Antioksidan: Perbedaan antara revisi
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 28586922; atribusi sumber disertakan. |
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi |
||
| Baris 1: | Baris 1: | ||
'''Antioksidan''' merupakan molekul yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi molekul lain. Oksidasi adalah [[reaksi kimia]] yang dapat menghasilkan [[Radikal (kimia)|radikal bebas]], sehingga memicu reaksi berantai yang dapat merusak [[Sel (biologi)|sel]]. Antioksidan seperti [[tiol]] atau [[asam askorbat]] (vitamin C) mengakhiri reaksi berantai ini. | '''Antioksidan''' merupakan molekul yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi molekul lain.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Oksidasi adalah [[reaksi kimia]] yang dapat menghasilkan [[Radikal (kimia)|radikal bebas]], sehingga memicu reaksi berantai yang dapat merusak [[Sel (biologi)|sel]]. Antioksidan seperti [[tiol]] atau [[asam askorbat]] (vitamin C) mengakhiri reaksi berantai ini. | ||
Untuk menjaga keseimbangan tingkat oksidasi, tumbuhan dan hewan memiliki suatu sistem yang kompleks dari tumpangsuh antioksidan, seperti [[glutation]] dan [[enzim]] (misalnya: [[katalase]] dan [[superoksida dismutase]]) yang diproduksi secara internal atau dapat diperoleh dari asupan [[vitamin C]], [[vitamin A]] dan [[vitamin E]]. | Untuk menjaga keseimbangan tingkat oksidasi, tumbuhan dan hewan memiliki suatu sistem yang kompleks dari tumpangsuh antioksidan, seperti [[glutation]] dan [[enzim]] (misalnya: [[katalase]] dan [[superoksida dismutase]]) yang diproduksi secara internal atau dapat diperoleh dari asupan [[vitamin C]], [[vitamin A]] dan [[vitamin E]]. | ||
Antioksidan secara nyata mampu memperlambat atau menghambat [[oksidasi]] zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah. Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai [[Senyawa kimia|senyawa-senyawa]] yang melindungi [[Sel (biologi)|sel]] dari efek berbahaya [[radikal bebas]] oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari [[metabolisme]] tubuh maupun faktor eksternal lainnya. [[Radikal bebas]] adalah spesi yang tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mencari pasangan elektron dalam makromolekul biologi. Protein, lipid, dan DNA dari sel manusia yang sehat merupakan sumber pasangan elektron yang baik. Kondisi oksidasi dapat menyebabkan kerusakan [[protein]] dan [[DNA]], [[kanker]], penuaan, dan [[penyakit]] lainnya. Komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa golongan fenolik dan polifenolik. Senyawa-senyawa golongan tersebut banyak terdapat di alam, terutama pada tumbuh-tumbuhan, dan memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas. Antioksidan yang banyak ditemukan pada bahan pangan, antara lain [[vitamin E]], [[vitamin C]], dan [[karotenoid]]. | Antioksidan secara nyata mampu memperlambat atau menghambat [[oksidasi]] zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai [[Senyawa kimia|senyawa-senyawa]] yang melindungi [[Sel (biologi)|sel]] dari efek berbahaya [[radikal bebas]] oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari [[metabolisme]] tubuh maupun faktor eksternal lainnya.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> [[Radikal bebas]] adalah spesi yang tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mencari pasangan elektron dalam makromolekul biologi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Protein, lipid, dan DNA dari sel manusia yang sehat merupakan sumber pasangan elektron yang baik. Kondisi oksidasi dapat menyebabkan kerusakan [[protein]] dan [[DNA]], [[kanker]], penuaan, dan [[penyakit]] lainnya.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa golongan fenolik dan polifenolik. Senyawa-senyawa golongan tersebut banyak terdapat di alam, terutama pada tumbuh-tumbuhan, dan memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Antioksidan yang banyak ditemukan pada bahan pangan, antara lain [[vitamin E]], [[vitamin C]], dan [[karotenoid]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> | ||
Antioksidan banyak digunakan dalam [[suplemen makanan]] dan telah diteliti untuk pencegahan penyakit seperti [[kanker]] atau [[penyakit jantung koroner]]. Meskipun studi awal menunjukkan bahwa suplemen antioksidan dapat meningkatkan kesehatan, [[uji klinis|pengujian]] lanjutan masih sangat diperlukan, termasuk beta-karoten, vitamin A, dan vitamin E secara tunggal atau dalam kombinasi yang berbeda menunjukkan bahwa suplementasi tidak berpengaruh pada tingkat kematian. [[Uji acak terkendali|Uji klinis acak]] konsumsi antioksidan termasuk beta karoten, vitamin E, vitamin C dan [[selenium]] menunjukkan tidak ada pengaruh pada risiko kanker atau mengalami peningkatan risiko kanker. Suplementasi dengan selenium atau vitamin E tidak mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Dengan contoh-contoh ini, [[stres oksidatif]] dapat dianggap sebagai penyebab atau konsekuensi dari beberapa penyakit, mendorong [[pengembangan obat]] berbasis antioksidan potensial untuk mengobati penyakit. | Antioksidan banyak digunakan dalam [[suplemen makanan]] dan telah diteliti untuk pencegahan penyakit seperti [[kanker]] atau [[penyakit jantung koroner]]. Meskipun studi awal menunjukkan bahwa suplemen antioksidan dapat meningkatkan kesehatan, [[uji klinis|pengujian]] lanjutan masih sangat diperlukan, termasuk beta-karoten, vitamin A, dan vitamin E secara tunggal atau dalam kombinasi yang berbeda menunjukkan bahwa suplementasi tidak berpengaruh pada tingkat kematian.