Lompat ke isi

Struktur kimia

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 28 Agustus 2026 14.55 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Struktur kimia merupakan informasi penataan atom-atom dan ikatan-ikatan yang membentuk suatu senyawa kimia. Struktur ini dapat digunakan untuk membahas sebuah molekul atau kumpulan atom seperti kristal. Informasi ini termasuk geometri molekul, konfigurasi elektron, dan bahkan struktur kristal.[1][2]

Geometri molekul mengacu pada penataan atom dalam ruang tiga dimensi dan umumnya juga melibatkan panjang ikatan dan sudut ikatan di antara atom-atom yang berikatan, sedangkan konfigurasi elektron merupakan deskripsi pengisian orbital dari molekul tersebut.[3][4]

Struktur kimia harus mampu diterapkan untuk menjelaskan struktur molekul dengan baik, dari molekul sederhana seperti gas oksigen (O2) dan nitrogen (N2) hingga yang kompleks seperti protein dan DNA.[5][6]

Penentuan struktur kimia

Penentuan struktur kimia merupakan salah satu kegiatan penting dalam ilmu kimia karena struktur kimia menjadi aspek inti dari ilmu ini.[7]

Terdapat berbagai metode dalam penentuan struktur kimia, masing-masing memiliki kegunaan untuk mempelajari satu atau beberapa aspek dari senyawa tersebut. Seseorang harus mampu membedakan bagian keterikatan antaratom dalam molekul, bagian penataan dalam ruang tiga dimensi (seperti konfigurasi molekul cis-trans atau E-Z dan kiralitas), dan bagian pengukuran nilai dari panjang ikatan, sudut ikatan, dan sebagainya. Maka dari itu, upaya penentuan struktur kimia ini dimulai dari menentukan pola dan jenis ikatan yang terlibat, sebelum mendapatkan struktur tiga dimensi yang lengkap dengan besaran-besarannya.[8]

Metode penentuan struktur umumnya melibatkan metode spektroskopi, yakni metode yang memanfaatkan interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan materi. Beberapa peraih Nobel mempopulerkan metode ini untuk mengelusidasi struktur kimia, seperti John Kendrew, Max F. Perutz, dan Dorothy Hodgkin.[9] Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Metode untuk mencari keterikatan atom dan struktur elektronik

Metode untuk mencari struktur tiga dimensi:

Begitu struktur kimia dari suatu molekul sudah ditentukan, seseorang dapat membentuk representasinya menggunakan struktur Lewis (untuk keterikatan atom paling sederhana) dan bahkan dapat menggambar struktur tiga dimensi dengan model bola molekuler seperti model bola-dan-pasak atau model ruang terisi.[16]

Geometri molekul kovalen

Begitu struktur kimia dari suatu molekul sudah ditentukan, seseorang dapat menggambarkannya dengan struktur Lewis (untuk keterikatan atom paling sederhana) dan bahkan dapat memprediksi geometri molekulnya. Untuk membangun geometri tersebut, salah satu aspek penting yang perlu ditinjau adalah sifat elektron (dan orbital yang terisi elektron) yang bermuatan negatif. Elektron yang berada pada posisi berdekatan akan mengalami tolakan sehingga geometri molekul paling optimal akan terbentuk apabila tolakan ini minimum. Inilah yang menjadi landasan teori tolakan pasangan elektron valensi (Valence-Shell Electron Pair Repulsion, VSEPR) sehingga seseorang mampu untuk membuat perkiraan geometri dari sebuah molekul. Pasangan elektron bebas (PEB) akan mengalami tolakan yang lebih besar daripada pasangan elektron yang terlibat dalam ikatan (PEI). Teori ini mampu memberikan pendekatan yang baik dari bentuk dan struktur banyak molekul dan mampu memberikan prediksi yang akurat apabila disempurnakan dengan teori hibridisasi. Tabel di bawah menunjukkan beberapa (prediksi) geometri molekul paling umum dan senyawa-senyawa dengan geometri tersebut.

Molekul linear Molekul angular Molekul planar Molekul piramidal Molekul tetrahedral
Molekul karbonil sulfida, SCO Molekul air, H2O Molekul boron trifluorida, BF3 Molekul tiotionil, S2F2 Molekul silikon tetrafluorida, SiF4
2 PEI di atom C 2 PEB + 2 PEI di atom O 3 PEI di atom B 1 PEB + 3 PEI di atom S 4 PEI di atom Si
Hibridisasi sp Hibridisasi sp3 Hibridisasi sp2 Hibridisasi sp3 Hibridisasi sp3

Keterangan: Ikatan rangkap dihitung sebagai 1 PEI, tetapi penyederhanaan ini membuat geometri molekul yang diprediksi dengan VSEPR dapat berbeda dengan aslinya.

