Lompat ke isi

Satuan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29433405; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:International_System_Of_Units_Logo.png|thumb|right|280px|International System Of Units Logo]]
'''Satuan''' atau '''satuan ukur''' () digunakan untuk memastikan kebenaran pengukuran atau sebagai nilai standar bagi pembanding alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya dengan tujuan melindungi kepentingan umum. Digunakan dalam berbagai disiplin [[ilmu]] untuk mendefinisikan berbagai pengukuran, rumus dan data.
'''Satuan''' atau '''satuan ukur''' () digunakan untuk memastikan kebenaran pengukuran atau sebagai nilai standar bagi pembanding alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya dengan tujuan melindungi kepentingan umum. Digunakan dalam berbagai disiplin [[ilmu]] untuk mendefinisikan berbagai pengukuran, rumus dan data.


== Sistem Satuan Internasional ==
== Sistem Satuan Internasional ==
Sistem satuan yang paling sering digunakan di dunia [[Internasionalitas|internasional]], khususnya di [[Indonesia]] adalah [[Sistem Satuan Internasional]] (SI). Sistem satuan SI terdiri dari tujuh satuan pokok—[[detik]] untuk [[waktu]], [[meter]] untuk [[panjang]], [[kilogram]] untuk [[massa]], [[ampere]] untuk [[arus listrik]], [[kelvin]] untuk [[Suhu termodinamika|suhu termodinamik]], [[mol]] untuk [[jumlah zat]], dan [[kandela]] untuk [[intensitas cahaya]]—<nowiki/>yang menjadi "fondasi" dari sistem satuan ini, sementara semua satuan untuk [[Besaran fisika|besaran]] lainnya diturunkan dari besaran pokok tersebut.
Sistem satuan yang paling sering digunakan di dunia [[Internasionalitas|internasional]], khususnya di [[Indonesia]] adalah [[Sistem Satuan Internasional]] (SI). Sistem satuan SI terdiri dari tujuh satuan pokok—[[detik]] untuk [[waktu]], [[meter]] untuk [[panjang]], [[kilogram]] untuk [[massa]], [[ampere]] untuk [[arus listrik]], [[kelvin]] untuk [[Suhu termodinamika|suhu termodinamik]], [[mol]] untuk [[jumlah zat]], dan [[kandela]] untuk [[intensitas cahaya]]—<nowiki/>yang menjadi "fondasi" dari sistem satuan ini, sementara semua satuan untuk [[Besaran fisika|besaran]] lainnya diturunkan dari besaran pokok tersebut.


Baris 9: Baris 9:


== Satuan ukur tradisional di Indonesia ==
== Satuan ukur tradisional di Indonesia ==
Satuan di bawah ini berlaku di Indonesia pada zaman dahulu.
Satuan di bawah ini berlaku di Indonesia pada zaman dahulu.<ref>Crawford, John. History of the Indian Archipelago: containing an account of the manners, arts, languages, religions, and commerce of its inhabitans. Edinburg, London. 1820. vol I. page 272-280</ref>
* Cupak: kira-kira 2 1/2 pound avoirdupois
* Cupak: kira-kira 2 1/2 pound avoirdupois
* Kulah: kira sama dengan 1 gallon
* Kulah: kira sama dengan 1 gallon
Baris 25: Baris 25:
* Bahara: diperoleh dari pedagang Arab digunakan untuk menghitung [[lada]] (pepper) dengan ukuran antara 296 - 560 lbs avoirdupois
* Bahara: diperoleh dari pedagang Arab digunakan untuk menghitung [[lada]] (pepper) dengan ukuran antara 296 - 560 lbs avoirdupois


