Lompat ke isi

Dihidrotestosteron

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Dihidrotestosteron (disingkat DHT; juga disebut dengan 5α-dihidrotestosteron, 5α-DHT, androstanolona, atau stanolona) adalah hormon steroid seks androgen endogen yang terutama berperan dalam pertumbuhan dan perbaikan prostat serta penis, serta dalam produksi sebum dan pembentukan rambut tubuh.

Enzim 5α-reduktase mengatalisis pembentukan DHT dari testosteron di jaringan-jaringan tertentu termasuk kelenjar prostat, vesikula seminalis, epididimis, kulit, folikel rambut, hati, dan otak. Enzim ini memediasi reduksi ikatan ganda C4-5 pada testosteron. DHT juga dapat disintesis dari progesteron dan 17α-hidroksiprogesteron melalui jalur jalur belakang androgen jika testosteron tidak tersedia. Dibandingkan dengan testosteron, DHT jauh lebih poten sebagai agonis reseptor androgen (AR).

Selain perannya sebagai hormon alami, DHT juga digunakan sebagai obat, misalnya untuk menangani kadar testosteron rendah pada pria; untuk informasi mengenai DHT sebagai obat, lihat artikel tentang androstanolona.

Sejarah

DHT pertama kali disintesis oleh Adolf Butenandt dan rekan-rekannya pada tahun 1935. Senyawa ini dibuat melalui hidrogenasi testosteron, yang telah ditemukan pada awal tahun yang sama. DHT diperkenalkan untuk penggunaan medis sebagai AAS pada tahun 1953, dan diketahui lebih poten daripada testosteron namun memiliki sifat androgenik yang lebih rendah. Senyawa ini baru diketahui sebagai zat endogen pada tahun 1956, ketika terbukti terbentuk dari testosteron dalam homogenat hati tikus. Selain itu, pentingnya peran biologis DHT baru disadari pada awal tahun 1960-an, saat diketahui bahwa senyawa ini diproduksi oleh enzim 5α-reduktase dari testosteron yang bersirkulasi di jaringan target—seperti kelenjar prostat dan vesikula seminalis—serta terbukti lebih poten daripada testosteron dalam bioasai. Fungsi biologis DHT pada manusia menjadi jauh lebih jelas setelah ditemukannya dan dikarakterisasinya kondisi defisiensi 5α-reduktase tipe 2 pada tahun 1974. DHT adalah hormon seks utama terakhir yang ditemukan—setelah testosteron, estradiol, dan progesteron—dan memiliki keunikan sebagai satu-satunya hormon seks utama yang berfungsi terutama sebagai hormon intrakrin dan parakrin, bukan sebagai hormon endokrin.

DHT pernah menjadi salah satu metode "bawah tanah" awal yang digunakan untuk memanipulasi hasil tes doping dalam olahraga, karena DHT tidak mengubah rasio testosteron terhadap epitestosteron dalam profil steroid urine atlet—sebuah pengukuran yang dulunya menjadi dasar tes doping untuk mendeteksi penggunaan steroid. Namun, penggunaan DHT tetap dapat dideteksi melalui metode lain yang kini umum digunakan dalam tes doping atlet, seperti analisis metabolit.

Pada tahun 2004, Richard Auchus, dalam sebuah tinjauan yang diterbitkan di Trends in Endocrinology and Metabolism, mencetuskan istilah "jalur pintu belakang" untuk menyebut suatu lintasan metabolisme menuju DHT yang: 1) melewati senyawa antara konvensional berupa androstenadiona dan testosteron; 2) melibatkan reduksi-5α dari pregnana berkarbon-21 (C21) menjadi androstana berkarbon-19 (C19); dan 3) melibatkan oksidasi-3α dari 5α-androstana-3α,17β-diol menjadi DHT. Jalur yang baru ditemukan ini menjelaskan bagaimana DHT diproduksi dalam kondisi normal dan patologis tertentu pada manusia ketika jalur androgen klasik (melalui testosteron) tidak dapat sepenuhnya menjelaskan konsekuensi yang teramati. Tinjauan ini didasarkan pada penelitian terdahulu (yang diterbitkan antara tahun 2000–2004) oleh Shaw dkk., Wilson dkk., dan Mahendroo dkk., yang mempelajari biosintesis DHT pada anak walabi tammar di dalam kantung induknya serta pada mencit.

