Lompat ke isi

Selenium: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29455970; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:SeBlackRed.jpg|thumb|right|280px|SeBlackRed]]
'''Selenium''' adalah sebuah [[unsur kimia]] dengan [[Lambang unsur|lambang]] '''Se''' dan [[nomor atom]] 34. Ia merupakan sebuah unsur [[nonlogam]] (lebih jarang dianggap sebagai [[metaloid]]) dengan sifat-sifat perantara antara unsur-unsur di atas dan di bawahnya dalam [[tabel periodik]], [[belerang]] dan [[telurium]], dan juga memiliki kemiripan dengan [[arsen]]. Ia jarang terjadi dalam keadaan elementalnya atau sebagai senyawa bijih murni di [[kerak Bumi]]. Selenium () ditemukan pada tahun 1817 oleh [[Jöns Jacob Berzelius|Jöns J. Berzelius]], yang mencatat kemiripan unsur baru tersebut dengan telurium yang ditemukan sebelumnya (dinamai dari Bumi).
'''Selenium''' adalah sebuah [[unsur kimia]] dengan [[Lambang unsur|lambang]] '''Se''' dan [[nomor atom]] 34. Ia merupakan sebuah unsur [[nonlogam]] (lebih jarang dianggap sebagai [[metaloid]]) dengan sifat-sifat perantara antara unsur-unsur di atas dan di bawahnya dalam [[tabel periodik]], [[belerang]] dan [[telurium]], dan juga memiliki kemiripan dengan [[arsen]]. Ia jarang terjadi dalam keadaan elementalnya atau sebagai senyawa bijih murni di [[kerak Bumi]]. Selenium () ditemukan pada tahun 1817 oleh [[Jöns Jacob Berzelius|Jöns J. Berzelius]], yang mencatat kemiripan unsur baru tersebut dengan telurium yang ditemukan sebelumnya (dinamai dari Bumi).


Selenium ditemukan dalam [[:Kategori:Mineral sulfida|bijih logam sulfida]], di mana ia sebagian menggantikan belerang. Secara komersial, selenium diproduksi sebagai produk sampingan dalam pemurnian bijih-bijih ini, paling sering selama produksi. Mineral yang merupakan senyawa [[selenida]] atau [[selenat]] murni telah diketahui tetapi langka. Penggunaan komersial utama untuk selenium saat ini adalah [[Produksi kaca|pembuatan kaca]] dan [[pigmen]]. Selenium adalah sebuah [[semikonduktor]] dan digunakan dalam [[Sensor cahaya|fotosel]]. Aplikasinya dalam [[elektronika]], dulunya penting, tetapi saat ini sebagian besar telah diganti dengan perangkat semikonduktor [[silikon]]. Selenium masih digunakan dalam beberapa jenis [[pelindung lonjakan]] [[arus searah|daya DC]] dan satu jenis [[quantum dot]] [[Fluoresensi|fluoresen]].
Selenium ditemukan dalam [[:Kategori:Mineral sulfida|bijih logam sulfida]], di mana ia sebagian menggantikan belerang. Secara komersial, selenium diproduksi sebagai produk sampingan dalam pemurnian bijih-bijih ini, paling sering selama produksi. Mineral yang merupakan senyawa [[selenida]] atau [[selenat]] murni telah diketahui tetapi langka. Penggunaan komersial utama untuk selenium saat ini adalah [[Produksi kaca|pembuatan kaca]] dan [[pigmen]]. Selenium adalah sebuah [[semikonduktor]] dan digunakan dalam [[Sensor cahaya|fotosel]]. Aplikasinya dalam [[elektronika]], dulunya penting, tetapi saat ini sebagian besar telah diganti dengan perangkat semikonduktor [[silikon]]. Selenium masih digunakan dalam beberapa jenis [[pelindung lonjakan]] [[arus searah|daya DC]] dan satu jenis [[quantum dot]] [[Fluoresensi|fluoresen]].


Meskipun selenium dalam jumlah [[Mineral (nutrisi)|kecil]] diperlukan untuk fungsi seluler pada banyak hewan, termasuk manusia, selenium elemental dan (terutama) [[Garam (kimia)|garam]] selenium bersifat racun bahkan dalam dosis kecil, menyebabkan selenosis. Selenium terdaftar sebagai bahan dalam banyak multivitamin dan suplemen makanan lainnya, serta dalam [[susu formula]] bayi, dan merupakan komponen enzim antioksidan [[glutationa peroksidase]] dan [[tioredoksin reduktase]] (yang secara tidak langsung mengurangi molekul [[redoks|teroksidasi]] tertentu pada hewan dan beberapa tumbuhan) serta dalam 3 enzim [[deiodinase]]. Kebutuhan selenium pada tumbuhan berbeda menurut spesies, dengan beberapa tumbuhan membutuhkan jumlah yang relatif besar dan yang lainnya tampaknya tidak membutuhkannya.
Meskipun selenium dalam jumlah [[Mineral (nutrisi)|kecil]] diperlukan untuk fungsi seluler pada banyak hewan, termasuk manusia, selenium elemental dan (terutama) [[Garam (kimia)|garam]] selenium bersifat racun bahkan dalam dosis kecil, menyebabkan selenosis. Selenium terdaftar sebagai bahan dalam banyak multivitamin dan suplemen makanan lainnya, serta dalam [[susu formula]] bayi, dan merupakan komponen enzim antioksidan [[glutationa peroksidase]] dan [[tioredoksin reduktase]] (yang secara tidak langsung mengurangi molekul [[redoks|teroksidasi]] tertentu pada hewan dan beberapa tumbuhan) serta dalam 3 enzim [[deiodinase]]. Kebutuhan selenium pada tumbuhan berbeda menurut spesies, dengan beberapa tumbuhan membutuhkan jumlah yang relatif besar dan yang lainnya tampaknya tidak membutuhkannya.<ref>George Ruyle. [http://cals.arizona.edu/arec/pubs/rmg/1%20rangelandmanagement/2%20poisonousplants93.pdf Poisonous Plants on Arizona Rangelands]. The University of Arizona.</ref>
==Karakteristik==
==Karakteristik==
===Sifat fisik===
===Sifat fisik===
Selenium membentuk beberapa [[Alotropi|alotrop]] yang berinterkonversi dengan perubahan [[suhu]], agak bergantung pada laju perubahan suhu. Ketika disiapkan dalam reaksi kimia, selenium biasanya berupa bubuk [[padatan amorf|amorf]] berwarna merah bata. Ketika melebur dengan cepat, ia akan membentuk bentuk seperti kaca berwarna hitam, biasanya dijual secara komersial sebagai manik-manik.<ref>James E. House. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous Inorganic chemistry]. Academic Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous/page/524 524]. ISBN 978-0-12-356786-4.</ref> Struktur selenium hitam tidaklah teratur dan kompleks serta terdiri dari cincin polimer dengan hingga 1000&nbsp;atom per cincin. Se hitam adalah padatan rapuh dan berkilau yang sedikit larut dalam [[karbon disulfida|CS<sub>2</sub>]]. Saat dipanaskan, ia akan melunak pada suhu 50&nbsp;°C dan berubah menjadi selenium abu-abu pada suhu 180&nbsp;°C; suhu transformasinya akan berkurang dengan adanya [[halogen]] dan [[amina]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selenium&oldid=29455970 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Selenium membentuk beberapa [[Alotropi|alotrop]] yang berinterkonversi dengan perubahan [[suhu]], agak bergantung pada laju perubahan suhu. Ketika disiapkan dalam reaksi kimia, selenium biasanya berupa bubuk [[padatan amorf|amorf]] berwarna merah bata. Ketika melebur dengan cepat, ia akan membentuk bentuk seperti kaca berwarna hitam, biasanya dijual secara komersial sebagai manik-manik. Struktur selenium hitam tidaklah teratur dan kompleks serta terdiri dari cincin polimer dengan hingga 1000&nbsp;atom per cincin. Se hitam adalah padatan rapuh dan berkilau yang sedikit larut dalam [[karbon disulfida|CS<sub>2</sub>]]. Saat dipanaskan, ia akan melunak pada suhu 50&nbsp;°C dan berubah menjadi selenium abu-abu pada suhu 180&nbsp;°C; suhu transformasinya akan berkurang dengan adanya [[halogen]] dan [[amina]].
Bentuk α, β, dan γ merah dihasilkan dari larutan selenium hitam dengan memvariasikan laju penguapan pelarut (biasanya CS<sub>2</sub>). Mereka semua memiliki simetri kristal [[sistem kristal monoklinik|monoklinik]] yang relatif rendah ([[grup ruang]] 14) dan mengandung cincin '''siklooktaselenium''' (Se<sub>8</sub>) berkerut yang hampir identik dengan susunan geometris yang berbeda, seperti pada [[belerang]].<ref>Olav Foss and Vitalijus Janickis. ''Crystal structure of γ-monoclinic selenium''. ''Journal of the Chemical Society, Dalton Transactions''. 1980. hlm. 624–627. doi:10.1039/DT9800000624.</ref> Delapan atom dari cincin tersebut tidaklah setara (yaitu mereka tidak dipetakan satu sama lain oleh operasi simetri apa pun), dan sebenarnya dalam bentuk γ-monoklinik, setengah dari cincin tersebut berada dalam satu konfigurasi (dan bayangan cerminnya) dan setengah lagi dalam konfigurasi lainnya.<ref>[http://aflowlib.org/prototype-encyclopedia/A_mP32_14_8e.html β –Se (Al ) Structure: A_mP32_14_8e]. ''Encyclopedia of Crystallographic Prototypes''.</ref><ref>[http://aflowlib.org/prototype-encyclopedia/A_mP64_14_16e.html β –Se (Al ) Structure: A_mP32_14_16e]. ''Encyclopedia of Crystallographic Prototypes''.</ref> Pengepakan paling padat dalam bentuk α. Pada cincin Se<sub>8</sub>, jarak Se-Se bervariasi tergantung di mana pasangan atom berada di dalam cincin, tetapi rata-ratanya adalah 233,5&nbsp;pm, dan sudut Se-Se-Se berada pada rata-rata 105,7°. Alotrop selenium lainnya mungkin mengandung cincin Se<sub>6</sub> atau Se<sub>7</sub>.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selenium&oldid=29455970 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Bentuk α, β, dan γ merah dihasilkan dari larutan selenium hitam dengan memvariasikan laju penguapan pelarut (biasanya CS<sub>2</sub>). Mereka semua memiliki simetri kristal [[sistem kristal monoklinik|monoklinik]] yang relatif rendah ([[grup ruang]] 14) dan mengandung cincin '''siklooktaselenium''' (Se<sub>8</sub>) berkerut yang hampir identik dengan susunan geometris yang berbeda, seperti pada [[belerang]]. Delapan atom dari cincin tersebut tidaklah setara (yaitu mereka tidak dipetakan satu sama lain oleh operasi simetri apa pun), dan sebenarnya dalam bentuk γ-monoklinik, setengah dari cincin tersebut berada dalam satu konfigurasi (dan bayangan cerminnya) dan setengah lagi dalam konfigurasi lainnya. Pengepakan paling padat dalam bentuk α. Pada cincin Se<sub>8</sub>, jarak Se-Se bervariasi tergantung di mana pasangan atom berada di dalam cincin, tetapi rata-ratanya adalah 233,5&nbsp;pm, dan sudut Se-Se-Se berada pada rata-rata 105,7°. Alotrop selenium lainnya mungkin mengandung cincin Se<sub>6</sub> atau Se<sub>7</sub>.
Bentuk selenium yang paling stabil dan padat adalah bentuk abu-abu dan memiliki kisi kristal [[heksagon]] [[kiralitas|kiral]] (grup ruang 152 atau 154 tergantung pada kiralitas)<ref>[http://aflowlib.org/prototype-encyclopedia/A_hP3_152_a.html β –Se (Al ) Structure: A_hP3_152_a]. ''Encyclopedia of Crystallographic Prototypes''.</ref> yang terdiri dari rantai polimer heliks, dimana jarak Se-Se adalah 237,3&nbsp;pm dan sudut Se-Se-Se adalah 103,1°&nbsp;. Jarak minimum antar rantai adalah 343,6&nbsp;pm. Se abu-abu dibentuk melalui pemanasan ringan alotrop lainnya, dengan pendinginan Se cair secara lambat, atau dengan mengembunkan uap Se tepat di bawah titik leburnya. Walaupun bentuk Se lainnya merupakan [[Insulator listrik|insulator]], Se abu-abu adalah [[semikonduktor]] yang menunjukkan [[fotokonduktivitas]] yang cukup besar. Berbeda dengan alotrop lainnya, ia tidak larut dalam CS<sub>2</sub>.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selenium&oldid=29455970 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Ia akan menolak oksidasi melalui udara dan tidak akan diserang oleh [[asam]] nonoksidator. Dengan agen pereduksi yang kuat, ia membentuk poliselenida. Selenium tidak menunjukkan perubahan viskositas yang dialami belerang ketika dipanaskan secara bertahap.<ref>James E. House. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous Inorganic chemistry]. Academic Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous/page/524 524]. ISBN 978-0-12-356786-4.</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selenium&oldid=29455970 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>
 
Bentuk selenium yang paling stabil dan padat adalah bentuk abu-abu dan memiliki kisi kristal [[heksagon]] [[kiralitas|kiral]] (grup ruang 152 atau 154 tergantung pada kiralitas) yang terdiri dari rantai polimer heliks, dimana jarak Se-Se adalah 237,3&nbsp;pm dan sudut Se-Se-Se adalah 103,1°&nbsp;. Jarak minimum antar rantai adalah 343,6&nbsp;pm. Se abu-abu dibentuk melalui pemanasan ringan alotrop lainnya, dengan pendinginan Se cair secara lambat, atau dengan mengembunkan uap Se tepat di bawah titik leburnya. Walaupun bentuk Se lainnya merupakan [[Insulator listrik|insulator]], Se abu-abu adalah [[semikonduktor]] yang menunjukkan [[fotokonduktivitas]] yang cukup besar. Berbeda dengan alotrop lainnya, ia tidak larut dalam CS<sub>2</sub>. Ia akan menolak oksidasi melalui udara dan tidak akan diserang oleh [[asam]] nonoksidator. Dengan agen pereduksi yang kuat, ia membentuk poliselenida. Selenium tidak menunjukkan perubahan viskositas yang dialami belerang ketika dipanaskan secara bertahap.
===Isotop===
===Isotop===
Selenium memiliki tujuh [[isotop]] alami. Lima di antaranya, <sup>74</sup>Se, <sup>76</sup>Se, <sup>77</sup>Se, <sup>78</sup>Se, <sup>80</sup>Se, bersifat stabil, dengan <sup>80</sup>Se menjadi yang paling melimpah (49,6% kelimpahan alami). Yang juga terjadi secara alami adalah [[Nuklida primordial#Nuklida primordial radioaktif|radionuklida primordial]] <sup>82</sup>Se, dengan [[waktu paruh]] 9,2×10<sup>19</sup> tahun. Radioisotop nonprimordial [[Selenium-79|<sup>79</sup>Se]] juga terdapat dalam jumlah kecil dalam bijih [[uranium]] sebagai produk [[fisi nuklir]]. Selenium juga memiliki banyak [[Radioisotop sintetis|isotop sintetis]] yang tidak stabil mulai dari <sup>64</sup>Se hingga <sup>95</sup>Se; yang paling stabil adalah <sup>75</sup>Se dengan waktu paruh 119,78&nbsp;hari dan <sup>72</sup>Se dengan waktu paruh 8,4&nbsp;hari. Isotop yang lebih ringan dari isotop stabil mengalami [[emisi positron|peluruhan beta plus]] menjadi [[isotop arsen]], dan isotop yang lebih berat daripada isotop stabil mengalami [[Peluruhan beta#Peluruhan beta minus|peluruhan beta minus]] menjadi [[isotop bromin]], dengan beberapa cabang [[emisi neutron]] kecil dalam isotop terberat yang diketahui.
Selenium memiliki tujuh [[isotop]] alami. Lima di antaranya, <sup>74</sup>Se, <sup>76</sup>Se, <sup>77</sup>Se, <sup>78</sup>Se, <sup>80</sup>Se, bersifat stabil, dengan <sup>80</sup>Se menjadi yang paling melimpah (49,6% kelimpahan alami). Yang juga terjadi secara alami adalah [[Nuklida primordial#Nuklida primordial radioaktif|radionuklida primordial]] <sup>82</sup>Se, dengan [[waktu paruh]] 9,2×10<sup>19</sup> tahun. Radioisotop nonprimordial [[Selenium-79|<sup>79</sup>Se]] juga terdapat dalam jumlah kecil dalam bijih [[uranium]] sebagai produk [[fisi nuklir]]. Selenium juga memiliki banyak [[Radioisotop sintetis|isotop sintetis]] yang tidak stabil mulai dari <sup>64</sup>Se hingga <sup>95</sup>Se; yang paling stabil adalah <sup>75</sup>Se dengan waktu paruh 119,78&nbsp;hari dan <sup>72</sup>Se dengan waktu paruh 8,4&nbsp;hari. Isotop yang lebih ringan dari isotop stabil mengalami [[emisi positron|peluruhan beta plus]] menjadi [[isotop arsen]], dan isotop yang lebih berat daripada isotop stabil mengalami [[Peluruhan beta#Peluruhan beta minus|peluruhan beta minus]] menjadi [[isotop bromin]], dengan beberapa cabang [[emisi neutron]] kecil dalam isotop terberat yang diketahui.


 
{| class="wikitable"
|+Isotop selenium dengan stabilitas terbesar
! Isotop
! Kealamian
! Asal
! Waktu paruh
|-
|<sup>74</sup>Se
|Primordial
|
|Stabil
|-
|<sup>76</sup>Se
|Primordial
|
|Stabil
|-
|<sup>77</sup>Se
|Primordial
|Produk fisi
|Stabil
|-
|<sup>78</sup>Se
|Primordial
|Produk fisi
|Stabil
|-
|<sup>79</sup>Se
|Renik
|Produk fisi
| tahun<ref>[http://www.ptb.de/en/org/6/nachrichten6/2010/60710_en.htm The half-life of 79 Se]. Physikalisch-Technische Bundesanstalt. 23 September 2010.</ref><ref>Gerhard Jörg. ''Preparation of radiochemically pure 79 Se and highly precise determination of its half-life''. ''Applied Radiation and Isotopes''. 2010. Vol. 68 (12). hlm. 2339–2351. doi:10.1016/j.apradiso.2010.05.006.</ref>
|-
|<sup>80</sup>Se
|Primordial
|Produk fisi
|Stabil
|-
|<sup>82</sup>Se
|Primordial
|Produk fisi*
|~10<sup>20</sup> tahun
|}
==Senyawa==
==Senyawa==
Senyawa selenium umumnya eksis pada [[bilangan oksidasi|keadaan oksidasi]] −2, +2, +4, dan +6.
Senyawa selenium umumnya eksis pada [[bilangan oksidasi|keadaan oksidasi]] −2, +2, +4, dan +6.
===Senyawa kalkogen===
===Senyawa kalkogen===
 
Selenium membentuk dua [[oksida]]: [[selenium dioksida]] (SeO<sub>2</sub>) dan [[selenium trioksida]] (SeO<sub>3</sub>). Selenium dioksida dibentuk melalui reaksi selenium elemental dengan oksigen:<ref>James E. House. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous Inorganic chemistry]. Academic Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous/page/524 524]. ISBN 978-0-12-356786-4.</ref>
Selenium membentuk dua [[oksida]]: [[selenium dioksida]] (SeO<sub>2</sub>) dan [[selenium trioksida]] (SeO<sub>3</sub>). Selenium dioksida dibentuk melalui reaksi selenium elemental dengan oksigen:
:<chem>Se8 + 8 O2 -> 8 SeO2</chem>
:<chem>Se8 + 8 O2 -> 8 SeO2</chem>
Ia adalah padatan [[polimer]] yang membentuk molekul SeO<sub>2</sub> monomer dalam fase gas. Ia akan larut dalam air untuk membentuk [[asam selenit]], H<sub>2</sub>SeO<sub>3</sub>. Asam selenit juga dapat dibuat langsung melalui oksidasi selenium elemental dengan [[asam nitrat]]:
Ia adalah padatan [[polimer]] yang membentuk molekul SeO<sub>2</sub> monomer dalam fase gas. Ia akan larut dalam air untuk membentuk [[asam selenit]], H<sub>2</sub>SeO<sub>3</sub>. Asam selenit juga dapat dibuat langsung melalui oksidasi selenium elemental dengan [[asam nitrat]]:<ref>Egon Wiberg. ''Inorganic chemistry''. Academic Press. 2001. hlm. 583. ISBN 978-0-12-352651-9.</ref>


:<chem>3 Se + 4 HNO3 + H2O -> 3 H2SeO3 + 4 NO</chem>
:<chem>3 Se + 4 HNO3 + H2O -> 3 H2SeO3 + 4 NO</chem>
Tidak seperti belerang, yang dapat membentuk [[belerang trioksida|trioksida]] yang stabil, selenium trioksida tidak stabil secara termodinamika dan akan terurai menjadi selenium dioksida di atas suhu 185&nbsp;°C:
Tidak seperti belerang, yang dapat membentuk [[belerang trioksida|trioksida]] yang stabil, selenium trioksida tidak stabil secara termodinamika dan akan terurai menjadi selenium dioksida di atas suhu 185&nbsp;°C:<ref>James E. House. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous Inorganic chemistry]. Academic Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous/page/524 524]. ISBN 978-0-12-356786-4.</ref><ref>Egon Wiberg. ''Inorganic chemistry''. Academic Press. 2001. hlm. 583. ISBN 978-0-12-352651-9.</ref>


:<chem>2 SeO3 -> 2 SeO2 + O2</chem> (ΔH = −54&nbsp;kJ/mol)
:<chem>2 SeO3 -> 2 SeO2 + O2</chem> (ΔH = −54&nbsp;kJ/mol)
Selenium trioksida diproduksi di laboratorium melalui reaksi belerang trioksida (SO<sub>3</sub>) dan [[kalium selenat]] (K<sub>2</sub>SeO<sub>4</sub>) [[anhidrat]].
Selenium trioksida diproduksi di laboratorium melalui reaksi belerang trioksida (SO<sub>3</sub>) dan [[kalium selenat]] (K<sub>2</sub>SeO<sub>4</sub>) [[anhidrat]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selenium&oldid=29455970 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


[[Garam (kimia)|Garam]] asam selenit disebut selenit. Contohnya adalah [[perak selenit]] (Ag<sub>2</sub>SeO<sub>3</sub>) dan [[natrium selenit]] (Na<sub>2</sub>SeO<sub>3</sub>).
[[Garam (kimia)|Garam]] asam selenit disebut selenit. Contohnya adalah [[perak selenit]] (Ag<sub>2</sub>SeO<sub>3</sub>) dan [[natrium selenit]] (Na<sub>2</sub>SeO<sub>3</sub>).
Baris 37: Baris 76:
:<chem>H2SeO3 + 2 H2S -> SeS2 + 3 H2O</chem>
:<chem>H2SeO3 + 2 H2S -> SeS2 + 3 H2O</chem>


Selenium disulfida terdiri dari cincin beranggota-8. Ia memiliki komposisi perkiraan SeS<sub>2</sub>, dengan cincin individual bervariasi dalam komposisi, seperti Se<sub>4</sub>S<sub>4</sub> dan Se<sub>2</sub>S<sub>6</sub>. Selenium disulfida telah digunakan dalam sampo sebagai agen anti[[ketombe]], penghambat dalam kimia polimer, pewarna kaca, dan agen pereduksi dalam [[kembang api]].
Selenium disulfida terdiri dari cincin beranggota-8. Ia memiliki komposisi perkiraan SeS<sub>2</sub>, dengan cincin individual bervariasi dalam komposisi, seperti Se<sub>4</sub>S<sub>4</sub> dan Se<sub>2</sub>S<sub>6</sub>. Selenium disulfida telah digunakan dalam sampo sebagai agen anti[[ketombe]], penghambat dalam kimia polimer, pewarna kaca, dan agen pereduksi dalam [[kembang api]].<ref>Egon Wiberg. ''Inorganic chemistry''. Academic Press. 2001. hlm. 583. ISBN 978-0-12-352651-9.</ref>


Selenium trioksida dapat disintesis dengan mendehidrasi [[asam selenat]], H<sub>2</sub>SeO<sub>4</sub>, yang dihasilkan dari oksidasi selenium dioksida dengan [[hidrogen peroksida]]:
Selenium trioksida dapat disintesis dengan mendehidrasi [[asam selenat]], H<sub>2</sub>SeO<sub>4</sub>, yang dihasilkan dari oksidasi selenium dioksida dengan [[hidrogen peroksida]]:<ref>K. Seppelt. ''Selenoyl difluoride''. 1980. Vol. 20. hlm. 36–38. doi:10.1002/9780470132517.ch9. ISBN 978-0-471-07715-2. Laporan tersebut menjelaskan sintesis asam selenat.</ref>
:<chem>SeO2 + H2O2 -> H2SeO4</chem>
:<chem>SeO2 + H2O2 -> H2SeO4</chem>


Asam selenat pekat yang panas dapat bereaksi dengan [[emas]] untuk membentuk emas(III) selenat (Au<sub>2</sub>(SeO<sub>4</sub>)<sub>3</sub>).
Asam selenat pekat yang panas dapat bereaksi dengan [[emas]] untuk membentuk emas(III) selenat (Au<sub>2</sub>(SeO<sub>4</sub>)<sub>3</sub>).<ref>V. Lenher. [https://zenodo.org/record/1428902 Action of selenic acid on gold]. ''Journal of the American Chemical Society''. April 1902. Vol. 24 (4). hlm. 354–355. doi:10.1021/ja02018a005.</ref>
===Senyawa halogen===
===Senyawa halogen===
[[Iodida]] selenium tidak dikenal dengan baik. Satu-satunya [[klorida]] yang stabil adalah [[selenium monoklorida]] (Se<sub>2</sub>Cl<sub>2</sub>), yang mungkin lebih dikenal sebagai selenium(I) klorida; [[bromida]] yang sesuai juga diketahui. Spesies ini secara struktural analog dengan [[disulfur diklorida]] yang sesuai. Selenium diklorida adalah reagen penting dalam pembuatan senyawa selenium (misalnya pembuatan Se<sub>7</sub>). Ia dibuat dengan mencampur selenium dengan [[sulfuril klorida]] (SO<sub>2</sub>Cl<sub>2</sub>). Selenium akan bereaksi dengan [[fluorin]] untuk membentuk [[selenium heksafluorida]]:
[[Iodida]] selenium tidak dikenal dengan baik. Satu-satunya [[klorida]] yang stabil adalah [[selenium monoklorida]] (Se<sub>2</sub>Cl<sub>2</sub>), yang mungkin lebih dikenal sebagai selenium(I) klorida; [[bromida]] yang sesuai juga diketahui. Spesies ini secara struktural analog dengan [[disulfur diklorida]] yang sesuai. Selenium diklorida adalah reagen penting dalam pembuatan senyawa selenium (misalnya pembuatan Se<sub>7</sub>). Ia dibuat dengan mencampur selenium dengan [[sulfuril klorida]] (SO<sub>2</sub>Cl<sub>2</sub>).<ref>Xu, Zhengtao. ''Handbook of chalcogen chemistry: new perspectives in sulfur, selenium and tellurium''. Royal Society of Chemistry. 2007. hlm. 460. ISBN 978-0-85404-366-8.</ref> Selenium akan bereaksi dengan [[fluorin]] untuk membentuk [[selenium heksafluorida]]:
:<chem>Se8 + 24 F2 -> 8 SeF6</chem>
:<chem>Se8 + 24 F2 -> 8 SeF6</chem>


