Lompat ke isi

Kurium: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29637858; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Electron_shell_096_Curium_-_no_label.svg|thumb|right|280px|Electron shell 096 Curium - no label]]
'''Kurium''' adalah sebuah [[unsur kimia]] [[Unsur kimia sintetis|sintetis]] dengan [[Lambang unsur|lambang]] '''Cm''' dan [[nomor atom]] 96. Unsur [[aktinida]] [[Unsur transuranium|transuranium]] ini dinamai berdasarkan nama ilmuwan terkemuka [[Marie Curie|Marie]] dan [[Pierre Curie]], yang dikenal atas penelitian mereka tentang [[peluruhan radioaktif|radioaktivitas]]. Kurium pertama kali berhasil dibuat secara sengaja oleh tim [[Glenn Seaborg|Glenn T. Seaborg]], [[Ralph A. James]], dan [[Albert Ghiorso]] pada tahun 1944, menggunakan [[siklotron]] di [[Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley|Berkeley]]. Mereka membombardir unsur [[plutonium]] (isotop [[Plutonium-239|<sup>239</sup>Pu]]) yang baru ditemukan dengan [[partikel alfa]]. Sampel kurium yang sangat kecil kemudian dikirim ke [[Laboratorium Metalurgi]] di [[Universitas Chicago]], tempat unsur tersebut akhirnya dipisahkan dan diidentifikasi. Penemuan ini dirahasiakan hingga berakhirnya [[Perang Dunia II]]. Berita mengenai penemuan tersebut kemudian diumumkan kepada publik pada November 1947. Sebagian besar kurium diproduksi dengan membombardir [[uranium]] atau plutonium menggunakan [[neutron]] di dalam [[reaktor nuklir]]. Satu [[Ton metrik|ton]] [[bahan bakar nuklir]] bekas mengandung sekitar 20 gram kurium.
'''Kurium''' adalah sebuah [[unsur kimia]] [[Unsur kimia sintetis|sintetis]] dengan [[Lambang unsur|lambang]] '''Cm''' dan [[nomor atom]] 96. Unsur [[aktinida]] [[Unsur transuranium|transuranium]] ini dinamai berdasarkan nama ilmuwan terkemuka [[Marie Curie|Marie]] dan [[Pierre Curie]], yang dikenal atas penelitian mereka tentang [[peluruhan radioaktif|radioaktivitas]]. Kurium pertama kali berhasil dibuat secara sengaja oleh tim [[Glenn Seaborg|Glenn T. Seaborg]], [[Ralph A. James]], dan [[Albert Ghiorso]] pada tahun 1944, menggunakan [[siklotron]] di [[Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley|Berkeley]]. Mereka membombardir unsur [[plutonium]] (isotop [[Plutonium-239|<sup>239</sup>Pu]]) yang baru ditemukan dengan [[partikel alfa]]. Sampel kurium yang sangat kecil kemudian dikirim ke [[Laboratorium Metalurgi]] di [[Universitas Chicago]], tempat unsur tersebut akhirnya dipisahkan dan diidentifikasi. Penemuan ini dirahasiakan hingga berakhirnya [[Perang Dunia II]]. Berita mengenai penemuan tersebut kemudian diumumkan kepada publik pada November 1947. Sebagian besar kurium diproduksi dengan membombardir [[uranium]] atau plutonium menggunakan [[neutron]] di dalam [[reaktor nuklir]]. Satu [[Ton metrik|ton]] [[bahan bakar nuklir]] bekas mengandung sekitar 20 gram kurium.


Baris 5: Baris 7:
Semua [[isotop]] kurium yang diketahui bersifat radioaktif dan memiliki [[massa kritis]] yang kecil untuk memungkinkan terjadinya [[reaksi rantai nuklir]]. Isotop yang paling stabil, <sup>247</sup>Cm, memiliki [[waktu paruh]] sekitar 15,6&nbsp;juta tahun. Isotop kurium yang berumur paling panjang pada umumnya [[Peluruhan alfa|memancarkan partikel alfa]]. [[Generator termoelektrik radioisotop]] (RTG) dapat memanfaatkan panas yang dihasilkan dari proses ini, tetapi penggunaannya terhambat oleh kelangkaan dan tingginya biaya kurium. Kurium digunakan dalam pembuatan aktinida yang lebih berat serta [[radionuklida]] <sup>238</sup>Pu, yang dimanfaatkan sebagai sumber energi pada alat [[pacu jantung buatan]] dan RTG untuk wahana antariksa. Kurium juga pernah digunakan sebagai sumber partikel alfa dalam [[spektrometer sinar-X partikel alfa]] (APXS) pada beberapa wahana antariksa, termasuk [[wahana penjelajah Mars]] ''[[Sojourner]]'', ''[[Spirit (penjelajah)|Spirit]]'', ''[[Opportunity]]'', dan ''[[Curiosity]]'', serta [[Philae (wahana antariksa)|pendarat ''Philae'']] di [[komet]] [[67P/Churyumov–Gerasimenko]]. Instrumen tersebut digunakan untuk menganalisis komposisi dan struktur permukaan benda-benda langit tersebut.
Semua [[isotop]] kurium yang diketahui bersifat radioaktif dan memiliki [[massa kritis]] yang kecil untuk memungkinkan terjadinya [[reaksi rantai nuklir]]. Isotop yang paling stabil, <sup>247</sup>Cm, memiliki [[waktu paruh]] sekitar 15,6&nbsp;juta tahun. Isotop kurium yang berumur paling panjang pada umumnya [[Peluruhan alfa|memancarkan partikel alfa]]. [[Generator termoelektrik radioisotop]] (RTG) dapat memanfaatkan panas yang dihasilkan dari proses ini, tetapi penggunaannya terhambat oleh kelangkaan dan tingginya biaya kurium. Kurium digunakan dalam pembuatan aktinida yang lebih berat serta [[radionuklida]] <sup>238</sup>Pu, yang dimanfaatkan sebagai sumber energi pada alat [[pacu jantung buatan]] dan RTG untuk wahana antariksa. Kurium juga pernah digunakan sebagai sumber partikel alfa dalam [[spektrometer sinar-X partikel alfa]] (APXS) pada beberapa wahana antariksa, termasuk [[wahana penjelajah Mars]] ''[[Sojourner]]'', ''[[Spirit (penjelajah)|Spirit]]'', ''[[Opportunity]]'', dan ''[[Curiosity]]'', serta [[Philae (wahana antariksa)|pendarat ''Philae'']] di [[komet]] [[67P/Churyumov–Gerasimenko]]. Instrumen tersebut digunakan untuk menganalisis komposisi dan struktur permukaan benda-benda langit tersebut.
==Sejarah==
==Sejarah==
Kurium pertama kali berhasil disintesis, diisolasi, dan diidentifikasi [[Penemuan unsur kimia|secara sengaja]] pada tahun 1944 di [[Universitass California, Berkeley]], oleh Glenn T. Seaborg, Ralph A. James, dan Albert Ghiorso. Dalam eksperimen tersebut, mereka menggunakan siklotron berukuran 60&nbsp;inci.<ref>Nina Hall. [https://archive.org/details/newchemistry00hall The New Chemistry: A Showcase for Modern Chemistry and Its Applications]. Cambridge University Press. 2000. hlm. [https://archive.org/details/newchemistry00hall/page/8 8]–9. ISBN 978-0-521-45224-3.</ref>


Kurium diidentifikasi secara kimia di Laboratorium Metalurgi (sekarang [[Laboratorium Nasional Argonne]]), Universitas Chicago. Kurium merupakan [[unsur transuranium]] ketiga yang ditemukan, meskipun sebenarnya merupakan unsur keempat dalam deret tersebut—unsur yang lebih ringan, [[amerisium]], pada saat itu masih belum diketahui.<ref>Glenn T. Seaborg. [http://www.osti.gov/accomplishments/documents/fullText/ACC0049.pdf The New Element Curium (Atomic Number 96)]. ''NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record)''. 1949. Vol. 14 B.</ref><ref>Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): ''The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides'', volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .</ref>


Kurium pertama kali berhasil disintesis, diisolasi, dan diidentifikasi [[Penemuan unsur kimia|secara sengaja]] pada tahun 1944 di [[Universitass California, Berkeley]], oleh Glenn T. Seaborg, Ralph A. James, dan Albert Ghiorso. Dalam eksperimen tersebut, mereka menggunakan siklotron berukuran 60&nbsp;inci.
Sampel kurium dibuat melalui beberapa tahap. Pertama, larutan <sup>239</sup>Pu nitrat dilapiskan pada lembaran [[platina]] dengan luas sekitar 0,5&nbsp;cm<sup>2</sup>. Larutan tersebut kemudian diuapkan dan residunya diubah menjadi [[plutonium(IV) oksida]] (PuO<sub>2</sub>) melalui proses [[penganilan]]. Setelah itu, oksida tersebut diiradiasi menggunakan siklotron. Lapisan tersebut kemudian dilarutkan dengan [[asam nitrat]] dan diendapkan sebagai hidroksida menggunakan [[Amonium hidroksida|larutan amonia]] berair pekat. Residu selanjutnya dilarutkan dalam [[asam perklorat]], kemudian dilakukan pemisahan lebih lanjut melalui [[pertukaran ion]] hingga diperoleh isotop kurium tertentu. Pemisahan kurium dan amerisium sangat sulit dilakukan. Karena itu, kelompok Berkeley pada awalnya menyebut kedua unsur tersebut dengan nama ''pandemonium'' (dari bahasa Yunani yang berarti ''semua setan'' atau ''neraka'') dan ''[[wikt:delirium|delirium]]'' (dari bahasa Latin yang berarti ''kegilaan'').<ref>Rachel Sheremeta Pepling. [http://pubs.acs.org/cen/80th/americium.html Chemical & Engineering News: It's Elemental: The Periodic Table – Americium]. 2003.</ref><ref>Krebs, Robert E. [https://books.google.com/books?id=yb9xTj72vNAC&pg=PA322 The history and use of our earth's chemical elements: a reference guide], Greenwood Publishing Group, 2006, hlm. 322</ref>
 
Kurium diidentifikasi secara kimia di Laboratorium Metalurgi (sekarang [[Laboratorium Nasional Argonne]]), Universitas Chicago. Kurium merupakan [[unsur transuranium]] ketiga yang ditemukan, meskipun sebenarnya merupakan unsur keempat dalam deret tersebut—unsur yang lebih ringan, [[amerisium]], pada saat itu masih belum diketahui.
 
Sampel kurium dibuat melalui beberapa tahap. Pertama, larutan <sup>239</sup>Pu nitrat dilapiskan pada lembaran [[platina]] dengan luas sekitar 0,5&nbsp;cm<sup>2</sup>. Larutan tersebut kemudian diuapkan dan residunya diubah menjadi [[plutonium(IV) oksida]] (PuO<sub>2</sub>) melalui proses [[penganilan]]. Setelah itu, oksida tersebut diiradiasi menggunakan siklotron. Lapisan tersebut kemudian dilarutkan dengan [[asam nitrat]] dan diendapkan sebagai hidroksida menggunakan [[Amonium hidroksida|larutan amonia]] berair pekat. Residu selanjutnya dilarutkan dalam [[asam perklorat]], kemudian dilakukan pemisahan lebih lanjut melalui [[pertukaran ion]] hingga diperoleh isotop kurium tertentu. Pemisahan kurium dan amerisium sangat sulit dilakukan. Karena itu, kelompok Berkeley pada awalnya menyebut kedua unsur tersebut dengan nama ''pandemonium'' (dari bahasa Yunani yang berarti ''semua setan'' atau ''neraka'') dan ''[[wikt:delirium|delirium]]'' (dari bahasa Latin yang berarti ''kegilaan'').


<sup>242</sup>Cm dibuat pada bulan Juli–Agustus 1944 dengan membombardir <sup>239</sup>Pu menggunakan partikel alfa sehingga menghasilkan kurium disertai pelepasan sebuah neutron:
<sup>242</sup>Cm dibuat pada bulan Juli–Agustus 1944 dengan membombardir <sup>239</sup>Pu menggunakan partikel alfa sehingga menghasilkan kurium disertai pelepasan sebuah neutron:<ref>Glenn T. Seaborg. [http://www.osti.gov/accomplishments/documents/fullText/ACC0049.pdf The New Element Curium (Atomic Number 96)]. ''NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record)''. 1949. Vol. 14 B.</ref><ref>[https://www.britannica.com/science/curium-chemical-element Curium Radioactive, Synthetic, Actinide Britannica]. ''www.britannica.com''.</ref>
: <chem>^{239}_{94}Pu + ^{4}_{2}He -> ^{242}_{96}Cm + ^{1}_{0}n</chem>
: <chem>^{239}_{94}Pu + ^{4}_{2}He -> ^{242}_{96}Cm + ^{1}_{0}n</chem>


<sup>242</sup>Cm berhasil diidentifikasi secara meyakinkan berdasarkan energi karakteristik partikel alfa yang dipancarkan selama peluruhannya:
<sup>242</sup>Cm berhasil diidentifikasi secara meyakinkan berdasarkan energi karakteristik partikel alfa yang dipancarkan selama peluruhannya:
: <chem>^{242}_{96}Cm -> ^{238}_{94}Pu + ^{4}_{2}He</chem>
: <chem>^{242}_{96}Cm -> ^{238}_{94}Pu + ^{4}_{2}He</chem>
Waktu paruh [[peluruhan alfa]] tersebut pada awalnya diperkirakan sekitar 5&nbsp;bulan (150&nbsp;hari) kemudian dikoreksi menjadi 162,8&nbsp;hari.
Waktu paruh [[peluruhan alfa]] tersebut pada awalnya diperkirakan sekitar 5&nbsp;bulan (150&nbsp;hari)<ref>Glenn T. Seaborg. [http://www.osti.gov/accomplishments/documents/fullText/ACC0049.pdf The New Element Curium (Atomic Number 96)]. ''NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record)''. 1949. Vol. 14 B.</ref> kemudian dikoreksi menjadi 162,8&nbsp;hari.


Isotop lainnya, yaitu <sup>240</sup>Cm, dihasilkan melalui reaksi serupa pada bulan Maret 1945:
Isotop lainnya, yaitu <sup>240</sup>Cm, dihasilkan melalui reaksi serupa pada bulan Maret 1945:
: <chem>^{239}_{94}Pu + ^{4}_{2}He -> ^{240}_{96}Cm + 3^{1}_{0}n</chem>
: <chem>^{239}_{94}Pu + ^{4}_{2}He -> ^{240}_{96}Cm + 3^{1}_{0}n</chem>
Waktu paruh peluruhan alfa <sup>240</sup>Cm awalnya ditentukan sebesar 26,8&nbsp;hari, kemudian direvisi menjadi 30,4&nbsp;hari.
Waktu paruh peluruhan alfa <sup>240</sup>Cm awalnya ditentukan sebesar 26,8&nbsp;hari,<ref>Glenn T. Seaborg. [http://www.osti.gov/accomplishments/documents/fullText/ACC0049.pdf The New Element Curium (Atomic Number 96)]. ''NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record)''. 1949. Vol. 14 B.</ref> kemudian direvisi menjadi 30,4&nbsp;hari.


Penemuan kurium dan amerisium pada tahun 1944 berkaitan erat dengan [[Proyek Manhattan]]. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut dirahasiakan dan baru diumumkan pada tahun 1945. Seaborg bahkan membocorkan informasi mengenai sintesis unsur 95 dan 96 dalam acara radio anak-anak Amerika Serikat, ''[[Quiz Kids]]'', lima hari sebelum presentasi resmi pada pertemuan [[American Chemical Society]] tanggal 11 November 1945. Hal tersebut terjadi setelah seorang pendengar bertanya apakah selama perang telah ditemukan unsur transuranium baru selain plutonium dan [[neptunium]]. Penemuan kurium (<sup>242</sup>Cm dan <sup>240</sup>Cm), proses produksinya, serta senyawa-senyawanya kemudian dipatenkan dengan hanya mencantumkan Seaborg sebagai penemu.
Penemuan kurium dan amerisium pada tahun 1944 berkaitan erat dengan [[Proyek Manhattan]]. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut dirahasiakan dan baru diumumkan pada tahun 1945. Seaborg bahkan membocorkan informasi mengenai sintesis unsur 95 dan 96 dalam acara radio anak-anak Amerika Serikat, ''[[Quiz Kids]]'', lima hari sebelum presentasi resmi pada pertemuan [[American Chemical Society]] tanggal 11 November 1945. Hal tersebut terjadi setelah seorang pendengar bertanya apakah selama perang telah ditemukan unsur transuranium baru selain plutonium dan [[neptunium]].<ref>Rachel Sheremeta Pepling. [http://pubs.acs.org/cen/80th/americium.html Chemical & Engineering News: It's Elemental: The Periodic Table – Americium]. 2003.</ref> Penemuan kurium (<sup>242</sup>Cm dan <sup>240</sup>Cm), proses produksinya, serta senyawa-senyawanya kemudian dipatenkan dengan hanya mencantumkan Seaborg sebagai penemu.<ref>Seaborg, G. T. "Element", Tanggal pengajuan: 7 Februari 1949, Tanggal penerbitan: Desember 1964.</ref>


Nama kurium diambil dari nama Marie Curie dan Pierre Curie, yang dikenal karena penemuan [[radium]] dan penelitian mereka mengenai radioaktivitas. Penamaan ini mengikuti contoh [[gadolinium]], yaitu unsur [[lantanida]] yang berada di atas kurium dalam tabel periodik. Gadolinium dinamai untuk menghormati kimiawan [[Johan Gadolin]]:<ref>Greenwood, hlm. 1252</ref>
::<blockquote>Para penemu mengusulkan nama ''curium'' dengan lambang Cm untuk unsur bernomor atom 96. Mereka menjelaskan bahwa unsur tersebut memiliki tujuh elektron 5f sehingga analog dengan gadolinium, yang memiliki tujuh elektron 4f dalam deret unsur tanah jarang. Oleh karena itu, unsur 96 dinamai untuk menghormati keluarga Curie, sebagaimana gadolinium dinamai untuk menghormati Gadolin.<ref>Glenn T. Seaborg. [http://www.osti.gov/accomplishments/documents/fullText/ACC0049.pdf The New Element Curium (Atomic Number 96)]. ''NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record)''. 1949. Vol. 14 B.</ref></blockquote>


Nama kurium diambil dari nama Marie Curie dan Pierre Curie, yang dikenal karena penemuan [[radium]] dan penelitian mereka mengenai radioaktivitas. Penamaan ini mengikuti contoh [[gadolinium]], yaitu unsur [[lantanida]] yang berada di atas kurium dalam tabel periodik. Gadolinium dinamai untuk menghormati kimiawan [[Johan Gadolin]]:
Sampel kurium pertama berukuran sangat kecil dan hampir tidak terlihat. Keberadaannya diidentifikasi berdasarkan radioaktivitasnya. Pada tahun 1947, Louis Werner dan [[Isadore Perlman]] berhasil menghasilkan sampel <sup>242</sup>Cm hidroksida pertama dalam jumlah yang cukup besar, yaitu sekitar 30&nbsp;μg, di Universitas California, Berkeley. Sampel tersebut dibuat dengan membombardir <sup>241</sup>Am menggunakan neutron.<ref>Hammond C. R. "The elements" in</ref><ref>L. B. Werner, I. Perlman: "Isolation of Curium", NNES PPR (''National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record''), Vol. 14 B, ''The Transuranium Elements: Research Papers'', Paper No. 22.5, McGraw-Hill Book Co., Inc., New York, 1949.</ref><ref>[http://www.nap.edu/readingroom.php?book=biomems&page=iperlman.html National Academy of Sciences. Isadore Perlman 1915–1991]. Nap.edu.</ref> Pada tahun 1950, W. W. T. Crane, J. C. Wallmann, dan B. B. Cunningham berhasil memperoleh [[Kurium(III) fluorida|CmF<sub>3</sub>]] dalam jumlah makroskopis. [[Suseptibilitas magnetik]]nya sangat mirip dengan [[Gadolinium(III) fluorida|GdF<sub>3</sub>]], sehingga memberikan bukti eksperimental pertama mengenai keberadaan valensi +3 pada kurium dalam senyawa-senyawanya.<ref>Hammond C. R. "The elements" in</ref> Logam kurium akhirnya berhasil diproduksi pada tahun 1950 melalui reduksi CmF<sub>3</sub> menggunakan [[barium]].<ref>J. C. Wallmann. [https://cloudfront.escholarship.org/dist/prd/content/qt51t3d12j/qt51t3d12j.pdf The Preparation and Some Properties of Curium Metal]. ''Journal of the American Chemical Society''. 1951. Vol. 73 (1). hlm. 493–494. doi:10.1021/ja01145a537.</ref><ref>Werner, L. B. ''First Isolation of Curium''. ''Journal of the American Chemical Society''. 1951. Vol. 73 (1). hlm. 5215–5217. doi:10.1021/ja01155a063.</ref>
::<blockquote>Para penemu mengusulkan nama ''curium'' dengan lambang Cm untuk unsur bernomor atom 96. Mereka menjelaskan bahwa unsur tersebut memiliki tujuh elektron 5f sehingga analog dengan gadolinium, yang memiliki tujuh elektron 4f dalam deret unsur tanah jarang. Oleh karena itu, unsur 96 dinamai untuk menghormati keluarga Curie, sebagaimana gadolinium dinamai untuk menghormati Gadolin.</blockquote>
 
Sampel kurium pertama berukuran sangat kecil dan hampir tidak terlihat. Keberadaannya diidentifikasi berdasarkan radioaktivitasnya. Pada tahun 1947, Louis Werner dan [[Isadore Perlman]] berhasil menghasilkan sampel <sup>242</sup>Cm hidroksida pertama dalam jumlah yang cukup besar, yaitu sekitar 30&nbsp;μg, di Universitas California, Berkeley. Sampel tersebut dibuat dengan membombardir <sup>241</sup>Am menggunakan neutron. Pada tahun 1950, W. W. T. Crane, J. C. Wallmann, dan B. B. Cunningham berhasil memperoleh [[Kurium(III) fluorida|CmF<sub>3</sub>]] dalam jumlah makroskopis. [[Suseptibilitas magnetik]]nya sangat mirip dengan [[Gadolinium(III) fluorida|GdF<sub>3</sub>]], sehingga memberikan bukti eksperimental pertama mengenai keberadaan valensi +3 pada kurium dalam senyawa-senyawanya. Logam kurium akhirnya berhasil diproduksi pada tahun 1950 melalui reduksi CmF<sub>3</sub> menggunakan [[barium]].
==Karakteristik==
==Karakteristik==
===Sifat fisik===
===Sifat fisik===
Kurium adalah unsur sintetis dan radioaktif yang memiliki rupa logam keras dan padat dengan penampilan putih keperakan. Sifat fisik dan kimianya menyerupai gadolinium. Titik leburnya, yaitu 1344&nbsp;°C, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan unsur-unsur sebelumnya, yaitu neptunium (637&nbsp;°C), plutonium (639&nbsp;°C), dan amerisium (1.176&nbsp;°C). Sebagai perbandingan, gadolinium memiliki titik lebur 1.312&nbsp;°C. Kurium memiliki titik didih 3.556&nbsp;°C. Dengan densitas 13,52&nbsp;g/cm<sup>3</sup>, kurium lebih ringan daripada neptunium (20,45&nbsp;g/cm<sup>3</sup>) dan plutonium (19,8&nbsp;g/cm<sup>3</sup>), tetapi lebih berat daripada sebagian besar logam lainnya. Dari dua bentuk kristalin kurium, α-Cm lebih stabil pada kondisi lingkungan. Bentuk ini memiliki simetri heksagonal dengan [[grup ruang]] P6<sub>3</sub>/mmc, parameter kisi ''a''&nbsp;=&nbsp;365&nbsp;[[pikometer|pm]] dan ''c''&nbsp;=&nbsp;1182&nbsp;pm, serta empat [[unit formula]] dalam setiap [[sel unit]].<ref>V. Milman. ''Crystal structures of curium compounds: an ab initio study''. ''Journal of Nuclear Materials''. 2003. Vol. 322 (2–3). hlm. 165. doi:10.1016/S0022-3115(03)00321-0.</ref> Kristalnya terdiri atas [[Tetal-rapat sferis sama|susunan padat heksagon]] ganda dengan urutan lapisan ABAC, sehingga bersifat isostruktural dengan α-lantanum. Pada tekanan >23&nbsp;[[Pascal (satuan)|GPa]] dan suhu kamar, α-Cm berubah menjadi β-Cm, yang memiliki simetri [[Sistem kristal kubik|kubus berpusat-muka]], grup ruang Fmm, dan konstanta kisi ''a''&nbsp;=&nbsp;493&nbsp;pm.<ref>V. Milman. ''Crystal structures of curium compounds: an ab initio study''. ''Journal of Nuclear Materials''. 2003. Vol. 322 (2–3). hlm. 165. doi:10.1016/S0022-3115(03)00321-0.</ref> Dengan kompresi lebih lanjut hingga 43&nbsp;GPa, kurium berubah menjadi struktur [[Sistem kristal ortorombik|ortorombik]] γ-Cm yang menyerupai α-uranium. Tidak ada transisi lebih lanjut yang teramati hingga tekanan 52&nbsp;GPa. Ketiga fase kurium ini juga disebut Cm I, Cm II, dan Cm III.<ref>Young, D. A. [https://books.google.com/books?id=F2HVYh6wLBcC&pg=PA227 Phase diagrams of the elements], University of California Press, 1991, , hlm. 227</ref><ref>R. Haire. ''X-ray diffraction of curium-248 metal under pressures of up to 52 GPa''. ''Journal of the Less Common Metals''. 1985. Vol. 109 (1). hlm. 71. doi:10.1016/0022-5088(85)90108-0.</ref>