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> [[Uji acak terkendali|Uji klinis acak]] konsumsi antioksidan termasuk beta karoten, vitamin E, vitamin C dan [[selenium]] menunjukkan tidak ada pengaruh pada risiko kanker atau mengalami peningkatan risiko kanker.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Suplementasi dengan selenium atau vitamin E tidak mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Dengan contoh-contoh ini, [[stres oksidatif]] dapat dianggap sebagai penyebab atau konsekuensi dari beberapa penyakit, mendorong [[pengembangan obat]] berbasis antioksidan potensial untuk mengobati penyakit. | ||
Antioksidan memiliki banyak kegunaan industri, seperti [[pengawet]] dalam makanan dan kosmetik, serta untuk mencegah degradasi karet dan bensin. | Antioksidan memiliki banyak kegunaan industri, seperti [[pengawet]] dalam makanan dan kosmetik, serta untuk mencegah degradasi karet dan bensin.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> | ||
== Efek kesehatan == | == Efek kesehatan == | ||
=== Hubungan dengan diet === | === Hubungan dengan diet === | ||
Meskipun beberapa tingkat vitamin antioksidan dalam diet diperlukan demi kebugaran, masih ada keraguan besar benarkah suplemen antioksidan memiliki aktivitas anti-penyakit; dan jika mereka benar-benar menguntungkan, antioksidan apa yang diperlukan dan berapa jumlahnya.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Memang, beberapa penulis berpendapat bahwa hipotesis yang mengatakan antioksidan dapat mencegah penyakit kronis<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[http://www.dietandcancerreport.org/?p=ER ''Food, Nutrition, Physical Activity, and the Prevention of Cancer: a Global Perspective.''] World Cancer Research Fund (2007). ISBN 978-0-9722522-2-5.</ref> kini telah dibantah dan bahwa ide tersebut sesat sejak awal.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Sebaliknya, [[polifenol]] diet dalam konsentrasi kecil mungkin tidak memiliki peran antioksidan yang dapat memengaruhi komunikasi antar sel, sensitivitas [[Reseptor (biokimia)|reseptor]], aktivitas [[enzim]] inflamasi atau [[regulasi gen]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> | |||
Untuk [[harapan hidup]] secara keseluruhan, telah disarankan bahwa stres oksidatif tingkat sedang dapat memperpanjang umur cacing ''Caenorhabditis elegans'', dengan menginduksi respons pelindung untuk peningkatan tingkat spesies oksigen reaktif.<ref>Schulz TJ. ''Glucose restriction extends Caenorhabditis elegans life span by inducing mitochondrial respiration and increasing oxidative stress''. ''Cell Metabolism''. Oct 2007. Vol. 6 (4). hlm. 280–93. doi:10.1016/j.cmet.2007.08.011.</ref> Sugesti bahwa harapan hidup meningkat berasal dari peningkatan stres oksidatif dengan hasil yang terlihat pada ragi ''[[Saccharomyces cerevisiae]]'',<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> tetapi situasi pada mamalia belum jelas.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Namun demikian, suplemen antioksidan tidak terlihat dapat meningkatkan harapan hidup pada manusia.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> | |||
Meskipun antioksidan telah diteliti mengenai efek potensialnya pada [[penyakit neurodegeneratif]] seperti [[Alzheimer]], [[Penyakit Parkinson|Parkinson]], dan [[sklerosis lateral amiotropik]],<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref><ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> tetapi studi-studi ini belum meyakinkan.<ref>''Dietary antioxidants, cognitive function and dementia--a systematic review''. ''Plant Foods for Human Nutrition''. Sep 2013. Vol. 68 (3). hlm. 279–92. doi:10.1007/s11130-013-0370-0.</ref><ref>''Vitamin A and carotenoids and the risk of Parkinson's disease: a systematic review and meta-analysis''. ''Neuroepidemiology''. 2014. Vol. 42 (1). hlm. 25–38. doi:10.1159/000355849.</ref><ref>''A critical review of vitamin C for the prevention of age-related cognitive decline and Alzheimer's disease''. ''Journal of Alzheimer's Disease''. 2012. Vol. 29 (4). hlm. 711–26. doi:10.3233/JAD-2012-111853.</ref> | |||
Meskipun antioksidan telah diteliti mengenai efek potensialnya pada [[penyakit neurodegeneratif]] seperti [[Alzheimer]], [[Penyakit Parkinson|Parkinson]], dan [[sklerosis lateral amiotropik]], tetapi studi-studi ini belum meyakinkan. | |||
== Penggolongan antioksidan berdasarkan sumbernya == | == Penggolongan antioksidan berdasarkan sumbernya == | ||
