Lompat ke isi

Sindrom penyerbukan

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Sindrom penyerbukan adalah sekumpulan sifat bunga yang berevolusi sebagai respons terhadap seleksi alam yang dipengaruhi oleh berbagai pembawa serbuk sari, yang bisa bersifat abiotik (angin dan air) atau biotik, seperti burung, lebah, lalat, dan sebagainya, melalui proses yang disebut seleksi yang dimediasi penyerbuk. Sifat-sifat ini meliputi bentuk bunga, ukuran, warna, bau, jenis dan jumlah hadiah (reward), komposisi nektar, waktu berbunga, dan sebagainya. Sebagai contoh, bunga merah berbentuk tabung dengan nektar yang melimpah sering menarik burung; bunga berbau busuk menarik lalat bangkai atau kumbang, dan lain-lain.

Sindrom penyerbukan “klasik” pertama kali dipelajari pada abad ke-19 oleh ahli botani Italia, Federico Delpino. Meskipun sindrom ini berguna dalam memahami interaksi tumbuhan–penyerbuk, kadang-kadang penyerbuk suatu spesies tumbuhan tidak dapat diprediksi dengan akurat hanya dari sindrom penyerbukannya saja, sehingga kehati-hatian diperlukan dalam membuat asumsi.

Ahli alam Charles Darwin menduga bahwa bunga anggrek Angraecum sesquipedale diserbuki oleh seekor ngengat yang saat itu belum ditemukan, dengan belalai yang panjangnya belum pernah diketahui sebelumnya. Prediksinya tidak terverifikasi hingga 21 tahun setelah kematiannya, ketika ngengat tersebut akhirnya ditemukan dan dugaan Darwin terbukti benar. Kisah tentang penyerbuk yang diperkirakan tersebut kini dipandang sebagai salah satu prediksi terkenal dari teori evolusi.

Referensi

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29328608 (2026-06-09T01:09:14Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.