Lompat ke isi

Kartografi fantasi: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27873773; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Kartografi fantasi''', pembuatan '''peta fiksi''', atau '''geofiksi''' adalah bentuk desain peta yang menampilkan dunia atau konsep imajiner secara visual, atau menggambarkan geografi nyata dengan gaya yang fantastis'''.''' Kartografi jenis ini umumnya lahir dari proses ''worldbuilding'' (pembangunan dunia imajiner) dan sering berkaitan dengan cerita dalam genre fantasi maupun fiksi ilmiah. Menurut Stefan Ekman, “peta biasa hanya merepresentasikan sesuatu yang sudah ada; sedangkan peta fiksi sering menjadi hal yang utama – dengan menciptakan peta, pada dasarnya kita juga menciptakan dunia yang ada di dalam peta tersebut.”
'''Kartografi fantasi''', pembuatan '''peta fiksi''', atau '''geofiksi''' adalah bentuk desain peta yang menampilkan dunia atau konsep imajiner secara visual, atau menggambarkan geografi nyata dengan gaya yang fantastis'''.'''<ref>Jeremiah Benjamin Post. ''An Atlas of Fantasy''. Souvenir Press. 1979. hlm. ix.</ref> Kartografi jenis ini umumnya lahir dari proses ''worldbuilding'' (pembangunan dunia imajiner) dan sering berkaitan dengan cerita dalam genre fantasi maupun fiksi ilmiah. Menurut Stefan Ekman, “peta biasa hanya merepresentasikan sesuatu yang sudah ada; sedangkan peta fiksi sering menjadi hal yang utama – dengan menciptakan peta, pada dasarnya kita juga menciptakan dunia yang ada di dalam peta tersebut.” <ref>Stefan Ekman. ''Here Be Dragons: Exploring Fantasy Maps and Settings''. Wesleyan University Press. 2013. hlm. 20.</ref>


Meskipun kartografi fantasi banyak dipopulerkan melalui novel-novel bergenre fantasi dan fiksi ilmiah, praktik ini juga berkembang menjadi hobi mandiri sekaligus bentuk ekspresi seni. Akar historis kartografi fantasi dapat ditelusuri dalam mitologi, filsafat, sastra, dan ilmu pengetahuan alam. Walaupun umumnya berbentuk geografis, peta fantasi juga dapat mencakup peta planet, galaksi, kosmologi; peta konseptual; hingga peta spekulatif. Peta-peta tersebut hadir dalam beragam media seperti buku, acara televisi, film, permainan video, permainan meja (''tabletop games''), hingga situs web. Ciri khasnya terletak pada estetika, tema, dan gaya yang disesuaikan dengan dunia atau konsep yang ditampilkan. Meningkatnya minat terhadap geofiksi dan ''worldbuilding'' turut mendorong hadirnya perangkat lunak dan program desain yang dirancang khusus untuk para kartografer kreatif.
Meskipun kartografi fantasi banyak dipopulerkan melalui novel-novel bergenre fantasi dan fiksi ilmiah, praktik ini juga berkembang menjadi hobi mandiri sekaligus bentuk ekspresi seni.<ref>Stockton.</ref><ref>[https://wiki.opengeofiction.net/index.php/OpenGeofiction:About OpenGeofiction:About]. ''OpenGeofiction''. 26 September 2021.</ref><ref>[https://www.maproomblog.com/2012/11/the-world-fantasy-map-panel/ The World Fantasy Map Panel]. ''The Map Room''. 20 November 2012.</ref> Akar historis kartografi fantasi dapat ditelusuri dalam mitologi, filsafat, sastra, dan ilmu pengetahuan alam.<ref>Laura Miller. ''Literary Wonderlands: A Journey through the Greatest Fictional Worlds Ever Created''. Black Dog & Leventhal Publishers. 2016.</ref><ref>Anna F. Waymack. ''In the Beginning Was the Word: How Medieval Text Became Fantasy Maps''. ''Studies in Medievalism''. 2020. Vol. 29. hlm. 183–200.</ref> Walaupun umumnya berbentuk geografis, peta fantasi juga dapat mencakup peta planet, galaksi, kosmologi; peta konseptual;<ref>[http://bigthink.com/strange-maps/370-palestines-island-paradise-now-with-a-word-from-its-creator 370 – Palestine's Island Paradise, Now With a Word from its Creator]. ''Blog''. StrangeMaps. 30 March 2009.</ref> hingga peta spekulatif.<ref>Jeremiah Benjamin Post. ''An Atlas of Fantasy''. Souvenir Press. 1979. hlm. ix. Post, Jeremiah Benjamin (1979). ''An Atlas of Fantasy''. London: Souvenir Press. pp. ix.</ref> Peta-peta tersebut hadir dalam beragam media<ref>B. Medyńska-Gulij. ''Modern cartographic form of expression: The renaissance of multimedia cartography''. ''ISPRS International Journal of Geo-Information''. 2021. Vol. 10 (7). hlm. 484. doi:10.3390/ijgi10070484.</ref><ref>Michaela Kinberger. ''Cartography and Art''. ''Book''. Springer Berlin Heidelberg. 26 February 2009. hlm. 1–11. doi:10.1007/978-3-540-68569-2_22. ISBN 978-3-540-68569-2.</ref> seperti buku, acara televisi, film, permainan video, permainan meja (''tabletop games''), hingga situs web. Ciri khasnya terletak pada estetika, tema, dan gaya yang disesuaikan dengan dunia atau konsep yang ditampilkan. Meningkatnya minat terhadap geofiksi dan ''worldbuilding'' turut mendorong hadirnya perangkat lunak dan program desain yang dirancang khusus untuk para kartografer kreatif.<ref>Sam Uliano. [https://d20collective.com/blogs/divinations-from-the-collective/wonderdraft-review-a-whole-new-world Wonderdraft Review: A Whole New World]. ''D20 Collective''. 15 May 2020.</ref><ref>Rokas Malinauskas. [https://dungeongoblin.com/blog/inkarnate-pro-review-2021 Inkarnate Pro Review: Is It The Best Map Making Tool?]. ''Dungeon Goblin''. 7 January 2021.</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Para kartografer pada Abad Pertengahan tidak memandang pekerjaan mereka semata-mata sebagai upaya membuat representasi geografis yang akurat. Peta yang mereka hasilkan kerap berfungsi sekaligus sebagai karya seni dan alat navigasi, dengan memadukan gambar serta simbolisme yang diambil dari mitologi, [[cerita rakyat]], dan kisah-kisah fantasi.
Para kartografer pada Abad Pertengahan tidak memandang pekerjaan mereka semata-mata sebagai upaya membuat representasi geografis yang akurat. Peta yang mereka hasilkan kerap berfungsi sekaligus sebagai karya seni dan alat navigasi, dengan memadukan gambar serta simbolisme yang diambil dari mitologi, [[cerita rakyat]], dan kisah-kisah fantasi.<ref>Anna F. Waymack. ''In the Beginning Was the Word: How Medieval Text Became Fantasy Maps''. ''Studies in Medievalism''. 2020. Vol. 29. hlm. 183–200. Waymack, Anna F.; Greenlee, John Wyatt (2020). "In the Beginning Was the Word: How Medieval Text Became Fantasy Maps". ''Studies in Medievalism''. '''29''': 183– 200.</ref>