Di Indonesia, satuan sudah dikenal sejak [[Majapahit|zaman Majapahit]]. Jarak dan luas permukaan bidang diukur menggunakan rentang tangan dan kaki sedangkan untuk berat dan volume masyarakat memakai patokan bumbung hingga batok kelapa. Menurut budayawan [[Kabupaten Mojokerto|Mojokerto]] Putut Nugroho, satuan ukuran mulai dikenal secara luas di wilayah Indonesia pada abad antara 9 dan 10 masehi yang dibuktikan berdasarkan budaya masyarakat [[Medang|Mataram Kuno]] di wilayah Jawa Tengah yang menggunakan satuan [[Fatom|depa]] dan [[hasta]] untuk bidang berupa panjang dan lebar. Satuan ini dinamakan depa siwa (2,5 meter – 3 meter) dan masih dipakai di Bali dengan nama depa agung. Satuan hasta juga menggunakan lengan. Yakni jarak antara siku dengan ujung jari. Satu hasta, jika dibandingkan dengan ukuran yang dikenal sekarang sama dengan 40 – 45 sentimeter. Selain hasta dan depa, dikenal juga ukuran satu tombak. Satuan-satuan ini digunakan masyarakat secara luas untuk berbagai urusan dari mengukur rumah hingga bidang sawah.
Di Indonesia, satuan sudah dikenal sejak [[Majapahit|zaman Majapahit]]. Jarak dan luas permukaan bidang diukur menggunakan rentang tangan dan kaki sedangkan untuk berat dan volume masyarakat memakai patokan bumbung hingga batok kelapa. Menurut budayawan [[Kabupaten Mojokerto|Mojokerto]] Putut Nugroho, satuan ukuran mulai dikenal secara luas di wilayah Indonesia pada abad antara 9 dan 10 masehi yang dibuktikan berdasarkan budaya masyarakat [[Medang|Mataram Kuno]] di wilayah Jawa Tengah yang menggunakan satuan [[Fatom|depa]] dan [[hasta]] untuk bidang berupa panjang dan lebar. Satuan ini dinamakan depa siwa (2,5 meter – 3 meter) dan masih dipakai di Bali dengan nama depa agung. Satuan hasta juga menggunakan lengan. Yakni jarak antara siku dengan ujung jari. Satu hasta, jika dibandingkan dengan ukuran yang dikenal sekarang sama dengan 40 – 45 sentimeter. Selain hasta dan depa, dikenal juga ukuran satu tombak. Satuan-satuan ini digunakan masyarakat secara luas untuk berbagai urusan dari mengukur rumah hingga bidang sawah.<ref>Yulianto Adi Nugroho. [https://radarmojokerto.jawapos.com/sejarah-mojopedia/822968079/satuan-ukur-era-majapahit-gunakan-hasta-hingga-batok-kelapa?page=all Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto]. ''Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto''.</ref>


Tak hanya soal jarak, penduduk saat itu juga mengenal berbagai ukuran berat dan volume. Seperti satuan catu yang berupa batok kelapa dan satuan batang menggunakan satu ruas bambu.Satu catu sama dengan 300 – 400 mililiter atau cc. Ukuran ini biasanya dipakai untuk aktivitas perdagangan seperti menimbang beras. Pada akhir era Majapahit (abad 15 masehi), muncul ukuran sukat yang setara dengan 4 catu. Objek yang diukur dengan sukat berupa benda cair seperti arak, tuak, serbat (minuman degan) dan juga zat padat dalam jumlah banyak. Satuan turunan dari catu juga menciptakan satuan bernama nalih yang setara dengan 8 sukat. Selain itu, muncul juga ukuran berdasarkan genggaman tangan dengan nama agem dan atau rakut.
Tak hanya soal jarak, penduduk saat itu juga mengenal berbagai ukuran berat dan volume. Seperti satuan catu yang berupa batok kelapa dan satuan batang menggunakan satu ruas bambu.Satu catu sama dengan 300 – 400 mililiter atau cc. Ukuran ini biasanya dipakai untuk aktivitas perdagangan seperti menimbang beras. Pada akhir era Majapahit (abad 15 masehi), muncul ukuran sukat yang setara dengan 4 catu. Objek yang diukur dengan sukat berupa benda cair seperti arak, tuak, serbat (minuman degan) dan juga zat padat dalam jumlah banyak. Satuan turunan dari catu juga menciptakan satuan bernama nalih yang setara dengan 8 sukat. Selain itu, muncul juga ukuran berdasarkan genggaman tangan dengan nama agem dan atau rakut.<ref>Yulianto Adi Nugroho. [https://radarmojokerto.jawapos.com/sejarah-mojopedia/822968079/satuan-ukur-era-majapahit-gunakan-hasta-hingga-batok-kelapa?page=all Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto]. ''Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto''.</ref>


