Lompat ke isi

Antimon

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Berkas:Antimony-4.jpg
Antimony-4

Antimon (dari ) atau serawak adalah sebuah unsur kimia dengan lambang Sb () dan nomor atom 51. Antimon merupakan logam atau metaloid berwarna abu-abu mengilap yang di alam ditemukan terutama dalam bentuk mineral sulfida stibnit (). Senyawa antimon telah dikenal sejak zaman kuno dan dahulu dihaluskan untuk digunakan sebagai kosmetik (sering dikenal dengan nama Arab kohl) serta sebagai obat.

Tiongkok merupakan produsen antimon dan senyawanya terbesar di dunia, dengan sebagian besar produksinya berasal dari Tambang Xikuangshan di Hunan. Metode industri untuk memurnikan antimon dari stibnit adalah melalui pemanggangan yang kemudian dilanjutkan dengan reduksi menggunakan karbon, atau melalui reduksi langsung stibnit dengan besi.

Penggunaan logam antimon yang paling umum adalah dalam paduan dengan timbal dan timah, yang memiliki sifat lebih baik untuk digunakan sebagai bahan solder, peluru, dan bantalan luncur. Antimon juga meningkatkan kekakuan pelat paduan timbal pada baterai asam–timbal. Antimon trioksida merupakan bahan tambahan penting dalam zat penghambat api yang mengandung halogen. Selain itu, antimon digunakan sebagai dopan dalam perangkat semikonduktor.

Karakteristik

Sifat

Antimon merupakan anggota golongan 15 dalam tabel periodik. Sebagai salah satu unsur yang disebut pniktogen, antimon memiliki elektronegativitas sebesar 2,05. Sesuai dengan tren periodik, antimon lebih elektronegatif daripada timah maupun bismut, tetapi kurang elektronegatif daripada telurium maupun arsen. Sebagai metaloid, antimon memiliki kekerasan 3 pada skala Mohs.

Antimon adalah padatan berwarna abu-abu keperakan dan mengilap yang stabil di udara pada suhu kamar.[1] Jika dipanaskan, antimon akan bereaksi dengan oksigen menghasilkan antimon trioksida ().[2] Antimon dapat bereaksi atau terlarut oleh asam pengoksidasi.

Alotrop antimon yang stabil mengkristal dalam sel trigonal, dan memiliki struktur yang isomorf dengan bismut serta alotrop abu-abu arsen.

Alotrop antimon berwarna kuning, yang diduga analog dengan arsen kuning, terbentuk melalui oksidasi stibina () oleh udara atau oksigen pada suhu −90 °C.[3][4][5] Pada suhu dan kondisi pencahayaan lingkungan, alotrop ini berubah menjadi alotrop hitam yang lebih stabil.[6][7] Bentuk antimon eksplosif yang langka dapat terbentuk melalui elektrolisis antimon triklorida, tetapi selalu mengandung sejumlah klorin yang cukup besar sehingga sebenarnya tidak dianggap sebagai alotrop antimon.[8] Ketika digores dengan benda tajam, terjadi reaksi eksotermis dan menghasilkan asap putih saat antimon logam terbentuk; ketika digerus menggunakan alu dan lumpang, dapat terjadi detonasi kuat.

Antimon elemental memiliki struktur berlapis (grup ruang Rm No. 166), dengan lapisan-lapisannya terdiri atas cincin beranggotakan enam atom yang saling menyatu dan berbentuk berkerut. Atom-atom tetangga terdekat dan tetangga berikutnya membentuk kompleks oktahedral yang tidak beraturan, dengan tiga atom pada setiap lapisan ganda sedikit lebih dekat dibandingkan tiga atom pada lapisan berikutnya. Susunan yang relatif rapat ini menghasilkan densitas tinggi sebesar 6,697 g/cm3, tetapi ikatan yang lemah antarlapisan menyebabkan antimon memiliki kekerasan rendah dan sifat yang getas.[9]

Isotop

Antimon memiliki dua isotop stabil, yaitu dengan kelimpahan alami sebesar 57,21% dan dengan kelimpahan alami sebesar 42,79%. Terdapat 37 isotop radioaktif buatan yang diketahui, dengan nomor massa antara 104 hingga 142. Di antaranya, isotop yang memiliki waktu hidup paling panjang adalah , yang merupakan produk fisi dengan waktu paruh 2,758 tahun. Sejumlah keadaan meta juga diketahui, dengan yang paling stabil adalah , yang memiliki waktu paruh 5,76 hari. Isotop yang lebih ringan daripada isotop stabil cenderung mengalami peluruhan β+, sedangkan isotop yang lebih berat cenderung mengalami peluruhan β, dengan beberapa pengecualian.[10]

Keterjadian

Kelimpahan antimon di kerak Bumi diperkirakan sebesar 0,2 ppm,[11] sebanding dengan talium sebesar 0,5 ppm dan perak sebesar 0,07 ppm. Antimon merupakan unsur ke-63 yang paling melimpah di kerak Bumi. Meskipun unsur ini tidak tergolong melimpah, antimon ditemukan dalam lebih dari 100 spesies mineral.[12] Antimon terkadang ditemukan dalam bentuk unsur asli, misalnya di Antimony Peak, tetapi lebih sering ditemukan dalam bentuk stibnit (), yang merupakan mineral bijih antimon utama.[13]

Senyawa

Senyawa antimon sering diklasifikasikan berdasarkan bilangan oksidasinya, yaitu Sb(III) dan Sb(V). Bilangan oksidasi +5 lebih umum ditemukan.[14]

Oksida dan hidroksida

Antimon trioksida terbentuk ketika antimon dibakar di udara.[15] Dalam fase gas, molekul senyawa ini berupa , tetapi akan mengalami polimerisasi ketika mengalami kondensasi.[16] Antimon pentoksida () hanya dapat terbentuk melalui oksidasi menggunakan asam nitrat pekat.[17] Antimon juga membentuk oksida dengan valensi campuran, yaitu antimon tetroksida (), yang mengandung Sb(III) dan Sb(V).[18] Berbeda dengan oksida fosforus dan arsen, oksida-oksida ini bersifat amfoter, tidak membentuk asam okso yang terdefinisi dengan baik, serta bereaksi dengan asam membentuk garam antimon.

