Lompat ke isi

Molibdenum

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Berkas:Molybdenum crystaline fragment and 1cm3 cube.jpg
Molybdenum crystaline fragment and 1cm3 cube

Namanya diambil dari Neo-Latin molybdaenum, dari bahasa Yunani Kuno ', yang berarti timbal, karena bijihnya dirancukan dengan bijih timbal.[1] Mineral molibdenum telah dikenal sepanjang sejarah, tetapi unsurnya ditemukan (dalam arti membedakannya sebagai entitas baru dari garam mineral logam lainnya) pada tahun 1778 oleh Carl Wilhelm Scheele. Logamnya pertama kali diisolasi pada tahun 1781 oleh Peter Jacob Hjelm.

Molibdenum tidak terjadi secara alami sebagai logam bebas di Bumi; ia hanya ditemukan dalam berbagai tingkat oksidasi pada mineral. Unsur bebasnya, suatu logam keperakan dengan noda abu-abu, memiliki titik lebur ke-6 di antara semua unsur. Ia mudah membentuk karbida stabil dan keras dalam logam paduan, dan untuk alasan ini, sebagian besar produksi dunia unsur ini (sekitar 80%) digunakan dalam paduan baja, termasuk paduan berkekuatan tinggi dan superalloy.

Sebagian besar dalam senyawa molibdenum memiliki kelarutan rendah dalam air, tetapi ketika mineral molibdenum terkena oksigen dan air, ion molibdat yang dihasilkan cukup larut. Dalam skala industri, senyawa molibdenum (sekitar 14% dari produksi dunia) digunakan dalam aplikasi tekanan tinggi dan suhu tinggi sebagai pigmen dan katalis.

sejauh ini merupakan kandungan katalis bakteri yang paling umum untuk memutus ikatan kimia dalam molekul nitrogen atmosfer dalam proses fiksasi nitrogen. Setidaknya 50 enzim molibdenum sekarang dikenal pada bakteri dan hewan, walaupun hanya enzim bakteri dan sianobakteria yang terlibat dalam fiksasi nitrogen. Nitrogenase ini mengandung molibdenum dalam bentuk yang berbeda dari enzim molibdenum lainnya, yang semuanya mengandung molibdenum teroksidasi penuh dalam kofaktor molibdenum. Berbagai enzim kofaktor molibdenum ini sangat penting bagi organisme, dan molibdenum adalah unsur esensial untuk kehidupan di semua organisme eukariota yang lebih tinggi, meskipun tidak pada semua bakteri.

Karakteristik

Sifat fisika

Dalam bentuknya yang murni, molibdenum menjadi logam abu-abu keperakan dengan kekerasan Mohs sebesar 5,5. Mo memiliki titik lebur ; dari unsur alami, hanya tantalum, osmium, renium, wolfram, dan karbon yang memiliki titik lebur lebih tinggi.[2] Oksidasi lemah molibdenum dimulai pada . Ia salah satu yang memiliki koefisien ekspansi termal terendah di antara logam yang digunakan secara komersial.[3] Kekuatan tarik kabel molibdenum meningkat sekitar 3 kali, dari sekitar 10 menjadi 30 GPa, ketika diameternya menurun dari ~50-100 nm ke 10 nm.[4]

Isotop

Terdapat 35 isotop molibdenum yang diketahui, dengan kisaran massa atom antara 83 sampai 117, dan juga empat isomer nuklir metastabil. Tujuh isotop terjadi secara alami, dengan massa atom 92, 94, 95, 96, 97, 98, dan 100. Dari isotop alami ini, hanya molibdenum-100 yang tidak stabil.[5]

Molibdenum-98 adalah isotop paling melimpah, yang menyusun 24,14% dari semua molibdenum. Molibdenum-100 memiliki waktu paruh sekitar 10 tahun dan mengalami peluruhan beta ganda menjadi rutenium-100. Isotop molibdenum dengan nomor massa 111 sampai 117 semuanya memiliki waktu paruh sekitar 150 ns.[6][7] Semua isotop molibdenum yang tidak stabil meluruh menjadi isotop niobium, teknesium, dan rutenium.[8]

Seperti yang juga dicatat di bawah, aplikasi molibdenum isotopik yang paling umum melibatkan molibdenum-99, yang merupakan produk fisi. Ini adalah radioisotop induk untuk radioisotop anak yang memancarkan gamma dan berumur pendek teknesium-99m, sebuah isomer nuklir yang digunakan dalam berbagai aplikasi pencitraan dalam bidang kedokteran.[9] Pada tahun 2008, Delft University of Technology mengajukan permohonan paten untuk produksi molibdenum-99 berbasis molibdenum-98.[10]

Senyawa dan kimia

Tingkat
oksidasi
Contoh[11]
−2
0 Molibdenum heksakarbonil
+1
+2 Molibdenum(II) klorida
+3
+4 Molibdenum disulfidd
+5 Molibdenum(V) klorida
+6 Molibdenum(VI) fluorida

Molibdenum adalah logam transisi dengan elektronegativitas 2,16 pada skala Pauling dan bobot atom standar 95,95 g/mol.[12][13] Ia tidak tampak bereaksi dengan oksigen atau air pada suhu kamar, dan oksidasi ruah terjadi pada suhu di atas 600 °C, menghasilkan molibdenum trioksida:

2Mo+3OA22MoOA3

Trioksidanya volatil dan menyublim pada suhu tinggi. Ini mencegah pembentukan lapisan oksida pelindung (pemasif) yang terus menerus, yang akan menghentikan oksidasi logam ruah.[14] Molibdenum memiliki beberapa tingkat oksidasi, yang paling stabil adalah +4 dan +6 (dicetak tebal pada tabel di sebelah kiri). Kimia dan senyawa menunjukkan kemiripan yang lebih mirip wolfram dibanding kromium; ketidakstabilan senyawa molibdenum(III) dan wolfram(III), misalnya, kontras dengan kestabilan senyawa kromium(III). Keadaan oksidasi tertinggi terlihat pada molibdenum(VI) oksida (MoO), sedangkan senyawa sulfur normal adalah molibdenum disulfida MoS.[15]

Molibdenum(VI) oksida larut dalam basa kuat, membentuk molibdat (MoO). Molibdat adalah oksidator yang lebih lemah daripada kromat, tetapi menunjukkan kecenderungan yang sama untuk membentuk kompleks oksionion dengan kondensasi pada nilai pH yang lebih rendah, seperti dan . Polimolibdat dapat bergabung dengan ion lain, membentuk polioksometalat.[16] Heteropolimolibdat yang mengandung fosfor berwarna biru tua digunakan untuk deteksi fosfor secara spektroskopi.[17] Rentang tingkat oksidasi molibdenum yang lebar tecermin dari ragam molibdenum klorida:[18]

