Lompat ke isi

Bias konfirmasi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 23 Agustus 2026 13.40 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29547489; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Bias konfirmasi (juga bias konfirmatori, bias pihak sendiri, atau bias keselarasan) adalah kecenderungan untuk mencari, menafsirkan, memilih, dan mengingat kembali informasi dengan cara yang mengonfirmasi atau mendukung kepercayaan, nilai-nilai, atau keputusan yang sudah ada sebelumnya. Seseorang menunjukkan bias ini ketika mereka memilih informasi yang mendukung pandangan mereka dan mengabaikan informasi yang bertentangan, atau ketika mereka menafsirkan bukti yang ambigu sebagai pendukung sikap yang sudah mereka miliki. Efek ini paling kuat terjadi pada hasil yang diinginkan, isu-isu yang bermuatan emosi, dan kepercayaan yang tertanam kuat. Bias konfirmasi sering kali berasal dari kebiasaan mental yang otomatis. Berbagai penelitian berulang kali menemukan bahwa orang cenderung menguji gagasan secara sepihak, terutama mencari bukti yang mendukung apa yang telah mereka asumsikan sebelumnya. Penelitian tentang paparan selektif juga menunjukkan bahwa setiap individu berbeda dalam seberapa kuat mereka mempertahankan sikap mereka, dengan beberapa orang lebih resisten terhadap informasi yang bertentangan dengan pandangan mereka.

Pencarian informasi yang bias, penafsiran informasi yang bias, dan pengingatan kembali ingatan yang bias sering digunakan untuk menjelaskan empat efek spesifik:

  1. polarisasi sikap (ketika ketidaksepakatan menjadi lebih ekstrem meskipun pihak-pihak yang berbeda dihadapkan pada bukti yang sama)
  2. persistensi kepercayaan (ketika kepercayaan tetap bertahan setelah bukti yang menyangkalnya ditunjukkan)
  3. efek keutamaan irasional (ketergantungan yang lebih besar pada informasi yang ditemui di awal suatu rangkaian)
  4. korelasi ilusi (ketika orang secara keliru melihat adanya hubungan antara dua peristiwa atau situasi).

Serangkaian eksperimen psikologis pada tahun 1960-an menunjukkan bahwa orang cenderung bias dalam mengonfirmasi kepercayaan yang mereka miliki. Penelitian di kemudian hari menafsirkan ulang hasil-hasil ini sebagai kecenderungan untuk menguji gagasan secara sepihak, dengan fokus pada satu kemungkinan dan mengabaikan alternatif lainnya. Penjelasan untuk bias yang teramati ini mencakup angan-angan dan keterbatasan kapasitas manusia dalam memproses informasi. Pendapat lain menyatakan bahwa orang menunjukkan bias konfirmasi karena mereka menilai konsekuensi dari kesalahan secara pragmatis, alih-alih melakukan penyelidikan secara netral dan ilmiah.

Keputusan yang cacat akibat bias konfirmasi telah ditemukan dalam berbagai konteks politik, organisasi, keuangan, dan ilmiah. Bias ini berkontribusi pada rasa terlalu percaya diri terhadap kepercayaan pribadi dan dapat mempertahankan atau memperkuat kepercayaan tersebut meskipun dihadapkan pada bukti yang bertentangan. Sebagai contoh, bias konfirmasi menghasilkan kesalahan sistematis dalam penelitian ilmiah yang didasarkan pada penalaran induktif (akumulasi bukti pendukung secara bertahap). Demikian pula, seorang detektif polisi mungkin mengidentifikasi seorang tersangka di awal penyelidikan, tetapi kemudian ia hanya mencari bukti yang mengonfirmasi alih-alih bukti yang membantahnya. Seorang praktisi medis mungkin secara prematur berfokus pada gangguan tertentu di awal sesi diagnosis, lalu hanya mencari bukti yang mengonfirmasi saja. Di media sosial, bias konfirmasi diperkuat oleh penggunaan gelembung filter dan "penyuntingan algoritmik", yang hanya menampilkan informasi yang kemungkinan besar disetujui oleh individu tersebut, sekaligus mengecualikan pandangan yang berlawanan.

Definisi dan konteks

Bias konfirmasi, yang sebelumnya digunakan sebagai "istilah umum", disempurnakan oleh psikolog Inggris Peter Wason sebagai "preferensi terhadap informasi yang konsisten dengan suatu hipotesis daripada informasi yang menentangnya."

Bias konfirmasi merupakan efek dalam pemrosesan informasi. Hal ini berbeda dari apa yang terkadang disebut efek konfirmasi perilaku, yang umumnya dikenal sebagai ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya, di mana ekspektasi seseorang memengaruhi perilaku mereka sendiri sehingga mewujudkan hasil yang diharapkan.

Beberapa psikolog membatasi istilah "bias konfirmasi" pada pengumpulan bukti secara selektif yang mendukung apa yang telah diyakini seseorang sembari mengabaikan atau menolak bukti yang mendukung kesimpulan berbeda. Psikolog lain menerapkan istilah ini secara lebih luas pada kecenderungan untuk mempertahankan kepercayaan yang ada saat mencari bukti, menafsirkannya, atau mengingatnya kembali dari memori. Bias konfirmasi merupakan hasil dari strategi otomatis yang tidak disengaja, alih-alih penipuan yang disengaja.

Jenis

Pencarian informasi yang bias

Berbagai eksperimen berulang kali menemukan bahwa orang cenderung menguji hipotesis secara sepihak, yaitu dengan mencari bukti yang konsisten dengan hipotesis mereka saat ini. Alih-alih memeriksa semua bukti yang relevan, mereka merumuskan pertanyaan demi mendapatkan jawaban afirmatif yang mendukung teori mereka. Mereka mencari konsekuensi yang mereka harapkan jika hipotesis mereka benar, alih-alih apa yang akan terjadi jika hipotesis tersebut salah. Sebagai contoh, seseorang yang menggunakan pertanyaan ya/tidak untuk menemukan angka yang mereka curigai sebagai angka 3 mungkin akan bertanya, "Apakah itu bilangan ganjil?" Orang lebih menyukai jenis pertanyaan seperti ini, yang disebut "pengujian positif", bahkan ketika pengujian negatif seperti "Apakah itu bilangan genap?" akan menghasilkan informasi yang persis sama. Namun, hal ini tidak berarti bahwa orang mencari pengujian yang menjamin jawaban positif. Dalam studi di mana subjek dapat memilih pengujian semu (pseudo-test) tersebut atau pengujian yang benar-benar diagnostik, mereka lebih memilih pengujian yang benar-benar diagnostik.

Preferensi terhadap pengujian positif itu sendiri bukanlah sebuah bias, karena pengujian positif dapat memberikan informasi yang sangat berguna. Namun, jika dikombinasikan dengan efek lain, strategi ini dapat mengonfirmasi kepercayaan atau asumsi yang ada, terlepas dari apakah hal tersebut benar atau tidak. Dalam situasi dunia nyata, bukti sering kali bersifat kompleks dan beragam. Sebagai contoh, berbagai gagasan yang saling kontradiktif mengenai seseorang masing-masing dapat didukung dengan memusatkan perhatian pada satu aspek dari perilakunya. Dengan demikian, pencarian bukti apa pun yang mendukung suatu hipotesis kemungkinan besar akan berhasil. Salah satu ilustrasi dari hal ini adalah bagaimana perumusan pertanyaan dapat mengubah jawaban secara signifikan. Misalnya, orang yang ditanya, "Apakah Anda bahagia dengan kehidupan sosial Anda?" melaporkan kepuasan yang lebih besar daripada mereka yang ditanya, "Apakah Anda tidak bahagia dengan kehidupan sosial Anda?"

Perubahan kecil sekalipun dalam pilihan kata pada pertanyaan dapat memengaruhi cara orang mencari informasi yang tersedia, sehingga memengaruhi kesimpulan yang mereka ambil. Hal ini ditunjukkan dengan menggunakan kasus fiktif hak asuh anak. Partisipan membaca bahwa Orang Tua A cukup layak menjadi wali dalam beberapa hal. Orang Tua B memiliki kombinasi kualitas positif dan negatif yang menonjol: memiliki hubungan yang dekat dengan anak tetapi memiliki pekerjaan yang mengharuskan mereka pergi dalam jangka waktu lama. Ketika ditanya, "Orang tua mana yang harus mendapatkan hak asuh anak?", mayoritas partisipan memilih Orang Tua B, terutama mencari atribut positif. Namun, ketika ditanya, "Orang tua mana yang harus ditolak hak asuh anaknya?", mereka mencari atribut negatif dan mayoritas menjawab bahwa Orang Tua B harus ditolak hak asuhnya, yang menyiratkan bahwa Orang Tua A yang seharusnya mendapatkan hak asuh.

