Lompat ke isi

Polihidroksi alkanoat: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29151058; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
'''Polihidroksi alkanoat''' (, disingkat '''PHA''') mengacu pada golongan [[poliester]] yang diakumulasi oleh beberapa [[bakteri]] pada keadaan pertumbuhan tidak seimbang. Lebih dari 150 [[monomer]] yang berbeda dapat dikombinasikan dengan senyawa golongan ini untuk menghasilkan materi dengan sifat yang berbeda. PHA, secara alami diproduksi oleh beberapa bakteri di dalam [[sitoplasma]] sebagai cadangan makanan. [[Poly ((R)-3-hidroksibutirat)]] (PHB) merupakan anggota PHA yang paling banyak dipelajari, molekul tersebut menjanjikan untuk dibuat [[bioplastik]] karena sifatnya mirip dengan [[polipropilen]].
[[File:Polyhydroxyalkanoates.png|thumb|right|280px|Struktur kimia polihidroksi alkanoat]]
Penggunaan PHB sebagai kemasan dapat disejajarkan dengan plastik konvensional berbahan dasar [[minyak bumi]] karena PHB memiliki kemiripan sifat dengan plastik yang disintesis dari turunan [[bahan bakar fosil]].
 
'''Polihidroksi alkanoat''' (, disingkat '''PHA''') mengacu pada golongan [[poliester]] yang diakumulasi oleh beberapa [[bakteri]] pada keadaan pertumbuhan tidak seimbang.<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref> Lebih dari 150 [[monomer]] yang berbeda dapat dikombinasikan dengan senyawa golongan ini untuk menghasilkan materi dengan sifat yang berbeda.<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref> PHA, secara alami diproduksi oleh beberapa bakteri di dalam [[sitoplasma]] sebagai cadangan makanan.<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref> [[Poly ((R)-3-hidroksibutirat)]] (PHB) merupakan anggota PHA yang paling banyak dipelajari, molekul tersebut menjanjikan untuk dibuat [[bioplastik]] karena sifatnya mirip dengan [[polipropilen]].<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref>
Penggunaan PHB sebagai kemasan dapat disejajarkan dengan plastik konvensional berbahan dasar [[minyak bumi]] karena PHB memiliki kemiripan sifat dengan plastik yang disintesis dari turunan [[bahan bakar fosil]].<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref><ref>Patnaik PR. 2006. [http://www.clbme.bas.bg/bioautomation/2006/vol_5.1/files/5_1.3.pdf Fed-batch optimization of PHB synthesis through mechanistic, cybernetic and neural approaches] . Bioautomation 5: 23-38.</ref>


== Properti ==
== Properti ==
[[Struktur kimia]] dari PHA memengaruhi sifat-sifatnya. Dalam produksi PHA pada bakteri, struktur PHA yang diproduksi dapat dimodifikasi dengan mengubah spesies bakteri atau kondisi pertumbuhan. Keragaman ini adalah berguna dalam menghasilkan berbagai produk berbahan dasar yang berbeda, mulai dali implan medis, hingga pembungkus makanan. Secara umum, properti yang dapat dimiliki molekul PHA adalah sebagai berikut:
[[Struktur kimia]] dari PHA memengaruhi sifat-sifatnya.<ref>Chen GQ.2010. [http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-3-642-03287-5_2 Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates]. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287</ref> Dalam produksi PHA pada bakteri, struktur PHA yang diproduksi dapat dimodifikasi dengan mengubah spesies bakteri atau kondisi pertumbuhan.<ref>Chen GQ.2010. [http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-3-642-03287-5_2 Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates]. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287</ref> Keragaman ini adalah berguna dalam menghasilkan berbagai produk berbahan dasar yang berbeda, mulai dali implan medis, hingga pembungkus makanan.<ref>Chen GQ.2010. [http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-3-642-03287-5_2 Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates]. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287</ref> Secara umum, properti yang dapat dimiliki molekul PHA adalah sebagai berikut:
* [[termoplastik]],
* [[termoplastik]],
* [[teruraikan hayati]] (‘’biodegradable’’),
* [[teruraikan hayati]] (‘’biodegradable’’),
Baris 13: Baris 15:
* dapat dirancang menggunakan pendekatan [[molekular]],
* dapat dirancang menggunakan pendekatan [[molekular]],
* [[hidrofobik]],
* [[hidrofobik]],
* tidak [[permeabel]] terhadap gas.
* tidak [[permeabel]] terhadap gas.<ref>Chen GQ.2010. [http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-3-642-03287-5_2 Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates]. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287</ref>


