Pembukaan Makkah: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29424787; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Pembukaan Makkah''' () atau Penaklukkan Mekah, merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 20 Ramadan 8 H, di mana [[nabi Islam]] [[Muhammad]] beserta 10.000 pasukan bergerak dari [[Madinah]] menuju [[Makkah]], dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan setelah pasukan Islam memenangkan [[Pertempuran Mu'tah|perang Mu’tah]] sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar [[Ka'bah]]. | [[File:Siyer-i_Nebi_298a.jpg|thumb|right|280px|Siyer-i Nebi 298a]] | ||
'''Pembukaan Makkah''' () atau Penaklukkan Mekah, merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 20 Ramadan 8 H, di mana [[nabi Islam]] [[Muhammad]] beserta 10.000 pasukan bergerak dari [[Madinah]] menuju [[Makkah]], dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan setelah pasukan Islam memenangkan [[Pertempuran Mu'tah|perang Mu’tah]]<ref>Dzahabi, Imam (2017). ''Terjemah Siyar A'lam an-Nubala Vol.3''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8</ref> sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar [[Ka'bah]]. | |||
== Penyebab == | == Penyebab == | ||
Pada tahun 628 M, [[Quraisy]] dan Muslim dari Madinah menandatangani [[Perjanjian Hudaibiyyah|Perjanjian Hudaybiyah]]. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang [[Bani Khuza'ah]] yang merupakan sekutu Muslim. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu [[Bani Bakr]], padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut di mana Bani Khuza'ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy. Utusan Bani Bakr datang meminta bantuan Muhammad di Madinah. | Pada tahun 628 M, [[Quraisy]] dan Muslim dari Madinah menandatangani [[Perjanjian Hudaibiyyah|Perjanjian Hudaybiyah]].<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref> Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang [[Bani Khuza'ah]] yang merupakan sekutu Muslim. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu [[Bani Bakr]], padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut di mana Bani Khuza'ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy. Utusan Bani Bakr datang meminta bantuan Muhammad di Madinah.<ref>Tabhari, Imam (2012). ''Terjemah Tarikh ath-Thabari''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8</ref> | ||
[[Abu Sufyan]], kepala suku [[Quraisy]] di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi nabi Muhammad menolak, ia melobi [[Abu Bakar ash-Shiddiq|Abu Bakar]], [[Umar bin Khattab|Umar]] dan [[Ali bin Abi Thalib|Ali]], namun semua menolak membantu, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. | [[Abu Sufyan]], kepala suku [[Quraisy]] di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi nabi Muhammad menolak, ia melobi [[Abu Bakar ash-Shiddiq|Abu Bakar]], [[Umar bin Khattab|Umar]] dan [[Ali bin Abi Thalib|Ali]], namun semua menolak membantu, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong.<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref> | ||
Nabi Muhammad sangat merahasiakan rencana penaklukkan Mekah, tidak semua sahabat dan keluarganya mengetahui rencananya. Aisyah pun awalnya masih merahasiakan dari bapaknya Abu Bakar saat mempersiapkan bahan makanan. Bahkan intelijen Nabi melakukan patroli di pinggir kota Madinah untuk mencegah adanya informasi yang sampai ke Mekah. Seperti yang dilakukan [[Hatib bin Abi Balta'ah]] yang mengirimkan surat rahasia melalui budaknya untuk memberitahukan keluarganya di Mekah agar mengungsi, tetapi dicegat oleh [[Ali bin Abi Thalib|Ali]] dan [[Zubair