Studi serupa telah menunjukkan bagaimana orang melakukan pencarian informasi yang bias, tetapi juga bahwa fenomena ini mungkin dibatasi oleh preferensi terhadap pengujian diagnostik yang asli. Dalam eksperimen awal, partisipan menilai orang lain pada dimensi kepribadian introversi–ekstroversi berdasarkan sebuah wawancara. Mereka memilih pertanyaan wawancara dari daftar yang disediakan. Ketika orang yang diwawancarai diperkenalkan sebagai seorang introver, partisipan memilih pertanyaan yang mengasumsikan introversi, seperti, "Apa yang menurut Anda tidak menyenangkan dari pesta yang bising?" Ketika orang yang diwawancarai digambarkan sebagai seorang ekstrover, hampir semua pertanyaan mengasumsikan ekstroversi, seperti, "Apa yang akan Anda lakukan untuk menyemarakkan pesta yang membosankan?" Pertanyaan bermuatan ini memberikan sedikit atau tidak ada kesempatan bagi orang yang diwawancarai untuk menyangkal hipotesis tentang mereka. Versi eksperimen berikutnya memberi partisipan pertanyaan yang tidak terlalu mengasumsikan untuk dipilih, seperti, "Apakah Anda menghindar dari interaksi sosial?" Partisipan lebih memilih untuk mengajukan pertanyaan yang lebih diagnostik ini, dan hanya menunjukkan bias yang lemah terhadap pengujian positif. Pola preferensi utama terhadap pengujian diagnostik dan preferensi yang lebih lemah terhadap pengujian positif ini telah direplikasi dalam studi lainnya.

Sifat kepribadian memengaruhi dan berinteraksi dengan proses pencarian yang bias. Setiap individu berbeda dalam kemampuan mereka mempertahankan sikap dari serangan luar sehubungan dengan paparan selektif. Paparan selektif terjadi ketika individu mencari informasi yang konsisten, alih-alih tidak konsisten, dengan kepercayaan pribadi mereka. Sebuah eksperimen menguji sejauh mana individu dapat menyanggah argumen yang bertentangan dengan kepercayaan pribadi mereka. Orang dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi lebih siap mencari informasi yang bertentangan dengan posisi pribadi mereka untuk menyusun argumen. Hal ini dapat berbentuk konsumsi berita oposisional, di mana individu mencari berita partisan yang berlawanan untuk melakukan argumen bantahan. Individu dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah tidak mencari informasi yang bertentangan dan lebih menyukai informasi yang mendukung posisi pribadi mereka. Orang menghasilkan dan mengevaluasi bukti dalam argumen yang bias terhadap kepercayaan dan opini mereka sendiri. Tingkat kepercayaan diri yang meningkat mengurangi preferensi terhadap informasi yang mendukung kepercayaan pribadi individu.

Eksperimen lain memberi partisipan tugas penemuan aturan yang kompleks yang melibatkan objek bergerak yang disimulasikan oleh komputer. Objek di layar komputer mengikuti hukum tertentu, yang harus dipecahkan oleh partisipan. Jadi, partisipan dapat "menembakkan" objek melintasi layar untuk menguji hipotesis mereka. Meskipun telah melakukan banyak upaya selama sesi sepuluh jam, tidak ada satu pun partisipan yang berhasil mengetahui aturan sistem tersebut. Mereka biasanya mencoba mengonfirmasi alih-alih menyangkal hipotesis mereka, dan enggan mempertimbangkan alternatif. Bahkan setelah melihat bukti objektif yang menyangkal hipotesis kerja mereka, mereka sering kali terus melakukan pengujian yang sama. Beberapa partisipan diajarkan cara pengujian hipotesis yang benar, tetapi instruksi ini hampir tidak memberikan efek apa pun.

Penafsiran informasi yang bias

Bias konfirmasi tidak terbatas pada pengumpulan bukti semata. Bahkan jika dua individu memiliki informasi yang sama, cara mereka menafsirkannya dapat menjadi bias.

Sebuah tim di Universitas Stanford melakukan eksperimen yang melibatkan para partisipan yang memiliki sikap kuat terhadap hukuman mati, dengan setengahnya mendukung dan setengahnya lagi menolak. Setiap partisipan membaca deskripsi dari dua penelitian: perbandingan antara negara-negara bagian AS yang menerapkan dan tidak menerapkan hukuman mati, serta perbandingan tingkat pembunuhan di suatu negara bagian sebelum dan sesudah diberlakukannya hukuman mati. Setelah membaca deskripsi singkat dari masing-masing penelitian, para partisipan ditanya apakah pendapat mereka telah berubah. Kemudian, mereka membaca laporan yang lebih rinci mengenai prosedur masing-masing penelitian dan diminta menilai apakah penelitian tersebut dilakukan dengan baik dan meyakinkan. Faktanya, penelitian-penelitian tersebut adalah fiktif. Setengah dari partisipan diberi tahu bahwa salah satu jenis penelitian mendukung efek jera dan penelitian lainnya melemahkan efek tersebut, sementara bagi partisipan lainnya, kesimpulan tersebut ditukar.

Para partisipan, baik yang mendukung maupun yang menolak, melaporkan bahwa sikap mereka sedikit bergeser mengikuti arah penelitian pertama yang mereka baca. Begitu mereka membaca deskripsi yang lebih rinci dari kedua penelitian tersebut, hampir semuanya kembali ke keyakinan awal mereka tanpa memedulikan bukti yang diberikan, sembari menunjukkan detail yang mendukung sudut pandang mereka dan mengabaikan hal-hal yang bertentangan. Para partisipan menggambarkan penelitian yang mendukung pandangan awal mereka sebagai penelitian yang lebih unggul daripada penelitian yang menyangkalnya, dengan cara yang rinci dan spesifik. Ketika menulis tentang sebuah penelitian yang tampaknya melemahkan efek jera, seorang pendukung hukuman mati menulis, "Penelitian ini tidak mencakup jangka waktu yang cukup lama," sementara komentar seorang penentang terhadap penelitian yang sama menyatakan, "Tidak ada bukti kuat yang diajukan untuk menyanggah para peneliti." Hasil ini mengilustrasikan bahwa orang menetapkan standar bukti yang lebih tinggi untuk hipotesis yang bertentangan dengan ekspektasi mereka saat ini. Efek ini, yang dikenal sebagai "bias diskonfirmasi", telah didukung oleh eksperimen lainnya.

Studi lain mengenai penafsiran yang bias terjadi selama pemilihan presiden AS tahun 2004 dan melibatkan para partisipan yang mengaku memiliki perasaan kuat terhadap para kandidat. Mereka diperlihatkan pasangan pernyataan yang tampak kontradiktif, baik dari kandidat Republik George W. Bush, kandidat Demokrat John Kerry, atau tokoh publik yang netral secara politik. Mereka juga diberikan pernyataan tambahan yang membuat kontradiksi yang tampak tersebut menjadi masuk akal. Dari ketiga bagian informasi ini, mereka harus memutuskan apakah pernyataan masing-masing individu tidak konsisten. Terdapat perbedaan yang kuat dalam evaluasi ini, di mana para partisipan jauh lebih cenderung menafsirkan pernyataan dari kandidat yang mereka tentang sebagai pernyataan yang kontradiktif.


Dalam eksperimen ini, para partisipan membuat penilaian saat berada di dalam alat pemindai pencitraan resonansi magnetik (MRI) yang memantau aktivitas otak mereka. Ketika para partisipan mengevaluasi pernyataan kontradiktif dari kandidat yang mereka sukai, pusat-pusat emosi di otak mereka menjadi aktif. Hal ini tidak terjadi pada pernyataan dari tokoh-tokoh lainnya. Para eksperimenter menyimpulkan bahwa respons yang berbeda terhadap pernyataan-pernyataan tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan penalaran yang pasif. Sebaliknya, para partisipan secara aktif mengurangi disonansi kognitif yang dipicu oleh membaca tentang perilaku kandidat favorit mereka yang tidak rasional atau munafik.

Bias dalam penafsiran kepercayaan bersifat persisten, terlepas dari tingkat kecerdasan seseorang. Para partisipan dalam suatu eksperimen mengikuti ujian SAT (tes penerimaan perguruan tinggi yang digunakan di Amerika Serikat) untuk menilai tingkat kecerdasan mereka. Mereka kemudian membaca informasi mengenai masalah keselamatan kendaraan, dan para eksperimenter memanipulasi negara asal mobil tersebut. Partisipan asal Amerika memberikan pendapat mereka tentang apakah mobil tersebut harus dilarang menggunakan skala enam poin, di mana angka satu menunjukkan "pasti ya" dan angka enam menunjukkan "pasti tidak". Para partisipan pertama-tama mengevaluasi apakah mereka akan mengizinkan mobil Jerman yang berbahaya di jalanan Amerika dan mobil Amerika yang berbahaya di jalanan Jerman. Para partisipan berpendapat bahwa mobil Jerman yang berbahaya di jalanan Amerika harus dilarang lebih cepat daripada mobil Amerika yang berbahaya di jalanan Jerman. Tidak ada perbedaan di antara tingkat kecerdasan dalam hal seberapa cepat partisipan akan melarang suatu mobil.

