Lompat ke isi

Ketidakpercayaan: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28347843; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 10: Baris 10:


==Kajian neurokimia==
==Kajian neurokimia==
[[Neuroekonomi]] mencoba menjelaskan bagaimana para ekonom berusaha memahami alasan manusia saling memercayai atau justru tidak memercayai, dengan merekam respons fisiologis dalam eksperimen kepercayaan. Dalam salah satu percobaan, subjek diminta untuk menyumbangkan sejumlah uang kepada subjek anonim lain, tanpa jaminan akan menerima imbalan. Berbagai kondisi percobaan diujikan, dan setelah setiap keputusan, tingkat hormon [[dihidrotestosteron]] (DHT) diukur. Hasilnya menunjukkan bahwa respons fisiologis terhadap ketidakpercayaan berbeda antara laki-laki dan perempuan; kadar DHT yang lebih tinggi pada laki-laki dikaitkan dengan peningkatan ketidakpercayaan. Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan hubungan kausal antara kadar DHT pada pria dan respons terhadap ketidakpercayaan.
[[Neuroekonomi]] mencoba menjelaskan bagaimana para ekonom berusaha memahami alasan manusia saling memercayai atau justru tidak memercayai, dengan merekam respons fisiologis dalam eksperimen kepercayaan.<ref>Paul J. Zak. [http://www.nexthumanproject.com/references/Neuroeconomics_of_Distrust.pdf The Neuroeconomics of Distrust: Sex Differences in Behavior and Physiology]. ''The American Economic Review''. 2005. Vol. 95 (2). hlm. 360–3. doi:10.1257/000282805774669709.</ref> Dalam salah satu percobaan, subjek diminta untuk menyumbangkan sejumlah uang kepada subjek anonim lain, tanpa jaminan akan menerima imbalan. Berbagai kondisi percobaan diujikan, dan setelah setiap keputusan, tingkat hormon [[dihidrotestosteron]] (DHT) diukur. Hasilnya menunjukkan bahwa respons fisiologis terhadap ketidakpercayaan berbeda antara laki-laki dan perempuan; kadar DHT yang lebih tinggi pada laki-laki dikaitkan dengan peningkatan ketidakpercayaan. Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan hubungan kausal antara kadar DHT pada pria dan respons terhadap ketidakpercayaan.<ref>Paul J. Zak. [http://www.nexthumanproject.com/references/Neuroeconomics_of_Distrust.pdf The Neuroeconomics of Distrust: Sex Differences in Behavior and Physiology]. ''The American Economic Review''. 2005. Vol. 95 (2). hlm. 360–3. doi:10.1257/000282805774669709.</ref>


==Kajian sosiologis==
==Kajian sosiologis==
Sejumlah pemikir berpendapat bahwa dengan mendukung adanya [[Kecurigaan (emosi)|kecurigaan]] sehat serta kewaspadaan, ketidakpercayaan tidak selalu membawa akibat yang merugikan, bahkan dapat berkaitan dengan hasil-hasil yang positif. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketidakpercayaan dapat mempercepat laju kerja serta meningkatkan kinerja individu maupun kelompok dalam tugas-tugas tertentu. Secara empiris terbukti bahwa ketidakpercayaan dapat meningkatkan performa pada tugas-tugas nonrutin (yang menuntut kreativitas dan bersifat tidak terstruktur), sementara sebaliknya menurunkan performa pada tugas-tugas rutin (yang bersifat kooperatif dan terstruktur).
Sejumlah pemikir berpendapat bahwa dengan mendukung adanya [[Kecurigaan (emosi)|kecurigaan]] sehat serta kewaspadaan, ketidakpercayaan tidak selalu membawa akibat yang merugikan, bahkan dapat berkaitan dengan hasil-hasil yang positif.<ref>Roderick M. Kramer. ''TRUST AND DISTRUST IN ORGANIZATIONS: Emerging Perspectives, Enduring Questions''. ''Annual Review of Psychology''. 1999. Vol. 50 (1). hlm. 569–598. doi:10.1146/annurev.psych.50.1.569.</ref> Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketidakpercayaan dapat mempercepat laju kerja serta meningkatkan kinerja individu maupun kelompok<ref>Paul Benjamin Lowry. ''The Value of Distrust in Computer-Based Decision-Making Groups''. ''43rd Annual Hawaii International Conference on System Sciences''. 5–8 January 2009.</ref> dalam tugas-tugas tertentu. Secara empiris terbukti bahwa ketidakpercayaan dapat meningkatkan performa pada tugas-tugas nonrutin (yang menuntut kreativitas dan bersifat tidak terstruktur), sementara sebaliknya menurunkan performa pada tugas-tugas rutin (yang bersifat kooperatif dan terstruktur).<ref>Y. Schul. ''The value of distrust''. ''Journal of Experimental Social Psychology''. 2008. Vol. 44 (5). hlm. 1293–1302. doi:10.1016/j.jesp.2008.05.003.</ref>