Struktur MoCl adalah cluster dan empat anion klorida yang mengkompensasi muatan.[19]

Seperti kromium dan beberapa logam transisi lainnya, molibdenum membentuk ikatan rangkap empat, seperti pada . Senyawa ini dapat diubah menjadi , yang juga memiliki ikatan rangkap empat.[20]

Tingkat oksidasi 0 dimungkinkan dengan ligan karbon monoksida, seperti pada molibdenum heksakarbonil, Mo(CO).[21]

Sejarah

Molibdenit—bijih utama asal molibdenum sekarang diekstraksi—sebelumnya dikenal sebagai molibdena. Molibdena dirancukan dan sering digunakan seolah-olah itu adalah grafit. Seperti grafit, molibdenit bisa digunakan untuk menghitamkan permukaan atau sebagai pelumas padat.[22] Bahkan saat molibdena dapat dibedakan dari grafit, masih dibingungkan dengan bijih timbal PbS (sekarang disebut galena); nama itu berasal dari bahasa Yunani kuno ', yang berarti timbal.[23] (Kata Yunani itu sendiri telah diusulkan sebagai kata serapan dari bahasa Anatolia, Luvia, dan bahasa Lydia).[24]

Meskipun molibdenum (dilaporkan) sengaja dipadu dengan baja dalam satu pedang Jepang abad ke-14 (tahun pembuatan 1330), seni itu tidak pernah digunakan secara luas dan kemudian punah.[25][26] Di Barat pada tahun 1754, Bengt Andersson Qvist memeriksa sampel molibdenit dan menentukan bahwa itu tidak mengandung timbal dan karenanya bukan galena.[27]

Pada tahun 1778 kimiawan Swedia, Carl Wilhelm Scheele, menyatakan dengan tegas bahwa molibdena (memang) bukan galena maupum grafit.[28][29] Sebagai gantinya, Scheele dengan tepat mengusulkan bahwa molibdena adalah bijih dari unsur baru yang berbeda, diberi nama molibdenum untuk mineral yang ada di dalamnya, dan dari situ bisa diisolasi. Peter Jacob Hjelm berhasil mengisolasi molibdenum dengan menggunakan karbon dan minyak biji rami pada tahun 1781.[30][31]

Pada abad berikutnya, molibdenum tidak mempunyai manfaat industrial. Ia relatif langka, logam murni sulit untuk diekstraksi, dan teknik metalurgi yang diperlukan belum matang.[32][33][34] Paduan baja molibdenum awal menunjukkan harapan besar untuk meningkatkan kekerasan, tetapi upaya pembuatan paduan dalam skala besar terhambat dengan hasil yang tidak konsisten, kecenderungan terhadap kerapuhan, dan rekristalisasi. Pada tahun 1906, William D. Coolidge mengajukan paten untuk menyediakan molibdenum ulet, yang mengarah pada aplikasi sebagai elemen pemanas untuk tungku suhu tinggi dan sebagai pendukung bola lampu filamen wolfram; pembentukan oksida dan degradasi mensyaratkan agar molibdenum disimpan rapat secara fisik atau disimpan dalam gas inert.[35] Pada tahun 1913, Frank E. Elmore mengembangkan proses flotasi buih untuk memulihkan molibdenit dari bijih; flotasi tetap merupakan proses isolasi utama.[36]

Selama Perang Dunia I, permintaan molibdenum meningkat tajam; ia digunakan baik dalam lapis baja dan sebagai pengganti wolfram pada baja kecepatan tinggi. Beberapa tank Inggris dilindungi oleh lapisan baja mangan setebal , tetapi ini terbukti tidak efektif. Pelat baja mangan diganti dengan pelat baja molibdenum setebal yang jauh lebih ringan yang memungkinkan kecepatan lebih tinggi, manuver yang lebih lincah, dan perlindungan yang lebih baik.[37] Jerman juga menggunakan baja berdoping molibdenum untuk artileri berat, seperti dalam howitzer super berat Big Bertha,[38] karena baja tradisional meleleh pada suhu yang dihasilkan oleh propelan satu ton selongsong.[39] Setelah perang, permintaan menurun drastis sampai kemajuan metalurgi memungkinkan pengembangan ekstensif untuk aplikasi di masa damai. Pada Perang Dunia II, molibdenum kembali melihat kepentingan strategis sebagai pengganti wolfram dalam paduan baja.[40]

Keterjadian dan produksi

Molibdenum adalah unsur paling melimpah ke-54 dalam kerak bumi dan unsur paling melimpah ke-25 di samudera, dengan rata-rata 10 bagian per miliar; ini adalah unsur paling melimpah ke-42 di alam semesta.[41][42] Misi Rusia Luna 24 menemukan butir bantalan molibdenum (1 × 0,6 μm) dalam fragmen piroksena yang diambil dari Mare Crisium di permukaan bulan.[43] Kelangkaan molibdenum di kerak bumi diimbangi oleh konsentrasinya dalam sejumlah bijih yang tidak larut dalam air yang sering ditemukan. Ia sering tergabung dengan belerang dengan cara yang sama seperti tembaga. Meskipun molibdenum ditemukan di mineral seperti wulfenit (PbMoO) dan powellit (CaMoO), sumber komersial utamanya adalah molibdenit (MoS). Molibdenum ditambang sebagai bijih utama dan juga dipulihkan sebagai produk sampingan dari pertambangan tembaga dan wolfram.[44]

Produksi molibdenum dunia adalah 250.000 t pada tahun 2011, produsen terbesar adalah China (94.000 t), Amerika Serikat (64.000 t), Chile (38.000 t), Peru (18.000 t) dan Meksiko (12.000 t). Total cadangan diperkirakan mencapai 10 juta ton, dan sebagian besar terkonsentrasi di China (4,3 Mt), AS (2,7 Mt) dan Chile (1,2 Mt). Berdasarkan benua, 93% produksi molibdenum dunia terbagi secara merata antara Amerika Utara, Amerika Selatan (terutama di Cile), dan China. Eropa dan seluruh Asia (kebanyakan Armenia, Rusia, Iran dan Mongolia) menghasilkan sisanya.[45]

Dalam pengolahan molibdenit, bijih tersebut pertama kali dipanggang di udara pada suhu . Prosesnya menghasilkan gas belerang dioksida dan molibdenum(VI) oksida:[46]

2MoSA2+7OA22MoOA3+4SOA2

Bijih yang teroksidasi biasanya diekstraksi dengan larutan amonia dalam air untuk menghasilkan amonium molibdat:

MoOA3+2NHA3+HA2O(NHA4)A2(MoOA4)

Tembaga, ketakmurnian dalam molibdenit, kurang larut dalam amonia. Untuk menghilangkannya dari larutan, tembaga diendapkan dengan hidrogen sulfida.[47] Amonium molibdat diubah menjadi amonium dimolibdat, yang diisolasi sebagai padatan. Memanaskan padatan ini menghasilkan molibdenum trioksida:[48]

(NHA4)A2MoA2OA72MoOA3+2NHA3+HA2O

Trioksida mentah dapat dimurnikan lebih lanjut dengan sublimasi pada .