Asam antimonit belum diketahui keberadaannya, tetapi basa konjugatnya, yaitu natrium antimonit (), terbentuk ketika natrium oksida dan dilebur bersama.[19] Antimonit logam transisi juga telah diketahui.[20] Asam antimonat hanya terdapat dalam bentuk hidrat , yang membentuk garam sebagai anion antimonat . larutan yang mengandung anion ini mengalami dehidrasi, endapan yang terbentuk mengandung oksida campuran.[21]

Bijih antimon yang paling penting adalah stibnit (). Mineral sulfida lainnya meliputi pirargirit (), zinkenit, jamesonit, dan boulangerit.[22] Antimon pentasulfida bersifat nonstoikiometrik, yang mengandung antimon dalam bilangan oksidasi +3 serta memiliki ikatan S–S.[23] Beberapa tioantimonida juga telah diketahui, seperti dan .[24]

Halida

Antimon membentuk dua seri halida: dan . Antimon trihalida , , , dan semuanya merupakan senyawa molekuler dengan geometri molekul piramida trigonal. Antimon trifluorida dibuat melalui reaksi antimon trioksida dengan asam fluorida:[25]

merupakan asam Lewis dan mudah menerima ion fluorida untuk membentuk anion kompleks  dan . Antimon trifluorida cair merupakan konduktor listrik yang lemah. Antimon triklorida dibuat dengan melarutkan stibnit dalam asam klorida:[26]

Sulfida arsen tidak mudah bereaksi dengan asam klorida, sehingga metode ini dapat digunakan untuk memperoleh antimon yang bebas dari arsen.

Antimon pentahalida dan memiliki geometri molekul bipiramida trigonal dalam fase gas. Namun, dalam fase cair, bersifat polimerik, sedangkan bersifat monomerik.[27] Antimon pentafluorida merupakan asam Lewis yang sangat kuat dan digunakan untuk membuat asam fluoroantimonat (), salah satu superasam yang sangat kuat.

Oksohalida lebih umum ditemukan pada antimon dibandingkan pada arsen dan fosforus. Antimon trioksida dapat larut dalam asam pekat membentuk senyawa oksoantimonil, seperti SbOCl dan .[28]

Antimonida, hidrida, dan senyawa organoantimon

Senyawa dalam kelas ini umumnya digambarkan sebagai turunan dari . Antimon membentuk antimonida dengan berbagai logam, seperti indium antimonida (InSb) dan perak antimonida ().[29] Antimonida logam alkali dan seng, seperti dan , lebih reaktif. Perlakuan antimonida tersebut dengan asam menghasilkan gas stibina yang sangat tidak stabil:[30]

Stibina juga dapat dihasilkan dengan mereaksikan garam dengan pereaksi hidrida, seperti natrium borohidrida (). Stibina terurai secara spontan pada suhu kamar. Karena stibina memiliki entalpi pembentukan positif, senyawa ini tidak stabil secara termodinamika. Oleh karena itu, antimon tidak bereaksi langsung dengan hidrogen.[31]

Senyawa organoantimon biasanya dibuat melalui alkilasi halida antimon menggunakan pereaksi Grignard.[32] Beragam senyawa telah diketahui memiliki pusat Sb(III) maupun Sb(V), termasuk turunan kloro-organik campuran, anion, dan kation. Contohnya adalah trifenilstibina () dan pentafenilantimon ().[33]

Sejarah

Antimon trisulfida, , telah dikenal di Mesir pra-dinasti sebagai kosmetik mata (kohl) sejak sekitar 3100 SM, ketika palet kosmetik mulai digunakan.[34]

Sebuah artefak yang dikatakan merupakan bagian dari vas, terbuat dari antimon dan diperkirakan berasal dari sekitar 3000 SM, ditemukan di Telloh, Kasdim (sekarang bagian dari Irak). Selain itu, sebuah benda tembaga yang dilapisi antimon dan berasal dari antara 2500–2200 SM ditemukan di Mesir.[35] Austen, dalam sebuah kuliah yang disampaikan oleh Herbert J. Gladstone pada tahun 1892, berkomentar bahwa "antimon saat ini dikenal sebagai logam yang sangat getas dan berbentuk kristalin, sehingga sulit dibentuk menjadi vas yang berguna. Oleh karena itu, temuan tersebut dianggap mungkin merupakan bukti adanya teknik yang telah hilang untuk membuat antimon menjadi dapat ditempa."[36]

Namun, arkeolog Inggris Peter R. S. Moorey meragukan bahwa artefak tersebut benar-benar merupakan vas. Dia menyebutkan bahwa Selimkhanov, setelah menganalisis benda dari Tello tersebut (diterbitkan pada 1975), "berusaha menghubungkan logam itu dengan antimon alami dari Transkaukasia. Benda-benda antimon dari Transkaukasia diketahui seluruhnya berupa ornamen pribadi berukuran kecil."[37] Hal ini melemahkan bukti mengenai adanya teknik yang telah hilang untuk "membuat antimon menjadi dapat ditempa".[38]

Cendekiawan Romawi Plinius Tua menjelaskan beberapa cara menyiapkan antimon sulfida untuk keperluan medis dalam karyanya Natural History, sekitar tahun 77 M.[39] Plinius juga membedakan bentuk antimon "jantan" dan "betina". Bentuk jantan kemungkinan merupakan sulfida, sedangkan bentuk betina, yang dianggap lebih unggul, lebih berat, dan lebih tidak rapuh, diduga merupakan antimon logam alami.[40]

Naturalis Yunani Pedanius Dioskorides menyebutkan bahwa antimon sulfida dapat dipanggang dengan memanaskannya dalam aliran udara. Diduga proses tersebut menghasilkan antimon logam.[41]

Antimon sering disebut dalam manuskrip alkimia, termasuk Summa Perfectionis karya Pseudo-Geber, yang ditulis sekitar abad ke-14.[42] Deskripsi mengenai prosedur untuk mengisolasi antimon kemudian diberikan dalam buku De la pirotechnia karya Vannoccio Biringuccio pada tahun 1540,[43] mendahului buku Agricola yang lebih terkenal, De re metallica, yang diterbitkan pada 1556. Dalam konteks ini, Agricola sering kali secara keliru dianggap sebagai penemu antimon logam. Buku Currus Triumphalis Antimonii (Kereta Kemenangan Antimon), yang menjelaskan pembuatan antimon logam, diterbitkan di Jerman pada tahun 1604. Buku tersebut diklaim ditulis oleh seorang biarawan Benediktus dengan nama Basilius Valentinus pada abad ke-15. Jika klaim tersebut benar—padahal sebenarnya tidak—karya itu akan mendahului Biringuccio.[44]

Kimiawan Jerman Andreas Libavius telah mengetahui logam antimon pada tahun 1615. Dia memperolehnya dengan menambahkan besi ke dalam campuran cair antimon sulfida, garam, dan kalium tartrat. Prosedur ini menghasilkan antimon dengan permukaan yang berbentuk kristalin atau menyerupai bintang.[45]

