Korelasi ilusi: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29444635; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
Dalam [[psikologi]], '''korelasi ilusi''' adalah fenomena mempersepsikan adanya [[korelasi|hubungan]] antarvariabel (biasanya orang, peristiwa, atau perilaku) meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak ada. Asosiasi yang keliru dapat terbentuk karena peristiwa yang jarang terjadi atau baru bersifat lebih [[Kemenonjolan (neurosains)|menonjol]] sehingga cenderung menarik [[perhatian]] seseorang. Fenomena ini merupakan salah satu cara [[stereotipe]] terbentuk dan bertahan. menemukan bahwa stereotipe dapat menyebabkan orang mengharapkan kelompok dan sifat tertentu saling berkaitan, lalu melebih-lebihkan frekuensi kemunculan bersama tersebut. Stereotipe ini dapat dipelajari dan dilanggengkan tanpa adanya kontak nyata antara pemilik stereotipe dan kelompok yang menjadi objek stereotipe tersebut. | Dalam [[psikologi]], '''korelasi ilusi''' adalah fenomena mempersepsikan adanya [[korelasi|hubungan]] antarvariabel (biasanya orang, peristiwa, atau perilaku) meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak ada. Asosiasi yang keliru dapat terbentuk karena peristiwa yang jarang terjadi atau baru bersifat lebih [[Kemenonjolan (neurosains)|menonjol]] sehingga cenderung menarik [[perhatian]] seseorang.<ref>Brett Pelham. [https://books.google.com/books?id=aI_fiKAJbHkC&pg=PA11 Conducting Research in Psychology: measuring the weight of smoke]. Cengage Learning. 2013. hlm. 11–12. ISBN 978-0-495-59819-0.</ref> Fenomena ini merupakan salah satu cara [[stereotipe]] terbentuk dan bertahan.<ref>Brian Mullen. ''Distinctiveness-based illusory correlations and stereotyping: A meta-analytic integration''. ''Jurnal Psikologi Sosial Britania''. 1990. Vol. 29 (1). hlm. 11–28. doi:10.1111/j.2044-8309.1990.tb00883.x.</ref><ref>Steven J. Stroessner. [https://books.google.com/books?id=DE-cJ8F4rSMC&pg=PA247 Cognitive Social Psychology: The Princeton Symposium on the Legacy and Future of Social Cognition]. Lawrence Erlbaum Associates. 2001. hlm. 247–259. ISBN 978-0-8058-3414-7.</ref> menemukan bahwa stereotipe dapat menyebabkan orang mengharapkan kelompok dan sifat tertentu saling berkaitan, lalu melebih-lebihkan frekuensi kemunculan bersama tersebut.<ref>Vivian E. Peeters. [http://www.acrwebsite.org/search/view-conference-proceedings.aspx?Id=6160 Advances in Consumer Research]. Association for Consumer Research. 1983. Vol. 10. hlm. 454–458.</ref> Stereotipe ini dapat dipelajari dan dilanggengkan tanpa adanya kontak nyata antara pemilik stereotipe dan kelompok yang menjadi objek stereotipe tersebut. | ||
== Lihat pula == | == Lihat pula == | ||
* [[Apofenia]] | * [[Apofenia]] | ||
* [[Ilusi pengelompokan]] | * [[Ilusi pengelompokan]] | ||
| Baris 19: | Baris 17: | ||
* [[Kesalahan tipe I dan tipe II|Kesalahan tipe I]] | * [[Kesalahan tipe I dan tipe II|Kesalahan tipe I]] | ||
* [[Hubungan semu]] | * [[Hubungan semu]] | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Korelasi+ilusi&oldid=29444635 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29444635 (2026-07-11T15:30:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Korelasi+ilusi&oldid=29444635 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29444635 (2026-07-11T15:30:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 18.01
Dalam psikologi, korelasi ilusi adalah fenomena mempersepsikan adanya hubungan antarvariabel (biasanya orang, peristiwa, atau perilaku) meskipun hubungan tersebut sebenarnya tidak ada. Asosiasi yang keliru dapat terbentuk karena peristiwa yang jarang terjadi atau baru bersifat lebih menonjol sehingga cenderung menarik perhatian seseorang.[1] Fenomena ini merupakan salah satu cara stereotipe terbentuk dan bertahan.[2][3] menemukan bahwa stereotipe dapat menyebabkan orang mengharapkan kelompok dan sifat tertentu saling berkaitan, lalu melebih-lebihkan frekuensi kemunculan bersama tersebut.[4] Stereotipe ini dapat dipelajari dan dilanggengkan tanpa adanya kontak nyata antara pemilik stereotipe dan kelompok yang menjadi objek stereotipe tersebut.
Lihat pula
- Apofenia
- Ilusi pengelompokan
- Bias kognitif
- Bias konfirmasi
- Cum hoc ergo propter hoc
- Bias pengamat
- Efek ekspektasi pengamat
- Pareidolia
- Post hoc ergo propter hoc
- Behaviorisme radikal
- Efek ekspektasi subjek
- Takhayul
- Thin-slicing
- Kesalahan tipe I
- Hubungan semu
Referensi
- ↑ Brett Pelham. Conducting Research in Psychology: measuring the weight of smoke. Cengage Learning. 2013. hlm. 11–12. ISBN 978-0-495-59819-0.
- ↑ Brian Mullen. Distinctiveness-based illusory correlations and stereotyping: A meta-analytic integration. Jurnal Psikologi Sosial Britania. 1990. Vol. 29 (1). hlm. 11–28. doi:10.1111/j.2044-8309.1990.tb00883.x.
- ↑ Steven J. Stroessner. Cognitive Social Psychology: The Princeton Symposium on the Legacy and Future of Social Cognition. Lawrence Erlbaum Associates. 2001. hlm. 247–259. ISBN 978-0-8058-3414-7.
- ↑ Vivian E. Peeters. Advances in Consumer Research. Association for Consumer Research. 1983. Vol. 10. hlm. 454–458.
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29444635 (2026-07-11T15:30:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.