Bahan pengikat: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29459215; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 16: | Baris 16: | ||
==Kegunaan== | ==Kegunaan== | ||
Pengikat menyatukan pigmen dan terkadang material pengisi untuk membentuk [[cat]], [[pastel]], dan material lain yang digunakan untuk lukisan artistik dan fungsional. Bahan-bahan yang digunakan meliputi [[malam (zat)|malam]], [[minyak biji rami]], [[gom]] alami seperti [[gom arab]] atau gom [[tragakan]], [[metil selulosa]], atau [[protein]] seperti [[putih telur]] atau [[kasein]]. Lem secara tradisional dibuat dengan merebus kuku, tulang, atau kulit hewan, kemudian mencampur residu gelatin yang keras dengan air. Pengikat berbasis gom alami dibuat dari zat yang diekstrak dari tumbuhan. Jumlah zat kering yang lebih besar ditambahkan ke pengikat cair untuk mencetak atau membuat patung dan [[relief]]. | Pengikat menyatukan pigmen dan terkadang material pengisi untuk membentuk [[cat]], [[pastel]], dan material lain yang digunakan untuk lukisan artistik dan fungsional. Bahan-bahan yang digunakan meliputi [[malam (zat)|malam]], [[minyak biji rami]], [[gom]] alami seperti [[gom arab]] atau gom [[tragakan]], [[metil selulosa]], atau [[protein]] seperti [[putih telur]] atau [[kasein]]. Lem secara tradisional dibuat dengan merebus kuku, tulang, atau kulit hewan, kemudian mencampur residu gelatin yang keras dengan air. Pengikat berbasis gom alami dibuat dari zat yang diekstrak dari tumbuhan.<ref>Oppi Untracht. [https://books.google.com/books?id=_Jc4VBmK9l8C&q=organic+binder&pg=PA351 Jewelry concepts and technology]. Random House Digital. 1982. hlm. 351. ISBN 9780385041850.</ref> Jumlah zat kering yang lebih besar ditambahkan ke pengikat cair untuk mencetak atau membuat patung dan [[relief]].<ref>Arthur Williams. [https://archive.org/details/sculpturereferen0000will The sculpture reference illustrated: contemporary techniques, terms, tools, materials, and sculpture]. Sculpture Books. 2005. hlm. [https://archive.org/details/sculpturereferen0000will/page/40 40].</ref> | ||
Dalam [[memasak]], berbagai bahan pengental yang dapat dimakan digunakan sebagai pengikat. Beberapa di antaranya; misalnya tepung [[tapioka]], [[laktosa]], [[sukrosa]], [[selulosa]] mikrokristalin, [[polivinilpirolidon]], dan berbagai [[amilum|pati]]; juga digunakan dalam [[farmakologi]] untuk membuat [[tablet (farmasi)|tablet]]. Bahan pengikat tablet meliputi bubuk laktosa, bubuk sukrosa, pati tapioka (tepung singkong), dan selulosa mikrokristalin. | Dalam [[memasak]], berbagai bahan pengental yang dapat dimakan digunakan sebagai pengikat. Beberapa di antaranya; misalnya tepung [[tapioka]], [[laktosa]], [[sukrosa]], [[selulosa]] mikrokristalin, [[polivinilpirolidon]], dan berbagai [[amilum|pati]]; juga digunakan dalam [[farmakologi]] untuk membuat [[tablet (farmasi)|tablet]]. Bahan pengikat tablet meliputi bubuk laktosa, bubuk sukrosa, pati tapioka (tepung singkong), dan selulosa mikrokristalin. | ||
| Baris 31: | Baris 31: | ||
==Sejarah== | ==Sejarah== | ||