Salah satu contoh awal kartografi yang dibuat tanpa tujuan merepresentasikan realitas geografis adalah gambaran Neraka karya [[Dante Alighieri]]. Menjelang akhir abad ke-15, banyak ilustrasi yang terinspirasi dari ''[[Divina Commedia|Divine Comedy]]'' karya Dante Alighieri diterbitkan berdasarkan deskripsi dalam teks tersebut. Gambaran Neraka versi Dante ini terus menjadi bahan eksplorasi bagi para kartografer fantasi selama berabad-abad.
Salah satu contoh awal kartografi yang dibuat tanpa tujuan merepresentasikan realitas geografis adalah gambaran Neraka karya [[Dante Alighieri]]. Menjelang akhir abad ke-15, banyak ilustrasi yang terinspirasi dari ''[[Divina Commedia|Divine Comedy]]'' karya Dante Alighieri diterbitkan berdasarkan deskripsi dalam teks tersebut. Gambaran Neraka versi Dante ini terus menjadi bahan eksplorasi bagi para kartografer fantasi selama berabad-abad.<ref>Ricardo Padron. ''Map: Finding Our Place in the World''. University of Chicago Press. 2007. hlm. 261–62.</ref>


Fiksi yang lahir dari inspirasi [[Abad Penjelajahan Samudra|Era Penemuan]] dan [[Renaisans|Era Pencerahan]] sering kali menghadirkan nuansa romantisasi terhadap kartografi dan kegiatan eksplorasi. Banyak karya klasik dari masa tersebut menempatkan peta sebagai bagian penting dari pengalaman membaca. Beberapa di antaranya yang paling terkenal adalah ''[[Perjalanan Gulliver|Gulliver’s Travels]]'' (1726) karya [[Jonathan Swift]] serta ''Treasure Island'' (1883) karya [[Robert Louis Stevenson]].
Fiksi yang lahir dari inspirasi [[Abad Penjelajahan Samudra|Era Penemuan]] dan [[Renaisans|Era Pencerahan]] sering kali menghadirkan nuansa romantisasi terhadap kartografi dan kegiatan eksplorasi.<ref>Laura Miller. ''Literary Wonderlands: A Journey through the Greatest Fictional Worlds Ever Created''. Black Dog & Leventhal Publishers. 2016. Miller, Laura (2016). ''Literary Wonderlands: A Journey through the Greatest Fictional Worlds Ever Created''. New York: Black Dog & Leventhal Publishers.</ref> Banyak karya klasik dari masa tersebut menempatkan peta sebagai bagian penting dari pengalaman membaca.<ref>Elizabeth Ingram. ''Maps as Reader's Aids: Maps and Plans in Geneva Bibles''. ''Imago Mundi''. 1993. Vol. 45. hlm. 29–44. doi:10.1080/03085699308592762.</ref> Beberapa di antaranya yang paling terkenal adalah ''[[Perjalanan Gulliver|Gulliver’s Travels]]'' (1726) karya [[Jonathan Swift]]<ref>Arthur E. Case. [https://books.google.com/books?id=FvigwgEACAAJ Four Essays on Gulliver's Travels]. Princeton University Press. 1945.</ref> serta ''Treasure Island'' (1883) karya [[Robert Louis Stevenson]].<ref>Laura Miller. ''Literary Wonderlands: A Journey through the Greatest Fictional Worlds Ever Created''. Black Dog & Leventhal Publishers. 2016.</ref>