Kurium memiliki sifat magnetik yang khas. Unsur tetangganya, amerisium, tidak menunjukkan penyimpangan dari sifat paramagnetik [[Hukum Curie–Weiss|Curie–Weiss]] pada seluruh rentang suhu. Sebaliknya, α-Cm berubah menjadi keadaan antiferomagnetik ketika didinginkan hingga 65–52&nbsp;K,<ref>B. Kanellakopulos. ''The magnetic susceptibility of Americium and curium metal''. ''Solid State Communications''. 1975. Vol. 17 (6). hlm. 713. doi:10.1016/0038-1098(75)90392-0.</ref><ref>J. Fournier. ''Curium: A new magnetic element''. ''Physica B+C''. 1977. Vol. 86–88. hlm. 30. doi:10.1016/0378-4363(77)90214-5.</ref> sedangkan β-Cm menunjukkan transisi [[Ferimagnetisme|ferimagnetik]] pada sekitar ~205&nbsp;K. Pniktida kurium menunjukkan transisi [[Feromagnetisme|feromagnetik]] ketika didinginkan: <sup>244</sup>[[Kurium nitrida|CmN]] dan <sup>244</sup>[[Kurium arsenida|CmAs]] pada 109&nbsp;K, <sup>248</sup>[[Kurium fosfida|CmP]] pada 73&nbsp;K, serta <sup>248</sup>CmSb pada 162&nbsp;K. Analog lantanida dari kurium, yaitu gadolinium, beserta pniktidanya, juga menunjukkan transisi magnetik ketika didinginkan, tetapi karakter transisinya agak berbeda. Gd dan [[Gadolinium(III) nitrida|GdN]] menjadi feromagnetik, sedangkan [[Gadolinium fosfida|GdP]], [[Gadolinium(III) arsenida|GdAs]], dan [[Gadolinium(III) antimonida|GdSb]] menunjukkan keteraturan antiferomagnetik.<ref>Nave, S. E.; Huray, P. G.; Peterson, J. R. and Damien, D. A. [http://www.osti.gov/bridge/purl.cover.jsp;jsessionid=ECF73C70531D64E8B663048ECE8C10F9?purl=/6263633-jkoGGI/ Magnetic susceptibility of curium pnictides], Laboratorium Nasional Oak Ridge.</ref>


Kurium adalah unsur sintetis dan radioaktif yang memiliki rupa logam keras dan padat dengan penampilan putih keperakan. Sifat fisik dan kimianya menyerupai gadolinium. Titik leburnya, yaitu 1344&nbsp;°C, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan unsur-unsur sebelumnya, yaitu neptunium (637&nbsp;°C), plutonium (639&nbsp;°C), dan amerisium (1.176&nbsp;°C). Sebagai perbandingan, gadolinium memiliki titik lebur 1.312&nbsp;°C. Kurium memiliki titik didih 3.556&nbsp;°C. Dengan densitas 13,52&nbsp;g/cm<sup>3</sup>, kurium lebih ringan daripada neptunium (20,45&nbsp;g/cm<sup>3</sup>) dan plutonium (19,8&nbsp;g/cm<sup>3</sup>), tetapi lebih berat daripada sebagian besar logam lainnya. Dari dua bentuk kristalin kurium, α-Cm lebih stabil pada kondisi lingkungan. Bentuk ini memiliki simetri heksagonal dengan [[grup ruang]] P6<sub>3</sub>/mmc, parameter kisi ''a''&nbsp;=&nbsp;365&nbsp;[[pikometer|pm]] dan ''c''&nbsp;=&nbsp;1182&nbsp;pm, serta empat [[unit formula]] dalam setiap [[sel unit]]. Kristalnya terdiri atas [[Tetal-rapat sferis sama|susunan padat heksagon]] ganda dengan urutan lapisan ABAC, sehingga bersifat isostruktural dengan α-lantanum. Pada tekanan >23&nbsp;[[Pascal (satuan)|GPa]] dan suhu kamar, α-Cm berubah menjadi β-Cm, yang memiliki simetri [[Sistem kristal kubik|kubus berpusat-muka]], grup ruang Fmm, dan konstanta kisi ''a''&nbsp;=&nbsp;493&nbsp;pm. Dengan kompresi lebih lanjut hingga 43&nbsp;GPa, kurium berubah menjadi struktur [[Sistem kristal ortorombik|ortorombik]] γ-Cm yang menyerupai α-uranium. Tidak ada transisi lebih lanjut yang teramati hingga tekanan 52&nbsp;GPa. Ketiga fase kurium ini juga disebut Cm I, Cm II, dan Cm III.
Sejalan dengan data magnetik tersebut, resistivitas listrik kurium meningkat seiring kenaikan suhu—sekitar dua kali lipat antara 4 dan 60&nbsp;K—dan kemudian hampir konstan hingga suhu kamar. Terdapat peningkatan resistivitas yang signifikan seiring waktu (sekitar ) akibat kerusakan kisi kristal oleh peluruhan alfa. Hal ini menyebabkan nilai resistivitas sebenarnya dari kurium menjadi tidak pasti (sekitar ). Resistivitas kurium serupa dengan gadolinium, serta aktinida plutonium dan neptunium, tetapi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan amerisium, uranium, [[polonium]], dan [[torium]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kurium&oldid=29637858 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref>


Kurium memiliki sifat magnetik yang khas. Unsur tetangganya, amerisium, tidak menunjukkan penyimpangan dari sifat paramagnetik [[Hukum Curie–Weiss|Curie–Weiss]] pada seluruh rentang suhu. Sebaliknya, α-Cm berubah menjadi keadaan antiferomagnetik ketika didinginkan hingga 65–52&nbsp;K, sedangkan β-Cm menunjukkan transisi [[Ferimagnetisme|ferimagnetik]] pada sekitar ~205&nbsp;K. Pniktida kurium menunjukkan transisi [[Feromagnetisme|feromagnetik]] ketika didinginkan: <sup>244</sup>[[Kurium nitrida|CmN]] dan <sup>244</sup>[[Kurium arsenida|CmAs]] pada 109&nbsp;K, <sup>248</sup>[[Kurium fosfida|CmP]] pada 73&nbsp;K, serta <sup>248</sup>CmSb pada 162&nbsp;K. Analog lantanida dari kurium, yaitu gadolinium, beserta pniktidanya, juga menunjukkan transisi magnetik ketika didinginkan, tetapi karakter transisinya agak berbeda. Gd dan [[Gadolinium(III) nitrida|GdN]] menjadi feromagnetik, sedangkan [[Gadolinium fosfida|GdP]], [[Gadolinium(III) arsenida|GdAs]], dan [[Gadolinium(III) antimonida|GdSb]] menunjukkan keteraturan antiferomagnetik.
Di bawah penyinaran ultraungu, ion kurium(III) menunjukkan fluoresensi kuning-oranye yang kuat dan stabil, dengan maksimum pada rentang 590–640&nbsp;nm, bergantung pada lingkungannya.<ref>Melissa A. Denecke. ''Characterization and Comparison of Cm(III) and Eu(III) Complexed with 2,6-Di(5,6-dipropyl-1,2,4-triazin-3-yl)pyridine Using EXAFS, TRFLS, and Quantum-Chemical Methods''. ''Inorganic Chemistry''. 2005. Vol. 44 (23). hlm. 8418–8425. doi:10.1021/ic0511726.</ref> Fluoresensi tersebut berasal dari transisi dari keadaan tereksitasi pertama <sup>6</sup>D<sub>7/2</sub> ke keadaan dasar <sup>8</sup>S<sub>7/2</sub>. Analisis fluoresensi ini dapat digunakan untuk memantau interaksi antarion Cm(III) dalam kompleks organik maupun anorganik.<ref>Bünzli, J.-C. G. dan Choppin, G. R. ''Lanthanide probes in life, chemical, and earth sciences: theory and practice'', Elsevier, Amsterdam, 1989. .</ref>
 
Sejalan dengan data magnetik tersebut, resistivitas listrik kurium meningkat seiring kenaikan suhu—sekitar dua kali lipat antara 4 dan 60&nbsp;K—dan kemudian hampir konstan hingga suhu kamar. Terdapat peningkatan resistivitas yang signifikan seiring waktu (sekitar ) akibat kerusakan kisi kristal oleh peluruhan alfa. Hal ini menyebabkan nilai resistivitas sebenarnya dari kurium menjadi tidak pasti (sekitar ). Resistivitas kurium serupa dengan gadolinium, serta aktinida plutonium dan neptunium, tetapi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan amerisium, uranium, [[polonium]], dan [[torium]].
 
Di bawah penyinaran ultraungu, ion kurium(III) menunjukkan fluoresensi kuning-oranye yang kuat dan stabil, dengan maksimum pada rentang 590–640&nbsp;nm, bergantung pada lingkungannya. Fluoresensi tersebut berasal dari transisi dari keadaan tereksitasi pertama <sup>6</sup>D<sub>7/2</sub> ke keadaan dasar <sup>8</sup>S<sub>7/2</sub>. Analisis fluoresensi ini dapat digunakan untuk memantau interaksi antarion Cm(III) dalam kompleks organik maupun anorganik.
===Sifat kimia===
===Sifat kimia===
Ion kurium dalam larutan hampir selalu memiliki [[bilangan oksidasi]] +3, yang merupakan bilangan oksidasi paling stabil bagi kurium.<ref>Penneman, hlm. 24</ref> Bilangan oksidasi +4 ditemukan terutama pada beberapa fase padat, seperti CmO<sub>2</sub> dan CmF<sub>4</sub>.<ref>Thomas K. Keenan. ''First Observation of Aqueous Tetravalent Curium''. ''Journal of the American Chemical Society''. 1961. Vol. 83 (17). hlm. 3719. doi:10.1021/ja01478a039.</ref><ref>L. B. Asprey. ''Evidence for Quadrivalent Curium: X-Ray Data on Curium Oxides1''. ''Journal of the American Chemical Society''. 1955. Vol. 77 (6). hlm. 1707. doi:10.1021/ja01611a108.</ref> Kurium(IV) dalam larutan berair hanya diketahui terbentuk dengan adanya oksidator kuat, seperti [[kalium persulfat]], dan mudah direduksi menjadi kurium(III) melalui [[radiolisis]] maupun bahkan oleh air itu sendiri.<ref>Lumetta Gregg J. [http://radchem.nevada.edu/classes/rdch710/files/neptunium.pdf The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements]. Springer. 2006. Vol. 3. hlm. 1397–1443. doi:10.1007/1-4020-3598-5_9. ISBN 978-1-4020-3555-5.</ref> Perilaku kimia kurium berbeda dari aktinida torium dan uranium, tetapi serupa dengan amerisium dan banyak unsur lantanida. Dalam larutan berair, ion Cm<sup>3+</sup> tidak memiliki warna hingga berwarna hijau pucat,<ref>Greenwood, hlm. 1265</ref> sedangkan ion Cm<sup>4+</sup> berwarna kuning pucat.<ref>Holleman, hlm. 1956</ref> Spektrum serapan optik ion Cm<sup>3+</sup> memiliki tiga puncak tajam pada 375,4; 381,2; dan 396,5&nbsp;nm. Intensitas puncak-puncak tersebut dapat secara langsung dikonversikan menjadi konsentrasi ion.<ref>Penneman, hlm. 25–26</ref> Bilangan oksidasi +6 hanya pernah dilaporkan satu kali dalam larutan, yaitu pada tahun 1978, dalam bentuk ion kuril (). Ion ini diperoleh melalui [[peluruhan beta]] [[Amerisium-242|Amerisium-242]] dalam ion amerisium(V) .<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kurium&oldid=29637858 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Kegagalan memperoleh Cm(VI) melalui oksidasi Cm(III) dan Cm(IV) kemungkinan disebabkan oleh tingginya [[Energi ionisasi|potensial ionisasi]] pasangan ion Cm<sup>4+</sup>/Cm<sup>3+</sup> serta ketidakstabilan Cm(V).<ref>Lumetta Gregg J. [http://radchem.nevada.edu/classes/rdch710/files/neptunium.pdf The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements]. Springer. 2006. Vol. 3. hlm. 1397–1443. doi:10.1007/1-4020-3598-5_9. ISBN 978-1-4020-3555-5.</ref>


Ion kurium dalam larutan hampir selalu memiliki [[bilangan oksidasi]] +3, yang merupakan bilangan oksidasi paling stabil bagi kurium. Bilangan oksidasi +4 ditemukan terutama pada beberapa fase padat, seperti CmO<sub>2</sub> dan CmF<sub>4</sub>. Kurium(IV) dalam larutan berair hanya diketahui terbentuk dengan adanya oksidator kuat, seperti [[kalium persulfat]], dan mudah direduksi menjadi kurium(III) melalui [[radiolisis]] maupun bahkan oleh air itu sendiri. Perilaku kimia kurium berbeda dari aktinida torium dan uranium, tetapi serupa dengan amerisium dan banyak unsur lantanida. Dalam larutan berair, ion Cm<sup>3+</sup> tidak memiliki warna hingga berwarna hijau pucat, sedangkan ion Cm<sup>4+</sup> berwarna kuning pucat. Spektrum serapan optik ion Cm<sup>3+</sup> memiliki tiga puncak tajam pada 375,4; 381,2; dan 396,5&nbsp;nm. Intensitas puncak-puncak tersebut dapat secara langsung dikonversikan menjadi konsentrasi ion. Bilangan oksidasi +6 hanya pernah dilaporkan satu kali dalam larutan, yaitu pada tahun 1978, dalam bentuk ion kuril (). Ion ini diperoleh melalui [[peluruhan beta]] [[Amerisium-242|Amerisium-242]] dalam ion amerisium(V) . Kegagalan memperoleh Cm(VI) melalui oksidasi Cm(III) dan Cm(IV) kemungkinan disebabkan oleh tingginya [[Energi ionisasi|potensial ionisasi]] pasangan ion Cm<sup>4+</sup>/Cm<sup>3+</sup> serta ketidakstabilan Cm(V).
Ion kurium merupakan [[Teori asam–basa keras dan lunak|asam Lewis keras]] sehingga cenderung membentuk kompleks yang paling stabil dengan basa keras.<ref>Mark P. Jensen. [https://figshare.com/articles/Comparison_of_Covalency_in_the_Complexes_of_Trivalent_Actinide_and_Lanthanide_Cations/3640428 Comparison of Covalency in the Complexes of Trivalent Actinide and Lanthanide Cations]. ''Journal of the American Chemical Society''. 2002. Vol. 124 (33). hlm. 9870–9877. doi:10.1021/ja0178620.</ref> Ikatan dalam kompleks tersebut sebagian besar bersifat ionik, dengan sedikit kontribusi kovalen.<ref>Glenn T. Seaborg. ''Overview of the Actinide and Lanthanide (the ''f'') Elements''. ''Radiochimica Acta''. 1993. Vol. 61 (3–4). hlm. 115–122. doi:10.1524/ract.1993.61.34.115.</ref> Kurium dalam kompleksnya umumnya memiliki bilangan koordinasi 9, dengan geometri molekul berupa [[geometri molekul prisma trigonal bertudung-tiga|prisma trigonal bertudung-tiga]].<ref>Greenwood, hlm. 1267</ref>
 
Ion kurium merupakan [[Teori asam–basa keras dan lunak|asam Lewis keras]] sehingga cenderung membentuk kompleks yang paling stabil dengan basa keras. Ikatan dalam kompleks tersebut sebagian besar bersifat ionik, dengan sedikit kontribusi kovalen. Kurium dalam kompleksnya umumnya memiliki bilangan koordinasi 9, dengan geometri molekul berupa [[geometri molekul prisma trigonal bertudung-tiga|prisma trigonal bertudung-tiga]].
===Isotop===
===Isotop===
Sekitar 19 [[Radionuklida|radioisotop]] dan 7 [[isomer nuklir]] kurium, mulai dari <sup>233</sup>Cm hingga <sup>251</sup>Cm, telah diketahui; tidak ada satu pun yang [[Nuklida stabil|stabil]]. Waktu paruh terpanjang masing-masing adalah 15,6&nbsp;juta tahun (<sup>247</sup>Cm) dan 348.000&nbsp;tahun (<sup>248</sup>Cm). Isotop berumur panjang lainnya adalah <sup>250</sup>Cm (sekitar 8.300&nbsp;tahun), <sup>245</sup>Cm (8.250&nbsp;tahun), dan <sup>246</sup>Cm (4.706&nbsp;tahun). <sup>250</sup>Cm memiliki karakteristik yang tidak biasa karena meluruh terutama melalui [[Pembelahan spontan|fisi spontan]] (satu-satunya mode peluruhan yang telah diamati). Isotop yang paling umum adalah <sup>242</sup>Cm dan <sup>244</sup>Cm dengan waktu paruh masing-masing 162,8&nbsp;hari dan 18,11&nbsp;tahun.
Sekitar 19 [[Radionuklida|radioisotop]] dan 7 [[isomer nuklir]] kurium, mulai dari <sup>233</sup>Cm hingga <sup>251</sup>Cm, telah diketahui; tidak ada satu pun yang [[Nuklida stabil|stabil]]. Waktu paruh terpanjang masing-masing adalah 15,6&nbsp;juta tahun (<sup>247</sup>Cm) dan 348.000&nbsp;tahun (<sup>248</sup>Cm). Isotop berumur panjang lainnya adalah <sup>250</sup>Cm (sekitar 8.300&nbsp;tahun), <sup>245</sup>Cm (8.250&nbsp;tahun), dan <sup>246</sup>Cm (4.706&nbsp;tahun). <sup>250</sup>Cm memiliki karakteristik yang tidak biasa karena meluruh terutama melalui [[Pembelahan spontan|fisi spontan]] (satu-satunya mode peluruhan yang telah diamati). Isotop yang paling umum adalah <sup>242</sup>Cm dan <sup>244</sup>Cm dengan waktu paruh masing-masing 162,8&nbsp;hari dan 18,11&nbsp;tahun.


{| class="wikitable"
!colspan="7"| [[Penampang lintang neutron|Penampang lintang]] [[Suhu neutron#Termal|neutron termal]] ([[Barn (satuan)|barn]])<ref>Pfennig, G.; Klewe-Nebenius, H. dan Seelmann Eggebert, W. (Eds.): Karlsruhe nuclide, 6th Ed. 1998</ref>
|-
| ||<sup>242</sup>Cm||<sup>243</sup>Cm||<sup>244</sup>Cm||<sup>245</sup>Cm||<sup>246</sup>Cm||<sup>247</sup>Cm
|-
|Penangkapan (C)||16||130||15,20||369||1,22||57
|-
|Fisi (F)||5||617||1,04||2.145||0,14||81,90
|-
|Rasio C/F||3,20||0,21||14,62||0,17||8,71||0,70
|-
!colspan="7"| [[Bahan bakar nuklir bekas]] [[Uranium yang diperkaya#Uranium yang diperkaya rendah (LEU)|LEU]] 20 tahun setelah mencapai ''burnup'' 53 MWd/kg<ref>Jungmin Kang. [http://www.princeton.edu/sgs/publications/sgs/pdf/13_3%20Kang%20vonhippel.pdf Limited Proliferation-Resistance Benefits from Recycling Unseparated Transuranics and Lanthanides from Light-Water Reactor Spent Fuel]. ''Science and Global Security''. 2005. Vol. 13 (3). hlm. 169. doi:10.1080/08929880500357682.</ref>
|-
|colspan="2" |3 isotop yang umum ||51||3.700||390|| ||
|-
!colspan="7"| [[Bahan bakar MOX]] [[reaktor neutron cepat]] (rata-rata dari 5 sampel, ''burnup'' 66–120 GWd/t)<ref>Osaka, M. ''Analysis of Curium Isotopes in Mixed Oxide Fuel Irradiated in Fast Reactor''. ''Journal of Nuclear Science and Technology''. 2001. Vol. 38 (10). hlm. 912–914. doi:10.3327/jnst.38.912.</ref>
|-
|colspan="2" |Kurium total 3,09% ||27,64%||70,16%||2,166%||0,0376%||0,000928%
|}
{| Class = "wikitable"
|-
| Isotop||<sup>242</sup>Cm||<sup>243</sup>Cm||<sup>244</sup>Cm||<sup>245</sup>Cm||<sup>246</sup>Cm||<sup>247</sup>Cm||<sup>248</sup>Cm||<sup>250</sup>Cm
|-
|[[Massa kritis]], kg|| 25|| 7,5||33||6,8||39||7||40,4||23,5
|}


