Lompat ke isi

Uji nyala api: Perbedaan antara revisi

Ensiklopedia Pengetahuan Universitas Islam Sultan Agung
Maintenance script (bicara | kontrib)
Impor teks terkontrol dari Wikipedia bahasa Indonesia; revisi 29592381; atribusi sumber disertakan.
 
Maintenance script (bicara | kontrib)
Presentation V4: sitasi, referensi, Math, Wikimedia Commons, dan atribusi
 
Baris 1: Baris 1:
[[File:Flame_test.jpg|thumb|right|280px|Flame test]]
'''Uji nyala api''' adalah suatu prosedur analisis yang digunakan dalam ilmu [[kimia]] untuk mendeteksi keberadaan unsur tertentu, terutama [[ion]] [[logam]], berdasarkan karakteristik [[spektrum emisi]] masing-masing [[Unsur kimia|unsur]]. Warna [[nyala api]] secara umum juga bergantung pada temperatur; lihat [[Nyala api#Warna nyala|warna nyala]].
'''Uji nyala api''' adalah suatu prosedur analisis yang digunakan dalam ilmu [[kimia]] untuk mendeteksi keberadaan unsur tertentu, terutama [[ion]] [[logam]], berdasarkan karakteristik [[spektrum emisi]] masing-masing [[Unsur kimia|unsur]]. Warna [[nyala api]] secara umum juga bergantung pada temperatur; lihat [[Nyala api#Warna nyala|warna nyala]].


Uji ini melibatkan introduksi sampel suatu unsur atau senyawa ke dalam nyala api panas, tak berwarna, dan mengamati warna nyala yang dihasilkan. Ide pengujian ini adalah bahwa atom-atom sampel menguap dan karena panas, mereka mengemisikan sinar ketika berada dalam nyala api. Sampel curah juga memancarkan cahaya, tetapi cahayanya tidak baik untuk analisis. Sampel curah memancarkan cahaya terutama karena pergerakan atom-atomnya, sehingga spektrumnya lebar, yang terdiri dari rentang warna yang luas. Atom-atom sampel yang terpisah dalam nyala api dapat mengalami emisi hanya karena transisi elektron antara tingkat energi atom. Transisi tersebut mengemisikan cahaya dengan frekuensi yang sangat spesifik, yang tidak lain merupakan karakteristik unsur kimia itu sendiri. Oleh karena itu, nyala api menjadi berwarna, yang ditentukan terutama oleh sifat-sifat unsur kimia yang dimasukkan ke dalam nyala. Uji nyala api adalah percobaan yang relatif mudah dilakukan, sehingga sering didemonstrasikan atau dilakukan dalam kelas sains di sekolah-sekolah. Untuk keperluan analisis kualitatif anorganik, uji nyala api sering digunakan sebagai uji pendahuluan, dan termasuk [[uji organoleptik]].
Uji ini melibatkan introduksi sampel suatu unsur atau senyawa ke dalam nyala api panas, tak berwarna, dan mengamati warna nyala yang dihasilkan. Ide pengujian ini adalah bahwa atom-atom sampel menguap dan karena panas, mereka mengemisikan sinar ketika berada dalam nyala api. Sampel curah juga memancarkan cahaya, tetapi cahayanya tidak baik untuk analisis. Sampel curah memancarkan cahaya terutama karena pergerakan atom-atomnya, sehingga spektrumnya lebar, yang terdiri dari rentang warna yang luas. Atom-atom sampel yang terpisah dalam nyala api dapat mengalami emisi hanya karena transisi elektron antara tingkat energi atom. Transisi tersebut mengemisikan cahaya dengan frekuensi yang sangat spesifik, yang tidak lain merupakan karakteristik unsur kimia itu sendiri. Oleh karena itu, nyala api menjadi berwarna, yang ditentukan terutama oleh sifat-sifat unsur kimia yang dimasukkan ke dalam nyala. Uji nyala api adalah percobaan yang relatif mudah dilakukan, sehingga sering didemonstrasikan atau dilakukan dalam kelas sains di sekolah-sekolah. Untuk keperluan analisis kualitatif anorganik, uji nyala api sering digunakan sebagai uji pendahuluan, dan termasuk [[uji organoleptik]].