==Lihat pula==
==Lihat pula==
* [[Kehati-hatian]]
* [[Kehati-hatian]]
* [[Sinisme (kontemporer)]]
* [[Sinisme (kontemporer)]]
Baris 25: Baris 24:
* [[Skeptisisme]]
* [[Skeptisisme]]
* [[Kecurigaan (emosi)]]
* [[Kecurigaan (emosi)]]
==Referensi==


==Bacaan lanjutan==
==Bacaan lanjutan==
*
*


 
== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==
== Sumber dan atribusi ==


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ketidakpercayaan&oldid=28347843 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28347843 (2025-11-05T01:08:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ketidakpercayaan&oldid=28347843 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28347843 (2025-11-05T01:08:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 23 Agustus 2026 23.06

Ketidakpercayaan adalah suatu sikap formal untuk tidak memberikan kepercayaan yang berlebihan kepada satu pihak pun dalam situasi yang sarat dengan risiko besar atau diliputi keraguan mendalam. Dalam ranah kewarganegaraan, ketidakpercayaan kerap diwujudkan dalam bentuk pembagian atau penyeimbangan kekuasaan; sementara dalam politik, ia hadir sebagai mekanisme untuk memastikan keabsahan syarat-syarat perjanjian. Sistem yang dibangun di atas asas ketidakpercayaan sesungguhnya berfungsi membagi tanggung jawab agar mekanisme pengawasan dan keseimbangan dapat berjalan. Ungkapan "percaya, tetapi verifikasi" secara khusus merujuk pada prinsip ini.

Dalam sistem pemerintahan

Setiap Sistem pemilihan pada hakikatnya bertumpu pada asas ketidakpercayaan, bukan sekadar pada [prasangka buruk]]. Para partai politik memang bersaing di dalam sistem, tetapi tidak bertujuan untuk menghancurkan sistem itu sendiri atau meraih keuntungan secara culas. Jika ada pihak yang mencoba, mereka akan mudah terungkap oleh pihak lain. Justru karena adanya ketidakpercayaan timbal-balik inilah, diperlukan sebuah sistem formal ketidakpercayaan. protokol diplomatik, misalnya, yang mengatur hubungan antar-negara berdaulat, berfungsi sebagai pernyataan resmi bahwa “kami tidak sepenuhnya memercayai pihak tersebut.” Selain itu, protokol tersebut berlandaskan etiket yang ketat, karena tidak memercayai kebiasaan masing-masing pihak sebagai penanda niat, maka dipilihlah standar perilaku global dalam pergaulan sosial yang sensitif.