Kartografer fantasi yang paling berpengaruh adalah [[J.R.R. Tolkien|J. R. R. Tolkien]]. Peta-peta [[Dunia Tengah|Middle-earth]] yang ia tampilkan dalam ''[[The Lord of the Rings]]'' disebut sebagai “contoh paling berpengaruh hingga saat ini,” karena mendorong penulis lain beserta penerbitnya untuk turut menyertakan gambar peta dalam karya mereka. Dalam bukunya ''Here Be Dragons: Exploring Fantasy Maps and Settings'', Stefan Ekman menegaskan bahwa “dalam fantasi modern, khususnya ''high fantasy'', peta sudah dianggap begitu umum hingga hampir wajib ada — terutama berkat peta-peta yang disertakan Tolkien dalam ''The Lord of the Rings'' (1954–55).”
Kartografer fantasi yang paling berpengaruh adalah [[J.R.R. Tolkien|J. R. R. Tolkien]]. Peta-peta [[Dunia Tengah|Middle-earth]] yang ia tampilkan dalam ''[[The Lord of the Rings]]'' disebut sebagai “contoh paling berpengaruh hingga saat ini,” karena mendorong penulis lain beserta penerbitnya untuk turut menyertakan gambar peta dalam karya mereka.<ref>Adele Haft. ''The History of Cartography 6 vols''. University of Chicago Press. 2015. Vol. Cartography in the 20th Century. hlm. 6:782.</ref> Dalam bukunya ''Here Be Dragons: Exploring Fantasy Maps and Settings'', Stefan Ekman menegaskan bahwa “dalam fantasi modern, khususnya ''high fantasy'', peta sudah dianggap begitu umum hingga hampir wajib ada — terutama berkat peta-peta yang disertakan Tolkien dalam ''The Lord of the Rings'' (1954–55).”<ref>Stefan Ekman. ''Here Be Dragons: Exploring Fantasy Maps and Settings''. Wesleyan University Press. 2013. hlm. 22–23.</ref>
 
Sebelum karya Tolkien, salah satu teks yang turut menghadirkan dunia fantastis ke dalam [[budaya populer]] adalah ''[[Penyihir Oz|The Wonderful Wizard of Oz]]'' (1900) karya [[Lyman Frank Baum|L. Frank Baum]], yang kemudian diadaptasi menjadi film musikal fantasi ''[[The Wizard of Oz (film 1939)|The Wizard of Oz]]'' pada tahun 1939. Dunia Oz sendiri dipetakan oleh Baum pada tahun 1914.


Sebelum karya Tolkien, salah satu teks yang turut menghadirkan dunia fantastis ke dalam [[budaya populer]] adalah ''[[Penyihir Oz|The Wonderful Wizard of Oz]]'' (1900) karya [[Lyman Frank Baum|L. Frank Baum]], yang kemudian diadaptasi menjadi film musikal fantasi ''[[The Wizard of Oz (film 1939)|The Wizard of Oz]]'' pada tahun 1939. Dunia Oz sendiri dipetakan oleh Baum pada tahun 1914.<ref>David Maxine. [http://hungrytigerpress.blogspot.com/2012/04/map-of-oz-monday-1914-map-of-oz_02.html?m=1 Map of Oz Monday]. ''Hungry Tiger Talk''. 2 April 2012.</ref>


== Jenis ==
== Jenis ==
Baris 19: Baris 18:


=== Fantasi ===
=== Fantasi ===
 
Fantasi adalah genre [[fiksi spekulatif]] yang melibatkan unsur-unsur magis,  biasanya berlatar di [[dunia fiksi]] dan terkadang terinspirasi oleh mitologi dan cerita rakyat.  Fantasi dibedakan dari genre fiksi ilmiah dan horor karena masing-masing tidak memiliki tema ilmiah atau mengerikan, meskipun genre-genre ini dapat saling tumpang tindih. Dalam budaya populer, genre fantasi sebagian besar menampilkan peta dan latar yang meniru Bumi, tetapi dengan nuansa yang berbeda.<ref>Saricks, Joyce G. [http://worldcat.org/oclc/46769544 The readers' advisory guide to genre fiction]. American Library Association. 2001. hlm. 36–60. ISBN 0-8389-0803-9.</ref> Peta yang dibuat dalam genre ini mencerminkan konsep-konsep tersebut.
Fantasi adalah genre [[fiksi spekulatif]] yang melibatkan unsur-unsur magis,  biasanya berlatar di [[dunia fiksi]] dan terkadang terinspirasi oleh mitologi dan cerita rakyat.  Fantasi dibedakan dari genre fiksi ilmiah dan horor karena masing-masing tidak memiliki tema ilmiah atau mengerikan, meskipun genre-genre ini dapat saling tumpang tindih. Dalam budaya populer, genre fantasi sebagian besar menampilkan peta dan latar yang meniru Bumi, tetapi dengan nuansa yang berbeda. Peta yang dibuat dalam genre ini mencerminkan konsep-konsep tersebut.