Logam molibdenum dihasilkan melalui reduksi oksida dengan hidrogen:

MoOA3+3HA2Mo+3HA2O

Molibdenum untuk produksi baja direduksi melalui reaksi aluminotermal dengan penambahan besi untuk menghasilkan feromolibdenum. Bentuk umum feromolibdenum mengandung molibdenum 60%.[49][50]

Molibdenum memiliki nilai sekitar $30.000 per ton per Agustus 2009. Harga ini bertahan pada atau mendekati $10.000 per ton dari tahun 1997 sampai 2003, dan mencapai puncaknya $103.000 per ton pada bulan Juni 2005.[51] Pada tahun 2008 London Metal Exchange mengumumkan bahwa molibdenum akan diperdagangkan sebagai komoditas di bursa.[52]

Sejarah pertambangan molibdenum

Secara historis, tambang Knaben di selatan Norwegia, dibuka pada tahun 1885, merupakan tambang pertama yang didedikasikan untuk molibdenum. Tambang itu ditutup dari tahun 1973 sampai 2007, tetapi dibuka kembali tahun itu[53] dan sekarang menghasilkan molibdenum disulfida per tahun. Tambang besar di Colorado (seperti tambang Henderson dan tambang Climax)[54] dan di British Columbia menghasilkan molibdenit sebagai produk utama mereka, sementara banyak deposit tembaga porfiri seperti Tambang Canyon Bingham di Utah dan tambang Chuquicamata di utara Chile menghasilkan molibdenum sebagai produk sampingan dari pertambangan tembaga.

Aplikasi

Logam paduan

Sekitar 86% molibdenum yang dihasilkan digunakan dalam bidang metalurgi, dan sisanya digunakan dalam aplikasi kimia. Perkiraan penggunaan global adalah baja struktural 35%, baja nirkarat 25%, bahan kimia 14%, alat & baja berkecepatan tinggi 9%, besi cor 6%, logam unsur molibdenum 6%, dan superalloy 5%.[55]

Molibdenum dapat menahan suhu ekstrem tanpa memuai atau melunak secara signifikan, membuatnya berguna di lingkungan yang panas, termasuk lapis baja militer, bagian pesawat terbang, stop kontak listrik, motor industri, dan filamen.[56][57]

Sebagian besar paduan baja berkecepatan tinggi (misalnya, baja 41xx mengandung 0,25% sampai 8% molibdenum.[58] Bahkan dalam porsi kecil ini, lebih dari 43.000 ton molibdenum digunakan setiap tahun dalam baja nirkarat, perkakas baja, besi cor, dan superalloy suhu tinggi.[59]

Molibdenum juga dinilai sebagai baja paduan untuk ketahanan korosi yang tinggi dan weldabilitas.[60][61] Molibdenum menyumbang ketahanan terhadap korosi pada baja nirkarat tipe-300 (khususnya tipe-316) dan terutama pada baja tahan karat super austenitik (seperti paduan AL-6XN, 254SMO atau 1925hMo). Molibdenum meningkatkan ketegangan kisi, sehingga meningkatkan energi yang dibutuhkan untuk melarutkan atom besi dari permukaan. Molibdenum juga digunakan untuk meningkatkan ketahanan korosi pada baja tahan karat feritik (misalnya kelas 444) dan baja tahan karat martensitik (misalnya 1.4122 dan 1.4418).

Molibdenum kadang digunakan sebagai pengganti wolfram karena kerapatannya yang lebih rendah dan harga yang lebih stabil.[62] Contohnya adalah baja berkecepatan tinggi seri 'M' seperti M2, M4 dan M42 sebagai substitusi untuk seri baja 'T', yang mengandung wolfram. Molibdenum dapat juga digunakan sebagai penyalut tahan api untuk logam lain. Meskipun titik lelehnya adalah , molibdenum cepat teroksidasi pada suhu di atas membuatnya cocok untuk penggunaan dalam lingkungan vakum.[63]

TZM (Mo (~99%), Ti (~0.5%), Zr (~0.08%) dan sedikit C) adalah superalloy molibdenum tahan korosi yang tahan lelehan garam fluorida pada suhu di atas . Ia memiliki kekuatan sekitar dua kali kekuatan Mo murni, dan lebih ulet serta lebih mudah dilas. Selain itu, ia diuji menahan korosi garam eutaktik standar (FLiBe) dan uap garam yang digunakan dalam reaktor leburan garam selama 1100 jam dengan sangat sedikit korosi yang susah diukur.[64][65]

Logam paduan berbasis molibdenum lainnya yang tidak mengandung besi hanya memiliki aplikasi terbatas. Misalnya, baik molibdenum murni maupuan paduan molibdenum/wolfram (70%/30%) digunakan untuk pipa dan pompa pendesak yang kontak langsung dengan leburan zink, karena ketahanannya terhadap lelehan seng.[66]

Aplikasi lainnya sebagai unsur murni

  • Serbuk molibdenum digunakan sebagai pupuk untuk beberapa tanaman, seperti kembang kol.[67]
  • Unsur molibdenum digunakan dalam analisis NO, NO , NO pada pembangkit listrik untuk pengendalian pencemaran. Pada , unsur bertindak sebagai katalisator untuk NO/NO membentuk molekul NO untuk dideteksi oleh cahaya inframerah[68]
  • Anode molibdenum menggantikan wolfram dalam sumber sinar-X tegangan rendah untuk penggunaan khusus, seperti misalnya mamografi.[69]
  • Isotop radioaktif molibdenum-99 digunakan untuk menghasilkan teknesium-99m, yang digunakan untuk pencitraan medis.[70]

Senyawa (14% penggunaan global)

