Lompat ke isi

Liminalitas: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29506029; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Baris 1: Baris 1:
Dalam [[antropologi]], '''liminalitas''' () merujuk pada suatu keadaan [[ambiguitas]] atau [[disorientasi]] yang muncul pada tahap pertengahan dalam sebuah [[ritus peralihan]], ketika para pesertanya tidak lagi memiliki status sebelum upacara, tetapi juga belum sepenuhnya memasuki status baru yang akan mereka sandang setelah ritus tersebut selesai. Pada tahap liminal suatu upacara, para peserta "berdiri di ambang batas" antara cara lama mereka menata identitas, waktu, atau komunitas dengan cara baru yang akan ditetapkan melalui penyelesaian ritus tersebut.
[[File:Initiation_ritual_of_boys_in_Malawi.jpg|thumb|right|280px|Initiation ritual of boys in Malawi]]


Konsep liminalitas pertama kali dikembangkan pada awal abad ke-20 oleh ahli [[etnografi]] [[Arnold van Gennep]], dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh [[Victor Turner]]. Dalam perkembangan mutakhir, penggunaan istilah ini telah meluas untuk menjelaskan perubahan politik dan kultural, selain sekadar ritus keagamaan atau sosial.
Dalam [[antropologi]], '''liminalitas''' ()<ref>"liminal", ''Oxford English Dictionary''. Ed. J. A. Simpson dan E. S. C. Weiner. Edisi ke-2. Oxford: Clarendon Press, 1989. OED Online Oxford 23, 2007; cf. ''subliminal''.</ref> merujuk pada suatu keadaan [[ambiguitas]] atau [[disorientasi]] yang muncul pada tahap pertengahan dalam sebuah [[ritus peralihan]], ketika para pesertanya tidak lagi memiliki status sebelum upacara, tetapi juga belum sepenuhnya memasuki status baru yang akan mereka sandang setelah ritus tersebut selesai.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref> Pada tahap liminal suatu upacara, para peserta "berdiri di ambang batas"<ref>''Nordic Work with Traumatised Refugees: Do We Really Care''. Cambridge Scholars Publishing. 2014. hlm. 194. ISBN 978-1-4438-6777-1.</ref> antara cara lama mereka menata identitas, waktu, atau komunitas dengan cara baru yang akan ditetapkan melalui penyelesaian ritus tersebut.


Selama periode liminal dalam berbagai bentuknya, [[hierarki sosial]] dapat dibalik atau sementara waktu dilenyapkan, kesinambungan [[tradisi]] dapat menjadi kabur, dan masa depan yang sebelumnya dianggap pasti dapat dipertanyakan kembali. Peluruhan tatanan selama tahap liminal menciptakan keadaan yang cair dan lentur, memungkinkan terbentuknya lembaga serta kebiasaan baru. Istilah ini juga telah merambah ke dalam penggunaan umum, dan diperluas untuk mencakup pengalaman-pengalaman liminoid yang lebih relevan dengan [[masyarakat pascaindustri]].
Konsep liminalitas pertama kali dikembangkan pada awal abad ke-20 oleh ahli [[etnografi]] [[Arnold van Gennep]], dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh [[Victor Turner]].<ref>"Liminality and Communitas", dalam ''The Ritual Process: Structure and Anti-Structure'' (New Brunswick: Aldine Transaction Press, 2008).</ref> Dalam perkembangan mutakhir, penggunaan istilah ini telah meluas untuk menjelaskan perubahan politik dan kultural, selain sekadar ritus keagamaan atau sosial.<ref>Ira Katznelson. ''Measuring Liberalism, Confronting Evil: A Retrospective''. ''Annual Review of Political Science''. 11 May 2021. Vol. 24 (1). hlm. 1–19. doi:10.1146/annurev-polisci-042219-030219.</ref><ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref>
 
Selama periode liminal dalam berbagai bentuknya, [[hierarki sosial]] dapat dibalik atau sementara waktu dilenyapkan, kesinambungan [[tradisi]] dapat menjadi kabur, dan masa depan yang sebelumnya dianggap pasti dapat dipertanyakan kembali.<ref>A. Horvath. ''Introduction: Liminality and Cultures of Change''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 3–4.</ref> Peluruhan tatanan selama tahap liminal menciptakan keadaan yang cair dan lentur, memungkinkan terbentuknya lembaga serta kebiasaan baru.<ref>A. Szakolczai. ''Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.</ref> Istilah ini juga telah merambah ke dalam penggunaan umum, dan diperluas untuk mencakup pengalaman-pengalaman liminoid yang lebih relevan dengan [[masyarakat pascaindustri]].<ref>Thomas Barfield. [https://archive.org/details/isbn_9781577180579 The Dictionary of Anthropology]. 1997. hlm. [https://archive.org/details/isbn_9781577180579/page/476 477].</ref>


==Ritus peralihan==
==Ritus peralihan==
===Arnold van Gennep===
===Arnold van Gennep===
Van Gennep, yang menciptakan istilah liminalitas, menerbitkan karyanya pada tahun 1909 berjudul ''Rites de Passage'', sebuah penelitian yang menelaah dan mengembangkan konsep liminalitas dalam konteks berbagai ritus pada masyarakat berskala kecil.<ref>Arnold van Gennep. ''The rites of passage''. Routledge & Kegan Paul. 1977. hlm. 21. ISBN 978-0-7100-8744-7.</ref> Ia memulai bukunya dengan mengidentifikasi beragam kategori ritus, dan membedakan antara ritus yang mengubah status individu atau kelompok sosial, serta ritus yang menandai peralihan dalam perjalanan waktu. Dalam hal ini, ia memberi penekanan khusus pada [[Rite of passage|ritus peralihan]], dan menyatakan bahwa "ritual-ritual semacam ini, yang menandai, membantu, atau merayakan peralihan individu maupun kolektif dalam siklus kehidupan atau alam, dapat ditemukan di setiap kebudayaan, dan semuanya memiliki struktur tiga tahap yang khas."<ref>A. Szakolczai. ''Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.</ref>


Van Gennep, yang menciptakan istilah liminalitas, menerbitkan karyanya pada tahun 1909 berjudul ''Rites de Passage'', sebuah penelitian yang menelaah dan mengembangkan konsep liminalitas dalam konteks berbagai ritus pada masyarakat berskala kecil. Ia memulai bukunya dengan mengidentifikasi beragam kategori ritus, dan membedakan antara ritus yang mengubah status individu atau kelompok sosial, serta ritus yang menandai peralihan dalam perjalanan waktu. Dalam hal ini, ia memberi penekanan khusus pada [[Rite of passage|ritus peralihan]], dan menyatakan bahwa "ritual-ritual semacam ini, yang menandai, membantu, atau merayakan peralihan individu maupun kolektif dalam siklus kehidupan atau alam, dapat ditemukan di setiap kebudayaan, dan semuanya memiliki struktur tiga tahap yang khas."
Struktur tiga tahap tersebut, sebagaimana dirumuskan oleh van Gennep, terdiri atas komponen-komponen berikut:<ref>Arnold van Gennep. ''The rites of passage''. Routledge & Kegan Paul. 1977. hlm. 21. ISBN 978-0-7100-8744-7.</ref>
 
Struktur tiga tahap tersebut, sebagaimana dirumuskan oleh van Gennep, terdiri atas komponen-komponen berikut:


* ''ritus preliminal'' (atau ''ritus pemisahan''): Tahap ini melibatkan "kematian" metaforis, ketika seorang inisiatus dipaksa meninggalkan sesuatu di belakang dengan memutus hubungan dari kebiasaan dan pola hidup sebelumnya.
* ''ritus preliminal'' (atau ''ritus pemisahan''): Tahap ini melibatkan "kematian" metaforis, ketika seorang inisiatus dipaksa meninggalkan sesuatu di belakang dengan memutus hubungan dari kebiasaan dan pola hidup sebelumnya.
* ''ritus liminal'' (atau ''ritus transisi''): Dua ciri utama melekat pada ritus ini. Pertama, ritus harus mengikuti urutan yang telah ditentukan secara ketat, di mana setiap orang mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Kedua, seluruh proses harus berada di bawah kewenangan seorang pemimpin upacara. Sifat destruktif dari ritus ini memungkinkan terjadinya perubahan besar dalam identitas sang inisiatus. Tahap pertengahan ini—saat peralihan berlangsung—"menandai sebuah langkah nyata melintasi ambang batas yang memisahkan dua fase, dan istilah "liminalitas" diperkenalkan untuk menggambarkan perlintasan ini."
* ''ritus liminal'' (atau ''ritus transisi''): Dua ciri utama melekat pada ritus ini. Pertama, ritus harus mengikuti urutan yang telah ditentukan secara ketat, di mana setiap orang mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.<ref>A. Szakolczai. ''Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.</ref> Kedua, seluruh proses harus berada di bawah kewenangan seorang pemimpin upacara.<ref>A. Szakolczai. ''Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.</ref> Sifat destruktif dari ritus ini memungkinkan terjadinya perubahan besar dalam identitas sang inisiatus. Tahap pertengahan ini—saat peralihan berlangsung—"menandai sebuah langkah nyata melintasi ambang batas yang memisahkan dua fase, dan istilah "liminalitas" diperkenalkan untuk menggambarkan perlintasan ini."<ref>A. Szakolczai. ''Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.</ref>
* ''ritus postliminal'' (atau ''ritus penggabungan''): Pada tahap ini, sang inisiatus diintegrasikan kembali ke dalam masyarakat dengan identitas baru, sebagai makhluk yang "terlahir kembali".
* ''ritus postliminal'' (atau ''ritus penggabungan''): Pada tahap ini, sang inisiatus diintegrasikan kembali ke dalam masyarakat dengan identitas baru, sebagai makhluk yang "terlahir kembali".


Turner kemudian menegaskan penamaan tiga tahap tersebut sebagai "tahapan peralihan dari satu keadaan atau status budaya ke keadaan lainnya: ''preliminal'', ''liminal'', dan ''postliminal''."
Turner kemudian menegaskan penamaan tiga tahap tersebut sebagai "tahapan peralihan dari satu keadaan atau status budaya ke keadaan lainnya: ''preliminal'', ''liminal'', dan ''postliminal''."<ref>Victor W. Turner, ''The Ritual Process'' (Penguin 1969) hlm. 155.</ref>


Selain struktur tiga tahap tersebut, Van Gennep juga mengemukakan empat kategori ritus yang ia anggap bersifat universal di berbagai kebudayaan dan masyarakat. Ia berpendapat bahwa terdapat empat jenis ritus sosial peralihan yang dapat dikenali dan ditemukan kembali di banyak komunitas etnografis. Keempatnya meliputi:
Selain struktur tiga tahap tersebut, Van Gennep juga mengemukakan empat kategori ritus yang ia anggap bersifat universal di berbagai kebudayaan dan masyarakat. Ia berpendapat bahwa terdapat empat jenis ritus sosial peralihan yang dapat dikenali dan ditemukan kembali di banyak komunitas etnografis.<ref>Hazel Andrews. ''International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences''. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.</ref> Keempatnya meliputi:


* Peralihan individu dari satu status ke status lain, seperti upacara inisiasi di mana seorang "orang luar" diterima menjadi bagian dari kelompok. Contohnya adalah pernikahan dan upacara kedewasaan yang menandai perpindahan dari status orang luar menjadi anggota penuh.
* Peralihan individu dari satu status ke status lain, seperti upacara inisiasi di mana seorang "orang luar" diterima menjadi bagian dari kelompok. Contohnya adalah pernikahan dan upacara kedewasaan yang menandai perpindahan dari status orang luar menjadi anggota penuh.
* Peralihan dari satu tempat ke tempat lain, misalnya pindah rumah atau berpindah ke kota baru.
* Peralihan dari satu tempat ke tempat lain, misalnya pindah rumah atau berpindah ke kota baru.
* Peralihan dari satu situasi ke situasi lainnya: seperti memulai studi di universitas, bekerja di tempat baru, atau lulus dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi.
* Peralihan dari satu situasi ke situasi lainnya: seperti memulai studi di universitas, bekerja di tempat baru, atau lulus dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi.
* Peralihan waktu, seperti perayaan Tahun Baru atau ulang tahun.
* Peralihan waktu, seperti perayaan Tahun Baru atau ulang tahun.<ref>Hazel Andrews. ''International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences''. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.</ref>


Van Gennep menganggap ritus [[inisiasi]] sebagai bentuk ritus yang paling khas. Untuk memahami dengan lebih baik "struktur tiga tahap" dalam situasi liminal, dapat dilihat pada contoh ritus inisiasi menuju kedewasaan—yang juga dianggap Turner sebagai bentuk ritus paling representatif. Dalam ritus seperti ini, pengalaman peserta diatur dengan ketat. Tahap pertama (pemisahan) mengharuskan anak untuk berpisah dari keluarganya; hal ini melambangkan "kematian" masa kanak-kanak, karena [[masa kanak-kanak]] telah ditinggalkan. Pada tahap kedua, para inisiatus—yang berada di antara masa kanak-kanak dan dewasa—harus melalui sebuah "ujian" untuk membuktikan kesiapan mereka memasuki kedewasaan. Bila berhasil, tahap ketiga (penggabungan) dirayakan sebagai "kelahiran kembali" sang individu dewasa dan penyambutan mereka kembali ke dalam masyarakat.
Van Gennep menganggap ritus [[inisiasi]] sebagai bentuk ritus yang paling khas. Untuk memahami dengan lebih baik "struktur tiga tahap" dalam situasi liminal, dapat dilihat pada contoh ritus inisiasi menuju kedewasaan—yang juga dianggap Turner sebagai bentuk ritus paling representatif. Dalam ritus seperti ini, pengalaman peserta diatur dengan ketat. Tahap pertama (pemisahan) mengharuskan anak untuk berpisah dari keluarganya; hal ini melambangkan "kematian" masa kanak-kanak, karena [[masa kanak-kanak]] telah ditinggalkan. Pada tahap kedua, para inisiatus—yang berada di antara masa kanak-kanak dan dewasa—harus melalui sebuah "ujian" untuk membuktikan kesiapan mereka memasuki kedewasaan. Bila berhasil, tahap ketiga (penggabungan) dirayakan sebagai "kelahiran kembali" sang individu dewasa dan penyambutan mereka kembali ke dalam masyarakat.


Dengan merumuskan urutan tiga bagian ini, van Gennep menemukan pola yang diyakininya melekat dalam semua bentuk peralihan ritual. Dengan menyatakan bahwa pola tersebut bersifat universal—yakni bahwa setiap masyarakat memiliki ritus untuk menandai peralihan—van Gennep mengajukan klaim penting (yang jarang dibuat oleh antropolog, karena sebagian besar cenderung menekankan [[keragaman budaya]] daripada prinsip universal).
Dengan merumuskan urutan tiga bagian ini, van Gennep menemukan pola yang diyakininya melekat dalam semua bentuk peralihan ritual. Dengan menyatakan bahwa pola tersebut bersifat universal—yakni bahwa setiap masyarakat memiliki ritus untuk menandai peralihan—van Gennep mengajukan klaim penting (yang jarang dibuat oleh antropolog, karena sebagian besar cenderung menekankan [[keragaman budaya]] daripada prinsip universal).<ref>Hazel Andrews. ''International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences''. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.</ref>


Sebuah ritus antropologis, khususnya [[ritus peralihan]], selalu membawa perubahan bagi para pesertanya, terutama dalam hal [[status sosial]]. Dalam tahap pertama (pemisahan), terdapat perilaku simbolis yang menandakan pelepasan individu dari titik tetap dalam struktur sosial sebelumnya. Status mereka dengan demikian menjadi liminal. Dalam situasi semacam ini, "para inisiatus hidup di luar lingkungan normal mereka dan dibawa untuk mempertanyakan diri sendiri serta tatanan sosial yang ada melalui serangkaian ritual yang kerap melibatkan unsur penderitaan: para inisiatus merasakan diri mereka tanpa nama, tercerabut dari ruang dan waktu, serta tanpa struktur sosial." Dalam pengertian ini, masa-masa liminal bersifat "destruktif" sekaligus "konstruktif", karena pengalaman yang terbentuk selama tahap liminal akan mempersiapkan sang inisiatus (beserta kelompoknya) untuk menempati peran atau status sosial baru, yang kemudian diumumkan secara terbuka dalam ritus reintegrasi.
Sebuah ritus antropologis, khususnya [[ritus peralihan]], selalu membawa perubahan bagi para pesertanya, terutama dalam hal [[status sosial]].<ref>Victor Turner, "Betwixt and Between: The Liminal Period in Rites de Passage", dalam ''The Forest of Symbols'' (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1967).</ref> Dalam tahap pertama (pemisahan), terdapat perilaku simbolis yang menandakan pelepasan individu dari titik tetap dalam struktur sosial sebelumnya.<ref>Turner, ''Ritual'' hlm. 80</ref> Status mereka dengan demikian menjadi liminal. Dalam situasi semacam ini, "para inisiatus hidup di luar lingkungan normal mereka dan dibawa untuk mempertanyakan diri sendiri serta tatanan sosial yang ada melalui serangkaian ritual yang kerap melibatkan unsur penderitaan: para inisiatus merasakan diri mereka tanpa nama, tercerabut dari ruang dan waktu, serta tanpa struktur sosial."<ref>Bjørn Thomassen. ''Liminality''. Routledge. 2006. hlm. 322–323.</ref> Dalam pengertian ini, masa-masa liminal bersifat "destruktif" sekaligus "konstruktif", karena pengalaman yang terbentuk selama tahap liminal akan mempersiapkan sang inisiatus (beserta kelompoknya) untuk menempati peran atau status sosial baru, yang kemudian diumumkan secara terbuka dalam ritus reintegrasi.<ref>Bjørn Thomassen. ''Liminality''. Routledge. 2006. hlm. 322–323.</ref>


===Victor Turner===
===Victor Turner===
Turner, yang dianggap telah "menemukan kembali pentingnya konsep liminalitas", pertama kali mengenal karya van Gennep pada tahun 1963.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Pada tahun 1967, ia menerbitkan bukunya ''The Forest of Symbols'', yang memuat sebuah [[esai]] berjudul ''Betwixt and Between: The Liminal Period in Rites of Passage''. Melalui karya-karyanya, Turner memperluas cakupan konsep liminalitas dari penerapan sempitnya dalam ritus peralihan pada masyarakat berskala kecil.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Dalam berbagai hasil penelitiannya di kalangan suku Ndembu di [[Zambia]], ia membangun banyak jembatan konseptual antara masyarakat [[suku]] dan masyarakat non-suku, "merasakan bahwa apa yang ia temukan pada masyarakat Ndembu memiliki relevansi yang jauh melampaui konteks [[etnografi]]s tertentu."<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Ia kemudian menyadari bahwa liminalitas "…tidak hanya berguna untuk mengidentifikasi pentingnya masa-masa peralihan, tetapi juga untuk memahami reaksi manusia terhadap pengalaman liminal: bagaimana liminalitas membentuk kepribadian, memunculkan kesadaran akan agensi secara tiba-tiba, dan mengikat erat antara pemikiran serta pengalaman dalam cara yang kadang dramatis."<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref>


Turner, yang dianggap telah "menemukan kembali pentingnya konsep liminalitas", pertama kali mengenal karya van Gennep pada tahun 1963. Pada tahun 1967, ia menerbitkan bukunya ''The Forest of Symbols'', yang memuat sebuah [[esai]] berjudul ''Betwixt and Between: The Liminal Period in Rites of Passage''. Melalui karya-karyanya, Turner memperluas cakupan konsep liminalitas dari penerapan sempitnya dalam ritus peralihan pada masyarakat berskala kecil. Dalam berbagai hasil penelitiannya di kalangan suku Ndembu di [[Zambia]], ia membangun banyak jembatan konseptual antara masyarakat [[suku]] dan masyarakat non-suku, "merasakan bahwa apa yang ia temukan pada masyarakat Ndembu memiliki relevansi yang jauh melampaui konteks [[etnografi]]s tertentu." Ia kemudian menyadari bahwa liminalitas "…tidak hanya berguna untuk mengidentifikasi pentingnya masa-masa peralihan, tetapi juga untuk memahami reaksi manusia terhadap pengalaman liminal: bagaimana liminalitas membentuk kepribadian, memunculkan kesadaran akan agensi secara tiba-tiba, dan mengikat erat antara pemikiran serta pengalaman dalam cara yang kadang dramatis."
"Sifat-sifat dari liminalitas, atau dari ''personae liminal'' (‘manusia ambang’), pada dasarnya bersifat ambigu."<ref>Turner ''Ritual'' hlm. 81</ref> Dalam keadaan ini, rasa [[identitas (ilmu sosial)|identitas]] seseorang dapat memudar, menimbulkan disorientasi, tetapi sekaligus membuka kemungkinan bagi munculnya perspektif baru. Turner berpendapat bahwa jika liminalitas dipandang sebagai masa dan ruang penarikan diri dari pola tindakan sosial yang lazim, maka ia dapat pula dilihat sebagai periode peninjauan terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar kebudayaan di mana hal itu terjadi.<ref>Turner, ''Ritual'' hlm. 156</ref> Dalam situasi semacam ini, "batas-batas normal dalam berpikir, memahami diri, dan bertingkah laku menjadi terlebur," dan "struktur masyarakat itu sendiri [sementara waktu] ditangguhkan."<ref>A. Szakolczai. ''Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.</ref>
 
"Sifat-sifat dari liminalitas, atau dari ''personae liminal'' (‘manusia ambang’), pada dasarnya bersifat ambigu." Dalam keadaan ini, rasa [[identitas (ilmu sosial)|identitas]] seseorang dapat memudar, menimbulkan disorientasi, tetapi sekaligus membuka kemungkinan bagi munculnya perspektif baru. Turner berpendapat bahwa jika liminalitas dipandang sebagai masa dan ruang penarikan diri dari pola tindakan sosial yang lazim, maka ia dapat pula dilihat sebagai periode peninjauan terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar kebudayaan di mana hal itu terjadi. Dalam situasi semacam ini, "batas-batas normal dalam berpikir, memahami diri, dan bertingkah laku menjadi terlebur," dan "struktur masyarakat itu sendiri [sementara waktu] ditangguhkan."


Menurut Turner, seluruh keadaan liminal pada akhirnya harus berakhir, sebab ia merupakan kondisi yang sangat intens dan tidak dapat bertahan lama tanpa adanya struktur yang menstabilkannya. Setelah masa itu, individu akan kembali ke struktur sosial yang melingkupinya—atau, dalam beberapa kasus, komunitas liminal akan mengembangkan struktur sosial internalnya sendiri, suatu keadaan yang disebut Turner sebagai "''communitas normatif''".
Menurut Turner, seluruh keadaan liminal pada akhirnya harus berakhir, sebab ia merupakan kondisi yang sangat intens dan tidak dapat bertahan lama tanpa adanya struktur yang menstabilkannya. Setelah masa itu, individu akan kembali ke struktur sosial yang melingkupinya—atau, dalam beberapa kasus, komunitas liminal akan mengembangkan struktur sosial internalnya sendiri, suatu keadaan yang disebut Turner sebagai "''communitas normatif''".<ref>Peter Homas, ''Jung in Context'' (London 1979) hlm. 207</ref>


Turner juga mengembangkan gagasan mengenai ''communitas'', yakni perasaan kebersamaan yang muncul di antara sekelompok orang yang mengalami pengalaman atau ritus liminal yang sama. Ia membedakan tiga bentuk ''communitas'' yang berbeda, meskipun tidak selalu berurutan, dan menggambarkannya sebagai "keadaan ‘anti-struktural’ yang hadir dalam fase liminal suatu bentuk ritual."
Turner juga mengembangkan gagasan mengenai ''communitas'', yakni perasaan kebersamaan yang muncul di antara sekelompok orang yang mengalami pengalaman atau ritus liminal yang sama.<ref>Graham St John. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse Victor Turner and Contemporary Cultural Performance]. Berghahn Books. 2008. hlm. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse/page/126 127]. ISBN 978-0-85745-037-1.</ref> Ia membedakan tiga bentuk ''communitas'' yang berbeda, meskipun tidak selalu berurutan, dan menggambarkannya sebagai "keadaan ‘anti-struktural’ yang hadir dalam fase liminal suatu bentuk ritual."<ref>Graham St John. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse Victor Turner and Contemporary Cultural Performance]. Berghahn Books. 2008. hlm. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse/page/126 127]. ISBN 978-0-85745-037-1.</ref> 
Bentuk pertama, ''communitas spontan'', digambarkan sebagai "konfrontasi langsung, seketika, dan total dari identitas-identitas manusia," di mana para peserta merasakan sinkronisitas dan keterlibatan penuh dalam satu peristiwa yang mengalir secara menyatu.
Bentuk pertama, ''communitas spontan'', digambarkan sebagai "konfrontasi langsung, seketika, dan total dari identitas-identitas manusia," di mana para peserta merasakan sinkronisitas dan keterlibatan penuh dalam satu peristiwa yang mengalir secara menyatu.<ref>Graham St John. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse Victor Turner and Contemporary Cultural Performance]. Berghahn Books. 2008. hlm. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse/page/126 127]. ISBN 978-0-85745-037-1.</ref> 
Bentuk kedua, ''communitas ideologis'', berusaha mengganggu spontanitas tersebut melalui intervensi tertentu demi membentuk suatu masyarakat utopis, di mana seluruh tindakan dijalankan dalam semangat ''communitas'' spontan.
Bentuk kedua, ''communitas ideologis'', berusaha mengganggu spontanitas tersebut melalui intervensi tertentu demi membentuk suatu masyarakat utopis, di mana seluruh tindakan dijalankan dalam semangat ''communitas'' spontan.<ref>Graham St John. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse Victor Turner and Contemporary Cultural Performance]. Berghahn Books. 2008. hlm. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse/page/126 127]. ISBN 978-0-85745-037-1.</ref> 
Sedangkan bentuk ketiga, ''communitas normatif'', berkaitan dengan kelompok masyarakat yang berupaya menumbuhkan hubungan dan mempertahankan ''communitas'' spontan secara lebih permanen, dengan menundukkannya pada hukum sosial dan pada akhirnya "menjinakkan anugerah" dari bentuk kebersamaan yang murni itu.
Sedangkan bentuk ketiga, ''communitas normatif'', berkaitan dengan kelompok masyarakat yang berupaya menumbuhkan hubungan dan mempertahankan ''communitas'' spontan secara lebih permanen, dengan menundukkannya pada hukum sosial dan pada akhirnya "menjinakkan anugerah" dari bentuk kebersamaan yang murni itu.<ref>Graham St John. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse Victor Turner and Contemporary Cultural Performance]. Berghahn Books. 2008. hlm. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse/page/126 127]. ISBN 978-0-85745-037-1.</ref>