Berdasarkan asalnya, antioksidan terdiri atas antioksigen yang berasal dari dalam tubuh (endogen) dan dari luar tubuh (eksogen). Adakalanya sistem antioksidan endogen tidak cukup mampu mengatasi stres oksidatif yang berlebihan. Stres oksidatif merupakan keadaan saat mekanisme antioksidan tidak cukup untuk memecah [[spesi oksigen reaktif]]. Oleh karena itu, diperlukan antioksidan dari luar (eksogen) untuk mengatasinya. | Berdasarkan asalnya, antioksidan terdiri atas antioksigen yang berasal dari dalam tubuh (endogen) dan dari luar tubuh (eksogen).<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Adakalanya sistem antioksidan endogen tidak cukup mampu mengatasi stres oksidatif yang berlebihan.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Stres oksidatif merupakan keadaan saat mekanisme antioksidan tidak cukup untuk memecah [[spesi oksigen reaktif]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Oleh karena itu, diperlukan antioksidan dari luar (eksogen) untuk mengatasinya.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> | ||
=== Antioksidan alami === | === Antioksidan alami === | ||
Antioksidan alami biasanya lebih diminati, karena tingkat keamanan yang lebih baik dan manfaatnya yang lebih luas dibidang makanan, [[kesehatan]] dan [[kosmetik]]. Antioksidan alami dapat ditemukan pada sayuran, buah-buahan, dan tumbuhan berkayu. [[Metabolit sekunder]] dalam tumbuhan yang berasal dari golongan [[alkaloid]], [[flavonoid]], [[saponin]], [[kuinon]], [[tanin]], [[steroid]]/ triterpenoid. Quezada et al. (2004) menyatakan bahwa fraksi [[alkaloid]] pada [[daun]] “Peumus boldus” dapat berperan sebagai antioksidan. Zin “et al”. (2002) menyatakan bahwa golongan senyawa yang aktif sebagai antioksidan pada batang, buah, dan daun mengkudu berasal dari golongan flavonoid. Gingseng yang berperan sebagai antioksidan, [[antidiabetes]], [[antihepatitis]], [[antistres]], dan [[antineoplastik]], mengandung [[saponin glikosida]] ([[steroid glikosida]]). Uji aktivitas antioksidan yang dilakukan pada daun “Ipomea pescaprae” menunjukkan keberadaan senyawa kuinon, [[kumarin]], dan furanokumarin. Tanin yang banyak terdapat pada [[teh]] dipercaya memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Sementara itu, Iwalokum “et al”.(2007)menyatakan bahwa “Pleurotus ostreatus” yang mengandung triterpenoid, tanin, dan sterois glikosida dapat berperan sebagai antioksidan dan [[antimikroba]] | Antioksidan alami biasanya lebih diminati, karena tingkat keamanan yang lebih baik dan manfaatnya yang lebih luas dibidang makanan, [[kesehatan]] dan [[kosmetik]].<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> Antioksidan alami dapat ditemukan pada sayuran, buah-buahan, dan tumbuhan berkayu.<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> [[Metabolit sekunder]] dalam tumbuhan yang berasal dari golongan [[alkaloid]], [[flavonoid]], [[saponin]], [[kuinon]], [[tanin]], [[steroid]]/ triterpenoid.<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> Quezada et al. (2004) menyatakan bahwa fraksi [[alkaloid]] pada [[daun]] “Peumus boldus” dapat berperan sebagai antioksidan.<ref>Quezada M, Asencio M, Valle JM, Aguilera JM. 2004. A''Antioxidant activity of crude extract, alkaloid fraction, and flavonoid faction from Boldo Peumus boldus Molina) Leaves''. “Food Sci” 69: C371-C376.</ref> Zin “et al”. (2002) menyatakan bahwa golongan senyawa yang aktif sebagai antioksidan pada batang, buah, dan daun mengkudu berasal dari golongan flavonoid. Gingseng yang berperan sebagai antioksidan, [[antidiabetes]], [[antihepatitis]], [[antistres]], dan [[antineoplastik]], mengandung [[saponin glikosida]] ([[steroid glikosida]]).<ref>Lee TW, Johnken RM, Allison RR, Brien KF, Dobs LJ. 2005. ''Radioprotective potential of gingseng''. “Mutagenesis” 4:273-243.</ref> Uji aktivitas antioksidan yang dilakukan pada daun “Ipomea pescaprae” menunjukkan keberadaan senyawa kuinon, [[kumarin]], dan furanokumarin.<ref>Agustiningrum D. 2004. Isolasi dan uji aktivitas antioksidan senyawa bioaktif dari daun “Ipomoea pescaprea” [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.</ref> Tanin yang banyak terdapat pada [[teh]] dipercaya memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Sementara itu, Iwalokum “et al”.(2007)menyatakan bahwa “Pleurotus ostreatus” yang mengandung triterpenoid, tanin, dan sterois glikosida dapat berperan sebagai antioksidan dan [[antimikroba]] | ||
=== Antioksidan sintetik === | === Antioksidan sintetik === | ||
| Baris 29: | Baris 28: | ||
