Lompat ke isi

Berita bohong: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29312878; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Baris 1: Baris 1:
'''Kabar bohong''' atau '''hoaks''' () adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan [[rumor]], [[ilmu semu]], atau '''[[berita palsu]]''', maupun [[April Mop]]. Tujuan dari berita bohong adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah.
[[File:Hoaks.jpg|thumb|right|280px|381x381px]]
 
'''Kabar bohong''' atau '''hoaks''' () adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.<ref>Curtis D. MacDougall. [https://archive.org/details/hoaxes0000curt_u4f4 Hoaxes]. Dover. 1958. hlm. [https://archive.org/details/hoaxes0000curt_u4f4/page/6 6]. ISBN 0-486-20465-0.</ref> Hal ini tidak sama dengan [[rumor]], [[ilmu semu]], atau '''[[berita palsu]]''', maupun [[April Mop]].<ref>Jan H. Brunvand. ''Encyclopedia of Urban Legends''. W. W. Norton & Company. 2001. hlm. 194. ISBN 1-57607-076-X.</ref> Tujuan dari berita bohong adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah.<ref>Gumgum Gumilar, Justito Adiprasetio, Nunik Maharani. [http://jurnal.unpad.ac.id/pkm/article/view/16275 Literasi Media: Cerdas Menggunakan Media Sosial dalam Menanggulangi Berita Palsu (Hoax) oleh Siswa SMA]. ''Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat''. 2017. Vol. 1. hlm. 36.</ref>


== Pengertian ==
== Pengertian ==
Menurut [[Kamus Besar Bahasa Indonesia|KBBI]], Hoaks mengandung makna informasi bohong. Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran. Hoaks bukan sekadar ''misleading'' alias menyesatkan, informasi dalam ''fake news'' juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.
Menurut [[Kamus Besar Bahasa Indonesia|KBBI]], Hoaks mengandung makna informasi bohong.<ref>[https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/hoaks Arti kata Hoax - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online]. ''kbbi.kemendikdasmen.go.id''.</ref><ref>Kurnia Azizah. [https://www.merdeka.com/trending/hoax-adalah-berita-bohong-kenali-ciri-ciri-jenis-dan-cara-mengatasinya-kln.html Hoax Adalah Berita Bohong, Kenali Ciri-Ciri, Jenis dan Cara Mengatasinya]. ''Merdeka.com''. 18 Maret 2021.</ref><ref>PDSI KOMINFO. [https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media Ini Cara Mengatasi Berita “Hoax” di Dunia Maya]. ''Website Resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI''.</ref> Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran.<ref>Silverman, Craig. (2015).Journalism: A Tow/Knight Report.[https://www.cjr.org/tow_center_reports/craig_silverman_lies_damn_lies_viral_content.php Lies, Damn Lies, and Viral Content]. ''Columbia Journalism Review''.</ref> Hoaks bukan sekadar ''misleading'' alias menyesatkan, informasi dalam ''fake news'' juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.<ref>Allcott, Hunt & Gentzkow, Matthew. (2017). Social Media and Fake News in the 2016 Election. Journal of Economic Perspectives Vol 31, No. 2, Spring 2017.</ref>


== Sejarah ==
== Sejarah ==
Meski baru mengambil peran utama dalam panggung diskusi publik Indonesia di beberapa dekade terakhir ini, hoaks sebetulnya punya akar sejarah yang panjang.<ref>Tio. [https://kumparan.com/kumparantech/sejarah-hoaks-dan-andilnya-dari-masa-ke-masa Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa]. ''Kumparan''.</ref>


Meski baru mengambil peran utama dalam panggung diskusi publik Indonesia di beberapa dekade terakhir ini, hoaks sebetulnya punya akar sejarah yang panjang.
Terdapat 2 versi terkait dengan sejarah hoaks. Pertama yang dicatat pada [[1661]]. Kasus tersebut adalah soal ''[[Drummer of Tedworth]]'', yang berkisah soal [[John Mompesson]] -seorang tuan tanah- yang dihantui oleh suara-suara drum setiap malam di rumahnya.<ref>Zumar Hakiki. [https://coganews.co.id/2020/06/19/sejarah-hoax-atau-berita-bohong/ Sejarah HOAX atau Berita Bohong]. ''Informasi Terkini Berita Sumatera Selatan''. 19 Juni 2020.</ref> Ia mendapat nasib tersebut setelah ia menuntut William Drury - seorang drummer band gipsy- dan berhasil memenangkan perkara. Mompesson menuduh Drury melakukan guna-guna terhadap rumahnya karena dendam akibat kekalahannya di pengadilan. Singkat cerita, seorang penulis bernama [[Granville Stanley Hall|Glanvill]] mendengar kisah tersebut. Ia mendatangi rumah tersebut dan mengaku mendengar suara-suara yang sama. Ia kemudian menceritakannya ke dalam tiga buku cerita yang diakunya berasal dari kisah nyata. Kehebohan dan keseraman ''[[local horror story]]'' tersebut berhasil menaikkan penjualan buku Glancill. Namun, pada buku ketiga Glanvill mengakui bahwa suara-suara tersebut hanyalah trik dan apa yang ceritakan adalah bohong belaka.<ref>Tio. [https://kumparan.com/@kumparantech/sejarah-hoaks-dan-andilnya-dari-masa-ke-masa Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa]. ''Kumparan''.</ref>
 
Terdapat 2 versi terkait dengan sejarah hoaks. Pertama yang dicatat pada [[1661]]. Kasus tersebut adalah soal ''[[Drummer of Tedworth]]'', yang berkisah soal [[John Mompesson]] -seorang tuan tanah- yang dihantui oleh suara-suara drum setiap malam di rumahnya. Ia mendapat nasib tersebut setelah ia menuntut William Drury - seorang drummer band gipsy- dan berhasil memenangkan perkara. Mompesson menuduh Drury melakukan guna-guna terhadap rumahnya karena dendam akibat kekalahannya di pengadilan. Singkat cerita, seorang penulis bernama [[Granville Stanley Hall|Glanvill]] mendengar kisah tersebut. Ia mendatangi rumah tersebut dan mengaku mendengar suara-suara yang sama. Ia kemudian menceritakannya ke dalam tiga buku cerita yang diakunya berasal dari kisah nyata. Kehebohan dan keseraman ''[[local horror story]]'' tersebut berhasil menaikkan penjualan buku Glancill. Namun, pada buku ketiga Glanvill mengakui bahwa suara-suara tersebut hanyalah trik dan apa yang ceritakan adalah bohong belaka.


Ada juga kisah soal Benjamin Franklin yang pada tahun 1745 lewat harian Pennsylvania Gazette mengungkap adanya sebuah benda bernama “Batu China” yang dapat mengobati rabies, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya. Sayangnya, nama Benjamin Franklin saat itu membuat standar verifikasi kedokteran tidak dilakukan sebagaimana standar semestinya.Meski begitu, ternyata batu yang dimaksud hanyalah terbuat dari tanduk rusa biasa yang tak memiliki fungsi medis apapun. Hal tersebut diketahui oleh salah seorang pembaca harian [[Pennsylvania Gazette]] yang membuktikan tulisan [[Benjamin Franklin]] tersebut. Hoaks-hoaks senada beberapa kali terjadi sampai adanya Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat pada awal abad 20.
Ada juga kisah soal Benjamin Franklin yang pada tahun 1745 lewat harian Pennsylvania Gazette mengungkap adanya sebuah benda bernama “Batu China” yang dapat mengobati rabies, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya.<ref>Nancy Junita. [https://teknologi.bisnis.com/read/20170114/105/619451/ini-sejarah-hoax-dari-masa-ke-masa Ini Sejarah Hoax dari Masa ke Masa]. ''Bisnis.com''. 14 Januari 2017.</ref> Sayangnya, nama Benjamin Franklin saat itu membuat standar verifikasi kedokteran tidak dilakukan sebagaimana standar semestinya.Meski begitu, ternyata batu yang dimaksud hanyalah terbuat dari tanduk rusa biasa yang tak memiliki fungsi medis apapun. Hal tersebut diketahui oleh salah seorang pembaca harian [[Pennsylvania Gazette]] yang membuktikan tulisan [[Benjamin Franklin]] tersebut. Hoaks-hoaks senada beberapa kali terjadi sampai adanya Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat pada awal abad 20.<ref>Tio. [https://kumparan.com/@kumparantech/sejarah-hoaks-dan-andilnya-dari-masa-ke-masa Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa]. ''Kumparan''.</ref>