Sampel biasanya ditaruh pada seutas kawat platina yang dicuci berulang kali dengan [[asam klorida]] untuk menghilangkan sisa analit sebelumnya. Senyawa biasanya dibuat menjadi pasta dengan asam klorida pekat, sebagai halida logam, yang mudah menguap, sehingga memberikan hasil yang lebih baik. Nyala api yang berbeda-beda harus dicoba untuk menghindari kesalahan data akibat nyala api yang "terkontaminasi", atau kadang-kadang untuk memverifikasi akurasi warna. Pada mata pelajaran kimia di sekolah menengah, kadang-kadang digunakan [[Bidai (peralatan laboratorium)|bidai (''splint'') kayu]], karena larutan dapat dikeringkan di atasnya, dan harganya murah. Kadang-kadang juga digunakan [[kawat nikrom]]. Penggunaan bidai harus dilakukan secara hati-hati dengan melambaikan bidai melewati nyala api, dan bukannya dengan memegangnya sehingga bidai terpapar nyala api dalam waktu lama. Hal ini untuk menghindari bidai terbakar. Penggunaan [[kapas pentul]] () atau [[busa melamin]] (yang digunakan pada spons penghapus) sebagai penyangga juga telah disarankan.
Sampel biasanya ditaruh pada seutas kawat platina yang dicuci berulang kali dengan [[asam klorida]] untuk menghilangkan sisa analit sebelumnya.<ref>Jim Clark. [http://www.chemguide.co.uk/inorganic/group1/flametests.html Flame Tests]. Chemguide. 2005.</ref> Senyawa biasanya dibuat menjadi pasta dengan asam klorida pekat, sebagai halida logam, yang mudah menguap, sehingga memberikan hasil yang lebih baik. Nyala api yang berbeda-beda harus dicoba untuk menghindari kesalahan data akibat nyala api yang "terkontaminasi", atau kadang-kadang untuk memverifikasi akurasi warna. Pada mata pelajaran kimia di sekolah menengah, kadang-kadang digunakan [[Bidai (peralatan laboratorium)|bidai (''splint'') kayu]], karena larutan dapat dikeringkan di atasnya, dan harganya murah. Kadang-kadang juga digunakan [[kawat nikrom]].<ref>Jim Clark. [http://www.chemguide.co.uk/inorganic/group1/flametests.html Flame Tests]. Chemguide. 2005.</ref> Penggunaan bidai harus dilakukan secara hati-hati dengan melambaikan bidai melewati nyala api, dan bukannya dengan memegangnya sehingga bidai terpapar nyala api dalam waktu lama. Hal ini untuk menghindari bidai terbakar. Penggunaan [[kapas pentul]]<ref>Michael J. Sanger. [https://archive.org/details/sim_journal-of-chemical-education_2004-07_81_7/page/969 Simple Flame Test Techniques Using Cotton Swabs]. ''Journal of Chemical Education''. 2004. Vol. 81 (7). hlm. 969. doi:10.1021/ed081p969.</ref> () atau [[busa melamin]] (yang digunakan pada spons penghapus)<ref>Arthur M. Landis. [https://archive.org/details/sim_journal-of-chemical-education_2009-05_86_5/page/577 "Magic Eraser" Flame Tests]. ''Journal of Chemical Education''. 2009. Vol. 86 (5). hlm. 577. doi:10.1021/ed086p577.</ref> sebagai penyangga juga telah disarankan.


[[Natrium]] adalah komponen atau [[Kontaminasi|kontaminan]] umum dalam banyak senyawa dan spektrumnya cenderung mendominasi warna nyala. Uji nyala api sering dilihat melalui [[Kaca kobalt|kaca kobalt biru]] untuk menyaring warna kuning natrium dan memudahkan pengamatan ion logam lainnya.
[[Natrium]] adalah komponen atau [[Kontaminasi|kontaminan]] umum dalam banyak senyawa dan spektrumnya cenderung mendominasi warna nyala. Uji nyala api sering dilihat melalui [[Kaca kobalt|kaca kobalt biru]] untuk menyaring warna kuning natrium dan memudahkan pengamatan ion logam lainnya.
Baris 9: Baris 11:
Uji nyala api adalah praktik yang cepat dan mudah, dan dapat dilakukan dengan peralatan dasar yang dijumpai di sebagian besar laboratorium kimia. Namun, jumlah unsur yang terdeteksi positif pada kondisi ini sangat sedikit, mengingat pengujian ini lebih bergantung pada pengalaman [[Subyektivitas|subyektif]] pelaku percobaan daripada objek percobaan. Uji ini memiliki kesulitan dalam mendeteksi beberapa unsur dalam jumlah kecil, sementara jika terlalu besar juga cenderung memudarkan warna nyala hingga tidak muncul sama sekali.
Uji nyala api adalah praktik yang cepat dan mudah, dan dapat dilakukan dengan peralatan dasar yang dijumpai di sebagian besar laboratorium kimia. Namun, jumlah unsur yang terdeteksi positif pada kondisi ini sangat sedikit, mengingat pengujian ini lebih bergantung pada pengalaman [[Subyektivitas|subyektif]] pelaku percobaan daripada objek percobaan. Uji ini memiliki kesulitan dalam mendeteksi beberapa unsur dalam jumlah kecil, sementara jika terlalu besar juga cenderung memudarkan warna nyala hingga tidak muncul sama sekali.