- Butil Hidroksi Anisol (BHA) dan Butil Hidroksi Toluen (BHT), ditambahkan pada lemak / minyak goreng agar tidak cepat basi (tengik). Dalam hal ini kita pernah mencium dari bau yang dimiliki oleh minyak goreng lawas yang di mana terbilang sangatlah memiliki bau. Hal itu dapat diartikan bahwa minyak itu sendiri telah memiliki oksidasi dengan udara di mana zat antioksidan itu akan melakukan [[asam lemak]] yang tak jenuh yang di mana akan berada pada bagian minyak maupun lemak sehingga tidak akan teroksidasi dari cahaya. | - Butil Hidroksi Anisol (BHA) dan Butil Hidroksi Toluen (BHT), ditambahkan pada lemak / minyak goreng agar tidak cepat basi (tengik). Dalam hal ini kita pernah mencium dari bau yang dimiliki oleh minyak goreng lawas yang di mana terbilang sangatlah memiliki bau. Hal itu dapat diartikan bahwa minyak itu sendiri telah memiliki oksidasi dengan udara di mana zat antioksidan itu akan melakukan [[asam lemak]] yang tak jenuh yang di mana akan berada pada bagian minyak maupun lemak sehingga tidak akan teroksidasi dari cahaya. | ||
== Penggolongan antioksidan berdasarkan mekanisme kerjanya == | == Penggolongan antioksidan berdasarkan mekanisme kerjanya == | ||
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dibedakan menjadi [[antioksidan primer]] yang dapat bereaksi dengan radikal bebas atau mengubahnya menjadi produk yang stabil, dan [[antioksidan sekunder]] atau antioksidan preventif yang dapat mengurangi laju awal reaksi rantai serta [[antioksidan tersier]]. Mekanisme kerja antioksidan seluler menurut Ong et al. (1995) antara lain, antioksidan yang berinteraksi langsung dengan [[oksidan]], radikal bebas, atau oksigen tunggal; mencegah pembentukan jenis oksigen reaktif; mengubah jenis oksigen rekatif menjadi kurang [[toksik]]; mencegah kemampuan oksigen reaktif; dan memperbaiki kerusakan yang timbul. | Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dibedakan menjadi [[antioksidan primer]] yang dapat bereaksi dengan radikal bebas atau mengubahnya menjadi produk yang stabil, dan [[antioksidan sekunder]] atau antioksidan preventif yang dapat mengurangi laju awal reaksi rantai serta [[antioksidan tersier]].<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> Mekanisme kerja antioksidan seluler menurut Ong et al. (1995) antara lain, antioksidan yang berinteraksi langsung dengan [[oksidan]], radikal bebas, atau oksigen tunggal; mencegah pembentukan jenis oksigen reaktif; mengubah jenis oksigen rekatif menjadi kurang [[toksik]]; mencegah kemampuan oksigen reaktif; dan memperbaiki kerusakan yang timbul.<ref>Ong ASH, Niki E, Packer L. 1995. Nutrition, Lipids, and Desease. Hlmn 1-7.ISBN 0-935315-64-0.Illnois: AOCS Champaign Pr.</ref> | ||
=== Antioksidan primer === | === Antioksidan primer === | ||
Antioksidan primer berperan untuk mencegah pembentukan radikal bebas baru dengan memutus [[reaksi berantai]] dan mengubahnya menjadi produk yang lebih [[stabil]]. Contoh antioksidan primer, ialah [[enzim superoksida dimustase]] (SOD), [[katalase]], dan [[glutation dimustase]]. | Antioksidan primer berperan untuk mencegah pembentukan radikal bebas baru dengan memutus [[reaksi berantai]] dan mengubahnya menjadi produk yang lebih [[stabil]].<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> Contoh antioksidan primer, ialah [[enzim superoksida dimustase]] (SOD), [[katalase]], dan [[glutation dimustase]].<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> | ||
=== Antioksidan sekunder === | === Antioksidan sekunder === | ||
Antioksidan sekunder berfungsi menangkap senyawa radikal serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Contoh antioksidan sekunder diantaranya yaitu [[vitamin E]], [[Vitamin C]], dan [[beta-karoten|β-karoten]]. | Antioksidan sekunder berfungsi menangkap senyawa radikal serta mencegah terjadinya reaksi berantai.<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> Contoh antioksidan sekunder diantaranya yaitu [[vitamin E]], [[Vitamin C]], dan [[beta-karoten|β-karoten]].<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> | ||
=== Antioksidan tersier === | === Antioksidan tersier === | ||
Antioksidan tersier berfungsi memperbaiki kerusakan sel dan jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas. Contohnya yaitu enzim yang memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksida reduktase. | Antioksidan tersier berfungsi memperbaiki kerusakan sel dan jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas.<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> Contohnya yaitu enzim yang memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksida reduktase.<ref>Gordon I. 1994. ''Functional Food, Food Design, Pharmafood''. New York: Champman dan Hall.</ref> | ||
== Metode pengujian antioksidan == | == Metode pengujian antioksidan == | ||
Beberapa metode uji yang digunakan untuk melihat aktivitas antioksidan | Beberapa metode uji yang digunakan untuk melihat aktivitas antioksidan<ref>Apak R, Guclu K, Ozyurek M, Celik SE, Karademir SE. 2007. ''Comparitive evaluation of various total antioksidant capacity assay applied to phenolic compounds with the CUPRAC assay''. “Molecules” 12:1496-1547.</ref> | ||
=== Metode DPPH === | === Metode DPPH === | ||