Satuan ukuran pada zaman Majapahit tidak hanya terkait kebutuhan transaksional. Terdapat ukuran untuk proses pembuatan produk logam dan emas berdasarkan berapa kali tempaan dan ububan.
Satuan ukuran pada zaman Majapahit tidak hanya terkait kebutuhan transaksional. Terdapat ukuran untuk proses pembuatan produk logam dan emas berdasarkan berapa kali tempaan dan ububan.<ref>Yulianto Adi Nugroho. [https://radarmojokerto.jawapos.com/sejarah-mojopedia/822968079/satuan-ukur-era-majapahit-gunakan-hasta-hingga-batok-kelapa?page=all Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto]. ''Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto''.</ref>


Selain itu, di dalam budaya Bali, juga terdapat satuan ukur. Untuk satuan panjang, terdapat depa siwa (2,5 meter – 3 meter) dan masih dipakai di Bali dengan nama depa agung. Selain depa agung, juga terdapat satuan lain seperti:
Selain itu, di dalam budaya Bali, juga terdapat satuan ukur. Untuk satuan panjang, terdapat depa siwa (2,5 meter – 3 meter) dan masih dipakai di Bali dengan nama depa agung. Selain depa agung, juga terdapat satuan lain seperti:
Baris 43: Baris 43:
# Atampak lima adalah satuan ukur yang diukur selebar telapak tangan yang dibuka dengan jari rapat.
# Atampak lima adalah satuan ukur yang diukur selebar telapak tangan yang dibuka dengan jari rapat.


Penggunaan satuan ukur tersebut pada dasarnya menyesuaikan anatomi tubuh dari pemilik rumah (orang yang dituakan atau yang tinggal di rumah tersebut) apabila digunakan di dalam pembangunan rumah adat Bali.
Penggunaan satuan ukur tersebut pada dasarnya menyesuaikan anatomi tubuh dari pemilik rumah (orang yang dituakan atau yang tinggal di rumah tersebut) apabila digunakan di dalam pembangunan rumah adat Bali.<ref>I. D. N. Times. [https://bali.idntimes.com/science/discovery/ari-budiadnyana/satuan-ukur-bangunan-tradisional-bali-c1c2?page=all 10 Satuan Ukuran Arsitektur Untuk Membuat Bangunan Tradisional Bali]. ''IDN Times Bali''.</ref>


Budaya lain yang memiliki satuan ukur sendiri adalah budaya Minangkabau, Nias, Melayu, Toraja, Sasak, Dayak dan suku-suku lainnya. Satuan-satuan tersebut pada dasarnya umumnya mencakup mencakup satuan ukur dimensi atau panjang serta massa atau beban (kg) serta besaran turunan terkait.
Budaya lain yang memiliki satuan ukur sendiri adalah budaya Minangkabau, Nias, Melayu, Toraja, Sasak, Dayak dan suku-suku lainnya.<ref>[https://www.rri.co.id/daerah/1016038/satuan-ukuran-tradisional-di-minangkabau-dari-alam-hingga-pengaruh-barat Satuan Ukuran Tradisional di Minangkabau dari Alam hingga Pengaruh Barat].</ref> Satuan-satuan tersebut pada dasarnya umumnya mencakup mencakup satuan ukur dimensi atau panjang serta massa atau beban (kg) serta besaran turunan terkait.<ref>[https://budaya-indonesia.org/ALAT-UKUR-TAKARAN-SUKU-DAYAK ALAT UKUR & TAKARAN SUKU DAYAK » Budaya Indonesia]. ''budaya-indonesia.org''.</ref><ref>Chemistry UII. [https://chemistry.uii.ac.id/sumbangan-metrologi-untuk-peradaban/ Sumbangan Metrologi untuk Peradaban]. ''Program Studi Kimia Fakultas MIPA UII''. 2010-07-20.</ref>
== Simbol satuan ukur ==
== Simbol satuan ukur ==
=== A ===
=== A ===
Baris 92: Baris 92:


=== J ===
=== J ===
* [[Joule]], satuan [[energi]]
* [[Joule]], satuan [[energi]]


Baris 149: Baris 148:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Satuan&oldid=29433405 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29433405 (2026-07-08T13:17:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Satuan&oldid=29433405 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29433405 (2026-07-08T13:17:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 14.20

International System Of Units Logo

Satuan atau satuan ukur () digunakan untuk memastikan kebenaran pengukuran atau sebagai nilai standar bagi pembanding alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya dengan tujuan melindungi kepentingan umum. Digunakan dalam berbagai disiplin ilmu untuk mendefinisikan berbagai pengukuran, rumus dan data.