Meskipun demikian, kata hoaks sendiri baru mulai digunakan sekitar tahun 1808. Kata tersebut dipercaya datang dari ''hocus'' yang berarti untuk mengelabui. Kata-kata ''hocus'' sendiri merupakan penyingkatan dari ''[[hocus pocus]]'', semacam mantra yang kerap digunakan dalam pertunjukan sulap saat akan terjadi sebuah ''[[Punchline (film)|punch line]]'' dalam pertunjukan mereka di panggung.
Meskipun demikian, kata hoaks sendiri baru mulai digunakan sekitar tahun 1808. Kata tersebut dipercaya datang dari ''hocus'' yang berarti untuk mengelabui. Kata-kata ''hocus'' sendiri merupakan penyingkatan dari ''[[hocus pocus]]'', semacam mantra yang kerap digunakan dalam pertunjukan sulap saat akan terjadi sebuah ''[[Punchline (film)|punch line]]'' dalam pertunjukan mereka di panggung.<ref>Tio. [https://kumparan.com/@kumparantech/sejarah-hoaks-dan-andilnya-dari-masa-ke-masa Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa]. ''Kumparan''.</ref>


Kedua, catatan historis "[[Great Moon Hoax]] ”tahun [[1835]], di mana [[The New York Sun|New York Sun]] menerbitkan serangkaian artikel tentang penemuan kehidupan di bulan. Contoh yang lebih baru adalah [[2006]] “[[Flemish Secession Hoax]]", di mana stasiun televisi publik [[Belgia]] melaporkan bahwa Parlemen Flemish telah mendeklarasikan kemerdekaan dari Belgia, sebuah laporan bahwa yang membuat sejumlah besar penonton menjadi salah paham.
Kedua, catatan historis "[[Great Moon Hoax]] ”tahun [[1835]], di mana [[The New York Sun|New York Sun]] menerbitkan serangkaian artikel tentang penemuan kehidupan di bulan. Contoh yang lebih baru adalah [[2006]] “[[Flemish Secession Hoax]]", di mana stasiun televisi publik [[Belgia]] melaporkan bahwa Parlemen Flemish telah mendeklarasikan kemerdekaan dari Belgia, sebuah laporan bahwa yang membuat sejumlah besar penonton menjadi salah paham.<ref>Allcott, Hunt & Gentzkow, Matthew. (2017). Social Media and Fake News in the 2016 Election. Journal of Economic Perspectives Vol 31, No. 2, Spring 2017.</ref>


Hingga kini, eksistensi hoaks terus meningkat. Dari kabar palsu seperti entitas raksasa seperti [[Loch Ness]], [[Tembok Besar Tiongkok|tembok China]] yang terlihat dari luar angkasa, hingga ribuan hoaks yang bertebaran di pemilihan umum [[presiden Amerika Serikat]] pada tahun [[2016]]. Semua hoaks tersebut punya tujuan masing-masing, dari sesederhana publisitas diri hingga tujuan yang amat genting seperti politik praktis sebuah negara adidaya.
Hingga kini, eksistensi hoaks terus meningkat. Dari kabar palsu seperti entitas raksasa seperti [[Loch Ness]], [[Tembok Besar Tiongkok|tembok China]] yang terlihat dari luar angkasa, hingga ribuan hoaks yang bertebaran di pemilihan umum [[presiden Amerika Serikat]] pada tahun [[2016]]. Semua hoaks tersebut punya tujuan masing-masing, dari sesederhana publisitas diri hingga tujuan yang amat genting seperti politik praktis sebuah negara adidaya.<ref>Tio. [https://kumparan.com/@kumparantech/sejarah-hoaks-dan-andilnya-dari-masa-ke-masa Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa]. ''Kumparan''.</ref>


Kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti [[meme]], keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-media sosial. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.
Kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti [[meme]], keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-media sosial. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.<ref>Tio. [https://kumparan.com/@kumparantech/sejarah-hoaks-dan-andilnya-dari-masa-ke-masa Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa]. ''Kumparan''.</ref>


[[Daftar Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia|Menteri Komunikasi dan Informatika]] pernah mengungkapkan bahwa hoaks dan media sosial seperti ''[[vicious circle]]'', atau lingkaran setan. Dari situ langkah pencegahan mulai gencar dilakukan. Termasuk oleh [[Facebook]] dan [[Twitter]] sebagai pemilik platform yang membuat tim khusus untuk meminimalisasi keberadaannya. Ditambah lagi dengan kemunculan media abal-abal yang sama sekali tak menerapkan standar jurnalisme. Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat semakin lama semakin tergerus.
[[Daftar Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia|Menteri Komunikasi dan Informatika]] pernah mengungkapkan bahwa hoaks dan media sosial seperti ''[[vicious circle]]'', atau lingkaran setan. Dari situ langkah pencegahan mulai gencar dilakukan. Termasuk oleh [[Facebook]] dan [[Twitter]] sebagai pemilik platform yang membuat tim khusus untuk meminimalisasi keberadaannya. Ditambah lagi dengan kemunculan media abal-abal yang sama sekali tak menerapkan standar jurnalisme. Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat semakin lama semakin tergerus.<ref>Tio. [https://kumparan.com/@kumparantech/sejarah-hoaks-dan-andilnya-dari-masa-ke-masa Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa]. ''Kumparan''.</ref>


== Jenis misinformasi dan disinformasi ==
== Jenis misinformasi dan disinformasi ==
=== Satir atau Parodi ===
=== Satir atau Parodi ===
[[Satir]] atau [[parodi]], dibuat dengan tidak berniat untuk merugikan, tetapi berpotensi untuk mengelabui. Satir tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.
[[Satir]] atau [[parodi]], dibuat dengan tidak berniat untuk merugikan, tetapi berpotensi untuk mengelabui. Satir tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.<ref>Sobih Abdul Wahid. [https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks Mengenal Tujuh Jenis Hoaks]. ''Medcom.id''.</ref>


=== Konten menyesatkan ===
=== Konten menyesatkan ===
Konten yang menyesatkan atau ''misleading content'', di dalamnya biasanya ada penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu. ''Misleading content'' dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
Konten yang menyesatkan atau ''misleading content'', di dalamnya biasanya ada penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu. ''Misleading content'' dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.<ref>Sobih Abdul Wahid. [https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks Mengenal Tujuh Jenis Hoaks]. ''Medcom.id''.</ref>


=== Konten tiruan ===
=== Konten tiruan ===
Konten tiruan atau ''Imposter content'' adalah ketika sebuah sumber asli ditiru atau diubah untuk mengaburkan fakta sebenarnya. Konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.
Konten tiruan atau ''Imposter content'' adalah ketika sebuah sumber asli ditiru atau diubah untuk mengaburkan fakta sebenarnya. Konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.<ref>Sobih Abdul Wahid. [https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks Mengenal Tujuh Jenis Hoaks]. ''Medcom.id''.</ref>


=== Konten Palsu ===
=== Konten Palsu ===
Konten palsu berupa konten baru yang 100% salah dan secara sengaja dibuat, didesain untuk menipu serta merugikan.
Konten palsu berupa konten baru yang 100% salah dan secara sengaja dibuat, didesain untuk menipu serta merugikan.<ref>Sobih Abdul Wahid. [https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks Mengenal Tujuh Jenis Hoaks]. ''Medcom.id''.</ref>