Di Dunia Klasik, pelukis menggunakan bahan-bahan seperti [[telur]], [[malam (zat)|malam]], [[madu]], [[kapur]], [[kasein]], [[minyak biji rami]], atau [[bitumen]] sebagai pengikat untuk dicampur dengan [[pigmen]] agar partikel pigmen tetap menyatu dalam pembentukan cat. Tempera berbasis telur sangat populer di Eropa dari Abad Pertengahan hingga awal abad ke-16. Namun, sejak saat itu, pengikat pilihan untuk cat adalah [[lukisan minyak|minyak]]. | Di Dunia Klasik, pelukis menggunakan bahan-bahan seperti [[telur]], [[malam (zat)|malam]], [[madu]], [[kapur]], [[kasein]], [[minyak biji rami]], atau [[bitumen]] sebagai pengikat untuk dicampur dengan [[pigmen]] agar partikel pigmen tetap menyatu dalam pembentukan cat.<ref>Janet Burnett Grossman. [https://books.google.com/books?id=BbkrZuMc-hwC&q=sculpture+binder&pg=PA18 Looking at Greek and Roman sculpture in stone: a guide to terms, styles, and techniques]. Getty Publications. 2003. hlm. 18. ISBN 9780892367085.</ref> Tempera berbasis telur sangat populer di Eropa dari Abad Pertengahan hingga awal abad ke-16.<ref>[https://books.google.com/books?id=k9MDAAAAMBAJ&q=binder&pg=PA105 Collector's Guide]. WingSpread. 1995. hlm. 109.</ref> Namun, sejak saat itu, pengikat pilihan untuk cat adalah [[lukisan minyak|minyak]].<ref>Tim Bruckner. [https://books.google.com/books?id=8KoX6Sow0UwC&q=binder+clay+sculpture&pg=PA37 Pop Sculpture: How to Create Action Figures and Collectible Statues]. Random House Digital. 2010. hlm. 37. ISBN 9780823095223.</ref> | ||
== | |||
== Referensi == | |||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bahan+pengikat&oldid=29459215 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29459215 (2026-07-14T20:40:19Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bahan+pengikat&oldid=29459215 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29459215 (2026-07-14T20:40:19Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 23.04
Bahan pengikat adalah material atau zat apa pun yang menahan atau menarik material lain bersama-sama untuk membentuk keseluruhan yang kohesif secara mekanis, kimiawi, melalui adhesi atau kohesi.
Secara lebih sempit, bahan pengikat adalah zat cair atau seperti adonan yang mengeras melalui proses kimia atau fisik dan mengikat serat, bubuk pengisi, dan partikel lain yang ditambahkan ke dalamnya. Contohnya termasuk lem, perekat, dan bahan pengental.
Contoh bahan pengikat mekanis adalah batu pengikat dalam konstruksi batu dan balok pengikat dalam konstruksi kayu.
Klasifikasi
Bahan pengikat secara umum diklasifikasikan sebagai organik (bitumen, lem hewan dan tumbuhan, polimer) dan anorganik (kapur, semen, gipsum, kaca cair, dll.). Bahan-bahan ini dapat berupa logam atau keramik serta polimer tergantung pada sifat material utama. Sebagai contoh, dalam senyawa WC-Co (Tungsten karbida yang digunakan dalam alat potong), Co merupakan bahan pengikat untuk partikel WC.
Berdasarkan ketahanan kimianya, bahan pengikat diklasifikasikan menurut bidang penggunaannya: non-hidraulik (gipsum, semen udara, magnesia, kapur hidrat), hidraulik (semen Romawi, semen Portland, kapur hidraulik), tahan asam (semen silikon fluorida, semen kuarsa), dan dapat diautoklaf (mengeras pada suhu 170 hingga 300°C yaitu tekanan 8-16 atm, dan misalnya terdiri dari bahan CaSiO3).
Sifat fisik
Beberapa material yang disebut sebagai pengikat, seperti semen, memiliki kekuatan tekan yang tinggi tetapi memiliki kekuatan tarik yang rendah dan perlu diperkuat dengan material berserat atau besi beton jika akan diterapkan gaya tarik dan geser.
Agen pengikat lainnya, seperti resin, mungkin kuat dan mungkin elastis tetapi tidak dapat menahan gaya tekan maupun tarik. Kekuatan tarik sangat meningkat pada material komposit yang terdiri dari resin sebagai matriks dan serat sebagai penguat. Kekuatan tekan dapat ditingkatkan dengan menambahkan material pengisi.