Semua isotop mulai dari <sup>242</sup>Cm hingga <sup>248</sup>Cm, serta <sup>250</sup>Cm, dapat mengalami reaksi rantai nuklir yang dapat mempertahankan dirinya sendiri sehingga secara prinsip dapat digunakan sebagai bahan bakar nuklir dalam reaktor. Seperti pada sebagian besar unsur transuranium, penampang lintang [[fisi nuklir]] sangat tinggi pada isotop kurium dengan massa ganjil, yaitu <sup>243</sup>Cm, <sup>245</sup>Cm, dan <sup>247</sup>Cm. Isotop-isotop tersebut dapat digunakan dalam [[reaktor neutron termal]], sedangkan campuran isotop kurium hanya sesuai untuk [[Reaktor pembiak#Reaktor pembiak cepat|reaktor pembiak cepat]] karena isotop dengan massa genap tidak bersifat [[Bahan fisil|fisil]] dalam reaktor termal dan akan terakumulasi seiring meningkatnya ''burnup''. Bahan bakar oksida campuran (MOX) yang akan digunakan dalam reaktor daya sebaiknya mengandung sedikit atau tidak mengandung kurium karena [[Pengaktifan neutron|aktivasi neutron]] terhadap <sup>248</sup>Cm akan menghasilkan [[kalifornium]]. Kalifornium merupakan pemancar neutron yang kuat sehingga dapat mencemari bagian akhir siklus bahan bakar dan meningkatkan dosis radiasi yang diterima oleh personel reaktor. Oleh karena itu, jika [[aktinida minor]] akan digunakan sebagai bahan bakar dalam reaktor neutron termal, kurium sebaiknya dikeluarkan dari bahan bakar atau ditempatkan dalam batang bahan bakar khusus yang hanya mengandung kurium sebagai satu-satunya aktinida.
Semua isotop mulai dari <sup>242</sup>Cm hingga <sup>248</sup>Cm, serta <sup>250</sup>Cm, dapat mengalami reaksi rantai nuklir yang dapat mempertahankan dirinya sendiri sehingga secara prinsip dapat digunakan sebagai bahan bakar nuklir dalam reaktor. Seperti pada sebagian besar unsur transuranium, penampang lintang [[fisi nuklir]] sangat tinggi pada isotop kurium dengan massa ganjil, yaitu <sup>243</sup>Cm, <sup>245</sup>Cm, dan <sup>247</sup>Cm. Isotop-isotop tersebut dapat digunakan dalam [[reaktor neutron termal]], sedangkan campuran isotop kurium hanya sesuai untuk [[Reaktor pembiak#Reaktor pembiak cepat|reaktor pembiak cepat]] karena isotop dengan massa genap tidak bersifat [[Bahan fisil|fisil]] dalam reaktor termal dan akan terakumulasi seiring meningkatnya ''burnup''.<ref>Institut de Radioprotection et de Sûreté Nucléaire: [http://ec.europa.eu/energy/nuclear/transport/doc/irsn_sect03_146.pdf "Evaluation of nuclear criticality safety. data and limits for actinides in transport"] , hlm. 16</ref> Bahan bakar oksida campuran (MOX) yang akan digunakan dalam reaktor daya sebaiknya mengandung sedikit atau tidak mengandung kurium karena [[Pengaktifan neutron|aktivasi neutron]] terhadap <sup>248</sup>Cm akan menghasilkan [[kalifornium]]. Kalifornium merupakan pemancar neutron yang kuat sehingga dapat mencemari bagian akhir siklus bahan bakar dan meningkatkan dosis radiasi yang diterima oleh personel reaktor. Oleh karena itu, jika [[aktinida minor]] akan digunakan sebagai bahan bakar dalam reaktor neutron termal, kurium sebaiknya dikeluarkan dari bahan bakar atau ditempatkan dalam batang bahan bakar khusus yang hanya mengandung kurium sebagai satu-satunya aktinida.<ref>National Research Council (U.S.). Committee on Separations Technology and Transmutation Systems. [https://books.google.com/books?id=iRI7Cx2D4e4C&pg=PA231 Nuclear wastes: technologies for separations and transmutation]. National Academies Press. 1996. hlm. 231–. ISBN 978-0-309-05226-9.</ref>


Tabel di sebelah mencantumkan massa kritis isotop-isotop kurium untuk bentuk bola, tanpa moderator atau reflektor. Dengan reflektor logam (30&nbsp;cm baja), massa kritis isotop-isotop bermassa ganjil berada di kisaran 3–4&nbsp;kg. Jika menggunakan air dengan ketebalan sekitar 20–30&nbsp;cm sebagai reflektor, massa kritis dapat mencapai sekitar 59&nbsp;gram untuk <sup>245</sup>Cm, 155&nbsp;gram untuk <sup>243</sup>Cm, dan 1550&nbsp;gram untuk <sup>247</sup>Cm. Terdapat ketidakpastian yang signifikan dalam nilai-nilai massa kritis tersebut. Meskipun ketidakpastiannya biasanya berada pada kisaran 20%, beberapa kelompok penelitian melaporkan nilai yang jauh lebih besar untuk <sup>242</sup>Cm dan <sup>246</sup>Cm, masing-masing hingga 371&nbsp;kg dan 70,1&nbsp;kg.<ref>Institut de Radioprotection et de Sûreté Nucléaire: [http://ec.europa.eu/energy/nuclear/transport/doc/irsn_sect03_146.pdf "Evaluation of nuclear criticality safety. data and limits for actinides in transport"] , hlm. 16</ref><ref>Okundo, H. ''Critical and Subcritical Mass Calculations of Curium-243 to −247 Based on JENDL-3.2 for Revision of ANSI/ANS-8.15''. ''Journal of Nuclear Science and Technology''. 2002. Vol. 39 (10). hlm. 1072–1085. doi:10.3327/jnst.39.1072.</ref>


Tabel di sebelah mencantumkan massa kritis isotop-isotop kurium untuk bentuk bola, tanpa moderator atau reflektor. Dengan reflektor logam (30&nbsp;cm baja), massa kritis isotop-isotop bermassa ganjil berada di kisaran 3–4&nbsp;kg. Jika menggunakan air dengan ketebalan sekitar 20–30&nbsp;cm sebagai reflektor, massa kritis dapat mencapai sekitar 59&nbsp;gram untuk <sup>245</sup>Cm, 155&nbsp;gram untuk <sup>243</sup>Cm, dan 1550&nbsp;gram untuk <sup>247</sup>Cm. Terdapat ketidakpastian yang signifikan dalam nilai-nilai massa kritis tersebut. Meskipun ketidakpastiannya biasanya berada pada kisaran 20%, beberapa kelompok penelitian melaporkan nilai yang jauh lebih besar untuk <sup>242</sup>Cm dan <sup>246</sup>Cm, masing-masing hingga 371&nbsp;kg dan 70,1&nbsp;kg.
Kurium saat ini tidak digunakan sebagai bahan bakar nuklir karena ketersediaannya yang rendah dan harganya yang tinggi.<ref>[http://bundesrecht.juris.de/atg/__2.html § 2 Begriffsbestimmungen (Atomic Energy Act)] (dalam bahasa Jerman).</ref> <sup>245</sup>Cm dan <sup>247</sup>Cm memiliki massa kritis yang sangat kecil sehingga secara teoretis dapat digunakan dalam [[senjata nuklir taktis]], tetapi tidak diketahui adanya senjata semacam itu yang pernah dibuat. <sup>243</sup>Cm tidak sesuai untuk tujuan tersebut karena memiliki waktu paruh yang pendek dan memancarkan radiasi alfa yang kuat, yang dapat menghasilkan panas berlebih.<ref>Jukka Lehto. [https://books.google.com/books?id=v2iRJaO3SMIC&pg=PA303 Chemistry and Analysis of Radionuclides: Laboratory Techniques and Methodology]. Wiley-VCH. 2 Februari 2011. hlm. 303–. ISBN 978-3-527-32658-7.</ref> <sup>247</sup>Cm secara teoretis lebih sesuai karena memiliki waktu paruh yang panjang, yaitu 647 kali lebih lama daripada <sup>239</sup>Pu, yang digunakan dalam banyak [[senjata nuklir]] yang ada.
 
Kurium saat ini tidak digunakan sebagai bahan bakar nuklir karena ketersediaannya yang rendah dan harganya yang tinggi. <sup>245</sup>Cm dan <sup>247</sup>Cm memiliki massa kritis yang sangat kecil sehingga secara teoretis dapat digunakan dalam [[senjata nuklir taktis]], tetapi tidak diketahui adanya senjata semacam itu yang pernah dibuat. <sup>243</sup>Cm tidak sesuai untuk tujuan tersebut karena memiliki waktu paruh yang pendek dan memancarkan radiasi alfa yang kuat, yang dapat menghasilkan panas berlebih. <sup>247</sup>Cm secara teoretis lebih sesuai karena memiliki waktu paruh yang panjang, yaitu 647 kali lebih lama daripada <sup>239</sup>Pu, yang digunakan dalam banyak [[senjata nuklir]] yang ada.
===Keterjadian===
===Keterjadian===
Isotop kurium dengan umur paling panjang, <sup>247</sup>Cm, memiliki waktu paruh 15,6&nbsp;juta tahun. Oleh karena itu, setiap kurium [[nuklida primordial|primordial]], yaitu kurium yang sudah ada di Bumi sejak terbentuknya Bumi, seharusnya telah meluruh hingga mencapai tingkat yang tidak dapat dideteksi saat ini. Namun, lokasi-lokasi terdekat yang baru mengalami proses nukleosintesis [[Proses r|proses ''r'']] dapat menghasilkan <sup>247</sup>Cm, dan <sup>247</sup>Cm telah terdeteksi dalam sampel geologi dari inti bor dasar laut dalam.<ref>Dominik Koll. [https://www.nature.com/articles/s41550-026-02841-6 The timing of the last r-process event near Earth from interstellar 60Fe, 244Pu and 247Cm deposition on Earth]. ''Nature Astronomy''. Juli 2026. Vol. 10 (7). hlm. 1001–1010. doi:10.1038/s41550-026-02841-6.</ref>


Isotop kurium dengan umur paling panjang, <sup>247</sup>Cm, memiliki waktu paruh 15,6&nbsp;juta tahun. Oleh karena itu, setiap kurium [[nuklida primordial|primordial]], yaitu kurium yang sudah ada di Bumi sejak terbentuknya Bumi, seharusnya telah meluruh hingga mencapai tingkat yang tidak dapat dideteksi saat ini. Namun, lokasi-lokasi terdekat yang baru mengalami proses nukleosintesis [[Proses r|proses ''r'']] dapat menghasilkan <sup>247</sup>Cm, dan <sup>247</sup>Cm telah terdeteksi dalam sampel geologi dari inti bor dasar laut dalam.
Keberadaan kurium di masa lalu sebagai [[radionuklida punah]] dapat diketahui melalui kelebihan <sup>235</sup>U, yang merupakan produk peluruhan primordialnya yang berumur panjang.<ref>[https://phys.org/news/2016-03-cosmochemists-evidence-unstable-heavy-element.html Cosmochemists find evidence for unstable heavy element at solar system formation]. ''phys.org''. Universitas Chicago. 2016.</ref> Jejak <sup>242</sup>Cm mungkin terdapat secara alami dalam mineral uranium akibat penangkapan neutron dan peluruhan beta (<sup>238</sup>U → <sup>239</sup>Pu → <sup>240</sup>Pu → <sup>241</sup>Am → <sup>242</sup>Cm), meskipun jumlahnya diperkirakan sangat kecil dan hal ini belum terkonfirmasi. Bahkan dengan perkiraan yang "sangat murah hati" terhadap kemungkinan penyerapan neutron, jumlah <sup>242</sup>Cm yang terdapat dalam 1&nbsp;×&nbsp;10<sup>8</sup>&nbsp;kg ''[[Uraninit|pitchblende]]'' uranium dengan kandungan uranium 18% diperkirakan bahkan tidak mencapai satu atom.<ref>Brett F. Thornton. [https://www.nature.com/articles/s41557-018-0190-9 Neutron stardust and the elements of Earth]. ''Nature Chemistry''. 2019. Vol. 11 (1). hlm. 4–10. doi:10.1038/s41557-018-0190-9.</ref><ref>Live Science Staff 2013-09-24T21:44:13Z Planet Earth. [https://www.livescience.com/39915-facts-about-curium.html Facts About Curium]. ''livescience.com''. 24 September 2013.</ref><ref>[http://www.rsc.org/periodic-table/element/96/curium Curium - Element information, properties and uses Periodic Table]. ''www.rsc.org''.</ref> Jejak <sup>247</sup>Cm juga kemungkinan terbawa ke Bumi melalui [[sinar kosmik]], tetapi hal ini juga belum terkonfirmasi.<ref>Brett F. Thornton. [https://www.nature.com/articles/s41557-018-0190-9 Neutron stardust and the elements of Earth]. ''Nature Chemistry''. 2019. Vol. 11 (1). hlm. 4–10. doi:10.1038/s41557-018-0190-9.</ref> Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa <sup>244</sup>Cm terbentuk sebagai produk [[peluruhan beta ganda]] dari <sup>244</sup>Pu alami.<ref>Brett F. Thornton. [https://www.nature.com/articles/s41557-018-0190-9 Neutron stardust and the elements of Earth]. ''Nature Chemistry''. 2019. Vol. 11 (1). hlm. 4–10. doi:10.1038/s41557-018-0190-9.</ref><ref>V.I. Tretyak. ''Tables of Double Beta Decay Data — An Update''. ''Atomic Data and Nuclear Data Tables''. 2002. Vol. 80 (1). hlm. 83–116. doi:10.1006/adnd.2001.0873.</ref>
 
Keberadaan kurium di masa lalu sebagai [[radionuklida punah]] dapat diketahui melalui kelebihan <sup>235</sup>U, yang merupakan produk peluruhan primordialnya yang berumur panjang. Jejak <sup>242</sup>Cm mungkin terdapat secara alami dalam mineral uranium akibat penangkapan neutron dan peluruhan beta (<sup>238</sup>U → <sup>239</sup>Pu → <sup>240</sup>Pu → <sup>241</sup>Am → <sup>242</sup>Cm), meskipun jumlahnya diperkirakan sangat kecil dan hal ini belum terkonfirmasi. Bahkan dengan perkiraan yang "sangat murah hati" terhadap kemungkinan penyerapan neutron, jumlah <sup>242</sup>Cm yang terdapat dalam 1&nbsp;×&nbsp;10<sup>8</sup>&nbsp;kg ''[[Uraninit|pitchblende]]'' uranium dengan kandungan uranium 18% diperkirakan bahkan tidak mencapai satu atom. Jejak <sup>247</sup>Cm juga kemungkinan terbawa ke Bumi melalui [[sinar kosmik]], tetapi hal ini juga belum terkonfirmasi. Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa <sup>244</sup>Cm terbentuk sebagai produk [[peluruhan beta ganda]] dari <sup>244</sup>Pu alami.


Kurium dibuat secara artifisial dalam jumlah kecil untuk keperluan penelitian. Kurium juga terdapat sebagai salah satu produk limbah dalam [[bahan bakar nuklir bekas]]. Di alam, kurium ditemukan di beberapa daerah yang digunakan untuk [[Uji coba nuklir|pengujian senjata nuklir]]. Analisis puing-puing di lokasi pengujian [[senjata termonuklir]] pertama [[Amerika Serikat]], [[Ivy Mike]] (1 November 1952, [[Atol Enewetak]]), selain menemukan [[einsteinium]], [[fermium]], plutonium, dan amerisium, juga mengungkap keberadaan isotop [[berkelium]], kalifornium, dan kurium, khususnya <sup>245</sup>Cm, <sup>246</sup>Cm, serta <sup>247</sup>Cm, <sup>248</sup>Cm, dan <sup>249</sup>Cm dalam jumlah lebih kecil.
Kurium dibuat secara artifisial dalam jumlah kecil untuk keperluan penelitian. Kurium juga terdapat sebagai salah satu produk limbah dalam [[bahan bakar nuklir bekas]].<ref>''Novel DGT Configurations for the Assessment of Bioavailable Plutonium, Americium, and Uranium in Marine and Freshwater Environments''. ''Analytical Chemistry''. 25 Agustus 2021. Vol. 93 (35). hlm. 11937–11945. doi:10.1021/acs.analchem.1c01342.</ref><ref>[https://doi.org/10.1021/acsomega.2c01884 Passive Sampling Tool for Actinides in Spent Nuclear Fuel Pools]. ''ACS Omega''. 2 Juni 2022. Vol. 7 (23). hlm. 20053−20058. doi:10.1021/acsomega.2c01884.</ref> Di alam, kurium ditemukan di beberapa daerah yang digunakan untuk [[Uji coba nuklir|pengujian senjata nuklir]].<ref>[http://www.lenntech.de/pse/pse.htm Curium] (dalam bahasa Jerman).</ref> Analisis puing-puing di lokasi pengujian [[senjata termonuklir]] pertama [[Amerika Serikat]], [[Ivy Mike]] (1 November 1952, [[Atol Enewetak]]), selain menemukan [[einsteinium]], [[fermium]], plutonium, dan amerisium, juga mengungkap keberadaan isotop [[berkelium]], kalifornium, dan kurium, khususnya <sup>245</sup>Cm, <sup>246</sup>Cm, serta <sup>247</sup>Cm, <sup>248</sup>Cm, dan <sup>249</sup>Cm dalam jumlah lebih kecil.<ref>P. R. Fields. ''Transplutonium Elements in Thermonuclear Test Debris''. ''Physical Review''. 1956. Vol. 102 (1). hlm. 180–182. doi:10.1103/PhysRev.102.180.</ref>


Senyawa kurium di atmosfer memiliki kelarutan yang rendah dalam pelarut umum dan sebagian besar melekat pada partikel tanah. Analisis tanah menunjukkan bahwa konsentrasi kurium pada partikel tanah berpasir sekitar 4.000 kali lebih tinggi dibandingkan konsentrasinya dalam air yang terdapat di pori-pori tanah. Pada tanah [[geluh]], rasio yang lebih tinggi, yaitu sekitar 18.000 kali, telah terukur.
Senyawa kurium di atmosfer memiliki kelarutan yang rendah dalam pelarut umum dan sebagian besar melekat pada partikel tanah. Analisis tanah menunjukkan bahwa konsentrasi kurium pada partikel tanah berpasir sekitar 4.000 kali lebih tinggi dibandingkan konsentrasinya dalam air yang terdapat di pori-pori tanah. Pada tanah [[geluh]], rasio yang lebih tinggi, yaitu sekitar 18.000 kali, telah terukur.<ref>[http://www.ead.anl.gov/pub/doc/curium.pdf Human Health Fact Sheet on Curium] , Laboratorium Nasional Los Alamos.</ref>


Unsur-unsur transuranium hingga fermium, termasuk kurium, diperkirakan pernah terdapat dalam [[Reaktor nuklir alam|reaktor fisi nuklir alami]] [[Oklo]]. Namun, setiap kurium yang mungkin terbentuk pada saat itu telah meluruh sejak lama.
Unsur-unsur transuranium hingga fermium, termasuk kurium, diperkirakan pernah terdapat dalam [[Reaktor nuklir alam|reaktor fisi nuklir alami]] [[Oklo]]. Namun, setiap kurium yang mungkin terbentuk pada saat itu telah meluruh sejak lama.<ref>John Emsley. ''Nature's Building Blocks: An A-Z Guide to the Elements''. Oxford University Press. 2011. ISBN 978-0-19-960563-7.</ref>
==Sintesis==
==Sintesis==
===Preparasi isotop===
===Preparasi isotop===
Kurium dibuat dalam jumlah kecil di dalam reaktor nuklir. Hingga saat ini, hanya beberapa kilogram <sup>242</sup>Cm dan <sup>244</sup>Cm yang telah berhasil dikumpulkan, sedangkan untuk isotop yang lebih berat jumlahnya hanya dalam skala gram atau bahkan miligram. Hal inilah yang menyebabkan harga kurium sangat tinggi, yang pernah dilaporkan sekitar [[Dolar Amerika Serikat|US$]]160–185/mg, dengan perkiraan yang lebih baru sekitar US$2.000/g untuk <sup>242</sup>Cm dan US$170/g untuk <sup>244</sup>Cm. Di dalam reaktor nuklir, kurium terbentuk dari <sup>238</sup>U melalui serangkaian reaksi nuklir. Pada rangkaian pertama, <sup>238</sup>U menangkap neutron dan berubah menjadi <sup>239</sup>U, yang kemudian melalui [[Peluruhan beta#Peluruhan β−|peluruhan β<sup>−</sup>]] berubah menjadi <sup>239</sup>Np dan <sup>239</sup>Pu.
Kurium dibuat dalam jumlah kecil di dalam reaktor nuklir. Hingga saat ini, hanya beberapa kilogram <sup>242</sup>Cm dan <sup>244</sup>Cm yang telah berhasil dikumpulkan, sedangkan untuk isotop yang lebih berat jumlahnya hanya dalam skala gram atau bahkan miligram. Hal inilah yang menyebabkan harga kurium sangat tinggi, yang pernah dilaporkan sekitar [[Dolar Amerika Serikat|US$]]160–185/mg,<ref>Hammond C. R. "The elements" in</ref> dengan perkiraan yang lebih baru sekitar US$2.000/g untuk <sup>242</sup>Cm dan US$170/g untuk <sup>244</sup>Cm.<ref>[http://fti.neep.wisc.edu/neep602/SPRING00/lecture5.pdf Basic elements of static RTGs] , G.L. Kulcinski, NEEP 602 Course Notes (Spring 2000), Nuclear Power in Space, University of Wisconsin Fusion Technology Institute (lihat halaman terakhir).</ref> Di dalam reaktor nuklir, kurium terbentuk dari <sup>238</sup>U melalui serangkaian reaksi nuklir. Pada rangkaian pertama, <sup>238</sup>U menangkap neutron dan berubah menjadi <sup>239</sup>U, yang kemudian melalui [[Peluruhan beta#Peluruhan β−|peluruhan β<sup>−</sup>]] berubah menjadi <sup>239</sup>Np dan <sup>239</sup>Pu.
 


Penangkapan neutron lebih lanjut yang diikuti oleh peluruhan β<sup>−</sup> menghasilkan amerisium (<sup>241</sup>Am), yang kemudian berubah menjadi <sup>242</sup>Cm:
Penangkapan neutron lebih lanjut yang diikuti oleh peluruhan β<sup>−</sup> menghasilkan amerisium (<sup>241</sup>Am), yang kemudian berubah menjadi <sup>242</sup>Cm:


Untuk keperluan penelitian, kurium diperoleh dengan mengiradiasi plutonium, bukan uranium, karena plutonium tersedia dalam jumlah besar dari bahan bakar nuklir bekas. Untuk iradiasi ini digunakan [[fluks neutron]] yang jauh lebih tinggi, sehingga menghasilkan rangkaian reaksi yang berbeda dan pembentukan <sup>244</sup>Cm:<ref>Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): ''The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides'', volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .</ref>


Untuk keperluan penelitian, kurium diperoleh dengan mengiradiasi plutonium, bukan uranium, karena plutonium tersedia dalam jumlah besar dari bahan bakar nuklir bekas. Untuk iradiasi ini digunakan [[fluks neutron]] yang jauh lebih tinggi, sehingga menghasilkan rangkaian reaksi yang berbeda dan pembentukan <sup>244</sup>Cm:
<sup>244</sup>Cm mengalami peluruhan alfa menjadi <sup>240</sup>Pu, tetapi juga dapat menangkap neutron sehingga menghasilkan sejumlah kecil isotop kurium yang lebih berat. Di antara isotop-isotop tersebut, <sup>247</sup>Cm dan <sup>248</sup>Cm banyak digunakan dalam penelitian ilmiah karena memiliki waktu paruh yang panjang. Namun, laju produksi <sup>247</sup>Cm dalam reaktor neutron termal rendah karena isotop ini cenderung mengalami fisi akibat neutron termal.<ref>Gregg J. Lumetta. [http://radchem.nevada.edu/classes/rdch710/files/curium.pdf The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements]. Springer Science+Business Media. 2006. hlm. 1401. ISBN 978-1-4020-3555-5.</ref> Sintesis <sup>250</sup>Cm melalui penangkapan neutron juga sulit terjadi karena waktu paruh isotop intermediat <sup>249</sup>Cm sangat pendek (64&nbsp;menit). Isotop tersebut mengalami peluruhan β<sup>−</sup>  menjadi isotop berkelium <sup>249</sup>Bk.<ref>Gregg J. Lumetta. [http://radchem.nevada.edu/classes/rdch710/files/curium.pdf The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements]. Springer Science+Business Media. 2006. hlm. 1401. ISBN 978-1-4020-3555-5.</ref>
 
 
<sup>244</sup>Cm mengalami peluruhan alfa menjadi <sup>240</sup>Pu, tetapi juga dapat menangkap neutron sehingga menghasilkan sejumlah kecil isotop kurium yang lebih berat. Di antara isotop-isotop tersebut, <sup>247</sup>Cm dan <sup>248</sup>Cm banyak digunakan dalam penelitian ilmiah karena memiliki waktu paruh yang panjang. Namun, laju produksi <sup>247</sup>Cm dalam reaktor neutron termal rendah karena isotop ini cenderung mengalami fisi akibat neutron termal. Sintesis <sup>250</sup>Cm melalui penangkapan neutron juga sulit terjadi karena waktu paruh isotop intermediat <sup>249</sup>Cm sangat pendek (64&nbsp;menit). Isotop tersebut mengalami peluruhan β<sup>−</sup>  menjadi isotop berkelium <sup>249</sup>Bk.
 