Meskipun uji nyala api hanya memberikan informasi [[Data kualitatif|kualitatif]], bukan [[data kuantitatif]] tentang proporsi unsur dalam sampel, data kuantitatif dapat diperoleh menggunakan teknik terkait yaitu [[fotometri nyala]] atau [[Spektroskopi emisi atom|spektroskopi emisi nyala]]. Instrumen [[spektroskopi serapan atom]] nyala api, yang dibuat oleh misalnya Perkin Elmer atau Shimadzu, dapat dioperasikan pada moda emisi menurut panduan peralatan.
Meskipun uji nyala api hanya memberikan informasi [[Data kualitatif|kualitatif]], bukan [[data kuantitatif]] tentang proporsi unsur dalam sampel, data kuantitatif dapat diperoleh menggunakan teknik terkait yaitu [[fotometri nyala]] atau [[Spektroskopi emisi atom|spektroskopi emisi nyala]]. Instrumen [[spektroskopi serapan atom]] nyala api, yang dibuat oleh misalnya Perkin Elmer atau Shimadzu, dapat dioperasikan pada moda emisi menurut panduan peralatan.<ref>[http://www.perkinelmer.com/Catalog/Category/ID/Atomic%20Absorption%20AA Atomic Absorption (AA)]. Perkin Elmer.</ref>


== Unsur-unsur umum ==
== Unsur-unsur umum ==
Beberapa unsur umum dan warna nyalanya sebagai berikut:
Beberapa unsur umum dan warna nyalanya sebagai berikut:


{| border="1" cellpadding="2" class="wikitable"
!Simbol
!Nama
!Warna
!Gambar
|-
|Al
|[[Aluminium]]
|[[Perak (warna)|Putih perak]], dalam kondisi sangat panas seperti busur listrik, biru terang
|
|-
|As
|[[Arsen]]
|Biru
|
|-
|B
|[[Boron]]
|Hijau terang
|
|-
|Ba
|[[Barium]]
|Hijau pucat/apel
|
|-
|Be
|[[Berilium]]
|Putih
|
|-
|Bi
|[[Bismut]]
|Biru langit
|
|-
|Ca
|[[Kalsium]]
|Merah bata
|
|-
|Cd
|[[Kadmium]]
|Merah bata
|
|-
|Ce
|[[Serium]]
|Biru
|
|-
|Co
|[[Kobalt]]
|Putih perak (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan)
|
|-
|Cr
|[[Krom]]
|Putih perak (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan)
|
|-
|Cs
|[[Sesium]]
|[[Ungu (warna)|Ungu]] biru
|
|-
|Cu(I)
|[[Tembaga]](I)
|Hijau kebiruan
|
|-
|Cu(II)
|Tembaga(II) (non-[[halida]])
|Hijau
|
|-
|Cu(II)
|Tembaga(II) (halida)
|[[Hijau-biru]]
|
|-
|Ge
|[[Germanium]]
|Biru pucat
|
|-
|Fe(II)
|[[Besi]](II)
|[[Emas (warna)|Emas]], ketika sangat panas seperti busur listrik, [[biru]] terang, atau hijau yang berubah menjadi coklat jingga
|
|-
|Fe(III)
|[[Besi]](III)
|Coklat jingga
|
|-
|Hf
|[[Hafnium]]
|Putih
|
|-
|Hg
|[[Raksa]]
|Merah
|
|-
|In
|[[Indium]]
|Indigo/Biru
|
|-
|K
|[[Kalium]]
|[[Lilak (warna)|Lilak]]
|
|-
|Li
|[[Litium]]
|[[Karmin (warna)|merah krimson]]; tak terlihat melalui kaca hijau
|
|-
|Mg
|[[Magnesium]]
|(tidak ada), tetapi untuk logam Mg yang terbakar adalah [[putih|putih intensif]]
|
|-
|Mn (II)
|[[Mangan]] (II)
|[[Kuning-hijau|Hijau kekuningan]]
|
|-
|Mo
|[[Molibdenum]]
|[[Kuning-hijau|Hijau kekuningan]]
|
|-
|Na
|[[Natrium]]
|Kuning terang; tak tampak melalui kaca biru kobalt
|
|-
|Nb
|[[Niobium]]
|Hijau atau biru
|
|-
|Ni
|[[Nikel]]
|Putih keperakan (kadang-kadang dilaporkan sebagai tak berwarna atau hijau kebiruan)
|
|-
|P
|[[Fosforus]]
|[[Turquoise|Hijau kebiruan pucat]]
|
|-
|Pb
|[[Timbal]]
|Biru/putih
|
|-
|Ra
|[[Radium]]
|Merah krimson
|-
|Rb
|[[Rubidium]]
|Merah-ungu
|
|-
|Sb
|[[Antimon]]
|Hijau pucat
|
|-
|Sc
|[[Skandium]]
|[[Jingga]]
|
|-
|Se
|[[Selenium]]
|Biru azure (biru langit)
|
|-
|Sn
|[[Timah]]
|Biru-putih
|
|-
|Sr
|[[Stronsium]]
|Merah tua [krimson hingga kirmizi (''scarlet'')], kekuningan jika dilihat melalui kaca hijau dan
ungu jika dilihat melalui kaca kobalt
|
|-
|Ta
|[[Tantalum]]
|Biru
|
|-
|Te
|[[Telurium]]
|Hijau pucat
|
|-
|Ti
|[[Titanium]]
|Putih keperakan
|
|-
|Tl
|[[Talium]]
|Hijau murni
|
|-
|V
|[[Vanadium]]
|Hijau kekuningan
|
|-
|W
|[[Tungsten]]
|Hijau
|
|-
|Y
|[[Itrium]]
|Merah tua (''Carmine'', ''Crimson'', atau ''Scarlet'')
|
|-
|Zn
|[[Seng]]
|Tak berwarna (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan)
|
|-
|Zr
|[[Zirkonium]]
|Merah lembut
|
|}


[[Emas]], [[perak]], [[platina]], [[paladium]], dan sejumlah unsur lainnya tidak menghasilkan warna nyala api karakteristik meskipun beberapa dapat menimbulkan percikan (seperti logam [[titanium]] dan [[besi]]) dan garam [[berilium]] serta emas dilaporkan terkumpul sebagai logam murni pada pendinginan.
[[Emas]], [[perak]], [[platina]], [[paladium]], dan sejumlah unsur lainnya tidak menghasilkan warna nyala api karakteristik meskipun beberapa dapat menimbulkan percikan (seperti logam [[titanium]] dan [[besi]]) dan garam [[berilium]] serta emas dilaporkan terkumpul sebagai logam murni pada pendinginan.
Baris 25: Baris 267:
* [[Bidai (peralatan laboratorium)|Uji bidai bakar]]
* [[Bidai (peralatan laboratorium)|Uji bidai bakar]]
* [[Bidai (peralatan laboratorium)|Uji bidai pendar]]
* [[Bidai (peralatan laboratorium)|Uji bidai pendar]]
== Referensi ==


== Pranala luar ==
== Pranala luar ==
* [http://www.amazingrust.com/Experiments/how_to/Flame_Test.html Flame Test - Coloring Fire] - Gambar beberapa uji nyala, disertai instruksi
* [http://www.amazingrust.com/Experiments/how_to/Flame_Test.html Flame Test - Coloring Fire] - Gambar beberapa uji nyala, disertai instruksi
* [http://webmineral.com/help/FlameTest.shtml WebMineral.com] - Pewarnaan Nyala Berdasarkan Unsur
* [http://webmineral.com/help/FlameTest.shtml WebMineral.com] - Pewarnaan Nyala Berdasarkan Unsur


== Referensi ==
<references />


== Sumber dan atribusi ==


== Sumber dan atribusi ==
Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Uji+nyala+api&oldid=29592381 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29592381 (2026-08-17T13:42:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.