Pada tahun 2011, Chang dkk. menunjukkan adanya jalur metabolisme lain menuju DHT yang dominan dan kemungkinan krusial dalam kanker prostat yang resisten terhadap kastrasi (CRPC). Jalur ini dapat digambarkan sebagai androstenadiona5α-androstana-3,17-diona → DHT. Meskipun jalur ini disebut sebagai "jalur 5α-diona" dalam sebuah tinjauan tahun 2012, keberadaan jalur semacam itu di dalam prostat telah dihipotesiskan dalam tinjauan tahun 2008 oleh Luu-The dkk.

Fungsi biologis

DHT secara biologis penting untuk diferensiasi seksual genitalia pria selama embriogenesis, pematangan penis dan skrotum saat pubertas, pertumbuhan rambut wajah, tubuh, dan kemaluan, serta perkembangan dan pemeliharaan kelenjar prostat dan vesikula seminalis. Hormon ini diproduksi dari testosteron (yang memiliki potensi lebih rendah) oleh enzim 5α-reduktase di jaringan-jaringan tertentu, dan merupakan androgen utama di area genital, kelenjar prostat, vesikula seminalis, kulit, serta folikel rambut.

Sinyal DHT bekerja terutama secara intrakrin dan parakrin di jaringan tempat hormon tersebut diproduksi, dan hanya berperan kecil—atau bahkan tidak berperan sama sekali—sebagai hormon endokrin yang bersirkulasi dalam darah. Kadar DHT yang bersirkulasi masing-masing hanya sepersepuluh dan seperduapuluh dari kadar testosteron dalam hal konsentrasi total dan bebas, sedangkan kadar DHT lokal bisa mencapai hingga 10 kali lipat kadar testosteron pada jaringan dengan ekspresi 5α-reduktase yang tinggi, seperti kelenjar prostat. Selain itu, berbeda dengan testosteron, DHT diinaktivasi oleh enzim 3α-hidroksisteroid dehidrogenase (3α-HSD) menjadi androgen yang sangat lemah, yaitu 3α-androstanadiol, di berbagai jaringan seperti otot, jaringan adiposa, dan hati, dan sehubungan dengan hal ini, DHT dilaporkan sebagai agen anabolik yang sangat tidak efektif jika diberikan secara eksogen sebagai obat.


Selain fungsi biologis normal, DHT juga berperan penting sebagai penyebab sejumlah kondisi yang bergantung pada androgen, termasuk masalah rambut seperti hirsutisme (pertumbuhan rambut wajah/tubuh yang berlebihan) dan kebotakan rambut berpola (alopesia androgenik atau kerontokan berpola), serta penyakit prostat seperti hiperplasia prostat jinak (BPH) dan kanker prostat. Penghambat 5α-reduktase, yang mencegah sintesis DHT, terbukti efektif dalam pencegahan dan pengobatan kondisi-kondisi tersebut. Deprivasi androgen merupakan pendekatan terapeutik untuk kanker prostat yang dapat dilakukan melalui kastrasi guna menghilangkan testosteron gonad sebagai prekursor DHT, namun tumor metastatik kemudian dapat berkembang menjadi kanker prostat resisten-kastrasi (CRPC). Meskipun kastrasi menyebabkan penurunan kadar testosteron serum sebesar 90–95%, kadar DHT di prostat hanya menurun sebesar 50%. Hal ini mendukung gagasan bahwa prostat mengekspresikan enzim-enzim yang diperlukan (termasuk 5α-reduktase) untuk memproduksi DHT tanpa bergantung pada testosteron testis, yang sekaligus menegaskan pentingnya penggunaan penghambat 5α-reduktase.

