Lompat ke isi

Natrium iodida

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Revisi sejak 29 Agustus 2026 04.03 oleh Maintenance script (bicara | kontrib) (Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)
Sodium iodide

Natrium iodida (rumus kimia NaI) adalah sebuah senyawa ionik yang terbentuk dari reaksi kimia antara logam natrium dan iodin. Dalam kondisi standar, senyawa ini merupakan padatan berwarna putih yang dapat larut dalam air yang terdiri atas campuran kation natrium (Na+) dan anion iodida (I) dengan perbandingan 1:1 dalam sebuah kisi kristal. Senyawa ini digunakan terutama sebagai suplemen nutrisi dan dalam kimia organik. NaI diproduksi secara industri sebagai garam yang terbentuk ketika suatu senyawa iodida asam bereaksi dengan natrium hidroksida.[1] NaI adalah garam kaotropik.

Kegunaan

Suplemen makanan

Natrium iodida, serta kalium iodida, biasanya digunakan untuk mencegah dan mengobati kekurangan iodin. Garam meja beriodin mengandung 10 ppm iodida.[2]

Sintesis organik

Natrium iodida digunakan untuk mengubah alkil klorida menjadi alkil iodida. Metode ini, yang juga disebut reaksi Finkelstein,[3] bergantung pada ketidaklarutan natrium klorida dalam aseton untuk mendorong reaksi:[4]

R–Cl + NaI → R–I + NaCl

Kedokteran nuklir

Beberapa garam natrium iodida radioaktif, seperti Na125I dan Na131I, memiliki kegunaan radiofarmasi untuk kanker tiroid dan hipertiroidisme atau sebagai pelacak radioaktif dalam pencitraan (lihat Isotop iodin > Radioiodin I-123, I-124, I-125, dan I-131 dalam bidang kedokteran dan biologi).

Sintilator NaI(Tl) yang didoping talium

Ketika terkena radiasi pengion, natrium iodida yang diaktifkan dengan talium, NaI(Tl), akan memancarkan foton (bersintilasi) dan digunakan dalam detektor sintilasi, yang secara tradisional digunakan dalam kedokteran nuklir, fisika nuklir, geofisika, dan pengukuran lingkungan. NaI(Tl) adalah bahan detektor sintilasi yang paling banyak digunakan. Kristal biasanya digabungkan dengan tabung fotopengganda, dalam rakitan yang tertutup rapat, karena natrium iodida bersifat higroskopis. Penyetelan beberapa parameter (misalnya kekerasan radiasi, afterglow, transparansi) dapat dicapai dengan memvariasikan kondisi pertumbuhan kristal. Kristal dengan tingkat doping yang lebih tinggi digunakan dalam detektor sinar-X dengan kualitas spektrometrik yang tinggi. Natrium iodida dapat digunakan baik sebagai kristal tunggal maupun polikristal untuk tujuan ini. Panjang gelombang emisi maksimumnya adalah 415 nm.[5]

Radiokontras

António E. Moniz ingin mencari suatu agen radiokontras untuk angiografi otak.[6] Setelah melakukan beberapa percobaan pada kelinci dan anjing, dia memilih natrium iodida sebagai media terbaik.[7]

Data kelarutan

Natrium iodida menunjukkan kelarutan yang tinggi dalam beberapa pelarut organik, tidak seperti natrium klorida atau bahkan natrium bromida:

Pelarut Kelarutan NaI (g NaI/kg pelarut pada suhu 25 °C)[8]
H2O 1842
Amonia cair 1620
Belerang dioksida cair 150
Metanol 625–830
Asam format 618
Asetonitril 249
Aseton 504
Formamida 570–850
Asetamida 323 (41,5 °C)
Dimetilformamida 37–64
Diklorometana 0,09[9]

Stabilitas

Senyawa iodida (termasuk natrium iodida) dapat teroksidasi oleh oksigen atmosfer (O2) menjadi iodin molekuler (I2). I2 dan I berkompleks untuk membentuk kompleks triiodida, yang memiliki warna kuning, tidak seperti warna putih dari natrium iodida. Air akan mempercepat proses oksidasi ini, dan iodida juga dapat menghasilkan I2 melalui fotooksidasi. Oleh karena itu, untuk stabilitas maksimum, natrium iodida harus disimpan dalam kondisi gelap, serta dengan suhu dan kelembapan rendah.

Lihat pula

Sumber terkutip

Pranala luar

Referensi

  1. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  2. sumber pada Wikipedia bahasa Indonesia
  3. Hank Finkelstein. Darstellung organischer Jodide aus den entsprechenden Bromiden und Chloriden. Ber. Dtsch. Chem. Ges. 1910. Vol. 43 (2). hlm. 1528–1532. doi:10.1002/cber.19100430257.
  4. Andrew Streitwieser. Solvolytic Displacement Reactions At Saturated Carbon Atoms. Chemical Reviews. 1956. Vol. 56 (4). hlm. 571–752. doi:10.1021/cr50010a001.
  5. Scintillation Materials and Assemblies. Saint-Gobain Crystals. 2016.
  6. Antonio Egas Moniz (1874-1955) Portuguese Neurologist. JAMA: The Journal of the American Medical Association. American Medical Association (AMA). 1968. Vol. 206 (2). hlm. 368–369. doi:10.1001/jama.1968.03150020084021.
  7. Antonio Egas Moniz (1874-1955) Portuguese Neurologist. JAMA: The Journal of the American Medical Association. American Medical Association (AMA). 1968. Vol. 206 (2). hlm. 368–369. doi:10.1001/jama.1968.03150020084021.
  8. John Burgess. Metal Ions in Solution. Ellis Horwood. 1978. ISBN 9780470262931.
  9. Angela F. Danil De Namor. Transfer and partition free energies of 1:1 electrolytes in the water–dichloromethane solvent system at 298.15 K. Journal of the Chemical Society, Faraday Transactions 1. 1989. Vol. 85 (9). hlm. 2705–2712. doi:10.1039/F19898502705.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29571874 (2026-08-13T12:41:31Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.