Dibandingkan dengan rekan belerangnya ([[belerang heksafluorida]]), selenium heksafluorida (SeF<sub>6</sub>) lebih reaktif dan merupakan iritan [[paru-paru]] yang beracun.
Dibandingkan dengan rekan belerangnya ([[belerang heksafluorida]]), selenium heksafluorida (SeF<sub>6</sub>) lebih reaktif dan merupakan iritan [[paru-paru]] yang beracun.<ref>Nick H. Proctor. ''Proctor and Hughes' chemical hazards of the workplace''. Wiley-IEEE. 2004. hlm. 625. ISBN 978-0-471-26883-3.</ref>
Beberapa selenium oksihalida, seperti [[seleninil fluorida]] (SeOF<sub>2</sub>) dan [[selenium oksiklorida]] (SeOCl<sub>2</sub>) telah digunakan sebagai pelarut khusus.
Beberapa selenium oksihalida, seperti [[seleninil fluorida]] (SeOF<sub>2</sub>) dan [[selenium oksiklorida]] (SeOCl<sub>2</sub>) telah digunakan sebagai pelarut khusus.<ref>James E. House. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous Inorganic chemistry]. Academic Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous/page/524 524]. ISBN 978-0-12-356786-4.</ref>
===Selenida===
===Selenida===
Serupa dengan perilaku kalkogen lainnya, selenium membentuk [[hidrogen selenida]], H<sub>2</sub>Se. Ia adalah gas yang sangat berbau, beracun, dan tidak berwarna. Ia lebih asam daripada [[hidrogen sulfida]], H<sub>2</sub>S. Dalam larutan, ia akan terionisasi menjadi HSe<sup>−</sup>. Dianion selenida Se<sup>2−</sup> membentuk berbagai senyawa, termasuk mineral dari mana selenium diperoleh secara komersial. Selenida ilustrasif meliputi [[raksa selenida]] (HgSe), [[timbal selenida]] (PbSe), [[seng selenida]] (ZnSe), dan [[tembaga indium galium selenida|tembaga indium galium diselenida]] (Cu(Ga,In)Se<sub>2</sub>). Bahan-bahan ini adalah [[semikonduktor]]. Dengan logam yang sangat elektropositif, seperti [[aluminium]], selenida-selenida ini rentan terhadap hidrolisis:
Serupa dengan perilaku kalkogen lainnya, selenium membentuk [[hidrogen selenida]], H<sub>2</sub>Se. Ia adalah gas yang sangat berbau, beracun, dan tidak berwarna. Ia lebih asam daripada [[hidrogen sulfida]], H<sub>2</sub>S. Dalam larutan, ia akan terionisasi menjadi HSe<sup>−</sup>. Dianion selenida Se<sup>2−</sup> membentuk berbagai senyawa, termasuk mineral dari mana selenium diperoleh secara komersial. Selenida ilustrasif meliputi [[raksa selenida]] (HgSe), [[timbal selenida]] (PbSe), [[seng selenida]] (ZnSe), dan [[tembaga indium galium selenida|tembaga indium galium diselenida]] (Cu(Ga,In)Se<sub>2</sub>). Bahan-bahan ini adalah [[semikonduktor]]. Dengan logam yang sangat elektropositif, seperti [[aluminium]], selenida-selenida ini rentan terhadap hidrolisis:<ref>James E. House. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous Inorganic chemistry]. Academic Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous/page/524 524]. ISBN 978-0-12-356786-4.</ref>
:<chem>Al2Se3 + 3 H2O -> Al2O3 + 3 H2Se</chem>
:<chem>Al2Se3 + 3 H2O -> Al2O3 + 3 H2Se</chem>
Selenida logam alkali akan bereaksi dengan selenium untuk membentuk poliselenida, , yang eksis sebagai rantai.
Selenida logam alkali akan bereaksi dengan selenium untuk membentuk poliselenida, , yang eksis sebagai rantai.
===Senyawa lainnya===
===Senyawa lainnya===
Tetraselenium tetranitrida, Se<sub>4</sub>N<sub>4</sub>, adalah sebuah senyawa berwarna oranye eksplosif yang analog dengan [[tetrasulfur tetranitrida]] (S<sub>4</sub>N<sub>4</sub>). Ia dapat disintesis melalui reaksi [[selenium tetraklorida]] (SeCl<sub>4</sub>) dengan [[Logam bis(trimetilsilil)amida|Logam bis(trimetilsilil)amida]].
Tetraselenium tetranitrida, Se<sub>4</sub>N<sub>4</sub>, adalah sebuah senyawa berwarna oranye eksplosif yang analog dengan [[tetrasulfur tetranitrida]] (S<sub>4</sub>N<sub>4</sub>).<ref>James E. House. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous Inorganic chemistry]. Academic Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous/page/524 524]. ISBN 978-0-12-356786-4.</ref><ref>Derek Woollins. [https://archive.org/details/sim_polyhedron_1993-05_12_10/page/n16 The Reactivity of Se 4 N 4 in Liquid Ammonia]. ''Polyhedron''. 1993. Vol. 12 (10). hlm. 1129–1133. doi:10.1016/S0277-5387(00)88201-7.</ref><ref>P.F. Kelly. [https://archive.org/details/sim_dalton-transactions_1997-02-21_4/page/558 Use of Se 4 N 4 and Se(NSO) 2 in the preparation of palladium adducts of diselenium dinitride, Se 2 N 2 ; crystal structure of]. ''Dalton Transactions''. 1997. hlm. 559–562. doi:10.1039/a606311j.</ref> Ia dapat disintesis melalui reaksi [[selenium tetraklorida]] (SeCl<sub>4</sub>) dengan [[Logam bis(trimetilsilil)amida|Logam bis(trimetilsilil)amida]].<ref>Jari Siivari. ''A simple, efficient synthesis of tetraselenium tetranitride''. ''Inorganic Chemistry''. 1993. Vol. 32 (8). hlm. 1519–1520. doi:10.1021/ic00060a031.</ref>


Selenium akan bereaksi dengan [[sianida]] untuk menghasilkan [[kalium selenosianat|selenosianat]]:
Selenium akan bereaksi dengan [[sianida]] untuk menghasilkan [[kalium selenosianat|selenosianat]]:<ref>James E. House. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous Inorganic chemistry]. Academic Press. 2008. hlm. [https://archive.org/details/inorganicchemist0000hous/page/524 524]. ISBN 978-0-12-356786-4.</ref>
:<chem>8 KCN + Se8 -> 8 KSeCN</chem>
:<chem>8 KCN + Se8 -> 8 KSeCN</chem>
===Senyawa organoselenium===
===Senyawa organoselenium===
 
Selenium, terutama dalam keadaan oksidasi II, membentuk ikatan stabil dengan [[karbon]], yang secara struktural analog dengan [[kimia organobelerang|senyawa organobelerang]] yang sesuai. Yang paling umum adalah selenida (R<sub>2</sub>Se, analog [[tioeter]]), diselenida (R<sub>2</sub>Se<sub>2</sub>, analog [[disulfida]]), dan [[selenol]] (RSeH, analog [[tiol]]). Perwakilan selenida, diselenida, dan selenol masing-masing meliputi [[selenometionina]], [[difenil diselenida|difenildiselenida]], dan [[benzenaselenol]]. [[Sulfoksida]] dalam kimia belerang diwakili oleh selenoksida (rumus RSe(O)R) dalam kimia selenium, yang merupakan zat antara dalam sintesis organik, seperti yang diilustrasikan melalui reaksi [[eliminasi selenoksida]]. Konsisten dengan tren yang ditunjukkan oleh [[aturan ikatan ganda]], selenoketon, R(C=Se)R, dan selenaldehida, R(C=Se)H, jarang teramati.<ref>G. Erker. ''Synthesis and Cycloadditions of Monomeric Selenobenzophenone''. ''Angewandte Chemie International Edition in English''. 1990. Vol. 29 (9). hlm. 1067–1068. doi:10.1002/anie.199010671.</ref>
Selenium, terutama dalam keadaan oksidasi II, membentuk ikatan stabil dengan [[karbon]], yang secara struktural analog dengan [[kimia organobelerang|senyawa organobelerang]] yang sesuai. Yang paling umum adalah selenida (R<sub>2</sub>Se, analog [[tioeter]]), diselenida (R<sub>2</sub>Se<sub>2</sub>, analog [[disulfida]]), dan [[selenol]] (RSeH, analog [[tiol]]). Perwakilan selenida, diselenida, dan selenol masing-masing meliputi [[selenometionina]], [[difenil diselenida|difenildiselenida]], dan [[benzenaselenol]]. [[Sulfoksida]] dalam kimia belerang diwakili oleh selenoksida (rumus RSe(O)R) dalam kimia selenium, yang merupakan zat antara dalam sintesis organik, seperti yang diilustrasikan melalui reaksi [[eliminasi selenoksida]]. Konsisten dengan tren yang ditunjukkan oleh [[aturan ikatan ganda]], selenoketon, R(C=Se)R, dan selenaldehida, R(C=Se)H, jarang teramati.
==Sejarah==
==Sejarah==
Selenium ([[bahasa Yunani]]: σελήνη ''[[selene]]'' berarti "Bulan") ditemukan pada tahun 1817 oleh [[Jöns Jacob Berzelius|Jöns J. Berzelius]] dan [[Johan Gottlieb Gahn|Johan G. Gahn]]. Kedua kimiawan tersebut memiliki pabrik kimia di dekat [[Kastel Gripsholm|Gripsholm]], Swedia, yang memroduksi [[asam sulfat]] melalui [[proses kamar timbal]]. Pirit dari [[Tambang Falun]] menciptakan endapan merah di kamar timbal yang dianggap sebagai senyawa arsen, sehingga penggunaan pirit untuk membuat asam dihentikan. Berzelius dan Gahn ingin menggunakan pirit dan mereka juga mengamati bahwa endapan merah mengeluarkan bau seperti [[lobak pedas]] saat dibakar. Bau ini tidak khas untuk arsen, tetapi bau serupa diketahui dari senyawa [[telurium]]. Oleh karena itu, surat pertama Berzelius kepada [[Alexander Marcet]] menyatakan bahwa ini adalah senyawa telurium. Namun, kurangnya senyawa telurium dalam mineral Tambang Falun akhirnya membuat Berzelius menganalisis ulang endapan merah tersebut, dan pada tahun 1818 dia menulis surat kedua kepada Marcet yang menjelaskan unsur yang baru ditemukan itu mirip dengan belerang dan telurium. Karena kemiripannya dengan telurium, yang dinamai dari Bumi, Berzelius menamai unsur baru itu dari [[Bulan]].
Selenium ([[bahasa Yunani]]: σελήνη ''[[selene]]'' berarti "Bulan") ditemukan pada tahun 1817 oleh [[Jöns Jacob Berzelius|Jöns J. Berzelius]] dan [[Johan Gottlieb Gahn|Johan G. Gahn]].<ref>J.J. Berzelius. [https://books.google.com/books?id=jBIAAAAAMAAJ&pg=PA199 Lettre de M. Berzelius à M. Berthollet sur deux métaux nouveaux]. ''Annales de Chimie et de Physique''. 1818. Vol. 7. hlm. 199–206. Dari hlm. 203: ''"Cependant, pour rappeler les rapports de cette dernière avec le tellure, je l'ai nommée sélénium."'' (Namun, untuk mengingat kembali hubungan zat terakhir ini (selenium) dengan telurium, Saya menamainya "selenium".)</ref> Kedua kimiawan tersebut memiliki pabrik kimia di dekat [[Kastel Gripsholm|Gripsholm]], Swedia, yang memroduksi [[asam sulfat]] melalui [[proses kamar timbal]]. Pirit dari [[Tambang Falun]] menciptakan endapan merah di kamar timbal yang dianggap sebagai senyawa arsen, sehingga penggunaan pirit untuk membuat asam dihentikan. Berzelius dan Gahn ingin menggunakan pirit dan mereka juga mengamati bahwa endapan merah mengeluarkan bau seperti [[lobak pedas]] saat dibakar. Bau ini tidak khas untuk arsen, tetapi bau serupa diketahui dari senyawa [[telurium]]. Oleh karena itu, surat pertama Berzelius kepada [[Alexander Marcet]] menyatakan bahwa ini adalah senyawa telurium. Namun, kurangnya senyawa telurium dalam mineral Tambang Falun akhirnya membuat Berzelius menganalisis ulang endapan merah tersebut, dan pada tahun 1818 dia menulis surat kedua kepada Marcet yang menjelaskan unsur yang baru ditemukan itu mirip dengan belerang dan telurium. Karena kemiripannya dengan telurium, yang dinamai dari Bumi, Berzelius menamai unsur baru itu dari [[Bulan]].<ref>Mary Elvira Weeks. ''The discovery of the elements. VI. Tellurium and selenium''. ''Journal of Chemical Education''. 1932. Vol. 9 (3). hlm. 474. doi:10.1021/ed009p474.</ref><ref>Jan Trofast. [http://www.iupac.org/publications/ci/2011/3305/5_trofast.html Berzelius' Discovery of Selenium]. ''Chemistry International''. 2011. Vol. 33 (5). hlm. 16–19. [http://www.iupac.org/publications/ci/2011/3305/sept11.pdf#page=18 PDF]</ref>


Pada tahun 1873, [[Willoughby Smith]] menemukan bahwa hambatan listrik dari selenium abu-abu bergantung pada cahaya sekitar. Hal ini menyebabkan penggunaannya sebagai sel untuk menyensor cahaya. Produk komersial pertama yang menggunakan selenium dikembangkan oleh [[Werner von Siemens|Werner Siemens]] pada pertengahan tahun 1870-an. Sel selenium digunakan dalam [[fotofon]] yang dikembangkan oleh [[Alexander Graham Bell|Alexander G. Bell]] pada tahun 1879. Selenium mentransmisikan arus listrik sebanding dengan jumlah cahaya yang jatuh di permukaannya. Fenomena ini digunakan dalam desain [[pengukur cahaya]] dan perangkat serupa. Sifat semikonduktor selenium memiliki banyak aplikasi lain dalam elektronika. Pengembangan [[penyearah selenium]] dimulai pada awal 1930-an, dan mereka menggantikan penyearah [[tembaga oksida]] karena mereka lebih efisien. Mereka bertahan dalam aplikasi komersial hingga tahun 1970-an, setelah mereka diganti dengan [[penyearah|penyearah silikon]] yang lebih murah dan bahkan lebih efisien.
Pada tahun 1873, [[Willoughby Smith]] menemukan bahwa hambatan listrik dari selenium abu-abu bergantung pada cahaya sekitar.<ref>Willoughby Smith. [https://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=uiug.30112007449892;view=1up;seq=67 The action of light on selenium]. ''Journal of the Society of Telegraph Engineers''. 1873. Vol. 2 (4). hlm. 31–33. doi:10.1049/jste-1.1873.0023.</ref><ref>Willoughby Smith. [https://babel.hathitrust.org/cgi/pt?id=uc1.c2754884;view=1up;seq=321 Effect of light on selenium during the passage of an electric current]. ''Nature''. 20 Februari 1873. Vol. 7 (173). hlm. 303. doi:10.1038/007303e0.</ref> Hal ini menyebabkan penggunaannya sebagai sel untuk menyensor cahaya. Produk komersial pertama yang menggunakan selenium dikembangkan oleh [[Werner von Siemens|Werner Siemens]] pada pertengahan tahun 1870-an. Sel selenium digunakan dalam [[fotofon]] yang dikembangkan oleh [[Alexander Graham Bell|Alexander G. Bell]] pada tahun 1879. Selenium mentransmisikan arus listrik sebanding dengan jumlah cahaya yang jatuh di permukaannya. Fenomena ini digunakan dalam desain [[pengukur cahaya]] dan perangkat serupa. Sifat semikonduktor selenium memiliki banyak aplikasi lain dalam elektronika.<ref>Bonnier Corporation. [https://books.google.com/books?id=diwDAAAAMBAJ&pg=PA116 Action of light on selenium]. ''Popular Science''. 1876. Vol. 10 (1). hlm. 116.</ref><ref>M.E. Levinshtein. [https://books.google.com/books?id=CaxdTFMwQEAC&pg=PA77 Earliest semiconductor device]. 1 Januari 1992. hlm. 77–79. ISBN 978-981-02-3516-1.</ref><ref>Brian Winston. [https://books.google.com/books?id=IYsOEa_AIjUC&pg=PA89 Media Technology and Society: A History: From the Telegraph to the Internet]. 29 Mei 1998. hlm. 89. ISBN 978-0-415-14229-8.</ref> Pengembangan [[penyearah selenium]] dimulai pada awal 1930-an, dan mereka menggantikan penyearah [[tembaga oksida]] karena mereka lebih efisien.<ref>Peter Robin Morris. [https://books.google.com/books?id=rslXJmYPjGIC&pg=PA18 A History of the World Semiconductor Industry]. 1990. hlm. 18. ISBN 978-0-86341-227-1.</ref><ref>Ludwig Bergmann. ''Über eine neue Selen-Sperrschicht-Photozelle''. ''Physikalische Zeitschrift''. 1931. Vol. 32. hlm. 286–288.</ref><ref>G.R. Waitkins. ''Industrial Utilization of Selenium and Tellurium''. ''Industrial & Engineering Chemistry''. 1942. Vol. 34 (8). hlm. 899–910. doi:10.1021/ie50392a002.</ref> Mereka bertahan dalam aplikasi komersial hingga tahun 1970-an, setelah mereka diganti dengan [[penyearah|penyearah silikon]] yang lebih murah dan bahkan lebih efisien.


Selenium kemudian menjadi perhatian medis karena toksisitasnya terhadap pekerja industri. Selenium juga diakui sebagai toksin hewan yang penting, yang terlihat pada hewan yang memakan tumbuhan tinggi selenium. Pada tahun 1954, petunjuk pertama tentang fungsi biologis spesifik dari selenium ditemukan pada [[mikroorganisme]] oleh ahli biokimia [[Jane Gibson|Jane Pinsent]]. Ia ditemukan penting untuk kehidupan mamalia pada tahun 1957. Pada tahun 1970-an, ia terbukti hadir dalam dua set [[enzim]] independen. Ini diikuti oleh penemuan [[selenosisteina]] dalam protein. Selama tahun 1980-an, selenosisteina terbukti dikodekan oleh [[kode genetik|kodon UGA]]. Mekanisme pengodean ulang pertama kali dilakukan pada [[bakteri]] dan kemudian pada [[mamalia]] (lihat [[unsur SECIS]]).
Selenium kemudian menjadi perhatian medis karena toksisitasnya terhadap pekerja industri. Selenium juga diakui sebagai toksin hewan yang penting, yang terlihat pada hewan yang memakan tumbuhan tinggi selenium. Pada tahun 1954, petunjuk pertama tentang fungsi biologis spesifik dari selenium ditemukan pada [[mikroorganisme]] oleh ahli biokimia [[Jane Gibson|Jane Pinsent]].<ref>Pinsent, Jane. ''The need for selenite and molybdate in the formation of formic dehydrogenase by members of the Coli-aerogenes group of bacteria''. ''Biochem. J''. 1954. Vol. 57 (1). hlm. 10–16. doi:10.1042/bj0570010.</ref><ref>Thressa C. Stadtman. ''Trace Elements in Man and Animals 10''. 2002. Vol. 10. hlm. 831–836. doi:10.1007/0-306-47466-2_267. ISBN 978-0-306-46378-5.</ref> Ia ditemukan penting untuk kehidupan mamalia pada tahun 1957.<ref>Klaus Schwarz. ''Selenium as an Integral Part of Factor 3 Against Dietary Necrotic Liver Degeneration''. ''Journal of the American Chemical Society''. 1957. Vol. 79 (12). hlm. 3292–3293. doi:10.1021/ja01569a087.</ref><ref>James E. Oldfield. ''Selenium''. 2006. hlm. 1–6. doi:10.1007/0-387-33827-6_1. ISBN 978-0-387-33826-2.</ref> Pada tahun 1970-an, ia terbukti hadir dalam dua set [[enzim]] independen. Ini diikuti oleh penemuan [[selenosisteina]] dalam protein. Selama tahun 1980-an, selenosisteina terbukti dikodekan oleh [[kode genetik|kodon UGA]]. Mekanisme pengodean ulang pertama kali dilakukan pada [[bakteri]] dan kemudian pada [[mamalia]] (lihat [[unsur SECIS]]).<ref>D. L. Hatfield. ''How Selenium Has Altered Our Understanding of the Genetic Code''. ''Molecular and Cellular Biology''. 2002. Vol. 22 (11). hlm. 3565–3576. doi:10.1128/MCB.22.11.3565-3576.2002.</ref>
==Keterjadian==
==Keterjadian==
Selenium asli (elemental) adalah sebuah mineral langka, yang biasanya tidak membentuk kristal yang baik, tetapi, jika terbentuk, mereka berstruktur rombohedra curam atau kristal berbentuk seperti jarum (seperti rambut) kecil.<ref>[http://www.galleries.com/minerals/elements/selenium/selenium.htm Native Selenium]. Webminerals.</ref> Isolasi selenium sering kali dipersulit oleh adanya senyawa dan unsur lain.


Selenium terjadi secara alami dalam sejumlah bentuk anorganik, meliputi [[selenida]], [[selenat]], dan [[Selenit (ion)|selenit]], tetapi mineral ini jarang ditemukan. Mineral [[selenit (mineral)|selenit]] yang umum bukanlah mineral selenium, dan tidak mengandung [[Selenit (ion)|ion selenit]], melainkan sejenis [[gipsum]] (kalsium sulfat hidrat) yang dinamai dari Bulan seperti selenium, jauh sebelum penemuan selenium. Selenium paling sering ditemukan sebagai pengotor, menggantikan sebagian kecil belerang dalam bijih sulfida dari banyak logam.<ref>A. Kabata-Pendias. ''Geochemistry of selenium''. ''Journal of Environmental Pathology, Toxicology and Oncology''. 1998. Vol. 17 (3–4). hlm. 173–177.</ref><ref>Fiona Fordyce. [http://nora.nerc.ac.uk/id/eprint/19045/1/AMBIO_Fordycefinal.pdf Selenium Geochemistry and Health]. ''Ambio: A Journal of the Human Environment''. 2007. Vol. 36 (1). hlm. 94–97. doi:10.1579/0044-7447(2007)36[94:SGAH]2.0.CO;2.</ref>


Selenium asli (elemental) adalah sebuah mineral langka, yang biasanya tidak membentuk kristal yang baik, tetapi, jika terbentuk, mereka berstruktur rombohedra curam atau kristal berbentuk seperti jarum (seperti rambut) kecil. Isolasi selenium sering kali dipersulit oleh adanya senyawa dan unsur lain.
Dalam sistem kehidupan, selenium ditemukan dalam asam amino [[selenometionina]], [[selenosisteina]], dan [[metilselenosisteina]]. Dalam senyawa ini, selenium memainkan peran yang analog dengan belerang. [[Kimia organoselenium|Senyawa organoselenium]] alami lainnya adalah [[dimetil selenida]].<ref>Ludger A. Wessjohann. ''Selenium in chemistry and biochemistry in comparison to sulfur''. ''Biological Chemistry''. 2007. Vol. 388 (10). hlm. 997–1006. doi:10.1515/BC.2007.138.</ref><ref>Marc Birringer. ''Trends in selenium biochemistry''. ''Natural Product Reports''. 2002. Vol. 19 (6). hlm. 693–718. doi:10.1039/B205802M.</ref>


Selenium terjadi secara alami dalam sejumlah bentuk anorganik, meliputi [[selenida]], [[selenat]], dan [[Selenit (ion)|selenit]], tetapi mineral ini jarang ditemukan. Mineral [[selenit (mineral)|selenit]] yang umum bukanlah mineral selenium, dan tidak mengandung [[Selenit (ion)|ion selenit]], melainkan sejenis [[gipsum]] (kalsium sulfat hidrat) yang dinamai dari Bulan seperti selenium, jauh sebelum penemuan selenium. Selenium paling sering ditemukan sebagai pengotor, menggantikan sebagian kecil belerang dalam bijih sulfida dari banyak logam.
Tanah tertentu kaya akan selenium, dan selenium dapat [[Bioakumulasi|dibiokonsentrasikan]] oleh beberapa tumbuhan. Di tanah, selenium paling sering terjadi dalam bentuk larut seperti selenat (analog dengan sulfat), yang sangat mudah larut ke sungai oleh limpasan.<ref>A. Kabata-Pendias. ''Geochemistry of selenium''. ''Journal of Environmental Pathology, Toxicology and Oncology''. 1998. Vol. 17 (3–4). hlm. 173–177.</ref><ref>Fiona Fordyce. [http://nora.nerc.ac.uk/id/eprint/19045/1/AMBIO_Fordycefinal.pdf Selenium Geochemistry and Health]. ''Ambio: A Journal of the Human Environment''. 2007. Vol. 36 (1). hlm. 94–97. doi:10.1579/0044-7447(2007)36[94:SGAH]2.0.CO;2.</ref> Air laut mengandung selenium dalam jumlah yang signifikan.<ref>David Amouroux. [https://archive.org/details/sim_earth-and-planetary-science-letters_2001-07-15_189_3-4/page/277 Role of oceans as biogenic sources of selenium]. ''Earth and Planetary Science Letters''. 2001. Vol. 189 (3–4). hlm. 277–283. doi:10.1016/S0012-821X(01)00370-3.</ref><ref>Anna Haug. ''How to use the world's scarce selenium resources efficiently to increase the selenium concentration in food''. ''Microbial Ecology in Health and Disease''. 2007. Vol. 19 (4). hlm. 209–228. doi:10.1080/08910600701698986.</ref>


Dalam sistem kehidupan, selenium ditemukan dalam asam amino [[selenometionina]], [[selenosisteina]], dan [[metilselenosisteina]]. Dalam senyawa ini, selenium memainkan peran yang analog dengan belerang. [[Kimia organoselenium|Senyawa organoselenium]] alami lainnya adalah [[dimetil selenida]].
Konsentrasi latar belakang khas selenium tidak melebihi 1&nbsp;ng/m<sup>3</sup> di atmosfer; 1&nbsp;mg/kg di tanah dan tumbuh-tumbuhan, dan 0,5 μg/L di air tawar dan air laut.<ref>John Rieuwerts. [https://www.worldcat.org/oclc/886492996 The Elements of Environmental Pollution]. Earthscan Routledge. 2015. hlm. 262. ISBN 978-0-415-85919-6.</ref>


Tanah tertentu kaya akan selenium, dan selenium dapat [[Bioakumulasi|dibiokonsentrasikan]] oleh beberapa tumbuhan. Di tanah, selenium paling sering terjadi dalam bentuk larut seperti selenat (analog dengan sulfat), yang sangat mudah larut ke sungai oleh limpasan. Air laut mengandung selenium dalam jumlah yang signifikan.
Sumber antropogenik selenium meliputi pembakaran [[batu bara]], serta penambangan dan peleburan bijih sulfida.<ref>[http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp92-c1.pdf Public Health Statement: Selenium]. Agency for Toxic Substances and Disease Registry.</ref>
 
Konsentrasi latar belakang khas selenium tidak melebihi 1&nbsp;ng/m<sup>3</sup> di atmosfer; 1&nbsp;mg/kg di tanah dan tumbuh-tumbuhan, dan 0,5 μg/L di air tawar dan air laut.
 