=== Keterkaitan yang Salah ===
=== Keterkaitan yang Salah ===
Keterkaitan yang Salah, atau ''False connection'' Ini adalah ketika judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten atau tidak terikat antara satu dengan yang lainnya. Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.
Keterkaitan yang Salah, atau ''False connection'' Ini adalah ketika judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten atau tidak terikat antara satu dengan yang lainnya. Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.<ref>Sobih Abdul Wahid. [https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks Mengenal Tujuh Jenis Hoaks]. ''Medcom.id''.</ref>


=== Konten yang Salah ===
=== Konten yang Salah ===
Konten yang Salah atau ''False context'', ketika konten yang asli dipadankan atau dikait-kaitkan dengan konteks informasi yang salah.
Konten yang Salah atau ''False context'', ketika konten yang asli dipadankan atau dikait-kaitkan dengan konteks informasi yang salah.<ref>Sobih Abdul Wahid. [https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks Mengenal Tujuh Jenis Hoaks]. ''Medcom.id''.</ref>


=== Konten yang Dimanipulasi ===
=== Konten yang Dimanipulasi ===
Konten yang Dimanipulasi atau ''Manipulated content'' ketika informasi atau gambar yang asli sengaja dimanipulasi untuk menipu. Secara sederhana, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.
Konten yang Dimanipulasi atau ''Manipulated content'' ketika informasi atau gambar yang asli sengaja dimanipulasi untuk menipu.<ref>[https://firstdraftnews.org/fake-news-complicated/ Fake news. It's complicated]. ''firstdraftnews.org''.</ref> Secara sederhana, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.


=== Konten Dugaan ===
=== Konten Dugaan ===
Berita yang bermuatan unsur 'dugaan' termasuk dalam jenis rumor yang tidak berdsar bukti konkrit, tetapi lebih pada penilaian atau opini subjektif yang '''diduga''' sebagai fakta. Umumnya konten ini bermuatan gosip, tuduhan hingga fitnah kepada seseorang atau kelompok tertentu. Konten dugaan juga memiliki ciri berakhiran tanda tanya, (semisal ''Tokoh X adalah seorang Y?'') bertujuan memberi informasi yang tidak pasti dan tanpa validitas sehingga justru menyebabkan publik bertanya-tanya.
Berita yang bermuatan unsur 'dugaan' termasuk dalam jenis rumor yang tidak berdsar bukti konkrit, tetapi lebih pada penilaian atau opini subjektif yang '''diduga''' sebagai fakta. Umumnya konten ini bermuatan gosip, tuduhan hingga fitnah kepada seseorang atau kelompok tertentu. Konten dugaan juga memiliki ciri berakhiran tanda tanya, (semisal ''Tokoh X adalah seorang Y?'') bertujuan memberi informasi yang tidak pasti dan tanpa validitas sehingga justru menyebabkan publik bertanya-tanya.


== Jenis konten ==
== Jenis konten<ref>Nuril Hidayah. [https://www.mafindo.or.id/wp-content/uploads/2020/06/Final_Media-Release_Mapping-Hoaks-Juli-September-2018-1.pdf Pemetaan Hoaks Di Indonesia]. Mafindo. 2018-09-30. hlm. 4.</ref> ==
* [[Agama]], konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan yang maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
* [[Agama]], konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan yang maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
* [[Politik]], konten yang memuat segala hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan negara, pembagian kekuasaan, berupa kebijakan atau cara-cara mempertahankan kekuasaan.
* [[Politik]], konten yang memuat segala hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan negara, pembagian kekuasaan, berupa kebijakan atau cara-cara mempertahankan kekuasaan.
Baris 62: Baris 61:
* [[Lain-lain]], konten lain yang tidak termasuk dalam kesepuluh kategori tersebut.
* [[Lain-lain]], konten lain yang tidak termasuk dalam kesepuluh kategori tersebut.


== Alat ==
== Alat<ref>Nuril Hidayah. [https://www.mafindo.or.id/wp-content/uploads/2020/06/Final_Media-Release_Mapping-Hoaks-Juli-September-2018-1.pdf Pemetaan Hoax Di Indonesia]. Mafindo. 2018-09-30. hlm. 5.</ref> ==
* [[Narasi]], biasanya digunakan untuk menggambarkan runtutan peristiwa seperti seolah-olah benar adanya. Narasi yang dibangun lebih kepada hal-hal yang bersifat membesar-besarkan, membanding-bandingkan, melebih-lebihkan hingga memprovokasi.
* [[Narasi]], biasanya digunakan untuk menggambarkan runtutan peristiwa seperti seolah-olah benar adanya. Narasi yang dibangun lebih kepada hal-hal yang bersifat membesar-besarkan, membanding-bandingkan, melebih-lebihkan hingga memprovokasi.
* Gambar atau [[foto]], biasanya digunakan untuk menambah keyakinan pada pembaca akan berita bohong yang dibuat. Biasanya gambar atau foto yang digunakan tidak ada keterkaitan dengan peristiwa yang terjadi atau telah di edit sedemikian rupa.
* Gambar atau [[foto]], biasanya digunakan untuk menambah keyakinan pada pembaca akan berita bohong yang dibuat. Biasanya gambar atau foto yang digunakan tidak ada keterkaitan dengan peristiwa yang terjadi atau telah di edit sedemikian rupa.
Baris 70: Baris 69:


== Alasan hoaks tetap ada ==
== Alasan hoaks tetap ada ==
Berbagai cara telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang peduli dengan maraknya hoaks di kehidupan masyarakat. Pemerintah misalnya telah membuat pagar hukum dengan menyetujui lahirnya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektonik, memblokir situs-situs yang menyebarkan hoaks, menangkap sindikat penyebar hoaks hingga membentuk lembaga siberkreasi yang berfokus dalam menangani hoaks. Tidak hanya itu, masyarakat juga turut serta dalam menekan peredaran hoaks dengan memberikan klarifikasi terhadap hoaks. Di antaranya adalah Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang secara aktif dan peduli memberikan klarifikasi akan hoaks hingga melakukan literasi media, baik dikalangan masyarakat hingga jurnalis. Lantas muncul pertanyaan, sebenarya faktor apa saja yang memengaruhi hoaks masih terus ada dan berkembang. Berikut beberapa alasan hoaks tetap ada.
Berbagai cara telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang peduli dengan maraknya hoaks di kehidupan masyarakat. Pemerintah misalnya telah membuat pagar hukum dengan menyetujui lahirnya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektonik, memblokir situs-situs yang menyebarkan hoaks, menangkap sindikat penyebar hoaks hingga membentuk lembaga siberkreasi yang berfokus dalam menangani hoaks. Tidak hanya itu, masyarakat juga turut serta dalam menekan peredaran hoaks dengan memberikan klarifikasi terhadap hoaks. Di antaranya adalah Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang secara aktif dan peduli memberikan klarifikasi akan hoaks hingga melakukan literasi media, baik dikalangan masyarakat hingga jurnalis.<ref>[https://dinkes.kepriprov.go.id/index.php/9-berita/571-cegah-hoax-ingat-selalu-saring-sebelum-sharing Website Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau - Cegah Hoax : Ingat Selalu, Saring sebelum Sharing!]. ''dinkes.kepriprov.go.id''.</ref> Lantas muncul pertanyaan, sebenarya faktor apa saja yang memengaruhi hoaks masih terus ada dan berkembang. Berikut beberapa alasan hoaks tetap ada.


