Lompat ke isi

Ikatan fosfodiester

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 18.14 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Phosphodiester Bond Diagram

Ikatan fosfodiester terjadi ketika tepatnya dua gugus hidroksil dalam asam fosfat bereaksi dengan gugus hidroksil pada molekul lain untuk membentuk dua ikatan ester.[1]

Ikatan fosfodiester adalah pusat dari semua kehidupan di Bumi karena mereka membentuk tulang punggung untaian asam nukleat. Dalam DNA dan RNA, ikatan fosfodiester adalah hubungan antara atom karbon pada posisi 3' dari satu molekul gula dan atom karbon pada posisi 5' dari atom lain, deoksiribosa dalam DNA dan ribosa dalam RNA.Ikatan kovalen yang kuat terbentuk antara gugus fosfat dan dua cincin karbohidrat berkarbon 5 (pentosa) di atas dua ikatan ester.[2]

Gugus fosfat dalam ikatan fosfodiester bermuatan negatif. Karena gugus fosfat memiliki pKa mendekati 0, mereka bermuatan negatif pada pH 7.[3] Gaya tolakan ini memaksa fosfat untuk mengambil sisi berlawanan dari untaian DNA dan dinetralkan oleh protein (histon), ion logam seperti magnesium, and poliamina.[4]

Agar ikatan fosfodiester terbentuk dan nukleotida bergabung, bentuk tri-fosfat atau di-fosfat dari blok-blok pembangun nukleotida terpecah untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan reaksi yang dikatalisis oleh enzim. Ketika satu fosfat atau dua fosfat yang dikenal sebagai pirofosfat terlepas dan mengkatalisasi reaksi, ikatan fosfodiester terbentuk.[5]

Hidrolisis ikatan fosfodiester dapat dikatalisasi oleh aksi fosfodiesterase yang berperan penting dalam memperbaiki sekuens DNA.[6]

Hubungan fosfodiester antara dua ribonukleotida dapat dipatahkan oleh hidrolisis basa, sedangkan hubungan antara dua deoksiribonukleotida lebih stabil dalam kondisi ini. Kemudahan relatif hidrolisis RNA adalah efek dari keberadaan gugus hidroksil pada posisi 2'.[7]

Gangguan molekul DNA dan RNA

Beberapa agen dapat memutus ikatan fosfodiester. Di antara yang lebih umum adalah peroksida dan berbagai ion logam (mis., , ). Radiasi pengion juga secara efisien menghasilkan putusnya untai tersebut. DNase yang terdapat dalam sel mungkin juga terkadang dapat memutuskan ikatan fosfodiester. Kerusakan untai ganda, yaitu, dua untaian dari untai tunggal yang berlawanan satu sama lain, dapat disebabkan dari paparan semua bentuk radiasi pengion. Pemutusan untai tunggal dapat diperbaiki dengan DNA ligase, meskipun kadang-kadang dibutuhkan enzim tambahan.[8]

Spesi oksigen reaktif (ROS) mampu membelah ikatan fosfodiester yang menahan basa dalam RNA dan DNA bersama-sama dan memecah struktur rantai RNA dan DNA. ROS mengoksidasi basa purin dan pirimidin serta mencegah pemasangan basa yang tepat. Posisi karbon 8 dari purin adalah situs yang sangat sensitif untuk oksidasi oleh ROS; pembentukan 8-hidroksiguanin atau 8-hidroksiadenin, 8-hidroksi-deoksiguanin atau 8-hidroksi-deoksiadenin adalah masing-masing merupakan pijakan bagi serangan ROS pada RNA atau DNA. ROS dapat menyebabkan deaminasi, yaitu, menghilangkan gugus amino dari adenin atau guanin untuk membentuk hipoksantina atau xantina, masing-masing, atau menghilangkan gugus amino dari sitosin untuk membentuk urasil. Reaksi ini mengubah pasangan basa yang benar dalam DNA. Reaksi-reaksi tersebut merupakan penyebab utama terjadinya mutasi.[9]

Aktivitas enzim

Fosfodiesterase adalah enzim yang mengkatalisis hidrolisis ikatan fosfodiester, misalnya ikatan dalam molekul cAMP atau GMP siklik.[10][11]

Enzim yang memainkan peran penting dalam perbaikan kerusakan DNA oksidatif adalah 3'-fosfodiesterase.[12]

Selama replikasi DNA, terdapat lubang di antara fosfat pada tulang belakang yang ditinggalkan oleh DNA polimerase I. DNA ligase dapat membentuk ikatan fosfodiester antara nukleotida.[13]

Lihat pula

Referensi

  1. Phosphodiester bond. School of BioMedical Sciences Wiki.
  2. Richard R. Sinden. DNA Structure and Function. Gulf Professional Publishing. 1994. hlm. 9. ISBN 9780126457506.
  3. Laplace Plaisance. Fundamental Biochemistry. McGraf Educational. 2007. hlm. 331-334.
  4. Kohwi Y, Kohwi-Shigematsu T. Magnesium ion-dependent triple-helix structure formed by homopurine-homopyrimidine sequences in supercoiled plasmid DNA. Proc Natl Acad Sci U S A. 1988. Vol. 85 (11). hlm. 3781-5. doi:10.1073/pnas.85.11.3781.
  5. M. V. Kulkarni. Biochemistry. Pragati Books. 2008. hlm. 57-60. ISBN 9788185790060.
  6. Bruce Alberts. Molecular Biology of the Cell. Garland Science. 2017. hlm. 240. ISBN 9781317563754.
  7. Donald Voet. Biochemistry. John Wiley & Sons. 2011. hlm. 85. ISBN 9780470570951.
  8. Bhagavan, N.V. Medical Biochemistry. Elsevier, Inc. 2002. ISBN 9780120954407.
  9. Cederbaum, A.I. Liver Pathophysiology. Elsevier, Inc. 2017. ISBN 9780128042748.
  10. Isozymes of cyclic nucleotide phosphodiesterases. John Wiley and Sons. hlm. 61-85.
  11. Joseph A. Beavo. Primary sequence of cyclic nucleotide phosphodiesterase isozymes and the design of selective inhibitors. Trends in Pharmacological Sciences. April 1990. Vol. 11 (4). hlm. 150-155. doi:10.1016/0165-6147(90)90066-H.
  12. Jac A. Nickoloff. DNA Damage and Repair: Advances from Phage to Humans. Springer Science & Business Media. 2001. ISBN 9781592590957.
  13. Ian D. Hickson. Base Excision Repair of DNA Damage. Springer Science & Business Media. 1999. ISBN 9780412131615.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29304602 (2026-06-01T15:46:38Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.