== Biosintesis ==
== Biosintesis ==
Di dalam sel bakteri, PHA diakumulasi sebagai bulir (granul) yang dikelilingi oleh [[protein]] dan [[lemak]]. Protein dan lemak tersebut, diperkirakan berperan penting, baik dalam produksi maupun degradasi senyawa PHA dalam sel. Pada proses biosintesis PHA, senyawa prekursor PHA, [[3-hidroksialkanoil-CoA]], dapat diperoleh melalui metabolisme [[Asetil-CoA]]. Sementara itu, 3-hidroksialkanoil-CoA, juga dapat diperoleh melalui [[beta-oksidasi]] [[asam lemak]]. Pada ''[[Ralstonia eutropha]]'', enzim [[beta-ketiolase]], [[asetoasetil-CoA reduktase]], dan [[PHA sintase]] yang disandikan oleh [[gen]] ''pha''A, ''pha''B, dan ''pha''C, merupakan tiga [[enzim]] kunci untuk sintesis PHA.
Di dalam sel bakteri, PHA diakumulasi sebagai bulir (granul) yang dikelilingi oleh [[protein]] dan [[lemak]].<ref>Lu J, Tappel R, Nomura C. 2009. [http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/15583720903048243 Mini-Review: Biosynthesis of Poly(hydroxyalkanoates]. ''Polym. Rev.''49: 226-248. doi: 10.1080/15583720903048243</ref> Protein dan lemak tersebut, diperkirakan berperan penting, baik dalam produksi maupun degradasi senyawa PHA dalam sel.<ref>Lu J, Tappel R, Nomura C. 2009. [http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/15583720903048243 Mini-Review: Biosynthesis of Poly(hydroxyalkanoates]. ''Polym. Rev.''49: 226-248. doi: 10.1080/15583720903048243</ref> Pada proses biosintesis PHA, senyawa prekursor PHA, [[3-hidroksialkanoil-CoA]], dapat diperoleh melalui metabolisme [[Asetil-CoA]].<ref>Chen GQ.2010. [http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-3-642-03287-5_2 Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates]. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287</ref> Sementara itu, 3-hidroksialkanoil-CoA, juga dapat diperoleh melalui [[beta-oksidasi]] [[asam lemak]].<ref>Chen GQ.2010. [http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-3-642-03287-5_2 Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates]. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287</ref> Pada ''[[Ralstonia eutropha]]'', enzim [[beta-ketiolase]], [[asetoasetil-CoA reduktase]], dan [[PHA sintase]] yang disandikan oleh [[gen]] ''pha''A, ''pha''B, dan ''pha''C, merupakan tiga [[enzim]] kunci untuk sintesis PHA.<ref>Chen GQ.2010. [http://link.springer.com/chapter/10.1007%2F978-3-642-03287-5_2 Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates]. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287</ref>