Salah satu metode yang digunakan untuk pengujian aktivitas antioksidan adalah metode DPPH. Metode DPPH didasarkan pada kemampuan antioksidan untuk menghambat radikal bebas dengan men[[donor]]kan [[atom hidrogen]]. | Salah satu metode yang digunakan untuk pengujian aktivitas antioksidan adalah metode DPPH. Metode DPPH didasarkan pada kemampuan antioksidan untuk menghambat radikal bebas dengan men[[donor]]kan [[atom hidrogen]].<ref>Apak R, Guclu K, Ozyurek M, Celik SE, Karademir SE. 2007. ''Comparitive evaluation of various total antioksidant capacity assay applied to phenolic compounds with the CUPRAC assay''. “Molecules” 12:1496-1547.</ref> | ||
Perubahan warna ungu DPPH menjadi ungu kemerahan dimanfaatkan untuk mengetahui aktivitas senyawa antioksidan. Metode ini menggunakan [[kontrol positif]] sebagai pembanding untuk mengetahui aktivitas antioksidan sampel. Kontrol positif ini dapat berupa [[tokoferol]], [[Hidroksitoluena terbutilasi|BHT]], dan [[vitamin C]]. Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidra-zil (DPPH) sebagai radikal bebas. Prinsipnya adalah reaksi penangkapan hidrogen oleh DPPH dari senyawa antioksidan, misalnya troloks, yang mengubahnya menjadi 1,1-difenil-2-pikrilhidrazin. | Perubahan warna ungu DPPH menjadi ungu kemerahan dimanfaatkan untuk mengetahui aktivitas senyawa antioksidan.<ref>Ohtani II “et al”. 2000. ''New antioxidant from the African medicinal herb ''Thonginia sanguinea''''. J Nat Prod 63: 676-679.</ref> Metode ini menggunakan [[kontrol positif]] sebagai pembanding untuk mengetahui aktivitas antioksidan sampel. Kontrol positif ini dapat berupa [[tokoferol]], [[Hidroksitoluena terbutilasi|BHT]], dan [[vitamin C]].<ref>Ohtani II “et al”. 2000. ''New antioxidant from the African medicinal herb ''Thonginia sanguinea''''. J Nat Prod 63: 676-679.</ref> Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidra-zil (DPPH) sebagai radikal bebas. Prinsipnya adalah reaksi penangkapan hidrogen oleh DPPH dari senyawa antioksidan, misalnya troloks, yang mengubahnya menjadi 1,1-difenil-2-pikrilhidrazin.<ref>Ohtani II “et al”. 2000. ''New antioxidant from the African medicinal herb ''Thonginia sanguinea''''. J Nat Prod 63: 676-679.</ref> | ||
=== Metode CR === | === Metode CR === | ||
[[Larutan]] Ce(IV) [[sulfat]] yang diberikan pada sampel akan menyerang senyawa antioksidan. Senyawa antioksidan dapat berperan sebagai pemindah [[elektron]], maka perusakan struktur oleh [[elektron reaktif]] yang berasal dari [[oksidator kuat]] seperti Ce(IV) tidak terjadi. Metode ini berdasarkan [[spektrofotometri]] yang pengukurannya dilakukan pada [[panjang gelombang]] 320 nm. Panjang gelombang ini digunakan untuk mengukur Ce(IV) yang tidak bereaksi dengan [[kuersetin]] dan senyawa [[flavonoid]] lain. Kapasitas reduksi Ce(IV) pada sampel dapat diukur [[konsentrasi]] dan [[pH]] larutan yang sesuai membuat Ce (IV) hanya meng[[oksidasi]] antioksidan, dan bukan senyawa organik lain yang mungkin teroksidasi. Hal ini membuat penentuan panjang gelombang maksimum dan nilai pH larutan penting untuk diketahui dan dijaga selama pengukuran agar tidak terjadi pergeseran panjang gelombang selama [[pengukuran]]. | [[Larutan]] Ce(IV) [[sulfat]] yang diberikan pada sampel akan menyerang senyawa antioksidan.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Senyawa antioksidan dapat berperan sebagai pemindah [[elektron]], maka perusakan struktur oleh [[elektron reaktif]] yang berasal dari [[oksidator kuat]] seperti Ce(IV) tidak terjadi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Metode ini berdasarkan [[spektrofotometri]] yang pengukurannya dilakukan pada [[panjang gelombang]] 320 nm.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Panjang gelombang ini digunakan untuk mengukur Ce(IV) yang tidak bereaksi dengan [[kuersetin]] dan senyawa [[flavonoid]] lain.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Kapasitas reduksi Ce(IV) pada sampel dapat diukur [[konsentrasi]] dan [[pH]] larutan yang sesuai membuat Ce (IV) hanya meng[[oksidasi]] antioksidan, dan bukan senyawa organik lain yang mungkin teroksidasi.<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> Hal ini membuat penentuan panjang gelombang maksimum dan nilai pH larutan penting untuk diketahui dan dijaga selama pengukuran agar tidak terjadi pergeseran panjang gelombang selama [[pengukuran]].<ref>[https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia]</ref> | ||
== Referensi == | == Referensi == | ||
<references /> | |||
== Sumber dan atribusi == | == Sumber dan atribusi == | ||
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28586922 (2025-11-21T11:35:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Antioksidan&oldid=28586922 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 28586922 (2025-11-21T11:35:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku. | ||
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 --> | |||
Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.16
Antioksidan merupakan molekul yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi molekul lain.[1] Oksidasi adalah reaksi kimia yang dapat menghasilkan radikal bebas, sehingga memicu reaksi berantai yang dapat merusak sel. Antioksidan seperti tiol atau asam askorbat (vitamin C) mengakhiri reaksi berantai ini.
