Lompat ke isi

Stronsium: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29584973; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Strontium_destilled_crystals.jpg|thumb|right|280px|Strontium destilled crystals]]
'''Stronsium''' adalah sebuah [[unsur kimia]] dengan [[Lambang unsur|lambang]] '''Sr''' dan [[nomor atom]] 38. Strontium merupakan [[logam alkali tanah]] dengan tekstur yang lunak dan berwarna putih keperakan kekuningan yang sangat [[Reaktivitas (kimia)|reaktif secara kimiawi]]. [[Logam]] stronsium membentuk lapisan oksida gelap ketika terkena udara. Stronsium memiliki sifat fisik dan kimia yang mirip dengan dua tetangga vertikalnya dalam tabel periodik, [[kalsium]] dan [[barium]]. Ia terjadi secara alami terutama dalam [[mineral]] [[selestin]] dan [[stronsianit]], dan sebagian besar ditambang dari mereka berdua.
'''Stronsium''' adalah sebuah [[unsur kimia]] dengan [[Lambang unsur|lambang]] '''Sr''' dan [[nomor atom]] 38. Strontium merupakan [[logam alkali tanah]] dengan tekstur yang lunak dan berwarna putih keperakan kekuningan yang sangat [[Reaktivitas (kimia)|reaktif secara kimiawi]]. [[Logam]] stronsium membentuk lapisan oksida gelap ketika terkena udara. Stronsium memiliki sifat fisik dan kimia yang mirip dengan dua tetangga vertikalnya dalam tabel periodik, [[kalsium]] dan [[barium]]. Ia terjadi secara alami terutama dalam [[mineral]] [[selestin]] dan [[stronsianit]], dan sebagian besar ditambang dari mereka berdua.


Baik stronsium maupun stronsianit dinamai dari [[Strontian]], sebuah desa di Skotlandia di mana mineral tersebut ditemukan pada tahun 1790 oleh [[Adair Crawford]] dan [[William Cruickshank (kimiawan)|William Cruickshank]]; ia diidentifikasi sebagai unsur baru pada tahun berikutnya dari warna [[Uji nyala api|uji nyala]] merah lembayungnya. Stronsium pertama kali diisolasi sebagai logam pada tahun 1808 oleh [[Humphry Davy]] menggunakan proses [[elektrolisis]] yang baru ditemukan. Selama abad ke-19, stronsium banyak digunakan dalam produksi gula dari [[bit gula]] (lihat [[proses strontian]]). Pada puncak produksi [[Tabung sinar katode|tabung sinar katoda]] televisi, sebanyak 75% konsumsi stronsium di Amerika Serikat digunakan untuk kaca pelat muka. Dengan penggantian tabung sinar katode menjadi metode tampilan lainnya, konsumsi stronsium menurun drastis.
Baik stronsium maupun stronsianit dinamai dari [[Strontian]], sebuah desa di Skotlandia di mana mineral tersebut ditemukan pada tahun 1790 oleh [[Adair Crawford]] dan [[William Cruickshank (kimiawan)|William Cruickshank]]; ia diidentifikasi sebagai unsur baru pada tahun berikutnya dari warna [[Uji nyala api|uji nyala]] merah lembayungnya. Stronsium pertama kali diisolasi sebagai logam pada tahun 1808 oleh [[Humphry Davy]] menggunakan proses [[elektrolisis]] yang baru ditemukan. Selama abad ke-19, stronsium banyak digunakan dalam produksi gula dari [[bit gula]] (lihat [[proses strontian]]). Pada puncak produksi [[Tabung sinar katode|tabung sinar katoda]] televisi, sebanyak 75% konsumsi stronsium di Amerika Serikat digunakan untuk kaca pelat muka.<ref>[https://www.earthmagazine.org/article/mineral-resource-month-strontium Mineral Resource of the Month: Strontium]. Survei Geologi A.S. 8 Desember 2014.</ref> Dengan penggantian tabung sinar katode menjadi metode tampilan lainnya, konsumsi stronsium menurun drastis.<ref>[https://www.earthmagazine.org/article/mineral-resource-month-strontium Mineral Resource of the Month: Strontium]. Survei Geologi A.S. 8 Desember 2014.</ref>


Walaupun stronsium alami (yang sebagian besar merupakan isotop stronsium-88) itu stabil, [[stronsium-90]] sintetis bersifat radioaktif dan merupakan salah satu komponen paling berbahaya dari [[luruhan nuklir]], karena stronsium diserap oleh tubuh dengan cara yang mirip dengan kalsium. Sebaliknya, stronsium stabil alami tidak berbahaya bagi kesehatan.
Walaupun stronsium alami (yang sebagian besar merupakan isotop stronsium-88) itu stabil, [[stronsium-90]] sintetis bersifat radioaktif dan merupakan salah satu komponen paling berbahaya dari [[luruhan nuklir]], karena stronsium diserap oleh tubuh dengan cara yang mirip dengan kalsium. Sebaliknya, stronsium stabil alami tidak berbahaya bagi kesehatan.
==Karakteristik==
==Karakteristik==
Stronsium adalah logam keperakan [[Valensi#Divalen|divalen]] dengan semburat kuning pucat yang sifatnya sebagian besar mirip dengan tetangganya [[kalsium]] dan [[barium]].<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 112–13</ref> Ia lebih lembut dari kalsium dan lebih keras dari barium. Titik lebur (777&nbsp;°C) dan didihnya (1377&nbsp;°C) lebih rendah daripada kalsium (masing-masing 842&nbsp;°C dan 1484&nbsp;°C); barium melanjutkan tren penurunan ini pada titik lebur (727&nbsp;°C), tetapi tidak pada titik didihnya (1900&nbsp;°C). Massa jenis stronsium (2,64&nbsp;g/cm<sup>3</sup>) berada di antara massa jenis kalsium (1,54&nbsp;g/cm<sup>3</sup>) dan barium (3,594&nbsp;g/cm<sup>3</sup>).<ref>C. R. Hammond ''The elements'' (hlm. 4–35) dalam</ref> Ada tiga [[Alotropi|alotrop]] metalik stronsium, dengan [[titik transisi]] pada suhu 235 dan 540&nbsp;°C.<ref>Richard C. Ropp. [https://books.google.com/books?id=yZ786vEild0C&pg=PA16 Encyclopedia of the Alkaline Earth Compounds]. 31 Desember 2012. hlm. 16. ISBN 978-0-444-59553-9.</ref>


Stronsium adalah logam keperakan [[Valensi#Divalen|divalen]] dengan semburat kuning pucat yang sifatnya sebagian besar mirip dengan tetangganya [[kalsium]] dan [[barium]]. Ia lebih lembut dari kalsium dan lebih keras dari barium. Titik lebur (777&nbsp;°C) dan didihnya (1377&nbsp;°C) lebih rendah daripada kalsium (masing-masing 842&nbsp;°C dan 1484&nbsp;°C); barium melanjutkan tren penurunan ini pada titik lebur (727&nbsp;°C), tetapi tidak pada titik didihnya (1900&nbsp;°C). Massa jenis stronsium (2,64&nbsp;g/cm<sup>3</sup>) berada di antara massa jenis kalsium (1,54&nbsp;g/cm<sup>3</sup>) dan barium (3,594&nbsp;g/cm<sup>3</sup>). Ada tiga [[Alotropi|alotrop]] metalik stronsium, dengan [[titik transisi]] pada suhu 235 dan 540&nbsp;°C.
[[Potensial elektroda standar]] untuk pasangan Sr<sup>2+</sup>/Sr adalah −2,89&nbsp;V, kira-kira di tengah-tengah antara pasangan Ca<sup>2+</sup>/Ca (−2,84&nbsp;V) dan Ba<sup>2+</sup>/Ba (−2,92&nbsp;V), dan dekat dengan pasangan [[logam alkali]] tetangga.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 111</ref> Stronsium merupakan perantara antara kalsium dan barium dalam reaktivitasnya terhadap air, yang bereaksi pada kontak untuk menghasilkan [[stronsium hidroksida]] dan gas [[hidrogen]]. Logam stronsium terbakar di udara menghasilkan dan [[stronsium oksida]] serta [[stronsium nitrida]], tetapi karena ia tidak bereaksi dengan [[nitrogen]] di bawah 380&nbsp;°C, pada suhu kamar ia hanya membentuk oksida secara spontan.<ref>C. R. Hammond ''The elements'' (hlm. 4–35) dalam</ref> Selain oksida SrO sederhana, [[peroksida]] SrO<sub>2</sub> dapat dibuat dengan oksidasi langsung logam stronsium di bawah oksigen bertekanan tinggi, dan ada beberapa bukti untuk [[superoksida]] Sr(O<sub>2</sub>)<sub>2</sub> kuning.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 119</ref> [[Stronsium hidroksida]], Sr(OH)<sub>2</sub>, adalah basa kuat, meski tidak sekuat hidroksida barium atau logam alkali.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 121</ref> Keempat dihalida stronsium telah diketahui.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 117</ref>


[[Potensial elektroda standar]] untuk pasangan Sr<sup>2+</sup>/Sr adalah −2,89&nbsp;V, kira-kira di tengah-tengah antara pasangan Ca<sup>2+</sup>/Ca (−2,84&nbsp;V) dan Ba<sup>2+</sup>/Ba (−2,92&nbsp;V), dan dekat dengan pasangan [[logam alkali]] tetangga. Stronsium merupakan perantara antara kalsium dan barium dalam reaktivitasnya terhadap air, yang bereaksi pada kontak untuk menghasilkan [[stronsium hidroksida]] dan gas [[hidrogen]]. Logam stronsium terbakar di udara menghasilkan dan [[stronsium oksida]] serta [[stronsium nitrida]], tetapi karena ia tidak bereaksi dengan [[nitrogen]] di bawah 380&nbsp;°C, pada suhu kamar ia hanya membentuk oksida secara spontan. Selain oksida SrO sederhana, [[peroksida]] SrO<sub>2</sub> dapat dibuat dengan oksidasi langsung logam stronsium di bawah oksigen bertekanan tinggi, dan ada beberapa bukti untuk [[superoksida]] Sr(O<sub>2</sub>)<sub>2</sub> kuning. [[Stronsium hidroksida]], Sr(OH)<sub>2</sub>, adalah basa kuat, meski tidak sekuat hidroksida barium atau logam alkali. Keempat dihalida stronsium telah diketahui.
Karena ukuran besar dari unsur [[Blok tabel periodik#Blok-s|blok-s]] yang berat, termasuk strontium, rentang [[bilangan koordinasi]] yang luas telah diketahui, mulai dari 2, 3, atau 4 hingga 22 atau 24 pada SrCd<sub>11</sub> dan SrZn<sub>13</sub>. Ion Sr<sup>2+</sup> cukup besar, sehingga bilangan koordinasi yang tinggi adalah aturannya.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 115</ref> Ukuran stronsium dan barium yang besar berperan penting dalam menstabilkan kompleks stronsium dengan ligan [[makrosikel|makrosiklik]] [[Dentisitas|polidentat]] seperti [[eter mahkota]]: misalnya, walaupun [[18-Mahkota-6|18-mahkota-6]] membentuk kompleks yang relatif lemah dengan kalsium dan logam alkali, kompleks stronsium dan bariumnya jauh lebih kuat.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 124</ref>


Karena ukuran besar dari unsur [[Blok tabel periodik#Blok-s|blok-s]] yang berat, termasuk strontium, rentang [[bilangan koordinasi]] yang luas telah diketahui, mulai dari 2, 3, atau 4 hingga 22 atau 24 pada SrCd<sub>11</sub> dan SrZn<sub>13</sub>. Ion Sr<sup>2+</sup> cukup besar, sehingga bilangan koordinasi yang tinggi adalah aturannya. Ukuran stronsium dan barium yang besar berperan penting dalam menstabilkan kompleks stronsium dengan ligan [[makrosikel|makrosiklik]] [[Dentisitas|polidentat]] seperti [[eter mahkota]]: misalnya, walaupun [[18-Mahkota-6|18-mahkota-6]] membentuk kompleks yang relatif lemah dengan kalsium dan logam alkali, kompleks stronsium dan bariumnya jauh lebih kuat.
Senyawa organostronsium mengandung satu atau lebih ikatan stronsium–karbon. Mereka telah dilaporkan sebagai perantara dalam reaksi [[reaksi Barbier|jenis Barbier]].<ref>N. Miyoshi. ''The Barbier-Type Alkylation of Aldehydes with Alkyl Halides in the Presence of Metallic Strontium''. ''Bulletin of the Chemical Society of Japan''. 2004. Vol. 77 (2). hlm. 341. doi:10.1246/bcsj.77.341.</ref><ref>N. Miyoshi. [https://archive.org/details/sim_chemistry-letters_2005-06-05_34_6/page/760 The Chemistry of Alkylstrontium Halide Analogues: Barbier-type Alkylation of Imines with Alkyl Halides]. ''Chemistry Letters''. 2005. Vol. 34 (6). hlm. 760. doi:10.1246/cl.2005.760.</ref><ref>N. Miyoshi. ''The Chemistry of Alkylstrontium Halide Analogues, Part 2: Barbier-Type Dialkylation of Esters with Alkyl Halides''. ''European Journal of Organic Chemistry''. 2005. Vol. 2005 (20). hlm. 4253. doi:10.1002/ejoc.200500484.</ref> Meskipun stronsium berada dalam golongan yang sama dengan magnesium, dan [[Kimia organologam golongan 2#Organomagnesium|senyawa organomagnesium]] sangat umum digunakan di seluruh kimia, senyawa organostronsium tidak tersebar luas karena lebih sulit dibuat dan lebih reaktif. Senyawa organostronsium cenderung lebih mirip dengan senyawa organo[[europium]] atau organo[[samarium]] karena kesamaan [[jari-jari ion]]ik unsur-unsur tersebut (Sr<sup>2+</sup> 118&nbsp;pm; Eu<sup>2+</sup> 117&nbsp;pm; Sm<sup>2+</sup> 122&nbsp;pm). Sebagian besar senyawa ini hanya dapat dibuat pada suhu rendah; ligan besar cenderung mendukung stabilitas. Misalnya, stronsium di[[siklopentadienil]], Sr(C<sub>5</sub>H<sub>5</sub>)<sub>2</sub>, harus dibuat dengan mereaksikan logam stronsium secara langsung dengan [[Kimia organoraksa|merkurosena]] atau [[siklopentadiena]] itu sendiri; menggantikan ligan C<sub>5</sub>H<sub>5</sub> dengan ligan C<sub>5</sub>(CH<sub>3</sub>)<sub>5</sub> yang lebih besar, di samping meningkatkan kelarutan, volatilitas, dan stabilitas kinetik senyawa tersebut.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 136–37</ref>


Senyawa organostronsium mengandung satu atau lebih ikatan stronsium–karbon. Mereka telah dilaporkan sebagai perantara dalam reaksi [[reaksi Barbier|jenis Barbier]]. Meskipun stronsium berada dalam golongan yang sama dengan magnesium, dan [[Kimia organologam golongan 2#Organomagnesium|senyawa organomagnesium]] sangat umum digunakan di seluruh kimia, senyawa organostronsium tidak tersebar luas karena lebih sulit dibuat dan lebih reaktif. Senyawa organostronsium cenderung lebih mirip dengan senyawa organo[[europium]] atau organo[[samarium]] karena kesamaan [[jari-jari ion]]ik unsur-unsur tersebut (Sr<sup>2+</sup> 118&nbsp;pm; Eu<sup>2+</sup> 117&nbsp;pm; Sm<sup>2+</sup> 122&nbsp;pm). Sebagian besar senyawa ini hanya dapat dibuat pada suhu rendah; ligan besar cenderung mendukung stabilitas. Misalnya, stronsium di[[siklopentadienil]], Sr(C<sub>5</sub>H<sub>5</sub>)<sub>2</sub>, harus dibuat dengan mereaksikan logam stronsium secara langsung dengan [[Kimia organoraksa|merkurosena]] atau [[siklopentadiena]] itu sendiri; menggantikan ligan C<sub>5</sub>H<sub>5</sub> dengan ligan C<sub>5</sub>(CH<sub>3</sub>)<sub>5</sub> yang lebih besar, di samping meningkatkan kelarutan, volatilitas, dan stabilitas kinetik senyawa tersebut.
Karena reaktivitas ekstremnya dengan [[oksigen]] dan air, stronsium terjadi secara alami hanya dalam bentuk senyawa dengan unsur lain, seperti dalam mineral [[stronsianit]] dan [[selestin]]. Ia disimpan di bawah [[hidrokarbon]] cair seperti [[minyak mineral]] atau [[minyak tanah|kerosin]] untuk mencegah [[Redoks|oksidasi]]; logam stronsium baru yang terpapar akan dengan cepat berubah menjadi warna kekuningan dengan pembentukan oksida. Bubuk logam stronsium halus bersifat [[piroforik]], artinya ia akan menyala secara spontan di udara pada suhu kamar. Garam stronsium yang volatil memberikan warna merah terang pada nyala api, dan garam ini digunakan dalam [[piroteknik|kembang api]] dan produksi [[suar]].<ref>C. R. Hammond ''The elements'' (hlm. 4–35) dalam</ref> Seperti kalsium dan barium, serta logam alkali dan [[lantanida]] divalen [[europium]] dan [[iterbium]], logam stronsium akan langsung larut dalam [[amonia]] cair dan menghasilkan larutan elektron terlarut berwarna biru tua.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 112–13</ref>
 