=== Fiksi ilmiah ===
=== Fiksi ilmiah ===
Baris 39: Baris 37:
==== Konseptual atau alegoris ====
==== Konseptual atau alegoris ====
Peta konseptual adalah visualisasi kartografis dari ide dan konsep. Peta-peta ini tidak berusaha untuk mencerminkan realitas fisik apa pun, melainkan dimaksudkan untuk menampilkan suatu ide dalam media kartografis. ''The Attack of Love'' karya Matthaus Seutter adalah contoh [[Battle map|peta pertempuran]] yang digunakan sebagai alegori untuk memenangkan hati seseorang yang sedang jatuh cinta.
Peta konseptual adalah visualisasi kartografis dari ide dan konsep. Peta-peta ini tidak berusaha untuk mencerminkan realitas fisik apa pun, melainkan dimaksudkan untuk menampilkan suatu ide dalam media kartografis. ''The Attack of Love'' karya Matthaus Seutter adalah contoh [[Battle map|peta pertempuran]] yang digunakan sebagai alegori untuk memenangkan hati seseorang yang sedang jatuh cinta.


==== Perspektif ====
==== Perspektif ====
Peta fantasi sering digunakan oleh kreator untuk menyampaikan suatu perspektif. Karena alasan ini, peta-peta tersebut digambarkan dibuat oleh karakter atau organisasi di dunia nyata. Ini merupakan alat yang berguna bagi penulis atau pembangun dunia karena peta tersebut dapat berperan sebagai karakter dalam cerita. Peta-peta tersebut bisa saja keliru, spesifik waktu, atau berprasangka, seperti halnya karakter biasa atau [[Pengisah lancung|narator yang tidak dapat diandalkan]] .
Peta fantasi sering digunakan oleh kreator untuk menyampaikan suatu perspektif. Karena alasan ini, peta-peta tersebut digambarkan dibuat oleh karakter atau organisasi di dunia nyata. Ini merupakan alat yang berguna bagi penulis atau pembangun dunia karena peta tersebut dapat berperan sebagai karakter dalam cerita. Peta-peta tersebut bisa saja keliru, spesifik waktu, atau berprasangka, seperti halnya karakter biasa atau [[Pengisah lancung|narator yang tidak dapat diandalkan]] .<ref>John Brian Harley. [https://quod.lib.umich.edu/p/passages/4761530.0003.008/--deconstructing-the-map?rgn=main;view=fulltext Deconstructing the map]. ''Cartographica''. 1989. Vol. 26 (2). hlm. 1–20. doi:10.3138/E635-7827-1757-9T53.</ref>
 
Sebagaimana para kreator dapat menggunakan peta untuk menyampaikan perspektif, umat manusia telah melakukan hal serupa dalam sejarah. <nowiki><i id="mwAZo">Europa Regina</i></nowiki> karya Sebastian Munster adalah contoh yang baik – sebuah desain peta yang menggambarkan Eropa sebagai ratu yang agung.


Sebagaimana para kreator dapat menggunakan peta untuk menyampaikan perspektif, umat manusia telah melakukan hal serupa dalam sejarah. <nowiki><i id="mwAZo">Europa Regina</i></nowiki> karya Sebastian Munster adalah contoh yang baik – sebuah desain peta yang menggambarkan Eropa sebagai ratu yang agung.<ref>Frank Jacobs. [https://bigthink.com/strange-maps/141-europe-as-a-queen/ A Curious Map Showing Europe as a Queen]. ''Big Think''. 10 July 2010.</ref>


