Lompat ke isi

Hilangnya keanekaragaman hayati

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Hilangnya keanekaragaman hayati merupakan fenomena menurunnya keanekaragaman hayati (biodiversitas), seperti kepunahan suatu spesies di seluruh dunia, atau pengurangan atau hilangnya spesies secara lokal di habitat tertentu. Fenomena terakhir ini dapat bersifat sementara atau permanen, tergantung pada apakah degradasi lingkungan yang menyebabkan hilangnya spesies tersebut dapat dipulihkan melalui restorasi ekologis atau ketahanan ekologis, atau terjadi secara permanen. Fenomena ini, umumnya, disebabkan oleh aktivitas manusia yang mendorong batas planet Bumi terlalu jauh. Aktivitas ini mencakup kerusakan habitat, (contohnya deforestasi), dan penggunaan lahan secara intens (contohnya pertanian monokultur). Masalah lainnya mencakup polusi air dan udara, eksploitasi berlebih, introduksi species invasif, dan perubahan iklim.

Hilangnya spesies secara permanen dalam lingkup global merupakan fenomena yang lebih dramatis dibandingkan perubahan komposisi spesies dalam lingkup regional. Meskipun demikian, perubahan kecil pada kondisi biodiversitas yang stabil dan sehat dapat berpengaruh dramatis pada jaring-jaring makanan dan rantai makanan. Hilangnya satu spesies dapat berdampak buruk pada keseluruhan rantai yang mengarah pada penurunan keseluruhan keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati yang berkurang juga mengarah pada penurunan manfaat ekosistem dan pada akhirnya menimbulkan bahaya langsung bagi ketahanan pangan, yang berdampak bagi umat manusia.

Faktor

Faktor utama yang mengakibatkan stres biotik dan laju hilangnya biodiversitas yang semakin cepat (selain ancaman lainnya) adalah:

  1. Degradasi dan hilangnya habitat. Intensifikasi pemanfaatan lahan (dan hilangnya lahan atau habitat) telah diidentifikasi sebagai faktor penting dalam hilangnya layanan ekologis sebagai efek langsung serta hilangnya keanekaragaman hayati.
  2. Perubahan iklim melalui tekanan panas dan tekanan kekeringan.
  3. Beban nutrisi yang berlebihan dan bentuk polusi lainnya.
  4. Eksploitasi berlebihan dan penggunaan secara tidak berkelanjutan (misalnya metode penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan).
  5. Konflik bersenjata yang mengganggu kehidupan dan mata pencaharian manusia, berkontribusi pada hilangnya habitat, dan meningkatkan eksploitasi berlebihan terhadap spesies yang bernilai ekonomi, yang menyebabkan penurunan populasi dan kepunahan lokal.
  6. Spesies asing invasif yang bersaing untuk suatu relung, menggantikan spesies asli.
  7. Aktivitas manusia yang mengancam bentuk kehidupan lainnya. Sekitar 30% mamalia, amfibi, dan spesies burung terancam punah.

Pengamatan berdasarkan spesies

Secara umum

Analisis dari Swiss Re pada tahun 2020 menemukan bahwa 1 dari 5 negara dalam ancaman keruntuhan ekosistem akibat kerusakan habitat antropogenik dan peningkatan hilangnya satwa dan tanaman liar. Jika hal ini terus berlanjut, keruntuhan ekosistem dapat terjadi.

Pada tahun 2022, WWF melaporkan berkurangnya rata-rata populasi dari 4,400 spesies hewan sekitar 68% dalam kurun waktu 1970 hingga 2016 di seluruh dunia.

Vertebrata

Amfibi

Sejak tahun 1980an, populasi amfibi telah turun secara signifikan, termasuk kepunahan massal dalam skala lokal, telah teramati di beberapa wilayah di seluruh dunia. Hilangnya keanekaragaman hayati tipe ini merupakan salah satu ancaman terkritis kepada keanekaragaman hayati global. Faktor-faktor utama meliputi kerusakan dan modifikasi habitat, eksploitasi, polusi, penggunaan pestisida, spesies introduksi, dan radiasi ultraviolet-B. Bagaimanapun, penyebab dari berkurangnya jumlah amfibi sampai sekarang masih kurang dipahami, dan saat ini menjadi subjek penelitian.

Hasil pemodelan menemukan bahwa tingkat kepunahan amfibi saat ini bisa 211 kali lebih besar daripada tingkat kepunahan alamiah. Estimasi ini bahkan meningkat hingga 25.000–45.000 kali jika spesies yang terancam punah juga dimasukkan dalam perhitungan.

