Lompat ke isi

Kebaikan dan kejahatan

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 9 September 2026 09.09 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Pembersihan konten sesuai kebijakan Wiki Unissula)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Devil's portrait, Herman the Recluse, Codex Gigas, Benedictine monastery of Podlažice, early 13th century

Dalam filsafat, agama, dan psikologi, "kebaikan dan kejahatan" merupakan dikotomi umum. Dalam agama-agama yang dipengaruhi oleh Manikheisme dan Abrahamik, kejahatan dianggap sebagai kebalikan dari kebaikan, yang mana kebaikan harus menang dan kejahatan harus dikalahkan.

Kejahatan sering digunakan untuk menunjukkan amoralitas yang mendalam.[1] Kejahatan juga digambarkan sebagai kekuatan supernatural.[2] Definisi kejahatan bervariasi, seperti halnya analisis motifnya.[3] Namun, unsur-unsur yang umumnya dikaitkan dengan kejahatan melibatkan perilaku tidak seimbang yang melibatkan kemanfaatan, keegoisan, ketidaktahuan, atau kelalaian.[4]

Studi utama tentang kebaikan dan kejahatan (atau moralitas) adalah etika, yang memiliki tiga cabang utama: etika normatif tentang bagaimana kita seharusnya berperilaku, etika terapan tentang isu-isu moral tertentu, dan metaetika tentang hakikat moralitas itu sendiri.[5]

Lihat pula

Catatan

Bacaan lebih lanjut

  • Baumeister, Roy F. (1999) Evil: Inside Human Violence and Cruelty. New York: A.W.H. Freeman / Owl Book
  • Bennett, Gaymon, Hewlett, Martinez J, Peters, Ted, Russell, Robert John (2008). The Evolution of Evil. Göttingen: Vandenhoeck & Ruprecht.
  • Katz, Fred Emil (1993) Ordinary People and Extraordinary Evil, [SUNY Press],
  • Katz, Fred Emil (2004) Confronting Evil, [SUNY Press],
  • Neiman, Susan. Evil in Modern Thought – An Alternative History of Philosophy. Princeton: Princeton University Press, 2002.
  • Shermer, M. (2004). The Science of Good & Evil. New York: Time Books.
  • Stapley, A.B. & Elder Delbert L., Using Our Free Agency. Ensign May 1975: 21
  • Stark, Ryan. Rhetoric, Science, and Magic in Seventeenth-Century England. (Washington, DC: The Catholic University of America Press, 2009), 115–45
  • Vetlesen, Arne Johan (2005) Evil and Human Agency – Understanding Collective Evildoing New York: Cambridge University Press.
  • Wilson, William McF., and Julian N. Hartt. Farrer's Theodicy. In David Hein and Edward Hugh Henderson (eds), Captured by the Crucified: The Practical Theology of Austin Farrer. New York and London: T & T Clark / Continuum, 2004.

Pranala luar

Referensi

  1. Evil. Oxford University Press. 2012.
  2. Evil. Oxford University Press. 2012.
  3. Ervin Staub. Overcoming Evil: Genocide, Violent Conflict, and Terrorism. Oxford University Press. 2011. hlm. 32. ISBN 978-0195382044.
  4. Caitlin Matthews. Walkers Between the Worlds: The Western Mysteries from Shaman to Magus. Inner Traditions / Bear & Co. 2004. hlm. 173. ISBN 978-0892810918.
  5. Internet Encyclopedia of Philosophy "Ethics"

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29459989 (2026-07-15T02:58:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.