==== Pedagogis atau simulatif ====
==== Pedagogis atau simulatif ====
Peta fantasi dapat digunakan sebagai alat bantu kartografi untuk mengajar atau mensimulasikan situasi. Pada [[Perang Dingin|masa Perang Dingin]], seorang [[Kriptografi|kriptolog]] Angkatan Darat AS , Lambros D. Callimahos, mengembangkan sebuah latihan permainan perang untuk [[Analisis kriptografi|para pemecah kode]] yang mensimulasikan invasi [[Kuba]] . Dalam program ini, fantasi 'Republik Zendia' diciptakan dengan provinsi utara dan tengahnya, 'Loreno', dipetakan sebagai referensi kartografi yang digunakan dalam latihan-latihan ini. Peta-peta fantasi ini kini telah dideklasifikasi dan dirilis ke domain publik oleh Militer AS.
Peta fantasi dapat digunakan sebagai alat bantu kartografi untuk mengajar atau mensimulasikan situasi. Pada [[Perang Dingin|masa Perang Dingin]], seorang [[Kriptografi|kriptolog]] Angkatan Darat AS , Lambros D. Callimahos, mengembangkan sebuah latihan permainan perang untuk [[Analisis kriptografi|para pemecah kode]] yang mensimulasikan invasi [[Kuba]] .<ref>[https://www.geographicus.com/P/AntiqueMap/ZendiaProblem-callimahos-1960 1960 Callimahos Top Secret Maps of the Republic of Zendia]. ''Geographicus''.</ref><ref>Charles Varga. [https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/01611194.2017.1327698?journalCode=ucry20 Is Zendia the Isle of Pines?]. ''Cryptologia''. 2017. Vol. 41 (4). hlm. 388–394. doi:10.1080/01611194.2017.1327698.</ref> Dalam program ini, fantasi 'Republik Zendia' diciptakan dengan provinsi utara dan tengahnya, 'Loreno', dipetakan sebagai referensi kartografi yang digunakan dalam latihan-latihan ini.<ref>[https://www.geographicus.com/P/AntiqueMap/ZendiaProblem-callimahos-1960 1960 Callimahos Top Secret Maps of the Republic of Zendia]. ''Geographicus''.</ref> Peta-peta fantasi ini kini telah dideklasifikasi dan dirilis ke domain publik oleh Militer AS.<ref>[https://www.geographicus.com/P/AntiqueMap/ZendiaProblem-callimahos-1960 1960 Callimahos Top Secret Maps of the Republic of Zendia]. ''Geographicus''.</ref><ref>Charles Varga. [https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/01611194.2017.1327698?journalCode=ucry20 Is Zendia the Isle of Pines?]. ''Cryptologia''. 2017. Vol. 41 (4). hlm. 388–394. doi:10.1080/01611194.2017.1327698.</ref>
 


== Perangkat lunak kartografi ==
== Perangkat lunak kartografi ==
Dengan meningkatnya popularitas kartografi fantasi profesional dan rekreasi, permintaan akan program komputer untuk menyederhanakan prosesnya juga meningkat. Dua pemimpin dalam industri yang sedang berkembang ini adalah [[Wonderdraft]] dan Inkarnate. Beberapa program perangkat lunak dapat membuat medan acak menggunakan algoritma [[fraktal]] . Program yang canggih dapat menerapkan efek geologi seperti pergerakan lempeng tektonik dan erosi; dunia yang dihasilkan dapat [[Rendering|dirender]] dengan sangat detail, memberikan tingkat realisme pada hasilnya. [[OpenGeofiction]] memungkinkan siapa pun untuk berlatih kartografi fantasi secara kolaboratif.
Dengan meningkatnya popularitas kartografi fantasi profesional dan rekreasi, permintaan akan program komputer untuk menyederhanakan prosesnya juga meningkat.<ref>[https://wiki.opengeofiction.net/index.php/OpenGeofiction:About OpenGeofiction:About]. ''OpenGeofiction''. 26 September 2021. [https://wiki.opengeofiction.net/index.php/OpenGeofiction:About "OpenGeofiction:About"]. ''OpenGeofiction''. 26 September 2021.</ref><ref>Stockton. Stockton, Nick (14 August 2013). [https://www.wired.com/2013/08/fictional-koana-islands-maps/ "You won't believe how insanely detailed this guy's fictional maps are. Seriously"]. ''Wired''.</ref><ref>[https://www.maproomblog.com/2012/11/the-world-fantasy-map-panel/ The World Fantasy Map Panel]. ''The Map Room''. 20 November 2012. [https://www.maproomblog.com/2012/11/the-world-fantasy-map-panel/ "The World Fantasy Map Panel"]. ''The Map Room''. 20 November 2012 . Retrieved 27 May 2022 .</ref> Dua pemimpin dalam industri yang sedang berkembang ini adalah [[Wonderdraft]] <ref>Sam Uliano. [https://d20collective.com/blogs/divinations-from-the-collective/wonderdraft-review-a-whole-new-world Wonderdraft Review: A Whole New World]. ''D20 Collective''. 15 May 2020. Uliano, Sam (15 May 2020). [https://d20collective.com/blogs/divinations-from-the-collective/wonderdraft-review-a-whole-new-world "Wonderdraft Review: A Whole New World"]. ''D20 Collective''.</ref> dan Inkarnate.<ref>Rokas Malinauskas. [https://dungeongoblin.com/blog/inkarnate-pro-review-2021 Inkarnate Pro Review: Is It The Best Map Making Tool?]. ''Dungeon Goblin''. 7 January 2021. Malinauskas, Rokas (7 January 2021). [https://dungeongoblin.com/blog/inkarnate-pro-review-2021 "Inkarnate Pro Review: Is It The Best Map Making Tool?"]. ''Dungeon Goblin''.</ref> Beberapa program perangkat lunak dapat membuat medan acak menggunakan algoritma [[fraktal]] . Program yang canggih dapat menerapkan efek geologi seperti pergerakan lempeng tektonik dan erosi; dunia yang dihasilkan dapat [[Rendering|dirender]] dengan sangat detail, memberikan tingkat realisme pada hasilnya.<ref>Maddle Crum. [https://www.huffpost.com/entry/get-lost-in-these-maps-of-fictional-worlds_n_55d639b1e4b0ab468da06cfa Get Lost In These Maps Of Fictional Literary Worlds]. ''Huffpost''. 24 August 2015.</ref> [[OpenGeofiction]] memungkinkan siapa pun untuk berlatih kartografi fantasi secara kolaboratif.
 