DHT mungkin berperan dalam rekrutmen dan fungsi transporter asam amino pada otot rangka.

Metabolit DHT diketahui bertindak sebagai neurosteroid yang memiliki aktivitas biologis tersendiri, terlepas dari peran reseptor androgen (AR). 3α-Androstanadiol merupakan modulator alosterik positif yang poten bagi reseptor GABAA, sedangkan 3β-androstanadiol adalah agonis yang poten dan selektif terhadap subtipe reseptor estrogen (ER) yaitu ERβ. Metabolit-metabolit ini mungkin memainkan peran penting dalam efek sentral DHT—dan secara tidak langsung testosteron—termasuk efek antidepresan, anksiolitik (pereda kecemasan), efek terkait sistem ganjaran/hedonik, anti-stres, serta efek pro-kognitif.

Defisiensi 5α-reduktase tipe 2

Sebagian besar peran biologis DHT telah dipahami melalui studi terhadap individu dengan defisiensi 5α-reduktase tipe 2 bawaan (kongenital), suatu kondisi interseks yang disebabkan oleh mutasi hilangnya fungsi pada gen yang mengodekan 5α-reduktase tipe 2, yaitu enzim utama yang bertanggung jawab atas produksi DHT di dalam tubuh. Kondisi ini ditandai dengan adanya enzim 5α-reduktase tipe 2 yang cacat dan tidak berfungsi, serta hilangnya sebagian besar (namun tidak seluruhnya) produksi DHT dalam tubuh. Pada kondisi ini, kadar testosteron yang bersirkulasi berada dalam rentang normal pria atau sedikit di atasnya, namun kadar DHT rendah (sekitar 30% dari kadar normal), dan rasio testosteron terhadap DHT yang bersirkulasi meningkat tajam (sekitar 3,5 hingga 5 kali lipat lebih tinggi daripada normal).

Individu pria secara genetik (46,XY) dengan defisiensi 5α-reduktase tipe 2 lahir dengan kondisi maskulinisasi yang tidak sempurna termasuk pseudohermafroditisme, hipospadia perineoskrotal pseudovaginal, dan biasanya testis yang tidak turun. Genitalia eksternal mereka menyerupai genitalia wanita, dengan mikropenis (falus kecil yang menyerupai klitoris), skrotum yang tidak menyatu sepenuhnya (menyerupai labia), dan kantong vagina dangkal yang buntu. Karena tidak adanya genitalia pria yang tampak jelas, individu pria secara genetik dengan kondisi ini biasanya dibesarkan sebagai perempuan. Namun, pada masa pubertas, mereka mengembangkan karakteristik seksual sekunder maskulin yang mencolok secara fenotip, termasuk virilisasi parsial pada alat kelamin (pembesaran falus menjadi penis yang hampir berfungsi penuh dan penurunan testis), pendalaman suara, serta perkembangan muskuloskeletal khas laki-laki, tanpa disertai menstruasi, perkembangan payudara, atau tanda-tanda feminisasi lain yang biasanya terjadi pada pubertas perempuan. Selain itu, libido dan ereksi spontan berkembang secara normal, mereka biasanya menunjukkan preferensi seksual terhadap perempuan, dan hampir semuanya mengembangkan identitas gender laki-laki. Namun, identifikasi ini mungkin dipengaruhi oleh faktor budaya, mengingat tingkat perubahan gender berkisar antara 16% hingga 70% dalam sebuah penelitian, dengan Turki mencatat tingkat tertinggi.