Apabila geometri molekul sudah ditentukan (diprediksi), senyawa tersebut dapat digambar dalam struktur tiga dimensi dengan model bola molekuler seperti model bola-dan-pasak atau model ruang terisi.[17]

Molekul Atom Ion Logam
Asam tioasetat, CH3-COSH Intan, Cn Tembaga(I) Iodida, CuI2 Logam
Ikatan kovalen molekul Ikatan kovalen retikuler Ikatan ionik Ikatan logam

Jelas, ketika jumlah atom dalam molekul meningkat, kompleksitas strukturnya meningkat dan metode penentuannya makin sulit. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Benzena Heliks α (protein) DNA Hemoglobin
Kekulé (1865)[18][19] Pauling dan Corey (1951)[20] Watson dan Crick (1953)[21] Max F. Perutz (1960)[22][23]

Lihat pula

Bacaan lebih lanjut

  • Warren Gallagher, 2006, "Lecture 7: Structure Determination by X-ray Crystallography," dalam Chem 406: Biophysical Chemistry, self-published course notes, Eau Claire, WI, USA:University of Wisconsin-Eau Claire, Department of Chemistry, lihat [1], diakses tanggal 2 Juli 2014.

Referensi

  1. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  2. Palenik, G. J.; Jensen, W. P.; Suh, I. H. The History of Molecular Structure Determination Viewed through the Nobel Prizes. J. Chem. Educ. 2003. Vol. 80 (7). hlm. 753. doi:10.1021/ed080p753.
  3. Arne Haaland. Molecules and models: the molecular structures of main group element compounds. Oxford University Press. 2008. ISBN 978-0-19-923535-3.
  4. Frank Weinhold. Valency and bonding: a natural bond orbital donor-acceptor perspective. Cambridge University Press. 2005. ISBN 978-0-521-83128-4.
  5. James, P.; Quadroni, M.; Carafoli, E.; Gonnet, J. Protein identification by mass profile fingerprinting. Biochem. Biophys. Res. Commun. 1993. Vol. 195. hlm. 58–64. doi:10.1006/bbrc.1993.2009.
  6. Maxam, A. M.; Gilbert, W. A new method for sequencing DNA. Proc. Natl. Acad. Sci. USA. 1977. Vol. 74. hlm. 560–64. doi:10.1073/pnas.74.2.560.
  7. Roald Hoffmann. Representation in Chemistry. Angewandte Chemie International Edition in English. 1991. Vol. 30 (1). hlm. 1–16. doi:10.1002/anie.199100013.
  8. Alexander F. Wells. Structural inorganic chemistry. Clarendon Press. 2012. ISBN 978-0-19-965763-6.
  9. Palenik, G. J.; Jensen, W. P.; Suh, I. H. The History of Molecular Structure Determination Viewed through the Nobel Prizes. J. Chem. Educ. 2003. Vol. 80 (7). hlm. 753. doi:10.1021/ed080p753.
  10. Pavia, D. L.; Lampman, G. M.; Kriz, G. S.; Vyvyan, J. R. Introduction to Spectroscopy. Cengage Learning. 2015. ISBN 978-128-546-012-3.
  11. MacCallum, J. L. et al. Automatic Protein Structure Determination from Sparse NMR Spectroscopy Data. Biophys. J. Vol. 110 (3). hlm. 153a. doi:10.1016/j.bpj.2015.11.861.
  12. Klauss Biemann. Structure Determination of Natural Products by Mass Spectrometry. Annu. Rev. An. Chem. 2015. Vol. 8. hlm. 1-19. doi:10.1146/annurev-anchem-071114-040110.
  13. Aebersold, R.; Mann, M. Mass spectrometry-based proteomics. Nature. 2003. Vol. 422. hlm. 198–207. doi:10.1038/nature01511.
  14. Pavia, D. L.; Lampman, G. M.; Kriz, G. S. Introduction to Spectroscopy a Guide for Students of Organic Chemistry. Harcourt College Publishers. 2001. ISBN 978-003-058-427-5.
  15. Supratman, U. Elusidasi Struktur Senyawa Organik. Widya Padjadjaran. 2008. ISBN 978-602-832-350-5.
  16. Hart, H.; Leslie, E. C.; David, J. H. Organic Chemistry: A Short Course. Erlangga. 2003. ISBN 979-741-013-7.
  17. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  18. Kekulé, August. Ueber einige Condensationsproducte des Aldehyds. Liebigs Ann. Chem. 1872. Vol. 162 (1). hlm. 77–124. doi:10.1002/jlac.18721620110.
  19. Rocke, A. J. Hypothesis and Experiment in the Early Development of Kekule's Benzene Theory. Annals of Science. 1985. Vol. 42 (4). hlm. 355–81. doi:10.1080/00033798500200411.
  20. The structure of proteins: two hydrogen-bonded helical configurations of the polypeptide chain. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 1951. Vol. 37 (5). hlm. 235–40. doi:10.1073/pnas.37.5.235.
  21. Molecular structure of nucleic acids; a structure for deoxyribose nucleic acid. Nature. April 1953. Vol. 171 (4356). hlm. 737–8. doi:10.1038/171737a0.
  22. M.F. Perutz. Structure of haemoglobin: a three-dimensional Fourier synthesis at 5.5-A. resolution, obtained by X-ray analysis. Nature. 1960. Vol. 185 (4711). hlm. 416–22. doi:10.1038/185416a0.
  23. Perutz MF. Structure of haemoglobin. Brookhaven symposia in biology. 1960. Vol. 13. hlm. 165–83.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29584986 (2026-08-15T21:49:32Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.