Penafsiran yang bias tidak terbatas pada topik yang signifikan secara emosional saja. Dalam eksperimen lain, para partisipan diberi tahu sebuah cerita tentang pencurian. Mereka harus menilai seberapa penting nilai pembuktian dari pernyataan-pernyataan yang mendukung atau menentang tanggung jawab karakter tertentu. Ketika mereka membuat hipotesis bahwa karakter tersebut bersalah, mereka menilai pernyataan yang mendukung hipotesis tersebut lebih penting daripada pernyataan yang bertentangan.

Pengingatan kembali informasi yang bias

Orang mungkin mengingat bukti secara selektif untuk memperkuat ekspektasi mereka, bahkan jika mereka mengumpulkan dan menafsirkan bukti tersebut dengan cara yang netral. Efek ini disebut "mengingat kembali secara selektif", "memori konfirmatori", atau "memori bias akses". Teori-teori psikologi berbeda dalam prediksinya mengenai ingatan selektif. Teori skema memprediksi bahwa informasi yang cocok dengan ekspektasi sebelumnya akan lebih mudah disimpan dan diingat kembali daripada informasi yang tidak cocok. Beberapa pendekatan alternatif menyatakan bahwa informasi yang mengejutkan akan lebih menonjol sehingga lebih mudah diingat. Prediksi dari kedua teori ini telah dikonfirmasi dalam konteks eksperimental yang berbeda, tanpa ada satu teori pun yang menang mutlak.

Dalam salah satu studi, para partisipan membaca profil seorang wanita yang menggambarkan campuran perilaku introver dan ekstrover. Mereka kemudian harus mengingat kembali contoh-contoh introversi dan ekstroversi wanita tersebut. Satu kelompok diberitahu bahwa hal ini bertujuan untuk menilai wanita tersebut untuk pekerjaan sebagai pustakawan, sementara kelompok kedua diberitahu bahwa hal ini untuk pekerjaan di bidang penjualan real estat. Terdapat perbedaan signifikan antara apa yang diingat oleh kedua kelompok ini, dengan kelompok "pustakawan" mengingat lebih banyak contoh introversi dan kelompok "penjualan" mengingat lebih banyak perilaku ekstrover. Efek memori selektif juga telah ditunjukkan dalam eksperimen yang memanipulasi daya tarik dari tipe-tipe kepribadian. Di salah satu eksperimen ini, sekelompok partisipan diperlihatkan bukti bahwa orang ekstrover lebih sukses daripada orang introver. Kelompok lain diberitahu sebaliknya. Dalam studi berikutnya yang tampaknya tidak berhubungan, para partisipan diminta untuk mengingat kembali peristiwa dari kehidupan mereka di mana mereka bersikap introver atau ekstrover. Setiap kelompok partisipan memberikan lebih banyak ingatan yang menghubungkan diri mereka dengan tipe kepribadian yang lebih diinginkan, dan mengingat ingatan tersebut dengan lebih cepat.

Perubahan dalam keadaan emosional juga dapat memengaruhi pengingatan kembali memori. Para partisipan menilai bagaimana perasaan mereka ketika pertama kali mengetahui bahwa O. J. Simpson telah dibebaskan dari tuduhan pembunuhan. Mereka menggambarkan reaksi emosional dan keyakinan mereka mengenai putusan tersebut satu minggu, dua bulan, dan satu tahun setelah persidangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian partisipan terhadap kesalahan Simpson berubah seiring berjalannya waktu. Semakin banyak pendapat partisipan tentang putusan tersebut yang berubah, semakin tidak stabil memori partisipan mengenai reaksi emosional awal mereka. Ketika para partisipan mengingat kembali reaksi emosional awal mereka dua bulan dan satu tahun kemudian, penilaian masa lalu sangat mirip dengan penilaian emosi saat ini. Orang-orang menunjukkan bias pihak sendiri yang cukup besar ketika mendiskusikan pendapat mereka tentang topik kontroversial. Pengingatan kembali memori dan konstruksi pengalaman mengalami revisi sehubungan dengan keadaan emosional yang bersesuaian.

Bias pihak sendiri telah terbukti memengaruhi keakuratan pengingatan kembali memori. Dalam sebuah eksperimen, para janda dan duda menilai intensitas kesedihan yang mereka alami enam bulan dan lima tahun setelah kematian pasangan mereka. Para partisipan mencatat pengalaman kesedihan yang lebih tinggi pada enam bulan daripada lima tahun. Namun, ketika para partisipan ditanya setelah lima tahun tentang bagaimana perasaan mereka enam bulan setelah kematian pasangan mereka, intensitas kesedihan yang diingat oleh partisipan sangat berkorelasi dengan tingkat kesedihan mereka saat ini. Individu tampaknya memanfaatkan keadaan emosional mereka saat ini untuk menganalisis bagaimana perasaan mereka ketika mengalami peristiwa masa lalu. Memori emosional direkonstruksi oleh keadaan emosional saat ini.

Salah satu studi menunjukkan bagaimana memori selektif dapat mempertahankan kepercayaan pada persepsi ekstrasensoris (extrasensory perception: ESP). Orang yang percaya dan yang tidak percaya masing-masing diperlihatkan deskripsi eksperimen ESP. Setengah dari masing-masing kelompok diberitahu bahwa hasil eksperimen mendukung keberadaan ESP, sedangkan yang lain diberitahu bahwa hasil tersebut tidak mendukungnya. Dalam tes berikutnya, para partisipan mengingat materi tersebut secara akurat, kecuali bagi orang-orang percaya yang telah membaca bukti yang tidak mendukung. Kelompok ini mengingat informasi yang jauh lebih sedikit dan beberapa dari mereka secara keliru mengingat hasilnya sebagai pendukung ESP.

Perbedaan individu

Bias pihak sendiri dulunya diyakini berkorelasi dengan kecerdasan; namun, berbagai studi menunjukkan bahwa bias pihak sendiri dapat lebih dipengaruhi oleh kemampuan berpikir rasional daripada tingkat kecerdasan. Bias pihak sendiri dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk mengevaluasi sisi berlawanan dari suatu argumen secara efektif dan logis. Sejumlah studi menyatakan bahwa bias pihak sendiri merupakan bentuk dari tidak adanya "keterbukaan pikiran yang aktif", yang berarti pencarian aktif mengenai mengapa suatu gagasan awal mungkin keliru. Biasanya, bias pihak sendiri dioperasionalkan dalam studi empiris sebagai jumlah bukti yang digunakan untuk mendukung pihak mereka dibandingkan dengan pihak yang berlawanan.

Sebuah studi menemukan adanya perbedaan individu dalam bias pihak sendiri. Studi ini menyelidiki perbedaan individu yang diperoleh melalui pembelajaran dalam konteks budaya dan bersifat dapat diubah. Peneliti menemukan perbedaan individu yang penting dalam argumentasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa perbedaan individu seperti kemampuan penalaran deduktif, kemampuan mengatasi bias kepercayaan, pemahaman epistemologis, dan disposisi berpikir merupakan prediktor signifikan dari penalaran serta pembuatan argumen, argumen tandingan, dan sanggahan.

Sebuah studi oleh Christopher Wolfe dan Anne Britt juga menyelidiki bagaimana pandangan partisipan tentang "apa yang membuat suatu argumen menjadi baik?" dapat menjadi sumber bias pihak sendiri yang memengaruhi cara seseorang merumuskan argumen mereka sendiri. Studi tersebut menyelidiki perbedaan individu dalam skema argumentasi dan meminta para partisipan untuk menulis esai. Para partisipan secara acak ditugaskan untuk menulis esai yang mendukung atau menentang pihak argumen yang mereka sukai, serta diberi instruksi penelitian yang menggunakan pendekatan seimbang atau bebas tidak dibatasi. Instruksi penelitian seimbang mengarahkan partisipan untuk membuat argumen yang "seimbang", yaitu mencakup pro dan kontra; sedangkan instruksi penelitian bebas tidak memuat arahan apa pun mengenai cara membuat argumen tersebut.

Secara keseluruhan, hasil penelitian mengungkapkan bahwa instruksi penelitian seimbang secara signifikan meningkatkan kemunculan informasi yang berlawanan dalam argumen. Data ini juga mengungkapkan bahwa kepercayaan pribadi bukanlah sumber dari bias pihak sendiri; melainkan, para partisipan yang percaya bahwa argumen yang baik adalah argumen yang didasarkan pada fakta justru lebih cenderung menunjukkan bias pihak sendiri dibandingkan partisipan lainnya. Bukti ini konsisten dengan klaim yang diajukan dalam artikel Baron—bahwa opini orang tentang apa yang membentuk pemikiran yang baik dapat memengaruhi bagaimana argumen dibuat.