Sistem Satuan Internasional

Sistem satuan yang paling sering digunakan di dunia internasional, khususnya di Indonesia adalah Sistem Satuan Internasional (SI). Sistem satuan SI terdiri dari tujuh satuan pokok—detik untuk waktu, meter untuk panjang, kilogram untuk massa, ampere untuk arus listrik, kelvin untuk suhu termodinamik, mol untuk jumlah zat, dan kandela untuk intensitas cahaya—yang menjadi "fondasi" dari sistem satuan ini, sementara semua satuan untuk besaran lainnya diturunkan dari besaran pokok tersebut.

Sejak redefinisi tahun 2019, semua satuan pokok SI berdasarkan pada konstanta fisika yang bernilai tetap dan universal, sehingga tidak ada lagi satuan yang menggunakan artefak fisik yang dapat berubah nilainya jika diberikan kondisi tertentu.

Satuan ukur tradisional di Indonesia

Satuan di bawah ini berlaku di Indonesia pada zaman dahulu.[1]

  • Cupak: kira-kira 2 1/2 pound avoirdupois
  • Kulah: kira sama dengan 1 gallon
  • Gantang: sama dengan 8 ons
  • Genggam
  • Pucung: 3 genggam. "Pucung" artinya merapatkan dua tangan terbuka, seperti berdoa kaum muslimin
  • Gedeng: 3 pucung
  • Songgo: 5 gedeng
  • Hamat: 24 songgo
  • Tahil: antara 24 pennyweight 9 grain - 30 pennyweight 21 grain
  • Bungkal: sama dengan "tahil"
  • Kati: 10 kali tahil/bungkal = 20 ounces avoirdupois
  • Pikul: 100 kati = 133 1/3
  • Koyan: 30 pikul
  • Bahara: diperoleh dari pedagang Arab digunakan untuk menghitung lada (pepper) dengan ukuran antara 296 - 560 lbs avoirdupois

Di Indonesia, satuan sudah dikenal sejak zaman Majapahit. Jarak dan luas permukaan bidang diukur menggunakan rentang tangan dan kaki sedangkan untuk berat dan volume masyarakat memakai patokan bumbung hingga batok kelapa. Menurut budayawan Mojokerto Putut Nugroho, satuan ukuran mulai dikenal secara luas di wilayah Indonesia pada abad antara 9 dan 10 masehi yang dibuktikan berdasarkan budaya masyarakat Mataram Kuno di wilayah Jawa Tengah yang menggunakan satuan depa dan hasta untuk bidang berupa panjang dan lebar. Satuan ini dinamakan depa siwa (2,5 meter – 3 meter) dan masih dipakai di Bali dengan nama depa agung. Satuan hasta juga menggunakan lengan. Yakni jarak antara siku dengan ujung jari. Satu hasta, jika dibandingkan dengan ukuran yang dikenal sekarang sama dengan 40 – 45 sentimeter. Selain hasta dan depa, dikenal juga ukuran satu tombak. Satuan-satuan ini digunakan masyarakat secara luas untuk berbagai urusan dari mengukur rumah hingga bidang sawah.[2]

Tak hanya soal jarak, penduduk saat itu juga mengenal berbagai ukuran berat dan volume. Seperti satuan catu yang berupa batok kelapa dan satuan batang menggunakan satu ruas bambu.Satu catu sama dengan 300 – 400 mililiter atau cc. Ukuran ini biasanya dipakai untuk aktivitas perdagangan seperti menimbang beras. Pada akhir era Majapahit (abad 15 masehi), muncul ukuran sukat yang setara dengan 4 catu. Objek yang diukur dengan sukat berupa benda cair seperti arak, tuak, serbat (minuman degan) dan juga zat padat dalam jumlah banyak. Satuan turunan dari catu juga menciptakan satuan bernama nalih yang setara dengan 8 sukat. Selain itu, muncul juga ukuran berdasarkan genggaman tangan dengan nama agem dan atau rakut.[3]

Satuan ukuran pada zaman Majapahit tidak hanya terkait kebutuhan transaksional. Terdapat ukuran untuk proses pembuatan produk logam dan emas berdasarkan berapa kali tempaan dan ububan.[4]

