Subsidensi tanah: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28082071; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
[[File:Wiki_Image_Rev1.svg|thumb|right|280px|Wiki Image Rev1]] | |||
'''Subsidensi tanah''' atau '''penurunan muka tanah''', '''penurunan tanah''', '''amblesan tanah''', atau '''subsiden tanah''' adalah pergerakan permukaan tanah ke bawah relatif terhadap [[datum (geodesi)|datum]] atau titik tertentu. Subsiden tanah dapat diakibatkan oleh berbagai hal, seperti ekstraksi migas, penambangan [[mineral]], [[ekstraksi air tanah]], [[kelarutan]] batu kapur, [[gempa bumi]], dan sebagainya. Subsiden tanah merupakan salah satu permasalahan yang menjadi fokus utama pakar [[geologi]], [[ilmu ukur wilayah|surveyor]], dan insinyur [[geoteknik]]. | '''Subsidensi tanah''' atau '''penurunan muka tanah''', '''penurunan tanah''', '''amblesan tanah''', atau '''subsiden tanah''' adalah pergerakan permukaan tanah ke bawah relatif terhadap [[datum (geodesi)|datum]] atau titik tertentu. Subsiden tanah dapat diakibatkan oleh berbagai hal, seperti ekstraksi migas, penambangan [[mineral]], [[ekstraksi air tanah]], [[kelarutan]] batu kapur, [[gempa bumi]], dan sebagainya. Subsiden tanah merupakan salah satu permasalahan yang menjadi fokus utama pakar [[geologi]], [[ilmu ukur wilayah|surveyor]], dan insinyur [[geoteknik]]. | ||
| Baris 5: | Baris 7: | ||
== Penambangan mineral == | == Penambangan mineral == | ||
Penambangan mineral bawah tanah dilakukan dengan membuat lubang secara horizontal. Ruang yang tercipta akibat penambangan ini dapat menyebabkan subsiden tanah di atas tambang dan area di sekitarnya. Subsiden dari penambangan bawah tanah cenderung dapat diprediksi besarannya, kecuali ketika terjadi kerusakan pada tiang penyangga yang biasanya terjadi pada tambang tua. | Penambangan mineral bawah tanah dilakukan dengan membuat lubang secara horizontal. Ruang yang tercipta akibat penambangan ini dapat menyebabkan subsiden tanah di atas tambang dan area di sekitarnya.<ref>[http://www.minesub.nsw.gov.au/SiteFiles/minesubnswgovau/Graduated_Guideline_Residential_Construction.pdf Graduated Guidelines for Residential Construction (New South Wales) Volume 1].</ref> Subsiden dari penambangan bawah tanah cenderung dapat diprediksi besarannya, kecuali ketika terjadi kerusakan pada tiang penyangga yang biasanya terjadi pada tambang tua.<ref>Herrera, G.; Tomás, R.; López-Sánchez, J.M.; Delgado, J.; Mallorquí, J.; Duque, S.; Mulas, J. Advanced DInSAR analysis on mining areas: La Union case study (Murcia, SE Spain). Engineering Geology, 90, 148-159, 2007.</ref> | ||
== Ekstraksi migas == | == Ekstraksi migas == | ||
Reservoir [[gas alam]] biasanya memiliki tekanan awal hingga 60 megapascal, dan terus menurun seiring dengan ekstraksi gas tersebut. Tekanan gas ini, yang awalnya menopang sejumlah massa tanah di atasnya, tidak lagi mampu menopang sehingga tanah di atasnya menurun dan terjadi subsiden. Contoh yang telah terjadi adalah subsiden di ladang gas [[Slochteren]], Belanda. Penambangan dimulai sejak tahun 1960an, dan sejak saat itu subsiden telah terjadi hingga 30 cm. | Reservoir [[gas alam]] biasanya memiliki tekanan awal hingga 60 megapascal, dan terus menurun seiring dengan ekstraksi gas tersebut. Tekanan gas ini, yang awalnya menopang sejumlah massa tanah di atasnya, tidak lagi mampu menopang sehingga tanah di atasnya menurun dan terjadi subsiden. Contoh yang telah terjadi adalah subsiden di ladang gas [[Slochteren]], Belanda. Penambangan dimulai sejak tahun 1960an, dan sejak saat itu subsiden telah terjadi hingga 30 cm.<ref>[http://www.uwsp.edu/geo/faculty/ozsvath/lectures/Deep%20Subsidence.htm Subsidence lecture].</ref> | ||
== Gempa bumi == | == Gempa bumi == | ||