Karena reaktivitas ekstremnya dengan [[oksigen]] dan air, stronsium terjadi secara alami hanya dalam bentuk senyawa dengan unsur lain, seperti dalam mineral [[stronsianit]] dan [[selestin]]. Ia disimpan di bawah [[hidrokarbon]] cair seperti [[minyak mineral]] atau [[minyak tanah|kerosin]] untuk mencegah [[Redoks|oksidasi]]; logam stronsium baru yang terpapar akan dengan cepat berubah menjadi warna kekuningan dengan pembentukan oksida. Bubuk logam stronsium halus bersifat [[piroforik]], artinya ia akan menyala secara spontan di udara pada suhu kamar. Garam stronsium yang volatil memberikan warna merah terang pada nyala api, dan garam ini digunakan dalam [[piroteknik|kembang api]] dan produksi [[suar]]. Seperti kalsium dan barium, serta logam alkali dan [[lantanida]] divalen [[europium]] dan [[iterbium]], logam stronsium akan langsung larut dalam [[amonia]] cair dan menghasilkan larutan elektron terlarut berwarna biru tua.
===Isotop===
===Isotop===
 
Stronsium alami adalah campuran dari empat [[isotop]] stabil: <sup>84</sup>Sr, <sup>86</sup>Sr, <sup>87</sup>Sr, dan <sup>88</sup>Sr.<ref>C. R. Hammond ''The elements'' (hlm. 4–35) dalam</ref> Kelimpahan mereka meningkat seiring dengan meningkatnya [[nomor massa]] dan yang terberat, <sup>88</sup>Sr, membentuk sekitar 82,6% dari semua stronsium alami, meskipun kelimpahannya bervariasi karena produksi <sup>87</sup>Sr [[Nuklida radiogenik|radiogenik]] sebagai turunan dari <sup>87</sup>[[rubidium|Rb]] yang meluruh melalui [[peluruhan beta]] dan berumur panjang.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 19</ref> Ini adalah dasar dari [[penanggalan rubidium–stronsium]]. Dari semua isotop stronsium yang tak stabil, mode peluruhan utama isotop yang lebih ringan dari <sup>85</sup>Sr adalah [[penangkapan elektron]] atau [[emisi positron]] menjadi isotop rubidium, dan isotop yang lebih berat dari <sup>88</sup>Sr adalah [[emisi elektron]] menjadi isotop [[itrium]]. Catatan khusus ditujukan kepada [[stronsium-89|<sup>89</sup>Sr]] dan [[stronsium-90|<sup>90</sup>Sr]]. Yang pertama memiliki [[waktu paruh]] 50,6&nbsp;hari dan digunakan untuk mengobati [[Tumor tulang|kanker tulang]] karena kesamaan kimiawi stronsium dengan kalsium sehingga ia mampu menggantikannya.<ref>Edward C. Halperin. [https://books.google.com/books?id=NyeE6-aKnSYC&pg=PA1997 Perez and Brady's principles and practice of radiation oncology]. Lippincott Williams & Wilkins. 2008. hlm. 1997–. ISBN 978-0-7817-6369-1.</ref><ref>Glenn Bauman. ''Radiopharmaceuticals for the palliation of painful bone metastases – a systematic review''. ''Radiotherapy and Oncology''. 2005. Vol. 75 (3). hlm. 258.E1–258.E13. doi:10.1016/j.radonc.2005.03.003.</ref> Walaupun <sup>90</sup>Sr (waktu paruh 28,90&nbsp;tahun) telah digunakan dengan cara yang sama, ia juga merupakan isotop yang menjadi perhatian dalam [[luruhan nuklir|luruhan]] dari [[senjata nuklir|senjata]] dan [[Kecelakaan dan insiden nuklir|kecelakaan nuklir]] karena produksinya sebagai [[Produk pembelahan atom|produk fisi]]. Kehadirannya di tulang dapat menyebabkan kanker tulang, kanker jaringan di sekitarnya, dan [[leukemia]].<ref>[http://www.epa.gov/rpdweb00/radionuclides/strontium.html#environment Strontium Radiation Protection US EPA]. EPA. 24 April 2012.</ref> [[Bencana Chernobyl|Kecelakaan nuklir Chernobyl tahun 1986]] mengkontaminasi sekitar 30.000&nbsp;km<sup>2</sup> dengan lebih dari 10&nbsp;kBq/m<sup>2</sup> dengan <sup>90</sup>Sr, yang menyumbang sekitar 5% dari <sup>90</sup>Sr yang ada pada inti reaktor.<ref>[https://www.oecd-nea.org/rp/reports/2003/nea3508-chernobyl.pdf Chernobyl: Assessment of Radiological and Health Impact, 2002 update; Chapter I – The site and accident sequence]. OECD-NEA. 2002.</ref>
Stronsium alami adalah campuran dari empat [[isotop]] stabil: <sup>84</sup>Sr, <sup>86</sup>Sr, <sup>87</sup>Sr, dan <sup>88</sup>Sr. Kelimpahan mereka meningkat seiring dengan meningkatnya [[nomor massa]] dan yang terberat, <sup>88</sup>Sr, membentuk sekitar 82,6% dari semua stronsium alami, meskipun kelimpahannya bervariasi karena produksi <sup>87</sup>Sr [[Nuklida radiogenik|radiogenik]] sebagai turunan dari <sup>87</sup>[[rubidium|Rb]] yang meluruh melalui [[peluruhan beta]] dan berumur panjang. Ini adalah dasar dari [[penanggalan rubidium–stronsium]]. Dari semua isotop stronsium yang tak stabil, mode peluruhan utama isotop yang lebih ringan dari <sup>85</sup>Sr adalah [[penangkapan elektron]] atau [[emisi positron]] menjadi isotop rubidium, dan isotop yang lebih berat dari <sup>88</sup>Sr adalah [[emisi elektron]] menjadi isotop [[itrium]]. Catatan khusus ditujukan kepada [[stronsium-89|<sup>89</sup>Sr]] dan [[stronsium-90|<sup>90</sup>Sr]]. Yang pertama memiliki [[waktu paruh]] 50,6&nbsp;hari dan digunakan untuk mengobati [[Tumor tulang|kanker tulang]] karena kesamaan kimiawi stronsium dengan kalsium sehingga ia mampu menggantikannya. Walaupun <sup>90</sup>Sr (waktu paruh 28,90&nbsp;tahun) telah digunakan dengan cara yang sama, ia juga merupakan isotop yang menjadi perhatian dalam [[luruhan nuklir|luruhan]] dari [[senjata nuklir|senjata]] dan [[Kecelakaan dan insiden nuklir|kecelakaan nuklir]] karena produksinya sebagai [[Produk pembelahan atom|produk fisi]]. Kehadirannya di tulang dapat menyebabkan kanker tulang, kanker jaringan di sekitarnya, dan [[leukemia]]. [[Bencana Chernobyl|Kecelakaan nuklir Chernobyl tahun 1986]] mengkontaminasi sekitar 30.000&nbsp;km<sup>2</sup> dengan lebih dari 10&nbsp;kBq/m<sup>2</sup> dengan <sup>90</sup>Sr, yang menyumbang sekitar 5% dari <sup>90</sup>Sr yang ada pada inti reaktor.
==Sejarah==
==Sejarah==
Stronsium dinamai dari [[Strontian]] ([[Bahasa Gaelik Skotlandia|Gaelik]]: ''Sròn an t-Sìthein''), sebuah desa di Skotlandia, di mana ia ditemukan pada bijih dari tambang timbal.<ref>Murray, W. H. [https://archive.org/details/companionguideto00murr The Companion Guide to the West Highlands of Scotland]. Collins. 1977. ISBN 978-0-00-211135-5.</ref>


Stronsium dinamai dari [[Strontian]] ([[Bahasa Gaelik Skotlandia|Gaelik]]: ''Sròn an t-Sìthein''), sebuah desa di Skotlandia, di mana ia ditemukan pada bijih dari tambang timbal.
Pada tahun 1790, [[Adair Crawford]], seorang dokter yang terlibat dalam persiapan barium, dan rekannya [[William Cruickshank (kimiawan)|William Cruickshank]], menyadari bahwa bijih dari Strontian menunjukkan sifat yang berbeda dari sumber "spar berat" lainnya.<ref>Adair Crawford. [https://books.google.com/books?id=bHI_AAAAcAAJ&pg=P301 On the medicinal properties of the muriated barytes]. ''Medical Communications''. 1790. Vol. 2. hlm. 301–59.</ref> Hal ini memungkinkan Crawford untuk menyimpulkan pada halaman 355 "...&nbsp;sangat mungkin, bahwa mineral skoc adalah spesies tanah baru yang sampai saat ini belum diteliti secara memadai." Dokter dan pengumpul mineral [[Friedrich Gabriel Sulzer]] bersama dengan [[Johann Friedrich Blumenbach]] menganalisis mineral dari Strontian dan menamainya stronsianit. Dia juga sampai pada kesimpulan bahwa mineral itu berbeda dari [[witerit]] dan mengandung tanah baru ''(neue Grunderde).''<ref>Friedrich Gabriel Sulzer. [https://books.google.com/books?id=gCY7AAAAcAAJ&pg=PA433 Über den Strontianit, ein Schottisches Foßil, das ebenfalls eine neue Grunderde zu enthalten scheint]. ''Bergmännisches Journal''. 1791. hlm. 433–36.</ref> Pada tahun 1793 [[Thomas Charles Hope]], seorang profesor kimia di Universitas Glasgow mempelajari mineral tersebut<ref>[http://www.chem.ed.ac.uk/about-us/history/professors/thomas-charles-hope Thomas Charles Hope, MD, FRSE, FRS (1766-1844) - School of Chemistry]. ''www.chem.ed.ac.uk''.</ref><ref>Doyle, W.P. [http://www.chem.ed.ac.uk/about/professors/hope.html Thomas Charles Hope, MD, FRSE, FRS (1766–1844)]. The University of Edinburgh.</ref> dan mengusulkan nama ''strontites''.<ref>Meskipun Thomas C. Hope telah menyelidiki bijih stronsium sejak 1791, penelitiannya dipublikasikan dalam: Thomas Charles Hope. [https://books.google.com/books?id=5TEeAQAAMAAJ&pg=RA1-PA3 Account of a mineral from Strontian and of a particular species of earth which it contains]. ''Transactions of the Royal Society of Edinburgh''. 1798. Vol. 4 (2). hlm. 3–39. doi:10.1017/S0080456800030726.</ref><ref>Murray, T. ''Elementary Scots: The Discovery of Strontium''. ''Scottish Medical Journal''. 1993. Vol. 38 (6). hlm. 188–89. doi:10.1177/003693309303800611.</ref><ref>Thomas Charles Hope. [https://books.google.com/books?id=7StFAAAAcAAJ&pg=PA143 Account of a mineral from Strontian and of a particular species of earth which it contains]. ''Transactions of the Royal Society of Edinburgh''. 1794. Vol. 3 (2). hlm. 141–49. doi:10.1017/S0080456800020275.</ref> Dia mengonfirmasi karya Crawford sebelumnya dan menceritakan: "...&nbsp;Mengingat itu adalah tanah yang aneh, saya pikir perlu memberinya nama. Saya menyebutnya Strontites, dari tempat di mana ia ditemukan; menurut pendapat saya, sebuah mode turunan, sepenuhnya sesuai dengan kualitas apa pun yang mungkin dimilikinya, yang merupakan fesyen saat ini." Unsur ini akhirnya diisolasi oleh Sir [[Humphry Davy]] pada tahun 1808 melalui [[elektrolisis]] campuran yang mengandung [[stronsium klorida]] dan [[Raksa(II) oksida|merkurat oksida]], dan diumumkan olehnya dalam sebuah lektur di Royal Society pada tanggal 30 Juni 1808.<ref>H. Davy. [https://books.google.com/books?id=gpwEAAAAYAAJ&pg=102 Electro-chemical researches on the decomposition of the earths; with observations on the metals obtained from the alkaline earths, and on the amalgam procured from ammonia]. ''Philosophical Transactions of the Royal Society of London''. 1808. Vol. 98. hlm. 333–70. doi:10.1098/rstl.1808.0023.</ref> Sesuai dengan penamaan alkali tanah lainnya, dia mengubah nama unsur ini menjadi ''strontium''.<ref>Taylor, Stuart. [http://www.lochaber-news.co.uk/news/fullstory.php/aid/2644/Strontian_gets_set_for_anniversary.html Strontian gets set for anniversary]. Lochaber News. 19 Juni 2008.</ref><ref>Weeks, Mary Elvira. [https://archive.org/details/sim_journal-of-chemical-education_january-june-1932_9_1-6/page/1046 The discovery of the elements: X. The alkaline earth metals and magnesium and cadmium]. ''Journal of Chemical Education''. 1932. Vol. 9 (6). hlm. 1046–57. doi:10.1021/ed009p1046.</ref><ref>J. R. Partington. ''The early history of strontium''. ''Annals of Science''. 1942. Vol. 5 (2). hlm. 157. doi:10.1080/00033794200201411.</ref><ref>J. R. Partington. ''The early history of strontium. Part II''. ''Annals of Science''. 1951. Vol. 7. hlm. 95. doi:10.1080/00033795100202211.</ref><ref>Banyak penyelidik awal lainnya memeriksa bijih stronsium, di antaranya: '''(1)''' Martin Heinrich Klaproth, "Chemische Versuche über die Strontianerde" (Eksperimen kimia pada bijih stronsian), ''Crell's Annalen'' (September 1793) no. ii, hlm. 189–202 ; dan "Nachtrag zu den Versuchen über die Strontianerde" (Penambahan Eksperimen pada Bijih Stronsian), ''Crell's Annalen'' (Februari 1794) no. i, hlm. 99 ; juga '''(2)''' Richard Kirwan. ''Experiments on a new earth found near Stronthian in Scotland''. ''The Transactions of the Royal Irish Academy''. 1794. Vol. 5. hlm. 243–56.</ref>