== Aplikasi ==
== Aplikasi ==
PHA dan senyawa turunannya mempunyai aplikasi yang luas. Sebagai kemasan, PHB tahan terhadap radiasi [[ultraviolet]], permeabel terhadap oksigen, dan kedap air. Hal ini membuat PHB cocok sebagai kemasan makanan. PHB juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat [[benang bedah]] karena kemampuannya untuk terdegradasi menjadi molekul yang tidak beracun pada tubuh manusia. Sebagai ''[[biodiesel]]'', turunan [[metil ester]] dari PHA juga berpotensi sebagai bahan bakar kendaraan. Beberapa studi melaporkan bahwa R-(3)-asam hidroksibutirat ((R)-3-HB) sebagai monomer PHB menunjukkan aktivitas [[antimikrob]], [[antiviral]], dan [[insektisidal]]. Terlebih lagi, R-(3)-HB dapat dimanfaatkan sebagai balok susun kimia dalam sintesis beberapa [[senyawa kimia]] seperti [[antibiotik]], [[vitamin]], senyawa [[aromatik]], dan [[feromon]].
PHA dan senyawa turunannya mempunyai aplikasi yang luas.<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref><ref>Patnaik PR. 2006. [http://www.clbme.bas.bg/bioautomation/2006/vol_5.1/files/5_1.3.pdf Fed-batch optimization of PHB synthesis through mechanistic, cybernetic and neural approaches] . Bioautomation 5: 23-38.</ref><ref>Shahhosseini S. 2004. [http://link.springer.com/article/10.1007%2FBF02931065 Simulation and optimisation of PHB production in fed-batch culture of Ralstonia eutropha]. Process Biochem 39: 963-939.</ref><ref>Tokiwa Y, Ugwu CU. 2007. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17543411 Biotechnological production of (R)-3-hydroxybutyric acid monomer]. '''J Biotechnol''' 132: 264-272.</ref> Sebagai kemasan, PHB tahan terhadap radiasi [[ultraviolet]], permeabel terhadap oksigen, dan kedap air.<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref> Hal ini membuat PHB cocok sebagai kemasan makanan.<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref> PHB juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat [[benang bedah]] karena kemampuannya untuk terdegradasi menjadi molekul yang tidak beracun pada tubuh manusia.<ref>Shahhosseini S. 2004. [http://link.springer.com/article/10.1007%2FBF02931065 Simulation and optimisation of PHB production in fed-batch culture of Ralstonia eutropha]. Process Biochem 39: 963-939.</ref> Sebagai ''[[biodiesel]]'', turunan [[metil ester]] dari PHA juga berpotensi sebagai bahan bakar kendaraan.<ref>Patnaik PR. 2006. [http://www.clbme.bas.bg/bioautomation/2006/vol_5.1/files/5_1.3.pdf Fed-batch optimization of PHB synthesis through mechanistic, cybernetic and neural approaches] . Bioautomation 5: 23-38.</ref> Beberapa studi melaporkan bahwa R-(3)-asam hidroksibutirat ((R)-3-HB) sebagai monomer PHB menunjukkan aktivitas [[antimikrob]], [[antiviral]], dan [[insektisidal]].<ref>Tokiwa Y, Ugwu CU. 2007. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17543411 Biotechnological production of (R)-3-hydroxybutyric acid monomer]. '''J Biotechnol''' 132: 264-272.</ref> Terlebih lagi, R-(3)-HB dapat dimanfaatkan sebagai balok susun kimia dalam sintesis beberapa [[senyawa kimia]] seperti [[antibiotik]], [[vitamin]], senyawa [[aromatik]], dan [[feromon]].<ref>Tokiwa Y, Ugwu CU. 2007. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17543411 Biotechnological production of (R)-3-hydroxybutyric acid monomer]. '''J Biotechnol''' 132: 264-272.</ref>


== Produksi ==
== Produksi ==
=== Produksi dalam Bioreaktor ===
=== Produksi dalam Bioreaktor ===
Secara umum, metode [[kultur tertutup]] (''batch'') adalah metode kultur yang populer. Kelebihan proses batch dibandingkan metode kultur lainnya adalah prosesnya yang lebih sederhana dan penanggulangan [[kontaminasi]] yang lebih mudah. Hanya saja proses ini kurang efektif dalam memproduksi produk yang terasosiasi dengan pertumbuhan. Selain itu, kerugian lain dari proses batch adalah banyaknya tenaga dan waktu yang terbuang untuk sterilisasi dan variabilitas yang tinggi antar batch.
Secara umum, metode [[kultur tertutup]] (''batch'') adalah metode kultur yang populer.<ref>Waites MJ, Morgan NL, Rockey JS, Higton G. 2001. Industrial Microbiology: An Introduction. London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05307-0</ref> Kelebihan proses batch dibandingkan metode kultur lainnya adalah prosesnya yang lebih sederhana dan penanggulangan [[kontaminasi]] yang lebih mudah.<ref>Waites MJ, Morgan NL, Rockey JS, Higton G. 2001. Industrial Microbiology: An Introduction. London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05307-0</ref> Hanya saja proses ini kurang efektif dalam memproduksi produk yang terasosiasi dengan pertumbuhan.<ref>Waites MJ, Morgan NL, Rockey JS, Higton G. 2001. Industrial Microbiology: An Introduction. London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05307-0</ref> Selain itu, kerugian lain dari proses batch adalah banyaknya tenaga dan waktu yang terbuang untuk sterilisasi dan variabilitas yang tinggi antar batch.<ref>Waites MJ, Morgan NL, Rockey JS, Higton G. 2001. Industrial Microbiology: An Introduction. London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05307-0</ref>