Dengan munculnya tantangan terhadap teori flogiston, kemudian dipahami bahwa antimon merupakan unsur yang membentuk sulfida, oksida, dan berbagai senyawa lainnya, sebagaimana halnya logam-logam lain.[46]

Penemuan pertama antimon murni yang terdapat secara alami di kerak Bumi dideskripsikan oleh ilmuwan Swedia sekaligus insinyur pertambangan setempat Anton von Swab pada tahun 1783. Sampel tipe tersebut dikumpulkan dari Tambang Perak Sala di distrik pertambangan Bergslagen, Sala, Västmanland, Swedia.[47][48]

Pada tahun 1931, koin yang terbuat dari antimon diterbitkan di Guizhou, Tiongkok. Namun, daya tahannya buruk, dan pencetakan segera dihentikan karena antimon bersifat lunak dan beracun.[49]

Etimologi

Bentuk Latin Abad Pertengahan, yang kemudian menjadi sumber nama antimon dalam bahasa-bahasa modern dan Yunani Bizantium akhir, adalah '.[50] Asal-usul istilah tersebut tidaklah pasti, dan semua teori yang diajukan memiliki kesulitan, baik dari segi bentuk maupun penafsiran. Salah satu etimologi populer menghubungkannya dengan ἀντίμοναχός anti-monachos atau bahasa Prancis , yang berarti "pembunuh biarawan". Penjelasan ini dikaitkan dengan kenyataan bahwa banyak ahli alkimia awal merupakan biarawan dan beberapa senyawa antimon bersifat beracun.[51]

Etimologi populer lainnya adalah kata Yunani ἀντίμόνος antimonos, yang berarti "melawan kesendirian", kemudian ditafsirkan sebagai "tidak ditemukan sebagai logam" atau "tidak ditemukan dalam keadaan murni tanpa campuran".[52] Namun, dalam bahasa Yunani kuno, bentuk negatif murni secara lebih alami dinyatakan dengan awalan α-, yang berarti "tidak".[53] Edmund O. von Lippmann mengemukakan kata Yunani hipotetis ανθήμόνιον anthemonion, yang berarti "bunga kecil", dan memberikan beberapa contoh kata Yunani yang berkaitan yang menggambarkan efloresensi kimia atau biologis, meskipun bukan kata tersebut secara langsung.[54]

Penggunaan awal istilah antimonium terdapat dalam terjemahan risalah medis Arab yang dilakukan oleh Konstantinus orang Afrika pada sekitar 1050–1100.[55] Sejumlah ahli berpendapat bahwa antimonium merupakan bentuk yang telah berubah akibat kesalahan penyalinan dari suatu bentuk bahasa Arab. Meyerhof menurunkannya dari ithmid;[56] kemungkinan lainnya adalah athimar, nama Arab untuk metaloid tersebut, serta bentuk hipotetis as-stimmi, yang berasal dari atau sejajar dengan istilah Yunani.[57]

Lambang kimia standar untuk antimon, yaitu Sb, dikaitkan dengan Jöns J. Berzelius, yang mengambil singkatan tersebut dari kata stibium.[58]

Kata-kata kuno untuk antimon umumnya memiliki makna utama kohl, yaitu sulfida antimon yang digunakan sebagai kosmetik mata.[59]

Orang Mesir menyebut antimon dengan istilah mśdmt[60][61] atau stm.[62]

Kata Arab untuk zat antimon, berbeda dari kosmetiknya, dapat muncul dalam beberapa bentuk, yaitu ithmid, athmoud, othmod, atau uthmod. Émile M. P. Littré mengusulkan bahwa bentuk pertama, yang merupakan bentuk paling awal, berasal dari stimmida, yaitu bentuk akusatif dari stimmi.[63][64] Kata Yunani στίμμι stimmi digunakan oleh para penyair tragedi Attika pada abad ke-5 SM, dan kemungkinan merupakan kata pinjaman dari bahasa Arab atau dari bahasa Mesir stm.[65]

Produksi

Proses

Ekstraksi antimon dari bijih bergantung pada kualitas dan komposisi bijih tersebut. Sebagian besar antimon ditambang dalam bentuk sulfida; bijih berkadar rendah dikonsentrasikan melalui flotasi buih, sedangkan bijih berkadar tinggi dipanaskan hingga 500–600 °C, yaitu suhu ketika stibnit melebur dan terpisah dari mineral pengotornya (gangue). Antimon dapat diisolasi dari sulfida antimon mentah melalui reduksi menggunakan besi bekas:[66]

Sulfida tersebut diubah menjadi oksida melalui proses pemanggangan. Produk selanjutnya dimurnikan dengan menguapkan antimon(III) oksida yang bersifat volatil, kemudian hasil penguapan tersebut dikumpulkan.[67] Hasil sublimasi ini sering digunakan secara langsung untuk aplikasi utama, dengan pengotor berupa arsen dan sulfida.[68][69] Antimon kemudian diisolasi dari oksidanya melalui reduksi karbotermal:[70][71]

Bijih berkadar rendah direduksi dalam tanur tiup, sedangkan bijih berkadar tinggi direduksi dalam tanur reverberatori.[72]

Produsen utama dan volume produksi

Pada tahun 2022, menurut Survei Geologi AS, Tiongkok menyumbang 54,5% dari total produksi antimon dunia, diikuti oleh Rusia di posisi kedua dengan 18,2% dan Tajikistan dengan 15,5%.[73]

Penambangan antimon pada tahun 2022[74]
Negara Ton % total
60.000 54,5
20.000 18,2
17.000 15,5
4.000 3,6
4.000 3,6
5 besar 105,000 95.5
Total dunia 110.000 100,0

Produksi antimon Tiongkok diperkirakan akan menurun di masa mendatang karena pemerintah menutup tambang dan fasilitas peleburan sebagai bagian dari upaya pengendalian pencemaran serta penerapan peraturan lingkungan yang lebih ketat.[75] Hal ini terutama disebabkan oleh diberlakukannya undang-undang perlindungan lingkungan pada Januari 2015[76] serta penerapan standar emisi baru yang direvisi untuk industri timah, antimon, dan raksa,[77] sehingga hambatan terhadap produksi yang ekonomis menjadi lebih tinggi.

