiga <math> \triangle ABD</math> berlaku<math display="block"> \sin{\delta}= \frac{\text{depan}}{\text{miring}}= \frac{c}{2R},</math>


Seperti terlihat pada gambar, misalkan ada sebuah lingkaran yang memuat segitiga <math> \triangle ABC</math>, dan memuat segitiga lain <math> \triangle ADB</math> yang sisinya melewati pusat lingkaran '''O'''. Sudut <math> \angle AOD</math> memiliki [[sudut pusat]] sebesar <math> 180^\circ</math>, sehingga sudut  <math> \angle ABD = 90^\circ</math>. Karena merupakan segitiga siku-siku, pada segitiga <math> \triangle ABD</math> berlaku<math display="block"> \sin{\delta}= \frac{\text{depan}}{\text{miring}}= \frac{c}{2R},</math>
dengan <math display="inline"> R= \frac{d}{2}</math> adalah jari-jari dari lingkaran yang memuat segitiga.<ref>[http://www.pballew.net/lawofsin.html Law of Sines]. ''www.pballew.net''.</ref> Sudut <math>{\gamma}</math> dan <math>{\delta}</math> memiliki sudut pusat yang sama, sehingga besar sudut mereka sama: <math>{\gamma} = {\delta}</math>. Maka disimpulkan,<math display="block"> \sin{\delta} = \sin{\gamma} = \frac{c}{2R}.</math>Dengan menyusun kembali suku-suku, dihasilkan<math display="block"> 2R = \frac{c}{\sin{\gamma}}.</math>Proses di atas dapat diulangi dengan membentuk <math> \triangle ADB</math> yang berbeda, sehingga menghasilkan persamaan
 
dengan <math display="inline"> R= \frac{d}{2}</math> adalah jari-jari dari lingkaran yang memuat segitiga. Sudut <math>{\gamma}</math> dan <math>{\delta}</math> memiliki sudut pusat yang sama, sehingga besar sudut mereka sama: <math>{\gamma} = {\delta}</math>. Maka disimpulkan,<math display="block"> \sin{\delta} = \sin{\gamma} = \frac{c}{2R}.</math>Dengan menyusun kembali suku-suku, dihasilkan<math display="block"> 2R = \frac{c}{\sin{\gamma}}.</math>Proses di atas dapat diulangi dengan membentuk <math> \triangle ADB</math> yang berbeda, sehingga menghasilkan persamaan


  = \frac{b}{\sin{\beta}} = \frac{c}{\sin{\gamma}}=2R.</math>}}
  = \frac{b}{\sin{\beta}} = \frac{c}{\sin{\gamma}}=2R.</math>}}


=== Hubungan dengan luas segitiga ===
=== Hubungan dengan luas segitiga ===
Menggunakan notasi yang sama dengan bagian sebelumnya, luas dari segitiga <math> \triangle ABC</math> adalah <math display="inline">L = \frac{1}{2}ab \sin \gamma</math>, dengan <math>\gamma</math> adalah sudut yang diapit oleh sisi  dan . Mensubtitusi aturan sinus pada persamaan luas segitiga menghasilkan <math display="block">L=\frac{1}{2}ab \cdot \frac {c}{2R} = \frac{abc}{4R}. </math>Dapat ditunjukkan bahwa persamaan tersebut mengimplikasikan<math display="block">\begin{align}
Menggunakan notasi yang sama dengan bagian sebelumnya, luas dari segitiga <math> \triangle ABC</math> adalah <math display="inline">L = \frac{1}{2}ab \sin \gamma</math>, dengan <math>\gamma</math> adalah sudut yang diapit oleh sisi  dan . Mensubtitusi aturan sinus pada persamaan luas segitiga menghasilkan<ref>Mr. T's Math Videos. [https://www.youtube.com/watch?v=t6QNGDPG4Og Area of a Triangle and Radius of its Circumscribed Circle]. 2015-06-10.</ref> <math display="block">L=\frac{1}{2}ab \cdot \frac {c}{2R} = \frac{abc}{4R}. </math>Dapat ditunjukkan bahwa persamaan tersebut mengimplikasikan<math display="block">\begin{align}
\frac{abc} {2L}
\frac{abc} {2L}
& = \frac{abc} {2\sqrt{s(s-a)(s-b)(s-c)}} \\[6pt]
& = \frac{abc} {2\sqrt{s(s-a)(s-b)(s-c)}} \\[6pt]
Baris 66: Baris 65:
\end{align}</math>dengan <math>s</math> adalah [[Semiperimeter|panjang setengah keliling]] segitiga, yakni <math display="inline">s = \frac{a+b+c}{2}.</math> Persamaan ini dapat disederhanakan menjadi [[Teorema Heron|rumus Heron]] untuk menghitung luas segitiga.
\end{align}</math>dengan <math>s</math> adalah [[Semiperimeter|panjang setengah keliling]] segitiga, yakni <math display="inline">s = \frac{a+b+c}{2}.</math> Persamaan ini dapat disederhanakan menjadi [[Teorema Heron|rumus Heron]] untuk menghitung luas segitiga.