Sumber antropogenik selenium meliputi pembakaran [[batu bara]], serta penambangan dan peleburan bijih sulfida.
==Produksi==
==Produksi==
Selenium paling sering diproduksi dari [[selenida]] di banyak [[bijih]] [[sulfida]], seperti [[tembaga]], [[nikel]], atau [[timbal]]. Pemurnian logam elektrolitis sangatlah produktif selenium sebagai produk sampingan, diperoleh dari lumpur [[anode|anoda]] kilang tembaga. Sumber lainnya adalah lumpur dari [[proses kamar timbal|kamar timbal]] pabrik [[asam sulfat]], sebuah proses yang tidak lagi digunakan. Selenium dapat disuling dari lumpur ini melalui sejumlah metode. Namun, sebagian besar selenium elemental hadir sebagai produk sampingan dari [[Pemurnian (metalurgi)|pemurnian]] tembaga atau produksi asam sulfat. Sejak penemuannya, produksi tembaga melalui [[SX/EW|ekstraksi pelarut dan elektrodeposisi]] (SX/EW) telah meningkatkan pasokan tembaga di seluruh dunia. Ini telah mengubah ketersediaan selenium, karena hanya sebagian kecil selenium dalam bijih yang terlindi dengan tembaga.
Selenium paling sering diproduksi dari [[selenida]] di banyak [[bijih]] [[sulfida]], seperti [[tembaga]], [[nikel]], atau [[timbal]]. Pemurnian logam elektrolitis sangatlah produktif selenium sebagai produk sampingan, diperoleh dari lumpur [[anode|anoda]] kilang tembaga. Sumber lainnya adalah lumpur dari [[proses kamar timbal|kamar timbal]] pabrik [[asam sulfat]], sebuah proses yang tidak lagi digunakan. Selenium dapat disuling dari lumpur ini melalui sejumlah metode. Namun, sebagian besar selenium elemental hadir sebagai produk sampingan dari [[Pemurnian (metalurgi)|pemurnian]] tembaga atau produksi asam sulfat.<ref>[http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp92-c5.pdf Public Health Statement: Selenium – Production, Import/Export, Use, and Disposal]. Agency for Toxic Substances and Disease Registry.</ref><ref>[http://www.webelements.com/webelements/elements/text/Se/key.html Chemistry: Periodic Table: selenium: key information]. webelements.</ref> Sejak penemuannya, produksi tembaga melalui [[SX/EW|ekstraksi pelarut dan elektrodeposisi]] (SX/EW) telah meningkatkan pasokan tembaga di seluruh dunia.<ref>P.J. Bartos. ''SX-EW copper and the technology cycle''. ''Resources Policy''. 2002. Vol. 28 (3–4). hlm. 85–94. doi:10.1016/S0301-4207(03)00025-4.</ref> Ini telah mengubah ketersediaan selenium, karena hanya sebagian kecil selenium dalam bijih yang terlindi dengan tembaga.<ref>A. V. Naumov. ''Selenium and tellurium: State of the markets, the crisis, and its consequences''. ''Metallurgist''. 2010. Vol. 54 (3–4). hlm. 197–200. doi:10.1007/s11015-010-9280-7.</ref>


Produksi industri selenium biasanya melibatkan ekstraksi [[selenium dioksida]] dari residu yang diperoleh selama pemurnian tembaga. Produksi umum dari residu tersebut kemudian dimulai dengan oksidasi dengan [[natrium karbonat]] untuk menghasilkan selenium dioksida, yang dicampur dengan air dan di[[asam]]kan untuk membentuk [[asam selenit]] (tahap [[Redoks|oksidasi]]). Asam selenit kemudian digelembungkan dengan [[belerang dioksida]] (tahap [[Redoks|reduksi]]) untuk menghasilkan selenium elemental.
Produksi industri selenium biasanya melibatkan ekstraksi [[selenium dioksida]] dari residu yang diperoleh selama pemurnian tembaga. Produksi umum dari residu tersebut kemudian dimulai dengan oksidasi dengan [[natrium karbonat]] untuk menghasilkan selenium dioksida, yang dicampur dengan air dan di[[asam]]kan untuk membentuk [[asam selenit]] (tahap [[Redoks|oksidasi]]). Asam selenit kemudian digelembungkan dengan [[belerang dioksida]] (tahap [[Redoks|reduksi]]) untuk menghasilkan selenium elemental.<ref>James E. Hoffmann. [https://archive.org/details/sim_jom_1989-07_41_7/page/33 Recovering selenium and tellurium from copper refinery slimes]. ''JOM''. 1989. Vol. 41 (7). hlm. 33–38. doi:10.1007/BF03220269.</ref><ref>Olli Hyvärinen. [https://archive.org/details/sim_jom_1989-07_41_7/page/42 Recovering selenium from copper refinery slimes]. ''JOM''. 1989. Vol. 41 (7). hlm. 42–43. doi:10.1007/BF03220271.</ref>


Sekitar 2.000&nbsp;[[ton metrik|ton]] selenium diproduksi pada tahun 2011 di seluruh dunia, sebagian besar di Jerman (650&nbsp;t), Jepang (630&nbsp;t), Belgia (200&nbsp;t), dan Rusia (140&nbsp;t), dan total cadangan selenium diperkirakan mencapai 93.000&nbsp;ton. Data ini mengecualikan dua produsen utama: Amerika Serikat dan Tiongkok. Kenaikan tajam sebelumnya diamati pada tahun 2004 dari AS$4–AS$5 menjadi AS$27/lb. Harganya relatif stabil selama tahun 2004–2010 pada sekitar AS$30&nbsp;per pon (dalam lot 100&nbsp;pon) tetapi meningkat menjadi AS$65/lb pada tahun 2011. Konsumsi selenium pada tahun 2010 dibagi sebagai berikut: metalurgi – 30%, manufaktur kaca – 30%, pertanian – 10%, bahan kimia dan pigmen – 10%, dan elektronika – 10%. Tiongkok adalah konsumen selenium yang dominan, dengan jumlah 1.500–2.000&nbsp;ton/tahun.
Sekitar 2.000&nbsp;[[ton metrik|ton]] selenium diproduksi pada tahun 2011 di seluruh dunia, sebagian besar di Jerman (650&nbsp;t), Jepang (630&nbsp;t), Belgia (200&nbsp;t), dan Rusia (140&nbsp;t), dan total cadangan selenium diperkirakan mencapai 93.000&nbsp;ton. Data ini mengecualikan dua produsen utama: Amerika Serikat dan Tiongkok. Kenaikan tajam sebelumnya diamati pada tahun 2004 dari AS$4–AS$5 menjadi AS$27/lb. Harganya relatif stabil selama tahun 2004–2010 pada sekitar AS$30&nbsp;per pon (dalam lot 100&nbsp;pon) tetapi meningkat menjadi AS$65/lb pada tahun 2011. Konsumsi selenium pada tahun 2010 dibagi sebagai berikut: metalurgi – 30%, manufaktur kaca – 30%, pertanian – 10%, bahan kimia dan pigmen – 10%, dan elektronika – 10%. Tiongkok adalah konsumen selenium yang dominan, dengan jumlah 1.500–2.000&nbsp;ton/tahun.<ref>[http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/selenium/ Selenium and Tellurium: Statistics and Information]. United States Geological Survey.</ref>
==Aplikasi==
==Aplikasi==
===Pupuk===
===Pupuk===
Peneliti menemukan bahwa penerapan pupuk selenium pada tanaman selada dapat menurunkan akumulasi [[timbal]] dan [[kadmium]]. Persik dan pir yang diberi semprotan selenium akan mengandung kadar selenium yang lebih tinggi serta tetap kokoh dan matang lebih lama saat disimpan. Dalam dosis rendah, selenium telah menunjukkan efek menguntungkan pada ketahanan tumbuhan terhadap berbagai faktor tekanan lingkungan, meliputi kekeringan, UV-B, [[keasinan tanah]], dan suhu dingin atau panas. Namun, ia dapat merusak tumbuhan pada dosis yang lebih tinggi.
Peneliti menemukan bahwa penerapan pupuk selenium pada tanaman selada dapat menurunkan akumulasi [[timbal]] dan [[kadmium]]. Persik dan pir yang diberi semprotan selenium akan mengandung kadar selenium yang lebih tinggi serta tetap kokoh dan matang lebih lama saat disimpan. Dalam dosis rendah, selenium telah menunjukkan efek menguntungkan pada ketahanan tumbuhan terhadap berbagai faktor tekanan lingkungan, meliputi kekeringan, UV-B, [[keasinan tanah]], dan suhu dingin atau panas. Namun, ia dapat merusak tumbuhan pada dosis yang lebih tinggi.<ref>Renwei Feng. ''The roles of selenium in protecting plants against abiotic stresses''. ''Environmental and Experimental Botany''. 2013. Vol. 87. hlm. 58–68. doi:10.1016/j.envexpbot.2012.09.002.</ref>
===Elektrolisis mangan===
===Elektrolisis mangan===
Selama elektrodeposisi mangan, penambahan [[selenium dioksida]] menurunkan daya yang diperlukan untuk mengoperasikan [[sel elektrolitis|sel elektrolisis]]. Tiongkok adalah konsumen terbesar selenium dioksida untuk tujuan ini. Untuk setiap ton mangan, rata-rata digunakan 2&nbsp;kg selenium oksida.
Selama elektrodeposisi mangan, penambahan [[selenium dioksida]] menurunkan daya yang diperlukan untuk mengoperasikan [[sel elektrolitis|sel elektrolisis]]. Tiongkok adalah konsumen terbesar selenium dioksida untuk tujuan ini. Untuk setiap ton mangan, rata-rata digunakan 2&nbsp;kg selenium oksida.<ref>[http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/selenium/ Selenium and Tellurium: Statistics and Information]. United States Geological Survey.</ref><ref>Yan Sun. ''Studies of the reduction mechanism of selenium dioxide and its impact on the microstructure of manganese electrodeposit''. ''Electrochimica Acta''. 2011. Vol. 56 (24). hlm. 8305–8310. doi:10.1016/j.electacta.2011.06.111.</ref>
===Produksi kaca===
===Produksi kaca===
Penggunaan komersial terbesar Se, terhitung sekitar 50% dari total konsumsi, adalah untuk produksi kaca. Senyawa Se memberi warna merah pada kaca. Warna ini meniadakan semburat hijau atau kuning yang muncul dari kotoran besi yang khas pada kebanyakan kaca. Untuk tujuan ini, berbagai garam selenit dan selenat ditambahkan. Untuk aplikasi lain, warna merah mungkin diinginkan, yang dihasilkan oleh campuran CdSe dan CdS.
Penggunaan komersial terbesar Se, terhitung sekitar 50% dari total konsumsi, adalah untuk produksi kaca. Senyawa Se memberi warna merah pada kaca. Warna ini meniadakan semburat hijau atau kuning yang muncul dari kotoran besi yang khas pada kebanyakan kaca. Untuk tujuan ini, berbagai garam selenit dan selenat ditambahkan. Untuk aplikasi lain, warna merah mungkin diinginkan, yang dihasilkan oleh campuran CdSe dan CdS.<ref>Bernd E. Langner "Selenium and Selenium Compounds" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, 2005, Wiley-VCH, Weinheim. .</ref>
===Paduan===
===Paduan===
Selenium digunakan dengan [[bismut]] pada [[kuningan]] untuk menggantikan [[timbal]] yang lebih beracun. Regulasi timbal dalam aplikasi air minum seperti di A.S. dengan Undang-undang Air Minum Aman tahun 1974, membuat pengurangan timbal dalam kuningan diperlukan. Kuningan baru dipasarkan dengan nama EnviroBrass. Seperti timbal dan belerang, selenium dapat meningkatkan kemampuan pemesinan baja pada konsentrasi sekitar 0,15%. Selenium menghasilkan peningkatan pemesinan yang sama pada paduan tembaga.
Selenium digunakan dengan [[bismut]] pada [[kuningan]] untuk menggantikan [[timbal]] yang lebih beracun. Regulasi timbal dalam aplikasi air minum seperti di A.S. dengan Undang-undang Air Minum Aman tahun 1974, membuat pengurangan timbal dalam kuningan diperlukan. Kuningan baru dipasarkan dengan nama EnviroBrass.<ref>Joseph R. Davis. [https://books.google.com/books?id=sxkPJzmkhnUC&pg=PA91 Copper and Copper Alloys]. ASM Int. 2001. hlm. 91. ISBN 978-0-87170-726-0.</ref> Seperti timbal dan belerang, selenium dapat meningkatkan kemampuan pemesinan baja pada konsentrasi sekitar 0,15%.<ref>Edmund Isakov. [https://books.google.com/books?id=QahG1Ou1cyEC&pg=PA67 Cutting Data for Turning of Steel]. 2008-10-31. hlm. 67. ISBN 978-0-8311-3314-6.</ref><ref>Ya. E. Gol'Dshtein. ''Effect of selenium on the structure and properties of structural steel''. ''Metal Science and Heat Treatment''. 1979. Vol. 21 (10). hlm. 741–746. doi:10.1007/BF00708374.</ref> Selenium menghasilkan peningkatan pemesinan yang sama pada paduan tembaga.<ref>Joseph R. Davis. [https://books.google.com/books?id=sxkPJzmkhnUC&pg=PA278 Copper and Copper Alloys]. ASM International. 2001. hlm. 278. ISBN 978-0-87170-726-0.</ref>
===Baterai litium–selenium===
===Baterai litium–selenium===
Baterai litium–selenium (Li–Se) adalah salah satu sistem yang paling menjanjikan untuk penyimpanan energi dalam keluarga baterai litium. Baterai Li–Se adalah alternatif dari [[baterai litium–belerang]], dengan keunggulan konduktivitas listrik yang tinggi.
Baterai litium–selenium (Li–Se) adalah salah satu sistem yang paling menjanjikan untuk penyimpanan energi dalam keluarga baterai litium.<ref>Ali Eftekhari. ''The rise of lithium–selenium batteries''. ''Sustainable Energy & Fuels''. 2017. Vol. 1. hlm. 14–29. doi:10.1039/C6SE00094K.</ref> Baterai Li–Se adalah alternatif dari [[baterai litium–belerang]], dengan keunggulan konduktivitas listrik yang tinggi.
===Sel surya===
===Sel surya===
Selenium adalah dasar dari sel surya pertama, dengan contoh pertama dari sel surya atap adalah [[Charles Fritts|sel selenium dari tahun 1884]]. Sel tersebut kemudian digunakan dalam pengukur cahaya bebas-baterai untuk fotografi. [[Sel surya tembaga indium galium selenida|Tembaga indium galium selenida]] adalah bahan yang digunakan dalam sel surya.
Selenium adalah dasar dari sel surya pertama, dengan contoh pertama dari sel surya atap adalah [[Charles Fritts|sel selenium dari tahun 1884]]. Sel tersebut kemudian digunakan dalam pengukur cahaya bebas-baterai untuk fotografi. [[Sel surya tembaga indium galium selenida|Tembaga indium galium selenida]] adalah bahan yang digunakan dalam sel surya.<ref>Deutsche Gesellschaft für Sonnenenergie. [https://books.google.com/books?id=fMo3jJZDkpUC&pg=PA43 Planning and Installing Photovoltaic Systems: A Guide for Installers, Architects and Engineers]. Earthscan. 2008. hlm. 43–44. ISBN 978-1-84407-442-6.</ref>
===Fotokonduktor===
===Fotokonduktor===
Film tipis selenium amorf (Se-α) telah memiliki aplikasi sebagai fotokonduktor dalam [[Pendeteksi panel datar|pendeteksi sinar-X panel datar]]. Pendeteksi ini menggunakan selenium amorf untuk menangkap dan mengubah foton sinar-X insiden langsung menjadi muatan listrik. Selenium telah dipilih untuk aplikasi ini di antara semikonduktor lainnya karena kombinasi sifat teknologi dan fisiknya yang menguntungkan:
Film tipis selenium amorf (Se-α) telah memiliki aplikasi sebagai fotokonduktor dalam [[Pendeteksi panel datar|pendeteksi sinar-X panel datar]]. Pendeteksi ini menggunakan selenium amorf untuk menangkap dan mengubah foton sinar-X insiden langsung menjadi muatan listrik. Selenium telah dipilih untuk aplikasi ini di antara semikonduktor lainnya karena kombinasi sifat teknologi dan fisiknya yang menguntungkan:<ref>Heyuan Huang. ''Recent Developments of Amorphous Selenium-Based X-Ray Detectors: A Review''. ''IEEE Sensors Journal''. 2020. Vol. 20 (4). hlm. 1694–1704. doi:10.1109/JSEN.2019.2950319.</ref><ref>Safa Kasap. ''Amorphous selenium and its alloys from early xeroradiography to high resolution X-ray image detectors and ultrasensitive imaging tubes''. ''Physica Status Solidi (B)''. 2009. Vol. 246 (8). hlm. 1794–1805. doi:10.1002/pssb.200982007.</ref> 
# Selenium amorf memiliki [[titik lebur]] rendah, [[tekanan uap]] tinggi, dan struktur yang seragam. Ketiga sifat ini memungkinkan deposisi film seragam area-besar dengan cepat dan mudah dengan ketebalan hingga 1&nbsp;mm pada laju 1–5&nbsp;µm/menit. Keseragaman dan kurangnya batas butir, yang intrinsik untuk bahan polikristalin, akan meningkatkan kualitas gambar sinar-X. Sedangkan area yang luas sangat penting untuk memindai tubuh manusia atau barang bawaan.
# Selenium amorf memiliki [[titik lebur]] rendah, [[tekanan uap]] tinggi, dan struktur yang seragam. Ketiga sifat ini memungkinkan deposisi film seragam area-besar dengan cepat dan mudah dengan ketebalan hingga 1&nbsp;mm pada laju 1–5&nbsp;µm/menit. Keseragaman dan kurangnya batas butir, yang intrinsik untuk bahan polikristalin, akan meningkatkan kualitas gambar sinar-X. Sedangkan area yang luas sangat penting untuk memindai tubuh manusia atau barang bawaan.  
# Selenium kurang beracun daripada banyak senyawa semikonduktor yang mengandung [[arsen]] atau [[logam berat]] seperti [[raksa]] atau [[timbal]].
# Selenium kurang beracun daripada banyak senyawa semikonduktor yang mengandung [[arsen]] atau [[logam berat]] seperti [[raksa]] atau [[timbal]].
# Mobilitasnya dalam medan listrik terapan cukup tinggi baik untuk elektron maupun lubang, sehingga pada perangkat setebal 0,2&nbsp;mm, sekitar 98% elektron dan lubang yang dihasilkan oleh sinar-X akan terkumpul di elektrode tanpa terperangkap oleh berbagai cacat. Konsekuensinya, sensitivitas perangkatnya tinggi, dan perilakunya mudah dijelaskan dengan persamaan transportasi sederhana.
# Mobilitasnya dalam medan listrik terapan cukup tinggi baik untuk elektron maupun lubang, sehingga pada perangkat setebal 0,2&nbsp;mm, sekitar 98% elektron dan lubang yang dihasilkan oleh sinar-X akan terkumpul di elektrode tanpa terperangkap oleh berbagai cacat. Konsekuensinya, sensitivitas perangkatnya tinggi, dan perilakunya mudah dijelaskan dengan persamaan transportasi sederhana.
Baris 108: Baris 144:
[[Penyearah selenium]] pertama kali digunakan pada tahun 1933. Penggunaannya berlanjut hingga tahun 1990-an.
[[Penyearah selenium]] pertama kali digunakan pada tahun 1933. Penggunaannya berlanjut hingga tahun 1990-an.
===Kegunaan lainnya===
===Kegunaan lainnya===
Sejumlah kecil senyawa organoselenium telah digunakan untuk memodifikasi katalis yang digunakan untuk [[Vulkanisasi belerang|vulkanisasi]] produksi karet.
Sejumlah kecil senyawa organoselenium telah digunakan untuk memodifikasi katalis yang digunakan untuk [[Vulkanisasi belerang|vulkanisasi]] produksi karet.<ref>A. V. Naumov. ''Selenium and tellurium: State of the markets, the crisis, and its consequences''. ''Metallurgist''. 2010. Vol. 54 (3–4). hlm. 197–200. doi:10.1007/s11015-010-9280-7.</ref>


Permintaan selenium oleh industri elektronika semakin menurun. Sifat [[fotovoltaik]] dan [[Fotokonduktivitas|fotokonduktif]]nya masih berguna dalam [[mesin fotokopi|fotokopi]], [[Sensor cahaya|fotosel]], [[pengukur cahaya]], dan [[sel surya]]. Penggunaannya sebagai fotokonduktor pada mesin fotokopi kertas kosong pernah menjadi aplikasi utama, tetapi pada 1980-an, aplikasi fotokonduktornya menurun (walaupun ia masih merupakan penggunaan akhir yang besar) karena semakin banyak mesin fotokopi beralih ke fotokonduktor organik. Meskipun pernah digunakan secara luas, [[penyearah selenium]] sebagian besar telah digantikan (atau sedang digantikan) oleh perangkat berbasis silikon. Pengecualian yang paling menonjol adalah [[pelindung lonjakan|perlindungan lonjakan]] daya DC, di mana kemampuan energi superior dari penekan selenium membuatnya lebih diinginkan daripada [[Varistor|varistor logam-oksida]].
Permintaan selenium oleh industri elektronika semakin menurun.<ref>[http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/selenium/ Selenium and Tellurium: Statistics and Information]. United States Geological Survey.</ref> Sifat [[fotovoltaik]] dan [[Fotokonduktivitas|fotokonduktif]]nya masih berguna dalam [[mesin fotokopi|fotokopi]],<ref>B. E. Springett. ''Application of Selenium-Tellurium Photoconductors to the Xerographic Copying and Printing Processes''. ''Phosphorus and Sulfur and the Related Elements''. 1988. Vol. 38 (3–4). hlm. 341–350. doi:10.1080/03086648808079729.</ref><ref>Rob Williams. [https://books.google.com/books?id=y1BuoXpPX3kC&pg=PA547 Computer Systems Architecture: A Networking Approach]. Prentice Hall. 2006. hlm. 547–548. ISBN 978-0-321-34079-5.</ref><ref>Jean-Claude Diels. [https://books.google.com/books?id=y8U4HGZP_O0C&pg=PA81 Lasers]. Wiley-VCH. 2011. hlm. 81–83. ISBN 978-3-527-64005-8.</ref><ref>Meller, Gregor. [https://books.google.com/books?id=BiOxDxNMeyoC&pg=PA3 Organic Electronics]. Springer. 2009. hlm. 3–5. ISBN 978-3-642-04537-0.</ref> [[Sensor cahaya|fotosel]], [[pengukur cahaya]], dan [[sel surya]]. Penggunaannya sebagai fotokonduktor pada mesin fotokopi kertas kosong pernah menjadi aplikasi utama, tetapi pada 1980-an, aplikasi fotokonduktornya menurun (walaupun ia masih merupakan penggunaan akhir yang besar) karena semakin banyak mesin fotokopi beralih ke fotokonduktor organik. Meskipun pernah digunakan secara luas, [[penyearah selenium]] sebagian besar telah digantikan (atau sedang digantikan) oleh perangkat berbasis silikon. Pengecualian yang paling menonjol adalah [[pelindung lonjakan|perlindungan lonjakan]] daya DC, di mana kemampuan energi superior dari penekan selenium membuatnya lebih diinginkan daripada [[Varistor|varistor logam-oksida]].


[[Seng selenida]] adalah bahan pertama untuk [[dioda pemancar cahaya|LED]] biru, tetapi galium nitrida mendominasi pasar tersebut. [[Kadmium selenida]] adalah komponen penting dalam [[quantum dot]]. Lembaran selenium amorf mengubah gambar [[sinar-X]] menjadi pola muatan dalam [[xeroradiografi]] dan dalam kamera sinar-X panel datar bahan padat. Selenium terionisasi (Se+24) adalah salah satu media aktif yang digunakan dalam laser sinar-X.
[[Seng selenida]] adalah bahan pertama untuk [[dioda pemancar cahaya|LED]] biru, tetapi galium nitrida mendominasi pasar tersebut.<ref>Dennis Normile. [https://books.google.com/books?id=D2zyNlMu7kkC&pg=PA57 Popular Science]. 2000. hlm. 57.</ref> [[Kadmium selenida]] adalah komponen penting dalam [[quantum dot]]. Lembaran selenium amorf mengubah gambar [[sinar-X]] menjadi pola muatan dalam [[xeroradiografi]] dan dalam kamera sinar-X panel datar bahan padat.<ref>Safa Kasap. ''Amorphous selenium and its alloys from early xeroradiography to high resolution X-ray image detectors and ultrasensitive imaging tubes''. ''Physica Status Solidi B''. 2009. Vol. 246 (8). hlm. 1794–1805. doi:10.1002/pssb.200982007.</ref> Selenium terionisasi (Se+24) adalah salah satu media aktif yang digunakan dalam laser sinar-X.<ref>Orazio Svelto. [https://archive.org/details/principlesoflase0000svel_u3g5 Principles of LASERs fourth ed]. Plenum. 1998. hlm. [https://archive.org/details/principlesoflase0000svel_u3g5/page/457 457]. ISBN 978-0-306-45748-7.</ref>


Selenium adalah katalis dalam beberapa reaksi kimia, tetapi tidak banyak digunakan karena masalah toksisitas. Dalam [[kristalografi sinar-X]], penggabungan satu atau lebih atom selenium sebagai pengganti belerang akan membantu dengan penahapan dispersi anomali panjang gelombang ganda dan [[dispersi anomali panjang gelombang tunggal]].
Selenium adalah katalis dalam beberapa reaksi kimia, tetapi tidak banyak digunakan karena masalah toksisitas.<ref>Fateh V. Singh. [https://pubs.rsc.org/en/content/articlehtml/2019/cy/c8cy02274g Selenium reagents as catalysts]. ''Catalysis Science & Technology''. 2019. Vol. 9 (5). hlm. 1073–1091. doi:10.1039/C8CY02274G.</ref> Dalam [[kristalografi sinar-X]], penggabungan satu atau lebih atom selenium sebagai pengganti belerang akan membantu dengan penahapan dispersi anomali panjang gelombang ganda dan [[dispersi anomali panjang gelombang tunggal]].<ref>F. Hai-Fu. ''New Techniques of Applying Multi-Wavelength Anomalous Scattering Data''. ''Proceedings of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences''. 1993. Vol. 442 (1914). hlm. 13–32. doi:10.1098/rspa.1993.0087.</ref>


Selenium digunakan dalam [[pewarnaan cetakan fotografi]], dan dijual sebagai toner oleh banyak produsen fotografi. Selenium mengintensifkan dan memperluas jangkauan tonal dari gambar fotografi hitam-putih dan meningkatkan ketahanan cetakan.
Selenium digunakan dalam [[pewarnaan cetakan fotografi]], dan dijual sebagai toner oleh banyak produsen fotografi. Selenium mengintensifkan dan memperluas jangkauan tonal dari gambar fotografi hitam-putih dan meningkatkan ketahanan cetakan.<ref>Marion E. MacLean. [https://archive.org/details/sim_journal-of-chemical-education_1937-01_14_1/page/31 A project for general chemistry students: Color toning of photographic prints]. ''Journal of Chemical Education''. 1937. Vol. 14 (1). hlm. 31. doi:10.1021/ed014p31.</ref><ref>Sylvie Penichon. ''Differences in Image Tonality Produced by Different Toning Protocols for Matte Collodion Photographs''. ''Journal of the American Institute for Conservation''. 1999. Vol. 38 (2). hlm. 124–143. doi:10.2307/3180042.</ref><ref>Joy McKenzie. [https://archive.org/details/exploringbasicbl0000mcke Exploring Basic Black & White Photography]. Delmar. 2003. hlm. [https://archive.org/details/exploringbasicbl0000mcke/page/176 176]. ISBN 978-1-4018-1556-1.</ref>


<sup>75</sup>Se digunakan sebagai sumber gama dalam radiografi industri.
<sup>75</sup>Se digunakan sebagai sumber gama dalam radiografi industri.<ref>Peter Hayward. [http://www.ndt.net/article/apcndt2006/papers/12.pdf Radiography of Welds Using Selenium 75, Ir 192 and X-rays].</ref>


Selenium digunakan pada beberapa sampo antiketombe dalam bentuk selenium disulfida seperti merek Selsun dan Vichy Dereos.
Selenium digunakan pada beberapa sampo antiketombe dalam bentuk selenium disulfida seperti merek Selsun dan Vichy Dereos.<ref>https://www.vichy.co.uk/on/demandware.static/-/Sites-vic-master-catalog/default/dw41dcc5e7/VIC/ProductImages/Blog-Imagery-Vichy/Vichy_Customer_Leaflet_Dandruff.pdf</ref>
==Pencemaran==
==Pencemaran==
Dalam konsentrasi tinggi, selenium bertindak sebagai [[kontaminasi|kontaminan]] lingkungan. Sumber polusinya meliputi bahan limbah dari operasi pertambangan, pertanian, petrokimia, dan manufaktur industri tertentu. Di [[Danau Belews]], Carolina Utara, 19 spesies ikan tersingkir dari danau karena 150–200&nbsp;μg Se/L air limbah dibuang dari tahun 1974 hingga 1986 dari pembangkit listrik tenaga batu bara [[Duke Energy]]. Di [[Suaka Margasatwa Nasional Kesterson]] di California, ribuan ikan dan burung air diracuni oleh selenium dalam drainase irigasi pertanian.
Dalam konsentrasi tinggi, selenium bertindak sebagai [[kontaminasi|kontaminan]] lingkungan. Sumber polusinya meliputi bahan limbah dari operasi pertambangan, pertanian, petrokimia, dan manufaktur industri tertentu. Di [[Danau Belews]], Carolina Utara, 19 spesies ikan tersingkir dari danau karena 150–200&nbsp;μg Se/L air limbah dibuang dari tahun 1974 hingga 1986 dari pembangkit listrik tenaga batu bara [[Duke Energy]]. Di [[Suaka Margasatwa Nasional Kesterson]] di California, ribuan ikan dan burung air diracuni oleh selenium dalam drainase irigasi pertanian.