Dalam berbagai studi produksi PHA, metode kultur tertutup adalah populer. Hal tersebut karena fleksibilitasnya yang tinggi dan ongkos operasionalnya yang rendah. Sayangnya produksi PHA menggunakan metode kultur tertutup terasosiasi dengan produktivitas yang rendah. Berbagai strategi untuk meningkatkan produktivitas PHA telah dicari. Banyak penulis mulai mencoba menggunakan metode ''[[fed-batch]]'' untuk produksi PHA. Meskipun ''fed-batch'' umumnya mempunyai yield yang lebih tinggi, akan tetapi produksi dengan metode kultur ''fed-batch'' dinilai masih belum memuaskan. Untuk itu, metode kultur tertutup dan fed batch mulai dikombinasikan untuk memperoleh produktivitas yang lebih tinggi. Selain kombinasi metode kultur, pendekatan lain untuk meningkatkan produktivitas mencakup pemilihan jenis [[mikroorganisme]], kondisi [[fermentasi]] ([[pH]], [[aerasi]], [[agitasi]]), jenis substrat [[karbon]] (kompleks atau terdefinisi), optimasi komposisi media (nitrogen, fosfat, dan elemen kelumit), pemilihan jenis bioreaktor, dan penggunaan [[galur]] unggul.
Dalam berbagai studi produksi PHA, metode kultur tertutup adalah populer.<ref>Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. [http://www.researchgate.net/profile/Artun_Sukan/publication/257508914_Advances_in_PHAs_Production/file/e0b4952556e7e5665b.pdf Advances in PHA Production]. ''Chem Eng Trans'' 32: 931-935</ref> Hal tersebut karena fleksibilitasnya yang tinggi dan ongkos operasionalnya yang rendah.<ref>Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. [http://www.researchgate.net/profile/Artun_Sukan/publication/257508914_Advances_in_PHAs_Production/file/e0b4952556e7e5665b.pdf Advances in PHA Production]. ''Chem Eng Trans'' 32: 931-935</ref> Sayangnya produksi PHA menggunakan metode kultur tertutup terasosiasi dengan produktivitas yang rendah.<ref>Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. [http://www.researchgate.net/profile/Artun_Sukan/publication/257508914_Advances_in_PHAs_Production/file/e0b4952556e7e5665b.pdf Advances in PHA Production]. ''Chem Eng Trans'' 32: 931-935</ref> Berbagai strategi untuk meningkatkan produktivitas PHA telah dicari.<ref>Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. [http://www.researchgate.net/profile/Artun_Sukan/publication/257508914_Advances_in_PHAs_Production/file/e0b4952556e7e5665b.pdf Advances in PHA Production]. ''Chem Eng Trans'' 32: 931-935</ref> Banyak penulis mulai mencoba menggunakan metode ''[[fed-batch]]'' untuk produksi PHA.<ref>Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. [http://www.researchgate.net/profile/Artun_Sukan/publication/257508914_Advances_in_PHAs_Production/file/e0b4952556e7e5665b.pdf Advances in PHA Production]. ''Chem Eng Trans'' 32: 931-935</ref> Meskipun ''fed-batch'' umumnya mempunyai yield yang lebih tinggi, akan tetapi produksi dengan metode kultur ''fed-batch'' dinilai masih belum memuaskan.<ref>Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. [http://www.researchgate.net/profile/Artun_Sukan/publication/257508914_Advances_in_PHAs_Production/file/e0b4952556e7e5665b.pdf Advances in PHA Production]. ''Chem Eng Trans'' 32: 931-935</ref> Untuk itu, metode kultur tertutup dan fed batch mulai dikombinasikan untuk memperoleh produktivitas yang lebih tinggi.<ref>Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. [http://www.researchgate.net/profile/Artun_Sukan/publication/257508914_Advances_in_PHAs_Production/file/e0b4952556e7e5665b.pdf Advances in PHA Production]. ''Chem Eng Trans'' 32: 931-935</ref> Selain kombinasi metode kultur, pendekatan lain untuk meningkatkan produktivitas mencakup pemilihan jenis [[mikroorganisme]], kondisi [[fermentasi]] ([[pH]], [[aerasi]], [[agitasi]]), jenis substrat [[karbon]] (kompleks atau terdefinisi), optimasi komposisi media (nitrogen, fosfat, dan elemen kelumit), pemilihan jenis bioreaktor, dan penggunaan [[galur]] unggul.<ref>Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. [http://www.researchgate.net/profile/Artun_Sukan/publication/257508914_Advances_in_PHAs_Production/file/e0b4952556e7e5665b.pdf Advances in PHA Production]. ''Chem Eng Trans'' 32: 931-935</ref>