Menurut laporan Roskill, produksi antimon yang dilaporkan di Tiongkok telah menurun dan kemungkinan tidak akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Tidak ada deposit antimon besar yang signifikan di Tiongkok yang dikembangkan selama sekitar sepuluh tahun, sementara cadangan ekonomis yang tersisa terus mengalami penipisan dengan cepat.[78] Myanmar juga menghadapi gangguan pasokan akibat ketidakstabilan politik.[79]

Cadangan

Cadangan antimon dunia pada tahun 2022[80]
Negara Cadangan
(ton)
670.000
350.000
310.000
260.000
140.000
120.000
100.000
78.000
60.000
60.000
50.000
Total dunia >2.470.000

Risiko pasokan

Bagi wilayah pengimpor antimon, seperti Eropa dan Amerika Serikat, antimon dianggap sebagai mineral kritis untuk manufaktur industri yang berisiko mengalami gangguan rantai pasokan. Pada tahun 2019, produksi global berasal terutama dari Tiongkok (74%), Tajikistan (8%), dan Rusia (4%), sehingga negara-negara tersebut menjadi sumber pasokan yang sangat penting.[81][82]

Amerika Serikat
Antimon merupakan komoditas mineral yang dianggap kritis bagi keamanan nasional dan ekonomi.[83][84] Pada tahun 2021, tidak ada antimon yang ditambang di Amerika Serikat.[85]
Britania Raya
Daftar risiko Survei Geologi Britania Raya tahun 2015 menempatkan antimon pada peringkat kedua tertinggi (setelah unsur tanah jarang) dalam indeks risiko pasokan relatif.[86][87]
Uni Eropa
Antimon dianggap sebagai bahan baku kritis untuk sektor pertahanan, otomotif, konstruksi, dan tekstil. Pada tahun 2019, 100% kebutuhan antimon Uni Eropa berasal dari impor, terutama dari Turki (62%), Bolivia (20%), dan Guatemala (7%).[88]

Pada Desember 2024, Tiongkok melarang ekspor mineral kritis.[89][90]

Aplikasi

Pada tahun 2017, sekitar 48% antimon digunakan untuk bahan penghambat api, 33% untuk baterai asam–timbal, dan 8% untuk plastik.[91]

Bahan penghambat api

Antimon digunakan terutama dalam bentuk antimon trioksida sebagai bahan untuk membuat produk tahan api, dan umumnya digunakan bersama bahan penghambat api terhalogenasi, kecuali pada polimer yang sudah mengandung halogen. Efek penghambatan api dari antimon trioksida dihasilkan melalui pembentukan senyawa antimon terhalogenasi[92] yang bereaksi dengan atom hidrogen, dan kemungkinan juga dengan atom oksigen serta radikal OH, sehingga menghambat terjadinya kebakaran.[93] Pasar untuk bahan penghambat api ini meliputi pakaian anak-anak, mainan, pesawat terbang, dan penutup kursi mobil. Bahan ini juga ditambahkan ke resin poliester dalam komposit kaca serat, misalnya untuk penutup mesin pesawat ringan. Resin tersebut akan terbakar jika terkena api dari sumber eksternal, tetapi akan padam ketika sumber api eksternal dihilangkan.[94][95] Antimon trioksida juga digunakan sebagai sinergis bersama bahan penghambat api berbasis bromin pada rumah dan komponen plastik untuk peralatan listrik dan elektronik (misalnya enklosur HIPS/ABS) guna memenuhi standar kemampuan terbakar seperti UL 94.[96][97][98]

Paduan

Antimon membentuk paduan yang sangat berguna dengan timbal, sehingga meningkatkan kekerasan dan kekuatan mekanisnya. Dalam proses pengecoran, antimon meningkatkan fluiditas logam cair dan mengurangi penyusutan selama pendinginan.[99] Untuk sebagian besar aplikasi yang menggunakan timbal, antimon digunakan dalam jumlah tertentu sebagai logam paduan. Pada baterai asam–timbal, penambahan antimon meningkatkan kekuatan pelat dan karakteristik pengisian daya.[100][101] Pada perahu layar, lunas timbal digunakan untuk memberikan momen penegak, dengan berat mulai dari sekitar 600 pon hingga lebih dari 200 ton pada superyacht layar terbesar. Untuk meningkatkan kekerasan dan kekuatan tarik lunas timbal, antimon dicampurkan dengan timbal sebanyak 2–5% berdasarkan volume. Antimon juga digunakan dalam paduan antifriksi (seperti logam Babbitt),[102] peluru dan gotri timbal, pelapis kabel listrik, logam cetak (seperti yang digunakan pada mesin Linotipe[103]), solder (beberapa solder "bebas timbal" mengandung 5% Sb),[104] piuter,[105] serta paduan pengeras dengan kandungan timah rendah dalam pembuatan pipa organ.

Aplikasi lainnya

Tiga aplikasi lainnya menggunakan hampir seluruh sisa pasokan antimon dunia.[106] Salah satunya adalah sebagai penstabil dan katalis dalam produksi polietilena tereftalat (PET).[107] Aplikasi lainnya adalah sebagai bahan pemurni untuk menghilangkan gelembung mikroskopis dalam kaca, terutama kaca untuk layar televisi. [108] Ion antimon berinteraksi dengan oksigen sehingga menghambat kecenderungan oksigen membentuk gelembung.[109] Proses ini juga membantu mencegah perubahan warna. Aplikasi ketiga adalah sebagai pigmen.[110] Antimon juga membantu mempertahankan kestabilan warna dan kehalusan permukaan ketika digunakan pada jenis keramik dan email tertentu.

Pada tahun 1990-an, antimon semakin banyak digunakan dalam semikonduktor sebagai dopan pada wafer silikon tipe-n[111] untuk dioda, detektor inframerah, dan perangkat efek Hall. Pada tahun 1950-an, emitor dan kolektor transistor sambungan-paduan n–p–n didoping menggunakan butiran kecil paduan timbal-antimon.[112] Indium antimonida (InSb) digunakan sebagai bahan untuk detektor inframerah menengah (MIR).[113][114][115]

Material digunakan untuk memori perubahan fase, yaitu salah satu jenis memori komputer.

Dalam bidang biologi dan kedokteran, antimon memiliki beberapa kegunaan. Sediaan yang mengandung antimon, yang dikenal sebagai antimonial, digunakan sebagai emetik.[116] Senyawa antimon juga digunakan sebagai obat antiprotozoa. Kalium antimonil tartrat pernah digunakan sebagai obat untuk skistosomiasis sejak tahun 1919, tetapi kemudian digantikan oleh prazikuantel.[117] Antimon dan senyawanya digunakan dalam beberapa sediaan kedokteran hewan, seperti antiomalin dan litium antimon tiomalat, sebagai bahan perawatan kulit pada hewan ruminansia.[118] Antimon memiliki efek menutrisi atau merawat jaringan berkeratin pada hewan.