Meskipun demikian, laki-laki dengan defisiensi 5α-reduktase tipe 2 menunjukkan tanda-tanda kurangnya virilisasi yang berkelanjutan pada sejumlah aspek. Pertumbuhan rambut wajah tidak ada atau sangat jarang pada kelompok laki-laki Dominika yang memiliki kondisi ini, yang dikenal sebagai Güevedoces. Namun, pertumbuhan rambut wajah yang lebih lebat diamati pada pasien dengan kelainan ini dari belahan dunia lain, meskipun jumlahnya tetap lebih sedikit dibandingkan laki-laki lain di komunitas yang sama. Perbedaan temuan ini mungkin mencerminkan variasi rasial dalam pertumbuhan rambut yang bergantung pada androgen. Pola pertumbuhan rambut androgenik khas perempuan—di mana rambut terminal sebagian besar terbatas pada area ketiak dan bagian bawah segitiga pubis—diamati pada laki-laki dengan kondisi ini. Tidak ada kasus mundurnya garis rambut di pelipis atau alopesia androgenik (kerontokan rambut atau kebotakan berpola) yang ditemukan dalam laporan kasus defisiensi 5α-reduktase tipe 2, padahal kondisi tersebut biasanya terlihat pada tingkat tertentu pada hampir semua laki-laki Kaukasia saat memasuki usia remaja. Individu dengan defisiensi 5α-reduktase tipe 2 awalnya dilaporkan tidak mengalami jerawat, namun penelitian selanjutnya menunjukkan sekresi sebum dan kejadian jerawat yang normal.

Pada individu laki-laki secara genetik dengan defisiensi 5α-reduktase tipe 2, kelenjar prostat bersifat rudimenter atau tidak ada sama sekali; jika ada, kelenjar tersebut tetap kecil, kurang berkembang, dan tidak dapat diraba sepanjang hidup. Selain itu, tidak ada laporan mengenai BPH maupun kanker prostat pada individu-individu ini. Laki-laki secara genetik dengan kondisi ini umumnya mengalami oligozoospermia akibat testis yang tidak turun, namun spermatogenesis dilaporkan normal pada mereka yang memiliki testis yang telah turun, dan terdapat kasus di mana pria dengan kondisi ini berhasil memiliki keturunan.

Berbeda dengan laki-laki, perempuan secara genetik dengan defisiensi 5α-reduktase tipe 2 memiliki fenotipe yang normal. Namun, serupa dengan laki-laki secara genetik yang mengalami kondisi ini, mereka menunjukkan pertumbuhan rambut tubuh yang berkurang termasuk tidak adanya rambut pada lengan dan kaki, sedikit berkurangnya rambut ketiak, serta berkurangnya rambut kemaluan dalam tingkat sedang. Di sisi lain, produksi sebum tetap normal. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa sekresi sebum tampaknya sepenuhnya dikendalikan oleh 5α-reduktase tipe 1.

Penghambat 5α-reduktase

Penghambat 5α-reduktase seperti finasterid dan dutasterid menghambat 5α-reduktase tipe 2 dan/atau isoform lainnya, serta mampu menurunkan kadar DHT dalam sirkulasi sebesar 65 hingga 98%, bergantung pada jenis penghambat 5α-reduktase yang digunakan. Dengan demikian, serupa dengan kasus defisiensi 5α-reduktase tipe 2, obat-obatan ini memberikan wawasan yang berguna dalam mengungkap fungsi biologis DHT. Penghambat 5α-reduktase dikembangkan dan terutama digunakan untuk pengobatan hiperplasia prostat jinak. Obat-obatan ini mampu mengurangi ukuran kelenjar prostat secara signifikan dan meredakan gejala kondisi tersebut. Pengobatan jangka panjang dengan penghambat 5α-reduktase juga dapat mengurangi risiko kanker prostat secara keseluruhan secara signifikan, meskipun sempat teramati adanya sedikit peningkatan risiko pada jenis tumor derajat tinggi tertentu secara bersamaan. Selain untuk penyakit prostat, penghambat 5α-reduktase kemudian dikembangkan dan diperkenalkan untuk pengobatan kerontokan rambut berpola pada pria. Obat ini mampu mencegah perkembangan lebih lanjut kerontokan rambut pada sebagian besar pria yang mengalami kondisi tersebut dan menghasilkan pemulihan pertumbuhan rambut pada sekitar dua pertiga pria. Di sisi lain, penghambat 5α-reduktase tampaknya kurang efektif untuk mengatasi kerontokan rambut berpola pada wanita, meskipun tetap menunjukkan tingkat efektivitas tertentu. Selain untuk kerontokan rambut berpola, obat-obatan ini juga bermanfaat dalam pengobatan hirsutisme dan dapat sangat mengurangi pertumbuhan rambut wajah serta tubuh pada wanita yang mengalami kondisi tersebut.