* [[Jurnalisme]] yang lemah, jurnalisme yang lemah membuat konten hoaks terus berkembang karena tidak terbiasa dengan proses [[verifikasi]], cek dan recheck. Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat semakin lama semakin tergerus.
* [[Jurnalisme]] yang lemah, jurnalisme yang lemah membuat konten hoaks terus berkembang karena tidak terbiasa dengan proses [[verifikasi]], cek dan recheck. Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat semakin lama semakin tergerus.<ref>Wisnu Prasetya Utomo. [https://www.remotivi.or.id/mediapedia/356/jurnalisme-memproduksi-hoax Jurnalisme Memproduksi Hoax - Remotivi]. ''remotivi''. 2017-02-01.</ref>
* [[Ekonomi]], Faktor ekonomi yang lemah membuat peredaran hoak terus ada. Bagaimana tidak, dengan memproduksi hoaks atau mengarang berita seseorang bisa mendapatkan penghasilan yang dapat mendokrak ekonominya.
* [[Ekonomi]], Faktor ekonomi yang lemah membuat peredaran hoak terus ada. Bagaimana tidak, dengan memproduksi hoaks atau mengarang berita seseorang bisa mendapatkan penghasilan yang dapat mendokrak ekonominya.
* [[Internet]], kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti [[meme]], keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-[[media sosial]]. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.
* [[Internet]], kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti [[meme]], keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-[[media sosial]]. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.<ref>Angelina Anjar Sawitri. [https://nasional.tempo.co/read/838621/4-penyebab-hoax-mudah-viral-di-media-sosial 4 Penyebab Hoax Mudah Viral di Media Sosial]. ''Tempo.co''. 2017-01-22.</ref>
* Munculnya [[media abal-abal]], kemunculan media abal-abal sama sekali tak menerapkan standar [[jurnalisme]]. Keadaan ini tentu semakin memperburuk kualitas informasi yang tersebar di masyarakat.
* Munculnya [[media abal-abal]], kemunculan media abal-abal sama sekali tak menerapkan standar [[jurnalisme]]. Keadaan ini tentu semakin memperburuk kualitas informasi yang tersebar di masyarakat.<ref>Fernan Rahadi. [https://republika.co.id/berita/nasional/umum/17/01/13/ojpsij291-masyarakat-diminta-waspadai-media-penyebar-hoax Masyarakat Diminta Waspadai Media Penyebar Hoax]. ''Republika Online''. 2017-01-13.</ref>
* [[Pendidikan]], rendahnya kualitas pendidikan membuat seseorang tidak bisa menyaring informasi yang diterimanya apalagi mencoba untuk bertindak kritis dengan membandingkan setiap informasi yang diterimannya dengan informasi yang ada di berbagai media mainstream.
* [[Pendidikan]], rendahnya kualitas pendidikan membuat seseorang tidak bisa menyaring informasi yang diterimanya apalagi mencoba untuk bertindak kritis dengan membandingkan setiap informasi yang diterimannya dengan informasi yang ada di berbagai media mainstream.<ref>Yantina Debora. [https://tirto.id/literasi-rendah-sebabkan-masyarakat-mudah-percaya-hoax-cnQa Literasi Rendah Sebabkan Masyarakat Mudah Percaya Hoax]. ''Tirto.id''. 2017-05-01.</ref>
* [[Literasi media]] yang rendah, rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung memercayai sebuah informasi yang diterima, didapatkannya tanpa melakukan [[verifikasi]]. Rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung untuk membagikan setiap [[informasi]] yang dapatkannya kepada orang lain tanpa mengetahui kebenaran dari sebuah informasi tersebut.
* [[Literasi media]] yang rendah, rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung memercayai sebuah informasi yang diterima, didapatkannya tanpa melakukan [[verifikasi]]. Rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung untuk membagikan setiap [[informasi]] yang dapatkannya kepada orang lain tanpa mengetahui kebenaran dari sebuah informasi tersebut.<ref>Yantina Debora. [https://tirto.id/literasi-rendah-sebabkan-masyarakat-mudah-percaya-hoax-cnQa Literasi Rendah Sebabkan Masyarakat Mudah Percaya Hoax]. ''Tirto.id''. 2017-05-01.</ref>


== Produsen hoaks ==
== Produsen hoaks ==
Semua orang berpotensi sebagai pembuat hoaks. Hoaks terkait dengan apa saja yang tidak benar adanya, tetapi dijual sebagai sebuah kebenaran dengan tujuan tertentu. Namun, ada beberapa kasus yang menujukkan bahwa hoaks diproduksi oleh beberapa kalangan seperti [[Saracen (Indonesia)|Saracen]] dan ''[https://kumparan.com/kumparannews/ismail-fahmi-muslim-cyber-army-lahir-organik-dan-natural Muslim Cyber Army]'' dengan motif tertentu. [[Saracen (Indonesia)|Saracen]] dan ''Muslim Cyber Army'' merupakan organisasi-organisasi penyebar hoaks, ujaran kebencian atau ''hate speech'' dan [[SARA]] melalui media sosial. Berdasarkan temuan [[polisi]], anggota sindikat ini telah memiliki beragam konten ujaran kebencian sesuai isu yang tengah berkembang. Mereka kemudian menawarkan produk itu dalam sebuah proposal. Dalam satu proposal yang ditemukan, kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta rupiah.
Semua orang berpotensi sebagai pembuat hoaks. Hoaks terkait dengan apa saja yang tidak benar adanya, tetapi dijual sebagai sebuah kebenaran dengan tujuan tertentu. Namun, ada beberapa kasus yang menujukkan bahwa hoaks diproduksi oleh beberapa kalangan seperti [[Saracen (Indonesia)|Saracen]] dan ''[https://kumparan.com/kumparannews/ismail-fahmi-muslim-cyber-army-lahir-organik-dan-natural Muslim Cyber Army]'' dengan motif tertentu. [[Saracen (Indonesia)|Saracen]] dan ''Muslim Cyber Army'' merupakan organisasi-organisasi penyebar hoaks, ujaran kebencian atau ''hate speech'' dan [[SARA]] melalui media sosial. Berdasarkan temuan [[polisi]], anggota sindikat ini telah memiliki beragam konten ujaran kebencian sesuai isu yang tengah berkembang. Mereka kemudian menawarkan produk itu dalam sebuah proposal. Dalam satu proposal yang ditemukan, kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta rupiah.<ref>Audrey Santoso. [https://news.detik.com/berita/3616371/polisi-sebut-saracen-tawarkan-proposal-jasa-kampanye-politik Polisi Sebut Saracen Tawarkan Proposal Jasa Kampanye Politik]. ''detikcom''.</ref>


Diketahui, Sindikat [[Saracen (Indonesia)|Saracen]] diketahui memiliki ribuan akun. Mereka juga berbagi tugas untuk mengunggah konten pro dan kontra terhadap suatu isu. "Misalnya kurang lebih 2.000 akun itu dia membuat [[meme]] menjelek-jelekkan [[Islam]], ribuan lagi kurang lebih hampir 2.000 juga menjelek-jelekkan [[Kristen]]. Itu yang kemudian tergantung pemesanan.
Diketahui, Sindikat [[Saracen (Indonesia)|Saracen]] diketahui memiliki ribuan akun. Mereka juga berbagi tugas untuk mengunggah konten pro dan kontra terhadap suatu isu. "Misalnya kurang lebih 2.000 akun itu dia membuat [[meme]] menjelek-jelekkan [[Islam]], ribuan lagi kurang lebih hampir 2.000 juga menjelek-jelekkan [[Kristen]]. Itu yang kemudian tergantung pemesanan.<ref>Nur Habibie. [https://www.merdeka.com/peristiwa/punya-2000-akun-saracen-pasang-tarif-puluhan-juta-sebar-konten-kebencian.html Punya 2.000 akun, Saracen pasang tarif puluhan juta sebar konten kebencian]. ''Merdeka.com''. 2017-08-23.</ref>