Untuk menjaga keseimbangan tingkat oksidasi, tumbuhan dan hewan memiliki suatu sistem yang kompleks dari tumpangsuh antioksidan, seperti glutation dan enzim (misalnya: katalase dan superoksida dismutase) yang diproduksi secara internal atau dapat diperoleh dari asupan vitamin C, vitamin A dan vitamin E.
Antioksidan secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah.[2] Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya.[3] Radikal bebas adalah spesi yang tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mencari pasangan elektron dalam makromolekul biologi.[4] Protein, lipid, dan DNA dari sel manusia yang sehat merupakan sumber pasangan elektron yang baik. Kondisi oksidasi dapat menyebabkan kerusakan protein dan DNA, kanker, penuaan, dan penyakit lainnya.[5] Komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa golongan fenolik dan polifenolik. Senyawa-senyawa golongan tersebut banyak terdapat di alam, terutama pada tumbuh-tumbuhan, dan memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas.[6] Antioksidan yang banyak ditemukan pada bahan pangan, antara lain vitamin E, vitamin C, dan karotenoid.[7]
Antioksidan banyak digunakan dalam suplemen makanan dan telah diteliti untuk pencegahan penyakit seperti kanker atau penyakit jantung koroner. Meskipun studi awal menunjukkan bahwa suplemen antioksidan dapat meningkatkan kesehatan, pengujian lanjutan masih sangat diperlukan, termasuk beta-karoten, vitamin A, dan vitamin E secara tunggal atau dalam kombinasi yang berbeda menunjukkan bahwa suplementasi tidak berpengaruh pada tingkat kematian.[8][9] Uji klinis acak konsumsi antioksidan termasuk beta karoten, vitamin E, vitamin C dan selenium menunjukkan tidak ada pengaruh pada risiko kanker atau mengalami peningkatan risiko kanker.[10][11] Suplementasi dengan selenium atau vitamin E tidak mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.[12][13] Dengan contoh-contoh ini, stres oksidatif dapat dianggap sebagai penyebab atau konsekuensi dari beberapa penyakit, mendorong pengembangan obat berbasis antioksidan potensial untuk mengobati penyakit.
Antioksidan memiliki banyak kegunaan industri, seperti pengawet dalam makanan dan kosmetik, serta untuk mencegah degradasi karet dan bensin.[14]
Efek kesehatan
Hubungan dengan diet
Meskipun beberapa tingkat vitamin antioksidan dalam diet diperlukan demi kebugaran, masih ada keraguan besar benarkah suplemen antioksidan memiliki aktivitas anti-penyakit; dan jika mereka benar-benar menguntungkan, antioksidan apa yang diperlukan dan berapa jumlahnya.[15][16][17] Memang, beberapa penulis berpendapat bahwa hipotesis yang mengatakan antioksidan dapat mencegah penyakit kronis[18][19] kini telah dibantah dan bahwa ide tersebut sesat sejak awal.[20] Sebaliknya, polifenol diet dalam konsentrasi kecil mungkin tidak memiliki peran antioksidan yang dapat memengaruhi komunikasi antar sel, sensitivitas reseptor, aktivitas enzim inflamasi atau regulasi gen.[21][22]
Untuk harapan hidup secara keseluruhan, telah disarankan bahwa stres oksidatif tingkat sedang dapat memperpanjang umur cacing Caenorhabditis elegans, dengan menginduksi respons pelindung untuk peningkatan tingkat spesies oksigen reaktif.[23] Sugesti bahwa harapan hidup meningkat berasal dari peningkatan stres oksidatif dengan hasil yang terlihat pada ragi Saccharomyces cerevisiae,[24] tetapi situasi pada mamalia belum jelas.[25][26][27] Namun demikian, suplemen antioksidan tidak terlihat dapat meningkatkan harapan hidup pada manusia.[28]
Meskipun antioksidan telah diteliti mengenai efek potensialnya pada penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, Parkinson, dan sklerosis lateral amiotropik,[29][30] tetapi studi-studi ini belum meyakinkan.[31][32][33]
Penggolongan antioksidan berdasarkan sumbernya
Berdasarkan asalnya, antioksidan terdiri atas antioksigen yang berasal dari dalam tubuh (endogen) dan dari luar tubuh (eksogen).[34] Adakalanya sistem antioksidan endogen tidak cukup mampu mengatasi stres oksidatif yang berlebihan.[35] Stres oksidatif merupakan keadaan saat mekanisme antioksidan tidak cukup untuk memecah spesi oksigen reaktif.[36] Oleh karena itu, diperlukan antioksidan dari luar (eksogen) untuk mengatasinya.[37]