Pada tahun 1790, [[Adair Crawford]], seorang dokter yang terlibat dalam persiapan barium, dan rekannya [[William Cruickshank (kimiawan)|William Cruickshank]], menyadari bahwa bijih dari Strontian menunjukkan sifat yang berbeda dari sumber "spar berat" lainnya. Hal ini memungkinkan Crawford untuk menyimpulkan pada halaman 355 "...&nbsp;sangat mungkin, bahwa mineral skoc adalah spesies tanah baru yang sampai saat ini belum diteliti secara memadai." Dokter dan pengumpul mineral [[Friedrich Gabriel Sulzer]] bersama dengan [[Johann Friedrich Blumenbach]] menganalisis mineral dari Strontian dan menamainya stronsianit. Dia juga sampai pada kesimpulan bahwa mineral itu berbeda dari [[witerit]] dan mengandung tanah baru ''(neue Grunderde).'' Pada tahun 1793 [[Thomas Charles Hope]], seorang profesor kimia di Universitas Glasgow mempelajari mineral tersebut dan mengusulkan nama ''strontites''. Dia mengonfirmasi karya Crawford sebelumnya dan menceritakan: "...&nbsp;Mengingat itu adalah tanah yang aneh, saya pikir perlu memberinya nama. Saya menyebutnya Strontites, dari tempat di mana ia ditemukan; menurut pendapat saya, sebuah mode turunan, sepenuhnya sesuai dengan kualitas apa pun yang mungkin dimilikinya, yang merupakan fesyen saat ini." Unsur ini akhirnya diisolasi oleh Sir [[Humphry Davy]] pada tahun 1808 melalui [[elektrolisis]] campuran yang mengandung [[stronsium klorida]] dan [[Raksa(II) oksida|merkurat oksida]], dan diumumkan olehnya dalam sebuah lektur di Royal Society pada tanggal 30 Juni 1808. Sesuai dengan penamaan alkali tanah lainnya, dia mengubah nama unsur ini menjadi ''strontium''.
Aplikasi stronsium skala besar pertama adalah dalam produksi gula dari [[bit gula]]. Meskipun proses kristalisasi menggunakan stronsium hidroksida dipatenkan oleh [[Augustin-Pierre Dubrunfaut]] pada tahun 1849,<ref>Fachgruppe Geschichte Der Chemie, Gesellschaft Deutscher Chemiker. [https://books.google.com/books?id=xDkoAQAAIAAJ&q=dubrunfaut+strontium Metalle in der Elektrochemie]. 2005. hlm. 158–62.</ref> pengenalan skala besar datang dengan perbaikan proses pada awal tahun 1870-an. [[Industri gula]] Jerman menggunakan proses tersebut hingga abad ke-20. Sebelum [[Perang Dunia I]], industri gula bit menggunakan 100.000 hingga 150.000 ton stronsium hidroksida untuk  [[Proses strontian|proses]] ini per tahun.<ref>Heriot, T. H. P. [https://books.google.com/books?id=-vd_cn4K8NUC&pg=PA341 Manufacture of Sugar from the Cane and Beet]. 2008. ISBN 978-1-4437-2504-0.</ref> Stronsium hidroksida didaur ulang dalam prosesnya, tetapi permintaan untuk mengganti kerugian selama produksi cukup tinggi untuk menciptakan permintaan yang signifikan untuk memulai penambangan stronsianit di [[Münster (wilayah)|Münsterland]]. Penambangan stronsianit di Jerman berakhir ketika penambangan deposit [[selestin]] di [[Gloucestershire]] dimulai.<ref>Martin Börnchen. [http://www.lwl.org/LWL/Kultur/Westfalen_Regional/Wirtschaft/Bergbau/Strontianitbergbau/ Der Strontianitbergbau im Münsterland].</ref> Tambang-tambang ini memasok sebagian besar pasokan stronsium dunia dari tahun 1884 hingga 1941. Meskipun endapan selestin di [[cekungan Granada]] telah dikenal selama beberapa waktu, penambangan skala besar tidak dimulai hingga tahun 1950-an.<ref>Josèm Martin. [https://archive.org/details/sedimentary-geology_1984-05_39_3-4/page/281 Genesis and evolution of strontium deposits of the granada basin (Southeastern Spain): Evidence of diagenetic replacement of a stromatolite belt]. ''Sedimentary Geology''. 1984. Vol. 39 (3–4). hlm. 281. doi:10.1016/0037-0738(84)90055-1.</ref>


Aplikasi stronsium skala besar pertama adalah dalam produksi gula dari [[bit gula]]. Meskipun proses kristalisasi menggunakan stronsium hidroksida dipatenkan oleh [[Augustin-Pierre Dubrunfaut]] pada tahun 1849, pengenalan skala besar datang dengan perbaikan proses pada awal tahun 1870-an. [[Industri gula]] Jerman menggunakan proses tersebut hingga abad ke-20. Sebelum [[Perang Dunia I]], industri gula bit menggunakan 100.000 hingga 150.000 ton stronsium hidroksida untuk  [[Proses strontian|proses]] ini per tahun. Stronsium hidroksida didaur ulang dalam prosesnya, tetapi permintaan untuk mengganti kerugian selama produksi cukup tinggi untuk menciptakan permintaan yang signifikan untuk memulai penambangan stronsianit di [[Münster (wilayah)|Münsterland]]. Penambangan stronsianit di Jerman berakhir ketika penambangan deposit [[selestin]] di [[Gloucestershire]] dimulai. Tambang-tambang ini memasok sebagian besar pasokan stronsium dunia dari tahun 1884 hingga 1941. Meskipun endapan selestin di [[cekungan Granada]] telah dikenal selama beberapa waktu, penambangan skala besar tidak dimulai hingga tahun 1950-an.
Selama [[Uji coba nuklir|pengujian senjata nuklir]] atmosfer, telah diamati bahwa stronsium-90 adalah salah satu [[Produk pembelahan atom|produk fisi nuklir]] dengan hasil yang relatif tinggi. Kesamaan dengan kalsium dan kemungkinan bahwa stronsium-90 dapat diperkaya dalam tulang membuat penelitian tentang metabolisme stronsium menjadi topik penting.<ref>[http://www-nds.iaea.org/sgnucdat/c1.htm Chain Fission Yields]. iaea.org.</ref><ref>B. E. Nordin. ''Strontium Comes of Age''. ''British Medical Journal''. 1968. Vol. 1 (5591). hlm. 566. doi:10.1136/bmj.1.5591.566.</ref>
 
Selama [[Uji coba nuklir|pengujian senjata nuklir]] atmosfer, telah diamati bahwa stronsium-90 adalah salah satu [[Produk pembelahan atom|produk fisi nuklir]] dengan hasil yang relatif tinggi. Kesamaan dengan kalsium dan kemungkinan bahwa stronsium-90 dapat diperkaya dalam tulang membuat penelitian tentang metabolisme stronsium menjadi topik penting.
==Keterjadian==
==Keterjadian==
Stronsium umumnya terdapat di alam, menjadi [[Kelimpahan unsur|unsur paling melimpah]] ke-15 di Bumi (kongenernya yang lebih berat, barium, berada di urutan ke-14), diperkirakan jumlah rata-ratanya sekitar 360&nbsp;[[Notasi bagian per#Bagian per juta|bagian per juta]] di [[Kelimpahan unsur di kerak Bumi|kerak Bumi]]<ref>K. K. Turekian. ''Distribution of the elements in some major units of the Earth's crust''. ''Geological Society of America Bulletin''. 1961. Vol. 72 (2). hlm. 175–92. doi:10.1130/0016-7606(1961)72[175:DOTEIS]2.0.CO;2.</ref> dan ditemukan terutama sebagai [[mineral]] [[sulfat]] [[selestin]] (SrSO<sub>4</sub>) dan [[karbonat]] [[stronsianit]] (SrCO<sub>3</sub>). Dari keduanya, selestin lebih sering terjadi pada endapan dengan ukuran yang cukup untuk ditambang. Karena stronsium paling sering digunakan dalam bentuk karbonat, stronsianit akan lebih bermanfaat dari dua mineral umum, tetapi hanya sedikit endapan yang ditemukan yang cocok untuk dikembangkan.<ref>Joyce A. Ober. [http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/strontium/mcs-2010-stron.pdf Mineral Commodity Summaries 2010: Strontium]. Survei Geologi A.S.</ref> Karena caranya dalam bereaksi dengan udara dan air, stronsium hanya ada di alam bila dikombinasikan untuk membentuk mineral. Stronsium yang terjadi secara alami stabil, tetapi isotop sintetisnya, <sup>90</sup>Sr, hanya dihasilkan oleh luruhan nuklir.


Dalam air tanah, stronsium berperilaku secara kimia seperti kalsium. Pada [[pH]] menengah hingga asam, Sr<sup>2+</sup> merupakan spesies stronsium yang dominan. Dengan adanya ion kalsium, stronsium biasanya membentuk [[Kopresipitasi|kopresipitat]] dengan mineral kalsium seperti [[kalsit]] dan anhidrit pada peningkatan pH. Pada pH menengah hingga asam, stronsium yay terlarut akan terikat pada partikel tanah melalui [[Kapasitas pertukaran kation|pertukaran kation]].<ref>Heuel-Fabianek, B. [http://juser.fz-juelich.de/record/154001/files/FZJ-2014-03430.pdf Partition Coefficients (Kd) for the Modelling of Transport Processes of Radionuclides in Groundwater]. ''Berichte des Forschungszentrums Jülich''. 2014. Vol. 4375.</ref>


Stronsium umumnya terdapat di alam, menjadi [[Kelimpahan unsur|unsur paling melimpah]] ke-15 di Bumi (kongenernya yang lebih berat, barium, berada di urutan ke-14), diperkirakan jumlah rata-ratanya sekitar 360&nbsp;[[Notasi bagian per#Bagian per juta|bagian per juta]] di [[Kelimpahan unsur di kerak Bumi|kerak Bumi]] dan ditemukan terutama sebagai [[mineral]] [[sulfat]] [[selestin]] (SrSO<sub>4</sub>) dan [[karbonat]] [[stronsianit]] (SrCO<sub>3</sub>). Dari keduanya, selestin lebih sering terjadi pada endapan dengan ukuran yang cukup untuk ditambang. Karena stronsium paling sering digunakan dalam bentuk karbonat, stronsianit akan lebih bermanfaat dari dua mineral umum, tetapi hanya sedikit endapan yang ditemukan yang cocok untuk dikembangkan. Karena caranya dalam bereaksi dengan udara dan air, stronsium hanya ada di alam bila dikombinasikan untuk membentuk mineral. Stronsium yang terjadi secara alami stabil, tetapi isotop sintetisnya, <sup>90</sup>Sr, hanya dihasilkan oleh luruhan nuklir.
Kandungan rata-rata stronsium air laut adalah 8&nbsp;mg/L.<ref>Stringfield, V. T. [https://books.google.com/books?id=8eQqAQAAIAAJ&pg=PA138 Artesian water in Tertiary limestone in the southeastern States]. United States Government Printing Office. 1966. hlm. 138–39.</ref><ref>Ernest E. Angino. ''Observed variations in the strontium concentration of sea water''. ''Chemical Geology''. 1966. Vol. 1. hlm. 145. doi:10.1016/0009-2541(66)90013-1.</ref> Pada konsentrasi antara 82 dan 90&nbsp;μmol/L stronsium, konsentrasinya jauh lebih rendah daripada konsentrasi kalsium, yang biasanya antara 9,6 dan 11,6&nbsp;mmol/L.<ref>Y. Sun. [https://archive.org/details/sim_coral-reefs_2005-03_24_1/page/23 Influence of seawater Sr content on coral Sr/Ca and Sr thermometry]. ''Coral Reefs''. 2005. Vol. 24. hlm. 23. doi:10.1007/s00338-004-0467-x.</ref><ref>Jessica Elzea Kogel. [https://books.google.com/books?id=zNicdkuulE4C&pg=PA928 Industrial Minerals & Rocks: Commodities, Markets, and Uses]. 5 March 2006. ISBN 978-0-87335-233-8.</ref> Namun demikian, ia jauh lebih tinggi dari barium, dengan konsentrasi yang hanya sebesar 13&nbsp;μg/L.<ref>C. R. Hammond ''The elements'' (hlm. 4–35) dalam</ref>
 
Dalam air tanah, stronsium berperilaku secara kimia seperti kalsium. Pada [[pH]] menengah hingga asam, Sr<sup>2+</sup> merupakan spesies stronsium yang dominan. Dengan adanya ion kalsium, stronsium biasanya membentuk [[Kopresipitasi|kopresipitat]] dengan mineral kalsium seperti [[kalsit]] dan anhidrit pada peningkatan pH. Pada pH menengah hingga asam, stronsium yay terlarut akan terikat pada partikel tanah melalui [[Kapasitas pertukaran kation|pertukaran kation]].
 
Kandungan rata-rata stronsium air laut adalah 8&nbsp;mg/L. Pada konsentrasi antara 82 dan 90&nbsp;μmol/L stronsium, konsentrasinya jauh lebih rendah daripada konsentrasi kalsium, yang biasanya antara 9,6 dan 11,6&nbsp;mmol/L. Namun demikian, ia jauh lebih tinggi dari barium, dengan konsentrasi yang hanya sebesar 13&nbsp;μg/L.
==Produksi==
==Produksi==
Tiga produsen utama stronsium sebagai selestin pada 2015 adalah Tiongkok (150.000&nbsp;[[Ton metrik|t]]), Spanyol (90.000&nbsp;t), dan Meksiko (70.000&nbsp;t); Argentina (10.000&nbsp;t) dan Maroko (2.500&nbsp;t) adalah produsen yang lebih kecil. Meskipun deposit stronsium terdapat secara luas di Amerika Serikat, mereka belum ditambang sejak tahun 1959.<ref>Joyce A. Ober. [http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/strontium/mcs-2015-stron.pdf Mineral Commodity Summaries 2015: Strontium]. Survei Geologi A.S.</ref>


 
Sebagian besar selestin (SrSO<sub>4</sub>) yang ditambang diubah menjadi karbonat melalui dua proses, baik selestin langsung dicuci dengan larutan natrium karbonat ataupun selestin dipanggang dengan batu bara untuk membentuk sulfida. Tahap kedua menghasilkan bahan berwarna gelap yang sebagian besar mengandung [[stronsium sulfida]]. Yang disebut "abu hitam" ini dilarutkan dalam air dan disaring. Stronsium karbonat diendapkan dari larutan stronsium sulfida dengan memasukkan [[karbon dioksida]].<ref>Mevlüt Kemal. [https://books.google.com/books?id=5smDPzkw0wEC&pg=PA401 Production of SrCO 3 by black ash process: Determination of reductive roasting parameters]. 1996. hlm. 401. ISBN 978-90-5410-829-0.</ref> Stronsium sulfat [[Redoks|direduksi]] menjadi stronsium [[sulfida]] melalui [[Reaksi karbotermik|reduksi karbotermik]]:
Tiga produsen utama stronsium sebagai selestin pada 2015 adalah Tiongkok (150.000&nbsp;[[Ton metrik|t]]), Spanyol (90.000&nbsp;t), dan Meksiko (70.000&nbsp;t); Argentina (10.000&nbsp;t) dan Maroko (2.500&nbsp;t) adalah produsen yang lebih kecil. Meskipun deposit stronsium terdapat secara luas di Amerika Serikat, mereka belum ditambang sejak tahun 1959.
 
Sebagian besar selestin (SrSO<sub>4</sub>) yang ditambang diubah menjadi karbonat melalui dua proses, baik selestin langsung dicuci dengan larutan natrium karbonat ataupun selestin dipanggang dengan batu bara untuk membentuk sulfida. Tahap kedua menghasilkan bahan berwarna gelap yang sebagian besar mengandung [[stronsium sulfida]]. Yang disebut "abu hitam" ini dilarutkan dalam air dan disaring. Stronsium karbonat diendapkan dari larutan stronsium sulfida dengan memasukkan [[karbon dioksida]]. Stronsium sulfat [[Redoks|direduksi]] menjadi stronsium [[sulfida]] melalui [[Reaksi karbotermik|reduksi karbotermik]]:
:SrSO<sub>4</sub> + 2 C  →  SrS + 2 CO<sub>2</sub>
:SrSO<sub>4</sub> + 2 C  →  SrS + 2 CO<sub>2</sub>
Sekitar 300.000 ton diproses dengan cara ini setiap tahunnya.
Sekitar 300.000 ton diproses dengan cara ini setiap tahunnya.<ref>MacMillan, J. Paul; Park, Jai Won; Gerstenberg, Rolf; Wagner, Heinz; Köhler, Karl dan Wallbrecht, Peter (2002) "Strontium and Strontium Compounds" dalam ''Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry'', Wiley-VCH, Weinheim. .</ref>


