Lompat ke isi

Masalah troli: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
Maintenance script (bicara | kontrib)
Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula
 
Baris 8: Baris 8:
Thomson<ref>Judith Jarvis Thomson, ''[https://learning.hccs.edu/faculty/david.poston/phil1301.80361/readings-for-march-31/JJ%20Thomson%20-%20Killing-%20Letting%20Die-%20and%20the%20Trolley%20Problem.pdf Killing, Letting Die, and the Trolley Problem]'', 59 The Monist 204-17 (1976)</ref><ref>Judith Jarvis Thomson. [http://www.psy.vanderbilt.edu/courses/hon182/thomsontrolley.pdf The Trolley Problem]. ''Yale Law Journal''. 1985. Vol. 94 (6). hlm. 1395–1415. doi:10.2307/796133.</ref> dan filsuf [[Frances Kamm]]<ref>Frances Myrna Kamm. [https://archive.org/details/sim_philosophical-studies_1989-11_57_3/page/n3 Harming Some to Save Others]. ''Philosophical Studies''. 1989. Vol. 57 (3). hlm. 227–60. doi:10.1007/bf00372696.</ref> dan [[Peter Unger]] telah menganalisis masalah troli secara ekstensif.<ref>Peter Unger, ''Living High and Letting Die'' (Oxford: Oxford University Press, 1996)</ref> Artikel Thomson tahun 1976 memulai literatur tentang masalah troli sebagai subjek tersendiri. Ciri khas literatur ini adalah skenario alternatif yang berwarna-warni dan semakin absurd di mana orang yang dikorbankan malah didorong ke rel sebagai cara untuk menghentikan troli, organnya diambil untuk menyelamatkan pasien transplantasi, atau dibunuh dengan cara yang lebih tidak langsung yang memperumit rantai [[kausalitas|sebab akibat]] dan tanggung jawab.
Thomson<ref>Judith Jarvis Thomson, ''[https://learning.hccs.edu/faculty/david.poston/phil1301.80361/readings-for-march-31/JJ%20Thomson%20-%20Killing-%20Letting%20Die-%20and%20the%20Trolley%20Problem.pdf Killing, Letting Die, and the Trolley Problem]'', 59 The Monist 204-17 (1976)</ref><ref>Judith Jarvis Thomson. [http://www.psy.vanderbilt.edu/courses/hon182/thomsontrolley.pdf The Trolley Problem]. ''Yale Law Journal''. 1985. Vol. 94 (6). hlm. 1395–1415. doi:10.2307/796133.</ref> dan filsuf [[Frances Kamm]]<ref>Frances Myrna Kamm. [https://archive.org/details/sim_philosophical-studies_1989-11_57_3/page/n3 Harming Some to Save Others]. ''Philosophical Studies''. 1989. Vol. 57 (3). hlm. 227–60. doi:10.1007/bf00372696.</ref> dan [[Peter Unger]] telah menganalisis masalah troli secara ekstensif.<ref>Peter Unger, ''Living High and Letting Die'' (Oxford: Oxford University Press, 1996)</ref> Artikel Thomson tahun 1976 memulai literatur tentang masalah troli sebagai subjek tersendiri. Ciri khas literatur ini adalah skenario alternatif yang berwarna-warni dan semakin absurd di mana orang yang dikorbankan malah didorong ke rel sebagai cara untuk menghentikan troli, organnya diambil untuk menyelamatkan pasien transplantasi, atau dibunuh dengan cara yang lebih tidak langsung yang memperumit rantai [[kausalitas|sebab akibat]] dan tanggung jawab.