Karya-karya Victor Turner memiliki arti penting dalam menghidupkan kembali konsep yang diperkenalkan oleh Arnold van Gennep. Namun, pendekatan Turner terhadap liminalitas juga memiliki dua keterbatasan besar. Pertama, ia cenderung membatasi makna konsep tersebut pada konteks konkret masyarakat suku kecil, dan untuk dunia modern ia menciptakan istilah baru "''liminoid''" guna menganalisis fenomena serupa dalam kebudayaan kontemporer. Namun demikian, [[Agnes Horvath]] (2013) berpendapat bahwa istilah tersebut tetap dapat—dan seharusnya—diterapkan pada peristiwa sejarah konkret, karena menawarkan sarana penting untuk pemahaman historis dan sosiologis. Kedua, Turner cenderung memberikan makna positif yang tunggal pada situasi liminal, seolah-olah selalu berfungsi sebagai sarana pembaruan. Padahal, pengalaman liminal juga dapat menjadi masa ketidakpastian, kecemasan, bahkan ketakutan eksistensial—yakni ketika manusia berhadapan langsung dengan "jurang kehampaan".
Karya-karya Victor Turner memiliki arti penting dalam menghidupkan kembali konsep yang diperkenalkan oleh Arnold van Gennep. Namun, pendekatan Turner terhadap liminalitas juga memiliki dua keterbatasan besar. Pertama, ia cenderung membatasi makna konsep tersebut pada konteks konkret masyarakat suku kecil, dan untuk dunia modern ia menciptakan istilah baru "''liminoid''" guna menganalisis fenomena serupa dalam kebudayaan kontemporer. Namun demikian, [[Agnes Horvath]] (2013) berpendapat bahwa istilah tersebut tetap dapat—dan seharusnya—diterapkan pada peristiwa sejarah konkret, karena menawarkan sarana penting untuk pemahaman historis dan sosiologis. Kedua, Turner cenderung memberikan makna positif yang tunggal pada situasi liminal, seolah-olah selalu berfungsi sebagai sarana pembaruan. Padahal, pengalaman liminal juga dapat menjadi masa ketidakpastian, kecemasan, bahkan ketakutan eksistensial—yakni ketika manusia berhadapan langsung dengan "jurang kehampaan".<ref>Agnes Horvath. ''Modernism and Charisma''. Palgrave Macmillan UK. 2013. doi:10.1057/9781137277862. ISBN 978-1-349-44741-1.</ref>


===Teori liminalitas masa kini===
===Teori liminalitas masa kini===
 
Dalam antologi-antologi kontemporer seperti ''Neither Here nor There: The Many Voices of Liminality''<ref>Carson, ed; The Lutterworth Press, 2019</ref> dan ''The Liminal Loop: Astonishing Stories of Discovery and Hope'',<ref>The Lutterworth Press, 2022</ref> tema liminalitas kini dieksplorasi secara luas melalui beragam bidang dan pengalaman manusia. Karya-karya tersebut menyoroti beragam topik seperti tafsir puitis tentang keadaan di antara dua batas, pandangan masyarakat Amerika Tengah tentang "ruang antara", perjalanan ziarah dan transformasi spiritual, masa krisis dan peralihan, perang dan bencana alam, adopsi lintas budaya, perubahan iklim dan spiritualitas, pergeseran keagamaan, konsep ''cyborg'', penyakit berat, kehidupan di penjara, keruntuhan dan rekonstruksi sosial, gender dan komunitas dalam konflik, petualangan ekstrem, proses inisiasi dan transisi, ritual, bentuk-bentuk liminalitas yang kompleks, praktik spiritual, pengalaman masyarakat kulit hitam, pendidikan lintas negara, genosida, praktik terapeutik, keruntuhan ekologis, hingga dunia seni.
Dalam antologi-antologi kontemporer seperti ''Neither Here nor There: The Many Voices of Liminality'' dan ''The Liminal Loop: Astonishing Stories of Discovery and Hope'', tema liminalitas kini dieksplorasi secara luas melalui beragam bidang dan pengalaman manusia. Karya-karya tersebut menyoroti beragam topik seperti tafsir puitis tentang keadaan di antara dua batas, pandangan masyarakat Amerika Tengah tentang "ruang antara", perjalanan ziarah dan transformasi spiritual, masa krisis dan peralihan, perang dan bencana alam, adopsi lintas budaya, perubahan iklim dan spiritualitas, pergeseran keagamaan, konsep ''cyborg'', penyakit berat, kehidupan di penjara, keruntuhan dan rekonstruksi sosial, gender dan komunitas dalam konflik, petualangan ekstrem, proses inisiasi dan transisi, ritual, bentuk-bentuk liminalitas yang kompleks, praktik spiritual, pengalaman masyarakat kulit hitam, pendidikan lintas negara, genosida, praktik terapeutik, keruntuhan ekologis, hingga dunia seni.


Berbagai pemikir dan praktisi dalam antologi tersebut menelaah seluruh tema ini dalam terang sifat liminalnya—sebagai ruang ambang di mana batas-batas lama larut, dan potensi makna baru mulai terbentuk.
Berbagai pemikir dan praktisi dalam antologi tersebut menelaah seluruh tema ini dalam terang sifat liminalnya—sebagai ruang ambang di mana batas-batas lama larut, dan potensi makna baru mulai terbentuk.


==Jenis-jenis==
==Jenis-jenis==
Liminalitas memiliki dimensi ruang sekaligus waktu, dan dapat diterapkan pada beragam subjek: individu, kelompok yang lebih besar (seperti kohort atau desa), keseluruhan masyarakat, bahkan mungkin seluruh peradaban.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Tabel berikut merangkum berbagai dimensi dan subjek pengalaman liminal, serta menampilkan ciri utama dan contoh kunci dari masing-masing kategori.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref>


Liminalitas memiliki dimensi ruang sekaligus waktu, dan dapat diterapkan pada beragam subjek: individu, kelompok yang lebih besar (seperti kohort atau desa), keseluruhan masyarakat, bahkan mungkin seluruh peradaban. Tabel berikut merangkum berbagai dimensi dan subjek pengalaman liminal, serta menampilkan ciri utama dan contoh kunci dari masing-masing kategori.
{| class="wikitable"
|-
!  !! Individu !! Kelompok !! Masyarakat
|-
! Momen
|
* Peristiwa mendadak yang memengaruhi kehidupan seseorang (pernikahan, kematian, perceraian, penyakit, pensiun); 
* Ritus peralihan individual (pembaptisan, upacara kedewasaan, seperti yang ditemukan pada masyarakat [[Ndembu]]).
||
* Ritus peralihan menuju kedewasaan (biasanya dilakukan dalam kelompok kohort); 
* Upacara kelulusan, dan sejenisnya.
||
* Seluruh masyarakat yang menghadapi peristiwa mendadak (seperti invasi, bencana alam, atau wabah) di mana pembedaan sosial dan [[hierarki]] normal lenyap; 
* Karnaval; 
* [[Revolusi]].
|-
! Periode
|
* Tahap-tahap kritis dalam kehidupan; 
* Masa pubertas atau remaja; 
* Kehamilan; 
* Menopause.
||
* Ritus peralihan menuju kedewasaan yang dalam beberapa masyarakat dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan; 
* Perjalanan kelompok; 
* Menempuh pendidikan di universitas atau perguruan tinggi, atau mengambil [[tahun jeda]] antara sekolah menengah dan universitas.
||
* Masa peperangan; 
* Periode revolusioner.
|-
! Epos (atau durasi seumur hidup)
|
* Individu yang berdiri “di luar masyarakat,” baik karena pilihan pribadi maupun penetapan sosial (misalnya orang yang [[pengasingan|diasingkan]]); 
* Kehidupan membiara; 
* Dalam beberapa masyarakat suku, individu yang gagal melewati ritus peralihan tertentu dianggap tetap “berbahaya” atau terpinggirkan; 
* Dalam budaya tertentu, anak kembar dianggap secara permanen liminal.
||
* Persaudaraan keagamaan, minoritas etnis, serta minoritas seksual dan gender; 
* Kelompok imigran yang berada “di antara dua dunia”; 
* Kebudayaan lama dan baru yang saling bertemu; 
* Kelompok yang hidup di pinggiran struktur sosial “normal”, dan dapat dipersepsikan sebagai berbahaya (misalnya kaum punk) dan/atau “suci” (seperti para biarawan dengan kaul ketat).
||
* Perang yang berkepanjangan, ketidakstabilan politik yang terus-menerus, kebingungan intelektual yang berlarut-larut; 
* Penyatuan dan reproduksi liminalitas ke dalam “struktur”; 
* [[Modernitas]] sebagai bentuk “liminalitas permanen”.
|}


 
Variabel penting lainnya adalah “skala,” atau “tingkat” sejauh mana individu atau kelompok mengalami liminalitas.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Dengan kata lain, “terdapat derajat-derajat liminalitas, dan tingkatnya bergantung pada sejauh mana pengalaman liminal dapat diukur terhadap struktur yang masih bertahan.”<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Ketika dimensi ruang dan waktu sama-sama terpengaruh, intensitas pengalaman liminal meningkat, mendekati apa yang disebut sebagai “liminalitas murni.”<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref>
Variabel penting lainnya adalah “skala,” atau “tingkat” sejauh mana individu atau kelompok mengalami liminalitas. Dengan kata lain, “terdapat derajat-derajat liminalitas, dan tingkatnya bergantung pada sejauh mana pengalaman liminal dapat diukur terhadap struktur yang masih bertahan.” Ketika dimensi ruang dan waktu sama-sama terpengaruh, intensitas pengalaman liminal meningkat, mendekati apa yang disebut sebagai “liminalitas murni.”


==Dalam masyarakat skala besar==
==Dalam masyarakat skala besar==
Konsep situasi liminal juga dapat diterapkan pada keseluruhan masyarakat yang tengah menghadapi krisis atau mengalami "keruntuhan tatanan".<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Filsuf [[Karl Jaspers]] memberikan sumbangan penting terhadap gagasan ini melalui konsepnya tentang "[[Zaman Poros]]" (''Axial Age''), yang ia pandang sebagai "masa di antara dua [[pandangan dunia]] yang terstruktur serta dua siklus pembangunan kekaisaran; suatu zaman penuh kreativitas ketika 'manusia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan radikal,' dan ketika 'genggaman hidup yang tak tergugat mulai mengendur'."<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Zaman ini pada hakikatnya merupakan masa ketidakpastian yang melibatkan seluruh peradaban.


Karena periode liminal bersifat sekaligus destruktif dan konstruktif, gagasan serta praktik yang lahir dari masa-masa liminal historis ini menjadi sangat penting, sebab ia akan "cenderung mengambil bentuk suatu struktur baru".<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Peristiwa-peristiwa seperti revolusi politik atau sosial (beserta krisis lainnya) dengan demikian dapat dipahami sebagai bentuk liminalitas, karena menandai runtuhnya tatanan lama secara menyeluruh dan dapat memunculkan [[perubahan sosial]] yang mendalam.<ref>Bjørn Thomassen. ''Liminality''. Routledge. 2006. hlm. 322–323.</ref>


Konsep situasi liminal juga dapat diterapkan pada keseluruhan masyarakat yang tengah menghadapi krisis atau mengalami "keruntuhan tatanan". Filsuf [[Karl Jaspers]] memberikan sumbangan penting terhadap gagasan ini melalui konsepnya tentang "[[Zaman Poros]]" (''Axial Age''), yang ia pandang sebagai "masa di antara dua [[pandangan dunia]] yang terstruktur serta dua siklus pembangunan kekaisaran; suatu zaman penuh kreativitas ketika 'manusia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan radikal,' dan ketika 'genggaman hidup yang tak tergugat mulai mengendur'." Zaman ini pada hakikatnya merupakan masa ketidakpastian yang melibatkan seluruh peradaban.
Liminalitas dalam masyarakat berskala besar berbeda secara mendasar dari liminalitas yang ditemukan dalam ritus peralihan masyarakat kecil. Salah satu ciri utama liminalitas (sebagaimana didefinisikan oleh van Gennep dan Turner) ialah keberadaan jalan masuk sekaligus jalan keluar dari fase tersebut.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Dalam ritus-ritus peralihan, "anggota masyarakat menyadari keadaan liminal yang mereka alami: mereka tahu bahwa keadaan itu akan berakhir cepat atau lambat, dan mereka memiliki 'pemandu upacara' yang menuntun mereka melewati proses ritual tersebut."<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref>


Karena periode liminal bersifat sekaligus destruktif dan konstruktif, gagasan serta praktik yang lahir dari masa-masa liminal historis ini menjadi sangat penting, sebab ia akan "cenderung mengambil bentuk suatu struktur baru". Peristiwa-peristiwa seperti revolusi politik atau sosial (beserta krisis lainnya) dengan demikian dapat dipahami sebagai bentuk liminalitas, karena menandai runtuhnya tatanan lama secara menyeluruh dan dapat memunculkan [[perubahan sosial]] yang mendalam.
Namun, dalam periode liminal yang melibatkan seluruh masyarakat, masa depan—yakni apa yang terjadi setelah fase liminal—sepenuhnya tidak diketahui. Tidak ada "pemandu upacara" yang pernah melewati proses serupa dan dapat menuntun masyarakat keluar darinya.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Dalam kondisi demikian, situasi liminal dapat menjadi berbahaya. Ia membuka ruang bagi munculnya "pemandu upacara yang memproklamirkan diri", yang mengambil alih kepemimpinan dan berusaha untuk "mempertahankan keadaan liminal serta, dengan mengosongkan momen liminal dari daya kreatif sejatinya, mengubahnya menjadi panggung bagi persaingan yang bersifat meniru".<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref>
 
Liminalitas dalam masyarakat berskala besar berbeda secara mendasar dari liminalitas yang ditemukan dalam ritus peralihan masyarakat kecil. Salah satu ciri utama liminalitas (sebagaimana didefinisikan oleh van Gennep dan Turner) ialah keberadaan jalan masuk sekaligus jalan keluar dari fase tersebut. Dalam ritus-ritus peralihan, "anggota masyarakat menyadari keadaan liminal yang mereka alami: mereka tahu bahwa keadaan itu akan berakhir cepat atau lambat, dan mereka memiliki 'pemandu upacara' yang menuntun mereka melewati proses ritual tersebut."
 
Namun, dalam periode liminal yang melibatkan seluruh masyarakat, masa depan—yakni apa yang terjadi setelah fase liminal—sepenuhnya tidak diketahui. Tidak ada "pemandu upacara" yang pernah melewati proses serupa dan dapat menuntun masyarakat keluar darinya. Dalam kondisi demikian, situasi liminal dapat menjadi berbahaya. Ia membuka ruang bagi munculnya "pemandu upacara yang memproklamirkan diri", yang mengambil alih kepemimpinan dan berusaha untuk "mempertahankan keadaan liminal serta, dengan mengosongkan momen liminal dari daya kreatif sejatinya, mengubahnya menjadi panggung bagi persaingan yang bersifat meniru".


==Psikologi kedalaman==
==Psikologi kedalaman==
[[Psikoanalisis Jung|Kaum Jungian]] kerap memandang proses [[individuasi]]—yakni perjalanan menuju realisasi diri—sebagai sesuatu yang berlangsung di dalam ruang liminal. "Individuasi bermula dari penarikan diri dari pola sosialisasi yang lazim, yang dilambangkan oleh keruntuhan persona... liminalitas."<ref>Homans 1979, 207.</ref> Dengan demikian, "apa yang dilakukan oleh konsep liminalitas sosial Turner terhadap status dalam masyarakat, dilakukan oleh Jung [...] terhadap pergerakan pribadi manusia melalui proses kehidupan menuju individuasi."<ref>Hall, dikutip dalam Miller dan Jung 2004, 104.</ref>


[[Psikoanalisis Jung|Kaum Jungian]] kerap memandang proses [[individuasi]]—yakni perjalanan menuju realisasi diri—sebagai sesuatu yang berlangsung di dalam ruang liminal. "Individuasi bermula dari penarikan diri dari pola sosialisasi yang lazim, yang dilambangkan oleh keruntuhan persona... liminalitas." Dengan demikian, "apa yang dilakukan oleh konsep liminalitas sosial Turner terhadap status dalam masyarakat, dilakukan oleh Jung [...] terhadap pergerakan pribadi manusia melalui proses kehidupan menuju individuasi."
Individuasi dapat dipahami sebagai "sebuah perjalanan melalui ruang dan waktu liminal, dari disorientasi menuju integrasi [...] Apa yang berlangsung dalam fase gelap liminalitas merupakan proses pembongkaran [...] demi kepentingan ‘membentuk kembali keutuhan’ makna, tujuan, dan rasa keterhubungan diri."<ref>Shorter 1988, 73, 79.</ref> Sebagai figur [[Arketipe Jungian|arketipal]], "sang penipu (''trickster'') menjadi simbol dari keadaan liminal itu sendiri, sekaligus lambang keterbukaannya yang abadi sebagai sumber daya penciptaan kembali."<ref>Robert Pelton dalam Young-Eisendrath dan Dawson, eds. 1997, 244.</ref>


Individuasi dapat dipahami sebagai "sebuah perjalanan melalui ruang dan waktu liminal, dari disorientasi menuju integrasi [...] Apa yang berlangsung dalam fase gelap liminalitas merupakan proses pembongkaran [...] demi kepentingan ‘membentuk kembali keutuhan’ makna, tujuan, dan rasa keterhubungan diri." Sebagai figur [[Arketipe Jungian|arketipal]], "sang penipu (''trickster'') menjadi simbol dari keadaan liminal itu sendiri, sekaligus lambang keterbukaannya yang abadi sebagai sumber daya penciptaan kembali."
Psikologi analitik yang berakar pada pemikiran Jung juga sangat terkait erat dengan gagasan liminalitas. Ide tentang ‘wadah’ atau ‘bejana’ sebagai elemen penting dalam proses ritual terapi psikologis telah banyak diakui; Carl Jung sendiri berusaha menciptakan ruang yang ia sebut sebagai "''temenos'', lingkaran magis, bejana, di mana transformasi yang melekat dalam kondisi pasien dapat berlangsung dengan leluasa."<ref>Hazel Andrews. ''International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences''. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.</ref>


Psikologi analitik yang berakar pada pemikiran Jung juga sangat terkait erat dengan gagasan liminalitas. Ide tentang ‘wadah’ atau ‘bejana’ sebagai elemen penting dalam proses ritual terapi psikologis telah banyak diakui; Carl Jung sendiri berusaha menciptakan ruang yang ia sebut sebagai "''temenos'', lingkaran magis, bejana, di mana transformasi yang melekat dalam kondisi pasien dapat berlangsung dengan leluasa."
Namun, berbagai aliran psikologi kedalaman lainnya juga berbicara tentang proses yang serupa. [[Carl Rogers]] menggambarkan "kualitas 'di luar dunia nyata' yang sering dicatat oleh banyak terapis, semacam rasa transen dalam hubungan antara klien dan terapis yang, pada akhir sesi, seakan muncul dari sebuah sumur atau terowongan yang dalam."<ref>Rogers 1961, 202.</ref> Dalam tradisi Prancis, disebutkan bahwa setting psikoanalisis "membuka atau menempa 'ruang antara', 'wilayah yang dikecualikan', atau 'ruang di tengah' yang begitu penting dalam tulisan-tulisan [[Irigaray]]."<ref>E. Hirsh, dalam Burke et al., eds. 1994, 309n.</ref> [[Marion Milner]] menyatakan bahwa "kerangka ruang dan waktu juga menandai jenis realitas khusus dalam sesi psikoanalisis... suatu realitas berbeda yang ada di dalamnya."<ref>Dikutip dalam Casement 1997, 158.</ref>


Namun, berbagai aliran psikologi kedalaman lainnya juga berbicara tentang proses yang serupa. [[Carl Rogers]] menggambarkan "kualitas 'di luar dunia nyata' yang sering dicatat oleh banyak terapis, semacam rasa transen dalam hubungan antara klien dan terapis yang, pada akhir sesi, seakan muncul dari sebuah sumur atau terowongan yang dalam." Dalam tradisi Prancis, disebutkan bahwa setting psikoanalisis "membuka atau menempa 'ruang antara', 'wilayah yang dikecualikan', atau 'ruang di tengah' yang begitu penting dalam tulisan-tulisan [[Irigaray]]." [[Marion Milner]] menyatakan bahwa "kerangka ruang dan waktu juga menandai jenis realitas khusus dalam sesi psikoanalisis... suatu realitas berbeda yang ada di dalamnya."
Kaum Jungian, bagaimanapun, mungkin menjadi pihak yang paling gamblang dalam menegaskan "pentingnya menyediakan ruang, waktu, dan tempat bagi pengalaman liminal",<ref>Shorter 1988, 79.</ref> serta menyadari bahaya yang menyertainya: "dua kekeliruan: kita sama sekali tidak menyediakan ruang ritual dalam hidup kita [...] atau kita tinggal di dalamnya terlalu lama."<ref>Bly, 1991, 194.</ref> Bahkan, psikologi Jung sendiri pernah digambarkan sebagai "bentuk dari ‘liminalitas permanen’, di mana tidak ada lagi kebutuhan untuk kembali kepada struktur sosial."<ref>Homans 1979, 208.</ref>
 
Kaum Jungian, bagaimanapun, mungkin menjadi pihak yang paling gamblang dalam menegaskan "pentingnya menyediakan ruang, waktu, dan tempat bagi pengalaman liminal", serta menyadari bahaya yang menyertainya: "dua kekeliruan: kita sama sekali tidak menyediakan ruang ritual dalam hidup kita [...] atau kita tinggal di dalamnya terlalu lama." Bahkan, psikologi Jung sendiri pernah digambarkan sebagai "bentuk dari ‘liminalitas permanen’, di mana tidak ada lagi kebutuhan untuk kembali kepada struktur sosial."


==Contoh penggunaan umum==
==Contoh penggunaan umum==
===Dalam upacara===
===Dalam upacara===
 
Dalam konteks upacara ritual, keadaan liminal sengaja diciptakan secara artifisial—berbeda dengan keadaan yang muncul secara spontan, seperti pada bencana alam.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Sebagai contoh sederhana, dalam upacara [[kelulusan]] perguruan tinggi, fase liminal dapat diperluas untuk mencakup masa sejak tugas terakhir diselesaikan (dan kelulusan telah dipastikan) hingga saat ijazah diterima. "Tanah tak bertuan" ini merupakan semacam ''limbo'' yang menjadi ciri khas dari liminalitas. Beban dan tekanan akademik telah sirna, tetapi individu tersebut belum benar-benar melangkah ke tahap kehidupan berikutnya, baik secara psikologis maupun fisik. Akibatnya, muncul sudut pandang unik terhadap apa yang telah berlalu, dan terhadap apa yang akan datang.
 
Dalam konteks upacara ritual, keadaan liminal sengaja diciptakan secara artifisial—berbeda dengan keadaan yang muncul secara spontan, seperti pada bencana alam. Sebagai contoh sederhana, dalam upacara [[kelulusan]] perguruan tinggi, fase liminal dapat diperluas untuk mencakup masa sejak tugas terakhir diselesaikan (dan kelulusan telah dipastikan) hingga saat ijazah diterima. "Tanah tak bertuan" ini merupakan semacam ''limbo'' yang menjadi ciri khas dari liminalitas. Beban dan tekanan akademik telah sirna, tetapi individu tersebut belum benar-benar melangkah ke tahap kehidupan berikutnya, baik secara psikologis maupun fisik. Akibatnya, muncul sudut pandang unik terhadap apa yang telah berlalu, dan terhadap apa yang akan datang.


Liminalitas juga dapat meliputi masa antara pertunangan dan pernikahan, atau antara kematian dan pemakaman—periode yang dalam banyak budaya diatur melalui ritual khusus. Bahkan dalam masyarakat yang berpandangan liberal terhadap seksualitas, hubungan seksual dengan orang lain pada masa pertunangan kerap dianggap pelanggaran serius. Ketika sebuah lamaran pernikahan diajukan, terbentuklah fase liminal antara pertanyaan dan jawaban, suatu ruang di mana tatanan sosial kedua pihak dapat mengalami transformasi atau bahkan pembalikan; sejenis "[[limbo]] tahap kehidupan", karena baik penerimaan maupun penolakan lamaran itu dapat menghasilkan beragam kemungkinan yang sangat berbeda.
Liminalitas juga dapat meliputi masa antara pertunangan dan pernikahan, atau antara kematian dan pemakaman—periode yang dalam banyak budaya diatur melalui ritual khusus. Bahkan dalam masyarakat yang berpandangan liberal terhadap seksualitas, hubungan seksual dengan orang lain pada masa pertunangan kerap dianggap pelanggaran serius. Ketika sebuah lamaran pernikahan diajukan, terbentuklah fase liminal antara pertanyaan dan jawaban, suatu ruang di mana tatanan sosial kedua pihak dapat mengalami transformasi atau bahkan pembalikan; sejenis "[[limbo]] tahap kehidupan", karena baik penerimaan maupun penolakan lamaran itu dapat menghasilkan beragam kemungkinan yang sangat berbeda.


Getz menyinggung wilayah liminal atau ''liminoid'' dalam konteks pengalaman acara yang direncanakan. Ia menggambarkan zona liminal dalam suatu peristiwa sebagai penciptaan "waktu di luar waktu: sebuah tempat istimewa". Ia mencatat bahwa zona liminal ini bersifat sekaligus spasial dan temporal, dan merupakan elemen penting dalam perencanaan acara yang sukses—seperti upacara, konser, atau konferensi.
Getz<ref>Getz 2007, 179.</ref> menyinggung wilayah liminal atau ''liminoid'' dalam konteks pengalaman acara yang direncanakan. Ia menggambarkan zona liminal dalam suatu peristiwa sebagai penciptaan "waktu di luar waktu: sebuah tempat istimewa". Ia mencatat bahwa zona liminal ini bersifat sekaligus spasial dan temporal, dan merupakan elemen penting dalam perencanaan acara yang sukses—seperti upacara, konser, atau konferensi.<ref>Getz 2007, 442.</ref>


===Dalam waktu===
===Dalam waktu===
Dimensi temporal dari liminalitas dapat berkaitan dengan momen (peristiwa mendadak), periode (berlangsung selama minggu, bulan, atau bahkan tahun), serta zaman (puluhan tahun, generasi, bahkan berabad-abad lamanya).
Dimensi temporal dari liminalitas dapat berkaitan dengan momen (peristiwa mendadak), periode (berlangsung selama minggu, bulan, atau bahkan tahun), serta zaman (puluhan tahun, generasi, bahkan berabad-abad lamanya).<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref>


====Contoh====
====Contoh====
[[Senja]] merupakan waktu yang bersifat liminal—suatu masa di antara siang dan malam—di mana seseorang berada “dalam zona senja, di wilayah perbatasan malam yang samar dan tak menentu”.<ref>Costello 2002, 158.</ref> Judul serial televisi fiksi ''[[The Twilight Zone (seri televisi 1959)|The Twilight Zone]]'' mengacu pada konsep ini, menggambarkannya sebagai "wilayah di antara cahaya dan bayangan, antara sains dan takhayul" dalam salah satu varian pembukaan seri aslinya. Nama tersebut sebenarnya diambil dari istilah astronomis, yakni zona yang tampak dari luar angkasa di mana cahaya siang atau bayangan malam sedang bergerak maju atau mundur di permukaan bumi. [[Tengah hari]] dan terutama [[tengah malam]] juga dapat dianggap sebagai waktu liminal, tengah hari menandai peralihan antara pagi dan siang, sedangkan tengah malam menjadi ambang antara dua hari.