Obat berbasis antimon, seperti meglumin antimoniat, juga dianggap sebagai obat pilihan untuk pengobatan leismaniasis. Pengobatan awal menggunakan senyawa antimon(III) atau antimonial trivalen, tetapi pada tahun 1922 Upendranath Brahmachari menemukan obat antimon(V) yang jauh lebih aman. Sejak saat itu, antimonial pentavalen menjadi pengobatan lini pertama standar. Namun, strain Leishmania di Bihar wilayah sekitarnya telah mengembangkan resistensi terhadap antimon.[119] Antimon elemental dalam bentuk pil antimon pernah digunakan sebagai obat. Pil tersebut bahkan dapat digunakan kembali oleh orang lain setelah dikeluarkan dari tubuh dan dibersihkan.[120]

Antimon(III) sulfida digunakan pada kepala beberapa jenis korek api keselamatan.[121][122] Senyawa sulfida antimon membantu menstabilkan koefisien gesekan pada material kampas rem otomotif.[123] Antimon juga digunakan dalam peluru, pelacak peluru,[124] cat, kaca seni, serta sebagai opasifier dalam email.


Antimon-124 digunakan bersama berilium dalam sumber neutron. Sinar gama yang dipancarkan oleh memicu fotodisintegrasi berilium.[125][126] Neutron yang dihasilkan memiliki energi rata-rata sekitar 24 keV.[127] Antimon alami digunakan dalam sumber neutron untuk memulai reaksi.

Pencegahan

Antimon dan banyak senyawanya bersifat beracun, dan efek keracunan antimon serupa dengan keracunan arsen. Namun, toksisitas antimon jauh lebih rendah dibandingkan arsen. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan yang signifikan dalam penyerapan, metabolisme, dan ekskresi antara arsen dan antimon. Penyerapan antimon(III) atau antimon(V) melalui saluran pencernaan paling tinggi hanya sekitar 20%. Antimon(V) tidak sepenuhnya direduksi menjadi antimon(III) di dalam sel; bahkan, antimon(III) justru dapat dioksidasi menjadi antimon(V).[128]

Karena biometilasi antimon tidak terjadi, ekskresi antimon(V) melalui urine merupakan jalur utama eliminasi dari tubuh.[129] Seperti halnya arsen, efek paling serius dari keracunan antimon akut adalah kardiotoksisitas dan miokarditis yang ditimbulkannya. Namun, keracunan antimon juga dapat menyebabkan sindrom Adams–Stokes, yang tidak ditemukan pada keracunan arsen. Beberapa kasus keracunan yang setara dengan 90 mg kalium antimonil tartrat yang terlarut dari enamel dilaporkan hanya menimbulkan efek jangka pendek. Sementara itu, keracunan akibat 6 g kalium antimonil tartrat dilaporkan menyebabkan kematian setelah tiga hari.[130]

Menghirup debu antimon merupakan hal berbahaya dan dalam kondisi tertentu dapat berakibat fatal. Dalam dosis kecil, antimon dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, dan depresi. Paparan dalam jumlah lebih besar, termasuk kontak kulit yang berkepanjangan, dapat menyebabkan dermatitis atau kerusakan pada ginjal dan hati, serta menyebabkan muntah hebat dan berulang yang dapat berujung pada kematian dalam beberapa hari.[131]

Antimon tidak kompatibel dengan oksidator kuat, asam kuat, asam halogen, klorin, maupun fluorin. Antimon harus dijauhkan dari panas.[132]

Antimon dapat terlindi dari botol polietilena tereftalat ke dalam cairan.[133] Meskipun kadar yang ditemukan dalam air kemasan masih berada di bawah pedoman untuk air minum,[134] konsentrat jus buah (yang belum memiliki pedoman khusus) yang diproduksi di Inggris ditemukan mengandung antimon hingga 44,7 μg/L, jauh di atas batas Uni Eropa untuk air keran, yaitu 5 μg/L.[135] Pedoman batas kadar antimon:

Asupan harian yang dapat ditoleransi (TDI) yang diusulkan WHO adalah 6 μg antimon per kilogram berat badan.[140] Nilai segera berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan (IDLH) untuk antimon adalah 50 mg/m3 (50 μg/L).[141]

Toksisitas

Beberapa senyawa antimon diketahui bersifat beracun, terutama antimon trioksida dan kalium antimonil tartrat.[142] Efeknya dapat menyerupai keracunan arsen.[143] Paparan di tempat kerja dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, pneumokoniosis, munculnya bercak antimon pada kulit, gejala gastrointestinal, dan aritmia jantung. Antimon trioksida berpotensi bersifat karsinogenik pada manusia.[144]

Efek kesehatan yang merugikan telah diamati pada manusia dan hewan setelah terpapar antimon dan senyawa antimon melalui inhalasi, konsumsi oral, maupun paparan melalui kulit.[145] Toksisitas antimon umumnya terjadi akibat paparan di tempat kerja, selama terapi, atau tertelannya antimon secara tidak sengaja. Belum jelas apakah antimon dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit.[146] Keberadaan antimon dalam kadar rendah di air liur juga mungkin berkaitan dengan kerusakan atau pembusukan gigi.[147]