Logam ini diproduksi secara komersial dengan mereduksi stronsium [[oksida]] dengan [[aluminium]]. Stronsium [[distilasi|disuling]] dari campuran. Logam stronsium juga dapat dibuat dalam skala kecil dengan [[elektrolisis]] larutan [[stronsium klorida]] dalam [[kalium klorida]] cair:
Logam ini diproduksi secara komersial dengan mereduksi stronsium [[oksida]] dengan [[aluminium]]. Stronsium [[distilasi|disuling]] dari campuran.<ref>MacMillan, J. Paul; Park, Jai Won; Gerstenberg, Rolf; Wagner, Heinz; Köhler, Karl dan Wallbrecht, Peter (2002) "Strontium and Strontium Compounds" dalam ''Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry'', Wiley-VCH, Weinheim. .</ref> Logam stronsium juga dapat dibuat dalam skala kecil dengan [[elektrolisis]] larutan [[stronsium klorida]] dalam [[kalium klorida]] cair:<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 111</ref>
:Sr<sup>2+</sup> + 2  → Sr
:Sr<sup>2+</sup> + 2  → Sr
:2 Cl<sup>−</sup> → Cl<sub>2</sub> + 2
:2 Cl<sup>−</sup> → Cl<sub>2</sub> + 2  
==Aplikasi==
==Aplikasi==
Mengonsumsi 75% dari produksi, penggunaan utama stronsium adalah kaca untuk [[Tabung sinar katode|tabung sinar katoda]] televisi berwarna,<ref>MacMillan, J. Paul; Park, Jai Won; Gerstenberg, Rolf; Wagner, Heinz; Köhler, Karl dan Wallbrecht, Peter (2002) "Strontium and Strontium Compounds" dalam ''Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry'', Wiley-VCH, Weinheim. .</ref> di mana ia mencegah emisi [[sinar-X]].<ref>[http://yosemite.epa.gov/ee/epa/riafile.nsf/419e576a3df1421685256470007e3141/5a52093c460136ac85256cf6008062d0/$FILE/S99-23.pdf Cathode Ray Tube Glass-To-Glass Recycling]. ICF Incorporated, USEP Agency.</ref><ref>Joyce A. Ober. [http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/strontium/myb1-2007-stron.pdf Mineral Yearbook 2007: Strontium]. Survei Geologi A.S.</ref> Aplikasi untuk stronsium ini telah menurun karena CRT digantikan oleh metode tampilan lainnya. Penurunan ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penambangan dan pemurnian stronsium.<ref>Joyce A. Ober. [http://minerals.usgs.gov/minerals/pubs/commodity/strontium/mcs-2010-stron.pdf Mineral Commodity Summaries 2010: Strontium]. Survei Geologi A.S.</ref> Semua bagian CRT harus menyerap sinar-X. Di leher dan corong tabung, kaca timbal digunakan untuk tujuan ini, tetapi kaca jenis ini menunjukkan efek kecoklatan akibat interaksi sinar-X dengan kaca. Oleh karena itu, panel depan dibuat dari campuran kaca yang berbeda dengan stronsium dan barium untuk menyerap sinar-X. Nilai rata-rata campuran kaca yang ditentukan untuk studi daur ulang pada tahun 2005 adalah 8,5% [[stronsium oksida]] dan 10% [[barium oksida]].<ref>F. Méar. ''The characterization of waste cathode-ray tube glass''. ''Waste Management''. 2006. Vol. 26 (12). hlm. 1468–76. doi:10.1016/j.wasman.2005.11.017.</ref>


Mengonsumsi 75% dari produksi, penggunaan utama stronsium adalah kaca untuk [[Tabung sinar katode|tabung sinar katoda]] televisi berwarna, di mana ia mencegah emisi [[sinar-X]]. Aplikasi untuk stronsium ini telah menurun karena CRT digantikan oleh metode tampilan lainnya. Penurunan ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penambangan dan pemurnian stronsium. Semua bagian CRT harus menyerap sinar-X. Di leher dan corong tabung, kaca timbal digunakan untuk tujuan ini, tetapi kaca jenis ini menunjukkan efek kecoklatan akibat interaksi sinar-X dengan kaca. Oleh karena itu, panel depan dibuat dari campuran kaca yang berbeda dengan stronsium dan barium untuk menyerap sinar-X. Nilai rata-rata campuran kaca yang ditentukan untuk studi daur ulang pada tahun 2005 adalah 8,5% [[stronsium oksida]] dan 10% [[barium oksida]].
Karena strontium sangat mirip dengan kalsium, ia akan tergabung dalam tulang. Keempat isotop stronsium yang stabil digabungkan, dalam proporsi yang kira-kira sama dengan yang ditemukan di alam. Namun, distribusi sebenarnya dari isotop tersebut cenderung sangat bervariasi dari satu lokasi geografis ke lokasi lainnya. Jadi, menganalisis tulang seseorang dapat membantu menentukan daerah asalnya.<ref>T. Douglas Price. [https://archive.org/details/journal-of-human-evolution_1985-07_14_5/page/419 Bone chemistry and past behavior: an overview]. ''Journal of Human Evolution''. 1985. Vol. 14 (5). hlm. 419–47. doi:10.1016/S0047-2484(85)80022-1.</ref><ref>Luville T. Steadman. [https://archive.org/details/sim_american-dental-association-the-journal_1958-09_57_3/page/340 Distribution of strontium in teeth from different geographic areas]. ''The Journal of the American Dental Association''. 1958. Vol. 57 (3). hlm. 340–44. doi:10.14219/jada.archive.1958.0161.</ref> Pendekatan ini membantu mengidentifikasi pola migrasi kuno dan asal-usul sisa-sisa manusia yang bercampur di situs pemakaman medan perang.<ref>Matthew Mike Schweissing. ''Stable strontium isotopes in human teeth and bone: a key to migration events of the late Roman period in Bavaria''. ''Journal of Archaeological Science''. 2003. Vol. 30 (11). hlm. 1373–83. doi:10.1016/S0305-4403(03)00025-6.</ref>


Karena strontium sangat mirip dengan kalsium, ia akan tergabung dalam tulang. Keempat isotop stronsium yang stabil digabungkan, dalam proporsi yang kira-kira sama dengan yang ditemukan di alam. Namun, distribusi sebenarnya dari isotop tersebut cenderung sangat bervariasi dari satu lokasi geografis ke lokasi lainnya. Jadi, menganalisis tulang seseorang dapat membantu menentukan daerah asalnya. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi pola migrasi kuno dan asal-usul sisa-sisa manusia yang bercampur di situs pemakaman medan perang.
Rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr umumnya digunakan untuk menentukan kemungkinan daerah asal sedimen dalam sistem alami, terutama pada [[habitat laut|lingkungan laut]] dan [[sungai|fluvial]]. Dasch (1969) menunjukkan bahwa sedimen permukaan Atlantik menampilkan rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr yang dapat dianggap sebagai rata-rata curah dari rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr medan geologis dari daratan yang berdekatan.<ref>J. Dasch. ''Strontium isotopes in weathering profiles, deep-sea sediments, and sedimentary rocks''. ''Geochimica et Cosmochimica Acta''. 1969. Vol. 33 (12). hlm. 1521–52. doi:10.1016/0016-7037(69)90153-7.</ref> Sebuah contoh yang baik dari sistem fluvial-laut di mana studi sumber isotop Sr telah berhasil digunakan adalah sistem Sungai Nil-Mediterania.<ref>M. D. Krom. [https://archive.org/details/sim_marine-geology_1999-03-01_155_3-4/page/319 The characterisation of Saharan dusts and Nile particulate matter in surface sediments from the Levantine basin using Sr isotopes]. ''Marine Geology''. 1999. Vol. 155 (3–4). hlm. 319–30. doi:10.1016/S0025-3227(98)00130-3.</ref> Karena usia batuan yang berbeda yang merupakan mayoritas dari [[Nil Biru]] dan [[Nil Putih|Putih]], [[daerah tangkapan]] dari sumber perubahan sedimen mencapai [[Delta Nil|Delta Sungai Nil]] dan Laut Mediterania Timur dapat dilihat melalui studi isotop strontium. Perubahan tersebut dikendalikan secara iklim pada [[Holosen|Kuarter Akhir]].<ref>M. D. Krom. [https://archive.org/details/sim_marine-geology_1999-03-01_155_3-4/page/319 The characterisation of Saharan dusts and Nile particulate matter in surface sediments from the Levantine basin using Sr isotopes]. ''Marine Geology''. 1999. Vol. 155 (3–4). hlm. 319–30. doi:10.1016/S0025-3227(98)00130-3.</ref>


Rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr umumnya digunakan untuk menentukan kemungkinan daerah asal sedimen dalam sistem alami, terutama pada [[habitat laut|lingkungan laut]] dan [[sungai|fluvial]]. Dasch (1969) menunjukkan bahwa sedimen permukaan Atlantik menampilkan rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr yang dapat dianggap sebagai rata-rata curah dari rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr medan geologis dari daratan yang berdekatan. Sebuah contoh yang baik dari sistem fluvial-laut di mana studi sumber isotop Sr telah berhasil digunakan adalah sistem Sungai Nil-Mediterania. Karena usia batuan yang berbeda yang merupakan mayoritas dari [[Nil Biru]] dan [[Nil Putih|Putih]], [[daerah tangkapan]] dari sumber perubahan sedimen mencapai [[Delta Nil|Delta Sungai Nil]] dan Laut Mediterania Timur dapat dilihat melalui studi isotop strontium. Perubahan tersebut dikendalikan secara iklim pada [[Holosen|Kuarter Akhir]].
Baru-baru ini, rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr juga telah digunakan untuk menentukan sumber bahan arkeologi kuno seperti kayu dan jagung di [[Taman Sejarah Nasional Chaco Culture|Chaco Canyon, New Mexico]].<ref>Benson, L. ''Ancient maize from Chacoan great houses: where was it grown?''. ''Proceedings of the National Academy of Sciences''. 2003. Vol. 100 (22). hlm. 13111–15. doi:10.1073/pnas.2135068100.</ref><ref>English NB. ''Strontium isotopes reveal distant sources of architectural timber in Chaco Canyon, New Mexico''. ''Proc Natl Acad Sci USA''. October 2001. Vol. 98 (21). hlm. 11891–96. doi:10.1073/pnas.211305498.</ref> Rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr pada gigi juga dapat digunakan untuk [[Pelacakan migrasi hewan|melacak migrasi hewan]].<ref>Barnett-Johnson, Rachel. [https://zenodo.org/record/1235897 Identifying the contribution of wild and hatchery Chinook salmon (Oncorhynchus tshawytscha) to the ocean fishery using otolith microstructure as natural tags]. ''Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences''. 2007. Vol. 64 (12). hlm. 1683–92. doi:10.1139/F07-129.</ref><ref>Porder, S. [https://archive.org/details/sim_paleobiology_spring-2003_29_2/page/197 Mapping the origin of faunal assemblages using strontium isotopes]. ''Paleobiology''. 2003. Vol. 29 (2). hlm. 197–204. doi:10.1666/0094-8373(2003)029 2.0.CO;2.</ref>


Baru-baru ini, rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr juga telah digunakan untuk menentukan sumber bahan arkeologi kuno seperti kayu dan jagung di [[Taman Sejarah Nasional Chaco Culture|Chaco Canyon, New Mexico]]. Rasio <sup>87</sup>Sr/<sup>86</sup>Sr pada gigi juga dapat digunakan untuk [[Pelacakan migrasi hewan|melacak migrasi hewan]].
[[Stronsium aluminat]] sering digunakan dalam mainan [[Fosforesensi|yang dapat bersinar dalam kegelapan]], karena bersifat lengai secara kimiawi dan biologis.<ref>David Van der Heggen. [https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/adfm.202208809 Persistent Luminescence in Strontium Aluminate: A Roadmap to a Brighter Future]. ''Advanced Functional Materials''. Oktober 2022. Vol. 32 (52). doi:10.1002/adfm.202208809.</ref>


[[Stronsium aluminat]] sering digunakan dalam mainan [[Fosforesensi|yang dapat bersinar dalam kegelapan]], karena bersifat lengai secara kimiawi dan biologis.
[[Stronsium karbonat]] dan [[Garam (kimia)|garam]] stronsium lainnya ditambahkan pada kembang api untuk memberikan warna merah tua.<ref>[http://chemistry.about.com/od/fireworkspyrotechnics/a/fireworkcolors.htm Chemistry of Firework Colors – How Fireworks Are Colored]. Chemistry.about.com. 10 April 2012.</ref> Efek yang sama ini mengidentifikasi [[Ion#Anion dan kation|kation]] stronsium dalam [[uji nyala api|uji nyala]]. Kembang api mengonsumsi sekitar 5% dari produksi dunia.<ref>MacMillan, J. Paul; Park, Jai Won; Gerstenberg, Rolf; Wagner, Heinz; Köhler, Karl dan Wallbrecht, Peter (2002) "Strontium and Strontium Compounds" dalam ''Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry'', Wiley-VCH, Weinheim. .</ref> Stronsium karbonat digunakan dalam pembuatan magnet [[ferit (magnet)|ferit]] keras.<ref>[http://www.arnoldmagnetics.com/Ferrite.aspx Ferrite Permanent Magnets]. Arnold Magnetic Technologies.</ref><ref>[http://www.cpc-us.com/products/barium-carbonate.html Barium Carbonate]. Chemical Products Corporation.</ref>


[[Stronsium klorida]] kadang-kadang digunakan dalam pasta gigi untuk gigi sensitif. Satu merek populer mencakup 10% total stronsium klorida heksahidrat dari beratnya.<ref>Ghom. [https://books.google.com/books?id=cwom9OTMmGYC&pg=PA885 Textbook of Oral Medicine]. 1 Desember 2005. hlm. 885. ISBN 978-81-8061-431-6.</ref> Sejumlah kecil digunakan dalam pemurnian seng untuk menghilangkan sejumlah kecil pengotor timbal.<ref>C. R. Hammond ''The elements'' (hlm. 4–35) dalam</ref> Logam stronsium itu sendiri memiliki penggunaan terbatas sebagai [[penangkap]], untuk menghilangkan gas yang tak diinginkan dalam ruang hampa dengan mereaksikannya, meskipun barium juga dapat digunakan untuk tujuan ini.<ref>Greenwood dan Earnshaw, hlm. 111</ref>


[[Stronsium karbonat]] dan [[Garam (kimia)|garam]] stronsium lainnya ditambahkan pada kembang api untuk memberikan warna merah tua. Efek yang sama ini mengidentifikasi [[Ion#Anion dan kation|kation]] stronsium dalam [[uji nyala api|uji nyala]]. Kembang api mengonsumsi sekitar 5% dari produksi dunia. Stronsium karbonat digunakan dalam pembuatan magnet [[ferit (magnet)|ferit]] keras.
Transisi optik ultrasempit antara [[keadaan dasar]] elektronik [Kr]5s<sub>2</sub> <sup>1</sup>S<sub>0</sub> dan keadaan tereksitasi [Kr]5s5p <sup>3</sup>P<sub>0</sub> [[Metastabilitas|metastabil]] dari <sup>87</sup>Sr adalah salah satu kandidat utama untuk definisi ulang [[detik]] pada masa depan dalam hal transisi optik yang bertentangan dengan definisi saat ini yang berasal dari transisi gelombang mikro antara berbagai kondisi dasar [[Struktur hiperhalus|hiperhalus]] dari [[Sesium|<sup>133</sup>Cs.]]<ref>Edwin CartlidgeMar. 1. [https://www.science.org/content/article/better-atomic-clocks-scientists-prepare-redefine-second With better atomic clocks, scientists prepare to redefine the second]. ''Science AAAS''. 28 Februari 2018.</ref> [[Jam atom]] optik saat ini yang beroperasi pada transisi ini telah melampaui presisi dan akurasi definisi detik saat ini.
 
[[Stronsium klorida]] kadang-kadang digunakan dalam pasta gigi untuk gigi sensitif. Satu merek populer mencakup 10% total stronsium klorida heksahidrat dari beratnya. Sejumlah kecil digunakan dalam pemurnian seng untuk menghilangkan sejumlah kecil pengotor timbal. Logam stronsium itu sendiri memiliki penggunaan terbatas sebagai [[penangkap]], untuk menghilangkan gas yang tak diinginkan dalam ruang hampa dengan mereaksikannya, meskipun barium juga dapat digunakan untuk tujuan ini.
 