Aturan sinus juga dapat digunakan untuk menghasilkan rumus berikut untuk menghitung luas lingkaran. Dengan menyatakan <math display="inline">S =\frac {\sin A + \sin B + \sin C}{2}</math>, dapat ditunjukkan
Aturan sinus juga dapat digunakan untuk menghasilkan rumus berikut untuk menghitung luas lingkaran. Dengan menyatakan <math display="inline">S =\frac {\sin A + \sin B + \sin C}{2}</math>, dapat ditunjukkan<ref>Mitchell, Douglas W., "A Heron-type area formula in terms of sines," ''Mathematical Gazette'' 93, March 2009, 108–109.</ref>
 


== Kasus hiperbolik ==
== Kasus hiperbolik ==
Dalam [[geometri hiperbolik]] dengan kurvatur bernilai −1, aturan sinus berubah menjadi<math display="block">\frac{\sin A}{\sinh a} = \frac{\sin B}{\sinh b} = \frac{\sin C}{\sinh c} \,.</math>Pada kasus khusus dengan  berupa sudut siku-siku, dihasilkan<math display="block">\sin C = \frac{\sinh c}{\sinh b} </math>yang mirip dengan rumus pada [[geometri Euklides]], yang menyatakan sinus sebagai perbandingan panjang sisi berlawanan dengan sisi [[hipotenusa]].
Dalam [[geometri hiperbolik]] dengan kurvatur bernilai −1, aturan sinus berubah menjadi<math display="block">\frac{\sin A}{\sinh a} = \frac{\sin B}{\sinh b} = \frac{\sin C}{\sinh c} \,.</math>Pada kasus khusus dengan  berupa sudut siku-siku, dihasilkan<math display="block">\sin C = \frac{\sinh c}{\sinh b} </math>yang mirip dengan rumus pada [[geometri Euklides]], yang menyatakan sinus sebagai perbandingan panjang sisi berlawanan dengan sisi [[hipotenusa]].


== Pada permukaan bola ==
== Pada permukaan bola ==
Aturan sinus pada permukaan bola memberikan hubungan trigonometrik pada segitiga yang sisi-sisinya berupa [[lingkaran besar]].
Aturan sinus pada permukaan bola memberikan hubungan trigonometrik pada segitiga yang sisi-sisinya berupa [[lingkaran besar]].


Baris 80: Baris 76:


== Pada permukaan dengan kurvatur konstan ==
== Pada permukaan dengan kurvatur konstan ==
Pada permukaan secara umum, fungsi sinus dapat diperumum sebagai berikut:<math display="block">\sin_K x = x - \frac{K x^3}{3!} + \frac{K^2 x^5}{5!} - \frac{K^3 x^7}{7!} + \cdots.</math>yang nilainya juga bergantung kurvatur  di posisi <math>x</math> berada. Aturan sinus pada permukaan kurvatur bernilai konstan  menyatakan bahwa<math display="block">\frac{\sin A}{\sin_K a} = \frac{\sin B}{\sin_K b} = \frac{\sin C}{\sin_K c} \,.</math>Mensubtitusi nilai , , dan , secara berurutan akan menghasilkan aturan sinus pada permukaan Euklides, bola, dan hiperbolik, yang dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya. Misalkan  menyatakan [[keliling lingkaran]] berdiameter  pada ruang dengan kurvatur konstan . Maka . Akibatnya, aturan sinus juga dapat ditulis ulang sebagai:<math display="block">\frac{\sin A}{p_K(a)} = \frac{\sin B}{p_K(b)} = \frac{\sin C}{p_K(c)} \,.</math>Rumus ini ditemukan oleh [[János Bolyai]].
Pada permukaan secara umum, fungsi sinus dapat diperumum sebagai berikut:<math display="block">\sin_K x = x - \frac{K x^3}{3!} + \frac{K^2 x^5}{5!} - \frac{K^3 x^7}{7!} + \cdots.</math>yang nilainya juga bergantung kurvatur  di posisi <math>x</math> berada. Aturan sinus pada permukaan kurvatur bernilai konstan  menyatakan bahwa<ref>[http://mathworld.wolfram.com/GeneralizedLawofSines.html Generalized law of sines]. ''mathworld''.</ref><math display="block">\frac{\sin A}{\sin_K a} = \frac{\sin B}{\sin_K b} = \frac{\sin C}{\sin_K c} \,.</math>Mensubtitusi nilai , , dan , secara berurutan akan menghasilkan aturan sinus pada permukaan Euklides, bola, dan hiperbolik, yang dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya. Misalkan  menyatakan [[keliling lingkaran]] berdiameter  pada ruang dengan kurvatur konstan . Maka . Akibatnya, aturan sinus juga dapat ditulis ulang sebagai:<math display="block">\frac{\sin A}{p_K(a)} = \frac{\sin B}{p_K(b)} = \frac{\sin C}{p_K(c)} \,.</math>Rumus ini ditemukan oleh [[János Bolyai]].<ref>Svetlana Katok. ''Fuchsian groups''. University of Chicago Press. 1992. hlm. 22. ISBN 0-226-42583-5.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 88: Baris 84:
== Catatan ==
== Catatan ==