Terkait masalah pemesanan itu, [[polisi]] menemukan ada salah satu proposal yang menawarkan senilai Rp 75 juta sampai Rp 100 juta. Meskipun demikian, [[polisi]] masih belum bisa memastikan harga pasti per proposal. Apalagi polisi masih terus menggali siapa saja yang pernah membeli jasa [[Saracen (Indonesia)|Saracen]] untuk menebar kebencian dan [[SARA]].
Terkait masalah pemesanan itu, [[polisi]] menemukan ada salah satu proposal yang menawarkan senilai Rp 75 juta sampai Rp 100 juta. Meskipun demikian, [[polisi]] masih belum bisa memastikan harga pasti per proposal. Apalagi polisi masih terus menggali siapa saja yang pernah membeli jasa [[Saracen (Indonesia)|Saracen]] untuk menebar kebencian dan [[SARA]].<ref>Nafiysul Qodar. [https://www.liputan6.com/news/read/3326941/kelompok-penyebar-hoax-mca-dan-saracen-serupa-tapi-tak-sama Kelompok Penyebar Hoax MCA dan Saracen, Serupa tapi Tak Sama]. ''Liputan6.com''.</ref>


Dari pengungkapan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa hoaks dipesan oleh sekelompok orang dengan beragam kepentingan di dalamnya. Hoaks diproduksi oleh orang-orang yang tidak bermoral dan beretikat buruk terhadap sesama.
Dari pengungkapan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa hoaks dipesan oleh sekelompok orang dengan beragam kepentingan di dalamnya. Hoaks diproduksi oleh orang-orang yang tidak bermoral dan beretikat buruk terhadap sesama.


== Penyebab orang percaya berita bohong ==
== Penyebab orang percaya berita bohong ==
Menurut dr. Gina Inindyajati, SP.Kj setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan orang mudah memercayai berita hoax:
Menurut dr. Gina Inindyajati, SP.Kj setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan orang mudah memercayai berita hoax:<ref>Syarif Ika Suryani. [https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2021/faktor-faktor-orang-percaya-hoaks-dan-dampaknya/ Faktor-Faktor Orang Percaya Hoaks dan Dampaknya]. ''www.suarasurabaya.net''. 2021-06-29.</ref>


* Penyangkalan atas apa yang terjadi, biasa sang penerima berita bohong akan menerima begitu saja karena seakan berlawanan dengan fakta yang ada;
* Penyangkalan atas apa yang terjadi, biasa sang penerima berita bohong akan menerima begitu saja karena seakan berlawanan dengan fakta yang ada;
Baris 96: Baris 95:


== Beberapa kasus ==
== Beberapa kasus ==
 
* Hoaks tentang [[Bendungan Bilibili]] di Kabupaten Gowa Retak, faktanya bendungan Bili-Bili masih dalam keadaan aman dan terkendali setelah dilakukan pengecekan oleh pihak Polsek [[Manuju, Gowa|Mamuju, Gowa]].<ref>Nur Fajriani R. [https://makassar.tribunnews.com/2019/01/23/bendungan-bili-bili-retak-hoax-atau-betul-ini-penjelasan-pimpro-pembangunannya-tentang-daya-tahan Bendungan Bili-bili Retak Hoax atau Betul? Ini Penjelasan Pimpro Pembangunannya, Tentang Daya Tahan]. ''Tribunnews.com''. 2019-01-23.</ref>
* Hoaks tentang [[Bendungan Bilibili]] di Kabupaten Gowa Retak, faktanya bendungan Bili-Bili masih dalam keadaan aman dan terkendali setelah dilakukan pengecekan oleh pihak Polsek [[Manuju, Gowa|Mamuju, Gowa]].
* Hoaks korban musibah, faktanya foto yang digunakan tersebut adalah foto kejadian [[Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004|gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004]] yang disebarluaskan kembali sebagai dokumentasi korban [[Gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018|gempa dan tsunami Palu 2018]].
* Hoaks korban musibah, faktanya foto yang digunakan tersebut adalah foto kejadian [[Gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004|gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004]] yang disebarluaskan kembali sebagai dokumentasi korban [[Gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018|gempa dan tsunami Palu 2018]].
* Hoaks Wali kota Palu Meninggal, faktanya Wali kota Palu Hidayat tidak meninggal dan kini turut melakukan tanggap darurat gempa bumi di Palu, [[Sulawesi Tengah]].
* Hoaks Wali kota Palu Meninggal, faktanya Wali kota Palu Hidayat tidak meninggal dan kini turut melakukan tanggap darurat gempa bumi di Palu, [[Sulawesi Tengah]].<ref>Vanny El Rahman. [https://www.idntimes.com/news/indonesia/vanny-rahman/cek-fakta-kabar-wali-kota-palu-meninggal-akibat-gempa-hoax CEK FAKTA: Kabar Wali Kota Palu Meninggal Akibat Gempa Hoax!]. ''IDN Times''. 2018-09-30.</ref>
* Hoaks gempa bumi susulan, faktanya tidak ada satu pun negara di dunia dan IPTEK yang mampu memprediksi gempa secara pasti, konfirmasi dari [[Sutopo Purwo Nugroho]] (Kepala Humas BNPB)
* Hoaks gempa bumi susulan, faktanya tidak ada satu pun negara di dunia dan IPTEK yang mampu memprediksi gempa secara pasti, konfirmasi dari [[Sutopo Purwo Nugroho]] (Kepala Humas BNPB)
* Hoaks Gerak cepat relawan FPI evakuasi korban gempa Palu 7.7, faktanya dalam gambar ini adalah relawan FPI membantu korban longsor di desa Tegal Panjang, Sukabumi.
* Hoaks Gerak cepat relawan FPI evakuasi korban gempa Palu 7.7, faktanya dalam gambar ini adalah relawan FPI membantu korban longsor di desa Tegal Panjang, Sukabumi.<ref>Karel Salim. [https://komisiinformasi.go.id/?p=763 Kemenkominfo Identifikasi Informasi Hoaks Terkait Gempa Sulteng]. ''Komisi Informasi Pusat''. 2018-10-03.</ref>
* Hoaks mayat yang minta gempa, faktanya gambar itu diambil dari kejadian di [[Sungai Siak]], Pekanbaru, Riau
* Hoaks mayat yang minta gempa, faktanya gambar itu diambil dari kejadian di [[Sungai Siak]], Pekanbaru, Riau
* Hoaks 2 Oktober terjadi gempa bumi lagi, faktanya tidak ada satu pun negara di dunia dan IPTEK yang mampu memprediksi gempa secara pasti, konfirmasi dari Sutopo Purwo Nugroho (Kepala Humas BNPB)
* Hoaks 2 Oktober terjadi gempa bumi lagi, faktanya tidak ada satu pun negara di dunia dan IPTEK yang mampu memprediksi gempa secara pasti, konfirmasi dari Sutopo Purwo Nugroho (Kepala Humas BNPB)
* Hoaks Emmeril Khan Mumtadz ditemukan di sebagian wilayah [[Donbas]] yang diduduki oleh [[Republik Rakyat Donetsk]], [[Rusia]], faktanya jenazah putra sulung [[Gubernur Jawa Barat]], [[Ridwan Kamil]] itu ditemukan tidak jauh dari titik awal kejadian di sekitar [[Sungai Aare]], [[Kanton Bern|Bern]], [[Swiss]] setelah sempat dinyatakan hilang selama dua minggu.
* Hoaks Emmeril Khan Mumtadz ditemukan di sebagian wilayah [[Donbas]] yang diduduki oleh [[Republik Rakyat Donetsk]], [[Rusia]], faktanya jenazah putra sulung [[Gubernur Jawa Barat]], [[Ridwan Kamil]] itu ditemukan tidak jauh dari titik awal kejadian di sekitar [[Sungai Aare]], [[Kanton Bern|Bern]], [[Swiss]] setelah sempat dinyatakan hilang selama dua minggu.
* Hoaks penerbangan gratis dari Makassar menuju Palu gratis bagi keluarga korban, faktanya [[Pesawat Hercules]] TNI AU menuju ke Palu diutamakan membawa bantuan [[logistik]], [[paramedis]], obat-obatan, makanan siap saji, dan alat berat. Pemberangkatan dari Palu prioritas untuk mengangkut pengungsi diutamakan lansia, wanita dan anak-anak, serta pasien ke Makassar.
* Hoaks penerbangan gratis dari Makassar menuju Palu gratis bagi keluarga korban, faktanya [[Pesawat Hercules]] TNI AU menuju ke Palu diutamakan membawa bantuan [[logistik]], [[paramedis]], obat-obatan, makanan siap saji, dan alat berat. Pemberangkatan dari Palu prioritas untuk mengangkut pengungsi diutamakan lansia, wanita dan anak-anak, serta pasien ke Makassar.
* [[Front Pembela Islam|FPI]] Bantu Korban Bencana Alam Di Palu Duluan, faktanya (1) Foto pertama: Bantuan FPI di Lombok, Agustus 2018. Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah. (2) Foto kedua: FPI membantu korban penggusuran Pasar Ikan di Batang.
* [[Front Pembela Islam|FPI]] Bantu Korban Bencana Alam Di Palu Duluan, faktanya (1) Foto pertama: Bantuan FPI di Lombok, Agustus 2018. Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah. (2) Foto kedua: FPI membantu korban penggusuran Pasar Ikan di Batang.<ref>[http://beritapersatuan.com/fpi-terus-bantu-korban-penggusuran-di-pasar-ikan-dan-luar-batang/ FPI Terus Bantu Korban Penggusuran Di Pasar Ikan Dan Luar Batang - Berita Persatuan]. ''beritapersatuan.com''.</ref>