 
== Referensi ==
 


== Bacaan lebih lanjut ==
== Bacaan lebih lanjut ==
 
*  
*
*  
*
*
*


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kartografi+fantasi&oldid=27873773 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27873773 (2025-09-23T08:09:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kartografi+fantasi&oldid=27873773 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 27873773 (2025-09-23T08:09:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 14.13

Kartografi fantasi, pembuatan peta fiksi, atau geofiksi adalah bentuk desain peta yang menampilkan dunia atau konsep imajiner secara visual, atau menggambarkan geografi nyata dengan gaya yang fantastis.[1] Kartografi jenis ini umumnya lahir dari proses worldbuilding (pembangunan dunia imajiner) dan sering berkaitan dengan cerita dalam genre fantasi maupun fiksi ilmiah. Menurut Stefan Ekman, “peta biasa hanya merepresentasikan sesuatu yang sudah ada; sedangkan peta fiksi sering menjadi hal yang utama – dengan menciptakan peta, pada dasarnya kita juga menciptakan dunia yang ada di dalam peta tersebut.” [2]

Meskipun kartografi fantasi banyak dipopulerkan melalui novel-novel bergenre fantasi dan fiksi ilmiah, praktik ini juga berkembang menjadi hobi mandiri sekaligus bentuk ekspresi seni.[3][4][5] Akar historis kartografi fantasi dapat ditelusuri dalam mitologi, filsafat, sastra, dan ilmu pengetahuan alam.[6][7] Walaupun umumnya berbentuk geografis, peta fantasi juga dapat mencakup peta planet, galaksi, kosmologi; peta konseptual;[8] hingga peta spekulatif.[9] Peta-peta tersebut hadir dalam beragam media[10][11] seperti buku, acara televisi, film, permainan video, permainan meja (tabletop games), hingga situs web. Ciri khasnya terletak pada estetika, tema, dan gaya yang disesuaikan dengan dunia atau konsep yang ditampilkan. Meningkatnya minat terhadap geofiksi dan worldbuilding turut mendorong hadirnya perangkat lunak dan program desain yang dirancang khusus untuk para kartografer kreatif.[12][13]

Sejarah

Para kartografer pada Abad Pertengahan tidak memandang pekerjaan mereka semata-mata sebagai upaya membuat representasi geografis yang akurat. Peta yang mereka hasilkan kerap berfungsi sekaligus sebagai karya seni dan alat navigasi, dengan memadukan gambar serta simbolisme yang diambil dari mitologi, cerita rakyat, dan kisah-kisah fantasi.[14]

Salah satu contoh awal kartografi yang dibuat tanpa tujuan merepresentasikan realitas geografis adalah gambaran Neraka karya Dante Alighieri. Menjelang akhir abad ke-15, banyak ilustrasi yang terinspirasi dari Divine Comedy karya Dante Alighieri diterbitkan berdasarkan deskripsi dalam teks tersebut. Gambaran Neraka versi Dante ini terus menjadi bahan eksplorasi bagi para kartografer fantasi selama berabad-abad.[15]

Fiksi yang lahir dari inspirasi Era Penemuan dan Era Pencerahan sering kali menghadirkan nuansa romantisasi terhadap kartografi dan kegiatan eksplorasi.[16] Banyak karya klasik dari masa tersebut menempatkan peta sebagai bagian penting dari pengalaman membaca.[17] Beberapa di antaranya yang paling terkenal adalah Gulliver’s Travels (1726) karya Jonathan Swift[18] serta Treasure Island (1883) karya Robert Louis Stevenson.[19]

Kartografer fantasi yang paling berpengaruh adalah J. R. R. Tolkien. Peta-peta Middle-earth yang ia tampilkan dalam The Lord of the Rings disebut sebagai “contoh paling berpengaruh hingga saat ini,” karena mendorong penulis lain beserta penerbitnya untuk turut menyertakan gambar peta dalam karya mereka.[20] Dalam bukunya Here Be Dragons: Exploring Fantasy Maps and Settings, Stefan Ekman menegaskan bahwa “dalam fantasi modern, khususnya high fantasy, peta sudah dianggap begitu umum hingga hampir wajib ada — terutama berkat peta-peta yang disertakan Tolkien dalam The Lord of the Rings (1954–55).”[21]

Sebelum karya Tolkien, salah satu teks yang turut menghadirkan dunia fantastis ke dalam budaya populer adalah The Wonderful Wizard of Oz (1900) karya L. Frank Baum, yang kemudian diadaptasi menjadi film musikal fantasi The Wizard of Oz pada tahun 1939. Dunia Oz sendiri dipetakan oleh Baum pada tahun 1914.[22]

Jenis

Ada banyak jenis peta dalam fantasi kartografi yang dapat diklasifikasikan berdasarkan genre, cakupan, dan tujuan.