=== Masalah ===
=== Masalah ===
Masalah yang paling utama dalam penyebaran penggunaan PHA sebagai bioplastik adalah harga produksinya yang lebih mahal dibandingkan plastik konvensional. Harga PHB komersial dapat mencapai 17 kali lebih besar dari harga plastik konvensional. Sebagai contoh, [[BIOPOL]]™, sebuah produk bioplastik komersial yang merupakan kopolimer dari b-[[asam hidroksibutirat]] dan b-[[hidroksivalerat]] dijual dengan harga 17 kali lipat harga plastik sintesis. Mahalnya harga produksi bioplastik PHB dipengaruhi oleh efisiensi proses fermentasi, harga [[substrat]], dan [[proses hilir]].
Masalah yang paling utama dalam penyebaran penggunaan PHA sebagai bioplastik adalah harga produksinya yang lebih mahal dibandingkan plastik konvensional.<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref> Harga PHB komersial dapat mencapai 17 kali lebih besar dari harga plastik konvensional.<ref>Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. [http://www.massey.ac.nz/~ychisti/Enrico.pdf Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic]. Enzyme Microb Tech 15:132-141.</ref> Sebagai contoh, [[BIOPOL]]™, sebuah produk bioplastik komersial yang merupakan kopolimer dari b-[[asam hidroksibutirat]] dan b-[[hidroksivalerat]] dijual dengan harga 17 kali lipat harga plastik sintesis.<ref>Tokiwa Y, Ugwu CU. 2007. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17543411 Biotechnological production of (R)-3-hydroxybutyric acid monomer]. '''J Biotechnol''' 132: 264-272.</ref> Mahalnya harga produksi bioplastik PHB dipengaruhi oleh efisiensi proses fermentasi, harga [[substrat]], dan [[proses hilir]].<ref>Patnaik PR. 2006. [http://www.clbme.bas.bg/bioautomation/2006/vol_5.1/files/5_1.3.pdf Fed-batch optimization of PHB synthesis through mechanistic, cybernetic and neural approaches] . Bioautomation 5: 23-38.</ref>
Berbagai pendekatan telah dilakukan, untuk menurunkan ongkos produksi. Beberapa studi mencoba mencari substrat murah dengan ketersediaan yang tinggi untuk menekan biaya produksi, contoh substrat tersebut antara lain limbah minyak goreng, hirolisat bagas, gula molasis. Optimasi dalam proses fermentasi dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Contoh pendekatan optimasi yang umum dilakukan antara lain berupa optimasi [[nutrisi]] (nitrogen, fosfor, dan sumber karbon), pengaturan kelarutan oksigen, pH, suhu inkubasi, dan jenis metode fermentasi yang dipakai. Pendekatan yang lebih modern berupa pendekatan [[rekayasa genetika]]. Contoh hasil dari pendekatan rekayasa genetika adalah penggunaan galur ''[[Escherichia coli]]'' yang mengandung gen biosintesis PHA dari ''[[Comamonas]]'' sp. dan modifikasi gen penyandi [[PHA depolimerase]] untuk menghasilkan volume dan jumlah granul PHA yang lebih tinggi daripada ''R. eutropha''. Terakhir, pemilihan proses hilir yang tepat juga memengaruhi yield dan kemurnian molekul PHB yang dihasilkan.
Berbagai pendekatan telah dilakukan, untuk menurunkan ongkos produksi.<ref>Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. [http://omicsonline.org/polyhydroxyalkanoate-synthesis-by-recombinant-escherichia-coli-jm109-expressing-pha-biosynthesis-genes-from-comamonas-sp.-eb172-1948-5948.pdf Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172]. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.</ref> Beberapa studi mencoba mencari substrat murah dengan ketersediaan yang tinggi untuk menekan biaya produksi, contoh substrat tersebut antara lain limbah minyak goreng, hirolisat bagas, gula molasis.<ref>Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. [http://omicsonline.org/polyhydroxyalkanoate-synthesis-by-recombinant-escherichia-coli-jm109-expressing-pha-biosynthesis-genes-from-comamonas-sp.-eb172-1948-5948.pdf Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172]. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.</ref> Optimasi dalam proses fermentasi dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan.<ref>Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. [http://omicsonline.org/polyhydroxyalkanoate-synthesis-by-recombinant-escherichia-coli-jm109-expressing-pha-biosynthesis-genes-from-comamonas-sp.-eb172-1948-5948.pdf Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172]. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.</ref> Contoh pendekatan optimasi yang umum dilakukan antara lain berupa optimasi [[nutrisi]] (nitrogen, fosfor, dan sumber karbon), pengaturan kelarutan oksigen, pH, suhu inkubasi, dan jenis metode fermentasi yang dipakai.<ref>Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. [http://omicsonline.org/polyhydroxyalkanoate-synthesis-by-recombinant-escherichia-coli-jm109-expressing-pha-biosynthesis-genes-from-comamonas-sp.-eb172-1948-5948.pdf Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172]. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.</ref> Pendekatan yang lebih modern berupa pendekatan [[rekayasa genetika]].<ref>Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. [http://omicsonline.org/polyhydroxyalkanoate-synthesis-by-recombinant-escherichia-coli-jm109-expressing-pha-biosynthesis-genes-from-comamonas-sp.-eb172-1948-5948.pdf Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172]. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.</ref> Contoh hasil dari pendekatan rekayasa genetika adalah penggunaan galur ''[[Escherichia coli]]'' yang mengandung gen biosintesis PHA dari ''[[Comamonas]]'' sp. dan modifikasi gen penyandi [[PHA depolimerase]] untuk menghasilkan volume dan jumlah granul PHA yang lebih tinggi daripada ''R. eutropha''.<ref>Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. [http://omicsonline.org/polyhydroxyalkanoate-synthesis-by-recombinant-escherichia-coli-jm109-expressing-pha-biosynthesis-genes-from-comamonas-sp.-eb172-1948-5948.pdf Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172]. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.</ref><ref>Brigham CJ, Reimer EN, Rha C, Sinskey AJ. 2012. [http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22537946 Examination of PHB depolymerases in Ralstonia eutropha: further elucidation of the roles of enzymes in PHB homeostasis]. AMB Express 2:26-39.</ref> Terakhir, pemilihan proses hilir yang tepat juga memengaruhi yield dan kemurnian molekul PHB yang dihasilkan.
 