Secara keseluruhan, penghambat 5α-reduktase dapat ditoleransi dengan baik dan menunjukkan tingkat kejadian efek merugikan yang rendah. Disfungsi seksual, termasuk disfungsi ereksi, hilangnya libido, dan berkurangnya volume ejakulasi, dapat terjadi pada 3,4 hingga 15,8% pria yang diobati dengan finasterid atau dutasterid. Peningkatan kecil dalam risiko gejala afektif—termasuk depresi, kecemasan, dan perilaku mencederai diri sendiri—mungkin juga terlihat. Namun, risiko pada kelompok yang terdampak dapat sangat bervariasi; beberapa pasien melaporkan secara jelas adanya efek persisten yang sangat kuat. Baik disfungsi seksual maupun gejala afektif tersebut mungkin disebabkan—baik sebagian maupun seluruhnya—oleh terhambatnya sintesis neurosteroid seperti allopregnanolona, dan bukan semata-mata akibat penghambatan produksi DHT. Risiko kecil terjadinya ginekomastia juga dikaitkan dengan penggunaan penghambat 5α-reduktase (1,2–3,5%). Berdasarkan laporan mengenai defisiensi 5α-reduktase tipe 2 pada pria serta efektivitas penghambat 5α-reduktase untuk mengatasi hirsutisme pada wanita, berkurangnya pertumbuhan rambut tubuh dan/atau rambut wajah merupakan potensi efek samping obat-obatan ini pada pria. Studi yang mengevaluasi efek samping penghambat 5α-reduktase pada wanita jauh lebih sedikit jumlahnya. Akan tetapi, mengingat peran DHT yang telah diketahui dalam diferensiasi seksual pria, penghambat 5α-reduktase dapat menyebabkan kelainan bawaan seperti genitalia ambigu pada janin laki-laki dari wanita hamil. Oleh karena itu, obat ini tidak digunakan pada wanita selama masa kehamilan.

MK-386 adalah penghambat selektif 5α-reduktase tipe 1 yang tidak pernah dipasarkan. Berbeda dengan penghambat 5α-reduktase tipe 2 yang menghasilkan penurunan produksi DHT dalam sirkulasi secara jauh lebih besar, MK-386 menurunkan kadar DHT dalam sirkulasi sebesar 20 hingga 30%. Sebaliknya, senyawa ini terbukti menurunkan kadar DHT pada sebum sebesar 55% pada pria, dibandingkan dengan penurunan yang hanya sebesar 15% pada penggunaan finasterid. Namun, MK-386 tidak menunjukkan efektivitas yang signifikan dalam studi klinis lanjutan untuk pengobatan jerawat.

Aktivitas biologis

DHT adalah agonis poten bagi reseptor androgen (AR) dan merupakan ligan endogen AR yang paling poten yang diketahui. Senyawa ini memiliki afinitas (Kd) sebesar 0,25 hingga 0,5 nM terhadap AR manusia; angka ini sekitar 2 hingga 3 kali lebih tinggi dibandingkan afinitas testosteron (Kd = 0,4 hingga 1 nM) dan 15–30 kali lebih tinggi dibandingkan androgen adrenal. Selain itu, laju disosiasi DHT dari AR adalah 5 kali lebih lambat dibandingkan testosteron. Nilai EC50 DHT untuk aktivasi AR adalah 0,13 nM, yang berarti sekitar 5 kali lebih kuat daripada testosteron (EC50 = 0,66 nM). Dalam bioasai, DHT terbukti 2,5 hingga 10 kali lebih poten dibandingkan testosteron.