  • Molibdenum disulfida (MoS) digunakan sebagai pelumas padat dan zat antiaus suhu tinggi-tekanan tinggi (high-pressure high-temperature, HPHT). Ia membentuk film yang kuat pada permukaan logam dan merupakan zat aditif umum untuk proses HPHT — jika terjadi kegagalan gemuk katastrofik, lapisan tipis molibdenum mencegah kontak bagian yang dilumasi.[71] Ia juga memiliki sifat semikonduktor dengan keunggulan berbeda dibandingkan silikon tradisional atau grafena dalam aplikasi elektronik.[72] MoS juga digunakan sebagai katalis dalam penghidropecahan () fraksi minyak bumi yang mengandung nitrogen, belerang dan oksigen.[73]
  • Molibdenum disilisida (MoSi) adalah keramik penghantar lisrik dengan kegunaan utama dalam elemen pemanas yang beroperasi pada suhu di atas 1500 °C di udara.[74]
  • Molibdenum trioksida (MoO) digunakan sebagai perekat antara enamel dan logam.[75] Timbal molibdat (wulfenit) yang mengendap dengan timbal kromat dan timbal sulfat adalah pigmen jingga cerah yang digunakan pada keramik dan plastik.[76]
  • Oksida campuran berbasis molibdenum adalah katalis serbaguna dalam industri kimia. Beberapa contoh adalah katalis untuk oksidasi selektif propilena menjadi akrolein dan asam akrilat, amoksidasi propilena menjadi akrilonitril.[77][78] Katalis dan proses yang sesuai untuk oksidasi selektif langsung propana menjadi asam akrilat sedang dalam penelitian.[79][80][81][82]
  • Amonium heptamolibdat digunakan dalam pewarnaan biologis.
  • Gelas soda kapur bersalut molibdenum digunakan dalam sel surya CIGS.
  • Asam fosfomolibdat adalah pewarna noda yang digunakan dalam kromatografi lapisan tipis.
  • Molibdenum-99 adalah radioisotop induk dari teknesium-99m, yang digunakan dalam banyak prosedur medis. Isotop tersebut ditangani dan disimpan sebagai molibdat.[83]

Peran biologis

Nitrogenase

Peran paling penting molibdenum dalam organisme hidup adalah sebagai logam heteroatom di tempat aktif dalam enzim tertentu.[84][85] Dalam fiksasi nitrogen bakterial, enzim nitrogenase yang terlibat dalam tahap terminal untuk mengurangi nitrogen molekuler biasanya mengandung molibdenum di tempat yang aktif (meskipun penggantian molibdenum dengan besi atau vanadium juga diketahui). Struktur pusat katalitik enzim serupa seperti yang terdapat dalam protein besi-belerang: ia menggabungkan dan beberapa cluster .[86]

Reaksi yang dilakukan enzim nitrogenase adalah:

NA2+8HA++8eA+16ATP+16HA2O2NHA3+HA2+16ADP+16PAi

Dengan proton dan elektron dari rantai transportasi elektron, nitrogen direduksi menjadi amonia dan gas hidrogen bebas. Proses ini menggunakan energi, memerlukan pemecahan (hidrolisis) ATP menjadi ADP ditambah fosfat bebas (P).

Pada tahun 2008, dilaporkan bukti-bukti bahwa kelangkaan molibdenum di awal lautan di bumi merupakan faktor pembatas selama hampir dua miliar tahun dalam evolusi lebih lanjut dari kehidupan eukariotik (yang mencakup semua tumbuhan dan hewan). Rantai penyebabnya adalah sebagai berikut:[87]

  1. Kurangnya oksigen di awal terbentuknya lautan menyebabkan kelangkaan molibdenum terlarut. Sebagian besar senyawa molibdenum memiliki kelarutan yang rendah dalam air, tetapi ion molibdat dapat larut dan terbentuk saat mineral yang mengandung molibdenum terkena oksigen dan air.
  2. Kurangnya molibdenum terlarut membatasi pertumbuhan bakteri fiksasi nitrogen prokariotik, yang memerlukan enzim pengikat molibdenum untuk proses tersebut.
  3. Kurangnya bakteri fiksasi nitrogen prokariotik membatasi pertumbuhan eukariota laut, yang memerlukan nitrogen teroksidasi yang sesuai untuk produksi senyawa nitrogen organik atau organik itu sendiri (seperti protein) dari bakteri prokariotik.[88][89][90]

Namun, sekali oksigen terbentuk di air loaut oleh eukariota yang terbatas tersebut, ia bereaksi dengan ir dan molibdenum dalam mineral di dasar laut menghasilkan molibdat yang dapat larut, membuatnya tersedia untuk bakteri fiksasi nitrogen. Bakteri-bakteri tersebut menyediakan senyawa Nitrogen produk fiksasi yang dapat digunakan oleh kehidupan yang lebih tinggi.

Meskipun oksigen di satu sisi mempromosikan fiksasi nitrogen dengan membuat molibdenum yang tersedia dalam air, ia juga secara langsung meracuni enzim nitrogenase. Jadi, dalam sejarah purba Bumi, setelah oksigen tiba dalam jumlah besar di udara dan air di Bumi, organisme yang terus memperbaiki nitrogen dalam kondisi aerobik terisolasi dan melindungi enzim penguat nitrogen mereka dari terlalu banyak oksigen dalam struktur heterosista atau yang setara. Isolasi struktural reaksi fiksasi nitrogen pada organisme aerobik terus berlanjut hingga saat ini.

Enzim kofaktor molibdenum

Meskipun molibdenum membentuk senyawa dengan berbagai molekul organik, termasuk karbohidrat dan asam amino, ia ditransportasikan ke seluruh tubuh manusia sebagai .[91] Sekurang-kurangnya 50 enzim yang mengandung molibdenum diketahui pada tahun 2002, sebagian besar dalam bakteria, dan jumlahnya terus meningkat setiap tahun;[92][93] enzim tersebut termasuk aldehida oksidase, sulfit oksidase dan xantin oksidase.[94] Pada beberapa hewan, dan pada manusia, oksidasi xantin menjadi asam urat, suatu proses katabolisme purin, dikatalisis oleh xantin oksidase, suatu enzim yang mengandung molibdenum. Aktivitas xantin oksidase berbanding langsung dengan jumlah molibdenum dalam tubuh. Namun, konsentrasi molibdenum yang sangat tinggi dapat membalikkan tren dan dapat bertindak sebagai inhibitor baik untuk katabolisme purin maupun proses-proses lainnya. Konsentrasi molibdenum juga berpengaruh pada sintesis protein, metabolisme, dan pertumbuhan.[95]

Pada hewan dan tumbuhan, senyawa trisiklik yang disebut molibdopterin (yang, terlepas dari namanya, tidak mengandung molibdenum) bereaksi dengan molibdat membentuk kofaktor lengkap yang mengandung molibdenum yang disebut kofaktor molibdenum. Selain nitrogenase kuno secara filogenetika (seperti yang didiskusikan di atas) bahwa fiksasi nitrogen terjadi di dalam beberapa bakteri dan sianobakteri, seluruh enzim yang menggunakan molibdenum (sejauh yang sudah diidentifikasi) menggunakan kofaktor molibdenum, di mana molibdenum berada pada tingkat oksidasi VI, sama seperti molibdat.[96] Enzim molibdenum pada tumbuhan dan hewan mengkatalisis oksidasi dan kadang-kadang reduksi beberapa molekul kecil dalam proses yang mengatur siklus nitrogen, belerang, dan karbon.[97]