 
Rangkaian reaksi (n,γ) di atas menghasilkan campuran berbagai isotop kurium. Pemisahan isotop setelah sintesis cukup rumit, sehingga metode sintesis yang selektif lebih diinginkan. <sup>248</sup>Cm lebih disukai untuk keperluan penelitian karena memiliki waktu paruh yang panjang. Cara paling efisien untuk menyiapkan isotop ini adalah melalui peluruhan alfa isotop kalifornium <sup>252</sup>Cf, yang tersedia dalam jumlah relatif besar karena memiliki waktu paruh 2,65&nbsp;tahun. Dengan metode ini, sekitar 35–50&nbsp;mg <sup>248</sup>Cm dapat diproduksi setiap tahun. Reaksi tersebut menghasilkan <sup>248</sup>Cm dengan kemurnian isotop sekitar 97%.


Rangkaian reaksi (n,γ) di atas menghasilkan campuran berbagai isotop kurium. Pemisahan isotop setelah sintesis cukup rumit, sehingga metode sintesis yang selektif lebih diinginkan. <sup>248</sup>Cm lebih disukai untuk keperluan penelitian karena memiliki waktu paruh yang panjang. Cara paling efisien untuk menyiapkan isotop ini adalah melalui peluruhan alfa isotop kalifornium <sup>252</sup>Cf, yang tersedia dalam jumlah relatif besar karena memiliki waktu paruh 2,65&nbsp;tahun. Dengan metode ini, sekitar 35–50&nbsp;mg <sup>248</sup>Cm dapat diproduksi setiap tahun. Reaksi tersebut menghasilkan <sup>248</sup>Cm dengan kemurnian isotop sekitar 97%.<ref>Gregg J. Lumetta. [http://radchem.nevada.edu/classes/rdch710/files/curium.pdf The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements]. Springer Science+Business Media. 2006. hlm. 1401. ISBN 978-1-4020-3555-5.</ref>


Isotop lainnya, yaitu <sup>245</sup>Cm, dapat diperoleh untuk keperluan penelitian melalui peluruhan alfa <sup>249</sup>Cf. Isotop <sup>249</sup>Cf tersebut diproduksi dalam jumlah kecil melalui peluruhan β<sup>−</sup> <sup>249</sup>Bk.
Isotop lainnya, yaitu <sup>245</sup>Cm, dapat diperoleh untuk keperluan penelitian melalui peluruhan alfa <sup>249</sup>Cf. Isotop <sup>249</sup>Cf tersebut diproduksi dalam jumlah kecil melalui peluruhan β<sup>−</sup> <sup>249</sup>Bk.


===Preparasi logam===
===Preparasi logam===
Sebagian besar metode sintesis menghasilkan campuran berbagai isotop aktinida dalam bentuk oksida, sehingga isotop kurium tertentu perlu dipisahkan. Salah satu prosedurnya adalah melarutkan bahan bakar reaktor bekas (misalnya bahan bakar MOX) dalam asam nitrat, kemudian menghilangkan sebagian besar uranium dan plutonium menggunakan ekstraksi tipe [[PUREX]] ('''''P'''lutonium – '''UR'''anium '''EX'''traction'') dengan [[tributil fosfat]] dalam [[hidrokarbon]]. Lantanida dan aktinida yang tersisa kemudian dipisahkan dari residu berair ([[rafinat]]) melalui ekstraksi berbasis diamida, sehingga setelah proses pelepasan (''stripping'') diperoleh campuran aktinida dan lantanida trivalen. Senyawa kurium kemudian diekstraksi secara selektif menggunakan teknik kromatografi dan sentrifugasi bertahap dengan pereaksi yang sesuai.<ref>Penneman, hlm. 34–48</ref> Kompleks [[BTBP|''bis''-triazinil bipiridina]] baru-baru ini diusulkan sebagai salah satu pereaksi tersebut karena memiliki selektivitas yang tinggi terhadap kurium.<ref>Magnusson D. ''Demonstration of a SANEX Process in Centrifugal Contactors using the CyMe4-BTBP Molecule on a Genuine Fuel Solution''. ''Solvent Extraction and Ion Exchange''. 2009. Vol. 27 (2). hlm. 97. doi:10.1080/07366290802672204.</ref> Pemisahan kurium dari amerisium, yang secara kimia sangat mirip, juga dapat dilakukan dengan memperlakukan suspensi hidroksida keduanya dalam larutan [[natrium bikarbonat]] berair menggunakan [[ozon]] pada suhu tinggi. Baik kurium maupun amerisium dalam larutan sebagian besar berada dalam keadaan valensi +3. Amerisium teroksidasi menjadi kompleks Am(IV) yang larut, sedangkan kurium tetap tidak berubah. Dengan demikian, kurium dapat dipisahkan melalui sentrifugasi berulang.<ref>Penneman, hlm. 25</ref>


Sebagian besar metode sintesis menghasilkan campuran berbagai isotop aktinida dalam bentuk oksida, sehingga isotop kurium tertentu perlu dipisahkan. Salah satu prosedurnya adalah melarutkan bahan bakar reaktor bekas (misalnya bahan bakar MOX) dalam asam nitrat, kemudian menghilangkan sebagian besar uranium dan plutonium menggunakan ekstraksi tipe [[PUREX]] ('''''P'''lutonium – '''UR'''anium '''EX'''traction'') dengan [[tributil fosfat]] dalam [[hidrokarbon]]. Lantanida dan aktinida yang tersisa kemudian dipisahkan dari residu berair ([[rafinat]]) melalui ekstraksi berbasis diamida, sehingga setelah proses pelepasan (''stripping'') diperoleh campuran aktinida dan lantanida trivalen. Senyawa kurium kemudian diekstraksi secara selektif menggunakan teknik kromatografi dan sentrifugasi bertahap dengan pereaksi yang sesuai. Kompleks [[BTBP|''bis''-triazinil bipiridina]] baru-baru ini diusulkan sebagai salah satu pereaksi tersebut karena memiliki selektivitas yang tinggi terhadap kurium. Pemisahan kurium dari amerisium, yang secara kimia sangat mirip, juga dapat dilakukan dengan memperlakukan suspensi hidroksida keduanya dalam larutan [[natrium bikarbonat]] berair menggunakan [[ozon]] pada suhu tinggi. Baik kurium maupun amerisium dalam larutan sebagian besar berada dalam keadaan valensi +3. Amerisium teroksidasi menjadi kompleks Am(IV) yang larut, sedangkan kurium tetap tidak berubah. Dengan demikian, kurium dapat dipisahkan melalui sentrifugasi berulang.
Logam kurium diperoleh melalui [[Redoks|reduksi]] senyawa kurium. Pada awalnya, CmF<sub>3</sub> digunakan untuk tujuan ini. Reaksi dilakukan dalam lingkungan yang bebas dari air dan oksigen, menggunakan peralatan yang terbuat dari [[tantalum]] dan [[wolfram]], dengan [[barium]] atau [[litium]] elemental sebagai agen pereduksi.<ref>Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): ''The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides'', volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .</ref><ref>J. C. Wallmann. [https://cloudfront.escholarship.org/dist/prd/content/qt51t3d12j/qt51t3d12j.pdf The Preparation and Some Properties of Curium Metal]. ''Journal of the American Chemical Society''. 1951. Vol. 73 (1). hlm. 493–494. doi:10.1021/ja01145a537.</ref><ref>B. B. Cunningham. ''Crystal structure and melting point of curium metal''. ''Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry''. 1964. Vol. 26 (2). hlm. 271. doi:10.1016/0022-1902(64)80069-5.</ref><ref>J. Stevenson. ''Preparation and structural studies of elemental curium-248 and the nitrides of curium-248 and berkelium-249''. ''Journal of the Less Common Metals''. 1979. Vol. 66 (2). hlm. 201. doi:10.1016/0022-5088(79)90229-7.</ref><ref>''Gmelin Handbook of Inorganic Chemistry'', System No. 71, Volume 7 a, transuranics, Part B 1, hlm. 67–68.</ref>
 
Logam kurium diperoleh melalui [[Redoks|reduksi]] senyawa kurium. Pada awalnya, CmF<sub>3</sub> digunakan untuk tujuan ini. Reaksi dilakukan dalam lingkungan yang bebas dari air dan oksigen, menggunakan peralatan yang terbuat dari [[tantalum]] dan [[wolfram]], dengan [[barium]] atau [[litium]] elemental sebagai agen pereduksi.
:<math>\mathrm{CmF_3\ +\ 3\ Li\ \longrightarrow \ Cm\ +\ 3\ LiF}</math>
:<math>\mathrm{CmF_3\ +\ 3\ Li\ \longrightarrow \ Cm\ +\ 3\ LiF}</math>


Metode lainnya adalah mereduksi CmO<sub>2</sub> menggunakan paduan magnesium–[[seng]] dalam leburan [[magnesium klorida]] dan [[magnesium fluorida]].
Metode lainnya adalah mereduksi CmO<sub>2</sub> menggunakan paduan magnesium–[[seng]] dalam leburan [[magnesium klorida]] dan [[magnesium fluorida]].<ref>I. Eubanks. ''Preparation of curium metal''. ''Inorganic and Nuclear Chemistry Letters''. 1969. Vol. 5 (3). hlm. 187. doi:10.1016/0020-1650(69)80221-7.</ref>
==Senyawa dan reaksi==
==Senyawa dan reaksi==
===Oksida===
===Oksida===
Kurium mudah bereaksi dengan [[oksigen]] dan membentuk terutama oksida Cm<sub>2</sub>O<sub>3</sub> dan CmO<sub>2</sub>, meskipun oksida divalen CmO juga telah diketahui. CmO<sub>2</sub> berwarna hitam dapat diperoleh dengan membakar [[oksalat]] (), nitrat (), atau hidroksida kurium dalam oksigen murni. Ketika dipanaskan pada suhu 600–650&nbsp;°C dalam kondisi vakum (sekitar 0,01&nbsp;Pa), CmO<sub>2</sub> berubah menjadi Cm<sub>2</sub>O<sub>3</sub> yang berwarna putih keabu-abuan:
Kurium mudah bereaksi dengan [[oksigen]] dan membentuk terutama oksida Cm<sub>2</sub>O<sub>3</sub> dan CmO<sub>2</sub>,<ref>[http://www.lenntech.de/pse/pse.htm Curium] (dalam bahasa Jerman).</ref> meskipun oksida divalen CmO juga telah diketahui.<ref>Holleman, hlm. 1972</ref> CmO<sub>2</sub> berwarna hitam dapat diperoleh dengan membakar [[oksalat]] (), nitrat (), atau hidroksida kurium dalam oksigen murni.<ref>L. B. Asprey. ''Evidence for Quadrivalent Curium: X-Ray Data on Curium Oxides1''. ''Journal of the American Chemical Society''. 1955. Vol. 77 (6). hlm. 1707. doi:10.1021/ja01611a108.</ref><ref>Greenwood, hlm. 1268</ref> Ketika dipanaskan pada suhu 600–650&nbsp;°C dalam kondisi vakum (sekitar 0,01&nbsp;Pa), CmO<sub>2</sub> berubah menjadi Cm<sub>2</sub>O<sub>3</sub> yang berwarna putih keabu-abuan:<ref>L. B. Asprey. ''Evidence for Quadrivalent Curium: X-Ray Data on Curium Oxides1''. ''Journal of the American Chemical Society''. 1955. Vol. 77 (6). hlm. 1707. doi:10.1021/ja01611a108.</ref><ref>M. Noe. ''Self-radiation effects on the lattice parameter of 244 CmO 2''. ''Inorganic and Nuclear Chemistry Letters''. 1971. Vol. 7 (5). hlm. 421. doi:10.1016/0020-1650(71)80177-0.</ref>
:<math>\mathrm{4\ CmO_2\ \longrightarrow \ 2\ Cm_2O_3\ +\ O_2}</math>
:<math>\mathrm{4\ CmO_2\ \longrightarrow \ 2\ Cm_2O_3\ +\ O_2}</math>


Sebagai alternatif, Cm<sub>2</sub>O<sub>3</sub> dapat diperoleh dengan mereduksi CmO<sub>2</sub> menggunakan [[hidrogen]] molekuler:
Sebagai alternatif, Cm<sub>2</sub>O<sub>3</sub> dapat diperoleh dengan mereduksi CmO<sub>2</sub> menggunakan [[hidrogen]] molekuler:<ref>H. Haug. ''Curium sesquioxide Cm 2 O 3''. ''Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry''. 1967. Vol. 29 (11). hlm. 2753. doi:10.1016/0022-1902(67)80014-9.</ref>
:<math>\mathrm{2\ CmO_2\ +\ H_2\ \longrightarrow \ Cm_2O_3\ +\ H_2O}</math>
:<math>\mathrm{2\ CmO_2\ +\ H_2\ \longrightarrow \ Cm_2O_3\ +\ H_2O}</math>


Selain itu, telah diketahui sejumlah oksida terner dengan rumus M(II)CmO<sub>3</sub>, dengan M merupakan logam divalen, seperti barium.
Selain itu, telah diketahui sejumlah oksida terner dengan rumus M(II)CmO<sub>3</sub>, dengan M merupakan logam divalen, seperti barium.<ref>J. Fuger. [https://zenodo.org/record/1258637 Molar enthalpies of formation of BaCmO 3 and BaCfO 3]. ''Journal of Alloys and Compounds''. 1993. Vol. 200 (1–2). hlm. 181. doi:10.1016/0925-8388(93)90491-5.</ref>


Oksidasi termal sejumlah kecil kurium hidrida (CmH<sub>2–3</sub>) telah dilaporkan menghasilkan bentuk CmO<sub>2</sub> yang mudah menguap serta trioksida CmO<sub>3</sub> yang mudah menguap. CmO<sub>3</sub> merupakan salah satu dari hanya dua contoh yang diketahui untuk bilangan oksidasi +6 yang sangat jarang pada kurium. Spesies lain yang teramati dilaporkan memiliki perilaku serupa dengan [[Plutonium tetroksida|PuO<sub>4</sub>]] yang diduga ada dan untuk sementara diidentifikasi sebagai CmO<sub>4</sub>, dengan kurium berada dalam bilangan oksidasi yang sangat jarang, yaitu +8. Namun, eksperimen terbaru tampaknya menunjukkan bahwa CmO<sub>4</sub> tidak ada, sekaligus menimbulkan keraguan terhadap keberadaan PuO<sub>4</sub>.
Oksidasi termal sejumlah kecil kurium hidrida (CmH<sub>2–3</sub>) telah dilaporkan menghasilkan bentuk CmO<sub>2</sub> yang mudah menguap serta trioksida CmO<sub>3</sub> yang mudah menguap. CmO<sub>3</sub> merupakan salah satu dari hanya dua contoh yang diketahui untuk bilangan oksidasi +6 yang sangat jarang pada kurium.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kurium&oldid=29637858 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Spesies lain yang teramati dilaporkan memiliki perilaku serupa dengan [[Plutonium tetroksida|PuO<sub>4</sub>]] yang diduga ada dan untuk sementara diidentifikasi sebagai CmO<sub>4</sub>, dengan kurium berada dalam bilangan oksidasi yang sangat jarang, yaitu +8.<ref>V. P. Domanov. ''Possibility of generation of octavalent curium in the gas phase in the form of volatile tetraoxide CmO 4''. ''Radiochemistry''. Januari 2013. Vol. 55 (1). hlm. 46–51. doi:10.1134/S1066362213010098.</ref> Namun, eksperimen terbaru tampaknya menunjukkan bahwa CmO<sub>4</sub> tidak ada, sekaligus menimbulkan keraguan terhadap keberadaan PuO<sub>4</sub>.<ref>Andréi Zaitsevskii. ''Structures and stability of AnO 4 isomers, An = Pu, Am, and Cm: a relativistic density functional study''. ''Physical Chemistry Chemical Physics''. April 2014. Vol. 2014 (16). hlm. 8997–9001. doi:10.1039/c4cp00235k.</ref>
===Halida===
===Halida===
[[Kurium(III) fluorida|CmF<sub>3</sub>]] yang tidak memiliki warna dapat dibuat dengan menambahkan ion fluorida ke dalam larutan yang mengandung kurium(III). Sementara itu, [[Kurium(IV) fluorida|CmF<sub>4</sub>]] yang berwarna cokelat hanya dapat diperoleh dengan mereaksikan CmF<sub>3</sub> dengan [[fluorin]] molekuler:
[[Kurium(III) fluorida|CmF<sub>3</sub>]] yang tidak memiliki warna dapat dibuat dengan menambahkan ion fluorida ke dalam larutan yang mengandung kurium(III). Sementara itu, [[Kurium(IV) fluorida|CmF<sub>4</sub>]] yang berwarna cokelat hanya dapat diperoleh dengan mereaksikan CmF<sub>3</sub> dengan [[fluorin]] molekuler:<ref>Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): ''The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides'', volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .</ref>
: <math>\mathrm{2\ CmF_3\ +\ F_2\ \longrightarrow \ 2\ CmF_4}</math>
: <math>\mathrm{2\ CmF_3\ +\ F_2\ \longrightarrow \ 2\ CmF_4}</math>


Sejumlah fluorida terner dengan bentuk A<sub>7</sub>Cm<sub>6</sub>F<sub>31</sub> juga telah diketahui, dengan A merupakan [[logam alkali]].
Sejumlah fluorida terner dengan bentuk A<sub>7</sub>Cm<sub>6</sub>F<sub>31</sub> juga telah diketahui, dengan A merupakan [[logam alkali]].<ref>T. Keenan. ''Lattice constants of K7Cm6F31 trends in the 1:1 and 7:6 alkali metal-actinide(IV) series''. ''Inorganic and Nuclear Chemistry Letters''. 1967. Vol. 3 (10). hlm. 391. doi:10.1016/0020-1650(67)80092-8.</ref>


[[Kurium(III) klorida|CmCl<sub>3</sub>]] yang tidak memiliki warna dibuat dengan mereaksikan [[Kurium(III) hidroksida|Cm(OH)<sub>3</sub>]] dengan gas [[hidrogen klorida]] anhidrat. Senyawa ini selanjutnya dapat diubah menjadi halida lainnya, seperti [[Kurium(III) bromida|CmBr<sub>3</sub>]] (tidak berwarna hingga hijau muda) dan [[Kurium(III) iodida|CmI<sub>3</sub>]] (tidak berwarna), dengan mereaksikannya dengan garam [[amonia]] dari halida yang sesuai pada suhu sekitar 400–450&nbsp;°C:
[[Kurium(III) klorida|CmCl<sub>3</sub>]] yang tidak memiliki warna dibuat dengan mereaksikan [[Kurium(III) hidroksida|Cm(OH)<sub>3</sub>]] dengan gas [[hidrogen klorida]] anhidrat. Senyawa ini selanjutnya dapat diubah menjadi halida lainnya, seperti [[Kurium(III) bromida|CmBr<sub>3</sub>]] (tidak berwarna hingga hijau muda) dan [[Kurium(III) iodida|CmI<sub>3</sub>]] (tidak berwarna), dengan mereaksikannya dengan garam [[amonia]] dari halida yang sesuai pada suhu sekitar 400–450&nbsp;°C:<ref>L. B. Asprey. [https://digital.library.unt.edu/ark:/67531/metadc1035960/ Crystal Structures of the Trifluorides, Trichlorides, Tribromides, and Triiodides of Americium and Curium]. ''Inorganic Chemistry''. 1965. Vol. 4 (7). hlm. 985. doi:10.1021/ic50029a013.</ref>
: <math>\mathrm{CmCl_3\ +\ 3\ NH_4I\ \longrightarrow \ CmI_3\ +\ 3\ NH_4Cl}</math>
: <math>\mathrm{CmCl_3\ +\ 3\ NH_4I\ \longrightarrow \ CmI_3\ +\ 3\ NH_4Cl}</math>


Alternatif lainnya, oksida kurium dapat dipanaskan hingga sekitar 600&nbsp;°C bersama asam yang sesuai, misalnya [[asam bromida]] untuk menghasilkan CmBr<sub>3</sub>. [[Hidrolisis]] fase uap dari CmCl<sub>3</sub> menghasilkan kurium oksiklorida:
Alternatif lainnya, oksida kurium dapat dipanaskan hingga sekitar 600&nbsp;°C bersama asam yang sesuai, misalnya [[asam bromida]] untuk menghasilkan CmBr<sub>3</sub>.<ref>J. Burns. ''Crystallographic studies of some transuranic trihalides: 239PuCl3, 244CmBr3, 249BkBr3 and 249CfBr3''. ''Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry''. 1975. Vol. 37 (3). hlm. 743. doi:10.1016/0022-1902(75)80532-X.</ref><ref>J. Wallmann. ''Crystal structure and lattice parameters of curium trichloride''. ''Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry''. 1967. Vol. 29 (11). hlm. 2745. doi:10.1016/0022-1902(67)80013-7.</ref> [[Hidrolisis]] fase uap dari CmCl<sub>3</sub> menghasilkan kurium oksiklorida:<ref>F. Weigel. ''The vapor phase hydrolysis of PuCl 3 and CmCl 3 : heats of formation of PuOC1 and CmOCl''. ''Journal of the Less Common Metals''. 1977. Vol. 56 (1). hlm. 113. doi:10.1016/0022-5088(77)90224-7.</ref>
: <math>\mathrm{CmCl_3\ +\ H_2O\ \longrightarrow \ CmOCl\ +\ 2\ HCl}</math>
: <math>\mathrm{CmCl_3\ +\ H_2O\ \longrightarrow \ CmOCl\ +\ 2\ HCl}</math>
===Kalkogenida dan pniktida===
===Kalkogenida dan pniktida===
[[Sulfida]], [[selenida]], dan [[telurida]] kurium telah diperoleh dengan mereaksikan kurium dengan [[belerang]], [[selenium]], atau [[telurium]] dalam bentuk gas pada kondisi vakum dan suhu tinggi. [[Pniktida]] kurium dengan rumus umum CmX telah diketahui untuk [[nitrogen]], [[fosforus]], [[arsen]], dan [[antimon]]. Senyawa-senyawa tersebut dapat dibuat dengan mereaksikan CmH<sub>3</sub> atau kurium logam dengan unsur-unsur tersebut pada suhu tinggi.
[[Sulfida]], [[selenida]], dan [[telurida]] kurium telah diperoleh dengan mereaksikan kurium dengan [[belerang]], [[selenium]], atau [[telurium]] dalam bentuk gas pada kondisi vakum dan suhu tinggi.<ref>Troc, R. [https://books.google.com/books?id=vkzx_t3zLR0C&pg=PA4 Actinide Monochalcogenides, Volume 27], Springer, 2009 , hlm. 4</ref><ref>D. Damien. ''Preparation and lattice parameters of curium sulfides and selenides''. ''Inorganic and Nuclear Chemistry Letters''. 1975. Vol. 11 (7–8). hlm. 451. doi:10.1016/0020-1650(75)80017-1.</ref> [[Pniktida]] kurium dengan rumus umum CmX telah diketahui untuk [[nitrogen]], [[fosforus]], [[arsen]], dan [[antimon]].<ref>Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): ''The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides'', volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .</ref> Senyawa-senyawa tersebut dapat dibuat dengan mereaksikan CmH<sub>3</sub> atau kurium logam dengan unsur-unsur tersebut pada suhu tinggi.<ref>Lumetta, G. J.; Thompson, M. C.; Penneman, R. A.; Eller, P. G. [http://radchem.nevada.edu/classes/rdch710/files/curium.pdf Curium] , Bab 9 dalam ''Radioanalytical Chemistry'', Springer, 2004, hlm. 1420–1421. ,</ref>
===Senyawa organokurium dan aspek biologis===
===Senyawa organokurium dan aspek biologis===
Kompleks organologam yang analog dengan [[uranosena]] juga diketahui pada aktinida lainnya, seperti torium, protaktinium, neptunium, plutonium, dan amerisium. [[Teori orbital molekul]] memprediksi adanya kompleks "kurosena" yang stabil dengan rumus (η<sup>8</sup>-C<sub>8</sub>H<sub>8</sub>)<sub>2</sub>Cm, tetapi kompleks tersebut belum dilaporkan berhasil dibuat secara eksperimental.<ref>Elschenbroich, Ch. Organometallic Chemistry, 6th edition, Wiesbaden 2008, , hlm. 589</ref><ref>Andrew Kerridge. [https://figshare.com/articles/Are_the_Ground_States_of_the_Later_Actinocenes_Multiconfigurational_All_Electron_Spin_Orbit_Coupled_CASPT2_Calculations_on_An_sup_8_sup_C_sub_8_sub_H_sub_8_sub_sub_2_sub_An_Th_U_Pu_Cm_/2840251 Are the Ground States of the Later Actinocenes Multiconfigurational? All-Electron Spin−Orbit Coupled CASPT2 Calculations on An(η 8 -C 8 H 8 ) 2 (An = Th, U, Pu, Cm)]. ''The Journal of Physical Chemistry A''. 2009. Vol. 113 (30). hlm. 8737–8745. doi:10.1021/jp903912q.</ref>