Selain itu, di dalam budaya Bali, juga terdapat satuan ukur. Untuk satuan panjang, terdapat depa siwa (2,5 meter – 3 meter) dan masih dipakai di Bali dengan nama depa agung. Selain depa agung, juga terdapat satuan lain seperti:

  1. Acengkang atau alengkat merupakan satuan ukur menggunakan ujung telunjuk sampai ujung ibu jari tangan yang direntangkan,
  2. Agemel merupakan satuan ukur menggunakan keliling tangan yang dikepalkan, Akacing diukur menggunakan pangkal sampai ujung jari kelingking tangan kanan,
  3. Atapak batis adalah pengukuran menggunakan panjang telapak kaki,
  4. Atapak batis ngandang merupakan satuan ukur yang menggunakan lebar telapak kaki,
  5. Atengen Depa Agung adalah satuan ukur yang diukur dari pangkal lengan sampai ujung jari tangan yang direntangkan,
  6. Atengen Depa Alit yaitu satuan ukur yang diukur dari pangkal lengan sampai ujung tangan yang dikepalkan,
  7. Duang jeriji adalah satuan ukuran yang diukur dari lingkar dua jari (jari telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan),
  8. Petang jeriji atau empat jari merupakan satuan ukur menggunakan lebar empat jari (telunjuk, jari tengah, jari manis, kelingking) yang dirapatkan,
  9. Atampak lima adalah satuan ukur yang diukur selebar telapak tangan yang dibuka dengan jari rapat.

Penggunaan satuan ukur tersebut pada dasarnya menyesuaikan anatomi tubuh dari pemilik rumah (orang yang dituakan atau yang tinggal di rumah tersebut) apabila digunakan di dalam pembangunan rumah adat Bali.[5]

Budaya lain yang memiliki satuan ukur sendiri adalah budaya Minangkabau, Nias, Melayu, Toraja, Sasak, Dayak dan suku-suku lainnya.[6] Satuan-satuan tersebut pada dasarnya umumnya mencakup mencakup satuan ukur dimensi atau panjang serta massa atau beban (kg) serta besaran turunan terkait.[7][8]

Simbol satuan ukur

A

  • a, simbol internasional untuk tahun, diambil dari bahasa Latin annuss. Walaupun beberapa negara berbahasa Inggris menggunakan simbol yr, tetapi simbol a digunakan ilmuwan di tulisan-tulisan dan buku-buku ilmiah. Simbol ini biasanya digunakan dalam kombinasi dengan Ma (juta tahun) atau Ga (miliar tahun).
  • a atau A, versi pendek dari am atau AM yang menunjukkan waktu.
  • A, simbol untuk ukuran kertas standar internasional, diikuti oleh angka ukuran seperti A4 untuk ukuran kertas standar businness-letter.
  • A atau amp (Ampere), satuan kuat arus listrik.
  • Å (Angstrom), satuan panjang gelombang.
  • A*, lihat Angstrom star.
  • Å (Angstrom star), satuan panjang gelombang.
  • Are, satuan luas

B

C

D

E

F

G

H

  • Hasta, satuan panjang kuno

I

  • Inci, satuan panjang

J

K

L

M

N

O

  • Ohm, satuan hambatan listrik.

P

Q

R

S

T

V

W

Simbol lainnya

Lihat pula

Referensi

  1. Crawford, John. History of the Indian Archipelago: containing an account of the manners, arts, languages, religions, and commerce of its inhabitans. Edinburg, London. 1820. vol I. page 272-280
  2. Yulianto Adi Nugroho. Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto. Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto.
  3. Yulianto Adi Nugroho. Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto. Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto.
  4. Yulianto Adi Nugroho. Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto. Satuan Ukur Era Majapahit, Gunakan Hasta hingga Batok Kelapa - Radar Mojokerto.
  5. I. D. N. Times. 10 Satuan Ukuran Arsitektur Untuk Membuat Bangunan Tradisional Bali. IDN Times Bali.
  6. Satuan Ukuran Tradisional di Minangkabau dari Alam hingga Pengaruh Barat.
  7. ALAT UKUR & TAKARAN SUKU DAYAK » Budaya Indonesia. budaya-indonesia.org.
  8. Chemistry UII. Sumbangan Metrologi untuk Peradaban. Program Studi Kimia Fakultas MIPA UII. 2010-07-20.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29433405 (2026-07-08T13:17:08Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.