Pencemaran selenium mungkin berdampak pada beberapa sistem perairan dan mungkin disebabkan oleh faktor antropogenik seperti limpasan pertanian dan proses industri. Orang yang makan lebih banyak ikan umumnya lebih sehat daripada mereka yang makan lebih sedikit, yang menunjukkan tidak ada masalah kesehatan utama manusia dari polusi selenium, meskipun selenium memiliki efek potensial pada manusia.
Pencemaran selenium mungkin berdampak pada beberapa sistem perairan dan mungkin disebabkan oleh faktor antropogenik seperti limpasan pertanian dan proses industri.<ref>A. Dennis Lemly. [http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0147651303000952 Aquatic selenium pollution is a global environmental safety issue]. ''Ecotoxicology and Environmental Safety''. 1 September 2004. Vol. 59 (1). hlm. 44–56. doi:10.1016/S0147-6513(03)00095-2.</ref> Orang yang makan lebih banyak ikan umumnya lebih sehat daripada mereka yang makan lebih sedikit,<ref>Ramon Estruch. ''Should we all go pesco-vegetarian?''. ''European Heart Journal''. 4 Januari 2021. Vol. 42 (12). hlm. 1144–1146. doi:10.1093/eurheartj/ehaa1088.</ref> yang menunjukkan tidak ada masalah kesehatan utama manusia dari polusi selenium, meskipun selenium memiliki efek potensial pada manusia.<ref>Matthew Gribble. ''Mercury, selenium and fish oils in marine food webs and implications for human health''. ''Journal of the Marine Biological Association of the United Kingdom''. 8 September 2015. Vol. 1 (96). hlm. 43–59. doi:10.1017/S0025315415001356.</ref>


Perubahan fisiologis substansial dapat terjadi pada ikan dengan konsentrasi jaringan selenium yang tinggi. Ikan yang terkena selenium dapat mengalami pembengkakan pada [[lamela|lamela insang]], yang menghambat difusi oksigen melintasi insang dan aliran darah di dalam insang. Kapasitas pernapasan semakin berkurang karena selenium mengikat [[hemoglobin]]. Masalah lainnya meliputi degenerasi jaringan hati, pembengkakan di sekitar jantung, kerusakan folikel telur di ovarium, [[katarak]], dan penumpukan cairan di rongga tubuh dan kepala. Selenium sering menyebabkan janin ikan menjadi cacat yang mungkin mengalami masalah makan atau bernafas; distorsi sirip atau tulang belakang juga sering terjadi. Ikan dewasa mungkin tampak sehat meskipun tidak mampu menghasilkan keturunan yang layak.
Perubahan fisiologis substansial dapat terjadi pada ikan dengan konsentrasi jaringan selenium yang tinggi. Ikan yang terkena selenium dapat mengalami pembengkakan pada [[lamela|lamela insang]], yang menghambat difusi oksigen melintasi insang dan aliran darah di dalam insang. Kapasitas pernapasan semakin berkurang karena selenium mengikat [[hemoglobin]]. Masalah lainnya meliputi degenerasi jaringan hati, pembengkakan di sekitar jantung, kerusakan folikel telur di ovarium, [[katarak]], dan penumpukan cairan di rongga tubuh dan kepala. Selenium sering menyebabkan janin ikan menjadi cacat yang mungkin mengalami masalah makan atau bernafas; distorsi sirip atau tulang belakang juga sering terjadi. Ikan dewasa mungkin tampak sehat meskipun tidak mampu menghasilkan keturunan yang layak.


Selenium ter[[bioakumulasi]] di habitat perairan, yang menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi pada organisme daripada air di sekitarnya. Senyawa organoselenium dapat dipekatkan lebih dari 200.000&nbsp;kali oleh [[zooplankton]] ketika konsentrasi air berada dalam kisaran 0,5&nbsp;hingga 0,8&nbsp;μg Se/L. Selenium anorganik lebih mudah terakumulasi dalam [[fitoplankton]] daripada zooplankton. Fitoplankton dapat mengkonsentrasikan selenium anorganik dengan faktor 3000. Konsentrasi lebih lanjut melalui bioakumulasi terjadi di sepanjang rantai makanan, karena predator memakan mangsa yang kaya selenium. Direkomendasikan bahwa konsentrasi air 2&nbsp;μg Se/L dianggap sangat berbahaya bagi ikan sensitif dan [[burung air]]. Keracunan selenium dapat diturunkan dari induk kepada keturunannya melalui telur, dan keracunan selenium dapat bertahan selama beberapa generasi. Reproduksi [[itik melewar]] akan terganggu pada konsentrasi makanan 7&nbsp;μg Se/L. Banyak invertebrata [[lubuk|bentik]] dapat mentolerir konsentrasi selenium hingga 300&nbsp;μg/L Se dalam makanannya.
Selenium ter[[bioakumulasi]] di habitat perairan, yang menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi pada organisme daripada air di sekitarnya. Senyawa organoselenium dapat dipekatkan lebih dari 200.000&nbsp;kali oleh [[zooplankton]] ketika konsentrasi air berada dalam kisaran 0,5&nbsp;hingga 0,8&nbsp;μg Se/L. Selenium anorganik lebih mudah terakumulasi dalam [[fitoplankton]] daripada zooplankton. Fitoplankton dapat mengkonsentrasikan selenium anorganik dengan faktor 3000. Konsentrasi lebih lanjut melalui bioakumulasi terjadi di sepanjang rantai makanan, karena predator memakan mangsa yang kaya selenium. Direkomendasikan bahwa konsentrasi air 2&nbsp;μg Se/L dianggap sangat berbahaya bagi ikan sensitif dan [[burung air]]. Keracunan selenium dapat diturunkan dari induk kepada keturunannya melalui telur, dan keracunan selenium dapat bertahan selama beberapa generasi. Reproduksi [[itik melewar]] akan terganggu pada konsentrasi makanan 7&nbsp;μg Se/L. Banyak invertebrata [[lubuk|bentik]] dapat mentolerir konsentrasi selenium hingga 300&nbsp;μg/L Se dalam makanannya.<ref>Dennis Lemly. [https://books.google.com/books?id=qGH37iOW7yMC&q=Selenium+Assessment+in+Aquatic+Ecosystems Selenium Assessment in Aquatic Ecosystems: A guide for hazard evaluation and water quality criteria]. Springer. 1998. ISBN 0-387-95346-9.</ref>


Bioakumulasi selenium di lingkungan perairan dapat menyebabkan kematian ikan tergantung pada spesies di daerah yang terkena. Namun, ada beberapa spesies yang terlihat bertahan dari peristiwa ini dan mentolerir peningkatan selenium. Juga diperkirakan bahwa musim dapat berdampak pada efek berbahaya selenium pada ikan.
Bioakumulasi selenium di lingkungan perairan dapat menyebabkan kematian ikan tergantung pada spesies di daerah yang terkena. Namun, ada beberapa spesies yang terlihat bertahan dari peristiwa ini dan mentolerir peningkatan selenium. Juga diperkirakan bahwa musim dapat berdampak pada efek berbahaya selenium pada ikan.<ref>Steven J. Hamilton. [http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0048969704000609 Review of selenium toxicity in the aquatic food chain]. ''Science of the Total Environment''. 29 Juni 2004. Vol. 326 (1). hlm. 1–31. doi:10.1016/j.scitotenv.2004.01.019.</ref>


Keracunan selenium pada sistem air dapat terjadi setiap kali aliran [[polusi pertanian|limpasan pertanian]] baru melintas melalui lahan kering. Proses ini melepaskan senyawa selenium alami yang larut (seperti selenat) ke dalam air, yang kemudian terkonsentrasi di lahan basah saat air menguap. Pencemaran selenium pada saluran air juga terjadi ketika selenium terlindi dari abu cerobong batu bara, pertambangan dan [[Peleburan (metalurgi)|peleburan logam]], pemrosesan minyak mentah, dan tempat pembuangan sampah. Tingkat selenium yang tinggi di saluran air ditemukan dapat menyebabkan kelainan bawaan pada spesies ovipar, termasuk burung dan ikan lahan basah. Tingkat [[metilraksa]] makanan yang meningkat dapat memperkuat bahaya toksisitas selenium pada spesies ovipar.
Keracunan selenium pada sistem air dapat terjadi setiap kali aliran [[polusi pertanian|limpasan pertanian]] baru melintas melalui lahan kering. Proses ini melepaskan senyawa selenium alami yang larut (seperti selenat) ke dalam air, yang kemudian terkonsentrasi di lahan basah saat air menguap. Pencemaran selenium pada saluran air juga terjadi ketika selenium terlindi dari abu cerobong batu bara, pertambangan dan [[Peleburan (metalurgi)|peleburan logam]], pemrosesan minyak mentah, dan tempat pembuangan sampah.<ref>D. Lemly. [https://zenodo.org/record/1259837 Aquatic selenium pollution is a global environmental safety issue]. ''Ecotoxicology and Environmental Safety''. 2004. Vol. 59 (1). hlm. 44–56. doi:10.1016/S0147-6513(03)00095-2.</ref> Tingkat selenium yang tinggi di saluran air ditemukan dapat menyebabkan kelainan bawaan pada spesies ovipar, termasuk burung<ref>H. M. Ohlendorf. [https://books.google.com/books?id=qN0I3husm50C&pg=PA477 Ecotoxicology of selenium]. Lewis Publishers. 2003. hlm. 466–491. ISBN 978-1-56670-546-2.</ref> dan ikan lahan basah.<ref>A. D. Lemly. [https://zenodo.org/record/1229572 A teratogenic deformity index for evaluating impacts of selenium on fish populations]. ''Ecotoxicology and Environmental Safety''. 1997. Vol. 37 (3). hlm. 259–266. doi:10.1006/eesa.1997.1554.</ref> Tingkat [[metilraksa]] makanan yang meningkat dapat memperkuat bahaya toksisitas selenium pada spesies ovipar.<ref>S. Penglase. ''Selenium and mercury have a synergistic negative effect on fish reproduction''. ''Aquatic Toxicology''. 2014. Vol. 149. hlm. 16–24. doi:10.1016/j.aquatox.2014.01.020.</ref><ref>G. H. Heinz. [https://archive.org/details/sim_environmental-toxicology-and-chemistry_1998-02_17_2/page/139 Methylmercury chloride and selenomethionine interactions on health and reproduction in mallards]. ''Environmental Toxicology and Chemistry''. 1998. Vol. 17 (2). hlm. 139–145. doi:10.1002/etc.5620170202.</ref>
==Peran biologis==
==Peran biologis==
Meskipun beracun dalam dosis besar, selenium merupakan [[Zat gizi mikro|mikronutrien]] penting bagi hewan. Pada tumbuhan, ia terjadi sebagai mineral pengamat,<ref>Faik Atroshi. [https://books.google.com/books?id=UCShDwAAQBAJ&dq=info:AK393JUK2tEJ:scholar.google.com/&pg=PR11 Pharmacology and Nutritional Intervention in the Treatment of Disease]. BoD – Books on Demand. 28 Mei 2014. ISBN 978-953-51-1383-6.</ref> kadang-kadang dalam proporsi beracun dalam [[hijauan]] (beberapa tumbuhan dapat mengakumulasi selenium sebagai pertahanan agar tidak dimakan oleh hewan,<ref>John L. Freeman. ''Selenium accumulation protects plants from herbivory by Orthoptera via toxicity and deterrence''. ''The New Phytologist''. 2007. Vol. 175 (3). hlm. 490–500. doi:10.1111/j.1469-8137.2007.02119.x.</ref> tetapi tumbuhan lain, seperti [[rumput gila]] (''locoweed''), membutuhkan selenium, dan pertumbuhannya menunjukkan adanya selenium di tanah).<ref>[https://www.academia.edu/61786801 Selenium concentrations in leaf material from Astragalus Oxyphysus (diablo locoweed) and Atriplex Lentiformis (quail bush) in the interior Coast Ranges and the western San Joaquin Valley, California]. 1986.</ref>


 
Selenium adalah komponen dari [[asam amino]] [[selenosisteina]] dan [[selenometionina]] yang tidak biasa. Pada manusia, selenium merupakan [[Mineral (nutrisi)|unsur nutrien]] yang berfungsi sebagai [[Kofaktor (biokimia)|kofaktor]] untuk [[redoks|reduksi]] enzim [[antioksidan]], seperti [[glutationa peroksidase]]<ref>[http://lpi.oregonstate.edu/infocenter/minerals/selenium/ Linus Pauling Institute at Oregon State University] lpi.oregonstate.edu</ref> dan bentuk tertentu dari [[tioredoksin reduktase]] dan beberapa tumbuhan (enzim ini terdapat pada semua organisme hidup, tetapi tidak semua bentuknya pada tumbuhan membutuhkan selenium).
Meskipun beracun dalam dosis besar, selenium merupakan [[Zat gizi mikro|mikronutrien]] penting bagi hewan. Pada tumbuhan, ia terjadi sebagai mineral pengamat, kadang-kadang dalam proporsi beracun dalam [[hijauan]] (beberapa tumbuhan dapat mengakumulasi selenium sebagai pertahanan agar tidak dimakan oleh hewan, tetapi tumbuhan lain, seperti [[rumput gila]] (''locoweed''), membutuhkan selenium, dan pertumbuhannya menunjukkan adanya selenium di tanah).
 
Selenium adalah komponen dari [[asam amino]] [[selenosisteina]] dan [[selenometionina]] yang tidak biasa. Pada manusia, selenium merupakan [[Mineral (nutrisi)|unsur nutrien]] yang berfungsi sebagai [[Kofaktor (biokimia)|kofaktor]] untuk [[redoks|reduksi]] enzim [[antioksidan]], seperti [[glutationa peroksidase]] dan bentuk tertentu dari [[tioredoksin reduktase]] dan beberapa tumbuhan (enzim ini terdapat pada semua organisme hidup, tetapi tidak semua bentuknya pada tumbuhan membutuhkan selenium).


Kelompok enzim glutationa peroksidase (GSH-Px) dapat mengatalisasi reaksi tertentu yang menghilangkan spesies oksigen reaktif seperti [[hidrogen peroksida]] dan [[hidroperoksida]] organik:
Kelompok enzim glutationa peroksidase (GSH-Px) dapat mengatalisasi reaksi tertentu yang menghilangkan spesies oksigen reaktif seperti [[hidrogen peroksida]] dan [[hidroperoksida]] organik:
Baris 144: Baris 178:
:2 GSH + H<sub>2</sub>O<sub>2</sub>----GSH-Px → GSSG + 2 H<sub>2</sub>O
:2 GSH + H<sub>2</sub>O<sub>2</sub>----GSH-Px → GSSG + 2 H<sub>2</sub>O


[[Kelenjar tiroid]] dan setiap sel yang menggunakan hormon tiroid menggunakan selenium, yang merupakan kofaktor untuk tiga dari empat jenis [[deiodinase]] [[hormon tiroid]] yang diketahui, yang mengaktifkan dan kemudian menonaktifkan berbagai hormon tiroid dan metabolitnya; [[iodotironina deiodinase]] adalah subfamili dari enzim deiodinase yang menggunakan selenium sebagai asam amino selenosisteina yang jarang. (Hanya deiodinase [[iodotirosina deiodinase]], yang bekerja pada produk penguraian terakhir dari hormon tiroid, yang tidak menggunakan selenium.)
[[Kelenjar tiroid]] dan setiap sel yang menggunakan hormon tiroid menggunakan selenium,<ref>Farzad Pakdel. ''Effect of Selenium on Thyroid Disorders: Scientometric Analysis''. ''Iranian Journal of Public Health''. 2019. Vol. 48 (3). hlm. 410–420.</ref> yang merupakan kofaktor untuk tiga dari empat jenis [[deiodinase]] [[hormon tiroid]] yang diketahui, yang mengaktifkan dan kemudian menonaktifkan berbagai hormon tiroid dan metabolitnya; [[iodotironina deiodinase]] adalah subfamili dari enzim deiodinase yang menggunakan selenium sebagai asam amino selenosisteina yang jarang. (Hanya deiodinase [[iodotirosina deiodinase]], yang bekerja pada produk penguraian terakhir dari hormon tiroid, yang tidak menggunakan selenium.)<ref>[http://lpi.oregonstate.edu/infocenter/minerals/selenium/ Selenium]. Linus Pauling Institute di Oregon State University.</ref>


Selenium dapat menghambat [[Tiroiditis Hashimoto|penyakit Hashimoto]], di mana sel tiroid tubuh sendiri diserang sebagai benda asing. Pengurangan 21% pada antibodi TPO dilaporkan dengan asupan makanan 0,2&nbsp;mg selenium.
Selenium dapat menghambat [[Tiroiditis Hashimoto|penyakit Hashimoto]], di mana sel tiroid tubuh sendiri diserang sebagai benda asing. Pengurangan 21% pada antibodi TPO dilaporkan dengan asupan makanan 0,2&nbsp;mg selenium.<ref>E. E. Mazokopakis. ''Effects of 12 months treatment with L-selenomethionine on serum anti-TPO Levels in Patients with Hashimoto's thyroiditis''. ''Thyroid''. 2007. Vol. 17 (7). hlm. 609–612. doi:10.1089/thy.2007.0040.</ref>


Peningkatan selenium diet akan mengurangi efek toksisitas raksa, meskipun hanya efektif pada dosis raksa rendah hingga sedang. Bukti menunjukkan bahwa mekanisme molekuler dari toksisitas raksa mencakup penghambatan selenoenzim yang tidak dapat diubah yang diperlukan untuk mencegah dan membalikkan kerusakan oksidatif di otak dan jaringan endokrin. Sebuah antioksidan, [[selenoneina]], yang berasal dari selenium dan telah ditemukan hadir dalam darah tuna sirip biru, adalah subjek penelitian ilmiah mengenai kemungkinan perannya dalam penyakit inflamasi dan kronis, detoksifikasi [[metilraksa]], dan kerusakan oksidatif. Sepertinya ketika kadar raksa dalam ikan laut naik, maka kadar selenium juga akan naik. Sepengetahuan para peneliti, tidak ada laporan mengenai kadar raksa yang melebihi kadar selenium pada ikan laut.
Peningkatan selenium diet akan mengurangi efek toksisitas raksa,<ref>N. V. Ralston. [http://www.soest.hawaii.edu/oceanography/courses_html/OCN331/Mercury3.pdf Dietary and tissue selenium in relation to methylmercury toxicity]. ''Neurotoxicology''. 2008. Vol. 29 (5). hlm. 802–811. doi:10.1016/j.neuro.2008.07.007.</ref><ref>S. Penglase. ''Selenium prevents downregulation of antioxidant selenoprotein genes by methylmercury''. ''Free Radical Biology and Medicine''. 2014. Vol. 75. hlm. 95–104. doi:10.1016/j.freeradbiomed.2014.07.019.</ref><ref>F. Usuki. [https://archive.org/details/sim_journal-of-biological-chemistry_2011-02-25_286_8/page/6641 Post-transcriptional defects of antioxidant selenoenzymes cause oxidative stress under methylmercury exposure]. ''The Journal of Biological Chemistry''. 2011. Vol. 286 (8). hlm. 6641–6649. doi:10.1074/jbc.M110.168872.</ref> meskipun hanya efektif pada dosis raksa rendah hingga sedang.<ref>G. Ohi. ''Protective effect of selenite against methylmercury toxicity: observations concerning time, dose and route factors in the development of selenium attenuation''. ''Industrial Health''. 1975. Vol. 13 (3). hlm. 93–99. doi:10.2486/indhealth.13.93.</ref> Bukti menunjukkan bahwa mekanisme molekuler dari toksisitas raksa mencakup penghambatan selenoenzim yang tidak dapat diubah yang diperlukan untuk mencegah dan membalikkan kerusakan oksidatif di otak dan jaringan endokrin.<ref>NVC Ralston. ''Dietary selenium's protective effects against methylmercury toxicity''. ''Toxicology''. 2010. Vol. 278 (1). hlm. 112–123. doi:10.1016/j.tox.2010.06.004.</ref><ref>CML Carvalho. ''Inhibition of the human thioredoxin system: A molecular mechanism of mercury toxicity''. ''Journal of Biological Chemistry''. 2008. Vol. 283 (18). hlm. 11913–11923. doi:10.1074/jbc.M710133200.</ref> Sebuah antioksidan, [[selenoneina]], yang berasal dari selenium dan telah ditemukan hadir dalam darah tuna sirip biru, adalah subjek penelitian ilmiah mengenai kemungkinan perannya dalam penyakit inflamasi dan kronis, detoksifikasi [[metilraksa]], dan kerusakan oksidatif.<ref>Michiaki Yamashita, Shintaro Imamura, Md. Anwar Hossain, Ken Touhata, Takeshi Yabu, and Yumiko Yamashita, ''[http://www.fasebj.org/content/26/1_Supplement/969.13.short Strong antioxidant activity of the novel selenium-containing imidazole compound ″selenoneine″]'', The FASEB Journal, vol. 26 no. 1, supplement 969.13, April 2012</ref><ref>Y Yamashita. ''Discovery of the strong antioxidant selenoneine in tuna and selenium redox metabolism''. ''World J Biol Chem''. 2010. Vol. 1 (5). hlm. 144–50. doi:10.4331/wjbc.v1.i5.144.</ref> Sepertinya ketika kadar raksa dalam ikan laut naik, maka kadar selenium juga akan naik. Sepengetahuan para peneliti, tidak ada laporan mengenai kadar raksa yang melebihi kadar selenium pada ikan laut.<ref>Laura Raymond. [https://amalgam-informationen.de/dokument/SECIIIC.pdf Mercury: selenium interactions and health implications]. ''SMDJ Seychelles Medical and Dental Journal''. November 2004. Vol. 7. hlm. 72–77.</ref>
===Evolusi dalam biologi===
===Evolusi dalam biologi===
Sejak sekitar tiga miliar tahun yang lalu, keluarga selenoprotein [[prokariota|prokariotik]] mendorong evolusi selenosisteina, sebuah asam amino. Selenium dimasukkan ke dalam beberapa keluarga selenoprotein prokariotik pada bakteri, arkea, dan eukariota sebagai selenosisteina,<ref>Vadim N. Gladyshev. [https://digitalcommons.unl.edu/biochemgladyshev/77 Selenocysteine-containing proteins in mammals]. ''Journal of Biomedical Science''. 1999. Vol. 6 (3). hlm. 151–160. doi:10.1007/BF02255899.</ref> di mana peroksiredoksin selenoprotein melindungi sel bakteri dan eukariotik terhadap kerusakan oksidatif. Keluarga selenoprotein dari GSH-Px dan deiodinase sel eukariotik tampaknya memiliki asal [[Filogeni|filogenetik]] bakteri. Bentuk yang mengandung selenosisteina terjadi pada spesies yang beragam seperti alga hijau, diatom, bulu babi, ikan, dan ayam. Enzim selenium terlibat dalam molekul pereduksi kecil [[glutationa]] dan [[tioredoksin]]. Satu keluarga molekul pengandung selenium ([[glutationa peroksidase]]) akan menghancurkan peroksida dan memperbaiki membran sel yang rusak akibat terperoksidasi, menggunakan glutationa. Enzim lain yang mengandung selenium pada beberapa tumbuhan dan hewan ([[tioredoksin reduktase]]) menghasilkan tioredoksin tereduksi, sebuah ditiol yang berfungsi sebagai sumber elektron untuk peroksidase dan juga [[ribonukleotida reduktase]] enzim pereduksi penting yang membuat prekursor DNA dari prekursor RNA.<ref>T. C. Stadtman. ''Selenocysteine''. ''Annual Review of Biochemistry''. 1996. Vol. 65 (1). hlm. 83–100. doi:10.1146/annurev.bi.65.070196.000503.</ref>


Sejak sekitar tiga miliar tahun yang lalu, keluarga selenoprotein [[prokariota|prokariotik]] mendorong evolusi selenosisteina, sebuah asam amino. Selenium dimasukkan ke dalam beberapa keluarga selenoprotein prokariotik pada bakteri, arkea, dan eukariota sebagai selenosisteina, di mana peroksiredoksin selenoprotein melindungi sel bakteri dan eukariotik terhadap kerusakan oksidatif. Keluarga selenoprotein dari GSH-Px dan deiodinase sel eukariotik tampaknya memiliki asal [[Filogeni|filogenetik]] bakteri. Bentuk yang mengandung selenosisteina terjadi pada spesies yang beragam seperti alga hijau, diatom, bulu babi, ikan, dan ayam. Enzim selenium terlibat dalam molekul pereduksi kecil [[glutationa]] dan [[tioredoksin]]. Satu keluarga molekul pengandung selenium ([[glutationa peroksidase]]) akan menghancurkan peroksida dan memperbaiki membran sel yang rusak akibat terperoksidasi, menggunakan glutationa. Enzim lain yang mengandung selenium pada beberapa tumbuhan dan hewan ([[tioredoksin reduktase]]) menghasilkan tioredoksin tereduksi, sebuah ditiol yang berfungsi sebagai sumber elektron untuk peroksidase dan juga [[ribonukleotida reduktase]] enzim pereduksi penting yang membuat prekursor DNA dari prekursor RNA.
Unsur nutrien yang terlibat dalam aktivitas enzim GSH-Px dan superoksida dismutase, yaitu selenium, [[vanadium]], [[magnesium]], [[tembaga]], dan [[seng]], mungkin kurang di beberapa daerah yang kekurangan mineral terestrial.<ref>Vadim N. Gladyshev. [https://digitalcommons.unl.edu/biochemgladyshev/77 Selenocysteine-containing proteins in mammals]. ''Journal of Biomedical Science''. 1999. Vol. 6 (3). hlm. 151–160. doi:10.1007/BF02255899.</ref> Organisme laut mempertahankan dan terkadang memperluas selenoproteomnya, sedangkan selenoproteom dari beberapa organisme terestrial akan berkurang atau hilang sama sekali. Temuan ini menunjukkan bahwa, dengan pengecualian [[vertebrata]], kehidupan akuatik mendukung penggunaan selenium, sedangkan habitat darat menyebabkan berkurangnya penggunaan unsur nutrien ini.<ref>Alexey V. Lobanov. ''Evolutionary dynamics of eukaryotic selenoproteomes: large selenoproteomes may associate with aquatic life and small with terrestrial life''. ''Genome Biology''. 2007. Vol. 8 (9). hlm. R198. doi:10.1186/gb-2007-8-9-r198.</ref> Ikan laut dan kelenjar tiroid vertebrata memiliki konsentrasi selenium dan iodin tertinggi. Sejak sekitar 500&nbsp;juta tahun yang lalu, tumbuhan air tawar dan terestrial secara perlahan mengoptimalkan produksi antioksidan endogen "baru" seperti [[asam askorbat]] (vitamin C), [[polifenol]] (termasuk flavonoid), [[tokoferol]], dll. Beberapa di antaranya muncul baru-baru ini, dalam 50–200&nbsp;juta tahun terakhir, dalam buah-buahan dan bunga tumbuhan angiospermae. Faktanya, angiospermae (jenis tumbuhan yang dominan saat ini) dan sebagian besar pigmen antioksidannya berevolusi selama periode [[Jura (zaman)|Jurasik]] akhir.
 