Burung

Beberapa pestidida, seperti insektisida, berperan penting dalam mengurangi populasi beberapa spesies burung. Menurut studi yang didanai BirdLife International, terdapat 51 spesies burung yang terancam punah, dan delapan diantaranya dapat diklasifikasi sebagai punah atau dalam bahaya kepunahan. Hampir 30% kepunahan disebabkan oleh perburuan dan penangkapan untuk perdagangan hewan peliharaan eksotis. Deforestasi, yang disebabkan oleh penebangan dan pertanian yang tidak berkelanjutan, bisa menjadi pendorong kepunahan berikutnya, karena burung kehilangan habitat dan makanan mereka.

Invertebrata

Cacing tanah

Ilmuwan telah mempelajari hilangnya cacing tanah. Mereka menemukan berkurangnya biomass relatif sekitar 50-100% (dengan rata-rata minus 83%) menyamai atau melebihi apa yang dilaporkan untuk kelompok fauna lainnya. Ini dengan jelas menyatakan bahwa cacing tanah juga berkurang di tanah lahan yang digunakan untuk pertanian intensif. Cacing tanah berperan penting dalam cara bekerja ekosistem, membantu prosesi biologis di tanah, air, dan bahkan menyeimbangkan gas rumah kaca. Ada lima sebab dalam berkurangnya keragaman cacing tanah: (1) degradasi tanah dan kehilangan habitat, (2) perubahan iklim, (3) kontaminasi berbagai bentuk nutrien, (4) eksploitasi berlebih dan pengelolaan tanah yang tidak berkelanjutan, dan (5) spesies invasif". Faktor-faktor seperti praktik pengolahan tanah dan penggunaan lahan yang intensif merusak tanah serta akar tanaman yang digunakan cacing tanah untuk membentuk biomassa mereka. Hal ini menganggu dengan siklus karbon dan siklus nitrogen.

Pengetahuan tentang keanekaragaman cacing tanah masih cukup terbatas bahkan tidak sampai 50% dari mereka yang telah dideskripsikan (diidentifikasi/dicatat). Metode-metode pertanian berkelanjutan dapat mencegah berkurangnya keragaman cacing tanah, contohnya pengurangan pengelolaan tanah. Sekretaris Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity) Sedang berusaha untuk mengambil tindakan dan mempromosikan pemulihan serta pemeliharaan berbagai keanekaragaman spesies cacing tanah.

Serangga

Serangga adalah kelas hewan yang paling banyak jumlahnya dan tersebar luas di kerajaan hewan, mencakup hingga 90% dari semua spesies hewan. Pada tahun 2010-an, muncul laporan mengenai penurunan populasi yang meluas di berbagai ordo serangga. Tingkat keparahan yang dilaporkan mengejutkan banyak pengamat, meskipun sebelumnya sudah ada temuan mengenai penurunan polinator (penyerbuk). Terdapat pula laporan anekdot mengenai kelimpahan serangga yang lebih besar pada awal abad ke-20. Banyak pengemudi mobil mengetahui bukti anekdotal ini, contohnya, melalui fenomena kaca depan (windscreen), indikator populasi serangga. Penyebab penurunan populasi serangga serupa dengan penyebab hilangnya keanekaragaman hayati lainnya. Faktor-faktor tersebut meliputi perusakan habitat, seperti pertanian intensif, penggunaan pestisida (khususnya insektisida), spesies asing yang diperkenalkan, dan – dalam tingkat yang lebih rendah dan hanya untuk wilayah tertentu – dampak perubahan iklim. Penyebab tambahan yang mungkin khusus untuk serangga adalah polusi cahaya.

Paling sering, penurunan ini melibatkan pengurangan jumlah (kelimpahan), meskipun dalam beberapa kasus seluruh spesies mengalami kepunahan. Penurunan tersebut jauh dari seragam. Di beberapa lokasi, ada laporan tentang peningkatan populasi serangga secara keseluruhan, dan beberapa jenis serangga tampaknya meningkat jumlahnya di seluruh dunia. Tidak semua ordo serangga terdampak dengan cara yang sama; yang paling terdampak adalah lebah, kupu-kupu, ngengat, kumbang, capung, dan capung jarum. Banyak dari kelompok serangga lainnya sejauh ini kurang diteliti. Selain itu, angka perbandingan dari dekade-dekade sebelumnya sering kali tidak tersedia Dalam beberapa studi global utama, perkiraan jumlah total spesies serangga yang terancam punah berkisar antara 10% hingga 40%, akan tetapi semua perkiraan ini penuh dengan kontroversi.