Waktu paruh eliminasi DHT di dalam tubuh (53 menit) lebih lama dibandingkan testosteron (34 menit), dan hal ini mungkin turut menjelaskan sebagian perbedaan potensi di antara keduanya. Sebuah studi mengenai pemberian DHT dan testosteron secara transdermal (melalui plester) melaporkan waktu paruh terminal masing-masing sebesar 2,83 jam dan 1,29 jam.

Berbeda dengan androgen lain seperti testosteron, DHT tidak dapat diubah oleh enzim aromatase menjadi estrogen seperti estradiol. Oleh karena itu, DHT sering digunakan dalam penelitian untuk membedakan antara efek testosteron yang timbul akibat pengikatan pada AR dengan efek yang timbul akibat konversi testosteron menjadi estradiol serta pengikatan dan aktivasi reseptor estrogen (ER) yang menyertainya. Meskipun DHT tidak dapat mengalami aromatisasi, senyawa ini tetap diubah menjadi metabolit yang memiliki afinitas dan aktivitas signifikan terhadap ER. Senyawa-senyawa ini adalah 3α-androstanadiol dan 3β-androstanadiol, yang merupakan agonis utama ERβ.

Biokimia

Biosintesis

DHT disintesis secara ireversibel dari testosteron oleh enzim 5α-reduktase. Proses ini terjadi di berbagai jaringan termasuk organ kelamin (penis, skrotum, klitoris, labia mayor), kelenjar prostat, kulit, folikel rambut, hati, dan otak. Sekitar 5 hingga 7% testosteron mengalami reduksi-5α menjadi DHT, dan sekitar 200 hingga 300 μg DHT disintesis di dalam tubuh setiap harinya. Sebagian besar DHT diproduksi di jaringan perifer seperti kulit dan hati, sedangkan sebagian besar DHT yang bersirkulasi berasal secara khusus dari hati. Testis dan kelenjar prostat memberikan kontribusi yang relatif kecil terhadap konsentrasi DHT dalam sirkulasi.

Terdapat dua isoform utama 5α-reduktase yaitu SRD5A1 (tipe 1) dan SRD5A2 (tipe 2), di mana tipe yang kedua merupakan isoenzim yang paling penting secara biologis. Terdapat pula jenis 5α-reduktase ketiga, yakni SRD5A3. SRD5A2 diekspresikan paling tinggi pada organ genital, kelenjar prostat, epididimis, vesikula seminalis, kulit genital, folikel rambut wajah dan dada, serta hati; sementara ekspresi yang lebih rendah diamati pada area otak tertentu, kulit/folikel rambut non-genital, testis, dan ginjal. SRD5A1 diekspresikan paling tinggi pada kulit/folikel rambut non-genital, hati, dan area otak tertentu; sedangkan kadar yang lebih rendah ditemukan pada prostat, epididimis, vesikula seminalis, kulit genital, testis, kelenjar adrenal, dan ginjal. Di dalam kulit, 5α-reduktase diekspresikan pada kelenjar minyak, kelenjar keringat, sel epidermis, dan folikel rambut. Kedua isoenzim tersebut diekspresikan pada folikel rambut kulit kepala, meskipun SRD5A2 lebih dominan pada sel-sel ini. Subtipe SRD5A2 merupakan isoform yang hampir secara eksklusif diekspresikan di kelenjar prostat.

Jalur "pintu belakang"

Dalam kondisi normal maupun patologis tertentu, DHT juga dapat diproduksi melalui jalur yang tidak melibatkan testosteron sebagai senyawa antara, melainkan melalui senyawa antara lainnya. Jalur ini disebut sebagai "jalur pintu belakang".

Jalur ini dapat bermula dari 17α-hidroksiprogesteron atau progesteron dan dapat digambarkan sebagai berikut (tergantung pada substrat awalnya):

  • 17α-hidroksiprogesteron → 5α-pregnana-17α-ol-3,20-diona → 5α-pregnana-3α,17α-diol-20-on → androsterona → 5α-androstana-3α,17β-diol → DHT.
  • progesteron → 5α-dihidroprogesteron → allopregnanolona → 5α-pregnana-3α,17α-diol-20-on → androsterona → 5α-androstana-3α,17β-diol → DHT.