== Referensi ==
<references />


== Rujukan ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aturan+sinus&oldid=29389844 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29389844 (2026-06-26T16:00:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


 
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
== Sumber dan atribusi ==
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aturan+sinus&oldid=29389844 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29389844 (2026-06-26T16:00:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 25 Agustus 2026 03.59

Triangle and circumcircle with notations
Untuk kegunaan lain, lihat Sinus (disambiguasi).

Dalam trigonometri, aturan sinus, rumus sinus, atau hukum sinus adalah sebuah persamaan yang memperbandingan panjang sisi-sisi segitiga terhadap sinus sudut-sudutnya. Aturan ini menyatakan bahwaasinα=bsinβ=csinγ=2R,dengan , dan menyatakan panjang-panjang sisi dari segitiga, dan , dan adalah besar sudut-sudut yang menghadap sisi-sisi tersebut (lihat gambar sebagai ilustrasi), sedangkan adalah radius dari lingkaran luar segitiga. Jika radius lingkaran tidak digunakan, aturan sinus terkadang dinyatakan dalam bentuksinαa=sinβb=sinγc.Aturan sinus berguna untuk menghitung sisi yang belum diketahui dari suatu segitiga apabila besar dua sudut dan panjang satu sisinya diketahui. Ini adalah masalah yang umum terjadi ketika melakukan triangulasi. Rumus ini juga dapat digunakan bila diketahui panjang dua sisi dan besar sudut yang tak diapit kedua sisi tersebut. Dalam kasus ini, data mungkin tidak dapat menghasilkan segitiga yang unik, sehingga rumus dapat memberikan dua nilai yang mungkin untuk sudut yang diapit. Aturan sinus juga dapat dipakai untuk menghitung jari-jari lingkaran luar segitiga.

Aturan sinus adalah salah satu dari dua persamaan trigonometrik yang umum digunakan untuk menentukan besar panjang dan sudut pada segitiga, persamaan lain yang digunakan adalah aturan kosinus.

Aturan sinus dapat diperumum ke dimensi yang lebih tinggi, yakni pada permukaan dengan kurvatur yang bernilai konstan.[1]

Sejarah

Hukum sinus bagi segitiga yang terletak pada bola ditemukan pada abad ke-10. Penemuan ini banyak diatribusikan kepada Abu-Mahmud Khojandi, Abul Wafa Muhammad Al Buzjani, Nashiruddin ath-Thusi, dan Abu Nashr Mansur.[2]

Pada abad ke-11, buku Ibn Muʿādh al-Jayyānī' mengandung hukum sinus secara umum.[3][4] Hukum sinus pada bidang [datar] kemudian dinyatakan oleh Nashiruddin ath-Thusi pada abad ke-13.[5] Dalam karyanya Tentang Gambar Sektor, ia menuliskan hukum sinus untuk bidang datar dan untuk permukaan bola, dan memberikan rumus untuk kedua hukum ini.[6]

Pada abad ke-15, matematikawan Jerman Regiomontanus menggunakan hukum sinus sebagai fondasi solusi tentang masalah yang berkaitan dengan segitiga siku-siku. Solusi yang tertulis pada Buku IV-nya pada gilirannya menjadi dasar solusi masalah yang berkaitan dengan segitiga secara umum.[7]

Bukti

Perhatikan segitiga dengan sisi a, b, dan c, dan sudut yang berhadapan A, B, dan C. Tarik garis tinggi h dari sudut C ke sisi c sehingga segitiga ABC terbagi menjadi dua segitiga siku-siku.