Catatan

Sumber kutipan

Pranala luar

Referensi

  1. A. A. Ashcheulov. Some Aspects of the Chemical Bonding in Antimony. Inorganic Materials. 2013. Vol. 49 (8). hlm. 766–769. doi:10.1134/s0020168513070017.
  2. Wiberg and Holleman, hlm. 758
  3. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  4. H. Krebs. Über die Struktur und die Eigenschaften der Halbmetalle. IX: Die Allotropie des Antimons. Zeitschrift für anorganische und allgemeine Chemie. 1955. Vol. 282 (1–6). hlm. 177–195. doi:10.1002/zaac.19552820121.
  5. Alfred Stock. Ueber den Antimonwasserstoff und das gelbe Antimon. Berichte der Deutschen Chemischen Gesellschaft. 1904. Vol. 37. hlm. 885–900. doi:10.1002/cber.190403701148.
  6. "Antimony" dalam Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology, Edisi 5. 2004.
  7. , [ hlm. 50–51]
  8. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  9. Wiberg and Holleman, hlm. 758
  10. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  11. Greenwood and Earnshaw, hlm. 548
  12. Antimony minerals. mindat.org
  13. Greenwood and Earnshaw, hlm. 548
  14. Greenwood and Earnshaw, hlm. 553
  15. Reger, Daniel L. Chemistry: Principles and Practice. Cengage Learning. 2009. hlm. 883. ISBN 978-0-534-42012-3.
  16. Wiberg and Holleman, hlm. 758
  17. House, James E. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 502. ISBN 978-0-12-356786-4.
  18. House, James E. Inorganic chemistry. Academic Press. 2008. hlm. 502. ISBN 978-0-12-356786-4.
  19. Wiberg and Holleman, hlm. 763
  20. Godfrey, S. M. Chemistry of arsenic, antimony, and bismuth. Springer. 1998. ISBN 978-0-7514-0389-3.
  21. Godfrey, S. M. Chemistry of arsenic, antimony, and bismuth. Springer. 1998. ISBN 978-0-7514-0389-3.
  22. Wiberg and Holleman, hlm. 757
  23. G. Long. The oxidation number of antimony in antimony pentasulfide. Inorganic and Nuclear Chemistry Letters. 1969. Vol. 5. hlm. 21. doi:10.1016/0020-1650(69)80231-X.
  24. R. Lees. The synthesis and characterisation of four new antimony sulphides incorporating transition-metal complexes. Journal of Physics and Chemistry of Solids. 2007. Vol. 68 (5–6). hlm. 1215. doi:10.1016/j.jpcs.2006.12.010.
  25. Wiberg and Holleman, hlm. 761–762
  26. Grund, Sabina C.; Hanusch, Kunibert; Breunig, Hans J.; Wolf, Hans Uwe (2006) "Antimony and Antimony Compounds" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim.
  27. Wiberg and Holleman, hlm. 761
  28. Wiberg and Holleman, hlm. 764
  29. Wiberg and Holleman, hlm. 760
  30. Kahlenberg, Louis. Outlines of Chemistry – A Textbook for College Students. READ BOOKS. 2008. hlm. 324–325. ISBN 978-1-4097-6995-8.
  31. Greenwood and Earnshaw, hlm. 558
  32. Elschenbroich, C. (2006) "Organometallics". Wiley-VCH: Weinheim.
  33. Greenwood and Earnshaw, hlm. 598
  34. A. J. Shortland. Application of Lead Isotope Analysis to a Wide Range of Late Bronze Age Egyptian Materials. Archaeometry. 2006. Vol. 48 (4). hlm. 657. doi:10.1111/j.1475-4754.2006.00279.x.
  35. "Antimony" dalam Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology, Edisi 5. 2004.
  36. P. R. S. Moorey. Ancient Mesopotamian Materials and Industries: the Archaeological Evidence. Clarendon Press. 1994. hlm. 241. ISBN 978-1-57506-042-2.
  37. P. R. S. Moorey. Ancient Mesopotamian Materials and Industries: the Archaeological Evidence. Clarendon Press. 1994. hlm. 241. ISBN 978-1-57506-042-2.
  38. P. R. S. Moorey. Ancient Mesopotamian Materials and Industries: the Archaeological Evidence. Clarendon Press. 1994. hlm. 241. ISBN 978-1-57506-042-2.
  39. Mellor, Joseph William. A comprehensive treatise on inorganic and theoretical chemistry. 1964. Vol. 9. hlm. 339.
  40. Plinius, Natural History, 33.33; W.H.S. Jones, penerjemah dalam Loeb Classical Library, memberikan catatan yang mengusulkan identifikasi tersebut.
  41. Mellor, Joseph William. A comprehensive treatise on inorganic and theoretical chemistry. 1964. Vol. 9. hlm. 339.
  42. Antimony. De Gruyter. 2021. hlm. 4. doi:10.1515/9783110668711. ISBN 978-3-11-066871-1.
  43. Vannoccio Biringuccio, De la Pirotechnia (Venesia, Italia: Curtio Navo e fratelli, 1540), Buku 2, Bab 3: Del antimonio & sua miniera, Capitolo terzo (Tentang antimon dan bijihnya, bab ketiga), hlm. 27–28. [Catatan: Dalam buku ini, hanya setiap halaman kedua yang diberi nomor, sehingga bagian yang relevan sebenarnya terdapat pada halaman ke-74 dan ke-75 dari teks.] (Dalam bahasa Italia)
  44. Mary Elvira Weeks. The discovery of the elements. II. Elements known to the alchemists. Journal of Chemical Education. 1932. Vol. 9 (1). hlm. 11. doi:10.1021/ed009p11.
  45. Mellor, Joseph William. A comprehensive treatise on inorganic and theoretical chemistry. 1964. Vol. 9. hlm. 339.
  46. Mellor, Joseph William. A comprehensive treatise on inorganic and theoretical chemistry. 1964. Vol. 9. hlm. 339.
  47. Native antimony. Mindat.org.
  48. M. Klaproth. XL. Extracts from the third volume of the analyses. Philosophical Magazine. 1803. Vol. 17 (67). hlm. 230. doi:10.1080/14786440308676406.
  49. Metals Used in Coins and Medals. ukcoinpics.co.uk.
  50. antimony. Britannica.com. 22 Mei 2024.
  51. Fernando, Diana. Alchemy: an illustrated A to Z. Blandford. 1998. ISBN 9780713726688. Fernando mengaitkan etimologi yang diusulkan tersebut dengan kisah "Basilius Valentinus", meskipun istilah antimonium telah ditemukan dalam sumber-sumber yang berasal dari dua abad sebelum masa Valentinus.
  52. "Antimony" dalam Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology, Edisi 5. 2004.
  53. , yang menganggap asal-usul istilah tersebut sebagai "etimologi populer".
  54. von Lippmann, Edmund Oscar (1919) Entstehung und Ausbreitung der Alchemie, teil 1. Berlin: Julius Springer (dalam bahasa Jerman). hlm. 642–5
  55. von Lippmann, Edmund Oscar (1919) Entstehung und Ausbreitung der Alchemie, teil 1. Berlin: Julius Springer (dalam bahasa Jerman). hlm. 642–5
  56. Meyerhof, sebagaimana dikutip dalam , menyatakan bahwa ithmid atau athmoud mengalami perubahan bentuk dalam "terjemahan barbaro-Latin" pada Abad Pertengahan. OED menyatakan bahwa bentuk bahasa Arab merupakan asal-usul istilah tersebut. Jika ithmid dianggap sebagai akar katanya, OED mengemukakan athimodium, atimodium, dan atimonium sebagai bentuk-bentuk perantara dalam perkembangannya.