bin Awwam|Zubair]] atas perintah Muhammad. | Nabi Muhammad sangat merahasiakan rencana penaklukkan Mekah, tidak semua sahabat dan keluarganya mengetahui rencananya. Aisyah pun awalnya masih merahasiakan dari bapaknya Abu Bakar saat mempersiapkan bahan makanan. Bahkan intelijen Nabi melakukan patroli di pinggir kota Madinah untuk mencegah adanya informasi yang sampai ke Mekah. Seperti yang dilakukan [[Hatib bin Abi Balta'ah]] yang mengirimkan surat rahasia melalui budaknya untuk memberitahukan keluarganya di Mekah agar mengungsi, tetapi dicegat oleh [[Ali bin Abi Thalib|Ali]] dan [[Zubair bin Awwam|Zubair]] atas perintah Muhammad.<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref><ref>Tabhari, Imam (2012). ''Terjemah Tarikh ath-Thabari''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8</ref> | ||
Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim lalu pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Mereka terdiri dari Bani Ghifari 400 orang, Bani Aslam 400 orang, Bani Muzainah 1.003 orang, Bani Sulaym 700 orang, dan Bani Juhainah 1.400 orang. Sisanya campuan dari suku Quraisy, kaum Anshar, dan sekutu mereka, serta kabilah Arab lainnya, seperti Bani Tamim, Qais, dan Asad. | Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim lalu pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Mereka terdiri dari Bani Ghifari 400 orang, Bani Aslam 400 orang, Bani Muzainah 1.003 orang, Bani Sulaym 700 orang, dan Bani Juhainah 1.400 orang. Sisanya campuan dari suku Quraisy, kaum Anshar, dan sekutu mereka, serta kabilah Arab lainnya, seperti Bani Tamim, Qais, dan Asad.<ref>Tabhari, Imam (2012). ''Terjemah Tarikh ath-Thabari''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8</ref> | ||
Saat di al-Kadid, Muhammad berbuka puasa setelah Ashar. Karena sebagian pasukan merasa berat dalam kondisi puasa, akhirnya Muhammad tidak melanjutkan puasa sampai akhir Ramadhan. | Saat di al-Kadid, Muhammad berbuka puasa setelah Ashar. Karena sebagian pasukan merasa berat dalam kondisi puasa, akhirnya Muhammad tidak melanjutkan puasa sampai akhir Ramadhan.<ref>Muhammad Ridha BA. [https://www.google.co.id/books/edition/Perang_Mu_tah_Melawan_Romawi_dan_Perang/NzxjEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=abdullah+bin+umar+fathu+makkah&pg=PA38&printsec=frontcover Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah]. Hikam Pustaka. 2021-05-01. hlm. 38.</ref> | ||
[[Abu Sufyan bin al-Harits|Abu Sufyan]] bin Harits mencegat kedatangan Nabi di pinggiran kota Mekah, Marr Azh-Zhahran (Marru Zhahran) pada hari ke-7 sejak keberangkatan, dan setelah dibantu [[Ummu Salamah]], menyatakan masuk Islam. Selanjutnya datang pula [[Abu Sufyan bin Harb]] bersama [[Hakim bin Hizam]] yang juga menyatakan keislamannya. Muhammad perintahkan menyalakan 12.000 suluh api untuk setiap pasukan sehingga menggetarkan Quraisy dari kejauhan. Umar bin Khathab ditugaskan sebagai kepala patroli. | [[Abu Sufyan bin al-Harits|Abu Sufyan]] bin Harits mencegat kedatangan Nabi di pinggiran kota Mekah, Marr Azh-Zhahran (Marru Zhahran) pada hari ke-7 sejak keberangkatan, dan setelah dibantu [[Ummu Salamah]], menyatakan masuk Islam.<ref>Tabhari, Imam (2012). ''Terjemah Tarikh ath-Thabari''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8</ref> Selanjutnya datang pula [[Abu Sufyan bin Harb]] bersama [[Hakim bin Hizam]] yang juga menyatakan keislamannya. Muhammad perintahkan menyalakan 12.000 suluh api untuk setiap pasukan sehingga menggetarkan Quraisy dari kejauhan. Umar bin Khathab ditugaskan sebagai kepala patroli.<ref>Muhammad Ridha BA. [https://www.google.co.id/books/edition/Perang_Mu_tah_Melawan_Romawi_dan_Perang/NzxjEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=abdullah+bin+umar+fathu+makkah&pg=PA38&printsec=frontcover Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah]. Hikam Pustaka. 2021-05-01. hlm. 38.</ref> | ||