Asupan makanan dan defisiensi

Molibdenum adalah unsur makanan renik yang diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia dan beberapa mamalia yang telah dipelajari.[98] Diketahui empat enzim Mo-dependen mamalia, semuanya mengandung kofaktor molibdenum (Moco) berbasis pterin di situs aktif mereka: sulfit oksidase, xantin oksidoreduktase, aldehida oksidase, dan amidoksime reduktase mitokondrial.[99] Orang yang sangat kekurangan molibdenum memiliki sulfit oksidase buruk fungsi dan rentan terhadap reaksi toksik terhadap sulfit dalam makanan.[100][101] Tubuh manusia mengandung sekitar 0,07 mg molibdenum per kilogram berat badan,[102] dengan konsentrasi yang lebih tinggi terdapat pada liver dan ginjal dan lebih rendah pada tulang belakang.[103] Molybdenum juga hadir dalam enamel gigi manusia dan dapat membantu mencegah pembusukannya.[104]

Rata-rata asupan harian molibdenum bervariasi antara 0,12 dan 0,24 mg, tergantung pada kandungan molibdenum makanan.[105] Daging babi, domba, dan daging sapi masing-masing memiliki sekitar 1,5 bagian per juta molibdenum. Sumber makanan penting lainnya termasuk kacang hijau, telur, biji bunga matahari, tepung terigu, lentil, mentimun dan biji sereal.[106] Toksisitas akut belum terlihat pada manusia, dan toksisitasnya sangat bergantung pada keadaan kimia. Studi pada tikus menunjukkan median dosis letal (LD) serendah 180 mg/kg untuk beberapa senyawa Mo.[107] Meskipun data toksisitas manusia tidak tersedia, penelitian pada hewan menunjukkan bahwa konsumsi kronis lebih dari 10 mg/hari molibdenum dapat menyebabkan diare, retardasi pertumbuhan, infertilitas, berat lahir rendah, dan encok; ini juga dapat memengaruhi paru-paru, ginjal, dan liver.[108][109] Natrium wolframat adalah inhibitor kompetitif molibdenum. Wolfram diet mengurangi konsentrasi molibdenum dalam jaringan.[110]

Konsentrasi tanah molibdenum yang rendah dalam kelompok geografis dari utara Cina hingga Iran menyebabkan defisiensi molibdenum, dan dikaitkan dengan peningkatan kanker esofagus.[111][112] Dibandingkan dengan Amerika Serikat, yang memiliki pasokan molibdenum lebih besar di dalam tanah, orang-orang yang tinggal di daerah tersebut memiliki risiko sekitar 16 kali lebih besar untuk karsinoma sel skuamosa esofagus.[113]

Defisiensi molibdenum juga telah dilaporkan sebagai konsekuensi pemberian nutrisi parenteral total non-molibdenum (pemberian makanan intravena lengkap) dalam jangka waktu yang lama. Ini menghasilkan tingkat sulfit dan urat darah yang tinggi, sama seperti defisiensi kofaktor molibdenum. Namun (mungkin karena penyebab defisiensi molibdenum murni ini terjadi terutama pada orang dewasa), konsekuensi neurologisnya tidak begitu mengemuka seperti pada kasus defisiensi kofaktor bawaan.[114]

Penyakit terkait

Penyakit defisiensi kofaktor molibdenum bawaan, yang terlihat pada bayi, adalah ketidakmampuan untuk mensintesis kofaktor molibdenum, sebuah molekul heterosiklik yang mengikat molibdenum di tempat aktif di semua enzim manusia yang diketahui menggunakan molibdenum. Defisiensi yang dihasilkan menghasilkan tingkat sulfit dan urat yang tinggi, dan kerusakan neurologis.[115][116]

Antagonisme tembaga-molibdenum

Kandungan molibdenum tinggi dalam tubuh dapat mengganggu asupan tembaga yang mengakibatkan defisiensi tembaga. Molibdenum mencegah protein plasma mengikat tembaga, dan juga meningkatkan jumlah tembaga yang diekskresikan dalam air seni. Pemamah biak (ruminant) yang mengkonsumsi kadar molibdenum tinggi menderita diare, pertumbuhan kerdil, anemia, dan akromotrikia (hilangnya pigmen bulu). Gejala ini dapat diatasi dengan suplemen tembaga, baik melalui diet maupun injeksi.[117] Kekurangan tembaga efektif, dapat diperparah dengan kelebihan belerang.[118][119]

Defisiensi tembaga dapat pula sengaja diinduksi untuk tujuan pengobatan, dengan menggunakan senyawa amonium tetratiomolibdat. Anion tetratiomolibdat yang berwarna merah cerah merupakan zat pengkhelat tembaga. Tetratiomolibdat pertama kali digunakan dalam terapi untuk pengobatan toksikosis tembaga pada hewan. Ia kemudian dikenalkan sebagai perawatan dalam penyakit Wilson, suatu kelainan herediter terkait metabolisme tembaga pada manusia. Ia bertindak dengan menyaingi absorpsi tembaga dalam usus dan meningkatkan ekskresi. Telah ditemukan pula bahwa tetratiomolibdat memiliki efek inhibisi pada angiogenesis, yang secara potensial menghambat proses translokasi membran yang bergantung pada ion tembaga..[120] Ini adalah hal yang menjanjikan dalam penelitian pengobatan kanker, degenerasi makular terkait usia, dan penyakit lain yang melibatkan proliferasi patologis pembuluh darah.[121][122]

Pencegahan

Debu dan uap molibdenum, dihasilkan dari penambangan atau karya logam, bersifat toksik, terutama jika terhirup (termasuk debu yang terjebak dalam sinus pranasal dan kemudian tertelan).[123] Paparan jangka panjang dengan tingkat rendah dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Harus dihindari untuk menelan atau menghirup langsung molibdenum dan oksidanya.[124][125] Peraturan OSHA menetapkan paparan molibdenum maksimum yang diizinkan dalam 8-jam per hari sebagai 5 mg/m3. Paparan kronis mulai 60 hingga 600 mg/m dapat menyebabkan gejalan termsuk kelelahan, sakit kepala dan ngilu sendi.[126] Pada level 5000 mg/m, molibdenum membahayakan segera terhadap kesehatan dan kehidupan (IDLH).[127]