[[Senja]] merupakan waktu yang bersifat liminal—suatu masa di antara siang dan malam—di mana seseorang berada “dalam zona senja, di wilayah perbatasan malam yang samar dan tak menentu”. Judul serial televisi fiksi ''[[The Twilight Zone (seri televisi 1959)|The Twilight Zone]]'' mengacu pada konsep ini, menggambarkannya sebagai "wilayah di antara cahaya dan bayangan, antara sains dan takhayul" dalam salah satu varian pembukaan seri aslinya. Nama tersebut sebenarnya diambil dari istilah astronomis, yakni zona yang tampak dari luar angkasa di mana cahaya siang atau bayangan malam sedang bergerak maju atau mundur di permukaan bumi. [[Tengah hari]] dan terutama [[tengah malam]] juga dapat dianggap sebagai waktu liminal, tengah hari menandai peralihan antara pagi dan siang, sedangkan tengah malam menjadi ambang antara dua hari.
Dalam siklus tahunan, waktu-waktu liminal meliputi saat [[Ekuinoks|titik ekuinoks]], ketika siang dan malam memiliki panjang yang sama, serta saat [[titik balik matahari]], ketika pertambahan siang atau malam berbalik arah menuju pengurangannya. Batas-batas kualitatif dari fenomena yang secara kuantitatif tak terbatas ini<ref>Kenneth R Olwig. ''Liminality, Seasonality and Landscape''. ''Landscape Research''. April 2005. Vol. 30 (2). hlm. 259–271. doi:10.1080/01426390500044473.</ref> menandai perubahan siklus musim sepanjang tahun.
 
Dalam siklus tahunan, waktu-waktu liminal meliputi saat [[Ekuinoks|titik ekuinoks]], ketika siang dan malam memiliki panjang yang sama, serta saat [[titik balik matahari]], ketika pertambahan siang atau malam berbalik arah menuju pengurangannya. Batas-batas kualitatif dari fenomena yang secara kuantitatif tak terbatas ini menandai perubahan siklus musim sepanjang tahun.


Dalam tradisi yang menempatkan [[seperempat hari]] sebagai penanda pergantian musim, hari-hari tersebut juga dianggap sebagai waktu liminal. [[Hari Tahun Baru]], terlepas dari kaitannya dengan langit astrologis, merupakan masa liminal yang sarat makna. Berbagai kebiasaan seperti ramalan nasib sering kali memanfaatkan keadaan liminal ini. Dalam banyak budaya, tindakan dan peristiwa pada hari pertama tahun dipercaya dapat menentukan nasib tahun tersebut, seperti dalam kepercayaan [[kaki pertama]] (''ciad-chuairt''). Dalam kepercayaan ini orang pertama yang memasuki rumah tangga pada hari tahun baru dan dianggap sebagai pembawa keberuntungan untuk tahun yang akan datang. Banyak pula budaya yang meyakini bahwa masa ini sangat rentan terhadap kemunculan [[roh]] atau [[makhluk liminal]], entitas yang berada di antara [[hidup]] dan [[mati]].
Dalam tradisi yang menempatkan [[seperempat hari]] sebagai penanda pergantian musim, hari-hari tersebut juga dianggap sebagai waktu liminal. [[Hari Tahun Baru]], terlepas dari kaitannya dengan langit astrologis, merupakan masa liminal yang sarat makna. Berbagai kebiasaan seperti ramalan nasib sering kali memanfaatkan keadaan liminal ini. Dalam banyak budaya, tindakan dan peristiwa pada hari pertama tahun dipercaya dapat menentukan nasib tahun tersebut, seperti dalam kepercayaan [[kaki pertama]] (''ciad-chuairt''). Dalam kepercayaan ini orang pertama yang memasuki rumah tangga pada hari tahun baru dan dianggap sebagai pembawa keberuntungan untuk tahun yang akan datang. Banyak pula budaya yang meyakini bahwa masa ini sangat rentan terhadap kemunculan [[roh]] atau [[makhluk liminal]], entitas yang berada di antara [[hidup]] dan [[mati]].


===Dalam Agama===
===Dalam Agama===
====Ibadah Yudeo-Kristiani====
====Ibadah Yudeo-Kristiani====
 
Keberadaan liminal dapat dijumpai dalam sebuah ''ruang sakral'' yang terpisah, yang di dalamnya berlangsung ''waktu sakral''. Contohnya dalam Alkitab antara lain mimpi Yakub ([[Kitab Kejadian|Kejadian]] 28:12–19), ketika ia berjumpa dengan Allah di antara langit dan bumi, serta peristiwa ketika [[Yesaya]] berhadapan dengan Tuhan di dalam bait kekudusan ([[Kitab Yesaya|Yesaya]] 6:1–6).<ref>Timothy L Carson. [https://books.google.com/books?id=bi_MZqVW0_MC&pg=PA61 Transforming Worship]. Chalice Press. 2003. hlm. 61. ISBN 978-0-8272-3692-9.</ref> 
Keberadaan liminal dapat dijumpai dalam sebuah ''ruang sakral'' yang terpisah, yang di dalamnya berlangsung ''waktu sakral''. Contohnya dalam Alkitab antara lain mimpi Yakub ([[Kitab Kejadian|Kejadian]] 28:12–19), ketika ia berjumpa dengan Allah di antara langit dan bumi, serta peristiwa ketika [[Yesaya]] berhadapan dengan Tuhan di dalam bait kekudusan ([[Kitab Yesaya|Yesaya]] 6:1–6).
Dalam ruang liminal semacam ini, individu mengalami pewahyuan berupa ''pengetahuan sakral'', saat Allah sendiri menyampaikan hikmat-Nya kepada manusia.
Dalam ruang liminal semacam ini, individu mengalami pewahyuan berupa ''pengetahuan sakral'', saat Allah sendiri menyampaikan hikmat-Nya kepada manusia.


Ibadah dapat dipahami dalam konteks ini sebagai saat komunitas gereja (atau ''communitas'' atau ''[[koinonia]]'') bersama-sama memasuki ruang liminal secara kolektif. Simbol-simbol religius dan musik dapat membantu proses ini, yang kerap digambarkan sebagai suatu bentuk [[ziarah]] melalui [[doa]], [[nyanyian]], atau tindakan [[liturgi]]. Dalam ruang liminal itu, jemaat mengalami transformasi rohani, dan ketika keluar darinya, mereka diutus kembali ke dunia untuk melayani.
Ibadah dapat dipahami dalam konteks ini sebagai saat komunitas gereja (atau ''communitas'' atau ''[[koinonia]]'') bersama-sama memasuki ruang liminal secara kolektif.<ref>Timothy L Carson. [https://books.google.com/books?id=bi_MZqVW0_MC&pg=PA61 Transforming Worship]. Chalice Press. 2003. hlm. 61. ISBN 978-0-8272-3692-9.</ref> Simbol-simbol religius dan musik dapat membantu proses ini, yang kerap digambarkan sebagai suatu bentuk [[ziarah]] melalui [[doa]], [[nyanyian]], atau tindakan [[liturgi]]. Dalam ruang liminal itu, jemaat mengalami transformasi rohani, dan ketika keluar darinya, mereka diutus kembali ke dunia untuk melayani.


====Pelayanan Yudeo-Kristiani====
====Pelayanan Yudeo-Kristiani====
Dalam karyanya ''Liminal Reality and Transformational Power'', Dr. Timothy Carson—kurator ''The Liminality Project'', sekaligus salah satu pendiri ''Guild for Engaged Liminality'' bersama Lisa Withrow dan Jonathan Best, serta pendiri ''The Liminality Press'' bersama Lisa Withrow—menyelami aspek luar dan dalam dari liminalitas. Ia membahas sejarah disiplin tersebut dengan akar mitologis dan psikologisnya, serta menerapkannya pada bidang [[teologi]], [[hermeneutika biblika]], simbolisme, dan penerapan praktis bagi mereka yang berkarya dalam kepemimpinan keagamaan.
Dalam karyanya ''Liminal Reality and Transformational Power'',<ref>2nd Edition, The Lutterworth Press, 2016</ref> Dr. Timothy Carson—kurator ''The Liminality Project'',<ref>[http://www.theliminalityproject.org The Liminality Project]. ''www.theliminalityproject.org''.</ref> sekaligus salah satu pendiri ''Guild for Engaged Liminality''<ref>[http://www.engagedliminality.org Guild for Engaged Liminality – A Community Engaging Liminality as Interdisciplinary Reflective Practice through Art, Culture, Religion, Spirituality, and Society]. ''www.engagedliminality.org''.</ref> bersama Lisa Withrow dan Jonathan Best, serta pendiri ''The Liminality Press''<ref>[http://www.liminalitypress.com The Liminality Press Publishing House for Liminality Studies]. ''www.liminalitypress.com''.</ref> bersama Lisa Withrow—menyelami aspek luar dan dalam dari liminalitas. Ia membahas sejarah disiplin tersebut dengan akar mitologis dan psikologisnya, serta menerapkannya pada bidang [[teologi]], [[hermeneutika biblika]], simbolisme, dan penerapan praktis bagi mereka yang berkarya dalam kepemimpinan keagamaan.


Dalam karya lain berjudul ''Crossing Thresholds: A Practical Theology of Liminality'', Carson bersama Rosy Fairhurst, Nigel Rooms, dan Lisa Withrow menjadi penulis bersama. Mereka mendefinisikan berbagai aspek liminalitas dalam kaitannya dengan penerapan praktisnya dalam kehidupan religius. Buku ini mencakup uraian konseptual mengenai liminalitas serta penerapannya pada [[hermeneutika]], [[liturgi]], [[eklesiologi]], kepemimpinan, pembelajaran, pembentukan iman, serta [[pelayanan pastoral]] dan penanganan krisis.
Dalam karya lain berjudul ''Crossing Thresholds: A Practical Theology of Liminality'',<ref>The Lutterworth Press, 2021</ref> Carson bersama Rosy Fairhurst, Nigel Rooms, dan Lisa Withrow menjadi penulis bersama. Mereka mendefinisikan berbagai aspek liminalitas dalam kaitannya dengan penerapan praktisnya dalam kehidupan religius. Buku ini mencakup uraian konseptual mengenai liminalitas serta penerapannya pada [[hermeneutika]], [[liturgi]], [[eklesiologi]], kepemimpinan, pembelajaran, pembentukan iman, serta [[pelayanan pastoral]] dan penanganan krisis.


Sementara dalam ''Leaning into the Liminal: A Guide for Counselors and Companions'', Carson menggunakan model berbasis liminalitas, yakni proses ritus peralihan sebagai sumber daya lintas teori bagi konselor, terapis, pemimpin agama, guru spiritual, dan pendeta atau [[kapelan]]. Buku ini mencakup refleksi tentang peran pemandu liminal, serta kontribusi dari tujuh penulis lain yang membahas beragam pendekatan terapeutik, penyembuhan luka pascaperang, arah bimbingan rohani, dan pendampingan pada fase-fase akhir kehidupan.
Sementara dalam ''Leaning into the Liminal: A Guide for Counselors and Companions'',<ref>The Liminality Press, 2024</ref> Carson menggunakan model berbasis liminalitas, yakni proses ritus peralihan sebagai sumber daya lintas teori bagi konselor, terapis, pemimpin agama, guru spiritual, dan pendeta atau [[kapelan]]. Buku ini mencakup refleksi tentang peran pemandu liminal, serta kontribusi dari tujuh penulis lain yang membahas beragam pendekatan terapeutik, penyembuhan luka pascaperang, arah bimbingan rohani, dan pendampingan pada fase-fase akhir kehidupan.


====Makhluk====
====Makhluk====
Beragam kelompok minoritas dapat dipandang sebagai entitas liminal. Dalam kenyataannya, para imigran ilegal (yang hadir tetapi tidak "resmi") dan orang-orang tanpa kewarganegaraan sering kali dianggap sebagai makhluk liminal karena mereka "berada di antara rumah asal dan tuan rumah, menjadi bagian dari masyarakat, tetapi kadang tak pernah benar-benar menyatu sepenuhnya".
Beragam kelompok minoritas dapat dipandang sebagai entitas liminal. Dalam kenyataannya, para imigran ilegal (yang hadir tetapi tidak "resmi") dan orang-orang tanpa kewarganegaraan sering kali dianggap sebagai makhluk liminal karena mereka "berada di antara rumah asal dan tuan rumah, menjadi bagian dari masyarakat, tetapi kadang tak pernah benar-benar menyatu sepenuhnya".<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> 
Demikian pula, individu [[biseksual]], [[interseks]], dan [[transgender]] dalam beberapa masyarakat modern, mereka yang memiliki [[etnis]] campuran, serta mereka yang dituduh melakukan kejahatan namun belum dinyatakan bersalah atau tidak bersalah—semuanya dapat dikategorikan sebagai liminal. Remaja, yang berada di antara masa kanak-kanak dan kedewasaan, juga merupakan sosok liminal; bahkan, "bagi kaum muda, liminalitas semacam ini telah menjadi fenomena permanen...suatu bentuk liminalitas pascamodern".
Demikian pula, individu [[biseksual]], [[interseks]], dan [[transgender]] dalam beberapa masyarakat modern, mereka yang memiliki [[etnis]] campuran, serta mereka yang dituduh melakukan kejahatan namun belum dinyatakan bersalah atau tidak bersalah—semuanya dapat dikategorikan sebagai liminal. Remaja, yang berada di antara masa kanak-kanak dan kedewasaan, juga merupakan sosok liminal; bahkan, "bagi kaum muda, liminalitas semacam ini telah menjadi fenomena permanen...suatu bentuk liminalitas pascamodern".<ref>Kahane 1997, 31.</ref>


Sosok [[pengelabu]] sebagai proyeksi mitis sang pesulap, berdiri di batas ''limen'' antara ranah sakral dan duniawi bersama dengan [[arketipe]]-arketipe terkait, mewujudkan banyak kontradiksi semacam itu sebagaimana yang tampak pula pada sejumlah [[selebritas]] dalam [[budaya populer]]. Kategori ini, secara hipotetis dan dalam ranah [[fiksi]], juga dapat mencakup [[siborg]], [[hibrida]] antar spesies, dan [[pengubah wujud]]. Di alam, beberapa hewan seperti anjing laut, kepiting, burung pantai, katak, kelelawar, lumba-lumba, dan paus juga dapat dianggap sebagai "makhluk perbatasan" yang liminal: "bebek liar dan angsa adalah contoh yang tepat...makhluk perantara yang memadukan kehidupan bawah air dan penerbangan di udara dengan keberadaan yang sesekali berpijak di darat."
Sosok [[pengelabu]] sebagai proyeksi mitis sang pesulap, berdiri di batas ''limen'' antara ranah sakral dan duniawi<ref>Nicholas 2009, 25.</ref> bersama dengan [[arketipe]]-arketipe terkait, mewujudkan banyak kontradiksi semacam itu sebagaimana yang tampak pula pada sejumlah [[selebritas]] dalam [[budaya populer]]. Kategori ini, secara hipotetis dan dalam ranah [[fiksi]], juga dapat mencakup [[siborg]], [[hibrida]] antar spesies, dan [[pengubah wujud]]. Di alam, beberapa hewan seperti anjing laut, kepiting, burung pantai, katak, kelelawar, lumba-lumba, dan paus juga dapat dianggap sebagai "makhluk perbatasan" yang liminal: "bebek liar dan angsa adalah contoh yang tepat...makhluk perantara yang memadukan kehidupan bawah air dan penerbangan di udara dengan keberadaan yang sesekali berpijak di darat."<ref>Joseph Henderson in Jung 1978, 153.</ref>


[[Dukun]] dan pemandu spiritual pun berfungsi sebagai makhluk liminal, bertindak sebagai "perantara antara dunia ini dan dunia lain; kehadirannya berada di antara manusia dan yang supranatural." Banyak yang meyakini bahwa dukun dan penasihat spiritual telah "ditakdirkan" sejak lahir untuk peran itu, memiliki pemahaman dan keterhubungan yang lebih dalam dengan alam, sehingga mereka sering hidup di pinggiran masyarakat, berada dalam keadaan liminal antara dua dunia, di luar batas tatanan sosial umum.
[[Dukun]] dan pemandu spiritual pun berfungsi sebagai makhluk liminal, bertindak sebagai "perantara antara dunia ini dan dunia lain; kehadirannya berada di antara manusia dan yang supranatural."<ref>Naoko Takiguchi. ''Liminal Experiences of Miyako Shamans: Reading a Shaman's Diary''. ''Asian Folklore Studies''. 1990. Vol. 49 (1). hlm. 1–38. doi:10.2307/1177947.</ref> Banyak yang meyakini bahwa dukun dan penasihat spiritual telah "ditakdirkan" sejak lahir untuk peran itu, memiliki pemahaman dan keterhubungan yang lebih dalam dengan alam, sehingga mereka sering hidup di pinggiran masyarakat, berada dalam keadaan liminal antara dua dunia, di luar batas tatanan sosial umum.<ref>Naoko Takiguchi. ''Liminal Experiences of Miyako Shamans: Reading a Shaman's Diary''. ''Asian Folklore Studies''. 1990. Vol. 49 (1). hlm. 1–38. doi:10.2307/1177947.</ref>


====Tempat====
====Tempat====
Dimensi spasial dari liminalitas dapat mencakup lokasi tertentu, zona yang lebih luas, atau bahkan wilayah dan negara secara keseluruhan.<ref>Bjørn Thomassen. ''The Uses and Meanings of Liminality''. ''International Political Anthropology''. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.</ref> Ruang-ruang liminal dapat berupa [[perbatasan]], daerah penyangga, [[persengketaan wilayah|wilayah sengketa]], [[persimpangan (budaya)|persimpangan jalan]], hingga [[bandara]], [[hotel]], dan [[kamar mandi]]. Sosiolog [[Eva Illouz]] berpendapat bahwa setiap "perjalanan romantis mewujudkan tiga tahap yang menjadi ciri khas liminalitas: pemisahan, peminggiran, dan penggabungan kembali."<ref>Illouz 1997, 143.</ref>


Dalam [[mitologi]], [[agama]], dan tradisi [[okultisme|esoterik]], liminalitas dapat diwujudkan melalui alam seperti [[Api Penyucian]] atau [[Da'at (Kabbalah)|Da'at]], yang tidak hanya melambangkan kondisi liminal, tetapi bahkan keberadaannya sendiri diperdebatkan oleh para teolog—menjadikannya, dalam beberapa kasus, "liminal ganda". Konsep "kediantaraan" menjadi ciri khas ruang-ruang tersebut. Bagi seorang pegawai hotel (orang dalam) atau seseorang yang sekadar lewat tanpa minat (orang luar sepenuhnya), makna hotel akan berbeda. 
Namun, bagi seorang pelancong yang singgah, hotel berfungsi sebagai zona liminal, sebagaimana "pintu, jendela, lorong, dan gerbang membingkai...kondisi liminal yang hakiki."<ref>Richard Brown in Corcoran 2002, 211.</ref>


Dimensi spasial dari liminalitas dapat mencakup lokasi tertentu, zona yang lebih luas, atau bahkan wilayah dan negara secara keseluruhan. Ruang-ruang liminal dapat berupa [[perbatasan]], daerah penyangga, [[persengketaan wilayah|wilayah sengketa]], [[persimpangan (budaya)|persimpangan jalan]], hingga [[bandara]], [[hotel]], dan [[kamar mandi]]. Sosiolog [[Eva Illouz]] berpendapat bahwa setiap "perjalanan romantis mewujudkan tiga tahap yang menjadi ciri khas liminalitas: pemisahan, peminggiran, dan penggabungan kembali."
Secara lebih konvensional, mata air, gua, tepi pantai, sungai, kawah gunung berapi, "sebuah kawah raksasa dari gunung berapi yang telah padam...[sebagai] simbol transendensi lainnya",<ref>Joseph Henderson, in Jung 1978, 152.</ref> titik penyeberangan, celah gunung, jembatan, dan rawa-rawa semuanya merupakan lokasi liminal: "'tepi-tepi', batas, atau garis patahan antara yang sah dan yang tidak sah."<ref>Richard Brown in Corcoran 2002, 196</ref> 
 
[[Oedipus]] bertemu dan membunuh ayahnya di persimpangan jalan; musisi blues [[Robert Johnson (musician)|Robert Johnson]] konon bertemu dengan iblis di persimpangan, tempat ia dikisahkan menjual jiwanya.<ref>El Khoury, 2015, 217</ref>
Dalam [[mitologi]], [[agama]], dan tradisi [[okultisme|esoterik]], liminalitas dapat diwujudkan melalui alam seperti [[Api Penyucian]] atau [[Da'at (Kabbalah)|Da'at]], yang tidak hanya melambangkan kondisi liminal, tetapi bahkan keberadaannya sendiri diperdebatkan oleh para teolog—menjadikannya, dalam beberapa kasus, "liminal ganda". Konsep "kediantaraan" menjadi ciri khas ruang-ruang tersebut. Bagi seorang pegawai hotel (orang dalam) atau seseorang yang sekadar lewat tanpa minat (orang luar sepenuhnya), makna hotel akan berbeda.
Namun, bagi seorang pelancong yang singgah, hotel berfungsi sebagai zona liminal, sebagaimana "pintu, jendela, lorong, dan gerbang membingkai...kondisi liminal yang hakiki."
 
Secara lebih konvensional, mata air, gua, tepi pantai, sungai, kawah gunung berapi, "sebuah kawah raksasa dari gunung berapi yang telah padam...[sebagai] simbol transendensi lainnya", titik penyeberangan, celah gunung, jembatan, dan rawa-rawa semuanya merupakan lokasi liminal: "'tepi-tepi', batas, atau garis patahan antara yang sah dan yang tidak sah."
[[Oedipus]] bertemu dan membunuh ayahnya di persimpangan jalan; musisi blues [[Robert Johnson (musician)|Robert Johnson]] konon bertemu dengan iblis di persimpangan, tempat ia dikisahkan menjual jiwanya.


Dalam [[arsitektur]], ruang liminal didefinisikan sebagai "ruang fisik antara satu tujuan dan tujuan berikutnya." Contoh umum ruang-ruang seperti ini mencakup koridor, bandara, dan jalan raya.
Dalam [[arsitektur]], ruang liminal didefinisikan sebagai "ruang fisik antara satu tujuan dan tujuan berikutnya."<ref>Isabel Berenguer Asuncion. [https://business.inquirer.net/299862/living-through-liminal-spaces Living through liminal spaces]. ''INQUIRER.net''. 13 June 2020.</ref> Contoh umum ruang-ruang seperti ini mencakup koridor, bandara, dan jalan raya.<ref>Hugh Matthews. ''Children in the City''. Routledge. 2003. hlm. 119–135. doi:10.4324/9780203167236-11. ISBN 978-0-203-16723-6.</ref><ref>Wei-Jue Huang. ''Airports as liminal space''. ''Annals of Tourism Research''. May 2018. Vol. 70. hlm. 1–13. doi:10.1016/j.annals.2018.02.003.</ref>


Dalam budaya kontemporer, pengalaman berpesta dan menari di [[klub malam]] dapat dilihat melalui kerangka liminoid, yang menyoroti "hadir atau tidaknya peluang bagi subversi sosial, pelarian dari struktur sosial, serta kebebasan dalam menentukan pilihan." Kerangka ini memberikan "wawasan tentang bagaimana pengalaman di ruang-ruang hedonistik dapat ditingkatkan. Dengan memperkaya aspek liminoid dalam pengalaman konsumen, perasaan pelarian dan permainan dapat diperkuat, sehingga mendorong konsumsi yang lebih bebas dan ekspresif."
Dalam budaya kontemporer, pengalaman berpesta dan menari di [[klub malam]] dapat dilihat melalui kerangka liminoid, yang menyoroti "hadir atau tidaknya peluang bagi subversi sosial, pelarian dari struktur sosial, serta kebebasan dalam menentukan pilihan."<ref>Babak Taheri. ''Experiential liminoid consumption: the case of nightclubbing''. ''Journal of Marketing Management''. 2 January 2016. Vol. 32 (1–2). hlm. 19–43. doi:10.1080/0267257X.2015.1089309.</ref> Kerangka ini memberikan "wawasan tentang bagaimana pengalaman di ruang-ruang hedonistik dapat ditingkatkan. Dengan memperkaya aspek liminoid dalam pengalaman konsumen, perasaan pelarian dan permainan dapat diperkuat, sehingga mendorong konsumsi yang lebih bebas dan ekspresif."<ref>Babak Taheri. ''Experiential liminoid consumption: the case of nightclubbing''. ''Journal of Marketing Management''. 2 January 2016. Vol. 32 (1–2). hlm. 19–43. doi:10.1080/0267257X.2015.1089309.</ref>


===Dalam cerita rakyat===
===Dalam cerita rakyat===
Terdapat sejumlah kisah dalam [[cerita rakyat]] yang menggambarkan tokoh-tokoh yang hanya dapat dibunuh di ruang peralihan, tempat di antara dua batas. Dalam [[mitologi Wales]], [[Lleu Llaw Gyffes|Lleu]] tidak dapat dibunuh pada siang maupun malam hari, tidak di dalam maupun di luar ruangan, tidak saat berkuda maupun berjalan kaki, dan tidak ketika berpakaian maupun telanjang. Ia akhirnya diserang pada waktu senja, dibungkus jaring, dengan satu kaki berpijak pada kuali dan satu lagi di punggung kambing. Demikian pula, dalam teks suci [[Hindu]] ''[[Bhagavata Purana]]'', [[Wisnu]] menampakkan diri dalam wujud setengah manusia setengah [[singa]] bernama [[Narasimha]] untuk membinasakan iblis Hiranyakashipu, yang telah memperoleh anugerah bahwa ia tidak dapat dibunuh pada siang atau malam hari, tidak di bumi maupun di udara, tidak dengan [[senjata]] ataupun dengan tangan kosong, tidak di dalam bangunan maupun di luar, dan tidak oleh manusia maupun binatang. Narasimha kemudian membunuh Hiranyakashipu pada waktu senja, di ambang pintu istana, di pangkuannya sendiri, dengan cakar tajamnya. Karena Narasimha adalah dewa, kematian sang iblis terjadi bukan oleh manusia ataupun binatang. Dalam wiracarita [[Mahabharata]], [[Indra]] berjanji tidak akan membunuh Namuci dan [[Vritra]] dengan sesuatu yang basah maupun kering, dan tidak di siang atau malam hari; tetapi akhirnya ia menewaskan mereka pada waktu senja menggunakan buih.<ref>[http://www.bookrags.com/Vritra Vritra]. Macmillan Reference USA/Gale Group. 2006.</ref>


Terdapat sejumlah kisah dalam [[cerita rakyat]] yang menggambarkan tokoh-tokoh yang hanya dapat dibunuh di ruang peralihan, tempat di antara dua batas. Dalam [[mitologi Wales]], [[Lleu Llaw Gyffes|Lleu]] tidak dapat dibunuh pada siang maupun malam hari, tidak di dalam maupun di luar ruangan, tidak saat berkuda maupun berjalan kaki, dan tidak ketika berpakaian maupun telanjang. Ia akhirnya diserang pada waktu senja, dibungkus jaring, dengan satu kaki berpijak pada kuali dan satu lagi di punggung kambing. Demikian pula, dalam teks suci [[Hindu]] ''[[Bhagavata Purana]]'', [[Wisnu]] menampakkan diri dalam wujud setengah manusia setengah [[singa]] bernama [[Narasimha]] untuk membinasakan iblis Hiranyakashipu, yang telah memperoleh anugerah bahwa ia tidak dapat dibunuh pada siang atau malam hari, tidak di bumi maupun di udara, tidak dengan [[senjata]] ataupun dengan tangan kosong, tidak di dalam bangunan maupun di luar, dan tidak oleh manusia maupun binatang. Narasimha kemudian membunuh Hiranyakashipu pada waktu senja, di ambang pintu istana, di pangkuannya sendiri, dengan cakar tajamnya. Karena Narasimha adalah dewa, kematian sang iblis terjadi bukan oleh manusia ataupun binatang. Dalam wiracarita [[Mahabharata]], [[Indra]] berjanji tidak akan membunuh Namuci dan [[Vritra]] dengan sesuatu yang basah maupun kering, dan tidak di siang atau malam hari; tetapi akhirnya ia menewaskan mereka pada waktu senja menggunakan buih.
Kisah klasik [[Cupid dan Psyche]] juga menjadi contoh dari konsep liminalitas dalam mitos, yang tercermin melalui sosok Psyche dan pengalaman-pengalaman yang ia lalui. Ia selalu digambarkan terlalu cantik untuk menjadi manusia, tetapi tidak sepenuhnya dewi, menegaskan keberadaannya di wilayah antara keduanya.<ref>Jesse Peters. ''Intra Limen: An Examination of Liminality in Apuleius' Metamorphoses and Giulio Romano's Sala di Amore e Psiche''. 2014.</ref> 
 
Pernikahannya dengan Dewa Kematian dalam versi Apuleius mencakup dua ritus liminal klasik menurut Van Gennep: pernikahan dan kematian.<ref>Jesse Peters. ''Intra Limen: An Examination of Liminality in Apuleius' Metamorphoses and Giulio Romano's Sala di Amore e Psiche''. 2014.</ref> Psyche hidup di ruang liminal, tidak lagi seorang gadis, tetapi belum sepenuhnya istri, serta berada di antara dua dunia. Lebih dari itu, peralihannya menuju keabadian untuk hidup bersama Cupid menjadi ritus peralihan liminal di mana ia berpindah dari fana menuju abadi, dari manusia menjadi dewi. Ketika Psyche meminum ambrosia dan meneguhkan nasibnya, ritus itu pun tuntas, dan kisah berakhir dengan pesta pernikahan yang penuh sukacita serta kelahiran putri mereka.<ref>Jesse Peters. ''Intra Limen: An Examination of Liminality in Apuleius' Metamorphoses and Giulio Romano's Sala di Amore e Psiche''. 2014.</ref> Tokoh-tokoh dalam kisah ini hidup dalam ruang-ruang liminal, menjalani ritus peralihan klasik yang menuntut mereka untuk melintasi ambang batas menuju ranah keberadaan yang baru.
Kisah klasik [[Cupid dan Psyche]] juga menjadi contoh dari konsep liminalitas dalam mitos, yang tercermin melalui sosok Psyche dan pengalaman-pengalaman yang ia lalui. Ia selalu digambarkan terlalu cantik untuk menjadi manusia, tetapi tidak sepenuhnya dewi, menegaskan keberadaannya di wilayah antara keduanya.
Pernikahannya dengan Dewa Kematian dalam versi Apuleius mencakup dua ritus liminal klasik menurut Van Gennep: pernikahan dan kematian. Psyche hidup di ruang liminal, tidak lagi seorang gadis, tetapi belum sepenuhnya istri, serta berada di antara dua dunia. Lebih dari itu, peralihannya menuju keabadian untuk hidup bersama Cupid menjadi ritus peralihan liminal di mana ia berpindah dari fana menuju abadi, dari manusia menjadi dewi. Ketika Psyche meminum ambrosia dan meneguhkan nasibnya, ritus itu pun tuntas, dan kisah berakhir dengan pesta pernikahan yang penuh sukacita serta kelahiran putri mereka. Tokoh-tokoh dalam kisah ini hidup dalam ruang-ruang liminal, menjalani ritus peralihan klasik yang menuntut mereka untuk melintasi ambang batas menuju ranah keberadaan yang baru.