== Lihat pula ==
== Lihat pula ==
Baris 120: Baris 118:


== Referensi ==
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berita+bohong&oldid=29312878 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29312878 (2026-06-04T18:27:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


== Sumber dan atribusi ==
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->
 
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berita+bohong&oldid=29312878 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29312878 (2026-06-04T18:27:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.

Revisi per 28 Agustus 2026 15.01

Kabar bohong atau hoaks () adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.[1] Hal ini tidak sama dengan rumor, ilmu semu, atau berita palsu, maupun April Mop.[2] Tujuan dari berita bohong adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah.[3]

Pengertian

Menurut KBBI, Hoaks mengandung makna informasi bohong.[4][5][6] Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran.[7] Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.[8]

Sejarah

Meski baru mengambil peran utama dalam panggung diskusi publik Indonesia di beberapa dekade terakhir ini, hoaks sebetulnya punya akar sejarah yang panjang.[9]

Terdapat 2 versi terkait dengan sejarah hoaks. Pertama yang dicatat pada 1661. Kasus tersebut adalah soal Drummer of Tedworth, yang berkisah soal John Mompesson -seorang tuan tanah- yang dihantui oleh suara-suara drum setiap malam di rumahnya.[10] Ia mendapat nasib tersebut setelah ia menuntut William Drury - seorang drummer band gipsy- dan berhasil memenangkan perkara. Mompesson menuduh Drury melakukan guna-guna terhadap rumahnya karena dendam akibat kekalahannya di pengadilan. Singkat cerita, seorang penulis bernama Glanvill mendengar kisah tersebut. Ia mendatangi rumah tersebut dan mengaku mendengar suara-suara yang sama. Ia kemudian menceritakannya ke dalam tiga buku cerita yang diakunya berasal dari kisah nyata. Kehebohan dan keseraman local horror story tersebut berhasil menaikkan penjualan buku Glancill. Namun, pada buku ketiga Glanvill mengakui bahwa suara-suara tersebut hanyalah trik dan apa yang ceritakan adalah bohong belaka.[11]

Ada juga kisah soal Benjamin Franklin yang pada tahun 1745 lewat harian Pennsylvania Gazette mengungkap adanya sebuah benda bernama “Batu China” yang dapat mengobati rabies, kanker, dan penyakit-penyakit lainnya.[12] Sayangnya, nama Benjamin Franklin saat itu membuat standar verifikasi kedokteran tidak dilakukan sebagaimana standar semestinya.Meski begitu, ternyata batu yang dimaksud hanyalah terbuat dari tanduk rusa biasa yang tak memiliki fungsi medis apapun. Hal tersebut diketahui oleh salah seorang pembaca harian Pennsylvania Gazette yang membuktikan tulisan Benjamin Franklin tersebut. Hoaks-hoaks senada beberapa kali terjadi sampai adanya Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat pada awal abad 20.[13]

Meskipun demikian, kata hoaks sendiri baru mulai digunakan sekitar tahun 1808. Kata tersebut dipercaya datang dari hocus yang berarti untuk mengelabui. Kata-kata hocus sendiri merupakan penyingkatan dari hocus pocus, semacam mantra yang kerap digunakan dalam pertunjukan sulap saat akan terjadi sebuah punch line dalam pertunjukan mereka di panggung.[14]

Kedua, catatan historis "Great Moon Hoax ”tahun 1835, di mana New York Sun menerbitkan serangkaian artikel tentang penemuan kehidupan di bulan. Contoh yang lebih baru adalah 2006Flemish Secession Hoax", di mana stasiun televisi publik Belgia melaporkan bahwa Parlemen Flemish telah mendeklarasikan kemerdekaan dari Belgia, sebuah laporan bahwa yang membuat sejumlah besar penonton menjadi salah paham.[15]

Hingga kini, eksistensi hoaks terus meningkat. Dari kabar palsu seperti entitas raksasa seperti Loch Ness, tembok China yang terlihat dari luar angkasa, hingga ribuan hoaks yang bertebaran di pemilihan umum presiden Amerika Serikat pada tahun 2016. Semua hoaks tersebut punya tujuan masing-masing, dari sesederhana publisitas diri hingga tujuan yang amat genting seperti politik praktis sebuah negara adidaya.[16]

Kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti meme, keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-media sosial. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.[17]

Menteri Komunikasi dan Informatika pernah mengungkapkan bahwa hoaks dan media sosial seperti vicious circle, atau lingkaran setan. Dari situ langkah pencegahan mulai gencar dilakukan. Termasuk oleh Facebook dan Twitter sebagai pemilik platform yang membuat tim khusus untuk meminimalisasi keberadaannya. Ditambah lagi dengan kemunculan media abal-abal yang sama sekali tak menerapkan standar jurnalisme. Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat semakin lama semakin tergerus.[18]

Jenis misinformasi dan disinformasi

Satir atau Parodi

Satir atau parodi, dibuat dengan tidak berniat untuk merugikan, tetapi berpotensi untuk mengelabui. Satir tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.[19]

Konten menyesatkan

Konten yang menyesatkan atau misleading content, di dalamnya biasanya ada penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu. Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.[20]

Konten tiruan

Konten tiruan atau Imposter content adalah ketika sebuah sumber asli ditiru atau diubah untuk mengaburkan fakta sebenarnya. Konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.[21]

Konten Palsu

Konten palsu berupa konten baru yang 100% salah dan secara sengaja dibuat, didesain untuk menipu serta merugikan.[22]

Keterkaitan yang Salah

Keterkaitan yang Salah, atau False connection Ini adalah ketika judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten atau tidak terikat antara satu dengan yang lainnya. Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.[23]

Konten yang Salah

Konten yang Salah atau False context, ketika konten yang asli dipadankan atau dikait-kaitkan dengan konteks informasi yang salah.[24]

Konten yang Dimanipulasi

Konten yang Dimanipulasi atau Manipulated content ketika informasi atau gambar yang asli sengaja dimanipulasi untuk menipu.[25] Secara sederhana, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

Konten Dugaan

Berita yang bermuatan unsur 'dugaan' termasuk dalam jenis rumor yang tidak berdsar bukti konkrit, tetapi lebih pada penilaian atau opini subjektif yang diduga sebagai fakta. Umumnya konten ini bermuatan gosip, tuduhan hingga fitnah kepada seseorang atau kelompok tertentu. Konten dugaan juga memiliki ciri berakhiran tanda tanya, (semisal Tokoh X adalah seorang Y?) bertujuan memberi informasi yang tidak pasti dan tanpa validitas sehingga justru menyebabkan publik bertanya-tanya.

