Kebaikan dan kejahatan

Dalam filsafat, agama, dan psikologi, "kebaikan dan kejahatan" merupakan dikotomi umum. Dalam agama-agama yang dipengaruhi oleh Manikheisme dan Abrahamik, kejahatan dianggap sebagai kebalikan dari kebaikan, yang mana kebaikan harus menang dan kejahatan harus dikalahkan.[1]
Kejahatan sering digunakan untuk menunjukkan amoralitas yang mendalam.[2] Kejahatan juga digambarkan sebagai kekuatan supernatural.[3] Definisi kejahatan bervariasi, seperti halnya analisis motifnya.[4] Namun, unsur-unsur yang umumnya dikaitkan dengan kejahatan melibatkan perilaku tidak seimbang yang melibatkan kemanfaatan, keegoisan, ketidaktahuan, atau kelalaian.[5]
Studi utama tentang kebaikan dan kejahatan (atau moralitas) adalah etika, yang memiliki tiga cabang utama: etika normatif tentang bagaimana kita seharusnya berperilaku, etika terapan tentang isu-isu moral tertentu, dan metaetika tentang hakikat moralitas itu sendiri.[6]
Lihat pula
- Akrasia
- Aksiologi
- Kebanalan kejahatan
- Kebaikan bersama
- Idealisme etika
- Bentuk Kebaikan (Plato)
- Absolutisme bertahap
- Penalaran induktif
- Dilema moral
- Kejahatan moral
- Realisme moral
- Kejahatan alamiah
- Entitas nonfisik
- Teori objektivis tentang kebaikan dan kejahatan
- Ponerologi
- Psikopati
- Kebaikan tertinggi
- Teodisi
- Pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan
- Welfarisme
Catatan
Bacaan lebih lanjut
- Baumeister, Roy F. (1999) Evil: Inside Human Violence and Cruelty. New York: A.W.H. Freeman / Owl Book
- Bennett, Gaymon, Hewlett, Martinez J, Peters, Ted, Russell, Robert John (2008). The Evolution of Evil. Göttingen: Vandenhoeck & Ruprecht.
- Katz, Fred Emil (1993) Ordinary People and Extraordinary Evil, [SUNY Press],
- Katz, Fred Emil (2004) Confronting Evil, [SUNY Press],
- Neiman, Susan. Evil in Modern Thought – An Alternative History of Philosophy. Princeton: Princeton University Press, 2002.
- Shermer, M. (2004). The Science of Good & Evil. New York: Time Books.
- Stapley, A.B. & Elder Delbert L., Using Our Free Agency. Ensign May 1975: 21
- Stark, Ryan. Rhetoric, Science, and Magic in Seventeenth-Century England. (Washington, DC: The Catholic University of America Press, 2009), 115–45
- Vetlesen, Arne Johan (2005) Evil and Human Agency – Understanding Collective Evildoing New York: Cambridge University Press.
- Wilson, William McF., and Julian N. Hartt. Farrer's Theodicy. In David Hein and Edward Hugh Henderson (eds), Captured by the Crucified: The Practical Theology of Austin Farrer. New York and London: T & T Clark / Continuum, 2004.
Pranala luar
- Good and Evil in (Ultra Orthodox) Judaism
- ABC News: Looking for Evil in Everyday Life
- Booknotes interview with Lance Morrow on Evil: An Investigation, October 19, 2003.
- Chattopadhyay, Subhasis. The Discussion of Evil in Christianity in Prabuddha Bharata or Awakened India 118 (9):540–542 (2013).
- Chattopadhyay, Subhasis. Prolegomenon to the Study of Evil. in Prabuddha Bharata or Awakened India 118 (4):278–281 (2013).
Referensi
- ↑ Paul O. Ingram. Buddhist-Christian Dialogue: Mutual Renewal and Transformation. University of Hawaii Press. 1986. hlm. 148–149.
- ↑ Evil. Oxford University Press. 2012.
- ↑ Evil. Oxford University Press. 2012.
- ↑ Ervin Staub. Overcoming Evil: Genocide, Violent Conflict, and Terrorism. Oxford University Press. 2011. hlm. 32. ISBN 978-0195382044.
- ↑ Caitlin Matthews. Walkers Between the Worlds: The Western Mysteries from Shaman to Magus. Inner Traditions / Bear & Co. 2004. hlm. 173. ISBN 978-0892810918.
- ↑ Internet Encyclopedia of Philosophy "Ethics"
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29459989 (2026-07-15T02:58:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.