===Dalam penelitian etnografis===
===Dalam penelitian etnografis===
Dalam penelitian etnografis, "seorang peneliti berada...dalam keadaan liminal, terpisah dari budayanya sendiri tetapi belum sepenuhnya menjadi bagian dari budaya tempat ia melakukan penelitian", yakni ketika ia sekaligus berpartisipasi dalam budaya tersebut ''dan'' mengamatinya dari luar. Peneliti harus senantiasa mempertimbangkan dirinya sendiri dalam relasinya dengan orang lain serta posisinya di dalam kebudayaan yang diteliti.
Dalam penelitian etnografis, "seorang peneliti berada...dalam keadaan liminal, terpisah dari budayanya sendiri tetapi belum sepenuhnya menjadi bagian dari budaya tempat ia melakukan penelitian",<ref>Norris Johnson, dalam Robben dan Sluka 2007, hlm. 76</ref> yakni ketika ia sekaligus berpartisipasi dalam budaya tersebut ''dan'' mengamatinya dari luar. Peneliti harus senantiasa mempertimbangkan dirinya sendiri dalam relasinya dengan orang lain serta posisinya di dalam kebudayaan yang diteliti.


Dalam banyak kasus, keterlibatan yang lebih dalam dengan kelompok yang dikaji dapat membuka akses yang lebih luas terhadap pengetahuan budaya, serta menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap pengalaman internal komunitas tersebut. Namun, semakin tinggi tingkat partisipasi peneliti, semakin kabur pula batas antara peran peneliti sebagai pengamat dan sebagai anggota kelompok. Sering kali, seorang peneliti yang menjalankan kerja lapangan sebagai "partisipan" atau "pengamat-partisipan" berada dalam keadaan liminal: menjadi bagian dari budaya yang dikaji, tetapi tetap terpisah darinya sebagai peneliti. Keadaan liminal ini berada "di antara dan di tengah-tengah", bersifat emosional dan sering kali menimbulkan ketidaknyamanan, karena peneliti harus menggunakan refleksivitas diri untuk menafsirkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara.
Dalam banyak kasus, keterlibatan yang lebih dalam dengan kelompok yang dikaji dapat membuka akses yang lebih luas terhadap pengetahuan budaya, serta menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap pengalaman internal komunitas tersebut. Namun, semakin tinggi tingkat partisipasi peneliti, semakin kabur pula batas antara peran peneliti sebagai pengamat dan sebagai anggota kelompok. Sering kali, seorang peneliti yang menjalankan kerja lapangan sebagai "partisipan" atau "pengamat-partisipan" berada dalam keadaan liminal: menjadi bagian dari budaya yang dikaji, tetapi tetap terpisah darinya sebagai peneliti. Keadaan liminal ini berada "di antara dan di tengah-tengah", bersifat emosional dan sering kali menimbulkan ketidaknyamanan, karena peneliti harus menggunakan refleksivitas diri untuk menafsirkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara.
Baris 159: Baris 190:


=== Dalam pendidikan tinggi ===
=== Dalam pendidikan tinggi ===
Bagi banyak mahasiswa, proses memulai kehidupan di universitas dapat dipandang sebagai suatu ruang liminal.
Bagi banyak mahasiswa, proses memulai kehidupan di universitas dapat dipandang sebagai suatu ruang liminal.<ref>David Heading. [http://dro.dur.ac.uk/24010/1/24010.pdf Lonergan's insight and threshold concepts: students in the liminal space]. ''Teaching in Higher Education''. 2018. Vol. 23 (6). hlm. 657–667. doi:10.1080/13562517.2017.1414792.</ref> 
Ketika banyak mahasiswa meninggalkan rumah untuk pertama kalinya, mereka jarang benar-benar memutus hubungan dengan tempat asalnya; rumah tetap dipandang sebagai kampung halaman, bukan kota tempat mereka menuntut ilmu. Masa [[orientasi mahasiswa]] sering kali memuat berbagai kegiatan yang berfungsi sebagai [[ritus peralihan]], menandai awal masa kuliah sebagai periode penting dalam kehidupan seseorang.
Ketika banyak mahasiswa meninggalkan rumah untuk pertama kalinya, mereka jarang benar-benar memutus hubungan dengan tempat asalnya; rumah tetap dipandang sebagai kampung halaman, bukan kota tempat mereka menuntut ilmu. Masa [[orientasi mahasiswa]] sering kali memuat berbagai kegiatan yang berfungsi sebagai [[ritus peralihan]], menandai awal masa kuliah sebagai periode penting dalam kehidupan seseorang.


Fenomena ini sering diperkuat oleh adanya pemisahan antara ''[[town and gown]]'', yakni antara komunitas lokal dan warga akademik universitas, yang masing-masing memiliki tradisi serta tata perilaku yang berbeda. Dalam konteks ini, banyak mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai anak sekolah, tetapi juga belum sepenuhnya memperoleh status sebagai orang dewasa yang mandiri.
Fenomena ini sering diperkuat oleh adanya pemisahan antara ''[[town and gown]]'', yakni antara komunitas lokal dan warga akademik universitas, yang masing-masing memiliki tradisi serta tata perilaku yang berbeda. Dalam konteks ini, banyak mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai anak sekolah, tetapi juga belum sepenuhnya memperoleh status sebagai orang dewasa yang mandiri.


Situasi tersebut menciptakan suatu lingkungan di mana keberanian untuk mengambil risiko berjalan seiring dengan keberadaan [[ruang aman]] yang memungkinkan mahasiswa untuk bereksperimen dengan identitas dan cara hidup baru, dalam suatu struktur yang tetap memberikan makna dan arah.
Situasi tersebut menciptakan suatu lingkungan di mana keberanian untuk mengambil risiko berjalan seiring dengan keberadaan [[ruang aman]] yang memungkinkan mahasiswa untuk bereksperimen dengan identitas dan cara hidup baru, dalam suatu struktur yang tetap memberikan makna dan arah.<ref>Vanessa Rutherford. ''The European Higher Education Area''. 2015. hlm. 703–723. doi:10.1007/978-3-319-20877-0_44. ISBN 978-3-319-18767-9.</ref>


===Dalam budaya populer===
===Dalam budaya populer===
====Novel dan cerita pendek====
====Novel dan cerita pendek====
''[[Rant (novel)|Rant: An Oral Biography of Buster Casey]]'' karya [[Chuck Palahniuk]] memanfaatkan konsep liminalitas untuk menjelaskan perjalanan melintasi waktu. Dalam ''[[Possession (Byatt novel)|Possession]]'' karya A. S. Byatt, dijelaskan bagaimana teori sastra [[postmodern]] dan gerakan feminisme sering menulis tentang “liminalitas, ambang batas, benteng, dan pertahanan”.<ref>Byatt 1990, 505–06.</ref> Setiap judul dalam seri ''[[Twilight (novel series)|The Twilight Saga]]''—''[[Twilight (Meyer novel)|Twilight]]'', ''[[New Moon (novel)|New Moon]]'', ''[[Eclipse (Meyer novel)|Eclipse]]'', dan ''[[Breaking Dawn]]''—mengandung makna waktu peralihan atau liminal. 
Dalam ''[[The Phantom Tollbooth]]'' (1961), tokoh Milo memasuki “The Lands Beyond”, sebuah ruang liminal (yang menjelaskan sifatnya yang terbalik dan aneh) melalui gerbang tol ajaib. Setelah menyelesaikan perjalanannya, ia kembali dengan cara pandang yang berubah; pemberi gerbang tol itu tidak pernah diketahui namanya, dan dengan demikian ia pun tetap berada dalam keadaan liminal. Tema liminalitas juga mendominasi ''[[Offshore (novel)|Offshore]]'' karya [[Penelope Fitzgerald]], di mana para tokohnya hidup di antara laut dan daratan di atas perahu yang berlabuh—menjadi manusia liminal. [[Saul Bellow]] menggunakan konsep liminalitas secara beragam, termasuk dalam ''[[Dangling Man]]'', yang menempatkan tokoh utamanya di antara kehidupan sipil dan militer,<ref>Elsbree 1991, 66.</ref> pada “masa-masa tergantung” yang belum pasti arahnya.<ref>Bellow 1977, 84.</ref> 
Dalam kumpulan cerpennya, ''Tales From the Liminal'' (2021, Deuxmers<ref>[https://www.deuxmers.com/authors/s-k-kruse/tales-from-the-liminal Deuxmers - Tales from the Liminal].</ref>), S. K. Kruse<ref>[https://www.skkruse.com/ S. K. Kruse]. ''www.skkruse.com''.</ref> mengeksplorasi potensi kekuatan transformatif dari masa, tempat, dan keadaan keberadaan yang liminal.


''[[Rant (novel)|Rant: An Oral Biography of Buster Casey]]'' karya [[Chuck Palahniuk]] memanfaatkan konsep liminalitas untuk menjelaskan perjalanan melintasi waktu. Dalam ''[[Possession (Byatt novel)|Possession]]'' karya A. S. Byatt, dijelaskan bagaimana teori sastra [[postmodern]] dan gerakan feminisme sering menulis tentang “liminalitas, ambang batas, benteng, dan pertahanan”. Setiap judul dalam seri ''[[Twilight (novel series)|The Twilight Saga]]''''[[Twilight (Meyer novel)|Twilight]]'', ''[[New Moon (novel)|New Moon]]'', ''[[Eclipse (Meyer novel)|Eclipse]]'', dan ''[[Breaking Dawn]]''—mengandung makna waktu peralihan atau liminal.
Dalam ''[[Jane Eyre]]'' karya [[Charlotte Brontë]], perjalanan tokoh utama diikuti melalui berbagai tahap kehidupan ketika ia melintasi batas antara murid, pengajar, dan perempuan dewasa.<ref>''Brontë, Charlotte (1816–1855)''. Oxford University Press. 2017-11-28. Vol. 1. doi:10.1093/odnb/9780192683120.013.3523.</ref> Keberadaan Jane dalam novel ini memiliki karakter liminal. Ia pertama kali terlihat ketika bersembunyi di balik tirai merah besar untuk membaca—menutup diri secara fisik dan memasuki dunia parakosmosnya sendiri. Di Gateshead, Jane digambarkan terpisah dari keluarga yang menampungnya, berada di luar lingkaran sosial, hidup dalam ruang antara—tidak sepenuhnya diterima, tetapi tidak juga diusir.<ref>Megan Clark. ''The Space In-Between: Exploring Liminality in Jane Eyre''. ''Criterion: A Journal of Literary Criticism''. 2017. Vol. 10.</ref> 
Dalam ''[[The Phantom Tollbooth]]'' (1961), tokoh Milo memasuki “The Lands Beyond”, sebuah ruang liminal (yang menjelaskan sifatnya yang terbalik dan aneh) melalui gerbang tol ajaib. Setelah menyelesaikan perjalanannya, ia kembali dengan cara pandang yang berubah; pemberi gerbang tol itu tidak pernah diketahui namanya, dan dengan demikian ia pun tetap berada dalam keadaan liminal. Tema liminalitas juga mendominasi ''[[Offshore (novel)|Offshore]]'' karya [[Penelope Fitzgerald]], di mana para tokohnya hidup di antara laut dan daratan di atas perahu yang berlabuh—menjadi manusia liminal. [[Saul Bellow]] menggunakan konsep liminalitas secara beragam, termasuk dalam ''[[Dangling Man]]'', yang menempatkan tokoh utamanya di antara kehidupan sipil dan militer, pada “masa-masa tergantung” yang belum pasti arahnya.
Keberadaan Jane muncul sebagai paradoks, karena ia melampaui batasan-batasan sosial mengenai apa artinya menjadi seorang perempuan, yatim piatu, anak, korban, pelaku, dan peziarah.<ref>Sarah Gilead. [https://archive.org/details/sim_texas-studies-in-literature-and-language_fall-1987_29_3/page/302 Liminality and Antiliminality in Charlotte Brontë's Novels: Shirley Reads Jane Eyre]. ''Texas Studies in Literature and Language''. 1987. Vol. 29 (3). hlm. 302–322.</ref> Ia menulis narasinya sendiri, tercerabut dari masa lalu dan tanpa kepastian masa depan.<ref>Sarah Gilead. [https://archive.org/details/sim_texas-studies-in-literature-and-language_fall-1987_29_3/page/302 Liminality and Antiliminality in Charlotte Brontë's Novels: Shirley Reads Jane Eyre]. ''Texas Studies in Literature and Language''. 1987. Vol. 29 (3). hlm. 302–322.</ref> Menghadapi serangkaian krisis, Jane menantang konstruksi sosial yang membatasi, dan situasinya menciptakan dinamika naratif yang berayun antara struktur dan liminalitas—sebagaimana dikemukakan oleh Turner.<ref>Sarah Gilead. [https://archive.org/details/sim_texas-studies-in-literature-and-language_fall-1987_29_3/page/302 Liminality and Antiliminality in Charlotte Brontë's Novels: Shirley Reads Jane Eyre]. ''Texas Studies in Literature and Language''. 1987. Vol. 29 (3). hlm. 302–322.</ref>
Dalam kumpulan cerpennya, ''Tales From the Liminal'' (2021, Deuxmers), S. K. Kruse mengeksplorasi potensi kekuatan transformatif dari masa, tempat, dan keadaan keberadaan yang liminal.


Dalam ''[[Jane Eyre]]'' karya [[Charlotte Brontë]], perjalanan tokoh utama diikuti melalui berbagai tahap kehidupan ketika ia melintasi batas antara murid, pengajar, dan perempuan dewasa. Keberadaan Jane dalam novel ini memiliki karakter liminal. Ia pertama kali terlihat ketika bersembunyi di balik tirai merah besar untuk membaca—menutup diri secara fisik dan memasuki dunia parakosmosnya sendiri. Di Gateshead, Jane digambarkan terpisah dari keluarga yang menampungnya, berada di luar lingkaran sosial, hidup dalam ruang antara—tidak sepenuhnya diterima, tetapi tidak juga diusir.
Karen Brooks menyatakan bahwa karya-karya [[grunge lit]] Australia seperti ''[[Drift Street]]'' karya Clare Mendes, ''[[The Lives of the Saints (Berridge short story collection)|The Lives of the Saints]]'' karya Edward Berridge, dan ''[[Praise (novel)|Praise]]'' karya [[Andrew McGahan]] “…mengeksplorasi batas-batas psikososial dan psikoseksual karakter muda urban dan pinggiran kota dalam kaitannya dengan batas-batas imajiner dan sosial yang membentuk konsep diri dan liyan,” serta membuka ruang “batas-batas liminal baru” untuk menelusuri gagasan tentang tubuh manusia yang [[abjek]].<ref>Karen Brooks. [https://www.australianliterarystudies.com.au/articles/shit-creek-suburbia-abjection-and-subjectivity-in-australian-grunge-fiction Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction]. ''Australian Literary Studies''. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.</ref> 
Keberadaan Jane muncul sebagai paradoks, karena ia melampaui batasan-batasan sosial mengenai apa artinya menjadi seorang perempuan, yatim piatu, anak, korban, pelaku, dan peziarah. Ia menulis narasinya sendiri, tercerabut dari masa lalu dan tanpa kepastian masa depan. Menghadapi serangkaian krisis, Jane menantang konstruksi sosial yang membatasi, dan situasinya menciptakan dinamika naratif yang berayun antara struktur dan liminalitas—sebagaimana dikemukakan oleh Turner.
Brooks menambahkan bahwa kisah-kisah pendek Berridge menampilkan “beragam karakter muda yang penuh kekerasan, terasing, dan sering kali abjek”, tokoh-tokoh yang “mengaburkan dan bahkan membalikkan batas antara ruang pinggiran dan kota”.<ref>Karen Brooks. [https://www.australianliterarystudies.com.au/articles/shit-creek-suburbia-abjection-and-subjectivity-in-australian-grunge-fiction Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction]. ''Australian Literary Studies''. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.</ref> 
Ia juga berpendapat bahwa para tokoh marjinal dalam ''The Lives of the Saints'', ''Drift Street'', dan ''Praise'' mampu bertahan di “arus kotor” kehidupan mereka dan bahkan “mengalihkan aliran” sungai-sungai itu, dengan demikian mengklaim liminalitas lingkungan keras mereka—dan bahkan kondisi tubuh mereka yang abjek—sebagai “sumber kekuatan simbolik dan agensi”.<ref>Karen Brooks. [https://www.australianliterarystudies.com.au/articles/shit-creek-suburbia-abjection-and-subjectivity-in-australian-grunge-fiction Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction]. ''Australian Literary Studies''. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.</ref> 
Dalam cerita “Caravan Park” dari koleksi Berridge, latar tempat berupa taman [[rumah bergerak]] digambarkan sebagai ruang liminal, karena rumah-rumah itu dapat berpindah lokasi; latar seperti ini, menurut Brooks, “berpotensi mengguncang berbagai batas geofisik dan psikososial”.<ref>Karen Brooks. [https://www.australianliterarystudies.com.au/articles/shit-creek-suburbia-abjection-and-subjectivity-in-australian-grunge-fiction Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction]. ''Australian Literary Studies''. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.</ref> Dalam cerita “Bored Teenagers”, para remaja yang menggunakan pusat komunitas memutuskan untuk merusak fasilitasnya dan menajiskan ruang tersebut dengan kencing di dalamnya, tindakan yang oleh Brooks dianggap mengubah dinamika tempat itu dan persepsi terhadap tubuh mereka, sekaligus menandakan “hilangnya otoritas” pusat komunitas atas para remaja.<ref>Karen Brooks. [https://www.australianliterarystudies.com.au/articles/shit-creek-suburbia-abjection-and-subjectivity-in-australian-grunge-fiction Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction]. ''Australian Literary Studies''. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.</ref>


Karen Brooks menyatakan bahwa karya-karya [[grunge lit]] Australia seperti ''[[Drift Street]]'' karya Clare Mendes, ''[[The Lives of the Saints (Berridge short story collection)|The Lives of the Saints]]'' karya Edward Berridge, dan ''[[Praise (novel)|Praise]]'' karya [[Andrew McGahan]] “…mengeksplorasi batas-batas psikososial dan psikoseksual karakter muda urban dan pinggiran kota dalam kaitannya dengan batas-batas imajiner dan sosial yang membentuk konsep diri dan liyan,” serta membuka ruang “batas-batas liminal baru” untuk menelusuri gagasan tentang tubuh manusia yang [[abjek]].
''In-Between: Liminal Stories'' merupakan kumpulan sepuluh cerita pendek dan puisi yang sepenuhnya berfokus pada ekspresi liminal dari berbagai tema seperti gangguan ingatan, ketidakpastian pandemi, otoritarianisme, realitas virtual, sengketa perbatasan, kecemasan usia tua, isu lingkungan, dan persoalan gender. Cerita-cerita seperti “In-Between”, “Cogito, Ergo Sum”, “The Trap”, “Monkey Bath”, “DreamCatcher”, “Escape to Nowhere”, “A Letter to My-Self”, “No Man's Land”, “Whither Am I?”, dan “Fe/Male”<ref>Raisun Mathew. ''In-Between: Liminal Stories''. Authorspress. 2022. ISBN 978-93-91314-04-0.</ref> tidak hanya relevan secara tematik, tetapi juga mengaitkan secara langsung maupun tersirat potensi konsep liminalitas dalam pengembangan karakter, alur, dan latar. Pengalaman serta ekspresi kehidupan “di antara”—hidup dalam dunia transisi yang terus mengubah hal-hal konstan dalam kehidupan manusia—tercermin jelas dalam karya-karya ini, yang berhubungan dengan konsep teoretis seperti liminalitas permanen dan sementara, ruang liminal, entitas liminal, liminoid, [[communitas]], dan anti-struktur. Makna liminalitas dalam cerita-cerita tersebut ditegaskan dengan menggambarkan para tokoh sebagai “mereka yang hidup bukan di sini, bukan di sana—melainkan di suatu ruang di antara keduanya”.<ref>Raisun Mathew. ''In-Between: Liminal Stories''. Authorspress. 2022. ISBN 978-93-91314-04-0.</ref>
Brooks menambahkan bahwa kisah-kisah pendek Berridge menampilkan “beragam karakter muda yang penuh kekerasan, terasing, dan sering kali abjek”, tokoh-tokoh yang “mengaburkan dan bahkan membalikkan batas antara ruang pinggiran dan kota”.
Ia juga berpendapat bahwa para tokoh marjinal dalam ''The Lives of the Saints'', ''Drift Street'', dan ''Praise'' mampu bertahan di “arus kotor” kehidupan mereka dan bahkan “mengalihkan aliran” sungai-sungai itu, dengan demikian mengklaim liminalitas lingkungan keras mereka—dan bahkan kondisi tubuh mereka yang abjek—sebagai “sumber kekuatan simbolik dan agensi”.
Dalam cerita “Caravan Park” dari koleksi Berridge, latar tempat berupa taman [[rumah bergerak]] digambarkan sebagai ruang liminal, karena rumah-rumah itu dapat berpindah lokasi; latar seperti ini, menurut Brooks, “berpotensi mengguncang berbagai batas geofisik dan psikososial”. Dalam cerita “Bored Teenagers”, para remaja yang menggunakan pusat komunitas memutuskan untuk merusak fasilitasnya dan menajiskan ruang tersebut dengan kencing di dalamnya, tindakan yang oleh Brooks dianggap mengubah dinamika tempat itu dan persepsi terhadap tubuh mereka, sekaligus menandakan “hilangnya otoritas” pusat komunitas atas para remaja.
 
''In-Between: Liminal Stories'' merupakan kumpulan sepuluh cerita pendek dan puisi yang sepenuhnya berfokus pada ekspresi liminal dari berbagai tema seperti gangguan ingatan, ketidakpastian pandemi, otoritarianisme, realitas virtual, sengketa perbatasan, kecemasan usia tua, isu lingkungan, dan persoalan gender. Cerita-cerita seperti “In-Between”, “Cogito, Ergo Sum”, “The Trap”, “Monkey Bath”, “DreamCatcher”, “Escape to Nowhere”, “A Letter to My-Self”, “No Man's Land”, “Whither Am I?”, dan “Fe/Male” tidak hanya relevan secara tematik, tetapi juga mengaitkan secara langsung maupun tersirat potensi konsep liminalitas dalam pengembangan karakter, alur, dan latar. Pengalaman serta ekspresi kehidupan “di antara”—hidup dalam dunia transisi yang terus mengubah hal-hal konstan dalam kehidupan manusia—tercermin jelas dalam karya-karya ini, yang berhubungan dengan konsep teoretis seperti liminalitas permanen dan sementara, ruang liminal, entitas liminal, liminoid, [[communitas]], dan anti-struktur. Makna liminalitas dalam cerita-cerita tersebut ditegaskan dengan menggambarkan para tokoh sebagai “mereka yang hidup bukan di sini, bukan di sana—melainkan di suatu ruang di antara keduanya”.