Transisi optik ultrasempit antara [[keadaan dasar]] elektronik [Kr]5s<sub>2</sub> <sup>1</sup>S<sub>0</sub> dan keadaan tereksitasi [Kr]5s5p <sup>3</sup>P<sub>0</sub> [[Metastabilitas|metastabil]] dari <sup>87</sup>Sr adalah salah satu kandidat utama untuk definisi ulang [[detik]] pada masa depan dalam hal transisi optik yang bertentangan dengan definisi saat ini yang berasal dari transisi gelombang mikro antara berbagai kondisi dasar [[Struktur hiperhalus|hiperhalus]] dari [[Sesium|<sup>133</sup>Cs.]] [[Jam atom]] optik saat ini yang beroperasi pada transisi ini telah melampaui presisi dan akurasi definisi detik saat ini.
===Stronsium radioaktif===
===Stronsium radioaktif===
[[Stronsium-89|<sup>89</sup>Sr]] adalah bahan aktif dalam [[Stronsium-89#Efek fisiologis dan penggunaan medis|Metastron]], [[radiofarmasi]] yang digunakan untuk nyeri tulang akibat [[tumor tulang|kanker tulang]] [[metastatis]]. Stronsium diproses seperti kalsium oleh tubuh, menggabungkannya ke dalam tulang di tempat peningkatan [[Osteoblas#Osteogenesis|osteogenesis]]. Lokalisasi ini memfokuskan paparan radiasi pada lesi kanker.
[[Stronsium-89|<sup>89</sup>Sr]] adalah bahan aktif dalam [[Stronsium-89#Efek fisiologis dan penggunaan medis|Metastron]],<ref>[https://www.fda.gov/Drugs/DevelopmentApprovalProcess/HowDrugsareDevelopedandApproved/DrugandBiologicApprovalReports/ANDAGenericDrugApprovals/UCM064272 FDA ANDA Generic Drug Approvals]. BPOM A.S.</ref> [[radiofarmasi]] yang digunakan untuk nyeri tulang akibat [[tumor tulang|kanker tulang]] [[metastatis]]. Stronsium diproses seperti kalsium oleh tubuh, menggabungkannya ke dalam tulang di tempat peningkatan [[Osteoblas#Osteogenesis|osteogenesis]]. Lokalisasi ini memfokuskan paparan radiasi pada lesi kanker.<ref>Glenn Bauman. ''Radiopharmaceuticals for the palliation of painful bone metastases – a systematic review''. ''Radiotherapy and Oncology''. 2005. Vol. 75 (3). hlm. 258.E1–258.E13. doi:10.1016/j.radonc.2005.03.003.</ref>
 


[[Stronsium-90|<sup>90</sup>Sr]] telah digunakan sebagai sumber daya untuk [[generator termoelektrik radioisotop]] (RTG). <sup>90</sup>Sr menghasilkan sekitar 0,93 watt panas per gram (lebih rendah untuk bentuk <sup>90</sup>Sr yang digunakan dalam RTG, yaitu [[stronsium fluorida]]). Namun, <sup>90</sup>Sr memiliki sepertiga masa pakai dan massa jenis lebih rendah dari [[plutonium-238|<sup>238</sup>Pu]], bahan bakar RTG lainnya. Keuntungan utama dari <sup>90</sup>Sr adalah ia lebih murah daripada <sup>238</sup>Pu dan ditemukan dalam [[Limbah radioaktif|limbah nuklir]]. [[Uni Soviet]] mengerahkan hampir 1.000 RTG ini di pantai utaranya sebagai sumber listrik untuk mercusuar dan stasiun meteorologi.
[[Stronsium-90|<sup>90</sup>Sr]] telah digunakan sebagai sumber daya untuk [[generator termoelektrik radioisotop]] (RTG). <sup>90</sup>Sr menghasilkan sekitar 0,93 watt panas per gram (lebih rendah untuk bentuk <sup>90</sup>Sr yang digunakan dalam RTG, yaitu [[stronsium fluorida]]).<ref>[http://www.qrg.northwestern.edu/projects/vss/docs/Power/3-what-are-the-fuels-for-rtgs.html What are the fuels for radioisotope thermoelectric generators?]. ''qrg.northwestern.edu''.</ref> Namun, <sup>90</sup>Sr memiliki sepertiga masa pakai dan massa jenis lebih rendah dari [[plutonium-238|<sup>238</sup>Pu]], bahan bakar RTG lainnya. Keuntungan utama dari <sup>90</sup>Sr adalah ia lebih murah daripada <sup>238</sup>Pu dan ditemukan dalam [[Limbah radioaktif|limbah nuklir]]. [[Uni Soviet]] mengerahkan hampir 1.000 RTG ini di pantai utaranya sebagai sumber listrik untuk mercusuar dan stasiun meteorologi.<ref>Doyle, James. [https://books.google.com/books?id=8WOza_y3IkQC&pg=PA459 Nuclear safeguards, security and nonproliferation: achieving security with technology and policy]. 30 Juni 2008. hlm. 459. ISBN 978-0-7506-8673-0.</ref><ref>R. C. O'Brien. ''Safe radioisotope thermoelectric generators and heat sources for space applications''. ''Journal of Nuclear Materials''. 2008. Vol. 377 (3). hlm. 506–21. doi:10.1016/j.jnucmat.2008.04.009.</ref>


==Peran biologis==
==Peran biologis==
 
[[Akantaria]], kelompok [[protozoa]] [[radiolaria]] laut yang relatif besar, menghasilkan [[rangka|kerangka]] mineral rumit yang terdiri dari [[stronsium sulfat]].<ref>Patrick De Deckker. ''On the celestite-secreting Acantharia and their effect on seawater strontium to calcium ratios''. ''Hydrobiologia''. 2004. Vol. 517 (1–3). hlm. 1. doi:10.1023/B:HYDR.0000027333.02017.50.</ref> Dalam sistem biologis, sebagian kecil kalsium tersubstitusi oleh stronsium.<ref>S. Pors Nielsen. [https://archive.org/details/sim_bone_2004-09_35_3/page/n14 The biological role of strontium]. ''Bone''. 2004. Vol. 35 (3). hlm. 583–88. doi:10.1016/j.bone.2004.04.026.</ref> Dalam tubuh manusia, sebagian besar stronsium yang diserap akan disimpan di tulang. Rasio stronsium terhadap kalsium dalam tulang manusia adalah antara 1:1000 dan 1:2000, kira-kira dalam kisaran yang sama seperti dalam serum darah.<ref>Walter E. Cabrera. ''Strontium and Bone''. ''Journal of Bone and Mineral Research''. 1999. Vol. 14 (5). hlm. 661–68. doi:10.1359/jbmr.1999.14.5.661.</ref>
[[Akantaria]], kelompok [[protozoa]] [[radiolaria]] laut yang relatif besar, menghasilkan [[rangka|kerangka]] mineral rumit yang terdiri dari [[stronsium sulfat]]. Dalam sistem biologis, sebagian kecil kalsium tersubstitusi oleh stronsium. Dalam tubuh manusia, sebagian besar stronsium yang diserap akan disimpan di tulang. Rasio stronsium terhadap kalsium dalam tulang manusia adalah antara 1:1000 dan 1:2000, kira-kira dalam kisaran yang sama seperti dalam serum darah.
===Efek bagi tubuh manusia===
===Efek bagi tubuh manusia===
Tubuh manusia menyerap stronsium seolah-olah ia adalah kongenernya yang lebih ringan, kalsium. Karena kedua unsur tersebut secara kimia sangat mirip, isotop stronsium yang stabil tidak menimbulkan ancaman kesehatan yang signifikan. Rata-rata manusia memiliki asupan sekitar dua miligram stronsium sehari. Pada orang dewasa, stronsium yang dikonsumsi cenderung menempel hanya pada permukaan tulang, tetapi pada anak-anak, stronsium dapat menggantikan kalsium dalam mineral tulang yang sedang tumbuh sehingga menyebabkan masalah pertumbuhan tulang.
Tubuh manusia menyerap stronsium seolah-olah ia adalah kongenernya yang lebih ringan, kalsium. Karena kedua unsur tersebut secara kimia sangat mirip, isotop stronsium yang stabil tidak menimbulkan ancaman kesehatan yang signifikan. Rata-rata manusia memiliki asupan sekitar dua miligram stronsium sehari.<ref>John Emsley. [https://archive.org/details/naturesbuildingb0000emsl_b1k4 Nature's building blocks: an A–Z guide to the elements]. Oxford University Press. 2011. hlm. [https://archive.org/details/naturesbuildingb0000emsl_b1k4/page/507 507]. ISBN 978-0-19-960563-7.</ref> Pada orang dewasa, stronsium yang dikonsumsi cenderung menempel hanya pada permukaan tulang, tetapi pada anak-anak, stronsium dapat menggantikan kalsium dalam mineral tulang yang sedang tumbuh sehingga menyebabkan masalah pertumbuhan tulang.<ref>Agency for Toxic Substances and Disease Registry. [https://www.atsdr.cdc.gov/phs/phs.asp?id=654&tid=120 ATSDR – Public Health Statement: Strontium]. ''cdc.gov''. Agency for Toxic Substances and Disease Registry. 21 Januari 2015.</ref>


[[Waktu paruh biologis]] stronsium pada manusia telah banyak dilaporkan mulai dari 14 hingga 600 hari, 1.000 hari, 18 tahun, 30 tahun dan, pada batas atas, 49 tahun. Angka waktu paruh biologis yang dipublikasikan secara luas dijelaskan oleh metabolisme kompleks stronsium di dalam tubuh. Namun, dengan rata-rata semua jalur ekskresi, waktu paruh biologis secara keseluruhan diperkirakan sekitar 18 tahun. Tingkat eliminasi stronsium sangat dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, karena perbedaan [[metabolisme tulang]].
[[Waktu paruh biologis]] stronsium pada manusia telah banyak dilaporkan mulai dari 14 hingga 600 hari,<ref>B. L. Tiller. [http://hanford-site.pnnl.gov/envreport/2001/env01_45.pdf Hanford Site 2001 Environmental Report]. DOE. 2001.</ref><ref>C. J. Driver. [http://www.osti.gov/bridge/servlets/purl/10136486-6sLptZ/native/10136486.pdf Ecotoxicity Literature Review of Selected Hanford Site Contaminants]. DOE. 1994. doi:10.2172/10136486.</ref> 1.000 hari,<ref>[http://www.areaivenvirothon.org/freshwaterecology.htm Freshwater Ecology and Human Influence]. Area IV Envirothon.</ref> 18 tahun,<ref>[http://epi.alaska.gov/eh/radiation/RadioisotopesInFood.pdf Radioisotopes That May Impact Food Resources]. Epidemiology, Health and Social Services, State of Alaska.</ref> 30 tahun<ref>[http://www.gsseser.com/FactSheet/Strontium.pdf Human Health Fact Sheet: Strontium]. Argonne National Laboratory. Oktober 2001.</ref> dan, pada batas atas, 49 tahun.<ref>[http://hyperphysics.phy-astr.gsu.edu/hbase/nuclear/biohalf.html Biological Half-life]. HyperPhysics.</ref> Angka waktu paruh biologis yang dipublikasikan secara luas dijelaskan oleh metabolisme kompleks stronsium di dalam tubuh. Namun, dengan rata-rata semua jalur ekskresi, waktu paruh biologis secara keseluruhan diperkirakan sekitar 18 tahun.<ref>Samuel Glasstone. [http://www.fourmilab.ch/etexts/www/effects/eonw_12.pdf The effects of Nuclear Weapons]. 1977. hlm. 605.</ref> Tingkat eliminasi stronsium sangat dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, karena perbedaan [[metabolisme tulang]].<ref>N. B. Shagina. ''An application of in vivo whole body counting technique for studying strontium metabolism and internal dose reconstruction for the Techa River population''. ''Journal of Physics: Conference Series''. 2006. Vol. 41 (1). hlm. 433–40. doi:10.1088/1742-6596/41/1/048.</ref>


Obat [[stronsium ranelat]] dapat membantu pertumbuhan [[tulang]], meningkatkan kepadatan tulang, dan mengurangi kejadian [[retak tulang|patah tulang]] belakang, perifer, dan pinggul. Namun, stronsium ranelat juga meningkatkan risiko tromboemboli vena, emboli paru, dan gangguan kardiovaskular serius, termasuk infark miokard. Oleh karena itu, penggunaannya sekarang telah dibatasi. Efek menguntungkannya juga dipertanyakan, karena peningkatan kepadatan tulang sebagian disebabkan oleh peningkatan kepadatan stronsium di atas kalsium yang digantikannya. Stronsium juga [[Bioakumulasi|terbioakumulasi]] dalam tubuh. Meskipun pembatasan stronsium ranelat, stronsium masih terkandung dalam beberapa suplemen. Tidak banyak bukti ilmiah tentang risiko stronsium klorida saat diminum. Mereka yang memiliki riwayat gangguan pembekuan darah pribadi atau keluarga disarankan untuk menghindari stronsium.
Obat [[stronsium ranelat]] dapat membantu pertumbuhan [[tulang]], meningkatkan kepadatan tulang, dan mengurangi kejadian [[retak tulang|patah tulang]] belakang, perifer, dan pinggul.<ref>Meunier P. J. [http://espace.library.uq.edu.au/view/UQ:315180/UQ315180_OA.pdf The effects of strontium ranelate on the risk of vertebral fracture in women with postmenopausal osteoporosis]. ''New England Journal of Medicine''. Januari 2004. Vol. 350 (5). hlm. 459–68. doi:10.1056/NEJMoa022436.</ref><ref>Reginster JY. [http://orbi.ulg.ac.be/bitstream/2268/20123/1/Strontium%20ranelate%20reduces%20the%20risk%20of%20nonvertebral%20fractures%20in%20postmenopausal%20women%20with%20osteoporosis%20Treatment%20of%20Peripheral%20Osteoporosis%20%28TROPOS%29%20study.pdf Strontium ranelate reduces the risk of nonvertebral fractures in postmenopausal women with osteoporosis: treatment of peripheral osteoporosis (TROPOS) study]. ''The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism''. Mei 2005. Vol. 90 (5). hlm. 2816–22. doi:10.1210/jc.2004-1774.</ref> Namun, stronsium ranelat juga meningkatkan risiko tromboemboli vena, emboli paru, dan gangguan kardiovaskular serius, termasuk infark miokard. Oleh karena itu, penggunaannya sekarang telah dibatasi.<ref>[http://www.mhra.gov.uk/Safetyinformation/DrugSafetyUpdate/CON392870 Strontium ranelate: cardiovascular risk – restricted indication and new monitoring requirements]. Medicines and Healthcare products Regulatory Agency, UK. March 2014.</ref> Efek menguntungkannya juga dipertanyakan, karena peningkatan kepadatan tulang sebagian disebabkan oleh peningkatan kepadatan stronsium di atas kalsium yang digantikannya. Stronsium juga [[Bioakumulasi|terbioakumulasi]] dalam tubuh.<ref>Charles T. Price. ''Essential Nutrients for Bone Health and a Review of their Availability in the Average North American Diet''. ''Open Orthop. J''. 5 April 2012. Vol. 6. hlm. 143–49. doi:10.2174/1874325001206010143.</ref> Meskipun pembatasan stronsium ranelat, stronsium masih terkandung dalam beberapa suplemen.<ref>[https://www.webmd.com/vitamins-supplements/ingredientmono-1077-strontium.aspx?activeingredientid=1077& Strontium]. ''WebMD''.</ref><ref>[https://www.webmd.com/osteoporosis/guide/strontium-treatment-osteoporosis Strontium for Osteoporosis]. WebMD.</ref> Tidak banyak bukti ilmiah tentang risiko stronsium klorida saat diminum. Mereka yang memiliki riwayat gangguan pembekuan darah pribadi atau keluarga disarankan untuk menghindari stronsium.<ref>[https://www.webmd.com/vitamins-supplements/ingredientmono-1077-strontium.aspx?activeingredientid=1077& Strontium]. ''WebMD''.</ref><ref>[https://www.webmd.com/osteoporosis/guide/strontium-treatment-osteoporosis Strontium for Osteoporosis]. WebMD.</ref>


Stronsium telah terbukti menghambat iritasi sensorik saat dioleskan ke kulit. Dioleskan secara topikal, stronsium telah terbukti mempercepat laju pemulihan penghalang permeabilitas epidermal (penghalang kulit).
Stronsium telah terbukti menghambat iritasi sensorik saat dioleskan ke kulit.<ref>Hahn, G.S. [http://refinityskinscience.com/wp-content/themes/refinity/pdf/1_strontium_is_a_potent_selective_inhibitor.pdf Strontium Is a Potent and Selective Inhibitor of Sensory Irritation]. ''Dermatologic Surgery''. 1999. Vol. 25 (9). hlm. 689–94. doi:10.1046/j.1524-4725.1999.99099.x.</ref><ref>Hahn, G.S. [https://books.google.com/books?id=3dzCrVrGuigC Anti-irritants for Sensory Irritation]. ''Handbook of Cosmetic Science and Technology''. 2001. hlm. 285. ISBN 978-0-8247-0292-2.</ref> Dioleskan secara topikal, stronsium telah terbukti mempercepat laju pemulihan penghalang permeabilitas epidermal (penghalang kulit).<ref>Kim, Hyun Jeong. [http://210.101.116.107/kda/english/view.asp?year=2006&page=1309&vol=44&iss=11 The Effects of Strontium Ions on Epidermal Permeability Barrier]. ''The Korean Dermatological Association, Korean Journal of Dermatology''. 2006. Vol. 44. hlm. 1309.</ref>
==Limbah nuklir==
==Limbah nuklir==
 
Stronsium-90 adalah produk fisi [[Peluruhan radioaktif|radioaktif]] yang dihasilkan oleh [[reaktor nuklir]] yang digunakan dalam [[tenaga nuklir]]. Ia adalah komponen utama dari radioaktivitas tingkat tinggi dari [[Limbah radioaktif|limbah nuklir]] dan [[bahan bakar nuklir bekas]]. Waktu paruh 29 tahunnya cukup singkat sehingga [[Generator termoelektrik radioisotop|panas peluruhannya telah digunakan untuk menyalakan]] mercusuar Arktik, tetapi cukup lama sehingga perlu waktu ratusan tahun untuk meluruh ke tingkat yang aman. Paparan dari air dan makanan yang terkontaminasi dapat meningkatkan risiko [[leukemia]], [[tumor tulang|kanker tulang]],<ref>Carol Potera. ''HAZARDOUS WASTE: Pond Algae Sequester Strontium-90''. ''Environ Health Perspect''. 2011. Vol. 119 (6). hlm. A244. doi:10.1289/ehp.119-a244.</ref> dan [[hiperparatiroidisme primer]].<ref>BO Boehm. ''The parathyroid as a target for radiation damage''. ''The New England Journal of Medicine''. 18 Agustus 2011. Vol. 365 (7). hlm. 676–8. doi:10.1056/NEJMc1104982.</ref>
Stronsium-90 adalah produk fisi [[Peluruhan radioaktif|radioaktif]] yang dihasilkan oleh [[reaktor nuklir]] yang digunakan dalam [[tenaga nuklir]]. Ia adalah komponen utama dari radioaktivitas tingkat tinggi dari [[Limbah radioaktif|limbah nuklir]] dan [[bahan bakar nuklir bekas]]. Waktu paruh 29 tahunnya cukup singkat sehingga [[Generator termoelektrik radioisotop|panas peluruhannya telah digunakan untuk menyalakan]] mercusuar Arktik, tetapi cukup lama sehingga perlu waktu ratusan tahun untuk meluruh ke tingkat yang aman. Paparan dari air dan makanan yang terkontaminasi dapat meningkatkan risiko [[leukemia]], [[tumor tulang|kanker tulang]], dan [[hiperparatiroidisme primer]].