Penemuan

Pengamatan informal

Sebelum adanya penelitian psikologis mengenai bias konfirmasi, fenomena ini telah diamati sepanjang sejarah. Dimulai dari sejarawan Yunani Thukidides ( – ), yang menulis tentang penalaran yang keliru dalam The Peloponnesian War; "... sebab sudah menjadi kebiasaan manusia untuk mempercayakan apa yang mereka dambakan pada harapan yang ceroboh, dan menggunakan penalaran utama untuk menyingkirkan apa yang tidak mereka sukai". Penyantar Italia Dante Alighieri (1265–1321) mencatatnya dalam Divina Commedia, di mana Santo Thomas Aquinas memperingatkan Dante saat bertemu di Paradiso, "pendapat—yang tergesa-gesa—sering kali dapat condong ke arah yang salah, dan kemudian kecintaan pada pendapat sendiri akan mengikat dan mengurung pikiran". Ibnu Khaldun menyadari efek yang sama dalam Muqaddimah-nya:

Dalam Novum Organum, filsuf dan ilmuwan Inggris Francis Bacon (1561–1626) mencatat bahwa penilaian bukti yang bias mendorong timbulnya "semua takhayul, baik dalam astrologi, mimpi, pertanda, penghakiman ilahi, atau sejenisnya". Ia menulis:

Dalam volume kedua dari karyanya The World as Will and Representation (1844), filsuf Jerman Arthur Schopenhauer mengamati bahwa "Hipotesis yang diadopsi memberi kita mata yang sangat tajam untuk segala hal yang mengonfirmasinya dan membuat kita buta terhadap segala hal yang bertentangan dengannya."

Dalam esainya (1897) What Is Art?, novelis Rusia Leo Tolstoy menulis:

Dalam esainya (1894) The Kingdom of God Is Within You, Tolstoy sebelumnya telah menulis:


Penjelasan pengujian hipotesis (falsifikasi) (Wason)

Dalam eksperimen awal Peter Wason yang diterbitkan pada tahun 1960 (yang tidak menyebutkan istilah "bias konfirmasi"), ia berulang kali menantang para partisipan untuk mengidentifikasi aturan yang berlaku pada tiga rangkaian angka (triplet). Mereka diberi tahu bahwa (2,4,6) memenuhi aturan tersebut. Partisipan kemudian menyusun triplet mereka sendiri, dan eksperimenter memberi tahu mereka apakah setiap triplet tersebut sesuai dengan aturan atau tidak.

Aturan sebenarnya hanyalah "urutan naik apa pun", tetapi para partisipan mengalami kesulitan besar untuk menemukannya. Mereka sering kali menyatakan aturan yang jauh lebih spesifik, seperti "angka di tengah adalah rata-rata dari angka pertama dan terakhir". Para partisipan tampaknya hanya menguji contoh-contoh positif—triplet yang mematuhi hipotesis aturan mereka. Sebagai contoh, jika mereka mengira aturannya adalah "Setiap angka bernilai dua lebih besar dari angka sebelumnya," mereka akan memberikan triplet yang memenuhi (mengonfirmasi) aturan ini, seperti (11,13,15), alih-alih triplet yang melanggar (menyanggah) aturan tersebut, seperti (11,12,19).

Wason menafsirkan hasil ini sebagai bentuk preferensi terhadap konfirmasi daripada falsifikasi, sehingga ia mencetuskan istilah "bias konfirmasi". Wason juga menggunakan bias konfirmasi untuk menjelaskan hasil eksperimen tugas seleksi miliknya. Partisipan berulang kali menunjukkan kinerja yang buruk pada berbagai bentuk tes ini, di mana dalam sebagian besar kasus mereka mengabaikan informasi yang berpotensi menyangkal (memfalsifikasi) aturan yang ditentukan.

Penjelasan pengujian hipotesis (strategi pengujian positif) (Klayman dan Ha)

Makalah Klayman dan Ha tahun 1987 berargumen bahwa eksperimen Wason sebenarnya tidak menunjukkan bias terhadap konfirmasi, melainkan kecenderungan untuk melakukan pengujian yang konsisten dengan hipotesis kerja. Mereka menyebut hal ini sebagai "strategi pengujian positif". Strategi ini merupakan salah satu contoh dari heuristik: jalan pintas penalaran yang tidak sempurna tetapi mudah dijalankan. Klayman dan Ha menggunakan probabilitas Bayesian dan teori informasi sebagai standar pengujian hipotesis mereka, alih-alih falsifikasionisme yang digunakan oleh Wason. Menurut gagasan ini, setiap jawaban atas suatu pertanyaan menghasilkan jumlah informasi yang berbeda, yang bergantung pada kepercayaan awal seseorang. Oleh karena itu, pengujian ilmiah terhadap suatu hipotesis adalah pengujian yang diharapkan menghasilkan informasi paling banyak. Karena kandungan informasi bergantung pada probabilitas awal, pengujian positif bisa jadi sangat informatif atau justru tidak informatif sama sekali. Klayman dan Ha berargumen bahwa ketika orang memikirkan masalah yang realistis, mereka mencari jawaban spesifik dengan probabilitas awal yang kecil. Dalam kasus ini, pengujian positif biasanya lebih informatif daripada pengujian negatif. Namun, dalam tugas penemuan aturan Wason, jawabannya—tiga angka dalam urutan naik—sangatlah luas, sehingga pengujian positif kecil kemungkinannya menghasilkan jawaban yang informatif. Klayman dan Ha mendukung analisis mereka dengan mengutip sebuah eksperimen yang menggunakan label "DAX" dan "MED" sebagai pengganti dari "memenuhi aturan" dan "tidak memenuhi aturan". Hal ini menghindari kesan bahwa tujuannya adalah untuk menemukan aturan dengan probabilitas rendah. Partisipan jauh lebih sukses dalam versi eksperimen ini.


Mengingat kritik ini dan kritik lainnya, fokus penelitian bergeser dari konfirmasi versus falsifikasi suatu hipotesis, menjadi memeriksa apakah orang menguji hipotesis dengan cara yang informatif, atau dengan cara yang tidak informatif tetapi positif. Pencarian akan bias konfirmasi yang "sebenarnya" mendorong para psikolog untuk melihat spektrum efek yang lebih luas dalam cara manusia memproses informasi.

Penjelasan pemrosesan informasi

Saat ini terdapat tiga penjelasan utama pemrosesan informasi mengenai bias konfirmasi, ditambah dengan satu tambahan baru-baru ini.

Kognitif versus motivasional

Menurut Robert MacCoun, sebagian besar pemrosesan bukti yang bias terjadi melalui kombinasi mekanisme "dingin" (kognitif) dan "panas" (motivasional).

Penjelasan kognitif untuk bias konfirmasi didasarkan pada keterbatasan kemampuan manusia dalam menangani tugas-tugas kompleks, serta jalan pintas yang mereka gunakan, yang disebut heuristik. Sebagai contoh, orang mungkin menilai keandalan suatu bukti dengan menggunakan heuristik ketersediaan, yaitu seberapa mudah suatu gagasan tertentu muncul dalam pikiran. Ada kemungkinan juga bahwa orang hanya dapat fokus pada satu pemikiran dalam satu waktu, sehingga merasa sulit untuk menguji hipotesis alternatif secara paralel. Heuristik lainnya adalah strategi pengujian positif yang diidentifikasi oleh Klayman dan Ha, di mana orang menguji suatu hipotesis dengan memeriksa kasus-kasus di mana mereka memperkirakan suatu sifat atau peristiwa akan terjadi. Heuristik ini menghindari tugas yang sulit atau mustahil untuk mengukur seberapa diagnostik setiap pertanyaan yang mungkin diajukan. Namun, strategi ini tidak selalu dapat diandalkan secara universal, sehingga orang dapat melewatkan sanggahan terhadap kepercayaan yang mereka miliki.

Penjelasan motivasional melibatkan efek keinginan terhadap kepercayaan. Diketahui bahwa orang lebih menyukai pemikiran positif daripada pemikiran negatif dalam beberapa cara: hal ini disebut "prinsip Pollyanna". Jika diterapkan pada argumen atau sumber bukti, hal ini dapat menjelaskan mengapa kesimpulan yang diinginkan cenderung lebih dipercaya sebagai kebenaran. Menurut eksperimen yang memanipulasi daya tarik dari suatu kesimpulan, orang menuntut standar bukti yang tinggi untuk gagasan yang tidak menyenangkan dan standar yang rendah untuk gagasan yang disukai. Dengan kata lain, mereka mengajukan pertanyaan "Bisakah saya memercayai ini?" untuk beberapa saran dan "Haruskah saya memercayai ini?" untuk saran yang lain. Meskipun konsistensi adalah fitur sikap yang diinginkan, dorongan berlebihan untuk konsisten merupakan sumber bias potensial lainnya karena dapat mencegah orang mengevaluasi informasi baru yang mengejutkan secara netral. Psikolog sosial Ziva Kunda menggabungkan teori kognitif dan motivasional, dengan berargumen bahwa motivasi menciptakan bias, tetapi faktor kognitif menentukan besarnya efek tersebut.