Pada saat itu, orang-orang Quraisy belum mengetahui apakah pasukan Muhammad menyerang Mekkah atau Tha'if. Kemudian Nabi berkata, "Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka keamanan dirinya terjamin. Siapa yang memasuki Masjidil Haram, maka keamanan dirinya terjamin." Saat Abu Sufyan dan Hakim kembali ke Mekah, Muhammad mengutus Zubair mengikuti dari belakang dan menancapkan panji di puncak tertinggi di daratan Mekah. | Pada saat itu, orang-orang Quraisy belum mengetahui apakah pasukan Muhammad menyerang Mekkah atau Tha'if. Kemudian Nabi berkata, "Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka keamanan dirinya terjamin. Siapa yang memasuki Masjidil Haram, maka keamanan dirinya terjamin."<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref> Saat Abu Sufyan dan Hakim kembali ke Mekah, Muhammad mengutus Zubair mengikuti dari belakang dan menancapkan panji di puncak tertinggi di daratan Mekah. | ||
Nabi Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dengan memaafkan semua musuh-musuhnya namun tetap memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka'bah. Dan terdapat 9 orang yang diperintahkan Muhammad untuk dihukum mati karena permusuhan dan kebenciannya yang kuat pada Nabi yaitu Abdul Uzza bin Khathal, [[Abdullah bin Abi Sarh|Abdullah bin Abu Sarh]], Ikrimah bin Abu Jahl, Al-Harits bin Nufail bin Wahb, Miqyas bin Shubabah, Habbar bin Al-Aswad, dua biduanita milik Ibnu Khathal yang isi nyanyiannya selalu mencaci maki diri beliau dan Sarah, budak sebagian Bani Abdul Muthalib yang membawa surat [[Hatib bin Abi Balta'ah|Hathib bin Abu Balta'ah]]. Adapun Abdullah bin Abu Sarh dimaafkan setelah mendapat jaminan Utsman lalu masuk Islam, sementara Ikrimah melarikan diri ke Yaman lalu dimaafkan dan masuk Islam, dan Sarah juga ikut masuk Islam. | Nabi Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dengan memaafkan semua musuh-musuhnya namun tetap memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka'bah.<ref>http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Bebas3.html</ref> Dan terdapat 9 orang yang diperintahkan Muhammad untuk dihukum mati karena permusuhan dan kebenciannya yang kuat pada Nabi yaitu Abdul Uzza bin Khathal, [[Abdullah bin Abi Sarh|Abdullah bin Abu Sarh]], Ikrimah bin Abu Jahl, Al-Harits bin Nufail bin Wahb, Miqyas bin Shubabah, Habbar bin Al-Aswad, dua biduanita milik Ibnu Khathal yang isi nyanyiannya selalu mencaci maki diri beliau dan Sarah, budak sebagian Bani Abdul Muthalib yang membawa surat [[Hatib bin Abi Balta'ah|Hathib bin Abu Balta'ah]].<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref> Adapun Abdullah bin Abu Sarh dimaafkan setelah mendapat jaminan Utsman lalu masuk Islam, sementara Ikrimah melarikan diri ke Yaman lalu dimaafkan dan masuk Islam, dan Sarah juga ikut masuk Islam. | ||
== Pemimpin pasukan == | == Pemimpin pasukan == | ||
Tanggal 10 Ramadan 8 H, Nabi Muhammad, dalam keadaan berpuasa, beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan Kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary. | Tanggal 10 Ramadan 8 H, Nabi Muhammad, dalam keadaan berpuasa, beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan Kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.<ref>Tabhari, Imam (2012). ''Terjemah Tarikh ath-Thabari''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8</ref> | ||
Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad tidak melanjutkan puasanya, mandi bersih lalu membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah: | Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad tidak melanjutkan puasanya, mandi bersih<ref>Muhammad Ridha BA. [https://www.google.co.id/books/edition/Perang_Mu_tah_Melawan_Romawi_dan_Perang/NzxjEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=abdullah+bin+umar+fathu+makkah&pg=PA38&printsec=frontcover Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah]. Hikam Pustaka. 2021-05-01. hlm. 38.</ref> lalu membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah: | ||
# [[Khalid bin Walid]] memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah (Tsaniyah Bawah-Jabal Khandamah), | # [[Khalid bin Walid]] memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah (Tsaniyah Bawah-Jabal Khandamah), | ||
# [[Zubair bin Awwam bin Khuwailid|Zubair bin Awwam]] memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada', dan menegakkan bendera di Al-Hajun, | # [[Zubair bin Awwam bin Khuwailid|Zubair bin Awwam]] memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada', dan menegakkan bendera di Al-Hajun, | ||
# [[Abu Ubaidah bin al-Jarrah]] memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah. Menurut pendapat lain, empat bagian pasukan, bagian yang keempat dipimpin oleh | # [[Abu Ubaidah bin al-Jarrah]] memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah. Menurut pendapat lain, empat bagian pasukan, bagian yang keempat dipimpin oleh | ||
# [[Sa'ad bin 'Ubadah]] memimpin orang madinah supaya memasuki Mekkah dari arah sebelah barat. | # [[Sa'ad bin 'Ubadah]] memimpin orang madinah supaya memasuki Mekkah dari arah sebelah barat.<ref>Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph. D, ''Sejarah Hidup Muhammad'' (terjemah oleh Ali Audah dari Hayatu Muhammad), Penerbit Tintamas, Jakarta, 1984, Cet. ke-9, hal. 508.)</ref> | ||
Terdapat insiden kecil dari arah masuknya Khalid bin Walid di daerah Khandamah, di mana beberapa pasukan kecil Mekkah melakukan perlawanan sehingga menewaskan 12 orang dari mereka sementara sisanya melarikan ke arah Yaman termasuk [[Ikrimah bin Abu Jahal]] yang baru masuk Islam setahun kemudian. Hammas bin Qais dari pasukan Quraisy juga melarikan diri sembunyi ke dalam rumahnya lalu bersyair di depan istrinya:<blockquote><nowiki>''</nowiki>Andaikan kau tahu saat tiba di Khandamah, | Terdapat insiden kecil dari arah masuknya Khalid bin Walid di daerah Khandamah, di mana beberapa pasukan kecil Mekkah melakukan perlawanan sehingga menewaskan 12 orang dari mereka sementara sisanya melarikan ke arah Yaman termasuk [[Ikrimah bin Abu Jahal]] yang baru masuk Islam setahun kemudian.<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref> Hammas bin Qais dari pasukan Quraisy juga melarikan diri sembunyi ke dalam rumahnya lalu bersyair di depan istrinya:<blockquote><nowiki>''</nowiki>Andaikan kau tahu saat tiba di Khandamah, | ||
saat Shafwan angkat kaki begitu juga lkrimah, | saat Shafwan angkat kaki begitu juga lkrimah, | ||
| Baris 37: | Baris 39: | ||
tiada terdengar kecuali suara para pahlawan, | tiada terdengar kecuali suara para pahlawan, | ||