Kompleks organologam yang analog dengan [[uranosena]] juga diketahui pada aktinida lainnya, seperti torium, protaktinium, neptunium, plutonium, dan amerisium. [[Teori orbital molekul]] memprediksi adanya kompleks "kurosena" yang stabil dengan rumus (η<sup>8</sup>-C<sub>8</sub>H<sub>8</sub>)<sub>2</sub>Cm, tetapi kompleks tersebut belum dilaporkan berhasil dibuat secara eksperimental.
Pembentukan kompleks dengan tipe  (BTP = 2,6-di(1,2,4-triazin-3-il)piridina), dalam larutan yang mengandung n-C<sub>3</sub>H<sub>7</sub>-BTP dan ion Cm<sup>3+</sup> telah dikonfirmasi melalui analisis [[EXAFS]]. Beberapa kompleks tipe BTP ini berinteraksi secara selektif dengan kurium sehingga berguna untuk memisahkan kurium dari unsur lantanida dan aktinida lainnya.<ref>Melissa A. Denecke. ''Characterization and Comparison of Cm(III) and Eu(III) Complexed with 2,6-Di(5,6-dipropyl-1,2,4-triazin-3-yl)pyridine Using EXAFS, TRFLS, and Quantum-Chemical Methods''. ''Inorganic Chemistry''. 2005. Vol. 44 (23). hlm. 8418–8425. doi:10.1021/ic0511726.</ref><ref>Denise Girnt. [https://research.manchester.ac.uk/en/publications/5a63d317-58af-424c-97f6-99bd929afc04 6-(3,5-Dimethyl-1H-pyrazol-1-yl)-2,2′-bipyridine as Ligand for Actinide(III)/Lanthanide(III) Separation]. ''Inorganic Chemistry''. 2010. Vol. 49 (20). hlm. 9627–9635. doi:10.1021/ic101309j.</ref> Ion Cm<sup>3+</sup> terlarut dapat berikatan dengan berbagai senyawa organik, seperti [[asam hidroksamat]],<ref>M. Glorius. ''Complexation of curium(III) with hydroxamic acids investigated by time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy''. ''Polyhedron''. 2008. Vol. 27 (9–10). hlm. 2113. doi:10.1016/j.poly.2008.04.002.</ref> [[urea]],<ref>Anne Heller. ''Complexation study of europium(III) and curium(III) with urea in aqueous solution investigated by time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy''. ''Inorganica Chimica Acta''. 2009. Vol. 362 (4). hlm. 1215. doi:10.1016/j.ica.2008.06.016.</ref> [[fluoresein]],<ref>Henry Moll. ''Curium(III) complexation with pyoverdins secreted by a groundwater strain of Pseudomonas fluorescens''. ''BioMetals''. 2007. Vol. 21 (2). hlm. 219–228. doi:10.1007/s10534-007-9111-x.</ref> dan [[adenosina trifosfat]].<ref>Henry Moll. ''Complexation of curium(III) by adenosine 5′-triphosphate (ATP): A time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy (TRLFS) study''. ''Inorganica Chimica Acta''. 2005. Vol. 358 (7). hlm. 2275. doi:10.1016/j.ica.2004.12.055.</ref> Banyak dari senyawa tersebut berkaitan dengan aktivitas biologis berbagai [[mikroorganisme]]. Kompleks yang terbentuk menunjukkan emisi kuning-oranye yang kuat ketika dieksitasi dengan sinar ultraungu. Sifat ini tidak hanya memudahkan pendeteksian kompleks, tetapi juga dapat digunakan untuk mempelajari interaksi antara ion Cm<sup>3+</sup> dan ligan melalui perubahan waktu hidup fluoresensi (sekitar 0,1&nbsp;ms) serta spektrum fluoresensinya.<ref>Bünzli, J.-C. G. dan Choppin, G. R. ''Lanthanide probes in life, chemical, and earth sciences: theory and practice'', Elsevier, Amsterdam, 1989. .</ref><ref>M. Glorius. ''Complexation of curium(III) with hydroxamic acids investigated by time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy''. ''Polyhedron''. 2008. Vol. 27 (9–10). hlm. 2113. doi:10.1016/j.poly.2008.04.002.</ref><ref>Anne Heller. ''Complexation study of europium(III) and curium(III) with urea in aqueous solution investigated by time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy''. ''Inorganica Chimica Acta''. 2009. Vol. 362 (4). hlm. 1215. doi:10.1016/j.ica.2008.06.016.</ref><ref>Henry Moll. ''Curium(III) complexation with pyoverdins secreted by a groundwater strain of Pseudomonas fluorescens''. ''BioMetals''. 2007. Vol. 21 (2). hlm. 219–228. doi:10.1007/s10534-007-9111-x.</ref><ref>Henry Moll. ''Complexation of curium(III) by adenosine 5′-triphosphate (ATP): A time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy (TRLFS) study''. ''Inorganica Chimica Acta''. 2005. Vol. 358 (7). hlm. 2275. doi:10.1016/j.ica.2004.12.055.</ref>


Pembentukan kompleks dengan tipe  (BTP = 2,6-di(1,2,4-triazin-3-il)piridina), dalam larutan yang mengandung n-C<sub>3</sub>H<sub>7</sub>-BTP dan ion Cm<sup>3+</sup> telah dikonfirmasi melalui analisis [[EXAFS]]. Beberapa kompleks tipe BTP ini berinteraksi secara selektif dengan kurium sehingga berguna untuk memisahkan kurium dari unsur lantanida dan aktinida lainnya. Ion Cm<sup>3+</sup> terlarut dapat berikatan dengan berbagai senyawa organik, seperti [[asam hidroksamat]], [[urea]], [[fluoresein]], dan [[adenosina trifosfat]]. Banyak dari senyawa tersebut berkaitan dengan aktivitas biologis berbagai [[mikroorganisme]]. Kompleks yang terbentuk menunjukkan emisi kuning-oranye yang kuat ketika dieksitasi dengan sinar ultraungu. Sifat ini tidak hanya memudahkan pendeteksian kompleks, tetapi juga dapat digunakan untuk mempelajari interaksi antara ion Cm<sup>3+</sup> dan ligan melalui perubahan waktu hidup fluoresensi (sekitar 0,1&nbsp;ms) serta spektrum fluoresensinya.
Terdapat beberapa laporan mengenai [[biosorpsi]] Cm<sup>3+</sup> oleh [[bakteri]] dan [[arkea]].<ref>H. Moll. ''Time-resolved laser fluorescence spectroscopy study on the interaction of curium(III) with Desulfovibrio äspöensis DSM 10631T''. ''Environmental Science & Technology''. 2004. Vol. 38 (5). hlm. 1455–1459. doi:10.1021/es0301166.</ref><ref>Ozaki, T. ''Association of Eu(III) and Cm(III) with Bacillus subtilis and Halobacterium salinarium''. ''Journal of Nuclear Science and Technology''. 2002. Vol. Suppl. 3. hlm. 950–953. doi:10.1080/00223131.2002.10875626.</ref> Selain itu, dalam penelitian laboratorium, baik kurium maupun amerisium ditemukan dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme [[metilotrof]].<ref>Kaleigh Remick. ''The Elements of Life: A Biocentric Tour of the Periodic Table''. ''Advances in Microbial Physiology''. PubMed Central. 30 Januari 2023. Vol. 82. hlm. 1–127. doi:10.1016/bs.ampbs.2022.11.001. ISBN 978-0-443-19334-7.</ref>
 
Terdapat beberapa laporan mengenai [[biosorpsi]] Cm<sup>3+</sup> oleh [[bakteri]] dan [[arkea]]. Selain itu, dalam penelitian laboratorium, baik kurium maupun amerisium ditemukan dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme [[metilotrof]].
==Aplikasi==
==Aplikasi==
===Radionuklida===
===Radionuklida===
Kurium merupakan salah satu unsur yang dapat diisolasi dengan tingkat radioaktivitas paling tinggi. Dua isotopnya yang paling umum, yaitu <sup>242</sup>Cm dan <sup>244</sup>Cm merupakan pemancar partikel alfa yang kuat dengan energi sekitar 6&nbsp;MeV). Keduanya memiliki waktu paruh yang relatif pendek, masing-masing 162,8&nbsp;hari dan 18,1&nbsp;tahun, serta menghasilkan panas masing-masing hingga sekitar 120&nbsp;W/g dan 3&nbsp;W/g.<ref>Hammond C. R. "The elements" in</ref><ref>Binder, Harry H.: ''Lexikon der chemischen Elemente'', S. Hirzel Verlag, Stuttgart 1999, , hlm. 174–178.</ref><ref>''Gmelin Handbook of Inorganic Chemistry'', System No. 71, Volume 7a, transuranics, Part A2, hlm. 289</ref> Oleh karena itu, kurium dalam bentuk oksidanya yang umum dapat digunakan dalam generator termoelektrik radioisotop, seperti yang digunakan pada wahana antariksa. Penggunaan ini telah dipelajari untuk isotop <sup>244</sup>Cm, sedangkan <sup>242</sup>Cm tidak digunakan karena harganya yang sangat tinggi, yaitu sekitar US$2.000/g. <sup>243</sup>Cm, dengan waktu paruh sekitar 30&nbsp;tahun dan hasil energi sekitar 1,6&nbsp;W/g, berpotensi menjadi bahan bakar yang sesuai. Namun, isotop ini menghasilkan sejumlah besar radiasi [[Sinar gama|gama]] dan [[Partikel beta|beta]] berbahaya dari produk peluruhannya. Sebagai pemancar alfa, <sup>244</sup>Cm memerlukan pelindung radiasi yang jauh lebih sedikit. Akan tetapi, isotop ini memiliki laju fisi spontan yang tinggi sehingga menghasilkan banyak radiasi neutron dan gama. Dibandingkan dengan isotop yang digunakan dalam generator termoelektrik pesaing, seperti <sup>238</sup>Pu, <sup>244</sup>Cm memancarkan neutron sekitar 500 kali lebih banyak. Emisi gammanya yang lebih tinggi juga memerlukan pelindung sekitar 20 kali lebih tebal—sekitar  [[timbal]] untuk sumber 1&nbsp;kW, dibandingkan  untuk <sup>238</sup>Pu. Oleh karena itu, penggunaan kurium untuk tujuan ini saat ini dianggap tidak praktis.<ref>[http://fti.neep.wisc.edu/neep602/SPRING00/lecture5.pdf Basic elements of static RTGs] , G.L. Kulcinski, NEEP 602 Course Notes (Spring 2000), Nuclear Power in Space, University of Wisconsin Fusion Technology Institute (lihat halaman terakhir).</ref>


Kurium merupakan salah satu unsur yang dapat diisolasi dengan tingkat radioaktivitas paling tinggi. Dua isotopnya yang paling umum, yaitu <sup>242</sup>Cm dan <sup>244</sup>Cm merupakan pemancar partikel alfa yang kuat dengan energi sekitar 6&nbsp;MeV). Keduanya memiliki waktu paruh yang relatif pendek, masing-masing 162,8&nbsp;hari dan 18,1&nbsp;tahun, serta menghasilkan panas masing-masing hingga sekitar 120&nbsp;W/g dan 3&nbsp;W/g. Oleh karena itu, kurium dalam bentuk oksidanya yang umum dapat digunakan dalam generator termoelektrik radioisotop, seperti yang digunakan pada wahana antariksa. Penggunaan ini telah dipelajari untuk isotop <sup>244</sup>Cm, sedangkan <sup>242</sup>Cm tidak digunakan karena harganya yang sangat tinggi, yaitu sekitar US$2.000/g. <sup>243</sup>Cm, dengan waktu paruh sekitar 30&nbsp;tahun dan hasil energi sekitar 1,6&nbsp;W/g, berpotensi menjadi bahan bakar yang sesuai. Namun, isotop ini menghasilkan sejumlah besar radiasi [[Sinar gama|gama]] dan [[Partikel beta|beta]] berbahaya dari produk peluruhannya. Sebagai pemancar alfa, <sup>244</sup>Cm memerlukan pelindung radiasi yang jauh lebih sedikit. Akan tetapi, isotop ini memiliki laju fisi spontan yang tinggi sehingga menghasilkan banyak radiasi neutron dan gama. Dibandingkan dengan isotop yang digunakan dalam generator termoelektrik pesaing, seperti <sup>238</sup>Pu, <sup>244</sup>Cm memancarkan neutron sekitar 500 kali lebih banyak. Emisi gammanya yang lebih tinggi juga memerlukan pelindung sekitar 20 kali lebih tebal—sekitar  [[timbal]] untuk sumber 1&nbsp;kW, dibandingkan  untuk <sup>238</sup>Pu. Oleh karena itu, penggunaan kurium untuk tujuan ini saat ini dianggap tidak praktis.
Penggunaan <sup>242</sup>Cm yang lebih menjanjikan adalah sebagai bahan awal untuk menghasilkan <sup>238</sup>Pu, yang merupakan radioisotop yang lebih baik untuk generator termoelektrik, misalnya yang digunakan pada alat pacu jantung. Jalur alternatif untuk menghasilkan <sup>238</sup>Pu adalah melalui reaksi (n,γ) pada <sup>237</sup>Np atau pemborbardiran uranium dengan [[deuterium|deuteron]]. Namun, kedua reaksi tersebut selalu menghasilkan <sup>236</sup>Pu sebagai produk samping yang tidak diinginkan karena isotop tersebut meluruh menjadi <sup>232</sup>U yang menghasilkan emisi gama kuat.<ref>[http://www.kronenberg.kernchemie.de/ Kronenberg, Andreas], [http://www.kernenergie-wissen.de/pu-batterien.html Plutonium-Batterien] (dalam bahasa Jerman) [http://www.kronenberg.kernchemie.de/ Archived copy].</ref> Kurium merupakan bahan awal yang umum digunakan untuk menghasilkan unsur transuranium yang lebih berat dan [[Unsur transaktinida|unsur superberat]]. Misalnya, pemborbardiran <sup>248</sup>Cm dengan [[neon]] (<sup>22</sup>Ne), [[magnesium]] (<sup>26</sup>Mg), atau [[kalsium]] ([[kalsium-48|<sup>48</sup>Ca]]) dapat menghasilkan isotop [[seaborgium]] (<sup>265</sup>Sg), [[hasium]] (<sup>269</sup>Hs dan <sup>270</sup>Hs), serta [[livermorium]] (<sup>292</sup>Lv, <sup>293</sup>Lv, dan kemungkinan <sup>294</sup>Lv).<ref>Holleman, hlm. 1980–1981.</ref> Kalifornium ditemukan ketika target berukuran mikrogram yang terdiri atas <sup>242</sup>Cm dibombardir dengan partikel alfa berenergi 35&nbsp;MeV menggunakan siklotron berdiameter  di Berkeley:
 
Penggunaan <sup>242</sup>Cm yang lebih menjanjikan adalah sebagai bahan awal untuk menghasilkan <sup>238</sup>Pu, yang merupakan radioisotop yang lebih baik untuk generator termoelektrik, misalnya yang digunakan pada alat pacu jantung. Jalur alternatif untuk menghasilkan <sup>238</sup>Pu adalah melalui reaksi (n,γ) pada <sup>237</sup>Np atau pemborbardiran uranium dengan [[deuterium|deuteron]]. Namun, kedua reaksi tersebut selalu menghasilkan <sup>236</sup>Pu sebagai produk samping yang tidak diinginkan karena isotop tersebut meluruh menjadi <sup>232</sup>U yang menghasilkan emisi gama kuat. Kurium merupakan bahan awal yang umum digunakan untuk menghasilkan unsur transuranium yang lebih berat dan [[Unsur transaktinida|unsur superberat]]. Misalnya, pemborbardiran <sup>248</sup>Cm dengan [[neon]] (<sup>22</sup>Ne), [[magnesium]] (<sup>26</sup>Mg), atau [[kalsium]] ([[kalsium-48|<sup>48</sup>Ca]]) dapat menghasilkan isotop [[seaborgium]] (<sup>265</sup>Sg), [[hasium]] (<sup>269</sup>Hs dan <sup>270</sup>Hs), serta [[livermorium]] (<sup>292</sup>Lv, <sup>293</sup>Lv, dan kemungkinan <sup>294</sup>Lv). Kalifornium ditemukan ketika target berukuran mikrogram yang terdiri atas <sup>242</sup>Cm dibombardir dengan partikel alfa berenergi 35&nbsp;MeV menggunakan siklotron berdiameter  di Berkeley:
: <chem>^{242}_{96}Cm + ^{4}_{2}He -> ^{245}_{98}Cf + ^{1}_{0}n</chem>
: <chem>^{242}_{96}Cm + ^{4}_{2}He -> ^{245}_{98}Cf + ^{1}_{0}n</chem>
Dalam eksperimen tersebut, hanya sekitar 5.000 atom kalifornium yang berhasil dihasilkan.
Dalam eksperimen tersebut, hanya sekitar 5.000 atom kalifornium yang berhasil dihasilkan.<ref>Glenn T. Seaborg. ''One Hundred Years after the Discovery of Radioactivity''. Oldenbourg Wissenschaftsverlag. 1996. hlm. 82. ISBN 978-3-486-64252-0.</ref>


Isotop kurium bermassa ganjil, yaitu <sup>243</sup>Cm, <sup>245</sup>Cm, dan <sup>247</sup>Cm, semuanya sangat fisil dan dapat melepaskan energi tambahan dalam reaktor nuklir dengan spektrum neutron termal. Semua isotop kurium dapat mengalami fisi dalam reaktor neutron cepat. Hal ini menjadi salah satu alasan dilakukannya pemisahan dan transmutasi aktinida minor dalam [[siklus bahan bakar nuklir]], yang membantu mengurangi radiotoksisitas jangka panjang dari bahan bakar nuklir bekas atau terpakai.
Isotop kurium bermassa ganjil, yaitu <sup>243</sup>Cm, <sup>245</sup>Cm, dan <sup>247</sup>Cm, semuanya sangat fisil dan dapat melepaskan energi tambahan dalam reaktor nuklir dengan spektrum neutron termal. Semua isotop kurium dapat mengalami fisi dalam reaktor neutron cepat. Hal ini menjadi salah satu alasan dilakukannya pemisahan dan transmutasi aktinida minor dalam [[siklus bahan bakar nuklir]], yang membantu mengurangi radiotoksisitas jangka panjang dari bahan bakar nuklir bekas atau terpakai.
===Spektrometer sinar-X===
===Spektrometer sinar-X===
Aplikasi <sup>244</sup>Cmyang paling praktis—meskipun penggunaannya secara keseluruhan cukup terbatas—adalah sebagai sumber partikel alfa dalam spektrometer sinar-X partikel alfa (APXS). Instrumen ini dipasang pada ''[[Mars Pathfinder]]'' (''Sojourner''), ''Spirit'', ''Opportunity'', ''Curiosity'', [[Mars 96]], [[Mars Exploration Rover]], pendarat komet ''Philae'',<ref>[http://www.bernd-leitenberger.de/philae.shtml Der Rosetta Lander Philae]. Bernd-leitenberger.de. 1 Juli 2003.</ref> serta [[Mars Science Laboratory]] untuk menganalisis komposisi dan struktur batuan di permukaan planet [[Mars]].<ref>Rieder, R. ''An Alpha Proton X-Ray Spectrometer for Mars-96 and Mars Pathfinder''. ''Bulletin of the American Astronomical Society''. September 1996. Vol. 28. hlm. 1062.</ref> APXS juga digunakan pada [[Kuar antariksa|kuar]] bulan [[Program Surveyor|Surveyor 5–7]], tetapi dengan menggunakan sumber <sup>242</sup>Cm.<ref>[http://www.ead.anl.gov/pub/doc/curium.pdf Human Health Fact Sheet on Curium] , Laboratorium Nasional Los Alamos.</ref><ref>Leitenberger, Bernd [http://www.bernd-leitenberger.de/surveyor.shtml Die Surveyor Raumsonden] (dalam bahasa Jerman).</ref><ref>Nicks, Oran. [https://history.nasa.gov/SP-480/ch9.htm SP-480 Far Travelers: The Exploring Machines]. NASA. 1985.</ref>


Aplikasi <sup>244</sup>Cmyang paling praktis—meskipun penggunaannya secara keseluruhan cukup terbatas—adalah sebagai sumber partikel alfa dalam spektrometer sinar-X partikel alfa (APXS). Instrumen ini dipasang pada ''[[Mars Pathfinder]]'' (''Sojourner''), ''Spirit'', ''Opportunity'', ''Curiosity'', [[Mars 96]], [[Mars Exploration Rover]], pendarat komet ''Philae'', serta [[Mars Science Laboratory]] untuk menganalisis komposisi dan struktur batuan di permukaan planet [[Mars]]. APXS juga digunakan pada [[Kuar antariksa|kuar]] bulan [[Program Surveyor|Surveyor 5–7]], tetapi dengan menggunakan sumber <sup>242</sup>Cm.
Sistem APXS yang lebih kompleks memiliki kepala sensor yang berisi enam sumber kurium dengan total laju peluruhan beberapa puluh [[Curie (satuan)|milicurie]] (sekitar satu [[Becquerel|gigabecquerel]]). Sumber-sumber tersebut diarahkan melalui kolimator menuju sampel, kemudian spektrum energi partikel alfa dan proton yang dihamburkan dari sampel dianalisis. Analisis proton hanya dilakukan pada beberapa jenis spektrometer. Spektrum yang diperoleh memberikan informasi kuantitatif mengenai hampir semua unsur utama dalam sampel, kecuali hidrogen, [[helium]], dan litium.<ref>[https://web.archive.org/web/20060302040531/http://athena.cornell.edu/pdf/tb_apxs.pdf Alpha Particle X-Ray Spectrometer (APXS)], Universitas Cornell.</ref>
 