Biaya-manfaat

Penjelasan dalam bentuk analisis biaya-manfaat mengasumsikan bahwa orang tidak hanya menguji hipotesis dengan cara yang tidak memihak, tetapi juga menilai biaya dari kesalahan yang berbeda. Dengan menggunakan gagasan dari psikologi evolusioner, James Friedrich menyarankan bahwa orang tidak mengutamakan kebenaran saat menguji hipotesis, melainkan mencoba menghindari kesalahan yang paling merugikan. Sebagai contoh, pemberi kerja mungkin mengajukan pertanyaan sepihak dalam wawancara kerja karena mereka fokus untuk menyaring kandidat yang tidak cocok. Penyempurnaan teori ini oleh Yaacov Trope dan Akiva Liberman mengasumsikan bahwa orang membandingkan dua jenis kesalahan yang berbeda: menerima hipotesis yang salah atau menolak hipotesis yang benar. Umpamanya, seseorang yang meremehkan kejujuran seorang teman mungkin akan memperlakukannya dengan curiga sehingga merusak persahabatan tersebut. Menilai kejujuran teman secara berlebihan juga bisa merugikan, tetapi tidak separah itu. Dalam kasus ini, adalah hal yang rasional untuk mencari, mengevaluasi, atau mengingat bukti kejujuran mereka secara bias. Ketika seseorang memberikan kesan awal sebagai seorang introver atau ekstrover, pertanyaan yang cocok dengan kesan tersebut akan terasa lebih empatik. Hal ini menunjukkan bahwa ketika berbicara dengan seseorang yang tampak introver, merupakan tanda keterampilan sosial yang lebih baik untuk bertanya, "Apakah Anda merasa canggung dalam situasi sosial?" daripada bertanya, "Apakah Anda menyukai pesta yang bising?" Hubungan antara bias konfirmasi dan keterampilan sosial ini dikukuhkan oleh sebuah studi tentang bagaimana mahasiswa saling mengenal satu sama lain. Mahasiswa dengan tingkat pemantauan diri yang tinggi, yang lebih sensitif terhadap lingkungan dan norma sosial mereka, mengajukan lebih banyak pertanyaan yang cocok ketika mewawancarai anggota staf berstatus tinggi dibandingkan saat mengenal sesama mahasiswa.

Eksploratif versus konfirmatori

Psikolog Jennifer Lerner dan Philip Tetlock membedakan dua jenis proses berpikir. Pemikiran eksploratif mempertimbangkan berbagai sudut pandang secara netral dan mencoba mengantisipasi semua sanggahan yang mungkin muncul terhadap suatu posisi tertentu, sedangkan pemikiran konfirmatori berusaha membenarkan sudut pandang yang spesifik. Lerner dan Tetlock menyatakan bahwa ketika seseorang berniat untuk membenarkan posisi mereka kepada orang lain yang pandangannya sudah mereka ketahui, mereka akan cenderung mengambil posisi yang serupa dengan orang-orang tersebut, lalu menggunakan pemikiran konfirmatori untuk memperkuat kredibilitas mereka sendiri. Namun, jika pihak luar tersebut terlalu agresif atau kritis, orang akan melepaskan diri dari proses berpikir sama sekali, dan hanya menegaskan opini pribadi mereka tanpa memberikan pembenaran. Lerner dan Tetlock mengatakan bahwa orang hanya mendorong diri mereka sendiri untuk berpikir secara kritis dan logis ketika mereka mengetahui sebelumnya bahwa mereka perlu menjelaskan diri kepada orang lain yang berwawasan luas, tulus tertarik pada kebenaran, dan belum mereka ketahui pandangannya. Karena kondisi tersebut jarang terjadi, mereka berargumen bahwa sebagian besar orang menggunakan pemikiran konfirmatori hampir sepanjang waktu.

Pura-pura

Psikolog perkembangan Eve Whitmore berpendapat bahwa kepercayaan dan bias yang terlibat dalam bias konfirmasi berakar pada mekanisme koping masa kanak-kanak melalui permainan pura-pura, yang menjadi "dasar bagi bentuk-bentuk penipuan diri dan ilusi yang lebih kompleks hingga masa dewasa." Friksi yang dipicu oleh sikap mempertanyakan sesuatu saat beranjak remaja seiring dengan pemikiran kritis yang sedang berkembang dapat mengarah pada rasionalisasi kepercayaan yang salah, dan kebiasaan rasionalisasi tersebut dapat menjadi tidak disadari selama bertahun-tahun.

Perolehan informasi yang optimal

Penelitian terbaru dalam bidang ekonomi telah menyanggah pandangan tradisional mengenai bias konfirmasi yang murni dianggap sebagai cacat kognitif. Dalam kondisi di mana perolehan dan pemrosesan informasi membutuhkan biaya yang besar, pencarian bukti yang mengonfirmasi sebenarnya dapat menjadi strategi yang optimal. Alih-alih mengejar bukti yang bertentangan atau menyangkal, memfokuskan perhatian pada sumber-sumber yang kemungkinan besar selaras dengan kepercayaan yang ada bisa jadi lebih efisien, mengingat keterbatasan waktu dan sumber daya.

Ekonom Weijie Zhong telah mengembangkan sebuah model yang menunjukkan bahwa individu yang harus membuat keputusan di bawah tekanan waktu, dan menghadapi biaya untuk memperoleh lebih banyak informasi, akan sering kali lebih menyukai sinyal konfirmatori. Menurut model ini, ketika seseorang sangat memercayai suatu hipotesis tertentu, mereka secara optimal mencari informasi yang mengonfirmasinya, sehingga memungkinkan mereka untuk membangun keyakinan dengan lebih efisien. Jika sinyal konfirmatori yang diharapkan tidak diterima, keyakinan mereka terhadap hipotesis awal lambat laun akan menurun, yang mengarah pada pembaruan kepercayaan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pencarian konfirmasi tidak selalu bersifat bias, melainkan dapat berupa alokasi perhatian dan sumber daya yang terbatas secara rasional.

Efek di dunia nyata

Media sosial

Di media sosial, bias konfirmasi diperkuat oleh penggunaan gelembung filter dan ruang gema (atau "penyuntingan algoritmik"), yang hanya menampilkan informasi yang kemungkinan besar disetujui oleh individu tersebut, sekaligus mengecualikan pandangan yang berlawanan. Beberapa pihak berpendapat bahwa bias konfirmasi adalah alasan mengapa masyarakat tidak pernah bisa lepas dari gelembung filter, karena individu secara psikologis terprogram untuk mencari informasi yang sesuai dengan nilai-nilai dan kepercayaan mereka yang sudah ada sebelumnya. Pihak lain lebih lanjut berargumen bahwa perpaduan keduanya mendegradasi demokrasi—mengklaim bahwa "penyuntingan algoritmik" ini menghilangkan beragam sudut pandang dan informasi—dan jika algoritma gelembung filter tidak dihapus, pemilih tidak akan dapat membuat keputusan politik yang sepenuhnya terinformasi.

Kebangkitan media sosial telah berkontribusi besar terhadap penyebaran cepat berita bohong, yaitu informasi palsu dan menyesatkan yang disajikan sebagai berita kredibel dari sumber yang tampaknya tepercaya. Bias konfirmasi (memilih atau menafsirkan ulang bukti untuk mendukung kepercayaan seseorang) adalah salah satu dari tiga hambatan utama yang disebut sebagai alasan mengapa pemikiran kritis menyimpang dalam situasi tersebut. Dua hambatan lainnya adalah heuristik jalan pintas (ketika merasa kewalahan atau kekurangan waktu, orang mengandalkan aturan sederhana seperti konsensus kelompok atau memercayai seorang pakar atau panutan) dan tujuan sosial (motivasi sosial atau tekanan teman sebaya dapat mengganggu analisis objektif terhadap fakta yang ada).

Dalam memerangi penyebaran berita bohong, situs media sosial telah mempertimbangkan untuk beralih ke digital nudging (dorongan digital). Saat ini hal tersebut dapat dilakukan dalam dua bentuk dorongan yang berbeda, yang meliputi dorongan informasi dan dorongan presentasi. Dorongan informasi melibatkan situs media sosial yang menyediakan penafian atau label yang mempertanyakan atau memperingatkan pengguna tentang validitas sumber, sedangkan dorongan presentasi mencakup memaparkan pengguna pada informasi baru yang mungkin tidak mereka cari tetapi dapat mengenalkan mereka pada sudut pandang yang dapat melawan bias konfirmasi mereka sendiri.

Sains dan penelitian ilmiah

Fitur pembeda dari pemikiran ilmiah adalah pencarian bukti yang mengonfirmasi atau mendukung (penalaran induktif) sekaligus bukti yang menyangkal (penalaran deduktif Lots).

Sering kali dalam sejarah sains, para ilmuwan menolak penemuan-penemuan baru dengan menafsirkan secara selektif atau mengabaikan data yang tidak mendukung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa para ilmuwan menilai penelitian yang melaporkan temuan konsisten dengan kepercayaan awal mereka secara lebih positif dibandingkan penelitian yang melaporkan temuan yang tidak konsisten dengan kepercayaan mereka sebelumnya.