Gempa bumi mengguncang fitur geologi di bawah tanah sehingga berpotensi terjadi [[perpindahan massa]] yang menyebabkan terbentuknya ruang kosong di bawah tanah dan subsiden terjadi. Seperti yang terjadi pada [[gempa Tohoku 2011]] yang menyebabkan subsiden yang tiba-tiba. Subsiden hingga sedalam 1.2 meter terjadi di [[Tanjung Oshika]] di Miyagi Prefecture. | Gempa bumi mengguncang fitur geologi di bawah tanah sehingga berpotensi terjadi [[perpindahan massa]] yang menyebabkan terbentuknya ruang kosong di bawah tanah dan subsiden terjadi. Seperti yang terjadi pada [[gempa Tohoku 2011]] yang menyebabkan subsiden yang tiba-tiba.<ref>[http://www.gsi.go.jp/sokuchikijun/sokuchikijun40003.html 平成23年(2011年)東北地方太平洋沖地震に伴う地盤沈下調査]. Geospatial Information Authority of Japan. 2011-04-14.</ref> Subsiden hingga sedalam 1.2 meter terjadi di [[Tanjung Oshika]] di Miyagi Prefecture.<ref>[http://www.gsi.go.jp/chibankansi/chikakukansi_tohoku2.html] Diastrophism in Oshika Peninsula on 2011 Tōhoku earthquake and tsunami, [http://www.gsi.go.jp/common/000059674.pdf Diastrophism in vertical 2011-03-11 M9.0], [http://www.gsi.go.jp/common/000059672.pdf Diastrophism in horizontal 2011-03-11 M9.0] Geospatial Information Authority of Japan</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | |||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Subsidensi+tanah&oldid=28082071 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28082071 (2025-10-17T20:17:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | |||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 27 Agustus 2026 09.06
Subsidensi tanah atau penurunan muka tanah, penurunan tanah, amblesan tanah, atau subsiden tanah adalah pergerakan permukaan tanah ke bawah relatif terhadap datum atau titik tertentu. Subsiden tanah dapat diakibatkan oleh berbagai hal, seperti ekstraksi migas, penambangan mineral, ekstraksi air tanah, kelarutan batu kapur, gempa bumi, dan sebagainya. Subsiden tanah merupakan salah satu permasalahan yang menjadi fokus utama pakar geologi, surveyor, dan insinyur geoteknik.
Kelarutan batu kapur
Terutama terjadi di kawasan karst, batu kapur rentan larut oleh air yang mengalir di atasnya sehingga menyebabkan terbentuknya celah besar yang menuju ke sungai bawah tanah membentuk gua. Jika atap gua terlalu rapuh, maka akan terbentuk lubang vertikal.
Penambangan mineral
Penambangan mineral bawah tanah dilakukan dengan membuat lubang secara horizontal. Ruang yang tercipta akibat penambangan ini dapat menyebabkan subsiden tanah di atas tambang dan area di sekitarnya.[1] Subsiden dari penambangan bawah tanah cenderung dapat diprediksi besarannya, kecuali ketika terjadi kerusakan pada tiang penyangga yang biasanya terjadi pada tambang tua.[2]
Ekstraksi migas
Reservoir gas alam biasanya memiliki tekanan awal hingga 60 megapascal, dan terus menurun seiring dengan ekstraksi gas tersebut. Tekanan gas ini, yang awalnya menopang sejumlah massa tanah di atasnya, tidak lagi mampu menopang sehingga tanah di atasnya menurun dan terjadi subsiden. Contoh yang telah terjadi adalah subsiden di ladang gas Slochteren, Belanda. Penambangan dimulai sejak tahun 1960an, dan sejak saat itu subsiden telah terjadi hingga 30 cm.[3]
Gempa bumi
Gempa bumi mengguncang fitur geologi di bawah tanah sehingga berpotensi terjadi perpindahan massa yang menyebabkan terbentuknya ruang kosong di bawah tanah dan subsiden terjadi. Seperti yang terjadi pada gempa Tohoku 2011 yang menyebabkan subsiden yang tiba-tiba.[4] Subsiden hingga sedalam 1.2 meter terjadi di Tanjung Oshika di Miyagi Prefecture.[5]
Referensi
- ↑ Graduated Guidelines for Residential Construction (New South Wales) Volume 1.
- ↑ Herrera, G.; Tomás, R.; López-Sánchez, J.M.; Delgado, J.; Mallorquí, J.; Duque, S.; Mulas, J. Advanced DInSAR analysis on mining areas: La Union case study (Murcia, SE Spain). Engineering Geology, 90, 148-159, 2007.
- ↑ Subsidence lecture.
- ↑ 平成23年(2011年)東北地方太平洋沖地震に伴う地盤沈下調査. Geospatial Information Authority of Japan. 2011-04-14.
- ↑ [1] Diastrophism in Oshika Peninsula on 2011 Tōhoku earthquake and tsunami, Diastrophism in vertical 2011-03-11 M9.0, Diastrophism in horizontal 2011-03-11 M9.0 Geospatial Information Authority of Japan
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28082071 (2025-10-17T20:17:46Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.