Lihat juga

Pranala luar

Referensi

  1. CRC Handbook of Chemistry and Physics. Chemical Rubber Publishing Company. 1994. Vol. 4. hlm. 18. ISBN 0-8493-0474-1.
  2. CRC Handbook of Chemistry and Physics. Chemical Rubber Publishing Company. 1994. Vol. 4. hlm. 18. ISBN 0-8493-0474-1.
  3. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 262–266. ISBN 0-19-850341-5.
  4. Anatoly P. Shpak. Inherent tensile strength of molybdenum nanocrystals. Science and Technology of Advanced Materials. 2009. Vol. 10 (4). hlm. 045004. doi:10.1088/1468-6996/10/4/045004.
  5. Georges Audi. The NUBASE Evaluation of Nuclear and Decay Properties. Nuclear Physics A. Atomic Mass Data Center. 2003. Vol. 729. hlm. 3–128. doi:10.1016/j.nuclphysa.2003.11.001.
  6. Georges Audi. The NUBASE Evaluation of Nuclear and Decay Properties. Nuclear Physics A. Atomic Mass Data Center. 2003. Vol. 729. hlm. 3–128. doi:10.1016/j.nuclphysa.2003.11.001.
  7. CRC Handbook of Chemistry and Physics. CRC. 2006. Vol. 11. hlm. 87–88. ISBN 0-8493-0487-3.
  8. CRC Handbook of Chemistry and Physics. CRC. 2006. Vol. 11. hlm. 87–88. ISBN 0-8493-0487-3.
  9. Armstrong, John T. Technetium. Chemical & Engineering News. 2003.
  10. Wolterbeek, Hubert Theodoor; Bode, Peter "A process for the production of no-carrier added 99Mo". European Patent EP2301041 (A1) ― 2011-03-30. Retrieved on 2012-06-27.
  11. Max Schmidt. Anorganische Chemie II. Wissenschaftsverlag. 1968. hlm. 119–127.
  12. Wieser, M. E. Atomic weights of the elements 2007 (IUPAC Technical Report). Pure and Applied Chemistry. 2009. Vol. 81 (11). hlm. 2131–2156. doi:10.1351/PAC-REP-09-08-03.
  13. Meija, J. Current Table of Standard Atomic Weights in Alphabetical Order: Standard Atomic weights of the elements. Commission on Isotopic Abundances and Atomic Weights. 2013.
  14. Joseph R. Davis. Heat-resistant materials. Molybdenum. ASM International. 1997. hlm. 365. ISBN 0-87170-596-6.
  15. Holleman, Arnold F. Lehrbuch der Anorganischen Chemie. Walter de Gruyter. 1985. hlm. 1096–1104. ISBN 3-11-007511-3.
  16. Michael T. Pope. Polyoxometalate Chemistry: An Old Field with New Dimensions in Several Disciplines. Angewandte Chemie International Edition. 1997. Vol. 30. hlm. 34–48. doi:10.1002/anie.199100341.
  17. Handbook of water analysis. Marcel Dekker. 2000. hlm. 280–288. ISBN 978-0-8247-8433-1.
  18. Holleman, Arnold F. Lehrbuch der Anorganischen Chemie. Walter de Gruyter. 1985. hlm. 1096–1104. ISBN 3-11-007511-3.
  19. Holleman, Arnold F. Lehrbuch der Anorganischen Chemie. Walter de Gruyter. 1985. hlm. 1096–1104. ISBN 3-11-007511-3.
  20. Holleman, Arnold F. Lehrbuch der Anorganischen Chemie. Walter de Gruyter. 1985. hlm. 1096–1104. ISBN 3-11-007511-3.
  21. Holleman, Arnold F. Lehrbuch der Anorganischen Chemie. Walter de Gruyter. 1985. hlm. 1096–1104. ISBN 3-11-007511-3.
  22. A. R. Lansdown. Molybdenum disulphide lubrication. Tribology and Interface Engineering. Elsevier. 1999. Vol. 35. ISBN 978-0-444-50032-8.
  23. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 262–266. ISBN 0-19-850341-5.
  24. Melchert, Craig. Greek mólybdos as a Loanword from Lydian. University of North Carolina at Chapel Hill.
  25. International Molybdenum Association, "Molybdenum History"
  26. Institute. Accidental use of molybdenum in old sword led to new alloy. 1948.
  27. Peter Van der Krogt. Molybdenum. Elementymology & Elements Multidict. 2006-01-10.
  28. Steve Gagnon. Molybdenum. Jefferson Science Associates, LLC.
  29. Scheele, C. W. K. Versuche mit Wasserbley;Molybdaena. Svenska vetensk. Academ. Handlingar. 1779. Vol. 40. hlm. 238.
  30. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 262–266. ISBN 0-19-850341-5.
  31. Hjelm, P. J. Versuche mit Molybdäna, und Reduction der selben Erde. Svenska vetensk. Academ. Handlingar. 1788. Vol. 49. hlm. 268.
  32. Samuel Leslie Hoyt. Metallography. McGraw-Hill. 1921. Vol. 2.
  33. Alfred Krupp. The metallic alloys: A practical guide for the manufacture of all kinds of alloys, amalgams, and solders, used by metal-workers ... with an appendix on the coloring of alloys. H.C. Baird & Co. 1888. hlm. 60.
  34. C. K. Gupta. Extractive Metallurgy of Molybdenum. CRC Press. 1992. ISBN 978-0-8493-4758-0.
  35. Reich. The Making of American Industrial Research: Science and Business at Ge and Bell, 1876–1926. 2002-08-22. hlm. 117. ISBN 9780521522373.
  36. Vokes. Molybdenum deposits of Canada. 1963. hlm. 3.
  37. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 262–266. ISBN 0-19-850341-5.
  38. Chemical properties of molibdenum - Health effects of molybdenum - Environmental effects of molybdenum. lenntech.com
  39. Sam Kean. The Disappearing Spoon. Page 88–89
  40. Ray Millholland. Battle of the Billions: American industry mobilizes machines, materials, and men for a job as big as digging 40 Panama Canals in one year. Popular Science. August 1941. hlm. 61.
  41. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 262–266. ISBN 0-19-850341-5.
  42. Van Nostrand's Encyclopedia of Chemistry. Wiley-Interscience. 2005. hlm. 1038–1040. ISBN 978-0-471-61525-5.
  43. Jambor, J.L. New mineral names. American Mineralogist. 2002. Vol. 87. hlm. 181.
  44. CRC Handbook of Chemistry and Physics. Chemical Rubber Publishing Company. 1994. Vol. 4. hlm. 18. ISBN 0-8493-0474-1.
  45. Molybdenum Statistics and Information. U.S. Geological Survey. 2007-05-10.
  46. Holleman, Arnold F. Lehrbuch der Anorganischen Chemie. Walter de Gruyter. 1985. hlm. 1096–1104. ISBN 3-11-007511-3.