Namun, dengan asumsi bahwa pertanyaan penelitian tersebut relevan, desain eksperimennya memadai, serta datanya dijelaskan secara jelas dan komprehensif, data empiris yang diperoleh seharusnya penting bagi komunitas ilmiah dan tidak boleh dipandang secara berprasangka, terlepas dari apakah data tersebut sesuai dengan prediksi teoretis saat ini atau tidak. Dalam praktiknya, para peneliti mungkin salah memahami, salah menafsirkan, atau sama sekali tidak membaca penelitian yang bertentangan dengan prasangka mereka, atau tetap saja salah mengutipnya seolah-olah penelitian tersebut benar-benar mendukung klaim mereka.

Lebih jauh lagi, bias konfirmasi dapat mempertahankan teori ilmiah atau program penelitian meskipun dihadapkan pada bukti yang tidak memadai atau bahkan kontradiktif. Disiplin ilmu parapsikologi sering kali dikutip sebagai salah satu contohnya.

Bias konfirmasi dari seorang eksperimenter berpotensi memengaruhi data mana yang dilaporkan. Data yang bertentangan dengan ekspektasi eksperimenter mungkin lebih mudah dibuang karena dianggap tidak andal, sehingga menghasilkan apa yang disebut efek laci file. Untuk melawan kecenderungan ini, pelatihan ilmiah mengajarkan cara-cara untuk mencegah bias. Sebagai contoh, desain eksperimental dari uji terkontrol acak (yang dipadukan dengan tinjauan sistematis-nya) bertujuan untuk meminimalkan sumber-sumber bias.

Proses sosial dari tinjauan sejawat bertujuan untuk memitigasi efek dari bias ilmuwan secara individu, meskipun proses tinjauan sejawat itu sendiri mungkin rentan terhadap bias semacam itu. Oleh karena itu, bias konfirmasi dapat sangat merugikan bagi evaluasi objektif mengenai hasil yang tidak sesuai, karena individu yang bias mungkin menganggap bukti yang berlawanan pada prinsipnya lemah dan kurang memikirkan secara serius untuk merevisi kepercayaan mereka. Inovator ilmiah sering kali menghadapi penolakan dari komunitas ilmiah, dan penelitian yang menyajikan hasil kontroversial kerap menerima tinjauan sejawat yang tajam.

Keuangan

Bias konfirmasi dapat menyebabkan investor menjadi terlalu percaya diri, mengabaikan bukti bahwa strategi mereka akan mendatangkan kerugian. Dalam studi mengenai pasar saham politik, investor memperoleh lebih banyak keuntungan ketika mereka mampu melawan bias. Sebagai contoh, partisipan yang menafsirkan performa debat seorang kandidat secara netral alih-alih partisan memiliki kemungkinan lebih besar untuk meraup untung. Untuk melawan efek bias konfirmasi, investor dapat mencoba mengambil sudut pandang yang berlawanan "demi argumen". Dalam salah satu teknik, mereka membayangkan bahwa investasi mereka telah hancur dan bertanya pada diri sendiri mengapa hal itu bisa terjadi.

Kedokteran dan kesehatan

Bias kognitif merupakan variabel penting dalam pengambilan keputusan klinis oleh dokter umum dan dokter spesialis. Dua bias yang penting di antaranya adalah bias konfirmasi dan bias ketersediaan yang saling tumpang tindih. Seorang dokter umum mungkin membuat diagnosis di awal pemeriksaan, lalu mencari bukti yang mengonfirmasi alih-alih bukti yang menyangkal. Kesalahan kognitif ini sebagian disebabkan oleh ketersediaan bukti mengenai gangguan yang diduga sedang didiagnosis tersebut. Sebagai contoh, pasien mungkin telah menyebutkan gangguan tersebut, atau dokter umum tersebut baru saja membaca makalah yang banyak didiskusikan tentang gangguan tersebut. Dasar dari jalan pintas kognitif atau heuristik ini (yang disebut penambatan atau *anchoring*) adalah bahwa dokter tidak mempertimbangkan berbagai kemungkinan berdasarkan bukti, melainkan secara prematur terpaku (atau menambatkan diri) pada satu penyebab saja. Dalam kedokteran darurat, karena adanya tekanan waktu, terdapat kepadatan pengambilan keputusan yang tinggi, dan jalan pintas sering kali diterapkan. Tingkat kegagalan potensial dari keputusan kognitif ini perlu dikelola melalui edukasi mengenai 30 atau lebih bias kognitif yang dapat terjadi, sehingga dapat menerapkan strategi pengurangan bias (*debiasing*) yang tepat. Bias konfirmasi juga dapat menyebabkan dokter melakukan prosedur medis yang tidak perlu akibat tekanan dari pasien yang bersikeras.

Gangguan mental mungkin rentan terhadap salah diagnosis karena didasarkan pada pengamatan dan pelaporan mandiri alih-alih pengujian objektif. Bias konfirmasi dapat berperan ketika praktisi bersikeras mempertahankan diagnosis awal.

Raymond Nickerson, seorang psikolog, menyalahkan bias konfirmasi atas prosedur medis tidak efektif yang digunakan selama berabad-abad sebelum kedatangan kedokteran ilmiah. Jika seorang pasien sembuh, otoritas medis menganggap pengobatan tersebut berhasil, alih-alih mencari penjelasan alternatif seperti bahwa penyakit tersebut telah melewati siklus alaminya. Asimilasi yang bias menjadi salah satu faktor dalam daya tarik modern dari pengobatan alternatif, yang para pendukungnya terbuai oleh bukti anekdotal positif tetapi memperlakukan bukti ilmiah secara hiperkritis.

Terapi kognitif dikembangkan oleh Aaron T. Beck pada awal tahun 1960-an dan telah menjadi pendekatan yang populer. Menurut Beck, pemrosesan informasi yang bias merupakan salah satu faktor dalam depresi. Pendekatannya mengajarkan orang untuk memperlakukan bukti secara tidak memihak, alih-alih memperkuat pandangan negatif secara selektif. Fobia dan hipokondria juga terbukti melibatkan bias konfirmasi terhadap informasi yang menganncam.

Politik, hukum, dan kepolisian

Nickerson berargumen bahwa penalaran dalam konteks peradilan dan politik terkadang secara tidak sadar bersifat bias, dengan memihak pada kesimpulan yang telah dipegang oleh hakim, juri, atau pemerintah. Karena bukti-bukti dalam persidangan juri bisa sangat kompleks, dan juri sering kali mengambil keputusan mengenai putusan sejak awal, wajar jika efek polarisasi sikap dapat terjadi. Prediksi bahwa juri akan menjadi lebih ekstrem dalam pandangan mereka seiring dengan semakin banyaknya bukti yang mereka lihat telah terbukti dalam eksperimen dengan peradilan semu. Baik sistem peradilan pidana inkuisitorial maupun adversarial sama-sama dipengaruhi oleh bias konfirmasi.

Bias konfirmasi dapat menjadi faktor dalam memicu atau memperpanjang konflik, mulai dari debat yang bermuatan emosional hingga perang: dengan menafsirkan bukti demi keuntungan mereka sendiri, masing-masing pihak yang berlawanan dapat menjadi terlalu percaya diri bahwa mereka berada di posisi yang lebih kuat. Di sisi lain, bias konfirmasi dapat menyebabkan orang mengabaikan atau salah menafsirkan tanda-tanda konflik yang akan segera terjadi atau baru saja dimulai. Sebagai contoh, psikolog Stuart Sutherland dan Thomas Kida masing-masing berpendapat bahwa Laksamana AL AS Husband E. Kimmel menunjukkan bias konfirmasi ketika meremehkan tanda-tanda pertama dari serangan Jepang di Pearl Harbor.

Sebuah studi selama dua dekade terhadap para pakar politik oleh Philip E. Tetlock menemukan bahwa, secara keseluruhan, prediksi mereka tidak jauh lebih baik daripada tebakan acak. Tetlock membagi para pakar menjadi kelompok "rubah" yang mempertahankan banyak hipotesis, dan kelompok "landak" yang lebih dogmatis. Secara umum, kelompok landak jauh lebih tidak akurat. Tetlock mengambinghitamkan bias konfirmasi atas kegagalan mereka, secara spesifik pada ketidakmampuan mereka untuk memanfaatkan informasi baru yang bertentangan dengan teori-teori mereka yang sudah ada.

Dalam penyelidikan polisi, seorang detektif mungkin mengidentifikasi tersangka di awal penyelidikan, namun kemudian terkadang sebagian besar hanya mencari bukti yang mendukung atau mengonfirmasi, sembari mengabaikan atau meremehkan bukti yang menyangkalnya.

Konsep diri dan harga diri

Psikolog sosial telah mengidentifikasi dua kecenderungan dalam cara orang mencari atau menafsirkan informasi tentang diri mereka sendiri. Verifikasi diri adalah dorongan untuk memperkuat citra diri yang sudah ada dan peningkatan diri adalah dorongan untuk mencari umpan balik positif. Keduanya didukung oleh bias konfirmasi. Dalam berbagai eksperimen di mana orang diberikan umpan balik yang bertentangan dengan citra diri mereka, mereka cenderung kurang memperhatikan atau mengingatnya dibandingkan ketika diberikan umpan balik yang memverifikasi diri. Mereka mengurangi dampak dari informasi tersebut dengan menafsirkannya sebagai informasi yang tidak andal. Eksperimen serupa menemukan adanya preferensi terhadap umpan balik positif, serta orang-orang yang memberikannya, dibandingkan umpan balik negatif.