Fantasi

Fantasi adalah genre fiksi spekulatif yang melibatkan unsur-unsur magis, biasanya berlatar di dunia fiksi dan terkadang terinspirasi oleh mitologi dan cerita rakyat. Fantasi dibedakan dari genre fiksi ilmiah dan horor karena masing-masing tidak memiliki tema ilmiah atau mengerikan, meskipun genre-genre ini dapat saling tumpang tindih. Dalam budaya populer, genre fantasi sebagian besar menampilkan peta dan latar yang meniru Bumi, tetapi dengan nuansa yang berbeda.[23] Peta yang dibuat dalam genre ini mencerminkan konsep-konsep tersebut.

Fiksi ilmiah

Fiksi ilmiah adalah genre fiksi spekulatif yang biasanya membahas konsep-konsep imajinatif dan futuristik seperti sains dan teknologi canggih, eksplorasi ruang angkasa, perjalanan waktu, alam semesta paralel, dan kehidupan ekstraterestial . Fiksi ilmiah disebut sebagai "sastra ide", dan sering kali mengeksplorasi potensi konsekuensi dari inovasi ilmiah, sosial, dan teknologi. Peta-peta yang dibuat dalam genre ini mencerminkan konsep-konsep tersebut.

Cakupan

Peta fantasi dapat dikategorikan berdasarkan cakupannya. Cakupan menentukan bagaimana, dan seberapa banyak, informasi ditampilkan di peta.

  • Lokal (Peta kota dan desa)
  • Geografis
  • Planet
  • Galaksi
  • Kosmologis

Tujuan

Peta fantasi dapat dikategorikan berdasarkan tujuannya. Klasifikasi ini mencerminkan tujuan pembuatnya dan memengaruhi cara pembuatan peta tersebut.

Konseptual atau alegoris

Peta konseptual adalah visualisasi kartografis dari ide dan konsep. Peta-peta ini tidak berusaha untuk mencerminkan realitas fisik apa pun, melainkan dimaksudkan untuk menampilkan suatu ide dalam media kartografis. The Attack of Love karya Matthaus Seutter adalah contoh peta pertempuran yang digunakan sebagai alegori untuk memenangkan hati seseorang yang sedang jatuh cinta.

Perspektif

Peta fantasi sering digunakan oleh kreator untuk menyampaikan suatu perspektif. Karena alasan ini, peta-peta tersebut digambarkan dibuat oleh karakter atau organisasi di dunia nyata. Ini merupakan alat yang berguna bagi penulis atau pembangun dunia karena peta tersebut dapat berperan sebagai karakter dalam cerita. Peta-peta tersebut bisa saja keliru, spesifik waktu, atau berprasangka, seperti halnya karakter biasa atau narator yang tidak dapat diandalkan .[24]

Sebagaimana para kreator dapat menggunakan peta untuk menyampaikan perspektif, umat manusia telah melakukan hal serupa dalam sejarah. <i id="mwAZo">Europa Regina</i> karya Sebastian Munster adalah contoh yang baik – sebuah desain peta yang menggambarkan Eropa sebagai ratu yang agung.[25]

Pedagogis atau simulatif

Peta fantasi dapat digunakan sebagai alat bantu kartografi untuk mengajar atau mensimulasikan situasi. Pada masa Perang Dingin, seorang kriptolog Angkatan Darat AS , Lambros D. Callimahos, mengembangkan sebuah latihan permainan perang untuk para pemecah kode yang mensimulasikan invasi Kuba .[26][27] Dalam program ini, fantasi 'Republik Zendia' diciptakan dengan provinsi utara dan tengahnya, 'Loreno', dipetakan sebagai referensi kartografi yang digunakan dalam latihan-latihan ini.[28] Peta-peta fantasi ini kini telah dideklasifikasi dan dirilis ke domain publik oleh Militer AS.[29][30]

Perangkat lunak kartografi

Dengan meningkatnya popularitas kartografi fantasi profesional dan rekreasi, permintaan akan program komputer untuk menyederhanakan prosesnya juga meningkat.[31][32][33] Dua pemimpin dalam industri yang sedang berkembang ini adalah Wonderdraft [34] dan Inkarnate.[35] Beberapa program perangkat lunak dapat membuat medan acak menggunakan algoritma fraktal . Program yang canggih dapat menerapkan efek geologi seperti pergerakan lempeng tektonik dan erosi; dunia yang dihasilkan dapat dirender dengan sangat detail, memberikan tingkat realisme pada hasilnya.[36] OpenGeofiction memungkinkan siapa pun untuk berlatih kartografi fantasi secara kolaboratif.