== Referensi ==
 


== Lihat Juga ==
== Lihat Juga ==
Baris 40: Baris 39:
*  [http://www.wiley-vch.de/books/biopoly/pdf_v03b/bpol3b07_157_166.pdf Artikel komprehensif mengenai properti dan kristalisasi PHA]
*  [http://www.wiley-vch.de/books/biopoly/pdf_v03b/bpol3b07_157_166.pdf Artikel komprehensif mengenai properti dan kristalisasi PHA]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Polihidroksi+alkanoat&oldid=29151058 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29151058 (2026-04-21T18:17:53Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Polihidroksi+alkanoat&oldid=29151058 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29151058 (2026-04-21T18:17:53Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 28 Agustus 2026 17.57

Struktur kimia polihidroksi alkanoat

Polihidroksi alkanoat (, disingkat PHA) mengacu pada golongan poliester yang diakumulasi oleh beberapa bakteri pada keadaan pertumbuhan tidak seimbang.[1] Lebih dari 150 monomer yang berbeda dapat dikombinasikan dengan senyawa golongan ini untuk menghasilkan materi dengan sifat yang berbeda.[2] PHA, secara alami diproduksi oleh beberapa bakteri di dalam sitoplasma sebagai cadangan makanan.[3] Poly ((R)-3-hidroksibutirat) (PHB) merupakan anggota PHA yang paling banyak dipelajari, molekul tersebut menjanjikan untuk dibuat bioplastik karena sifatnya mirip dengan polipropilen.[4] Penggunaan PHB sebagai kemasan dapat disejajarkan dengan plastik konvensional berbahan dasar minyak bumi karena PHB memiliki kemiripan sifat dengan plastik yang disintesis dari turunan bahan bakar fosil.[5][6]

Properti

Struktur kimia dari PHA memengaruhi sifat-sifatnya.[7] Dalam produksi PHA pada bakteri, struktur PHA yang diproduksi dapat dimodifikasi dengan mengubah spesies bakteri atau kondisi pertumbuhan.[8] Keragaman ini adalah berguna dalam menghasilkan berbagai produk berbahan dasar yang berbeda, mulai dali implan medis, hingga pembungkus makanan.[9] Secara umum, properti yang dapat dimiliki molekul PHA adalah sebagai berikut:

Biosintesis

Di dalam sel bakteri, PHA diakumulasi sebagai bulir (granul) yang dikelilingi oleh protein dan lemak.[11] Protein dan lemak tersebut, diperkirakan berperan penting, baik dalam produksi maupun degradasi senyawa PHA dalam sel.[12] Pada proses biosintesis PHA, senyawa prekursor PHA, 3-hidroksialkanoil-CoA, dapat diperoleh melalui metabolisme Asetil-CoA.[13] Sementara itu, 3-hidroksialkanoil-CoA, juga dapat diperoleh melalui beta-oksidasi asam lemak.[14] Pada Ralstonia eutropha, enzim beta-ketiolase, asetoasetil-CoA reduktase, dan PHA sintase yang disandikan oleh gen phaA, phaB, dan phaC, merupakan tiga enzim kunci untuk sintesis PHA.[15]

Aplikasi

PHA dan senyawa turunannya mempunyai aplikasi yang luas.[16][17][18][19] Sebagai kemasan, PHB tahan terhadap radiasi ultraviolet, permeabel terhadap oksigen, dan kedap air.[20] Hal ini membuat PHB cocok sebagai kemasan makanan.[21] PHB juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat benang bedah karena kemampuannya untuk terdegradasi menjadi molekul yang tidak beracun pada tubuh manusia.[22] Sebagai biodiesel, turunan metil ester dari PHA juga berpotensi sebagai bahan bakar kendaraan.[23] Beberapa studi melaporkan bahwa R-(3)-asam hidroksibutirat ((R)-3-HB) sebagai monomer PHB menunjukkan aktivitas antimikrob, antiviral, dan insektisidal.[24] Terlebih lagi, R-(3)-HB dapat dimanfaatkan sebagai balok susun kimia dalam sintesis beberapa senyawa kimia seperti antibiotik, vitamin, senyawa aromatik, dan feromon.[25]