  47. Holleman, Arnold F. Lehrbuch der Anorganischen Chemie. Walter de Gruyter. 1985. hlm. 1096–1104. ISBN 3-11-007511-3.
  48. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  49. Holleman, Arnold F. Lehrbuch der Anorganischen Chemie. Walter de Gruyter. 1985. hlm. 1096–1104. ISBN 3-11-007511-3.
  50. C. K. Gupta. Extractive Metallurgy of Molybdenum. CRC Press. 1992. hlm. 1–2. ISBN 978-0-8493-4758-0.
  51. Dynamic Prices and Charts for Molybdenum. InfoMine Inc. 2007.
  52. LME to launch minor metals contracts in H2 2009. London Metal Exchange. 2008-09-04.
  53. M. Langedal. Dispersion of tailings in the Knabena—Kvina drainage basin, Norway, 1: Evaluation of overbank sediments as sampling medium for regional geochemical mapping. Journal of Geochemical Exploration. 1997. Vol. 58 (2–3). hlm. 157–172. doi:10.1016/S0375-6742(96)00069-6.
  54. Paul B. Coffman. The Rise of a New Metal: The Growth and Success of the Climax Molybdenum Company. The Journal of Business of the University of Chicago. 1937. Vol. 10. hlm. 30. doi:10.1086/232443.
  55. Pie chart of world Mo uses. London Metal Exchange.
  56. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 262–266. ISBN 0-19-850341-5.
  57. Molybdenum. AZoM.com Pty. Limited. 2007.
  58. CRC Handbook of Chemistry and Physics. Chemical Rubber Publishing Company. 1994. Vol. 4. hlm. 18. ISBN 0-8493-0474-1.
  59. Van Nostrand's Encyclopedia of Chemistry. Wiley-Interscience. 2005. hlm. 1038–1040. ISBN 978-0-471-61525-5.
  60. Van Nostrand's Encyclopedia of Chemistry. Wiley-Interscience. 2005. hlm. 1038–1040. ISBN 978-0-471-61525-5.
  61. Molybdenum Statistics and Information. U.S. Geological Survey. 2007-05-10.
  62. Van Nostrand's Encyclopedia of Chemistry. Wiley-Interscience. 2005. hlm. 1038–1040. ISBN 978-0-471-61525-5.
  63. Molybdenum. AZoM.com Pty. Limited. 2007.
  64. Robert E. Smallwood. ASTM special technical publication 849: Refractory metals and their industrial applications: a symposium. ASTM International. 1984. hlm. 9. ISBN 9780803102033.
  65. Compatibility of Molybdenum-Base Alloy TZM, with LiF-BeF 2 -ThF 4 -UF 4. Oak Ridge National Laboratory Report. December 1969.
  66. W. H. Cubberly. Tool and manufacturing engineers handbook. Society of Manufacturing Engineers. 1989. hlm. 421. ISBN 978-0-87263-351-3.
  67. Van Nostrand's Encyclopedia of Chemistry. Wiley-Interscience. 2005. hlm. 1038–1040. ISBN 978-0-471-61525-5.
  68. S. Lal. Monitoring of atmospheric behaviour of NO x from vehicular traffic. Environmental Monitoring and Assessment. 2001. Vol. 68 (1). hlm. 37–50. doi:10.1023/A:1010730821844.
  69. Lancaster, Jack L. Physics of Medical X-Ray Imaging. University of Texas Health Science Center.
  70. Gray, Theodore (2009). The Elements. Black Dog & Leventhal. pp. 105–107. ISBN 1-57912-814-9.
  71. W. Winer. Molybdenum disulfide as a lubricant: A review of the fundamental knowledge. Wear. 1967. Vol. 10 (6). hlm. 422–452. doi:10.1016/0043-1648(67)90187-1.
  72. New transistors: An alternative to silicon and better than graphene. Physorg.com. January 30, 2011.
  73. Topsøe, H. Hydrotreating Catalysis, Science and Technology. Springer-Verlag. 1996.
  74. Moulson, A. J. Electroceramics: materials, properties, applications. John Wiley and Sons. 2003. hlm. 141. ISBN 0-471-49748-7.
  75. Steve Gagnon. Molybdenum. Jefferson Science Associates, LLC.
  76. International Molybdenum Association. imoa.info.
  77. Metal Oxides, Chemistry and Applications. CRC Press. 2006. hlm. 414–455.
  78. Centi, G. Selective Oxidation by Heterogeneous Catalysis. Kluwer Academic/Plenum Publishers. 2001. hlm. 363–384.
  79. Csepei, L.-I. Kinetic studies of propane oxidation on Mo and V based mixed oxide catalysts. PhD Thesis, Technische Universität Berlin. 2011.
  80. Raoul Naumann d'Alnoncourt. The reaction network in propane oxidation over phase-pure MoVTeNb M1 oxide catalysts. Journal of Catalysis. March 2014. Vol. 311. hlm. 369–385. doi:10.1016/j.jcat.2013.12.008.
  81. Kazuhiko Amakawa. Multifunctionality of Crystalline MoV(TeNb) M1 Oxide Catalysts in Selective Oxidation of Propane and Benzyl Alcohol. ACS Catalysis. 7 June 2013. Vol. 3 (6). hlm. 1103–1113. doi:10.1021/cs400010q.
  82. Michael Hävecker. Surface chemistry of phase-pure M1 MoVTeNb oxide during operation in selective oxidation of propane to acrylic acid. Journal of Catalysis. January 2012. Vol. 285 (1). hlm. 48–60. doi:10.1016/j.jcat.2011.09.012.
  83. A. Gottschalk. Technetium-99m in clinical nuclear medicine. Annual Review of Medicine. 1969. Vol. 20 (1). hlm. 131–40. doi:10.1146/annurev.me.20.020169.001023.
  84. Ralf R. Mendel. Metallomics and the Cell. Springer. 2013. Vol. 12. doi:10.1007/978-94-007-5561-10_15. ISBN 978-94-007-5560-4. electronic-book ISBN 978-94-007-5561-1 electronic-
  85. Lee Chi Chung. The Metal-Driven Biogeochemistry of Gaseous Compounds in the Environment. Springer. 2014. Vol. 14. hlm. 147–174. doi:10.1007/978-94-017-9269-1_6.
  86. Patricia C. Dos Santos. A newly discovered role for iron-sulfur clusters. PNAS. 2008. Vol. 105 (33). hlm. 11589–11590. doi:10.1073/pnas.0805713105.
  87. Primordial broth of life was a dry Martian cup-a-soup. New Scientist. 29 August 2013.
  88. C. Scott. Tracing the stepwise oxygenation of the Proterozoic ocean. Nature. 2008. Vol. 452 (7186). hlm. 456–460. doi:10.1038/nature06811.
  89. International team of scientists discover clue to delay of life on Earth. Eurekalert.org.
  90. Scientists uncover the source of an almost 2 billion year delay in animal evolution. Eurekalert.org.