Bentuk-bentuk awal skenario troli individu mendahului publikasi Foot. [[Frank Chapman Sharp]] memasukkan versi ini dalam kuesioner moral yang diberikan kepada mahasiswa di [[Universitas Wisconsin–Madison|Universitas Wisconsin]] pada tahun 1905. Dalam variasi ini, petugas pengatur jalur kereta api mengendalikan wesel, dan satu-satunya individu yang akan dikorbankan (atau tidak) adalah anak petugas pengatur jalur kereta api.<ref>Frank Chapman Sharp, ''A Study of the Influence of Custom on the Moral Judgment'' Bulletin of the University of Wisconsin no.236 (Madison, June 1908), 138.</ref><ref>Frank Chapman Sharp, ''Ethics'' (New York: The Century Co, 1928), 42–44, 122.</ref> Filsuf hukum Jerman [[Karl Engisch]] membahas dilema serupa dalam [[habilitasi|tesis habilitasi]]nya pada tahun 1930, demikian pula cendekiawan hukum Jerman Hans Welzel dalam sebuah karya dari tahun 1951.<ref>Karl Engisch. ''Untersuchungen über Vorsatz und Fahrlässigkeit im Strafrecht''. O. Liebermann. 1930. hlm. 288.</ref><ref>Hans Welzel, ''ZStW Zeitschrift für die gesamte Strafrechtswissenschaft'' 63 [1951], 47ff. About the German discussion see also Schuster, Crim Law Forum 34, 237–270 (2023). https://doi.org/10.1007/s10609-023-09452-0</ref> Dalam komentarnya tentang [[Talmud]], yang diterbitkan pada tahun 1953, [[Avrohom Yeshaya Karelitz]] mempertimbangkan pertanyaan apakah etis untuk membelokkan proyektil dari kerumunan yang lebih besar ke arah kerumunan yang lebih kecil.<ref>Hazon Ish, HM, Sanhedrin #25, s.v. "veyesh leayen". Available online, http://hebrewbooks.org/14332, page 404</ref> Demikian pula, dalam ''[[The Strike (Westinghouse Studio One)|The Strike]]'', sebuah drama televisi yang disiarkan di [[Amerika Serikat]] pada tanggal 7 Juni 1954, seorang komandan dalam [[Perang Korea]] harus memilih antara memerintahkan serangan udara terhadap pasukan musuh yang mendekat, dengan mengorbankan unit patrolinya yang berjumlah 20 orang; dan membatalkan serangan tersebut, mempertaruhkan nyawa pasukan utama yang berjumlah 500 orang.<ref>[https://www.paleycenter.org/collection/item/?q=westinghouse+studio+one&p=4&item=T83:0226 "Studio One: The Strike(TV)"] The Paley Center. Retrieved August 07, 2022.</ref>


Mulai tahun 2001, masalah troli dan variannya telah digunakan dalam penelitian empiris tentang [[psikologi moral]]. Masalah ini telah menjadi topik buku-buku populer.<ref>Sarah Bakewell. [https://www.nytimes.com/2013/11/24/books/review/would-you-kill-the-fat-man-and-the-trolley-problem.html Clang Went the Trolley]. ''The New York Times''. 2013-11-22.</ref> Skenario bergaya troli juga muncul dalam diskusi etika desain [[mobil otonom|kendaraan otonom]], yang mungkin memerlukan pemrograman untuk memilih siapa atau apa yang akan ditabrak ketika [[kecelakaan lalu lintas|tabrakan]] tampaknya tidak dapat dihindari.<ref>Hazel Si Min Lim. ''Algorithmic Decision-Making in AVs: Understanding Ethical and Technical Concerns for Smart Cities''. ''Sustainability''. 2019. Vol. 11 (20). hlm. 5791. doi:10.3390/su11205791.</ref> Baru-baru ini, masalah troli juga menjadi [[meme internet]].<ref>[https://www.law.columbia.edu/news/archive/students-assist-professor-bert-huang-empirical-study-law-and-moral-dilemmas Students Assist Professor Bert Huang in Empirical Study of Law and Moral Dilemmas]. ''Columbia Law School''. December 19, 2016.</ref>
Mulai tahun 2001, masalah troli dan variannya telah digunakan dalam penelitian empiris tentang [[psikologi moral]]. Masalah ini telah menjadi topik buku-buku populer.<ref>Sarah Bakewell. [https://www.nytimes.com/2013/11/24/books/review/would-you-kill-the-fat-man-and-the-trolley-problem.html Clang Went the Trolley]. ''The New York Times''. 2013-11-22.</ref> Skenario bergaya troli juga muncul dalam diskusi etika desain [[mobil otonom|kendaraan otonom]], yang mungkin memerlukan pemrograman untuk memilih siapa atau apa yang akan ditabrak ketika [[kecelakaan lalu lintas|tabrakan]] tampaknya tidak dapat dihindari.<ref>Hazel Si Min Lim. ''Algorithmic Decision-Making in AVs: Understanding Ethical and Technical Concerns for Smart Cities''. ''Sustainability''. 2019. Vol. 11 (20). hlm. 5791. doi:10.3390/su11205791.</ref> Baru-baru ini, masalah troli juga menjadi [[meme internet]].<ref>[https://www.law.columbia.edu/news/archive/students-assist-professor-bert-huang-empirical-study-law-and-moral-dilemmas Students Assist Professor Bert Huang in Empirical Study of Law and Moral Dilemmas]. ''Columbia Law School''. December 19, 2016.</ref>

Revisi terkini sejak 9 September 2026 06.31

Trolley Problem
Masalah troli menghadirkan dilema: apakah lebih baik menarik tuas untuk mengalihkan troli yang melaju tak terkendali ke jalur samping hanya dengan satu orang?