====Drama====
====Drama====
''[[Rosencrantz and Guildenstern Are Dead]]'', drama karya [[Tom Stoppard]], berlangsung di antara dua dunia, suatu wilayah tanpa tuan dan latar sesungguhnya dari ''[[Hamlet]]''. "Drama Shakespeare ''Hamlet'' dalam banyak hal merupakan esai tentang liminalitas yang berkelanjutan... hanya melalui kondisi liminal yang sempurna Hamlet akhirnya dapat melihat jalan ke depan"” Dalam ''[[Waiting for Godot]]'', sepanjang pertunjukan dua tokoh berjalan gelisah di atas panggung kosong, terus berayun antara harapan dan keputusasaan. Sesekali salah satu dari mereka lupa akan apa yang sedang mereka tunggu, dan yang lain mengingatkannya: "Kita sedang menunggu Godot." Identitas 'Godot' tak pernah diungkapkan, mungkin bahkan kedua tokoh itu sendiri tak mengetahuinya. Mereka berusaha mempertahankan semangatnya sembari menunggu dalam kehampaan yang tak berujung.
''[[Rosencrantz and Guildenstern Are Dead]]'', drama karya [[Tom Stoppard]], berlangsung di antara dua dunia, suatu wilayah tanpa tuan dan latar sesungguhnya dari ''[[Hamlet]]''. "Drama Shakespeare ''Hamlet'' dalam banyak hal merupakan esai tentang liminalitas yang berkelanjutan... hanya melalui kondisi liminal yang sempurna Hamlet akhirnya dapat melihat jalan ke depan"”<ref>Liebler, hlm. 182–84</ref> Dalam ''[[Waiting for Godot]]'', sepanjang pertunjukan dua tokoh berjalan gelisah di atas panggung kosong, terus berayun antara harapan dan keputusasaan. Sesekali salah satu dari mereka lupa akan apa yang sedang mereka tunggu, dan yang lain mengingatkannya: "Kita sedang menunggu Godot." Identitas 'Godot' tak pernah diungkapkan, mungkin bahkan kedua tokoh itu sendiri tak mengetahuinya. Mereka berusaha mempertahankan semangatnya sembari menunggu dalam kehampaan yang tak berujung.


====Film dan acara televisi====
====Film dan acara televisi====
Baris 190: Baris 220:


====Fotografi dan budaya Internet====
====Fotografi dan budaya Internet====
Pada akhir dekade 2010-an, sebuah tren gambar yang menampilkan apa yang disebut sebagai "ruang liminal" merebak dalam komunitas seni dan fotografi daring, dengan tujuan menyampaikan "rasa nostalgia, keterasingan, dan ketidakpastian".<ref>[https://museemagazine.com/features/2020/11/1/the-cult-following-of-liminal-space Architecture: The Cult Following Of Liminal Space]. ''Musée Magazine''. 2 November 2020.</ref> Subjek foto-foto ini tidak selalu sesuai dengan definisi klasik ruang liminal (seperti lorong, ruang tunggu, atau tempat peristirahatan), melainkan didefinisikan oleh suasana muram serta kesan keterlantaran, kehancuran, dan kesunyian. Selain itu, telah diusulkan bahwa fenomena ruang liminal dapat merepresentasikan perasaan disorientasi yang lebih luas dalam masyarakat modern, menjelaskan mengapa tempat-tempat yang kerap muncul dalam kenangan masa kecil (seperti taman bermain atau sekolah) digunakan sebagai refleksi tentang perjalanan waktu dan pengalaman kolektif manusia dalam menua.<ref>[https://twopointonemag.com/how-liminal-spaces-became-the-internets-latest-obsession/ How liminal spaces became the internet's latest obsession]. ''TwoPointOne Magazine''. 18 June 2021.</ref>


Fenomena ini mulai menarik perhatian media pada tahun 2019, ketika sebuah [[creepypasta]] pendek yang pertama kali diposting di papan /x/ milik [[4chan]] menjadi viral.<ref>Michael L. S. [https://bloody-disgusting.com/editorials/3614536/play-shadows-backrooms-game-brings-modern-creepypasta-life/ 'The Backrooms Game' Brings a Modern Creepypasta to Life [What We Play in the Shadows]]. ''Bloody Disgusting!''. 2020-04-30.</ref> Cerita pendek tersebut menampilkan gambar sebuah lorong dengan karpet dan wallpaper berwarna kuning, disertai keterangan bahwa dengan "[[Noclip mode|menembus batas kenyataan]] dalam kehidupan nyata", seseorang dapat memasuki ''[[the Backrooms]]'', hamparan koridor tak berujung yang dipenuhi "bau karpet lembap yang telah menua, kegilaan dari warna kuning tunggal, dengungan lampu neon yang terus-menerus, dan sekitar enam ratus juta mil persegi ruang kosong yang terpecah secara acak dan menjebak penghuninya".<ref>[https://www.youtube.com/watch?v=UfBA0TUVhvQ&gl=US&hl=en We will find where the Original Backrooms Photo was taken. But, we need your help. - YouTube]. ''YouTube''. 2020-10-30.</ref> Sejak saat itu, sebuah [[subreddit]] populer berjudul "liminal space", yang mengarsipkan foto-foto dengan "kesan bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya benar",<ref>[https://www.earnestpettie.com/liminal-spaces-may-be-the-most-2020-of-all-trends/ Liminal Spaces may be the most 2020 of all trends]. ''Earnest Pettie Online''. 2020-12-31.</ref> telah mengumpulkan lebih dari 500.000 pengikut.<ref>[https://www.cbc.ca/arts/will-the-mall-survive-covid-whatever-happens-these-artists-want-to-capture-them-before-they-re-gone-1.5850758 Will the mall survive COVID? Whatever happens, these artists want to capture them before they're gone CBC Arts]. ''CBC''.</ref><ref>[https://www.reddit.com/r/LiminalSpace/ LiminalSpace]. ''Reddit''.</ref> Sebuah akun [[Twitter]] bernama @SpaceLiminalBot yang secara rutin memposting foto-foto ruang liminal juga telah menarik lebih dari 1,2 juta pengikut.<ref>Jake Pitre. [https://www.theatlantic.com/culture/archive/2022/11/liminal-space-internet-aesthetic/671945/ The Eerie Comfort of Liminal Spaces]. ''The Atlantic''. 2022-11-01.</ref> Konsep ruang liminal juga dapat ditemukan dalam [[lukisan]] dan [[gambar]], misalnya dalam karya-karya pelukis [[Jeffrey Smart|Jeffery Smart]].<ref>Nick Kenyon. [https://www.bosshunting.com.au/lifestyle/jeffrey-smart-exhibition-nga/ The Exhibition Spotlighting One Of Australia's Greatest Artists]. ''Boss Hunting''. 2022-03-02.</ref><ref>[https://www.wikiart.org/en/jeffrey-smart Jeffrey Smart - 155 artworks - painting]. ''www.wikiart.org''.</ref>


Pada akhir dekade 2010-an, sebuah tren gambar yang menampilkan apa yang disebut sebagai "ruang liminal" merebak dalam komunitas seni dan fotografi daring, dengan tujuan menyampaikan "rasa nostalgia, keterasingan, dan ketidakpastian". Subjek foto-foto ini tidak selalu sesuai dengan definisi klasik ruang liminal (seperti lorong, ruang tunggu, atau tempat peristirahatan), melainkan didefinisikan oleh suasana muram serta kesan keterlantaran, kehancuran, dan kesunyian. Selain itu, telah diusulkan bahwa fenomena ruang liminal dapat merepresentasikan perasaan disorientasi yang lebih luas dalam masyarakat modern, menjelaskan mengapa tempat-tempat yang kerap muncul dalam kenangan masa kecil (seperti taman bermain atau sekolah) digunakan sebagai refleksi tentang perjalanan waktu dan pengalaman kolektif manusia dalam menua.
Penelitian menunjukkan bahwa ruang liminal dapat tampak menyeramkan atau ganjil karena berada dalam semacam [[lembah gerun]] arsitektur dan ruang fisik.<ref>Alexander Diel. ''Structural deviations drive an uncanny valley of physical places''. ''Journal of Environmental Psychology''. 1 August 2022. Vol. 82. doi:10.1016/j.jenvp.2022.101844.</ref>
 
Fenomena ini mulai menarik perhatian media pada tahun 2019, ketika sebuah [[creepypasta]] pendek yang pertama kali diposting di papan /x/ milik [[4chan]] menjadi viral. Cerita pendek tersebut menampilkan gambar sebuah lorong dengan karpet dan wallpaper berwarna kuning, disertai keterangan bahwa dengan "[[Noclip mode|menembus batas kenyataan]] dalam kehidupan nyata", seseorang dapat memasuki ''[[the Backrooms]]'', hamparan koridor tak berujung yang dipenuhi "bau karpet lembap yang telah menua, kegilaan dari warna kuning tunggal, dengungan lampu neon yang terus-menerus, dan sekitar enam ratus juta mil persegi ruang kosong yang terpecah secara acak dan menjebak penghuninya". Sejak saat itu, sebuah [[subreddit]] populer berjudul "liminal space", yang mengarsipkan foto-foto dengan "kesan bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya benar", telah mengumpulkan lebih dari 500.000 pengikut. Sebuah akun [[Twitter]] bernama @SpaceLiminalBot yang secara rutin memposting foto-foto ruang liminal juga telah menarik lebih dari 1,2 juta pengikut. Konsep ruang liminal juga dapat ditemukan dalam [[lukisan]] dan [[gambar]], misalnya dalam karya-karya pelukis [[Jeffrey Smart|Jeffery Smart]].
 
Penelitian menunjukkan bahwa ruang liminal dapat tampak menyeramkan atau ganjil karena berada dalam semacam [[lembah gerun]] arsitektur dan ruang fisik.


====Musik dan media lainnya====
====Musik dan media lainnya====
Banyak permainan video yang didasarkan pada konsep estetika ruang liminal. Contohnya termasuk ''[[Superliminal]]'' serta berbagai [[The Backrooms#Video games|adaptasi permainan video dari The Backrooms]], di antara banyak karya lainnya.
Banyak permainan video yang didasarkan pada konsep estetika ruang liminal. Contohnya termasuk ''[[Superliminal]]'' serta berbagai [[The Backrooms#Video games|adaptasi permainan video dari The Backrooms]], di antara banyak karya lainnya.


Baris 207: Baris 234:


==Pengalaman Liminoid==
==Pengalaman Liminoid==
Pada tahun 1974, Victor Turner memperkenalkan istilah ''liminoid'' (berasal dari kata Yunani ''eidos'', yang berarti “bentuk” atau “wujud”<ref>Hazel Andrews. ''International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences''. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.</ref>) untuk merujuk pada pengalaman-pengalaman yang memiliki ciri serupa dengan pengalaman liminal, namun bersifat opsional dan tidak melibatkan penyelesaian atas suatu krisis pribadi.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref> Berbeda dari peristiwa liminal, pengalaman liminoid bersifat kondisional dan tidak menghasilkan perubahan status, melainkan hanya menjadi momen transisi dalam waktu.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref>


Pada tahun 1974, Victor Turner memperkenalkan istilah ''liminoid'' (berasal dari kata Yunani ''eidos'', yang berarti “bentuk” atau “wujud”) untuk merujuk pada pengalaman-pengalaman yang memiliki ciri serupa dengan pengalaman liminal, namun bersifat opsional dan tidak melibatkan penyelesaian atas suatu krisis pribadi. Berbeda dari peristiwa liminal, pengalaman liminoid bersifat kondisional dan tidak menghasilkan perubahan status, melainkan hanya menjadi momen transisi dalam waktu.
Konsep liminal berkaitan dengan kehidupan sosial, bagian dari ritual keagamaan atau sosial, sementara liminoid justru menjadi bentuk pelepasan dari kehidupan sosial, bagian dari “permainan” atau aktivitas rekreatif. Dengan munculnya industrialisasi dan berkembangnya waktu luang sebagai bentuk permainan yang sah dan terpisah dari kerja, pengalaman liminoid menjadi jauh lebih umum dibandingkan dengan ritus-ritus liminal tradisional.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref> Dalam masyarakat modern semacam ini, ritus keagamaan atau sosial mulai memudar dan melahirkan gagasan tentang "ritual liminoid" bagi fenomena sekuler yang sejenis, seperti menghadiri konser musik rock dan berbagai bentuk pengalaman liminoid lainnya.<ref>Illouz, ''Consuming'' p. 142</ref>


Konsep liminal berkaitan dengan kehidupan sosial, bagian dari ritual keagamaan atau sosial, sementara liminoid justru menjadi bentuk pelepasan dari kehidupan sosial, bagian dari “permainan” atau aktivitas rekreatif. Dengan munculnya industrialisasi dan berkembangnya waktu luang sebagai bentuk permainan yang sah dan terpisah dari kerja, pengalaman liminoid menjadi jauh lebih umum dibandingkan dengan ritus-ritus liminal tradisional. Dalam masyarakat modern semacam ini, ritus keagamaan atau sosial mulai memudar dan melahirkan gagasan tentang "ritual liminoid" bagi fenomena sekuler yang sejenis, seperti menghadiri konser musik rock dan berbagai bentuk pengalaman liminoid lainnya.
Peralihan dari tahap-tahap liminal menuju pengalaman liminoid menandai perubahan kebudayaan dari masyarakat kesukuan dan agraris menuju masyarakat modern dan industrial. Dalam masyarakat modern, kerja dan permainan dipisahkan sepenuhnya, sementara dalam masyarakat purba keduanya hampir tak dapat dibedakan.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref> Dahulu, permainan menyatu dengan aktivitas kerja melalui gerak simbolik dan ritual yang bertujuan untuk memohon kesuburan, kelimpahan, serta menandai fase-fase liminal tertentu; dengan demikian, kerja dan permainan tak terpisahkan dan sering bergantung pada ritus sosial.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref> Contohnya dapat ditemukan dalam teka-teki dan kisah jenaka suku Cherokee dan Maya, permainan bola suci, serta hubungan bercanda sakral yang memiliki makna religius dalam konteks kerja sekaligus mempertahankan unsur permainan.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref>


Peralihan dari tahap-tahap liminal menuju pengalaman liminoid menandai perubahan kebudayaan dari masyarakat kesukuan dan agraris menuju masyarakat modern dan industrial. Dalam masyarakat modern, kerja dan permainan dipisahkan sepenuhnya, sementara dalam masyarakat purba keduanya hampir tak dapat dibedakan. Dahulu, permainan menyatu dengan aktivitas kerja melalui gerak simbolik dan ritual yang bertujuan untuk memohon kesuburan, kelimpahan, serta menandai fase-fase liminal tertentu; dengan demikian, kerja dan permainan tak terpisahkan dan sering bergantung pada ritus sosial. Contohnya dapat ditemukan dalam teka-teki dan kisah jenaka suku Cherokee dan Maya, permainan bola suci, serta hubungan bercanda sakral yang memiliki makna religius dalam konteks kerja sekaligus mempertahankan unsur permainan.
Pada masa lampau, mitos dan ritual terjalin erat dengan kerja kolektif yang memiliki tujuan sakral dan simbolik; ritus liminal diwujudkan melalui upacara pendewasaan, perayaan musim, dan berbagai peristiwa penting lainnya. Industrialisasi kemudian memutus ikatan antara kerja dan kesakralan, menempatkan “kerja” dan “permainan” dalam dua ranah yang terpisah dan jarang, jika pernah, bersinggungan.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref>


Pada masa lampau, mitos dan ritual terjalin erat dengan kerja kolektif yang memiliki tujuan sakral dan simbolik; ritus liminal diwujudkan melalui upacara pendewasaan, perayaan musim, dan berbagai peristiwa penting lainnya. Industrialisasi kemudian memutus ikatan antara kerja dan kesakralan, menempatkan “kerja” dan “permainan” dalam dua ranah yang terpisah dan jarang, jika pernah, bersinggungan.
Dalam esainya yang terkenal mengenai pergeseran dari liminal menuju liminoid dalam masyarakat industri, Turner memberikan dua penjelasan utama. Pertama, masyarakat mulai menjauh dari kegiatan yang didorong oleh kewajiban ritual kolektif, dan beralih menekankan pentingnya individu dibanding komunitas; hal ini membuka ruang bagi pilihan pribadi dalam aktivitas, menjadikan kerja dan waktu luang bersifat opsional. Kedua, pekerjaan yang dilakukan demi mencari nafkah menjadi sepenuhnya terpisah dari kegiatan lainnya, sehingga “tidak lagi bersifat alami, melainkan arbitrer.”<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref> Dengan kata lain, revolusi industri melahirkan waktu luang yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat tradisional, menciptakan ruang bagi munculnya pengalaman-pengalaman liminoid.<ref>Victor Turner. ''Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology''. ''Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies''. July 1974. Vol. 60 (3).</ref>
 
Dalam esainya yang terkenal mengenai pergeseran dari liminal menuju liminoid dalam masyarakat industri, Turner memberikan dua penjelasan utama. Pertama, masyarakat mulai menjauh dari kegiatan yang didorong oleh kewajiban ritual kolektif, dan beralih menekankan pentingnya individu dibanding komunitas; hal ini membuka ruang bagi pilihan pribadi dalam aktivitas, menjadikan kerja dan waktu luang bersifat opsional. Kedua, pekerjaan yang dilakukan demi mencari nafkah menjadi sepenuhnya terpisah dari kegiatan lainnya, sehingga “tidak lagi bersifat alami, melainkan arbitrer.” Dengan kata lain, revolusi industri melahirkan waktu luang yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat tradisional, menciptakan ruang bagi munculnya pengalaman-pengalaman liminoid.


=== Contoh pengalaman liminoid ===
=== Contoh pengalaman liminoid ===
==== Olahraga ====
==== Olahraga ====
Acara olahraga seperti Olimpiade, pertandingan sepak bola NFL, dan laga hoki merupakan bentuk pengalaman liminoid. Aktivitas-aktivitas ini bersifat opsional, dilakukan dalam konteks rekreasi, dan menempatkan baik penonton maupun atlet pada posisi "di antara", di luar batas norma sosial yang biasa. Pertandingan olahraga juga menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para penggemar dan memperkuat semangat kolektif mereka yang terlibat di dalamnya.
Acara olahraga seperti Olimpiade, pertandingan sepak bola NFL, dan laga hoki merupakan bentuk pengalaman liminoid. Aktivitas-aktivitas ini bersifat opsional, dilakukan dalam konteks rekreasi, dan menempatkan baik penonton maupun atlet pada posisi "di antara", di luar batas norma sosial yang biasa. Pertandingan olahraga juga menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para penggemar dan memperkuat semangat kolektif mereka yang terlibat di dalamnya.<ref>Graham St John. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse Victor Turner and Contemporary Cultural Performance]. Berghahn Books. 2008. hlm. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse/page/126 127]. ISBN 978-0-85745-037-1.</ref>


Pertandingan sepak bola tahunan, kompetisi senam, pertandingan bisbol modern, dan perlombaan renang semuanya dapat digolongkan sebagai pengalaman liminoid. Kegiatan-kegiatan ini mengikuti pola musiman, sehingga alur dunia olahraga menjadi siklikal dan dapat diprediksi, memperkuat sifat liminal yang melekat di dalamnya. Perburuan harta karun amatir juga telah digambarkan dengan menggunakan teori liminal (King, 2024).
Pertandingan sepak bola tahunan, kompetisi senam, pertandingan bisbol modern, dan perlombaan renang semuanya dapat digolongkan sebagai pengalaman liminoid. Kegiatan-kegiatan ini mengikuti pola musiman, sehingga alur dunia olahraga menjadi siklikal dan dapat diprediksi, memperkuat sifat liminal yang melekat di dalamnya.<ref>Graham St John. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse Victor Turner and Contemporary Cultural Performance]. Berghahn Books. 2008. hlm. [https://archive.org/details/victorturnercont0000unse/page/126 127]. ISBN 978-0-85745-037-1.</ref> Perburuan harta karun amatir juga telah digambarkan dengan menggunakan teori liminal (King, 2024).


==== Penerbangan komersial ====
==== Penerbangan komersial ====
Seorang sarjana, Alexandra Murphy, berpendapat bahwa perjalanan dengan pesawat terbang secara hakikat bersifat liminoid, melayang di udara, tidak berada di sini maupun di sana, melintasi ambang waktu dan ruang, sehingga pengalaman terbang itu sendiri sulit untuk dipahami sepenuhnya. Murphy berpendapat bahwa penerbangan menggeser keberadaan manusia ke dalam ruang limbo, di mana gerak menjadi serangkaian “pertunjukan budaya” yang secara halus meyakinkan kita bahwa perjalanan udara adalah cerminan dari realitas, bukan pemisahan darinya.
Seorang sarjana, Alexandra Murphy, berpendapat bahwa perjalanan dengan pesawat terbang secara hakikat bersifat liminoid, melayang di udara, tidak berada di sini maupun di sana, melintasi ambang waktu dan ruang, sehingga pengalaman terbang itu sendiri sulit untuk dipahami sepenuhnya.<ref>Alexandra G. Murphy. ''Organizational Politics of Place and Space: The Perpetual Liminoid Performance of Commercial Flight''. ''Text and Performance Quarterly''. October 2002. Vol. 22 (4). hlm. 297–316. doi:10.1080/10462930208616175.</ref> Murphy berpendapat bahwa penerbangan menggeser keberadaan manusia ke dalam ruang limbo, di mana gerak menjadi serangkaian “pertunjukan budaya” yang secara halus meyakinkan kita bahwa perjalanan udara adalah cerminan dari realitas, bukan pemisahan darinya.<ref>Alexandra G. Murphy. ''Organizational Politics of Place and Space: The Perpetual Liminoid Performance of Commercial Flight''. ''Text and Performance Quarterly''. October 2002. Vol. 22 (4). hlm. 297–316. doi:10.1080/10462930208616175.</ref>


==Lihat pula==
==Lihat pula==
 
*  — keadaan di mana sifat maskulin dan feminin berpadu dalam satu entitas, baik secara fisik maupun psikologis.
*  — keadaan di mana sifat maskulin dan feminin berpadu dalam satu entitas, baik secara fisik maupun psikologis.
*  — dalam tradisi Buddhis Tibet, istilah yang mengacu pada keadaan peralihan antara kematian dan kelahiran kembali.
*  — dalam tradisi Buddhis Tibet, istilah yang mengacu pada keadaan peralihan antara kematian dan kelahiran kembali.
*  — ketegangan batin yang muncul ketika seseorang memegang dua gagasan atau keyakinan yang saling bertentangan.
*  — ketegangan batin yang muncul ketika seseorang memegang dua gagasan atau keyakinan yang saling bertentangan.
*  — kondisi batas di mana dua fase zat menjadi tidak dapat dibedakan satu sama lain.
*  — kondisi batas di mana dua fase zat menjadi tidak dapat dibedakan satu sama lain.
*  — ruang atau keadaan peralihan dalam teologi dan sastra, sering digambarkan sebagai tempat antara surga dan neraka.
*  — ruang atau keadaan peralihan dalam teologi dan sastra, sering digambarkan sebagai tempat antara surga dan neraka.
*  — sosok atau entitas yang berada di ambang batas antara dua dunia, realitas, atau kondisi eksistensial.
*  — sosok atau entitas yang berada di ambang batas antara dua dunia, realitas, atau kondisi eksistensial.
*  — dewa yang menguasai atau melambangkan ambang batas dan peralihan, penjaga gerbang antara ranah berbeda.
*  — dewa yang menguasai atau melambangkan ambang batas dan peralihan, penjaga gerbang antara ranah berbeda.
*  — pengalaman eksistensial ekstrem yang memaksa seseorang menghadapi hakikat terdalam keberadaannya.
*  — pengalaman eksistensial ekstrem yang memaksa seseorang menghadapi hakikat terdalam keberadaannya.
*  — istilah Latin bagi “tempat yang menyenangkan,” sering digunakan dalam sastra klasik untuk menggambarkan lokasi ideal yang menenangkan dan penuh harmoni.
*  — istilah Latin bagi “tempat yang menyenangkan,” sering digunakan dalam sastra klasik untuk menggambarkan lokasi ideal yang menenangkan dan penuh harmoni.
*  — perubahan mendasar dalam keadaan materi atau sistem, misalnya dari padat menjadi cair.
*  — perubahan mendasar dalam keadaan materi atau sistem, misalnya dari padat menjadi cair.
*  — perjalanan seseorang dalam menyesuaikan identitas gendernya, baik secara sosial, medis, maupun psikologis.
*  — perjalanan seseorang dalam menyesuaikan identitas gendernya, baik secara sosial, medis, maupun psikologis.
*  — keadaan kesadaran yang berubah, sering dikaitkan dengan praktik spiritual, meditasi, atau hipnosis.
*  — keadaan kesadaran yang berubah, sering dikaitkan dengan praktik spiritual, meditasi, atau hipnosis.
*  — sesuatu yang memiliki keberadaan atau eksistensi tersendiri, baik bersifat konkret maupun abstrak.
*  — sesuatu yang memiliki keberadaan atau eksistensi tersendiri, baik bersifat konkret maupun abstrak.
*  — berbagai pengertian yang merujuk pada situasi atau kondisi di antara dua keadaan yang berbeda.
*  — berbagai pengertian yang merujuk pada situasi atau kondisi di antara dua keadaan yang berbeda.
 