Unsur nutrien yang terlibat dalam aktivitas enzim GSH-Px dan superoksida dismutase, yaitu selenium, [[vanadium]], [[magnesium]], [[tembaga]], dan [[seng]], mungkin kurang di beberapa daerah yang kekurangan mineral terestrial. Organisme laut mempertahankan dan terkadang memperluas selenoproteomnya, sedangkan selenoproteom dari beberapa organisme terestrial akan berkurang atau hilang sama sekali. Temuan ini menunjukkan bahwa, dengan pengecualian [[vertebrata]], kehidupan akuatik mendukung penggunaan selenium, sedangkan habitat darat menyebabkan berkurangnya penggunaan unsur nutrien ini. Ikan laut dan kelenjar tiroid vertebrata memiliki konsentrasi selenium dan iodin tertinggi. Sejak sekitar 500&nbsp;juta tahun yang lalu, tumbuhan air tawar dan terestrial secara perlahan mengoptimalkan produksi antioksidan endogen "baru" seperti [[asam askorbat]] (vitamin C), [[polifenol]] (termasuk flavonoid), [[tokoferol]], dll. Beberapa di antaranya muncul baru-baru ini, dalam 50–200&nbsp;juta tahun terakhir, dalam buah-buahan dan bunga tumbuhan angiospermae. Faktanya, angiospermae (jenis tumbuhan yang dominan saat ini) dan sebagian besar pigmen antioksidannya berevolusi selama periode [[Jura (zaman)|Jurasik]] akhir.


[[Isoenzim]] deiodinase merupakan keluarga lain dari selenoprotein eukariotik dengan fungsi enzim yang teridentifikasi. Deiodinase mampu mengekstraksi elektron dari iodida, dan iodida dari iodotironin. Dengan demikian, mereka terlibat dalam pengaturan hormon tiroid, berpartisipasi dalam perlindungan [[tirosit]] dari kerusakan oleh H<sub>2</sub>O<sub>2</sub> yang diproduksi untuk biosintesis hormon tiroid. Sekitar 200&nbsp;juta tahun lalu, selenoprotein baru dikembangkan sebagai enzim GSH-Px mamalia.
[[Isoenzim]] deiodinase merupakan keluarga lain dari selenoprotein eukariotik dengan fungsi enzim yang teridentifikasi. Deiodinase mampu mengekstraksi elektron dari iodida, dan iodida dari iodotironin. Dengan demikian, mereka terlibat dalam pengaturan hormon tiroid, berpartisipasi dalam perlindungan [[tirosit]] dari kerusakan oleh H<sub>2</sub>O<sub>2</sub> yang diproduksi untuk biosintesis hormon tiroid.<ref>Sebastiano Venturi. [https://www.researchgate.net/publication/234162439 Evolution of Dietary Antioxidant Defences]. ''European EpiMarker''. 2007. Vol. 11 (3). hlm. 1–11.</ref> Sekitar 200&nbsp;juta tahun lalu, selenoprotein baru dikembangkan sebagai enzim GSH-Px mamalia.<ref>Sergi Castellano. ''Reconsidering the evolution of eukaryotic selenoproteins: a novel nonmammalian family with scattered phylogenetic distribution''. ''EMBO Reports''. 2004. Vol. 5 (1). hlm. 71–7. doi:10.1038/sj.embor.7400036.</ref><ref>Gregory V. Kryukov. ''The prokaryotic selenoproteome''. ''EMBO Reports''. 2004. Vol. 5 (5). hlm. 538–43. doi:10.1038/sj.embor.7400126.</ref><ref>R. Wilting. [https://archive.org/details/journal-of-molecular-biology_1997-03-07_266_4/page/637 Selenoprotein synthesis in archaea: identification of an mRNA element of Methanococcus jannaschii probably directing selenocysteine insertion]. ''Journal of Molecular Biology''. 1997. Vol. 266 (4). hlm. 637–41. doi:10.1006/jmbi.1996.0812.</ref><ref>Yan Zhang. ''The microbial selenoproteome of the Sargasso Sea''. ''Genome Biology''. 2005. Vol. 6 (4). hlm. R37. doi:10.1186/gb-2005-6-4-r37.</ref>
===Sumber nutrisi selenium===
===Sumber nutrisi selenium===
Selenium makanan berasal dari daging, kacang-kacangan, sereal, dan jamur. [[Kacang Brasil]] adalah sumber makanan terkaya (meskipun ini bergantung pada tanah, karena kacang Brasil tidak membutuhkan selenium tingkat tinggi untuk kebutuhannya sendiri).
Selenium makanan berasal dari daging, kacang-kacangan, sereal, dan jamur. [[Kacang Brasil]] adalah sumber makanan terkaya (meskipun ini bergantung pada tanah, karena kacang Brasil tidak membutuhkan selenium tingkat tinggi untuk kebutuhannya sendiri).<ref>Margaret N. I. Barclay. ''Selenium content of a range of UK food''. ''Journal of Food Composition and Analysis''. 1995. Vol. 8 (4). hlm. 307–318. doi:10.1006/jfca.1995.1025.</ref><ref>[http://ods.od.nih.gov/factsheets/selenium.asp#h2 Selenium Fact Sheet]. ''ODS.OD.NIH.gov''. The Office of Dietary Supplements, National Institutes of Health. (meliputi daftar makanan kaya selenium)</ref>


[[Asupan Harian Referensi|Angka Kecukupan Gizi]] (AKG) selenium yang direkomendasikan A.S. untuk remaja dan dewasa adalah 55&nbsp;[[Mikrogram|µg]]/hari. Selenium sebagai suplemen makanan tersedia dalam berbagai bentuk, meliputi suplemen multi-vitamin/mineral, yang biasanya mengandung 55&nbsp;atau 70&nbsp;µg/sajian. Suplemen khusus selenium biasanya mengandung 100&nbsp;atau 200&nbsp;µg/sajian.
[[Asupan Harian Referensi|Angka Kecukupan Gizi]] (AKG) selenium yang direkomendasikan A.S. untuk remaja dan dewasa adalah 55&nbsp;[[Mikrogram|µg]]/hari. Selenium sebagai suplemen makanan tersedia dalam berbagai bentuk, meliputi suplemen multi-vitamin/mineral, yang biasanya mengandung 55&nbsp;atau 70&nbsp;µg/sajian. Suplemen khusus selenium biasanya mengandung 100&nbsp;atau 200&nbsp;µg/sajian.


Pada bulan Juni 2015, [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat|Badan Pengawas Obat dan Makanan]] (FDA) A.S. menerbitkan peraturan terakhirnya yang menetapkan persyaratan tingkat minimum dan maksimum selenium dalam [[susu formula]].
Pada bulan Juni 2015, [[Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat|Badan Pengawas Obat dan Makanan]] (FDA) A.S. menerbitkan peraturan terakhirnya yang menetapkan persyaratan tingkat minimum dan maksimum selenium dalam [[susu formula]].<ref>[https://www.fda.gov/Food/NewsEvents/ConstituentUpdates/ucm451982.htm FDA Issues Final Rule to Add Selenium to List of Required Nutrients for Infant Formula]. ''www.fda.gov''.</ref>


Kandungan selenium dalam tubuh manusia dipercaya berada pada kisaran 13–20&nbsp;mg.
Kandungan selenium dalam tubuh manusia dipercaya berada pada kisaran 13–20&nbsp;mg.<ref>A common reference for this is H. A. Schroeder. ''Essential trace metals in man: Selenium''. ''Journal of Chronic Diseases''. 1970. Vol. 23 (4). hlm. 227–43. doi:10.1016/0021-9681(70)90003-2.</ref>
===Spesies tumbuhan indikator===
===Spesies tumbuhan indikator===
Spesies tumbuhan tertentu dianggap sebagai indikator adanya kandungan selenium yang tinggi di tanah karena mereka membutuhkan kadar selenium yang tinggi untuk tumbuh subur. Tumbuhan indikator selenium utama adalah spesies ''[[Astragalus]]'' (termasuk beberapa [[rumput gila]]), ''[[Stanleya (tumbuhan)|Stanleya]]'' sp., aster kayu (''[[Xylorhiza (tumbuhan)|Xylorhiza]]'' sp.), dan ''[[Oonopsis]]'' sp.
Spesies tumbuhan tertentu dianggap sebagai indikator adanya kandungan selenium yang tinggi di tanah karena mereka membutuhkan kadar selenium yang tinggi untuk tumbuh subur. Tumbuhan indikator selenium utama adalah spesies ''[[Astragalus]]'' (termasuk beberapa [[rumput gila]]), ''[[Stanleya (tumbuhan)|Stanleya]]'' sp., aster kayu (''[[Xylorhiza (tumbuhan)|Xylorhiza]]'' sp.), dan ''[[Oonopsis]]'' sp.<ref>T. Zane Davis. [http://www.ars.usda.gov/SP2UserFiles/Place/54282000/PPClassPPSlides/3-27-08DavisSelenium.pdf Selenium in Plants]. 27 Maret 2008. hlm. 8.</ref>
===Deteksi dalam cairan biologis===
===Deteksi dalam cairan biologis===
Selenium dapat diukur dalam darah, plasma, serum, atau urine untuk memantau paparan lingkungan atau pekerjaan yang berlebihan, untuk memastikan diagnosis keracunan pada korban yang dirawat di rumah sakit, atau menyelidiki dugaan kasus overdosis yang fatal. Beberapa teknik analitik mampu membedakan bentuk selenium organik dari anorganik. Bentuk selenium organik dan anorganik sebagian besar diubah menjadi konjugat monosakarida (selenosugar) dalam tubuh sebelum dibuang melalui urine. Pasien kanker yang menerima selenotionina dosis oral setiap hari dapat mencapai konsentrasi selenium plasma dan urine yang sangat tinggi.
Selenium dapat diukur dalam darah, plasma, serum, atau urine untuk memantau paparan lingkungan atau pekerjaan yang berlebihan, untuk memastikan diagnosis keracunan pada korban yang dirawat di rumah sakit, atau menyelidiki dugaan kasus overdosis yang fatal. Beberapa teknik analitik mampu membedakan bentuk selenium organik dari anorganik. Bentuk selenium organik dan anorganik sebagian besar diubah menjadi konjugat monosakarida (selenosugar) dalam tubuh sebelum dibuang melalui urine. Pasien kanker yang menerima selenotionina dosis oral setiap hari dapat mencapai konsentrasi selenium plasma dan urine yang sangat tinggi.<ref>R. Baselt. [https://archive.org/details/dispositionoftox0000base_v7n5 Disposition of Toxic Drugs and Chemicals in Man]. Biomedical Publications. 2008. hlm. [https://archive.org/details/dispositionoftox0000base_v7n5/page/n1435 1416]–1420. ISBN 978-0-9626523-5-6.</ref>
===Toksisitas===
===Toksisitas===
Meskipun selenium merupakan [[Mineral (nutrisi)|unsur nutrien]] yang penting, ia bersifat racun jika dikonsumsi secara berlebihan. Melebihi [[Asupan Referensi Diet#Parameter|Batas Atas Asupan]] sebesar 400 mikrogram per hari dapat menyebabkan selenosis.<ref>[http://ods.od.nih.gov/factsheets/selenium.asp#h7 Dietary Supplement Fact Sheet: Selenium]. National Institutes of Health; Office of Dietary Supplements.</ref> Batas Atas Asupan 400&nbsp;µg ini didasarkan terutama pada penelitian tahun 1986 terhadap lima pasien Tiongkok yang menunjukkan tanda-tanda selenosis yang nyata dan penelitian lanjutan pada lima orang yang sama pada tahun 1992.<ref>Panel on Dietary Antioxidants and Related Compounds, Subcommittees on Upper Reference Levels of Nutrients and Interpretation and Uses of DRIs, Standing Committee on the Scientific Evaluation of Dietary Reference Intakes, Food and Nutrition Board, Institute of Medicine. [http://www.nap.edu/openbook.php?record_id=9810&page=315 Dietary Reference Intakes for Vitamin C, Vitamin E, Selenium, and Carotenoids]. Institute of Medicine. 15 Agustus 2000. hlm. 314–315. doi:10.17226/9810. ISBN 978-0-309-06949-6.</ref> Penelitian tahun 1992 benar-benar menemukan bahwa asupan Se makanan yang paling aman adalah sekitar 800 mikrogram per hari (15 mikrogram per kilogram berat badan), tetapi disarankan 400 mikrogram per hari untuk menghindari ketidakseimbangan nutrisi dalam makanan dan sesuai dengan data dari negara lain.<ref>G. Yang. ''Further Observations on the Human Maximum Safe Dietary Selenium Intake in a Seleniferous Area of China''. ''Journal of Trace Elements and Electrolytes in Health and Disease''. 1994. Vol. 8 (3–4). hlm. 159–165.</ref> Di Tiongkok, orang yang menelan jagung yang tumbuh di batu bara yang kaya selenium ([[batu serpih]] yang mengandung karbon) menderita keracunan selenium. Batu bara ini terbukti memiliki kandungan selenium setinggi 9,1%, konsentrasi tertinggi dalam batu bara yang pernah tercatat.<ref>Guang-Qi Yang. ''Studies on Human Dietary Requirements and Safe Range of Dietary Intakes of Selenium in China and Their Application in the Prevention of Related Endemic Diseases''. ''Biomedical and Environmental Sciences''. 1995. Vol. 8 (3). hlm. 187–201.</ref>


Meskipun selenium merupakan [[Mineral (nutrisi)|unsur nutrien]] yang penting, ia bersifat racun jika dikonsumsi secara berlebihan. Melebihi [[Asupan Referensi Diet#Parameter|Batas Atas Asupan]] sebesar 400 mikrogram per hari dapat menyebabkan selenosis. Batas Atas Asupan 400&nbsp;µg ini didasarkan terutama pada penelitian tahun 1986 terhadap lima pasien Tiongkok yang menunjukkan tanda-tanda selenosis yang nyata dan penelitian lanjutan pada lima orang yang sama pada tahun 1992. Penelitian tahun 1992 benar-benar menemukan bahwa asupan Se makanan yang paling aman adalah sekitar 800 mikrogram per hari (15 mikrogram per kilogram berat badan), tetapi disarankan 400 mikrogram per hari untuk menghindari ketidakseimbangan nutrisi dalam makanan dan sesuai dengan data dari negara lain. Di Tiongkok, orang yang menelan jagung yang tumbuh di batu bara yang kaya selenium ([[batu serpih]] yang mengandung karbon) menderita keracunan selenium. Batu bara ini terbukti memiliki kandungan selenium setinggi 9,1%, konsentrasi tertinggi dalam batu bara yang pernah tercatat.
Tanda dan gejala selenosis meliputi bau bawang putih pada napas, gangguan pencernaan, rambut rontok, [[ganti kulit|pengelupasan]] kuku, kelelahan, mudah tersinggung, dan kerusakan saraf. Kasus ekstrem selenosis dapat menunjukkan [[sirosis]] hati, [[edema paru|edema paru-paru]], atau bahkan kematian.<ref>[http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp92-c3.pdf Public Health Statement: Health Effects]. Agency for Toxic Substances and Disease Registry.</ref> Selenium elemental dan sebagian besar [[selenida]] metalik memiliki toksisitas yang relatif rendah karena [[bioavailabilitas]]nya rendah. Sebaliknya, [[selenat]] dan [[Selenit (ion)|selenit]] memiliki sebuah mode aksi oksidan yang serupa dengan [[arsen trioksida]] dan sangat beracun. Dosis selenit toksik kronis bagi manusia adalah sekitar 2400 hingga 3000 mikrogram selenium per hari.<ref>C. G. Wilber. [https://archive.org/details/sim_clinical-toxicology_1980-09_17_2/page/n18 Toxicology of selenium]. ''Clinical Toxicology''. 1980. Vol. 17 (2). hlm. 171–230. doi:10.3109/15563658008985076.</ref> [[Hidrogen selenida]] adalah sebuah gas korosif yang sangat beracun.<ref>O. E. Olson. ''Selenium Toxicity in Animals with Emphasis on Man''. ''International Journal of Toxicology''. 1986. Vol. 5. hlm. 45–70. doi:10.3109/10915818609140736.</ref> Selenium juga terdapat dalam senyawa organik, seperti dimetil selenida, [[selenometionina]], [[selenosisteina]], dan [[metilselenosisteina]], yang semuanya memiliki bioavailabilitas tinggi dan beracun dalam dosis besar.
 
Tanda dan gejala selenosis meliputi bau bawang putih pada napas, gangguan pencernaan, rambut rontok, [[ganti kulit|pengelupasan]] kuku, kelelahan, mudah tersinggung, dan kerusakan saraf. Kasus ekstrem selenosis dapat menunjukkan [[sirosis]] hati, [[edema paru|edema paru-paru]], atau bahkan kematian. Selenium elemental dan sebagian besar [[selenida]] metalik memiliki toksisitas yang relatif rendah karena [[bioavailabilitas]]nya rendah. Sebaliknya, [[selenat]] dan [[Selenit (ion)|selenit]] memiliki sebuah mode aksi oksidan yang serupa dengan [[arsen trioksida]] dan sangat beracun. Dosis selenit toksik kronis bagi manusia adalah sekitar 2400 hingga 3000 mikrogram selenium per hari. [[Hidrogen selenida]] adalah sebuah gas korosif yang sangat beracun. Selenium juga terdapat dalam senyawa organik, seperti dimetil selenida, [[selenometionina]], [[selenosisteina]], dan [[metilselenosisteina]], yang semuanya memiliki bioavailabilitas tinggi dan beracun dalam dosis besar.
 
Pada 19 April 2009, 21 kuda poni [[polo]] mati sesaat sebelum pertandingan di Polo Terbuka Amerika Serikat. Tiga hari kemudian, sebuah apotek mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa kuda-kuda tersebut telah menerima dosis yang salah dari salah satu bahan yang digunakan dalam senyawa suplemen vitamin/mineral yang telah disiapkan secara tidak benar oleh apotek peracikan. Analisis kadar [[senyawa anorganik]] dalam suplemen tersebut menunjukkan konsentrasi selenium 10 hingga 15 kali lebih tinggi dari kadar normal dalam [[Penyampelan (kedokteran)#Darah|sampel darah]], dan 15 hingga 20 kali lebih tinggi dari kadar normal dalam sampel hati. Selenium kemudian dipastikan sebagai faktor toksik.


Pada 19 April 2009, 21 kuda poni [[polo]] mati sesaat sebelum pertandingan di Polo Terbuka Amerika Serikat. Tiga hari kemudian, sebuah apotek mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa kuda-kuda tersebut telah menerima dosis yang salah dari salah satu bahan yang digunakan dalam senyawa suplemen vitamin/mineral yang telah disiapkan secara tidak benar oleh apotek peracikan. Analisis kadar [[senyawa anorganik]] dalam suplemen tersebut menunjukkan konsentrasi selenium 10 hingga 15 kali lebih tinggi dari kadar normal dalam [[Penyampelan (kedokteran)#Darah|sampel darah]], dan 15 hingga 20 kali lebih tinggi dari kadar normal dalam sampel hati. Selenium kemudian dipastikan sebagai faktor toksik.<ref>[http://www.horsetalk.co.nz/news/2009/05/033.shtml Polo pony selenium levels up to 20 times higher than normal]. 6 Mei 2009.</ref>


Pada ikan dan satwa liar lainnya, selenium diperlukan untuk kehidupan, tetapi beracun dalam dosis tinggi. Untuk ikan [[salmon]], konsentrasi selenium yang optimal adalah sekitar 1 mikrogram selenium per gram berat badan keseluruhan. Jauh di bawah level itu, salmon muda akan mati karena kekurangan; jauh di atas, mereka akan mati karena kelebihan racun.
Pada ikan dan satwa liar lainnya, selenium diperlukan untuk kehidupan, tetapi beracun dalam dosis tinggi. Untuk ikan [[salmon]], konsentrasi selenium yang optimal adalah sekitar 1 mikrogram selenium per gram berat badan keseluruhan. Jauh di bawah level itu, salmon muda akan mati karena kekurangan;<ref>H. A. Poston. [https://archive.org/details/sim_journal-of-nutrition_1976-07_106_7/page/n17 Vitamin E and selenium interrelations in the diet of Atlantic salmon (''Salmo salar''): gross, histological and biochemical signs]. ''Journal of Nutrition''. 1976. Vol. 106 (7). hlm. 892–904. doi:10.1093/jn/106.7.892.</ref> jauh di atas, mereka akan mati karena kelebihan racun.<ref>Steven J. Hamilton. [https://archive.org/details/sim_environmental-toxicology-and-chemistry_1990_9_3/page/347 Toxicity of organic selenium in the diet to chinook salmon]. ''Environ. Toxicol. Chem''. 1990. Vol. 9 (3). hlm. 347–358. doi:10.1002/etc.5620090310.</ref>


[[Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja]] (OSHA) telah menetapkan batas legal ([[batas paparan diizinkan|batas paparan yang diizinkan]]) untuk selenium di tempat kerja sebesar 0,2&nbsp;mg/m<sup>3</sup> selama 8&nbsp;jam hari kerja. [[Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja]] (NIOSH) telah menetapkan [[batas paparan direkomendasikan|batas paparan yang direkomendasikan]] (REL) sebesar 0,2&nbsp;mg/m<sup>3</sup> selama 8&nbsp;jam hari kerja. Pada kadar 1&nbsp;mg/m<sup>3</sup>, selenium [[IDLH|langsung berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan]].
[[Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja]] (OSHA) telah menetapkan batas legal ([[batas paparan diizinkan|batas paparan yang diizinkan]]) untuk selenium di tempat kerja sebesar 0,2&nbsp;mg/m<sup>3</sup> selama 8&nbsp;jam hari kerja. [[Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja]] (NIOSH) telah menetapkan [[batas paparan direkomendasikan|batas paparan yang direkomendasikan]] (REL) sebesar 0,2&nbsp;mg/m<sup>3</sup> selama 8&nbsp;jam hari kerja. Pada kadar 1&nbsp;mg/m<sup>3</sup>, selenium [[IDLH|langsung berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan]].<ref>[https://www.cdc.gov/niosh/npg/npgd0550.html CDC – NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards – Selenium]. ''www.cdc.gov''.</ref>
===Kekurangan selenium===
===Kekurangan selenium===
Kekurangan selenium dapat terjadi pada pasien dengan fungsi [[Saluran pencernaan#Saluran pencernaan bagian bawah|pencernaan]] yang sangat terganggu, mereka yang menjalani [[Nutrisi parenteral|nutrisi parenteral total]], dan<ref>G. Ravaglia. [https://archive.org/details/sim_american-journal-of-clinical-nutrition_2000-02_71_2/page/590 Effect of micronutrient status on natural killer cell immune function in healthy free-living subjects aged ≥90 y]. ''American Journal of Clinical Nutrition''. 2000. Vol. 71 (2). hlm. 590–598. doi:10.1093/ajcn/71.2.590.</ref> pada mereka yang berusia lanjut (di atas 90). Juga, orang yang bergantung pada makanan yang tumbuh dari tanah yang kekurangan selenium juga berisiko. Meskipun tanah [[Selandia Baru]] memiliki tingkat selenium yang rendah, efek kesehatan yang merugikan belum terdeteksi pada penduduknya.<ref>MedSafe Editorial Team. [http://www.medsafe.govt.nz/Profs/PUarticles/Sel.htm Selenium]. ''Prescriber Update Articles''. New Zealand Medicines and Medical Devices Safety Authority.</ref>


Kekurangan selenium dapat terjadi pada pasien dengan fungsi [[Saluran pencernaan#Saluran pencernaan bagian bawah|pencernaan]] yang sangat terganggu, mereka yang menjalani [[Nutrisi parenteral|nutrisi parenteral total]], dan pada mereka yang berusia lanjut (di atas 90). Juga, orang yang bergantung pada makanan yang tumbuh dari tanah yang kekurangan selenium juga berisiko. Meskipun tanah [[Selandia Baru]] memiliki tingkat selenium yang rendah, efek kesehatan yang merugikan belum terdeteksi pada penduduknya.
Kekurangan selenium, yang ditentukan oleh tingkat aktivitas selenoenzim yang rendah (<60% dari normal) di otak dan jaringan endokrin, terjadi hanya ketika tingkat selenium yang rendah dikaitkan dengan stres tambahan, seperti paparan [[raksa]] yang tinggi<ref>N. V. C. Ralston. ''Dietary selenium's protective effects against methylmercury toxicity''. ''Toxicology''. 2010. Vol. 278 (1). hlm. 112–123. doi:10.1016/j.tox.2010.06.004.</ref> atau peningkatan stres oksidan akibat kekurangan vitamin E.<ref>Jim Mann. [https://archive.org/details/essentialsofhuma0000unse_d8k8 Essentials of Human Nutrition]. Oxford University Press. 2002. ISBN 978-0-19-262756-8.</ref>
 
Kekurangan selenium, yang ditentukan oleh tingkat aktivitas selenoenzim yang rendah (<60% dari normal) di otak dan jaringan endokrin, terjadi hanya ketika tingkat selenium yang rendah dikaitkan dengan stres tambahan, seperti paparan [[raksa]] yang tinggi atau peningkatan stres oksidan akibat kekurangan vitamin E.