Sistem APXS yang lebih kompleks memiliki kepala sensor yang berisi enam sumber kurium dengan total laju peluruhan beberapa puluh [[Curie (satuan)|milicurie]] (sekitar satu [[Becquerel|gigabecquerel]]). Sumber-sumber tersebut diarahkan melalui kolimator menuju sampel, kemudian spektrum energi partikel alfa dan proton yang dihamburkan dari sampel dianalisis. Analisis proton hanya dilakukan pada beberapa jenis spektrometer. Spektrum yang diperoleh memberikan informasi kuantitatif mengenai hampir semua unsur utama dalam sampel, kecuali hidrogen, [[helium]], dan litium.
==Keselamatan==
==Keselamatan==
Karena sifat radioaktifnya, kurium dan senyawanya harus ditangani di laboratorium yang sesuai dengan prosedur khusus. Kurium sendiri memancarkan partikel alfa, yang dapat diserap oleh lapisan tipis dari material umum. Namun, beberapa produk peluruhannya memancarkan fraksi radiasi beta dan gama yang cukup signifikan sehingga memerlukan perlindungan yang lebih kompleks. Jika tertelan, kurium akan dikeluarkan dari tubuh dalam waktu beberapa hari dan hanya sekitar 0,05% yang diserap ke dalam darah. Dari jumlah yang terserap tersebut, sekitar 45% menuju [[hati]], 45% menuju tulang, sedangkan 10% sisanya dikeluarkan dari tubuh. Di dalam tulang, kurium terakumulasi pada bagian dalam antarmuka menuju [[sumsum tulang]] dan tidak mengalami redistribusi secara signifikan seiring waktu. Radiasinya dapat merusak sumsum tulang sehingga menghentikan pembentukan [[sel darah merah]]. [[Waktu paruh biologis]] kurium diperkirakan sekitar 20&nbsp;tahun di dalam hati dan 50&nbsp;tahun di dalam tulang. Kurium diserap oleh tubuh jauh lebih kuat melalui inhalasi, dan dosis total <sup>244</sup>Cm dalam bentuk yang larut yang diperbolehkan adalah sekitar 0,3&nbsp;μCi. Pemberian larutan yang mengandung <sup>242</sup>Cm dan <sup>244</sup>Cm secara intravena pada tikus meningkatkan kejadian [[tumor tulang]], sedangkan paparan melalui inhalasi meningkatkan risiko [[kanker hati]] dan [[paru-paru]].
Karena sifat radioaktifnya, kurium dan senyawanya harus ditangani di laboratorium yang sesuai dengan prosedur khusus. Kurium sendiri memancarkan partikel alfa, yang dapat diserap oleh lapisan tipis dari material umum. Namun, beberapa produk peluruhannya memancarkan fraksi radiasi beta dan gama yang cukup signifikan sehingga memerlukan perlindungan yang lebih kompleks.<ref>[http://www.lenntech.de/pse/pse.htm Curium] (dalam bahasa Jerman).</ref> Jika tertelan, kurium akan dikeluarkan dari tubuh dalam waktu beberapa hari dan hanya sekitar 0,05% yang diserap ke dalam darah. Dari jumlah yang terserap tersebut, sekitar 45% menuju [[hati]], 45% menuju tulang, sedangkan 10% sisanya dikeluarkan dari tubuh. Di dalam tulang, kurium terakumulasi pada bagian dalam antarmuka menuju [[sumsum tulang]] dan tidak mengalami redistribusi secara signifikan seiring waktu. Radiasinya dapat merusak sumsum tulang sehingga menghentikan pembentukan [[sel darah merah]]. [[Waktu paruh biologis]] kurium diperkirakan sekitar 20&nbsp;tahun di dalam hati dan 50&nbsp;tahun di dalam tulang.<ref>[http://www.lenntech.de/pse/pse.htm Curium] (dalam bahasa Jerman).</ref><ref>[http://www.ead.anl.gov/pub/doc/curium.pdf Human Health Fact Sheet on Curium] , Laboratorium Nasional Los Alamos.</ref> Kurium diserap oleh tubuh jauh lebih kuat melalui inhalasi, dan dosis total <sup>244</sup>Cm dalam bentuk yang larut yang diperbolehkan adalah sekitar 0,3&nbsp;μCi.<ref>Hammond C. R. "The elements" in</ref> Pemberian larutan yang mengandung <sup>242</sup>Cm dan <sup>244</sup>Cm secara intravena pada tikus meningkatkan kejadian [[tumor tulang]], sedangkan paparan melalui inhalasi meningkatkan risiko [[kanker hati]] dan [[paru-paru]].<ref>[http://www.lenntech.de/pse/pse.htm Curium] (dalam bahasa Jerman).</ref>
 
Isotop kurium secara tidak terhindarkan terdapat dalam bahan bakar nuklir bekas, dengan jumlah sekitar 20 g/ton. Isotop <sup>245</sup>Cm–<sup>248</sup>Cm memiliki waktu peluruhan hingga ribuan tahun sehingga perlu dipisahkan untuk membuat bahan bakar tersebut lebih aman dan sesuai untuk pembuangan akhir. Prosedur ini melibatkan beberapa tahap. Kurium terlebih dahulu dipisahkan, kemudian diubah melalui pemborbardiran neutron dalam reaktor khusus menjadi nuklida yang berumur pendek. Proses tersebut disebut [[Transmutasi|transmutasi nuklir]]. Meskipun metode ini telah terdokumentasi dengan baik untuk unsur-unsur lainnya, penerapannya pada kurium masih dalam tahap pengembangan.
==Referensi==


Isotop kurium secara tidak terhindarkan terdapat dalam bahan bakar nuklir bekas, dengan jumlah sekitar 20 g/ton.<ref>Hoffmann, K. ''Kann man Gold machen? Gauner, Gaukler und Gelehrte. Aus der Geschichte der chemischen Elemente'' (Bisakah emas dibuat? Penipu, pesulap, dan cendekiawan. Dari sejarah unsur-unsur kimia), Urania-Verlag, Leipzig, Jena, Berlin 1979, tanpa ISBN, hlm. 233</ref> Isotop <sup>245</sup>Cm–<sup>248</sup>Cm memiliki waktu peluruhan hingga ribuan tahun sehingga perlu dipisahkan untuk membuat bahan bakar tersebut lebih aman dan sesuai untuk pembuangan akhir.<ref>Baetslé, L. H. [http://www.ictp.trieste.it/~pub_off/lectures/lns012/Baetsle.pdf Application of Partitioning/Transmutation of Radioactive Materials in Radioactive Waste Management] , Nuclear Research Centre of Belgium Sck/Cen, Mol, Belgia, September 2001.</ref> Prosedur ini melibatkan beberapa tahap. Kurium terlebih dahulu dipisahkan, kemudian diubah melalui pemborbardiran neutron dalam reaktor khusus menjadi nuklida yang berumur pendek. Proses tersebut disebut [[Transmutasi|transmutasi nuklir]]. Meskipun metode ini telah terdokumentasi dengan baik untuk unsur-unsur lainnya, penerapannya pada kurium masih dalam tahap pengembangan.<ref>Melissa A. Denecke. ''Characterization and Comparison of Cm(III) and Eu(III) Complexed with 2,6-Di(5,6-dipropyl-1,2,4-triazin-3-yl)pyridine Using EXAFS, TRFLS, and Quantum-Chemical Methods''. ''Inorganic Chemistry''. 2005. Vol. 44 (23). hlm. 8418–8425. doi:10.1021/ic0511726.</ref>
==Bibliografi==
==Bibliografi==
*
*  
* Holleman, Arnold F. dan Wiberg, Nils '' Lehrbuch der Anorganischen Chemie'', 102 Edition, de Gruyter, Berlin 2007, .
* Holleman, Arnold F. dan Wiberg, Nils '' Lehrbuch der Anorganischen Chemie'', 102 Edition, de Gruyter, Berlin 2007, .
* Penneman, R. A. dan Keenan T. K. [http://www.osti.gov/bridge/purl.cover.jsp?purl=/4187189-IKQUwY/ The radiochemistry of americium and curium], Universitas California, Los Alamos, California, 1960
* Penneman, R. A. dan Keenan T. K. [http://www.osti.gov/bridge/purl.cover.jsp?purl=/4187189-IKQUwY/ The radiochemistry of americium and curium], Universitas California, Los Alamos, California, 1960
==Pranala luar==
==Pranala luar==
*  [http://www.periodicvideos.com/videos/096.htm Curium] di ''[[The Periodic Table of Videos]]'' (Universitas Nottingham)
*  [http://www.periodicvideos.com/videos/096.htm Curium] di ''[[The Periodic Table of Videos]]'' (Universitas Nottingham)
*  [https://web.archive.org/web/20150903170301/http://toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/search/r?dbs+hsdb:@term+@na+@rel+curium,+radioactive NLM Hazardous Substances Databank – Curium, Radioactive]
*  [https://web.archive.org/web/20150903170301/http://toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/search/r?dbs+hsdb:@term+@na+@rel+curium,+radioactive NLM Hazardous Substances Databank – Curium, Radioactive]


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kurium&oldid=29637858 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29637858 (2026-08-25T19:09:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kurium&oldid=29637858 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29637858 (2026-08-25T19:09:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 22.56

Electron shell 096 Curium - no label

Kurium adalah sebuah unsur kimia sintetis dengan lambang Cm dan nomor atom 96. Unsur aktinida transuranium ini dinamai berdasarkan nama ilmuwan terkemuka Marie dan Pierre Curie, yang dikenal atas penelitian mereka tentang radioaktivitas. Kurium pertama kali berhasil dibuat secara sengaja oleh tim Glenn T. Seaborg, Ralph A. James, dan Albert Ghiorso pada tahun 1944, menggunakan siklotron di Berkeley. Mereka membombardir unsur plutonium (isotop 239Pu) yang baru ditemukan dengan partikel alfa. Sampel kurium yang sangat kecil kemudian dikirim ke Laboratorium Metalurgi di Universitas Chicago, tempat unsur tersebut akhirnya dipisahkan dan diidentifikasi. Penemuan ini dirahasiakan hingga berakhirnya Perang Dunia II. Berita mengenai penemuan tersebut kemudian diumumkan kepada publik pada November 1947. Sebagian besar kurium diproduksi dengan membombardir uranium atau plutonium menggunakan neutron di dalam reaktor nuklir. Satu ton bahan bakar nuklir bekas mengandung sekitar 20 gram kurium.

Kurium adalah logam keras, padat, dan berwarna keperakan dengan titik lebur dan titik didih yang tinggi untuk ukuran unsur aktinida. Pada kondisi lingkungan, kurium bersifat paramagnetik, tetapi berubah menjadi antiferomagnetik ketika didinginkan. Berbagai transisi magnetik lainnya juga ditemukan pada banyak senyawa kurium. Dalam senyawa, kurium biasanya memiliki valensi +3 dan terkadang +4; valensi +3 merupakan bentuk yang dominan dalam larutan. Kurium mudah teroksidasi, dan oksidanya merupakan salah satu bentuk utama unsur ini. Kurium dapat membentuk kompleks yang sangat berfluoresensi dengan berbagai senyawa organik. Jika masuk ke dalam tubuh manusia, kurium akan terakumulasi di tulang, paru-paru, dan hati, sehingga dapat meningkatkan risiko kanker.

Semua isotop kurium yang diketahui bersifat radioaktif dan memiliki massa kritis yang kecil untuk memungkinkan terjadinya reaksi rantai nuklir. Isotop yang paling stabil, 247Cm, memiliki waktu paruh sekitar 15,6 juta tahun. Isotop kurium yang berumur paling panjang pada umumnya memancarkan partikel alfa. Generator termoelektrik radioisotop (RTG) dapat memanfaatkan panas yang dihasilkan dari proses ini, tetapi penggunaannya terhambat oleh kelangkaan dan tingginya biaya kurium. Kurium digunakan dalam pembuatan aktinida yang lebih berat serta radionuklida 238Pu, yang dimanfaatkan sebagai sumber energi pada alat pacu jantung buatan dan RTG untuk wahana antariksa. Kurium juga pernah digunakan sebagai sumber partikel alfa dalam spektrometer sinar-X partikel alfa (APXS) pada beberapa wahana antariksa, termasuk wahana penjelajah Mars Sojourner, Spirit, Opportunity, dan Curiosity, serta pendarat Philae di komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Instrumen tersebut digunakan untuk menganalisis komposisi dan struktur permukaan benda-benda langit tersebut.

Sejarah

Kurium pertama kali berhasil disintesis, diisolasi, dan diidentifikasi secara sengaja pada tahun 1944 di Universitass California, Berkeley, oleh Glenn T. Seaborg, Ralph A. James, dan Albert Ghiorso. Dalam eksperimen tersebut, mereka menggunakan siklotron berukuran 60 inci.[1]

Kurium diidentifikasi secara kimia di Laboratorium Metalurgi (sekarang Laboratorium Nasional Argonne), Universitas Chicago. Kurium merupakan unsur transuranium ketiga yang ditemukan, meskipun sebenarnya merupakan unsur keempat dalam deret tersebut—unsur yang lebih ringan, amerisium, pada saat itu masih belum diketahui.[2][3]

Sampel kurium dibuat melalui beberapa tahap. Pertama, larutan 239Pu nitrat dilapiskan pada lembaran platina dengan luas sekitar 0,5 cm2. Larutan tersebut kemudian diuapkan dan residunya diubah menjadi plutonium(IV) oksida (PuO2) melalui proses penganilan. Setelah itu, oksida tersebut diiradiasi menggunakan siklotron. Lapisan tersebut kemudian dilarutkan dengan asam nitrat dan diendapkan sebagai hidroksida menggunakan larutan amonia berair pekat. Residu selanjutnya dilarutkan dalam asam perklorat, kemudian dilakukan pemisahan lebih lanjut melalui pertukaran ion hingga diperoleh isotop kurium tertentu. Pemisahan kurium dan amerisium sangat sulit dilakukan. Karena itu, kelompok Berkeley pada awalnya menyebut kedua unsur tersebut dengan nama pandemonium (dari bahasa Yunani yang berarti semua setan atau neraka) dan delirium (dari bahasa Latin yang berarti kegilaan).[4][5]

242Cm dibuat pada bulan Juli–Agustus 1944 dengan membombardir 239Pu menggunakan partikel alfa sehingga menghasilkan kurium disertai pelepasan sebuah neutron:[6][7]

A94239A2942239Pu+A24A2224HeA96242A2962242Cm+A01A2021n

242Cm berhasil diidentifikasi secara meyakinkan berdasarkan energi karakteristik partikel alfa yang dipancarkan selama peluruhannya:

A96242A2962242CmA94238A2942238Pu+A24A2224He

Waktu paruh peluruhan alfa tersebut pada awalnya diperkirakan sekitar 5 bulan (150 hari)[8] kemudian dikoreksi menjadi 162,8 hari.

Isotop lainnya, yaitu 240Cm, dihasilkan melalui reaksi serupa pada bulan Maret 1945:

A94239A2942239Pu+A24A2224HeA96240A2962240Cm+3A01n

Waktu paruh peluruhan alfa 240Cm awalnya ditentukan sebesar 26,8 hari,[9] kemudian direvisi menjadi 30,4 hari.

Penemuan kurium dan amerisium pada tahun 1944 berkaitan erat dengan Proyek Manhattan. Oleh karena itu, hasil penelitian tersebut dirahasiakan dan baru diumumkan pada tahun 1945. Seaborg bahkan membocorkan informasi mengenai sintesis unsur 95 dan 96 dalam acara radio anak-anak Amerika Serikat, Quiz Kids, lima hari sebelum presentasi resmi pada pertemuan American Chemical Society tanggal 11 November 1945. Hal tersebut terjadi setelah seorang pendengar bertanya apakah selama perang telah ditemukan unsur transuranium baru selain plutonium dan neptunium.[10] Penemuan kurium (242Cm dan 240Cm), proses produksinya, serta senyawa-senyawanya kemudian dipatenkan dengan hanya mencantumkan Seaborg sebagai penemu.[11]

Nama kurium diambil dari nama Marie Curie dan Pierre Curie, yang dikenal karena penemuan radium dan penelitian mereka mengenai radioaktivitas. Penamaan ini mengikuti contoh gadolinium, yaitu unsur lantanida yang berada di atas kurium dalam tabel periodik. Gadolinium dinamai untuk menghormati kimiawan Johan Gadolin:[12]

Para penemu mengusulkan nama curium dengan lambang Cm untuk unsur bernomor atom 96. Mereka menjelaskan bahwa unsur tersebut memiliki tujuh elektron 5f sehingga analog dengan gadolinium, yang memiliki tujuh elektron 4f dalam deret unsur tanah jarang. Oleh karena itu, unsur 96 dinamai untuk menghormati keluarga Curie, sebagaimana gadolinium dinamai untuk menghormati Gadolin.[13]

Sampel kurium pertama berukuran sangat kecil dan hampir tidak terlihat. Keberadaannya diidentifikasi berdasarkan radioaktivitasnya. Pada tahun 1947, Louis Werner dan Isadore Perlman berhasil menghasilkan sampel 242Cm hidroksida pertama dalam jumlah yang cukup besar, yaitu sekitar 30 μg, di Universitas California, Berkeley. Sampel tersebut dibuat dengan membombardir 241Am menggunakan neutron.[14][15][16] Pada tahun 1950, W. W. T. Crane, J. C. Wallmann, dan B. B. Cunningham berhasil memperoleh CmF3 dalam jumlah makroskopis. Suseptibilitas magnetiknya sangat mirip dengan GdF3, sehingga memberikan bukti eksperimental pertama mengenai keberadaan valensi +3 pada kurium dalam senyawa-senyawanya.[17] Logam kurium akhirnya berhasil diproduksi pada tahun 1950 melalui reduksi CmF3 menggunakan barium.[18][19]

Karakteristik

Sifat fisik

Kurium adalah unsur sintetis dan radioaktif yang memiliki rupa logam keras dan padat dengan penampilan putih keperakan. Sifat fisik dan kimianya menyerupai gadolinium. Titik leburnya, yaitu 1344 °C, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan unsur-unsur sebelumnya, yaitu neptunium (637 °C), plutonium (639 °C), dan amerisium (1.176 °C). Sebagai perbandingan, gadolinium memiliki titik lebur 1.312 °C. Kurium memiliki titik didih 3.556 °C. Dengan densitas 13,52 g/cm3, kurium lebih ringan daripada neptunium (20,45 g/cm3) dan plutonium (19,8 g/cm3), tetapi lebih berat daripada sebagian besar logam lainnya. Dari dua bentuk kristalin kurium, α-Cm lebih stabil pada kondisi lingkungan. Bentuk ini memiliki simetri heksagonal dengan grup ruang P63/mmc, parameter kisi a = 365 pm dan c = 1182 pm, serta empat unit formula dalam setiap sel unit.[20] Kristalnya terdiri atas susunan padat heksagon ganda dengan urutan lapisan ABAC, sehingga bersifat isostruktural dengan α-lantanum. Pada tekanan >23 GPa dan suhu kamar, α-Cm berubah menjadi β-Cm, yang memiliki simetri kubus berpusat-muka, grup ruang Fmm, dan konstanta kisi a = 493 pm.[21] Dengan kompresi lebih lanjut hingga 43 GPa, kurium berubah menjadi struktur ortorombik γ-Cm yang menyerupai α-uranium. Tidak ada transisi lebih lanjut yang teramati hingga tekanan 52 GPa. Ketiga fase kurium ini juga disebut Cm I, Cm II, dan Cm III.[22][23]

Kurium memiliki sifat magnetik yang khas. Unsur tetangganya, amerisium, tidak menunjukkan penyimpangan dari sifat paramagnetik Curie–Weiss pada seluruh rentang suhu. Sebaliknya, α-Cm berubah menjadi keadaan antiferomagnetik ketika didinginkan hingga 65–52 K,[24][25] sedangkan β-Cm menunjukkan transisi ferimagnetik pada sekitar ~205 K. Pniktida kurium menunjukkan transisi feromagnetik ketika didinginkan: 244CmN dan 244CmAs pada 109 K, 248CmP pada 73 K, serta 248CmSb pada 162 K. Analog lantanida dari kurium, yaitu gadolinium, beserta pniktidanya, juga menunjukkan transisi magnetik ketika didinginkan, tetapi karakter transisinya agak berbeda. Gd dan GdN menjadi feromagnetik, sedangkan GdP, GdAs, dan GdSb menunjukkan keteraturan antiferomagnetik.[26]

Sejalan dengan data magnetik tersebut, resistivitas listrik kurium meningkat seiring kenaikan suhu—sekitar dua kali lipat antara 4 dan 60 K—dan kemudian hampir konstan hingga suhu kamar. Terdapat peningkatan resistivitas yang signifikan seiring waktu (sekitar ) akibat kerusakan kisi kristal oleh peluruhan alfa. Hal ini menyebabkan nilai resistivitas sebenarnya dari kurium menjadi tidak pasti (sekitar ). Resistivitas kurium serupa dengan gadolinium, serta aktinida plutonium dan neptunium, tetapi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan amerisium, uranium, polonium, dan torium.[27]

Di bawah penyinaran ultraungu, ion kurium(III) menunjukkan fluoresensi kuning-oranye yang kuat dan stabil, dengan maksimum pada rentang 590–640 nm, bergantung pada lingkungannya.[28] Fluoresensi tersebut berasal dari transisi dari keadaan tereksitasi pertama 6D7/2 ke keadaan dasar 8S7/2. Analisis fluoresensi ini dapat digunakan untuk memantau interaksi antarion Cm(III) dalam kompleks organik maupun anorganik.[29]

Sifat kimia

Ion kurium dalam larutan hampir selalu memiliki bilangan oksidasi +3, yang merupakan bilangan oksidasi paling stabil bagi kurium.[30] Bilangan oksidasi +4 ditemukan terutama pada beberapa fase padat, seperti CmO2 dan CmF4.[31][32] Kurium(IV) dalam larutan berair hanya diketahui terbentuk dengan adanya oksidator kuat, seperti kalium persulfat, dan mudah direduksi menjadi kurium(III) melalui radiolisis maupun bahkan oleh air itu sendiri.[33] Perilaku kimia kurium berbeda dari aktinida torium dan uranium, tetapi serupa dengan amerisium dan banyak unsur lantanida. Dalam larutan berair, ion Cm3+ tidak memiliki warna hingga berwarna hijau pucat,[34] sedangkan ion Cm4+ berwarna kuning pucat.[35] Spektrum serapan optik ion Cm3+ memiliki tiga puncak tajam pada 375,4; 381,2; dan 396,5 nm. Intensitas puncak-puncak tersebut dapat secara langsung dikonversikan menjadi konsentrasi ion.[36] Bilangan oksidasi +6 hanya pernah dilaporkan satu kali dalam larutan, yaitu pada tahun 1978, dalam bentuk ion kuril (). Ion ini diperoleh melalui peluruhan beta Amerisium-242 dalam ion amerisium(V) .[37] Kegagalan memperoleh Cm(VI) melalui oksidasi Cm(III) dan Cm(IV) kemungkinan disebabkan oleh tingginya potensial ionisasi pasangan ion Cm4+/Cm3+ serta ketidakstabilan Cm(V).[38]

Ion kurium merupakan asam Lewis keras sehingga cenderung membentuk kompleks yang paling stabil dengan basa keras.[39] Ikatan dalam kompleks tersebut sebagian besar bersifat ionik, dengan sedikit kontribusi kovalen.[40] Kurium dalam kompleksnya umumnya memiliki bilangan koordinasi 9, dengan geometri molekul berupa prisma trigonal bertudung-tiga.[41]

Isotop

Sekitar 19 radioisotop dan 7 isomer nuklir kurium, mulai dari 233Cm hingga 251Cm, telah diketahui; tidak ada satu pun yang stabil. Waktu paruh terpanjang masing-masing adalah 15,6 juta tahun (247Cm) dan 348.000 tahun (248Cm). Isotop berumur panjang lainnya adalah 250Cm (sekitar 8.300 tahun), 245Cm (8.250 tahun), dan 246Cm (4.706 tahun). 250Cm memiliki karakteristik yang tidak biasa karena meluruh terutama melalui fisi spontan (satu-satunya mode peluruhan yang telah diamati). Isotop yang paling umum adalah 242Cm dan 244Cm dengan waktu paruh masing-masing 162,8 hari dan 18,11 tahun.