 
== Catatan kaki ==
 


== Sumber umum ==
== Sumber umum ==
Baris 267: Baris 287:
*Girard, René. ''Violence and the Sacred''. London: Athlone, 1988.
*Girard, René. ''Violence and the Sacred''. London: Athlone, 1988.
*Homans, Peter. ''Jung in Context: Modernity and the Making of a Psychology''. Chicago: University of Chicago, 1979.
*Homans, Peter. ''Jung in Context: Modernity and the Making of a Psychology''. Chicago: University of Chicago, 1979.
*
*  
*
*  
*Illouz, Eva. ''Consuming the Romantic Utopia: Love and the Cultural Contradictions of Capitalism''. UCP, 1997.
*Illouz, Eva. ''Consuming the Romantic Utopia: Love and the Cultural Contradictions of Capitalism''. UCP, 1997.
*Jung, C. G. ''Man and His Symbols''. London: Picador, 1978.
*Jung, C. G. ''Man and His Symbols''. London: Picador, 1978.
Baris 275: Baris 295:
*Liebler, Naomi Conn. ''Shakespeare's Festive Tragedy: the Ritual Foundations of Genre''. London: Routledge, 1995.
*Liebler, Naomi Conn. ''Shakespeare's Festive Tragedy: the Ritual Foundations of Genre''. London: Routledge, 1995.
*Lih, Andrew. ''The Wikipedia Revolution: How a Bunch of Nobodies Created the World's Greatest Encyclopedia''. London: Aurum, 2009.
*Lih, Andrew. ''The Wikipedia Revolution: How a Bunch of Nobodies Created the World's Greatest Encyclopedia''. London: Aurum, 2009.
*
*  
*Miller, Jeffrey C., and C. G. Jung. ''The Transcendent Function: Jung's Model of Psychological Growth through Dialogue with the Unconscious''. Albany: State University of New York, 2004.
*Miller, Jeffrey C., and C. G. Jung. ''The Transcendent Function: Jung's Model of Psychological Growth through Dialogue with the Unconscious''. Albany: State University of New York, 2004.
*Nicholas, Dean Andrew. ''The Trickster Revisited: Deception as a Motif in the Pentatech''. New York: Peter Lang, 2009.
*Nicholas, Dean Andrew. ''The Trickster Revisited: Deception as a Motif in the Pentatech''. New York: Peter Lang, 2009.
Baris 281: Baris 301:
*Quasha, George & Charles Stein. ''An Art of Limina: Gary Hill's Works and Writings''. Barcelona: Ediciones Polígrafa, 2009. Foreword by Lynne Cooke.
*Quasha, George & Charles Stein. ''An Art of Limina: Gary Hill's Works and Writings''. Barcelona: Ediciones Polígrafa, 2009. Foreword by Lynne Cooke.
*Ramanujan, A. K. ''Speaking of Śiva''. Harmondsworth: Penguin, 1979.
*Ramanujan, A. K. ''Speaking of Śiva''. Harmondsworth: Penguin, 1979.
*Robben, A. and Sluka, J. Editors, ''Ethnographic Fieldwork: An Anthropological Reader'' Wiley-Blackwell, 2012.
*Robben, A. and Sluka, J. Editors, ''Ethnographic Fieldwork: An Anthropological Reader'' Wiley-Blackwell, 2012.  
*Rogers, Carl R. ''On Becoming a Person; a Therapist's View of Psychotherapy''. Boston: Houghton Mifflin, 1961.
*Rogers, Carl R. ''On Becoming a Person; a Therapist's View of Psychotherapy''. Boston: Houghton Mifflin, 1961.
*
*  
*Shorter, Bani. ''An Image Darkly Forming: Women and Initiation''. London: Routledge, 1988.
*Shorter, Bani. ''An Image Darkly Forming: Women and Initiation''. London: Routledge, 1988.
*
*  
* St John, Graham (ed.) 2008. [http://www.edgecentral.net/turnercollection.htm ''Victor Turner and Contemporary Cultural Performance''] . New York: Berghahn. .
* St John, Graham (ed.) 2008. [http://www.edgecentral.net/turnercollection.htm ''Victor Turner and Contemporary Cultural Performance''] . New York: Berghahn. .
*
*  
*
*  
*
*  
*Szakolczai, A. (2000) ''Reflexive Historical Sociology'', London: Routledge.
*Szakolczai, A. (2000) ''Reflexive Historical Sociology'', London: Routledge.
*Turner, "Betwixt and Between: The Liminal Period in Rites de Passage", in ''The Forest of Symbols'' Ithaca, NY: [[Cornell University Press]], 1967
*Turner, "Betwixt and Between: The Liminal Period in Rites de Passage", in ''The Forest of Symbols'' Ithaca, NY: [[Cornell University Press]], 1967
Baris 297: Baris 317:
*Turner, Victor W., and Edith Turner. ''Image and Pilgrimage in Christian Culture Anthropological Perspectives''. New York: Columbia UP, 1978.
*Turner, Victor W., and Edith Turner. ''Image and Pilgrimage in Christian Culture Anthropological Perspectives''. New York: Columbia UP, 1978.
*Waskul, Dennis D. ''Net.seXXX: Readings on Sex, Pornography, and the Internet''. New York: P. Lang, 2004.
*Waskul, Dennis D. ''Net.seXXX: Readings on Sex, Pornography, and the Internet''. New York: P. Lang, 2004.
*
*  
*Young-Eisendrath, Polly, and Terence Dawson. ''The Cambridge Companion to Jung''. Cambridge, Cambridgeshire: Cambridge UP, 1997.
*Young-Eisendrath, Polly, and Terence Dawson. ''The Cambridge Companion to Jung''. Cambridge, Cambridgeshire: Cambridge UP, 1997.


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
 
*  
*
*  
*
*
*


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Liminalitas&oldid=29506029 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29506029 (2026-07-30T04:13:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Liminalitas&oldid=29506029 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29506029 (2026-07-30T04:13:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi per 26 Agustus 2026 08.57

Initiation ritual of boys in Malawi

Dalam antropologi, liminalitas ()[1] merujuk pada suatu keadaan ambiguitas atau disorientasi yang muncul pada tahap pertengahan dalam sebuah ritus peralihan, ketika para pesertanya tidak lagi memiliki status sebelum upacara, tetapi juga belum sepenuhnya memasuki status baru yang akan mereka sandang setelah ritus tersebut selesai.[2] Pada tahap liminal suatu upacara, para peserta "berdiri di ambang batas"[3] antara cara lama mereka menata identitas, waktu, atau komunitas dengan cara baru yang akan ditetapkan melalui penyelesaian ritus tersebut.

Konsep liminalitas pertama kali dikembangkan pada awal abad ke-20 oleh ahli etnografi Arnold van Gennep, dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Victor Turner.[4] Dalam perkembangan mutakhir, penggunaan istilah ini telah meluas untuk menjelaskan perubahan politik dan kultural, selain sekadar ritus keagamaan atau sosial.[5][6]

Selama periode liminal dalam berbagai bentuknya, hierarki sosial dapat dibalik atau sementara waktu dilenyapkan, kesinambungan tradisi dapat menjadi kabur, dan masa depan yang sebelumnya dianggap pasti dapat dipertanyakan kembali.[7] Peluruhan tatanan selama tahap liminal menciptakan keadaan yang cair dan lentur, memungkinkan terbentuknya lembaga serta kebiasaan baru.[8] Istilah ini juga telah merambah ke dalam penggunaan umum, dan diperluas untuk mencakup pengalaman-pengalaman liminoid yang lebih relevan dengan masyarakat pascaindustri.[9]

Ritus peralihan

Arnold van Gennep

Van Gennep, yang menciptakan istilah liminalitas, menerbitkan karyanya pada tahun 1909 berjudul Rites de Passage, sebuah penelitian yang menelaah dan mengembangkan konsep liminalitas dalam konteks berbagai ritus pada masyarakat berskala kecil.[10] Ia memulai bukunya dengan mengidentifikasi beragam kategori ritus, dan membedakan antara ritus yang mengubah status individu atau kelompok sosial, serta ritus yang menandai peralihan dalam perjalanan waktu. Dalam hal ini, ia memberi penekanan khusus pada ritus peralihan, dan menyatakan bahwa "ritual-ritual semacam ini, yang menandai, membantu, atau merayakan peralihan individu maupun kolektif dalam siklus kehidupan atau alam, dapat ditemukan di setiap kebudayaan, dan semuanya memiliki struktur tiga tahap yang khas."[11]

Struktur tiga tahap tersebut, sebagaimana dirumuskan oleh van Gennep, terdiri atas komponen-komponen berikut:[12]

  • ritus preliminal (atau ritus pemisahan): Tahap ini melibatkan "kematian" metaforis, ketika seorang inisiatus dipaksa meninggalkan sesuatu di belakang dengan memutus hubungan dari kebiasaan dan pola hidup sebelumnya.
  • ritus liminal (atau ritus transisi): Dua ciri utama melekat pada ritus ini. Pertama, ritus harus mengikuti urutan yang telah ditentukan secara ketat, di mana setiap orang mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya.[13] Kedua, seluruh proses harus berada di bawah kewenangan seorang pemimpin upacara.[14] Sifat destruktif dari ritus ini memungkinkan terjadinya perubahan besar dalam identitas sang inisiatus. Tahap pertengahan ini—saat peralihan berlangsung—"menandai sebuah langkah nyata melintasi ambang batas yang memisahkan dua fase, dan istilah "liminalitas" diperkenalkan untuk menggambarkan perlintasan ini."[15]
  • ritus postliminal (atau ritus penggabungan): Pada tahap ini, sang inisiatus diintegrasikan kembali ke dalam masyarakat dengan identitas baru, sebagai makhluk yang "terlahir kembali".

Turner kemudian menegaskan penamaan tiga tahap tersebut sebagai "tahapan peralihan dari satu keadaan atau status budaya ke keadaan lainnya: preliminal, liminal, dan postliminal."[16]

Selain struktur tiga tahap tersebut, Van Gennep juga mengemukakan empat kategori ritus yang ia anggap bersifat universal di berbagai kebudayaan dan masyarakat. Ia berpendapat bahwa terdapat empat jenis ritus sosial peralihan yang dapat dikenali dan ditemukan kembali di banyak komunitas etnografis.[17] Keempatnya meliputi:

  • Peralihan individu dari satu status ke status lain, seperti upacara inisiasi di mana seorang "orang luar" diterima menjadi bagian dari kelompok. Contohnya adalah pernikahan dan upacara kedewasaan yang menandai perpindahan dari status orang luar menjadi anggota penuh.
  • Peralihan dari satu tempat ke tempat lain, misalnya pindah rumah atau berpindah ke kota baru.
  • Peralihan dari satu situasi ke situasi lainnya: seperti memulai studi di universitas, bekerja di tempat baru, atau lulus dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi.
  • Peralihan waktu, seperti perayaan Tahun Baru atau ulang tahun.[18]

Van Gennep menganggap ritus inisiasi sebagai bentuk ritus yang paling khas. Untuk memahami dengan lebih baik "struktur tiga tahap" dalam situasi liminal, dapat dilihat pada contoh ritus inisiasi menuju kedewasaan—yang juga dianggap Turner sebagai bentuk ritus paling representatif. Dalam ritus seperti ini, pengalaman peserta diatur dengan ketat. Tahap pertama (pemisahan) mengharuskan anak untuk berpisah dari keluarganya; hal ini melambangkan "kematian" masa kanak-kanak, karena masa kanak-kanak telah ditinggalkan. Pada tahap kedua, para inisiatus—yang berada di antara masa kanak-kanak dan dewasa—harus melalui sebuah "ujian" untuk membuktikan kesiapan mereka memasuki kedewasaan. Bila berhasil, tahap ketiga (penggabungan) dirayakan sebagai "kelahiran kembali" sang individu dewasa dan penyambutan mereka kembali ke dalam masyarakat.

Dengan merumuskan urutan tiga bagian ini, van Gennep menemukan pola yang diyakininya melekat dalam semua bentuk peralihan ritual. Dengan menyatakan bahwa pola tersebut bersifat universal—yakni bahwa setiap masyarakat memiliki ritus untuk menandai peralihan—van Gennep mengajukan klaim penting (yang jarang dibuat oleh antropolog, karena sebagian besar cenderung menekankan keragaman budaya daripada prinsip universal).[19]

Sebuah ritus antropologis, khususnya ritus peralihan, selalu membawa perubahan bagi para pesertanya, terutama dalam hal status sosial.[20] Dalam tahap pertama (pemisahan), terdapat perilaku simbolis yang menandakan pelepasan individu dari titik tetap dalam struktur sosial sebelumnya.[21] Status mereka dengan demikian menjadi liminal. Dalam situasi semacam ini, "para inisiatus hidup di luar lingkungan normal mereka dan dibawa untuk mempertanyakan diri sendiri serta tatanan sosial yang ada melalui serangkaian ritual yang kerap melibatkan unsur penderitaan: para inisiatus merasakan diri mereka tanpa nama, tercerabut dari ruang dan waktu, serta tanpa struktur sosial."[22] Dalam pengertian ini, masa-masa liminal bersifat "destruktif" sekaligus "konstruktif", karena pengalaman yang terbentuk selama tahap liminal akan mempersiapkan sang inisiatus (beserta kelompoknya) untuk menempati peran atau status sosial baru, yang kemudian diumumkan secara terbuka dalam ritus reintegrasi.[23]

Victor Turner

Turner, yang dianggap telah "menemukan kembali pentingnya konsep liminalitas", pertama kali mengenal karya van Gennep pada tahun 1963.[24] Pada tahun 1967, ia menerbitkan bukunya The Forest of Symbols, yang memuat sebuah esai berjudul Betwixt and Between: The Liminal Period in Rites of Passage. Melalui karya-karyanya, Turner memperluas cakupan konsep liminalitas dari penerapan sempitnya dalam ritus peralihan pada masyarakat berskala kecil.[25] Dalam berbagai hasil penelitiannya di kalangan suku Ndembu di Zambia, ia membangun banyak jembatan konseptual antara masyarakat suku dan masyarakat non-suku, "merasakan bahwa apa yang ia temukan pada masyarakat Ndembu memiliki relevansi yang jauh melampaui konteks etnografis tertentu."[26] Ia kemudian menyadari bahwa liminalitas "…tidak hanya berguna untuk mengidentifikasi pentingnya masa-masa peralihan, tetapi juga untuk memahami reaksi manusia terhadap pengalaman liminal: bagaimana liminalitas membentuk kepribadian, memunculkan kesadaran akan agensi secara tiba-tiba, dan mengikat erat antara pemikiran serta pengalaman dalam cara yang kadang dramatis."[27]

"Sifat-sifat dari liminalitas, atau dari personae liminal (‘manusia ambang’), pada dasarnya bersifat ambigu."[28] Dalam keadaan ini, rasa identitas seseorang dapat memudar, menimbulkan disorientasi, tetapi sekaligus membuka kemungkinan bagi munculnya perspektif baru. Turner berpendapat bahwa jika liminalitas dipandang sebagai masa dan ruang penarikan diri dari pola tindakan sosial yang lazim, maka ia dapat pula dilihat sebagai periode peninjauan terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar kebudayaan di mana hal itu terjadi.[29] Dalam situasi semacam ini, "batas-batas normal dalam berpikir, memahami diri, dan bertingkah laku menjadi terlebur," dan "struktur masyarakat itu sendiri [sementara waktu] ditangguhkan."[30]

Menurut Turner, seluruh keadaan liminal pada akhirnya harus berakhir, sebab ia merupakan kondisi yang sangat intens dan tidak dapat bertahan lama tanpa adanya struktur yang menstabilkannya. Setelah masa itu, individu akan kembali ke struktur sosial yang melingkupinya—atau, dalam beberapa kasus, komunitas liminal akan mengembangkan struktur sosial internalnya sendiri, suatu keadaan yang disebut Turner sebagai "communitas normatif".[31]

Turner juga mengembangkan gagasan mengenai communitas, yakni perasaan kebersamaan yang muncul di antara sekelompok orang yang mengalami pengalaman atau ritus liminal yang sama.[32] Ia membedakan tiga bentuk communitas yang berbeda, meskipun tidak selalu berurutan, dan menggambarkannya sebagai "keadaan ‘anti-struktural’ yang hadir dalam fase liminal suatu bentuk ritual."[33] Bentuk pertama, communitas spontan, digambarkan sebagai "konfrontasi langsung, seketika, dan total dari identitas-identitas manusia," di mana para peserta merasakan sinkronisitas dan keterlibatan penuh dalam satu peristiwa yang mengalir secara menyatu.[34] Bentuk kedua, communitas ideologis, berusaha mengganggu spontanitas tersebut melalui intervensi tertentu demi membentuk suatu masyarakat utopis, di mana seluruh tindakan dijalankan dalam semangat communitas spontan.[35] Sedangkan bentuk ketiga, communitas normatif, berkaitan dengan kelompok masyarakat yang berupaya menumbuhkan hubungan dan mempertahankan communitas spontan secara lebih permanen, dengan menundukkannya pada hukum sosial dan pada akhirnya "menjinakkan anugerah" dari bentuk kebersamaan yang murni itu.[36]

Karya-karya Victor Turner memiliki arti penting dalam menghidupkan kembali konsep yang diperkenalkan oleh Arnold van Gennep. Namun, pendekatan Turner terhadap liminalitas juga memiliki dua keterbatasan besar. Pertama, ia cenderung membatasi makna konsep tersebut pada konteks konkret masyarakat suku kecil, dan untuk dunia modern ia menciptakan istilah baru "liminoid" guna menganalisis fenomena serupa dalam kebudayaan kontemporer. Namun demikian, Agnes Horvath (2013) berpendapat bahwa istilah tersebut tetap dapat—dan seharusnya—diterapkan pada peristiwa sejarah konkret, karena menawarkan sarana penting untuk pemahaman historis dan sosiologis. Kedua, Turner cenderung memberikan makna positif yang tunggal pada situasi liminal, seolah-olah selalu berfungsi sebagai sarana pembaruan. Padahal, pengalaman liminal juga dapat menjadi masa ketidakpastian, kecemasan, bahkan ketakutan eksistensial—yakni ketika manusia berhadapan langsung dengan "jurang kehampaan".[37]

Teori liminalitas masa kini

Dalam antologi-antologi kontemporer seperti Neither Here nor There: The Many Voices of Liminality[38] dan The Liminal Loop: Astonishing Stories of Discovery and Hope,[39] tema liminalitas kini dieksplorasi secara luas melalui beragam bidang dan pengalaman manusia. Karya-karya tersebut menyoroti beragam topik seperti tafsir puitis tentang keadaan di antara dua batas, pandangan masyarakat Amerika Tengah tentang "ruang antara", perjalanan ziarah dan transformasi spiritual, masa krisis dan peralihan, perang dan bencana alam, adopsi lintas budaya, perubahan iklim dan spiritualitas, pergeseran keagamaan, konsep cyborg, penyakit berat, kehidupan di penjara, keruntuhan dan rekonstruksi sosial, gender dan komunitas dalam konflik, petualangan ekstrem, proses inisiasi dan transisi, ritual, bentuk-bentuk liminalitas yang kompleks, praktik spiritual, pengalaman masyarakat kulit hitam, pendidikan lintas negara, genosida, praktik terapeutik, keruntuhan ekologis, hingga dunia seni.

Berbagai pemikir dan praktisi dalam antologi tersebut menelaah seluruh tema ini dalam terang sifat liminalnya—sebagai ruang ambang di mana batas-batas lama larut, dan potensi makna baru mulai terbentuk.

Jenis-jenis

Liminalitas memiliki dimensi ruang sekaligus waktu, dan dapat diterapkan pada beragam subjek: individu, kelompok yang lebih besar (seperti kohort atau desa), keseluruhan masyarakat, bahkan mungkin seluruh peradaban.[40] Tabel berikut merangkum berbagai dimensi dan subjek pengalaman liminal, serta menampilkan ciri utama dan contoh kunci dari masing-masing kategori.[41]

Individu Kelompok Masyarakat
Momen
  • Peristiwa mendadak yang memengaruhi kehidupan seseorang (pernikahan, kematian, perceraian, penyakit, pensiun);
  • Ritus peralihan individual (pembaptisan, upacara kedewasaan, seperti yang ditemukan pada masyarakat Ndembu).
  • Ritus peralihan menuju kedewasaan (biasanya dilakukan dalam kelompok kohort);
  • Upacara kelulusan, dan sejenisnya.
  • Seluruh masyarakat yang menghadapi peristiwa mendadak (seperti invasi, bencana alam, atau wabah) di mana pembedaan sosial dan hierarki normal lenyap;
  • Karnaval;
  • Revolusi.
Periode
  • Tahap-tahap kritis dalam kehidupan;
  • Masa pubertas atau remaja;
  • Kehamilan;
  • Menopause.
  • Ritus peralihan menuju kedewasaan yang dalam beberapa masyarakat dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan;
  • Perjalanan kelompok;
  • Menempuh pendidikan di universitas atau perguruan tinggi, atau mengambil tahun jeda antara sekolah menengah dan universitas.
  • Masa peperangan;
  • Periode revolusioner.
Epos (atau durasi seumur hidup)
  • Individu yang berdiri “di luar masyarakat,” baik karena pilihan pribadi maupun penetapan sosial (misalnya orang yang diasingkan);
  • Kehidupan membiara;
  • Dalam beberapa masyarakat suku, individu yang gagal melewati ritus peralihan tertentu dianggap tetap “berbahaya” atau terpinggirkan;
  • Dalam budaya tertentu, anak kembar dianggap secara permanen liminal.
  • Persaudaraan keagamaan, minoritas etnis, serta minoritas seksual dan gender;
  • Kelompok imigran yang berada “di antara dua dunia”;
  • Kebudayaan lama dan baru yang saling bertemu;
  • Kelompok yang hidup di pinggiran struktur sosial “normal”, dan dapat dipersepsikan sebagai berbahaya (misalnya kaum punk) dan/atau “suci” (seperti para biarawan dengan kaul ketat).
  • Perang yang berkepanjangan, ketidakstabilan politik yang terus-menerus, kebingungan intelektual yang berlarut-larut;
  • Penyatuan dan reproduksi liminalitas ke dalam “struktur”;
  • Modernitas sebagai bentuk “liminalitas permanen”.

Variabel penting lainnya adalah “skala,” atau “tingkat” sejauh mana individu atau kelompok mengalami liminalitas.[42] Dengan kata lain, “terdapat derajat-derajat liminalitas, dan tingkatnya bergantung pada sejauh mana pengalaman liminal dapat diukur terhadap struktur yang masih bertahan.”[43] Ketika dimensi ruang dan waktu sama-sama terpengaruh, intensitas pengalaman liminal meningkat, mendekati apa yang disebut sebagai “liminalitas murni.”[44]

Dalam masyarakat skala besar

Konsep situasi liminal juga dapat diterapkan pada keseluruhan masyarakat yang tengah menghadapi krisis atau mengalami "keruntuhan tatanan".[45] Filsuf Karl Jaspers memberikan sumbangan penting terhadap gagasan ini melalui konsepnya tentang "Zaman Poros" (Axial Age), yang ia pandang sebagai "masa di antara dua pandangan dunia yang terstruktur serta dua siklus pembangunan kekaisaran; suatu zaman penuh kreativitas ketika 'manusia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan radikal,' dan ketika 'genggaman hidup yang tak tergugat mulai mengendur'."[46] Zaman ini pada hakikatnya merupakan masa ketidakpastian yang melibatkan seluruh peradaban.

Karena periode liminal bersifat sekaligus destruktif dan konstruktif, gagasan serta praktik yang lahir dari masa-masa liminal historis ini menjadi sangat penting, sebab ia akan "cenderung mengambil bentuk suatu struktur baru".[47] Peristiwa-peristiwa seperti revolusi politik atau sosial (beserta krisis lainnya) dengan demikian dapat dipahami sebagai bentuk liminalitas, karena menandai runtuhnya tatanan lama secara menyeluruh dan dapat memunculkan perubahan sosial yang mendalam.[48]

Liminalitas dalam masyarakat berskala besar berbeda secara mendasar dari liminalitas yang ditemukan dalam ritus peralihan masyarakat kecil. Salah satu ciri utama liminalitas (sebagaimana didefinisikan oleh van Gennep dan Turner) ialah keberadaan jalan masuk sekaligus jalan keluar dari fase tersebut.[49] Dalam ritus-ritus peralihan, "anggota masyarakat menyadari keadaan liminal yang mereka alami: mereka tahu bahwa keadaan itu akan berakhir cepat atau lambat, dan mereka memiliki 'pemandu upacara' yang menuntun mereka melewati proses ritual tersebut."[50]

Namun, dalam periode liminal yang melibatkan seluruh masyarakat, masa depan—yakni apa yang terjadi setelah fase liminal—sepenuhnya tidak diketahui. Tidak ada "pemandu upacara" yang pernah melewati proses serupa dan dapat menuntun masyarakat keluar darinya.[51] Dalam kondisi demikian, situasi liminal dapat menjadi berbahaya. Ia membuka ruang bagi munculnya "pemandu upacara yang memproklamirkan diri", yang mengambil alih kepemimpinan dan berusaha untuk "mempertahankan keadaan liminal serta, dengan mengosongkan momen liminal dari daya kreatif sejatinya, mengubahnya menjadi panggung bagi persaingan yang bersifat meniru".[52]

Psikologi kedalaman

Kaum Jungian kerap memandang proses individuasi—yakni perjalanan menuju realisasi diri—sebagai sesuatu yang berlangsung di dalam ruang liminal. "Individuasi bermula dari penarikan diri dari pola sosialisasi yang lazim, yang dilambangkan oleh keruntuhan persona... liminalitas."[53] Dengan demikian, "apa yang dilakukan oleh konsep liminalitas sosial Turner terhadap status dalam masyarakat, dilakukan oleh Jung [...] terhadap pergerakan pribadi manusia melalui proses kehidupan menuju individuasi."[54]

Individuasi dapat dipahami sebagai "sebuah perjalanan melalui ruang dan waktu liminal, dari disorientasi menuju integrasi [...] Apa yang berlangsung dalam fase gelap liminalitas merupakan proses pembongkaran [...] demi kepentingan ‘membentuk kembali keutuhan’ makna, tujuan, dan rasa keterhubungan diri."[55] Sebagai figur arketipal, "sang penipu (trickster) menjadi simbol dari keadaan liminal itu sendiri, sekaligus lambang keterbukaannya yang abadi sebagai sumber daya penciptaan kembali."[56]

Psikologi analitik yang berakar pada pemikiran Jung juga sangat terkait erat dengan gagasan liminalitas. Ide tentang ‘wadah’ atau ‘bejana’ sebagai elemen penting dalam proses ritual terapi psikologis telah banyak diakui; Carl Jung sendiri berusaha menciptakan ruang yang ia sebut sebagai "temenos, lingkaran magis, bejana, di mana transformasi yang melekat dalam kondisi pasien dapat berlangsung dengan leluasa."[57]

Namun, berbagai aliran psikologi kedalaman lainnya juga berbicara tentang proses yang serupa. Carl Rogers menggambarkan "kualitas 'di luar dunia nyata' yang sering dicatat oleh banyak terapis, semacam rasa transen dalam hubungan antara klien dan terapis yang, pada akhir sesi, seakan muncul dari sebuah sumur atau terowongan yang dalam."[58] Dalam tradisi Prancis, disebutkan bahwa setting psikoanalisis "membuka atau menempa 'ruang antara', 'wilayah yang dikecualikan', atau 'ruang di tengah' yang begitu penting dalam tulisan-tulisan Irigaray."[59] Marion Milner menyatakan bahwa "kerangka ruang dan waktu juga menandai jenis realitas khusus dalam sesi psikoanalisis... suatu realitas berbeda yang ada di dalamnya."[60]

Kaum Jungian, bagaimanapun, mungkin menjadi pihak yang paling gamblang dalam menegaskan "pentingnya menyediakan ruang, waktu, dan tempat bagi pengalaman liminal",[61] serta menyadari bahaya yang menyertainya: "dua kekeliruan: kita sama sekali tidak menyediakan ruang ritual dalam hidup kita [...] atau kita tinggal di dalamnya terlalu lama."[62] Bahkan, psikologi Jung sendiri pernah digambarkan sebagai "bentuk dari ‘liminalitas permanen’, di mana tidak ada lagi kebutuhan untuk kembali kepada struktur sosial."[63]

Contoh penggunaan umum

Dalam upacara

Dalam konteks upacara ritual, keadaan liminal sengaja diciptakan secara artifisial—berbeda dengan keadaan yang muncul secara spontan, seperti pada bencana alam.[64] Sebagai contoh sederhana, dalam upacara kelulusan perguruan tinggi, fase liminal dapat diperluas untuk mencakup masa sejak tugas terakhir diselesaikan (dan kelulusan telah dipastikan) hingga saat ijazah diterima. "Tanah tak bertuan" ini merupakan semacam limbo yang menjadi ciri khas dari liminalitas. Beban dan tekanan akademik telah sirna, tetapi individu tersebut belum benar-benar melangkah ke tahap kehidupan berikutnya, baik secara psikologis maupun fisik. Akibatnya, muncul sudut pandang unik terhadap apa yang telah berlalu, dan terhadap apa yang akan datang.

Liminalitas juga dapat meliputi masa antara pertunangan dan pernikahan, atau antara kematian dan pemakaman—periode yang dalam banyak budaya diatur melalui ritual khusus. Bahkan dalam masyarakat yang berpandangan liberal terhadap seksualitas, hubungan seksual dengan orang lain pada masa pertunangan kerap dianggap pelanggaran serius. Ketika sebuah lamaran pernikahan diajukan, terbentuklah fase liminal antara pertanyaan dan jawaban, suatu ruang di mana tatanan sosial kedua pihak dapat mengalami transformasi atau bahkan pembalikan; sejenis "limbo tahap kehidupan", karena baik penerimaan maupun penolakan lamaran itu dapat menghasilkan beragam kemungkinan yang sangat berbeda.

