Lompat ke isi

Titanium(II) oksida

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 14.00 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Titanium(II)-oxide-3D-vdW

Titanium(II) oksida adalah sebuah senyawa anorganik dari titanium dan oksigen dengan rumus kimia TiO. Senyawa ini dapat dibuat dari titanium(IV) oksida dan logam titanium pada suhu 1500 °C.[1] Senyawa ini bersifat non-stoikiometris dalam kisaran TiO0,7 hingga TiO1,3 dan hal ini disebabkan oleh kekosongan Ti atau O dalam struktur garam batu yang cacat.[2] Dalam TiO murni, 15% dari situs Ti dan O kosong,[3] karena kekosongan tersebut memungkinkan ikatan logam-logam antara pusat Ti yang berdekatan. Penganilan yang hati-hati dapat menyebabkan penataan kekosongan yang menghasilkan bentuk monoklinik yang memiliki 5 unit TiO dalam sel sederhana yang menunjukkan resistivitas yang lebih rendah.[4] Bentuk suhu tinggi dengan atom titanium dengan koordinasi prisma trigonal juga dikenal.[5] Larutan asam TiO stabil untuk waktu yang singkat, kemudian terurai menghasilkan hidrogen:[6]

2 Ti2+(aq) + 2 H+(aq) → 2 Ti3+(aq) + H2(g)

TiO fase gas menunjukkan pita yang kuat dalam spektrum optik bintang dingin (kelas M).[7][8] Pada tahun 2017, TiO diklaim terdeteksi di atmosfer suatu eksoplanet untuk pertama kalinya; suatu hasil yang masih diperdebatkan dalam literatur.[9][10] Selain itu, bukti telah diperoleh untuk keberadaan molekul diatomik TiO di medium antarbintang.[11]

Referensi

  1. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  2. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  3. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  4. M. D. Banus. Electrical and Magnetic Properties of TiO and VO. Physical Review B. American Physical Society (APS). 15 April 1972. Vol. 5 (8). hlm. 2775–2784. doi:10.1103/physrevb.5.2775.
  5. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  6. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  7. Uffe G. Jorgensen. Effects of TiO in stellar atmospheres. Astronomy and Astrophysics. April 1994. Vol. 284 (1). hlm. 179–186.
  8. Spectral classification of late-type dwarfs.
  9. Elyar Sedaghati. Detection of titanium oxide in the atmosphere of a hot Jupiter. Nature. 14 September 2017. Vol. 549 (7671). hlm. 238–241. doi:10.1038/nature23651.
  10. Nestor Espinoza. ACCESS: A featureless optical transmission spectrum for WASP-19b from Magellan/IMACS. MNRAS. January 2019. Vol. 482 (2). hlm. 2065–2087. doi:10.1093/mnras/sty2691.
  11. H. M. Dyck. The Effect of TiO Absorption on Optical and Infrared Angular Diameters of Cool Stars. The Astronomical Journal. American Astronomical Society. 2002. Vol. 124 (1). hlm. 541–545. doi:10.1086/341039.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29589212 (2026-08-16T15:24:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.