Penampang lintang neutron termal (barn)[42]
242Cm 243Cm 244Cm 245Cm 246Cm 247Cm
Penangkapan (C) 16 130 15,20 369 1,22 57
Fisi (F) 5 617 1,04 2.145 0,14 81,90
Rasio C/F 3,20 0,21 14,62 0,17 8,71 0,70
Bahan bakar nuklir bekas LEU 20 tahun setelah mencapai burnup 53 MWd/kg[43]
3 isotop yang umum 51 3.700 390
Bahan bakar MOX reaktor neutron cepat (rata-rata dari 5 sampel, burnup 66–120 GWd/t)[44]
Kurium total 3,09% 27,64% 70,16% 2,166% 0,0376% 0,000928%
Isotop 242Cm 243Cm 244Cm 245Cm 246Cm 247Cm 248Cm 250Cm
Massa kritis, kg 25 7,5 33 6,8 39 7 40,4 23,5

Semua isotop mulai dari 242Cm hingga 248Cm, serta 250Cm, dapat mengalami reaksi rantai nuklir yang dapat mempertahankan dirinya sendiri sehingga secara prinsip dapat digunakan sebagai bahan bakar nuklir dalam reaktor. Seperti pada sebagian besar unsur transuranium, penampang lintang fisi nuklir sangat tinggi pada isotop kurium dengan massa ganjil, yaitu 243Cm, 245Cm, dan 247Cm. Isotop-isotop tersebut dapat digunakan dalam reaktor neutron termal, sedangkan campuran isotop kurium hanya sesuai untuk reaktor pembiak cepat karena isotop dengan massa genap tidak bersifat fisil dalam reaktor termal dan akan terakumulasi seiring meningkatnya burnup.[45] Bahan bakar oksida campuran (MOX) yang akan digunakan dalam reaktor daya sebaiknya mengandung sedikit atau tidak mengandung kurium karena aktivasi neutron terhadap 248Cm akan menghasilkan kalifornium. Kalifornium merupakan pemancar neutron yang kuat sehingga dapat mencemari bagian akhir siklus bahan bakar dan meningkatkan dosis radiasi yang diterima oleh personel reaktor. Oleh karena itu, jika aktinida minor akan digunakan sebagai bahan bakar dalam reaktor neutron termal, kurium sebaiknya dikeluarkan dari bahan bakar atau ditempatkan dalam batang bahan bakar khusus yang hanya mengandung kurium sebagai satu-satunya aktinida.[46]

Tabel di sebelah mencantumkan massa kritis isotop-isotop kurium untuk bentuk bola, tanpa moderator atau reflektor. Dengan reflektor logam (30 cm baja), massa kritis isotop-isotop bermassa ganjil berada di kisaran 3–4 kg. Jika menggunakan air dengan ketebalan sekitar 20–30 cm sebagai reflektor, massa kritis dapat mencapai sekitar 59 gram untuk 245Cm, 155 gram untuk 243Cm, dan 1550 gram untuk 247Cm. Terdapat ketidakpastian yang signifikan dalam nilai-nilai massa kritis tersebut. Meskipun ketidakpastiannya biasanya berada pada kisaran 20%, beberapa kelompok penelitian melaporkan nilai yang jauh lebih besar untuk 242Cm dan 246Cm, masing-masing hingga 371 kg dan 70,1 kg.[47][48]

Kurium saat ini tidak digunakan sebagai bahan bakar nuklir karena ketersediaannya yang rendah dan harganya yang tinggi.[49] 245Cm dan 247Cm memiliki massa kritis yang sangat kecil sehingga secara teoretis dapat digunakan dalam senjata nuklir taktis, tetapi tidak diketahui adanya senjata semacam itu yang pernah dibuat. 243Cm tidak sesuai untuk tujuan tersebut karena memiliki waktu paruh yang pendek dan memancarkan radiasi alfa yang kuat, yang dapat menghasilkan panas berlebih.[50] 247Cm secara teoretis lebih sesuai karena memiliki waktu paruh yang panjang, yaitu 647 kali lebih lama daripada 239Pu, yang digunakan dalam banyak senjata nuklir yang ada.

Keterjadian

Isotop kurium dengan umur paling panjang, 247Cm, memiliki waktu paruh 15,6 juta tahun. Oleh karena itu, setiap kurium primordial, yaitu kurium yang sudah ada di Bumi sejak terbentuknya Bumi, seharusnya telah meluruh hingga mencapai tingkat yang tidak dapat dideteksi saat ini. Namun, lokasi-lokasi terdekat yang baru mengalami proses nukleosintesis proses r dapat menghasilkan 247Cm, dan 247Cm telah terdeteksi dalam sampel geologi dari inti bor dasar laut dalam.[51]

Keberadaan kurium di masa lalu sebagai radionuklida punah dapat diketahui melalui kelebihan 235U, yang merupakan produk peluruhan primordialnya yang berumur panjang.[52] Jejak 242Cm mungkin terdapat secara alami dalam mineral uranium akibat penangkapan neutron dan peluruhan beta (238U → 239Pu → 240Pu → 241Am → 242Cm), meskipun jumlahnya diperkirakan sangat kecil dan hal ini belum terkonfirmasi. Bahkan dengan perkiraan yang "sangat murah hati" terhadap kemungkinan penyerapan neutron, jumlah 242Cm yang terdapat dalam 1 × 108 kg pitchblende uranium dengan kandungan uranium 18% diperkirakan bahkan tidak mencapai satu atom.[53][54][55] Jejak 247Cm juga kemungkinan terbawa ke Bumi melalui sinar kosmik, tetapi hal ini juga belum terkonfirmasi.[56] Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa 244Cm terbentuk sebagai produk peluruhan beta ganda dari 244Pu alami.[57][58]

Kurium dibuat secara artifisial dalam jumlah kecil untuk keperluan penelitian. Kurium juga terdapat sebagai salah satu produk limbah dalam bahan bakar nuklir bekas.[59][60] Di alam, kurium ditemukan di beberapa daerah yang digunakan untuk pengujian senjata nuklir.[61] Analisis puing-puing di lokasi pengujian senjata termonuklir pertama Amerika Serikat, Ivy Mike (1 November 1952, Atol Enewetak), selain menemukan einsteinium, fermium, plutonium, dan amerisium, juga mengungkap keberadaan isotop berkelium, kalifornium, dan kurium, khususnya 245Cm, 246Cm, serta 247Cm, 248Cm, dan 249Cm dalam jumlah lebih kecil.[62]

Senyawa kurium di atmosfer memiliki kelarutan yang rendah dalam pelarut umum dan sebagian besar melekat pada partikel tanah. Analisis tanah menunjukkan bahwa konsentrasi kurium pada partikel tanah berpasir sekitar 4.000 kali lebih tinggi dibandingkan konsentrasinya dalam air yang terdapat di pori-pori tanah. Pada tanah geluh, rasio yang lebih tinggi, yaitu sekitar 18.000 kali, telah terukur.[63]

Unsur-unsur transuranium hingga fermium, termasuk kurium, diperkirakan pernah terdapat dalam reaktor fisi nuklir alami Oklo. Namun, setiap kurium yang mungkin terbentuk pada saat itu telah meluruh sejak lama.[64]

Sintesis

Preparasi isotop

Kurium dibuat dalam jumlah kecil di dalam reaktor nuklir. Hingga saat ini, hanya beberapa kilogram 242Cm dan 244Cm yang telah berhasil dikumpulkan, sedangkan untuk isotop yang lebih berat jumlahnya hanya dalam skala gram atau bahkan miligram. Hal inilah yang menyebabkan harga kurium sangat tinggi, yang pernah dilaporkan sekitar US$160–185/mg,[65] dengan perkiraan yang lebih baru sekitar US$2.000/g untuk 242Cm dan US$170/g untuk 244Cm.[66] Di dalam reaktor nuklir, kurium terbentuk dari 238U melalui serangkaian reaksi nuklir. Pada rangkaian pertama, 238U menangkap neutron dan berubah menjadi 239U, yang kemudian melalui peluruhan β berubah menjadi 239Np dan 239Pu.

Penangkapan neutron lebih lanjut yang diikuti oleh peluruhan β menghasilkan amerisium (241Am), yang kemudian berubah menjadi 242Cm:

Untuk keperluan penelitian, kurium diperoleh dengan mengiradiasi plutonium, bukan uranium, karena plutonium tersedia dalam jumlah besar dari bahan bakar nuklir bekas. Untuk iradiasi ini digunakan fluks neutron yang jauh lebih tinggi, sehingga menghasilkan rangkaian reaksi yang berbeda dan pembentukan 244Cm:[67]

244Cm mengalami peluruhan alfa menjadi 240Pu, tetapi juga dapat menangkap neutron sehingga menghasilkan sejumlah kecil isotop kurium yang lebih berat. Di antara isotop-isotop tersebut, 247Cm dan 248Cm banyak digunakan dalam penelitian ilmiah karena memiliki waktu paruh yang panjang. Namun, laju produksi 247Cm dalam reaktor neutron termal rendah karena isotop ini cenderung mengalami fisi akibat neutron termal.[68] Sintesis 250Cm melalui penangkapan neutron juga sulit terjadi karena waktu paruh isotop intermediat 249Cm sangat pendek (64 menit). Isotop tersebut mengalami peluruhan β menjadi isotop berkelium 249Bk.[69]

Rangkaian reaksi (n,γ) di atas menghasilkan campuran berbagai isotop kurium. Pemisahan isotop setelah sintesis cukup rumit, sehingga metode sintesis yang selektif lebih diinginkan. 248Cm lebih disukai untuk keperluan penelitian karena memiliki waktu paruh yang panjang. Cara paling efisien untuk menyiapkan isotop ini adalah melalui peluruhan alfa isotop kalifornium 252Cf, yang tersedia dalam jumlah relatif besar karena memiliki waktu paruh 2,65 tahun. Dengan metode ini, sekitar 35–50 mg 248Cm dapat diproduksi setiap tahun. Reaksi tersebut menghasilkan 248Cm dengan kemurnian isotop sekitar 97%.[70]

Isotop lainnya, yaitu 245Cm, dapat diperoleh untuk keperluan penelitian melalui peluruhan alfa 249Cf. Isotop 249Cf tersebut diproduksi dalam jumlah kecil melalui peluruhan β 249Bk.

Preparasi logam

Sebagian besar metode sintesis menghasilkan campuran berbagai isotop aktinida dalam bentuk oksida, sehingga isotop kurium tertentu perlu dipisahkan. Salah satu prosedurnya adalah melarutkan bahan bakar reaktor bekas (misalnya bahan bakar MOX) dalam asam nitrat, kemudian menghilangkan sebagian besar uranium dan plutonium menggunakan ekstraksi tipe PUREX (Plutonium – URanium EXtraction) dengan tributil fosfat dalam hidrokarbon. Lantanida dan aktinida yang tersisa kemudian dipisahkan dari residu berair (rafinat) melalui ekstraksi berbasis diamida, sehingga setelah proses pelepasan (stripping) diperoleh campuran aktinida dan lantanida trivalen. Senyawa kurium kemudian diekstraksi secara selektif menggunakan teknik kromatografi dan sentrifugasi bertahap dengan pereaksi yang sesuai.[71] Kompleks bis-triazinil bipiridina baru-baru ini diusulkan sebagai salah satu pereaksi tersebut karena memiliki selektivitas yang tinggi terhadap kurium.[72] Pemisahan kurium dari amerisium, yang secara kimia sangat mirip, juga dapat dilakukan dengan memperlakukan suspensi hidroksida keduanya dalam larutan natrium bikarbonat berair menggunakan ozon pada suhu tinggi. Baik kurium maupun amerisium dalam larutan sebagian besar berada dalam keadaan valensi +3. Amerisium teroksidasi menjadi kompleks Am(IV) yang larut, sedangkan kurium tetap tidak berubah. Dengan demikian, kurium dapat dipisahkan melalui sentrifugasi berulang.[73]

Logam kurium diperoleh melalui reduksi senyawa kurium. Pada awalnya, CmF3 digunakan untuk tujuan ini. Reaksi dilakukan dalam lingkungan yang bebas dari air dan oksigen, menggunakan peralatan yang terbuat dari tantalum dan wolfram, dengan barium atau litium elemental sebagai agen pereduksi.[74][75][76][77][78]

CmF3 + 3 Li  Cm + 3 LiF

Metode lainnya adalah mereduksi CmO2 menggunakan paduan magnesium–seng dalam leburan magnesium klorida dan magnesium fluorida.[79]

Senyawa dan reaksi

Oksida

Kurium mudah bereaksi dengan oksigen dan membentuk terutama oksida Cm2O3 dan CmO2,[80] meskipun oksida divalen CmO juga telah diketahui.[81] CmO2 berwarna hitam dapat diperoleh dengan membakar oksalat (), nitrat (), atau hidroksida kurium dalam oksigen murni.[82][83] Ketika dipanaskan pada suhu 600–650 °C dalam kondisi vakum (sekitar 0,01 Pa), CmO2 berubah menjadi Cm2O3 yang berwarna putih keabu-abuan:[84][85]

4 CmO2  2 Cm2O3 + O2

Sebagai alternatif, Cm2O3 dapat diperoleh dengan mereduksi CmO2 menggunakan hidrogen molekuler:[86]

2 CmO2 + H2  Cm2O3 + H2O

Selain itu, telah diketahui sejumlah oksida terner dengan rumus M(II)CmO3, dengan M merupakan logam divalen, seperti barium.[87]

Oksidasi termal sejumlah kecil kurium hidrida (CmH2–3) telah dilaporkan menghasilkan bentuk CmO2 yang mudah menguap serta trioksida CmO3 yang mudah menguap. CmO3 merupakan salah satu dari hanya dua contoh yang diketahui untuk bilangan oksidasi +6 yang sangat jarang pada kurium.[88] Spesies lain yang teramati dilaporkan memiliki perilaku serupa dengan PuO4 yang diduga ada dan untuk sementara diidentifikasi sebagai CmO4, dengan kurium berada dalam bilangan oksidasi yang sangat jarang, yaitu +8.[89] Namun, eksperimen terbaru tampaknya menunjukkan bahwa CmO4 tidak ada, sekaligus menimbulkan keraguan terhadap keberadaan PuO4.[90]

Halida

CmF3 yang tidak memiliki warna dapat dibuat dengan menambahkan ion fluorida ke dalam larutan yang mengandung kurium(III). Sementara itu, CmF4 yang berwarna cokelat hanya dapat diperoleh dengan mereaksikan CmF3 dengan fluorin molekuler:[91]

2 CmF3 + F2  2 CmF4

Sejumlah fluorida terner dengan bentuk A7Cm6F31 juga telah diketahui, dengan A merupakan logam alkali.[92]

CmCl3 yang tidak memiliki warna dibuat dengan mereaksikan Cm(OH)3 dengan gas hidrogen klorida anhidrat. Senyawa ini selanjutnya dapat diubah menjadi halida lainnya, seperti CmBr3 (tidak berwarna hingga hijau muda) dan CmI3 (tidak berwarna), dengan mereaksikannya dengan garam amonia dari halida yang sesuai pada suhu sekitar 400–450 °C:[93]

CmCl3 + 3 NH4I  CmI3 + 3 NH4Cl

Alternatif lainnya, oksida kurium dapat dipanaskan hingga sekitar 600 °C bersama asam yang sesuai, misalnya asam bromida untuk menghasilkan CmBr3.[94][95] Hidrolisis fase uap dari CmCl3 menghasilkan kurium oksiklorida:[96]

CmCl3 + H2O  CmOCl + 2 HCl

Kalkogenida dan pniktida

Sulfida, selenida, dan telurida kurium telah diperoleh dengan mereaksikan kurium dengan belerang, selenium, atau telurium dalam bentuk gas pada kondisi vakum dan suhu tinggi.[97][98] Pniktida kurium dengan rumus umum CmX telah diketahui untuk nitrogen, fosforus, arsen, dan antimon.[99] Senyawa-senyawa tersebut dapat dibuat dengan mereaksikan CmH3 atau kurium logam dengan unsur-unsur tersebut pada suhu tinggi.[100]

Senyawa organokurium dan aspek biologis

Kompleks organologam yang analog dengan uranosena juga diketahui pada aktinida lainnya, seperti torium, protaktinium, neptunium, plutonium, dan amerisium. Teori orbital molekul memprediksi adanya kompleks "kurosena" yang stabil dengan rumus (η8-C8H8)2Cm, tetapi kompleks tersebut belum dilaporkan berhasil dibuat secara eksperimental.[101][102]

Pembentukan kompleks dengan tipe (BTP = 2,6-di(1,2,4-triazin-3-il)piridina), dalam larutan yang mengandung n-C3H7-BTP dan ion Cm3+ telah dikonfirmasi melalui analisis EXAFS. Beberapa kompleks tipe BTP ini berinteraksi secara selektif dengan kurium sehingga berguna untuk memisahkan kurium dari unsur lantanida dan aktinida lainnya.[103][104] Ion Cm3+ terlarut dapat berikatan dengan berbagai senyawa organik, seperti asam hidroksamat,[105] urea,[106] fluoresein,[107] dan adenosina trifosfat.[108] Banyak dari senyawa tersebut berkaitan dengan aktivitas biologis berbagai mikroorganisme. Kompleks yang terbentuk menunjukkan emisi kuning-oranye yang kuat ketika dieksitasi dengan sinar ultraungu. Sifat ini tidak hanya memudahkan pendeteksian kompleks, tetapi juga dapat digunakan untuk mempelajari interaksi antara ion Cm3+ dan ligan melalui perubahan waktu hidup fluoresensi (sekitar 0,1 ms) serta spektrum fluoresensinya.[109][110][111][112][113]

Terdapat beberapa laporan mengenai biosorpsi Cm3+ oleh bakteri dan arkea.[114][115] Selain itu, dalam penelitian laboratorium, baik kurium maupun amerisium ditemukan dapat mendukung pertumbuhan mikroorganisme metilotrof.[116]

Aplikasi

Radionuklida

Kurium merupakan salah satu unsur yang dapat diisolasi dengan tingkat radioaktivitas paling tinggi. Dua isotopnya yang paling umum, yaitu 242Cm dan 244Cm merupakan pemancar partikel alfa yang kuat dengan energi sekitar 6 MeV). Keduanya memiliki waktu paruh yang relatif pendek, masing-masing 162,8 hari dan 18,1 tahun, serta menghasilkan panas masing-masing hingga sekitar 120 W/g dan 3 W/g.[117][118][119] Oleh karena itu, kurium dalam bentuk oksidanya yang umum dapat digunakan dalam generator termoelektrik radioisotop, seperti yang digunakan pada wahana antariksa. Penggunaan ini telah dipelajari untuk isotop 244Cm, sedangkan 242Cm tidak digunakan karena harganya yang sangat tinggi, yaitu sekitar US$2.000/g. 243Cm, dengan waktu paruh sekitar 30 tahun dan hasil energi sekitar 1,6 W/g, berpotensi menjadi bahan bakar yang sesuai. Namun, isotop ini menghasilkan sejumlah besar radiasi gama dan beta berbahaya dari produk peluruhannya. Sebagai pemancar alfa, 244Cm memerlukan pelindung radiasi yang jauh lebih sedikit. Akan tetapi, isotop ini memiliki laju fisi spontan yang tinggi sehingga menghasilkan banyak radiasi neutron dan gama. Dibandingkan dengan isotop yang digunakan dalam generator termoelektrik pesaing, seperti 238Pu, 244Cm memancarkan neutron sekitar 500 kali lebih banyak. Emisi gammanya yang lebih tinggi juga memerlukan pelindung sekitar 20 kali lebih tebal—sekitar timbal untuk sumber 1 kW, dibandingkan untuk 238Pu. Oleh karena itu, penggunaan kurium untuk tujuan ini saat ini dianggap tidak praktis.[120]

Penggunaan 242Cm yang lebih menjanjikan adalah sebagai bahan awal untuk menghasilkan 238Pu, yang merupakan radioisotop yang lebih baik untuk generator termoelektrik, misalnya yang digunakan pada alat pacu jantung. Jalur alternatif untuk menghasilkan 238Pu adalah melalui reaksi (n,γ) pada 237Np atau pemborbardiran uranium dengan deuteron. Namun, kedua reaksi tersebut selalu menghasilkan 236Pu sebagai produk samping yang tidak diinginkan karena isotop tersebut meluruh menjadi 232U yang menghasilkan emisi gama kuat.[121] Kurium merupakan bahan awal yang umum digunakan untuk menghasilkan unsur transuranium yang lebih berat dan unsur superberat. Misalnya, pemborbardiran 248Cm dengan neon (22Ne), magnesium (26Mg), atau kalsium (48Ca) dapat menghasilkan isotop seaborgium (265Sg), hasium (269Hs dan 270Hs), serta livermorium (292Lv, 293Lv, dan kemungkinan 294Lv).[122] Kalifornium ditemukan ketika target berukuran mikrogram yang terdiri atas 242Cm dibombardir dengan partikel alfa berenergi 35 MeV menggunakan siklotron berdiameter di Berkeley:

A96242A2962242Cm+A24A2224HeA98245A2982245Cf+A01A2021n

Dalam eksperimen tersebut, hanya sekitar 5.000 atom kalifornium yang berhasil dihasilkan.[123]

Isotop kurium bermassa ganjil, yaitu 243Cm, 245Cm, dan 247Cm, semuanya sangat fisil dan dapat melepaskan energi tambahan dalam reaktor nuklir dengan spektrum neutron termal. Semua isotop kurium dapat mengalami fisi dalam reaktor neutron cepat. Hal ini menjadi salah satu alasan dilakukannya pemisahan dan transmutasi aktinida minor dalam siklus bahan bakar nuklir, yang membantu mengurangi radiotoksisitas jangka panjang dari bahan bakar nuklir bekas atau terpakai.

