Lompat ke isi

Aporfina

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Aporfina adalah alkaloid dengan rumus kimia . Senyawa ini merupakan substruktur kimia inti dari alkaloid aporfina, yaitu suatu subkelas alkaloid kuinolina. Senyawa ini dapat hadir dalam dua bentuk enantiomer, yaitu (R)-aporfina dan (S)-aporfina.

Turunan

Berbagai turunan aporfina telah diisolasi dari tumbuhan. Sebagai contoh, banyak jenis teratai (spesies Nymphaea) menghasilkan alkaloid aporfina seperti nuciferine, nimfaeina, nimfalina, nufarina, serta α- dan β-nufaridina.

Dalam pengujian in vitro, beberapa turunan aporfina yang diisolasi dari Cassytha filiformis—yaitu aktinodafnina, cassythine, dan disentrina—menunjukkan aktivitas antiparasit terhadap Trypanosoma brucei. Penyelidikan mengenai mekanisme kerjanya mengungkapkan bahwa senyawa-senyawa tersebut berikatan dengan DNA dan bertindak sebagai agen interkalasi, selain juga menghambat aktivitas topoisomerase.

Produk alami aporfina dapat ditemukan dalam bentuk isomer (R) atau (S), ataupun sebagai senyawa akiral. Selain itu, produk alami berbasis morfin dapat dipanaskan dalam suasana asam untuk menghasilkan produk degradasi aporfina; salah satu contohnya adalah apomorfin, obat penyakit Parkinson yang disetujui FDA, yang pertama kali ditemukan oleh kimiawan Finlandia Adolf Edvard Arppe pada tahun 1845.


Apomorfin

Saat ini, apomorfin digunakan dalam pengobatan penyakit Parkinson. Senyawa ini merupakan emetik (pemicu muntah) yang kuat dan biasanya diberikan bersamaan dengan obat antiemetik seperti domperidon. Apomorfin juga digunakan dalam kedokteran hewan untuk memicu muntah terapeutik pada anjing yang baru saja menelan zat beracun atau benda asing.

Efek

Aporfina adalah kerangka kimia aktif terhadap dopamin yang enantiomernya dapat bertindak sebagai agonis atau antagonis terhadap reseptor D1 dan reseptor D2, bergantung pada strukturnya. Pada hewan pengerat, pemberian aporfina terbukti mengaktifkan ekspresi gen, khususnya di nukleus hipotalamus, yang menghasilkan perilaku stereotipikal berupa ereksi dan menguap. Pada manusia, aporfina menyebabkan ereksi non-seksual yang diperkuat oleh rangsangan erotis tanpa mengubah libido, namun efek samping yang signifikan dapat terjadi. Formulasi sublingual aporfina dosis 2–4 mg dengan onset kerja cepat telah dikembangkan dan terbukti efektif pada pasien disfungsi ereksi yang menderita diabetes melitus, hipertensi, hiperplasia prostat jinak, atau penyakit arteri koroner yang terkontrol.

Sintesis

Aporfina dan turunannya dapat diperoleh melalui berbagai metode sintesis. Beberapa produk alami, termasuk analog semisintetik yang tergolong dalam kelas aporfina, telah berhasil disintesis. Senyawa-senyawa tersebut meliputi apomorfin oleh Neumeyer dan Raminelli, pukateina oleh Happel, isokoridina oleh Di, nuciferine dan oliverolina oleh Cuny, glausina oleh Meyers, disentrina oleh Cava,, serta lisikamina oleh Raminelli.

Toksisitas

Sebagian besar alkaloid aporfina bersifat toksik dan umumnya menunjukkan efek antagonis terhadap dopamin. Banyak di antaranya memiliki aktivitas antikonvulsan atau justru memicu kejang pada hewan akibat aktivitas sitotoksik.

Beberapa alkaloid aporfina (seperti krebanina) diketahui memiliki aktivitas aritmik dan tingkat toksisitas yang lebih tinggi. Dalam sebuah penelitian, sejumlah turunan target dievaluasi potensi antiaritmianya menggunakan model tikus dengan fibrilasi ventrikel. Pada penelitian ini, dilakukan analisis awal mengenai hubungan struktur-aktivitas/toksisitas. Di antara turunan target tersebut, produk krebanina dengan substitusi bromo tertentu menunjukkan aktivitas antiaritmia yang signifikan serta toksisitas yang lebih rendah. Pada sejumlah besar tikus, produk ini menyebabkan penurunan kejadian fibrilasi ventrikel (VF), peningkatan pemulihan irama sinus dari aritmia, dan peningkatan kemampuan mempertahankan irama sinus. Hasil dari penelitian terbatas ini mengindikasikan bahwa alkaloid aporfina spesifik tersebut dapat dianggap sebagai kandidat yang menjanjikan dalam pengobatan aritmia.