Tumbuhan

Pepohonan

Meskipun tumbuhan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, mereka belum mendapatkan perhatian yang sama seperti konservasi hewan. Diperkirakan sepertiga dari seluruh spesies tumbuhan darat terancam punah dan 94% belum dievaluasi status konservasinya. Tumbuhan yang berada pada tingkat trofik terendah memerlukan peningkatan konservasi untuk mengurangi dampak negatif pada tingkat trofik yang lebih tinggi.

Pada tahun 2022, para ilmuwan memperingatkan bahwa sepertiga spesies pohon terancam punah. Hal ini akan mengubah ekosistem dunia secara signifikan karena respons tanaman, serta siklus karbon, air, dan nutrien mereka akan terdampak. Kawasan hutan mengalami degradasi akibat faktor-faktor umum seperti penebangan, kebakaran, dan pengambilan kayu bakar. Terutama dengan kebakaran hutan dan peningkatannya, hal ini akan memengaruhi pemulihan biomassa dan juga memengaruhi komposisi spesies. The Global Tree Assessment (GTA) telah menetapkan bahwa 17.510 (29,9%) spesies pohon dianggap terancam punah. Selain itu, terdapat 142 spesies pohon yang tercatat sebagai Punah atau Punah di Alam Liar

Solusi yang mungkin dapat ditemukan dalam metode silvikultural seperti pengelolaan hutan yang mempromosikan keragaman hayati pohon, seperti sistem tebang pilih, penjarangan atau pengelolaan pohon panen, serta tebang habis dan tebang trubus. Tanpa solusi, pemulihan kekayaan spesies hutan sekunder dapat memakan waktu 50 tahun untuk pulih menyamai jumlah hutan primer, atau 20 tahun untuk memulihkan 80% kekayaan spesies.

Spesies air tawar

Ekosistem air tawar, mencakup sungai, rawa, dan delta, mencakup 1% dari permukaan bumi. Mereka penting karena menjadi rumah bagi sekitar sepertiga dari spesies vertebrata. Spesies air tawar telah menurun dua kali lebih cepat dibandingkan spesies yang hidup di darat atau di laut. Kehilangan yang cepat ini telah menempatkan 27 dari 29.500 spesies yang bergantung pada air tawar pada IUCN Red List.

Populasi global dari ikan air tawar telah runtuh karena polusi air dan penangkapan ikan berlebih. Populasi ikan migrasi telah menurun sebesar 76% sejak tahun 1970, dan populasi megafish (ikan berukuran besar) telah anjlok hingga 94% dengan 16 spesies dinyatakan punah pada tahun 2020.

Biota laut

Keanekaragaman biota laut Mencakup organisme hidup apa pun yang bertempat tinggal di laut atau di estuari (muara). Pada tahun 2018, sekitar 240.000 spesies laut telah didokumentasikan. Namun, banyak spesies laut—perkiraan berkisar antara 178.000 hingga 10 juta spesies samudra—masih belum terdeskripsikan. Oleh karena itu, kemungkinan besar sejumlah spesies langka (yang tidak terlihat selama beberapa dekade di alam liar) telah punah atau berada di ambang kepunahan, tanpa disadari.

Aktivitas manusia memiliki pengaruh yang kuat dan merusak terhadap keanekaragaman hayati laut. Faktor utama kepunahan spesies laut adalah hilangnya habitat, polusi, spesies invasif, dan eksploitasi berlebihan. Tekanan yang lebih besar diberikan pada ekosistem laut di dekat kawasan pesisir karena adanya permukiman manusia di wilayah tersebut.

Eksploitasi berlebihan telah mengakibatkan kepunahan lebih dari 25 spesies laut. Ini mencakup burung laut, mamalia laut, alga, dan ikan. Contoh spesies laut yang telah punah meliputi sapi laut Steller (Hydrodamalis gigas) dan anjing laut biksu Karibia (Monachus tropicalis). Tidak semua kepunahan disebabkan oleh manusia. Sebagai contoh, pada tahun 1930-an, limpet lamun (Lottia alveus) punah di Atlantik setelah populasi lamun Zostera marina menurun akibat terpapar penyakit. Lottia alveus sangat terdampak karena Zostera marina adalah satu-satunya habitat mereka.

Fungi

Diperkirakan bahwa 9,4% spesies fungi (jamur) terancam punah akibat perubahan iklim, sementara 62% terancam oleh kerusakan habitat.

Makalah tinjauan pada tahun 2024 memproyeksikan kemungkinan kepunahan 8%–27% spesies jamur di bawah skenario RCP4.5 pada tahun 2070, sementara pada skenario RCP8.5, gabungan spesies tanaman dan jamur akan hilang sekitar 23% hingga 31%.

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29658472 (2026-08-28T18:57:49Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.