  57. Endlich, F. M. On Some Interesting Derivations of Mineral Names. The American Naturalist. 1888. Vol. 22 (253). hlm. 21–32. doi:10.1086/274630.
  58. Jöns Jakob Berzelius, "Essay on the cause of chemical proportions, and on some circumstances relating to them: together with a short and easy method of expressing them," Annals of Philosophy, vol. 2, hlm. 443–454 (1813) dan vol. 3, hlm. 51–62, 93–106, 244–255, 353–364 (1814). Pada [ hlm. 52], Berzelius mencantumkan lambang untuk antimon sebagai "St". Namun, mulai [ hlm. 248], Berzelius secara konsisten menggunakan lambang "Sb" sebagai lambang antimon.
  59. Anne Helmenstine. Antimony Facts - Symbol, Definition, Uses. Science Notes and Projects. 9 Juli 2024.
  60. W. F. Albright. Notes on Egypto-Semitic Etymology. II. The American Journal of Semitic Languages and Literatures. 1918. Vol. 34 (4). hlm. 215–255. doi:10.1086/369866.
  61. George Sarton. Review of Al-morchid fi'l-kohhl, ou Le guide d'oculistique (Diterjemahkan oleh Max Meyerhof). Isis. 1935. Vol. 22 (2). hlm. 539–542. doi:10.1086/346926.
  62. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  63. Endlich, F. M. On Some Interesting Derivations of Mineral Names. The American Naturalist. 1888. Vol. 22 (253). hlm. 21–32. doi:10.1086/274630.
  64. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  65. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  66. Kateryna Klochko. 2017 Minerals Yearbook: Antimony. Survei Geologi Amerika Serikat. 2021.
  67. Grund, Sabina C.; Hanusch, Kunibert; Breunig, Hans J.; Wolf, Hans Uwe (2006) "Antimony and Antimony Compounds" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim.
  68. , [ hlm. 45]
  69. N. J. Wilson. Antimony distribution and environmental mobility at an historic antimony smelter site, New Zealand. Environmental Pollution. 2004. Vol. 129 (2). hlm. 257–66. doi:10.1016/j.envpol.2003.10.014.
  70. Kateryna Klochko. 2017 Minerals Yearbook: Antimony. Survei Geologi Amerika Serikat. 2021.
  71. , [ hlm. 45]
  72. Kateryna Klochko. 2017 Minerals Yearbook: Antimony. Survei Geologi Amerika Serikat. 2021.
  73. Antimony Statistics and Information. National Minerals Information Center. Survei Geologi Amerika Serikat.
  74. Antimony Statistics and Information. National Minerals Information Center. Survei Geologi Amerika Serikat.
  75. Saptakee S. The Future of Antimony: Rising Prices, Supply Chain Risks, and Demand Growth. Carbon Credits. 6 Maret 2025.
  76. Environmental Protection Law of the People's Republic of China. 24 April 2014.
  77. Emission standards of pollutants for stannum, antimony and mercury industries.
  78. Study of the antimony market by Roskill Consulting Group.
  79. Saptakee S. The Future of Antimony: Rising Prices, Supply Chain Risks, and Demand Growth. Carbon Credits. 6 Maret 2025.
  80. Antimony Statistics and Information. National Minerals Information Center. Survei Geologi Amerika Serikat.
  81. Critical Raw Materials Resilience: Charting a Path towards greater Security and Sustainability. European Commission. 2020.
  82. Nedal T. Nassar. Evaluating the mineral commodity supply risk of the U.S. manufacturing sector. Sci. Adv. 21 Februari 2020. Vol. 6 (8). doi:10.1126/sciadv.aay8647.
  83. Interior Releases 2018's Final List of Critical Minerals. Survei Geologi Amerika Serikat.
  84. Nedal T. Nassar. Evaluating the mineral commodity supply risk of the U.S. manufacturing sector. Sci. Adv. 21 Februari 2020. Vol. 6 (8). doi:10.1126/sciadv.aay8647.
  85. U.S. Geological Survey, Mineral Commodity Summaries, January 2022.
  86. MineralsUK Risk List 2015. BGS.
  87. British Geological Survey Risk list 2015. Minerals UK. BGS.
  88. Critical Raw Materials Resilience: Charting a Path towards greater Security and Sustainability. European Commission. 2020.
  89. China bans export of critical minerals to US as trade tensions escalate. reuters.com. 3 Desember 2025.
  90. How US buyers of critical minerals bypass China's export ban. reuters.com. 9 Juli 2025.
  91. Kateryna Klochko. 2017 Minerals Yearbook: Antimony. Survei Geologi Amerika Serikat. 2021.
  92. Edward D. Weil. Flame retardants for plastics and textiles: Practical applications. Hanser. 4 Juni 2009. ISBN 978-3-446-41652-9.
  93. John W. Hastie. Mass spectrometric studies of flame inhibition: Analysis of antimony trihalides in flames. Combustion and Flame. 1973. Vol. 21 (1). hlm. 49. doi:10.1016/0010-2180(73)90006-0.
  94. Grund, Sabina C.; Hanusch, Kunibert; Breunig, Hans J.; Wolf, Hans Uwe (2006) "Antimony and Antimony Compounds" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim.
  95. Edward D. Weil. Flame retardants for plastics and textiles: Practical applications. Hanser. 4 Juni 2009. hlm. 15–16. ISBN 978-3-446-41652-9.
  96. Decabromodiphenyl ether (decaBDE) substitution in TV enclosures. University of Massachusetts Lowell. 15 April 2005.
  97. Decabromodiphenyl Ether (PEC 41). Australian Industrial Chemicals Introduction Scheme.
  98. Hidden Uses of Antimony in Modern Technology. MineToMetal.com. 20 Mei 2025.
  99. W.C. Butterman. Mineral Commodity Profiles - Antimony. Survei Geologi Amerika Serikat. 2004.
  100. Grund, Sabina C.; Hanusch, Kunibert; Breunig, Hans J.; Wolf, Hans Uwe (2006) "Antimony and Antimony Compounds" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim.
  101. Heinz Albert Kiehne. Battery Technology Handbook. CRC Press. 2003. hlm. 60–61. ISBN 978-0-8247-4249-2.
  102. Robert S. Williams. Principles of Metallography. Read books. 2007. hlm. 46–47. ISBN 978-1-4067-4671-6.
  103. E. J. Holmyard. Inorganic Chemistry – A Textbook for Colleges and Schools. Read Books. 2008. hlm. 399–400. ISBN 978-1-4437-2253-7.
  104. H. Ipser. Thermodynamics and phase diagrams of lead-free solder materials. Journal of Materials Science: Materials in Electronics. 2007. Vol. 18 (1–3). hlm. 3–17. doi:10.1007/s10854-006-9009-3.
  105. Charles Hull. Pewter. Osprey Publishing. 1992. hlm. 1–5. ISBN 978-0-7478-0152-8.
  106. Kateryna Klochko. 2017 Minerals Yearbook: Antimony. Survei Geologi Amerika Serikat. 2021.