Konten artikel ini diadaptasi dari [https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Uji+nyala+api&oldid=29592381 Wikipedia bahasa Indonesia], revisi 29592381 (2026-08-17T13:42:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Mohon gunakan konten ini secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.
<!-- WIKI_UNISSULA_PRESENTATION_V4 -->

Revisi terkini sejak 29 Agustus 2026 04.03

Flame test

Uji nyala api adalah suatu prosedur analisis yang digunakan dalam ilmu kimia untuk mendeteksi keberadaan unsur tertentu, terutama ion logam, berdasarkan karakteristik spektrum emisi masing-masing unsur. Warna nyala api secara umum juga bergantung pada temperatur; lihat warna nyala.

Uji ini melibatkan introduksi sampel suatu unsur atau senyawa ke dalam nyala api panas, tak berwarna, dan mengamati warna nyala yang dihasilkan. Ide pengujian ini adalah bahwa atom-atom sampel menguap dan karena panas, mereka mengemisikan sinar ketika berada dalam nyala api. Sampel curah juga memancarkan cahaya, tetapi cahayanya tidak baik untuk analisis. Sampel curah memancarkan cahaya terutama karena pergerakan atom-atomnya, sehingga spektrumnya lebar, yang terdiri dari rentang warna yang luas. Atom-atom sampel yang terpisah dalam nyala api dapat mengalami emisi hanya karena transisi elektron antara tingkat energi atom. Transisi tersebut mengemisikan cahaya dengan frekuensi yang sangat spesifik, yang tidak lain merupakan karakteristik unsur kimia itu sendiri. Oleh karena itu, nyala api menjadi berwarna, yang ditentukan terutama oleh sifat-sifat unsur kimia yang dimasukkan ke dalam nyala. Uji nyala api adalah percobaan yang relatif mudah dilakukan, sehingga sering didemonstrasikan atau dilakukan dalam kelas sains di sekolah-sekolah. Untuk keperluan analisis kualitatif anorganik, uji nyala api sering digunakan sebagai uji pendahuluan, dan termasuk uji organoleptik.

Sampel biasanya ditaruh pada seutas kawat platina yang dicuci berulang kali dengan asam klorida untuk menghilangkan sisa analit sebelumnya.[1] Senyawa biasanya dibuat menjadi pasta dengan asam klorida pekat, sebagai halida logam, yang mudah menguap, sehingga memberikan hasil yang lebih baik. Nyala api yang berbeda-beda harus dicoba untuk menghindari kesalahan data akibat nyala api yang "terkontaminasi", atau kadang-kadang untuk memverifikasi akurasi warna. Pada mata pelajaran kimia di sekolah menengah, kadang-kadang digunakan bidai (splint) kayu, karena larutan dapat dikeringkan di atasnya, dan harganya murah. Kadang-kadang juga digunakan kawat nikrom.[2] Penggunaan bidai harus dilakukan secara hati-hati dengan melambaikan bidai melewati nyala api, dan bukannya dengan memegangnya sehingga bidai terpapar nyala api dalam waktu lama. Hal ini untuk menghindari bidai terbakar. Penggunaan kapas pentul[3] () atau busa melamin (yang digunakan pada spons penghapus)[4] sebagai penyangga juga telah disarankan.

Natrium adalah komponen atau kontaminan umum dalam banyak senyawa dan spektrumnya cenderung mendominasi warna nyala. Uji nyala api sering dilihat melalui kaca kobalt biru untuk menyaring warna kuning natrium dan memudahkan pengamatan ion logam lainnya.

Uji nyala api adalah praktik yang cepat dan mudah, dan dapat dilakukan dengan peralatan dasar yang dijumpai di sebagian besar laboratorium kimia. Namun, jumlah unsur yang terdeteksi positif pada kondisi ini sangat sedikit, mengingat pengujian ini lebih bergantung pada pengalaman subyektif pelaku percobaan daripada objek percobaan. Uji ini memiliki kesulitan dalam mendeteksi beberapa unsur dalam jumlah kecil, sementara jika terlalu besar juga cenderung memudarkan warna nyala hingga tidak muncul sama sekali.

