Monogliserida: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29571372; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Monogliserida''' (disebut juga: '''asilgliserol''' atau '''monoasilgliserol''') adalah kelompok [[gliserida]] yang terdiri dari satu molekul [[gliserol]] yang berikatan dengan [[asam lemak]] melalui ikatan [[ester]]nya. Terdapat dua jenis monogliserida yang dapat terbentuk, karena gliserol mengandung gugus alkohol primer maupun sekunder, yaitu 1-monoasilgliserol di mana asam lemak berikatan dengan alkohol primer, atau 2-monoasilgliserol di mana asam lemak berikatan dengan alkohol sekunder. | [[File:1-Monoacylglycerol.svg|thumb|right|280px|Struktur molekul 1-monoasilgliserol]] | ||
'''Monogliserida''' (disebut juga: '''asilgliserol''' atau '''monoasilgliserol''') adalah kelompok [[gliserida]] yang terdiri dari satu molekul [[gliserol]] yang berikatan dengan [[asam lemak]] melalui ikatan [[ester]]nya.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Monogliserida&oldid=29571372 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Terdapat dua jenis monogliserida yang dapat terbentuk, karena gliserol mengandung gugus alkohol primer maupun sekunder, yaitu 1-monoasilgliserol di mana asam lemak berikatan dengan alkohol primer, atau 2-monoasilgliserol di mana asam lemak berikatan dengan alkohol sekunder. | |||
== Sintesis == | == Sintesis == | ||
Monogliserida dibuat melalui proses biologis maupun industri. Monogliserida secara alami berada dalam kadar yang rendah (0,1-0,2%) dalam beberapa [[minyak bijih]], [[minyak zaitun]], [[Brassica napus|minyak lobak]], dan [[minyak biji kapas]]. Biosintesisnya adalah melalui [[hidrolisis]] [[enzim]]atik [[trigliserida]] dengan [[lipoprotein lipase]] dan hidrolisis enzimatik [[digliserida]] dengan [[diasilgliserol lipase]]; atau sebagai intermediat dalam [[alkanoilasi]] gliserol menjadi [[lemak]]. Beberapa monogliserida bersifat aktif secara farakologis (misalnya [[2-oleogliserol]], [[2-arakidonoilgliserol]]). | Monogliserida dibuat melalui proses biologis maupun industri. Monogliserida secara alami berada dalam kadar yang rendah (0,1-0,2%) dalam beberapa [[minyak bijih]], [[minyak zaitun]], [[Brassica napus|minyak lobak]], dan [[minyak biji kapas]].<ref>Brent D. Flickinger. [https://archive.org/details/sim_lipids_2003-02_38_2/page/129 Nutritional characteristics of DAG oil]. ''Lipids''. February 2003. Vol. 38 (2). hlm. 129–132. doi:10.1007/s11745-003-1042-8.</ref> Biosintesisnya adalah melalui [[hidrolisis]] [[enzim]]atik [[trigliserida]] dengan [[lipoprotein lipase]] dan hidrolisis enzimatik [[digliserida]] dengan [[diasilgliserol lipase]]; atau sebagai intermediat dalam [[alkanoilasi]] gliserol menjadi [[lemak]]. Beberapa monogliserida bersifat aktif secara farakologis (misalnya [[2-oleogliserol]], [[2-arakidonoilgliserol]]<ref>KB Hansen. ''2-Oleoyl glycerol is a GPR119 agonist and signals GLP-1 release in humans''. ''The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism''. September 2011. Vol. 96 (9). hlm. E1409–17. doi:10.1210/jc.2011-0647.</ref>). | ||
Pembuatan secara industri terutama diperoleh melalui reaksi gliserolisis antara [[trigliserida]] dan gliserol. Bahan baku komersial untuk produksi monoasilgliserol dapat diperoleh dari lemak dan minyak [[nabati]] maupun [[hewan]]i. | Pembuatan secara industri terutama diperoleh melalui reaksi gliserolisis antara [[trigliserida]] dan gliserol.<ref>Norman O. V. Sonntag. ''Glycerolysis of fats and methyl esters — Status, review and critique''. ''Journal of the American Oil Chemists' Society''. 1982. Vol. 59 (10). hlm. 795A–802A. doi:10.1007/BF02634442.</ref> Bahan baku komersial untuk produksi monoasilgliserol dapat diperoleh dari lemak dan minyak [[nabati]] maupun [[hewan]]i. | ||
