Lompat ke isi

Rolapitant

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung

Rolapitant (INN) adalah obat yang awalnya dikembangkan oleh Schering-Plough dan dilisensikan untuk pengembangan klinis oleh Tesaro. Obat ini bekerja sebagai antagonis reseptor NK1 yang selektif. Obat ini telah disetujui untuk mengatasi mual dan muntah akibat kemoterapi (CINV) setelah uji klinis menunjukkan efikasi yang setara atau lebih baik, serta profil keamanan yang lebih baik dibandingkan obat-obat yang sudah ada untuk indikasi tersebut.

Penggunaan medis

Rolapitant digunakan bersamaan dengan agen antiemetik (antimuntah) lainnya pada orang dewasa untuk mencegah mual dan muntah yang muncul belakangan akibat kemoterapi kanker yang bersifat emetogenik, baik pada siklus awal maupun pengulangan, termasuk (namun tidak terbatas pada) kemoterapi yang sangat emetogenik. Kombinasi antiemetik yang disetujui terdiri dari rolapitant ditambah deksametason dan antagonis 5-HT3.

Kontraindikasi

Berdasarkan persetujuan di AS, penggunaan rolapitant dikontraindikasikan jika dikombinasikan dengan tioridazina, karena proses inaktivasi obat tersebut dapat dihambat oleh rolapitant. Berdasarkan persetujuan di Eropa, penggunaannya dikontraindikasikan jika dikombinasikan dengan St. John's Wort, yang diperkirakan dapat mempercepat inaktivasi rolapitant.

Efek samping

Dalam studi yang membandingkan kemoterapi ditambah rolapitant, deksametason, dan antagonis 5-HT3 dengan kemoterapi ditambah plasebo, deksametason, dan antagonis 5-HT3, sebagian besar efek samping memiliki frekuensi yang sebanding pada kedua kelompok. Perbedaan efek samping lebih banyak terlihat antar-regimen kemoterapi dibandingkan antara kelompok rolapitant dan kelompok plasebo. Efek samping yang umum terjadi meliputi penurunan nafsu makan (9% pada kelompok rolapitant vs. 7% pada kelompok plasebo), neutropenia (9% vs. 8% atau 7% vs. 6%, tergantung pada jenis kemoterapi), pusing (6% vs. 4%), serta gangguan pencernaan dan stomatitis (keduanya 4% vs. 2%).

Overdosis

Dalam berbagai studi, dosis hingga delapan kali lipat dosis terapeutik telah diberikan tanpa menimbulkan masalah.

Interaksi

Rolapitant menghambat enzim hati CYP2D6 secara moderat. Konsentrasi plasma darah dari dekstrometorfan (substrat CYP2D6) meningkat tiga kali lipat ketika dikombinasikan dengan rolapitant, peningkatan konsentrasi substrat lainnya juga diperkirakan akan terjadi. Obat ini juga menghambat protein transporter ABCG2 (breast cancer resistance protein, BCRP) dan P-glikoprotein (P-gp); penghambatan ini terbukti meningkatkan konsentrasi plasma substrat ABCG2, yakni sulfasalazin, sebesar dua kali lipat; dan substrat P-gp, yakni digoksin, sebesar 70%.

Penginduksi kuat enzim hati CYP3A4 menurunkan area di bawah kurva (AUC) rolapitant dan metabolit aktifnya (yang disebut M19); untuk rifampisin, efek ini mencapai hampir 90% dalam sebuah penelitian. Penghambat CYP3A4 tidak memiliki efek yang signifikan terhadap konsentrasi rolapitant.

Farmakologi

Farmakodinamika

Baik rolapitant maupun metabolit aktifnya, yakni M19, memblokir reseptor NK1 dengan afinitas dan selektivitas tinggi: untuk memblokir reseptor NK2 yang berkerabat dekat atau reseptor serta enzim lain mana pun dari 115 yang diuji, diperlukan konsentrasi lebih dari 1000 kali lipat konsentrasi terapeutik.

Farmakokinetika

Rolapitant diserap hampir sepenuhnya dari saluran pencernaan, tanpa dipengaruhi oleh asupan makanan. Obat ini tidak mengalami efek lintas pertama yang terukur di hati. Konsentrasi plasma darah tertinggi dicapai setelah sekitar empat jam. Saat berada dalam aliran darah; 99,8% zat ini terikat pada protein plasma.

Obat ini dimetabolisme oleh enzim hati CYP3A4, menghasilkan metabolit aktif utama M19 (rolapitant yang terhidroksilasi pada gugus pirolidina-C4) dan sejumlah metabolit tidak aktif. Rolapitant terutama diekskresikan melalui feses (52–89%) dalam bentuk yang tidak berubah, dan dalam jumlah yang lebih sedikit melalui urine (9–20%) dalam bentuk metabolit yang tidak aktif. Waktu paruh eliminasi adalah sekitar tujuh hari (169 hingga 183 jam) pada rentang dosis yang luas.

Kimia

Obat ini digunakan dalam bentuk rolapitant hidroklorida monohidrat, yaitu serbuk kristal berwarna putih hingga putih gading yang sedikit higroskopis. Kelarutan maksimumnya dalam larutan air tercapai pada pH 2–4.

Referensi

Pranala luar


Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29702311 (2026-09-04T11:09:30Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.