Mereka mengaum seperti singa dalam barisan."</blockquote>Bendera Sa'ad bin Ubadah dialihkan ke anaknya [[Qais bin Sa'ad]] karena khawatir Sa'ad akan menyerang penduduk Mekah. Sementara dari arah Al-Hajun (Tsaniyah Atas) Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Muhammad menggunakan kain berwarna merah untuk menutup kepala, panji berwarna putih dan bendera hitam al-Uqab dibuat dari kain milik [[Aisyah]] yang sebelumnya digunakan dalam [[Pertempuran Khaibar]]. Wilayah al-Hajun kini dibangun Masjid ar-Rayah. | Mereka mengaum seperti singa dalam barisan."<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref></blockquote>Bendera Sa'ad bin Ubadah dialihkan ke anaknya [[Qais bin Sa'ad]] karena khawatir Sa'ad akan menyerang penduduk Mekah. Sementara dari arah Al-Hajun (Tsaniyah Atas) Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Muhammad menggunakan kain berwarna merah untuk menutup kepala, panji berwarna putih dan bendera hitam al-Uqab dibuat dari kain milik [[Aisyah]] yang sebelumnya digunakan dalam [[Pertempuran Khaibar]].<ref>Muhammad Ridha BA. [https://www.google.co.id/books/edition/Perang_Mu_tah_Melawan_Romawi_dan_Perang/NzxjEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=abdullah+bin+umar+fathu+makkah&pg=PA38&printsec=frontcover Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah]. Hikam Pustaka. 2021-05-01. hlm. 38.</ref> Wilayah al-Hajun kini dibangun Masjid ar-Rayah. | ||
Setelah thawaf mengelilingi Ka'bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka'bah sambil membacakan al-Quran Surat Saba ayat 49:<blockquote><nowiki>''</nowiki>Dan katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap."</blockquote>Kunci Ka'bah diserahkan kepada [[Utsman bin Thalhah|Utsman bin Talhah]] lalu [[Bilal bin Rabah|Bilal]] kemudian azan di atas Ka'bah. Dan selesailah Pembukaan Makkah. | Setelah thawaf mengelilingi Ka'bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka'bah sambil membacakan al-Quran Surat Saba ayat 49:<blockquote><nowiki>''</nowiki>Dan katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap."<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref></blockquote>Kunci Ka'bah diserahkan kepada [[Utsman bin Thalhah|Utsman bin Talhah]] lalu [[Bilal bin Rabah|Bilal]] kemudian azan di atas Ka'bah. Dan selesailah Pembukaan Makkah.<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref> | ||
Muhammad di Makkah selama 19 hari dengan terus men-qashar shalatnya (mempersingkat solat). Selama itu ia memperbarui simbol-simbol Islam dan menyampaikan petunjuk kepada orang-orang. Selama itu pula ia memerintahkan Abu Usaid Al-Khuza'i untuk memperbarui beberapa bagian di tanah suci. Setelah melancarkan [[Pertempuran Hunain]], Muhammad kembali tinggal di Madinah hingga wafatnya. | Muhammad di Makkah selama 19 hari dengan terus men-qashar shalatnya (mempersingkat solat).<ref>Tabhari, Imam (2012). ''Terjemah Tarikh ath-Thabari''. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8</ref> Selama itu ia memperbarui simbol-simbol Islam dan menyampaikan petunjuk kepada orang-orang. Selama itu pula ia memerintahkan Abu Usaid Al-Khuza'i untuk memperbarui beberapa bagian di tanah suci. Setelah melancarkan [[Pertempuran Hunain]], Muhammad kembali tinggal di Madinah hingga wafatnya.<ref>Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). ''Sirah Nabawiyah''. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1</ref> | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
| Baris 52: | Baris 54: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pembukaan+Makkah&oldid=29424787 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29424787 (2026-07-06T07:43:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 13.59

Pembukaan Makkah () atau Penaklukkan Mekah, merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 20 Ramadan 8 H, di mana nabi Islam Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan setelah pasukan Islam memenangkan perang Mu’tah[1] sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah.