Jenis konten[26]

  • Agama, konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan yang maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
  • Politik, konten yang memuat segala hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan negara, pembagian kekuasaan, berupa kebijakan atau cara-cara mempertahankan kekuasaan.
  • Etnis, konten yang berkaitan dengan segala hal mengenai kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, suku, bahasa, budaya dan sebagainya.
  • Kesehatan, konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan keadaan sehat jasmani maupun rohani.
  • Bisnis, konten yang memuat tentang segala usaha komersial.
  • Penipuan, konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan upaya mengecoh yang mengakibatkan kerugian di pihak yang dikecoh baik berupa uang atau data pribadi.
  • Bencana alam, konten yang memuat hal-hal yang terkait kejadian alam yang memakan korban
  • Kriminalitas, konten yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan tindak kejahatan
  • Lalu lintas, konten yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan lalu lintas, baik itu berupa kebijakan atau insiden.
  • Peristiwa ajaib, konten yang memuat kejadian yang tidak lazim dan mustahil.
  • Lain-lain, konten lain yang tidak termasuk dalam kesepuluh kategori tersebut.

Alat[27]

  • Narasi, biasanya digunakan untuk menggambarkan runtutan peristiwa seperti seolah-olah benar adanya. Narasi yang dibangun lebih kepada hal-hal yang bersifat membesar-besarkan, membanding-bandingkan, melebih-lebihkan hingga memprovokasi.
  • Gambar atau foto, biasanya digunakan untuk menambah keyakinan pada pembaca akan berita bohong yang dibuat. Biasanya gambar atau foto yang digunakan tidak ada keterkaitan dengan peristiwa yang terjadi atau telah di edit sedemikian rupa.
  • Video, biasanya digunakan untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi secara lebih nyata. Biasanya video yang digunakan tidak ada keterkaitan dengan peristiwa yang terjadi hingga telah di edit sedemikian rupa.
  • Meme, biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataannya, tetapi bersifat humor, lucu. Dan biasanya target yang terpengaruh oleh hoax meme merupakan anak dibawah umur.
  • Media massa, biasanya digunakan sebagai alat atau sarana untuk menyebarkan hoaks kepada khalayak secara serantak.

Alasan hoaks tetap ada

Berbagai cara telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang peduli dengan maraknya hoaks di kehidupan masyarakat. Pemerintah misalnya telah membuat pagar hukum dengan menyetujui lahirnya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektonik, memblokir situs-situs yang menyebarkan hoaks, menangkap sindikat penyebar hoaks hingga membentuk lembaga siberkreasi yang berfokus dalam menangani hoaks. Tidak hanya itu, masyarakat juga turut serta dalam menekan peredaran hoaks dengan memberikan klarifikasi terhadap hoaks. Di antaranya adalah Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) yang secara aktif dan peduli memberikan klarifikasi akan hoaks hingga melakukan literasi media, baik dikalangan masyarakat hingga jurnalis.[28] Lantas muncul pertanyaan, sebenarya faktor apa saja yang memengaruhi hoaks masih terus ada dan berkembang. Berikut beberapa alasan hoaks tetap ada.

  • Jurnalisme yang lemah, jurnalisme yang lemah membuat konten hoaks terus berkembang karena tidak terbiasa dengan proses verifikasi, cek dan recheck. Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat semakin lama semakin tergerus.[29]
  • Ekonomi, Faktor ekonomi yang lemah membuat peredaran hoak terus ada. Bagaimana tidak, dengan memproduksi hoaks atau mengarang berita seseorang bisa mendapatkan penghasilan yang dapat mendokrak ekonominya.
  • Internet, kemunculan internet semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Sama seperti meme, keberadaannya sangat mudah menyebar lewat media-media sosial. Apalagi biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikannya.[30]
  • Munculnya media abal-abal, kemunculan media abal-abal sama sekali tak menerapkan standar jurnalisme. Keadaan ini tentu semakin memperburuk kualitas informasi yang tersebar di masyarakat.[31]
  • Pendidikan, rendahnya kualitas pendidikan membuat seseorang tidak bisa menyaring informasi yang diterimanya apalagi mencoba untuk bertindak kritis dengan membandingkan setiap informasi yang diterimannya dengan informasi yang ada di berbagai media mainstream.[32]
  • Literasi media yang rendah, rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung memercayai sebuah informasi yang diterima, didapatkannya tanpa melakukan verifikasi. Rendahnya literasi media membuat seseorang cenderung untuk membagikan setiap informasi yang dapatkannya kepada orang lain tanpa mengetahui kebenaran dari sebuah informasi tersebut.[33]

Produsen hoaks

Semua orang berpotensi sebagai pembuat hoaks. Hoaks terkait dengan apa saja yang tidak benar adanya, tetapi dijual sebagai sebuah kebenaran dengan tujuan tertentu. Namun, ada beberapa kasus yang menujukkan bahwa hoaks diproduksi oleh beberapa kalangan seperti Saracen dan Muslim Cyber Army dengan motif tertentu. Saracen dan Muslim Cyber Army merupakan organisasi-organisasi penyebar hoaks, ujaran kebencian atau hate speech dan SARA melalui media sosial. Berdasarkan temuan polisi, anggota sindikat ini telah memiliki beragam konten ujaran kebencian sesuai isu yang tengah berkembang. Mereka kemudian menawarkan produk itu dalam sebuah proposal. Dalam satu proposal yang ditemukan, kurang lebih setiap proposal nilainya puluhan juta rupiah.[34]

Diketahui, Sindikat Saracen diketahui memiliki ribuan akun. Mereka juga berbagi tugas untuk mengunggah konten pro dan kontra terhadap suatu isu. "Misalnya kurang lebih 2.000 akun itu dia membuat meme menjelek-jelekkan Islam, ribuan lagi kurang lebih hampir 2.000 juga menjelek-jelekkan Kristen. Itu yang kemudian tergantung pemesanan.[35]

Terkait masalah pemesanan itu, polisi menemukan ada salah satu proposal yang menawarkan senilai Rp 75 juta sampai Rp 100 juta. Meskipun demikian, polisi masih belum bisa memastikan harga pasti per proposal. Apalagi polisi masih terus menggali siapa saja yang pernah membeli jasa Saracen untuk menebar kebencian dan SARA.[36]

Dari pengungkapan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa hoaks dipesan oleh sekelompok orang dengan beragam kepentingan di dalamnya. Hoaks diproduksi oleh orang-orang yang tidak bermoral dan beretikat buruk terhadap sesama.

Penyebab orang percaya berita bohong

Menurut dr. Gina Inindyajati, SP.Kj setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan orang mudah memercayai berita hoax:[37]

  • Penyangkalan atas apa yang terjadi, biasa sang penerima berita bohong akan menerima begitu saja karena seakan berlawanan dengan fakta yang ada;
  • Teori Konspirasi, teori yang biasa menjadi awal dari berita bohong menyebar ini merupakan teori yang sama sekali belum teruji dan tidak bisa terukur. Penyebab ini yang biasa sangat berdampak, karena sang penerima langsung memercayai ini sebagai kebenaran dan menyebarkan ulang.
  • Keterikatan penerima secara ideologis/politik/aliran terhadap penyebar, biasa faktor ini terjadi saat ada kompetisi politik atau saat ada ketegangan antar kelompok.