Masalah troli adalah serangkaian eksperimen pemikiran dalam etika, psikologi, dan kecerdasan buatan yang melibatkan dilema etika yang disederhanakan dalam skenario apakah akan mengorbankan satu orang untuk menyelamatkan sejumlah orang yang lebih besar. Seri ini biasanya dimulai dengan skenario di mana sebuah troli (trem) atau kereta api yang melaju tak terkendali berada di jalur yang akan menabrak dan membunuh sejumlah orang (secara tradisional lima orang) di jalur kereta api, tetapi seorang pengemudi atau orang yang lewat dapat campur tangan dan mengalihkan kendaraan untuk membunuh hanya satu orang di jalur yang berbeda. Kemudian variasi lain dari kendaraan yang melaju tak terkendali, dan dilema hidup dan mati yang analog (medis, hukum, dll.) diajukan, masing-masing berisi pilihan untuk tidak melakukan apa pun—dalam hal ini beberapa orang akan terbunuh—atau untuk campur tangan dan mengorbankan satu orang yang awalnya "aman" untuk menyelamatkan yang lain.

Opini tentang etika setiap skenario ternyata sensitif terhadap detail cerita yang mungkin tampak tidak penting bagi dilema abstrak. Pertanyaan tentang merumuskan prinsip umum yang dapat menjelaskan perbedaan penilaian yang muncul dalam berbagai varian cerita diajukan pada tahun 1967 sebagai bagian dari analisis debat tentang aborsi dan doktrin akibat ganda oleh filsuf Inggris Philippa Foot.[1] Kemudian dijuluki "masalah troli" oleh Judith Jarvis Thomson dalam sebuah artikel tahun 1976 yang memicu banyak literatur, subjek ini merujuk pada meta-masalah mengapa penilaian yang berbeda muncul dalam kasus-kasus tertentu.

Thomson[2][3] dan filsuf Frances Kamm[4] dan Peter Unger telah menganalisis masalah troli secara ekstensif.[5] Artikel Thomson tahun 1976 memulai literatur tentang masalah troli sebagai subjek tersendiri. Ciri khas literatur ini adalah skenario alternatif yang berwarna-warni dan semakin absurd di mana orang yang dikorbankan malah didorong ke rel sebagai cara untuk menghentikan troli, organnya diambil untuk menyelamatkan pasien transplantasi, atau dibunuh dengan cara yang lebih tidak langsung yang memperumit rantai sebab akibat dan tanggung jawab.


Mulai tahun 2001, masalah troli dan variannya telah digunakan dalam penelitian empiris tentang psikologi moral. Masalah ini telah menjadi topik buku-buku populer.[6] Skenario bergaya troli juga muncul dalam diskusi etika desain kendaraan otonom, yang mungkin memerlukan pemrograman untuk memilih siapa atau apa yang akan ditabrak ketika tabrakan tampaknya tidak dapat dihindari.[7] Baru-baru ini, masalah troli juga menjadi meme internet.[8]

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. Philippa Foot, "The Problem of Abortion and the Doctrine of the Double Effect" in Virtues and Vices (Oxford: Basil Blackwell, 1978) (originally appeared in the Oxford Review, Number 5, 1967.)
  2. Judith Jarvis Thomson, Killing, Letting Die, and the Trolley Problem, 59 The Monist 204-17 (1976)
  3. Judith Jarvis Thomson. The Trolley Problem. Yale Law Journal. 1985. Vol. 94 (6). hlm. 1395–1415. doi:10.2307/796133.
  4. Frances Myrna Kamm. Harming Some to Save Others. Philosophical Studies. 1989. Vol. 57 (3). hlm. 227–60. doi:10.1007/bf00372696.
  5. Peter Unger, Living High and Letting Die (Oxford: Oxford University Press, 1996)
  6. Sarah Bakewell. Clang Went the Trolley. The New York Times. 2013-11-22.
  7. Hazel Si Min Lim. Algorithmic Decision-Making in AVs: Understanding Ethical and Technical Concerns for Smart Cities. Sustainability. 2019. Vol. 11 (20). hlm. 5791. doi:10.3390/su11205791.
  8. Students Assist Professor Bert Huang in Empirical Study of Law and Moral Dilemmas. Columbia Law School. December 19, 2016.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28901114 (2026-01-28T04:44:15Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.