Lompat ke isi

Alkoksida

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 03.23 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 27976615; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Alkoksida adalah sebuah basa konjugat dari suatu alkohol sehingga mengandung gugus organik yang terikat pada atom oksigen yang bermuatan negatif. Alkoksida ditulis sebagai RO, dengan R adalah substituen organik. Alkoksida adalah basa kuat dan, jika R tidak besar, merupakan nukleofil yang baik serta ligan yang bagus. Meskipun umumnya tidak stabil dalam pelarut protik seperti air, alkoksida terjadi sebagai banyak intermediat berbagai reaksi, termasuk sintesis eter Williamson. Alkoksida logam transisi banyak digunakan sebagai pelapis dan katalis.

Enolat adalah alkoksida tak jenuh yang diturunkan melalui deprotonasi ikatan C-H yang bertentangga dengan gugus keton atau aldehida. Pusat nukleofilik pada alkoksida sederhana terletak pada atom oksigen, sementara situs nukleofilik pada enolat terdelokalisasi pada karbon dan oksigen.

Fenoksida memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alkoksida, di mana gugus alkil digantikan oleh turunan benzena. Fenol lebih asam daripada alkohol, sehingga, fenoksida terkaitnya bersifat kurang basa dan kurang nukleofilik daripada alkoksida. Oleh sebab itu, fenoksida lebih mudah ditangani, dan menghasilkan kristal yang lebih banyak daripada alkoksida.

Struktur

Alkoksida logam alkali sering kali berupa senyawa oligomer atau polimer, terutama jika gugus R-nya kecil (Me, Et). Anion alkoksida adalah jembatan ligan yang baik, sehingga banyak alkoksida dapat membentuk ikatan M2O atau M3O. Dalam larutan, alkoksida logam alkali menunjukkan sifat pasangan ion yang kuat, sesuai perkiraan bahwa derivat logam alkali adalah anion basa kuat.


Pembuatan

Dari logam reduktor

Alkoksida dapat diproduksi melalui beberapa cara, dengan bahan dasar alkohol. Logam reduktor kuat bereaksi langsung dengan alkohol menghasilkan alkoksida logam yang sesuai. Alkohol bertindak sebagai asam, dan hidrogen dihasilkan sebagai produks sampingan. Contoh klasik adalah natrium metoksida yang dibuat dari adisi logam natrium dengan metanol:

2 CHOH   +   2 Na   →   2 CHONa   +   H

Logam alkali lainnya dapat digunakan menggantikan natrium, dan sebagian besar alkohol dapat digunakan untuk menggantikan metanol. Reaksi serupa lainnya terjadi ketika alkohol bereaksi dengan hidrida logam seperti NaH. Logam hidrida menggantikan atom hidrogen dari gugus hidroksil dan membentuk ion alkoksida yang bermuatan negatif.

Dari klorida elektrofil

Titanium tetraklorida bereaksi dengan alkohol menghasilkan tetraalkoksida yang sesuai, bersamaan dengan evolusi hidrogen klorida.

TiCl   +   4 (CH)CHOH   →   Ti(OCH(CH))   +   4 HCl

Reaksi dapat dipercepat dengan penambahan basa, seperti amina tersier. Banyak logam dan golongan halida lain yang dapat digunakan selain titanium, misalnya SiCl, ZrCl, dan PCl.

Melalui reaksi metatesis

Banyak alkoksida dibuat melalui reaksi pembentukan garam dari klorida logam dan natrium alkoksida:

n NaOR   +   MCln   →   M(OR)n   +   n NaCl

Reaksi di atas dilancarkan oleh energi kisi NaCl, dan pemurnian produk alkoksidanya menjadi lebih sederhana karena NaCl tidak larut dalam kebanyakan pelarut organik.


Melalui proses elektrokimia

Banyak alkoksida dapat dibuat melalui pelarutan anodik logam terkaitnya dalam alkohol anhidrat, disertai keberadaan aditif elektrokonduktif. Logam yang bisa digunakan antara lain Co, Ga, Ge, Hf, Fe, Ni, Nb, Mo, La, Re, Sc, Si, Ti, Ta, W, Y, Zr, dll. Aditif konduktor antara lain litium klorida, halida amonium kuarterner, atau lainnya. Beberapa contoh alkoksida logam yang diperoleh melalui teknik ini: Ti(OCH(CH)), Nb(OCH), Ta(OCH), [MoO(OCH)], ReO(OCH), ReO(OCH), and ReO(OCH(CH)).