Selenium berinteraksi dengan nutrisi lain, seperti [[iodin]] dan [[vitamin E]]. Efek kekurangan selenium pada kesehatan masih belum jelas, terutama terkait dengan [[penyakit Kashin–Beck]]. Selenium juga berinteraksi dengan mineral lain, seperti [[seng]] dan [[tembaga]]. Suplemen selenium dosis tinggi pada hewan hamil dapat mengganggu rasio seng:tembaga dan menyebabkan pengurangan seng; dalam kasus perawatan seperti itu, kadar seng harus dipantau. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi interaksi ini.
Selenium berinteraksi dengan nutrisi lain, seperti [[iodin]] dan [[vitamin E]]. Efek kekurangan selenium pada kesehatan masih belum jelas, terutama terkait dengan [[penyakit Kashin–Beck]].<ref>R. Moreno-Reyes. [https://archive.org/details/sim_american-journal-of-clinical-nutrition_2003-07_78_1/page/n144 Selenium and iodine supplementation of rural Tibetan children affected by Kashin-Beck osteoarthropathy]. ''American Journal of Clinical Nutrition''. 2003. Vol. 78 (1). hlm. 137–144. doi:10.1093/ajcn/78.1.137.</ref> Selenium juga berinteraksi dengan mineral lain, seperti [[seng]] dan [[tembaga]]. Suplemen selenium dosis tinggi pada hewan hamil dapat mengganggu rasio seng:tembaga dan menyebabkan pengurangan seng; dalam kasus perawatan seperti itu, kadar seng harus dipantau. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi interaksi ini.<ref>R. Kachuee. ''The effect of dietary organic and inorganic selenium supplementation on serum Se, Cu, Fe and Zn status during the late pregnancy in Merghoz goats and their kids''. ''Small Ruminant Research''. 2013. Vol. 110 (1). hlm. 20–27. doi:10.1016/j.smallrumres.2012.08.010.</ref>


Di beberapa daerah (misalnya berbagai daerah di Amerika Utara) di mana tingkat tanah selenium yang rendah akan menyebabkan konsentrasi rendah pada tumbuhan, beberapa spesies hewan mungkin akan kekurangan selenium kecuali selenium disuplementasi melalui makanan atau suntikan. [[Hewan pemamah biak|Ruminansia]] sangat rentan terhadap hal ini. Secara umum, penyerapan selenium makanan lebih rendah pada ruminansia daripada hewan lain, dan lebih rendah dari hijauan daripada dari biji-bijian. Ruminansia yang merumput hijauan tertentu, misalnya, beberapa varietas [[Trifolium repens|semanggi putih]] yang mengandung [[Glikosida#Glikosida sianogenik|glikosida sianogenik]], mungkin memiliki kebutuhan selenium yang lebih tinggi, mungkin karena sianida dilepaskan dari [[aglikona]] oleh aktivitas [[glukosidase]] dalam rumen dan glutationa peroksidase dinonaktifkan oleh sianida yang bekerja pada [[Moitas (kimia)|moitas]] glutationa. Neonatus ruminansia yang berisiko terkena [[Distrofi otot nutrisi|penyakit otot putih]] dapat diberi selenium dan vitamin E melalui suntikan; beberapa [[miopati]] WMD hanya merespons selenium, beberapa hanya vitamin E, dan beberapa keduanya.
Di beberapa daerah (misalnya berbagai daerah di Amerika Utara) di mana tingkat tanah selenium yang rendah akan menyebabkan konsentrasi rendah pada tumbuhan, beberapa spesies hewan mungkin akan kekurangan selenium kecuali selenium disuplementasi melalui makanan atau suntikan.<ref>National Research Council, Subcommittee on Sheep Nutrition (1985). ''Nutrient requirements of sheep''. Edisi ke-6, National Academy Press, Washington, .</ref> [[Hewan pemamah biak|Ruminansia]] sangat rentan terhadap hal ini. Secara umum, penyerapan selenium makanan lebih rendah pada ruminansia daripada hewan lain, dan lebih rendah dari hijauan daripada dari biji-bijian.<ref>National Research Council, Committee on Nutrient Requirements of Small Ruminants (2007). ''Nutrient requirements of small ruminants''. National Academies Press, Washington, .</ref> Ruminansia yang merumput hijauan tertentu, misalnya, beberapa varietas [[Trifolium repens|semanggi putih]] yang mengandung [[Glikosida#Glikosida sianogenik|glikosida sianogenik]], mungkin memiliki kebutuhan selenium yang lebih tinggi,<ref>National Research Council, Committee on Nutrient Requirements of Small Ruminants (2007). ''Nutrient requirements of small ruminants''. National Academies Press, Washington, .</ref> mungkin karena sianida dilepaskan dari [[aglikona]] oleh aktivitas [[glukosidase]] dalam rumen<ref>I. E. Coop. ''The metabolism and toxicity of cyanides and cyanogenic glycosides in sheep''. ''N. Z. J. Sci. Technol''. 1949. Vol. 30. hlm. 277–291.</ref> dan glutationa peroksidase dinonaktifkan oleh sianida yang bekerja pada [[Moitas (kimia)|moitas]] glutationa.<ref>R. J. Kraus. ''Oxidized forms of ovine erythrocyte glutathione peroxidase. Cyanide inhibition of 4-glutathione:4-selenoenzyme''. ''Biochim. Biophys. Acta''. 1980. Vol. 615 (1). hlm. 19–26. doi:10.1016/0005-2744(80)90004-2.</ref> Neonatus ruminansia yang berisiko terkena [[Distrofi otot nutrisi|penyakit otot putih]] dapat diberi selenium dan vitamin E melalui suntikan; beberapa [[miopati]] WMD hanya merespons selenium, beberapa hanya vitamin E, dan beberapa keduanya.<ref>Kahn, C. M. (ed.) (2005). ''Merck veterinary manual''. Edisi ke-9. Merck & Co., Inc., Whitehouse Station, .</ref>
===Efek kesehatan===
===Efek kesehatan===
Efek asupan selenium pada kanker telah dipelajari dalam beberapa [[uji klinis]] dan penelitian [[epidemiologi]]s pada manusia. Selenium mungkin memiliki peran [[Kemoterapi|kemopreventif]] dalam risiko [[kanker]] sebagai sebuah [[antioksidan]], dan mungkin memicu respon imun. Pada tingkat rendah, ia digunakan dalam tubuh untuk membuat [[selenoprotein]] antioksidan, pada dosis yang lebih tinggi dari biasanya menyebabkan kematian sel.<ref>Ali Razaghi. [https://www.ejcancer.com/article/S0959-8049(21)00462-7/abstract Selenium stimulates the antitumour immunity: Insights to future research]. ''European Journal of Cancer''. 1 September 2021. Vol. 155. hlm. 256–267. doi:10.1016/j.ejca.2021.07.013.</ref>


Efek asupan selenium pada kanker telah dipelajari dalam beberapa [[uji klinis]] dan penelitian [[epidemiologi]]s pada manusia. Selenium mungkin memiliki peran [[Kemoterapi|kemopreventif]] dalam risiko [[kanker]] sebagai sebuah [[antioksidan]], dan mungkin memicu respon imun. Pada tingkat rendah, ia digunakan dalam tubuh untuk membuat [[selenoprotein]] antioksidan, pada dosis yang lebih tinggi dari biasanya menyebabkan kematian sel.
Selenium (dalam keterkaitan erat dengan [[iodin]]) berperan dalam kesehatan tiroid. Selenium adalah kofaktor untuk tiga [[deiodinase]] hormon tiroid, membantu mengaktifkan dan kemudian menonaktifkan berbagai hormon tiroid dan metabolitnya. Kekurangan selenium terisolasi sekarang sedang diselidiki karena perannya dalam reaksi autoimun induksi pada kelenjar tiroid pada [[Tiroiditis Hashimoto|penyakit Hashimoto]].<ref>Rahim Rostami. ''Serum Selenium Status and Its Interrelationship with Serum Biomarkers of Thyroid Function and Antioxidant Defense in Hashimoto's Thyroiditis''. ''Antioxidants''. 31 Oktober 2020. Vol. 9 (11). hlm. E1070. doi:10.3390/antiox9111070.</ref> Namun, dalam kasus kekurangan iodin dan selenium gabungan, kekurangan selenium terbukti berperan dalam melindungi tiroid.<ref>J. B. Vanderpas. [https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8427203/ Selenium deficiency mitigates hypothyroxinemia in iodine-deficient subjects]. ''The American Journal of Clinical Nutrition''. Februari 1993. Vol. 57 (2 Suppl). hlm. 271S–275S. doi:10.1093/ajcn/57.2.271S.</ref>
 
Selenium (dalam keterkaitan erat dengan [[iodin]]) berperan dalam kesehatan tiroid. Selenium adalah kofaktor untuk tiga [[deiodinase]] hormon tiroid, membantu mengaktifkan dan kemudian menonaktifkan berbagai hormon tiroid dan metabolitnya. Kekurangan selenium terisolasi sekarang sedang diselidiki karena perannya dalam reaksi autoimun induksi pada kelenjar tiroid pada [[Tiroiditis Hashimoto|penyakit Hashimoto]]. Namun, dalam kasus kekurangan iodin dan selenium gabungan, kekurangan selenium terbukti berperan dalam melindungi tiroid.
==Lihat pula==
==Lihat pula==
* [[Kelimpahan unsur di kerak Bumi|Kelimpahan unsur kimia di kerak Bumi]]
* [[Kelimpahan unsur di kerak Bumi|Kelimpahan unsur kimia di kerak Bumi]]
* [[Antioksidan|ACES (suplemen nutrisi)]]
* [[Antioksidan|ACES (suplemen nutrisi)]]
* [[Khamir selenium]]
* [[Khamir selenium]]
==Catatan==
==Catatan==
==Referensi==
==Pranala luar==
==Pranala luar==
*  [http://www.periodicvideos.com/videos/034.htm Selenium] di ''[[The Periodic Table of Videos]]'' (Universitas Nottingham)
*  [http://www.periodicvideos.com/videos/034.htm Selenium] di ''[[The Periodic Table of Videos]]'' (Universitas Nottingham)
*  [http://ods.od.nih.gov/factsheets/selenium.asp National Institutes of Health page on Selenium]
*  [http://ods.od.nih.gov/factsheets/selenium.asp National Institutes of Health page on Selenium]
*  [http://www.sas-centre.org/assays/trace_metals/selenium.html Assay]
*  [http://www.sas-centre.org/assays/trace_metals/selenium.html Assay]  
*  [http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp92.html ATSDR&nbsp;– Toxicological Profile: Selenium]
*  [http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp92.html ATSDR&nbsp;– Toxicological Profile: Selenium]
*  [https://www.cdc.gov/niosh/npg/npgd0550.html CDC – NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards]
*  [https://www.cdc.gov/niosh/npg/npgd0550.html CDC – NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards]
*  [http://elements.vanderkrogt.net/element.php?sym=Se Peter van der Krogt elements site]
*  [http://elements.vanderkrogt.net/element.php?sym=Se Peter van der Krogt elements site]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selenium&oldid=29455970 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29455970 (2026-07-14T04:32:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Selenium&oldid=29455970 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29455970 (2026-07-14T04:32:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 22.55

SeBlackRed

Selenium adalah sebuah unsur kimia dengan lambang Se dan nomor atom 34. Ia merupakan sebuah unsur nonlogam (lebih jarang dianggap sebagai metaloid) dengan sifat-sifat perantara antara unsur-unsur di atas dan di bawahnya dalam tabel periodik, belerang dan telurium, dan juga memiliki kemiripan dengan arsen. Ia jarang terjadi dalam keadaan elementalnya atau sebagai senyawa bijih murni di kerak Bumi. Selenium () ditemukan pada tahun 1817 oleh Jöns J. Berzelius, yang mencatat kemiripan unsur baru tersebut dengan telurium yang ditemukan sebelumnya (dinamai dari Bumi).

Selenium ditemukan dalam bijih logam sulfida, di mana ia sebagian menggantikan belerang. Secara komersial, selenium diproduksi sebagai produk sampingan dalam pemurnian bijih-bijih ini, paling sering selama produksi. Mineral yang merupakan senyawa selenida atau selenat murni telah diketahui tetapi langka. Penggunaan komersial utama untuk selenium saat ini adalah pembuatan kaca dan pigmen. Selenium adalah sebuah semikonduktor dan digunakan dalam fotosel. Aplikasinya dalam elektronika, dulunya penting, tetapi saat ini sebagian besar telah diganti dengan perangkat semikonduktor silikon. Selenium masih digunakan dalam beberapa jenis pelindung lonjakan daya DC dan satu jenis quantum dot fluoresen.

Meskipun selenium dalam jumlah kecil diperlukan untuk fungsi seluler pada banyak hewan, termasuk manusia, selenium elemental dan (terutama) garam selenium bersifat racun bahkan dalam dosis kecil, menyebabkan selenosis. Selenium terdaftar sebagai bahan dalam banyak multivitamin dan suplemen makanan lainnya, serta dalam susu formula bayi, dan merupakan komponen enzim antioksidan glutationa peroksidase dan tioredoksin reduktase (yang secara tidak langsung mengurangi molekul teroksidasi tertentu pada hewan dan beberapa tumbuhan) serta dalam 3 enzim deiodinase. Kebutuhan selenium pada tumbuhan berbeda menurut spesies, dengan beberapa tumbuhan membutuhkan jumlah yang relatif besar dan yang lainnya tampaknya tidak membutuhkannya.[1]

Karakteristik

Sifat fisik

Selenium membentuk beberapa alotrop yang berinterkonversi dengan perubahan suhu, agak bergantung pada laju perubahan suhu. Ketika disiapkan dalam reaksi kimia, selenium biasanya berupa bubuk amorf berwarna merah bata. Ketika melebur dengan cepat, ia akan membentuk bentuk seperti kaca berwarna hitam, biasanya dijual secara komersial sebagai manik-manik.[2] Struktur selenium hitam tidaklah teratur dan kompleks serta terdiri dari cincin polimer dengan hingga 1000 atom per cincin. Se hitam adalah padatan rapuh dan berkilau yang sedikit larut dalam CS2. Saat dipanaskan, ia akan melunak pada suhu 50 °C dan berubah menjadi selenium abu-abu pada suhu 180 °C; suhu transformasinya akan berkurang dengan adanya halogen dan amina.[3]

Bentuk α, β, dan γ merah dihasilkan dari larutan selenium hitam dengan memvariasikan laju penguapan pelarut (biasanya CS2). Mereka semua memiliki simetri kristal monoklinik yang relatif rendah (grup ruang 14) dan mengandung cincin siklooktaselenium (Se8) berkerut yang hampir identik dengan susunan geometris yang berbeda, seperti pada belerang.[4] Delapan atom dari cincin tersebut tidaklah setara (yaitu mereka tidak dipetakan satu sama lain oleh operasi simetri apa pun), dan sebenarnya dalam bentuk γ-monoklinik, setengah dari cincin tersebut berada dalam satu konfigurasi (dan bayangan cerminnya) dan setengah lagi dalam konfigurasi lainnya.[5][6] Pengepakan paling padat dalam bentuk α. Pada cincin Se8, jarak Se-Se bervariasi tergantung di mana pasangan atom berada di dalam cincin, tetapi rata-ratanya adalah 233,5 pm, dan sudut Se-Se-Se berada pada rata-rata 105,7°. Alotrop selenium lainnya mungkin mengandung cincin Se6 atau Se7.[7]

Bentuk selenium yang paling stabil dan padat adalah bentuk abu-abu dan memiliki kisi kristal heksagon kiral (grup ruang 152 atau 154 tergantung pada kiralitas)[8] yang terdiri dari rantai polimer heliks, dimana jarak Se-Se adalah 237,3 pm dan sudut Se-Se-Se adalah 103,1° . Jarak minimum antar rantai adalah 343,6 pm. Se abu-abu dibentuk melalui pemanasan ringan alotrop lainnya, dengan pendinginan Se cair secara lambat, atau dengan mengembunkan uap Se tepat di bawah titik leburnya. Walaupun bentuk Se lainnya merupakan insulator, Se abu-abu adalah semikonduktor yang menunjukkan fotokonduktivitas yang cukup besar. Berbeda dengan alotrop lainnya, ia tidak larut dalam CS2.[9] Ia akan menolak oksidasi melalui udara dan tidak akan diserang oleh asam nonoksidator. Dengan agen pereduksi yang kuat, ia membentuk poliselenida. Selenium tidak menunjukkan perubahan viskositas yang dialami belerang ketika dipanaskan secara bertahap.[10][11]

Isotop

Selenium memiliki tujuh isotop alami. Lima di antaranya, 74Se, 76Se, 77Se, 78Se, 80Se, bersifat stabil, dengan 80Se menjadi yang paling melimpah (49,6% kelimpahan alami). Yang juga terjadi secara alami adalah radionuklida primordial 82Se, dengan waktu paruh 9,2×1019 tahun. Radioisotop nonprimordial 79Se juga terdapat dalam jumlah kecil dalam bijih uranium sebagai produk fisi nuklir. Selenium juga memiliki banyak isotop sintetis yang tidak stabil mulai dari 64Se hingga 95Se; yang paling stabil adalah 75Se dengan waktu paruh 119,78 hari dan 72Se dengan waktu paruh 8,4 hari. Isotop yang lebih ringan dari isotop stabil mengalami peluruhan beta plus menjadi isotop arsen, dan isotop yang lebih berat daripada isotop stabil mengalami peluruhan beta minus menjadi isotop bromin, dengan beberapa cabang emisi neutron kecil dalam isotop terberat yang diketahui.

Isotop selenium dengan stabilitas terbesar
Isotop Kealamian Asal Waktu paruh
74Se Primordial Stabil
76Se Primordial Stabil
77Se Primordial Produk fisi Stabil
78Se Primordial Produk fisi Stabil
79Se Renik Produk fisi tahun[12][13]
80Se Primordial Produk fisi Stabil
82Se Primordial Produk fisi* ~1020 tahun

Senyawa

Senyawa selenium umumnya eksis pada keadaan oksidasi −2, +2, +4, dan +6.

Senyawa kalkogen

Selenium membentuk dua oksida: selenium dioksida (SeO2) dan selenium trioksida (SeO3). Selenium dioksida dibentuk melalui reaksi selenium elemental dengan oksigen:[14]

SeA8+8OA28SeOA2

Ia adalah padatan polimer yang membentuk molekul SeO2 monomer dalam fase gas. Ia akan larut dalam air untuk membentuk asam selenit, H2SeO3. Asam selenit juga dapat dibuat langsung melalui oksidasi selenium elemental dengan asam nitrat:[15]

3Se+4HNOA3+HA2O3HA2SeOA3+4NO

Tidak seperti belerang, yang dapat membentuk trioksida yang stabil, selenium trioksida tidak stabil secara termodinamika dan akan terurai menjadi selenium dioksida di atas suhu 185 °C:[16][17]

2SeOA32SeOA2+OA2 (ΔH = −54 kJ/mol)

Selenium trioksida diproduksi di laboratorium melalui reaksi belerang trioksida (SO3) dan kalium selenat (K2SeO4) anhidrat.[18]

Garam asam selenit disebut selenit. Contohnya adalah perak selenit (Ag2SeO3) dan natrium selenit (Na2SeO3).

Hidrogen sulfida bereaksi dengan asam selenit encer untuk menghasilkan selenium disulfida:

HA2SeOA3+2HA2SSeSA2+3HA2O

Selenium disulfida terdiri dari cincin beranggota-8. Ia memiliki komposisi perkiraan SeS2, dengan cincin individual bervariasi dalam komposisi, seperti Se4S4 dan Se2S6. Selenium disulfida telah digunakan dalam sampo sebagai agen antiketombe, penghambat dalam kimia polimer, pewarna kaca, dan agen pereduksi dalam kembang api.[19]

Selenium trioksida dapat disintesis dengan mendehidrasi asam selenat, H2SeO4, yang dihasilkan dari oksidasi selenium dioksida dengan hidrogen peroksida:[20]

SeOA2+HA2OA2HA2SeOA4

Asam selenat pekat yang panas dapat bereaksi dengan emas untuk membentuk emas(III) selenat (Au2(SeO4)3).[21]

Senyawa halogen

Iodida selenium tidak dikenal dengan baik. Satu-satunya klorida yang stabil adalah selenium monoklorida (Se2Cl2), yang mungkin lebih dikenal sebagai selenium(I) klorida; bromida yang sesuai juga diketahui. Spesies ini secara struktural analog dengan disulfur diklorida yang sesuai. Selenium diklorida adalah reagen penting dalam pembuatan senyawa selenium (misalnya pembuatan Se7). Ia dibuat dengan mencampur selenium dengan sulfuril klorida (SO2Cl2).[22] Selenium akan bereaksi dengan fluorin untuk membentuk selenium heksafluorida:

SeA8+24FA28SeFA6

Dibandingkan dengan rekan belerangnya (belerang heksafluorida), selenium heksafluorida (SeF6) lebih reaktif dan merupakan iritan paru-paru yang beracun.[23] Beberapa selenium oksihalida, seperti seleninil fluorida (SeOF2) dan selenium oksiklorida (SeOCl2) telah digunakan sebagai pelarut khusus.[24]

Selenida

Serupa dengan perilaku kalkogen lainnya, selenium membentuk hidrogen selenida, H2Se. Ia adalah gas yang sangat berbau, beracun, dan tidak berwarna. Ia lebih asam daripada hidrogen sulfida, H2S. Dalam larutan, ia akan terionisasi menjadi HSe. Dianion selenida Se2− membentuk berbagai senyawa, termasuk mineral dari mana selenium diperoleh secara komersial. Selenida ilustrasif meliputi raksa selenida (HgSe), timbal selenida (PbSe), seng selenida (ZnSe), dan tembaga indium galium diselenida (Cu(Ga,In)Se2). Bahan-bahan ini adalah semikonduktor. Dengan logam yang sangat elektropositif, seperti aluminium, selenida-selenida ini rentan terhadap hidrolisis:[25]

AlA2SeA3+3HA2OAlA2OA3+3HA2Se

Selenida logam alkali akan bereaksi dengan selenium untuk membentuk poliselenida, , yang eksis sebagai rantai.

Senyawa lainnya

Tetraselenium tetranitrida, Se4N4, adalah sebuah senyawa berwarna oranye eksplosif yang analog dengan tetrasulfur tetranitrida (S4N4).[26][27][28] Ia dapat disintesis melalui reaksi selenium tetraklorida (SeCl4) dengan Logam bis(trimetilsilil)amida.[29]

Selenium akan bereaksi dengan sianida untuk menghasilkan selenosianat:[30]

8KCN+SeA88KSeCN

Senyawa organoselenium

Selenium, terutama dalam keadaan oksidasi II, membentuk ikatan stabil dengan karbon, yang secara struktural analog dengan senyawa organobelerang yang sesuai. Yang paling umum adalah selenida (R2Se, analog tioeter), diselenida (R2Se2, analog disulfida), dan selenol (RSeH, analog tiol). Perwakilan selenida, diselenida, dan selenol masing-masing meliputi selenometionina, difenildiselenida, dan benzenaselenol. Sulfoksida dalam kimia belerang diwakili oleh selenoksida (rumus RSe(O)R) dalam kimia selenium, yang merupakan zat antara dalam sintesis organik, seperti yang diilustrasikan melalui reaksi eliminasi selenoksida. Konsisten dengan tren yang ditunjukkan oleh aturan ikatan ganda, selenoketon, R(C=Se)R, dan selenaldehida, R(C=Se)H, jarang teramati.[31]

Sejarah

Selenium (bahasa Yunani: σελήνη selene berarti "Bulan") ditemukan pada tahun 1817 oleh Jöns J. Berzelius dan Johan G. Gahn.[32] Kedua kimiawan tersebut memiliki pabrik kimia di dekat Gripsholm, Swedia, yang memroduksi asam sulfat melalui proses kamar timbal. Pirit dari Tambang Falun menciptakan endapan merah di kamar timbal yang dianggap sebagai senyawa arsen, sehingga penggunaan pirit untuk membuat asam dihentikan. Berzelius dan Gahn ingin menggunakan pirit dan mereka juga mengamati bahwa endapan merah mengeluarkan bau seperti lobak pedas saat dibakar. Bau ini tidak khas untuk arsen, tetapi bau serupa diketahui dari senyawa telurium. Oleh karena itu, surat pertama Berzelius kepada Alexander Marcet menyatakan bahwa ini adalah senyawa telurium. Namun, kurangnya senyawa telurium dalam mineral Tambang Falun akhirnya membuat Berzelius menganalisis ulang endapan merah tersebut, dan pada tahun 1818 dia menulis surat kedua kepada Marcet yang menjelaskan unsur yang baru ditemukan itu mirip dengan belerang dan telurium. Karena kemiripannya dengan telurium, yang dinamai dari Bumi, Berzelius menamai unsur baru itu dari Bulan.[33][34]

Pada tahun 1873, Willoughby Smith menemukan bahwa hambatan listrik dari selenium abu-abu bergantung pada cahaya sekitar.[35][36] Hal ini menyebabkan penggunaannya sebagai sel untuk menyensor cahaya. Produk komersial pertama yang menggunakan selenium dikembangkan oleh Werner Siemens pada pertengahan tahun 1870-an. Sel selenium digunakan dalam fotofon yang dikembangkan oleh Alexander G. Bell pada tahun 1879. Selenium mentransmisikan arus listrik sebanding dengan jumlah cahaya yang jatuh di permukaannya. Fenomena ini digunakan dalam desain pengukur cahaya dan perangkat serupa. Sifat semikonduktor selenium memiliki banyak aplikasi lain dalam elektronika.[37][38][39] Pengembangan penyearah selenium dimulai pada awal 1930-an, dan mereka menggantikan penyearah tembaga oksida karena mereka lebih efisien.[40][41][42] Mereka bertahan dalam aplikasi komersial hingga tahun 1970-an, setelah mereka diganti dengan penyearah silikon yang lebih murah dan bahkan lebih efisien.

Selenium kemudian menjadi perhatian medis karena toksisitasnya terhadap pekerja industri. Selenium juga diakui sebagai toksin hewan yang penting, yang terlihat pada hewan yang memakan tumbuhan tinggi selenium. Pada tahun 1954, petunjuk pertama tentang fungsi biologis spesifik dari selenium ditemukan pada mikroorganisme oleh ahli biokimia Jane Pinsent.[43][44] Ia ditemukan penting untuk kehidupan mamalia pada tahun 1957.[45][46] Pada tahun 1970-an, ia terbukti hadir dalam dua set enzim independen. Ini diikuti oleh penemuan selenosisteina dalam protein. Selama tahun 1980-an, selenosisteina terbukti dikodekan oleh kodon UGA. Mekanisme pengodean ulang pertama kali dilakukan pada bakteri dan kemudian pada mamalia (lihat unsur SECIS).[47]

Keterjadian

Selenium asli (elemental) adalah sebuah mineral langka, yang biasanya tidak membentuk kristal yang baik, tetapi, jika terbentuk, mereka berstruktur rombohedra curam atau kristal berbentuk seperti jarum (seperti rambut) kecil.[48] Isolasi selenium sering kali dipersulit oleh adanya senyawa dan unsur lain.

Selenium terjadi secara alami dalam sejumlah bentuk anorganik, meliputi selenida, selenat, dan selenit, tetapi mineral ini jarang ditemukan. Mineral selenit yang umum bukanlah mineral selenium, dan tidak mengandung ion selenit, melainkan sejenis gipsum (kalsium sulfat hidrat) yang dinamai dari Bulan seperti selenium, jauh sebelum penemuan selenium. Selenium paling sering ditemukan sebagai pengotor, menggantikan sebagian kecil belerang dalam bijih sulfida dari banyak logam.[49][50]

Dalam sistem kehidupan, selenium ditemukan dalam asam amino selenometionina, selenosisteina, dan metilselenosisteina. Dalam senyawa ini, selenium memainkan peran yang analog dengan belerang. Senyawa organoselenium alami lainnya adalah dimetil selenida.[51][52]

Tanah tertentu kaya akan selenium, dan selenium dapat dibiokonsentrasikan oleh beberapa tumbuhan. Di tanah, selenium paling sering terjadi dalam bentuk larut seperti selenat (analog dengan sulfat), yang sangat mudah larut ke sungai oleh limpasan.[53][54] Air laut mengandung selenium dalam jumlah yang signifikan.[55][56]

Konsentrasi latar belakang khas selenium tidak melebihi 1 ng/m3 di atmosfer; 1 mg/kg di tanah dan tumbuh-tumbuhan, dan 0,5 μg/L di air tawar dan air laut.[57]

Sumber antropogenik selenium meliputi pembakaran batu bara, serta penambangan dan peleburan bijih sulfida.[58]

Produksi

Selenium paling sering diproduksi dari selenida di banyak bijih sulfida, seperti tembaga, nikel, atau timbal. Pemurnian logam elektrolitis sangatlah produktif selenium sebagai produk sampingan, diperoleh dari lumpur anoda kilang tembaga. Sumber lainnya adalah lumpur dari kamar timbal pabrik asam sulfat, sebuah proses yang tidak lagi digunakan. Selenium dapat disuling dari lumpur ini melalui sejumlah metode. Namun, sebagian besar selenium elemental hadir sebagai produk sampingan dari pemurnian tembaga atau produksi asam sulfat.[59][60] Sejak penemuannya, produksi tembaga melalui ekstraksi pelarut dan elektrodeposisi (SX/EW) telah meningkatkan pasokan tembaga di seluruh dunia.[61] Ini telah mengubah ketersediaan selenium, karena hanya sebagian kecil selenium dalam bijih yang terlindi dengan tembaga.[62]

Produksi industri selenium biasanya melibatkan ekstraksi selenium dioksida dari residu yang diperoleh selama pemurnian tembaga. Produksi umum dari residu tersebut kemudian dimulai dengan oksidasi dengan natrium karbonat untuk menghasilkan selenium dioksida, yang dicampur dengan air dan diasamkan untuk membentuk asam selenit (tahap oksidasi). Asam selenit kemudian digelembungkan dengan belerang dioksida (tahap reduksi) untuk menghasilkan selenium elemental.[63][64]

Sekitar 2.000 ton selenium diproduksi pada tahun 2011 di seluruh dunia, sebagian besar di Jerman (650 t), Jepang (630 t), Belgia (200 t), dan Rusia (140 t), dan total cadangan selenium diperkirakan mencapai 93.000 ton. Data ini mengecualikan dua produsen utama: Amerika Serikat dan Tiongkok. Kenaikan tajam sebelumnya diamati pada tahun 2004 dari AS$4–AS$5 menjadi AS$27/lb. Harganya relatif stabil selama tahun 2004–2010 pada sekitar AS$30 per pon (dalam lot 100 pon) tetapi meningkat menjadi AS$65/lb pada tahun 2011. Konsumsi selenium pada tahun 2010 dibagi sebagai berikut: metalurgi – 30%, manufaktur kaca – 30%, pertanian – 10%, bahan kimia dan pigmen – 10%, dan elektronika – 10%. Tiongkok adalah konsumen selenium yang dominan, dengan jumlah 1.500–2.000 ton/tahun.[65]

Aplikasi

Pupuk

Peneliti menemukan bahwa penerapan pupuk selenium pada tanaman selada dapat menurunkan akumulasi timbal dan kadmium. Persik dan pir yang diberi semprotan selenium akan mengandung kadar selenium yang lebih tinggi serta tetap kokoh dan matang lebih lama saat disimpan. Dalam dosis rendah, selenium telah menunjukkan efek menguntungkan pada ketahanan tumbuhan terhadap berbagai faktor tekanan lingkungan, meliputi kekeringan, UV-B, keasinan tanah, dan suhu dingin atau panas. Namun, ia dapat merusak tumbuhan pada dosis yang lebih tinggi.[66]

Elektrolisis mangan

Selama elektrodeposisi mangan, penambahan selenium dioksida menurunkan daya yang diperlukan untuk mengoperasikan sel elektrolisis. Tiongkok adalah konsumen terbesar selenium dioksida untuk tujuan ini. Untuk setiap ton mangan, rata-rata digunakan 2 kg selenium oksida.[67][68]

Produksi kaca

Penggunaan komersial terbesar Se, terhitung sekitar 50% dari total konsumsi, adalah untuk produksi kaca. Senyawa Se memberi warna merah pada kaca. Warna ini meniadakan semburat hijau atau kuning yang muncul dari kotoran besi yang khas pada kebanyakan kaca. Untuk tujuan ini, berbagai garam selenit dan selenat ditambahkan. Untuk aplikasi lain, warna merah mungkin diinginkan, yang dihasilkan oleh campuran CdSe dan CdS.[69]

Paduan

Selenium digunakan dengan bismut pada kuningan untuk menggantikan timbal yang lebih beracun. Regulasi timbal dalam aplikasi air minum seperti di A.S. dengan Undang-undang Air Minum Aman tahun 1974, membuat pengurangan timbal dalam kuningan diperlukan. Kuningan baru dipasarkan dengan nama EnviroBrass.[70] Seperti timbal dan belerang, selenium dapat meningkatkan kemampuan pemesinan baja pada konsentrasi sekitar 0,15%.[71][72] Selenium menghasilkan peningkatan pemesinan yang sama pada paduan tembaga.[73]

Baterai litium–selenium

Baterai litium–selenium (Li–Se) adalah salah satu sistem yang paling menjanjikan untuk penyimpanan energi dalam keluarga baterai litium.[74] Baterai Li–Se adalah alternatif dari baterai litium–belerang, dengan keunggulan konduktivitas listrik yang tinggi.