Penyebab
Pada tahun 628 M, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah.[2] Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani Khuza'ah yang merupakan sekutu Muslim. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut di mana Bani Khuza'ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy. Utusan Bani Bakr datang meminta bantuan Muhammad di Madinah.[3]
Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi nabi Muhammad menolak, ia melobi Abu Bakar, Umar dan Ali, namun semua menolak membantu, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong.[4]
Nabi Muhammad sangat merahasiakan rencana penaklukkan Mekah, tidak semua sahabat dan keluarganya mengetahui rencananya. Aisyah pun awalnya masih merahasiakan dari bapaknya Abu Bakar saat mempersiapkan bahan makanan. Bahkan intelijen Nabi melakukan patroli di pinggir kota Madinah untuk mencegah adanya informasi yang sampai ke Mekah. Seperti yang dilakukan Hatib bin Abi Balta'ah yang mengirimkan surat rahasia melalui budaknya untuk memberitahukan keluarganya di Mekah agar mengungsi, tetapi dicegat oleh Ali dan Zubair atas perintah Muhammad.[5][6]
Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim lalu pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Mereka terdiri dari Bani Ghifari 400 orang, Bani Aslam 400 orang, Bani Muzainah 1.003 orang, Bani Sulaym 700 orang, dan Bani Juhainah 1.400 orang. Sisanya campuan dari suku Quraisy, kaum Anshar, dan sekutu mereka, serta kabilah Arab lainnya, seperti Bani Tamim, Qais, dan Asad.[7]
Saat di al-Kadid, Muhammad berbuka puasa setelah Ashar. Karena sebagian pasukan merasa berat dalam kondisi puasa, akhirnya Muhammad tidak melanjutkan puasa sampai akhir Ramadhan.[8]
Abu Sufyan bin Harits mencegat kedatangan Nabi di pinggiran kota Mekah, Marr Azh-Zhahran (Marru Zhahran) pada hari ke-7 sejak keberangkatan, dan setelah dibantu Ummu Salamah, menyatakan masuk Islam.[9] Selanjutnya datang pula Abu Sufyan bin Harb bersama Hakim bin Hizam yang juga menyatakan keislamannya. Muhammad perintahkan menyalakan 12.000 suluh api untuk setiap pasukan sehingga menggetarkan Quraisy dari kejauhan. Umar bin Khathab ditugaskan sebagai kepala patroli.[10]
Pada saat itu, orang-orang Quraisy belum mengetahui apakah pasukan Muhammad menyerang Mekkah atau Tha'if. Kemudian Nabi berkata, "Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka keamanan dirinya terjamin. Siapa yang memasuki Masjidil Haram, maka keamanan dirinya terjamin."[11] Saat Abu Sufyan dan Hakim kembali ke Mekah, Muhammad mengutus Zubair mengikuti dari belakang dan menancapkan panji di puncak tertinggi di daratan Mekah.
Nabi Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dengan memaafkan semua musuh-musuhnya namun tetap memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka'bah.[12] Dan terdapat 9 orang yang diperintahkan Muhammad untuk dihukum mati karena permusuhan dan kebenciannya yang kuat pada Nabi yaitu Abdul Uzza bin Khathal, Abdullah bin Abu Sarh, Ikrimah bin Abu Jahl, Al-Harits bin Nufail bin Wahb, Miqyas bin Shubabah, Habbar bin Al-Aswad, dua biduanita milik Ibnu Khathal yang isi nyanyiannya selalu mencaci maki diri beliau dan Sarah, budak sebagian Bani Abdul Muthalib yang membawa surat Hathib bin Abu Balta'ah.[13] Adapun Abdullah bin Abu Sarh dimaafkan setelah mendapat jaminan Utsman lalu masuk Islam, sementara Ikrimah melarikan diri ke Yaman lalu dimaafkan dan masuk Islam, dan Sarah juga ikut masuk Islam.