Antioksidan alami
Antioksidan alami biasanya lebih diminati, karena tingkat keamanan yang lebih baik dan manfaatnya yang lebih luas dibidang makanan, kesehatan dan kosmetik.[38] Antioksidan alami dapat ditemukan pada sayuran, buah-buahan, dan tumbuhan berkayu.[39] Metabolit sekunder dalam tumbuhan yang berasal dari golongan alkaloid, flavonoid, saponin, kuinon, tanin, steroid/ triterpenoid.[40] Quezada et al. (2004) menyatakan bahwa fraksi alkaloid pada daun “Peumus boldus” dapat berperan sebagai antioksidan.[41] Zin “et al”. (2002) menyatakan bahwa golongan senyawa yang aktif sebagai antioksidan pada batang, buah, dan daun mengkudu berasal dari golongan flavonoid. Gingseng yang berperan sebagai antioksidan, antidiabetes, antihepatitis, antistres, dan antineoplastik, mengandung saponin glikosida (steroid glikosida).[42] Uji aktivitas antioksidan yang dilakukan pada daun “Ipomea pescaprae” menunjukkan keberadaan senyawa kuinon, kumarin, dan furanokumarin.[43] Tanin yang banyak terdapat pada teh dipercaya memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi. Sementara itu, Iwalokum “et al”.(2007)menyatakan bahwa “Pleurotus ostreatus” yang mengandung triterpenoid, tanin, dan sterois glikosida dapat berperan sebagai antioksidan dan antimikroba
Antioksidan sintetik
Antioksidan sintetis adalah antioksidan yang diperoleh dari hasil sintesis reaksi kimia dan diproduksi untuk tujuan komersial. Contoh antioksidan sintetik adalah sebagai berikut :
- Butil Hidroksi Anisol (BHA) dan Butil Hidroksi Toluen (BHT), ditambahkan pada lemak / minyak goreng agar tidak cepat basi (tengik). Dalam hal ini kita pernah mencium dari bau yang dimiliki oleh minyak goreng lawas yang di mana terbilang sangatlah memiliki bau. Hal itu dapat diartikan bahwa minyak itu sendiri telah memiliki oksidasi dengan udara di mana zat antioksidan itu akan melakukan asam lemak yang tak jenuh yang di mana akan berada pada bagian minyak maupun lemak sehingga tidak akan teroksidasi dari cahaya.
Penggolongan antioksidan berdasarkan mekanisme kerjanya
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antioksidan dibedakan menjadi antioksidan primer yang dapat bereaksi dengan radikal bebas atau mengubahnya menjadi produk yang stabil, dan antioksidan sekunder atau antioksidan preventif yang dapat mengurangi laju awal reaksi rantai serta antioksidan tersier.[44] Mekanisme kerja antioksidan seluler menurut Ong et al. (1995) antara lain, antioksidan yang berinteraksi langsung dengan oksidan, radikal bebas, atau oksigen tunggal; mencegah pembentukan jenis oksigen reaktif; mengubah jenis oksigen rekatif menjadi kurang toksik; mencegah kemampuan oksigen reaktif; dan memperbaiki kerusakan yang timbul.[45]
Antioksidan primer
Antioksidan primer berperan untuk mencegah pembentukan radikal bebas baru dengan memutus reaksi berantai dan mengubahnya menjadi produk yang lebih stabil.[46] Contoh antioksidan primer, ialah enzim superoksida dimustase (SOD), katalase, dan glutation dimustase.[47]
Antioksidan sekunder
Antioksidan sekunder berfungsi menangkap senyawa radikal serta mencegah terjadinya reaksi berantai.[48] Contoh antioksidan sekunder diantaranya yaitu vitamin E, Vitamin C, dan β-karoten.[49]
Antioksidan tersier
Antioksidan tersier berfungsi memperbaiki kerusakan sel dan jaringan yang disebabkan oleh radikal bebas.[50] Contohnya yaitu enzim yang memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksida reduktase.[51]
Metode pengujian antioksidan
Beberapa metode uji yang digunakan untuk melihat aktivitas antioksidan[52]
Metode DPPH
Salah satu metode yang digunakan untuk pengujian aktivitas antioksidan adalah metode DPPH. Metode DPPH didasarkan pada kemampuan antioksidan untuk menghambat radikal bebas dengan mendonorkan atom hidrogen.[53] Perubahan warna ungu DPPH menjadi ungu kemerahan dimanfaatkan untuk mengetahui aktivitas senyawa antioksidan.[54] Metode ini menggunakan kontrol positif sebagai pembanding untuk mengetahui aktivitas antioksidan sampel. Kontrol positif ini dapat berupa tokoferol, BHT, dan vitamin C.[55] Uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidra-zil (DPPH) sebagai radikal bebas. Prinsipnya adalah reaksi penangkapan hidrogen oleh DPPH dari senyawa antioksidan, misalnya troloks, yang mengubahnya menjadi 1,1-difenil-2-pikrilhidrazin.[56]
