Lompat ke isi

Ekosemiotika

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 5 September 2026 17.52 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28048098; atribusi sumber disertakan.)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Ekosemiotika adalah salah satu cabang ilmu semiotika yang bersinggungan dengan ekologi manusia. Ilmu ini mempelajari hubungan tanda yang diciptakan oleh budaya, yang berkaitan dengan makhluk hidup lain, seperti komunitas dan bentang alam.

Dalam keilmuan ini, lingkungan memiliki sifat semiotis dalam cara dan tingkatan yang berbeda-beda. Lingkungan bendawi memiliki keterjangkauan dan potensi untuk turut hadir dalam hubungan tanda. Hewan-hewan menyematkan makna pada lingkungan berdasarkan kebutuhan dan cara pandangnya terhadap lingkungan. Dalam budaya manusia, lingkungan dapat menjadi bermakna dalam karya sastra atau seni atau melalui pelambangan hewan atau bentang alam. Representasi budaya terhadap lingkungan pada gilirannya dapat memengaruhi alam melalui tindakan manusia.

Ekosemiotika menelaah proses, transmisi dan masalah yang terjadi dalam dan di antara lapisan semiotis yang berbeda-beda. Pusat fokus ekosemiotika mempelajari konsep peran (model berdasarkan tanda yang manusia punya) dalam merancang dan mengubah lingkungan. Konsep analisis ekosemiotika adalah, sebagai contoh, semiosida, keterjangkauan (affordance) dan konsorsium.

Bidang keilmuan ini dipelopori oleh Winfried Nöth dan Kalevi Kull, dan kemudian dikembangkan oleh Almo Farina dan Timo Maran. Ekosemiotika meliputi atau banyak bersinggungan dengan semiotika bentang alam.

Lihat Pula

Catatan kaki

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28048098 (2025-10-17T03:47:30Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.