Produksi

Produksi dalam Bioreaktor

Secara umum, metode kultur tertutup (batch) adalah metode kultur yang populer.[26] Kelebihan proses batch dibandingkan metode kultur lainnya adalah prosesnya yang lebih sederhana dan penanggulangan kontaminasi yang lebih mudah.[27] Hanya saja proses ini kurang efektif dalam memproduksi produk yang terasosiasi dengan pertumbuhan.[28] Selain itu, kerugian lain dari proses batch adalah banyaknya tenaga dan waktu yang terbuang untuk sterilisasi dan variabilitas yang tinggi antar batch.[29]

Dalam berbagai studi produksi PHA, metode kultur tertutup adalah populer.[30] Hal tersebut karena fleksibilitasnya yang tinggi dan ongkos operasionalnya yang rendah.[31] Sayangnya produksi PHA menggunakan metode kultur tertutup terasosiasi dengan produktivitas yang rendah.[32] Berbagai strategi untuk meningkatkan produktivitas PHA telah dicari.[33] Banyak penulis mulai mencoba menggunakan metode fed-batch untuk produksi PHA.[34] Meskipun fed-batch umumnya mempunyai yield yang lebih tinggi, akan tetapi produksi dengan metode kultur fed-batch dinilai masih belum memuaskan.[35] Untuk itu, metode kultur tertutup dan fed batch mulai dikombinasikan untuk memperoleh produktivitas yang lebih tinggi.[36] Selain kombinasi metode kultur, pendekatan lain untuk meningkatkan produktivitas mencakup pemilihan jenis mikroorganisme, kondisi fermentasi (pH, aerasi, agitasi), jenis substrat karbon (kompleks atau terdefinisi), optimasi komposisi media (nitrogen, fosfat, dan elemen kelumit), pemilihan jenis bioreaktor, dan penggunaan galur unggul.[37]

Masalah

Masalah yang paling utama dalam penyebaran penggunaan PHA sebagai bioplastik adalah harga produksinya yang lebih mahal dibandingkan plastik konvensional.[38] Harga PHB komersial dapat mencapai 17 kali lebih besar dari harga plastik konvensional.[39] Sebagai contoh, BIOPOL™, sebuah produk bioplastik komersial yang merupakan kopolimer dari b-asam hidroksibutirat dan b-hidroksivalerat dijual dengan harga 17 kali lipat harga plastik sintesis.[40] Mahalnya harga produksi bioplastik PHB dipengaruhi oleh efisiensi proses fermentasi, harga substrat, dan proses hilir.[41] Berbagai pendekatan telah dilakukan, untuk menurunkan ongkos produksi.[42] Beberapa studi mencoba mencari substrat murah dengan ketersediaan yang tinggi untuk menekan biaya produksi, contoh substrat tersebut antara lain limbah minyak goreng, hirolisat bagas, gula molasis.[43] Optimasi dalam proses fermentasi dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan.[44] Contoh pendekatan optimasi yang umum dilakukan antara lain berupa optimasi nutrisi (nitrogen, fosfor, dan sumber karbon), pengaturan kelarutan oksigen, pH, suhu inkubasi, dan jenis metode fermentasi yang dipakai.[45] Pendekatan yang lebih modern berupa pendekatan rekayasa genetika.[46] Contoh hasil dari pendekatan rekayasa genetika adalah penggunaan galur Escherichia coli yang mengandung gen biosintesis PHA dari Comamonas sp. dan modifikasi gen penyandi PHA depolimerase untuk menghasilkan volume dan jumlah granul PHA yang lebih tinggi daripada R. eutropha.[47][48] Terakhir, pemilihan proses hilir yang tepat juga memengaruhi yield dan kemurnian molekul PHB yang dihasilkan.