== Penggunaan == | == Penggunaan == | ||
Penggunaan utama monogliserida adalah sebagai [[surfaktan]], biasanya dalam bentuk [[pengemulsi]]. Monogliserida, bersama dengan [[digliserida]], banyak ditambahkan, dalam jumlah kecil, ke dalam produk pangan komersial sebagai "E471" ([[Mono- dan digliserida asam lemak]]), yang membantu mencegah terpisahnya campuran minyak dan air. Nilai yang tercantum sebagai lemak total, lemak jenuh, dan lemak ''trans'' dalam label angka kecukupan gizi tidak termasuk mono- dan digliserida, karena lemak yang dimaksud adalah [[trigliserida]]. Monogliserida juga sering dijumpai dalam produk-produk roti, [[minuman]], [[es krim]], [[permen karet]], [[Shortening (mentega)|''shortening'']], [[krim kocok]], [[margarin]], dan [[Makanan manis|kembang gula]]. Dalam produk roti, monogliserida berguna untuk meningkatkan volume dan tekstur adonan, serta sebagai anti bantat. Monoglserida digunakan untuk meningkatkan kestabilan fisik minuman bersusu. | Penggunaan utama monogliserida adalah sebagai [[surfaktan]], biasanya dalam bentuk [[pengemulsi]]. Monogliserida, bersama dengan [[digliserida]], banyak ditambahkan, dalam jumlah kecil, ke dalam produk pangan komersial sebagai "E471" ([[Mono- dan digliserida asam lemak]]), yang membantu mencegah terpisahnya campuran minyak dan air. Nilai yang tercantum sebagai lemak total, lemak jenuh, dan lemak ''trans'' dalam label angka kecukupan gizi tidak termasuk mono- dan digliserida, karena lemak yang dimaksud adalah [[trigliserida]]. Monogliserida juga sering dijumpai dalam produk-produk roti, [[minuman]], [[es krim]], [[permen karet]], [[Shortening (mentega)|''shortening'']], [[krim kocok]], [[margarin]], dan [[Makanan manis|kembang gula]].<ref>Zdzislaw Z. E. Sikorski. [https://books.google.com/books?id=0nDm3qYZTEsC&pg=PA218 Chemical and Functional Properties of Food Lipids]. CRC Press. 30 July 2002. hlm. 218–. ISBN 978-1-4200-3199-7.</ref> Dalam produk roti, monogliserida berguna untuk meningkatkan volume dan tekstur adonan, serta sebagai anti bantat.<ref>Y. H. Hui. [https://books.google.com/books?id=GYauJOMebo4C&pg=PA350 Bakery Products: Science and Technology]. John Wiley & Sons. 15 February 2008. hlm. 350–. ISBN 978-0-470-27632-7.</ref><ref>Gerard L. Hasenhuettl. [https://books.google.com/books?id=X_7XkUswNyIC Food Emulsifiers and Their Applications]. Springer. 1 January 1997. ISBN 978-0-412-07621-3.</ref> Monoglserida digunakan untuk meningkatkan kestabilan fisik minuman bersusu.<ref>Chia Chun Loi. ''Effect of mono- and diglycerides on physical properties and stability of a protein-stabilised oil-in-water emulsion''. ''Journal of Food Engineering''. 2019. Vol. 240. hlm. 56–64. doi:10.1016/j.jfoodeng.2018.07.016.</ref> | ||
== Contoh == | == Contoh == | ||
== Lihat juga == | == Lihat juga == | ||
* [[Digliserida]] | * [[Digliserida]] | ||
| Baris 19: | Baris 19: | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
[ | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Monogliserida&oldid=29571372 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29571372 (2026-08-13T10:40:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
== | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 18.10
Monogliserida (disebut juga: asilgliserol atau monoasilgliserol) adalah kelompok gliserida yang terdiri dari satu molekul gliserol yang berikatan dengan asam lemak melalui ikatan esternya.[1] Terdapat dua jenis monogliserida yang dapat terbentuk, karena gliserol mengandung gugus alkohol primer maupun sekunder, yaitu 1-monoasilgliserol di mana asam lemak berikatan dengan alkohol primer, atau 2-monoasilgliserol di mana asam lemak berikatan dengan alkohol sekunder.