Delusi massal

Bias konfirmasi dapat memainkan peran kunci dalam penyebaran delusi massal. Pengadilan penyihir sering kali dikutip sebagai salah satu contohnya.

Sebagai contoh lain, dalam epidemi kaca depan berlubang Seattle, tampaknya terdapat suatu "epidemi pelubangan" di mana kaca depan kendaraan rusak akibat penyebab yang tidak diketahui. Seiring menyebarnya berita tentang gelombang kerusakan tersebut, semakin banyak orang memeriksa kaca depan mereka dan menemukan bahwa kaca depan mereka juga telah rusak, sehingga mengonfirmasi kepercayaan pada epidemi yang diduga terjadi tersebut. Padahal, kaca depan tersebut memang sudah rusak sebelumnya, namun kerusakan itu tidak disadari sampai orang-orang memeriksa kaca depan mereka seiring dengan meluasnya delusi tersebut.

Kepercayaan paranormal

Salah satu faktor daya tarik dari pembacaan paranormal yang diduga adalah bahwa pendengar menerapkan bias konfirmasi yang mencocokkan pernyataan paranormal tersebut dengan kehidupan mereka sendiri. Dengan membuat sejumlah besar pernyataan ambigu dalam setiap sesi, paranormal memberi klien lebih banyak kesempatan untuk menemukan kecocokan. Ini adalah salah satu teknik pembacaan dingin, yang dengannya seorang paranormal dapat memberikan pembacaan yang secara subjektif mengesankan tanpa informasi awal apa pun tentang klien. Penyelidik James Randi membandingkan transkrip pembacaan dengan laporan klien tentang apa yang telah dikatakan oleh paranormal, dan menemukan bahwa klien menunjukkan ingatan selektif yang kuat terhadap tebakan yang "tepat".

Sebagai ilustrasi mencolok dari bias konfirmasi di dunia nyata, Nickerson menyebutkan piramidologi numerologis: praktik menemukan makna dalam proporsi piramida Mesir. Ada banyak pengukuran panjang berbeda yang dapat dilakukan, misalnya pada Piramida Agung Giza, dan banyak cara untuk menggabungkan atau memanipulasinya. Oleh karena itu, hampir tidak bisa dihindari bahwa orang yang melihat angka-angka ini secara selektif akan menemukan kecocokan yang di permukaan tampak mengesankan, misalnya dengan dimensi Bumi.

Perekrutan dan seleksi

Bias kognitif yang tidak disadari (termasuk bias konfirmasi) dalam perekrutan kerja dapat memengaruhi keputusan perekrutan dan berpotensi menghalangi lingkungan kerja yang beragam dan inklusif. Terdapat berbagai bias tidak disadari yang dapat memengaruhi keputusan perekrutan, dan bias konfirmasi adalah salah satu yang utama, terutama selama tahap wawancara. Pewawancara mungkin memilih kandidat yang mengonfirmasi kepercayaan mereka sendiri, meskipun kandidat lain memiliki kualifikasi yang setara atau bahkan lebih baik.

Efek dan dampak terkait

Polarisasi opini

Ketika orang-orang dengan pandangan berlawanan menafsirkan informasi baru secara bias, pandangan mereka dapat menjadi semakin menjauh. Hal ini disebut "polarisasi sikap". Efek ini ditunjukkan oleh sebuah eksperimen yang melibatkan pengambilan serangkaian bola merah dan hitam dari salah satu dari dua "keranjang bingo" yang tersembunyi. Para partisipan mengetahui bahwa salah satu keranjang berisi 60 persen bola hitam dan 40 persen bola merah; sedangkan keranjang lainnya berisi 40 persen bola hitam dan 60 persen bola merah. Para eksperimenter mengamati apa yang terjadi ketika bola dengan warna bergantian diambil secara bergiliran, suatu urutan yang tidak memihak keranjang mana pun. Setelah setiap bola diambil, partisipan dalam satu kelompok diminta untuk menyatakan secara lantang penilaian mereka mengenai probabilitas apakah bola tersebut diambil dari salah satu atau keranjang lainnya. Para partisipan ini cenderung menjadi lebih yakin pada setiap pengambilan berturut-turut—terlepas dari apakah mereka awalnya mengira keranjang dengan 60 persen bola hitam atau keranjang dengan 60 persen bola merah yang merupakan sumber yang lebih mungkin, perkiraan probabilitas mereka tetap meningkat. Kelompok partisipan lain diminta untuk menyatakan perkiraan probabilitas hanya pada akhir dari seluruh rangkaian pengambilan bola, alih-alih setelah setiap bola diambil. Mereka tidak menunjukkan efek polarisasi, yang menunjukkan bahwa efek ini tidak selalu terjadi ketika orang sekadar memiliki posisi yang berlawanan, melainkan ketika mereka secara terbuka menyatakan komitmen terhadap posisi tersebut.

Studi yang kurang abstrak adalah eksperimen penafsiran bias Stanford, di mana para partisipan dengan opini kuat mengenai hukuman mati membaca tentang bukti eksperimental yang beragam. Dua puluh tiga persen dari partisipan melaporkan bahwa pandangan mereka menjadi lebih ekstrem, dan pergeseran yang dilaporkan sendiri ini berkorelasi kuat dengan sikap awal mereka. Dalam eksperimen-eksperimen selanjutnya, para partisipan juga melaporkan bahwa opini mereka menjadi lebih ekstrem dalam merespons informasi yang ambigu. Namun, perbandingan sikap mereka sebelum dan sesudah adanya bukti baru menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan, yang mengindikasikan bahwa perubahan yang dilaporkan sendiri tersebut mungkin tidak nyata. Berdasarkan eksperimen-eksperimen ini, Deanna Kuhn dan Joseph Lao menyimpulkan bahwa polarisasi adalah fenomena nyata tetapi jauh dari kata tidak bisa dihindari, hanya terjadi pada sebagian kecil kasus, dan hal ini dipicu tidak hanya karena mempertimbangkan bukti yang beragam, tetapi semata-mata karena memikirkan topik tersebut.

Charles Taber dan Milton Lodge berargumen bahwa hasil tim Stanford sulit untuk direplikasi karena argumen yang digunakan dalam eksperimen-eksperimen selanjutnya terlalu abstrak atau membingungkan untuk membangkitkan respons emosional. Studi Taber dan Lodge menggunakan topik yang bermuatan emosional mengenai kontrol senjata dan tindakan afirmatif. Mereka mengukur sikap para partisipan terhadap isu-isu ini sebelum dan sesudah membaca argumen dari masing-masing pihak yang berdebat. Dua kelompok partisipan menunjukkan polarisasi sikap: mereka yang memiliki opini kuat sebelumnya dan mereka yang berwawasan politik luas. Dalam bagian studi ini, para partisipan memilih sumber informasi mana yang akan dibaca dari daftar yang telah disiapkan oleh para eksperimenter. Sebagai contoh, mereka dapat membaca argumen mengenai kontrol senjata dari Asosiasi Senapan Nasional Amerika dan Koalisi Anti-Pistol Brady. Bahkan ketika diinstruksikan untuk bersikap adil, para partisipan lebih cenderung membaca argumen yang mendukung sikap mereka yang sudah ada daripada argumen yang tidak mendukung. Pencarian informasi yang bias ini berkorelasi erat dengan efek polarisasi.

' adalah nama untuk temuan bahwa ketika diberikan bukti yang menentang kepercayaan mereka, orang dapat menolak bukti tersebut dan justru percaya dengan lebih kuat. Istilah ini dicetuskan oleh Brendan Nyhan dan Jason Reifler pada tahun 2010. Namun, penelitian-penelitian selanjutnya gagal mereplikasi temuan yang mendukung efek backfire tersebut. Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Negeri Ohio dan Universitas George Washington meneliti 10.100 partisipan dengan 52 isu berbeda yang diperkirakan akan memicu efek backfire. Meskipun temuan tersebut menyimpulkan bahwa setiap individu enggan menerima fakta yang bertentangan dengan ideologi yang mereka anut, tidak ada satu pun kasus efek backfire yang terdeteksi. Efek backfire sejak saat itu dicatat sebagai fenomena yang langka, alih-alih kejadian yang umum terjadi (bandingkan dengan efek bumerang).

Persistensi kepercayaan yang terbantahkan

Bias konfirmasi memberikan satu penjelasan masuk akal mengenai persistensi kepercayaan ketika bukti awal untuk kepercayaan tersebut telah dihilangkan atau ketika kepercayaan tersebut telah terbantahkan secara tajam. Efek persistensi kepercayaan ini pertama kali ditunjukkan secara eksperimental oleh Festinger, Riecken, dan Schachter. Para psikolog ini menghabiskan waktu bersama sebuah kultus yang para anggotanya meyakini bahwa dunia akan kiamat pada tanggal 21 Desember 1954. Setelah prediksi tersebut gagal, sebagian besar pengikutnya tetap berpegang teguh pada keyakinan mereka. Buku mereka yang menggambarkan penelitian ini diberi judul yang tepat, yaitu When Prophecy Fails.