Metode CR
Larutan Ce(IV) sulfat yang diberikan pada sampel akan menyerang senyawa antioksidan.[57] Senyawa antioksidan dapat berperan sebagai pemindah elektron, maka perusakan struktur oleh elektron reaktif yang berasal dari oksidator kuat seperti Ce(IV) tidak terjadi.[58] Metode ini berdasarkan spektrofotometri yang pengukurannya dilakukan pada panjang gelombang 320 nm.[59] Panjang gelombang ini digunakan untuk mengukur Ce(IV) yang tidak bereaksi dengan kuersetin dan senyawa flavonoid lain.[60] Kapasitas reduksi Ce(IV) pada sampel dapat diukur konsentrasi dan pH larutan yang sesuai membuat Ce (IV) hanya mengoksidasi antioksidan, dan bukan senyawa organik lain yang mungkin teroksidasi.[61] Hal ini membuat penentuan panjang gelombang maksimum dan nilai pH larutan penting untuk diketahui dan dijaga selama pengukuran agar tidak terjadi pergeseran panjang gelombang selama pengukuran.[62]
Referensi
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Food, Nutrition, Physical Activity, and the Prevention of Cancer: a Global Perspective. World Cancer Research Fund (2007). ISBN 978-0-9722522-2-5.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Schulz TJ. Glucose restriction extends Caenorhabditis elegans life span by inducing mitochondrial respiration and increasing oxidative stress. Cell Metabolism. Oct 2007. Vol. 6 (4). hlm. 280–93. doi:10.1016/j.cmet.2007.08.011.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Dietary antioxidants, cognitive function and dementia--a systematic review. Plant Foods for Human Nutrition. Sep 2013. Vol. 68 (3). hlm. 279–92. doi:10.1007/s11130-013-0370-0.
- ↑ Vitamin A and carotenoids and the risk of Parkinson's disease: a systematic review and meta-analysis. Neuroepidemiology. 2014. Vol. 42 (1). hlm. 25–38. doi:10.1159/000355849.
- ↑ A critical review of vitamin C for the prevention of age-related cognitive decline and Alzheimer's disease. Journal of Alzheimer's Disease. 2012. Vol. 29 (4). hlm. 711–26. doi:10.3233/JAD-2012-111853.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Quezada M, Asencio M, Valle JM, Aguilera JM. 2004. AAntioxidant activity of crude extract, alkaloid fraction, and flavonoid faction from Boldo Peumus boldus Molina) Leaves. “Food Sci” 69: C371-C376.
- ↑ Lee TW, Johnken RM, Allison RR, Brien KF, Dobs LJ. 2005. Radioprotective potential of gingseng. “Mutagenesis” 4:273-243.
- ↑ Agustiningrum D. 2004. Isolasi dan uji aktivitas antioksidan senyawa bioaktif dari daun “Ipomoea pescaprea” [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Ong ASH, Niki E, Packer L. 1995. Nutrition, Lipids, and Desease. Hlmn 1-7.ISBN 0-935315-64-0.Illnois: AOCS Champaign Pr.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Gordon I. 1994. Functional Food, Food Design, Pharmafood. New York: Champman dan Hall.
- ↑ Apak R, Guclu K, Ozyurek M, Celik SE, Karademir SE. 2007. Comparitive evaluation of various total antioksidant capacity assay applied to phenolic compounds with the CUPRAC assay. “Molecules” 12:1496-1547.
- ↑ Apak R, Guclu K, Ozyurek M, Celik SE, Karademir SE. 2007. Comparitive evaluation of various total antioksidant capacity assay applied to phenolic compounds with the CUPRAC assay. “Molecules” 12:1496-1547.
- ↑ Ohtani II “et al”. 2000. New antioxidant from the African medicinal herb Thonginia sanguinea'. J Nat Prod 63: 676-679.
- ↑ Ohtani II “et al”. 2000. New antioxidant from the African medicinal herb Thonginia sanguinea'. J Nat Prod 63: 676-679.
- ↑ Ohtani II “et al”. 2000. New antioxidant from the African medicinal herb Thonginia sanguinea'. J Nat Prod 63: 676-679.
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
- ↑ sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 28586922 (2025-11-21T11:35:37Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.