Getz[65] menyinggung wilayah liminal atau liminoid dalam konteks pengalaman acara yang direncanakan. Ia menggambarkan zona liminal dalam suatu peristiwa sebagai penciptaan "waktu di luar waktu: sebuah tempat istimewa". Ia mencatat bahwa zona liminal ini bersifat sekaligus spasial dan temporal, dan merupakan elemen penting dalam perencanaan acara yang sukses—seperti upacara, konser, atau konferensi.[66]

Dalam waktu

Dimensi temporal dari liminalitas dapat berkaitan dengan momen (peristiwa mendadak), periode (berlangsung selama minggu, bulan, atau bahkan tahun), serta zaman (puluhan tahun, generasi, bahkan berabad-abad lamanya).[67]

Contoh

Senja merupakan waktu yang bersifat liminal—suatu masa di antara siang dan malam—di mana seseorang berada “dalam zona senja, di wilayah perbatasan malam yang samar dan tak menentu”.[68] Judul serial televisi fiksi The Twilight Zone mengacu pada konsep ini, menggambarkannya sebagai "wilayah di antara cahaya dan bayangan, antara sains dan takhayul" dalam salah satu varian pembukaan seri aslinya. Nama tersebut sebenarnya diambil dari istilah astronomis, yakni zona yang tampak dari luar angkasa di mana cahaya siang atau bayangan malam sedang bergerak maju atau mundur di permukaan bumi. Tengah hari dan terutama tengah malam juga dapat dianggap sebagai waktu liminal, tengah hari menandai peralihan antara pagi dan siang, sedangkan tengah malam menjadi ambang antara dua hari.

Dalam siklus tahunan, waktu-waktu liminal meliputi saat titik ekuinoks, ketika siang dan malam memiliki panjang yang sama, serta saat titik balik matahari, ketika pertambahan siang atau malam berbalik arah menuju pengurangannya. Batas-batas kualitatif dari fenomena yang secara kuantitatif tak terbatas ini[69] menandai perubahan siklus musim sepanjang tahun.

Dalam tradisi yang menempatkan seperempat hari sebagai penanda pergantian musim, hari-hari tersebut juga dianggap sebagai waktu liminal. Hari Tahun Baru, terlepas dari kaitannya dengan langit astrologis, merupakan masa liminal yang sarat makna. Berbagai kebiasaan seperti ramalan nasib sering kali memanfaatkan keadaan liminal ini. Dalam banyak budaya, tindakan dan peristiwa pada hari pertama tahun dipercaya dapat menentukan nasib tahun tersebut, seperti dalam kepercayaan kaki pertama (ciad-chuairt). Dalam kepercayaan ini orang pertama yang memasuki rumah tangga pada hari tahun baru dan dianggap sebagai pembawa keberuntungan untuk tahun yang akan datang. Banyak pula budaya yang meyakini bahwa masa ini sangat rentan terhadap kemunculan roh atau makhluk liminal, entitas yang berada di antara hidup dan mati.

Dalam Agama

Ibadah Yudeo-Kristiani

Keberadaan liminal dapat dijumpai dalam sebuah ruang sakral yang terpisah, yang di dalamnya berlangsung waktu sakral. Contohnya dalam Alkitab antara lain mimpi Yakub (Kejadian 28:12–19), ketika ia berjumpa dengan Allah di antara langit dan bumi, serta peristiwa ketika Yesaya berhadapan dengan Tuhan di dalam bait kekudusan (Yesaya 6:1–6).[70] Dalam ruang liminal semacam ini, individu mengalami pewahyuan berupa pengetahuan sakral, saat Allah sendiri menyampaikan hikmat-Nya kepada manusia.

Ibadah dapat dipahami dalam konteks ini sebagai saat komunitas gereja (atau communitas atau koinonia) bersama-sama memasuki ruang liminal secara kolektif.[71] Simbol-simbol religius dan musik dapat membantu proses ini, yang kerap digambarkan sebagai suatu bentuk ziarah melalui doa, nyanyian, atau tindakan liturgi. Dalam ruang liminal itu, jemaat mengalami transformasi rohani, dan ketika keluar darinya, mereka diutus kembali ke dunia untuk melayani.

Pelayanan Yudeo-Kristiani

Dalam karyanya Liminal Reality and Transformational Power,[72] Dr. Timothy Carson—kurator The Liminality Project,[73] sekaligus salah satu pendiri Guild for Engaged Liminality[74] bersama Lisa Withrow dan Jonathan Best, serta pendiri The Liminality Press[75] bersama Lisa Withrow—menyelami aspek luar dan dalam dari liminalitas. Ia membahas sejarah disiplin tersebut dengan akar mitologis dan psikologisnya, serta menerapkannya pada bidang teologi, hermeneutika biblika, simbolisme, dan penerapan praktis bagi mereka yang berkarya dalam kepemimpinan keagamaan.

Dalam karya lain berjudul Crossing Thresholds: A Practical Theology of Liminality,[76] Carson bersama Rosy Fairhurst, Nigel Rooms, dan Lisa Withrow menjadi penulis bersama. Mereka mendefinisikan berbagai aspek liminalitas dalam kaitannya dengan penerapan praktisnya dalam kehidupan religius. Buku ini mencakup uraian konseptual mengenai liminalitas serta penerapannya pada hermeneutika, liturgi, eklesiologi, kepemimpinan, pembelajaran, pembentukan iman, serta pelayanan pastoral dan penanganan krisis.

Sementara dalam Leaning into the Liminal: A Guide for Counselors and Companions,[77] Carson menggunakan model berbasis liminalitas, yakni proses ritus peralihan sebagai sumber daya lintas teori bagi konselor, terapis, pemimpin agama, guru spiritual, dan pendeta atau kapelan. Buku ini mencakup refleksi tentang peran pemandu liminal, serta kontribusi dari tujuh penulis lain yang membahas beragam pendekatan terapeutik, penyembuhan luka pascaperang, arah bimbingan rohani, dan pendampingan pada fase-fase akhir kehidupan.

Makhluk

Beragam kelompok minoritas dapat dipandang sebagai entitas liminal. Dalam kenyataannya, para imigran ilegal (yang hadir tetapi tidak "resmi") dan orang-orang tanpa kewarganegaraan sering kali dianggap sebagai makhluk liminal karena mereka "berada di antara rumah asal dan tuan rumah, menjadi bagian dari masyarakat, tetapi kadang tak pernah benar-benar menyatu sepenuhnya".[78] Demikian pula, individu biseksual, interseks, dan transgender dalam beberapa masyarakat modern, mereka yang memiliki etnis campuran, serta mereka yang dituduh melakukan kejahatan namun belum dinyatakan bersalah atau tidak bersalah—semuanya dapat dikategorikan sebagai liminal. Remaja, yang berada di antara masa kanak-kanak dan kedewasaan, juga merupakan sosok liminal; bahkan, "bagi kaum muda, liminalitas semacam ini telah menjadi fenomena permanen...suatu bentuk liminalitas pascamodern".[79]

Sosok pengelabu sebagai proyeksi mitis sang pesulap, berdiri di batas limen antara ranah sakral dan duniawi[80] bersama dengan arketipe-arketipe terkait, mewujudkan banyak kontradiksi semacam itu sebagaimana yang tampak pula pada sejumlah selebritas dalam budaya populer. Kategori ini, secara hipotetis dan dalam ranah fiksi, juga dapat mencakup siborg, hibrida antar spesies, dan pengubah wujud. Di alam, beberapa hewan seperti anjing laut, kepiting, burung pantai, katak, kelelawar, lumba-lumba, dan paus juga dapat dianggap sebagai "makhluk perbatasan" yang liminal: "bebek liar dan angsa adalah contoh yang tepat...makhluk perantara yang memadukan kehidupan bawah air dan penerbangan di udara dengan keberadaan yang sesekali berpijak di darat."[81]

Dukun dan pemandu spiritual pun berfungsi sebagai makhluk liminal, bertindak sebagai "perantara antara dunia ini dan dunia lain; kehadirannya berada di antara manusia dan yang supranatural."[82] Banyak yang meyakini bahwa dukun dan penasihat spiritual telah "ditakdirkan" sejak lahir untuk peran itu, memiliki pemahaman dan keterhubungan yang lebih dalam dengan alam, sehingga mereka sering hidup di pinggiran masyarakat, berada dalam keadaan liminal antara dua dunia, di luar batas tatanan sosial umum.[83]

Tempat

Dimensi spasial dari liminalitas dapat mencakup lokasi tertentu, zona yang lebih luas, atau bahkan wilayah dan negara secara keseluruhan.[84] Ruang-ruang liminal dapat berupa perbatasan, daerah penyangga, wilayah sengketa, persimpangan jalan, hingga bandara, hotel, dan kamar mandi. Sosiolog Eva Illouz berpendapat bahwa setiap "perjalanan romantis mewujudkan tiga tahap yang menjadi ciri khas liminalitas: pemisahan, peminggiran, dan penggabungan kembali."[85]

Dalam mitologi, agama, dan tradisi esoterik, liminalitas dapat diwujudkan melalui alam seperti Api Penyucian atau Da'at, yang tidak hanya melambangkan kondisi liminal, tetapi bahkan keberadaannya sendiri diperdebatkan oleh para teolog—menjadikannya, dalam beberapa kasus, "liminal ganda". Konsep "kediantaraan" menjadi ciri khas ruang-ruang tersebut. Bagi seorang pegawai hotel (orang dalam) atau seseorang yang sekadar lewat tanpa minat (orang luar sepenuhnya), makna hotel akan berbeda. Namun, bagi seorang pelancong yang singgah, hotel berfungsi sebagai zona liminal, sebagaimana "pintu, jendela, lorong, dan gerbang membingkai...kondisi liminal yang hakiki."[86]

Secara lebih konvensional, mata air, gua, tepi pantai, sungai, kawah gunung berapi, "sebuah kawah raksasa dari gunung berapi yang telah padam...[sebagai] simbol transendensi lainnya",[87] titik penyeberangan, celah gunung, jembatan, dan rawa-rawa semuanya merupakan lokasi liminal: "'tepi-tepi', batas, atau garis patahan antara yang sah dan yang tidak sah."[88] Oedipus bertemu dan membunuh ayahnya di persimpangan jalan; musisi blues Robert Johnson konon bertemu dengan iblis di persimpangan, tempat ia dikisahkan menjual jiwanya.[89]

Dalam arsitektur, ruang liminal didefinisikan sebagai "ruang fisik antara satu tujuan dan tujuan berikutnya."[90] Contoh umum ruang-ruang seperti ini mencakup koridor, bandara, dan jalan raya.[91][92]

Dalam budaya kontemporer, pengalaman berpesta dan menari di klub malam dapat dilihat melalui kerangka liminoid, yang menyoroti "hadir atau tidaknya peluang bagi subversi sosial, pelarian dari struktur sosial, serta kebebasan dalam menentukan pilihan."[93] Kerangka ini memberikan "wawasan tentang bagaimana pengalaman di ruang-ruang hedonistik dapat ditingkatkan. Dengan memperkaya aspek liminoid dalam pengalaman konsumen, perasaan pelarian dan permainan dapat diperkuat, sehingga mendorong konsumsi yang lebih bebas dan ekspresif."[94]

Dalam cerita rakyat

Terdapat sejumlah kisah dalam cerita rakyat yang menggambarkan tokoh-tokoh yang hanya dapat dibunuh di ruang peralihan, tempat di antara dua batas. Dalam mitologi Wales, Lleu tidak dapat dibunuh pada siang maupun malam hari, tidak di dalam maupun di luar ruangan, tidak saat berkuda maupun berjalan kaki, dan tidak ketika berpakaian maupun telanjang. Ia akhirnya diserang pada waktu senja, dibungkus jaring, dengan satu kaki berpijak pada kuali dan satu lagi di punggung kambing. Demikian pula, dalam teks suci Hindu Bhagavata Purana, Wisnu menampakkan diri dalam wujud setengah manusia setengah singa bernama Narasimha untuk membinasakan iblis Hiranyakashipu, yang telah memperoleh anugerah bahwa ia tidak dapat dibunuh pada siang atau malam hari, tidak di bumi maupun di udara, tidak dengan senjata ataupun dengan tangan kosong, tidak di dalam bangunan maupun di luar, dan tidak oleh manusia maupun binatang. Narasimha kemudian membunuh Hiranyakashipu pada waktu senja, di ambang pintu istana, di pangkuannya sendiri, dengan cakar tajamnya. Karena Narasimha adalah dewa, kematian sang iblis terjadi bukan oleh manusia ataupun binatang. Dalam wiracarita Mahabharata, Indra berjanji tidak akan membunuh Namuci dan Vritra dengan sesuatu yang basah maupun kering, dan tidak di siang atau malam hari; tetapi akhirnya ia menewaskan mereka pada waktu senja menggunakan buih.[95]

Kisah klasik Cupid dan Psyche juga menjadi contoh dari konsep liminalitas dalam mitos, yang tercermin melalui sosok Psyche dan pengalaman-pengalaman yang ia lalui. Ia selalu digambarkan terlalu cantik untuk menjadi manusia, tetapi tidak sepenuhnya dewi, menegaskan keberadaannya di wilayah antara keduanya.[96] Pernikahannya dengan Dewa Kematian dalam versi Apuleius mencakup dua ritus liminal klasik menurut Van Gennep: pernikahan dan kematian.[97] Psyche hidup di ruang liminal, tidak lagi seorang gadis, tetapi belum sepenuhnya istri, serta berada di antara dua dunia. Lebih dari itu, peralihannya menuju keabadian untuk hidup bersama Cupid menjadi ritus peralihan liminal di mana ia berpindah dari fana menuju abadi, dari manusia menjadi dewi. Ketika Psyche meminum ambrosia dan meneguhkan nasibnya, ritus itu pun tuntas, dan kisah berakhir dengan pesta pernikahan yang penuh sukacita serta kelahiran putri mereka.[98] Tokoh-tokoh dalam kisah ini hidup dalam ruang-ruang liminal, menjalani ritus peralihan klasik yang menuntut mereka untuk melintasi ambang batas menuju ranah keberadaan yang baru.

Dalam penelitian etnografis

Dalam penelitian etnografis, "seorang peneliti berada...dalam keadaan liminal, terpisah dari budayanya sendiri tetapi belum sepenuhnya menjadi bagian dari budaya tempat ia melakukan penelitian",[99] yakni ketika ia sekaligus berpartisipasi dalam budaya tersebut dan mengamatinya dari luar. Peneliti harus senantiasa mempertimbangkan dirinya sendiri dalam relasinya dengan orang lain serta posisinya di dalam kebudayaan yang diteliti.

Dalam banyak kasus, keterlibatan yang lebih dalam dengan kelompok yang dikaji dapat membuka akses yang lebih luas terhadap pengetahuan budaya, serta menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap pengalaman internal komunitas tersebut. Namun, semakin tinggi tingkat partisipasi peneliti, semakin kabur pula batas antara peran peneliti sebagai pengamat dan sebagai anggota kelompok. Sering kali, seorang peneliti yang menjalankan kerja lapangan sebagai "partisipan" atau "pengamat-partisipan" berada dalam keadaan liminal: menjadi bagian dari budaya yang dikaji, tetapi tetap terpisah darinya sebagai peneliti. Keadaan liminal ini berada "di antara dan di tengah-tengah", bersifat emosional dan sering kali menimbulkan ketidaknyamanan, karena peneliti harus menggunakan refleksivitas diri untuk menafsirkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara.

Beberapa sarjana berpendapat bahwa setiap etnografer, apa pun tingkat partisipasinya, senantiasa hadir dalam penelitiannya dan menempati posisi liminal. Pandangan ini didasarkan pada gagasan bahwa peneliti, sebagai "instrumen manusia", terlibat langsung dalam proses pencatatan dan penafsiran data. Seorang peneliti sering kali tanpa sadar memilih apa yang hendak diamati, bagaimana mencatatnya, dan bagaimana menafsirkan hasil pengamatan tersebut berdasarkan titik acuan dan pengalaman pribadinya. Sebagai contoh, bahkan dalam menentukan aspek mana yang dianggap menarik untuk dicatat, peneliti sudah melakukan proses interpretasi dan penilaian terhadap data yang tersedia. Untuk menelusuri keadaan liminal peneliti dalam hubungannya dengan budaya yang diteliti, refleksivitas diri dan kesadaran menjadi alat penting guna menyingkap bias serta cara peneliti menafsirkan data.

Dalam pendidikan tinggi

Bagi banyak mahasiswa, proses memulai kehidupan di universitas dapat dipandang sebagai suatu ruang liminal.[100] Ketika banyak mahasiswa meninggalkan rumah untuk pertama kalinya, mereka jarang benar-benar memutus hubungan dengan tempat asalnya; rumah tetap dipandang sebagai kampung halaman, bukan kota tempat mereka menuntut ilmu. Masa orientasi mahasiswa sering kali memuat berbagai kegiatan yang berfungsi sebagai ritus peralihan, menandai awal masa kuliah sebagai periode penting dalam kehidupan seseorang.

Fenomena ini sering diperkuat oleh adanya pemisahan antara town and gown, yakni antara komunitas lokal dan warga akademik universitas, yang masing-masing memiliki tradisi serta tata perilaku yang berbeda. Dalam konteks ini, banyak mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai anak sekolah, tetapi juga belum sepenuhnya memperoleh status sebagai orang dewasa yang mandiri.

Situasi tersebut menciptakan suatu lingkungan di mana keberanian untuk mengambil risiko berjalan seiring dengan keberadaan ruang aman yang memungkinkan mahasiswa untuk bereksperimen dengan identitas dan cara hidup baru, dalam suatu struktur yang tetap memberikan makna dan arah.[101]

Dalam budaya populer

Novel dan cerita pendek

Rant: An Oral Biography of Buster Casey karya Chuck Palahniuk memanfaatkan konsep liminalitas untuk menjelaskan perjalanan melintasi waktu. Dalam Possession karya A. S. Byatt, dijelaskan bagaimana teori sastra postmodern dan gerakan feminisme sering menulis tentang “liminalitas, ambang batas, benteng, dan pertahanan”.[102] Setiap judul dalam seri The Twilight SagaTwilight, New Moon, Eclipse, dan Breaking Dawn—mengandung makna waktu peralihan atau liminal. Dalam The Phantom Tollbooth (1961), tokoh Milo memasuki “The Lands Beyond”, sebuah ruang liminal (yang menjelaskan sifatnya yang terbalik dan aneh) melalui gerbang tol ajaib. Setelah menyelesaikan perjalanannya, ia kembali dengan cara pandang yang berubah; pemberi gerbang tol itu tidak pernah diketahui namanya, dan dengan demikian ia pun tetap berada dalam keadaan liminal. Tema liminalitas juga mendominasi Offshore karya Penelope Fitzgerald, di mana para tokohnya hidup di antara laut dan daratan di atas perahu yang berlabuh—menjadi manusia liminal. Saul Bellow menggunakan konsep liminalitas secara beragam, termasuk dalam Dangling Man, yang menempatkan tokoh utamanya di antara kehidupan sipil dan militer,[103] pada “masa-masa tergantung” yang belum pasti arahnya.[104] Dalam kumpulan cerpennya, Tales From the Liminal (2021, Deuxmers[105]), S. K. Kruse[106] mengeksplorasi potensi kekuatan transformatif dari masa, tempat, dan keadaan keberadaan yang liminal.

Dalam Jane Eyre karya Charlotte Brontë, perjalanan tokoh utama diikuti melalui berbagai tahap kehidupan ketika ia melintasi batas antara murid, pengajar, dan perempuan dewasa.[107] Keberadaan Jane dalam novel ini memiliki karakter liminal. Ia pertama kali terlihat ketika bersembunyi di balik tirai merah besar untuk membaca—menutup diri secara fisik dan memasuki dunia parakosmosnya sendiri. Di Gateshead, Jane digambarkan terpisah dari keluarga yang menampungnya, berada di luar lingkaran sosial, hidup dalam ruang antara—tidak sepenuhnya diterima, tetapi tidak juga diusir.[108] Keberadaan Jane muncul sebagai paradoks, karena ia melampaui batasan-batasan sosial mengenai apa artinya menjadi seorang perempuan, yatim piatu, anak, korban, pelaku, dan peziarah.[109] Ia menulis narasinya sendiri, tercerabut dari masa lalu dan tanpa kepastian masa depan.[110] Menghadapi serangkaian krisis, Jane menantang konstruksi sosial yang membatasi, dan situasinya menciptakan dinamika naratif yang berayun antara struktur dan liminalitas—sebagaimana dikemukakan oleh Turner.[111]

Karen Brooks menyatakan bahwa karya-karya grunge lit Australia seperti Drift Street karya Clare Mendes, The Lives of the Saints karya Edward Berridge, dan Praise karya Andrew McGahan “…mengeksplorasi batas-batas psikososial dan psikoseksual karakter muda urban dan pinggiran kota dalam kaitannya dengan batas-batas imajiner dan sosial yang membentuk konsep diri dan liyan,” serta membuka ruang “batas-batas liminal baru” untuk menelusuri gagasan tentang tubuh manusia yang abjek.[112] Brooks menambahkan bahwa kisah-kisah pendek Berridge menampilkan “beragam karakter muda yang penuh kekerasan, terasing, dan sering kali abjek”, tokoh-tokoh yang “mengaburkan dan bahkan membalikkan batas antara ruang pinggiran dan kota”.[113] Ia juga berpendapat bahwa para tokoh marjinal dalam The Lives of the Saints, Drift Street, dan Praise mampu bertahan di “arus kotor” kehidupan mereka dan bahkan “mengalihkan aliran” sungai-sungai itu, dengan demikian mengklaim liminalitas lingkungan keras mereka—dan bahkan kondisi tubuh mereka yang abjek—sebagai “sumber kekuatan simbolik dan agensi”.[114] Dalam cerita “Caravan Park” dari koleksi Berridge, latar tempat berupa taman rumah bergerak digambarkan sebagai ruang liminal, karena rumah-rumah itu dapat berpindah lokasi; latar seperti ini, menurut Brooks, “berpotensi mengguncang berbagai batas geofisik dan psikososial”.[115] Dalam cerita “Bored Teenagers”, para remaja yang menggunakan pusat komunitas memutuskan untuk merusak fasilitasnya dan menajiskan ruang tersebut dengan kencing di dalamnya, tindakan yang oleh Brooks dianggap mengubah dinamika tempat itu dan persepsi terhadap tubuh mereka, sekaligus menandakan “hilangnya otoritas” pusat komunitas atas para remaja.[116]

In-Between: Liminal Stories merupakan kumpulan sepuluh cerita pendek dan puisi yang sepenuhnya berfokus pada ekspresi liminal dari berbagai tema seperti gangguan ingatan, ketidakpastian pandemi, otoritarianisme, realitas virtual, sengketa perbatasan, kecemasan usia tua, isu lingkungan, dan persoalan gender. Cerita-cerita seperti “In-Between”, “Cogito, Ergo Sum”, “The Trap”, “Monkey Bath”, “DreamCatcher”, “Escape to Nowhere”, “A Letter to My-Self”, “No Man's Land”, “Whither Am I?”, dan “Fe/Male”[117] tidak hanya relevan secara tematik, tetapi juga mengaitkan secara langsung maupun tersirat potensi konsep liminalitas dalam pengembangan karakter, alur, dan latar. Pengalaman serta ekspresi kehidupan “di antara”—hidup dalam dunia transisi yang terus mengubah hal-hal konstan dalam kehidupan manusia—tercermin jelas dalam karya-karya ini, yang berhubungan dengan konsep teoretis seperti liminalitas permanen dan sementara, ruang liminal, entitas liminal, liminoid, communitas, dan anti-struktur. Makna liminalitas dalam cerita-cerita tersebut ditegaskan dengan menggambarkan para tokoh sebagai “mereka yang hidup bukan di sini, bukan di sana—melainkan di suatu ruang di antara keduanya”.[118]

Drama

Rosencrantz and Guildenstern Are Dead, drama karya Tom Stoppard, berlangsung di antara dua dunia, suatu wilayah tanpa tuan dan latar sesungguhnya dari Hamlet. "Drama Shakespeare Hamlet dalam banyak hal merupakan esai tentang liminalitas yang berkelanjutan... hanya melalui kondisi liminal yang sempurna Hamlet akhirnya dapat melihat jalan ke depan"”[119] Dalam Waiting for Godot, sepanjang pertunjukan dua tokoh berjalan gelisah di atas panggung kosong, terus berayun antara harapan dan keputusasaan. Sesekali salah satu dari mereka lupa akan apa yang sedang mereka tunggu, dan yang lain mengingatkannya: "Kita sedang menunggu Godot." Identitas 'Godot' tak pernah diungkapkan, mungkin bahkan kedua tokoh itu sendiri tak mengetahuinya. Mereka berusaha mempertahankan semangatnya sembari menunggu dalam kehampaan yang tak berujung.

Film dan acara televisi

The Twilight Zone (1959–2003) adalah serial antologi televisi Amerika yang mengeksplorasi situasi-situasi ganjil di antara realitas dan dunia gaib. Film The Terminal (2004) menggambarkan tokoh utama, Viktor Navorski, yang terjebak dalam ruang liminal: ia tidak dapat kembali ke negaranya, Krakozhia, maupun masuk secara sah ke Amerika Serikat, sehingga ia harus tinggal tanpa batas waktu di terminal bandara hingga menemukan jalan keluar di akhir film. Dalam film Waking Life, yang membahas tentang mimpi, Aklilu Gebrewold berbicara tentang liminalitas. Film fiksi ilmiah Primer (2004) karya Shane Carruth menampilkan dua tokoh utama yang membangun mesin waktu di sebuah gudang penyimpanan agar tak terganggu. Lorong-lorong gudang itu digambarkan dingin dan tak berubah, seolah berada di luar waktu, menjadi ruang liminal. Saat mereka berada di dalam kotak mesin waktu, mereka memasuki liminalitas temporal. Contoh lain terdapat dalam film karya Hayao Miyazaki, Princess Mononoke, di mana Roh Hutan hanya dapat dibunuh ketika ia tengah beralih antara dua bentuk wujudnya.