  91. Phillip C. H. Mitchell. Overview of Environment Database. International Molybdenum Association. 2003.
  92. John H. Enemark. Synthetic Analogues and Reaction Systems Relevant to the Molybdenum and Tungsten Oxotransferases. Chem. Rev. 2004. Vol. 104 (2). hlm. 1175–1200. doi:10.1021/cr020609d.
  93. Ralf R. Mendel. Cell biology of molybdenum. Biochimica et Biophysica Acta. 2006. Vol. 1763 (7). hlm. 621–635. doi:10.1016/j.bbamcr.2006.03.013.
  94. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 262–266. ISBN 0-19-850341-5.
  95. Phillip C. H. Mitchell. Overview of Environment Database. International Molybdenum Association. 2003.
  96. B. Fischer. A chemical approach to systematically designate the pyranopterin centers of molybdenum and tungsten enzymes and synthetic models. Journal of Inorganic Biochemistry. 1998. Vol. 72 (1–2). hlm. 13–21. doi:10.1016/S0162-0134(98)10054-5.. Summarized in MetaCyc Compound: molybdopterin. Accessed Nov. 16, 2009.
  97. C. Kisker. A structural comparison of molybdenum cofactor-containing enzymes. FEMS Microbiol. Rev. 1999. Vol. 22 (5). hlm. 503–521. doi:10.1111/j.1574-6976.1998.tb00384.x.
  98. Guenter Schwarz. Interrelations between Essential Metal Ions and Human Diseases. Springer. 2013. Vol. 13. hlm. 415–450. doi:10.1007/978-94-007-7500-8_13.
  99. Ralf R. Mendel. Cell biology of molybdenum. BioFactors. 2009. Vol. 35 (5). hlm. 429–34. doi:10.1002/biof.55.
  100. Blaylock Wellness Report, February 2010, page 3.
  101. H. J. Cohen. Molecular Basis of the Biological Function of Molybdenum. The Relationship between Sulfite Oxidase and the Acute Toxicity of Bisulfite and SO 2. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 1973. Vol. 70 (12 Pt 1–2). hlm. 3655–3659. doi:10.1073/pnas.70.12.3655.
  102. Arnold F. Holleman. Inorganic chemistry. Academic Press. 2001. hlm. 1384. ISBN 0-12-352651-5.
  103. Van Nostrand's Encyclopedia of Chemistry. Wiley-Interscience. 2005. hlm. 1038–1040. ISBN 978-0-471-61525-5.
  104. M. E. J. Curzon. Environmental Effects of Molybdenum on Caries. Journal of Dental Research. 1971. Vol. 50 (1). hlm. 74–77. doi:10.1177/00220345710500013401.
  105. M. P. Coughlan. The role of molybdenum in human biology. Journal of Inherited Metabolic Disease. 1983. Vol. 6 (S1). hlm. 70–77. doi:10.1007/BF01811327.
  106. John Emsley. Nature's Building Blocks. Oxford University Press. 2001. hlm. 262–266. ISBN 0-19-850341-5.
  107. Risk Assessment Information System: Toxicity Summary for Molybdenum. Oak Ridge National Laboratory.
  108. M. P. Coughlan. The role of molybdenum in human biology. Journal of Inherited Metabolic Disease. 1983. Vol. 6 (S1). hlm. 70–77. doi:10.1007/BF01811327.
  109. Donald G. Barceloux‌. Molybdenum. Clinical Toxicology. 1999. Vol. 37 (2). hlm. 231–237. doi:10.1081/CLT-100102422.
  110. Van Nostrand's Encyclopedia of Chemistry. Wiley-Interscience. 2005. hlm. 1038–1040. ISBN 978-0-471-61525-5.
  111. Chung S. Yang. Research on Esophageal Cancer in China: a Review. Cancer Research. 1980. Vol. 40 (8 Pt 1). hlm. 2633–44.
  112. Mohsen Nouri. Nail Molybdenum and Zinc Contents in Populations with Low and Moderate Incidence of Esophageal Cancer. Archives of Iranian Medicine. 2008. Vol. 11. hlm. 392.
  113. Philip R. Taylor. Prevention of Esophageal Cancer: The Nutrition Intervention Trials in Linxian, China. Cancer Research. 1994. Vol. 54 (7 Suppl). hlm. 2029s–2031s.
  114. N. N. Abumrad. Molybdenum—is it an essential trace metal?. Bulletin of the New York Academy of Medicine. 1984. Vol. 60 (2). hlm. 163–71.
  115. Smolinsky, B. Splice-specific Functions of Gephyrin in Molybdenum Cofactor Biosynthesis. Journal of Biological Chemistry. 2008. Vol. 283 (25). hlm. 17370–9. doi:10.1074/jbc.M800985200.
  116. J. Reiss. Genetics of molybdenum cofactor deficiency. Human Genetics. 2000. Vol. 106 (2). hlm. 157–63. doi:10.1007/s004390051023.
  117. N. F. Suttle. Recent studies of the copper-molybdenum antagonism. Proceedings of the Nutrition Society. CABI Publishing. 1974. Vol. 33 (3). hlm. 299–305. doi:10.1079/PNS19740053.
  118. Van Nostrand's Encyclopedia of Chemistry. Wiley-Interscience. 2005. hlm. 1038–1040. ISBN 978-0-471-61525-5.
  119. Hauer, Gerald Copper deficiency in cattle. Bison Producers of Alberta. Accessed Dec. 16, 2010.
  120. Nickel, W. The Mystery of nonclassical protein secretion, a current view on cargo proteins and potential export routes. Eur. J. Biochem. 2003. Vol. 270 (10). hlm. 2109–2119. doi:10.1046/j.1432-1033.2003.03577.x.
  121. Brewer GJ. Treatment of Wilson disease with ammonium tetrathiomolybdate: III. Initial therapy in a total of 55 neurologically affected patients and follow-up with zinc therapy. Arch Neurol. 2003. Vol. 60 (3). hlm. 379–85. doi:10.1001/archneur.60.3.379.
  122. G. J. Brewer. Treatment of metastatic cancer with tetrathiomolybdate, an anticopper, antiangiogenic agent: Phase I study. Clinical Cancer Research. 2000. Vol. 6 (1). hlm. 1–10.
  123. Risk Assessment Information System: Toxicity Summary for Molybdenum. Oak Ridge National Laboratory.
  124. Material Safety Data Sheet – Molybdenum. The REMBAR Company, Inc. 2000-09-19.
  125. Material Safety Data Sheet – Molybdenum Powder. CERAC, Inc. 1994-02-23.
  126. NIOSH Documentation for ILDHs Molybdenum. National Institute for Occupational Safety and Health. 1996-08-16.
  127. CDC – NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards – Molybdenum. www.cdc.gov.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29490695 (2026-07-24T08:33:27Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.