Sifat-sifat

Reaksi dengan alkil halida

Ion alkoksida dapat bereaksi dengan alkil halida primer dalam reaksi SN membentuk metil eter.

Hidrolisis dan transesterifikasi

Alkoksida logam terhidrolisis dalam air sesuai persamaan berikut:

2 LnMOR   +   H2O   →   [LnM]2O   +   2 ROH

dengan R adalah substituen organik dan L adalah suatu ligan (sering kali berupa alkoksida). Sebuah studi menunjukkan hidrolisis tak dapat balik titanium etoksida sesuai persamaan berikut:

1/n [Ti(OCHCH)]n   +   2 HO   →   TiO   +   4 HOCHCH

Dengan mengendalikan sifat stoikiometri dan sterik alkoksida, reaksi semacam ini dapat ditahan menghasilkan logam-oksi-alkoksida, yang biasanya merupakan komplek oligonuklir. Alkohol lain dapat digunakan menggantikan air. Dengan cara ini, suatu alkoksida dapat diubah menjadi alkoksida lain, dan prosesnya disebut sebagai alkoholisis (sayangnya, terdapat kebingungan terminologi dengan transesterifikasi, yang merupakan proses yang berbeda - lihat di bawah). Posisi kesetimbangan dapat dikendalikan dengan mengatur keasaman alkohol; misalnya fenol biasanya bereaksi dengan alkoksida dengan membebaskan alkohol, membentuk fenoksida. Secara sederhana, alkoholisis dapat dikendalikan dengan menguapkan secara selektif komponen yang lebih volatil. Dengan cara ini, etoksida dapat diubah menjadi butoksida, karena etanol (titik didih 78 °C) lebih volatil daripada butanol (titik didih 118 °C).

Pada proses transesterifikasi, alkoksida logam bereaksi dengan ester untuk menghasilkan pertukaran gugus alkil antara alkoksida logam dan ester. Fokus pada kompleks alkoksida logam, hasilnya sama seperti alkoholisis, dapat dikatakan sebagai penggantian ligan alkoksida, tetapi pada saat yang sama gugus alkil pada ester diganti pula, yang dapat pula disebut sebagai tujuan utama reaksi. Natirum metoksida, misalnya, yang umum digunakan untuk reaksi ini, suatu reaksi yang relevan dengan produksi "bio-disel".

Pembentukan okso-alkoksida

Banyak senyawa alkoksida logam juga memiliki ligan okso. Ligan okso biasanya muncul melalui hidrolisis, sering kali secara tidak sengaja, dan melalui eliminasi eter:

2 LnMOR   →   [LnM]2O   +   R2O

Selain itu, alkoksida logam valensi rendah rentan terhadap oksidasi di udara.

Pembentukan derivat polinuklir dan heterologam

Secara khas, alkoksida logam transisi adalah polinuklir, yang mengandung lebih dari satu logam. Alkoksida adalah ligan yang sterik dan sangat basa yang cenderung menjembatani logam.

Pada substitusi isomorfik atom logam, terbentuk berbagai komposisi kristal senyawa kompleks. Rasio logam dalam senyawa semacam ini dapat bervariasi dengan rentang yang sangat lebar. Misalnya, substitusi molibdenum dan wolfram untuk renium dalam kompleks Re4O6−y(OCH3)12+y memungkinkan untuk memperoleh kompleks Re4−xMoxO6−y(OCH3)12+y dalam rentang 0 ≤ x ≤ 2,82 dan Re4−xWxO6−y(OCH3)12+y dalam rentang 0 ≤ x ≤ 2.

Kestabilan termal

Banyak alkoksida logam mengalami dekomposisi termal pada rentang ~100–300 °C. Termolisis ini dapat terjadi pada fase logam atau oksida serbuk berukuran nano, tergantung pada kondisi prosesnya. Pendekatan ini merupakan dasar proses pabrikasi bahan-bahan fungsional untuk pesawat terbang, wahana angkasa luar, elektronika, dan industri kimia: oksida-oksida tunggal, larutan padatnya, oksida kompleks, serbuk logam dan paduan yang diaktifkan melalui sintering. Dekomposisi campuran derivat alkoksida mono- dan heterologam telah pula diteliti.


Contoh alkoksida

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 27976615 (2025-10-15T16:20:01Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.