Jalur ini tidak selalu dipertimbangkan dalam evaluasi klinis pasien dengan hiperandrogenisme, misalnya akibat gangguan perkembangan seksual yang jarang terjadi seperti defisiensi 21α-hidroksilase. Mengabaikan jalur ini dalam kasus-kasus tersebut dapat menyebabkan kesalahan diagnosis dan kebingungan, terutama ketika jalur biosintesis androgen konvensional tidak dapat sepenuhnya menjelaskan dampak yang teramati.

Sebagaimana halnya jalur konvensional sintesis DHT, jalur pintu belakang juga memerlukan enzim 5α-reduktase. Jika reduksi 5α merupakan tahap transformasi terakhir pada jalur androgen klasik, maka pada jalur pintu belakang, tahap ini justru merupakan langkah pertamanya.

Distribusi

Ikatan DHT dengan protein plasma melebihi 99%. Pada pria, sekitar 0,88% DHT tidak terikat (bebas), sedangkan pada wanita pramenopause, sekitar 0,47–0,48% tidak terikat. Pada pria, DHT terikat sebesar 49,7% pada globulin pengikat hormon seks (SHBG), 39,2% pada albumin, dan 0,22% pada globulin pengikat kortikosteroid (CBG); sementara pada wanita pramenopause, DHT terikat sebesar 78,1–78,4% pada SHBG, 21–21,3% pada albumin, dan 0,12% pada CBG. Pada masa akhir kehamilan, hanya 0,07% DHT yang tidak terikat pada wanita; 97,8% terikat pada SHBG, sedangkan 2,15% terikat pada albumin dan 0,04% terikat pada CBG. DHT memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap SHBG dibandingkan dengan testosteron, estradiol, ataupun hormon steroid lainnya.


Metabolisme

DHT dinonaktifkan di hati dan jaringan ekstrahepatik (seperti kulit) menjadi 3α-androstanadiol dan 3β-androstanadiol oleh enzim 3α-hidroksisteroid dehidrogenase dan 3β-hidroksisteroid dehidrogenase secara berturut-turut. Metabolit-metabolit ini kemudian diubah masing-masing menjadi androsteron dan epiandrosteron, lalu dikonjugasikan (melalui glukuronidasi dan/atau sulfasi), dilepaskan ke dalam sirkulasi, dan diekskresikan melalui urine.

Berbeda dengan testosteron, DHT tidak dapat diaromatisasi menjadi estrogen seperti estradiol, dan oleh karena itu tidak memiliki kecenderungan untuk menimbulkan efek estrogenik.

Ekskresi

DHT diekskresikan melalui urine dalam bentuk metabolit, seperti konjugat dari 3α-androstanadiol dan androsterona.

Kadar

Rentang kadar DHT total dalam sirkulasi yang diuji menggunakan HPLC–MS/MS dan dilaporkan oleh LabCorp adalah sebagai berikut:

  • Pria: 30–85 ng/dL
  • Wanita: 4–22 ng/dL
  • Anak-anak prapubertas: <3 ng/dL
  • Anak laki-laki masa pubertas: 3–65 ng/dL (rata-rata pada tahap Tanner 5: 43 ng/dL)
  • Anak perempuan masa pubertas: 3–19 ng/dL (rata-rata pada tahap Tanner 5: 9 ng/dL)

Rentang kadar DHT bebas dalam sirkulasi yang diuji menggunakan HPLC–MS/MS dan dialisis kesetimbangan serta dilaporkan oleh LabCorp adalah sebagai berikut:

  • Usia <18 tahun: belum ditetapkan
  • Pria dewasa: 2,30–11,60 pg/mL (0,54–2,58% bebas)
  • Wanita dewasa: 0,09–1,02 pg/mL (<1,27% bebas)