Sintesis
Monogliserida dibuat melalui proses biologis maupun industri. Monogliserida secara alami berada dalam kadar yang rendah (0,1-0,2%) dalam beberapa minyak bijih, minyak zaitun, minyak lobak, dan minyak biji kapas.[2] Biosintesisnya adalah melalui hidrolisis enzimatik trigliserida dengan lipoprotein lipase dan hidrolisis enzimatik digliserida dengan diasilgliserol lipase; atau sebagai intermediat dalam alkanoilasi gliserol menjadi lemak. Beberapa monogliserida bersifat aktif secara farakologis (misalnya 2-oleogliserol, 2-arakidonoilgliserol[3]).
Pembuatan secara industri terutama diperoleh melalui reaksi gliserolisis antara trigliserida dan gliserol.[4] Bahan baku komersial untuk produksi monoasilgliserol dapat diperoleh dari lemak dan minyak nabati maupun hewani.
Penggunaan
Penggunaan utama monogliserida adalah sebagai surfaktan, biasanya dalam bentuk pengemulsi. Monogliserida, bersama dengan digliserida, banyak ditambahkan, dalam jumlah kecil, ke dalam produk pangan komersial sebagai "E471" (Mono- dan digliserida asam lemak), yang membantu mencegah terpisahnya campuran minyak dan air. Nilai yang tercantum sebagai lemak total, lemak jenuh, dan lemak trans dalam label angka kecukupan gizi tidak termasuk mono- dan digliserida, karena lemak yang dimaksud adalah trigliserida. Monogliserida juga sering dijumpai dalam produk-produk roti, minuman, es krim, permen karet, shortening, krim kocok, margarin, dan kembang gula.[5] Dalam produk roti, monogliserida berguna untuk meningkatkan volume dan tekstur adonan, serta sebagai anti bantat.[6][7] Monoglserida digunakan untuk meningkatkan kestabilan fisik minuman bersusu.[8]
Contoh
Lihat juga
- Digliserida
- Sumber diet asam lemak, pencernaan, absorpsi, dan transportnya dalam darah, serta penyimpanannya
- Lipid
- Trigliserida
Referensi
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Brent D. Flickinger. Nutritional characteristics of DAG oil. Lipids. February 2003. Vol. 38 (2). hlm. 129–132. doi:10.1007/s11745-003-1042-8.
- ↑ KB Hansen. 2-Oleoyl glycerol is a GPR119 agonist and signals GLP-1 release in humans. The Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. September 2011. Vol. 96 (9). hlm. E1409–17. doi:10.1210/jc.2011-0647.
- ↑ Norman O. V. Sonntag. Glycerolysis of fats and methyl esters — Status, review and critique. Journal of the American Oil Chemists' Society. 1982. Vol. 59 (10). hlm. 795A–802A. doi:10.1007/BF02634442.
- ↑ Zdzislaw Z. E. Sikorski. Chemical and Functional Properties of Food Lipids. CRC Press. 30 July 2002. hlm. 218–. ISBN 978-1-4200-3199-7.
- ↑ Y. H. Hui. Bakery Products: Science and Technology. John Wiley & Sons. 15 February 2008. hlm. 350–. ISBN 978-0-470-27632-7.
- ↑ Gerard L. Hasenhuettl. Food Emulsifiers and Their Applications. Springer. 1 January 1997. ISBN 978-0-412-07621-3.
- ↑ Chia Chun Loi. Effect of mono- and diglycerides on physical properties and stability of a protein-stabilised oil-in-water emulsion. Journal of Food Engineering. 2019. Vol. 240. hlm. 56–64. doi:10.1016/j.jfoodeng.2018.07.016.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29571372 (2026-08-13T10:40:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.