Lihat Juga

Pranala luar

Referensi

  1. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  2. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  3. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  4. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  5. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  6. Patnaik PR. 2006. Fed-batch optimization of PHB synthesis through mechanistic, cybernetic and neural approaches . Bioautomation 5: 23-38.
  7. Chen GQ.2010. Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287
  8. Chen GQ.2010. Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287
  9. Chen GQ.2010. Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287
  10. Chen GQ.2010. Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287
  11. Lu J, Tappel R, Nomura C. 2009. Mini-Review: Biosynthesis of Poly(hydroxyalkanoates. Polym. Rev.49: 226-248. doi: 10.1080/15583720903048243
  12. Lu J, Tappel R, Nomura C. 2009. Mini-Review: Biosynthesis of Poly(hydroxyalkanoates. Polym. Rev.49: 226-248. doi: 10.1080/15583720903048243
  13. Chen GQ.2010. Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287
  14. Chen GQ.2010. Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287
  15. Chen GQ.2010. Plastics Completely Synthesized by Bacteria: Polyhydroxyalkanoates. Di dalam: Chen GQ.2010. ‘’Plastics from Bacteria’’. Berlin: Springer. doi: 10.1007/978-3-642-03287
  16. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  17. Patnaik PR. 2006. Fed-batch optimization of PHB synthesis through mechanistic, cybernetic and neural approaches . Bioautomation 5: 23-38.
  18. Shahhosseini S. 2004. Simulation and optimisation of PHB production in fed-batch culture of Ralstonia eutropha. Process Biochem 39: 963-939.
  19. Tokiwa Y, Ugwu CU. 2007. Biotechnological production of (R)-3-hydroxybutyric acid monomer. J Biotechnol 132: 264-272.
  20. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  21. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  22. Shahhosseini S. 2004. Simulation and optimisation of PHB production in fed-batch culture of Ralstonia eutropha. Process Biochem 39: 963-939.
  23. Patnaik PR. 2006. Fed-batch optimization of PHB synthesis through mechanistic, cybernetic and neural approaches . Bioautomation 5: 23-38.
  24. Tokiwa Y, Ugwu CU. 2007. Biotechnological production of (R)-3-hydroxybutyric acid monomer. J Biotechnol 132: 264-272.
  25. Tokiwa Y, Ugwu CU. 2007. Biotechnological production of (R)-3-hydroxybutyric acid monomer. J Biotechnol 132: 264-272.
  26. Waites MJ, Morgan NL, Rockey JS, Higton G. 2001. Industrial Microbiology: An Introduction. London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05307-0
  27. Waites MJ, Morgan NL, Rockey JS, Higton G. 2001. Industrial Microbiology: An Introduction. London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05307-0
  28. Waites MJ, Morgan NL, Rockey JS, Higton G. 2001. Industrial Microbiology: An Introduction. London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05307-0
  29. Waites MJ, Morgan NL, Rockey JS, Higton G. 2001. Industrial Microbiology: An Introduction. London: Blackwell Science. ISBN 978-0-632-05307-0
  30. Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. Advances in PHA Production. Chem Eng Trans 32: 931-935
  31. Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. Advances in PHA Production. Chem Eng Trans 32: 931-935
  32. Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. Advances in PHA Production. Chem Eng Trans 32: 931-935
  33. Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. Advances in PHA Production. Chem Eng Trans 32: 931-935
  34. Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. Advances in PHA Production. Chem Eng Trans 32: 931-935
  35. Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. Advances in PHA Production. Chem Eng Trans 32: 931-935
  36. Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. Advances in PHA Production. Chem Eng Trans 32: 931-935
  37. Amache R, Sukan A, Safari M, Roy I, Keshavarz T. 2013. Advances in PHA Production. Chem Eng Trans 32: 931-935
  38. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  39. Grothe E, Young MM, Chisti Y. 1999. Fermentation optimization for the production of poly(b-hydroxybutyric acid) microbial thermoplastic. Enzyme Microb Tech 15:132-141.
  40. Tokiwa Y, Ugwu CU. 2007. Biotechnological production of (R)-3-hydroxybutyric acid monomer. J Biotechnol 132: 264-272.
  41. Patnaik PR. 2006. Fed-batch optimization of PHB synthesis through mechanistic, cybernetic and neural approaches . Bioautomation 5: 23-38.
  42. Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.
  43. Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.
  44. Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.
  45. Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.
  46. Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.
  47. Yee L, Mumtaz T, Mohammadi M, Phang LY, Ando Y, Raha AR, Sudesh K, Ariffin H, Hassan MA, Zakaria MR. 2012. Polyhydroxyalkanoate synthesis by recombinant Escherichia coli JM109 expressing PHA biosynthesis genes from Comamonas sp. EB172. J Microb Biochem Technol 4: 103-110.
  48. Brigham CJ, Reimer EN, Rha C, Sinskey AJ. 2012. Examination of PHB depolymerases in Ralstonia eutropha: further elucidation of the roles of enzymes in PHB homeostasis. AMB Express 2:26-39.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29151058 (2026-04-21T18:17:53Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.