Studi dan laboratorium lain yang mengukur kadar DHT total dalam sirkulasi menggunakan LC–MS/MS melaporkan rentang 11–95 ng/dL (0,38–3,27 nmol/L) pada pria dewasa, 14–77 ng/dL (0,47–2,65 nmol/L) untuk pria dewasa sehat (usia 18–59 tahun), 23–102 ng/dL (0,8–3,5 nmol/L) untuk pria dewasa yang tinggal di masyarakat umum (usia <65 tahun), dan 14–92 ng/dL (0,49–3,2 nmol/L) untuk pria lanjut usia yang sehat (usia 71–87 tahun). Pada wanita, rata-rata kadar DHT yang bersirkulasi ditemukan sekitar 9 ng/dL (0,3 nmol/L) pada wanita pramenopause dan 3 ng/dL (0,1 nmol/L) pada wanita pascamenopause. Tidak ditemukan variasi kadar DHT sepanjang siklus menstruasi pada wanita pramenopause, hal ini berbeda dengan kadar testosteron (yang menunjukkan puncak pada pertengahan siklus menstruasi). Dengan teknik berbasis imunoasai, kadar testosteron pada wanita pramenopause ditemukan sekitar 40 ng/dL (1,4 nmol/L) dan kadar DHT sekitar 10 ng/dL (0,34 nmol/L). Dengan metode radioimunoasai, rentang kadar testosteron dan DHT pada wanita masing-masing ditemukan sebesar 20 hingga 70 ng/dL dan 5 hingga 30 ng/dL.

Kadar testosteron total, testosteron bebas, dan DHT bebas—namun bukan DHT total—yang semuanya diukur dengan LC-MS/MS, ditemukan lebih tinggi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) dibandingkan pada wanita tanpa kondisi tersebut.

Kadar DHT yang bersirkulasi pada pria eugonadal sekitar 7 hingga 10 kali lebih rendah dibandingkan kadar testosteron, dan kadar plasma testosteron serta DHT memiliki korelasi yang kuat (koefisien korelasi sebesar 0,7). Namun, berbeda dengan kondisi di dalam sirkulasi darah, kadar DHT di kelenjar prostat kira-kira 5 hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan kadar testosteron. Hal ini disebabkan oleh konversi lebih dari 90% testosteron menjadi DHT di dalam prostat melalui enzim 5α-reduktase yang diekspresikan secara lokal. Oleh karena hal tersebut, serta fakta bahwa DHT jauh lebih poten sebagai agonis reseptor androgen dibandingkan testosteron, DHT menjadi androgen utama di dalam kelenjar prostat.

Penggunaan medis

DHT tersedia dalam formulasi farmasi untuk penggunaan medis sebagai androgen atau steroid anabolik-androgenik (AAS). Senyawa ini terutama digunakan dalam pengobatan hipogonadisme pada pria. Saat digunakan sebagai obat, dihidrotestosteron disebut sebagai "androstanolona" (INN) atau "stanolona" (BAN), Ketersediaan DHT farmasi terbatas; obat ini tidak tersedia di Amerika Serikat atau Kanada, namun tersedia di negara-negara Eropa tertentu. Formulasi DHT yang tersedia meliputi tablet bukal atau sublingual, gel topikal, serta sediaan suntik berupa ester dalam minyak seperti androstanolona propionat dan androstanolona valerat.

Peningkatan performa

DHT telah digunakan sebagai obat peningkat performa, khususnya sebagai alternatif bagi testosteron, karena senyawa ini pernah diketahui mampu mengelabui tes doping.

Kimia

DHT, yang juga dikenal sebagai 5α-androstan-17β-ol-3-ona, adalah steroid androstana alami dengan gugus keton pada posisi C3 dan gugus hidroksil pada posisi C17β. Senyawa ini merupakan turunan testosteron di mana ikatan ganda antara posisi C4 dan C5 telah direduksi atau dihidrogenasi.

Referensi


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29559199 (2026-08-11T08:11:30Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.