  107. Kateryna Klochko. 2017 Minerals Yearbook: Antimony. Survei Geologi Amerika Serikat. 2021.
  108. Bernard H. W. S. De Jong. Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 2000. doi:10.1002/14356007.a12_365. ISBN 978-3-527-30673-2.
  109. H. Yamashita. Voltammetric Studies of Antimony Ions in Soda-lime-silica Glass Melts up to 1873 K. Analytical Sciences. 2001. Vol. 17 (1). hlm. 45–50. doi:10.2116/analsci.17.45.
  110. Kateryna Klochko. 2017 Minerals Yearbook: Antimony. Survei Geologi Amerika Serikat. 2021.
  111. William C. O'Mara. Handbook of semiconductor silicon technology. William Andrew. 1990. hlm. 473. ISBN 978-0-8155-1237-0.
  112. C. K. Maiti. Selected Works of Professor Herbert Kroemer. World Scientific, 2008. 2008. hlm. 101. ISBN 978-981-270-901-1.
  113. National Research Council (U.S.) Committee on New Sensor Technologies: Materials and Applications. Expanding the vision of sensor materials. National Academies Press. 1995. hlm. 68. ISBN 978-0-309-05175-0.
  114. Kinch, Michael A. Fundamentals of infrared detector materials. SPIE Press. 2007. hlm. 35. ISBN 978-0-8194-6731-7.
  115. Willardson, Robert K. Infrared detectors. Academic Press. 1970. hlm. 15. ISBN 978-0-12-752105-3.
  116. Colin A. Russell. Antimony's Curious History. Notes and Records of the Royal Society of London. 2000. Vol. 54 (1). hlm. 115–116. doi:10.1098/rsnr.2000.0101.
  117. A Harder. Chemotherapeutic approaches to schistosomes: current knowledge and outlook. Parasitology Research. Mei 2002. Vol. 88 (5). hlm. 395–397. doi:10.1007/s00436-001-0588-x.
  118. I. A. Kassirsky. Diseases of Warm Lands: A Clinical Manual. The Minerva Group. 1 Agustus 2003. hlm. 262–265. ISBN 978-1-4102-0789-0.
  119. Control of the leishmaniases: report of a meeting of the WHO Expert Committee on the Control of Leishmaniases, Geneva, 22-26 March 2010. Organisasi Kesehatan Dunia. 2010. hlm. 1–2, 55, 67–68. ISBN 978-92-4-120949-6.
  120. McCallum, R. I. Antimony in medical history: an account of the medical uses of antimony and its compounds since early times to the present. Pentland Press. 1999. ISBN 978-1-85821-642-3.
  121. National Research Council. Trends in usage of antimony: report. National Academies. 1970. hlm. 50.
  122. Stellman, Jeanne Mager. Encyclopaedia of Occupational Health and Safety: Chemical, industries and occupations. International Labour Organization. 1998. hlm. 109. ISBN 978-92-2-109816-4.
  123. Jang, H. The effects of antimony trisulfide () and zirconium silicate () in the automotive brake friction material on friction. Journal of Wear. 2000. Vol. 239 (2). hlm. 229. doi:10.1016/s0043-1648(00)00314-8.
  124. Erik Randich. A metallurgical review of the interpretation of bullet lead compositional analysis. Forensic Science International. 2002. Vol. 127 (3). hlm. 174–91. doi:10.1016/S0379-0738(02)00118-4.
  125. M. Lalovic. The energy distribution of antimonyberyllium photoneutrons. Journal of Nuclear Energy. 1970. Vol. 24 (3). hlm. 123. doi:10.1016/0022-3107(70)90058-4.
  126. Ahmed, Syed Naeem. Physics and engineering of radiation detection. Academic Press. 2007. hlm. 51. ISBN 978-0-12-045581-2.
  127. Schmitt, H. Determination of the energy of antimony-beryllium photoneutrons. Nuclear Physics. 1960. Vol. 20. hlm. 220. doi:10.1016/0029-5582(60)90171-1.
  128. S. Foster. Observations on the measurement of total antimony and antimony species in algae, plant and animal tissues. Journal of Environmental Monitoring. 2005. Vol. 7 (12). hlm. 1214–1219. doi:10.1039/b509202g.
  129. T Gebel. Arsenic and antimony: Comparative approach on mechanistic toxicology. Chemico-Biological Interactions. 1997. Vol. 107 (3). hlm. 131–44. doi:10.1016/S0009-2797(97)00087-2.
  130. RI McCallum. President's address. Observations upon antimony. Proceedings of the Royal Society of Medicine. 1977. Vol. 70 (11). hlm. 756–63. doi:10.1177/003591577707001103.
  131. S. Sundar. Antimony Toxicity. International Journal of Environmental Research and Public Health. 2010. Vol. 7 (12). hlm. 4267–4277. doi:10.3390/ijerph7124267.
  132. Antimony MSDS. Baker.
  133. P Westerhoff. Antimony leaching from polyethylene terephthalate (PET) plastic used for bottled drinking water. Water Research. 2008. Vol. 42 (3). hlm. 551–6. doi:10.1016/j.watres.2007.07.048.
  134. William Shotyk. Contamination of Canadian and European bottled waters with antimony from PET containers. Journal of Environmental Monitoring. 2006. Vol. 8 (2). hlm. 288–292. doi:10.1039/b517844b.
  135. Claus Hansen. Elevated antimony concentrations in commercial juices. Journal of Environmental Monitoring. 2010. Vol. 12 (4). hlm. 822–4. doi:10.1039/b926551a.
  136. Guidelines for Drinking-water Quality. Organisasi Kesehatan Dunia. 2011. hlm. 314. ISBN 978-92-4-154815-1.
  137. Wakayama, Hiroshi (2003) "Revision of Drinking Water Standards in Japan", Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Sosial (Jepang); Tabel 2, hlm. 84.
  138. Screening assessment antimony-containing substances Health Canada. Juli 2020.
  139. William Shotyk. Contamination of Canadian and European bottled waters with antimony from PET containers. Journal of Environmental Monitoring. 2006. Vol. 8 (2). hlm. 288–292. doi:10.1039/b517844b.
  140. Guidelines for Drinking-water Quality. Organisasi Kesehatan Dunia. 2011. hlm. 314. ISBN 978-92-4-154815-1.
  141. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  142. Toxicological Profile for Antimony and Compounds. U.S. Department of Health and Human Services.
  143. Antimony poisoning. Encyclopedia Britannica.
  144. S. Sundar. Antimony Toxicity. International Journal of Environmental Research and Public Health. 2010. Vol. 7 (12). hlm. 4267–4277. doi:10.3390/ijerph7124267.
  145. Toxicological Profile for Antimony and Compounds. U.S. Department of Health and Human Services.
  146. Toxicological Profile for Antimony and Compounds. U.S. Department of Health and Human Services.
  147. E. Davis. Low levels of salivary metals, oral microbiome composition and dental decay. Scientific Reports. 2020. Vol. 10 (1). hlm. 14640. doi:10.1038/s41598-020-71495-9.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29606083 (2026-08-20T18:46:22Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.