Pemimpin pasukan
Tanggal 10 Ramadan 8 H, Nabi Muhammad, dalam keadaan berpuasa, beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan Kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.[14]
Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad tidak melanjutkan puasanya, mandi bersih[15] lalu membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah:
- Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah (Tsaniyah Bawah-Jabal Khandamah),
- Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada', dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
- Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah. Menurut pendapat lain, empat bagian pasukan, bagian yang keempat dipimpin oleh
- Sa'ad bin 'Ubadah memimpin orang madinah supaya memasuki Mekkah dari arah sebelah barat.[16]
Terdapat insiden kecil dari arah masuknya Khalid bin Walid di daerah Khandamah, di mana beberapa pasukan kecil Mekkah melakukan perlawanan sehingga menewaskan 12 orang dari mereka sementara sisanya melarikan ke arah Yaman termasuk Ikrimah bin Abu Jahal yang baru masuk Islam setahun kemudian.[17] Hammas bin Qais dari pasukan Quraisy juga melarikan diri sembunyi ke dalam rumahnya lalu bersyair di depan istrinya:
''Andaikan kau tahu saat tiba di Khandamah,
saat Shafwan angkat kaki begitu juga lkrimah,
pedang orang-orang Mukmin teracung ke arah kita,
membabat setiap batang leher dan kepala,
tiada terdengar kecuali suara para pahlawan,
Mereka mengaum seperti singa dalam barisan."[18]
Bendera Sa'ad bin Ubadah dialihkan ke anaknya Qais bin Sa'ad karena khawatir Sa'ad akan menyerang penduduk Mekah. Sementara dari arah Al-Hajun (Tsaniyah Atas) Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Muhammad menggunakan kain berwarna merah untuk menutup kepala, panji berwarna putih dan bendera hitam al-Uqab dibuat dari kain milik Aisyah yang sebelumnya digunakan dalam Pertempuran Khaibar.[19] Wilayah al-Hajun kini dibangun Masjid ar-Rayah. Setelah thawaf mengelilingi Ka'bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka'bah sambil membacakan al-Quran Surat Saba ayat 49:
''Dan katakanlah, yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap."[20]
Kunci Ka'bah diserahkan kepada Utsman bin Talhah lalu Bilal kemudian azan di atas Ka'bah. Dan selesailah Pembukaan Makkah.[21]
Muhammad di Makkah selama 19 hari dengan terus men-qashar shalatnya (mempersingkat solat).[22] Selama itu ia memperbarui simbol-simbol Islam dan menyampaikan petunjuk kepada orang-orang. Selama itu pula ia memerintahkan Abu Usaid Al-Khuza'i untuk memperbarui beberapa bagian di tanah suci. Setelah melancarkan Pertempuran Hunain, Muhammad kembali tinggal di Madinah hingga wafatnya.[23]
Lihat pula
- Sejarah Islam
- Kematian Muhammad
- Saqifah Bani Sa'idah
- Kekhalifahan Rasyidin
- Perang Riddah
- Penaklukan Muslim awal
Referensi
- ↑ Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala Vol.3. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ Tabhari, Imam (2012). Terjemah Tarikh ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ Tabhari, Imam (2012). Terjemah Tarikh ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8
- ↑ Tabhari, Imam (2012). Terjemah Tarikh ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8
- ↑ Muhammad Ridha BA. Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah. Hikam Pustaka. 2021-05-01. hlm. 38.
- ↑ Tabhari, Imam (2012). Terjemah Tarikh ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8
- ↑ Muhammad Ridha BA. Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah. Hikam Pustaka. 2021-05-01. hlm. 38.
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ http://media.isnet.org/islam/Haekal/Muhammad/Bebas3.html
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ Tabhari, Imam (2012). Terjemah Tarikh ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8
- ↑ Muhammad Ridha BA. Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah. Hikam Pustaka. 2021-05-01. hlm. 38.
- ↑ Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph. D, Sejarah Hidup Muhammad (terjemah oleh Ali Audah dari Hayatu Muhammad), Penerbit Tintamas, Jakarta, 1984, Cet. ke-9, hal. 508.)
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ Muhammad Ridha BA. Perang Mu’tah Melawan Romawi dan Perang Fathu Makkah. Hikam Pustaka. 2021-05-01. hlm. 38.
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
- ↑ Tabhari, Imam (2012). Terjemah Tarikh ath-Thabari. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-8439-68-8
- ↑ Syaikh, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (2012). Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-602-98968-3-1
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29424787 (2026-07-06T07:43:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.