Farmakologi

Farmakodinamika

Menurut Kantor Paten dan Merek Dagang AS (USPTO), turunan aporfina dapat mengobati penyakit yang disebabkan oleh stres oksidatif. Secara khusus, senyawa ini menghambat peroksidase lipid dan melakukan aktivitas penangkapan radikal bebas, sehingga memberikan efek perlindungan pada sel endotelium. Hal ini mengurangi stres oksidatif yang dapat memicu penyakit seperti penyakit kardiovaskular, penyakit Alzheimer, gagal ginjal, diabetes melitus, kanker, dan lain sebagainya.

Alkaloid aporfina yang terdapat dalam Litsea glutinosa—tumbuhan tropis dengan sifat antioksidan dan antiparasit—diklaim berkontribusi terhadap aktivitas antikanker. Penelitian telah menunjukkan adanya efek antiproliferatif dan sitotoksik dari ekstrak Litsea glutinosa yang mengandung aporfina.

(R)-Aporfina merupakan antagonis reseptor dopamin reseptor dopamin D1 dengan nilai Ki sebesar 717 nM dan antagonis reseptor dopamin D2 dengan nilai Ki sebesar 527 nM. Aporfina dan alkaloid terkaitnya; seperti bulbokapnina, boldina, glausina, dan korituberina; memiliki sifat antipsikotik, menunjukkan aktivitas antinosisepsi yang dapat dibalikkan oleh nalokson, serta bersifat antikonvulsan (kecuali korituberina). Beberapa turunan aporfina seperti (S)-(+)-N-propilnorapomorfin berpotensi menjadi antipsikotik dengan profil efek samping yang rendah. (S)-(+)-N-Propilnorapomorfin sangat selektif terhadap jalur dopaminergik meso-limbik dan berfungsi sebagai agonis parsial yang efektif, tanpa menyebabkan peningkatan kadar prolaktin.

Senyawa golongan aporfina—antara lain nuciferine, disentrina, isolaurelina, dan krebanina—bertindak sebagai antagonis atau agonis parsial yang sangat lemah terhadap reseptor serotonin 5-HT2A dan/atau 5-HT2C. Namun, glausina merupakan pengecualian karena menunjukkan aktivitas agonisme reseptor serotonin 5-HT2A dengan efikasi yang lebih tinggi.

Farmakokinetika

Aporfina mengalami hidroksilasi di dalam tubuh untuk membentuk apomorfin.

Efek psikoaktif

Spesies teratai (Nymphaea), khususnya Nymphaea caerulea, mengandung alkaloid aporfina dan dimanfaatkan dalam berbagai konteks. Ekstrak tumbuhan ini dilaporkan dapat menimbulkan euforia dan halusinasi jika dikonsumsi atau diisap dalam dosis tinggi. Dikenal luas sebagai "teratai biru", Nymphaea caerulea tersedia dalam berbagai bentuk termasuk bahan tumbuhan kering, teh, dan ekstrak untuk rokok elektrik. Efek psikoaktif bunga ini dikaitkan dengan dua alkaloid aporfina: apomorfin dan nuciferine. Senyawa-senyawa ini memiliki efek campuran terhadap reseptor serotonin dan dopamin.

Selain Nymphaea caerulea'", Nelumbo nucifera (seroja)—anggota genus Nelumbo—mengandung alkaloid aporfina seperti nuciferine.


Efek pada hewan

Belum ada penelitian mengenai aporfina pada hewan. Namun, penelitian mengenai injeksi subkutan apomorfin—bentuk bioaktif dari aporfina—telah dilakukan. Dalam sebuah studi selama 5 hari, mencit diberikan apomorfin secara subkutan dengan dosis hingga 10 mg/kg setiap harinya. Tidak ditemukan efek samping selain sedikit peningkatan kadar dopamin. Perlu dicatat bahwa apomorfin digunakan di klinik hewan sebagai emetik (pemicu muntah) karena efek samping di luar target yang kuat, yang menyebabkan muntah.

Dalam studi lain, dilakukan penyelidikan mengenai apakah suntikan sistemik apomorfin dan turunan oksidasinya yakni 8-okso-apomorfin-semikuinon (8-OASQ) dapat menyebabkan kerusakan DNA pada otak mencit menggunakan metode single-cell gel assay. 8-OASQ menyebabkan kerusakan DNA di otak pada jam ke-1 dan ke-3, namun tidak pada jam ke-24 setelah perlakuan; sementara itu, apomorfin menyebabkan sedikit peningkatan frekuensi kerusakan DNA otak pada jam ke-3 setelah perlakuan. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua senyawa tersebut menunjukkan aktivitas genotoksik pada jaringan otak.

Galeri

Lihat juga

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29681139 (2026-08-31T23:58:07Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.