Lompat ke isi

Kebaikan dan kejahatan

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 25 Agustus 2026 23.01 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
Devil's portrait, Herman the Recluse, Codex Gigas, Benedictine monastery of Podlažice, early 13th century

Dalam filsafat, agama, dan psikologi, "kebaikan dan kejahatan" merupakan dikotomi umum. Dalam agama-agama yang dipengaruhi oleh Manikheisme dan Abrahamik, kejahatan dianggap sebagai kebalikan dari kebaikan, yang mana kebaikan harus menang dan kejahatan harus dikalahkan.[1]

Kejahatan sering digunakan untuk menunjukkan amoralitas yang mendalam.[2] Kejahatan juga digambarkan sebagai kekuatan supernatural.[3] Definisi kejahatan bervariasi, seperti halnya analisis motifnya.[4] Namun, unsur-unsur yang umumnya dikaitkan dengan kejahatan melibatkan perilaku tidak seimbang yang melibatkan kemanfaatan, keegoisan, ketidaktahuan, atau kelalaian.[5]

Studi utama tentang kebaikan dan kejahatan (atau moralitas) adalah etika, yang memiliki tiga cabang utama: etika normatif tentang bagaimana kita seharusnya berperilaku, etika terapan tentang isu-isu moral tertentu, dan metaetika tentang hakikat moralitas itu sendiri.[6]

Lihat pula

Catatan

Bacaan lebih lanjut

  • Baumeister, Roy F. (1999) Evil: Inside Human Violence and Cruelty. New York: A.W.H. Freeman / Owl Book
  • Bennett, Gaymon, Hewlett, Martinez J, Peters, Ted, Russell, Robert John (2008). The Evolution of Evil. Göttingen: Vandenhoeck & Ruprecht.
  • Katz, Fred Emil (1993) Ordinary People and Extraordinary Evil, [SUNY Press],
  • Katz, Fred Emil (2004) Confronting Evil, [SUNY Press],
  • Neiman, Susan. Evil in Modern Thought – An Alternative History of Philosophy. Princeton: Princeton University Press, 2002.
  • Shermer, M. (2004). The Science of Good & Evil. New York: Time Books.
  • Stapley, A.B. & Elder Delbert L., Using Our Free Agency. Ensign May 1975: 21
  • Stark, Ryan. Rhetoric, Science, and Magic in Seventeenth-Century England. (Washington, DC: The Catholic University of America Press, 2009), 115–45
  • Vetlesen, Arne Johan (2005) Evil and Human Agency – Understanding Collective Evildoing New York: Cambridge University Press.
  • Wilson, William McF., and Julian N. Hartt. Farrer's Theodicy. In David Hein and Edward Hugh Henderson (eds), Captured by the Crucified: The Practical Theology of Austin Farrer. New York and London: T & T Clark / Continuum, 2004.

Pranala luar

Referensi

  1. Paul O. Ingram. Buddhist-Christian Dialogue: Mutual Renewal and Transformation. University of Hawaii Press. 1986. hlm. 148–149.
  2. Evil. Oxford University Press. 2012.
  3. Evil. Oxford University Press. 2012.
  4. Ervin Staub. Overcoming Evil: Genocide, Violent Conflict, and Terrorism. Oxford University Press. 2011. hlm. 32. ISBN 978-0195382044.
  5. Caitlin Matthews. Walkers Between the Worlds: The Western Mysteries from Shaman to Magus. Inner Traditions / Bear & Co. 2004. hlm. 173. ISBN 978-0892810918.
  6. Internet Encyclopedia of Philosophy "Ethics"

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29459989 (2026-07-15T02:58:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.