Kegunaan
Pengikat menyatukan pigmen dan terkadang material pengisi untuk membentuk cat, pastel, dan material lain yang digunakan untuk lukisan artistik dan fungsional. Bahan-bahan yang digunakan meliputi malam, minyak biji rami, gom alami seperti gom arab atau gom tragakan, metil selulosa, atau protein seperti putih telur atau kasein. Lem secara tradisional dibuat dengan merebus kuku, tulang, atau kulit hewan, kemudian mencampur residu gelatin yang keras dengan air. Pengikat berbasis gom alami dibuat dari zat yang diekstrak dari tumbuhan.[1] Jumlah zat kering yang lebih besar ditambahkan ke pengikat cair untuk mencetak atau membuat patung dan relief.[2]
Dalam memasak, berbagai bahan pengental yang dapat dimakan digunakan sebagai pengikat. Beberapa di antaranya; misalnya tepung tapioka, laktosa, sukrosa, selulosa mikrokristalin, polivinilpirolidon, dan berbagai pati; juga digunakan dalam farmakologi untuk membuat tablet. Bahan pengikat tablet meliputi bubuk laktosa, bubuk sukrosa, pati tapioka (tepung singkong), dan selulosa mikrokristalin.
Dalam konstruksi bangunan, beton menggunakan semen sebagai bahan pengikat. Pengerasan aspal menggunakan bitumen sebagai bahan pengikat. Secara tradisional, jerami dan serat alami digunakan untuk memperkuat tanah liat dalam sasak dan tampal serta dalam bahan bangunan tepek yang jika tidak akan menjadi rapuh setelah kering. Pasir ditambahkan untuk meningkatkan kekuatan tekan, kekerasan, dan mengurangi penyusutan. Sifat pengikat tanah liat juga banyak digunakan untuk membuat barang-barang berbentuk (misalnya pot dan vas) atau untuk mengikat potongan padat (misalnya batu bata).
Dalam material komposit, resin epoksi, poliester, atau fenolik umum digunakan. Dalam komposit karbon-karbon yang diperkuat, resin plastik atau resin aspal digunakan sebagai sumber karbon yang dilepaskan melalui pirolisis. Transite, hypertufa, papercrete, dan petecrete menggunakan semen sebagai pengikat.
Dalam bahan peledak, malam atau polimer seperti poliisobutilena atau karet stirena-butadiena sering digunakan sebagai pengikat untuk bahan peledak plastik. Untuk bahan peledak yang diikat polimer, berbagai polimer sintetis digunakan.
Dalam bahan bakar roket, kopolimer polibutadiena akrilonitril digunakan dalam bahan bakar roket pendorong padat besar tahun 1960-70-an.
Pengikat organik, yang dirancang untuk terurai oleh panas selama pemanggangan, digunakan dalam proses penyinteran.
Sejarah
Di Dunia Klasik, pelukis menggunakan bahan-bahan seperti telur, malam, madu, kapur, kasein, minyak biji rami, atau bitumen sebagai pengikat untuk dicampur dengan pigmen agar partikel pigmen tetap menyatu dalam pembentukan cat.[3] Tempera berbasis telur sangat populer di Eropa dari Abad Pertengahan hingga awal abad ke-16.[4] Namun, sejak saat itu, pengikat pilihan untuk cat adalah minyak.[5]
Referensi
- ↑ Oppi Untracht. Jewelry concepts and technology. Random House Digital. 1982. hlm. 351. ISBN 9780385041850.
- ↑ Arthur Williams. The sculpture reference illustrated: contemporary techniques, terms, tools, materials, and sculpture. Sculpture Books. 2005. hlm. 40.
- ↑ Janet Burnett Grossman. Looking at Greek and Roman sculpture in stone: a guide to terms, styles, and techniques. Getty Publications. 2003. hlm. 18. ISBN 9780892367085.
- ↑ Collector's Guide. WingSpread. 1995. hlm. 109.
- ↑ Tim Bruckner. Pop Sculpture: How to Create Action Figures and Collectible Statues. Random House Digital. 2010. hlm. 37. ISBN 9780823095223.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29459215 (2026-07-14T20:40:19Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.