===Remediasi===
===Remediasi===
Alga telah menunjukkan selektivitas untuk stronsium dalam penelitian, di mana sebagian besar tanaman yang digunakan dalam [[bioremediasi]] belum menunjukkan selektivitas antara kalsium dan stronsium, seringkali menjadi jenuh dengan kalsium, yang jumlahnya lebih besar dan juga terdapat dalam limbah nuklir.
Alga telah menunjukkan selektivitas untuk stronsium dalam penelitian, di mana sebagian besar tanaman yang digunakan dalam [[bioremediasi]] belum menunjukkan selektivitas antara kalsium dan stronsium, seringkali menjadi jenuh dengan kalsium, yang jumlahnya lebih besar dan juga terdapat dalam limbah nuklir.<ref>Carol Potera. ''HAZARDOUS WASTE: Pond Algae Sequester Strontium-90''. ''Environ Health Perspect''. 2011. Vol. 119 (6). hlm. A244. doi:10.1289/ehp.119-a244.</ref>


Para peneliti telah melihat bioakumulasi stronsium oleh ''[[Scenedesmus|Scenedesmus spinosus]]'' ([[alga]]) dalam air limbah simulasi. Studi ini mengklaim kapasitas [[biosorpsi]] yang sangat selektif untuk stronsium dari ''S. spinosus,'' menunjukkan bahwa ia mungkin sesuai untuk penggunaan air limbah nuklir.
Para peneliti telah melihat bioakumulasi stronsium oleh ''[[Scenedesmus|Scenedesmus spinosus]]'' ([[alga]]) dalam air limbah simulasi. Studi ini mengklaim kapasitas [[biosorpsi]] yang sangat selektif untuk stronsium dari ''S. spinosus,'' menunjukkan bahwa ia mungkin sesuai untuk penggunaan air limbah nuklir.<ref>Mingxue Liu. ''Biosorption of Strontium from Simulated Nuclear Wastewater by Scenedesmus spinosus under Culture Conditions: Adsorption and Bioaccumulation Processes and Models''. ''Int J Environ Res Public Health''. 2014. Vol. 11 (6). hlm. 6099–6118. doi:10.3390/ijerph110606099.</ref>


Sebuah studi tentang ganggang tambak ''[[Closterium|Closterium moniliferum]]'' menggunakan stronsium nonradioaktif menemukan bahwa memvariasikan rasio [[barium]] terhadap stronsium dalam air akan meningkatkan selektivitas stronsium.
Sebuah studi tentang ganggang tambak ''[[Closterium|Closterium moniliferum]]'' menggunakan stronsium nonradioaktif menemukan bahwa memvariasikan rasio [[barium]] terhadap stronsium dalam air akan meningkatkan selektivitas stronsium.<ref>Carol Potera. ''HAZARDOUS WASTE: Pond Algae Sequester Strontium-90''. ''Environ Health Perspect''. 2011. Vol. 119 (6). hlm. A244. doi:10.1289/ehp.119-a244.</ref>
==Lihat pula==
==Lihat pula==
==Referensi==
==Bibliografi==
==Bibliografi==
*
*  
==Pranala luar==
==Pranala luar==
*  [http://www.webelements.com/strontium/ WebElements.com – Stronsium]
*  [http://www.webelements.com/strontium/ WebElements.com – Stronsium]
*  [http://www.periodicvideos.com/videos/038.htm Strontium] di ''[[The Periodic Table of Videos]]'' (Universitas Nottingham)
*  [http://www.periodicvideos.com/videos/038.htm Strontium] di ''[[The Periodic Table of Videos]]'' (Universitas Nottingham)


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stronsium&oldid=29584973 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29584973 (2026-08-15T21:42:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Stronsium&oldid=29584973 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29584973 (2026-08-15T21:42:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 26 Agustus 2026 22.58

Strontium destilled crystals

Stronsium adalah sebuah unsur kimia dengan lambang Sr dan nomor atom 38. Strontium merupakan logam alkali tanah dengan tekstur yang lunak dan berwarna putih keperakan kekuningan yang sangat reaktif secara kimiawi. Logam stronsium membentuk lapisan oksida gelap ketika terkena udara. Stronsium memiliki sifat fisik dan kimia yang mirip dengan dua tetangga vertikalnya dalam tabel periodik, kalsium dan barium. Ia terjadi secara alami terutama dalam mineral selestin dan stronsianit, dan sebagian besar ditambang dari mereka berdua.

Baik stronsium maupun stronsianit dinamai dari Strontian, sebuah desa di Skotlandia di mana mineral tersebut ditemukan pada tahun 1790 oleh Adair Crawford dan William Cruickshank; ia diidentifikasi sebagai unsur baru pada tahun berikutnya dari warna uji nyala merah lembayungnya. Stronsium pertama kali diisolasi sebagai logam pada tahun 1808 oleh Humphry Davy menggunakan proses elektrolisis yang baru ditemukan. Selama abad ke-19, stronsium banyak digunakan dalam produksi gula dari bit gula (lihat proses strontian). Pada puncak produksi tabung sinar katoda televisi, sebanyak 75% konsumsi stronsium di Amerika Serikat digunakan untuk kaca pelat muka.[1] Dengan penggantian tabung sinar katode menjadi metode tampilan lainnya, konsumsi stronsium menurun drastis.[2]

Walaupun stronsium alami (yang sebagian besar merupakan isotop stronsium-88) itu stabil, stronsium-90 sintetis bersifat radioaktif dan merupakan salah satu komponen paling berbahaya dari luruhan nuklir, karena stronsium diserap oleh tubuh dengan cara yang mirip dengan kalsium. Sebaliknya, stronsium stabil alami tidak berbahaya bagi kesehatan.

Karakteristik

Stronsium adalah logam keperakan divalen dengan semburat kuning pucat yang sifatnya sebagian besar mirip dengan tetangganya kalsium dan barium.[3] Ia lebih lembut dari kalsium dan lebih keras dari barium. Titik lebur (777 °C) dan didihnya (1377 °C) lebih rendah daripada kalsium (masing-masing 842 °C dan 1484 °C); barium melanjutkan tren penurunan ini pada titik lebur (727 °C), tetapi tidak pada titik didihnya (1900 °C). Massa jenis stronsium (2,64 g/cm3) berada di antara massa jenis kalsium (1,54 g/cm3) dan barium (3,594 g/cm3).[4] Ada tiga alotrop metalik stronsium, dengan titik transisi pada suhu 235 dan 540 °C.[5]

Potensial elektroda standar untuk pasangan Sr2+/Sr adalah −2,89 V, kira-kira di tengah-tengah antara pasangan Ca2+/Ca (−2,84 V) dan Ba2+/Ba (−2,92 V), dan dekat dengan pasangan logam alkali tetangga.[6] Stronsium merupakan perantara antara kalsium dan barium dalam reaktivitasnya terhadap air, yang bereaksi pada kontak untuk menghasilkan stronsium hidroksida dan gas hidrogen. Logam stronsium terbakar di udara menghasilkan dan stronsium oksida serta stronsium nitrida, tetapi karena ia tidak bereaksi dengan nitrogen di bawah 380 °C, pada suhu kamar ia hanya membentuk oksida secara spontan.[7] Selain oksida SrO sederhana, peroksida SrO2 dapat dibuat dengan oksidasi langsung logam stronsium di bawah oksigen bertekanan tinggi, dan ada beberapa bukti untuk superoksida Sr(O2)2 kuning.[8] Stronsium hidroksida, Sr(OH)2, adalah basa kuat, meski tidak sekuat hidroksida barium atau logam alkali.[9] Keempat dihalida stronsium telah diketahui.[10]

Karena ukuran besar dari unsur blok-s yang berat, termasuk strontium, rentang bilangan koordinasi yang luas telah diketahui, mulai dari 2, 3, atau 4 hingga 22 atau 24 pada SrCd11 dan SrZn13. Ion Sr2+ cukup besar, sehingga bilangan koordinasi yang tinggi adalah aturannya.[11] Ukuran stronsium dan barium yang besar berperan penting dalam menstabilkan kompleks stronsium dengan ligan makrosiklik polidentat seperti eter mahkota: misalnya, walaupun 18-mahkota-6 membentuk kompleks yang relatif lemah dengan kalsium dan logam alkali, kompleks stronsium dan bariumnya jauh lebih kuat.[12]

Senyawa organostronsium mengandung satu atau lebih ikatan stronsium–karbon. Mereka telah dilaporkan sebagai perantara dalam reaksi jenis Barbier.[13][14][15] Meskipun stronsium berada dalam golongan yang sama dengan magnesium, dan senyawa organomagnesium sangat umum digunakan di seluruh kimia, senyawa organostronsium tidak tersebar luas karena lebih sulit dibuat dan lebih reaktif. Senyawa organostronsium cenderung lebih mirip dengan senyawa organoeuropium atau organosamarium karena kesamaan jari-jari ionik unsur-unsur tersebut (Sr2+ 118 pm; Eu2+ 117 pm; Sm2+ 122 pm). Sebagian besar senyawa ini hanya dapat dibuat pada suhu rendah; ligan besar cenderung mendukung stabilitas. Misalnya, stronsium disiklopentadienil, Sr(C5H5)2, harus dibuat dengan mereaksikan logam stronsium secara langsung dengan merkurosena atau siklopentadiena itu sendiri; menggantikan ligan C5H5 dengan ligan C5(CH3)5 yang lebih besar, di samping meningkatkan kelarutan, volatilitas, dan stabilitas kinetik senyawa tersebut.[16]

Karena reaktivitas ekstremnya dengan oksigen dan air, stronsium terjadi secara alami hanya dalam bentuk senyawa dengan unsur lain, seperti dalam mineral stronsianit dan selestin. Ia disimpan di bawah hidrokarbon cair seperti minyak mineral atau kerosin untuk mencegah oksidasi; logam stronsium baru yang terpapar akan dengan cepat berubah menjadi warna kekuningan dengan pembentukan oksida. Bubuk logam stronsium halus bersifat piroforik, artinya ia akan menyala secara spontan di udara pada suhu kamar. Garam stronsium yang volatil memberikan warna merah terang pada nyala api, dan garam ini digunakan dalam kembang api dan produksi suar.[17] Seperti kalsium dan barium, serta logam alkali dan lantanida divalen europium dan iterbium, logam stronsium akan langsung larut dalam amonia cair dan menghasilkan larutan elektron terlarut berwarna biru tua.[18]

Isotop

Stronsium alami adalah campuran dari empat isotop stabil: 84Sr, 86Sr, 87Sr, dan 88Sr.[19] Kelimpahan mereka meningkat seiring dengan meningkatnya nomor massa dan yang terberat, 88Sr, membentuk sekitar 82,6% dari semua stronsium alami, meskipun kelimpahannya bervariasi karena produksi 87Sr radiogenik sebagai turunan dari 87Rb yang meluruh melalui peluruhan beta dan berumur panjang.[20] Ini adalah dasar dari penanggalan rubidium–stronsium. Dari semua isotop stronsium yang tak stabil, mode peluruhan utama isotop yang lebih ringan dari 85Sr adalah penangkapan elektron atau emisi positron menjadi isotop rubidium, dan isotop yang lebih berat dari 88Sr adalah emisi elektron menjadi isotop itrium. Catatan khusus ditujukan kepada 89Sr dan 90Sr. Yang pertama memiliki waktu paruh 50,6 hari dan digunakan untuk mengobati kanker tulang karena kesamaan kimiawi stronsium dengan kalsium sehingga ia mampu menggantikannya.[21][22] Walaupun 90Sr (waktu paruh 28,90 tahun) telah digunakan dengan cara yang sama, ia juga merupakan isotop yang menjadi perhatian dalam luruhan dari senjata dan kecelakaan nuklir karena produksinya sebagai produk fisi. Kehadirannya di tulang dapat menyebabkan kanker tulang, kanker jaringan di sekitarnya, dan leukemia.[23] Kecelakaan nuklir Chernobyl tahun 1986 mengkontaminasi sekitar 30.000 km2 dengan lebih dari 10 kBq/m2 dengan 90Sr, yang menyumbang sekitar 5% dari 90Sr yang ada pada inti reaktor.[24]

Sejarah

Stronsium dinamai dari Strontian (Gaelik: Sròn an t-Sìthein), sebuah desa di Skotlandia, di mana ia ditemukan pada bijih dari tambang timbal.[25]

Pada tahun 1790, Adair Crawford, seorang dokter yang terlibat dalam persiapan barium, dan rekannya William Cruickshank, menyadari bahwa bijih dari Strontian menunjukkan sifat yang berbeda dari sumber "spar berat" lainnya.[26] Hal ini memungkinkan Crawford untuk menyimpulkan pada halaman 355 "... sangat mungkin, bahwa mineral skoc adalah spesies tanah baru yang sampai saat ini belum diteliti secara memadai." Dokter dan pengumpul mineral Friedrich Gabriel Sulzer bersama dengan Johann Friedrich Blumenbach menganalisis mineral dari Strontian dan menamainya stronsianit. Dia juga sampai pada kesimpulan bahwa mineral itu berbeda dari witerit dan mengandung tanah baru (neue Grunderde).[27] Pada tahun 1793 Thomas Charles Hope, seorang profesor kimia di Universitas Glasgow mempelajari mineral tersebut[28][29] dan mengusulkan nama strontites.[30][31][32] Dia mengonfirmasi karya Crawford sebelumnya dan menceritakan: "... Mengingat itu adalah tanah yang aneh, saya pikir perlu memberinya nama. Saya menyebutnya Strontites, dari tempat di mana ia ditemukan; menurut pendapat saya, sebuah mode turunan, sepenuhnya sesuai dengan kualitas apa pun yang mungkin dimilikinya, yang merupakan fesyen saat ini." Unsur ini akhirnya diisolasi oleh Sir Humphry Davy pada tahun 1808 melalui elektrolisis campuran yang mengandung stronsium klorida dan merkurat oksida, dan diumumkan olehnya dalam sebuah lektur di Royal Society pada tanggal 30 Juni 1808.[33] Sesuai dengan penamaan alkali tanah lainnya, dia mengubah nama unsur ini menjadi strontium.[34][35][36][37][38]

Aplikasi stronsium skala besar pertama adalah dalam produksi gula dari bit gula. Meskipun proses kristalisasi menggunakan stronsium hidroksida dipatenkan oleh Augustin-Pierre Dubrunfaut pada tahun 1849,[39] pengenalan skala besar datang dengan perbaikan proses pada awal tahun 1870-an. Industri gula Jerman menggunakan proses tersebut hingga abad ke-20. Sebelum Perang Dunia I, industri gula bit menggunakan 100.000 hingga 150.000 ton stronsium hidroksida untuk proses ini per tahun.[40] Stronsium hidroksida didaur ulang dalam prosesnya, tetapi permintaan untuk mengganti kerugian selama produksi cukup tinggi untuk menciptakan permintaan yang signifikan untuk memulai penambangan stronsianit di Münsterland. Penambangan stronsianit di Jerman berakhir ketika penambangan deposit selestin di Gloucestershire dimulai.[41] Tambang-tambang ini memasok sebagian besar pasokan stronsium dunia dari tahun 1884 hingga 1941. Meskipun endapan selestin di cekungan Granada telah dikenal selama beberapa waktu, penambangan skala besar tidak dimulai hingga tahun 1950-an.[42]

Selama pengujian senjata nuklir atmosfer, telah diamati bahwa stronsium-90 adalah salah satu produk fisi nuklir dengan hasil yang relatif tinggi. Kesamaan dengan kalsium dan kemungkinan bahwa stronsium-90 dapat diperkaya dalam tulang membuat penelitian tentang metabolisme stronsium menjadi topik penting.[43][44]

Keterjadian

Stronsium umumnya terdapat di alam, menjadi unsur paling melimpah ke-15 di Bumi (kongenernya yang lebih berat, barium, berada di urutan ke-14), diperkirakan jumlah rata-ratanya sekitar 360 bagian per juta di kerak Bumi[45] dan ditemukan terutama sebagai mineral sulfat selestin (SrSO4) dan karbonat stronsianit (SrCO3). Dari keduanya, selestin lebih sering terjadi pada endapan dengan ukuran yang cukup untuk ditambang. Karena stronsium paling sering digunakan dalam bentuk karbonat, stronsianit akan lebih bermanfaat dari dua mineral umum, tetapi hanya sedikit endapan yang ditemukan yang cocok untuk dikembangkan.[46] Karena caranya dalam bereaksi dengan udara dan air, stronsium hanya ada di alam bila dikombinasikan untuk membentuk mineral. Stronsium yang terjadi secara alami stabil, tetapi isotop sintetisnya, 90Sr, hanya dihasilkan oleh luruhan nuklir.