Namun, istilah belief perseverance (persistensi kepercayaan) dicetuskan dalam serangkaian eksperimen yang menggunakan apa yang disebut "paradigma penjelasan" (debriefing paradigm): para partisipan membaca bukti palsu untuk sebuah hipotesis, perubahan sikap mereka diukur, kemudian kepalsuan tersebut dibongkar secara terperinci. Sikap mereka kemudian diukur sekali lagi untuk melihat apakah kepercayaan mereka kembali ke tingkat sebelumnya.

Temuan umum menunjukkan bahwa setidaknya sebagian dari kepercayaan awal tetap bertahan bahkan setelah penjelasan lengkap diberikan. Dalam sebuah eksperimen, para partisipan harus membedakan antara surat wasiat bunuh diri yang asli dan yang palsu. Umpan balik yang diberikan bersifat acak: beberapa orang diberi tahu bahwa mereka berhasil dengan baik, sementara yang lain diberi tahu bahwa kinerja mereka buruk. Bahkan setelah diberi penjelasan lengkap bahwa umpan balik tersebut palsu, para partisipan masih terpengaruh oleh umpan balik tersebut. Mereka tetap berpikir bahwa mereka lebih baik atau lebih buruk daripada rata-rata dalam tugas semacam itu, tergantung pada apa yang awalnya diberitahukan kepada mereka.

Dalam studi lain, para partisipan membaca penilaian kinerja pekerjaan dari dua petugas pemadam kebakaran, bersama dengan tanggapan mereka terhadap tes penghindaran risiko. Data fiktif ini diatur sedemikian rupa untuk menunjukkan hubungan negatif atau positif: beberapa partisipan diberi tahu bahwa petugas pemadam kebakaran yang berani mengambil risiko berkinerja lebih baik, sementara partisipan lain diberi tahu bahwa mereka berkinerja kurang baik dibandingkan dengan rekan kerja yang menghindari risiko. Bahkan jika kedua studi kasus ini nyata, data tersebut merupakan bukti ilmiah yang buruk untuk menarik kesimpulan mengenai petugas pemadam kebakaran secara umum. Namun, para partisipan menganggapnya meyakinkan secara subjektif. Ketika studi kasus tersebut ditunjukkan sebagai fiktif, kepercayaan partisipan terhadap adanya hubungan tersebut berkurang, namun sekitar setengah dari efek awal tetap bertahan. Wawancara tindak lanjut memastikan bahwa para partisipan telah memahami penjelasan tersebut dan menanggapinya dengan serius. Para partisipan tampaknya memercayai penjelasan tersebut, namun menganggap informasi yang terbantahkan itu tidak relevan dengan kepercayaan pribadi mereka.

Efek pengaruh berkelanjutan adalah kecenderungan misinformasi untuk terus memengaruhi ingatan dan penalaran tentang suatu peristiwa, meskipun misinformasi tersebut telah ditarik kembali atau diperbaiki. Hal ini terjadi bahkan ketika individu tersebut memercayai koreksi yang diberikan.

Preferensi terhadap informasi awal

Berbagai eksperimen menunjukkan bahwa informasi diberi bobot lebih besar ketika muncul di awal suatu rangkaian, bahkan jika urutan rangkaian tersebut tidak penting. Sebagai contoh, seseorang akan membentuk kesan yang lebih positif terhadap individu yang digambarkan sebagai "cerdas, rajin, impulsif, kritis, keras kepala, iri hati" dibandingkan ketika kata-kata yang sama diberikan dalam urutan terbalik. Efek keutamaan irasional ini tidak bergantung pada efek keutamaan dalam memori, yaitu ketika item-item yang muncul lebih awal dalam suatu rangkaian meninggalkan jejak ingatan yang lebih kuat. Penafsiran yang bias memberikan penjelasan bagi efek ini: setelah melihat bukti awal, seseorang akan membentuk hipotesis kerja yang memengaruhi caranya menafsirkan sisa informasi lainnya.

Salah satu pembuktian dari efek keutamaan irasional menggunakan kepingan berwarna yang seolah-olah diambil dari dua buah guci. Partisipan diberi tahu mengenai distribusi warna pada guci-guci tersebut, lalu diminta untuk memperkirakan probabilitas kepingan yang diambil berasal dari salah satu guci. Faktanya, warna kepingan tersebut muncul dalam urutan yang telah diatur sebelumnya; tiga puluh pengambilan pertama condong pada salah satu guci, sementara tiga puluh pengambilan berikutnya condong pada guci lainnya. Rangkaian tersebut secara keseluruhan sebenarnya bersifat netral, sehingga secara rasional kedua guci memiliki kemungkinan yang sama. Namun, setelah enam puluh pengambilan, partisipan lebih memihak pada guci yang diindikasikan oleh tiga puluh pengambilan pertama.

Eksperimen lain melibatkan tayangan salindia dari suatu objek tunggal, yang pada awalnya hanya terlihat kabur dan menjadi sedikit lebih fokus pada setiap salindia berikutnya. Setelah setiap salindia ditampilkan, partisipan harus menyatakan tebakan terbaik mereka mengenai objek tersebut. Partisipan yang tebakan awalnya keliru tetap bertahan dengan tebakan tersebut, bahkan ketika gambar sudah cukup fokus sehingga objek tersebut sebenarnya dapat dikenali dengan mudah oleh orang lain.

Asosiasi ilusi antarperistiwa

Korelasi ilusi adalah kecenderungan untuk melihat adanya hubungan atau korelasi yang sebenarnya tidak ada dalam sekumpulan data. Kecenderungan ini pertama kali ditunjukkan dalam serangkaian eksperimen pada akhir tahun 1960-an. Dalam sebuah eksperimen, partisipan membaca sekumpulan studi kasus psikiatri, termasuk tanggapan terhadap Tes noda tinta Rorschach. Para partisipan melaporkan bahwa pria homoseksual dalam kelompok tersebut lebih cenderung melaporkan bahwa mereka melihat bokong, anus, atau figur yang ambigu secara seksual pada noda tinta tersebut. Faktanya, studi kasus fiktif tersebut telah dirancang sedemikian rupa sehingga pria homoseksual tidak lebih cenderung melaporkan pencitraan tersebut, bahkan dalam salah satu versi eksperimen, mereka justru lebih kecil kemungkinannya untuk melaporkannya dibandingkan pria heteroseksual. Dalam sebuah survei, sekelompok psikoanalis berpengalaman juga melaporkan kumpulan asosiasi ilusi yang sama terkait dengan homoseksualitas.

Studi lain mencatat gejala-gejala yang dialami oleh pasien artritis, bersama dengan kondisi cuaca selama periode 15 bulan. Hampir semua pasien melaporkan bahwa rasa sakit mereka berkaitan dengan kondisi cuaca, meskipun korelasi sebenarnya adalah nol.


Efek ini merupakan semacam penafsiran yang bias, di mana bukti yang secara objektif netral atau tidak mendukung justru ditafsirkan sebagai penyokong kepercayaan yang ada. Hal ini juga berkaitan dengan bias dalam perilaku pengujian hipotesis. Dalam menilai apakah dua peristiwa, seperti penyakit dan cuaca buruk, saling berkorelasi, orang sangat bergantung pada jumlah kasus positif-positif: dalam contoh ini, kejadian ketika rasa sakit dan cuaca buruk terjadi bersamaan. Mereka relatif kurang memperhatikan jenis pengamatan lainnya (seperti tidak adanya rasa sakit atau cuaca yang baik). Hal ini sejalan dengan ketergantungan pada pengujian positif dalam pengujian hipotesis. Hal tersebut mungkin juga mencerminkan pengingatan kembali yang selektif, di mana seseorang cenderung merasa bahwa dua peristiwa saling berkorelasi karena lebih mudah untuk mengingat saat-saat ketika kedua peristiwa tersebut terjadi bersamaan.

Lihat pula


Catatan

Referensi

Kutipan

Sumber


Bacaan lanjutan

  • Meppelink, Corine S., Edith G. Smit, Marieke L. Fransen, and Nicola Diviani. "'I Was Right about Vaccination': Confirmation Bias and Health Literacy in Online Health Information Seeking." Journal of Health Communication 24, no. 2 (2019): 129–40. https://doi.org/10.1080/10810730.2019.1583701.
  • Pearson, George David Hooke, and Silvia Knobloch-Westerwick. "Is the Confirmation Bias Bubble Larger Online? Pre-Election Confirmation Bias in Selective Exposure to Online versus Print Political Information." Mass Communication & Society 22, no. 4 (2019): 466–86. https://doi.org/10.1080/15205436.2019.1599956.

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29547489 (2026-08-10T00:47:40Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.