Beberapa kasus

  • Hoaks tentang Bendungan Bilibili di Kabupaten Gowa Retak, faktanya bendungan Bili-Bili masih dalam keadaan aman dan terkendali setelah dilakukan pengecekan oleh pihak Polsek Mamuju, Gowa.[38]
  • Hoaks korban musibah, faktanya foto yang digunakan tersebut adalah foto kejadian gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004 yang disebarluaskan kembali sebagai dokumentasi korban gempa dan tsunami Palu 2018.
  • Hoaks Wali kota Palu Meninggal, faktanya Wali kota Palu Hidayat tidak meninggal dan kini turut melakukan tanggap darurat gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah.[39]
  • Hoaks gempa bumi susulan, faktanya tidak ada satu pun negara di dunia dan IPTEK yang mampu memprediksi gempa secara pasti, konfirmasi dari Sutopo Purwo Nugroho (Kepala Humas BNPB)
  • Hoaks Gerak cepat relawan FPI evakuasi korban gempa Palu 7.7, faktanya dalam gambar ini adalah relawan FPI membantu korban longsor di desa Tegal Panjang, Sukabumi.[40]
  • Hoaks mayat yang minta gempa, faktanya gambar itu diambil dari kejadian di Sungai Siak, Pekanbaru, Riau
  • Hoaks 2 Oktober terjadi gempa bumi lagi, faktanya tidak ada satu pun negara di dunia dan IPTEK yang mampu memprediksi gempa secara pasti, konfirmasi dari Sutopo Purwo Nugroho (Kepala Humas BNPB)
  • Hoaks Emmeril Khan Mumtadz ditemukan di sebagian wilayah Donbas yang diduduki oleh Republik Rakyat Donetsk, Rusia, faktanya jenazah putra sulung Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil itu ditemukan tidak jauh dari titik awal kejadian di sekitar Sungai Aare, Bern, Swiss setelah sempat dinyatakan hilang selama dua minggu.
  • Hoaks penerbangan gratis dari Makassar menuju Palu gratis bagi keluarga korban, faktanya Pesawat Hercules TNI AU menuju ke Palu diutamakan membawa bantuan logistik, paramedis, obat-obatan, makanan siap saji, dan alat berat. Pemberangkatan dari Palu prioritas untuk mengangkut pengungsi diutamakan lansia, wanita dan anak-anak, serta pasien ke Makassar.
  • FPI Bantu Korban Bencana Alam Di Palu Duluan, faktanya (1) Foto pertama: Bantuan FPI di Lombok, Agustus 2018. Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah. (2) Foto kedua: FPI membantu korban penggusuran Pasar Ikan di Batang.[41]

Lihat pula

Referensi

  1. Curtis D. MacDougall. Hoaxes. Dover. 1958. hlm. 6. ISBN 0-486-20465-0.
  2. Jan H. Brunvand. Encyclopedia of Urban Legends. W. W. Norton & Company. 2001. hlm. 194. ISBN 1-57607-076-X.
  3. Gumgum Gumilar, Justito Adiprasetio, Nunik Maharani. Literasi Media: Cerdas Menggunakan Media Sosial dalam Menanggulangi Berita Palsu (Hoax) oleh Siswa SMA. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 2017. Vol. 1. hlm. 36.
  4. Arti kata Hoax - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online. kbbi.kemendikdasmen.go.id.
  5. Kurnia Azizah. Hoax Adalah Berita Bohong, Kenali Ciri-Ciri, Jenis dan Cara Mengatasinya. Merdeka.com. 18 Maret 2021.
  6. PDSI KOMINFO. Ini Cara Mengatasi Berita “Hoax” di Dunia Maya. Website Resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.
  7. Silverman, Craig. (2015).Journalism: A Tow/Knight Report.Lies, Damn Lies, and Viral Content. Columbia Journalism Review.
  8. Allcott, Hunt & Gentzkow, Matthew. (2017). Social Media and Fake News in the 2016 Election. Journal of Economic Perspectives Vol 31, No. 2, Spring 2017.
  9. Tio. Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa. Kumparan.
  10. Zumar Hakiki. Sejarah HOAX atau Berita Bohong. Informasi Terkini Berita Sumatera Selatan. 19 Juni 2020.
  11. Tio. Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa. Kumparan.
  12. Nancy Junita. Ini Sejarah Hoax dari Masa ke Masa. Bisnis.com. 14 Januari 2017.
  13. Tio. Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa. Kumparan.
  14. Tio. Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa. Kumparan.
  15. Allcott, Hunt & Gentzkow, Matthew. (2017). Social Media and Fake News in the 2016 Election. Journal of Economic Perspectives Vol 31, No. 2, Spring 2017.
  16. Tio. Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa. Kumparan.
  17. Tio. Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa. Kumparan.
  18. Tio. Sejarah Hoaks dan Andilnya dari Masa ke Masa. Kumparan.
  19. Sobih Abdul Wahid. Mengenal Tujuh Jenis Hoaks. Medcom.id.
  20. Sobih Abdul Wahid. Mengenal Tujuh Jenis Hoaks. Medcom.id.
  21. Sobih Abdul Wahid. Mengenal Tujuh Jenis Hoaks. Medcom.id.
  22. Sobih Abdul Wahid. Mengenal Tujuh Jenis Hoaks. Medcom.id.
  23. Sobih Abdul Wahid. Mengenal Tujuh Jenis Hoaks. Medcom.id.
  24. Sobih Abdul Wahid. Mengenal Tujuh Jenis Hoaks. Medcom.id.
  25. Fake news. It's complicated. firstdraftnews.org.
  26. Nuril Hidayah. Pemetaan Hoaks Di Indonesia. Mafindo. 2018-09-30. hlm. 4.
  27. Nuril Hidayah. Pemetaan Hoax Di Indonesia. Mafindo. 2018-09-30. hlm. 5.
  28. Website Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau - Cegah Hoax : Ingat Selalu, Saring sebelum Sharing!. dinkes.kepriprov.go.id.
  29. Wisnu Prasetya Utomo. Jurnalisme Memproduksi Hoax - Remotivi. remotivi. 2017-02-01.
  30. Angelina Anjar Sawitri. 4 Penyebab Hoax Mudah Viral di Media Sosial. Tempo.co. 2017-01-22.
  31. Fernan Rahadi. Masyarakat Diminta Waspadai Media Penyebar Hoax. Republika Online. 2017-01-13.
  32. Yantina Debora. Literasi Rendah Sebabkan Masyarakat Mudah Percaya Hoax. Tirto.id. 2017-05-01.
  33. Yantina Debora. Literasi Rendah Sebabkan Masyarakat Mudah Percaya Hoax. Tirto.id. 2017-05-01.
  34. Audrey Santoso. Polisi Sebut Saracen Tawarkan Proposal Jasa Kampanye Politik. detikcom.
  35. Nur Habibie. Punya 2.000 akun, Saracen pasang tarif puluhan juta sebar konten kebencian. Merdeka.com. 2017-08-23.
  36. Nafiysul Qodar. Kelompok Penyebar Hoax MCA dan Saracen, Serupa tapi Tak Sama. Liputan6.com.
  37. Syarif Ika Suryani. Faktor-Faktor Orang Percaya Hoaks dan Dampaknya. www.suarasurabaya.net. 2021-06-29.
  38. Nur Fajriani R. Bendungan Bili-bili Retak Hoax atau Betul? Ini Penjelasan Pimpro Pembangunannya, Tentang Daya Tahan. Tribunnews.com. 2019-01-23.
  39. Vanny El Rahman. CEK FAKTA: Kabar Wali Kota Palu Meninggal Akibat Gempa Hoax!. IDN Times. 2018-09-30.
  40. Karel Salim. Kemenkominfo Identifikasi Informasi Hoaks Terkait Gempa Sulteng. Komisi Informasi Pusat. 2018-10-03.
  41. FPI Terus Bantu Korban Penggusuran Di Pasar Ikan Dan Luar Batang - Berita Persatuan. beritapersatuan.com.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29312878 (2026-06-04T18:27:16Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.