Dalam air tanah, stronsium berperilaku secara kimia seperti kalsium. Pada pH menengah hingga asam, Sr2+ merupakan spesies stronsium yang dominan. Dengan adanya ion kalsium, stronsium biasanya membentuk kopresipitat dengan mineral kalsium seperti kalsit dan anhidrit pada peningkatan pH. Pada pH menengah hingga asam, stronsium yay terlarut akan terikat pada partikel tanah melalui pertukaran kation.[47]

Kandungan rata-rata stronsium air laut adalah 8 mg/L.[48][49] Pada konsentrasi antara 82 dan 90 μmol/L stronsium, konsentrasinya jauh lebih rendah daripada konsentrasi kalsium, yang biasanya antara 9,6 dan 11,6 mmol/L.[50][51] Namun demikian, ia jauh lebih tinggi dari barium, dengan konsentrasi yang hanya sebesar 13 μg/L.[52]

Produksi

Tiga produsen utama stronsium sebagai selestin pada 2015 adalah Tiongkok (150.000 t), Spanyol (90.000 t), dan Meksiko (70.000 t); Argentina (10.000 t) dan Maroko (2.500 t) adalah produsen yang lebih kecil. Meskipun deposit stronsium terdapat secara luas di Amerika Serikat, mereka belum ditambang sejak tahun 1959.[53]

Sebagian besar selestin (SrSO4) yang ditambang diubah menjadi karbonat melalui dua proses, baik selestin langsung dicuci dengan larutan natrium karbonat ataupun selestin dipanggang dengan batu bara untuk membentuk sulfida. Tahap kedua menghasilkan bahan berwarna gelap yang sebagian besar mengandung stronsium sulfida. Yang disebut "abu hitam" ini dilarutkan dalam air dan disaring. Stronsium karbonat diendapkan dari larutan stronsium sulfida dengan memasukkan karbon dioksida.[54] Stronsium sulfat direduksi menjadi stronsium sulfida melalui reduksi karbotermik:

SrSO4 + 2 C → SrS + 2 CO2

Sekitar 300.000 ton diproses dengan cara ini setiap tahunnya.[55]

Logam ini diproduksi secara komersial dengan mereduksi stronsium oksida dengan aluminium. Stronsium disuling dari campuran.[56] Logam stronsium juga dapat dibuat dalam skala kecil dengan elektrolisis larutan stronsium klorida dalam kalium klorida cair:[57]

Sr2+ + 2 → Sr
2 Cl → Cl2 + 2

Aplikasi

Mengonsumsi 75% dari produksi, penggunaan utama stronsium adalah kaca untuk tabung sinar katoda televisi berwarna,[58] di mana ia mencegah emisi sinar-X.[59][60] Aplikasi untuk stronsium ini telah menurun karena CRT digantikan oleh metode tampilan lainnya. Penurunan ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penambangan dan pemurnian stronsium.[61] Semua bagian CRT harus menyerap sinar-X. Di leher dan corong tabung, kaca timbal digunakan untuk tujuan ini, tetapi kaca jenis ini menunjukkan efek kecoklatan akibat interaksi sinar-X dengan kaca. Oleh karena itu, panel depan dibuat dari campuran kaca yang berbeda dengan stronsium dan barium untuk menyerap sinar-X. Nilai rata-rata campuran kaca yang ditentukan untuk studi daur ulang pada tahun 2005 adalah 8,5% stronsium oksida dan 10% barium oksida.[62]

Karena strontium sangat mirip dengan kalsium, ia akan tergabung dalam tulang. Keempat isotop stronsium yang stabil digabungkan, dalam proporsi yang kira-kira sama dengan yang ditemukan di alam. Namun, distribusi sebenarnya dari isotop tersebut cenderung sangat bervariasi dari satu lokasi geografis ke lokasi lainnya. Jadi, menganalisis tulang seseorang dapat membantu menentukan daerah asalnya.[63][64] Pendekatan ini membantu mengidentifikasi pola migrasi kuno dan asal-usul sisa-sisa manusia yang bercampur di situs pemakaman medan perang.[65]

Rasio 87Sr/86Sr umumnya digunakan untuk menentukan kemungkinan daerah asal sedimen dalam sistem alami, terutama pada lingkungan laut dan fluvial. Dasch (1969) menunjukkan bahwa sedimen permukaan Atlantik menampilkan rasio 87Sr/86Sr yang dapat dianggap sebagai rata-rata curah dari rasio 87Sr/86Sr medan geologis dari daratan yang berdekatan.[66] Sebuah contoh yang baik dari sistem fluvial-laut di mana studi sumber isotop Sr telah berhasil digunakan adalah sistem Sungai Nil-Mediterania.[67] Karena usia batuan yang berbeda yang merupakan mayoritas dari Nil Biru dan Putih, daerah tangkapan dari sumber perubahan sedimen mencapai Delta Sungai Nil dan Laut Mediterania Timur dapat dilihat melalui studi isotop strontium. Perubahan tersebut dikendalikan secara iklim pada Kuarter Akhir.[68]

Baru-baru ini, rasio 87Sr/86Sr juga telah digunakan untuk menentukan sumber bahan arkeologi kuno seperti kayu dan jagung di Chaco Canyon, New Mexico.[69][70] Rasio 87Sr/86Sr pada gigi juga dapat digunakan untuk melacak migrasi hewan.[71][72]

Stronsium aluminat sering digunakan dalam mainan yang dapat bersinar dalam kegelapan, karena bersifat lengai secara kimiawi dan biologis.[73]

Stronsium karbonat dan garam stronsium lainnya ditambahkan pada kembang api untuk memberikan warna merah tua.[74] Efek yang sama ini mengidentifikasi kation stronsium dalam uji nyala. Kembang api mengonsumsi sekitar 5% dari produksi dunia.[75] Stronsium karbonat digunakan dalam pembuatan magnet ferit keras.[76][77]

Stronsium klorida kadang-kadang digunakan dalam pasta gigi untuk gigi sensitif. Satu merek populer mencakup 10% total stronsium klorida heksahidrat dari beratnya.[78] Sejumlah kecil digunakan dalam pemurnian seng untuk menghilangkan sejumlah kecil pengotor timbal.[79] Logam stronsium itu sendiri memiliki penggunaan terbatas sebagai penangkap, untuk menghilangkan gas yang tak diinginkan dalam ruang hampa dengan mereaksikannya, meskipun barium juga dapat digunakan untuk tujuan ini.[80]

Transisi optik ultrasempit antara keadaan dasar elektronik [Kr]5s2 1S0 dan keadaan tereksitasi [Kr]5s5p 3P0 metastabil dari 87Sr adalah salah satu kandidat utama untuk definisi ulang detik pada masa depan dalam hal transisi optik yang bertentangan dengan definisi saat ini yang berasal dari transisi gelombang mikro antara berbagai kondisi dasar hiperhalus dari 133Cs.[81] Jam atom optik saat ini yang beroperasi pada transisi ini telah melampaui presisi dan akurasi definisi detik saat ini.

Stronsium radioaktif

89Sr adalah bahan aktif dalam Metastron,[82] radiofarmasi yang digunakan untuk nyeri tulang akibat kanker tulang metastatis. Stronsium diproses seperti kalsium oleh tubuh, menggabungkannya ke dalam tulang di tempat peningkatan osteogenesis. Lokalisasi ini memfokuskan paparan radiasi pada lesi kanker.[83]

90Sr telah digunakan sebagai sumber daya untuk generator termoelektrik radioisotop (RTG). 90Sr menghasilkan sekitar 0,93 watt panas per gram (lebih rendah untuk bentuk 90Sr yang digunakan dalam RTG, yaitu stronsium fluorida).[84] Namun, 90Sr memiliki sepertiga masa pakai dan massa jenis lebih rendah dari 238Pu, bahan bakar RTG lainnya. Keuntungan utama dari 90Sr adalah ia lebih murah daripada 238Pu dan ditemukan dalam limbah nuklir. Uni Soviet mengerahkan hampir 1.000 RTG ini di pantai utaranya sebagai sumber listrik untuk mercusuar dan stasiun meteorologi.[85][86]

Peran biologis

Akantaria, kelompok protozoa radiolaria laut yang relatif besar, menghasilkan kerangka mineral rumit yang terdiri dari stronsium sulfat.[87] Dalam sistem biologis, sebagian kecil kalsium tersubstitusi oleh stronsium.[88] Dalam tubuh manusia, sebagian besar stronsium yang diserap akan disimpan di tulang. Rasio stronsium terhadap kalsium dalam tulang manusia adalah antara 1:1000 dan 1:2000, kira-kira dalam kisaran yang sama seperti dalam serum darah.[89]

Efek bagi tubuh manusia

Tubuh manusia menyerap stronsium seolah-olah ia adalah kongenernya yang lebih ringan, kalsium. Karena kedua unsur tersebut secara kimia sangat mirip, isotop stronsium yang stabil tidak menimbulkan ancaman kesehatan yang signifikan. Rata-rata manusia memiliki asupan sekitar dua miligram stronsium sehari.[90] Pada orang dewasa, stronsium yang dikonsumsi cenderung menempel hanya pada permukaan tulang, tetapi pada anak-anak, stronsium dapat menggantikan kalsium dalam mineral tulang yang sedang tumbuh sehingga menyebabkan masalah pertumbuhan tulang.[91]

Waktu paruh biologis stronsium pada manusia telah banyak dilaporkan mulai dari 14 hingga 600 hari,[92][93] 1.000 hari,[94] 18 tahun,[95] 30 tahun[96] dan, pada batas atas, 49 tahun.[97] Angka waktu paruh biologis yang dipublikasikan secara luas dijelaskan oleh metabolisme kompleks stronsium di dalam tubuh. Namun, dengan rata-rata semua jalur ekskresi, waktu paruh biologis secara keseluruhan diperkirakan sekitar 18 tahun.[98] Tingkat eliminasi stronsium sangat dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, karena perbedaan metabolisme tulang.[99]

Obat stronsium ranelat dapat membantu pertumbuhan tulang, meningkatkan kepadatan tulang, dan mengurangi kejadian patah tulang belakang, perifer, dan pinggul.[100][101] Namun, stronsium ranelat juga meningkatkan risiko tromboemboli vena, emboli paru, dan gangguan kardiovaskular serius, termasuk infark miokard. Oleh karena itu, penggunaannya sekarang telah dibatasi.[102] Efek menguntungkannya juga dipertanyakan, karena peningkatan kepadatan tulang sebagian disebabkan oleh peningkatan kepadatan stronsium di atas kalsium yang digantikannya. Stronsium juga terbioakumulasi dalam tubuh.[103] Meskipun pembatasan stronsium ranelat, stronsium masih terkandung dalam beberapa suplemen.[104][105] Tidak banyak bukti ilmiah tentang risiko stronsium klorida saat diminum. Mereka yang memiliki riwayat gangguan pembekuan darah pribadi atau keluarga disarankan untuk menghindari stronsium.[106][107]

Stronsium telah terbukti menghambat iritasi sensorik saat dioleskan ke kulit.[108][109] Dioleskan secara topikal, stronsium telah terbukti mempercepat laju pemulihan penghalang permeabilitas epidermal (penghalang kulit).[110]

Limbah nuklir

Stronsium-90 adalah produk fisi radioaktif yang dihasilkan oleh reaktor nuklir yang digunakan dalam tenaga nuklir. Ia adalah komponen utama dari radioaktivitas tingkat tinggi dari limbah nuklir dan bahan bakar nuklir bekas. Waktu paruh 29 tahunnya cukup singkat sehingga panas peluruhannya telah digunakan untuk menyalakan mercusuar Arktik, tetapi cukup lama sehingga perlu waktu ratusan tahun untuk meluruh ke tingkat yang aman. Paparan dari air dan makanan yang terkontaminasi dapat meningkatkan risiko leukemia, kanker tulang,[111] dan hiperparatiroidisme primer.[112]

Remediasi

Alga telah menunjukkan selektivitas untuk stronsium dalam penelitian, di mana sebagian besar tanaman yang digunakan dalam bioremediasi belum menunjukkan selektivitas antara kalsium dan stronsium, seringkali menjadi jenuh dengan kalsium, yang jumlahnya lebih besar dan juga terdapat dalam limbah nuklir.[113]

Para peneliti telah melihat bioakumulasi stronsium oleh Scenedesmus spinosus (alga) dalam air limbah simulasi. Studi ini mengklaim kapasitas biosorpsi yang sangat selektif untuk stronsium dari S. spinosus, menunjukkan bahwa ia mungkin sesuai untuk penggunaan air limbah nuklir.[114]

Sebuah studi tentang ganggang tambak Closterium moniliferum menggunakan stronsium nonradioaktif menemukan bahwa memvariasikan rasio barium terhadap stronsium dalam air akan meningkatkan selektivitas stronsium.[115]