Spektrometer sinar-X

Aplikasi 244Cmyang paling praktis—meskipun penggunaannya secara keseluruhan cukup terbatas—adalah sebagai sumber partikel alfa dalam spektrometer sinar-X partikel alfa (APXS). Instrumen ini dipasang pada Mars Pathfinder (Sojourner), Spirit, Opportunity, Curiosity, Mars 96, Mars Exploration Rover, pendarat komet Philae,[124] serta Mars Science Laboratory untuk menganalisis komposisi dan struktur batuan di permukaan planet Mars.[125] APXS juga digunakan pada kuar bulan Surveyor 5–7, tetapi dengan menggunakan sumber 242Cm.[126][127][128]

Sistem APXS yang lebih kompleks memiliki kepala sensor yang berisi enam sumber kurium dengan total laju peluruhan beberapa puluh milicurie (sekitar satu gigabecquerel). Sumber-sumber tersebut diarahkan melalui kolimator menuju sampel, kemudian spektrum energi partikel alfa dan proton yang dihamburkan dari sampel dianalisis. Analisis proton hanya dilakukan pada beberapa jenis spektrometer. Spektrum yang diperoleh memberikan informasi kuantitatif mengenai hampir semua unsur utama dalam sampel, kecuali hidrogen, helium, dan litium.[129]

Keselamatan

Karena sifat radioaktifnya, kurium dan senyawanya harus ditangani di laboratorium yang sesuai dengan prosedur khusus. Kurium sendiri memancarkan partikel alfa, yang dapat diserap oleh lapisan tipis dari material umum. Namun, beberapa produk peluruhannya memancarkan fraksi radiasi beta dan gama yang cukup signifikan sehingga memerlukan perlindungan yang lebih kompleks.[130] Jika tertelan, kurium akan dikeluarkan dari tubuh dalam waktu beberapa hari dan hanya sekitar 0,05% yang diserap ke dalam darah. Dari jumlah yang terserap tersebut, sekitar 45% menuju hati, 45% menuju tulang, sedangkan 10% sisanya dikeluarkan dari tubuh. Di dalam tulang, kurium terakumulasi pada bagian dalam antarmuka menuju sumsum tulang dan tidak mengalami redistribusi secara signifikan seiring waktu. Radiasinya dapat merusak sumsum tulang sehingga menghentikan pembentukan sel darah merah. Waktu paruh biologis kurium diperkirakan sekitar 20 tahun di dalam hati dan 50 tahun di dalam tulang.[131][132] Kurium diserap oleh tubuh jauh lebih kuat melalui inhalasi, dan dosis total 244Cm dalam bentuk yang larut yang diperbolehkan adalah sekitar 0,3 μCi.[133] Pemberian larutan yang mengandung 242Cm dan 244Cm secara intravena pada tikus meningkatkan kejadian tumor tulang, sedangkan paparan melalui inhalasi meningkatkan risiko kanker hati dan paru-paru.[134]

Isotop kurium secara tidak terhindarkan terdapat dalam bahan bakar nuklir bekas, dengan jumlah sekitar 20 g/ton.[135] Isotop 245Cm–248Cm memiliki waktu peluruhan hingga ribuan tahun sehingga perlu dipisahkan untuk membuat bahan bakar tersebut lebih aman dan sesuai untuk pembuangan akhir.[136] Prosedur ini melibatkan beberapa tahap. Kurium terlebih dahulu dipisahkan, kemudian diubah melalui pemborbardiran neutron dalam reaktor khusus menjadi nuklida yang berumur pendek. Proses tersebut disebut transmutasi nuklir. Meskipun metode ini telah terdokumentasi dengan baik untuk unsur-unsur lainnya, penerapannya pada kurium masih dalam tahap pengembangan.[137]

Bibliografi

  • Holleman, Arnold F. dan Wiberg, Nils Lehrbuch der Anorganischen Chemie, 102 Edition, de Gruyter, Berlin 2007, .
  • Penneman, R. A. dan Keenan T. K. The radiochemistry of americium and curium, Universitas California, Los Alamos, California, 1960

Pranala luar

Referensi

  1. Nina Hall. The New Chemistry: A Showcase for Modern Chemistry and Its Applications. Cambridge University Press. 2000. hlm. 8–9. ISBN 978-0-521-45224-3.
  2. Glenn T. Seaborg. The New Element Curium (Atomic Number 96). NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record). 1949. Vol. 14 B.
  3. Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides, volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .
  4. Rachel Sheremeta Pepling. Chemical & Engineering News: It's Elemental: The Periodic Table – Americium. 2003.
  5. Krebs, Robert E. The history and use of our earth's chemical elements: a reference guide, Greenwood Publishing Group, 2006, hlm. 322
  6. Glenn T. Seaborg. The New Element Curium (Atomic Number 96). NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record). 1949. Vol. 14 B.
  7. Curium Radioactive, Synthetic, Actinide Britannica. www.britannica.com.
  8. Glenn T. Seaborg. The New Element Curium (Atomic Number 96). NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record). 1949. Vol. 14 B.
  9. Glenn T. Seaborg. The New Element Curium (Atomic Number 96). NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record). 1949. Vol. 14 B.
  10. Rachel Sheremeta Pepling. Chemical & Engineering News: It's Elemental: The Periodic Table – Americium. 2003.
  11. Seaborg, G. T. "Element", Tanggal pengajuan: 7 Februari 1949, Tanggal penerbitan: Desember 1964.
  12. Greenwood, hlm. 1252
  13. Glenn T. Seaborg. The New Element Curium (Atomic Number 96). NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record). 1949. Vol. 14 B.
  14. Hammond C. R. "The elements" in
  15. L. B. Werner, I. Perlman: "Isolation of Curium", NNES PPR (National Nuclear Energy Series, Plutonium Project Record), Vol. 14 B, The Transuranium Elements: Research Papers, Paper No. 22.5, McGraw-Hill Book Co., Inc., New York, 1949.
  16. National Academy of Sciences. Isadore Perlman 1915–1991. Nap.edu.
  17. Hammond C. R. "The elements" in
  18. J. C. Wallmann. The Preparation and Some Properties of Curium Metal. Journal of the American Chemical Society. 1951. Vol. 73 (1). hlm. 493–494. doi:10.1021/ja01145a537.
  19. Werner, L. B. First Isolation of Curium. Journal of the American Chemical Society. 1951. Vol. 73 (1). hlm. 5215–5217. doi:10.1021/ja01155a063.
  20. V. Milman. Crystal structures of curium compounds: an ab initio study. Journal of Nuclear Materials. 2003. Vol. 322 (2–3). hlm. 165. doi:10.1016/S0022-3115(03)00321-0.
  21. V. Milman. Crystal structures of curium compounds: an ab initio study. Journal of Nuclear Materials. 2003. Vol. 322 (2–3). hlm. 165. doi:10.1016/S0022-3115(03)00321-0.
  22. Young, D. A. Phase diagrams of the elements, University of California Press, 1991, , hlm. 227
  23. R. Haire. X-ray diffraction of curium-248 metal under pressures of up to 52 GPa. Journal of the Less Common Metals. 1985. Vol. 109 (1). hlm. 71. doi:10.1016/0022-5088(85)90108-0.
  24. B. Kanellakopulos. The magnetic susceptibility of Americium and curium metal. Solid State Communications. 1975. Vol. 17 (6). hlm. 713. doi:10.1016/0038-1098(75)90392-0.
  25. J. Fournier. Curium: A new magnetic element. Physica B+C. 1977. Vol. 86–88. hlm. 30. doi:10.1016/0378-4363(77)90214-5.
  26. Nave, S. E.; Huray, P. G.; Peterson, J. R. and Damien, D. A. Magnetic susceptibility of curium pnictides, Laboratorium Nasional Oak Ridge.
  27. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  28. Melissa A. Denecke. Characterization and Comparison of Cm(III) and Eu(III) Complexed with 2,6-Di(5,6-dipropyl-1,2,4-triazin-3-yl)pyridine Using EXAFS, TRFLS, and Quantum-Chemical Methods. Inorganic Chemistry. 2005. Vol. 44 (23). hlm. 8418–8425. doi:10.1021/ic0511726.
  29. Bünzli, J.-C. G. dan Choppin, G. R. Lanthanide probes in life, chemical, and earth sciences: theory and practice, Elsevier, Amsterdam, 1989. .
  30. Penneman, hlm. 24
  31. Thomas K. Keenan. First Observation of Aqueous Tetravalent Curium. Journal of the American Chemical Society. 1961. Vol. 83 (17). hlm. 3719. doi:10.1021/ja01478a039.
  32. L. B. Asprey. Evidence for Quadrivalent Curium: X-Ray Data on Curium Oxides1. Journal of the American Chemical Society. 1955. Vol. 77 (6). hlm. 1707. doi:10.1021/ja01611a108.
  33. Lumetta Gregg J. The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements. Springer. 2006. Vol. 3. hlm. 1397–1443. doi:10.1007/1-4020-3598-5_9. ISBN 978-1-4020-3555-5.
  34. Greenwood, hlm. 1265
  35. Holleman, hlm. 1956
  36. Penneman, hlm. 25–26
  37. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  38. Lumetta Gregg J. The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements. Springer. 2006. Vol. 3. hlm. 1397–1443. doi:10.1007/1-4020-3598-5_9. ISBN 978-1-4020-3555-5.
  39. Mark P. Jensen. Comparison of Covalency in the Complexes of Trivalent Actinide and Lanthanide Cations. Journal of the American Chemical Society. 2002. Vol. 124 (33). hlm. 9870–9877. doi:10.1021/ja0178620.
  40. Glenn T. Seaborg. Overview of the Actinide and Lanthanide (the f) Elements. Radiochimica Acta. 1993. Vol. 61 (3–4). hlm. 115–122. doi:10.1524/ract.1993.61.34.115.
  41. Greenwood, hlm. 1267
  42. Pfennig, G.; Klewe-Nebenius, H. dan Seelmann Eggebert, W. (Eds.): Karlsruhe nuclide, 6th Ed. 1998
  43. Jungmin Kang. Limited Proliferation-Resistance Benefits from Recycling Unseparated Transuranics and Lanthanides from Light-Water Reactor Spent Fuel. Science and Global Security. 2005. Vol. 13 (3). hlm. 169. doi:10.1080/08929880500357682.
  44. Osaka, M. Analysis of Curium Isotopes in Mixed Oxide Fuel Irradiated in Fast Reactor. Journal of Nuclear Science and Technology. 2001. Vol. 38 (10). hlm. 912–914. doi:10.3327/jnst.38.912.
  45. Institut de Radioprotection et de Sûreté Nucléaire: "Evaluation of nuclear criticality safety. data and limits for actinides in transport" , hlm. 16
  46. National Research Council (U.S.). Committee on Separations Technology and Transmutation Systems. Nuclear wastes: technologies for separations and transmutation. National Academies Press. 1996. hlm. 231–. ISBN 978-0-309-05226-9.
  47. Institut de Radioprotection et de Sûreté Nucléaire: "Evaluation of nuclear criticality safety. data and limits for actinides in transport" , hlm. 16
  48. Okundo, H. Critical and Subcritical Mass Calculations of Curium-243 to −247 Based on JENDL-3.2 for Revision of ANSI/ANS-8.15. Journal of Nuclear Science and Technology. 2002. Vol. 39 (10). hlm. 1072–1085. doi:10.3327/jnst.39.1072.
  49. § 2 Begriffsbestimmungen (Atomic Energy Act) (dalam bahasa Jerman).
  50. Jukka Lehto. Chemistry and Analysis of Radionuclides: Laboratory Techniques and Methodology. Wiley-VCH. 2 Februari 2011. hlm. 303–. ISBN 978-3-527-32658-7.
  51. Dominik Koll. The timing of the last r-process event near Earth from interstellar 60Fe, 244Pu and 247Cm deposition on Earth. Nature Astronomy. Juli 2026. Vol. 10 (7). hlm. 1001–1010. doi:10.1038/s41550-026-02841-6.
  52. Cosmochemists find evidence for unstable heavy element at solar system formation. phys.org. Universitas Chicago. 2016.
  53. Brett F. Thornton. Neutron stardust and the elements of Earth. Nature Chemistry. 2019. Vol. 11 (1). hlm. 4–10. doi:10.1038/s41557-018-0190-9.
  54. Live Science Staff 2013-09-24T21:44:13Z Planet Earth. Facts About Curium. livescience.com. 24 September 2013.
  55. Curium - Element information, properties and uses Periodic Table. www.rsc.org.
  56. Brett F. Thornton. Neutron stardust and the elements of Earth. Nature Chemistry. 2019. Vol. 11 (1). hlm. 4–10. doi:10.1038/s41557-018-0190-9.
  57. Brett F. Thornton. Neutron stardust and the elements of Earth. Nature Chemistry. 2019. Vol. 11 (1). hlm. 4–10. doi:10.1038/s41557-018-0190-9.
  58. V.I. Tretyak. Tables of Double Beta Decay Data — An Update. Atomic Data and Nuclear Data Tables. 2002. Vol. 80 (1). hlm. 83–116. doi:10.1006/adnd.2001.0873.
  59. Novel DGT Configurations for the Assessment of Bioavailable Plutonium, Americium, and Uranium in Marine and Freshwater Environments. Analytical Chemistry. 25 Agustus 2021. Vol. 93 (35). hlm. 11937–11945. doi:10.1021/acs.analchem.1c01342.
  60. Passive Sampling Tool for Actinides in Spent Nuclear Fuel Pools. ACS Omega. 2 Juni 2022. Vol. 7 (23). hlm. 20053−20058. doi:10.1021/acsomega.2c01884.
  61. Curium (dalam bahasa Jerman).
  62. P. R. Fields. Transplutonium Elements in Thermonuclear Test Debris. Physical Review. 1956. Vol. 102 (1). hlm. 180–182. doi:10.1103/PhysRev.102.180.
  63. Human Health Fact Sheet on Curium , Laboratorium Nasional Los Alamos.
  64. John Emsley. Nature's Building Blocks: An A-Z Guide to the Elements. Oxford University Press. 2011. ISBN 978-0-19-960563-7.
  65. Hammond C. R. "The elements" in
  66. Basic elements of static RTGs , G.L. Kulcinski, NEEP 602 Course Notes (Spring 2000), Nuclear Power in Space, University of Wisconsin Fusion Technology Institute (lihat halaman terakhir).
  67. Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides, volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .
  68. Gregg J. Lumetta. The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements. Springer Science+Business Media. 2006. hlm. 1401. ISBN 978-1-4020-3555-5.
  69. Gregg J. Lumetta. The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements. Springer Science+Business Media. 2006. hlm. 1401. ISBN 978-1-4020-3555-5.
  70. Gregg J. Lumetta. The Chemistry of the Actinide and Transactinide Elements. Springer Science+Business Media. 2006. hlm. 1401. ISBN 978-1-4020-3555-5.
  71. Penneman, hlm. 34–48
  72. Magnusson D. Demonstration of a SANEX Process in Centrifugal Contactors using the CyMe4-BTBP Molecule on a Genuine Fuel Solution. Solvent Extraction and Ion Exchange. 2009. Vol. 27 (2). hlm. 97. doi:10.1080/07366290802672204.
  73. Penneman, hlm. 25
  74. Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides, volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .
  75. J. C. Wallmann. The Preparation and Some Properties of Curium Metal. Journal of the American Chemical Society. 1951. Vol. 73 (1). hlm. 493–494. doi:10.1021/ja01145a537.
  76. B. B. Cunningham. Crystal structure and melting point of curium metal. Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry. 1964. Vol. 26 (2). hlm. 271. doi:10.1016/0022-1902(64)80069-5.
  77. J. Stevenson. Preparation and structural studies of elemental curium-248 and the nitrides of curium-248 and berkelium-249. Journal of the Less Common Metals. 1979. Vol. 66 (2). hlm. 201. doi:10.1016/0022-5088(79)90229-7.
  78. Gmelin Handbook of Inorganic Chemistry, System No. 71, Volume 7 a, transuranics, Part B 1, hlm. 67–68.
  79. I. Eubanks. Preparation of curium metal. Inorganic and Nuclear Chemistry Letters. 1969. Vol. 5 (3). hlm. 187. doi:10.1016/0020-1650(69)80221-7.
  80. Curium (dalam bahasa Jerman).
  81. Holleman, hlm. 1972
  82. L. B. Asprey. Evidence for Quadrivalent Curium: X-Ray Data on Curium Oxides1. Journal of the American Chemical Society. 1955. Vol. 77 (6). hlm. 1707. doi:10.1021/ja01611a108.
  83. Greenwood, hlm. 1268
  84. L. B. Asprey. Evidence for Quadrivalent Curium: X-Ray Data on Curium Oxides1. Journal of the American Chemical Society. 1955. Vol. 77 (6). hlm. 1707. doi:10.1021/ja01611a108.
  85. M. Noe. Self-radiation effects on the lattice parameter of 244 CmO 2. Inorganic and Nuclear Chemistry Letters. 1971. Vol. 7 (5). hlm. 421. doi:10.1016/0020-1650(71)80177-0.
  86. H. Haug. Curium sesquioxide Cm 2 O 3. Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry. 1967. Vol. 29 (11). hlm. 2753. doi:10.1016/0022-1902(67)80014-9.
  87. J. Fuger. Molar enthalpies of formation of BaCmO 3 and BaCfO 3. Journal of Alloys and Compounds. 1993. Vol. 200 (1–2). hlm. 181. doi:10.1016/0925-8388(93)90491-5.
  88. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  89. V. P. Domanov. Possibility of generation of octavalent curium in the gas phase in the form of volatile tetraoxide CmO 4. Radiochemistry. Januari 2013. Vol. 55 (1). hlm. 46–51. doi:10.1134/S1066362213010098.
  90. Andréi Zaitsevskii. Structures and stability of AnO 4 isomers, An = Pu, Am, and Cm: a relativistic density functional study. Physical Chemistry Chemical Physics. April 2014. Vol. 2014 (16). hlm. 8997–9001. doi:10.1039/c4cp00235k.
  91. Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides, volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .
  92. T. Keenan. Lattice constants of K7Cm6F31 trends in the 1:1 and 7:6 alkali metal-actinide(IV) series. Inorganic and Nuclear Chemistry Letters. 1967. Vol. 3 (10). hlm. 391. doi:10.1016/0020-1650(67)80092-8.
  93. L. B. Asprey. Crystal Structures of the Trifluorides, Trichlorides, Tribromides, and Triiodides of Americium and Curium. Inorganic Chemistry. 1965. Vol. 4 (7). hlm. 985. doi:10.1021/ic50029a013.
  94. J. Burns. Crystallographic studies of some transuranic trihalides: 239PuCl3, 244CmBr3, 249BkBr3 and 249CfBr3. Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry. 1975. Vol. 37 (3). hlm. 743. doi:10.1016/0022-1902(75)80532-X.
  95. J. Wallmann. Crystal structure and lattice parameters of curium trichloride. Journal of Inorganic and Nuclear Chemistry. 1967. Vol. 29 (11). hlm. 2745. doi:10.1016/0022-1902(67)80013-7.
  96. F. Weigel. The vapor phase hydrolysis of PuCl 3 and CmCl 3 : heats of formation of PuOC1 and CmOCl. Journal of the Less Common Metals. 1977. Vol. 56 (1). hlm. 113. doi:10.1016/0022-5088(77)90224-7.
  97. Troc, R. Actinide Monochalcogenides, Volume 27, Springer, 2009 , hlm. 4
  98. D. Damien. Preparation and lattice parameters of curium sulfides and selenides. Inorganic and Nuclear Chemistry Letters. 1975. Vol. 11 (7–8). hlm. 451. doi:10.1016/0020-1650(75)80017-1.
  99. Morss, L. R.; Edelstein, N. M.; dan Fugere, J. (eds): The Chemistry of the Actinide Elements and transactinides, volume 3, Springer-Verlag, Dordrecht 2006, .
  100. Lumetta, G. J.; Thompson, M. C.; Penneman, R. A.; Eller, P. G. Curium , Bab 9 dalam Radioanalytical Chemistry, Springer, 2004, hlm. 1420–1421. ,
  101. Elschenbroich, Ch. Organometallic Chemistry, 6th edition, Wiesbaden 2008, , hlm. 589
  102. Andrew Kerridge. Are the Ground States of the Later Actinocenes Multiconfigurational? All-Electron Spin−Orbit Coupled CASPT2 Calculations on An(η 8 -C 8 H 8 ) 2 (An = Th, U, Pu, Cm). The Journal of Physical Chemistry A. 2009. Vol. 113 (30). hlm. 8737–8745. doi:10.1021/jp903912q.
  103. Melissa A. Denecke. Characterization and Comparison of Cm(III) and Eu(III) Complexed with 2,6-Di(5,6-dipropyl-1,2,4-triazin-3-yl)pyridine Using EXAFS, TRFLS, and Quantum-Chemical Methods. Inorganic Chemistry. 2005. Vol. 44 (23). hlm. 8418–8425. doi:10.1021/ic0511726.
  104. Denise Girnt. 6-(3,5-Dimethyl-1H-pyrazol-1-yl)-2,2′-bipyridine as Ligand for Actinide(III)/Lanthanide(III) Separation. Inorganic Chemistry. 2010. Vol. 49 (20). hlm. 9627–9635. doi:10.1021/ic101309j.
  105. M. Glorius. Complexation of curium(III) with hydroxamic acids investigated by time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy. Polyhedron. 2008. Vol. 27 (9–10). hlm. 2113. doi:10.1016/j.poly.2008.04.002.
  106. Anne Heller. Complexation study of europium(III) and curium(III) with urea in aqueous solution investigated by time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy. Inorganica Chimica Acta. 2009. Vol. 362 (4). hlm. 1215. doi:10.1016/j.ica.2008.06.016.
  107. Henry Moll. Curium(III) complexation with pyoverdins secreted by a groundwater strain of Pseudomonas fluorescens. BioMetals. 2007. Vol. 21 (2). hlm. 219–228. doi:10.1007/s10534-007-9111-x.
  108. Henry Moll. Complexation of curium(III) by adenosine 5′-triphosphate (ATP): A time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy (TRLFS) study. Inorganica Chimica Acta. 2005. Vol. 358 (7). hlm. 2275. doi:10.1016/j.ica.2004.12.055.
  109. Bünzli, J.-C. G. dan Choppin, G. R. Lanthanide probes in life, chemical, and earth sciences: theory and practice, Elsevier, Amsterdam, 1989. .
  110. M. Glorius. Complexation of curium(III) with hydroxamic acids investigated by time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy. Polyhedron. 2008. Vol. 27 (9–10). hlm. 2113. doi:10.1016/j.poly.2008.04.002.
  111. Anne Heller. Complexation study of europium(III) and curium(III) with urea in aqueous solution investigated by time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy. Inorganica Chimica Acta. 2009. Vol. 362 (4). hlm. 1215. doi:10.1016/j.ica.2008.06.016.
  112. Henry Moll. Curium(III) complexation with pyoverdins secreted by a groundwater strain of Pseudomonas fluorescens. BioMetals. 2007. Vol. 21 (2). hlm. 219–228. doi:10.1007/s10534-007-9111-x.
  113. Henry Moll. Complexation of curium(III) by adenosine 5′-triphosphate (ATP): A time-resolved laser-induced fluorescence spectroscopy (TRLFS) study. Inorganica Chimica Acta. 2005. Vol. 358 (7). hlm. 2275. doi:10.1016/j.ica.2004.12.055.
  114. H. Moll. Time-resolved laser fluorescence spectroscopy study on the interaction of curium(III) with Desulfovibrio äspöensis DSM 10631T. Environmental Science & Technology. 2004. Vol. 38 (5). hlm. 1455–1459. doi:10.1021/es0301166.
  115. Ozaki, T. Association of Eu(III) and Cm(III) with Bacillus subtilis and Halobacterium salinarium. Journal of Nuclear Science and Technology. 2002. Vol. Suppl. 3. hlm. 950–953. doi:10.1080/00223131.2002.10875626.
  116. Kaleigh Remick. The Elements of Life: A Biocentric Tour of the Periodic Table. Advances in Microbial Physiology. PubMed Central. 30 Januari 2023. Vol. 82. hlm. 1–127. doi:10.1016/bs.ampbs.2022.11.001. ISBN 978-0-443-19334-7.
  117. Hammond C. R. "The elements" in
  118. Binder, Harry H.: Lexikon der chemischen Elemente, S. Hirzel Verlag, Stuttgart 1999, , hlm. 174–178.
  119. Gmelin Handbook of Inorganic Chemistry, System No. 71, Volume 7a, transuranics, Part A2, hlm. 289
  120. Basic elements of static RTGs , G.L. Kulcinski, NEEP 602 Course Notes (Spring 2000), Nuclear Power in Space, University of Wisconsin Fusion Technology Institute (lihat halaman terakhir).
  121. Kronenberg, Andreas, Plutonium-Batterien (dalam bahasa Jerman) Archived copy.
  122. Holleman, hlm. 1980–1981.
  123. Glenn T. Seaborg. One Hundred Years after the Discovery of Radioactivity. Oldenbourg Wissenschaftsverlag. 1996. hlm. 82. ISBN 978-3-486-64252-0.
  124. Der Rosetta Lander Philae. Bernd-leitenberger.de. 1 Juli 2003.
  125. Rieder, R. An Alpha Proton X-Ray Spectrometer for Mars-96 and Mars Pathfinder. Bulletin of the American Astronomical Society. September 1996. Vol. 28. hlm. 1062.
  126. Human Health Fact Sheet on Curium , Laboratorium Nasional Los Alamos.
  127. Leitenberger, Bernd Die Surveyor Raumsonden (dalam bahasa Jerman).
  128. Nicks, Oran. SP-480 Far Travelers: The Exploring Machines. NASA. 1985.
  129. Alpha Particle X-Ray Spectrometer (APXS), Universitas Cornell.
  130. Curium (dalam bahasa Jerman).
  131. Curium (dalam bahasa Jerman).
  132. Human Health Fact Sheet on Curium , Laboratorium Nasional Los Alamos.
  133. Hammond C. R. "The elements" in
  134. Curium (dalam bahasa Jerman).
  135. Hoffmann, K. Kann man Gold machen? Gauner, Gaukler und Gelehrte. Aus der Geschichte der chemischen Elemente (Bisakah emas dibuat? Penipu, pesulap, dan cendekiawan. Dari sejarah unsur-unsur kimia), Urania-Verlag, Leipzig, Jena, Berlin 1979, tanpa ISBN, hlm. 233
  136. Baetslé, L. H. Application of Partitioning/Transmutation of Radioactive Materials in Radioactive Waste Management , Nuclear Research Centre of Belgium Sck/Cen, Mol, Belgia, September 2001.
  137. Melissa A. Denecke. Characterization and Comparison of Cm(III) and Eu(III) Complexed with 2,6-Di(5,6-dipropyl-1,2,4-triazin-3-yl)pyridine Using EXAFS, TRFLS, and Quantum-Chemical Methods. Inorganic Chemistry. 2005. Vol. 44 (23). hlm. 8418–8425. doi:10.1021/ic0511726.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29637858 (2026-08-25T19:09:39Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.