Meskipun uji nyala api hanya memberikan informasi kualitatif, bukan data kuantitatif tentang proporsi unsur dalam sampel, data kuantitatif dapat diperoleh menggunakan teknik terkait yaitu fotometri nyala atau spektroskopi emisi nyala. Instrumen spektroskopi serapan atom nyala api, yang dibuat oleh misalnya Perkin Elmer atau Shimadzu, dapat dioperasikan pada moda emisi menurut panduan peralatan.[5]

Unsur-unsur umum

Beberapa unsur umum dan warna nyalanya sebagai berikut:

Simbol Nama Warna Gambar
Al Aluminium Putih perak, dalam kondisi sangat panas seperti busur listrik, biru terang
As Arsen Biru
B Boron Hijau terang
Ba Barium Hijau pucat/apel
Be Berilium Putih
Bi Bismut Biru langit
Ca Kalsium Merah bata
Cd Kadmium Merah bata
Ce Serium Biru
Co Kobalt Putih perak (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan)
Cr Krom Putih perak (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan)
Cs Sesium Ungu biru
Cu(I) Tembaga(I) Hijau kebiruan
Cu(II) Tembaga(II) (non-halida) Hijau
Cu(II) Tembaga(II) (halida) Hijau-biru
Ge Germanium Biru pucat
Fe(II) Besi(II) Emas, ketika sangat panas seperti busur listrik, biru terang, atau hijau yang berubah menjadi coklat jingga
Fe(III) Besi(III) Coklat jingga
Hf Hafnium Putih
Hg Raksa Merah
In Indium Indigo/Biru
K Kalium Lilak
Li Litium merah krimson; tak terlihat melalui kaca hijau
Mg Magnesium (tidak ada), tetapi untuk logam Mg yang terbakar adalah putih intensif
Mn (II) Mangan (II) Hijau kekuningan
Mo Molibdenum Hijau kekuningan
Na Natrium Kuning terang; tak tampak melalui kaca biru kobalt
Nb Niobium Hijau atau biru
Ni Nikel Putih keperakan (kadang-kadang dilaporkan sebagai tak berwarna atau hijau kebiruan)
P Fosforus Hijau kebiruan pucat
Pb Timbal Biru/putih
Ra Radium Merah krimson
Rb Rubidium Merah-ungu
Sb Antimon Hijau pucat
Sc Skandium Jingga
Se Selenium Biru azure (biru langit)
Sn Timah Biru-putih
Sr Stronsium Merah tua [krimson hingga kirmizi (scarlet)], kekuningan jika dilihat melalui kaca hijau dan

ungu jika dilihat melalui kaca kobalt

Ta Tantalum Biru
Te Telurium Hijau pucat
Ti Titanium Putih keperakan
Tl Talium Hijau murni
V Vanadium Hijau kekuningan
W Tungsten Hijau
Y Itrium Merah tua (Carmine, Crimson, atau Scarlet)
Zn Seng Tak berwarna (kadang-kadang dilaporkan sebagai hijau kebiruan)
Zr Zirkonium Merah lembut

Emas, perak, platina, paladium, dan sejumlah unsur lainnya tidak menghasilkan warna nyala api karakteristik meskipun beberapa dapat menimbulkan percikan (seperti logam titanium dan besi) dan garam berilium serta emas dilaporkan terkumpul sebagai logam murni pada pendinginan.

Lihat juga

Pranala luar

Referensi

  1. Jim Clark. Flame Tests. Chemguide. 2005.
  2. Jim Clark. Flame Tests. Chemguide. 2005.
  3. Michael J. Sanger. Simple Flame Test Techniques Using Cotton Swabs. Journal of Chemical Education. 2004. Vol. 81 (7). hlm. 969. doi:10.1021/ed081p969.
  4. Arthur M. Landis. "Magic Eraser" Flame Tests. Journal of Chemical Education. 2009. Vol. 86 (5). hlm. 577. doi:10.1021/ed086p577.
  5. Atomic Absorption (AA). Perkin Elmer.

Sumber dan atribusi

Konten artikel ini diadaptasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, revisi 29592381 (2026-08-17T13:42:36Z), yang tersedia berdasarkan lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa (CC BY-SA). Gambar pada artikel ini bersumber dari Wikimedia Commons dan mengikuti ketentuan lisensi masing-masing berkas. Mohon gunakan konten dan media secara bijak serta sesuai dengan ketentuan lisensi yang berlaku.