Dapat diamati bahwa:

sinA=hb dansinB=ha

Dari persamaan tersebut, dapat diturunkan dua bentuk dari h

h=bsinA=asinB

sehingga diperoleh

sinAa=sinBb.

Memperlakukan garis tinggi dari sudut A dengan cara yang sama, kemudian akan diperoleh:

sinBb=sinCc

Kasus ambigu

Ketika menggunakan aturan sinus untuk menentukan panjang sisi suatu segitiga, kasus ambigu dapat terjadi ketika terdapat dua segitiga dapat dibuat dari informasi yang diketahui (dengan kata lain, akan menghasilkan dua solusi berbeda). Kasus ini mungkin saja terjadi karena ada dua nilai sudut yang benar antara 0° dan 180° yang memiliki nilai sinus yang sama.

Untuk sembarang segitiga, kasus ambigu terjadi apabila kondisi-kondisi berikut terpenuhi:

  • Informasi yang tersedia tentang segitiga hanyalah sudut dan panjang dan .
  • Sudut lancip (yakni, besar sudut < 90°).
  • Sisi lebih pendek daripada sisi (yakni, besar ).
  • Sisi lebih panjang daripada ketinggian ketika diukur dari titik (artinya ), dengan nilai .

Jika semua kondisi tersebut terpenuhi, maka sudut dan menghasilkan dua segitiga yang valid tapi berbeda, mengartikan dua persamaan berikut benar:γ'=arcsincsinαaatauγ=πarcsincsinαa.Dari persamaan di atas, dapat ditentukan besar sudut dan panjang sisi , atau besar sudut dan panjang sisi , jika diperlukan.

Contoh

Diberikan informasi: panjang sisi , sisi , dan sudut , sedangkan nilai sudut ingin dicari. Menggunakan aturan sinus, disimpulkan bahwasinα20=sin(40)24. Sehingga dengan menggunakan invers dari fungsi sinus, arcsinus, didapatkan α=arcsin(20sin(40)24)32.39.Solusi lain dari arcsin adalah nilai . Namun ini tidak digunakan karena akan menghasilkan solusi dengan total sudut segitiga .

Hubungan dengan lingkaran luar segitiga

Pada identitasasinα=bsinβ=csinγ,ketiga pecahan tersebut memiliki nilai yang sama dengan panjang diameter dari lingkaran luar segitiga. Bukti mengenai hal ini dapat ditelusuri sampai ke Ptolemy.[8][9]

Bukti

Seperti terlihat pada gambar, misalkan ada sebuah lingkaran yang memuat segitiga ABC, dan memuat segitiga lain ADB yang sisinya melewati pusat lingkaran O.[10] Sudut AOD memiliki sudut pusat sebesar 180, sehingga sudut ABD=90. Karena merupakan segitiga siku-siku, pada segitiga ABD berlakusinδ=depanmiring=c2R,

dengan R=d2 adalah jari-jari dari lingkaran yang memuat segitiga.[11] Sudut γ dan δ memiliki sudut pusat yang sama, sehingga besar sudut mereka sama: γ=δ. Maka disimpulkan,sinδ=sinγ=c2R.Dengan menyusun kembali suku-suku, dihasilkan2R=csinγ.Proses di atas dapat diulangi dengan membentuk ADB yang berbeda, sehingga menghasilkan persamaan

= \frac{b}{\sin{\beta}} = \frac{c}{\sin{\gamma}}=2R.</math>}}

Hubungan dengan luas segitiga

Menggunakan notasi yang sama dengan bagian sebelumnya, luas dari segitiga ABC adalah L=12absinγ, dengan γ adalah sudut yang diapit oleh sisi dan . Mensubtitusi aturan sinus pada persamaan luas segitiga menghasilkan[12] L=12abc2R=abc4R.Dapat ditunjukkan bahwa persamaan tersebut mengimplikasikanGagal mengurai (fungsi tak dikenal "\begin{align}"): {\displaystyle \begin{align} \frac{abc} {2L} & = \frac{abc} {2\sqrt{s(s-a)(s-b)(s-c)}} \\[6pt] & = \frac {2abc} {\sqrt, \end{align}} dengan s adalah panjang setengah keliling segitiga, yakni s=a+b+c2. Persamaan ini dapat disederhanakan menjadi rumus Heron untuk menghitung luas segitiga.