Lihat pula

Bibliografi

Pranala luar

Referensi

  1. Mineral Resource of the Month: Strontium. Survei Geologi A.S. 8 Desember 2014.
  2. Mineral Resource of the Month: Strontium. Survei Geologi A.S. 8 Desember 2014.
  3. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 112–13
  4. C. R. Hammond The elements (hlm. 4–35) dalam
  5. Richard C. Ropp. Encyclopedia of the Alkaline Earth Compounds. 31 Desember 2012. hlm. 16. ISBN 978-0-444-59553-9.
  6. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 111
  7. C. R. Hammond The elements (hlm. 4–35) dalam
  8. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 119
  9. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 121
  10. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 117
  11. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 115
  12. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 124
  13. N. Miyoshi. The Barbier-Type Alkylation of Aldehydes with Alkyl Halides in the Presence of Metallic Strontium. Bulletin of the Chemical Society of Japan. 2004. Vol. 77 (2). hlm. 341. doi:10.1246/bcsj.77.341.
  14. N. Miyoshi. The Chemistry of Alkylstrontium Halide Analogues: Barbier-type Alkylation of Imines with Alkyl Halides. Chemistry Letters. 2005. Vol. 34 (6). hlm. 760. doi:10.1246/cl.2005.760.
  15. N. Miyoshi. The Chemistry of Alkylstrontium Halide Analogues, Part 2: Barbier-Type Dialkylation of Esters with Alkyl Halides. European Journal of Organic Chemistry. 2005. Vol. 2005 (20). hlm. 4253. doi:10.1002/ejoc.200500484.
  16. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 136–37
  17. C. R. Hammond The elements (hlm. 4–35) dalam
  18. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 112–13
  19. C. R. Hammond The elements (hlm. 4–35) dalam
  20. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 19
  21. Edward C. Halperin. Perez and Brady's principles and practice of radiation oncology. Lippincott Williams & Wilkins. 2008. hlm. 1997–. ISBN 978-0-7817-6369-1.
  22. Glenn Bauman. Radiopharmaceuticals for the palliation of painful bone metastases – a systematic review. Radiotherapy and Oncology. 2005. Vol. 75 (3). hlm. 258.E1–258.E13. doi:10.1016/j.radonc.2005.03.003.
  23. Strontium Radiation Protection US EPA. EPA. 24 April 2012.
  24. Chernobyl: Assessment of Radiological and Health Impact, 2002 update; Chapter I – The site and accident sequence. OECD-NEA. 2002.
  25. Murray, W. H. The Companion Guide to the West Highlands of Scotland. Collins. 1977. ISBN 978-0-00-211135-5.
  26. Adair Crawford. On the medicinal properties of the muriated barytes. Medical Communications. 1790. Vol. 2. hlm. 301–59.
  27. Friedrich Gabriel Sulzer. Über den Strontianit, ein Schottisches Foßil, das ebenfalls eine neue Grunderde zu enthalten scheint. Bergmännisches Journal. 1791. hlm. 433–36.
  28. Thomas Charles Hope, MD, FRSE, FRS (1766-1844) - School of Chemistry. www.chem.ed.ac.uk.
  29. Doyle, W.P. Thomas Charles Hope, MD, FRSE, FRS (1766–1844). The University of Edinburgh.
  30. Meskipun Thomas C. Hope telah menyelidiki bijih stronsium sejak 1791, penelitiannya dipublikasikan dalam: Thomas Charles Hope. Account of a mineral from Strontian and of a particular species of earth which it contains. Transactions of the Royal Society of Edinburgh. 1798. Vol. 4 (2). hlm. 3–39. doi:10.1017/S0080456800030726.
  31. Murray, T. Elementary Scots: The Discovery of Strontium. Scottish Medical Journal. 1993. Vol. 38 (6). hlm. 188–89. doi:10.1177/003693309303800611.
  32. Thomas Charles Hope. Account of a mineral from Strontian and of a particular species of earth which it contains. Transactions of the Royal Society of Edinburgh. 1794. Vol. 3 (2). hlm. 141–49. doi:10.1017/S0080456800020275.
  33. H. Davy. Electro-chemical researches on the decomposition of the earths; with observations on the metals obtained from the alkaline earths, and on the amalgam procured from ammonia. Philosophical Transactions of the Royal Society of London. 1808. Vol. 98. hlm. 333–70. doi:10.1098/rstl.1808.0023.
  34. Taylor, Stuart. Strontian gets set for anniversary. Lochaber News. 19 Juni 2008.
  35. Weeks, Mary Elvira. The discovery of the elements: X. The alkaline earth metals and magnesium and cadmium. Journal of Chemical Education. 1932. Vol. 9 (6). hlm. 1046–57. doi:10.1021/ed009p1046.
  36. J. R. Partington. The early history of strontium. Annals of Science. 1942. Vol. 5 (2). hlm. 157. doi:10.1080/00033794200201411.
  37. J. R. Partington. The early history of strontium. Part II. Annals of Science. 1951. Vol. 7. hlm. 95. doi:10.1080/00033795100202211.
  38. Banyak penyelidik awal lainnya memeriksa bijih stronsium, di antaranya: (1) Martin Heinrich Klaproth, "Chemische Versuche über die Strontianerde" (Eksperimen kimia pada bijih stronsian), Crell's Annalen (September 1793) no. ii, hlm. 189–202 ; dan "Nachtrag zu den Versuchen über die Strontianerde" (Penambahan Eksperimen pada Bijih Stronsian), Crell's Annalen (Februari 1794) no. i, hlm. 99 ; juga (2) Richard Kirwan. Experiments on a new earth found near Stronthian in Scotland. The Transactions of the Royal Irish Academy. 1794. Vol. 5. hlm. 243–56.
  39. Fachgruppe Geschichte Der Chemie, Gesellschaft Deutscher Chemiker. Metalle in der Elektrochemie. 2005. hlm. 158–62.
  40. Heriot, T. H. P. Manufacture of Sugar from the Cane and Beet. 2008. ISBN 978-1-4437-2504-0.
  41. Martin Börnchen. Der Strontianitbergbau im Münsterland.
  42. Josèm Martin. Genesis and evolution of strontium deposits of the granada basin (Southeastern Spain): Evidence of diagenetic replacement of a stromatolite belt. Sedimentary Geology. 1984. Vol. 39 (3–4). hlm. 281. doi:10.1016/0037-0738(84)90055-1.
  43. Chain Fission Yields. iaea.org.
  44. B. E. Nordin. Strontium Comes of Age. British Medical Journal. 1968. Vol. 1 (5591). hlm. 566. doi:10.1136/bmj.1.5591.566.
  45. K. K. Turekian. Distribution of the elements in some major units of the Earth's crust. Geological Society of America Bulletin. 1961. Vol. 72 (2). hlm. 175–92. doi:10.1130/0016-7606(1961)72[175:DOTEIS]2.0.CO;2.
  46. Joyce A. Ober. Mineral Commodity Summaries 2010: Strontium. Survei Geologi A.S.
  47. Heuel-Fabianek, B. Partition Coefficients (Kd) for the Modelling of Transport Processes of Radionuclides in Groundwater. Berichte des Forschungszentrums Jülich. 2014. Vol. 4375.
  48. Stringfield, V. T. Artesian water in Tertiary limestone in the southeastern States. United States Government Printing Office. 1966. hlm. 138–39.
  49. Ernest E. Angino. Observed variations in the strontium concentration of sea water. Chemical Geology. 1966. Vol. 1. hlm. 145. doi:10.1016/0009-2541(66)90013-1.
  50. Y. Sun. Influence of seawater Sr content on coral Sr/Ca and Sr thermometry. Coral Reefs. 2005. Vol. 24. hlm. 23. doi:10.1007/s00338-004-0467-x.
  51. Jessica Elzea Kogel. Industrial Minerals & Rocks: Commodities, Markets, and Uses. 5 March 2006. ISBN 978-0-87335-233-8.
  52. C. R. Hammond The elements (hlm. 4–35) dalam
  53. Joyce A. Ober. Mineral Commodity Summaries 2015: Strontium. Survei Geologi A.S.
  54. Mevlüt Kemal. Production of SrCO 3 by black ash process: Determination of reductive roasting parameters. 1996. hlm. 401. ISBN 978-90-5410-829-0.
  55. MacMillan, J. Paul; Park, Jai Won; Gerstenberg, Rolf; Wagner, Heinz; Köhler, Karl dan Wallbrecht, Peter (2002) "Strontium and Strontium Compounds" dalam Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim. .
  56. MacMillan, J. Paul; Park, Jai Won; Gerstenberg, Rolf; Wagner, Heinz; Köhler, Karl dan Wallbrecht, Peter (2002) "Strontium and Strontium Compounds" dalam Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim. .
  57. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 111
  58. MacMillan, J. Paul; Park, Jai Won; Gerstenberg, Rolf; Wagner, Heinz; Köhler, Karl dan Wallbrecht, Peter (2002) "Strontium and Strontium Compounds" dalam Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim. .
  59. Cathode Ray Tube Glass-To-Glass Recycling. ICF Incorporated, USEP Agency.
  60. Joyce A. Ober. Mineral Yearbook 2007: Strontium. Survei Geologi A.S.
  61. Joyce A. Ober. Mineral Commodity Summaries 2010: Strontium. Survei Geologi A.S.
  62. F. Méar. The characterization of waste cathode-ray tube glass. Waste Management. 2006. Vol. 26 (12). hlm. 1468–76. doi:10.1016/j.wasman.2005.11.017.
  63. T. Douglas Price. Bone chemistry and past behavior: an overview. Journal of Human Evolution. 1985. Vol. 14 (5). hlm. 419–47. doi:10.1016/S0047-2484(85)80022-1.
  64. Luville T. Steadman. Distribution of strontium in teeth from different geographic areas. The Journal of the American Dental Association. 1958. Vol. 57 (3). hlm. 340–44. doi:10.14219/jada.archive.1958.0161.
  65. Matthew Mike Schweissing. Stable strontium isotopes in human teeth and bone: a key to migration events of the late Roman period in Bavaria. Journal of Archaeological Science. 2003. Vol. 30 (11). hlm. 1373–83. doi:10.1016/S0305-4403(03)00025-6.
  66. J. Dasch. Strontium isotopes in weathering profiles, deep-sea sediments, and sedimentary rocks. Geochimica et Cosmochimica Acta. 1969. Vol. 33 (12). hlm. 1521–52. doi:10.1016/0016-7037(69)90153-7.
  67. M. D. Krom. The characterisation of Saharan dusts and Nile particulate matter in surface sediments from the Levantine basin using Sr isotopes. Marine Geology. 1999. Vol. 155 (3–4). hlm. 319–30. doi:10.1016/S0025-3227(98)00130-3.
  68. M. D. Krom. The characterisation of Saharan dusts and Nile particulate matter in surface sediments from the Levantine basin using Sr isotopes. Marine Geology. 1999. Vol. 155 (3–4). hlm. 319–30. doi:10.1016/S0025-3227(98)00130-3.
  69. Benson, L. Ancient maize from Chacoan great houses: where was it grown?. Proceedings of the National Academy of Sciences. 2003. Vol. 100 (22). hlm. 13111–15. doi:10.1073/pnas.2135068100.
  70. English NB. Strontium isotopes reveal distant sources of architectural timber in Chaco Canyon, New Mexico. Proc Natl Acad Sci USA. October 2001. Vol. 98 (21). hlm. 11891–96. doi:10.1073/pnas.211305498.
  71. Barnett-Johnson, Rachel. Identifying the contribution of wild and hatchery Chinook salmon (Oncorhynchus tshawytscha) to the ocean fishery using otolith microstructure as natural tags. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences. 2007. Vol. 64 (12). hlm. 1683–92. doi:10.1139/F07-129.
  72. Porder, S. Mapping the origin of faunal assemblages using strontium isotopes. Paleobiology. 2003. Vol. 29 (2). hlm. 197–204. doi:10.1666/0094-8373(2003)029 2.0.CO;2.
  73. David Van der Heggen. Persistent Luminescence in Strontium Aluminate: A Roadmap to a Brighter Future. Advanced Functional Materials. Oktober 2022. Vol. 32 (52). doi:10.1002/adfm.202208809.
  74. Chemistry of Firework Colors – How Fireworks Are Colored. Chemistry.about.com. 10 April 2012.
  75. MacMillan, J. Paul; Park, Jai Won; Gerstenberg, Rolf; Wagner, Heinz; Köhler, Karl dan Wallbrecht, Peter (2002) "Strontium and Strontium Compounds" dalam Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Wiley-VCH, Weinheim. .
  76. Ferrite Permanent Magnets. Arnold Magnetic Technologies.
  77. Barium Carbonate. Chemical Products Corporation.
  78. Ghom. Textbook of Oral Medicine. 1 Desember 2005. hlm. 885. ISBN 978-81-8061-431-6.
  79. C. R. Hammond The elements (hlm. 4–35) dalam
  80. Greenwood dan Earnshaw, hlm. 111
  81. Edwin CartlidgeMar. 1. With better atomic clocks, scientists prepare to redefine the second. Science AAAS. 28 Februari 2018.
  82. FDA ANDA Generic Drug Approvals. BPOM A.S.
  83. Glenn Bauman. Radiopharmaceuticals for the palliation of painful bone metastases – a systematic review. Radiotherapy and Oncology. 2005. Vol. 75 (3). hlm. 258.E1–258.E13. doi:10.1016/j.radonc.2005.03.003.
  84. What are the fuels for radioisotope thermoelectric generators?. qrg.northwestern.edu.
  85. Doyle, James. Nuclear safeguards, security and nonproliferation: achieving security with technology and policy. 30 Juni 2008. hlm. 459. ISBN 978-0-7506-8673-0.
  86. R. C. O'Brien. Safe radioisotope thermoelectric generators and heat sources for space applications. Journal of Nuclear Materials. 2008. Vol. 377 (3). hlm. 506–21. doi:10.1016/j.jnucmat.2008.04.009.
  87. Patrick De Deckker. On the celestite-secreting Acantharia and their effect on seawater strontium to calcium ratios. Hydrobiologia. 2004. Vol. 517 (1–3). hlm. 1. doi:10.1023/B:HYDR.0000027333.02017.50.
  88. S. Pors Nielsen. The biological role of strontium. Bone. 2004. Vol. 35 (3). hlm. 583–88. doi:10.1016/j.bone.2004.04.026.
  89. Walter E. Cabrera. Strontium and Bone. Journal of Bone and Mineral Research. 1999. Vol. 14 (5). hlm. 661–68. doi:10.1359/jbmr.1999.14.5.661.
  90. John Emsley. Nature's building blocks: an A–Z guide to the elements. Oxford University Press. 2011. hlm. 507. ISBN 978-0-19-960563-7.
  91. Agency for Toxic Substances and Disease Registry. ATSDR – Public Health Statement: Strontium. cdc.gov. Agency for Toxic Substances and Disease Registry. 21 Januari 2015.
  92. B. L. Tiller. Hanford Site 2001 Environmental Report. DOE. 2001.
  93. C. J. Driver. Ecotoxicity Literature Review of Selected Hanford Site Contaminants. DOE. 1994. doi:10.2172/10136486.
  94. Freshwater Ecology and Human Influence. Area IV Envirothon.
  95. Radioisotopes That May Impact Food Resources. Epidemiology, Health and Social Services, State of Alaska.
  96. Human Health Fact Sheet: Strontium. Argonne National Laboratory. Oktober 2001.
  97. Biological Half-life. HyperPhysics.
  98. Samuel Glasstone. The effects of Nuclear Weapons. 1977. hlm. 605.
  99. N. B. Shagina. An application of in vivo whole body counting technique for studying strontium metabolism and internal dose reconstruction for the Techa River population. Journal of Physics: Conference Series. 2006. Vol. 41 (1). hlm. 433–40. doi:10.1088/1742-6596/41/1/048.
  100. Meunier P. J. The effects of strontium ranelate on the risk of vertebral fracture in women with postmenopausal osteoporosis. New England Journal of Medicine. Januari 2004. Vol. 350 (5). hlm. 459–68. doi:10.1056/NEJMoa022436.
  101. Reginster JY. Strontium ranelate reduces the risk of nonvertebral fractures in postmenopausal women with osteoporosis: treatment of peripheral osteoporosis (TROPOS) study. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. Mei 2005. Vol. 90 (5). hlm. 2816–22. doi:10.1210/jc.2004-1774.
  102. Strontium ranelate: cardiovascular risk – restricted indication and new monitoring requirements. Medicines and Healthcare products Regulatory Agency, UK. March 2014.
  103. Charles T. Price. Essential Nutrients for Bone Health and a Review of their Availability in the Average North American Diet. Open Orthop. J. 5 April 2012. Vol. 6. hlm. 143–49. doi:10.2174/1874325001206010143.
  104. Strontium. WebMD.
  105. Strontium for Osteoporosis. WebMD.
  106. Strontium. WebMD.
  107. Strontium for Osteoporosis. WebMD.
  108. Hahn, G.S. Strontium Is a Potent and Selective Inhibitor of Sensory Irritation. Dermatologic Surgery. 1999. Vol. 25 (9). hlm. 689–94. doi:10.1046/j.1524-4725.1999.99099.x.
  109. Hahn, G.S. Anti-irritants for Sensory Irritation. Handbook of Cosmetic Science and Technology. 2001. hlm. 285. ISBN 978-0-8247-0292-2.
  110. Kim, Hyun Jeong. The Effects of Strontium Ions on Epidermal Permeability Barrier. The Korean Dermatological Association, Korean Journal of Dermatology. 2006. Vol. 44. hlm. 1309.
  111. Carol Potera. HAZARDOUS WASTE: Pond Algae Sequester Strontium-90. Environ Health Perspect. 2011. Vol. 119 (6). hlm. A244. doi:10.1289/ehp.119-a244.
  112. BO Boehm. The parathyroid as a target for radiation damage. The New England Journal of Medicine. 18 Agustus 2011. Vol. 365 (7). hlm. 676–8. doi:10.1056/NEJMc1104982.
  113. Carol Potera. HAZARDOUS WASTE: Pond Algae Sequester Strontium-90. Environ Health Perspect. 2011. Vol. 119 (6). hlm. A244. doi:10.1289/ehp.119-a244.
  114. Mingxue Liu. Biosorption of Strontium from Simulated Nuclear Wastewater by Scenedesmus spinosus under Culture Conditions: Adsorption and Bioaccumulation Processes and Models. Int J Environ Res Public Health. 2014. Vol. 11 (6). hlm. 6099–6118. doi:10.3390/ijerph110606099.
  115. Carol Potera. HAZARDOUS WASTE: Pond Algae Sequester Strontium-90. Environ Health Perspect. 2011. Vol. 119 (6). hlm. A244. doi:10.1289/ehp.119-a244.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29584973 (2026-08-15T21:42:17Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.