Renografi radioisotop
Renografi radioisotop adalah bentuk pencitraan medis ginjal yang menggunakan pelabelan radio. Renogram, yang juga dikenal sebagai pemindaian MAG3, memungkinkan dokter kedokteran nuklir atau ahli radiologi untuk memvisualisasikan ginjal dan mempelajari lebih lanjut tentang cara kerjanya. MAG3 adalah akronim untuk "merkaptoasetiltriglisina", suatu senyawa yang dikelat dengan unsur radioaktif yakni teknesium-99m.
Dua agen farmasi berlabel radioaktif yang paling umum digunakan adalah 99mTc-MAG3 (MAG3, juga disebut "merkaptoasetiltriglisina" atau "mertiatida") dan 99mTc DTPA (asam dietilenatriaminapentaasetat). Beberapa farmasi berlabel radioaktif lainnya adalah EC (Etilenadisisteina) dan OIH berlabel 131-iodin (orto-iodohipurat).
Sejarah
Pada tahun 1986, MAG3 dikembangkan di Universitas Utah oleh Dr. Alan R. Fritzberg, Dr. Sudhakar Kasina, dan Dr. Dennis Eshima. Obat ini menjalani uji klinis pada tahun 1987 dan lulus uji Fase III pada tahun 1988.
Sebelum pengembangan pelacak seperti 99mTc-MAG3, berbagai radiofarmasi lain digunakan. Uji ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956, menggunakan diodrast iodin-131. Perkembangan selanjutnya mencakup iodin-131, dan kemudian yodium-123, yang diberi label asam orto-Iodohipurat (OIH).
99mTc-MAG3 telah menggantikan 131I-OIH karena kualitas pencitraan yang lebih baik terlepas dari tingkat fungsi ginjal, dan dosis radiasi yang lebih rendah.
Prosedur pemindaian
Setelah disuntikkan ke dalam pembuluh balik, senyawa tersebut diekskresikan oleh ginjal, dan perjalanannya melalui sistem ginjal dapat dilacak dengan kamera gama. Serangkaian gambar diambil pada interval reguler. Pemrosesan kemudian melibatkan penggambaran area minat (ROI) di sekitar kedua ginjal, dan program komputer menghasilkan grafik radioaktivitas di dalam ginjal seiring waktu, yang mewakili jumlah pelacak, dari jumlah hitungan yang diukur di dalam setiap gambar (mewakili titik waktu yang berbeda).
Jika ginjal tidak mendapatkan darah misalnya, ginjal tidak akan terlihat sama sekali, meskipun secara struktural tampak normal dalam ultrasonografi medis atau pencitraan resonansi magnetik. Jika ginjal mendapatkan darah, tetapi ada obstruksi di bawah ginjal di kandung kemih atau ureter, radioisotop tidak akan melewati tingkat obstruksi, sedangkan jika ada obstruksi parsial maka ada waktu transit yang tertunda bagi MAG3 untuk melewatinya. Informasi lebih lanjut dapat dikumpulkan dengan menghitung kurva aktivitas waktu; dengan perfusi ginjal normal, aktivitas puncak harus diamati setelah 3–5 menit. Informasi kuantitatif relatif memberikan fungsi diferensial antara aktivitas penyaringan masing-masing ginjal.
Pelacak
MAG3 lebih disukai daripada 99mTc DTPA pada bayi, pasien dengan gangguan fungsi ginjal, dan pasien dengan dugaan obstruksi, karena ekstraksinya lebih efisien. Klirens MAG3 sangat berkorelasi dengan aliran plasma ginjal efektif (ERPF), dan klirens MAG3 dapat digunakan sebagai ukuran independen fungsi ginjal. Setelah pemberian intravena, sekitar 40-50% MAG3 dalam darah diekstraksi oleh tubulus proksimal setiap kali melewati ginjal. Tubulus proksimal kemudian mengeluarkan MAG3 ke dalam lumen tubulus.
99mTc DTPA disaring oleh glomerulus dan dapat digunakan untuk mengukur laju filtrasi glomerulus (GFR) (dalam tes terpisah), sehingga secara teoritis merupakan pilihan terbaik (paling akurat) untuk pencitraan fungsi ginjal. Fraksi ekstraksi DTPA kira-kira 20%, kurang dari setengah dari MAG3. DTPA adalah radiofarmasetika ginjal yang paling umum digunakan kedua di Amerika Serikat.
Penggunaan klinis
Teknik ini sangat berguna dalam mengevaluasi fungsi ginjal. Radioisotop dapat membedakan antara dilatasi pasif dan obstruksi. Teknik ini banyak digunakan sebelum transplantasi ginjal untuk menilai vaskularitas ginjal yang akan ditransplantasikan dan dengan dosis uji kaptopril untuk menyoroti kemungkinan stenosis arteri ginjal pada ginjal donor lainnya, dan kemudian kinerja transplantasi. Renografi pasca-transplantasi dapat digunakan untuk diagnosis komplikasi vaskular dan urologis. Selain itu, renografi pasca-transplantasi dini digunakan untuk penilaian fungsi cangkok yang tertunda.
Penggunaan tes untuk mengidentifikasi penurunan fungsi ginjal setelah dosis uji kaptopril (obat penghambat enzim pengubah angiotensin) juga telah digunakan untuk mengidentifikasi penyebab hipertensi pada pasien dengan gagal ginjal. Awalnya terdapat ketidakpastian mengenai kegunaan, atau parameter tes terbaik untuk mengidentifikasi stenosis arteri ginjal, konsensus akhirnya adalah bahwa temuan yang khas adalah perubahan fungsi diferensial.
Referensi
Sumber dan atribusi
Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29579739 (2026-08-15T01:49:42Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.