Fotografi dan budaya Internet

Pada akhir dekade 2010-an, sebuah tren gambar yang menampilkan apa yang disebut sebagai "ruang liminal" merebak dalam komunitas seni dan fotografi daring, dengan tujuan menyampaikan "rasa nostalgia, keterasingan, dan ketidakpastian".[120] Subjek foto-foto ini tidak selalu sesuai dengan definisi klasik ruang liminal (seperti lorong, ruang tunggu, atau tempat peristirahatan), melainkan didefinisikan oleh suasana muram serta kesan keterlantaran, kehancuran, dan kesunyian. Selain itu, telah diusulkan bahwa fenomena ruang liminal dapat merepresentasikan perasaan disorientasi yang lebih luas dalam masyarakat modern, menjelaskan mengapa tempat-tempat yang kerap muncul dalam kenangan masa kecil (seperti taman bermain atau sekolah) digunakan sebagai refleksi tentang perjalanan waktu dan pengalaman kolektif manusia dalam menua.[121]

Fenomena ini mulai menarik perhatian media pada tahun 2019, ketika sebuah creepypasta pendek yang pertama kali diposting di papan /x/ milik 4chan menjadi viral.[122] Cerita pendek tersebut menampilkan gambar sebuah lorong dengan karpet dan wallpaper berwarna kuning, disertai keterangan bahwa dengan "menembus batas kenyataan dalam kehidupan nyata", seseorang dapat memasuki the Backrooms, hamparan koridor tak berujung yang dipenuhi "bau karpet lembap yang telah menua, kegilaan dari warna kuning tunggal, dengungan lampu neon yang terus-menerus, dan sekitar enam ratus juta mil persegi ruang kosong yang terpecah secara acak dan menjebak penghuninya".[123] Sejak saat itu, sebuah subreddit populer berjudul "liminal space", yang mengarsipkan foto-foto dengan "kesan bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya benar",[124] telah mengumpulkan lebih dari 500.000 pengikut.[125][126] Sebuah akun Twitter bernama @SpaceLiminalBot yang secara rutin memposting foto-foto ruang liminal juga telah menarik lebih dari 1,2 juta pengikut.[127] Konsep ruang liminal juga dapat ditemukan dalam lukisan dan gambar, misalnya dalam karya-karya pelukis Jeffery Smart.[128][129]

Penelitian menunjukkan bahwa ruang liminal dapat tampak menyeramkan atau ganjil karena berada dalam semacam lembah gerun arsitektur dan ruang fisik.[130]

Musik dan media lainnya

Banyak permainan video yang didasarkan pada konsep estetika ruang liminal. Contohnya termasuk Superliminal serta berbagai adaptasi permainan video dari The Backrooms, di antara banyak karya lainnya.

Liminal Space merupakan album dari seniman breakcore asal Amerika Serikat, Xanopticon. Grup musik Coil juga kerap menyinggung gagasan tentang liminalitas di berbagai karya mereka, yang paling jelas tampak pada judul lagu mereka "Batwings (A Limnal Hymn)" (sic) dari album Musick to Play in the Dark Vol. 2. Dalam serial .hack//Liminality, karakter Harald Hoerwick, sang pencipta permainan daring multipemain masif "The World" — berusaha membawa dunia nyata ke dalam dunia maya, menciptakan batas kabur di antara keduanya; sebuah konsep yang ia sebut "Liminality".

Dalam lirik lagu "A Day Out of Time" dari grup rock Prancis Little Nemo, gagasan tentang liminalitas dieksplorasi secara tidak langsung melalui penggambaran sebuah momen transisi sebelum kembalinya "kegelisahan sehari-hari". Momen liminal ini digambarkan sebagai momen yang berada di luar waktu, tanpa tujuan maupun penyesalan.

Pengalaman Liminoid

Pada tahun 1974, Victor Turner memperkenalkan istilah liminoid (berasal dari kata Yunani eidos, yang berarti “bentuk” atau “wujud”[131]) untuk merujuk pada pengalaman-pengalaman yang memiliki ciri serupa dengan pengalaman liminal, namun bersifat opsional dan tidak melibatkan penyelesaian atas suatu krisis pribadi.[132] Berbeda dari peristiwa liminal, pengalaman liminoid bersifat kondisional dan tidak menghasilkan perubahan status, melainkan hanya menjadi momen transisi dalam waktu.[133]

Konsep liminal berkaitan dengan kehidupan sosial, bagian dari ritual keagamaan atau sosial, sementara liminoid justru menjadi bentuk pelepasan dari kehidupan sosial, bagian dari “permainan” atau aktivitas rekreatif. Dengan munculnya industrialisasi dan berkembangnya waktu luang sebagai bentuk permainan yang sah dan terpisah dari kerja, pengalaman liminoid menjadi jauh lebih umum dibandingkan dengan ritus-ritus liminal tradisional.[134] Dalam masyarakat modern semacam ini, ritus keagamaan atau sosial mulai memudar dan melahirkan gagasan tentang "ritual liminoid" bagi fenomena sekuler yang sejenis, seperti menghadiri konser musik rock dan berbagai bentuk pengalaman liminoid lainnya.[135]

Peralihan dari tahap-tahap liminal menuju pengalaman liminoid menandai perubahan kebudayaan dari masyarakat kesukuan dan agraris menuju masyarakat modern dan industrial. Dalam masyarakat modern, kerja dan permainan dipisahkan sepenuhnya, sementara dalam masyarakat purba keduanya hampir tak dapat dibedakan.[136] Dahulu, permainan menyatu dengan aktivitas kerja melalui gerak simbolik dan ritual yang bertujuan untuk memohon kesuburan, kelimpahan, serta menandai fase-fase liminal tertentu; dengan demikian, kerja dan permainan tak terpisahkan dan sering bergantung pada ritus sosial.[137] Contohnya dapat ditemukan dalam teka-teki dan kisah jenaka suku Cherokee dan Maya, permainan bola suci, serta hubungan bercanda sakral yang memiliki makna religius dalam konteks kerja sekaligus mempertahankan unsur permainan.[138]

Pada masa lampau, mitos dan ritual terjalin erat dengan kerja kolektif yang memiliki tujuan sakral dan simbolik; ritus liminal diwujudkan melalui upacara pendewasaan, perayaan musim, dan berbagai peristiwa penting lainnya. Industrialisasi kemudian memutus ikatan antara kerja dan kesakralan, menempatkan “kerja” dan “permainan” dalam dua ranah yang terpisah dan jarang, jika pernah, bersinggungan.[139]

Dalam esainya yang terkenal mengenai pergeseran dari liminal menuju liminoid dalam masyarakat industri, Turner memberikan dua penjelasan utama. Pertama, masyarakat mulai menjauh dari kegiatan yang didorong oleh kewajiban ritual kolektif, dan beralih menekankan pentingnya individu dibanding komunitas; hal ini membuka ruang bagi pilihan pribadi dalam aktivitas, menjadikan kerja dan waktu luang bersifat opsional. Kedua, pekerjaan yang dilakukan demi mencari nafkah menjadi sepenuhnya terpisah dari kegiatan lainnya, sehingga “tidak lagi bersifat alami, melainkan arbitrer.”[140] Dengan kata lain, revolusi industri melahirkan waktu luang yang sebelumnya tidak ada dalam masyarakat tradisional, menciptakan ruang bagi munculnya pengalaman-pengalaman liminoid.[141]

Contoh pengalaman liminoid

Olahraga

Acara olahraga seperti Olimpiade, pertandingan sepak bola NFL, dan laga hoki merupakan bentuk pengalaman liminoid. Aktivitas-aktivitas ini bersifat opsional, dilakukan dalam konteks rekreasi, dan menempatkan baik penonton maupun atlet pada posisi "di antara", di luar batas norma sosial yang biasa. Pertandingan olahraga juga menumbuhkan rasa kebersamaan di antara para penggemar dan memperkuat semangat kolektif mereka yang terlibat di dalamnya.[142]

Pertandingan sepak bola tahunan, kompetisi senam, pertandingan bisbol modern, dan perlombaan renang semuanya dapat digolongkan sebagai pengalaman liminoid. Kegiatan-kegiatan ini mengikuti pola musiman, sehingga alur dunia olahraga menjadi siklikal dan dapat diprediksi, memperkuat sifat liminal yang melekat di dalamnya.[143] Perburuan harta karun amatir juga telah digambarkan dengan menggunakan teori liminal (King, 2024).

Penerbangan komersial

Seorang sarjana, Alexandra Murphy, berpendapat bahwa perjalanan dengan pesawat terbang secara hakikat bersifat liminoid, melayang di udara, tidak berada di sini maupun di sana, melintasi ambang waktu dan ruang, sehingga pengalaman terbang itu sendiri sulit untuk dipahami sepenuhnya.[144] Murphy berpendapat bahwa penerbangan menggeser keberadaan manusia ke dalam ruang limbo, di mana gerak menjadi serangkaian “pertunjukan budaya” yang secara halus meyakinkan kita bahwa perjalanan udara adalah cerminan dari realitas, bukan pemisahan darinya.[145]

Lihat pula

  • — keadaan di mana sifat maskulin dan feminin berpadu dalam satu entitas, baik secara fisik maupun psikologis.
  • — dalam tradisi Buddhis Tibet, istilah yang mengacu pada keadaan peralihan antara kematian dan kelahiran kembali.
  • — ketegangan batin yang muncul ketika seseorang memegang dua gagasan atau keyakinan yang saling bertentangan.
  • — kondisi batas di mana dua fase zat menjadi tidak dapat dibedakan satu sama lain.
  • — ruang atau keadaan peralihan dalam teologi dan sastra, sering digambarkan sebagai tempat antara surga dan neraka.
  • — sosok atau entitas yang berada di ambang batas antara dua dunia, realitas, atau kondisi eksistensial.
  • — dewa yang menguasai atau melambangkan ambang batas dan peralihan, penjaga gerbang antara ranah berbeda.
  • — pengalaman eksistensial ekstrem yang memaksa seseorang menghadapi hakikat terdalam keberadaannya.
  • — istilah Latin bagi “tempat yang menyenangkan,” sering digunakan dalam sastra klasik untuk menggambarkan lokasi ideal yang menenangkan dan penuh harmoni.
  • — perubahan mendasar dalam keadaan materi atau sistem, misalnya dari padat menjadi cair.
  • — perjalanan seseorang dalam menyesuaikan identitas gendernya, baik secara sosial, medis, maupun psikologis.
  • — keadaan kesadaran yang berubah, sering dikaitkan dengan praktik spiritual, meditasi, atau hipnosis.
  • — sesuatu yang memiliki keberadaan atau eksistensi tersendiri, baik bersifat konkret maupun abstrak.
  • — berbagai pengertian yang merujuk pada situasi atau kondisi di antara dua keadaan yang berbeda.

Sumber umum

  • Barfield, Thomas J. The Dictionary of Anthropology. Oxford: Blackwell, 1997.
  • Bellow, Saul. Dangling Man (Penguin 1977).
  • Benzel, Rick. Inspiring Creativity: an Anthology of Powerful Insights and Practical Ideas to Guide You to Successful Creating. Playa Del Rey, CA: Creativity Coaching Association, 2005.
  • Bly, Robert. Iron John (Dorset 1991).
  • Burke, Carolyn, Naomi Schor, and Margaret Whitford. Engaging with Irigaray: Feminist Philosophy and Modern European Thought. New York: Columbia UP, 1994.
  • Byatt, A. S. Possession; a Romance. New York: Vintage International, 1990.
  • Carson, Timothy L. "Chapter Seven: Betwixt and Between, Worship and Liminal Reality." Transforming Worship. St. Louis, MO: Chalice, 2003.
  • Casement, Patrick. Further Learning from the Patient (London 1997).
  • Corcoran, Neil. Do You, Mr Jones?: Bob Dylan with the Poets and Professors. London: Chatto & Windus, 2002.
  • Costello, Stephen J. The Pale Criminal: Psychoanalytic Perspectives. London: Karnac, 2002.
  • Douglas, Mary. Implicit Meanings Essays in Anthropology. London [u.a.]: Routledge, 1984.
  • Elsbree, Langdon. Ritual Passages and Narrative Structures. New York: P. Lang, 1991.
  • Getz, D. 2007. Event studies: theory, research and policy for planned events. Burlington, MA:Butterworth-Heinemann.
  • Gennep, Arnold Van. The Rites of Passage. (Chicago: University of Chicago), 1960.
  • Girard, René. "To Double Business Bound": Essays on Literature, Mimesis, and Anthropology. Baltimore: Johns Hopkins UP, 1988.
  • Girard, René. Violence and the Sacred. London: Athlone, 1988.
  • Homans, Peter. Jung in Context: Modernity and the Making of a Psychology. Chicago: University of Chicago, 1979.
  • Illouz, Eva. Consuming the Romantic Utopia: Love and the Cultural Contradictions of Capitalism. UCP, 1997.
  • Jung, C. G. Man and His Symbols. London: Picador, 1978.
  • Kahane Reuven, et al., The Origins of Postmodern Youth (New York: 1997)
  • Liebler, Naomi Conn. Shakespeare's Festive Tragedy: the Ritual Foundations of Genre. London: Routledge, 1995.
  • Lih, Andrew. The Wikipedia Revolution: How a Bunch of Nobodies Created the World's Greatest Encyclopedia. London: Aurum, 2009.
  • Miller, Jeffrey C., and C. G. Jung. The Transcendent Function: Jung's Model of Psychological Growth through Dialogue with the Unconscious. Albany: State University of New York, 2004.
  • Nicholas, Dean Andrew. The Trickster Revisited: Deception as a Motif in the Pentatech. New York: Peter Lang, 2009.
  • Oxford English Dictionary. Ed. J. A. Simpson and E. S. C. Weiner. 2nd ed. Oxford: Clarendon Press, 1989. OED Online Oxford University Press. Accessed June 23, 2007; cf. subliminal.
  • Quasha, George & Charles Stein. An Art of Limina: Gary Hill's Works and Writings. Barcelona: Ediciones Polígrafa, 2009. Foreword by Lynne Cooke.
  • Ramanujan, A. K. Speaking of Śiva. Harmondsworth: Penguin, 1979.
  • Robben, A. and Sluka, J. Editors, Ethnographic Fieldwork: An Anthropological Reader Wiley-Blackwell, 2012.
  • Rogers, Carl R. On Becoming a Person; a Therapist's View of Psychotherapy. Boston: Houghton Mifflin, 1961.
  • Shorter, Bani. An Image Darkly Forming: Women and Initiation. London: Routledge, 1988.
  • St John, Graham (ed.) 2008. Victor Turner and Contemporary Cultural Performance . New York: Berghahn. .
  • Szakolczai, A. (2000) Reflexive Historical Sociology, London: Routledge.
  • Turner, "Betwixt and Between: The Liminal Period in Rites de Passage", in The Forest of Symbols Ithaca, NY: Cornell University Press, 1967
  • Turner, Victor Witter. The Ritual Process: Structure and Anti-structure. Chicago: Aldine Pub., 1969
  • Turner, Victor Witter. Dramas, Fields, and Metaphors: Symbolic Action in Human Society. Ithaca: Cornell UP, 1974.
  • Turner, Victor. Liminal to liminoid in play, flow, and ritual: An essay in comparative symbology. Rice University Studies 1974.
  • Turner, Victor W., and Edith Turner. Image and Pilgrimage in Christian Culture Anthropological Perspectives. New York: Columbia UP, 1978.
  • Waskul, Dennis D. Net.seXXX: Readings on Sex, Pornography, and the Internet. New York: P. Lang, 2004.
  • Young-Eisendrath, Polly, and Terence Dawson. The Cambridge Companion to Jung. Cambridge, Cambridgeshire: Cambridge UP, 1997.

Pranala luar

Referensi

  1. "liminal", Oxford English Dictionary. Ed. J. A. Simpson dan E. S. C. Weiner. Edisi ke-2. Oxford: Clarendon Press, 1989. OED Online Oxford 23, 2007; cf. subliminal.
  2. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  3. Nordic Work with Traumatised Refugees: Do We Really Care. Cambridge Scholars Publishing. 2014. hlm. 194. ISBN 978-1-4438-6777-1.
  4. "Liminality and Communitas", dalam The Ritual Process: Structure and Anti-Structure (New Brunswick: Aldine Transaction Press, 2008).
  5. Ira Katznelson. Measuring Liberalism, Confronting Evil: A Retrospective. Annual Review of Political Science. 11 May 2021. Vol. 24 (1). hlm. 1–19. doi:10.1146/annurev-polisci-042219-030219.
  6. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  7. A. Horvath. Introduction: Liminality and Cultures of Change. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 3–4.
  8. A. Szakolczai. Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.
  9. Thomas Barfield. The Dictionary of Anthropology. 1997. hlm. 477.
  10. Arnold van Gennep. The rites of passage. Routledge & Kegan Paul. 1977. hlm. 21. ISBN 978-0-7100-8744-7.
  11. A. Szakolczai. Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.
  12. Arnold van Gennep. The rites of passage. Routledge & Kegan Paul. 1977. hlm. 21. ISBN 978-0-7100-8744-7.
  13. A. Szakolczai. Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.
  14. A. Szakolczai. Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.
  15. A. Szakolczai. Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.
  16. Victor W. Turner, The Ritual Process (Penguin 1969) hlm. 155.
  17. Hazel Andrews. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.
  18. Hazel Andrews. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.
  19. Hazel Andrews. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.
  20. Victor Turner, "Betwixt and Between: The Liminal Period in Rites de Passage", dalam The Forest of Symbols (Ithaca, NY: Cornell University Press, 1967).
  21. Turner, Ritual hlm. 80
  22. Bjørn Thomassen. Liminality. Routledge. 2006. hlm. 322–323.
  23. Bjørn Thomassen. Liminality. Routledge. 2006. hlm. 322–323.
  24. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  25. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  26. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  27. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  28. Turner Ritual hlm. 81
  29. Turner, Ritual hlm. 156
  30. A. Szakolczai. Liminality and Experience: Structuring transitory situations and transformative events. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 141–172.
  31. Peter Homas, Jung in Context (London 1979) hlm. 207
  32. Graham St John. Victor Turner and Contemporary Cultural Performance. Berghahn Books. 2008. hlm. 127. ISBN 978-0-85745-037-1.
  33. Graham St John. Victor Turner and Contemporary Cultural Performance. Berghahn Books. 2008. hlm. 127. ISBN 978-0-85745-037-1.
  34. Graham St John. Victor Turner and Contemporary Cultural Performance. Berghahn Books. 2008. hlm. 127. ISBN 978-0-85745-037-1.
  35. Graham St John. Victor Turner and Contemporary Cultural Performance. Berghahn Books. 2008. hlm. 127. ISBN 978-0-85745-037-1.
  36. Graham St John. Victor Turner and Contemporary Cultural Performance. Berghahn Books. 2008. hlm. 127. ISBN 978-0-85745-037-1.
  37. Agnes Horvath. Modernism and Charisma. Palgrave Macmillan UK. 2013. doi:10.1057/9781137277862. ISBN 978-1-349-44741-1.
  38. Carson, ed; The Lutterworth Press, 2019
  39. The Lutterworth Press, 2022
  40. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  41. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  42. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  43. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  44. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  45. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  46. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  47. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  48. Bjørn Thomassen. Liminality. Routledge. 2006. hlm. 322–323.
  49. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  50. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  51. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  52. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  53. Homans 1979, 207.
  54. Hall, dikutip dalam Miller dan Jung 2004, 104.
  55. Shorter 1988, 73, 79.
  56. Robert Pelton dalam Young-Eisendrath dan Dawson, eds. 1997, 244.
  57. Hazel Andrews. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.
  58. Rogers 1961, 202.
  59. E. Hirsh, dalam Burke et al., eds. 1994, 309n.
  60. Dikutip dalam Casement 1997, 158.
  61. Shorter 1988, 79.
  62. Bly, 1991, 194.
  63. Homans 1979, 208.
  64. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  65. Getz 2007, 179.
  66. Getz 2007, 442.
  67. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  68. Costello 2002, 158.
  69. Kenneth R Olwig. Liminality, Seasonality and Landscape. Landscape Research. April 2005. Vol. 30 (2). hlm. 259–271. doi:10.1080/01426390500044473.
  70. Timothy L Carson. Transforming Worship. Chalice Press. 2003. hlm. 61. ISBN 978-0-8272-3692-9.
  71. Timothy L Carson. Transforming Worship. Chalice Press. 2003. hlm. 61. ISBN 978-0-8272-3692-9.
  72. 2nd Edition, The Lutterworth Press, 2016
  73. The Liminality Project. www.theliminalityproject.org.
  74. Guild for Engaged Liminality – A Community Engaging Liminality as Interdisciplinary Reflective Practice through Art, Culture, Religion, Spirituality, and Society. www.engagedliminality.org.
  75. The Liminality Press Publishing House for Liminality Studies. www.liminalitypress.com.
  76. The Lutterworth Press, 2021
  77. The Liminality Press, 2024
  78. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  79. Kahane 1997, 31.
  80. Nicholas 2009, 25.
  81. Joseph Henderson in Jung 1978, 153.
  82. Naoko Takiguchi. Liminal Experiences of Miyako Shamans: Reading a Shaman's Diary. Asian Folklore Studies. 1990. Vol. 49 (1). hlm. 1–38. doi:10.2307/1177947.
  83. Naoko Takiguchi. Liminal Experiences of Miyako Shamans: Reading a Shaman's Diary. Asian Folklore Studies. 1990. Vol. 49 (1). hlm. 1–38. doi:10.2307/1177947.
  84. Bjørn Thomassen. The Uses and Meanings of Liminality. International Political Anthropology. 2009. Vol. 2 (1). hlm. 5–27.
  85. Illouz 1997, 143.
  86. Richard Brown in Corcoran 2002, 211.
  87. Joseph Henderson, in Jung 1978, 152.
  88. Richard Brown in Corcoran 2002, 196
  89. El Khoury, 2015, 217
  90. Isabel Berenguer Asuncion. Living through liminal spaces. INQUIRER.net. 13 June 2020.
  91. Hugh Matthews. Children in the City. Routledge. 2003. hlm. 119–135. doi:10.4324/9780203167236-11. ISBN 978-0-203-16723-6.
  92. Wei-Jue Huang. Airports as liminal space. Annals of Tourism Research. May 2018. Vol. 70. hlm. 1–13. doi:10.1016/j.annals.2018.02.003.
  93. Babak Taheri. Experiential liminoid consumption: the case of nightclubbing. Journal of Marketing Management. 2 January 2016. Vol. 32 (1–2). hlm. 19–43. doi:10.1080/0267257X.2015.1089309.
  94. Babak Taheri. Experiential liminoid consumption: the case of nightclubbing. Journal of Marketing Management. 2 January 2016. Vol. 32 (1–2). hlm. 19–43. doi:10.1080/0267257X.2015.1089309.
  95. Vritra. Macmillan Reference USA/Gale Group. 2006.
  96. Jesse Peters. Intra Limen: An Examination of Liminality in Apuleius' Metamorphoses and Giulio Romano's Sala di Amore e Psiche. 2014.
  97. Jesse Peters. Intra Limen: An Examination of Liminality in Apuleius' Metamorphoses and Giulio Romano's Sala di Amore e Psiche. 2014.
  98. Jesse Peters. Intra Limen: An Examination of Liminality in Apuleius' Metamorphoses and Giulio Romano's Sala di Amore e Psiche. 2014.
  99. Norris Johnson, dalam Robben dan Sluka 2007, hlm. 76
  100. David Heading. Lonergan's insight and threshold concepts: students in the liminal space. Teaching in Higher Education. 2018. Vol. 23 (6). hlm. 657–667. doi:10.1080/13562517.2017.1414792.
  101. Vanessa Rutherford. The European Higher Education Area. 2015. hlm. 703–723. doi:10.1007/978-3-319-20877-0_44. ISBN 978-3-319-18767-9.
  102. Byatt 1990, 505–06.
  103. Elsbree 1991, 66.
  104. Bellow 1977, 84.
  105. Deuxmers - Tales from the Liminal.
  106. S. K. Kruse. www.skkruse.com.
  107. Brontë, Charlotte (1816–1855). Oxford University Press. 2017-11-28. Vol. 1. doi:10.1093/odnb/9780192683120.013.3523.
  108. Megan Clark. The Space In-Between: Exploring Liminality in Jane Eyre. Criterion: A Journal of Literary Criticism. 2017. Vol. 10.
  109. Sarah Gilead. Liminality and Antiliminality in Charlotte Brontë's Novels: Shirley Reads Jane Eyre. Texas Studies in Literature and Language. 1987. Vol. 29 (3). hlm. 302–322.
  110. Sarah Gilead. Liminality and Antiliminality in Charlotte Brontë's Novels: Shirley Reads Jane Eyre. Texas Studies in Literature and Language. 1987. Vol. 29 (3). hlm. 302–322.
  111. Sarah Gilead. Liminality and Antiliminality in Charlotte Brontë's Novels: Shirley Reads Jane Eyre. Texas Studies in Literature and Language. 1987. Vol. 29 (3). hlm. 302–322.
  112. Karen Brooks. Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction. Australian Literary Studies. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.
  113. Karen Brooks. Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction. Australian Literary Studies. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.
  114. Karen Brooks. Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction. Australian Literary Studies. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.
  115. Karen Brooks. Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction. Australian Literary Studies. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.
  116. Karen Brooks. Shit Creek: Suburbia, Abjection and Subjectivity in Australian 'Grunge' Fiction. Australian Literary Studies. 1 October 1998. Vol. 18 (4). hlm. 87–99.
  117. Raisun Mathew. In-Between: Liminal Stories. Authorspress. 2022. ISBN 978-93-91314-04-0.
  118. Raisun Mathew. In-Between: Liminal Stories. Authorspress. 2022. ISBN 978-93-91314-04-0.
  119. Liebler, hlm. 182–84
  120. Architecture: The Cult Following Of Liminal Space. Musée Magazine. 2 November 2020.
  121. How liminal spaces became the internet's latest obsession. TwoPointOne Magazine. 18 June 2021.
  122. Michael L. S. 'The Backrooms Game' Brings a Modern Creepypasta to Life [What We Play in the Shadows]. Bloody Disgusting!. 2020-04-30.
  123. We will find where the Original Backrooms Photo was taken. But, we need your help. - YouTube. YouTube. 2020-10-30.
  124. Liminal Spaces may be the most 2020 of all trends. Earnest Pettie Online. 2020-12-31.
  125. Will the mall survive COVID? Whatever happens, these artists want to capture them before they're gone CBC Arts. CBC.
  126. LiminalSpace. Reddit.
  127. Jake Pitre. The Eerie Comfort of Liminal Spaces. The Atlantic. 2022-11-01.
  128. Nick Kenyon. The Exhibition Spotlighting One Of Australia's Greatest Artists. Boss Hunting. 2022-03-02.
  129. Jeffrey Smart - 155 artworks - painting. www.wikiart.org.
  130. Alexander Diel. Structural deviations drive an uncanny valley of physical places. Journal of Environmental Psychology. 1 August 2022. Vol. 82. doi:10.1016/j.jenvp.2022.101844.
  131. Hazel Andrews. International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences. 2015. hlm. 131–137. doi:10.1016/B978-0-08-097086-8.12102-6. ISBN 978-0-08-097087-5.
  132. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  133. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  134. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  135. Illouz, Consuming p. 142
  136. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  137. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  138. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  139. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  140. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  141. Victor Turner. Liminal to Liminoid, in Play, Flow, and Ritual: An Essay in Comparative Symbology. Rice Institute Pamphlet - Rice University Studies. July 1974. Vol. 60 (3).
  142. Graham St John. Victor Turner and Contemporary Cultural Performance. Berghahn Books. 2008. hlm. 127. ISBN 978-0-85745-037-1.
  143. Graham St John. Victor Turner and Contemporary Cultural Performance. Berghahn Books. 2008. hlm. 127. ISBN 978-0-85745-037-1.
  144. Alexandra G. Murphy. Organizational Politics of Place and Space: The Perpetual Liminoid Performance of Commercial Flight. Text and Performance Quarterly. October 2002. Vol. 22 (4). hlm. 297–316. doi:10.1080/10462930208616175.
  145. Alexandra G. Murphy. Organizational Politics of Place and Space: The Perpetual Liminoid Performance of Commercial Flight. Text and Performance Quarterly. October 2002. Vol. 22 (4). hlm. 297–316. doi:10.1080/10462930208616175.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29506029 (2026-07-30T04:13:34Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.