Dalam Tata kelola korporasi, asas ketidakpercayaan dijalankan melalui peran dewan direksi yang tidak boleh serta-merta memercayai laporan dari pihak manajemen. Mereka diberi kewenangan untuk memeriksa, mempertanyakan, dan bertindak atas nama para pemegang saham berhadapan dengan manajer. Fakta bahwa hal ini jarang dilakukan dalam praktik perusahaan di Amerika Serikat menjadi indikator runtuhnya hubungan ketidakpercayaan tersebut yang kemudian melahirkan skandal akuntansi serta tuntutan atas reformasi akuntansi. Tujuan utama keberadaan mekanisme formal ini memang untuk mencegah terjadinya krisis kepercayaan yang lebih besar terhadap "Sistem" secara keseluruhan.

Dalam ilmu komputer

Dalam Ilmu komputer, sebuah protokol didefinisikan melalui konsep formal ketidakpercayaan. Bagian-bagian dari suatu sistem tidak seharusnya saling "percaya," melainkan saling memberikan pernyataan, permintaan, dan validasi yang terukur. Setelah prosedur ini dilalui, tanggung jawab atas kesalahan beralih secara tegas kepada pihak penerima informasi, bukan pada pihak pengirim. Penerapan prinsip ini di dalam sebuah program dikenal sebagai perancangan berbasis kontrak.

Kajian neurokimia

Neuroekonomi mencoba menjelaskan bagaimana para ekonom berusaha memahami alasan manusia saling memercayai atau justru tidak memercayai, dengan merekam respons fisiologis dalam eksperimen kepercayaan.[1] Dalam salah satu percobaan, subjek diminta untuk menyumbangkan sejumlah uang kepada subjek anonim lain, tanpa jaminan akan menerima imbalan. Berbagai kondisi percobaan diujikan, dan setelah setiap keputusan, tingkat hormon dihidrotestosteron (DHT) diukur. Hasilnya menunjukkan bahwa respons fisiologis terhadap ketidakpercayaan berbeda antara laki-laki dan perempuan; kadar DHT yang lebih tinggi pada laki-laki dikaitkan dengan peningkatan ketidakpercayaan. Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan hubungan kausal antara kadar DHT pada pria dan respons terhadap ketidakpercayaan.[2]

Kajian sosiologis

Sejumlah pemikir berpendapat bahwa dengan mendukung adanya kecurigaan sehat serta kewaspadaan, ketidakpercayaan tidak selalu membawa akibat yang merugikan, bahkan dapat berkaitan dengan hasil-hasil yang positif.[3] Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketidakpercayaan dapat mempercepat laju kerja serta meningkatkan kinerja individu maupun kelompok[4] dalam tugas-tugas tertentu. Secara empiris terbukti bahwa ketidakpercayaan dapat meningkatkan performa pada tugas-tugas nonrutin (yang menuntut kreativitas dan bersifat tidak terstruktur), sementara sebaliknya menurunkan performa pada tugas-tugas rutin (yang bersifat kooperatif dan terstruktur).[5]

Lihat pula

Bacaan lanjutan

Referensi

  1. Paul J. Zak. The Neuroeconomics of Distrust: Sex Differences in Behavior and Physiology. The American Economic Review. 2005. Vol. 95 (2). hlm. 360–3. doi:10.1257/000282805774669709.
  2. Paul J. Zak. The Neuroeconomics of Distrust: Sex Differences in Behavior and Physiology. The American Economic Review. 2005. Vol. 95 (2). hlm. 360–3. doi:10.1257/000282805774669709.
  3. Roderick M. Kramer. TRUST AND DISTRUST IN ORGANIZATIONS: Emerging Perspectives, Enduring Questions. Annual Review of Psychology. 1999. Vol. 50 (1). hlm. 569–598. doi:10.1146/annurev.psych.50.1.569.
  4. Paul Benjamin Lowry. The Value of Distrust in Computer-Based Decision-Making Groups. 43rd Annual Hawaii International Conference on System Sciences. 5–8 January 2009.
  5. Y. Schul. The value of distrust. Journal of Experimental Social Psychology. 2008. Vol. 44 (5). hlm. 1293–1302. doi:10.1016/j.jesp.2008.05.003.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28347843 (2025-11-05T01:08:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.