Aturan sinus juga dapat digunakan untuk menghasilkan rumus berikut untuk menghitung luas lingkaran. Dengan menyatakan S=sinA+sinB+sinC2, dapat ditunjukkan[13]

Kasus hiperbolik

Dalam geometri hiperbolik dengan kurvatur bernilai −1, aturan sinus berubah menjadisinAsinha=sinBsinhb=sinCsinhc.Pada kasus khusus dengan berupa sudut siku-siku, dihasilkansinC=sinhcsinhbyang mirip dengan rumus pada geometri Euklides, yang menyatakan sinus sebagai perbandingan panjang sisi berlawanan dengan sisi hipotenusa.

Pada permukaan bola

Aturan sinus pada permukaan bola memberikan hubungan trigonometrik pada segitiga yang sisi-sisinya berupa lingkaran besar.

Misalkan radius dari bola adalah 1. Misalkan pula , , dan adalah panjang dari segmen-segmen lingkaran besar yang menjadi sisi-sisi segitiga. Karena bola berupa bola satuan, panjang , , dan sama dengan besar-besar sudut (dalam radian) dari pusat bola, yang membentuk segmen-segmen lingkaran besar. Misalkan juga , , dan adalah sudut-sudut yang berhadapan dengan masing-masing sisi segitiga. Aturan sinus pada permukaan bola menyatakan bahwasinAsina=sinBsinb=sinCsinc.

Pada permukaan dengan kurvatur konstan

Pada permukaan secara umum, fungsi sinus dapat diperumum sebagai berikut:sinKx=xKx33!+K2x55!K3x77!+.yang nilainya juga bergantung kurvatur di posisi x berada. Aturan sinus pada permukaan kurvatur bernilai konstan menyatakan bahwa[14]sinAsinKa=sinBsinKb=sinCsinKc.Mensubtitusi nilai , , dan , secara berurutan akan menghasilkan aturan sinus pada permukaan Euklides, bola, dan hiperbolik, yang dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya. Misalkan menyatakan keliling lingkaran berdiameter pada ruang dengan kurvatur konstan . Maka . Akibatnya, aturan sinus juga dapat ditulis ulang sebagai:sinApK(a)=sinBpK(b)=sinCpK(c).Rumus ini ditemukan oleh János Bolyai.[15]

Lihat pula

Catatan

Referensi

  1. Generalized law of sines. mathworld.
  2. Sesiano hanya mencatat al-Wafa sebagai seorang kontributor. Sesiano, Jacques (2000) "Islamic mathematics" pp. 137–157, dalam Helaine Selin. Mathematics Across Cultures: The History of Non-western Mathematics. Springer. 2000. ISBN 1-4020-0260-2. "... .Spherical geometry was based on Menelaus's Spherics (and, in particular, its theorem IIIJ.1) and gave rise through Abu'l-Wafii' al-Buzjani (940-997/8) to the law of sines for spherical triangles, \frac{\sin a}{\sin \alpha} = \frac{\sin b}{\sin \beta} = \frac{\sin c}{\sin \gamma} where a,\,b,\,c are the sides and \alpha,\,\beta,\,\gamma the opposite angles
  3. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  4. Histoire des sciences arabes. 1997. ISBN 2-02-030355-8.
  5. Histoire des sciences arabes. 1997. ISBN 2-02-030355-8.
  6. J. Lennart Berggren. The Mathematics of Egypt, Mesopotamia, China, India, and Islam: A Sourcebook. Princeton University Press. 2007. hlm. 518. ISBN 978-0-691-11485-9.
  7. Glen Van Brummelen (2009). "The mathematics of the heavens and the earth: the early history of trigonometry". Princeton University Press. p.259.
  8. Coxeter, H. S. M. and Greitzer, S. L. Geometry Revisited. Washington, DC: Math. Assoc. Amer., pp. 1–3, 1967
  9. Law of Sines. www.pballew.net.
  10. Memuat, dalam artian semua titik sudut segitiga terletak pada lingkaran.
  11. Law of Sines. www.pballew.net.
  12. Mr. T's Math Videos. Area of a Triangle and Radius of its Circumscribed Circle. 2015-06-10.
  13. Mitchell, Douglas W., "A Heron-type area formula in terms of sines," Mathematical Gazette 93, March 2009, 108–109.
  14. Generalized law of sines. mathworld.
  15. Svetlana Katok. Fuchsian groups. University of Chicago Press. 1992. hlm. 22. ISBN 0-226-42583-5.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29389844 (2026-06-26T16:00:47Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.