Bacaan lebih lanjut

Referensi

  1. Jeremiah Benjamin Post. An Atlas of Fantasy. Souvenir Press. 1979. hlm. ix.
  2. Stefan Ekman. Here Be Dragons: Exploring Fantasy Maps and Settings. Wesleyan University Press. 2013. hlm. 20.
  3. Stockton.
  4. OpenGeofiction:About. OpenGeofiction. 26 September 2021.
  5. The World Fantasy Map Panel. The Map Room. 20 November 2012.
  6. Laura Miller. Literary Wonderlands: A Journey through the Greatest Fictional Worlds Ever Created. Black Dog & Leventhal Publishers. 2016.
  7. Anna F. Waymack. In the Beginning Was the Word: How Medieval Text Became Fantasy Maps. Studies in Medievalism. 2020. Vol. 29. hlm. 183–200.
  8. 370 – Palestine's Island Paradise, Now With a Word from its Creator. Blog. StrangeMaps. 30 March 2009.
  9. Jeremiah Benjamin Post. An Atlas of Fantasy. Souvenir Press. 1979. hlm. ix. Post, Jeremiah Benjamin (1979). An Atlas of Fantasy. London: Souvenir Press. pp. ix.
  10. B. Medyńska-Gulij. Modern cartographic form of expression: The renaissance of multimedia cartography. ISPRS International Journal of Geo-Information. 2021. Vol. 10 (7). hlm. 484. doi:10.3390/ijgi10070484.
  11. Michaela Kinberger. Cartography and Art. Book. Springer Berlin Heidelberg. 26 February 2009. hlm. 1–11. doi:10.1007/978-3-540-68569-2_22. ISBN 978-3-540-68569-2.
  12. Sam Uliano. Wonderdraft Review: A Whole New World. D20 Collective. 15 May 2020.
  13. Rokas Malinauskas. Inkarnate Pro Review: Is It The Best Map Making Tool?. Dungeon Goblin. 7 January 2021.
  14. Anna F. Waymack. In the Beginning Was the Word: How Medieval Text Became Fantasy Maps. Studies in Medievalism. 2020. Vol. 29. hlm. 183–200. Waymack, Anna F.; Greenlee, John Wyatt (2020). "In the Beginning Was the Word: How Medieval Text Became Fantasy Maps". Studies in Medievalism. 29: 183– 200.
  15. Ricardo Padron. Map: Finding Our Place in the World. University of Chicago Press. 2007. hlm. 261–62.
  16. Laura Miller. Literary Wonderlands: A Journey through the Greatest Fictional Worlds Ever Created. Black Dog & Leventhal Publishers. 2016. Miller, Laura (2016). Literary Wonderlands: A Journey through the Greatest Fictional Worlds Ever Created. New York: Black Dog & Leventhal Publishers.
  17. Elizabeth Ingram. Maps as Reader's Aids: Maps and Plans in Geneva Bibles. Imago Mundi. 1993. Vol. 45. hlm. 29–44. doi:10.1080/03085699308592762.
  18. Arthur E. Case. Four Essays on Gulliver's Travels. Princeton University Press. 1945.
  19. Laura Miller. Literary Wonderlands: A Journey through the Greatest Fictional Worlds Ever Created. Black Dog & Leventhal Publishers. 2016.
  20. Adele Haft. The History of Cartography 6 vols. University of Chicago Press. 2015. Vol. Cartography in the 20th Century. hlm. 6:782.
  21. Stefan Ekman. Here Be Dragons: Exploring Fantasy Maps and Settings. Wesleyan University Press. 2013. hlm. 22–23.
  22. David Maxine. Map of Oz Monday. Hungry Tiger Talk. 2 April 2012.
  23. Saricks, Joyce G. The readers' advisory guide to genre fiction. American Library Association. 2001. hlm. 36–60. ISBN 0-8389-0803-9.
  24. John Brian Harley. Deconstructing the map. Cartographica. 1989. Vol. 26 (2). hlm. 1–20. doi:10.3138/E635-7827-1757-9T53.
  25. Frank Jacobs. A Curious Map Showing Europe as a Queen. Big Think. 10 July 2010.
  26. 1960 Callimahos Top Secret Maps of the Republic of Zendia. Geographicus.
  27. Charles Varga. Is Zendia the Isle of Pines?. Cryptologia. 2017. Vol. 41 (4). hlm. 388–394. doi:10.1080/01611194.2017.1327698.
  28. 1960 Callimahos Top Secret Maps of the Republic of Zendia. Geographicus.
  29. 1960 Callimahos Top Secret Maps of the Republic of Zendia. Geographicus.
  30. Charles Varga. Is Zendia the Isle of Pines?. Cryptologia. 2017. Vol. 41 (4). hlm. 388–394. doi:10.1080/01611194.2017.1327698.
  31. OpenGeofiction:About. OpenGeofiction. 26 September 2021. "OpenGeofiction:About". OpenGeofiction. 26 September 2021.
  32. Stockton. Stockton, Nick (14 August 2013). "You won't believe how insanely detailed this guy's fictional maps are. Seriously". Wired.
  33. The World Fantasy Map Panel. The Map Room. 20 November 2012. "The World Fantasy Map Panel". The Map Room. 20 November 2012 . Retrieved 27 May 2022 .
  34. Sam Uliano. Wonderdraft Review: A Whole New World. D20 Collective. 15 May 2020. Uliano, Sam (15 May 2020). "Wonderdraft Review: A Whole New World". D20 Collective.
  35. Rokas Malinauskas. Inkarnate Pro Review: Is It The Best Map Making Tool?. Dungeon Goblin. 7 January 2021. Malinauskas, Rokas (7 January 2021). "Inkarnate Pro Review: Is It The Best Map Making Tool?". Dungeon Goblin.
  36. Maddle Crum. Get Lost In These Maps Of Fictional Literary Worlds. Huffpost. 24 August 2015.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27873773 (2025-09-23T08:09:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.