Sel surya

Selenium adalah dasar dari sel surya pertama, dengan contoh pertama dari sel surya atap adalah sel selenium dari tahun 1884. Sel tersebut kemudian digunakan dalam pengukur cahaya bebas-baterai untuk fotografi. Tembaga indium galium selenida adalah bahan yang digunakan dalam sel surya.[75]

Fotokonduktor

Film tipis selenium amorf (Se-α) telah memiliki aplikasi sebagai fotokonduktor dalam pendeteksi sinar-X panel datar. Pendeteksi ini menggunakan selenium amorf untuk menangkap dan mengubah foton sinar-X insiden langsung menjadi muatan listrik. Selenium telah dipilih untuk aplikasi ini di antara semikonduktor lainnya karena kombinasi sifat teknologi dan fisiknya yang menguntungkan:[76][77]

  1. Selenium amorf memiliki titik lebur rendah, tekanan uap tinggi, dan struktur yang seragam. Ketiga sifat ini memungkinkan deposisi film seragam area-besar dengan cepat dan mudah dengan ketebalan hingga 1 mm pada laju 1–5 µm/menit. Keseragaman dan kurangnya batas butir, yang intrinsik untuk bahan polikristalin, akan meningkatkan kualitas gambar sinar-X. Sedangkan area yang luas sangat penting untuk memindai tubuh manusia atau barang bawaan.
  2. Selenium kurang beracun daripada banyak senyawa semikonduktor yang mengandung arsen atau logam berat seperti raksa atau timbal.
  3. Mobilitasnya dalam medan listrik terapan cukup tinggi baik untuk elektron maupun lubang, sehingga pada perangkat setebal 0,2 mm, sekitar 98% elektron dan lubang yang dihasilkan oleh sinar-X akan terkumpul di elektrode tanpa terperangkap oleh berbagai cacat. Konsekuensinya, sensitivitas perangkatnya tinggi, dan perilakunya mudah dijelaskan dengan persamaan transportasi sederhana.

Penyearah

Penyearah selenium pertama kali digunakan pada tahun 1933. Penggunaannya berlanjut hingga tahun 1990-an.

Kegunaan lainnya

Sejumlah kecil senyawa organoselenium telah digunakan untuk memodifikasi katalis yang digunakan untuk vulkanisasi produksi karet.[78]

Permintaan selenium oleh industri elektronika semakin menurun.[79] Sifat fotovoltaik dan fotokonduktifnya masih berguna dalam fotokopi,[80][81][82][83] fotosel, pengukur cahaya, dan sel surya. Penggunaannya sebagai fotokonduktor pada mesin fotokopi kertas kosong pernah menjadi aplikasi utama, tetapi pada 1980-an, aplikasi fotokonduktornya menurun (walaupun ia masih merupakan penggunaan akhir yang besar) karena semakin banyak mesin fotokopi beralih ke fotokonduktor organik. Meskipun pernah digunakan secara luas, penyearah selenium sebagian besar telah digantikan (atau sedang digantikan) oleh perangkat berbasis silikon. Pengecualian yang paling menonjol adalah perlindungan lonjakan daya DC, di mana kemampuan energi superior dari penekan selenium membuatnya lebih diinginkan daripada varistor logam-oksida.

Seng selenida adalah bahan pertama untuk LED biru, tetapi galium nitrida mendominasi pasar tersebut.[84] Kadmium selenida adalah komponen penting dalam quantum dot. Lembaran selenium amorf mengubah gambar sinar-X menjadi pola muatan dalam xeroradiografi dan dalam kamera sinar-X panel datar bahan padat.[85] Selenium terionisasi (Se+24) adalah salah satu media aktif yang digunakan dalam laser sinar-X.[86]

Selenium adalah katalis dalam beberapa reaksi kimia, tetapi tidak banyak digunakan karena masalah toksisitas.[87] Dalam kristalografi sinar-X, penggabungan satu atau lebih atom selenium sebagai pengganti belerang akan membantu dengan penahapan dispersi anomali panjang gelombang ganda dan dispersi anomali panjang gelombang tunggal.[88]

Selenium digunakan dalam pewarnaan cetakan fotografi, dan dijual sebagai toner oleh banyak produsen fotografi. Selenium mengintensifkan dan memperluas jangkauan tonal dari gambar fotografi hitam-putih dan meningkatkan ketahanan cetakan.[89][90][91]

75Se digunakan sebagai sumber gama dalam radiografi industri.[92]

Selenium digunakan pada beberapa sampo antiketombe dalam bentuk selenium disulfida seperti merek Selsun dan Vichy Dereos.[93]

Pencemaran

Dalam konsentrasi tinggi, selenium bertindak sebagai kontaminan lingkungan. Sumber polusinya meliputi bahan limbah dari operasi pertambangan, pertanian, petrokimia, dan manufaktur industri tertentu. Di Danau Belews, Carolina Utara, 19 spesies ikan tersingkir dari danau karena 150–200 μg Se/L air limbah dibuang dari tahun 1974 hingga 1986 dari pembangkit listrik tenaga batu bara Duke Energy. Di Suaka Margasatwa Nasional Kesterson di California, ribuan ikan dan burung air diracuni oleh selenium dalam drainase irigasi pertanian.

Pencemaran selenium mungkin berdampak pada beberapa sistem perairan dan mungkin disebabkan oleh faktor antropogenik seperti limpasan pertanian dan proses industri.[94] Orang yang makan lebih banyak ikan umumnya lebih sehat daripada mereka yang makan lebih sedikit,[95] yang menunjukkan tidak ada masalah kesehatan utama manusia dari polusi selenium, meskipun selenium memiliki efek potensial pada manusia.[96]

Perubahan fisiologis substansial dapat terjadi pada ikan dengan konsentrasi jaringan selenium yang tinggi. Ikan yang terkena selenium dapat mengalami pembengkakan pada lamela insang, yang menghambat difusi oksigen melintasi insang dan aliran darah di dalam insang. Kapasitas pernapasan semakin berkurang karena selenium mengikat hemoglobin. Masalah lainnya meliputi degenerasi jaringan hati, pembengkakan di sekitar jantung, kerusakan folikel telur di ovarium, katarak, dan penumpukan cairan di rongga tubuh dan kepala. Selenium sering menyebabkan janin ikan menjadi cacat yang mungkin mengalami masalah makan atau bernafas; distorsi sirip atau tulang belakang juga sering terjadi. Ikan dewasa mungkin tampak sehat meskipun tidak mampu menghasilkan keturunan yang layak.

Selenium terbioakumulasi di habitat perairan, yang menghasilkan konsentrasi yang lebih tinggi pada organisme daripada air di sekitarnya. Senyawa organoselenium dapat dipekatkan lebih dari 200.000 kali oleh zooplankton ketika konsentrasi air berada dalam kisaran 0,5 hingga 0,8 μg Se/L. Selenium anorganik lebih mudah terakumulasi dalam fitoplankton daripada zooplankton. Fitoplankton dapat mengkonsentrasikan selenium anorganik dengan faktor 3000. Konsentrasi lebih lanjut melalui bioakumulasi terjadi di sepanjang rantai makanan, karena predator memakan mangsa yang kaya selenium. Direkomendasikan bahwa konsentrasi air 2 μg Se/L dianggap sangat berbahaya bagi ikan sensitif dan burung air. Keracunan selenium dapat diturunkan dari induk kepada keturunannya melalui telur, dan keracunan selenium dapat bertahan selama beberapa generasi. Reproduksi itik melewar akan terganggu pada konsentrasi makanan 7 μg Se/L. Banyak invertebrata bentik dapat mentolerir konsentrasi selenium hingga 300 μg/L Se dalam makanannya.[97]

Bioakumulasi selenium di lingkungan perairan dapat menyebabkan kematian ikan tergantung pada spesies di daerah yang terkena. Namun, ada beberapa spesies yang terlihat bertahan dari peristiwa ini dan mentolerir peningkatan selenium. Juga diperkirakan bahwa musim dapat berdampak pada efek berbahaya selenium pada ikan.[98]

Keracunan selenium pada sistem air dapat terjadi setiap kali aliran limpasan pertanian baru melintas melalui lahan kering. Proses ini melepaskan senyawa selenium alami yang larut (seperti selenat) ke dalam air, yang kemudian terkonsentrasi di lahan basah saat air menguap. Pencemaran selenium pada saluran air juga terjadi ketika selenium terlindi dari abu cerobong batu bara, pertambangan dan peleburan logam, pemrosesan minyak mentah, dan tempat pembuangan sampah.[99] Tingkat selenium yang tinggi di saluran air ditemukan dapat menyebabkan kelainan bawaan pada spesies ovipar, termasuk burung[100] dan ikan lahan basah.[101] Tingkat metilraksa makanan yang meningkat dapat memperkuat bahaya toksisitas selenium pada spesies ovipar.[102][103]

Peran biologis

Meskipun beracun dalam dosis besar, selenium merupakan mikronutrien penting bagi hewan. Pada tumbuhan, ia terjadi sebagai mineral pengamat,[104] kadang-kadang dalam proporsi beracun dalam hijauan (beberapa tumbuhan dapat mengakumulasi selenium sebagai pertahanan agar tidak dimakan oleh hewan,[105] tetapi tumbuhan lain, seperti rumput gila (locoweed), membutuhkan selenium, dan pertumbuhannya menunjukkan adanya selenium di tanah).[106]

Selenium adalah komponen dari asam amino selenosisteina dan selenometionina yang tidak biasa. Pada manusia, selenium merupakan unsur nutrien yang berfungsi sebagai kofaktor untuk reduksi enzim antioksidan, seperti glutationa peroksidase[107] dan bentuk tertentu dari tioredoksin reduktase dan beberapa tumbuhan (enzim ini terdapat pada semua organisme hidup, tetapi tidak semua bentuknya pada tumbuhan membutuhkan selenium).

Kelompok enzim glutationa peroksidase (GSH-Px) dapat mengatalisasi reaksi tertentu yang menghilangkan spesies oksigen reaktif seperti hidrogen peroksida dan hidroperoksida organik:

2 GSH + H2O2----GSH-Px → GSSG + 2 H2O

Kelenjar tiroid dan setiap sel yang menggunakan hormon tiroid menggunakan selenium,[108] yang merupakan kofaktor untuk tiga dari empat jenis deiodinase hormon tiroid yang diketahui, yang mengaktifkan dan kemudian menonaktifkan berbagai hormon tiroid dan metabolitnya; iodotironina deiodinase adalah subfamili dari enzim deiodinase yang menggunakan selenium sebagai asam amino selenosisteina yang jarang. (Hanya deiodinase iodotirosina deiodinase, yang bekerja pada produk penguraian terakhir dari hormon tiroid, yang tidak menggunakan selenium.)[109]

Selenium dapat menghambat penyakit Hashimoto, di mana sel tiroid tubuh sendiri diserang sebagai benda asing. Pengurangan 21% pada antibodi TPO dilaporkan dengan asupan makanan 0,2 mg selenium.[110]

Peningkatan selenium diet akan mengurangi efek toksisitas raksa,[111][112][113] meskipun hanya efektif pada dosis raksa rendah hingga sedang.[114] Bukti menunjukkan bahwa mekanisme molekuler dari toksisitas raksa mencakup penghambatan selenoenzim yang tidak dapat diubah yang diperlukan untuk mencegah dan membalikkan kerusakan oksidatif di otak dan jaringan endokrin.[115][116] Sebuah antioksidan, selenoneina, yang berasal dari selenium dan telah ditemukan hadir dalam darah tuna sirip biru, adalah subjek penelitian ilmiah mengenai kemungkinan perannya dalam penyakit inflamasi dan kronis, detoksifikasi metilraksa, dan kerusakan oksidatif.[117][118] Sepertinya ketika kadar raksa dalam ikan laut naik, maka kadar selenium juga akan naik. Sepengetahuan para peneliti, tidak ada laporan mengenai kadar raksa yang melebihi kadar selenium pada ikan laut.[119]

Evolusi dalam biologi

Sejak sekitar tiga miliar tahun yang lalu, keluarga selenoprotein prokariotik mendorong evolusi selenosisteina, sebuah asam amino. Selenium dimasukkan ke dalam beberapa keluarga selenoprotein prokariotik pada bakteri, arkea, dan eukariota sebagai selenosisteina,[120] di mana peroksiredoksin selenoprotein melindungi sel bakteri dan eukariotik terhadap kerusakan oksidatif. Keluarga selenoprotein dari GSH-Px dan deiodinase sel eukariotik tampaknya memiliki asal filogenetik bakteri. Bentuk yang mengandung selenosisteina terjadi pada spesies yang beragam seperti alga hijau, diatom, bulu babi, ikan, dan ayam. Enzim selenium terlibat dalam molekul pereduksi kecil glutationa dan tioredoksin. Satu keluarga molekul pengandung selenium (glutationa peroksidase) akan menghancurkan peroksida dan memperbaiki membran sel yang rusak akibat terperoksidasi, menggunakan glutationa. Enzim lain yang mengandung selenium pada beberapa tumbuhan dan hewan (tioredoksin reduktase) menghasilkan tioredoksin tereduksi, sebuah ditiol yang berfungsi sebagai sumber elektron untuk peroksidase dan juga ribonukleotida reduktase enzim pereduksi penting yang membuat prekursor DNA dari prekursor RNA.[121]

Unsur nutrien yang terlibat dalam aktivitas enzim GSH-Px dan superoksida dismutase, yaitu selenium, vanadium, magnesium, tembaga, dan seng, mungkin kurang di beberapa daerah yang kekurangan mineral terestrial.[122] Organisme laut mempertahankan dan terkadang memperluas selenoproteomnya, sedangkan selenoproteom dari beberapa organisme terestrial akan berkurang atau hilang sama sekali. Temuan ini menunjukkan bahwa, dengan pengecualian vertebrata, kehidupan akuatik mendukung penggunaan selenium, sedangkan habitat darat menyebabkan berkurangnya penggunaan unsur nutrien ini.[123] Ikan laut dan kelenjar tiroid vertebrata memiliki konsentrasi selenium dan iodin tertinggi. Sejak sekitar 500 juta tahun yang lalu, tumbuhan air tawar dan terestrial secara perlahan mengoptimalkan produksi antioksidan endogen "baru" seperti asam askorbat (vitamin C), polifenol (termasuk flavonoid), tokoferol, dll. Beberapa di antaranya muncul baru-baru ini, dalam 50–200 juta tahun terakhir, dalam buah-buahan dan bunga tumbuhan angiospermae. Faktanya, angiospermae (jenis tumbuhan yang dominan saat ini) dan sebagian besar pigmen antioksidannya berevolusi selama periode Jurasik akhir.

Isoenzim deiodinase merupakan keluarga lain dari selenoprotein eukariotik dengan fungsi enzim yang teridentifikasi. Deiodinase mampu mengekstraksi elektron dari iodida, dan iodida dari iodotironin. Dengan demikian, mereka terlibat dalam pengaturan hormon tiroid, berpartisipasi dalam perlindungan tirosit dari kerusakan oleh H2O2 yang diproduksi untuk biosintesis hormon tiroid.[124] Sekitar 200 juta tahun lalu, selenoprotein baru dikembangkan sebagai enzim GSH-Px mamalia.[125][126][127][128]

Sumber nutrisi selenium

Selenium makanan berasal dari daging, kacang-kacangan, sereal, dan jamur. Kacang Brasil adalah sumber makanan terkaya (meskipun ini bergantung pada tanah, karena kacang Brasil tidak membutuhkan selenium tingkat tinggi untuk kebutuhannya sendiri).[129][130]

Angka Kecukupan Gizi (AKG) selenium yang direkomendasikan A.S. untuk remaja dan dewasa adalah 55 µg/hari. Selenium sebagai suplemen makanan tersedia dalam berbagai bentuk, meliputi suplemen multi-vitamin/mineral, yang biasanya mengandung 55 atau 70 µg/sajian. Suplemen khusus selenium biasanya mengandung 100 atau 200 µg/sajian.

Pada bulan Juni 2015, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) A.S. menerbitkan peraturan terakhirnya yang menetapkan persyaratan tingkat minimum dan maksimum selenium dalam susu formula.[131]

Kandungan selenium dalam tubuh manusia dipercaya berada pada kisaran 13–20 mg.[132]

Spesies tumbuhan indikator

Spesies tumbuhan tertentu dianggap sebagai indikator adanya kandungan selenium yang tinggi di tanah karena mereka membutuhkan kadar selenium yang tinggi untuk tumbuh subur. Tumbuhan indikator selenium utama adalah spesies Astragalus (termasuk beberapa rumput gila), Stanleya sp., aster kayu (Xylorhiza sp.), dan Oonopsis sp.[133]

Deteksi dalam cairan biologis

Selenium dapat diukur dalam darah, plasma, serum, atau urine untuk memantau paparan lingkungan atau pekerjaan yang berlebihan, untuk memastikan diagnosis keracunan pada korban yang dirawat di rumah sakit, atau menyelidiki dugaan kasus overdosis yang fatal. Beberapa teknik analitik mampu membedakan bentuk selenium organik dari anorganik. Bentuk selenium organik dan anorganik sebagian besar diubah menjadi konjugat monosakarida (selenosugar) dalam tubuh sebelum dibuang melalui urine. Pasien kanker yang menerima selenotionina dosis oral setiap hari dapat mencapai konsentrasi selenium plasma dan urine yang sangat tinggi.[134]

Toksisitas

Meskipun selenium merupakan unsur nutrien yang penting, ia bersifat racun jika dikonsumsi secara berlebihan. Melebihi Batas Atas Asupan sebesar 400 mikrogram per hari dapat menyebabkan selenosis.[135] Batas Atas Asupan 400 µg ini didasarkan terutama pada penelitian tahun 1986 terhadap lima pasien Tiongkok yang menunjukkan tanda-tanda selenosis yang nyata dan penelitian lanjutan pada lima orang yang sama pada tahun 1992.[136] Penelitian tahun 1992 benar-benar menemukan bahwa asupan Se makanan yang paling aman adalah sekitar 800 mikrogram per hari (15 mikrogram per kilogram berat badan), tetapi disarankan 400 mikrogram per hari untuk menghindari ketidakseimbangan nutrisi dalam makanan dan sesuai dengan data dari negara lain.[137] Di Tiongkok, orang yang menelan jagung yang tumbuh di batu bara yang kaya selenium (batu serpih yang mengandung karbon) menderita keracunan selenium. Batu bara ini terbukti memiliki kandungan selenium setinggi 9,1%, konsentrasi tertinggi dalam batu bara yang pernah tercatat.[138]

Tanda dan gejala selenosis meliputi bau bawang putih pada napas, gangguan pencernaan, rambut rontok, pengelupasan kuku, kelelahan, mudah tersinggung, dan kerusakan saraf. Kasus ekstrem selenosis dapat menunjukkan sirosis hati, edema paru-paru, atau bahkan kematian.[139] Selenium elemental dan sebagian besar selenida metalik memiliki toksisitas yang relatif rendah karena bioavailabilitasnya rendah. Sebaliknya, selenat dan selenit memiliki sebuah mode aksi oksidan yang serupa dengan arsen trioksida dan sangat beracun. Dosis selenit toksik kronis bagi manusia adalah sekitar 2400 hingga 3000 mikrogram selenium per hari.[140] Hidrogen selenida adalah sebuah gas korosif yang sangat beracun.[141] Selenium juga terdapat dalam senyawa organik, seperti dimetil selenida, selenometionina, selenosisteina, dan metilselenosisteina, yang semuanya memiliki bioavailabilitas tinggi dan beracun dalam dosis besar.

Pada 19 April 2009, 21 kuda poni polo mati sesaat sebelum pertandingan di Polo Terbuka Amerika Serikat. Tiga hari kemudian, sebuah apotek mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa kuda-kuda tersebut telah menerima dosis yang salah dari salah satu bahan yang digunakan dalam senyawa suplemen vitamin/mineral yang telah disiapkan secara tidak benar oleh apotek peracikan. Analisis kadar senyawa anorganik dalam suplemen tersebut menunjukkan konsentrasi selenium 10 hingga 15 kali lebih tinggi dari kadar normal dalam sampel darah, dan 15 hingga 20 kali lebih tinggi dari kadar normal dalam sampel hati. Selenium kemudian dipastikan sebagai faktor toksik.[142]

Pada ikan dan satwa liar lainnya, selenium diperlukan untuk kehidupan, tetapi beracun dalam dosis tinggi. Untuk ikan salmon, konsentrasi selenium yang optimal adalah sekitar 1 mikrogram selenium per gram berat badan keseluruhan. Jauh di bawah level itu, salmon muda akan mati karena kekurangan;[143] jauh di atas, mereka akan mati karena kelebihan racun.[144]

Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSHA) telah menetapkan batas legal (batas paparan yang diizinkan) untuk selenium di tempat kerja sebesar 0,2 mg/m3 selama 8 jam hari kerja. Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (NIOSH) telah menetapkan batas paparan yang direkomendasikan (REL) sebesar 0,2 mg/m3 selama 8 jam hari kerja. Pada kadar 1 mg/m3, selenium langsung berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan.[145]

Kekurangan selenium

Kekurangan selenium dapat terjadi pada pasien dengan fungsi pencernaan yang sangat terganggu, mereka yang menjalani nutrisi parenteral total, dan[146] pada mereka yang berusia lanjut (di atas 90). Juga, orang yang bergantung pada makanan yang tumbuh dari tanah yang kekurangan selenium juga berisiko. Meskipun tanah Selandia Baru memiliki tingkat selenium yang rendah, efek kesehatan yang merugikan belum terdeteksi pada penduduknya.[147]

Kekurangan selenium, yang ditentukan oleh tingkat aktivitas selenoenzim yang rendah (<60% dari normal) di otak dan jaringan endokrin, terjadi hanya ketika tingkat selenium yang rendah dikaitkan dengan stres tambahan, seperti paparan raksa yang tinggi[148] atau peningkatan stres oksidan akibat kekurangan vitamin E.[149]

Selenium berinteraksi dengan nutrisi lain, seperti iodin dan vitamin E. Efek kekurangan selenium pada kesehatan masih belum jelas, terutama terkait dengan penyakit Kashin–Beck.[150] Selenium juga berinteraksi dengan mineral lain, seperti seng dan tembaga. Suplemen selenium dosis tinggi pada hewan hamil dapat mengganggu rasio seng:tembaga dan menyebabkan pengurangan seng; dalam kasus perawatan seperti itu, kadar seng harus dipantau. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi interaksi ini.[151]

Di beberapa daerah (misalnya berbagai daerah di Amerika Utara) di mana tingkat tanah selenium yang rendah akan menyebabkan konsentrasi rendah pada tumbuhan, beberapa spesies hewan mungkin akan kekurangan selenium kecuali selenium disuplementasi melalui makanan atau suntikan.[152] Ruminansia sangat rentan terhadap hal ini. Secara umum, penyerapan selenium makanan lebih rendah pada ruminansia daripada hewan lain, dan lebih rendah dari hijauan daripada dari biji-bijian.[153] Ruminansia yang merumput hijauan tertentu, misalnya, beberapa varietas semanggi putih yang mengandung glikosida sianogenik, mungkin memiliki kebutuhan selenium yang lebih tinggi,[154] mungkin karena sianida dilepaskan dari aglikona oleh aktivitas glukosidase dalam rumen[155] dan glutationa peroksidase dinonaktifkan oleh sianida yang bekerja pada moitas glutationa.[156] Neonatus ruminansia yang berisiko terkena penyakit otot putih dapat diberi selenium dan vitamin E melalui suntikan; beberapa miopati WMD hanya merespons selenium, beberapa hanya vitamin E, dan beberapa keduanya.[157]

Efek kesehatan

Efek asupan selenium pada kanker telah dipelajari dalam beberapa uji klinis dan penelitian epidemiologis pada manusia. Selenium mungkin memiliki peran kemopreventif dalam risiko kanker sebagai sebuah antioksidan, dan mungkin memicu respon imun. Pada tingkat rendah, ia digunakan dalam tubuh untuk membuat selenoprotein antioksidan, pada dosis yang lebih tinggi dari biasanya menyebabkan kematian sel.[158]

Selenium (dalam keterkaitan erat dengan iodin) berperan dalam kesehatan tiroid. Selenium adalah kofaktor untuk tiga deiodinase hormon tiroid, membantu mengaktifkan dan kemudian menonaktifkan berbagai hormon tiroid dan metabolitnya. Kekurangan selenium terisolasi sekarang sedang diselidiki karena perannya dalam reaksi autoimun induksi pada kelenjar tiroid pada penyakit Hashimoto.[159] Namun, dalam kasus kekurangan iodin dan selenium gabungan, kekurangan selenium terbukti berperan dalam melindungi tiroid.[160]

Lihat pula

Catatan

Pranala luar

Referensi

  1. George Ruyle. Poisonous Plants on Arizona Rangelands. The University of Arizona.
  2. James E. House. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 524. ISBN 978-0-12-356786-4.
  3. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  4. Olav Foss and Vitalijus Janickis. Crystal structure of γ-monoclinic selenium. Journal of the Chemical Society, Dalton Transactions. 1980. hlm. 624–627. doi:10.1039/DT9800000624.
  5. β –Se (Al ) Structure: A_mP32_14_8e. Encyclopedia of Crystallographic Prototypes.
  6. β –Se (Al ) Structure: A_mP32_14_16e. Encyclopedia of Crystallographic Prototypes.
  7. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  8. β –Se (Al ) Structure: A_hP3_152_a. Encyclopedia of Crystallographic Prototypes.
  9. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  10. James E. House. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 524. ISBN 978-0-12-356786-4.
  11. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  12. The half-life of 79 Se. Physikalisch-Technische Bundesanstalt. 23 September 2010.
  13. Gerhard Jörg. Preparation of radiochemically pure 79 Se and highly precise determination of its half-life. Applied Radiation and Isotopes. 2010. Vol. 68 (12). hlm. 2339–2351. doi:10.1016/j.apradiso.2010.05.006.
  14. James E. House. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 524. ISBN 978-0-12-356786-4.
  15. Egon Wiberg. Inorganic chemistry. Academic Press. 2001. hlm. 583. ISBN 978-0-12-352651-9.
  16. James E. House. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 524. ISBN 978-0-12-356786-4.
  17. Egon Wiberg. Inorganic chemistry. Academic Press. 2001. hlm. 583. ISBN 978-0-12-352651-9.
  18. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  19. Egon Wiberg. Inorganic chemistry. Academic Press. 2001. hlm. 583. ISBN 978-0-12-352651-9.
  20. K. Seppelt. Selenoyl difluoride. 1980. Vol. 20. hlm. 36–38. doi:10.1002/9780470132517.ch9. ISBN 978-0-471-07715-2. Laporan tersebut menjelaskan sintesis asam selenat.
  21. V. Lenher. Action of selenic acid on gold. Journal of the American Chemical Society. April 1902. Vol. 24 (4). hlm. 354–355. doi:10.1021/ja02018a005.
  22. Xu, Zhengtao. Handbook of chalcogen chemistry: new perspectives in sulfur, selenium and tellurium. Royal Society of Chemistry. 2007. hlm. 460. ISBN 978-0-85404-366-8.
  23. Nick H. Proctor. Proctor and Hughes' chemical hazards of the workplace. Wiley-IEEE. 2004. hlm. 625. ISBN 978-0-471-26883-3.
  24. James E. House. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 524. ISBN 978-0-12-356786-4.
  25. James E. House. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 524. ISBN 978-0-12-356786-4.
  26. James E. House. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 524. ISBN 978-0-12-356786-4.
  27. Derek Woollins. The Reactivity of Se 4 N 4 in Liquid Ammonia. Polyhedron. 1993. Vol. 12 (10). hlm. 1129–1133. doi:10.1016/S0277-5387(00)88201-7.
  28. P.F. Kelly. Use of Se 4 N 4 and Se(NSO) 2 in the preparation of palladium adducts of diselenium dinitride, Se 2 N 2 ; crystal structure of. Dalton Transactions. 1997. hlm. 559–562. doi:10.1039/a606311j.
  29. Jari Siivari. A simple, efficient synthesis of tetraselenium tetranitride. Inorganic Chemistry. 1993. Vol. 32 (8). hlm. 1519–1520. doi:10.1021/ic00060a031.
  30. James E. House. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 524. ISBN 978-0-12-356786-4.
  31. G. Erker. Synthesis and Cycloadditions of Monomeric Selenobenzophenone. Angewandte Chemie International Edition in English. 1990. Vol. 29 (9). hlm. 1067–1068. doi:10.1002/anie.199010671.
  32. J.J. Berzelius. Lettre de M. Berzelius à M. Berthollet sur deux métaux nouveaux. Annales de Chimie et de Physique. 1818. Vol. 7. hlm. 199–206. Dari hlm. 203: "Cependant, pour rappeler les rapports de cette dernière avec le tellure, je l'ai nommée sélénium." (Namun, untuk mengingat kembali hubungan zat terakhir ini (selenium) dengan telurium, Saya menamainya "selenium".)
  33. Mary Elvira Weeks. The discovery of the elements. VI. Tellurium and selenium. Journal of Chemical Education. 1932. Vol. 9 (3). hlm. 474. doi:10.1021/ed009p474.
  34. Jan Trofast. Berzelius' Discovery of Selenium. Chemistry International. 2011. Vol. 33 (5). hlm. 16–19. PDF
  35. Willoughby Smith. The action of light on selenium. Journal of the Society of Telegraph Engineers. 1873. Vol. 2 (4). hlm. 31–33. doi:10.1049/jste-1.1873.0023.
  36. Willoughby Smith. Effect of light on selenium during the passage of an electric current. Nature. 20 Februari 1873. Vol. 7 (173). hlm. 303. doi:10.1038/007303e0.
  37. Bonnier Corporation. Action of light on selenium. Popular Science. 1876. Vol. 10 (1). hlm. 116.
  38. M.E. Levinshtein. Earliest semiconductor device. 1 Januari 1992. hlm. 77–79. ISBN 978-981-02-3516-1.
  39. Brian Winston. Media Technology and Society: A History: From the Telegraph to the Internet. 29 Mei 1998. hlm. 89. ISBN 978-0-415-14229-8.
  40. Peter Robin Morris. A History of the World Semiconductor Industry. 1990. hlm. 18. ISBN 978-0-86341-227-1.
  41. Ludwig Bergmann. Über eine neue Selen-Sperrschicht-Photozelle. Physikalische Zeitschrift. 1931. Vol. 32. hlm. 286–288.
  42. G.R. Waitkins. Industrial Utilization of Selenium and Tellurium. Industrial & Engineering Chemistry. 1942. Vol. 34 (8). hlm. 899–910. doi:10.1021/ie50392a002.
  43. Pinsent, Jane. The need for selenite and molybdate in the formation of formic dehydrogenase by members of the Coli-aerogenes group of bacteria. Biochem. J. 1954. Vol. 57 (1). hlm. 10–16. doi:10.1042/bj0570010.
  44. Thressa C. Stadtman. Trace Elements in Man and Animals 10. 2002. Vol. 10. hlm. 831–836. doi:10.1007/0-306-47466-2_267. ISBN 978-0-306-46378-5.
  45. Klaus Schwarz. Selenium as an Integral Part of Factor 3 Against Dietary Necrotic Liver Degeneration. Journal of the American Chemical Society. 1957. Vol. 79 (12). hlm. 3292–3293. doi:10.1021/ja01569a087.
  46. James E. Oldfield. Selenium. 2006. hlm. 1–6. doi:10.1007/0-387-33827-6_1. ISBN 978-0-387-33826-2.
  47. D. L. Hatfield. How Selenium Has Altered Our Understanding of the Genetic Code. Molecular and Cellular Biology. 2002. Vol. 22 (11). hlm. 3565–3576. doi:10.1128/MCB.22.11.3565-3576.2002.
  48. Native Selenium. Webminerals.
  49. A. Kabata-Pendias. Geochemistry of selenium. Journal of Environmental Pathology, Toxicology and Oncology. 1998. Vol. 17 (3–4). hlm. 173–177.
  50. Fiona Fordyce. Selenium Geochemistry and Health. Ambio: A Journal of the Human Environment. 2007. Vol. 36 (1). hlm. 94–97. doi:10.1579/0044-7447(2007)36[94:SGAH]2.0.CO;2.
  51. Ludger A. Wessjohann. Selenium in chemistry and biochemistry in comparison to sulfur. Biological Chemistry. 2007. Vol. 388 (10). hlm. 997–1006. doi:10.1515/BC.2007.138.
  52. Marc Birringer. Trends in selenium biochemistry. Natural Product Reports. 2002. Vol. 19 (6). hlm. 693–718. doi:10.1039/B205802M.
  53. A. Kabata-Pendias. Geochemistry of selenium. Journal of Environmental Pathology, Toxicology and Oncology. 1998. Vol. 17 (3–4). hlm. 173–177.
  54. Fiona Fordyce. Selenium Geochemistry and Health. Ambio: A Journal of the Human Environment. 2007. Vol. 36 (1). hlm. 94–97. doi:10.1579/0044-7447(2007)36[94:SGAH]2.0.CO;2.
  55. David Amouroux. Role of oceans as biogenic sources of selenium. Earth and Planetary Science Letters. 2001. Vol. 189 (3–4). hlm. 277–283. doi:10.1016/S0012-821X(01)00370-3.
  56. Anna Haug. How to use the world's scarce selenium resources efficiently to increase the selenium concentration in food. Microbial Ecology in Health and Disease. 2007. Vol. 19 (4). hlm. 209–228. doi:10.1080/08910600701698986.
  57. John Rieuwerts. The Elements of Environmental Pollution. Earthscan Routledge. 2015. hlm. 262. ISBN 978-0-415-85919-6.
  58. Public Health Statement: Selenium. Agency for Toxic Substances and Disease Registry.
  59. Public Health Statement: Selenium – Production, Import/Export, Use, and Disposal. Agency for Toxic Substances and Disease Registry.
  60. Chemistry: Periodic Table: selenium: key information. webelements.
  61. P.J. Bartos. SX-EW copper and the technology cycle. Resources Policy. 2002. Vol. 28 (3–4). hlm. 85–94. doi:10.1016/S0301-4207(03)00025-4.
  62. A. V. Naumov. Selenium and tellurium: State of the markets, the crisis, and its consequences. Metallurgist. 2010. Vol. 54 (3–4). hlm. 197–200. doi:10.1007/s11015-010-9280-7.
  63. James E. Hoffmann. Recovering selenium and tellurium from copper refinery slimes. JOM. 1989. Vol. 41 (7). hlm. 33–38. doi:10.1007/BF03220269.
  64. Olli Hyvärinen. Recovering selenium from copper refinery slimes. JOM. 1989. Vol. 41 (7). hlm. 42–43. doi:10.1007/BF03220271.
  65. Selenium and Tellurium: Statistics and Information. United States Geological Survey.
  66. Renwei Feng. The roles of selenium in protecting plants against abiotic stresses. Environmental and Experimental Botany. 2013. Vol. 87. hlm. 58–68. doi:10.1016/j.envexpbot.2012.09.002.
  67. Selenium and Tellurium: Statistics and Information. United States Geological Survey.
  68. Yan Sun. Studies of the reduction mechanism of selenium dioxide and its impact on the microstructure of manganese electrodeposit. Electrochimica Acta. 2011. Vol. 56 (24). hlm. 8305–8310. doi:10.1016/j.electacta.2011.06.111.
  69. Bernd E. Langner "Selenium and Selenium Compounds" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, 2005, Wiley-VCH, Weinheim. .
  70. Joseph R. Davis. Copper and Copper Alloys. ASM Int. 2001. hlm. 91. ISBN 978-0-87170-726-0.
  71. Edmund Isakov. Cutting Data for Turning of Steel. 2008-10-31. hlm. 67. ISBN 978-0-8311-3314-6.
  72. Ya. E. Gol'Dshtein. Effect of selenium on the structure and properties of structural steel. Metal Science and Heat Treatment. 1979. Vol. 21 (10). hlm. 741–746. doi:10.1007/BF00708374.
  73. Joseph R. Davis. Copper and Copper Alloys. ASM International. 2001. hlm. 278. ISBN 978-0-87170-726-0.
  74. Ali Eftekhari. The rise of lithium–selenium batteries. Sustainable Energy & Fuels. 2017. Vol. 1. hlm. 14–29. doi:10.1039/C6SE00094K.
  75. Deutsche Gesellschaft für Sonnenenergie. Planning and Installing Photovoltaic Systems: A Guide for Installers, Architects and Engineers. Earthscan. 2008. hlm. 43–44. ISBN 978-1-84407-442-6.
  76. Heyuan Huang. Recent Developments of Amorphous Selenium-Based X-Ray Detectors: A Review. IEEE Sensors Journal. 2020. Vol. 20 (4). hlm. 1694–1704. doi:10.1109/JSEN.2019.2950319.
  77. Safa Kasap. Amorphous selenium and its alloys from early xeroradiography to high resolution X-ray image detectors and ultrasensitive imaging tubes. Physica Status Solidi (B). 2009. Vol. 246 (8). hlm. 1794–1805. doi:10.1002/pssb.200982007.
  78. A. V. Naumov. Selenium and tellurium: State of the markets, the crisis, and its consequences. Metallurgist. 2010. Vol. 54 (3–4). hlm. 197–200. doi:10.1007/s11015-010-9280-7.
  79. Selenium and Tellurium: Statistics and Information. United States Geological Survey.
  80. B. E. Springett. Application of Selenium-Tellurium Photoconductors to the Xerographic Copying and Printing Processes. Phosphorus and Sulfur and the Related Elements. 1988. Vol. 38 (3–4). hlm. 341–350. doi:10.1080/03086648808079729.
  81. Rob Williams. Computer Systems Architecture: A Networking Approach. Prentice Hall. 2006. hlm. 547–548. ISBN 978-0-321-34079-5.
  82. Jean-Claude Diels. Lasers. Wiley-VCH. 2011. hlm. 81–83. ISBN 978-3-527-64005-8.
  83. Meller, Gregor. Organic Electronics. Springer. 2009. hlm. 3–5. ISBN 978-3-642-04537-0.
  84. Dennis Normile. Popular Science. 2000. hlm. 57.
  85. Safa Kasap. Amorphous selenium and its alloys from early xeroradiography to high resolution X-ray image detectors and ultrasensitive imaging tubes. Physica Status Solidi B. 2009. Vol. 246 (8). hlm. 1794–1805. doi:10.1002/pssb.200982007.
  86. Orazio Svelto. Principles of LASERs fourth ed. Plenum. 1998. hlm. 457. ISBN 978-0-306-45748-7.
  87. Fateh V. Singh. Selenium reagents as catalysts. Catalysis Science & Technology. 2019. Vol. 9 (5). hlm. 1073–1091. doi:10.1039/C8CY02274G.
  88. F. Hai-Fu. New Techniques of Applying Multi-Wavelength Anomalous Scattering Data. Proceedings of the Royal Society A: Mathematical, Physical and Engineering Sciences. 1993. Vol. 442 (1914). hlm. 13–32. doi:10.1098/rspa.1993.0087.
  89. Marion E. MacLean. A project for general chemistry students: Color toning of photographic prints. Journal of Chemical Education. 1937. Vol. 14 (1). hlm. 31. doi:10.1021/ed014p31.
  90. Sylvie Penichon. Differences in Image Tonality Produced by Different Toning Protocols for Matte Collodion Photographs. Journal of the American Institute for Conservation. 1999. Vol. 38 (2). hlm. 124–143. doi:10.2307/3180042.
  91. Joy McKenzie. Exploring Basic Black & White Photography. Delmar. 2003. hlm. 176. ISBN 978-1-4018-1556-1.
  92. Peter Hayward. Radiography of Welds Using Selenium 75, Ir 192 and X-rays.
  93. https://www.vichy.co.uk/on/demandware.static/-/Sites-vic-master-catalog/default/dw41dcc5e7/VIC/ProductImages/Blog-Imagery-Vichy/Vichy_Customer_Leaflet_Dandruff.pdf
  94. A. Dennis Lemly. Aquatic selenium pollution is a global environmental safety issue. Ecotoxicology and Environmental Safety. 1 September 2004. Vol. 59 (1). hlm. 44–56. doi:10.1016/S0147-6513(03)00095-2.
  95. Ramon Estruch. Should we all go pesco-vegetarian?. European Heart Journal. 4 Januari 2021. Vol. 42 (12). hlm. 1144–1146. doi:10.1093/eurheartj/ehaa1088.
  96. Matthew Gribble. Mercury, selenium and fish oils in marine food webs and implications for human health. Journal of the Marine Biological Association of the United Kingdom. 8 September 2015. Vol. 1 (96). hlm. 43–59. doi:10.1017/S0025315415001356.
  97. Dennis Lemly. Selenium Assessment in Aquatic Ecosystems: A guide for hazard evaluation and water quality criteria. Springer. 1998. ISBN 0-387-95346-9.
  98. Steven J. Hamilton. Review of selenium toxicity in the aquatic food chain. Science of the Total Environment. 29 Juni 2004. Vol. 326 (1). hlm. 1–31. doi:10.1016/j.scitotenv.2004.01.019.
  99. D. Lemly. Aquatic selenium pollution is a global environmental safety issue. Ecotoxicology and Environmental Safety. 2004. Vol. 59 (1). hlm. 44–56. doi:10.1016/S0147-6513(03)00095-2.
  100. H. M. Ohlendorf. Ecotoxicology of selenium. Lewis Publishers. 2003. hlm. 466–491. ISBN 978-1-56670-546-2.
  101. A. D. Lemly. A teratogenic deformity index for evaluating impacts of selenium on fish populations. Ecotoxicology and Environmental Safety. 1997. Vol. 37 (3). hlm. 259–266. doi:10.1006/eesa.1997.1554.
  102. S. Penglase. Selenium and mercury have a synergistic negative effect on fish reproduction. Aquatic Toxicology. 2014. Vol. 149. hlm. 16–24. doi:10.1016/j.aquatox.2014.01.020.
  103. G. H. Heinz. Methylmercury chloride and selenomethionine interactions on health and reproduction in mallards. Environmental Toxicology and Chemistry. 1998. Vol. 17 (2). hlm. 139–145. doi:10.1002/etc.5620170202.
  104. Faik Atroshi. Pharmacology and Nutritional Intervention in the Treatment of Disease. BoD – Books on Demand. 28 Mei 2014. ISBN 978-953-51-1383-6.
  105. John L. Freeman. Selenium accumulation protects plants from herbivory by Orthoptera via toxicity and deterrence. The New Phytologist. 2007. Vol. 175 (3). hlm. 490–500. doi:10.1111/j.1469-8137.2007.02119.x.
  106. Selenium concentrations in leaf material from Astragalus Oxyphysus (diablo locoweed) and Atriplex Lentiformis (quail bush) in the interior Coast Ranges and the western San Joaquin Valley, California. 1986.
  107. Linus Pauling Institute at Oregon State University lpi.oregonstate.edu
  108. Farzad Pakdel. Effect of Selenium on Thyroid Disorders: Scientometric Analysis. Iranian Journal of Public Health. 2019. Vol. 48 (3). hlm. 410–420.
  109. Selenium. Linus Pauling Institute di Oregon State University.
  110. E. E. Mazokopakis. Effects of 12 months treatment with L-selenomethionine on serum anti-TPO Levels in Patients with Hashimoto's thyroiditis. Thyroid. 2007. Vol. 17 (7). hlm. 609–612. doi:10.1089/thy.2007.0040.
  111. N. V. Ralston. Dietary and tissue selenium in relation to methylmercury toxicity. Neurotoxicology. 2008. Vol. 29 (5). hlm. 802–811. doi:10.1016/j.neuro.2008.07.007.
  112. S. Penglase. Selenium prevents downregulation of antioxidant selenoprotein genes by methylmercury. Free Radical Biology and Medicine. 2014. Vol. 75. hlm. 95–104. doi:10.1016/j.freeradbiomed.2014.07.019.
  113. F. Usuki. Post-transcriptional defects of antioxidant selenoenzymes cause oxidative stress under methylmercury exposure. The Journal of Biological Chemistry. 2011. Vol. 286 (8). hlm. 6641–6649. doi:10.1074/jbc.M110.168872.
  114. G. Ohi. Protective effect of selenite against methylmercury toxicity: observations concerning time, dose and route factors in the development of selenium attenuation. Industrial Health. 1975. Vol. 13 (3). hlm. 93–99. doi:10.2486/indhealth.13.93.
  115. NVC Ralston. Dietary selenium's protective effects against methylmercury toxicity. Toxicology. 2010. Vol. 278 (1). hlm. 112–123. doi:10.1016/j.tox.2010.06.004.
  116. CML Carvalho. Inhibition of the human thioredoxin system: A molecular mechanism of mercury toxicity. Journal of Biological Chemistry. 2008. Vol. 283 (18). hlm. 11913–11923. doi:10.1074/jbc.M710133200.
  117. Michiaki Yamashita, Shintaro Imamura, Md. Anwar Hossain, Ken Touhata, Takeshi Yabu, and Yumiko Yamashita, Strong antioxidant activity of the novel selenium-containing imidazole compound ″selenoneine″, The FASEB Journal, vol. 26 no. 1, supplement 969.13, April 2012
  118. Y Yamashita. Discovery of the strong antioxidant selenoneine in tuna and selenium redox metabolism. World J Biol Chem. 2010. Vol. 1 (5). hlm. 144–50. doi:10.4331/wjbc.v1.i5.144.
  119. Laura Raymond. Mercury: selenium interactions and health implications. SMDJ Seychelles Medical and Dental Journal. November 2004. Vol. 7. hlm. 72–77.
  120. Vadim N. Gladyshev. Selenocysteine-containing proteins in mammals. Journal of Biomedical Science. 1999. Vol. 6 (3). hlm. 151–160. doi:10.1007/BF02255899.
  121. T. C. Stadtman. Selenocysteine. Annual Review of Biochemistry. 1996. Vol. 65 (1). hlm. 83–100. doi:10.1146/annurev.bi.65.070196.000503.
  122. Vadim N. Gladyshev. Selenocysteine-containing proteins in mammals. Journal of Biomedical Science. 1999. Vol. 6 (3). hlm. 151–160. doi:10.1007/BF02255899.
  123. Alexey V. Lobanov. Evolutionary dynamics of eukaryotic selenoproteomes: large selenoproteomes may associate with aquatic life and small with terrestrial life. Genome Biology. 2007. Vol. 8 (9). hlm. R198. doi:10.1186/gb-2007-8-9-r198.
  124. Sebastiano Venturi. Evolution of Dietary Antioxidant Defences. European EpiMarker. 2007. Vol. 11 (3). hlm. 1–11.
  125. Sergi Castellano. Reconsidering the evolution of eukaryotic selenoproteins: a novel nonmammalian family with scattered phylogenetic distribution. EMBO Reports. 2004. Vol. 5 (1). hlm. 71–7. doi:10.1038/sj.embor.7400036.
  126. Gregory V. Kryukov. The prokaryotic selenoproteome. EMBO Reports. 2004. Vol. 5 (5). hlm. 538–43. doi:10.1038/sj.embor.7400126.
  127. R. Wilting. Selenoprotein synthesis in archaea: identification of an mRNA element of Methanococcus jannaschii probably directing selenocysteine insertion. Journal of Molecular Biology. 1997. Vol. 266 (4). hlm. 637–41. doi:10.1006/jmbi.1996.0812.
  128. Yan Zhang. The microbial selenoproteome of the Sargasso Sea. Genome Biology. 2005. Vol. 6 (4). hlm. R37. doi:10.1186/gb-2005-6-4-r37.
  129. Margaret N. I. Barclay. Selenium content of a range of UK food. Journal of Food Composition and Analysis. 1995. Vol. 8 (4). hlm. 307–318. doi:10.1006/jfca.1995.1025.
  130. Selenium Fact Sheet. ODS.OD.NIH.gov. The Office of Dietary Supplements, National Institutes of Health. (meliputi daftar makanan kaya selenium)
  131. FDA Issues Final Rule to Add Selenium to List of Required Nutrients for Infant Formula. www.fda.gov.
  132. A common reference for this is H. A. Schroeder. Essential trace metals in man: Selenium. Journal of Chronic Diseases. 1970. Vol. 23 (4). hlm. 227–43. doi:10.1016/0021-9681(70)90003-2.
  133. T. Zane Davis. Selenium in Plants. 27 Maret 2008. hlm. 8.
  134. R. Baselt. Disposition of Toxic Drugs and Chemicals in Man. Biomedical Publications. 2008. hlm. 1416–1420. ISBN 978-0-9626523-5-6.
  135. Dietary Supplement Fact Sheet: Selenium. National Institutes of Health; Office of Dietary Supplements.
  136. Panel on Dietary Antioxidants and Related Compounds, Subcommittees on Upper Reference Levels of Nutrients and Interpretation and Uses of DRIs, Standing Committee on the Scientific Evaluation of Dietary Reference Intakes, Food and Nutrition Board, Institute of Medicine. Dietary Reference Intakes for Vitamin C, Vitamin E, Selenium, and Carotenoids. Institute of Medicine. 15 Agustus 2000. hlm. 314–315. doi:10.17226/9810. ISBN 978-0-309-06949-6.
  137. G. Yang. Further Observations on the Human Maximum Safe Dietary Selenium Intake in a Seleniferous Area of China. Journal of Trace Elements and Electrolytes in Health and Disease. 1994. Vol. 8 (3–4). hlm. 159–165.
  138. Guang-Qi Yang. Studies on Human Dietary Requirements and Safe Range of Dietary Intakes of Selenium in China and Their Application in the Prevention of Related Endemic Diseases. Biomedical and Environmental Sciences. 1995. Vol. 8 (3). hlm. 187–201.
  139. Public Health Statement: Health Effects. Agency for Toxic Substances and Disease Registry.
  140. C. G. Wilber. Toxicology of selenium. Clinical Toxicology. 1980. Vol. 17 (2). hlm. 171–230. doi:10.3109/15563658008985076.
  141. O. E. Olson. Selenium Toxicity in Animals with Emphasis on Man. International Journal of Toxicology. 1986. Vol. 5. hlm. 45–70. doi:10.3109/10915818609140736.
  142. Polo pony selenium levels up to 20 times higher than normal. 6 Mei 2009.
  143. H. A. Poston. Vitamin E and selenium interrelations in the diet of Atlantic salmon (Salmo salar): gross, histological and biochemical signs. Journal of Nutrition. 1976. Vol. 106 (7). hlm. 892–904. doi:10.1093/jn/106.7.892.
  144. Steven J. Hamilton. Toxicity of organic selenium in the diet to chinook salmon. Environ. Toxicol. Chem. 1990. Vol. 9 (3). hlm. 347–358. doi:10.1002/etc.5620090310.
  145. CDC – NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards – Selenium. www.cdc.gov.
  146. G. Ravaglia. Effect of micronutrient status on natural killer cell immune function in healthy free-living subjects aged ≥90 y. American Journal of Clinical Nutrition. 2000. Vol. 71 (2). hlm. 590–598. doi:10.1093/ajcn/71.2.590.
  147. MedSafe Editorial Team. Selenium. Prescriber Update Articles. New Zealand Medicines and Medical Devices Safety Authority.
  148. N. V. C. Ralston. Dietary selenium's protective effects against methylmercury toxicity. Toxicology. 2010. Vol. 278 (1). hlm. 112–123. doi:10.1016/j.tox.2010.06.004.
  149. Jim Mann. Essentials of Human Nutrition. Oxford University Press. 2002. ISBN 978-0-19-262756-8.
  150. R. Moreno-Reyes. Selenium and iodine supplementation of rural Tibetan children affected by Kashin-Beck osteoarthropathy. American Journal of Clinical Nutrition. 2003. Vol. 78 (1). hlm. 137–144. doi:10.1093/ajcn/78.1.137.
  151. R. Kachuee. The effect of dietary organic and inorganic selenium supplementation on serum Se, Cu, Fe and Zn status during the late pregnancy in Merghoz goats and their kids. Small Ruminant Research. 2013. Vol. 110 (1). hlm. 20–27. doi:10.1016/j.smallrumres.2012.08.010.
  152. National Research Council, Subcommittee on Sheep Nutrition (1985). Nutrient requirements of sheep. Edisi ke-6, National Academy Press, Washington, .
  153. National Research Council, Committee on Nutrient Requirements of Small Ruminants (2007). Nutrient requirements of small ruminants. National Academies Press, Washington, .
  154. National Research Council, Committee on Nutrient Requirements of Small Ruminants (2007). Nutrient requirements of small ruminants. National Academies Press, Washington, .
  155. I. E. Coop. The metabolism and toxicity of cyanides and cyanogenic glycosides in sheep. N. Z. J. Sci. Technol. 1949. Vol. 30. hlm. 277–291.
  156. R. J. Kraus. Oxidized forms of ovine erythrocyte glutathione peroxidase. Cyanide inhibition of 4-glutathione:4-selenoenzyme. Biochim. Biophys. Acta. 1980. Vol. 615 (1). hlm. 19–26. doi:10.1016/0005-2744(80)90004-2.
  157. Kahn, C. M. (ed.) (2005). Merck veterinary manual. Edisi ke-9. Merck & Co., Inc., Whitehouse Station, .
  158. Ali Razaghi. Selenium stimulates the antitumour immunity: Insights to future research. European Journal of Cancer. 1 September 2021. Vol. 155. hlm. 256–267. doi:10.1016/j.ejca.2021.07.013.
  159. Rahim Rostami. Serum Selenium Status and Its Interrelationship with Serum Biomarkers of Thyroid Function and Antioxidant Defense in Hashimoto's Thyroiditis. Antioxidants. 31 Oktober 2020. Vol. 9 (11). hlm. E1070. doi:10.3390/antiox9111070.
  160. J. B. Vanderpas. Selenium deficiency mitigates hypothyroxinemia in iodine-deficient subjects. The American Journal of Clinical Nutrition. Februari 1993. Vol. 57 (2 Suppl). hlm. 271S–275S. doi:10.1093/ajcn/57.2.271S.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29455970 (2026-07-14T04:32:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.